10 April 2015

D o n a s i

SEBUAH minimarket yang sekarang memiliki jaringat luas, membuat satu ketentuan 'kalau pelayan lupa memberi salam saat pelanggan masuk, si pelanggan berhak atas sekaleng soft drink, gratis'. Itu saya dapati beberapa tahun yang lalu, saat awal-awal minimarket itu membuka gerai tidak jauh dari rumah saya. Apakah hal tersebut, (kala itu) juga dilakukan di tempat lain saat pembukaan gerai anyar? Saya tidak tahu.

Kini, yang saya tahu, ia tumbuh laksana biskuit di masa Lebaran; banyak sekali, di seantero negeri. Yang mendominasi ya cuma mereka berdua, yang secara warna tidak jauh berbeda. Apalagi secara tempat. Ibarat judul lagi jadul; Dimana Ada Kamu Disitu Ada Aku. Bahkan, untuk menggambarkan pertarungan dengan kompetitornya, mereka melakukan head to head secara nyata. Berhadapan hanya berbatas jalan, atau berdampingan berbatas tembok belaka. Anda lebih sering berbelanja ke yang itu atau ke yang sana?

Dibanding di toko biasa, harga barang disitu lebih mahal,” kata istri saya yang –seperti istri siapa pun-- sungguh sangat mempertimbangkan harga.

Tetapi dengan kehadirannya nyaris di depan hidung siapapun, ia menjadi 'pembunuh bertangan dingin' toko kelontong tradisional. Ya, harga memang agak lebih mahal, tetapi dengan tata letak barang yang rapi, dengan pembeli bisa sesuka hati memilih sendiri, bisa bayar aneka tagihan bulanan sampai tiket kereta api, berpendingin udara, ada ATM, buka 24 jam, oh lengkap sudah kekalahan si toko kelontong.

Walau sudah begitu, sungguh saya tidak habis pikir saat si kasir dengan enteng bertanya kepada pembeli saat uang kembalian ada pecahan recehnya, “Yang empat ratus boleh didonasikan?”

Dengan pembeli lain sudah antre di belakang kita, kalau hendak bilang 'tidak' saat ditodong begitu, sungguh sebuah dilema; tidak mendonasikan dikira pelit, mendonasikan tidak tahu itu untuk apa dan siapa. Iya sih, cuma setarus atau empat ratus rupiah. Namun kalau dikalikan jumlah orang yang 'terpaksa' menyumbang, lalu dikalikan lagi jumlah jaringan minimarket itu di seluruh Indonesia, ho ho ho... sungguh sangat besar sekali nilainya.

Iya juga sih, dalam menyumbang sungguh tidak baik sampai menelusuri sumbangan itu akan digunakan untuk apa oleh siapa. Yang penting ikhlas. Urusan tanggung jawab, bisa diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Masalahnya, sekarang ini, tidak sedikit orang yang sudah kehilangan rasa takut, bahkan juga kepada Tuhan.

Bagaimana, “Yang tiga ratus boleh dinonasikan?” *****



7 April 2015

Basa Jawa Bakal Ilang?

WIS suwe banget rasane aku ora ngisi tulisan nang blog iki. Yen digolek-golekne, mesthi ana wae sing iso didadekne alasan. Sing sibuklah, sing ora sempatlah, lan liya-liyane. Nanging, intine, yo lagi males wae. Titik.

Nah, saiki, kanthi trantanan (kaya bayi belajar mlaku) aku niat ingsun nulis nganggo basa Jawa. Basa sing kudune luwih gampang dak tulis, ananging buktine, nulis nganggo basa Jawa luwih angel tinimbang nulis baha Indonesia. Padhahal, yen dak rasa-rasa, maca geguritan utawa cerkak basa Jawa, nang ati iki krasa luwih kena, luwih mirasa.

