Jumat, 02 Desember 2016

Bonek Melawan

 
"PUNYA tali rafia, Kang?" Mas Bendo mertamu sambil membawa kain putih yang sudah ia tulisi dengan cat hitam.


"Untuk apa?"

"Untuk pasang ini di pinggir jalan," dengan bangga Mas Bendo membentang kain putih itu di hadapan Kang Karib. Kain putih dengan kalimat yang sering Kang Karib baca belakangan ini di sekujur tubuh Surabaya. Yang berisi kecaman tertuju kepada PSSI (sering ditulis sebagai P$$I) dengan bumbu umpatan khas Surabaya.

"Kamu itu", ujar Kang Karib, "sudah jalanan dibikin rapi dan ditata serta dijaga kebersihannya kok malah semua jadi gak nyaman dipandang gara-gara spanduk dipasang pating crentel dan penuh pisuhan".

"Ini perjuangan, Kang", sergah Mas Bendo. "Jangan dipandang sebagai mengotori keindahan dan sejenisnya. Saya ini, sebagai Bonek, sedang melawan."

"Tetapi melawan kan bisa dilakukan secara elegan, nDo."
Salah satu spanduk kreasi bonek.
Sumber foto: emosijiwaku.com

"Di saat PSSI melakukan tindakan sedemikian jahat kepada Persebaya, mosok kita melawannya dengan lembek. Bisa-bisa kita malah diremehkan dan tidak direken sama sekali. Sekali lagi, saya ini bonek, Kang, dan ada darah Surabaya di tubuh saya. Darah Surabaya adalah darah pejuang, darah pahlawan. Dan ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan", oceh Mas Bendo melebar tak karuan.

"Pahlawan? Bukankah pahlawan adalah bertujuan luhur demi kemerdekaan, misalnya, dan untuk itu rela berkorban jiwa raga?"

"Saya, sebagai bonek sejati juga rela mati, Kang. Rela berjuang sampai titik darah penghabisan demi Persebaya..."

"Sungguh, nih? Sungguh rela mati cuma demi bal-balan? Mbokya jangan segitulah, nDo. Santai saja. Lagian apa sih yang kamu dapat dari membela tim kesayanganmu itu?"

"Kebanggaan, Kang. Dan itu tidak dapat dihitung nilainya", dalih Mas Bendo. "Sudah, Sampeyan ini punya tali rafia apa tidak sih?"

Setelah menerima tali rafia pemberian Kang Karib, Mas Bendo pergi menuju perempatan dimana ia akan memasang spanduk berbahan kain mori murahan itu disana.

Dua hal yang membuat Kang Karib prihatin adalah, ulah para (oknum) suporter sepakbola yang acap menerapkan fanatisme secara kebablasan, dan menempatkan pendukung tim lain sebagai musuh abadi dengan tingkat kebencian yang sampai merasuk ke sumsum tulang, dan atau ngepruki kaca mobil yang dijumpai di jalanan dengan tanpa alasan. Kedua: pihak Satpol PP yang sering terlihat mencopoti spanduk yang telah habis masa ijinnya, (dan apalagi spanduk liar tak berijin yang dipasang di sudut-sudut jalan) kali ini terlihat seperti sedang melakukan pembiaran terhadap para bonek yang makin hari makin banyak saja memasang spanduk penuh pisuhan di jalanan. *****



Senin, 28 November 2016

Minyak dan Api

JANGANLAH engkau menjelma menjadi api ketika orang lain menyuguhimu minyak
Cak Nun.

Selasa, 22 November 2016

Jenang Sapar

SEMAYI adalah nama sejenis botok tetapi tiada udang, tempe atau jamur dan bahan lainnya sebagai isi. Ia hanya botok dengan bahan utama kelapa diparut yang tampil secara solo. Iya sih ada bumbunya, dan bumbu itu sebagaimana layaknya bumbu botok. Seingat lidah saya, rasa utama ketika dimakan adalah pedas. Parutan kelapa nyaris sudah tiada rasa kelapanya, sepo. Karena ia adalah parutan kelapa yang telah tiada santannya. Santan telah diperas untuk dipakai memasak lodeh gori, nangka muda.

Nasi aking (karak) yang dikrawu berteman semayi adalah menu yang tidak jarang mengisi perut saat saya kecil. Nikmat sekali. Dulu kami makan begitu karena keadaan, kini saya kembali ingin menikmatinya lagi karena kerinduan.

Tetapi, di kota ini, dimanakah saya bisa membeli semayi dan nasi aking dikrawu? Tentu tidak ada, selain membuatnya sendiri. Tentu saya bisa meminta dibuatkan menu itu kepada emaknya anak-anak, namun sebagaimana menu lainnya, hidangan apa pun adalah bukan tandingan bila dibanding masakan ibu. Lebih-lebih bila makanan itu didapat dari membeli. Kenapa? Karena makanan yang dibeli dari restoran atau warung makan unsur utama ketika dimasak adalah berdasar hitungan uang, sementara masakan ibu untuk keluarganya dimasak selalu dengan bumbu utama bernama kasih sayang.

