Minggu, 14 Februari 2016

D i e t

Ilustrasi gambar: google
ANGKA pada timbangan di ruang Male Spa itu menunjuk angka 74,4 saat saya berdiri di atasnya. Oh, naik banget nih berat badan saya. Gara-gara sudah agak lama tidak donor darah, yang proses awalnya termasuk harus timbang badan dulu, menjadikan saya tidak tahu perkembangan berat badan saya. Terakhir donor mendapati bobot saya 68 kilogram, tahu-tahu sekarang naik 6,4 kg!

Saya harus diet!

Dasar saya ini tidak terlalu pintar, yang saya tahu tentang diet adalah mengurangi porsi makan. Dari yang biasanya setiap makan nasinya sepiring munjung, kini cuma sepertiganya saja. Yang penting sayur, yang penting buah. Untuk sayur, tidak terlalu ada masalah; di depan rumah ada pohon turi, yang tiada lelah berbunga saban hari. Untuk buah, ada sih pohon belimbing yang sudah mulai berbuah, tapi ya itu, buahnya kunthing, kecil-kecil. Padahal, di lemari es, dominasi isinya adalah air dan es belaka. Buah seperti apel, jeruk dan lainnya, cuma kadang-kadang saja menghuninya, hanya di tanggal muda.

Pendek cerita, sejak saya tahu bobot saya segitu, saya melakukan pengurangan porsi makan. Dan dua hari berselang, ketika ke Male Spa lagi, saya melakukan timbang badan. Hasilnya; pada display tertera angka: 72,4 kgs. Wah, hebat ini, berhasil ini diet saya. Dalam hitungan saya, kalau dua hari saja turun dua kilo, dalam sepuluh hari berat badan saya bisa tinggal limapuluh sekian kilo. Atletis banget. Dan untuk membentuk perut ini menjadi sixpack, tinggal rajin nge-gym dan olahraga lainnya. Itu tak terlalu sulit, saya kenal baik instruktur gym di tempat saya kerja ini.

Tahu hasilnya signifikan begitu, saya makin semangat melakukan diet. Suatu sore, saya makan nasi dua sendok saja, tetapi sayur eseng-eseng kembang turinya segunung. Hasilnya luar biasa: jika biasanya saya BAB jam setengah lima pagi, kali itu jam dua dini hari sudah harus berlari ke belakang, masur-masur. Buang hajat dengan tanpa ngedan karena isi perut langsung mengucur begitu saya dalam posisi. Ya, saya mencret!

Pagi, mampir ke ruang marketing dan mendapati alat timbang badan di sudut ruang. Teman-teman marketing dan accounting yang cakep-cakep dan bertubuh proporsional walau saya lihat suka ngemil itu, ternyata selalu mengontrol berat badan mereka. Iseng, saya numpang timbang badan di situ. Alhamdulllah, berkat 'murus' semalam, bobot saya menjadi 70, 2 kilo.

Sorenya, sepulang kerja saya ke apotek membelikan sirup obat batuk-pilek untuk si bungsu. Setelah mendapatkan obat yang saya maksudkan, sebelum pulang, begitu mata ini melihat ada alat timbang badan di sisi sudut selatan, saya nunut timbang. Hasilnya: jarum menunjuk angka 65 kilogram!

Besoknya, di tempat kerja, saya niat menuju timbangan digital tempat saya timbang kali pertama. Saya menemui teman yang sedang incharge di Male Spa, “Timbangan ini akurat?” tanya saya.

“Oh, itu sudah lama rusak,” katanya datar.

Uh, dasar! Dan lagi, jangan-jangan timbangan di ruang marketing dan di apotek itu juga sudah seperti omongan para pendusta; tak bisa dipercaya. *****


Senin, 08 Februari 2016

Kentrung

DUA pengamen beraksi di saat Imlek, pagi ini. Bukan ber-barongsai,
tapi berkoploria. Hal lumrah, walau saya kurang suka. Dan tarafnya akan
meningkat menjadi sangat tidak suka bila syairnya 'saru'.

Saya lalu ingat zaman kecil dulu, di kampung. Saat masih acap ditemui
pengamen yang sama sekali beda dengan kasunyatan sekarang.
Biasanya mereka mengamen secara duo, biasanya salah satu atau
dua-duanya berkacamata hitam,
karena memang tuna netra.
Mereka memainkan rebana dengan lagu-lagu bersyair seperti pantun. Berisi petuah
atau kisah-kisah para orang suci. Tentu saja, sebagai hiburan, sesekali mereka
menyusupkan pantun lucu sebagai penyegar.

