Selasa, 15 Mei 2012

Jangan Ada Celaka di Musim Tamasya

DENGAN segala hiruk-pikuknya, selesai sudah Unas (Ujian Nasional) dijalani para siswa kelas akhir di setiap jenjang sekolah. Sekarang tinggal menunggu pengumumannya. Kehiruk-pikukan orang tua siswa tentu belum berakhir. Karena, masih ada kesibukan lain yang harus dipersiapkan. Mencari sekolah baru bagi anak-anaknya. Dan itu, sungguh juga menguras perhatian.

Tetapi, lihatlah, para siswa itu, yang nasib(kelulusan)nya belum tentu itu, sudah pada sibuk oleh sebuah 'ritual' lain bernama tamasya. Entahlah apa yang mendasarinya. Kesannya kok bersenang-senang dulu, urusan lulus-tidaknya itu soal belakangan. Yang jelas, kegiatan ini telah diagendakan pihak sekolah justru sebelum Unas dihelat. Bagi orang tua, sekali lagi, urusan tamasya ini pun adalah beban lain. Karena untuk kegiatan ini juga diperlukan dana. Padahal, berikutnya, untuk masuk ke sekolah baru, uang masih harus disediakan dalam jumlah tertentu.

Karena sudah menjadi semacam tradisi, hal tamasya para siswa, saat-saat ini sedang masuk musimnya. Tidak hanya bagi yang (akan) lulus SMA, SMP, atau SD. Lulusan TK pun diagendakan tamasya! Tujuan destinasinya tentu aneka macam. Dari yang hanya sekadar di dalam kota, misalnya ke Bonbin. Atau (agak jauh dikit) ke Malang, ke WBL Lamongan atau (lebih jauh lagi) ke Yogyakarta-Borobudur atau melambung jauh sampai ke Bali.

Tentang kecelakaan yang terjadi saat tamasya siswa ini masih kita ingat pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Dan, tentu tidak kita inginkan terulang di musim ini. Untuk itu, sebaiknya, para panitia tamasya (nota bene para guru?) harus pandai memilih armada bus yang akan digunakan. Harus berkondisi prima. Jangan hanya bagian luarnya saja yang dilihat. Segala perlengkapan harus dijamin berfungsi baik. Jangan sampai bus yang catnya tampak kinclong, ditengah perjalanan ternyata remnya blong.

Satu lagi, bagi yang rute destinasinya jauh, misalnya Surabaya-Yogya atau Surabaya-Bali, sebaiknya ada sopir cadangannya. Agar, ketika dalam perjalanan, disaat penumpang mengantuk karena kecapekan, sopirnya tidak ikutan tertidur sak sliut karena kurang istirahat. Karena, sekalipun cuma sak sliutan, kalau bus melaju kencang, itu bisa mencelakakan.

Selamat bertamasya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar