Rabu, 12 Februari 2020

publik: Selamatkan TVRI, kembalikan Helmy Yahya

Hai,

Saya baru saja menandatangani petisi "publik: Selamatkan TVRI, kembalikan Helmy Yahya" dan ingin tahu apakah Anda dapat membantu dengan menambahkan nama Anda.

Tujuan kami adalah untuk mencapai 10.000 tanda tangan dan kami membutuhkan dukungan lebih banyak. Anda dapat membaca lebih banyak petisi dan menandatanganinya di sini:

http://chng.it/tkZWpmbTt7

Terima kasih!
Edi

Minggu, 24 November 2019

Saltum

BURUNG-BURUNG dalam sangkar peliharaaan tetangga berbunyi selalu. Ya, berbunyi. Ataukah itu berkicau? Entahlah. Surabaya hari-hari ini cuacanya panas sekali. Sekarang sudah minggu terakhir bulan November, dan hujan belum juga turun. Nah, bisa jadi burung-burung itu, yang digantung di teras atas itu, sedang mengomel karena kepanasan. Dan kita, apa pun arti suara burung, dibilang berkicau, bernyanyi. "Nyanyi gundulmu itu, aku ini misuh, c*k!"

Ya, dunia memang berisik. Tak melulu oleh suara burung. Tapi oleh ocehan lain. Tentang si itu yang tak boleh jadi anu, atau tentang catur. Atau usulan masa jabatan yang boleh tiga kali. Mbelgedhes tenan. Mau tak ditanggapi itu kuping ini dengar, mau tak dikomentari kok ya eman-eman. Baiklah, kita ini memang tak akan kehabisan bahan baku untuk tukaran, untuk berantem. Stoknya melimpah dan turah-turah. Jadi harus disyukuri(n).😊

Saya barusan menanam pohon kelor. Ya, ini bukan berita penting. Apalagi disampaikan oleh orang yang sangat tidak penting. Lain halnya kan kalau yang melakukan penanaman kelor itu si itu, yang saban obah-nya jadi berita. Seremeh apapun itu.

Cemburu?

Horak! Memangnya aku ini cowok apaan?

Kelor, kalau tradisi di kampung saya, (juga) dipakai memandikan mayat. Untuk? Agar si jenazah luntur segala susuknya. Makanya, beberapa teman yang bilang tak suka makan sayur kelor, dengan alasan 'daun untuk memandikan orang mati kok dimakan', saya duga ia sedang pasang susuk. Iya susuk. Susuk apa?

Ya, bisa jadi susuk kekuatan yang dipasang di jempol kedua tangannya agar kuat tutal-tutul layar ponsel, online nyosmed seharian. Juga, susuk betah isin ngevlog di sembarang tempat dengan kostum yang itu-itu melulu.

Asem tenan! Nyemoni aku ya!

Begini; bila hobi menulis, pembaca tidak akan peduli saya nulis pakai kaos kotang atau ote-ote, tak pakai baju dan cuma sarungan saja. Kalau lagi ngevlog, lha kok kaos yang saya pakai cuma Terong Gosong melulu. Seakan ada kesan; apapun kontennya, Terong Gosong kaosnya. Lalu, muncullah komentar sontoloyo yang saya dengar; wooii..., kaosnya ganti napa?!

Jujur, saya tak hanya punya kaos sakti mandraguna bertuliskan Terong Gosong  itu. Ada juga baju. Hem lengan pendek. Kotak-kotak. Tak banyak sih. Cuma sebiji. 😉

Celakanya, nyaris semua foto dan atau video yang saya unggah ke semua akun sosmed saya, kalau bukan pakai kaos 'kebangsaan' itu, ya pakai baju kotak-kotak itu. Sialnya, ada fans (jangan ketawa, gini-gini, saya punya penggemar juga lho) kirim komentar sepedas mie setan level ugal-ugalan. "Maap, Kakak kok saltum. Saat yang lain pakai batik, kok Kakak tetep konsisten pakai kotak-kotak. #seriusnanya".

