Rabu, 03 Oktober 2018

Sangkal Putung atau Dokter Orthopedi?

PALANG pintu perlintasan KA tertutup, kendaraan di perempatan Jagir sore itu menyemut. Seperti juga pengendara yang lain, saya berhenti. Iseng merogoh ponsel di saku celana. Oh, ada tiga panggilan dari Ibu Negara tak terjawab. Dan beberapa WA. Tak saya baca, karena kereta barusan lewat. Palang pintu kembali dibuka. Seperti yang lain, saya juga mencari celah untuk melaju lagi. Tapi untuk menepi. Di setelah rel kereta api. Saya berhenti di sebelum Mangga Dua. Kembali merogoh saku. Mengambil ponsel. Membaca yang tertera.

Tak biasa istri saya menelepon atau kirim pesan via WA di jam segitu, karena pasti tahu saya sedang dalam perjalanan pulang. Dan Surabaya di jam pulang kerja sering berkondisi tiada jalan yang tak macet. Benar saja, “Adik jatuh, tangannya bengkak”, itu kalimat yang saya baca dari WA-nya.

Tiada alasan untuk tidak berusaha segera sampai di rumah. Begitu memarkir kendaraan di halaman rumah, ada beberapa tetangga yang sedang ada di ruang depan. Merubung si bungsu. Dan, oh benar. Saya lihat siku tangannya bengkak. “Jatuh dari sepeda,” kata ibunya.

Beberapa tetangga berbaik hati menenangkan saya. Dan bilang bahwa cedera si bungsu harus segera ditangani. Harus dibawa ke tukang sangkal putung.

“Kalau dilihat bengkaknya, sepertinya tidak parah,” kata seorang tetangga. “Paling disana cuma dipijat sebentar, langsung sembuh”.

Saya dan istri yang sedang panik, agak reda mendengar kalimat itu. Lebih-lebih si tetangga bilang dia pernah mengantar saudaranya yang cedera tulangnya lebih parah, bahkan sampai tidak bisa berjalan, begitu dipijat Umik (begitu dia menyebut tukang pijat itu) pulang langsung bisa jalan.

Jadilah sore itu juga si bungsu kami bawa ke tukang sangkal putung. Di mobil, di sepanjang perjalanan, si bungsu selalu menangis kesakitan.

Tangan kanan si Bungsu diperban
dan diberi semacam papan tipis.
Setelah menempuh waktu sekitar satu jam (tentu akan lebih cepat bila jalalan tidak macet) tibalah kami di sebuah kampung yang banyak sekali disitu tempat tukang sangkal putung. Kalaulah saya tidak ada yang mengantarkan, tentu akan bingung memilih tempat yang mana yang akan dituju. Yang layanan dan track record-nya bagus, maksud saya. Yang gampang 'jodoh' saat menangani pasien. Bukankah juga begitu saat kita ke dokter?

Minggu, 23 September 2018

Alon-alon Waton Klepon

TERLETAK di sudut jalan Ngurah Rai Tabanan, Bali, ada satu tempat yang menjual penganan khas Gempol; klepon. Yang membedakan, bila di sepanjang jalan sekitar bundaran Gempol papan nama setiap kedai klepon selalu Wahyu, di Tabanan itu si penjual menuliskan 'Klepon Sidoarjo' sebagai namanya.

"Sidoarjonya mana, Mas?" tanya saya kepada lelaki kekar berambut gondrong yang merekrut dua pekerja asli Bali dalam usaha perkleponannya.

"Saya asli Krembung," jawabnya sambil tangannya cekatan membuat bulatan dari adonan tepung ketan yang selalu diwarna hijau itu. Tak lupa, sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih, dimasukkan cairan gula merah ke dalam kleponnya. Cairan gula merah itu yang memuncratkan rasa manis di lidah saat klepon diceplus.

Ketika saya cerita tentang Klepon Sidoarjo yang dibuat lelaki asal Krembung itu kepada salah satu penjual klepon di Gempol, "Iya, Pak Wahyu, pelopor penjual klepon disini, juga asal Krembung," papar lelaki bersarung dan berkopyah putih itu.

Selain klepon, biasanya pedagang di Gempol  juga menjual krupuk upil. (Foto: ewe)
Nah, kebetulan ini. Mumpung Abah penjual klepon di Gempol ini menyebut nama Wahyu, saya iseng bertanya kenapa semua penjual klepon disini memakai nama Wahyu di spanduk di depan kiosnya. Walau saat dibeli, tertera nama lain pada kotak bungkus kleponnya. Mahkota, misalnya. Namun nama Wahyu sudah menjadi nama generik untuk klepon. Di Gempol, klepon adalah Wahyu. Titik.

"Dulu yang pertama jualan klepon disini ya Pak Wahyu itu", Abah menerangkan. "Kami belum bisa bikin. Nah, dari Pak Wahyu pula kami belajar bikin klepon."