Aku dadi iling ing nalika taun 80an. Nalika iku Kangmasku dadi agen majalah minggon Panjebar Semangat lan uga Jayabaya. Krana saka kuwi, aku isa ajeg maca sadurunge majalah-majalah iku diterke menyang para pelanggan. Sing isih dak ilingi nganthi saiki, yaiku Roman Sacuwil tulisane Cahyarini T. Budiarti utawa gambar kartun asil coretane Suhadi TC (Tukang Cukur). Komike Teguh Santosa ing samak mburi, tulisan-tulisane Suparto Brata, Bonari Nabonenar lan liya-liyane. Siji maneh, ilustrator Panjebar Semangat sing gambare apik tenan, jenenge Budiono, saiki dadi ilustraor andalan Jawa Pos.

Cekak carita, masa-masa SMP nganti SMA aku ora tau ninggalke wacan basa Jawa. Saiki, aku ora ngerti kepriye kabare minggon basa Jawa kuwi. Kangen rasane maca geguritan, cerkak lan rubrik-rubrik khas liyane. Saiki, sing tak ngerteni, saya akeh bocah cilik ora bisa --aja ta maca-nulis aksara Jawa-- ngomong basa Jawa rada alus uga ora godak, isane mung ngoko. Malah, ora peduli bapa-biyunge asli Ngawi utawa Trenggalek, umpamane, akeh tangga-teparoku sing sabendina nggunakake basa Indonesia. Lha yen kaya mangkene kasunyatane, apa ora mengko bakal ilang basa Jawa iki?

Yen dudu kita, njur sapa sing njaga lan nglestare'ake basa Jawa? Apa mengko, putra-wayah kita kudu adoh menyang negara Walanda utawa Suriname kanggo sinau taling-tarung lan sapiturute? *****


4 Februari 2015

Surya Puoll

IDE dan naskah cerita dari saya, gambar oleh Cak Ucup dan Cak Rendra dari Harian Surya.



14 Januari 2015

Siaran Televisi Digital di Jember

MINGGU kemarin saya ada acara ke Jember. Waktu yang tak lama itu saya manfaatkan juga untuk menjajal lagi (karena dulu saya juga telah pernah melakukannya) set top box, demi mencari tahu sudah seberapa perkembangan siaran televisi digital terrestrial di Jember. Dulu, seingat saya, MetroTV telah bersiaran secara digital di Jember. Sendiri saja, tanpa kawan. Sekarang, apakah ia sudah ada teman MUX lainnya?

Kemarin itu, mula-mula saya duga frekuensi 610 Mhz (Ch. 38) milik Metro masih ada. Ternyata; malah yang tertangkap ketika saya scan adalah MUX milik MNC pada channel 42 (642 Mhz) dan channel 45 (666 Mhz) yang dihuni MUX TransCorp, sementara MetroTV sama sekali tidak ke-detect.

Seperti biasa, MUX grup MNC berisi RCTI, MNCTV dan GlobalTV, sedangkan TransCorp yang biasanya (di kota lain) selain ditempati TransTV, Trans|7 dan KompasTV, di Jember ini KompasTV tidak ikut serta. Bisa jadi, saya duga, KompasTV memang belum memiliki ijin siaran di Jember.


Satu lagi, bila di Surabaya (yang saya tahu) channel digital semua ada di angka ganjil, untuk Jember kok kombinasi ganjil-genap ya?! (MetroTV channel 38, MNC channel 42 dan MUX TransCorp channel 45.)

Jarak dari tempat saya melakukan scan sekitar 30 km dari pemancar (bila pemancar digital itu dari daerah Bangsalsari). Dengan jarak segitu, saya rasakan, sinyal tertangkap dengan stabil. Entah kalau melakukan scan dari daerah yang jaraknya lebih jauh dari itu. Juga, ada yang bertanya lewat email saya; dengan jarak antara rumah dan pemancar 100km apakah sinyal digital masih bisa diterima?

Jujur, secara teknis saya tidak tahu. Tetapi, asumsi saya, penerimaan sinyal sejalan dengan kekuatan daya yang dipakai oleh sebuah pemancar plus pancaran itu tidak membentur penghalang. Betulkah begitu? Silakan, sebagai expert, Anda menambahkan informasi bila berkenan. Saya tunggu selalu.