Sekarang bulan Syafar, sebagai lidah yang kolokan, kok ya sempat-sempatnya ia merindukan jenang sapar, begitu kami menyebutnya. Berbeda dengan jenang Suro yang berbahan beras putih, penganan ini berbahan tepung ketan yang hanya ada di bulan Syafar. Adonan tepung ketan itu dibentuk bulatan-bulatan kecil (makanya juga disebut jenang grendul) dipadu gula merah dan santan. Hmm, aroma pandannya menggoda, semenggoda sensasi nyeplus bulatan ketan yang kenyil-kenyil, kenyal. Saat dikunyah rasanya nano-nano; ada manis, ada asin, ada gurih, ada-adaaa aja.... (Hmm, mak cleguk..)

Nah, demi menuruti kerinduan lidah, saya mencari si jenang sapar itu ke pasar. Tidak seperti di awal Syawal yang banyak sekali penjual ketupat, di bulan Syafar tidak saya temukan seorang pun penjual jenang sapar. Padahal kalau di kampung saat masa kecil dulu, di bulan Syafar begini, antar tetangga saling antar jenang sapar. Makanya kita bisa makan penganan itu gratis tanpa bayar. Pagi kemarin itu saya meninggalkan pasar dengan tanpa berhasil membuat kerinduan sang lidah terbayar

Namun, dasar rejeki anak bapak sholeh, saat datang ke tempat kerja, ada seorang teman yang baru pulang kampung membawa sebungkus agak besar jenang sapar. Lumayanlah, walau hanya memakan satu-dua sendok (demi agar jenang segitu bisa dimakan semua teman), paling tidak kerinduan lidah saya sudah relatif terobati. *****

Sabtu, 19 November 2016

Perempuan Penjajah

WANITA dijajah pria sejak dulu.....

Penggalan syair lagu lawas itu mungkin agak kurang dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi, 'penjajahan' macam itu masih saja terjadi sampai kini. Walau, atas nama HAM, si penjajah (baca: pria, menurut lagu itu) harus lebih berhati-hati. Harus lebih halus, sehingga si terjajah nyaris tidak menyadari kalau dirinya sedang dijajah.

Isu kesetaraan gender dan sebangsanya memang membawa hasil. Jumlah perempuan dalam parlemen dan aneka bidang lainnya cenderung lebih ada dibanding pada masa lalu. Perempuan, setidaknya bukan sekadar sebagai kanca wingking, teman di belakang. Yang hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur. Sebagai yang secara jumlah lebih besar dibanding pria, seyogyanya perempuan adalah 'sang penjajah', bukan sebaliknya. Atau memang sudah, sudah menjajah. Tetapi secara halus, sehingga seperti saya tulis di atas, si terjajah (kali ini pria) nyaris tiada merasa kalau sedang dijajah?

Di sebuah pusat kebugaran di Surabaya, saya dapati ada sudut yang mengkhususkan diri sebagai tempat berlatih tinju. Tidak melulu tinju seperti yang dilakukan oleh Tyson atau Pacman, namun dipadu juga dengan Thai Boxing. Pokoknya tidak sekadar jotosan, nyaduk pakai dengkul dan atau cara nyikut yang 'mematikan' pun dilatihkan. Dan, setiap kali saya kesitu, selalu saya temui sebagian besar yang berlatih adalah perempuan!

Tentu perempuan yang berlatih di situ bukan oma-oma. Para perempuan itu masih kinyis-kinyis dan --dugaan saya-- masih bujangan. Saya belum sempat bertanya apa yang mendorong mereka berlatih jotosan dan nyaduk 'secara baik dan benar', tetapi itu saya baca sebagai sinyal bahwa mereka ingin mematahkan sebagian pendapat yang secara tradisional mengatakan wanita adalah lemah. Itu pertama. Kedua, dengan tidak sedikit kasus kejahatan jalanan yang mengincar perempuan sebagai korban, berlatih bela diri adalah hal yang masuk akal dilakukan. Dan ketiga, bisa jadi, KDRT yang sering menempatkan perempuan sebagai korban, kelak bila para perempuan itu menikah, bila sedang bertengkar dan kurang bisa mengontrol diri, si suami yang akan dijadikannya sansak.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS, ditakutkan orang (bahkan warga AS sendiri) akan membuat dunia kacau berantakan. Sebuah ketakutan yang berlebihan, lebih-lebih bila jangan-jangan tokoh menakutkan itu ternyata malah menjadi penakut di hadapan perempuan bernama Melania.

Akhir syair lagu yang saya pakai sebagai pembuka tulisan ini adalah para pria berlulut di sudut kerling wanita, di hadapan perempuan yang piawai bertinju akan menjadi lebih tragis nasibnya karena berlutut bukan sekadar oleh kerling, namun oleh jap, hook atau upper cut. *****

Rabu, 16 November 2016

Pengemis Pemalu

SORE yang mendung. Saya ada di deret lumayan belakang pada antrean agak panjang di SPBU Mayjen Sungkono ke arah Adityawarman. Sambil menunggu giliran, mata saya tertuju pada sesosok ibu berkain panjang, berkebaya dan berkerudung yang duduk di dekat pengisian angin/nitrogen dekat pintu keluar SPBU. Semula saya duga ia adalah ibu dari seseorang yang juga sedang antre mengisi BBM. Sebuah dugaan yang sejauh ini keliru. Karena, hingga saya mendekati giliran, tak seorang pengendara pun menghampirinya untuk melanjutkan perjalanan.