"Tapi," saya bertanya lagi,"Kenapa semua pedagang klepon disini kok sampai sekarang memakai nama Wahyu?"

"Karena kalau pakai nama lain, orang kurang tertarik untuk membeli," jawab Abah. "Lagipula, Pak Wahyu gak apa-apa kok namanya kita pakai. Malah beliau juga masih jualan klepon hingga sekarang."

"Lalu apakah penjual klepon disini pada membayar kepada Pak Wahyu karena menggunakan nama beliau?"

"Tidak".

Nah, kalau dilihat menggunakan logika bisnis kekinian, tentu Pak Wahyu dapat royalti dari punggunaan namanya sebagai merk. Dan beliau bisa ongkang-ongkang momong cucu tanpa perlu jualan klepon lagi. Cukup jual nama saja.

Ingin saya bertemu Pak Wahyu yang baik hati itu untuk ngobrol ringan tentang klepon, semoga suatu hari nanti keturutan. Pelan-pelan saja. Alon-alon, waton klepon.****


Sabtu, 22 September 2018

Sahabat Pena

DULU, selain kontak jodoh, ada rubrik sahabat pena di majalah mingguan atau koran terbitan Minggu. Selain dicantumkan nama, hobby, cita-cita dan tentu saja alamat surat. Iya dong, kalau tidak, kemana mesti berkirim surat. Tentang foto, sama deh dengan akun sosmed kita (eh, saya ding). Yang tidak tertutup kemungkinan foto yang dipajang adalah hasil 'polesan'. Agar apa kalau bukan untuk menarik perhatian. Kalau tidak gitu, malah agar wajah sejati gak ketahuan.

Karena, kalau saya sih, sasaran tembak pihak yang akan saya sahabat penai (?!), tentu yang fotonya syantik. Walau bisa jadi si syantik yang ngakunya bernama Rida itu sejatinya adalah Rudi. 

Saya ikutan teman yang lebih dulu punya hobby surat-menyurat. Dari yang semula heran buat apa beli perangko dan kertas Harvest (yang aroma wanginya gak bisa ditiru oleh media daring sekarang), lalu girang bukan kepalang saat Pak Pos datang mengantar surat balasan, eh saya malah ketularan.

Dan waktu itu, sahabat pena itu sedemikian  digandrungi. Sampai ada lagunya segala. Boy Sandi atau Mukhlas yang nyanyi, lupa saya. 

Dari sekian sahabat pena saya, ada 'kera Ngalam' yang kemudian relatif lebih akrab dibanding yang lain. Tulisannya bagus, kalimatnya sering puitis. Jan, pokok'e 👍.

Terbilang lama kami secara intens saling berkirim surat. Dan secara khusus dia manggil saya dengan E'ed. Ah, saya langsung ingat Eeng Saptahadi yang main jadi menantunya Bu Broto dalam serial Losmen di TVRI.

Kenapa kami bisa lama bersahabat pena? Ya karena kami tidak saling tahu foto kami. Oh iya, dia saya kirimi surat duluan gara-gara saya pernah baca surat untuk teman saya. Iya, saya iseng baca, dan kok nama dan juga tulisan tangannya 'masuk'. Jadi bukan dari hasil lihat di koran Minggu. Entah darimana pertama kali teman saya tahu alamat arek Malang itu.

Sampai kemudian dia maksa pingin tahu foto saya. Walau waktu itu saya yakin ganteng, sebagai balasan malah saya sertakan guntingan gambar kucing yang saya ambil dari majalah. Sambil sewot, di balasan surat berikutnya ia mengirim foto diri duluan. Dan benarlah kecurigaan yang diam-diam saya pendam, bahwa ia ternyata adalah....****


Selasa, 11 September 2018

Sambal Bongkot

DI desa Senganan, Banjar Soko, Penebel, Tabanan-Bali, saya punya warung makan langganan. Nama pemiliknya Bu Rahma. Tertulis di papan namanya sebagai Warung Muslim. Lokasinya tak seberapa jauh dari masjid Al Hamzah, menjadikan saya tak repot paling tidak dalam dua hal; makan dan sholat.

Secara rupiah, harga menu di warung Bu Rahma terbilang sangat ramah kantong. Godoh (pisang goreng) hanya limaratusan, seporsi makan hanya sepuluh ribu rupiah. Menunya dijamin halal, tapi tak terlalu banyak pilihan. Ya namanya juga warung di kampung. Lebih sering nasinya pakai beras merah, sering juga menunya berkisar antara plecing kangkung, eseng-eseng pare atau lodeh terong. Untuk lauk, walau kadang ada pindang, yang selalu ada adalah daging ayam suwir dengan dua varian; biasa dan pedas.