Saat iseng belajar nge-vlog di Taman Bungkul, Surabaya.
(Foto: Faiz FN.)
Tentu saya maafkan. Namanya si penggemar saya itu mungkin belum tahu saja. Bahwa, salah satu tanda atau indikasi tipe lelaki setia lahir-batin, baik di dunia maya atau di dunia nyata, adalah yang kemana-mana dan di acara apa saja baju yang dikenakannya selalu yang itu-itu melulu. Catet baek-baek!

Itu alasan pertama. Alasan kedua; baju kotak-kotak adalah batik yang tertunda (sebagaimana jomblo adalah ..... yang tertunda)😀 *****


Rabu, 09 Oktober 2019

Lagi-lagi Kaki Kiri

SORE yang sendu saat itu. Tanggal 10 Desember, dua tahun yang lalu. Di Banjar Soko, Senganan, Bali. Saya sholat asyar di menjelang injury time. Sendiri. Di satu-satunya masjid di situ. Al Hamzah nama masjidnya. Selesai sholat dengan kecepatan seperti Marc Marcuez (lebay ya😀), saya hendak langsung pulang ke Tabanan. Kota. Berjarak sekitar 25 km dari situ.

Tapi hujan tetap turun dengan santuy. Tampaknya ogah berhenti. Tidak deras sih. Tapi, cukuplah bikin tubuh kedinginan bila menerjang hujan sepanjang perjalanan. Saya menunggu. Di serambi masjid. Sambil tutal-tutul ponsel. Pun, malah bikin sebel. Sinyal internet lelet.

Ada sih warung langganan di dekat masjid. Menunya lumayanlah. Milik Bu Rahma. Muslim. Bisalah, kalau mau pesan 'kehangatan'. Teh, atau susu. Saya tidak ngopi, juga tidak merokok.  Tapi, di warung Bu Rahma juga gak ada wifi-nya. Gak seru kan?

Baiklah, rintik hujan masih berjatuhan dengan ritmis. Saya nekat, hendak pulang.

Motor sewaan terparkir di utara masjid. Di lahan yang agak lebih tinggi. Bukan paving, hanya hamparan tanah. Yang juga sebagai halaman rumah penduduk. Keluarga besar Bu Rahmah. Semuanya muslim.

Berlari kecil saya menuju motor. Di jarak satu meter sebelum motor matic putih itu, mak-cekluk, kaki berbunyi. Pergelangan telapak kaki kiri. Jangan tanya sakitnya.

Selasa, 08 Oktober 2019

Makna Nama

SUNGGUH, di blog ini sebisa mungkin saya menghindari menulis hal-hal berat. Apapun itu. Terlebih yang nyerempet soal akidah. Soal keyakinan, tentang agama. Yang saya sadar, sesadarnya, saya sangat tak tahu banyak tentangnya.

Bahwa, seperti Anda tahu, ada seorang penceramah yang bilang ada nama-nama yang 'tak sesuai' dan mesti diganti, karena nama itu berasal dari bahasa Sansekerta, misalnya, dan atau sebagai nama dewa dalam agama tertentu. Sebagai orang yang mempunyai nama yang tak 'berbau' bahasa Arab blas (yang banyak orang masih memiliki pemahaman bahwa apapun yang berbau Arab relatif identik dengan agama tertentu), tentu saya ikut merasa tersentil dengan ceramah sang ustad.

Sebenarnya sih, ini karena saya kurang kerjaan saja. Ngapain mesti ikutan baper, coba?

Dulu, pernah seorang tenant baru di tempat kerja saya juga salah sangka di saat pertama kita berkenalan.

"Edi", begitu saya mengenalkan diri kepada perempuan Tionghoa warga Malaysia yang bersuamikan orang India itu.

"Kristen?"

"Islam".

