1 September 2015

Kutit yang nDesit

MAKIN hari, kalau diperhatikan, makin banyak saja orang wayuh,
berpoligami. Dan, sejauh ini, belum pernah keluar fatwa dari produsen
fatwa tentang hukumnya. Padahal ini, menurut Kang Karib, sungguh amat
gawat. Urgent sekali.

"Urgan, urgent," Mas Bendo ujug-ujug methungul, muncul. "Sebahaya dan
segenting apa sih, Kang?"

"Kalau masih ada yang menganggap bahwa hubungan itu selalu harus ada
kesetiaan," petuah Kang Karib, "niscaya, perselingkuhan, dengan apa pun
itu, adalah kejahatan terhadap cinta."

"Wik, seserius itu to, Kang?"

Lalu Kang Karib membeber argumen: dengan orang (bisa istri, bisa
suami) lebih punya waktu terhadap gadget-nya masing-masing, berapa
coba, waktu yang terbuang, yang kalaulah orang tak lebih mesra dengan
smartphone-nya, akan bisa lebih bermesraan dengan anak-istri (suami)
masing-masing.

"Zaman sudah berubah, Kang," tangkis Mas Bendo. "dan tak mungkinlah orang mau bergaya hidup seperti zaman dulu. Atau Sampeyan sedang mengingkari kelaziman?"

"Aku sedang gundah saja, nDo."

"Oleh?"

"Ya oleh lebih senangnya orang bersilaturahim dengan gadget-nya daripada dengan sesama manusia."

"Lho, bukankah yang sedang 'ditemui' orang-orang lewat gadget-nya itu adalah juga manusia?"

"Bisa semutukah pertemuan itu bila dibandingkan perjumpaan face to  face yang sesungguhnya?"

"Secara waktu tidak nutut, Kang" sanggah Mas Bendo. "Lha kalau lewat teknologi kan bila langsung sekala, dengan berapa pun tujuannya. Sampeyan saja yang ndesit, yang tetap setia dengan handphone jadul. Yang cuma bisa SMS dan telepon. Sekali-kali cobalah pakai ponsel pintar. Pasti nanti Sampeyan akan ketagihan."

"Nah, itu dia: ketagihan," mata Kang Karib berbinar. "Satu hal yang sebisa mungkin kuhindari. Atas dasar ketagihan, yang sebenarnya tak penting pun akan dianggap penting. Sehingga bila semenit saja tak membuka layar smartphone, khawatirnya seperti kiamat segera datang. Bangun tidur yang pertama dilihat gadget-nya, seperti sebelum tidur pun gadget adalah yang terakhir dicumbuinya. Dan akan nampak bagiamana ya bila suasana di dalam rumah; anak, ayah, ibu (bahkan pembantu) lebih asyik masyuk dengan gadget-nya di sepanjang waktu. Ber-wkwk dengan entah siapa di seberang sana, sambil mengirim senyum emoticon atau smeeley, namun saling dingin dan tidak bersuara dengan orang nyata di depan dan sebelahnya. Yang demikian itu, bukankah tak berlebihan bila dibilang mereka telah wayuh; yang Ibu melakulan poliandri, yang Ayah poligami mengawini gadget sebagai suami atau istri kedua."

Sebenarnya Kang Karib itu sudah hidup di zaman sekarang, di kota lagi. Kok otaknya masih ndesit ya?

"Jangan remehkan orang ndesit, nDo" celetuk Kang Karib lagi. "Orang tua-tua di desa, yang sebagian masih menganggapnya sebagai ketinggalan itu, yang pasrah saja hidupnya monoton, begitu-begitu saja itu, apa kamu pikir mereka tak bahagia. Justru, bisa jadi mereka itu, yang hidup sederhana itu, kebahagiaannya juga adalah hal-hal sederhana. Dibanding kamu yang selalu nggrangsang kepada apa pun yang bersifat duniawi, sehingga kebahagiaanmu juga muluk sekali."

"Hidup kan juga pilihan, Kang" tangkis Mas Bendo.

"Betul," timpal Kang Karib. "Dan aku ingin berbahagia secara sederhana saja, nDo." (bersambung)



22 Agustus 2015

Gambar Anak-Anak

SAYA pernah membaca sebuah esai yang ditulis Kang Prie GS di Suara Merdeka pada Juli 2009. Tulisan dengan gaya renyah yang khas itu membahas tentang lomba menggambar untuk anak-anak dengan Prie GS sebagai ketua panitianya.

Kemarin, saya pun setengah hari berurusan dengan lomba serupa, bedanya adalah saya bukan sebagai panitia dan hanya ketiban getah sebagai pengantar saja. Getah? Oh, tunggu dulu. Apakah megantar si kecil yang masih TK untuk mengikuti lomba 'remeh' ini adalah kurang mbois dilakukan oleh seorang Ayah yang sampai membolos dari kerja?

Awalnya, karena saya bekerja dan istri juga bekerja, sementara si kecil juga tak mau diantar oleh Bu Sum, pengasuhnya, maka kami berikan hak prerogatif kepadanya untuk memilih, “Diantar Ibuk atau Ayah?”

