23 Mei 2015

SELAIN grup tentang persatelitan, salah satu grup yang saya ikuti di jejaring sosial adalah sebuah grup yang mengkhususkan diri mengungkap hal-ihwal yang terjadi di era 80-90an. Lagu-lagunya, filmnya, artisnya, mainannya, julukan masa kecil sampai jajanan yang dibeli saat sekolah di jaman behuela itu. Sering, sebuah cerita tentang mainan yang digemari seorang anak di pelosok Blitar, misalnya, kala itu ngetren pula di ujung Banyuwangi. Tetapi, jangan membayangkan mainan jaman itu seperti yang digemari anak sekarang yang lebih banyak buatan pabrik.

Mainan jaman dulu, ibarat kata, dari apapun jadi. Kulit jeruk bisa dibuat mobil-mobilan, daun nangka bisa dirangkai menjadi penutup kepala sebagai mahkota raja, atau biji buah asam yang dilekatkan pada keramik dibawa kemana-mana lalu diadu kekuatan lekatnya. Oh, jangan dikira pakai lem untuk proses pelekatan, tetapi hanya (maaf) pakai air liur, atau cairan bekicot atau putih telur. Setelah biji asam (tentu yang dipilih yang sudah tua) digosok pada ubin semen hampir separuh, dan disaat masih panas akibat gesekan, dilekatkan pada sebilah keramik bekas atau kaca yang sudah ditetesi air liur. Ih, nggilani ya?

Pendeknya, anak-anak jaman dulu bisa dengan mudahnya mendapatkan kesenangan bersama. Bukan seperti anak-anak sekarang yang menjadi manja dan kurang bersosialisasi justru oleh 'mainan'. Gadget, tentu ada sisi baiknya. Tetapi kalau dilihat, karenanya, anak-anak menjadi lebih senang sendiri, asyik dengan dirinya sendiri. Pada saat dimana gadget sudah menjadi (seakan) kebutuhan, bukan melulu anak-anak, banyak orang tua yang justru lebih banyak menghabiskan waktu bersama 'anak teknologi' ini ketimbang anak sendiri.

Mainan jaman dulu banyak yang dilakukan secara bersama sehingga karenanya secara otomatis mengajari anak untuk lebih memiliki sifat kebersamaan. Main kelereng, dakon adalah dua misal diantara banyak mainan anak yang kini di desa pun sudah makin jarang anak-anak memainkan, sebagaimana mungkin sudah tidak ada lagi anak yang membuat mahkota dari rangkaian daun nangka. Plastik adalah bahan yang mendoninasi bahan mainan (dan saat tulisan ini saya buat, malah beras pun ada yang berbahan plastik).

Masa kecil saya habiskan di Bagorejo dan Mlokorejo. Desa yang tak terlampau pelosok karena terdapat disitu jalan raya Jember-Surabaya via Kencong. Walau saat itu tentu tak seramai sekarang, paling tidak, mobil dan bis bisa kami temui saban hari. Yang juga saya ingat, saban malam Jumat sekira jam dua dini hari, selalu terdengar lenguh suara sapi yang berbaris dituntun blantik untuk menuju pasar Menampu. Entah mengapa para penjual sapi jaman itu senang mengajak dagangannya gerak jalan berpuluh kilometer menuju pasar dan bukan mengangkut sapi-sapi itu
menggunakan truk seperti saat ini.

Saat sore hari sehabis mandi sebelum berangkat mengaji, kami duduk di tepi jalan raya mencari kesenangan. Kami membagi teman menjadi dua kelompok. Ya, kami menjadi lawan main dalam menghitung mobil. Untuk menentukan kelompok mana memilih arah mana, kami melakukan suit dulu. Nah, jadilah.

Bayangkan, saking tak sebanyak sekarang, bahkan mobil pun bisa dijadikan 'mainan'. Bukan hanya banyak-banyakkan mobil dari arah timur (Ambulu/Jember), atau dari arah barat (Surabaya/Lumajang), kadang kami bersepakat menjadikan rodanya sebagai bahan permainan. Semakin banyak jumlah roda mobil/truk yang terhitung sampai menjelang maghrib, menanglah yang memiliki jumlah itu. Jadi, kalau ada truk gandeng dari arah 'milik kita' terlihat dari timur, misalnya, sudah sangat giranglah hati karena rodanya banyak. Lebih-lebih kalau truk gandeng itu mengangkut ban mobil, wah, menang KO-lah kita.*****


17 Mei 2015

Menambah LNB Parabola

KEGEMBIRAAN akan diterapkannya siaran televisi digital terrestrial di Indonesia ternyata tak berlangsung lama. Disaat masyarakat antusias menyambutnya, dikala pabrikan set top box mulai menggenjot produksi, ketika pemenang lelang MUX mulai membangun insfrastruktur dan juga bersiaran, eh program siaran televisi digital malah terganjal. Iya sih, masih ada satu-dua yang mengudara (dengan power pemancar yang tak seberapa), tetapi secara jumlah tak jua bertambah, justru berkurang malah.

Kalau demikian kenyataannya, apakah masih menggantung harapan besar kepada terwujudnya program itu? Ada yang bilang, apa sih kita ini yang tidak ketinggalan? Negara lain sudah melangkah jauh dan tak sudi lagi menggunakan kanal analog untuk televisi, kita masih saja tak bisa ke 'lain hati'. Padahal (katanya) teknologi digital adalah hal yang niscaya, sementara dengan kemajuan teknologi (data) yang maju pesat, membutuhkan bandwicht yang berlipat. (sementara si analog boros sekali karena satu frekuensi hanya bisa diisi satu. Sedang pada kanal digital: satu frekuensi bisa muat belasan!) Kalau tak mau 'ketinggalan kereta' dengan jarak yang teramat jauh, televisi digitallah solusinya.
Before.