(Foto Dok. Pribadi)
Secara rasa, lidah saya ini tak terlalu rewel kok. Lebih-lebih kalau perut sudah lapar. Lebih-lebih kalau menunya terong. Tapi satu hal, untuk sambal bongkot di warung Bu Rahma, juga di Warung Muslim lain di Bali yang pernah saya kunjungi, kok masih gimanaaa gitu. Waktu itu sih... Iya, karena penasaran, di warung kadang saya minta dikasih sambal bongkot, “Dikit aja”, pesan saya, dengan maksud eman-eman kalau dikasih banyak takutnya nanti gak kemakan semua. Namanya juga masih taraf pengenalan. Dan, pih, kok si lidah saya yang gak rewel ini mendadak berontak kala merasakan si bongkot. Sekali lagi, waktu itu sih....

Kini, setelah sekian bulan saya balik ke Surabaya, kok jadi rindu sambal bongkot. Celakanya, kalau di Senganan di setiap tegalan ada tanaman bongkot, di Surabaya ini tak tahu kemana saya mesti mencari. Untungnya tempo hari saya dapat kiriman bongkot dari Tabanan. (Terima kasih Pak Firman yang sudah berbaik hati naik pesawat sambil nyangking bongkot. Terima kasih Pak dan Bu Kresni kiriman bongkotnya).

Di dapur Bu Kresni di desa Senganan, dulu saya pernah melihat cara beliau memasak sambal bongkot, dari sejak awal sampai siap hidang. Dan kemarin, saat bikin sambal bongkot itu, saya juga bertelepon kepada beliau memastikan resep dan tahapan cara bikin sambal khas ini tak melenceng jauh. Hasilnya lumayan. Indikasinya; kalau dulu istri saya sempat gebres-gebres saat incip sambal bongkot, kemarin itu, dengan hanya berlauk sambal bongkot, dia makan sampai nambah nasi lagi.

Ini bahan saat saya bikin sambal bongkot kemarin:
  • Kupas dua tunas muda bongkot (kecombrang), iris tipis lalu cuci sambil diremas-remas, bilas, tiriskan.
  • Iris tipis tiga siung bawang merah.
  • Iris tipis dua siung bawang putih.
  • Iris tipis cabe (jumlah sesuai selera)
  • Cuci ikan teri (jumlah sesuai selera) lalu tiriskan.
  • Garam (secukupnya)
  • Gula (secukupnya)

Cara masak:
  • Panaskan minyak (secukupnya) pada wajan.
  • Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan cabe sampai layu.
  • Masukkan dan campurkan irisan bongkot.
  • Masukkan teri.
  • Taburkan garam dan gula secukupnya, aduk sampai rata.
  • Incip sampai didapat rasa yang pas.
  • Selesai, dan sambal bongkot siap dihidangkan.

Nah, mudah bukan?****



Minggu, 09 September 2018

Karcis Parkir

MAKIN banyak saja tempat parkir yang memakai sistem terkini. Bukan lagi saat masuk nopol dicatat tukang parkir lalu kita diberi selembar karcis. Celakanya, tidak jarang karcis itu sudah lecek. Sudah sekian kali digunakan. Dari sini, ada kecurigaan yang masuk akal; bila selembar karcis parkir digunakan berkali-kali sedangkan secara resmi ia hanya boleh digunakan sekali, kemana dong uang parkir selebihnya?

Dengan sistem yang sekarang, yang saat masuk kita secara swalayan bisa nutul tombol di pintu masuk tempat parkir, dan sejurus kemudian kita mendapat print out 'karcis parkir', semua serba simpel. Juga canggih. Karena saat berhenti ketika nutul tombol tadi, wajah kita juga sedang dipotret; sehingga saat keluar, sambil melihat layar monitor petugas bisa tahu, sama nggak penunggang kendaraan anu dengan nopol sekian antara saat masuk dan keluar. Tentu ini bisa meminimalisir pencurian kendaraan dari tempat parkir.

Belum lama ini suatu pagi, saya pergi ke sebuah ATM bank yang terletak di sebuah pertokoan. Seperti biasa, saat masuk saya nutul tombol untuk kemudian mendapat karcis pakir. Karcis itu langsung saya masukkan saku celana. Di dalam ruang ATM juga serupa; setelah transaksi, selembar print out menjulur. Saya tarik, masuk saku juga.

Masalah baru muncul saat saya hendak keluar dan oleh petugas dibilang karcis saya keliru.

"Keliru bagaimana?" sembur saya yang entah mengapa pagi-pagi sudah esmosi. "Saat masuk tadi dapat itu kok keluar dibilang keliru, yang bener aja..."