Itu, kami menyebutkan kentrung. Sebuah seni yang entah pergi kemana kini. ****

Sabtu, 06 Februari 2016

Puri Matahari Kebakaran, Sebuah Simulasi

SEKITAR jam setengah tiga sore, hari Rabu 3 Pebruari 2016 yang lalu, alarm menjerit di Control Room. Pada display Fire Alarm Control terbaca seluruh alarm di gedung berdering, general alarm. Sebuah indikasi terjadi kobaran api. Display menunjuk lokasi kejadian di lantai 10-01.

Setelah mengetahui kejadian tersebut lewat komunikasi HT, semua karyawan ambil peran sesuai prosedur yang ditetapkan. Bagian engineering, walau pompa hidrant dalam posisi auto, ada teknisi yang langsung siaga ke ruang pompa dan tempat lain sesuai tugasnya. Sebagian lagi bergabung dengan tim scurity menuju titik terjadinya kebakaran untuk melakukan upaya pemadaman. Disusul kemudian tim House Keeping yang dengan sigap membawa tandu dan perlengkapan pendukung lainnya sebagai tim evakuasi dan PPPK, termasuk mengarahkan penghuni lantai di bawah dan lantai di atas agar tidak terlalu panik. Mengarahkan para penghuni untuk turun melalui tanga darurat dengan teratur.

Tak kalah sibuknya adalah petugas front desk yang menenangkan para tamu dan penghuni yang tampak panik di area lobby. Menunjukkan arah ke tempat aman, essembly point di area putting green yang luas di sisi barat gedung.

Tidak hanya memantau,
Bambang Sunarso, Property Manager
Puri Matahari Residence,
juga berjibaku memadamkan api
dalam sesi Fire drill.
(Foto: Nanin Indah)
Syukurlah api segera berhasil dipadamkan dan tidak sampai menjalar ke unit lain pada bangunan jangkung setinggi 32 lantai di jalan HR Muhammad itu. Syukurlah korban hanya mengalami cidera yang tak terlalu parah. Lebih bersyukur lagi, semua kejadian di atas hanyalah sebuah simulasi.

Tetapi, "Sekalipun kita berharap kejadian kebakaran tidak pernah terjadi di gedung kita," Bambang Sunarso, Property Manager Apartment Puri Matahari, menjelaskan, "kesiapan dan kesigapan kita dalam menanggulangi bahaya kebakaran harus terus diasah. Untuk itulah, kali ini untuk kesekian kalinya, kita adakan simulasi ini."

Walau simulasi kali ini tidak melibatkan Dinas PMK Surabaya sebagai instrukturnya, tetapi pihak PT Candi2000 Realtindo (pengelola Puri Matahari Residence) menggandeng PT Sanindo sebagai pemateri dalam training class sebelum acara simulasi di lapangan. PT Sanindo adalah perusahaan ternama yang bergerak di bidang pengadaan alat-alat pemadam yang berskala internasional dan sudah menjadi mitra kerja Puri Matahari sejak awal berdiri hingga sekarang. Untuk sistem lift dan tahapan-tahapan yang mesti dilakukan dalam kondisi darurat, tim engineering memang telah mengetahuinya, tetapi untuk me-refresh sekaligus meng-upgrade kecakapan, pihak management mendatangkan tim teknisi PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator sebagai tim pendamping.

Seusai simulasi memang ada beberapa catatan sebagai bahan koreksi. Tetapi secara garis besar, semua berjalan sesuai rencana dan masing-masing personel telah mengerti peran dan tugas masing-masing.

"Kita akan adakan simulasi ini secara berkala," Pak Bambang kembali menegaskan, "dan berikutnya kita akan gelar dengan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Sehingga, kita akan menghadapi kejadian yang lebih mendekakati keadaan sebenarnya. Tetapi, sekali lagi, semoga kejadian kebakan tidak sampai menimpa gedung kita," pungkasnya. *****


Selasa, 26 Januari 2016

Cetak Ulang Foto Usang

Foto di buku raport SD.
PULANG kampung ke rumah Ayah selalu saja ada cerita. Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman (termasuk halamannya pak Kampung) selalu ada kenangan yang tiba-tiba ikut terjaga dari tidurnya. Rumpun bambu yang masih saja rimbun di utara rumah mbah Kung (begitu saya memanggilnya demi mengajari anak-anak saya) .Suara berjuta daunnya yang saling bergesek karena tertiup angin, melahirkan desis yang melankolis. Selebihnya, rumah tua itu tetapkan sama; di depan musholla ada berderet kembang 'kuping gajah', 'sri rejeki' sampai 'beras kutah'. Ia adalah sekadar nama bunga, walau yang mbah Kung suka hanyalah daunnya. Kuping gajah; berdaun hijau tua dengan garis-garis seperti sungai mengalir ke segala arah. Sri rejeki; lebih ramping penampilannya, rupanya dietnya berhasil. Beras kutah; agak ramping juga, dengan taburan warna putih di sekujur daunnya, laksana beras tumpah.