Sudahlah, bicara tentang televisi digital free to air (FTA), kalau dipikir-pikir, orang kota kalah dengan orang pedalaman yang tak terjangkau pemancar televisi analog terrestrial. Orang pasang jamur (baca: antena parabola) di kampung sudah menjamur. Siaran televisi bebas kepyur alias tak bersemut adalah hal lumrah. Sementara orang kota dengan pesawat televisi sudah HD, siaran yang ditangkap masih berteknologi analog. Ada sih siaran dengan konten HD, tetapi itu milik pay tv. Dan kita tidak sedang membicarakan itu.

Dengan siaran televisi digital terrestrial yang memang sudah tak pernah nambah kontennya, kita (sebagai pemirsa) sudah tak punya cara lain untuk menambahi sendiri. Berbeda sama sekali dengan siaran digital yang diterima dari satelit. Siaran di satelit Palapa-D saja sudah hampir seratus channel, dan kalau ingin nambah siaran kita tinggal menambah LNB. Masih kurang juga? Tambah LNB lagi.
After.

Sejak memasang parabola sendiri, sekarang yang terpasang pada 'jamur' saya ada tiga LNB (Palapa-D, Telkom-1 dan Asiasat7). Berapa channel yang tertangkap? Bagi pengguna antena parabola tentu sudah tahu: ratusanlah jumlahnya.

Kalaulah saya hari ini iseng-iseng mengawinkan dua scalar ring LNB twin (satu milik Matrix, satunya lagi bawaan Venus) agar menjadi satu scalar ring untuk 4 LNB, tentu supaya saya bisa menangkap channel yang terpancar dari satelit Asiasat-5, yang ujung-ujungnya tentu total channel makin bejibun. (Ada yang bilang nanti bakal repot masangnya pada dish saya yang cuma berukuran 6 feet dengan hanya tiga tiang fokus, sementara dengan scalar ring modifikasi ini, mau tak mau harus menggunakan empat tiang fokus. Kesulitan, lalu gagal, lalu mencoba lagi, gagal lagi sampai menemukan cara yang lain untuk berhasil; itulah tantangannya. Haha, ngeyel ya ?)
Selanjutnya; sepertinya saya mesti menambah
tiang fokus nih...

Mengapa saya melakukan itu, adakah channel favorit yang menjadi tayangan wajib tonton? Olahragakah, filmkah, musikkah? Jujur: tidak. Saya hanya senang tracking dan kurang senang nonton. Kalaulah nonton, paling-paling cuma tombal-tombol remote control, pindah-pindah channel, tahu-tahu mengantuk dan, tidur.

Paling-paling anak-anak ditemani ibunya yang kalau sore nonton Sopo Jarwo atau Naruto. Dengan gambar yang bening bin cling begitu, tentu mononton televisi menjadi nyaman. Saya sih jadwal nontonnya kebagian malam. Tetapi ya itu tadi; nontonnya tidak khusyuk. Paling-paling malah tangan gatal lalu blind scan koleksi satelit, siapa tahu ada transponder baru yang nyangkut.

Satu lagi keinginan, sebagaimana lazimnya tracker anyaran, masih merasa belum lulus sebelum bisa lock menembus satelit Optus. Hehe... *****



14 Mei 2015

Surga Bagiku Gak Penting !

KALIMAT yang saya jadikan judul tulisan ini saya dapati dari punggung seorang pemuda yang menyalip motor saya saat pulang kerja tadi sore. Tulisan itu berwarna hitam dengan warna dasar kaos merah. Ya, dengan ukuran huruf yang besar, kalimat itu bisa dibaca oleh orang rabun sekalipun.

Mungkin kalimat itu hanya olok-olok sebagaimana sering kita jumpai pada kaos Jogger, atau Dagadu atau yang lainnya. Kalau tulisan Tahanan Nusakambangan sih sudah sering saya dapati dikenakan oleh orang yang saya yakin tak sekecilpun punya keinginan menghuni lapas itu. Namun, apakah 'Surga Bagiku Gak Penting' itu juga begitu?

Saya tak mengejar si penyalip itu untuk menanyakan alasannya mengenakan kaos bertuliskan begitu. Bisa jadi ia adalah berandalan yang tak pernah makan sudut surau atau sama sekali tak pernah mengendus kitab suci. Begitukah? Atau ia malah sedang mengajari saya untuk tidak manja melakukan apa-apa hanya demi pahala yang dalam kepala saya hal itu saya anggap sebagai tiket masuk surga. Bahwa, ia mengajari saya untuk melakukan apapun tanpa dasar apa-apa (dalam arti kata) : ikhlas.

Artinya, dengan demikian, surga menjadi 'tidak penting'. Nah, tentu saja jangan tantang saya untuk ndalil yang ndakik-ndakik. Pengetahuan saya ini hanya gratul-gratul karena otak yang yang relatif tumpul. Atau begini saja, kapan-kapan, kalau ketemu orang yang mengenakan kaos bertuliskan yang demikian itu, sebaiknya saya berhentikan dan saya tanyai apa alasannya kemana-mana mengenakan kaos itu. Kalau ada waktu, Sampeyan boleh menemani saya menginterogasinya. *****

NB: artikel ini saya posting menggunakan ponsel jadul Nokia C3.
 