Ayah,” dengan gemas ia berkata.

Ya, sudah. Jadilah saya menjadi pengantarnya.

Pagi itu, sesuai yang dicantumkan dalam pemberitahuan, kami langsung menuju lokasi lomba tanpa terlebih dulu mampir ke sekolah. Lokasi itu adalah sebuah restoran fast food baru yang belum lama buka di daerah kami. Kalaulah mau, bisa saja saya memunculkan dugaan lomba itu adalah 'konspirasi' antara pihak TK dan pengelola restoran dalam rangka mempromosikan diri. Dan untuk itu pastilah ada semacam fee.

Jam setengah sembilan sesuai yang tertera di undangan, puluhan anak TK teman anak saya sudah memenuhi ruangan, dan sebanyak itu pulalah jumlah pengantarnya dengan hanya tiga orang diantaranya yang laki-laki. Menjadi minoritas diantara mayoritas Ibu-ibu tentu bisa menimbulkan perasaan risi. Tetapi, demi anak, layakkan hal itu dirasakan? Tidak. Lagian, diantara dominasi Ibu-ibu yang sebagian merias wajahnya dengan make up lengkap seperti hendak ke pesta, justru saya dengan mudah bisa menjungkir-balikkan keadaan menjadi orang tertampan di ruang itu dengan saingan yang tak seberapa.

Begitu lomba dimulai, kegaduhan lebih pecah di ruangan yang tak seberapa luas di lantai tiga itu. Anak-anak bersemangat mewarnai gambar yang diberikan panitia, para pengantar tak kalah sibuknya memilihkan warna crayon yang sesuai, sementara di sudut lain ada pengantar yang pontang-panting merayu anaknya yang mogok tak mau mewarnai dan lebih bersemangat mengeraskan suara tangisnya entah oleh sebab apa. Tingkah polah anak dalam menggambar pun tak kalah serunya. Ada yang duduk normal, ada yang meminta tambahan kursi agar bisa tengkurap di atasnya, ada pula yang mewarnai gambar sambil berdiri karena meja dan kursinya memang tidak dirancang untuk postur tubuh anak TK.

Saya pikir, inilah miniatur realita anak-anak negeri ini. Sebagian mereka kehilangan haknya untuk 'menggambar' sesuai kehendak dan imajinasinya sendiri. Dalam taraf sekecil itu, intervensi orang tua begitu kuatnya dengan doktrin; bagian ini harus warna biru, bagian itu harus ungu, misalnya. Ini menjadi sebangun dengan fenomena anak-anak yang nyaris kehilangan lagu anak-anak dan cenderung terpaksa gandrung kepada lagu-lagu yang pantasnya hanya masuk ke telinga orang dewasa.

Belum lama, dalam sebuah ajang pencarian bakat, saya sempat melihat di layar stasiun televisi nasional seorang anak menyanyikan lagu Rekayasa Cinta yang populer lewat suara Calemia Malik dengan goyang dangdut dan lirikan mata genit ala penyanyi dewasa. Celakanya, para penonton di studio, bisa jadi disitu juga ada orang tuanya, malah ikut bergoyang senang. Begitulah, seorang anak telah direkayasa sedemikian rupa jauh mendahului masanya yang makin lama makin terasa lumrah saja di sekitar kita. Dan untuk mengembalikannya ke 'jalur yang benar', tidak cukup hanya dengan mengelus dada. *****

18 Agustus 2015

Bumbung Kosong

 (Dimuat harian Radar Surabaya, edisi Minggu, 16 Agustus 2015)

GESEKAN antar daun bambu yang tertup angin sungguh membuat malam serasa mendesis. Embun turun terlalu dini, membasuh pipi dedaunan. Dingin menggigit setiap tulang, dan Rindang mengusir dingin itu dengan menyulut rokok. Istrinya menganyam tikar mendong di ruang tengah, berteman lampu oblik yang nyalanya meliuk-liuk. Anaknya, namanya Rimba, duabelas tahun, mengaji di surau Mbah Seki. Dan kalau malam Jumat Legi begini, biasanya ia pulang pagi, selepas subuh. Begitulah, sebajingan-bajingannya Rindang, ia ingin Rimba mengerti agama. Agar tidak sebejat ayahnya!

Rindang bajingan?
Oh itu dulu. Sekarang ia tobat. Sejak Pak Gelam, ketua kelompoknya, malam-malam dijemput orang-orang berjaket hitam lalu tak kembali hingga kini. Juga Watam, teman karibnya, yang setelah beberapa hari menghilang, jasadnya yang dimasukkan karung, ditemukan orang desa sebelah mengapung di sungai dekat kuburan.