Apalah arti sebuah nama. Lengkapnya lagi; apalah arti nama bunga. Karena ketika gemuruh 'gelombang cinta' yang beberapa waktu lalu melanda, saya selalu gagal menumbuhkan benih cinta kepada bunga. Kecuali satu saja; bunga turi. Yang saya tanam di depan rumah di Surabaya, yang benihnya juga saya impor langsung dari halaman samping rumah mbah Kung.

Masuk ke dalam rumah, ada kesetiaan menempel di dinding diatas opening yang tembus ke ruang tengah. Foto presiden dan wakilnya. Bukti mbah Kung sangat mencintai pemimpinnya. Hampir selesai dua periode kepemimpinan pak SBY, mbah Kung tetap saja setia memajang foto Gus Dur dan mbak Mega. Masuk lebih ke dalam lagi, kamar. Disitu, di sebuah lemari tersimpan bertumpuk kertas yang tanpa saya pesan apa-apa ke mbah Kung, bertahun-tahun tetap bahagia di tempatnya. Entahlah, kenapa mbah Kung, atau Mbah Putri, tak tergoda untuk memusnahkannya. Paling tidak kertas-kertas itu bisa ditukar bumbu dapur ke warung sebelah. Karena ia bisa menjelma menjadi bungkus terasi, bawang putih dan semacamnya.

Kertas-kertas itu adalah tulisan saya saat SMP dulu. Dan membacanya lagi, jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya saya menulis begitu. Menulis surat cinta (monyet) yang beraroma salam Rexona. Juga kok bisa-bisanya saya menulis sebagai 'aku' yang selalu berselimut cinta dalam setiap cerita. Mengapa?

Selasa, 19 Januari 2016

Sang Penakluk, Anjing ke Baghdad dan Dewa Mabuk

Judul Buku: Biografi Gus Dur
(Judul asli: The Autohorized Biography of Abdurrahman Wahid,
diterbitkan pertama kali oleh Equinox Publishing)
Penulis: Greg Barton
Penerjemah: Lie Hua
Penerbit dalam Bahasa Indonesia: Saufa bekerjasama dengan IRCiSoD dan LKiS
Cetakan Pertama: Januari 2016
Halaman: xxvi + 514


 DUA orang pemuda dari Indonesia --satu asal Rembang, satunya lagi asal Jombang-- melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir. Untuk urusan makanan, tugas pun dibagi; satu bagian belanja, satunya lagi bagian memasak untuk kemudian setelah matang disantap bersama. Menu favorit si juru masak adalah jeroan sapi, yang kalau di Mesir bagian itu oleh tempat pemotongan hewan tidak dimanfaatkan. Sebuah karunia bagi dua pemuda itu karena, dengan hanya mengambil secara cuma-cuma jeroan di tempat penjagalan sapi, tentu saja bisa menghemat biaya sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua.

“Untuk apa sih setiap hari ambil jeroan?” iseng salah satu pegawai pemotongan hewan itu bertanya ketika si pemuda Rembang mengambil jeroan.

“Untuk makanan anjing,” asal saja si Rembang menjawab.

Waktu terus berjalan dan suplai jeroan untuk bahan makanan tak pernah kehabisan. Sampai kemudian si mahasiswa asal Jombang yang pinter masak dan kutu buku itu melanjutkan studi ke Baghdad, Irak. Jadilah si mahasiswa Rembang itu tak ada lagi yang memasakkan jeroan sapi dan ketika suatu waktu ia berpapasan dengan pemilik rumah potong sapi, ia ditanya, “Hei, kok sudah lama ente gak ambil jeroan di tempat ane kenapa?”

“Anjingnya sudah pindah ke Bagddad,” jawab si Rembang dengan enteng sekali.

Ya, pemuda Rembang itu namanya Ahmad Mustofa Bisri dan lelaki asal Jombang itu namanya Abdurrahman ad-Dakkil (Abdurahman sang Penakluk) Siapa Abdurrahman Ad-Dakkil? Dialah Abdurrahman Wahid. Siapa Abdurrahman Wahid? Dialah Gus Dur. Siapa Gus Dur?

Ada banyak tulisan mengenai tokoh yang satu ini, tetapi sebagian di antaranya adalah ditulis oleh orang yang sangat mencintainya. Dengan posisi sangat cinta, orang sering tegelincir pada sikap yang tidak obyektif dalam menulis atau bertindak. Seperti kelakuan seorang cendekiawan Prancis, namanya Andee Feillard, yang langsung masuk ke gereja dan lalu berdoa ketika mendengar Gus Dur, sahabat yang dicintainya, dikabarkan telah berpulang, padahal ia 'hanya' menderita stroke akut dan sedang dirawat di RS.