Catatan: 'altem' (alat tempur) yang saya pakai scan di Jember tempo hari adalah: Antena: Titis TS-1000 dengan ketinggian tiang 7 meter, Kabel: Belden RG-6, set top box: PF-209. *****

8 Januari 2015

Jangan Remehkan Langkah Kecil

Foto: Viva
UNTUK menjadi besar jangan pernah meremehkan hal-hal kecil. Karena jika menjadi besar melalui langkah-langkah kecil, isya Allah akan tahan berbagai ujian (tidak gampang menyerah).

Dwi Soetjipto, mantan Dirut Semen Indonesia, kini Dirut Pertamina.


5 Januari 2015

Bursa Buku Lungsuran di Pasar Blauran

rek ayo, rek
mlaku-mlaku nang mBlauran
rek ayo rek
ayo tuku buku lungsuran....

SELAIN di kawasan Kampung Ilmu yang terletak di jalan Semarang, di Surabaya ini juga terdapat tempat lain yang menyediakan buku bekas atau lungsuran. Tempatnya di Pasar Blauran, namanya Bursa Buku Bekas.

Untuk menuju ke tempat ini sangatlah tidak sulit. Terletak di segi empat emas Praban-Bubutan-Kranggan-Blauran, ia secara gampang dijangkau angkutan kota. Kalau Anda dari arah terminal Bungurasih, Anda bisa naik bis kota jurusan Tanjung Perak yang via Tunjungan Plaza/Embong Malang dan Anda bisa turun persis di kawasan Blauran.

Betul, di sepanjang Blauran memang banyak sekali berjejer toko-toko emas. Berjalanlah terus ke arah stopan/lampu merah. Beloklah ke kiri; disitu ada gerbang depan Pasar Blauran. Letaknya persis berhadapan dengan pusat perbelajaan BG Junction.

Begitu masuk langsung disambut berderet pedagang jajanan tradisonal. Ada lemper dan aneka kue basah lainnya. Begitulah memang, selain di Pasar Kembang, disinilah dengan gampang kita mendapatkan aneka kue tradisonal.

Baiklah, Anda ingin menuju ke Bursa Buku Bekas, gampang, saya tunjukkan arahnya. Lewatilah saja para pedagang kue-kue itu. Nanti, setelah Anda mendapatkan buku-buku yang Anda cari, bolehlah melepas penat sambil menikmati aneka kuliner di situ. Berjalanlah lurus, lalu belok kiri sedikit. Nah, disitulah lapak-lapak penjual buku bekas berada.

Anda mau mencari buku apa? Buku pelajaran SD? Ada. SMP dan SMA? Juga ada. Buku anak kuliahan, pengetahuan umum, tema agama, novel dewasa, teenleet sampai majalah sastra Horison? Dijamin ada. Dan lazimnya sebuah pasar, bandrol harga secara pasti tidak ada. Yang terjadi adalah hukum tawar-menawar; semakin Anda pintar menawar, semakin murahlah harga buku yang Anda dapatkan. Dan bersiaplah untuk membayar sedikit mahal bila Anda kurang piawai menawar.

Sekalipun bernama Bursa Buku Bekas, bukan berarti tidak tersedia buku-buku baru. Namun, kalau boleh saya menyarankan, untuk membeli buku baru, belilah saja di toko-toko buku. Kenapa? Saya duga, yang dinamakan buku baru disini adalah buku-buku bajakan. Dan bukankah kalau kita membeli buku bajakan itu sama saja dengan kita tidak menghargai jerih payah para penulis dan penerbit resmi. Buku bajakan itu, yang isinya jan mak-plek sama dengan buku asli itu, sama sekali tidak mengalirkan royalty kepada sang penulis. Padahal, para penulis itu (lewat buku-bukunya) juga butuh profit (rupiah) disamping benefit (faedah).

