Kamis, 12 Juli 2018

Dekat Pintu Darurat

tahu Sumedang dijual keliling
membeli mangga ke Belanda untuk dibuat gulali
selamat datang di pesawat Citilink
kami bangga membawa Anda terbang ke Bali

SUARA merdu awak Citilink menyambut penumpang dengan berpantun. Dan seperti saya tulis di beberapa posting sebelumnya, beberapa bulan yang lalu saya memang mendapat tugas kerja ke Bali. Untuk transportasi berangkat dan balik saya difasilitasi moda angkutan udara. Lumayanlah, dari yang sebelumnya hanya biasa naik bis, kini berkesempatan bolak-balik naik pesawat. Tanpa bayar pula. Ke Bali lagi. Kalaulah mau diplesetkan, halan-halan ke mBali, gratis, malah digaji pula. Duhai, nikmat Tuhan manakah lagi yang layak saya dustakan?

Beberapa kali saya terbang memang hanya pakai tiket promo. Saya yang awam ini punya ancar-ancar, kalau dapat tempat duduk dekat pintu darurat, oh sepertinya saya sedang dibelikan tiket yang harganya lebih murah. Namanya juga tiket promo. Ohya, saya terbang ke atau dari Ngurah Rai, kalau gak pakai Lion, ya pakai Citilink.

Duduk di dekat pintu darurat sih lebih lega, karena saya bisa selonjor. Itu didesain begitu memang kalau terjadi emergency agar orang mudah untuk meuju pintu darurat. Sedangkan kalau tempat duduk biasa, jarak antara dengkul dan kursi di depan lebih sempit.
Duduk di dekat pintu darurat. (Foto: ewe)

“Karena bapak duduk di dekat pintu darurat, bersediakah Bapak melakukan tindakan yang dperlukan bila terjadi keadaan darurat?” biasanya pramugari akan bertanya begitu beberapa saat sebelum pesawat take off.

Dan saat saya mengangguk tanda bersedia, si pramugari akan berkata secara cepat hal-hal apa saja yang mesti dilakukan. Hebat betul dia. Karena mungkin itu sering dia lakukan, menjadikannya hapal di luar kepala.

Tidak selalu dibelikan tiket kelas pintu darurat sih, suatu kali saya dapat tempat duduk biasa. Berjarak dua kursi di belakang pintu darurat. Pramugari telah selesai menghitung jumlah penumpang, sudah selesai pula memperagakan apa saja yang mesti dilakukan bila dalam kondisi tertentu. Termasuk menunjukkan letak pelampung dan masker oksigen serta cara menggunakannya bila diperlukan.

Salah satu dari pramugari itu, yang tadi memperagakan di dekat pintu darurat sisi tengah (kalau tidak salah, pintu darurat pesawat ada tiga titik; depan, tengah dan belakang), memandang saya, lalu melangkah ke dekat tempat duduk saya. Oh, jangan-jangan dia pernah baca blog saya ini dan sedang ingin berkelanan. Preettt... GR ya saya?

Pramugari dengan kulit kuning dan wajah bening itu makin clink dengan senyum tersungging, “Maaf, bisa saya minta tolong agar bapak pindah tempat duduk?” ia menunjuk kursi dekat pintu darurat, yang telah duduk disitu seorang ibu berdampingan dengan putranya yang masih seusia anak SD. “Untuk membuka pintu darurat dibutuhkan tenaga, dan tentu Ibu dan anaknya itu tidak mampu melakukannya. ” begitu lanjutnya.

Saya tak punya alasan untuk menolaknya. Toh, belum tentu dalam penerbangan nanti mengalami kondisi emergency. Dan sepertinya, saya memang berjodoh untuk duduk di dekat pintu darurat. *****

Rabu, 11 Juli 2018

Kursi D-8

HARI itu jam 08.15 WITA (Waktu Indonesia Tabanan) saya datang ke kantor PO Gunung Harta di jalan Ngurah Rai. Di halaman kantor ada beberapa penumpang yang rupanya siap berangkat pagi itu. Juga tujuan Surabaya. Ya, hari-hari itu sejumlah bus dan mobil travel atau carteran sedang panen penumpang karena bandara Ngurah Rai sedang ditutup akibat debu erupsi Gunung Agung yang menggganggu operasional penerbangan. Para penumpang yang akan ke Jakarta atau tujuan lain, banyak yang harus ke Juanda dulu.

Setelah antre, sampailah saya di depan petugas PO Gunung Harta. “Maaf, Bapak ke tujuan mana dan untuk keberangkatan kapan?”, tanya petugas setelah lebih dulu mengamalkan SOP 3 S (senyum, sapa, salam).

“Surabaya, untuk keberangkatan hari ini”, jawab saya sambil mengedar pandang ke ruang kantor yang tak berapa luas dengan kondisi relatif kurang bersih.

Petugas tersebut langsung cek layar komputer dan sejenak kemudian bilang, “Maaf, Pak. Untuk keberangkatan hari ini ke Surabaya sudah penuh. Tapi kalau mau, silakan Bapak tinggalkan nomor ponsel yang bisa kami hubungi. Barangkali nanti ada penumpang yang cancel”.