"Nama Edi kok muslim...", celetuknya.

Nah. Saya nyengir. Dan tak mungkin saya menyebut silsilah nama keluarga saya di hadapannya; Kakek buyut saya namanya Abdul Salam, sampai kakak kandung saya yang namanya Khoirul Anam.

Dan... nama ibu saya Sri. Yang, kata pak ustad itu, Sri adalah nama Dewi alias Dewa tapi perempuan. Dan Dewa adalah bla, bla, bla....

Namun begini, tentang nama, saya punya pemikiran, bahwa nama Jawa, sebagai misal, ada masanya. Maaf, saya tak menyebut contoh nama secara gamblang. Ada nama yang terbilang bagus, baik secara penyebutan dan secara makna, namun bila dipakai di masa kini, disematkan pada jabang bayi yang lahir di era milenial ini, ia akan terdengar kuno dan cenderung hanya pantas dipakai oleh orang yang sudah sepuh. Berbeda, misalnya, bila nama itu memakai bahasa Arab. Ia lebih tahan lama dan relatif lebih bisa 'sesuai' kapan saja. Tentu terbuka peluang bagi Anda untuk tidak sependapat dengan ini. Tidak apa-apa.

Intinya, lazimlah adanya orang tua memberi nama sebagus-bagusnya untuk para buah hatinya. Sebagai doa, sebagai pengharapan agar ia menjadi sesuatu sebagaimana makna dari namanya. Tentang memakai bahasa apa, bisa terserah saja.*****

Sabtu, 21 September 2019

Memori Bubur Suro

HARI ini Facebook mengingatkan, bahwa saya pernah memposting gambar sepiring bubur Suro. Dua tahun yang lalu, demikian kata Efbi. Padahal, secara pastinya saya lupa. Namun demikian, tentu saya tak akan melupakan momen yang menyertai itu.

Saat itu, di Tabanan-Bali, saya kos di tempat yang sangat biasa. Malah terkesan murahan dengan rentetan fasilitas yang... ya gitu deh. Kamar berderat, ada tujuh, semua menghadap selatan. Kamar terbesar hanya berukuran tiga kali tiga setengah meter termasuk kamar mandi dan WC (yang sering mampet) di dalam dan tanpa tambahan lainnya.

Tiada kipas angin apalagi AC, saya terbantu oleh hawa Tabanan yang relatif sejuk ketimbang asal rumah saya, Surabaya.

Tetangga kanan-kiri kamar saya berprofesi sebagai macam-macam. Ada pegawai minimarket, ada sopir toko bangunan, juga ada para perempuan yang suka berdandan menor berbusana ekhm, ekhm... yang kalau siang di rumah, tapi kalau malam entah kemana. Juga, ada sepasang kakek-nenek tua yang selepas subuh selalu telah berangkat kerja berdua. Berboncengan Honda Prima yang telah uzur usianya.

Kepada para tetangga itu, sebisa mungkin saya baiki semua. Setengah tahun lebih kos disitu, alhamdulillah, kami baik-baik saja. Dan sejauh itu pula saya tak pernah bercerita apa sejatinya pekerjaan saya di Bali. 😉

Baiklah, saya fokus saja. Bukan tentang para perempuan aduhai tetangga saya itu. Yang cara merokoknya terlihat mahir betul. Dan sebagainya, dan sebagainya. Namun tentang kakek-nenek itu.

Minggu, 08 September 2019

Klepon Gempol Kini

TENTANG kenapa banyak sekali penjual klepon di sekitaran Gempol, Pasuruan, menggunakan nama Wahyu sepertinya sudah pernah saya tulis. Kalau tidak salah ingat sih. Yakni, karena Pak Wahyulah orang pertama kali yang membuat dan menjual klepon di daerah situ. Sebagai yang pertama, apapun itu, sering secara auto menjadi semacam hal yang generik. Dan jadilah Wahyu identik dengan klepon Gempol. Begitu.