"Liburan kemarin lumayan ramai, Mas?" saya bertanya kepada Mus (35) salah seorang pedagang buku yang baru saya kenal.

"Sepi, Mas," jawab ayah dua anak asal Talun, Blitar, yang beristrikan perempuan asal Tanggul, Jember ini.

Perkiraan saya, karena anak-anak sekolah pada libur dua minggu kemarin, mereka pada mencari buku untuk menemani libur mereka. Ternyata, "Mereka kan pada tamasya, Mas, jadinya penjualan sepi sekali. Malah pernah sehari kita cuma dapat tujuhpuluh ribu." papar Mus yang saban hari bertiga dengan Ari (25) asal Wonogiri dan Eko (26) asal Solo.

Mendapati omzet penjualan yang cuma segitu, aku Mus, sering kurang enak sama majikan. Ya, mereka bertiga memang hanya sebagai penunggu, dagangan itu milik majikan orang Sidoarjo yang juga memiliki stan di Kampung Ilmu jalan Semarang. Masa ramai penjualan buku, papar Mus, adalah saat akan masuk tahun ajaran baru. "Dalam sehari kita bisa mendapatkan tujuhratus ribu atau lebih," imbuh Mus yang sudah sepuluh tahun menjadi penunggu stan dan mengaku dibayar limapuluh ribu rupiah sehari.

Saya mengedarkan padang dan berjalan mengelilingi stan satu dan lainnya. Betul kata Mus, lumayan sepi memang. Ada sih satu-dua (saya kira mahasiswa) yang mencari buku yang diperlukan. Atau seorang ibu yang datang ke stan Mus saat saya kembali asyik jagongan, "Saya cari buku terjemahan kitab Riyadush Sholihin," kata perempuan berjilbab berusia sekitar 45-an. "Untuk nambah pengetahuan," katanya ketika saya tanya.

Eko, teman Mus dengan ramah bilang, "Oh, ada. Tunggu sebentar," lalu priyantun Solo itu bergegas menuju ke stan lain untuk mencarikan buku yang dimaksud si Ibu. Begitulah, sudah lazim terjadi pedagang menjualkan dagangan  pedagang-pedagang lain. Dengan begitu, jarang mereka bilang 'tidak punya' kala ada orang mencari buku tertentu.

Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Di Bursa Buku Bekas Blauran ini pun begitu; tawar menawar harga pas masuk tas.

Oke, beli buku sudah. Sekarang saatnya menikmati aneka kuliner di situ. Saran saya, cobalah rujak cingur. Atau soto, atau rawon atau lontong balap. Minumnya? Ada dawet dan aneka minuman lainnya. Terserah selera, pokoknya. Tetapi jangan lupa, karena saya telah menjadi guide Anda dalam jalan-jalan ke Blauran kali ini, untuk yang saya makan ini (sepiring rujak cingur dan semangkok es campur), saya minta Anda yang bayar. Bagaimana, deal?...*****



25 Desember 2014

Toleransi Hati

SETIAP Idul Fitri saya banyak sekali menerima ucapan Selamat Hari Raya dari teman. Dan di era gadget sekarang ini, mengirim ucapan selamat macam itu sama sekali tak ribet dan relatif tak mahal. Asal mau saja. Padahal dulu, saat jaman kartu ucapan, duh betapa makan waktu dan biaya; memilih jenis dan warna kartu yang pas, misalnya warna apa untuk siapa. Belum lagi menuliskan kata-kata di lembaran itu. Menempeli prangko kemudian membawanya ke kotak pos. (Belum lagi kalau kita merasa tulisan tangan kita jelek dan untuk itu kita memakai jasa orang lain untuk menuliskannya. Dengan imbalan, tentu saja.) Kartu ucapan itu memakan sekian waktu untuk sampai ke orang yang dituju.

Sekarang, detik ini dikirim, detik ini pula sampai. Nyaris sama sekali tak ada jeda.