13 Agustus 2015

B e n d e r a

KETIKA memasuki bulan Agustus begini, dulu –seperti juga dilakukan tetangga kanan-kiri, Ayah memotong bambu sepanjang sekitar delapanpuluh centimeter. Dengan memasang berjarak per satu meter, Ayah memotong sejumlah yang dibutuhkan. Setelah potongan bambu itu tertancap di pinggir jalan (enam puluh centi yang terlihat), langkah selanjutnya adalah mewarnai bambu itu dengan merah-putih. Untuk putih Ayah menggunakan kapur/gamping dan untuk merahnya menggunakan bahan yang sama dengan hanya menambahkan pewarna/pigmen saja. Dengan bahan sesederhana itu, jangan ditanya keawetannya. Prinsipnya, bisa tidak luntur sebulan Agustus saja, sudah baguslah. Kalau mau awet dan lebih bagus, tentu bisa memakai cat bermerek yang berslogan 'mengubah yang biasa menjadi luar biasa'. Tetapi, zaman itu, memenuhi kebutuhan perut sepertinya lebih utama.

Saya tidak tahu, Ayah memasang bambu merah-putih itu sebagai kesadaran sendiri atau atas perintah Pak Lurah melalui perangkatnya. Tetapi, dengan kanan-kiri di sepanjang jalan desa kami berhiaskan bambu merah-putih begitu, ada sesuatu yang lain terasa. Rasa itu sungguh ada di dada, walau agak sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Tak melulu bambu, saat saya kecil itu, bukan hanya kendaraan besar macam bis, truk atau angkutan pedesaan (orang kampung kami menyebutnya 'taksi' untuk mobil berjenis Colt sebagai moda transportasi bertrayek pendek itu), motor dan sepeda angin pun memasang bendera kecil di setir kanannya. Dengan keadaan ekonomi yang berbeda jauh dengan sekarang, orang-orang mau membeli bendera lalu memasangnya di kendaraannya. Sekarang?

Saat berangkat kerja tadi pagi, dengan sekian banyak pedagang bendera di setiap sudut kota, tak satu pun saya temui motor atau sepeda atau kendaraan besar lain memasang bendera kecil itu pada penyangga spion kanannya. Karena demand  tidak ada, bisa jadi para penjual bendera itu tidak menyediakannya. Itu soal bisnis, sementara memasang bendera pada kendaraan bisa jadi sebagai soal nasionalis. Demi kepentingan nasionalis (dengan memesan bendera kecil untuk dipasang di kendaraan) niscaya penjual bendera akan dengan senang hati memenuhinya. Secara nominal, tak usahnya membandingkannya harga bendera kecil itu dengan sebungkus rokok, misalnya.

Perkara nasionalisme tak harus dikoarkan, yang penting diwujudkan. Masalahnya adalah, jika ada yang berkoar tidak dan mewujudkannya pun tidak itu termasuk makhluk apa. Sebagai yang ikut merasakan susahnya hidup dalam cengkeraman penjajah, dan ikut pula berjuang demi kemerdekaan, tentu para orang tua kita mempunyai alasan lain untuk mencintai negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang sampai ada yang menyebutkan sebagai cuilan sorga ini. Lha saya, sebagai generasi magak --yang jangankan mengangkat senjata, mengangkat cangkul untuk kerja bakti saja cekidang-cekiding  karena jijik membersihkan sampah di selokan padahal itu hasil buangan saya sendiri--, alasan apa yang harus dikedepankan untuk mencintai merah-putih. Sementara para petinggi negeri, yang harusnya memberi teladan, bisa jadi di dadanya ada warna lain yang lebih dominan. Bukan sang saka, tetapi warna biru, merah, kuning, hijau atau warna lain sesuai warna simbol parpol. Atau bukan; tak satu pun warna itu yang selalu berkibar di jiwanya. Namun lambaian rupiah yang senantiasa menjadi pemandu pikiran dan langkah kemana akan terarah. Juga termasuk kitakah itu?

Setelah membuat kalimat terakhir di atas barusan, saya kembali meng-klik file lagu di komputer. Saya memilih Cokelat. Entah mengapa, dari pertama muncul –saat vokalisnya masih Kikan dulu, saya langsung jatuh cinta pada lagu ciptaan Eross Candra ini;

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi s'lalu ku coba 'tuk mengharumkanmu
biar saja ku tak seelok langit sore
tapi s'lalu ku coba 'tuk mengindahkanmu

merah-putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi
di Indonesiaku ini.... *****



12 Agustus 2015

Pitutur dari Suriname

JANGAN malu mengaku sebagai orang Jawa. Orang Jawa harus bangga dengan
identitas yang luhur budi pekerti seperti yang diwariskan nenek
moyang.

-Paul Salam Sumohardjo, sesepuh masyarakat Jawa di Suriname.

