Minggu, 24 November 2019

Saltum

BURUNG-BURUNG dalam sangkar peliharaaan tetangga berbunyi selalu. Ya, berbunyi. Ataukah itu berkicau? Entahlah. Surabaya hari-hari ini cuacanya panas sekali. Sekarang sudah minggu terakhir bulan November, dan hujan belum juga turun. Nah, bisa jadi burung-burung itu, yang digantung di teras atas itu, sedang mengomel karena kepanasan. Dan kita, apa pun arti suara burung, dibilang berkicau, bernyanyi. "Nyanyi gundulmu itu, aku ini misuh, c*k!"

Ya, dunia memang berisik. Tak melulu oleh suara burung. Tapi oleh ocehan lain. Tentang si itu yang tak boleh jadi anu, atau tentang catur. Atau usulan masa jabatan yang boleh tiga kali. Mbelgedhes tenan. Mau tak ditanggapi itu kuping ini dengar, mau tak dikomentari kok ya eman-eman. Baiklah, kita ini memang tak akan kehabisan bahan baku untuk tukaran, untuk berantem. Stoknya melimpah dan turah-turah. Jadi harus disyukuri(n).😊

Saya barusan menanam pohon kelor. Ya, ini bukan berita penting. Apalagi disampaikan oleh orang yang sangat tidak penting. Lain halnya kan kalau yang melakukan penanaman kelor itu si itu, yang saban obah-nya jadi berita. Seremeh apapun itu.

Cemburu?

Horak! Memangnya aku ini cowok apaan?

Kelor, kalau tradisi di kampung saya, (juga) dipakai memandikan mayat. Untuk? Agar si jenazah luntur segala susuknya. Makanya, beberapa teman yang bilang tak suka makan sayur kelor, dengan alasan 'daun untuk memandikan orang mati kok dimakan', saya duga ia sedang pasang susuk. Iya susuk. Susuk apa?

Ya, bisa jadi susuk kekuatan yang dipasang di jempol kedua tangannya agar kuat tutal-tutul layar ponsel, online nyosmed seharian. Juga, susuk betah isin ngevlog di sembarang tempat dengan kostum yang itu-itu melulu.

Asem tenan! Nyemoni aku ya!

Begini; bila hobi menulis, pembaca tidak akan peduli saya nulis pakai kaos kotang atau ote-ote, tak pakai baju dan cuma sarungan saja. Kalau lagi ngevlog, lha kok kaos yang saya pakai cuma Terong Gosong melulu. Seakan ada kesan; apapun kontennya, Terong Gosong kaosnya. Lalu, muncullah komentar sontoloyo yang saya dengar; wooii..., kaosnya ganti napa?!

Jujur, saya tak hanya punya kaos sakti mandraguna bertuliskan Terong Gosong  itu. Ada juga baju. Hem lengan pendek. Kotak-kotak. Tak banyak sih. Cuma sebiji. 😉

Celakanya, nyaris semua foto dan atau video yang saya unggah ke semua akun sosmed saya, kalau bukan pakai kaos 'kebangsaan' itu, ya pakai baju kotak-kotak itu. Sialnya, ada fans (jangan ketawa, gini-gini, saya punya penggemar juga lho) kirim komentar sepedas mie setan level ugal-ugalan. "Maap, Kakak kok saltum. Saat yang lain pakai batik, kok Kakak tetep konsisten pakai kotak-kotak. #seriusnanya".

Saat iseng belajar nge-vlog di Taman Bungkul, Surabaya.
(Foto: Faiz FN.)
Tentu saya maafkan. Namanya si penggemar saya itu mungkin belum tahu saja. Bahwa, salah satu tanda atau indikasi tipe lelaki setia lahir-batin, baik di dunia maya atau di dunia nyata, adalah yang kemana-mana dan di acara apa saja baju yang dikenakannya selalu yang itu-itu melulu. Catet baek-baek!

Itu alasan pertama. Alasan kedua; baju kotak-kotak adalah batik yang tertunda (sebagaimana jomblo adalah ..... yang tertunda)😀 *****