Kembali ke ucapan Selamat Idul Fitri yang saya terima; ia datang tak sekadar dari teman sesama muslim, tetapi tak sedikit pula dari yang non-muslim. Kartu ucapan lewat SMS itu memang sekadar ucapan, tetapi secara makna tentu ia lebih dari itu. Ungkapan 'minal aidin wal faizin' sampai yang hanya 'skor kita sekarang 0-0, ya?' adalah bentuk pendek dan sederhana dari ungkapan hati yang sesungguhnya. Dan urusan hati, Anda tahu, hanya si punya hati itu dan Tuhan saja yang tahu. Tapi penjelasannya tentu bisa panjang. Misalnya, orang yang hatinya sungguh baik, tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak baik.

Pendek kata, walau tak selalu, perkara toleransi (beragama) lebih kepada urusan hati, bukan sekadar casing semata. Setiap akhir Desember, ramai bertebaran 'fatwa' haram bagi muslim mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman Nasrani. Benar, urusan akidah adalah hal yang sangat prinsip. Bahwa kemudian ada pihak/tokoh muslim yang dengan ringan bilang mengucapkan selamat Natal itu tidak apa-apa, inilah yang malah bikin saya --yang dangkal ilmu agamanya ini-- menjadi bertanya dalam hati; ikut pendapat yang mana?

Dalam berhubungan, kita memang tak melulu secara vertikal antara makhluk dan Sang Khalik. Yang secara horizontal, dengan teman dan relasi dari berbagai agama, adalah sebuah hubungan yang niscaya. Dan dalam hubungan sosial itu diperlukan komunikasi yang semestinya; yang saling menghargai, saling mengerti.

Antara saya dan Tuhan tak perlulah ditawar apa yang mesti saya lakukan sebagai makhluk dan Pencipta, tetapi kepada sesama itu, yang selama ini berhubungan sangat baik walau beda agama itu, kadang yang bikin hati ini tidak nyaman. Tidak mengucapkan Selamat Natal tidak enak, mengucapkan Selamat Natal tidak boleh. Hmm...

Tetapi, sekali lagi, urusan toleransi itu perkara hati. Tentang 'larangan' yang harus saya patuhi itu sepertinya semua teman saya yang Kristiani sudah mengerti. Dan mengerti adalah inti dari toleransi. Maka, ketika antar hati sudah saling mengerti, adakah ucapan yang perlu mewakili? *****

19 Desember 2014

Green Building Awareness Award 2014

DATA yang ada menunjukkan, gedung (hotel, apartement, mall dan perkantoran) menyumbang emisi CO2 sebesar 27 persen. Dan angka ini diprediksi akan mencapai 40 persen pada tahun 2030 mendatang. Untuk menghambat lajunya, diperlukan kepedulian banyak pihak untuk makin bergaya hidup hijau.

Menghargai upaya para pengelola gedung di Surabaya, Pemerintah Kota menggelar acara Green Building Awareness Award yang puncaknya diselenggarakan di Gedung Pabbeko lantai 3 kemarin siang (Kamis, 18 Desember 2014). Berikut catatan saya yang hadir di acara tersebut.


Banyak sudah penghargaan yang diterima kota Surabaya dalam bidang lingkungan. Baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Tetapi, “Untuk menjadikan Surabaya sebagai Green City, Pemkot tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kepedulian banyak pihak dalam mewujudkannya,” urai Sekota Surabaya, Ir Hendro Gunawan MA, dalam sambutannya di hadapan perwakilan pengelola gedung di Surabaya. Turut hadir dalam acara itu, selain para penerima penghargaan, juga pula para tokoh yang sangat concern terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Diantaranya adalah pakar tata kota dari ITS Prof. Johan Silas, serta arsitek yang dalam setiap rancangannya selalu berkonsep green building, Ir Jimy Prijatman M-Arch.