Selesai mengisi tanki kendaraan, saya dekati ibu itu yang di wajahnya terbaca sebagai perpaduan antara ragu dan malu.

“Menunggu siapa, Bu?” saya bertanya.

“Tidak menunggu siapa-siapa,” jawabnya.

“Lalu, kenapa Ibu disini?”

“Saya mengemis...”

Selembar uang sekian rupiah saya berikan, setelah sekian detik tertegun mendengar jawabannya, lalu melajukan kendaraan meninggalkan SPBU. Meninggalkan si Ibu, pengemis pemalu (karena pemula?) yang sepertinya melakukan itu karena terpaksa.

Sore kian turun dan, seperti bisa, beban pundak jalanan kota makin berat oleh volume kendaraan yang makin sarat. Lampu-lampu yang mulai menyala, menyalakan pula tanya tentang Ibu tua itu. Diantaranya;  kemana suami dan anak-anaknya? *****


Minggu, 02 Oktober 2016

Taat Pribadi, Sebuah Berita Selingan

FENOMENA Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan pemberitaan tentangnya di berbagai media, paling tidak telah menjadi selingan. Bahwa, 'reality show' Kopi Sianida dengan bintang Jessica Komala Wongso di televisi, perseteruan Kiswinar vs Mario Teguh, ingar bingar Pilgub DKI, sampai Pilpres yang mempertarungkan Trump dan Hillary di AS telah terlalu medominasi isi berita. Perlu 'berita baru' yang segar dan agak jenaka. Dan, itu adalah tentang Taat Pribadi.

Lihatlah aksinya saat menggandakan (orang kepercayaannya ada yang menyebut 'mengadakan', bukan menggandakan) uang di laman Youtube. Berpeci hitam, duduk di kursi, sementara para pengikut yang tak berbaju sibuk menata uang yang dihamburkan oleh sang Taat setelah tangannya merogoh dari bagian belakang jubahnya. Sungguh hal yang merepotkan. Tidak praktis blas. Kalau Taat adalah pribadi yang simpel, tentu uang yang ia 'ambil' dari balik jubahnya itu tak dihamburkannya begitu. Toh, saat pertama, di tangannya uang itu telah rapi. Ya tinggal serahkan dalam kondisi rapi begitu ke para abdinya. Kok malah dihamburkan sehingga para abdi sampai buka baju (karena keringetan atau memang disyaratkan kudu begitu) untuk menatanya lagi.

Lhadalah, selain bisa mengadakan uang, kata berita, konon ia juga mampu mengadakan barang lain. Motor, misalnya. Ini tentu pelanggaran kedua selain pengadaan uang itu. Bagaimana tidak, secara resmi, lembaga negeri ini yang punya hak untuk menerbitkan uang hanyalah Bank Indonedia ( Bukan Bang Taat :) ), dan yang berkepentingan untuk memproduksi motor adalah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Lha kalau dia bisa lewat ritual tiba-tiba 'mengadakan' motor baru, pihak ATPM harus mengusut itu. Kan sudah merugikan. Kecuali kalau motor itu merek dan spare part-nya menggunakan nama Taat. Tapi katanya kan merek motornya Honda CBR.

Betul memang, masyarakat kita belum bisa lepas dari hal-hal klenik. Untuk percaya hal-hal demikian, tak hanya orang pelosok dan tak berpendidikan, orang berpendidikan tinggi pun bisa meyakini. Lihatlah tokoh ternama pengikut Dimas Kanjeng yang sampai kini tetap taat pada Taat. Bukan orang sembarangan kan?

Saya pernah dipameri seorang teman yang katanya bisa mengambil uang dari langit. Dengan ritual dan membaca mantera rahasia plus harus ada kembang kantil khusus, ia bisa mendapatkan berapapun jumlah uang yang diinginkan.

“Itu uang asli apa uang mainan?” canda saya.

“Asli, dan bisa dipakai berbelanja,” mantap sekali ia menjawab.

“Wah, kalau bisa ambil uang dari langit dengan jumlah berapa saja,” sela saya, “ngapain Sampeyan pontang-panting kerja begini? Kan uang tinggal ngambil, kalau habis, ngambil lagi...”

“Oh, begini,” nadanya serius sekali, “uang itu kita pinjam. Khusus untuk menolong orang lain, tidak boleh untuk pribadi. Misalnya Anda punya utang dan tak ada harta untuk membayar, itu bisa saya bantu. Saya pinjamkan uang dari langit. Tetapi, kalau sudah mampu, Anda harus mengembalikan.”

“Mengembalikan ke langit, bagaimana caranya?”

“Ya harus lewat saya lagi...”

Sumpah, cuplikan dialog di atas adalah benar adanya. Dan syukurlah, sampai sekarang saya benar-benar tak mempercayai kemampuan teman saya itu. *****

Minggu, 25 September 2016

Nama Kekinian Buah Hati

SEKELUAR dari tempat yang disekat dengan sehelai korden -ruang periksa yang ada dipan kecil tempat saya disuntik barusan, sambil mengusap-usap bokong saya ambil tempat di depan meja dokter. (Ohya iya, entah karena pelit atau apa, si dokter yang suka naik Vespa itu berpraktik sorangan wae, tanpa asisten. Jadilah ia yang memeriksa, ia yang menyuntik (ya iyalah, kan dia dokter), juga yang kasih obat dan merangkap sebagai kasir.) Karena tubuh saya masih demam dan kena angiin sedikit saja badan sudah serasa bermalam di puncak gunung, saya meminta dibuatkan surat keterangan dokter.