Tidak ada alasan untuk tidak menuruti saran petugas tersebut. Dan saya balik kanan ke kantor di jalan Pulau Menjangan setelah lebih dulu mampir sejenak di sudut jalan Ngurah Rai untuk beli klepon Sidoarjo yang penjualnya orang Krembung.

Benar saja, belum jam sepuluh pagi saya sudah dapat telepon dari Gunung Harta yang mengabarkan ada satu kursi kosong tujuan Surabaya untuk keberangkatan jam lima sore. “Tapi kursinya nomor 8-D lho, Pak.” kata suara di ujung telepon.

“Gak apa-apa, asal saya bisa berangkat ke Surabaya hari ini,” jawab saya.

Minggu, 06 Mei 2018

W A

SEBAGAIMANA ketika teman kerja sudah pada pakai Siemens C35 dan ponsel yang lagi musim kala itu, saya masih saja 'nyengkelit' pager merek Motorolla dengan rantai yang terikat di celana, kini saya juga ketinggalan kereta. Ketertinggalan itu sedemikian jauhnya, saya malah tak pernah menikmati zaman orang ngobrol pakai BB. Katrok ya? Ben!

Tempo hari, saat yang lain ngobrol ini-itu pakai whatsapp, saya sudah merasa cukup hanya dengan bersenjata ponsel jadul Nokia 130 yang batterynya gak habis-habis itu. Selain sudah dual SIM Card, ia bisa pula dijejali kartu memory. Agar seimbang dengan usia, nyaris semua lagu disitu hanyalah berjenis tembang lawas dari Utha Likumahuwa, Broery Marantika, Tito Sumarsono, Arie Wibowo atau nama-nama yang kids zaman now perlu nanya via mbah Gugel dulu agar tahu.

Karena saya pernah mendengar orang bilang bahwa yang paling lama bertahan hidup adalah yang bisa beradaptasi terhadap perubahan, saya harus berubah. Memangnya hanya Power Rangers saja yang bisa! Sebagaimana saya yang awalnya antipati pada dangdut koplo, kini kuping saya mulai bisa menerima lagu sayang... apa kowe krungu, jerite atiku, mengharap engkau kembali..... dengan argumen; syairnya lebih santun dibanding zaman kuhamil duluan, sudah tiga bulan yang ampun joroknya itu. Saya tidak habis pikir; bagaimana lagu yang menggambarkan sebuah aib bisa dinyanyikan secara gembira. Sontoloyo tenan!

Kembali ke perubahan, di saat nyaris setiap jempol sibuk ber-whatsapp, saya lama-lama menjadi orang aneh yang cuma berbalas pesan via SMS pakai si N130 itu. Lebih-lebih sekarang semua urusan kerja dikomunikasikan pakai WA, alumni SD ada grup WA, alumni SMP ada grupnya, alumni SMA ada grupnya, alumni kuliah... (oh, saya gak pernah kuliah ding!) dan semacamnya. Agar tak dianggap som-som, saya ikut beberapa grup. Ya ada senangnya, ada pula rasa gimanaaa... gitu saat teman lama sering (sengaja atau tidak) cerita tentang kesuksesannya, mobilnya yang harus ganti setiap dua tahun, sambil posting sedang makan di resto ini, ngopi cafe itu. Saya langsung minder sambil mengunyah lauk sambel terong kesukaan dalam ritual makan malam yang kemalaman gara-gara sedari tadi khusyu' whatsapp-an.****


Senin, 01 Januari 2018

Sambal Kecombrang

SUDAH empat bulan ini saya menjalani tugas kerja di Bali. Sering sekali, karena pekerjaan ini, saya mengunjungi sebuah desa bernama Senganan. Kalau Anda belum tahu, desa itu masuk wilayah kecamatan Penebel, kabupaten Tabanan. Berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari kota Tabanan.

Bongkot a.k.a kecombrang (Foto: Edi W.)
Sebagai dataran tinggi, dingin hawanya. Apalagi bagi saya yang berasal dari kota sepanas Surabaya. Sebagai daerah dingin dan bertanah subur, Senganan (yang hanya berjarak satu kilometer dari Jatiluwih, lokasi yang punya pemandangan persawahan yang khas, yang Pak Obama --mantan presiden AS-- pernah singgah kesana saat berlibur ke Bali beberapa wakyu yang lalu) adalah juga wilayah dengan mayoritas penduduknya petani. Dan kalau tidak salah, tidak sebagaimana wilayah Bali lain yang sangat bertumpu pada pariwisata, kabupaten Tabanan hanya 20% saja bersandar pada sektor itu. Selebihnya adalah pertanian.

Kembali tentang desa Senganan; ada satu komuditas sayur yang saban hari diangkut ke kota dari desa itu. Namanya bongkot (etlingera elatior). Atau Anda mungkin mengenalnya sebagai kecombrang.

Saya sebagai orang Jawa, jujur baru tahu bentuk tunas dan bunga (bagian yang lazim digunakan) kecombrang. Nah, kalau bentuknya saja baru tahu, rasanya pun baru tempo hari mencicipi. Bila dulu ada iklan dengan 'tagline' kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda, maka kesan pertama setelah saya incip sambal bongkot adalah; pih, makanan apa ini?! Ada unsur rasa 'langu' yang gagal diakrabi lidah saya.