Sesaat setelah melewati masa kritis, Greg masuk ke kamar tempat Gus Dur dirawat dan menceritakan sahabat Prancisnya itu, “Anda tahu hal ini tidak lazim, bukan? Andrre adalah seorang cendekiawan Prancis – cendekiawan Prancis tidak ke gereja, apalagi berdoa.”

Sambil tersenyum Gus Dur menjawab,”Di Prancis, semua orang terbaik adalah seperti itu.” (hal. 9)

Presiden Indonesia paling fotogenic adalah Soekarno. Sampai sekarang, tak sedikit orang memajang gambar Si Bung itu di rumahnya dengan aneka pose. Ya, dipotret dari sudut mana saja Bung Karno memang memancarkan kharisma, walau (zaman itu ia telah sadar betul kekuatan sebuah gambar) mesti dipilih dulu mana yang layak dipublikasikan, mana yang tidak. Jadi, yang beredar sekarang ini adalah foto-foto hasil seleksi dan benarlah adanya, semua fotonya tampak punya aura lebih. Lha Gus Dur?

Selasa, 12 Januari 2016

Wanita dan Belanja

UNTUK urusan ketahanan berbelanja, kaki para suami tak ada apa-apanya dibanding stamina betis para istri. Hanya demi sepotong baju idaman, istri saya tak lelah melakukan 'tawaf' berkali-kali di mal. Dilanjut 'sa'i' dari lantai satu sampai lantai empat. Keluar-masuk gerai dan dari sekian banyak pilahan, belum ada yang sreg sebagai pilihan.

Jujur, saya adalah suami yang kurang setia dalam menemani istri berbelanja. Lain halnya dengan Pak Lurah di tempat saya. Beliau pernah bercerita, setiap ke mal, selalu saja digandengnya tangan si istri dengan erat sekali dan tak terlepaskan.

"Cie, ciee..." ledek seorang warga yang memergokiya. "Pak Lurah setia banget sama Bu Lurah, bergandeng tangan erat sekali."
"Sttt, ini bukan setia, nDul," balas Pak Lurah. "Kalau tangannya kulepaskan, bahaya; ia akan belanja." *****

Minggu, 27 Desember 2015

Pesan untuk Operator Sound System

BULAN Robi'ul Awwal begini, banyak sekali orang punya hajat di kampung saya. Khususnya untuk acara khitanan atau pernikahan. Ya, dalam penanggalan Jawa, bulan ini (yang disebut juga bulan Maulud, dengan gampang orang menyebutnya bulan Mulud) termasuk bulan bagus untuk menggelar acara-acara itu. Dalam ingatan saya, dua bulan dari dua belas bulan dalam setahun, yakni bulan Suro dan Selo, termasuk yang dihindari dalam melakukan acara-acara macam itu. Walau kalau saya amati yang belakangan terjadi, ada juga yang 'nekad' menggelar acara di dua bulan itu. Bisa jadi generasi (Jawa) sekarang sudah lebih 'maju' dalam pakem dan paugeran dan kurang suka memercayai primbon. Generasi ini lebih percaya bahwa hari bagus selalu ada dalam setiap bulan, yakni hari ketika orang-orang sudah gajian.

Banyaknya orang yang menggelar acara di bulan ini, adalah berkah bagi banyak pihak. Catering, persewaan gedung resepsi, persewaan alat-alat pesta dan termasuk juga pawang hujan. Ya, bulan Mulud selain identik dengan musim panen buah-buahan, ia seringkali jatuh pada musim penghujan. Menggelar pesta di musim hujan tentu butuh 'orang pintar' yang bisa memindah hujan agar tidak tercurah di sekitar acara, tetapi digeser ke tempat lainnya. Masalahnya adalah, di tempat lain ada juga orang menggelar acara yang meminta pula kepada pawang hujan kepercayaannya untuk hal serupa.

"Makanya, disini susah sekali turun hujan, selain banyak proyek pembangunan, banyak orang punya hajat sih," kata seorang teman.

Teman saya itu bukan orang tak berpendidikan, tetapi bukankah yang percaya akan hal-hal demikian itu tak melulu orang yang tinggal di pedalaman yang kadang masih menyembah pohon ciplukan.

Sabtu, 19 Desember 2015

Habis KompasTV, Terbitlah Trans|7 HD

BAGAIMANA kabar tv digital? Bagaimana kabar STB Anda? Masih aman di kardusnya. Baik, itu lebih baik. Iya, channel yang ada belum bertambah, MUX yang on air juga belum berubah. Ya, begini ini nasib kalau kita sudah beli STB dan konten siaran yang ada juga masih itu-itu saja (yang masih juga bisa disaksikan di jalur analog). Kalau Surabaya saja sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta saja masih begini, bagaimana nasib siaran tv digital di kota yang lebih kecil ya?