30 Juli 2015

Jula-juli Suroboyo: Toleransi

negoro Indonesia negoro besar
ribuan pulau tersebar menghampar
ayo iki dijogo ojok sampek ambyar
berpegang teguh Pancasila sebagai dasar

agama nang kene pancen akeh maceme
onok Hindu, Khonghuchu lan Katolik'e
onok Kristen, Budha lan Islam sing paling gedhe
kaben rukun mergo dhuwur toleransine

akeh sing krungu kejadian nang Tolikara
peristiwa kelam pas waktu Hari Raya
tapi kito ojok gampang diadu-domba
serahno wae marang penegak hukum negara

konflik antar pemeluk agama pancen sensitif
opo maneh lek onok pihak sing provokatif
kedadean cilik isok dikompori ben dadi masif
kondisi aman-tentram rusak malah dadi gak kondusif

ojok kabeh berita ditrimo tanpo digagas
saiki akeh berita sing sumbere ora jelas
berita plintiran sing di-share lan di-copas
yo ngono iku sing nggarai suasana dadi panas

media sosial pancen pengaruhe gedhe
kabeh uwong isok ngomong ngono-ngene
tapi kudune ora angger njeplak wae
karepe ben ketok pinter malah pamer dhedhele

urip rukun sing ora seneng iku sopo
senajan kita agamane bedo-bedo
bangsa lan bahasane biso ugo ora podho
tapi nasionalisme mengakar ing njero dhodho

(raup santen glali asale gulo
panen gabah bluluk dipangan doro
cukup semanten jula-juli kulo
yen onok salah, njaluk sepuuurooo....) *****





26 Juli 2015

Makan Murah di Warung Merah

DALAM perjalanan jauh, agenda mengisi perut termasuk hal yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Lebih-lebih bagi yang lambungnya gampang melilit. Iya sih, di dalam bis biasanya ada penjual nasi bungkusan. Baiklah, kalau seporsi hanya nyelempit di sudut perut, Anda bisa beli dua atau tiga bungkus sekalian. Sayangnya, penjual nasi ini tidak selalu ada di sepanjang perjalanan. Yang sering ada, pengasongnya justru di terminal-terminal saat bis transit dengan waktu yang tak terlalu lama.

Saya ingat kala dulu bersama mendiang mertua melakukan perjalanan Lamongan-Jember. Agar tak terlalu repot oleh urusan perut itu, mertua saya membungkus nasi lengkap dengan lauknya memakai daun pisang. Ritual ini, saya kira, lazim dilakukan oleh orang tua siapapun dengan dalih, "Daripada beli di jalan". Bahkan, untuk minum, mertua membawa sendiri air rebusan dari rumah dengan botol Aqua sebagai wadah.

Bisa jadi, anak dan cucu --serta saya sebagai menantu-- sedikit malu akan hal itu. Tetapi, harus diakui; senyampang segala sesuatu bisa disiasati yang itu dapat menghemat pengeluaran dan tidak terlalu ngrepoti, kenapa tidak?

Naik kendaraan sendiri tentu bisa lebih bebas. Mau bawa bekal dari rumah (untuk kemudian dimakan dipinggir jalan ramai-rama serombongan, seperti sering saya temui bahkan di keteduhan pohon di pinggir jalan tol), atau mampir ke depot yang ada di pinggir-pinggir jalan macam Depot Rawon Nguling yang sering bikin macet itu.

"Untuk agar tidak di-entol," nasihat seorang kawan, "kalau makan di jalan, carilah warung nasi Padang. Dimanapun, harganya standar, tidak terlalu mahal."

Bisa jadi ia benar.
Saya pernah mengalami saat bareng si sulung, Edwin, balik dari Jember ke Surabaya naik R-2. Dengan berkendara dan tidak sedang naik angkutan umum begitu, saya bisa berhenti dan makan di warung mana saja yang saya mau. Kekeliruan saya adalah; saya menduga kalau bentuk fisik warungnya itu sederhana dengan dinding gedhek/anyaman bambu dan di depannya terparkir banyak truk, "Warung tempat makan para sopir tentulah tidak mencekik secara harga" pikir saya.

Ketika si Edwin memesan lalapan penyet ayam, saya pun mengikutinya. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, saya amati kondisi warung yang terletak di pinggir jalan Pasuruan ini; toples-toples yang kosong, juga botol-botol Sprite/Fanta yang juga melompong. Hanya ada dua piring pisang goreng di meja sebagai dagangan. Dengan tulisan menu mulai soto, jangan asem, lodeh, penyet ayam sampai pecel terpampang jelas di pinggir jalan, saya mulai menyangsikannya sebagai kenyataan. Ya, cuma semacam PHP lah sepertinya.

Lama sekali pesanan kami terhidang membuat saya berbisik kepada Edwin, "Tenang, ayamnya masih dikejar untuk dipotong dan nasinya masih berupa beras dan sedang akan ditanakkan."

Lebih duapuluh menit menunggu akhirnya makanan siap juga. Tapi tunggu dulu, benar sih ada ayam goreng dan sambal, tetapi mana lalapannya? Tiada mentimun, tiada kacang panjang, tiada pula daun kemanginya. Rasa lapar membuat kami memakan yang ada saja walau merasa kurang lengkap. Agak kecewa sih iya, tetapi agak kecewa itu meningkat tarafnya menjadi sungguh kecewa manakala kami selesi makan dan bertanya, "Berapa?" untuk dua piring nasi dan dua gelas es teh. Tadinya kami hendak memakai kerupuk sebagai pelengkap tetapi karena tak ada, tentu pisang goreng akan menjadi aneh dipakai pelengkap makan 'lalap'.