"Karena Pak Wahyu tidak mendaftarkan nama itu", terang seorang Ibu berusia sekira limapuluh tahun tempat saya membeli klepon siang tadi," jadilah nama Wahyu digunakan banyak orang disini".

Tidak seperti penjual lainnya yang tetap keukeuh memakai nama Wahyu pada banner dan pada kemasan klepon, Ibu ini memakai nama Mahkota.

Namun demikian, menurutnya, sekarang makin sepi pembeli. "Sejak ada tol, dan kendaraan dari Surabaya ke arah Probolinggo dan atau sebaliknya banyak yang lewat tol, kami makin sepi pembeli", tuturnya yang telah berjualan klepon sejak delapan belas tahun silam itu.

Sambil berbincang dengan saya, tangan Ibu itu saya lihat cekatan sekali membuat bulatan dari adonan tepung ketan berwarna hijau, memberinya cairah gula merah di dalam bulatan calon klepon itu, menutupnya lagi dan lalu mencemplungkan ke dalam air mendidih. Sebentuk keahlian yang terasah berkat kesetiaan menekuni sebuah profesi membuat dan menjual jajanan tradisional bernama klepon.

Rupanya, jalan tol yang dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas orang dan barang, punya imbas lain yang sepertinya memang niscaya. Salah satunya terhadap para penjual klepon di daerah Gempol ini. ****

Selasa, 16 April 2019

Menunggu Penampakan Pulung

DULU, di desa saya, setiap menjelang pemilihan Petinggi (Kepala Desa), malamnya ada banyak orang begadang. Tidak tidur semalaman. Sambil menatap langit. Menunggu penampakan pulung. Konon cahayanya kuning keemasan. Dengan sorot terang, namun tak bikin silau. Kemana cahaya itu jatuh, misalnya ke salah satu calon Kades, orang pada yakin, bahwa si calon itulah yang sedang tertimpa wahyu keprabon. Dan pemilihan kepala desa besok harinya laksana tinggal formalitas belaka. Karena petunjuk 'langit' sudah jelas siapa yang bakal terpilih.

Kini, entah, apa masih ada hal begitu itu. Termasuk malam ini. Saat besok pagi digelar Pilpres, pemilihan presiden terpanas sepanjang yang pernah saya tahu. Sebuah 'tanding ulang'. Antara capres lima tahun lalu yang gagal mendulang suara terbanyak, melawan capres lima tahun lalu yang jadi dan tahun ini njago lagi.

Pilpres terpanas, di Pemilu terruwet (?) dibanding gelaran serupa sebelum-sebelumnya. Pileg dan Pilpres digelar bareng-breng. Dengan nuansa jelang re-match antara Pak Wi dan Pak Wo yang sedemikian sengit, praktis perhatian publik tersedot kesitu. Pileg kalah gaung. Entah bagaimana pula seandainya nanti pileg, pilpres dan pilkada juga digelar serentak.

Kembali tentang pulung, tentang wahyu keprabon. Ke siapa kali ia akan jatuh? Sedangkan Pak Wi di mata kubu (fanatik) sebelah sering dinilai tak ada baik-baiknya. Pun Pak Wo di mata sebagian (besar?) kubu seberangnya.

Sependek ingatan saya, baru pada Pilpres kali ini ada penamaan massa memakai nama hewan. Ada cebong, ada kampret. Sebuah kemunduran, menurut saya. Wadanan alias julukan yang entah siapa pencetusnya itu, semoga lepas pilpres tak lagi terpakai. Untuk selamanya. Kecuali kita menikmatinya. Dijuluki dengan nama hewan.