Njajal Ngeblog Pakai Nokia C3

INI, untuk pertama kali saya mencoba posting tulisan pakai ponsel jadul Nokia C3. Dengan tombol huruf yang relatif kecil (dibanding jempol saya yang montok) membuat saya agak gratul-gratul dalam menulis. Itu pertama. Yang kedua, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana cara membuat paragraf. Bagi yang sudah lihai posting tulisan di blog pakai HP, kasih tahu dong saya.... :D

Oh, syukurlah, akhirnya bisa juga bikin paragraf baru. Yakni dengan menekan tombol shift + enter di keypad sisi kanan. Hahaha, gaptek ya saya. *****

7 Mei 2015

Dua Jam + Enam Bulan di Samsat Manyar

Gedung Samsat Surabaya Timur di Manyar Kertoarjo (Foto: Dok. Pribadi)
UNTUK membayar pajak kendaraan bermotor, sekarang ini, mudah sekali. Cukup datang ke Samsat Corner di mal-mal, jadilah. Atau membayar lewat Samsat Drive Thru dengan tanpa turun dari kendaraan. Cepat sekali. Dan kalau masih ada orang yang menggunakan jasa calo untuk hal yang sangat mudah sekali itu, sungguh patut dipertanyakan alasannya.

Tetapi, untuk membayar pajak kendaraan lima tahuhan (ganti plat nomor) yang harus datang langsung ke kantor Samsat apakah semudah dan secepat membayar pajak tahunan di Samsat Corner di mal?

Loket Cek Fisik.(Foto: Dok. Pribadi)
Berbekal bayangan masih ribetnya birokrasi di kantor Samsat, banyak sekali orang langsung menyerahkan urusan itu melalui tangan calo. Nah, sebenarnya seberapa sulitkah mengurus sendiri pajak lima tahunan itu di Samsat dan butuh waktu berapa lama?

Kemarin (5 Mei 2015) saya meneguhkan diri mengurus sendiri hal itu di kantor Samsat. Karena domisili saya di Surabaya Timur, saya termasuk daerah kerja Samsat Manyar. (Kendaraan saya ini masih atas nama tetangga, karena ketika beli dulu saya belum masuk KK Surabaya. Nah untuk itu saya menyiapkan Surat Kuasa yang saya ketik sendiri lengkap dengan materai senilai 6000 rupiah).

Lewat jalan Ir. Soekarno (MERR) dari rumah sampai ke kantor Samsat di jalan Manyar Kertoarjo hanya memakan waktu seperempat jam. Saya lihat jam dinding di ruang petugas administrasi Cek Fisik masih menunjuk angka 8.12 WIB. Dan pelayanan Samsat sudah mulai ramai.

Esek-esek nomor mesin dan nomor rangka kendaraan. (Foto: Dok. Pribadi)
Dari pintu gerbang, saya langsung membawa kendaraan ke area cek fisik. Bertanya kepada petugas berseragam krem/kekuningan, saya diarahkan ke loket 1 untuk mengambil formulir cek fisik dulu. Selembar kertas itu telah ada semacam kertas sticker untuk menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan. Petugas cek fisik menggesek dengan cekatan. Benar, pada kaca loket tertulis 'cek fisik gratis', tetapi saya lihat nyaris semua orang memberi tip lima atau sepuluh ribu rupiah ke petugas cek fisik. Kalau dikalikan, dengan sebegitu banyak kendaraan yang cek fisk saban hari, tentu sangatlah besar uang tip yang diterima petugas berseragam biru itu. (Saya tak tertarik mereka-reka; uang itu 'dimakan' sendiri atau dibagi rata ke petugas/bagian lain demi sama rasa-sama rata...)

Setelah cek fisik, kendaraan dianjurkan dipindah ke tempat parkir di seberang jalan. Dan di dekat kantin tak jauh dari tempat parkir itu, kita bisa memfoto kopi berkas yang kita pegang, termasuk BPKB dan STNK lama. Tak usah bilang ini-itu, petugas foto kopi sudah paham betul berapa lembar kopi yang dibutuhkan untuk tujuan yang dimaksud. Plus-nya lagi, petugas foto kopi tanpa diminta akan menata dan menstaples berkas-berkas itu pada stop map. Biayanya? Lima ribu rupiah saja.

Ruang tunggu lapang dan dingin. (Foto: Dok. Pribadi)
Dari situ saya kembali ke loket cek fisik untuk mendapatkan stempel legalisir petugas cek fisik. Lalu diarahkan ke loket 1 untuk diperiksa. Setelah itu, disilakan masuk ke ruang dalam menuju loket 6; berkas yang sudah ditata tukang foto kopi dirapikan lagi. Berikutnya disarankan menuju loket nomor 23. Antri sebentar, dipanggil petugas loket 25; membayar pajak kendaraan. Duduk lagi di ruang tunggu yang luas dan berpendingin. Tak lama kemudian petugas loket 27 memanggil untuk membayar biaya STNK dan plat nomor baru; nilainya delapan puluh ribu rupiah. Oleh petugas loket 27 saya diarahkan untuk antri di depan loket 28.

Pada tanda loket 28 ini tertulis sebagai loket penyerahan STNK dan plat nomor polisi baru. Ini loket terakhir sebelum urusan di Samsat ini beres, pikir saya. Sambil menunggu, saya mengedarkan pandang. Penilaian saya, fasilitas di Samsat Manyar ini termasuk bagus. Ada ruang tunggu dan loket khusus lansia, ada pula ruang khusus ibu menyusui. Karena saya merasa belum lanjut usia maka saya menunggu di ruang dengan kursi yang tak empuk dibanding sofa di ruang tunggu lansia itu. Termasuk saya tidak duduk di ruang ibu menyusui karena saya bukan ibu-ibu. Hehe....
Ruang tunggu Lansia. (Foto: Dok. Pribadi)

Sepuluh menit menunggu di depan loket 28, baru nama saya dipanggil. “Ini tanda terimanya,” kata petugas.