"Empat puluh ribu," kata si ibu warung.

Mendengar itu saya yang masih kepedesan makin pedes saja rasanya.
Berdasar pengalanan tadi, saat mudik kemarin, agar tidak kena petegik lagi, saya memilih andok makan di warung yang selain memajang menunya, melengkapi pula dengan harganya. Ini penting, lebih-lebih bagi orang yang hanya punya sangu cumpen, berdompet tipis.
Meja kursi dicat warna merah sebagai ciri Warung Merah,
tetapi yang penting harganya terbilang relatif murah.

Di terminal Bayuanga Probolinggo, ada banyak depot berjejer. Menunya pun beragam sesuai keinginan, tetapi yang memajang harga hanya sedikit saja. Dari yang sedikit itu, Warung Merah salah satunya. Menu yang tersedia? Mulai soto, bakso, lodeh, kare, jangan bening, sop sampai lalapan pun ada. Minumnya mulai susu soda, kopi, teh, es jeruk dan lain sebagainya. Kesitulah kami menuju dengan kalkulasi tak mengkinlah 'terperosok' lagi.

Benar juga, untuk semua yang kami makan, total jenderal saya cuma harus membayar empat puluh ribu saja, dengan perincian; dua piring nasi lalapan ayam 11 ribu per porsi, sepiring soto kesukaan si kecil sembilan ribu saja dan es teh tiga ribu per gelasnya. Murah bukan? *****

25 Juli 2015

Puasa Berita

LAMAT-LAMAT Kang Karib ingat jaman ketika televisi cuma satu saluran. Pada jam sembilan malam, muncullah program Dunia Dalam Berita. Dan pada segmen terakhir ini Sazli Rais dengan suaranya yang khas dan ngebas muncul membawakan Ramalan Cuaca. Sebuah acara yang sama sekali tak menarik perhatian orang sekampungnya Kang Karib. Karena, untuk menggelar hajatan, mantu misalnya, orang tak pernah berdasar ramalan cuaca, namun lebih bersandar kepada petunjuk Mbah Selar. Orang yang diyakini mempunyai kemampuan linuwih, salah satunya memindah turunnya hujan. Sayangnya, jaman itu informasi menyebar tidak sedahsyat sekarang. Sehingga kesaktian Mbah Selar menjalar hanya melalui tutur berantai dari mulut ke mulut saja.

Bandingkan, coba, dengan jaman sekarang!
Jaman ketika sekecil apapun berita, ia bisa langsung diketahui orang sedunia (maya). Ambil misal; kalau di pelosok Trenggalek ada orang yang menemukan sebongkah batu yang telah dibentuk sebagai akik, yang ketika batu itu disinari lampu akan tampak bentuk kutang di dalamnya (yang kalau diamati BH itu serupa milik artis ternama), unggahlah ke medsos, niscaya ia akan kondang dalam sekejap. Padahal, ketika inforrnasi menjadi sesuatu yang
nggegirisi, haus akan ia, sementara yang digelonggongkan untuk menghapus dahaga adalah sampah, duh betapa akan membuat kembung belaka.

Makanya Mas Bendo ingin puasa. Bukan tak makan minum seperti lazimnya, namun ia nawaitu tak akan mengkonsumsi berita dari manapun dan dari siapapun. Ia tak ingin mendengar Tolikara yang oleh media (online utamanya) dijadikan dagangan; bukan untuk memadamkan, tetapi agar lebih berkobar. Tak pula ia ingin mendengar tokoh dan awam bicara ini-itu tentang, misalnya, Islam Nusantara padahal (bisa jadi lho ya) ia tak pernah konfirmasi kepada para kyai yang menggagas istilah itu tentang apa makna istilah yang dijadikan tema Muktamar NU ke 33 di Jombang 1-5 Agustus ini.

Kalau tidak makan berita tidak apa-apa,” dalih Mas Bendo, “lalu untuk apa aku harus mengkonsumsi berita?”

Tahu berita itu penting,” sok bijak Kang Karib menjawab, “lebih penting lagi kita harus bisa menyaring; ini berita atau hanya sekadar sampah”

Lha kalau untuk menikmati berita saja aku repot harus menyaring dulu, ya buang-buang waktu, Kang. Mending puasa berita sekalian.”

“Lho, jangan salah, nDo. Isi kitab suci itu, antara lain, juga adalah 'berita'. Lalu, apa
njur kamu juga berhenti nderes dan ngaji? Lak ndak to?”

Lalu Kang Karib bicara bahwa berita itu ibaratnya gabah. Segoblok apapun –kecuali ayam-- orang tak akan langsung makan gabah. Ia harus digiling atau ditumbuk dulu agar jadi beras. Sudah menjadi beras pun masih diinteri dulu, dibuang las dan kerikilnya. Sebelum dimasak, dicuci dan dibilas berkali-kali dulu sampai bersih baru ditanak hingga matang. Karena kalau setengah matang sudah dimakan, bukannya kenyang, perut malah akan mbesesek, begah.