Tetapi tak ada salahnya mencoba di lain hari. Ataukah Anda punya saran; si kecombrang ini bisa dikreasi sebagai apa selain sambal? Agar lidah saya bisa jatuh cinta.***


Kamis, 21 September 2017

1 Muharram di Tabanan

TAK salah kiranya saya memilih tempat tinggal sementara selama menjalankan tugas kerja di Tabanan, Bali, ini. Walau awalnya, tentu sangat disayangkan oleh atasan saya. “Yakin mau tinggal di tempat kayak itu?”, tanya Bu HRD yang baik hati saat saya memutuskan memilih tempat kost yang pertama ditunjukkan saja, setelah mencari tempat lain yang lebih layak untuk saya. Salah satunya di sebuah komplek kost yang secara tampilan luarnya saja sudah menggambarkan kelasnya. Tetapi, begitu Pak Komang (driver langganan perusahaan) membuka gerbang untuk bertanya, kami langsung disambut gonggong anjing. Hassuh tenan!

“Itu fasilitasnya cuma segitu lho”, lagi beliau mengingatkan agar saya menimbang ulang.

“Tapi itu dekat masjid, Bu”, saya beralasan. Sok alim ya? Hehe...

Begitulah. Jadilah saya tinggal di sini sudah (atau baru?) dua minggu ini, telinga yang biasa mendengar TOA masjid-musholla di tempat tinggal saya di Surabaya, tak terlalu rindu karena tak kehilangan suara serupa selama di Tabanan ini. Saya bisa jamaah sholat di masjid Agung Tabanan, dan malamnya cari makan di Pasar Senggol jalan Gajah Mada yang menu Jawanya terbilang komplit adanya. Pendek kata, telinga dan lidah saya tak ada masalah selama disini, kecuali hati yang selalu rindu anak-istri karena tak terbiasa pisah dalam rentang jarak dan waktu selama ini. Ini yang kadang bikin syedih (pakai syin).

Senin, 07 Agustus 2017

Tak Bisa ke Lain Honda

WALAU bukan penggemar Persebaya, saya ini pernah juga menjadi bonek. Kata apa yang pantas untuk menggambarkan mengajak putri Lamongan untuk menikah dengan hanya bermodal uang tak seberapa selain bonek; modal nekat? Ya tahun 1999 itu, dengan umur yang sudah duapuluh lima, makin telaten (telat jadi manten) makin menikmati jomblo yang pura-pura bahagia, makin jauhlah hasrat untuk menikah. Padahal kiamat makin dekat.

Dengan profesi saya sebagai pekerja bangunan dan istri sebagai buruh pabrik, kami benar-benar ingin membangun keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, sekaligus berusaha mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah yang tujuhpuluh kali disebut pembawa acara pada hajatan walimatul urusy yang diguyur hujan deras di kampung istri saya waktu itu.

Keluarga kecil memang iya. Rumah kost kami kecil sekali; hanya muat dipan dan satu lemari mungil dengan bonus selalu banjir setiap musim hujan. Bahagia? Ya iyalah. dibanding jomblo mana pun, orang sudah menikah itu niscaya lebih bahagia lahir batin. Sejahtera? Relatif. Makan kami memang tiga kali sehari, tetapi kalau menu andalannya hanya mie instant dan telur dadar yang dicampur tepung biar babar, itu adalah sebentuk ikhtiar. Agar kami segera punya motor.

Kemana-mana naik angkot sungguh berat. Apalagi setahun setelah menikah, kami dikaruniai momongan. Namun, syukurlah, berkat tirakat model mie instan dan telur dadar itu, akhirnya kami punya motor. Bukan motor sembarang motor. Tetapi motor Honda. Berjenis bebek. Namanya Astrea Grand 97.

Tahun 2000 itu, masa efek krisis moneter masih sangat terasa. Televisi tabung empat belas inchi yang sebelum krisis cuma empatratus ribu, harganya berlipat ganda. Maka, bebek saya itu, yang sudah empat tahun ditunggangi pemiliknya sebelumnya itu, saya deal dengan harga delapan juta rupiah! Sungguh mahal untuk ukuran motor bekas. Tetapi dengan kondisi mesin masih jos gandhos dan bodi yang masih semulus tubuh para personel girl band So-Nyuh Shi-Dae alias SNSD Korea yang sekadar isunya saja disini sudah bikin gaduh itu, saya nekat membayarnya. Padahal seandainya mau, dengan harga segitu, waktu itu saya sudah bisa meminang motor baru keluaran Tiongkok semisal Jialing, Sanex atau Dayang yang sedang membanjiri Indonesia.

Selasa, 27 Juni 2017

Bipang; Cemilan Kenangan

SUATU malam, tetangga depan rumah pamit undur diri sejenak dari arena jagongan, “Sebentar, saya ambilkan camilan agar makin gayeng”, ujarnya.

Ia datang lagi dengan sewadah umbi yang lama sekali tidak saya nikmati. Bentuknya berimpang, nyaris seperti lengkuas. Tetapi, hmmm... hidung ini telah mengenalinya. Suguhan berjenis pala pendhem  ini mengingatkan saya saat kecil di desa dulu. Ketika kami tadarus mendaras kitab suci di bulan Ramadhan, ada tetangga yang rumahnya berjarak tujuh rumah dari langgar kecil tempat kami mengaji, membawa sebakul ganyong  rebus yang aromanya menggoda.