"Nama?", tanya dokter.

"Edi Winarno."

"Wartawan ya?"

"Bukan, Dok. Karyawan biasa."

"Tapi anggota PWI, kan? Persatuan Winarno Indonesia..."

Sontoloyo tenan. Suka bercanda juga si dokter ini.

Iya, kalau tidak salah, percakapan itu sudah pernah saya posting di blog ini. Tetapi ini tentang hal lain. Tentang orang harus bangga (paling tidak harus sreg) dengan namanya sendiri. Tetapi dewasa ini, terutama buah hati keluarga muda, sepertinya makin tidak kelihatan kesukuannya, atau bahkan keiindonesiaannya. Iya, seperti halnya nama Joko atau Hartono, sudah pasti dengan membaca nama belakang saya orang tidak akan mengira saya ini orang Batak. Lha sekarang, nama para balita kekinian yang dengan genit dinamai mama-papanya (yang punya 'anggota tubuh lain' bernama gadget, yang kemanapun serasa tak lengkap tanpa benda itu) dengan berderet nama yang berbahasa Persialah, Rusialah atau bahasa alien yang tentu saja bakalan sulit dieeja lidah kakek-neneknya.

Apa itu hal salah?
Oh, no. Tidak, saya tak punya secuil kuasa pun untuk menyalahkan siapapun yang menamai buah hatinya dengan bahasa apapun. Lha, memangnya saya ini apa dan siapa? Tetapi begini, mungkin lho ya (tolong dikoreksi kalau saya keliru); orang menamai anaknya dengan istilah atau bahasa yang rumit (walau konon kalau diterjemahkan ke bahasa kita artinya bagus) adalah agar ekskulsif. Padahal, di zaman gugel ini, apa sih yang tidak segera diketahui orang lain untuk kemudian ditirunya. Juga nama balita yang dengan susah payah Anda pakai itu. Maka, adalah hal lumrah manakala sekarang bayi-bayi mungil itu menyandang nama yang sama, paling tidak satu atau dua kata. Yang Salsabila-lah, yang Aurendra-lah, Azzahra-lah atau yang lainnya. Dan, tentu saja, Anda tak bisa menuntut orang tua bayi lain yang memakai nama yang juga Anda pakai untuk buah hati Anda. Kecuali, Anda mematenkan nama baby Anda.

Makanya saya biasa-biasa saja ada orang lain punya nama Edi (walau ejaan hurufnya bisa Edy, Eddy atau  Edhie, toh bunyi ketika dibaca sama). Yang sekarang perlu agak diluruskan adalah tentang Kiswinar. Silakan Anda berpendapat sendiri tentangnya. Mau pro dia atau pro Pak Mario silakan saja. Cuma yang saya pikir, kenapa ya kok penggalan namanya tanggung amat. Tidak ditambah NO sekalian. Biar menjadi Kiswinarno. Atau ditulis menjadi Kiss Winarno. Hmm..., keren kan? Supaya, seperti candaan Pak Dokter kepada saya itu, ia dijadikan anggota 'PWI'. Walau kami, sesama 'marga' Winarno ini, tak perlu melakukan tes DNA demi meyakinkan khalayak bahwa kami sama sekali tak ada pertalian darah.*****

NB: maaf lho ya; antara judul dan isi kurang sejalan. Disengaja kok


Selasa, 06 September 2016

Rabu, 10 Agustus 2016

Giliran Menggali Kubur

PENGERAS suara yang terpasang di menara masjid di kampung saya, secara rutin tentu saja mengumandangkan adzan di lima waktu sholat. Tetapi selain itu, adakalanya digunakan juga untuk memanggil anggota Ishari untuk berkumpul sebelum mengahadiri undangan ke suatu tempat. (Dalam hal ini saya sempat membatin, apa anggota kelompok hadrah itu tak memiliki ponsel ya kok sampai dipanggil dengan cara memanfaatkan TOA masjid?). Selain dua hal tersebut, speaker masjid secara waktu tak tentu (bisa pagi, malam, sore atau dini hari) juga dimanfaatkan untuk menyampaikan kabar duka bila ada warga yang meninggal dunia.

Tidak seperti kebiasaan di desa asal saya yang untuk mengebumikan orang meninggal harus menunggu waktu (menunggu berkumpulnya sanak famili yang kadang bertempat tinggal di tempat jauh, sehingga tak jarang mayat diinapkan walau meninggalnya masih sore hari), disini berjarak tiga jam dari pengumuman yang disebarluaskan dari pengeras suara masjid, semua prosesi pemakaman telah selesai. Tak peduli siang, tak peduli malam. Mungkin, tak peduli juga sanak famili belum semuanya datang.