Berita yang disebarkan oleh media yang tidak jelas, yang dikelola oleh entah siapa dengan tujuan apa, kalau kita terima begitu saja, sama saja kita bukan makan nasi, tetapi nguntal gabah,” wejang Kang Karib. *****


24 Juli 2015

Mudik, Sebuah Catatan Kecil

"SETIAP Lebaran 'orang kota' pada mengaku berasal dari udik sehingga pada mudik," tulis seorang teman lewat akun FBnya. "sesampainya di kampung, 'orang udik' itu malah petita-petiti bergaya sebagai orang kota," lanjutnya.

Sudahlah, itu hal lain. Yang, bisa jadi, saya juga melakukan walau tanpa sadar. Sekarang saya berniat membuat catatan kecil tentang mudik. Dan sebagai orang kecil, tentu catatan ini saya bikin sendiri, karena kalau orang besar yang mudik, pasti ada media yang dengan senang hati menuliskannya. :)

Karena tiga hari pertama lebaran masih harus menjalankan tugas kenegaraan (lebay, ini memang saya lebay-kan...), maka saya baru sempat mudik hari ini. Dan karena (sekali lagi: karena) asap gunung Raung mengganggu penerbangan sehingga bandara di Banyuwangi dan Jember termasuk yang juga ditutup, terpaksa saya menggunakan angkutan darat. (padahal biasanya ya memang naik bis).

Saya take off dari Purabaya persis jam enam pagi naik bis Borobudur yang karena saya langsung naik menjadikan nopol tak sempat saya catat. Yang tercatat malah waktu tempuh Purabaya-Bayuangga yang gak jelek-jelek amat. Durasi yang biasanya rata-rata dua jam, Borobudur 'mabur' dengan capaian waktu 105 menit saja.

Namun, entah sebagai konsekuensi atau terkena tueslag, tarifnya pun dinaikkan sampai setinggi stupa. Yang normalnya 16 ribu atau 20 ribu per pantat, menjadi 25 ribu. Yo wislah, saya yang berangkat berempat, harus membayar 75 ribu, karena si bungsu (demi penghematan) masih cukup dipangku saja.

Tak ada kejutan berarti bersama Borobudur selain hal di atas.

Garis start di terminal Bayuangga, Probolinggo.
Transit sebentar di Bayuangga hanya untuk ke toilet. Pada saat buang air itu, bis Pari Kesit trayek Probolingo-Jember via Kencong berangkat. Dan saya sama sekali tak mengejarnya karena si sulung masih terjebak antrian panjang di pintu toilet. Lagian, walau namanya Pari Kesit, jalannya tak bakalan kesit sebagaimana umumnya bis yang via Kencong lainnya.

19 Juli 2015

Lebaran tanpa Khong Guan

SUDAH menjadi tradisi, selama ramadhan, di kiri-kanan sepanjang jalan Kalirungkut, Surabaya, menjamur lapak penjual kue dan aneka sirup. Variasi pilihan lumayan lengkap, dan (konon) harga yang dipatok pun lebih ramah di kantong.

Sebagaimana mal atau pasar, lapak-lapak itu makin ramai sesaat setelah cairnya THR (maklum, Rungkut adalah kawasan industri --yang tentu penghuninya banyak sekali kaum buruhnya), saat mana di masjid atau surau jamaah tarawih justru sedang mulai berkurang. Lokasi lapak kebutuhan kue lebaran itu tak seberapa jauh dari pabrik PT Jacobis, produsen merek-merek biskuit kondang. Salah satu varian produknya mungkin malam ini mulai Anda tata di meja depan.

Kalau istri Anda adalah penghobi diskon, istri saya pun demikian. Hari-hari kemarin tak membeli Khong Guan, malam ini mengajak diantar ke lapak-lapak itu demi tujuan mendapatkan harga lebih miring lagi. Prediksinya; malam ini malam terakhir, dan lapak-lapak insidentil itu esok hari sudah tidak jualan. Dengan kata lain, malam ini malam cuci gudang.

Berbelanja di masa injury time begini ternyata mengandung risiko juga. Dari semua lapak yang ada, tak satu kaleng pun Khong Guan tersisa. Adanya cuma Hock Guan, satu merek yang, sayangnya, kurang diminati istri saya --karena dari namanya saja sudah mengesankan sebagai Khong Guan KW kesekian.

Gagal mendapatkannya di lapak pinggir jalan, sasaran perburuan berikutnya adalah beberapa minimarket di sepanjang Kalirungkut. Hasilnya? Setali tiga uang.

Ya wislah.
Sebagaimana tak pakai baju baru tak apa-apa karena masih ada baju yang lama, lebaran tanpa Khong Guan pun tak apa-apa karena masih ada kue lainnya. Kalau terpaksa, tak ada kue pun tak apa-apa. Di idul fitri, ada yang lebih layak diberikan dan diterima; maaf. Maka, di hari istimewa ini, kalau saya meminta maaf, saya pun menerima permintaaan maaf Sampeyan. Sekarang, skor kita kosong-kosong ya....*****

11 Juli 2015

Kita dan Pikiran Kita

MEREKA yang berpikiran hebat akan membicarakan ide-ide. Mereka yang
berpikiraan sedang akan membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang
berpikiran sempit akan membicarakan orang lain.

