Kamis, 12 Mei 2022

Siaran TV Digital Surabaya, Update Terbaru

ASO (Analog Switch Off) ditunda. Walau tidak semua area. Setelah sekian lama ditunggu. Padahal jauh hari sudah dijadwalkan. Malah pakai hitung mundur segala. Start-nya jelas. Tanggal 30 April 2022.  Artinya, per tanggal 1 Mei 2022, beberapa wilayah itu siaran tv analognya mati. Dimatikan. Serentak. Tetapi, sebagaimana terjadi, kematian serentak itu urung terjadi. Hanya sebagian kecil yang dimatikan analognya. Lainnya menunggu lagi. Dengan beragam alasan. Namun sampai kapan?

Jadilah beberapa teman yang gegap gempita secara sukarela mensosialisasikan ASO itu di sosmed, jadi gimanaaa gitu. Malu? Mungkin. Apalagi, sebagaimana hal apapun, pasti ada yang kontra. Yang kemudian menjadi saling sindir. Antara pemerhati dan pendukung migrasi analog ke digital, dengan kelompok jalur wajan, jalur digital langit. Yang sedari awal gak yakin ASO akan mulus. Bahkan, diantara mereka ada yang tidak percaya siaran digital terrestrial ini gratis selamanya. Padahal, secara legal formal, siaran digital ini terang-terangan mendaku sebagai FTA. 

Setelah 'geger rada gedhen' tempo hari, kini pelahan tensi mereda lagi. Semua ngaso membahas ASO. Walau ada selentingan beberapa televisi akan melakukan ASO mandiri. SBO yang kini berbendera Jawa Pos TV termasuk yang dikabarkan telah menyuntik mati siaran analognya. Maaf, saat saya menulis ini, saya belum mengeceknya.


Update Siaran TV Digital Surabaya di kanal
Youtube saya. Subscribe ya.... 😊

Kalau di area Surabaya sendiri, belum ada penambahan channel lagi di kanal digital. Masih 29, dengan NET. belum nongol. Untuk tv lokal Surabaya, setelah ArekTV on air di MUX Viva, praktis tinggal SurabayaTV yang belum. Eh, tapi... apakah SurabayaTV masih mengudara di jalur analog ya? Ataukah ia, dengan gaungnya yang tak terdengar, sedang mati suri?

Baiklah, berikut daftar MUX dan channel yang sudah mengudara di kanal digital untuk area Surabaya;

-MUX Viva (ch. 23/490 MHz): antv, tvOne, ArekTV

-MUX Media Grup (ch. 25/506 MHz): MetroTV, Magna Channel, BNTV, TV9, MaduTV, BBSTV, Jtv, Jawa Pos TV

MUX Trans Grup (ch. 27/522 MHz): Trans7, TransTV, CNN Indonesia, CNBC Indonesia.

MUX Emtek (ch. 29/538 MHz): SCTV, Indosiar, O Channel, MentariTV, RTV, KompasTV

MUX TVRI (ch 35 / 586 MHz): TVRI Nasional, TVRI Jatim, TVRI 3 TVRI Sport

MUX MNC Grup (ch. 41/634 MHz): RCTI, MNCTV, GlobalTV, INews

****

Rabu, 04 Mei 2022

Mudik

SEPERTI biasa, saya mudik lebaran di hari ke dua. Hari pertama masih harus kerja. Bahkan kemarinnya, di malam takbiran, juga masih harus piket. 

Namun, setelah dua kali lebaran pemerintah membuat pembatasan, pun untuk urusan mudik dan juga sholat id, kali ini: brol. Dilepaskan. Maka di televisi saya lihat orang terpaksa sampai bermalam di pelabuhan penyeberangan, saking antrenya. Saking membludaknya pemudik.

Sebelumnya, demi mudik ini, apapun dilakukan. Termasuk dijus pakssin buster. "Tapi di perjalanan sama sekali tidak ada ditanyakan. Juga di penyebetangan", kata teman saya yang mudik ke Singaraja.

"Selamat, sampeyan kena prank. Wkwkwk," goda saya.

 
Istri dan anak-anak saya ajak istirahat
sejenak di 'hotel Merah Putih'.
Maaf, wajah saya diwakili oleh
penampakan helm saja.😊


Saya juga mudik, tapi tak sejauh para pemudik yang dengan riang menulisi bagian belakang kardus bawaannya dengan aneka tulisan genuine dan lucu, walau ada pula yang wagu. Ada yang Jakarta-Sragen, atau mBogor-Purwodadi. Saya dekat saja. Ke nJember. Tapi, baiklah, saya akui. Pinggang dan pantat saya bukan muda lagi. Menempuh jarak mudik yang hanya 200 km kurang dikit itu, berkali-kali harus menepi. Mendinginkan pantat. Sekaligus ngeluk boyok, terlentang di bangku warung yang sedang tutup, ditinggal pemiliknya libur lebaran.

Perjalanan mudik saya kali ini (pakai roda 4, tapi terpisah, jadi dua) terbilang lancar. Setidaknya dari Surabaya sampai Leces. Karena selepas pertemuan antara yang keluar dari pintu tol dan yang dari jalur arteri, barulah ada sedikit tersendat. 

Saya juga agak senang. Pasar Gedang Lumajang belum ada aktifitas berarti. Artinya kemacetan di situ belum terjadi. Padahal kalau pasar sudah normal, macetnya juga ampun-ampun. Namun, apakah lalu kalau itu nyaris saban hari terjadi, bisa dianggap kenormalan belaka? Sampai ada di antara pengguna jakan menilai ada unsur pembiaran atas situsasi itu. Pembiaran terhadap para pedagang yang lebih suka berjualan di tepi jalan dan enggan melakukannya di dalam pasar. Sekaligus pembiaran arus lalu lintas tersendat dan cenderung macet dan secara tidak langsung mengajak kita untuk mafhum. Ah, embuhlah.

Sekarang musim mudik. 

Tapi mudik harus tetap prokes, alah mbel apa? Jangankan manut anjuran halal bi halal boleh asal meniadakan makan bareng dan ngobrol, lha wong di kampung saya pakai masker saja sudah tiada temannya. Kecuali anak istri. Pokoknya di desa sudah los dol.

Kalau sudah begitu, apa ya tega tak menyambut uluran tangan sanak saudara dan para tetangga untuk saling salaman? Ndak-lah. Sekarang idul fitri. Saat tepat bermaafan. Lahir-batin.*****