Dalam ajang Green Building Awareness Award 2014, pertama-tama ada 138 gedung di kota Pahlawan ini yang dinilai. Dari jumlah tersebut, lalu dikerucutkan lagi menjadi 59, dan diperas lagi hanya tersisa 27. Nah, dari 27 itu disisakan 12 yang berhak mendapat penghargaan.

Ada enam kriteria utama yang harus dipenuhi agar suatu bangunan bisa dikatakan Green Building. Yakni; tepat guna lahan, efisiensi konservasi energi, konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan, dan yang terakhir, managemen lingkungan dalam bangunan.

Dibacakan oleh I Gusti N Antariyama PhD, berikut adalah penerima penghargaan Green Building Awareness Award 2014:


Kategori Pelopor

Hotel:
  • Grand Darmo
  • Majapahit
  • Novotel
  • Santika Jemursari
  • Singgasana
Apartement:
  • Metropolis
  • Puncak Permai
Perkantoran:
  • Graha Bukopin
  • Graha Pena
  • Graha Pangeran
  • Graha Wismilak
(Untuk kategori Mall tidak ada.)

Untuk penghargaan kategori Utama:

Hotel:
  • Sheraton
  • Sedari awal, gedung hasil rancangan Ir Jimy Prijatman M.Arch ini
    memang berkonsep Green Building. (sumber foto: Google)
    Mercure Grand Mirama
  • JW Marriot
Apartement:
  • Water Place Residence
  • Cosmopolis
  • Trillium Office & Residence
Mall:
  • Grand City Mall & Convec
  • Plasa Tunjungan
  • Lenmarc
Perkantoran:
  • Intiland
  • Esa Sampoerna
  • Grha Wonokoyo. *****




17 Desember 2014

Mengejar TVRI, Menangkap tvOne

Penampakan antv dengan STB PF-209
Scan pakai Getmecom HD-9
SUDAH dua hari ini on air-nya, Kang,” begitu kata seorang teman lewat telepon tadi malam, beberapa saat setelah saya menulis status demi mengabarkan MUX Viva grup pada 490MHz/Ch.23 telah kembali mengudara di Surabaya.

Dengan kembali megudaranya tvOne dan antv di kanal digital, menjadikan hanya MUX Emtek Grup (SCTV, Indosiar dan O Channel –538MHz/Ch.29) yang belum kembali on air di kota Pahlawan ini..

Terbilang sudah agak lama saya tidak menyalakan set top box DVB-T2 karena channel yang ada cuma itu-itu saja. Bukannya content bertambah, malah sering berkurang. Pernah suatu kali MetroTV berhari-hari menghilang dari udara, juga MNC grup. Walau yang saya sebut tadi sekarang sudah on lagi, tetapi yang lumayan lama 'tidur' ya MUX Viva dan Emtek.


Semalam saya kembali menyalakan STB karena membaca status seorang teman Facebook di Semarang yang menulis bahwa TVRI telah menambah content; ada TVRI Budaya dan TVRI Sport. Ini hal yang langsung saya hubungkan dengan yang hari-hari ini saya baca di grup satelit pada jejaring sosial media. Bahwa, sekalipun sinyalnya masih pelit, pada siaran satelit TVRI telah menambah content demi melengkapi siaran TVRI Nasional yang ada selama ini. Ya, yang saya maksud tentu yang ada di satelit Palapa, bukan beberapa siaran TVRI Daerah yang ada di satelit Telkom-1.


tvOne hasil scan STB PF-209
Kalaulah saya sejauh ini belum bisa lock transponder 3767 H 4000 (ada pula yang bilang 3768 H 4000) yang dihuni TVRI Sport dan TVRI Budaya, bukan disebabkan masih pelitnya sinyal di frekuensi itu, tetapi lebih disebabkan kurang pinternya saya dalam hal tracking. Atau, ini kecurigaan saya, posisi dish dan atau LNB saya belum pas betul ke arah Palapa-D.
tvOne scan pakai Getmecom HD-9