Penampakan Trans|7 HD pada pesawat televisi saya yang masih tabung.
Kemarin, secara iseng saya menghidupkan STB yang sudah sekian lama menganggur dan, oh ada perubahan ini. Trans|7 sudah HD. Iya sih, di Jakarta (juga Jogja?) pernah saya baca memang sudah HD, tetapi di Surabaya ini baru sekarang saya tahu. Sejak kapan ya?

“Sejak ultah TransMedia kemarin,” jawab seorang teman ketika gambar layar Trans|7 itu saya pampang di akun Facebook.

Lha, tapi sakarang KompasTV tidak ada lagi di MUX TransMedia 522 MHz. Kenapa ?”

“Memang begitu itu, Kang,” seorang teman saya menjelaskan, “siaran HD itu butuh bandwidth yang gede, jadi ada siaran yang mesti dikorbankan.”

Pantauan teman lain di kawasan Kedung Adem, Bojonegoro.
(foto: Agung Rama Elektronika/FB)
Saya yang memang awam akan hal ini cuma manggut-manggut saja diterangkan begitu. Tetapi, “Tentang KompasTV yang menghilang dari MUX TransMedia ada cerita tersendiri,” teman yang lain, yang juga pengamat televisi, menimpali.

Saya tak menguberkan tentang ada cerita apa di balik hengkangnya KompasTV dari MUX TransMedia, dan lebih menunggu saja si teman tadi itu meposting ulasan mengenai hal itu di blognya. (Sungguh saya tunggu lho, Dave...)


Selasa, 15 Desember 2015

Samsat Manyar, Cepat dan Lancar

Pemberitahuan yang gamblang. (Foto-foto: ewe)
DIPAMPANGNYA pemberitahuan bahwa material untuk STNK dan plat nomor telah tersedia dan bagi yang tertunda penerbitannya sudah bisa mengambil, membuat saya lega. Dulu ketika saya mengurus perpanjangan surat kendaraan lima tahunan, dijanjikan STNK dan plat nomor pengganti baru akan jadi enam bulan kemudian. Kemarin itu, ketika saya datang lagi ke kantor Samsat Manyar itu, terhitung tujuh bulan sudah dari kedatangan saya pertama. Bukan apa-apa, kalau dijanjikan enam bulan dan baru saya ambil tujuh bulan, misalkan belum jadi dan mesti sabar menunggu sekian waktu lagi, saya kan bisa bilang dengan gemes, “Piye to iki, katanya enam bulan, sudah saya tambah sebulan lha kok belum jadi juga.”

Petugas berseragam, termasuk yang pakai hem lengan
panjang dan berdasi itu,
  melayani dengan ramah dan selalu siap membantu.
Di depan pintu masuk, saya bertanya ke seorang petugas yang dengan senang hati menerangkan ke loket mana saya mesti menuju, “Silakan Bapak ke loket 28 dulu untuk mencetak STNK. Lalu dari situ, kalau STNK-nya sudah jadi, Bapak ke loket 18 untuk pembuatan plat nomor,” lelaki setengah baya berkata ramah sekali.

Karena sudah pernah ke situ, hapal saya letak loket 28; loket paling kiri dari pintu masuk. Meletakkan bukti pembayaran STNKB dan plat nomor pada tempat yang tersedia, belum lama saya duduk, nama saya sudah dipanggil; STNK sudah tercetak. Setelah mengisi buku pernyataan bahwa STNKB sudah saya ambil, saya membawa berkas itu ke loket 18. Yang di sini agak lama.

Sambil menungu pencetakan plat nomor kendaraan, saya memperhatikan sekitar. Senin pagi yang ramai, ruang tunggu nyaris penuh. Belum lagi orang berjalan dari loket satu ke loket berikutnya sesuai prosedur. Walau alurnya sudah ditata sedemikian rupa, bagi yang baru pertama kali ke Samsat Manyar, terlihat bingung juga. Tetapi, petugas berseram rapi + berdasi, termasuk yang tadi saya tanya di depan pintu, akan mendekati orang yang demikian itu untuk kemudian menerangkan dengan gamblang sambil menunjuk letak loket dimaksud. Nah, begini ini harusnya kantor pelayanan publik. Rapalan mantra 'kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah' sudah harus dienyahkan jauh-jauh. Karena, bukankah sejatinya rakyat adalah majikan dan mereka adalah pelayannya.