Hari-hari ini, bila ada kabar duka cita berkumandang dari manara masjid, saya ikut menyimak juga; apakah yang meninggal itu masih satu RT dengan saya atau tidak. Pasalnya, di dinding teras rumah saya sejak dua minggu yang lalu tergantung tanda 'palang merah'. Itu pertanda, bersama enam tetangga lainnya, saya sedang dapat giliran menggali kubur bila ada salah satu warga di RT kami yang meninggal.

Ini akan menjadi pengalaman kedua sejak saya tinggal di kampung ini mulai tahun 2009 yang lalu.

Menggali kubur? Bukankah telah ada petugas khusus yang dibayar melalui iuran rutin warga? Mungkin itu kebiasaan di tempat lain, dan boleh jadi di tempat lain lagi ada yang dalam menggali kubur tak menunjuk petugas khusus dan semua prosesi dari A sampai Z dilakukan secara gotong royong. Begitulah; dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.

Saya belum bertanya sejak kapan dan oleh siapa peraturan menggali kubur secara bergiliran itu di kampung ini diterapkan. Namun saya berbaik sangka saja. Kalau bertakziyah kepada orang yang meninggal mempunyai efek baik agar kita selalu ingat mati, apalagi dengan ikut menjadi penggali kubur (yang dalam proses penggalian tak jarang menemukan tulang-belulang). Tentu bobot ingat mati akan makin tinggi dan makin menyadari kelak siapapun kita di kuburan akan tersisa tulang-belulang. *****


Sabtu, 23 Juli 2016

PKL, PR Abadi Kota

BEBERAPA tahun yang lalu, di sepanjang jalan Jagir sisi sungai itu berjajar rapat sekali rumah semi permanen dengan aneka usaha. Mulai bengkel mobil, bengkel motor, warung makan, pandai besi, sampai tempat praktik dokter. Ohya, ada mushollanya juga. Padahal, secara hukum, mereka menempati tanah negara. Dalam arti kata, menempatinya secara ilegal, walau katanya sih tinggal dan membuka usaha disitu bukan gratis semata. Bahkan sudah bergonta-ganti 'pemilik' dengan nilai jual-beli yang tak terbilang murah. Itu pertama. Kedua, dengan PLN berkenan memberikan layanan listrik di area situ, membuat semua menjadi baik-baik saja dan seperti tidak melakukan pelanggaran apa-apa.

Dulu saya pernah ke salah satu rumah disitu untuk suatu keperluan dan ketika saya menengok ke belakang rumah, oh bahaya sekali; langsung menghadap bibir sungai. Kalau lagi apes dan terpeleset, untuk mencarinya bisa jadi perlu bantuan tim SAR.

PKL adalah sekelompok orang dengan keuletan berusaha yang gigih sekali. Dimana ada peluang, disana mereka akan berdagang. Sampai kurang peduli bahwa lahan yang mereka tempati adalah area terlarang. Di bibir sungai, di atas saluran, di depan pasar dan sebangsanya. Sebentar saja tak ditindak, jumlah mereka akan beranak-pinak. Sampai mampu mematikan usaha lain sejenis yang punya tempat permanen dan resmi. Bayangkan, PKL tak sungkan menjual sepatu di depan toko sepatu. Dengan kegigihan berkadar 24 karat, untuk menggusurnya pun tidak setiap pemimpin daerah mampu menuntaskannya.

Anda sudah pernah jalan-jalan ke Singapura? Atau ke Paris? Kalau sudah, berarti Anda telah bisa menyaksikan betapa bersihnya jalanan di sana. Kalau belum pernah, ah kita sama. Karena belum pernah ke luar negeri, tentu akan tak afdol kalau saya nggedabrus bercerita tentang tempat-tempat dimaksud. Baiklah, saya akan bercerita tentang di kota ini saja, Surabaya.

Lagu Bis Kota yang dinyanyikan Franky adalah potret Surabaya tahun bahuela. Yang masih panas. Sekarang, taman ada dimana-mana. Di sepanjang jalan di seantero kota, selalu ada rindang yang diciptakan. Pohon-pohon dan bunga-bunga juga air mancur di berbagai sudut kota, diniatkan agar kota ini menjadi tak panas-panas amat.

Seorang kawan dari kota sebelah sempat iri dengan pembangunan di kota ini. Pembuatan saluran/box culvert yang sepanjang tahun tak pernah berhenti demi bisa mengusir banjir, dan pembanguan infrastruktur penunjang lainnya. Walau kalau diamati, masih saja terjadi malfungsi ketika sarana itu jadi. Trotoar, misalnya. Area pejalan kaki yang dipasang keramik dengan motif apik yang di bangun di atas box culvert di kanan-kiri jalan, malah acap menjadi 'jalan lain' bagi penunggang motor yang tak sabar bermacet-macet ria.

Inilah salah satu problem abadi setiap kota di masa kini; seberapa pun jalan dilebarkan, selalu akan segera dipenuh-sesaki oleh kendaraan. Dan semua akan menjadi semakin ruwet tidak karuan bila sama-sama kurang mengedepankan kesadaran. Ya masyarakatnya, ya pemerintahnya, ya semuanya.