TVRI Nasional cling tidak pakai cekot-cekot.
Masih gagal lock pakai DVB-S, saya banting setir menyalakan DVB-T2 dan (tidak seperti yang dibilang teman dari Semarang) di kawasan Surabaya TVRI masih belum ada perubahan. Masih –sekalipun siaran empat saluran-- isinya ya tetap sami mawon alias mak plek sama. Mungkin yang dialami teman-teman di Semarang itu masih dalam taraf uji coba. Tapi bersyukurlah, paling tidak, telah ada tambahan content baru. Harapannya, tentu saja, progress siaran televisi digital terrrestrial dengan Monkominfo yang baru sekarang ini makin jelas, dan tidak sekadar jalan di tempat.
Sinyal TVRI baru di Palapa-D milik saya masih 0%.
Untuk siaran satelit, saya scan pakai
reciever Matrix Apple III PVR.


Saya belum tahu apakah di kawasan lain.semua MUX yang telah ditetapkan sudah bersiaran secara full power sekaligus full time. Informasi seorang teman, untuk MUX Emtek (SCTV dkk) di Surabaya ini, pengerjaan infrastrukturnya dibarengkan dengan persiapan beroperasinya pay tv sistem antena biasa bernama NexMedia.*****


14 Desember 2014

Parikan di Jalan

SAYA kurang paham betul kesenian Ludruk itu berasal dari Jombang atau Surabaya. Yang saya tahu, dalam ludruk ada segmen yang selalu ditunggu. Biasanya dimunculkan setelah tari remo dan paduan suara para 'wandu' yang berdiri berjajar setelah penari remo turun panggung.

Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.

Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.

Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****

wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.

30 November 2014

Slamet dan Saimin

KALAU engkau masih ingat, aku telah pernah menceritakan kepadamu tentang Slamet. Penghuni pasar di kampung kami, yang pada saat-saat tertentu ia akan melabur seluruh tubuhnya dengan parutan ketela pohon, sehingga setelah pati parutan ketela itu mengering, ia laksana Hanoman; putih seluruh kulit tubuhnya yang hanya pada bagian alat kelaminnya saja yang dibungkus cawat yang ia bikin dari sobekan kain sarung.

Slamet, menurut para orang tua, dulunya adalah santri sebuah pondok disini. Ia berasal dari Blitar. Tapi ya itu, masih menurut sumber yang tentu tak bisa dikonfirmasi kesahihannya, dari awal datang mondok ia memang 'kurang seratus'. Menurut orang-orang ia memang kurang 'penuh'. Dan ia kemudian keluar dari pondok lalu menjadi penghuni pasar karena, ketika putri sang kiai yang cantik jelita, yang diam-diam ia jatuh cintai setengah mati, dinikahkan dengan seorang lelaki anak kiai Bangsalsari.

Miskin atau Sederhana?

ORANG miskin bukanlah seseorang yang memiliki sedikit (harta), tapi orang yang selalu membutuhkan lebih, lebih, dan lebih lagi. Saya tidak hidup dalam kemiskinan. Saya hidup dalam kesederhanaan. Hanya sedikit yang saya butuhkan untuk hidup.

Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).

5 November 2014

Tips Membeli Set Top Box

SAYA agak merasa bersalah ketika membuat artikel tentang kepekaan set top box dan mendapat lumayan banyak tanggapan/komentar. Sebagian besar menanyakan set top box merek apa yang pada artikel itu memang tidak saya sebut secara gamblang. Sebagian lainnya menanyakan set top box merek apa yang layak direkomendasikan. 
 
Sebagai hal yang menyenangkan, tentu saja, ketika masyarakat pemirsa relatif antusias menyikapi isu siaran televisi digital. Isu? Ah, barangkali agak kurang tepat juga saya mengistilahkan hal itu sebagai isu belaka. Tetapi saya agak kesulitan menemukan kosa kata yang pas untuk menggambarkan perkembangan siaran televisi digital terrestrial yang progress-nya cuma begitu-begitu saja.