Dari saya membuat tulisan ini, Pemilu 2019 tinggal beberapa jam lagi. Harapan Pak Wo dan para pendukungnya, ia bisa memimpin negeri ini. Pun demikian dengan Pak Wi, tentu beliau ingin menjabat lagi. Namun, menurut saya, siapapun nanti yang terpilih, (malam ini terlihat ketiban pulung atau tidak --- karena turunnya wahyu keprabon tidak semua orang dapat melihat) ia telah dipilih oleh yang maha memilih. Dan harus diterima. Selebihnya, tak perlu melakukan tindakan-tindakan yang tak perlu. ****

Rabu, 27 Maret 2019

Info Ninmedia di DVB-T2

AWAL punya receiver DVB-T2 dulu, rutinitas yang sering saya lakukan adalah scan receiver. Sambil berharap channel bertambah. Harapan yang hampa ternyata. Sekian lama, channelnya itu-itu melulu. MUX yang mengudara juga setali tiga uang. Milik Viva, Emtek dan MNC grup jarang muncul batang sinyalnya. Yang masih ajek hanya milik TransCorp (CT-Corp), Metro dan (tentu saja) MUXnya TVRI. Pun sampai saat ini, ketika saya membuat tulisan ini.

Malam ini, sekian belas bulan setelah tak mengintip channel di saluran digital terrestrial, iseng saya scan. Kali ini tak berharap lebih. Takut kecewa. Toh, untuk siaran televisi, saya sudah punya antena parabola. Yang C-band (Palkom) dan Ku-band untuk nangkap si Ninmedia. Cukup sudah. Walau telah punya 'alat tempur' macam itu, belakangan saya malah jarang nonton tivi.

Lha bagaimana? Nonton bal-balan saya kurang suka. Politik apalagi. Njelehi. Obrolan politik selalu bikin saya gatal-gatal, pusing, meriang dan panas dalam sampai sariawan. Mungkin ada gejala saya mengidap alergi ya. Menonton masing-masing kubu, dalam dialog di layar kaca, terlihat acap menampilkan para pendekar silat lidah. Ada yang sampai mengeluarkan jurus dan ajian yang kadang kurang bisa diterima akal (sehat?) saya. Sinetron? Wih. Baca judulnya saja kadang sudah capek. Azab Suami yang Ditolak Bumi Saat Mati Karena Sering Mendholimi Istri, atau judul lainnya. Yang entah mengapa, suka sekali membuat judul panjang. Atau sengaja menyaingi panjangnya rangkaian kereta api pengangkut tanki BBM Pertamina.

Kembali ke kanal tv digital. MUX yang mengudara masih tak bertambah. Pun demikian channelnya, hanya kurang dari duapuluh. Jadi, jangan bandingkan dengan yang bisa ditangkap lewat Palapa-D. Kalau dibanding konten siaran FTA (Free to Air) di Telkom-4 sih bolehlah diadu jumlahnya. Namun kalau lawan Ninmedia jangaaannn... Pasti telak kalahnya. Belasan vs nyaris seratus.

Lalu apa?

Jumat, 22 Maret 2019

R e w a n g

Suasana rewang  dibuat sebagai
status WA oleh istri saya.
MALAM sudah sangat larut. Ibu-ibu yang tadi sibuk bikin aneka olahan di teras rumah saya sudah pada pulang. Untuk besok pagi datang lagi.

Sambil tiduran saya membuat tulisan ini. Tiduran di lantai ruang tamu. Yang sesak oleh tumpukan ini-itu. Persiapan keperluan tetangga depan rumah yang besok punya hajat. Mantu.

Aroma ruang tamu saya laksana aroma dapur perusahaan katering. Ada adonan bumbu rawon, soto dan entah apa lagi. Beginilah hidup di kampung. Yang punya hajat satu orang, yang rewang, yang bantu-bantu, orang satu gang. Ada yang ketempatan jajan, ada yang ketempatan stok air minum, ada yang ketempatan sebagai dapur (seperti di teras dan halaman rumah saya ini).

Suatu hari salah seorang staf sebuah kantor di Bali tidak masuk kerja. "Kemana Bu Nengah kok hari ini tidak masuk?", tanya saya.