Plat nomor dan STNK-nya?” tanya saya.

Ambil kesini enam bulan lagi,” jawab petugas laki-laki dengan nada ketus tidak, ramah juga tidak. Sampai-sampai ia tidak mengucap maaf untuk hal yang rentang waktunya sangat lama itu. Mungkin ia berlaku begitu karena telah ada kalimat permintaan maaf pada banner di sudut depan meja loket 28 tentang pemberitahuan dimaksud.

Saya pulang dari kantor Samsat dengan hanya mengantongi bukti pembayaran pajak kendaraan dan tanda terima pembayaran STNK dan plat nomor yang jadinya masih setelah lebarah haji nanti itu.

Nah, kalau dihitung, dari sejak saya datang tadi, sampai selesai ini, memakan waktu tak lebih dari dua jam dengan perincian semua tahapan saya urus sendiri sesuai prosedur yang terbilang lancar jaya.

Untuk membayar pajak tahunan, lebih enak disini saja. (Foto: Dok. Pribadi)
Pada spanduk di halaman depan memang tertera kalimat untuk tidak mengurus melalui calo. Keluar dari kantor Samsat, saya mencari-cari, masih adakah calo yang bergentayangan di sekitar Samsat ini? Saya menduga beberapa orang yang duduk-duduk di pinggir jalan itu adalah tersangkanya. Paling tidak, “Ngurus perpanjangan ya, Pak?” seseorang yang kemudian mengaku bernama Sakip, usianya sekitar 35 tahun, berkaos oblong putih yang telah tidak putih lagi, yang sedari tadi duduk di depan musholla bertanya kepada saya. “Lewat saya saja, Pak. Satu jam selesai, dua puluh ribu saja,” katanya berpromosi.

Walau saya sudah bilang telah selesai mengurus sendiri, masih saja ia memberi nomor ponselnya agar, “Kalau lain kali mengurus, atau ada tetangga Bapak yang butuh, bisa langsung menghubungi saya, Pak. Saya tiap hari disini kok.”

Oh, ternyata ini salah satu calonya. Biaya jasanya duapuluh ribu saja (dengan janji) satu jam selesai. Atau, kita memilih menangani sendiri urusan di Samsat ini dengan memakan waktu dua jam selesai?  *****

10 April 2015

D o n a s i

SEBUAH minimarket yang sekarang memiliki jaringat luas, membuat satu ketentuan 'kalau pelayan lupa memberi salam saat pelanggan masuk, si pelanggan berhak atas sekaleng soft drink, gratis'. Itu saya dapati beberapa tahun yang lalu, saat awal-awal minimarket itu membuka gerai tidak jauh dari rumah saya. Apakah hal tersebut, (kala itu) juga dilakukan di tempat lain saat pembukaan gerai anyar? Saya tidak tahu.

Kini, yang saya tahu, ia tumbuh laksana biskuit di masa Lebaran; banyak sekali, di seantero negeri. Yang mendominasi ya cuma mereka berdua, yang secara warna tidak jauh berbeda. Apalagi secara tempat. Ibarat judul lagi jadul; Dimana Ada Kamu Disitu Ada Aku. Bahkan, untuk menggambarkan pertarungan dengan kompetitornya, mereka melakukan head to head secara nyata. Berhadapan hanya berbatas jalan, atau berdampingan berbatas tembok belaka. Anda lebih sering berbelanja ke yang itu atau ke yang sana?

Dibanding di toko biasa, harga barang disitu lebih mahal,” kata istri saya yang –seperti istri siapa pun-- sungguh sangat mempertimbangkan harga.

Tetapi dengan kehadirannya nyaris di depan hidung siapapun, ia menjadi 'pembunuh bertangan dingin' toko kelontong tradisional. Ya, harga memang agak lebih mahal, tetapi dengan tata letak barang yang rapi, dengan pembeli bisa sesuka hati memilih sendiri, bisa bayar aneka tagihan bulanan sampai tiket kereta api, berpendingin udara, ada ATM, buka 24 jam, oh lengkap sudah kekalahan si toko kelontong.

Walau sudah begitu, sungguh saya tidak habis pikir saat si kasir dengan enteng bertanya kepada pembeli saat uang kembalian ada pecahan recehnya, “Yang empat ratus boleh didonasikan?”

Dengan pembeli lain sudah antre di belakang kita, kalau hendak bilang 'tidak' saat ditodong begitu, sungguh sebuah dilema; tidak mendonasikan dikira pelit, mendonasikan tidak tahu itu untuk apa dan siapa. Iya sih, cuma setarus atau empat ratus rupiah. Namun kalau dikalikan jumlah orang yang 'terpaksa' menyumbang, lalu dikalikan lagi jumlah jaringan minimarket itu di seluruh Indonesia, ho ho ho... sungguh sangat besar sekali nilainya.

Iya juga sih, dalam menyumbang sungguh tidak baik sampai menelusuri sumbangan itu akan digunakan untuk apa oleh siapa. Yang penting ikhlas. Urusan tanggung jawab, bisa diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Masalahnya, sekarang ini, tidak sedikit orang yang sudah kehilangan rasa takut, bahkan juga kepada Tuhan.