"Maaf, Pak. Ini bukan karcis parkir, tapi struk transaksi ATM," kalimat yang diucapkan petugas pintu keluar tempat parkir itu membuat wajah saya langsung putih walau tanpa luluran *****

Kamis, 12 Juli 2018

Dekat Pintu Darurat

tahu Sumedang dijual keliling
membeli mangga ke Belanda untuk dibuat gulali
selamat datang di pesawat Citilink
kami bangga membawa Anda terbang ke Bali

SUARA merdu awak Citilink menyambut penumpang dengan berpantun. Dan seperti saya tulis di beberapa posting sebelumnya, beberapa bulan yang lalu saya memang mendapat tugas kerja ke Bali. Untuk transportasi berangkat dan balik saya difasilitasi moda angkutan udara. Lumayanlah, dari yang sebelumnya hanya biasa naik bis, kini berkesempatan bolak-balik naik pesawat. Tanpa bayar pula. Ke Bali lagi. Kalaulah mau diplesetkan, halan-halan ke mBali, gratis, malah digaji pula. Duhai, nikmat Tuhan manakah lagi yang layak saya dustakan?

Beberapa kali saya terbang memang hanya pakai tiket promo. Saya yang awam ini punya ancar-ancar, kalau dapat tempat duduk dekat pintu darurat, oh sepertinya saya sedang dibelikan tiket yang harganya lebih murah. Namanya juga tiket promo. Ohya, saya terbang ke atau dari Ngurah Rai, kalau gak pakai Lion, ya pakai Citilink.

Duduk di dekat pintu darurat sih lebih lega, karena saya bisa selonjor. Itu didesain begitu memang kalau terjadi emergency agar orang mudah untuk meuju pintu darurat. Sedangkan kalau tempat duduk biasa, jarak antara dengkul dan kursi di depan lebih sempit.
Duduk di dekat pintu darurat. (Foto: ewe)

“Karena bapak duduk di dekat pintu darurat, bersediakah Bapak melakukan tindakan yang dperlukan bila terjadi keadaan darurat?” biasanya pramugari akan bertanya begitu beberapa saat sebelum pesawat take off.

Dan saat saya mengangguk tanda bersedia, si pramugari akan berkata secara cepat hal-hal apa saja yang mesti dilakukan. Hebat betul dia. Karena mungkin itu sering dia lakukan, menjadikannya hapal di luar kepala.

Tidak selalu dibelikan tiket kelas pintu darurat sih, suatu kali saya dapat tempat duduk biasa. Berjarak dua kursi di belakang pintu darurat. Pramugari telah selesai menghitung jumlah penumpang, sudah selesai pula memperagakan apa saja yang mesti dilakukan bila dalam kondisi tertentu. Termasuk menunjukkan letak pelampung dan masker oksigen serta cara menggunakannya bila diperlukan.

Salah satu dari pramugari itu, yang tadi memperagakan di dekat pintu darurat sisi tengah (kalau tidak salah, pintu darurat pesawat ada tiga titik; depan, tengah dan belakang), memandang saya, lalu melangkah ke dekat tempat duduk saya. Oh, jangan-jangan dia pernah baca blog saya ini dan sedang ingin berkelanan. Preettt... GR ya saya?

Pramugari dengan kulit kuning dan wajah bening itu makin clink dengan senyum tersungging, “Maaf, bisa saya minta tolong agar bapak pindah tempat duduk?” ia menunjuk kursi dekat pintu darurat, yang telah duduk disitu seorang ibu berdampingan dengan putranya yang masih seusia anak SD. “Untuk membuka pintu darurat dibutuhkan tenaga, dan tentu Ibu dan anaknya itu tidak mampu melakukannya. ” begitu lanjutnya.

Saya tak punya alasan untuk menolaknya. Toh, belum tentu dalam penerbangan nanti mengalami kondisi emergency. Dan sepertinya, saya memang berjodoh untuk duduk di dekat pintu darurat. *****

Rabu, 11 Juli 2018

Kursi D-8

HARI itu jam 08.15 WITA (Waktu Indonesia Tabanan) saya datang ke kantor PO Gunung Harta di jalan Ngurah Rai. Di halaman kantor ada beberapa penumpang yang rupanya siap berangkat pagi itu. Juga tujuan Surabaya. Ya, hari-hari itu sejumlah bus dan mobil travel atau carteran sedang panen penumpang karena bandara Ngurah Rai sedang ditutup akibat debu erupsi Gunung Agung yang menggganggu operasional penerbangan. Para penumpang yang akan ke Jakarta atau tujuan lain, banyak yang harus ke Juanda dulu.

Setelah antre, sampailah saya di depan petugas PO Gunung Harta. “Maaf, Bapak ke tujuan mana dan untuk keberangkatan kapan?”, tanya petugas setelah lebih dulu mengamalkan SOP 3 S (senyum, sapa, salam).

“Surabaya, untuk keberangkatan hari ini”, jawab saya sambil mengedar pandang ke ruang kantor yang tak berapa luas dengan kondisi relatif kurang bersih.

Petugas tersebut langsung cek layar komputer dan sejenak kemudian bilang, “Maaf, Pak. Untuk keberangkatan hari ini ke Surabaya sudah penuh. Tapi kalau mau, silakan Bapak tinggalkan nomor ponsel yang bisa kami hubungi. Barangkali nanti ada penumpang yang cancel”.