Pagi tadi saya berangkat kerja dan mendapati dua lokasi PKL telah diratakan dengan tanah dan, tentu saja, akan difungsikan disitu sesuai peruntukannya. Satu di jalan Dinoyo, satunya lagi di depan Gelora Pancasila jalan Indragiri. Kemana para PKL itu setelah ini mencari nafkah, tentu perlu (mungkin telah) dipikirkan oleh pihak penggusur. Itu secara moralnya memang demikian, walau mereka adalah pihak yang salah. Tetapi, para pedagang kaki lima bukanlah makhluk rapuh yang gampang punah. Tunggulah: disini merena digusur, sekian waktu berikutnya, di tempat lain, mereka akan tumbuh lagi. Ingat, sesuai namanya, mereka adalah pedagang kaki lima, bukan sekadar kaki tiga!*****

Kamis, 19 Mei 2016

H A H

CUACA yang mendung ditambah pepohonan yang rimbun di area bermain anak-anak di pantai itu, membuat suasana nyaman sekali. Lebih menyenangkan karena saya lihat si kecil saya senang sekali berada di situ. Sebuah acara liiburan yang murah meriah sekaligus tak perlu jauh dari rumah. Dalam arti berikutnya; kantong tak akan terlalu bolong karenanya.

Jajanan yang ada pun tak mahal-mahal amat, permainan ayunan dan sebangsanya malah gratis belaka, sudah jadi satu dengan karcis masuk. Di antara waktu menemani anak bermain, saya lihat seorang lelaki mengais rejeki atas bantuan monyet. Tak hanya seorang, saya lihat ada beberapa lelaki berlaku begitu; kesana-kemari menggelar tontonan topeng monyet.

Tidak seperti yang pernah saya lihat di kampung, yang tontonan topeng monyet masih menggunakan gamelan asli dan bukan rekaman yang diputar lewat pengeras suara, yang ini lebih simpel, cukup pakai speaker kecil bersuara nyaring tetapi cemplang bertenaga accu kecil dan tak perlu berbagi penghasilan dengan penabuh gamelan. Untuk si aktor utama, ya si Sarimin atau entah siapa nama monyet itu, cukuplah dibelikan pisang.

Tetapi siang itu, si Sarimin sedang mogok kerja. Entah karena sedang tidak mood oleh suatu sebab, ia tak mau menuruti kemauan tuannya untuk melakukan sebuah atraksi. Musik gamelan terus diputar, dan lewat tali tambang yang terhubung ke rantai yang melingkari leher Sarimin, si tuan membuat aba-aba tertentu agar si Sarimin beraksi. Nihil, tiada hasil. Sebuah tindakan yang lantas membuat tarikan kuat rantai di lehernya bukan lagi sebagai aba-aba, tetapi lebih kepada amarah si tuan. Saya membayangkan, duh betapa sakit leher si Sarimin diperlakukan begitu.

Hewan tak mau beratraksi sesuai aba-aba pernah pula saya saksikan saat menonton sirkus lumba-lumba. Ya walau kesitu demi menuruti keinginan anak, saya toh kemudian merasa bersalah telah ikut menonton pertunjukan yang ternyata konon amat menyiksa si pemeran utama itu.

Rabu, 27 April 2016

Sukses itu Biasa

SUKSES bagi saya adalah hal biasa, hal yang luar biasa adalah bila saya gagal.
 Sutiyoso, Kepala BIN.


Senin, 04 April 2016

Mengintip Toilet VIP

Toilet VIP (Foto: M. Faizi)
DALAM perjalanan darat jarak jauh, hal kecil macam buang air kecil bisa menjadi bukan perkara kecil. Terlebih ketika kita tak membawa baju ganti untuk sholat. Pilihan pertama tentu SPBU yang selalu menyediakan toilet. Beberapa SPBU menggratiskan fasiltas ini sebagai bagian dari layanan mereka. Walau, bisa jadi, yang mampir kesitu murni hanya untuk numpang pipis dan tak mengisi BBM karena tandon di tanki kendaraan masih banyak. Sekalipun gratisan, beberapa SPBU memperhatikan betul kebersihan toilet dan ketersediaan airnya, walau di beberapa SPBU lainnya saya dapati tidak begitu; kondisinya relatif jorok dan tiada air pula.

Pilihan buang air berikutnya adalah di toilet masjid-masjid di pinggir jalan. Tiada tarifnya, hanya biasanya disediakan kotak amal di pintu masuk toilet dan tiada yang menjaga. Artinya; seikhlasnya saja. Tak mengisi pun tak mengapa walau kebangetan saja kiranya.

Toilet VIP tampak dari luar. (Foto: ewe)
Setiap pulang kampung dan melihat di daerah Grati, Pasuruan, ada toilet VIP di sebuah SPBU, saya selalu penasaran. Beberapa kali ingin mampir sekadar mengintip toilet VIP itu, kok eman-eman saja. Uang sepuluh ribu rupiah sebagai tarifnya saya rasa terlalu mahal untuk sekadar sebagai ongkos pipis. Karena bukankah di SPBU lain kita bisa langsung kabur setelah pipis mak-cur? Lha kok ini mesti bayar segala, sepuluh ribu pula.

Kalau yang VIP ada showernya, air hangat pun selalu tersedia,' kata petugas kafetaria di SPBU itu menerangkan ketika saya tanya. “Kalau toilet biasa ada di sana, tarifnya lima ribu rupiah,” lanjut lelaki ramah itu menunjuk deretan toilet di sisi kanannya.