Bagaimana, “Yang tiga ratus boleh dinonasikan?” *****



7 April 2015

Basa Jawa Bakal Ilang?

WIS suwe banget rasane aku ora ngisi tulisan nang blog iki. Yen digolek-golekne, mesthi ana wae sing iso didadekne alasan. Sing sibuklah, sing ora sempatlah, lan liya-liyane. Nanging, intine, yo lagi males wae. Titik.

Nah, saiki, kanthi trantanan (kaya bayi belajar mlaku) aku niat ingsun nulis nganggo basa Jawa. Basa sing kudune luwih gampang dak tulis, ananging buktine, nulis nganggo basa Jawa luwih angel tinimbang nulis baha Indonesia. Padhahal, yen dak rasa-rasa, maca geguritan utawa cerkak basa Jawa, nang ati iki krasa luwih kena, luwih mirasa.

Aku dadi iling ing nalika taun 80an. Nalika iku Kangmasku dadi agen majalah minggon Panjebar Semangat lan uga Jayabaya. Krana saka kuwi, aku isa ajeg maca sadurunge majalah-majalah iku diterke menyang para pelanggan. Sing isih dak ilingi nganthi saiki, yaiku Roman Sacuwil tulisane Cahyarini T. Budiarti utawa gambar kartun asil coretane Suhadi TC (Tukang Cukur). Komike Teguh Santosa ing samak mburi, tulisan-tulisane Suparto Brata, Bonari Nabonenar lan liya-liyane. Siji maneh, ilustrator Panjebar Semangat sing gambare apik tenan, jenenge Budiono, saiki dadi ilustraor andalan Jawa Pos.

Cekak carita, masa-masa SMP nganti SMA aku ora tau ninggalke wacan basa Jawa. Saiki, aku ora ngerti kepriye kabare minggon basa Jawa kuwi. Kangen rasane maca geguritan, cerkak lan rubrik-rubrik khas liyane. Saiki, sing tak ngerteni, saya akeh bocah cilik ora bisa --aja ta maca-nulis aksara Jawa-- ngomong basa Jawa rada alus uga ora godak, isane mung ngoko. Malah, ora peduli bapa-biyunge asli Ngawi utawa Trenggalek, umpamane, akeh tangga-teparoku sing sabendina nggunakake basa Indonesia. Lha yen kaya mangkene kasunyatane, apa ora mengko bakal ilang basa Jawa iki?

Yen dudu kita, njur sapa sing njaga lan nglestare'ake basa Jawa? Apa mengko, putra-wayah kita kudu adoh menyang negara Walanda utawa Suriname kanggo sinau taling-tarung lan sapiturute? *****


4 Februari 2015

Surya Puoll

IDE dan naskah cerita dari saya, gambar oleh Cak Ucup dan Cak Rendra dari Harian Surya.



14 Januari 2015

Siaran Televisi Digital di Jember

MINGGU kemarin saya ada acara ke Jember. Waktu yang tak lama itu saya manfaatkan juga untuk menjajal lagi (karena dulu saya juga telah pernah melakukannya) set top box, demi mencari tahu sudah seberapa perkembangan siaran televisi digital terrestrial di Jember. Dulu, seingat saya, MetroTV telah bersiaran secara digital di Jember. Sendiri saja, tanpa kawan. Sekarang, apakah ia sudah ada teman MUX lainnya?

Kemarin itu, mula-mula saya duga frekuensi 610 Mhz (Ch. 38) milik Metro masih ada. Ternyata; malah yang tertangkap ketika saya scan adalah MUX milik MNC pada channel 42 (642 Mhz) dan channel 45 (666 Mhz) yang dihuni MUX TransCorp, sementara MetroTV sama sekali tidak ke-detect.

Seperti biasa, MUX grup MNC berisi RCTI, MNCTV dan GlobalTV, sedangkan TransCorp yang biasanya (di kota lain) selain ditempati TransTV, Trans|7 dan KompasTV, di Jember ini KompasTV tidak ikut serta. Bisa jadi, saya duga, KompasTV memang belum memiliki ijin siaran di Jember.


Satu lagi, bila di Surabaya (yang saya tahu) channel digital semua ada di angka ganjil, untuk Jember kok kombinasi ganjil-genap ya?! (MetroTV channel 38, MNC channel 42 dan MUX TransCorp channel 45.)

Jarak dari tempat saya melakukan scan sekitar 30 km dari pemancar (bila pemancar digital itu dari daerah Bangsalsari). Dengan jarak segitu, saya rasakan, sinyal tertangkap dengan stabil. Entah kalau melakukan scan dari daerah yang jaraknya lebih jauh dari itu. Juga, ada yang bertanya lewat email saya; dengan jarak antara rumah dan pemancar 100km apakah sinyal digital masih bisa diterima?

Jujur, secara teknis saya tidak tahu. Tetapi, asumsi saya, penerimaan sinyal sejalan dengan kekuatan daya yang dipakai oleh sebuah pemancar plus pancaran itu tidak membentur penghalang. Betulkah begitu? Silakan, sebagai expert, Anda menambahkan informasi bila berkenan. Saya tunggu selalu.

Catatan: 'altem' (alat tempur) yang saya pakai scan di Jember tempo hari adalah: Antena: Titis TS-1000 dengan ketinggian tiang 7 meter, Kabel: Belden RG-6, set top box: PF-209. *****

8 Januari 2015

Jangan Remehkan Langkah Kecil

Foto: Viva
UNTUK menjadi besar jangan pernah meremehkan hal-hal kecil. Karena jika menjadi besar melalui langkah-langkah kecil, isya Allah akan tahan berbagai ujian (tidak gampang menyerah).