Sabtu, 05 Desember 2015

Kekhawatiran yang Sontoloyo

SEBAGAI orang, saya terlalu sering khawatir. Hampir setengah kilometer berangkat dari rumah, di jalan tiba-tiba saya mengkhawatirkan kompor atau kran air apakah sudah dimatikan, lampu atau televisi dan radio apakah masih menyala, atau pintu sudah terkunci atau belum. (Istri sudah berangkat pagi-pagi dan anak-anak telah pula berangkat sekolah, saya menjadi penghuni terakhir yang berangkat.) Walau ketika saya balik lagi ke rumah semua baik-baik saja (baca: sudah dimatikan dan pintu juga sudah terkunci), namun ia laksana hobi yang seringkali saya ulangi. Iya, saya memang payah.

Saya termasuk agak telaten (telat jadi manten) juga akibat dari sifat itu. Sanggupkah menjadi suami yang baik, mampukah kelak menjadi ayah yang bisa momong dan membiayai anak-anak mendapat pendidikan yang bagus. Oh, belum-belum sudah takut pada kekhawatiran memang sontoloyo!

Para jomblowan-jomblowati yang sampai hampir pecah perang dunia ketiga sekarang ini belum juga nekad memilih gandengan, bukan tidak mungkin juga karena penyakit khawatir ini. Jangan-jangan yang disetiai tak menyetiai, jangan-jangan si dia belum seratus persen bisa move on dari sang mantan. Berhentilah, hai para jomblo, dari mendengarkan lagu i'm single and very happy! Ya, itu lagu sontoloyo yang menyesatkanmu menjadi jomblo abadi.

Selasa, 01 Desember 2015

Parikan Suroboyoan: Coblosan

Mas Bendo: ndik Suroboyo menyang Tunjungan
mbanting busi dipane kayu
paklik Rasiyo memang pengalaman
ning Lucy pancene ayu

Mbak Yu : nyilih kain popok nang Karangan
momong rojo koyo bareng Rhoma Irama
milih pemimpin, rek, ojok sembarangan
lek wong Suroboyo yo jelas milih Bu Risma

(Iyo, rek. Tak kandhani koen yo; lha lek cumak bondho ayu thok, lha digawe opo?! Pemimpin iku kudune lak cak-cek, opomaneh masalah Suroboyo iku uakeh puoll. Banjir umpamane. Lha lek ngatasi banjir ditinggal wedhak'an dhisik, lak selak klelep wargane)

Mas Bendo: mangan delima kleleken kecik
sapi karo kebo kelonan wae
prestasine Bu Risma pancene apik
tapi opo salahe njajal calon liyane

(Lha, sopo ngerti paklik Rasiyo karo Ning Lucy iku lek diwenehi kesempatan isok gawe kutho Suroboyo luwih apik. Lha lek durung dijajal wis dianggep gak mampu, iku termasuk kliru, Mbak Yu.)

Mbak Yu: penari japin numpak gerobak
peniti kae pasangno nang kain katun
milih peminpin ojok cobak-cobak
sing mesti-mesti ae ben engko ora getun

(Sampeyan iku, Cak, Cak. Milih peminpin kok cobak-cobak. Koyok nganggo minyak kayu putih ae. Pokok'e aku wis madhep mantep, gepeng ilir aku tetep milih Bu Risma)

Kang Karib : banyu aki dicampur terasi
rondho lesehan nang pojok plataran
yo ngene iki urip ing zaman demokrasi
bedo pilihan ojok sampek dadi tukaran

bantalan lesung mergo gak duwe dipan
upo ning kendhi lambene dilat-dilat
pemilihan langsung pancen butuh kedewasaan
sopo ae sing dadi awak'e dhewe tetap ae melarat rakyat

(wis talah, rek. Gak usah gegeran mergo bedo pilihan. Opo koen pikir lek jagomu sing dadi terus peno gak perlu nyambut gawe. Lha sopo sing ngingoni anak-bojomu? Mbahne Sangkil opo! Ayo, sing penting nyambut gawe, perkoro mengko pemimpin (calon sing endi ae sing menang) ora lali janjine, yo syukur. Lha lek ingkar janji, ayo didungakno bareng-bareng mugo-mugo gudhiken sak kujur awak'e.)*****


Senin, 30 November 2015

GlobalTV, Rusia vs Turki dan Kasus Setnov

DUA tetangga berjarak satu rumah di barat rumah saya meninggikan rumahnya menjadi dua lantai. Syukur alhamdulillah rezeki mereka berlimpah sehingga mampu membangun rumah lebih megah. Alhamdulilllahnya lagi, karenanya saya tak mungkin lagi main-main menembak Thaicom-5 untuk keluyuran menengok 'kebun kates' di satelit itu. Walau saya menjadi kurang bersyukur juga karena antena UHF saya ikutan terhalang tembok tinggi mereka.