Oh, yang sepuluh ribu itu untuk dana kebersihan to? (Foto: ewe)
Saya mengedar pandang; meja kursi tertata rapi di indor maupun outdor, pula ada beberapa sarana bermain anak-anak di halaman samping kafetaria. Benar-benar tempat istirahat yang nyaman untuk melepas penat dalam perjalanan. Untuk urusan perut pun tersedia. Walau, kalau melihat sebotol air mineral dan snack yang saya beli disini tadi berharga hampir dua kali lipat dari harga barang serupa di minimarket, bukan tidak mungkin harga makanan disini juga agak tak ramah kantong bagi orang seperti saya.

Lelaki kasir kafetaria yang ramah itu memanggil seorang bapak cleaning service ketika saya bilang akan melihat-lihat bagian dalam toilet VIP yang tarifnya selangit itu. Ya, di dinding depan toilet VIP itu memang tertempel pemberitahuan harus memanggil petugas kalau hendak menggunakannya.

Head dan hand shower dengan air panas dan dingin. (Foto: ewe)
Bapak cleaning service itu membukakan untuk saya toilet nomor dua dari deretan kamar toilet VIP yang ada. Menyalakan lampunya, menghidupkan exhaust fan-nya lalu dengan sopan menyilakan saya masuk ke dalam.

Saya menghitung dinding keramiknya dan mendapati ukuran 1,5 x 1,6 meter luasnya. Ada head shower dan hand shower-nya, ada pula tissuenya. WC duduknya pun bersih tanpa kerak. Setelah menutup pintu dari dalam, saya menarik nafas agak dalam dan tak mendapati bau pesing tersisa masuk ke lubang hidung saya, walau sayangnya tak pula terdapat pewangi ruangannya.

Bersih, tidak pesing  tapi juga tidak wangi. (Foto: ewe)
Dengan ventilasi memadai ditambah exhaust fan yang menyala, menjadikan saya tak kegerahan di dalam walau cuaca di luar begitu teriknya. Dengan cuaca seterik di luar itu, tentu air hangat kurang berguna, karena mandi pakai shower dengan air dingin tentu lebih mak-nyus segarnya. Oh, tidak, saya tidak mandi. Saya hanya pipis saja.

Betul, kalau masuk menggunakan toilet VIP itu sekadar untuk buang air kecil semata, tentu sama dengan buang-buang uang saja. Sepuluh ribu rupiah, bos. Uang segitu sudah bisa untuk beli BBM jenis Pertamax satu liter lebih, atau dapat empat bungkus jajan cenil atau klepon di bunderan Gempol sana sebagai buah tangan bagi anak-anak di rumah.****




Kamis, 24 Maret 2016

Selamat Tinggal TV Digital

TENGOKLAH bilah samping kiri blog ini; posting yang nangkring teratas sebagai yang sering dibaca adalah mengenai tv digital. Beratus-ratus komentar mampir di salah satu artikel saya tentang pengganti sistem analog dalam dunia pertelevisian itu. Tandanya, masih banyak yang berminat menikmati siaran tv digital terrestrial yang sayangnya sampai kini progress-nya hanya begitu-begitu saja. Ya, bisa jadi saya salah. Bisa jadi regulasi yang lebh matang telah siap dieksekusi untuk diterapkan di lapangan, dan sebagai pemirsa kita akan sangat dimanjakan dengan gambar-suara bening plus konten siaran yang banyak sekali dengan genre dan segmentasi beragam.

Memanfaatkan dish kecil ex pay tv.
Jujur, sejak asyik belajar tracking pakai antena parabola, saya sudah agak lama tidak melihat konten siaran pada kanal digital terrestrial, sehingga kalau ditanya ada berapa channel yang sekarang on air di Surabaya ini, saya hanya bisa angkat bahu; tidak tahu.

Tentang tv digital, boleh jadi kita yang tinggal di kota ini sudah ketinggalan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman. Sementara kita yang di kota masih mengharap digital terrestrial (sitem penyiaran yang dipancarkan lewat antena pemancar) mereka sudah menangkap dengan kualitas HD siaran dari banyak satelit, tidak cuma siaran yang terpancar dari satelit Palapa dan Telkom saja. (Eit, eit, jangan bicara yang pay tv ya, saya sedang bicara tentang yang FTA saja, walau –dengan reciever tertentu yang bisa dipakai fly-- saudara kita di pedalaman sudah bisa menembus ke konten premium yang masuk dalam jajaran channel pay tv).

Salah satu, dari sekian banyak channel, yang Coming Soon.
Kecuali parabola milik pay tv, bukankah yang untuk FTA ukurannya sebesar gajah dan makan tempat. Padahal rumah kita di kota kurang ada tersedia tempat untuk menaruh dish yang minimal berdiameter 1,6 meter itu. Kendala inilah yang sepertinya dibidik Ninmedia, sebuah perusahaan yang menghimpun pemilik konten siaran untuk menayangkannya lewat satelit secara gratis (FTA-- Free to Air) dengan menggunakan parabola kecil type offset seperti yang lazim digunakan pay tv.