Penganan berjenis umbi ini kaya akan serat dan karbohidrat. Makanya, selain enak dinikmati sebagai cemilan, ia berperan pula mengenyangkan.

Di kota agak sulit menemukannya, walau di desa ia gampang ditemukan dan menjadi penyelamat di saat paceklik.

Baiklah, izinkan saya meloncat ke lain arah. Masih tentang penganan di masa kecil saya. Tentang buah tangan yang sering Bapak bawa sehabis pepergian. Semacam 'oleh-oleh kebangsaan' karena jenisnya cuma itu-itu melulu. Kalau bukan roti kasur, ya jipang. Kalau lagi beruntung, mungkin bapak lagi ada uang lebih, kami dibelikan kedua-duanya.

Kami menyebut roti kasur karena bentuknya seperti kasur, soal rasa; ia tawar belaka. Maka menikmatinya terasa istimewa kalau Emak membikinkan kami air panas dan gula yang diseduh pada gelas dan kami memakan roti tawar itu dengan dicelupkan dulu ke situ. Rasanya tiada duanya.

Bipang cap Jangkar, eh ternyata penganan ini khas Pasuruan.
(Foto: ediwe)
Sekarang tentang jipang.
Eits, ternyata sebutan kami itu keliru. Karena yang benar adalah bipang. Berasal dari bahasa Tiongkok; bi  berarti beras dan pang  artinya wangi. Makna harfiahnya beras wangi. Ya, penganan ini bahan pokoknya adalah beras yang dipanaskan lalu dicampur gula dan di-pres sedemikian rupa.

Semoga Anda sepakat, bahwa kerinduan itu kadang tiba-tiba muncul bukan melulu untuk sang mantan (yang apesnya, itu hanya bertepuk sebelah tangan), namun  bisa pula tertuju kepada penganan. Maka, ketika suatu sore saya mendapati seorang bapak tua menjajakan aneka camilan 'tempo doeloe' di jantung kota Surabaya ini dengan bipang sebagai salah satunya, saya membelinya.

Seperti ganyong yang anak sekarang kurang menyukainya, si bipang ini pun bernasib tak jauh beda. Buktinya, anak-anak saya kurang berselera berebut buah tangan itu saat saya tiba di rumah (berbeda ketika masa kecil saya dulu yang menganggapnya sebagai oleh-oleh istimewa). Karenanya, kemudian bipang itu hanya saya makan sendiri saja dengan kunyahan yang sebisa mungkin mengantarkan saya akan kenangan masa kecil dulu. *****

Sabtu, 03 Juni 2017

Menjual Derita

LELAKI asal Gunung Kidul itu sering mangkal di mulut gang, di depan toko sayur yang tak pernah sepi pembeli, tak jauh dari rumah saya. Walau belum tahu nama antar saya dan dia, kami terbilang akrab sekali. Dan bukankah sering kita akrab dengan penjual nasi goreng dengan menyebutnya sebagai Pak Reng, atau Abah Sate untuk penjual sate langganan kita, tanpa hirau nama sejati dari masing-masing.

Dengan Pak Puk itu, saya sering sekadar say hello atau kalau ada waktu agak longgar, kami ngobrol naglor-ngidul tanpa judul.

Yang sering dia tanyakan, setiap saya lewat dari mengantar si kecil, “Apa menu sarapan pagi ini?”.

Nasi rames”, itu selalu jawaban saya. “Ra mesti...” begitu saya menjelaskan artinya.

Dan lalu kami tertawa bersama. Betul, banyolan akan kehilangan kelucuannya bila terlalu sering dimainkan. Ia akan terasa garing. Untuk menyegarkannya, seperti tadi pagi itu, saya ambil duduk di sisinya. Masih jam enam lebih delapan, artinya masih ada waktu bagi saya untuk ngobrol dengan Pak Puk, sebelum nanti; jam tujuh lebih sedikit, saya mesti berangkat kerja.

Seperti biasa, kami bicara aneka topik. Misalnya; orang Jawa yang malah sering mengajari anak-anaknya tidak memakai bahasa Jawa, tetapi menggunakan bahasa oplosan macam: 'ndang cepetan tiduro sana, bangunnya besok ben gak kesiangan' atau sejenisnya. Ini, kami sepakat, akan melunturkan kemampuan bahasa Jawa bagi anak-anak Jawa. Sehingga tidaklah heran bila pelajaran Bahasa Jawa adalah termasuk mata pelajaran tersulit bagi semua murid yang nota bene ortunya adalah orang Jawa. Jangankan dalam ber-krama inggil, lhawong ngoko saja anak-anak sekarang gak lancar kok. Apa tumon, kok orang Jawa kesulitan mengerti pelajaran bahasa nenek moyangnya sendiri. Siapa, coba, oknum yang mesti disalahkan selain kedua orang tuanya?

Minggu, 28 Mei 2017

Silaturahim Dalam Rangka Ninmedia

SEKITAR limabelas meter masuk jalan Bypass Pandaan, saya menepikan kendaraan dan mampir ke sebuah toko di kiri jalan. Bukan, saya bukan hendak membeli sesuatu, tetapi, “Maaf, numpang tanya, Pak”, kata saya kepada seorang lelaki berpeci haji yang menjaga toko itu. “Kalau mau ke Duren Sewu, arahnya kemana ya?”