(Eleanor Roosevelt)

10 Juli 2015

PPDB Surabaya: Serem...

PPDB Surabaya, sereemmm....”
“Masa sih?”
“Iya, Om.”
“Berdoa aja.”
“Masuk negeri sudah gak ada harapan.”
“Masih ada harapan.”
“?!”
“Iya, di terminal: banyak Bis Harapan Jaya...”


BEGITULAH yang sempat saya intip di dinding Facebook seorang pelajar lulusan SMP yang sedang ketir-ketir memelototi website penerimaan peserta didik baru, dan dia mengincar sekolah lanjutan negeri. Boleh SMA, boleh SMK. Dan selalu, kegalauan yang kadarnya sunguh-sungguh, ada saja yang mengomentari secara bercanda di socmed.

PPDB yang online ini, sungguh adalah biang dari (tidak hanya calon siswa) dag-dig-dugnya orang tua. Lebih-lebih yang hanya punya amunisi nilai pas-pasan. Salah dalam membidik sekolah tujuan, bisa jadi malah tersingkir dan harus sekolah di luar negeri (baca: swasta).

Bagi orang kebanyakan, sekolah swasta dianggap agak menakutkan. Biaya besar adalah alasannya. Walau, secara prestasi, tidak sedikit
kok sekolah swasta yang jempolan. Tentu bagi yang dompetnya tebal itu bukanlah masalah, dan justru sedari awal sama sekali sudah tak mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri.

Hari ini PPDB sudah ditutup dan keributan masih terjadi. Yang tidak diterima di sekolah negeri ribut mencari sekolah swasta, yang diterima di negeri (dan swasta) sibuk melengkapi ini-itu dalam daftar ulang. Iya, datang ke sekolah –dalam tahap ini-- tidak melulu datang, menyerahkan berkas, lalu selesai dan pulang. Enteng sekali kalau begitu. Tidak ada makan siang yang gratis, Bung. Apalagi sekolah. Dan daftar ulang itu, berarti pula daftar uang.

Padahal hari-hari ini adalah hari menjelang lebaran. Dimana kebutuhan untuk dipenuhi ada panjang sekali daftarnya. Baju untuk anak-anak (karena untuk ibu-bapak item ini layak bisa dinomorsekiankan), beli kue untuk tamu yang berkunjung di hari raya nanti, biaya mudik-balik ke kampung halaman. Dan deretan senarai ini bisa panjang sekali manakala ganti korden, ganti furniture sampai cat ulang dinding yang sejatinya belum kusam dimasukkan.

Sekali lagi, bagi yang sudah menyiapkan anggaran untuk aneka aneka kebutuhan itu tentu bisa lebih nyantai. Lha, bagi orang yang ekonominya pas-pan tentu hal ini adalah beban. Dan, Anda tahu, selalu ada jalan untuk meringankan beban: hobi. Bagi sebagian orang, burung peliharaan di kala pikiran suntuk, kicaunya bisa meringankan. Begitu juga fenomena batu akik belakangan ini.

Siapa tahu, sambil menyusun strategi menyelesaikan masalah, duduk santai di teras rumah sembari menggosok batu akik kesayangan, tiba-tiba asap tipis mengepul dari batu itu. Sesosok jin muncul dan berkata, “Silakan Tuan ajukan tiga permintaan, niscaya akan saya kabulkan....” *****

5 Juli 2015

Bukber Keluarga Besar Puri Matahari

Pak Bambang Sunarso memberi sambutan.
BERTEMPAT di Tenis Court Puri Matahari Apartment, Jumat sore (3 Juli 2015) kemarin digelar acara buka puasa bersama (Bukber). Acara diikuti karyawan dari berbagai departemen yang ada, dengan yang ketiban sampur sebagai tim panitia tahun ini adalah departemen Security, House Keeping dan Engineering.

"Terserah mau dikonsep seperti apa, yang penting acara ini bisa terlaksana dengan apik dan bermakna," begitu pesan Bu Marina (HRD) memberi keleluasaan kepada panitia.

Di antara waktu aktifitas kerja, panitia mencuri waktu demi menyusun rangkaian acara. Tak banyak berubah sih dibanding penyelanggaraan tahun-tahun yang lalu. Betul, acara buka bersama di Puri Matahari memang sudah merupakan kegiatan rutin setiap bulan ramadhan tiba.

Sambil menunggu acara utama,
ada kuis kecil-kecilan dengan
hadiah yang juga kecil-kecilan.
Dengan mengangkat tema yang berbeda-beda di tiap tahunnya, diharapkan acara ini tidak semata sebagai momen makan buka puasa bersama semata. Dengan tausiah ustad, acara ini paling tidak bisa menjadi sarana 'pembekalan' yang pada pokoknya, bisa menambah spirit karyawan dalam beribadah, sekaligus juga dalam bekerja.
Bergaya setelah berbuka.