Dwi Soetjipto, mantan Dirut Semen Indonesia, kini Dirut Pertamina.


5 Januari 2015

Bursa Buku Lungsuran di Pasar Blauran

rek ayo, rek
mlaku-mlaku nang mBlauran
rek ayo rek
ayo tuku buku lungsuran....

SELAIN di kawasan Kampung Ilmu yang terletak di jalan Semarang, di Surabaya ini juga terdapat tempat lain yang menyediakan buku bekas atau lungsuran. Tempatnya di Pasar Blauran, namanya Bursa Buku Bekas.

Untuk menuju ke tempat ini sangatlah tidak sulit. Terletak di segi empat emas Praban-Bubutan-Kranggan-Blauran, ia secara gampang dijangkau angkutan kota. Kalau Anda dari arah terminal Bungurasih, Anda bisa naik bis kota jurusan Tanjung Perak yang via Tunjungan Plaza/Embong Malang dan Anda bisa turun persis di kawasan Blauran.

Betul, di sepanjang Blauran memang banyak sekali berjejer toko-toko emas. Berjalanlah terus ke arah stopan/lampu merah. Beloklah ke kiri; disitu ada gerbang depan Pasar Blauran. Letaknya persis berhadapan dengan pusat perbelajaan BG Junction.

Begitu masuk langsung disambut berderet pedagang jajanan tradisonal. Ada lemper dan aneka kue basah lainnya. Begitulah memang, selain di Pasar Kembang, disinilah dengan gampang kita mendapatkan aneka kue tradisonal.

Baiklah, Anda ingin menuju ke Bursa Buku Bekas, gampang, saya tunjukkan arahnya. Lewatilah saja para pedagang kue-kue itu. Nanti, setelah Anda mendapatkan buku-buku yang Anda cari, bolehlah melepas penat sambil menikmati aneka kuliner di situ. Berjalanlah lurus, lalu belok kiri sedikit. Nah, disitulah lapak-lapak penjual buku bekas berada.

Anda mau mencari buku apa? Buku pelajaran SD? Ada. SMP dan SMA? Juga ada. Buku anak kuliahan, pengetahuan umum, tema agama, novel dewasa, teenleet sampai majalah sastra Horison? Dijamin ada. Dan lazimnya sebuah pasar, bandrol harga secara pasti tidak ada. Yang terjadi adalah hukum tawar-menawar; semakin Anda pintar menawar, semakin murahlah harga buku yang Anda dapatkan. Dan bersiaplah untuk membayar sedikit mahal bila Anda kurang piawai menawar.

Sekalipun bernama Bursa Buku Bekas, bukan berarti tidak tersedia buku-buku baru. Namun, kalau boleh saya menyarankan, untuk membeli buku baru, belilah saja di toko-toko buku. Kenapa? Saya duga, yang dinamakan buku baru disini adalah buku-buku bajakan. Dan bukankah kalau kita membeli buku bajakan itu sama saja dengan kita tidak menghargai jerih payah para penulis dan penerbit resmi. Buku bajakan itu, yang isinya jan mak-plek sama dengan buku asli itu, sama sekali tidak mengalirkan royalty kepada sang penulis. Padahal, para penulis itu (lewat buku-bukunya) juga butuh profit (rupiah) disamping benefit (faedah).

"Liburan kemarin lumayan ramai, Mas?" saya bertanya kepada Mus (35) salah seorang pedagang buku yang baru saya kenal.

"Sepi, Mas," jawab ayah dua anak asal Talun, Blitar, yang beristrikan perempuan asal Tanggul, Jember ini.

Perkiraan saya, karena anak-anak sekolah pada libur dua minggu kemarin, mereka pada mencari buku untuk menemani libur mereka. Ternyata, "Mereka kan pada tamasya, Mas, jadinya penjualan sepi sekali. Malah pernah sehari kita cuma dapat tujuhpuluh ribu." papar Mus yang saban hari bertiga dengan Ari (25) asal Wonogiri dan Eko (26) asal Solo.

Mendapati omzet penjualan yang cuma segitu, aku Mus, sering kurang enak sama majikan. Ya, mereka bertiga memang hanya sebagai penunggu, dagangan itu milik majikan orang Sidoarjo yang juga memiliki stan di Kampung Ilmu jalan Semarang. Masa ramai penjualan buku, papar Mus, adalah saat akan masuk tahun ajaran baru. "Dalam sehari kita bisa mendapatkan tujuhratus ribu atau lebih," imbuh Mus yang sudah sepuluh tahun menjadi penunggu stan dan mengaku dibayar limapuluh ribu rupiah sehari.

Saya mengedarkan padang dan berjalan mengelilingi stan satu dan lainnya. Betul kata Mus, lumayan sepi memang. Ada sih satu-dua (saya kira mahasiswa) yang mencari buku yang diperlukan. Atau seorang ibu yang datang ke stan Mus saat saya kembali asyik jagongan, "Saya cari buku terjemahan kitab Riyadush Sholihin," kata perempuan berjilbab berusia sekitar 45-an. "Untuk nambah pengetahuan," katanya ketika saya tanya.

Eko, teman Mus dengan ramah bilang, "Oh, ada. Tunggu sebentar," lalu priyantun Solo itu bergegas menuju ke stan lain untuk mencarikan buku yang dimaksud si Ibu. Begitulah, sudah lazim terjadi pedagang menjualkan dagangan  pedagang-pedagang lain. Dengan begitu, jarang mereka bilang 'tidak punya' kala ada orang mencari buku tertentu.

Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Di Bursa Buku Bekas Blauran ini pun begitu; tawar menawar harga pas masuk tas.

Oke, beli buku sudah. Sekarang saatnya menikmati aneka kuliner di situ. Saran saya, cobalah rujak cingur. Atau soto, atau rawon atau lontong balap. Minumnya? Ada dawet dan aneka minuman lainnya. Terserah selera, pokoknya. Tetapi jangan lupa, karena saya telah menjadi guide Anda dalam jalan-jalan ke Blauran kali ini, untuk yang saya makan ini (sepiring rujak cingur dan semangkok es campur), saya minta Anda yang bayar. Bagaimana, deal?...*****



25 Desember 2014

Toleransi Hati

SETIAP Idul Fitri saya banyak sekali menerima ucapan Selamat Hari Raya dari teman. Dan di era gadget sekarang ini, mengirim ucapan selamat macam itu sama sekali tak ribet dan relatif tak mahal. Asal mau saja. Padahal dulu, saat jaman kartu ucapan, duh betapa makan waktu dan biaya; memilih jenis dan warna kartu yang pas, misalnya warna apa untuk siapa. Belum lagi menuliskan kata-kata di lembaran itu. Menempeli prangko kemudian membawanya ke kotak pos. (Belum lagi kalau kita merasa tulisan tangan kita jelek dan untuk itu kita memakai jasa orang lain untuk menuliskannya. Dengan imbalan, tentu saja.) Kartu ucapan itu memakan sekian waktu untuk sampai ke orang yang dituju.

Sekarang, detik ini dikirim, detik ini pula sampai. Nyaris sama sekali tak ada jeda.

Kembali ke ucapan Selamat Idul Fitri yang saya terima; ia datang tak sekadar dari teman sesama muslim, tetapi tak sedikit pula dari yang non-muslim. Kartu ucapan lewat SMS itu memang sekadar ucapan, tetapi secara makna tentu ia lebih dari itu. Ungkapan 'minal aidin wal faizin' sampai yang hanya 'skor kita sekarang 0-0, ya?' adalah bentuk pendek dan sederhana dari ungkapan hati yang sesungguhnya. Dan urusan hati, Anda tahu, hanya si punya hati itu dan Tuhan saja yang tahu. Tapi penjelasannya tentu bisa panjang. Misalnya, orang yang hatinya sungguh baik, tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak baik.

Pendek kata, walau tak selalu, perkara toleransi (beragama) lebih kepada urusan hati, bukan sekadar casing semata. Setiap akhir Desember, ramai bertebaran 'fatwa' haram bagi muslim mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman Nasrani. Benar, urusan akidah adalah hal yang sangat prinsip. Bahwa kemudian ada pihak/tokoh muslim yang dengan ringan bilang mengucapkan selamat Natal itu tidak apa-apa, inilah yang malah bikin saya --yang dangkal ilmu agamanya ini-- menjadi bertanya dalam hati; ikut pendapat yang mana?

Dalam berhubungan, kita memang tak melulu secara vertikal antara makhluk dan Sang Khalik. Yang secara horizontal, dengan teman dan relasi dari berbagai agama, adalah sebuah hubungan yang niscaya. Dan dalam hubungan sosial itu diperlukan komunikasi yang semestinya; yang saling menghargai, saling mengerti.

Antara saya dan Tuhan tak perlulah ditawar apa yang mesti saya lakukan sebagai makhluk dan Pencipta, tetapi kepada sesama itu, yang selama ini berhubungan sangat baik walau beda agama itu, kadang yang bikin hati ini tidak nyaman. Tidak mengucapkan Selamat Natal tidak enak, mengucapkan Selamat Natal tidak boleh. Hmm...

Tetapi, sekali lagi, urusan toleransi itu perkara hati. Tentang 'larangan' yang harus saya patuhi itu sepertinya semua teman saya yang Kristiani sudah mengerti. Dan mengerti adalah inti dari toleransi. Maka, ketika antar hati sudah saling mengerti, adakah ucapan yang perlu mewakili? *****

19 Desember 2014

Green Building Awareness Award 2014

DATA yang ada menunjukkan, gedung (hotel, apartement, mall dan perkantoran) menyumbang emisi CO2 sebesar 27 persen. Dan angka ini diprediksi akan mencapai 40 persen pada tahun 2030 mendatang. Untuk menghambat lajunya, diperlukan kepedulian banyak pihak untuk makin bergaya hidup hijau.

Menghargai upaya para pengelola gedung di Surabaya, Pemerintah Kota menggelar acara Green Building Awareness Award yang puncaknya diselenggarakan di Gedung Pabbeko lantai 3 kemarin siang (Kamis, 18 Desember 2014). Berikut catatan saya yang hadir di acara tersebut.


Banyak sudah penghargaan yang diterima kota Surabaya dalam bidang lingkungan. Baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Tetapi, “Untuk menjadikan Surabaya sebagai Green City, Pemkot tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kepedulian banyak pihak dalam mewujudkannya,” urai Sekota Surabaya, Ir Hendro Gunawan MA, dalam sambutannya di hadapan perwakilan pengelola gedung di Surabaya. Turut hadir dalam acara itu, selain para penerima penghargaan, juga pula para tokoh yang sangat concern terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Diantaranya adalah pakar tata kota dari ITS Prof. Johan Silas, serta arsitek yang dalam setiap rancangannya selalu berkonsep green building, Ir Jimy Prijatman M-Arch.