Putar balik ke tiga dari depan itu, langsung belok. Jalan pertama dari situ, Sampeyan belok kiri,” lelaki itu ramah berkata.

Setelah berterima kasih, saya melanjutkan perjalanan sesuai petunjuknya. Bukan apa-apa, dulu, sekira tujuh tahun lalu, karena terlalu banter membawa kendaraan, saat akan ke rumah seorang teman yang melalui wilayah Duren Sewu itu, saya sempat kebablasan jauh sekali. Jadi, daripada menjadi keledai (yang kesasar dua kali), saya lakukan itu begiu masuk Bypass.

Nah, ingat sudah. Saat masuk jalan pertama setelah U-turn ke tiga, saya ambil kiri. Dari sini, saya bisa langsung tancap gas. Namun saya malah berhenti dan meraih ponsel di saku. “Saya berangkat,” tak panjang yang saya tulis, karena ia saya kirim sebagai pesan singkat.

iya, sudah tak tunggu”, balasnya.

Iya, SMS yang saya kirim itu hanyalah tipu daya semata. Karena bukankah sejatinya saya sudah berangkat dari rumah satu jam sebelumnya. Saya berangkat pagi tentu agar tak terlalu kepanasan dan terjebak kemacetan di jalan. Dan bisa menikmati perjalanan dalam kecepatan jalan-jalan, bukan sebagai balapan.

Sesuai harapan, perjalanan tadi lancar jaya. Sidoarja, Porong, Japanan, Gempol naik ke arah Pandaan landai-landai saja volume kendaraan yang lewat. Maklum, Kamis itu (25 Mei 2015) adalah hari libur. Hanya ada satu dua truk besar dengan umur rada uzur memikul beban sarat berjalan nggremet ke arah Malang. Ini mengingatkan saya akan kekhawatiran serupa, truk itu gagal naik dan malah melorot, saat balik dari pulang kampung dan menguntit truk bermuatan pasir dari Lumajang ke arah Surabaya di jalan menanjak daerah Klakah.

Suguhan serba hangat, kecuali pisang, satfinder
reciever dan kacamata.

Kamis, 30 Maret 2017

Mirasantika Putra Raja

SEIKAT bayam yang dijajakan abang sayur dari pagi hingga siang dan gak laku, begitulah wajah Mas Bendo. Layu stadium empat.

Kok loyo begitu, ada masalah opo to, nDo?” Kang Karib menyambut.

Aku sedih, Kang,” lirih Mas Bendo berkata. “bagaimana sedihku tidak menembus ke sumsum tulang bila rajaku, panutanku, yang petuah-petuahnya telah meluruskan aku dari jalan keliru, kini justru tertimpa cobaan; darah dagingnya sendiri terjerumus mirasantika...”.

Apakah kamu tidak berniat menaikkan status sedihmu itu menjadi marah?” pancing Kang Karib. “Karena, bukankah kurang elok bila suka bernasihat ke orang sekerajaan, eh anak sendiri malah ketangkap...”.

Marah? Apakah dengan marah bisa menyelesaikan masalah?” umpan lambung Kang Karib dipotong oleh Mas Bendo. “Marah tidak, kecewa iya”, lanjutnya.

Sudahlah, nDo, dibikin santai saja. ♪♫ yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang...♫♪...”.

Jangan ngejek gitu, Kang...”

Ngejek gimana. Kamu pikir rajamu itu akan stress menghadapi ini. Tidak akan, nDo. Dengar nasihatnya: ♪♫ streessss... obatnya iman dan takwa...♫♪”.

Wis, wis, Kang”, Mas Bendo berniat beranjak. Namun,

Mau kemana kamu, nDo?”

Mau mencari teman lain yang bisa bikin adem, yang bukan malah ngece seperti Sampeyan”, sungut Mas Bendo.

Iya, nDo. Tapi ingat: ♪♫ mencari teman memang mudah, pabila untuk teman suka. Mencari teman tidak mudah, pabila untuk teman duka...♫♪”.

Mak klepat, Mas Bendo pergi. Hatinya nggondok. ,”Ter-la-lu...”, umpatnya tertuju untuk Kang Karib. *****

Rabu, 29 Maret 2017

Ketakutan dan Impian

OH, ini harus diangkat”, kata dokter bedah itu setelah membaca hasil foto USG yang diambil kemarin dari ruang radiologi, “harus dioperasi. Berani?”

Beberapa saat istri saya diam, sediam saya yang duduk di sampingnya. Sikap antara takut dan berani itu pernah saya alami, juga di depan dokter bedah, beberapa tahun yang lalu. Tetapi, kalau kalah sama takut, si penyakit akan makin akut dengan aneka derita susulan yang menyertainya.

Iya, Dok, dioperasi saja”, lirih istri saya menjawab. Saya pegang tangannya sebagai bukan sikap sok romantis. Tetapi, bukankah memang harus ada yang menguatkan di saat seperti itu.

Hari yang ditentukan pun akhirnya datang juga. Tepat sekeluar saya dari musholla di rumah sakit itu untuk menunaikan shalat Asyar, istri saya menelepon agar saya segera kembali ke kamar rawat inap. Di situ telah ada perawat yang akan membawanya ke ruang operasi.