"Bu Nengah hari ini ngayah", Mbak Wayan menjawab. "Bapak ngerti ngayah?"

Sebelum saya menjawab, Mbak Wayan menerangkan," Ngayah itu bantu-bantu tetangga yang lagi ada hajatan tapi tak dibayar".

Persis sama dengan istilah Jawa di kampung saya. Termasuk saat kami orang satu gang pada ikutan sibuk bantu-bantu tetangga yang besok hajatan ini.

Serepot-repotnya sekarang, tak serepot orang punya hajat tempo dulu. Saat saya kecil. Di desa. Yang kalau akan menggelar hajatan, hitungan repotnya bukan sekadar hari. Tapi bulan. Dan setiap yang datang membantu, walau tak dibayar, tentu dikasih makan. Juga rokok. Tentu perlu biaya mahal. Tapi kebersamaan, gotong-royong, itu tentu tak ternilai harganya.

Kini, semua serba cepat. Juga simpel. Tendanya sistem knock-down. Cepat sekali bongkar-pasangnya. Dibanding dulu. Yang tendanya masih pakai tiang bambu. Atapnya dari anyaman blarak, daun kelapa. Kursinya juga, masih pinjam punya tetangga. Beberapa hari sebelum hari H, ada yang kebagian tugas mencari sekian banyak daun jati. Untuk pembungkus songgongan, bingkisan berisi nasi lengkap dengan lauk dan jajanan.  Kini semua tersedia. Di tempat persewaan alat pesta. Minta yang model apa. Minta yang harga berapa.

Ada lagi yang lebih praktis. Yang punya hajat tak perlu repot. Tinggal diserahkan ke EO. Segala macam urusan. Dari A sampai Z.

Dengan membayar EO, menjadikan tetangga kanan-kiri tak perlu ikut repot ngayah, ikut rewang. Ketempatan ini-itu. Namun yang ikut 'repot' beginilah yang saya suka. Bahwa tak semua kudu dihargai dengan uang. Ada semacam tali yang mesti tak dilepaskan. Tali keterikatan. Bahwa, saudara terdekat adalah tetangga. ****


Rabu, 27 Februari 2019

Pencitraan

"MERAKYAT, jujur dan amanah", begitu tulisan yang terpampang pada baliho di perempatan jalan. Ada wajah dengan berhiaskan senyum pada baliho yang sama. Intinya, dia ini sedang memperkenalkan diri. Sekaligus mencitrakan diri sebagaimana ia ungkap dalam kata 'merakyat, jujur dan amanah' itu. Apakah dalam keseharian sosok itu betul begitu? Ataukah itu hanya rayuan (gombal) agar terpilih sebagai anu. Setelah itu ia terkutuk sebagai kacang yang lupa kulitnya?

Betapa banyak kini sosok begitu itu. Tradisi lima tahunan. Menjual citra palsu, menjual janji yang juga palsu. Tentu tidak semua begitu. Namun, dalam kontestasi banyak-banyakan pemilih agar jadi, selalu saja ada langkah yang ditempuh laiknya penjual kecap. Dalam 'jualan' macam itu, ia membutuhkan timses. Membutuhkan konsultan. Nah, polesan-polesan (oleh timses dan konsultan?) agar tampak lebih yes itulah pencitraan.

Apakah hanya para mereka itu yang sering (atau selalu?) memakai jalan pencitraan? Sepertinya tidak.

Kita (eh saya ding!), pun sering berlaku begitu. Di medsos, misalnya. Untuk apa, coba, saya menulis status kalimat bijak dengan menukil quote-quote orang-orang hebat? Tentu agar orang menilai saya ini 'bijak'. Pun demikian saat saya menulis status lucu, upload foto dengan pose tertawa padahal hati nelangsa dsb, dst.