Bisa jadi saya salah. Bisa jadi, karena sudah agak lama saya tidak menghidupkan STB, sekarang siaran tv digital sudah berisi ratusan konten/channel. Anda, yang tidak seperti saya, yang tidak kehilangan kekhusyu'an dan kesabaran setiap kali menghidupkan reciever cuma mendapati maksimal empat MUX yang belum 'tiarap', sekarang sudah girang bukan kepalang menikmati aneka tayangan dari sekian banyak frekuensi yang ada. Disaat Anda beruntung begitu, anggap saja sebagai manusia yang ketinggalan zaman!

Kembali ke soal awal; tentang set top box. Jujur, saya juga sudah agak kurang update tentang perkembangan merek-merek STB. Sekarang saya buka saja; set top box yang saya punya adalah Bomba (masih DVB-T1),TCL, Getmecom-HD9 dan PF-209. Yang mana yang terbaik diantara semua itu?

Sebagai yang masih DVB-T1, Bomba tak usah ikut dibahas. Sedang si TCL, yang tepat setahun saya pakai tunner sudah tidak berfungsi, juga abaikan saja. Sehingga praktis yang saya pakai sekarang cuma Getmecom-HD9 dan PF-209.

Getmecom-HD9 saya ini, sayangnya juga penangkap sinyalnya sudah agak 'tumpul'. Penjelasan dari ini adalah, ketika sinyal dari MUX MNC grup (Channel 41) yang oleh PF-209 masih bisa ditampilkan, pada Getmecom-HD9 sama sekali tidak ada penampakan. Begitu juga MUX Emtek di kanal 29. Pendek kata, punya saya yang PF-209 lebih tajam dalam menangkap signal dibanding si Getmecom-HD9.

Eits, tetapi tunggu dulu. Ini pengalaman pribadi saya dan jangan buru-buru di-gebyah uyah semua Getmecom-HD9 tumpul dan PF-209 tajam. Bisa jadi ini kasuistis semata, namanya juga barang elektronik. Atau Anda punya pakem/patokan tertentu yang bisa dijadikan simpulan atas hal tersebut.

Tetapi, masih tentang set top box yang adalah barang elektronika, layanan purna jual layak dijadikan pertimbangan sebelum membeli barang. Jangan sampai, sudah mahal-mahal membeli, saat ada trouble, tak tahu kita harus membawanya kemana. Ini saya alami ketika STB merek TCL yang saya punya. Saat tunner-nya tidak berfungsi begitu, tak tahu saya harus menyembuhkannya kemana, karena tak tahu dimana letak Service Center-nya. Iya, layanan after sales-nya harus ada, syukur-syukur itu ada di dekat kita. 
 
Sampai disini tentu sudah agak jelas; bahwa hanya merek-merek tertentu saja yang didukung Cervice Centre yang tidak abal-abal. Bahkan, di Surabaya ini, tak tahu dimana letak layanan after sales dari si Getmecom-HD9. (Tentang ini, tentu saya bisa baca di manual book-nya). Tetapi, saat saya baca buku manual dari si PF-209 (yang ternyata merek ini bukan milik dari produsen antena PF yang sudah kita kenal), tempat yang disebut Service Center adalah sebuah toko peralatan antena/parabola di sudut jalan Genteng Besar. Toko yang nampak kusam itu (secara tampilan bukan bandingan bila disandingkan dengan service center Polytron di jalan Nginden atau service center Akari di jalan Kalimantan) membuat saya ragu itu sebagai Service Centre, tetapi saya curiga ia hanya dipinjam namanya untuk kalau ada orang membawa set top box PF yang sedang 'sakit' ke situ (kalau masih dalam masa garansi) langsung diganti baru saja. Lalu, bagaimana kalau batas masa garansi sudah expired? *****


30 September 2014

Mas Bendo Menggugat

KACAU, Kang, kacau...” dengan wajah lungset Mas Bendo datang.

“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.

“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.


Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”

Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.

Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”

Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”

Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”

Ya kita harus menggugat, Kang.”

Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”

Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****