Saya menyertai istri saya yang didorong menuju ruang dingin berlampu terang itu. Saya lirik mulut istri saya tiada henti entah melafalkan doa apa. “Nanti sebelum diorepasi, berdoalah yang pendek saja”, pesan saya. Alasannya, percuma bermaksud berdoa dengan panjang tetapi harus terputus oleh reaksi obat bius.

Sebelum operasi, istri saya berganti baju hijau pucat. Entah pengaruh warna pakaian yang dikenakannya atau rasa takut yang menggelayut, kulit istri saya kelihatan lebih bersih, hanya beda sedikit dibanding putihnya kulit artis Korea.

Alhamdulillah operasi berjalan baik, dan kini (saat saya membuat tulisan ini) istri saya sudah di rumah dan menjalani masa pemulihan.

Dalam dunia kedokteran mungkin operasi yang dilakoni istri saya adalah perkara kecil. Tetapi, kata 'operasi' sering membuat rasa takut lebih dulu membesar. Dalam banyak hal lainnya, ketakutan-ketakutan sebelum memulai sesuatu, kata para motivator sih, adalah juga pembunuh suatu impian dan cita-cita. *****

Selasa, 28 Februari 2017

Jangan Ambil Uang Sembarangan

SYAHDAN, saat kecil dulu istri saya pernah sakit parah. Sudah dibawa berobat kemana-mana belum sembuh juga. Kemudian, seperti lazimnya orang di kampungnya, dicarikan alternatif lain; ke 'orang pintar'. Dari si orang yang dipercaya punya kemampuan 'linuwih' itu, didapatlah titik terang. Bahwa, penyakit yang sedang diidapnya bukan typus atau malaria, tetapi gara-gara menemukan sejumlah uang di jalalan dan dibelikan jajanan lalu dimakannya. Intinya, uang orang yang jatuh di jalanan tidak boleh diambil sembarangan. Karena bisa jadi ada bala yang menyertainya.

Maka sejak itu, ibunya istri saya melarang mengambil uang entah milik siapa yang jatuh di jalan. Seperti tongkat estafet, wanti-wanti itu juga diteruskan oleh istri saya ke anak-anak.

Saat SD (MI) dulu, saat berangkat sekolah, anak sulung saya menemukan sejumlah uang di jalan, di dekat kuburan. Ingat petuah ibunya, uang itu tidak diambil dan cuma 'diamankan' dengan ditimbun kerikil di pinggir jalan, tak jauh dari uang itu ditemukan. Sepulang sekolah, anak saya menceritakan dengan bangga karena telah menuruti nasihat ibunya, sebuah pendapat yang saya sendiri kurang sependapat. Alasannya, menurut saya, karena tidak tahu uang itu mesti dikembalikan kepada siapa, bukankah lebih bermakna bila ia dimasukkan ke kotak amal di masjid saja?

Belum lama ini, di suatu pagi yang gerimis, saat berangkat kerja dengan buru-buru (karena berangkat agak kesiangan) saya melihat ada uang supuluh ribu di jalan. Kontan saya menghentikan motor dan mengamankan uang itu sementara waktu, untuk sore sepulang kerja akan saya masukkan ke kotak amal di musholla terdekat dari uang itu saya temukan.

Sorenya, dengan mantap saya merogoh 'saku depan' motor Vario, tempat uang yang saya temukan pagi tadi saya simpan di bawah lipatan Kanebo. Tujuannya, akan saya masukkan ke kotak amal musholla. Dan, wah, uangnya kok basah. Iya sih memang lap motor saya juga kondisinya agak 'mamel', tetapi bukankah uang kertas akan tidak sebegini keadaannya kalau kena air. Saya lebih perhatikan lagi, tertulis dengan huruf kapital di uang itu nilai nominalnya: SEPULUH RIBU SAJA. Oh, bukan rupiah ternyata.

Saya baru sependapat dengan istri kali ini, bahwa jangan sembarangan mengambil uang yang jatuh di jalanan. Terlebih bila uang itu hanyalah uang-uangan. *****

Kamis, 12 Januari 2017

Ajal Siaran TV Digital Terrestrial?

 
'Mendiang' penampakan sinyal Viva grup.
IYA, saya akan menulis tentang televisi lagi. Tetapi, kali ini, bukan tentang Ninmedia yang sejauh ini, walau telah ada FashionTV, NHK Word, Al Jazeera, Zing, DW (sekalipun yang saya sebut itu masih nongol sebagai test signal) ketahuilah, MNC grup masih belum ada. Bukan pula tentang si pendatang baru dari MMP atau SMV, yang walau sama-sama gratisan, tetapi ada perbedaan mendasar dengan Ninmedia. Yakni, bila kita bisa menyaksikan siaran dari Ninmedia (Chinasat-11/98*E) dengan hanya memakai perangkat yang dijual bebas di pasaran, tetapi untuk bisa menyaksikan konten dari SMV/MMP, perangkatnya kita harus kita beli dari mereka. Kabarnya, akhir Januari ini, setelah sekian waktu melakukan siaran percobaan, SMV akan resmi mengudara dengan platform yang disebut FTV, Free to View. Bukan FTA, Free to Air, seperti yang diterapkan oleh Ninmedia. Iya, kali ini, saya kembali menulis tentang siaran tv digital terrestrial. Nah, bagaimana kabar siaran televisi digital terrestrial di tempat Anda?