Beberapa channel UHF menjadi kurang cling, tetapi masih bisa beralih ke Palapa-D atau Tekom-1 demi menyaksikan semua saluran televisi nasional. Kecuali GlobalTV (yang dua minggu ini sinyalnya pelit sekali) tempat Naruto beraksi mulai menjelang maghrib sampai hendak Isya'. Begitulah, jam segitu lazim dibilang jam utama, prime time. Prime time pula untuk melakukan hal yang lebih bermakna; menemani anak-anak belajar atau mengaji. Tetapi televisi menohok siapapun di jam berapapun dengan tayangan semau mereka dengan tanpa ampun. Pemirsa tak punya kuasa lebih besar kecuali meraih remote control dan mematikannya.

Makanya sama sekali saya tak menyesal manakala tak berhasil mendapatkan sinyal GlobalTV di Palapa-D. Dengan memakai 4 LNB, toh saya bisa melanglang angkasa mencari channel lain di satelit lainnya. Dan konsentrasi saya kini tertuju kepada Al Jazeera untuk mengetahui kabar terbaru kawasan Timur Tengah dan wilayah konflik lainnya di jazirah Arab dan sekitarnya.

Yang terbaru tentu gesekan tajam antara Turki dan Rusia setelah peristiwa penembakan Shukoi oleh F16 milik Turki. Saya bisa memantau reaksi keras Rusia via channel Russia Today (yang beberapa hari belakngan ini selalu menayangkan perkembangan peristiwa itu dalam Breaking News-nya –tentu dengan kacamata Rusia) tetapi tolong kasih tahu saya channel televisi Turki yang siaran FTA di satelit Asiasat5 atau Asiasat7. Perang terbuka secara dar-der-dor di medan sesungguhnya mungkin terjadi belakangan, tetapi biasanya perang (propaganda) di media (termasuk juga televisi) sebagai bumbu permulaan akan ditaburkan lebih dulu. Mengikuti berita itu tentu lebih 'asyik' ketimbang menyimak kasus Papa Minta Saham yang menyeret ketua DPR Setya Novanto. Menurut saya yang awam hukum ini, rasanya kasus itu makin hari makin mbulet saja dan bisa jadi akhirnya malah hilang ditelan berita banjir bandang yang acap terjadi di negeri ini pada musim hujan. *****

Senin, 23 November 2015

Makan Silet

SEBAGAI manusia berbulu, saya selalu mempunyai silet. Selain di rumah, di locker tempat kerja pun saya menyiapkan perlengkapan mencukur itu. Dua atau tiga hari tidak dikerok pakai silet, niscaya di dagu saya ini akan tumbuh subur 'duri-duri” nan tajam dan sekarang telah pula dwi warna; hitam dan ada pula yang putih.

Makanya saat ikut sebagai panitia penyembelihan hewan qurban, saya suka tersenyum ketika ada satu-dua orang yang mencari cacap (lendir yang diyakini bisa meneumbuhkan bulu) dari kambing untuk dioleskan ke dagu atau atas bibir. Lha wong saya yang sudah berbulu tanpa dicacap begini kadang suka kuwalahan mencukurnya, kok malah ada yang dirangsang agar tumbuh. Macam-macam saja orang-orang itu.

Suatu waktu, ketika sedang asyik mencukur jenggot pakai silet Tatra, datanglah seorang kawan. “Nanti setelah kau pakai, aku ambil ya siletnya?” pintanya.

Kawan saya itu tak berkumis, tak pula memelihara jenggot di dagu. Tetapi bukankah silet tak melulu bisa dipakai hanya untuk mencukur bulu, karena bisa juga kan ia dipakai untuk memotong kuku (kalau untuk tukang santet sih, konon benda tipis tajam itu juga bisa dimasukkan ke dalam perut orang yang dikehendaki)

Beberapa saat kemudian, selesailah saya menggunduli duri-duri yang tumbuh di pipi dan dagu. Ketika saya raba, kulit di dua tempat itu terasa kembali licin, walau akan kembali kasar hari-hari kemudian. Justru dari bulu yang selalu tumbuh itu pulalah pabrik pisau cukur tak akan tutup. Kalaulah mau pamer, tentu saya dan orang-orang berbulu lainnya sungguh besar sekali jasanya terhadap keberlangsungan hidup pabrik silet itu. 

Saya serahkan pisau silet yang masih menempel pada alat pencukur itu kepada teman yang sedari tadi menunggui. Saya perhatikan, ia keluarkan pisau silet itu, ia bersihkan dengan tissue. Lalu, lhadalah; ia mengeremusnya. Ada bunyi kriuk yang aneh ketika benda tajam itu ia kunyah. Edan tenan. 