Tidak ada alasan untuk tidak menuruti saran petugas tersebut. Dan saya balik kanan ke kantor di jalan Pulau Menjangan setelah lebih dulu mampir sejenak di sudut jalan Ngurah Rai untuk beli klepon Sidoarjo yang penjualnya orang Krembung.

Benar saja, belum jam sepuluh pagi saya sudah dapat telepon dari Gunung Harta yang mengabarkan ada satu kursi kosong tujuan Surabaya untuk keberangkatan jam lima sore. “Tapi kursinya nomor 8-D lho, Pak.” kata suara di ujung telepon.

“Gak apa-apa, asal saya bisa berangkat ke Surabaya hari ini,” jawab saya.

Senin, 01 Januari 2018

Sambal Kecombrang

SUDAH empat bulan ini saya menjalani tugas kerja di Bali. Sering sekali, karena pekerjaan ini, saya mengunjungi sebuah desa bernama Senganan. Kalau Anda belum tahu, desa itu masuk wilayah kecamatan Penebel, kabupaten Tabanan. Berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari kota Tabanan.

Bongkot a.k.a kecombrang (Foto: Edi W.)
Sebagai dataran tinggi, dingin hawanya. Apalagi bagi saya yang berasal dari kota sepanas Surabaya. Sebagai daerah dingin dan bertanah subur, Senganan (yang hanya berjarak satu kilometer dari Jatiluwih, lokasi yang punya pemandangan persawahan yang khas, yang Pak Obama --mantan presiden AS-- pernah singgah kesana saat berlibur ke Bali beberapa wakyu yang lalu) adalah juga wilayah dengan mayoritas penduduknya petani. Dan kalau tidak salah, tidak sebagaimana wilayah Bali lain yang sangat bertumpu pada pariwisata, kabupaten Tabanan hanya 20% saja bersandar pada sektor itu. Selebihnya adalah pertanian.

Kembali tentang desa Senganan; ada satu komuditas sayur yang saban hari diangkut ke kota dari desa itu. Namanya bongkot (etlingera elatior). Atau Anda mungkin mengenalnya sebagai kecombrang.

Saya sebagai orang Jawa, jujur baru tahu bentuk tunas dan bunga (bagian yang lazim digunakan) kecombrang. Nah, kalau bentuknya saja baru tahu, rasanya pun baru tempo hari mencicipi. Bila dulu ada iklan dengan 'tagline' kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda, maka kesan pertama setelah saya incip sambal bongkot adalah; pih, makanan apa ini?! Ada unsur rasa 'langu' yang gagal diakrabi lidah saya.

Tetapi tak ada salahnya mencoba di lain hari. Ataukah Anda punya saran; si kecombrang ini bisa dikreasi sebagai apa selain sambal? Agar lidah saya bisa jatuh cinta.***


Kamis, 21 September 2017

1 Muharram di Tabanan

TAK salah kiranya saya memilih tempat tinggal sementara selama menjalankan tugas kerja di Tabanan, Bali, ini. Walau awalnya, tentu sangat disayangkan oleh atasan saya. “Yakin mau tinggal di tempat kayak itu?”, tanya Bu HRD yang baik hati saat saya memutuskan memilih tempat kost yang pertama ditunjukkan saja, setelah mencari tempat lain yang lebih layak untuk saya. Salah satunya di sebuah komplek kost yang secara tampilan luarnya saja sudah menggambarkan kelasnya. Tetapi, begitu Pak Komang (driver langganan perusahaan) membuka gerbang untuk bertanya, kami langsung disambut gonggong anjing. Hassuh tenan!

“Itu fasilitasnya cuma segitu lho”, lagi beliau mengingatkan agar saya menimbang ulang.

“Tapi itu dekat masjid, Bu”, saya beralasan. Sok alim ya? Hehe...

Begitulah. Jadilah saya tinggal di sini sudah (atau baru?) dua minggu ini, telinga yang biasa mendengar TOA masjid-musholla di tempat tinggal saya di Surabaya, tak terlalu rindu karena tak kehilangan suara serupa selama di Tabanan ini. Saya bisa jamaah sholat di masjid Agung Tabanan, dan malamnya cari makan di Pasar Senggol jalan Gajah Mada yang menu Jawanya terbilang komplit adanya. Pendek kata, telinga dan lidah saya tak ada masalah selama disini, kecuali hati yang selalu rindu anak-istri karena tak terbiasa pisah dalam rentang jarak dan waktu selama ini. Ini yang kadang bikin syedih (pakai syin).

Senin, 07 Agustus 2017

Tak Bisa ke Lain Honda

WALAU bukan penggemar Persebaya, saya ini pernah juga menjadi bonek. Kata apa yang pantas untuk menggambarkan mengajak putri Lamongan untuk menikah dengan hanya bermodal uang tak seberapa selain bonek; modal nekat? Ya tahun 1999 itu, dengan umur yang sudah duapuluh lima, makin telaten (telat jadi manten) makin menikmati jomblo yang pura-pura bahagia, makin jauhlah hasrat untuk menikah. Padahal kiamat makin dekat.