Seperti yang sempat diberitakan dan menjadi perhatian bagi sebagian pemirsa yang menunggu realisasi migrasi siaran televisi dari analog ke digital, era dimana gambar televisi yang diterima pesawat televisi kita tidak lagi bersemut walau antena sudah dipasang tinggi-tinggi sekali. Kerinduan itu bukan tanpa sebab, karena bukankah telah pernah tersiar kabar pemerintah akan melakukan switch off siaran televisi analog yang konon rakus memakan bandwitdh dan segera melakukan upgrade sistem penyiaran ke teknologi digital.

Laiknya langkah si renta, progress penerapan sistem yang di negara maju adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan ini disini ternyata sangat tertatih sekali. Ada saja ganjalannya, ada saja kendalanya. Baik teknis, maupun (yang lebih dominan, sepertinya) adalah hal non teknis.

Untuk hal teknis, sejak 15 Juni sam 15 Desember 2016 kemarin (dan bisa diperpanjang masa trial ini), pemerintah dan beberapa lembaga penyiaran yang concern mendukung program ini, melakukan ujicoba non kemersial di beberapa kota Indonesia dengan TVRI sebagai penyedia insfrastruskturnya. Intinya, konten milik beberapa lembaga penyiaran itu dipancarkan menggunakan MUX milik TVRI. Maaf, saya tak hafal di kota mana televisi apa saja yang mengudara melalui uji coba ini. Tetapi, di Surabaya ini, tadi malam saya sempatkan untuk mengintipkannya untuk Anda.

Kalau MUX MNC grup (ch. 41/643 MHz) sudah sekian lama tiada itu saya sudah duga, tetapi kok ketika saya cari MUX MetroTV (ch. 25/506 MHz) juga sudah tidak lagi mengudara itu yang saya baru tahu. Termasuk MUX TransCorp (ch. 27/522 MHz) yang ternyata ikutan menghilang, menyusul MUX Viva grup (ch. 23/490 MHz), dan Emtek yang sedari dulu turun dari udara setelah sebentar sempat on air.

Kini (saat saya lakukan scan), praktis tinggal konten TVRI yang masih bisa dinikmati. Yakni, TVRI1 Jatim, TVRI2 Jatim, TVRI3, TVRI4 plus peserta ujicoba non kemersial yang 'digendongnya'; CNN Indonesia, NusantaraTV dan Inspira.

Sepertinya, program migrasi ini makin lemah saja gaungnya. Dan detak yang makin melemah, kita tahu, adalah pertanda ajal telah tak terlalu jauh jaraknya. Kalau demikian kenyataannya, pemirsa televisi di negeri ini mesti entah sampai kapan lebih bersabar lagi untuk menunggu menikmati siaran televisi dengan konten beragam dan gambar yang cling bebas bintik. Produsen televisi yang telah melangkah begitu maju dengan menghadirkan produk kualitas bagus yang bisa memanjakan mata pemirrsa, menjadi kurang berguna ketika siaran yang tertangkap masih analog dan cuma segitu mutunya.

Tetapi, untungnya, selalu ada pilihan dalam hidup. Tak perlu menyebut, untuk bisa menikmati siaran berkualitas digital tetapi tetap tak berbayar, kalau mau, ada kok pilihannya. Mau? *****


Senin, 09 Januari 2017

Memahat Sebongkah Batu

LELAKI itu adalah pemahat yang ahli. Batu apapun, bila ditanganinya akan menjadi patung yang indah. Kemasyhurannya menyebar ke seantero negeri. Dan, ketika ada yang bertanya, apa rahasianya sehingga selalu mampu membuat patung yang apik, dengan datar ia mengatakan, "Sebetulnya patung-patung indah itu telah ada pada bongkahan batu. Saya hanya membuang bagian-bagian yang tak perlu saja, yang membuatnya belum kelihatan bentuk aslinya".

Itu kalimat yang bisa jadi telah Anda temukan entah di bacaan mana, tetapi saya juga menemukannya pada salah satu dialog pada film Rambo II, dengan Sylvester Stallone sebagai sang jagoannya.

Saya membayangkan kita, atau saya secara lebih sempit, sedang menjadi sang pemahat. Dan karena kesibukan lain yang tidak bisa ditinggal, untuk memahat sebongkah batu milik saya itu, saya serahkan kepada pemahat lain, yang saya nilai lebih expert ketimbang saya. Tujuannya jelas, hasil pahatannya harus bagus, sebagus keinginan saya. Dengan menyerahkannya secara bongkokan, inginnya saya tahu beres saja, walau untuk itu tentu tentu harus ada biaya yang saya tanggung.

Tetapi, di negeri ini, apakah semua pemahat bagus? Yang selalu memperlakukan pahatannya dengan lemah lembut, dan hanya menyingkirkan bagian-bagian yang tak perlu saja. Bukan saking semangatnya malah sebagian besar pemahat itu memberlakukan si batu sedemikian rupa, dari pagi sampai sore sekali. Walau sistem yang nyaris full day itu belum menampakkan hasil pahatan yang berkualitas tinggi.