Dalam ajang Green Building Awareness Award 2014, pertama-tama ada 138 gedung di kota Pahlawan ini yang dinilai. Dari jumlah tersebut, lalu dikerucutkan lagi menjadi 59, dan diperas lagi hanya tersisa 27. Nah, dari 27 itu disisakan 12 yang berhak mendapat penghargaan.

Ada enam kriteria utama yang harus dipenuhi agar suatu bangunan bisa dikatakan Green Building. Yakni; tepat guna lahan, efisiensi konservasi energi, konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan, dan yang terakhir, managemen lingkungan dalam bangunan.

Dibacakan oleh I Gusti N Antariyama PhD, berikut adalah penerima penghargaan Green Building Awareness Award 2014:


Kategori Pelopor

Hotel:
  • Grand Darmo
  • Majapahit
  • Novotel
  • Santika Jemursari
  • Singgasana
Apartement:
  • Metropolis
  • Puncak Permai
Perkantoran:
  • Graha Bukopin
  • Graha Pena
  • Graha Pangeran
  • Graha Wismilak
(Untuk kategori Mall tidak ada.)

Untuk penghargaan kategori Utama:

Hotel:
  • Sheraton
  • Sedari awal, gedung hasil rancangan Ir Jimy Prijatman M.Arch ini
    memang berkonsep Green Building. (sumber foto: Google)
    Mercure Grand Mirama
  • JW Marriot
Apartement:
  • Water Place Residence
  • Cosmopolis
  • Trillium Office & Residence
Mall:
  • Grand City Mall & Convec
  • Plasa Tunjungan
  • Lenmarc
Perkantoran:
  • Intiland
  • Esa Sampoerna
  • Grha Wonokoyo. *****




17 Desember 2014

Mengejar TVRI, Menangkap tvOne

Penampakan antv dengan STB PF-209
Scan pakai Getmecom HD-9
SUDAH dua hari ini on air-nya, Kang,” begitu kata seorang teman lewat telepon tadi malam, beberapa saat setelah saya menulis status demi mengabarkan MUX Viva grup pada 490MHz/Ch.23 telah kembali mengudara di Surabaya.

Dengan kembali megudaranya tvOne dan antv di kanal digital, menjadikan hanya MUX Emtek Grup (SCTV, Indosiar dan O Channel –538MHz/Ch.29) yang belum kembali on air di kota Pahlawan ini..

Terbilang sudah agak lama saya tidak menyalakan set top box DVB-T2 karena channel yang ada cuma itu-itu saja. Bukannya content bertambah, malah sering berkurang. Pernah suatu kali MetroTV berhari-hari menghilang dari udara, juga MNC grup. Walau yang saya sebut tadi sekarang sudah on lagi, tetapi yang lumayan lama 'tidur' ya MUX Viva dan Emtek.


Semalam saya kembali menyalakan STB karena membaca status seorang teman Facebook di Semarang yang menulis bahwa TVRI telah menambah content; ada TVRI Budaya dan TVRI Sport. Ini hal yang langsung saya hubungkan dengan yang hari-hari ini saya baca di grup satelit pada jejaring sosial media. Bahwa, sekalipun sinyalnya masih pelit, pada siaran satelit TVRI telah menambah content demi melengkapi siaran TVRI Nasional yang ada selama ini. Ya, yang saya maksud tentu yang ada di satelit Palapa, bukan beberapa siaran TVRI Daerah yang ada di satelit Telkom-1.


tvOne hasil scan STB PF-209
Kalaulah saya sejauh ini belum bisa lock transponder 3767 H 4000 (ada pula yang bilang 3768 H 4000) yang dihuni TVRI Sport dan TVRI Budaya, bukan disebabkan masih pelitnya sinyal di frekuensi itu, tetapi lebih disebabkan kurang pinternya saya dalam hal tracking. Atau, ini kecurigaan saya, posisi dish dan atau LNB saya belum pas betul ke arah Palapa-D.
tvOne scan pakai Getmecom HD-9


TVRI Nasional cling tidak pakai cekot-cekot.
Masih gagal lock pakai DVB-S, saya banting setir menyalakan DVB-T2 dan (tidak seperti yang dibilang teman dari Semarang) di kawasan Surabaya TVRI masih belum ada perubahan. Masih –sekalipun siaran empat saluran-- isinya ya tetap sami mawon alias mak plek sama. Mungkin yang dialami teman-teman di Semarang itu masih dalam taraf uji coba. Tapi bersyukurlah, paling tidak, telah ada tambahan content baru. Harapannya, tentu saja, progress siaran televisi digital terrrestrial dengan Monkominfo yang baru sekarang ini makin jelas, dan tidak sekadar jalan di tempat.
Sinyal TVRI baru di Palapa-D milik saya masih 0%.
Untuk siaran satelit, saya scan pakai
reciever Matrix Apple III PVR.


Saya belum tahu apakah di kawasan lain.semua MUX yang telah ditetapkan sudah bersiaran secara full power sekaligus full time. Informasi seorang teman, untuk MUX Emtek (SCTV dkk) di Surabaya ini, pengerjaan infrastrukturnya dibarengkan dengan persiapan beroperasinya pay tv sistem antena biasa bernama NexMedia.*****


14 Desember 2014

Parikan di Jalan

SAYA kurang paham betul kesenian Ludruk itu berasal dari Jombang atau Surabaya. Yang saya tahu, dalam ludruk ada segmen yang selalu ditunggu. Biasanya dimunculkan setelah tari remo dan paduan suara para 'wandu' yang berdiri berjajar setelah penari remo turun panggung.

Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.

Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.

Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****

wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.