Dengan profesi saya sebagai pekerja bangunan dan istri sebagai buruh pabrik, kami benar-benar ingin membangun keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, sekaligus berusaha mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah yang tujuhpuluh kali disebut pembawa acara pada hajatan walimatul urusy yang diguyur hujan deras di kampung istri saya waktu itu.

Keluarga kecil memang iya. Rumah kost kami kecil sekali; hanya muat dipan dan satu lemari mungil dengan bonus selalu banjir setiap musim hujan. Bahagia? Ya iyalah. dibanding jomblo mana pun, orang sudah menikah itu niscaya lebih bahagia lahir batin. Sejahtera? Relatif. Makan kami memang tiga kali sehari, tetapi kalau menu andalannya hanya mie instant dan telur dadar yang dicampur tepung biar babar, itu adalah sebentuk ikhtiar. Agar kami segera punya motor.

Kemana-mana naik angkot sungguh berat. Apalagi setahun setelah menikah, kami dikaruniai momongan. Namun, syukurlah, berkat tirakat model mie instan dan telur dadar itu, akhirnya kami punya motor. Bukan motor sembarang motor. Tetapi motor Honda. Berjenis bebek. Namanya Astrea Grand 97.

Tahun 2000 itu, masa efek krisis moneter masih sangat terasa. Televisi tabung empat belas inchi yang sebelum krisis cuma empatratus ribu, harganya berlipat ganda. Maka, bebek saya itu, yang sudah empat tahun ditunggangi pemiliknya sebelumnya itu, saya deal dengan harga delapan juta rupiah! Sungguh mahal untuk ukuran motor bekas. Tetapi dengan kondisi mesin masih jos gandhos dan bodi yang masih semulus tubuh para personel girl band So-Nyuh Shi-Dae alias SNSD Korea yang sekadar isunya saja disini sudah bikin gaduh itu, saya nekat membayarnya. Padahal seandainya mau, dengan harga segitu, waktu itu saya sudah bisa meminang motor baru keluaran Tiongkok semisal Jialing, Sanex atau Dayang yang sedang membanjiri Indonesia.

Selasa, 27 Juni 2017

Bipang; Cemilan Kenangan

SUATU malam, tetangga depan rumah pamit undur diri sejenak dari arena jagongan, “Sebentar, saya ambilkan camilan agar makin gayeng”, ujarnya.

Ia datang lagi dengan sewadah umbi yang lama sekali tidak saya nikmati. Bentuknya berimpang, nyaris seperti lengkuas. Tetapi, hmmm... hidung ini telah mengenalinya. Suguhan berjenis pala pendhem  ini mengingatkan saya saat kecil di desa dulu. Ketika kami tadarus mendaras kitab suci di bulan Ramadhan, ada tetangga yang rumahnya berjarak tujuh rumah dari langgar kecil tempat kami mengaji, membawa sebakul ganyong  rebus yang aromanya menggoda.

Penganan berjenis umbi ini kaya akan serat dan karbohidrat. Makanya, selain enak dinikmati sebagai cemilan, ia berperan pula mengenyangkan.

Di kota agak sulit menemukannya, walau di desa ia gampang ditemukan dan menjadi penyelamat di saat paceklik.

Baiklah, izinkan saya meloncat ke lain arah. Masih tentang penganan di masa kecil saya. Tentang buah tangan yang sering Bapak bawa sehabis pepergian. Semacam 'oleh-oleh kebangsaan' karena jenisnya cuma itu-itu melulu. Kalau bukan roti kasur, ya jipang. Kalau lagi beruntung, mungkin bapak lagi ada uang lebih, kami dibelikan kedua-duanya.

Kami menyebut roti kasur karena bentuknya seperti kasur, soal rasa; ia tawar belaka. Maka menikmatinya terasa istimewa kalau Emak membikinkan kami air panas dan gula yang diseduh pada gelas dan kami memakan roti tawar itu dengan dicelupkan dulu ke situ. Rasanya tiada duanya.

Bipang cap Jangkar, eh ternyata penganan ini khas Pasuruan.
(Foto: ediwe)
Sekarang tentang jipang.
Eits, ternyata sebutan kami itu keliru. Karena yang benar adalah bipang. Berasal dari bahasa Tiongkok; bi  berarti beras dan pang  artinya wangi. Makna harfiahnya beras wangi. Ya, penganan ini bahan pokoknya adalah beras yang dipanaskan lalu dicampur gula dan di-pres sedemikian rupa.

Semoga Anda sepakat, bahwa kerinduan itu kadang tiba-tiba muncul bukan melulu untuk sang mantan (yang apesnya, itu hanya bertepuk sebelah tangan), namun  bisa pula tertuju kepada penganan. Maka, ketika suatu sore saya mendapati seorang bapak tua menjajakan aneka camilan 'tempo doeloe' di jantung kota Surabaya ini dengan bipang sebagai salah satunya, saya membelinya.