Si bungsu saya masih duduk di bangku TK, dan sejak seminggu lalu harus melalui waktu yang lebih panjang di bangku sekolah, dari pagi sampai jamg duabelas siang. TK sama dengan sekolah, apakah memang demikian? Ataukah TK adalah hanya taman kanak-kanak, dimana hanya tempat 'bermain' bagi kanak-kanak? Yang tidak menjejali si kanak-kanak dengan jam belajar yang panjang, yang membebani mereka PR bertumbuk saban harinya, yang harus membuat mereka pandai calistung?

Saya bukah ahli pendidikan, dan hanya mendengar konon sistem pendidikan kita masih kalah tertinggal. Masih konon lagi, negara Finlandia, yang sistem pendidikanya terbilang bagus di kelas dunia, jam pelajarannya tak sebanyak kita. Saya membayangkan, siswa di sana punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Jam sekolah pendek, dan gurunya tak kemalan kasih PR saban hari. Satu lagi, sepertinya disana tidak ada TPA kayak disini.

"Ooii..., kita, kalau begitu, lebih unggul, Cung! Disini kita tidak menjejali sedari dini otak anak-anak dengan Iptek semata, tetapi juga Imtaq".

Tentu saya tak hendak menyangkal pendapat diatas. Yang saya khawatirkan adalah, dengan sistem yang menganut pakem 'ganti menteri ganti kebijakan' ini, jangan-jangan 'sang pemahat' malah bukan hanya membuang bagian tak penting dari sebongkah batu demi mendapati hasil yang indah, namun bagian-bagian yang penting yang sebenarnya terbilang pelengkap keindahannya pun, ikutan terbuang pula. *****


Rabu, 21 Desember 2016

Resolusi dan Bumi Datar

 
MASIH bisa saya buka ingatan tentang tahun lalu atau lebih lama dari itu; pada sore yang gerimis, sepulang kerja, di kiri-kanan jalan beberapa orang mulai ada sebagai -mungkin salah satu- penanda akan datangnya tahun baru. Ya, pedagang terompet, yang entah berasal dari mana dan selain menjelang tahun baru berdagang apa, tak sedikit yang bersama anak-istri, berteduh menangkis runcingnya gerimis hanya dengan selembar plastik tipis.

Betapa langkah waktu sekalipun kurang terasa tetapi mungkin memang makin tergesa. Sampai setahun hanya pendek saja. Tahu-tahu menua. Tahu-tahu menuai. Tetapi menuai apa? Juga, bagaimana kabar resolusi yang ditiup akhir tahun kemarin?

Beruntunglah diantara kita adalah makhluk pelupa. Jangankan resolusi yang kencang sekali diucap dalam hati atau ditulis dalam diary dan tiada menjadi apa-apa (karena memang tanpa ada langkah nyata) yang dikumandangkan tiap akhir tahun, dan tahu-tahu kini sudah akhir tahun lagi. Ah, tak usah sungkan; mari kita tiup resolusi lagi. Dan, bukankah kita belum pernah mendengar fatwa bahwa berresolusi di setiap akhir tahun itu adalah tindakan yang haram?.

Jangankan berentang jarak setahun yang 365 hari, yang baru kemarin pun kita bisa dengan gampang melupakannya. Tentang Jessica, tentang Dimas Kanjeng, tentang Hillary vs Trump, tentang garuda melawan gajah di final AFF, oh itu cerita lama. Selama dan sebiasa timnas sepak bola kita gagal meraih juara. Jadi kenapa mesti meratap-ratap sampai gulung koming? Walau sudah biasa kalah, tentu semua kita tadinya sangat berharap menang dengan adagium yang secara aklamasi disepakati bahwa bola itu bundar, bukan datar seperti keyakinan beberapa orang tentang bentuk bumi.

"Jangan jadi member kalau cuma untuk mendebat", komentar itu saya baca di grup Kumunitas Bumi Datar di sosmed, entah itu dari sesama member atau dari sang admin, saya kurang tahu. Dengan kata lain, masuk ke grup ya harus sudah sepaham, agar tak gagal paham.

Karena sadar saya beda paham, saya tahu diri untuk tidak mendaftar jadi member di grup yang saat saya intip beranggota ribuan itu. Selain buang waktu, itu akan buang kuota internet saja. Tentu saja, sebagai yang beda paham, saya akan bisa dengan enteng nyinyir dan bilang pendapat bumi datar itu didengungkan bukan oleh pakar, tetapi oleh penulis buku yang sadar akan selera pasar. Bahwa, hal nyeleneh akan laku dijual, dan akan bisa ditelan begitu saja bukan saja oleh awam, tetapi oleh orang berpendidikan sekalipun. Semoga kita masih belum lupa oleh seorang perempuan bernama Marwah Daud dalam membela secara keukeuh sang Taat Pribadi.

Apalagi grup di sosmed. Tak perlu menjadi ahli di satu bidang untuk membuat grup yang laku diserbu ribuan member. Dengan iseng saja, tanpa dasar ilmu satelit yang mumpuni, saat saya buat grup satelit di facebook, eh tahu-tahu sekarang anggotanya sudah belasan ribu. Dengan sambil leyeh-leyeh, saya biarkan para anggota berdiskusi saling adu ide dan argumentasi. Sesekali, kalau ada member yang posting sesuatu yang out of the topic dan kurang saya sukai, gampang; tinggal di-kick saja. Dengan kata lain, kalau seandainya suatu hari nanti saya bikin grup yang mengangkat topik gula itu pahit, bisa jadi ada saja orang yang akan memasukinya. *****