Ya, kita masih sedang membicarakan satelit Chinasat11 yang kini hangat diperbincangkan, yang konon nanti berisi lebih dari 200 (baca: duaratus!) konten siaran dan itu gratis selamanya. Dengan jangkauan (beam) seluruh Indonesia, ia manjadi momok bagi program tv digital yang kita ungkap di awal tulisan ini.
Gambarannya begini; demi bisa bersiaran di kanal digital terrestrial, sebuah lembaga penyiaran yang tidak memenangi pengadaan MUX, harus menyewa kepada si pemenang dengan harga sekian puluh juta rupiah sebulan untuk jangkauan satu kota tertentu. Katakanlah ia akan bersiaran di lima kota, kalikan saja biaya sewa MUX itu dengan nominal tersebut. Sementara, dengan menyewa slot siaran di satelit Chinasat11, ambil contoh, penyelenggara siaran cuma membayar konon hanya 150 juta rupiah sebulan dengan jangkauan seluruh Indonesia. Simpel mana, coba. Dan murah mana? Tentu murah sewa slot satelit Chinasat11 bukan?

Kini, yang sudah aktif baru 1 transponder (dari lima yang haknya dipegang Ninmedia) dan masing-masing transponder akan berisi 45 slot siaran. Beberapa stasiun televisi lokal/nasional yang telah mengudara di situ (MetroTV, tvOne, antv, Net, BeritaSatu, KompasTV, TransTV, Trans|7, RajawaliTV, Prambors, PopularTV, Saluran Film Indonesia, SportOne dll –kalau MNC grup juga sudah berada disitu, lengkap sudah channel Palapa-Telkom di Chiansat11), dan saluran lain masih dalam tahap Coming Soon.

SportOne, saudara antv dan tvOne,
sudah mengudara di Chinasat11.
Ambil misal SportOne, banyak orang menunggu stasiun televisi khusus olahraga pertama di Indonesia itu menngudara via MUX Viva bersama antv dan tvOne (karena memang satu grup), tapi justru kini ia telah mengudara secara nasional lewat Chinasat11. Bagaimana, apa masih terlalu berharap pada kanal digital terrestrial?

Memang STB (Set Top Box) alias reciever untuk satelit harganya malah lebih murah dari DVB-T2, tetapi kan harus ganti antena. Come on, Anda bisa pakai antena pay tv jenis Ku band yang nganggur di atas itu yang sudah lama tak berfungsi karena Anda telah berhenti melanggani sebuah pay tv tertentu. Atau, kalau tidak ada, carilah ke pengepul barang rongsokan, niscaya –kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkannya dengan harga yang sama sekali tak akan menguras isi kantong.

Lalu kalau Anda punya waktu, tracking-lah ke posisi 98.0ยบ E, masukkan frekuensi 12500 V 43200, dapat deh konten-konten yang saya sebut di atas. Atau, kalau belum-belum sudah merasa ribet dan tak punya waktu dan skill, panggillah teknisi untuk keperluan itu. Itu kalau Anda tak punya waktu tetapi punya uang. Hehe...

Kemudian, kalau sudah kita dapatkan konten siaran yang buanyak sekali di Chinasat11 itu, mari bersama berujar, “Selamat tinggal tv digital terrestrial...” *****


Jumat, 18 Maret 2016

Yayasan Nurul Hayat, Hebat!


MENDAPAT giliran ketempatan pengajian rutin, walau dalam klausul, shohibul bait tak perlu terlalu repot menyediakan ini-itu dan cukup air putih saja, tetapi ya repot juga. Tamu adalah raja yang harus dihormati. Air putih tentu baik dan akan lebih baik lagi bila ada temannya. Ya gorenganlah, kacanglah atau yang semacamnya. Ia menjadi teman ngobrol setelah yasinan selesai.

Tetapi istri saya punya usul lain, “Bagaimana kalau kita beraqiqoh sekalian?” sebuah ide yang langsung saya setujui.

Menurut saya, ia menjadi praktis karena kami tak perlu mengundang ratusan orang secara satu per satu, karena ratusan anggota pengajian akan datang sendiri sesuai pengemumun di acara rutinan sebelumnya. Tentu, kami juga mengundang tetangga kanan-kiri yang kebetulan tidak ikut sebagai anggota pengajian. Lalu bagaimana kami mengolah daging kambing aqiqoh? Memasak sendiri (dengan bantuan tetangga tentu saja) atau memesan aqiqoh siap saji ke jasa yang melayani keperluan itu. Tetapi yang mana? Kan banyak sekali yang mengiklankan jasanya dengan menempelkan pamflet di pinggir-pinggir jalan?

Seorang tetangga berbaik hati memberi kami saran untuk memakai sebuah jasa layanan aqiqoh, “tetapi pesannya lebih baik agak dekat dengan hari H, karena kalau terlalu lama, akan ada tambahan biaya memelihara kambing aqiqohnya,” ia menerangkan.
Sebuah keterangan yang lalu kami simpulkan kami kurang tertarik memakai jasa layanan itu. Saya sih sebenarnya sudah punya gambaran. Seperti kalau air mineral ya Aqua, atau kalau pompa air ya Sanyo, kalau aqiqoh ya Nurul Hayat.