Seperti ganyong yang anak sekarang kurang menyukainya, si bipang ini pun bernasib tak jauh beda. Buktinya, anak-anak saya kurang berselera berebut buah tangan itu saat saya tiba di rumah (berbeda ketika masa kecil saya dulu yang menganggapnya sebagai oleh-oleh istimewa). Karenanya, kemudian bipang itu hanya saya makan sendiri saja dengan kunyahan yang sebisa mungkin mengantarkan saya akan kenangan masa kecil dulu. *****

Sabtu, 03 Juni 2017

Menjual Derita

LELAKI asal Gunung Kidul itu sering mangkal di mulut gang, di depan toko sayur yang tak pernah sepi pembeli, tak jauh dari rumah saya. Walau belum tahu nama antar saya dan dia, kami terbilang akrab sekali. Dan bukankah sering kita akrab dengan penjual nasi goreng dengan menyebutnya sebagai Pak Reng, atau Abah Sate untuk penjual sate langganan kita, tanpa hirau nama sejati dari masing-masing.

Dengan Pak Puk itu, saya sering sekadar say hello atau kalau ada waktu agak longgar, kami ngobrol naglor-ngidul tanpa judul.

Yang sering dia tanyakan, setiap saya lewat dari mengantar si kecil, “Apa menu sarapan pagi ini?”.

Nasi rames”, itu selalu jawaban saya. “Ra mesti...” begitu saya menjelaskan artinya.

Dan lalu kami tertawa bersama. Betul, banyolan akan kehilangan kelucuannya bila terlalu sering dimainkan. Ia akan terasa garing. Untuk menyegarkannya, seperti tadi pagi itu, saya ambil duduk di sisinya. Masih jam enam lebih delapan, artinya masih ada waktu bagi saya untuk ngobrol dengan Pak Puk, sebelum nanti; jam tujuh lebih sedikit, saya mesti berangkat kerja.

Seperti biasa, kami bicara aneka topik. Misalnya; orang Jawa yang malah sering mengajari anak-anaknya tidak memakai bahasa Jawa, tetapi menggunakan bahasa oplosan macam: 'ndang cepetan tiduro sana, bangunnya besok ben gak kesiangan' atau sejenisnya. Ini, kami sepakat, akan melunturkan kemampuan bahasa Jawa bagi anak-anak Jawa. Sehingga tidaklah heran bila pelajaran Bahasa Jawa adalah termasuk mata pelajaran tersulit bagi semua murid yang nota bene ortunya adalah orang Jawa. Jangankan dalam ber-krama inggil, lhawong ngoko saja anak-anak sekarang gak lancar kok. Apa tumon, kok orang Jawa kesulitan mengerti pelajaran bahasa nenek moyangnya sendiri. Siapa, coba, oknum yang mesti disalahkan selain kedua orang tuanya?

Minggu, 28 Mei 2017

Silaturahim Dalam Rangka Ninmedia

SEKITAR limabelas meter masuk jalan Bypass Pandaan, saya menepikan kendaraan dan mampir ke sebuah toko di kiri jalan. Bukan, saya bukan hendak membeli sesuatu, tetapi, “Maaf, numpang tanya, Pak”, kata saya kepada seorang lelaki berpeci haji yang menjaga toko itu. “Kalau mau ke Duren Sewu, arahnya kemana ya?”

Putar balik ke tiga dari depan itu, langsung belok. Jalan pertama dari situ, Sampeyan belok kiri,” lelaki itu ramah berkata.

Setelah berterima kasih, saya melanjutkan perjalanan sesuai petunjuknya. Bukan apa-apa, dulu, sekira tujuh tahun lalu, karena terlalu banter membawa kendaraan, saat akan ke rumah seorang teman yang melalui wilayah Duren Sewu itu, saya sempat kebablasan jauh sekali. Jadi, daripada menjadi keledai (yang kesasar dua kali), saya lakukan itu begiu masuk Bypass.

Nah, ingat sudah. Saat masuk jalan pertama setelah U-turn ke tiga, saya ambil kiri. Dari sini, saya bisa langsung tancap gas. Namun saya malah berhenti dan meraih ponsel di saku. “Saya berangkat,” tak panjang yang saya tulis, karena ia saya kirim sebagai pesan singkat.

iya, sudah tak tunggu”, balasnya.

Iya, SMS yang saya kirim itu hanyalah tipu daya semata. Karena bukankah sejatinya saya sudah berangkat dari rumah satu jam sebelumnya. Saya berangkat pagi tentu agar tak terlalu kepanasan dan terjebak kemacetan di jalan. Dan bisa menikmati perjalanan dalam kecepatan jalan-jalan, bukan sebagai balapan.