Setahu saya, teman saya itu bukanlah pemain kuda lumping yang sesekali dalam atraksinya suka makan beling. Ia hanyalah juara pingpong tingkat desa, selain sebagai gitaris andalan grup musik dangdut dengan jadwal manggung hanya di acara tujuhbelasan di halaman balai desa kampung kami. Makanya saya heran sekali; dimana ia berguru sehingga menjadi sesakti ini?!

Saya hanya plonga-plongo saja menyaksikan ia mengunyah silet itu sampai lumer, lalu menelannya dengan santainya, sama sekali tak khawatir si silet itu merobek tenggorokan atau ususnya. 

Kamu pun bisa melakukannya,” katanya kemudian. 

Terbayang di kepala saya lelaku yang mesti dijalani demi bisa mempunyai kemampuan linuwih macam makan silet itu. Dan saya yang memang kurang meminati hal-hal demikian itu, belum-belum sudah memutuskan mengunyah keripik singkong tentu lebih masuk akal ketimbang mengunyah silet. 

Yang tadi aku lakukan itu sama sekali tak pakai mantra,” ia menjelaskan. “Yang penting yakin. Hal apa pun akan bisa tercapai asalkan yakin kita bisa melakukannya.”
oOo
Peristiwa itu terjadi sekian tahun yang lalu, dan saya tidak tahu apakah si teman itu sekarang sesekali masih suka mengunyah pisau silet ataukah sudah meningkat kemampuannya. Sudah doyan ngrikiti pisau dapur atau gobang, misalnya. Tetapi begini: enyahkanlah semua bayangan tentang makan aneka 'sajam', karena itu menakutkan. Kalimat terakhir yang ia ucapkan itu yang justru membuat ia bak seorang motivator saja. Atau dalam bahasa bos Go-Jek, “Semakin besar hambatan dan penolakan, biasanya ada peluang besar di baliknya,” demikian kata Nadiem Makarim. *****


Kamis, 19 November 2015

Suami Baru Istriku

BAGAIMANA cara istrimu memanggilmu? Njangkar dengan hanya menyebut namamu saja, atau Mas, atau Pa, atau Yah seperti caranya mengajari anak-anakmu dulu, tetapi terbawa sampai sekarang? Celakanya, selama sepuluh tahun pernikahanku dengan Rara belum juga kami dikaruniai momongan. Celaka lanjutannya, selain Rara memanggil njangkar sejak dulu kepadaku, jabatannya kini naik tinggi dengan kesibukan yang juga menggunung. Bukankah ketika gaji istrimu lebih tinggi darimu itu adalah juga sebuah kesialan yang nyata?

Rempeyek benar juga. Celotehnya suatu ketika, “Pilih istri itu jangan muluk-muluklah. Yang penting perempuan, yang penting punya lubang.”

Bengkel akan terasa sepi kalau Rempeyek sedang sakit gigi. Celetukannya ada saja. Juga tentang lubang itu. Ia bilang, lubang adalah isyarat ia bisa dimasuki, dinafjahi. “Kalau punya istri tapi buntu; apeslah suaminya. Mau dinafkahi bagaimana wong ia sudah bisa cari nafkah sendiri, malah bisa mendapat yang lebih besar dari gaji kita. Olala...”

Namanya Tifa, tetapi di sekujur wajahnya ada bintik-bintik sebesar kedelai yang membuatnya dipanggil Rempeyek. Dan ia tidak mempersoalkannya. Bahkan istrinya, yang menurutnya kecantikannya hanya dua tingkat di bawah kecantikan bidadari KW 3 itu, pun memanggilnya dengan 'Mas Peyek' sebagai panggilan sehari-hari.

Senin, 16 November 2015

Sudut Pandang: Lady Rockers

Mel Shandy sedang menyanyikan
salah satu hits-nya; Bianglala.
Foto-foto: ewe
TAHUN 80an sampai awal 90an adalah era dimana musik rock berjaya di Indonesia. Festival rock digelar dimana-mana dan dari ajang itu muncul grup atau penyanyi rock ternama. Kini, era dimana rock tak lagi secemerlang dulu, agak sulit rasanya sekadar untuk menyebut grup rock yang masih eksis, tentu saja selain God Bless yang melegenda.

Rock, dengan genre mulai metal sampai yang slow, makin jarang hadir di kuping lewat radio, misalnya. Bagi penyuka sejati, tentu saja masih menyimpan lagu-lagu cadas itu di file pribadi yang sesekali, ketika rindu, dinikmati sendiri. Dulu, Djarum dan Gudang Garam (sekadar menyebut nama sponsor) adalah merek yang sering menghadirkan pertunjukan tour musik rock di banyak kota.