Saya masih ingin menulis tentang 'pencitraan' ini lebih panjang lagi, sebenarnya. Agar dikira orang saya selalu punya ide untuk ditulis di blog ini. Tapi kok ya gimana begitu. Lha wong saya nulis ini tadi juga berdasar status teman di medsos kok. Tentang apakah status itu genuin hasil perenungannya sendiri ataukah dari berbagai sumber literasi yang telah dicecapnya untuk kemudian dipajang di medsos, tentu saya kurang tahu pasti. Pun, apakah teman saya tadi menulis begitu juga sedang mencitrakan dirinya? Saya lebih tidak tahu lagi. ****


Minggu, 24 Februari 2019

Tracking Satelit Telkom-4

SEPERTI pernah saya bilang tempo hari, belakangan ini saya makin jarang nonton tivi. Lebih-lebih tentang berita politik. Lebih-lebih tentang talk show yang mempertemukan dua kubu paslon. Yang sama-sama punya kekuatan otot leher luar biasa kuat dalam berdebat. Memperdebatkan perdebatan. Selalu menilai calonnya yang benar. Yang unggul. Yang layak untuk menjadi pemimpin berikutnya. Hal wajar, memang. Bagi mereka. Bagi saya? Oh, belum tentu.

Perdebatan macam itu sepertinya (sepertinya lho ya...) juga menjadi konten andalan media penyiaran (televisi) di acara prime time. Di jam tayang utama begitu, konon, tarif iklannya juga muahal. Jadi? Perdebatan antar kubu di televisi itu, selain (tentu saja) bersifat politis, bisa jadi ada pula sisi bisnisnya. Sebagaimana acara gosip di televisi yang acap menjadi perbincangan di ranah publik, debat politik belakangan ini telah pula menjadi perhelatan perdebatan nasional. Nyaris semua orang. Dengan latar belakang apa pun. Lebih-lebih yang juga telah punya kecenderungan memilih jagoannya. Iya, masing memang telah punya pendukung fanatik. Yang bukan saja bisa sangat membenarkan pernyataan dan perbuatan benar calonnya, namun bisa pula membenarkan (dengan berbagai argumentasi) kesalahan calonnya.

Perdebatan antar pendukung fanatik begitu, tentu tak ada ujung. Adakah untungnya? Entahlah.

Kamis, 21 Februari 2019

Kartunis

SEMASA sekolah, selain menulis, juga ada kegemaran saya yang lain. Menggambar. Bukan menggambar seperti pelukis bergaya realis. Karena, untuk urusan melukis, prestasi tertinggi saya sejak SD adalah ketika menggambar pemandangan. Yaitu, membuat gunung dua, di tengah ada matahari, lalu ada sawah, dan ada jalan yang membelah persawahan itu. Juga ada dua pohon kelapa, satu tinggi-satunya pendek, di tepi jalan. Kompak. Karena nyaris anak satu kelas menggambar yang sama.

Makanya, saya kagum sekali ketika membaca cerita bergambar di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat karya mendiang Teguh Santosa. Gambarnya hidup. Sehingga saya bisa dengan gampang dan gamblang mencerna cerita yang digambarkan. Selain Teguh Santosa, ilustrator yang saya kagumi kepiawaiannya dalam menggambar di majalah yang sama adalah Budiono. Nama yang saya sebut belakangan tadi sampai kini karyanya masih bisa kita nikmati di Jawa Pos (Grup?)

Menurut saya, coretan tangan Budiono khas. Baik saat menggambar sosok 'manusia normal', atau saat bikin karikatur. Yang juga bikin kagum adalah saat ia membuat ilustrasi untuk rubrik Wayang Opo Maneh yang (sayangnya kini rubrik itu sudah tidak ada lagi di Jawa Pos) tokoh wayang macam Cakil, atau Arjuna, atau Sengkuni dll digambarkan dengan jenaka. Pakai sepatu kets atau pakai jam tangan. Jan mbois tenan, khas Budiono pokoknya.