"Ramadhan senantiasa diikuti meningkatnya kuantitas ibadah," papar Bambang Sunarso (Manager Property) yang mewakili managemen memberikan kata sambutan. "Dan kuantitas ibadah itu sudah seyogyanya dibarengi dengan kualitas spiritualitas."
Pemandangan setelah adzan
maghrib berkumandang.

Ceramah agama disampaikan oleh ustad Farid dari Krian, Sidoarjo dengan mengangkat tema Etos Kerja dalam Bulan Ramadhan. Lebih kurang satu jam ustad Farid memberikan tausiah yang disimak hadirin dengan antusias. Dan tepat jam 17.25 adzan magrib berkumandang; saat tiba waktunya kami berbuka puasa. *****

Foto-foto: Nanin Indah.

4 Juli 2015

Stop Beli Set Top Box

"YAELAH, bukannya bertambah, siaran digital malah berkurang. MUX
TransCorp sekarang ikutan menghilang. Praktis, kini yang tersisa cuma
MetroTV, BBSTV dan channel-channel TVRI..." begitu gerutu seorang
kawan Facebook di grup siaran televisi digital zona 7 Jawa Timur.

ClingSinyal MUX TransCorp tadinya termasuk yang kuat.
Sekarang ia cling; bukan berarti bening, tapi hilang.
Membaca itu, saya belum cek langsung di layar kaca, tetapi saya
langsung percaya. Dengan payung hukum yang (konon) belum jelas,
terlalu berharap siaran tv digital maju dengan derap pasti sungguh
laksana pungguk merindukan bulan. Betul, di awal program ini
dicanangkan, tahun 2018 dipatok sebagai batas akhir siaran analog
mengudara. Namun dengan realita di lapangan yang seperti ini, bisa
jadi tahun 2018 akan terlewatkan begitu saja dengan siaran analog
masih lantang merapal mantera: sekali mengudara tetap mengudara.

Lalu, bagaimana dengan program migrasi dari analog ke digital yang
sudah kadung didengungkan? Oh, pasti orang-orang pintar yang terlibat
di dalamnya sedang bekerja sekuat tenaga untuk tidak membuat planning
bagus (dan secara teknologi sudah sebagai keniscayaan) ini begitu saja batal.
Termasuk pihak pemenang lelang yang sudah
membelanjakan duit yang tidak sedikit untuk membeli perangkat pemancar
digital tentu tidak rela bila kemudian peralatan yang sudah dibeli itu
menjadi mubazir. Sebagai penonton televisi yang sudah terlanjur
membeli set top box, tentu tak salah ikut berharap sekuat tenaga agar
set top box yang kadung dibeli menjadi tidak berguna.

Yang Tersisa.  Tetap bertahan atau akan menyusul ikut menghilang?
Mutu gambar dan suara yang cling bebas semut, membuat banyak orang
tergiur membeli set top box DVB-T2. Gairah itu ditangkap produsen
untuk menggenjot produksi reciever yang secara harga agak lebih mahal
dari DVB-S2, (padahal yang DVB-S2 bisa menangkap siaran televisi
dengan channel amat sangat banyak walau untuk itu memang dibutuhkan
antena parabola lengkap dengan LNB-nya). Alasan set top box (STB) tak
perlu parabola dan cuma tetap pakai antena UHF biasa mungkin
masuk sebagai pertimbangan utama.

Di toko-toko (online utamanya)memang masih ada yang
menjual set top box DVB-T2. Malahdengan pilihan merek yang
 beragam. Melihat kenyataan siarannya malah
berkurang sebagaimana dikeluhkan teman dari Surabaya yang gerutuannya
saya kutip sebagai pembuka tulisan ini, kalau saya boleh menyarankan:
stop dulu deh rencana beli set top box. Tunggu sampai semua jelas.
Banyak orang yang sudah kadung beli STB sekarang ini telah memasukkan
kembali alat itu ke dus lalu menyimpannya dalam lemari.

Sebentar lagi lebaran; dan anggaran untuk beli STB itu bisa dialihkan
dulu untuk membeli kebutuhan hari raya.

Bagaimana, masih ngebet pingin beli STB? *****

20 Juni 2015

Gurindam Ramadhan

dalam Islam ia bulan kesembilan
bernama pula bulan ramadhan

bulan ramadhan perbanyak ibadah
bukan bermain gawai tiada lelah

berpuasa iman diperkuat
kala pahala dihitung berlipat

lapar-dahaga tiadalah guna
bila berghibah tetaplah suka

di surau-surau orang tadarus terdengar
ataukah itu rekaman yang diputar

tengoklah pula di layar kaca
banyak artis alim tiba-tiba

bila nanti lepas bulan puasa
aurat kembali diumbar kemana-mana

puasa ini demi ilahi
bukan karna malu teman kanan-kiri

gurindam ini kutulis sore jam empat
kala maghrib kian mendekat

terbayang di meja aneka makanan
padahal tak mungkin semua dimasukkan

kala lapar-dahaga usus laksana melintir
kala berbuka (Subhanallah..) betapa nikmat seteguk air *****