Sesuai harapan, perjalanan tadi lancar jaya. Sidoarja, Porong, Japanan, Gempol naik ke arah Pandaan landai-landai saja volume kendaraan yang lewat. Maklum, Kamis itu (25 Mei 2015) adalah hari libur. Hanya ada satu dua truk besar dengan umur rada uzur memikul beban sarat berjalan nggremet ke arah Malang. Ini mengingatkan saya akan kekhawatiran serupa, truk itu gagal naik dan malah melorot, saat balik dari pulang kampung dan menguntit truk bermuatan pasir dari Lumajang ke arah Surabaya di jalan menanjak daerah Klakah.

Suguhan serba hangat, kecuali pisang, satfinder
reciever dan kacamata.

Kamis, 30 Maret 2017

Mirasantika Putra Raja

SEIKAT bayam yang dijajakan abang sayur dari pagi hingga siang dan gak laku, begitulah wajah Mas Bendo. Layu stadium empat.

Kok loyo begitu, ada masalah opo to, nDo?” Kang Karib menyambut.

Aku sedih, Kang,” lirih Mas Bendo berkata. “bagaimana sedihku tidak menembus ke sumsum tulang bila rajaku, panutanku, yang petuah-petuahnya telah meluruskan aku dari jalan keliru, kini justru tertimpa cobaan; darah dagingnya sendiri terjerumus mirasantika...”.

Apakah kamu tidak berniat menaikkan status sedihmu itu menjadi marah?” pancing Kang Karib. “Karena, bukankah kurang elok bila suka bernasihat ke orang sekerajaan, eh anak sendiri malah ketangkap...”.

Marah? Apakah dengan marah bisa menyelesaikan masalah?” umpan lambung Kang Karib dipotong oleh Mas Bendo. “Marah tidak, kecewa iya”, lanjutnya.

Sudahlah, nDo, dibikin santai saja. ♪♫ yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang...♫♪...”.

Jangan ngejek gitu, Kang...”

Ngejek gimana. Kamu pikir rajamu itu akan stress menghadapi ini. Tidak akan, nDo. Dengar nasihatnya: ♪♫ streessss... obatnya iman dan takwa...♫♪”.

Wis, wis, Kang”, Mas Bendo berniat beranjak. Namun,

Mau kemana kamu, nDo?”

Mau mencari teman lain yang bisa bikin adem, yang bukan malah ngece seperti Sampeyan”, sungut Mas Bendo.

Iya, nDo. Tapi ingat: ♪♫ mencari teman memang mudah, pabila untuk teman suka. Mencari teman tidak mudah, pabila untuk teman duka...♫♪”.

Mak klepat, Mas Bendo pergi. Hatinya nggondok. ,”Ter-la-lu...”, umpatnya tertuju untuk Kang Karib. *****

Rabu, 29 Maret 2017

Ketakutan dan Impian

OH, ini harus diangkat”, kata dokter bedah itu setelah membaca hasil foto USG yang diambil kemarin dari ruang radiologi, “harus dioperasi. Berani?”

Beberapa saat istri saya diam, sediam saya yang duduk di sampingnya. Sikap antara takut dan berani itu pernah saya alami, juga di depan dokter bedah, beberapa tahun yang lalu. Tetapi, kalau kalah sama takut, si penyakit akan makin akut dengan aneka derita susulan yang menyertainya.

Baca juga: Mengandung Humor, Menanggung Tumor

Iya, Dok, dioperasi saja”, lirih istri saya menjawab. Saya pegang tangannya sebagai bukan sikap sok romantis. Tetapi, bukankah memang harus ada yang menguatkan di saat seperti itu.

Hari yang ditentukan pun akhirnya datang juga. Tepat sekeluar saya dari musholla di rumah sakit itu untuk menunaikan shalat Asyar, istri saya menelepon agar saya segera kembali ke kamar rawat inap. Di situ telah ada perawat yang akan membawanya ke ruang operasi.

Saya menyertai istri saya yang didorong menuju ruang dingin berlampu terang itu. Saya lirik mulut istri saya tiada henti entah melafalkan doa apa. “Nanti sebelum diorepasi, berdoalah yang pendek saja”, pesan saya. Alasannya, percuma bermaksud berdoa dengan panjang tetapi harus terputus oleh reaksi obat bius.

Sebelum operasi, istri saya berganti baju hijau pucat. Entah pengaruh warna pakaian yang dikenakannya atau rasa takut yang menggelayut, kulit istri saya kelihatan lebih bersih, hanya beda sedikit dibanding putihnya kulit artis Korea.

Alhamdulillah operasi berjalan baik, dan kini (saat saya membuat tulisan ini) istri saya sudah di rumah dan menjalani masa pemulihan.

Dalam dunia kedokteran mungkin operasi yang dilakoni istri saya adalah perkara kecil. Tetapi, kata 'operasi' sering membuat rasa takut lebih dulu membesar. Dalam banyak hal lainnya, ketakutan-ketakutan sebelum memulai sesuatu, kata para motivator sih, adalah juga pembunuh suatu impian dan cita-cita. *****