19 Desember 2014

Green Building Awareness Award 2014

DATA yang ada menunjukkan, gedung (hotel, apartement, mall dan perkantoran) menyumbang emisi CO2 sebesar 27 persen. Dan angka ini diprediksi akan mencapai 40 persen pada tahun 2030 mendatang. Untuk menghambat lajunya, diperlukan kepedulian banyak pihak untuk makin bergaya hidup hijau.

Menghargai upaya para pengelola gedung di Surabaya, Pemerintah Kota menggelar acara Green Building Awareness Award yang puncaknya diselenggarakan di Gedung Pabbeko lantai 3 kemarin siang (Kamis, 18 Desember 2014). Berikut catatan saya yang hadir di acara tersebut.


Banyak sudah penghargaan yang diterima kota Surabaya dalam bidang lingkungan. Baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Tetapi, “Untuk menjadikan Surabaya sebagai Green City, Pemkot tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kepedulian banyak pihak dalam mewujudkannya,” urai Sekota Surabaya, Ir Hendro Gunawan MA, dalam sambutannya di hadapan perwakilan pengelola gedung di Surabaya. Turut hadir dalam acara itu, selain para penerima penghargaan, juga pula para tokoh yang sangat concern terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Diantaranya adalah pakar tata kota dari ITS Prof. Johan Silas, serta arsitek yang dalam setiap rancangannya selalu berkonsep green building, Ir Jimy Prijatman M-Arch.

Dalam ajang Green Building Awareness Award 2014, pertama-tama ada 138 gedung di kota Pahlawan ini yang dinilai. Dari jumlah tersebut, lalu dikerucutkan lagi menjadi 59, dan diperas lagi hanya tersisa 27. Nah, dari 27 itu disisakan 12 yang berhak mendapat penghargaan.

Ada enam kriteria utama yang harus dipenuhi agar suatu bangunan bisa dikatakan Green Building. Yakni; tepat guna lahan, efisiensi konservasi energi, konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan, dan yang terakhir, managemen lingkungan dalam bangunan.

Dibacakan oleh I Gusti N Antariyama PhD, berikut adalah penerima penghargaan Green Building Awareness Award 2014:


Kategori Pelopor

Hotel:
  • Grand Darmo
  • Majapahit
  • Novotel
  • Santika Jemursari
  • Singgasana
Apartement:
  • Metropolis
  • Puncak Permai
Perkantoran:
  • Graha Bukopin
  • Graha Pena
  • Graha Pangeran
  • Graha Wismilak
(Untuk kategori Mall tidak ada.)

Untuk penghargaan kategori Utama:

Hotel:
  • Sheraton
  • Sedari awal, gedung hasil rancangan Ir Jimy Prijatman M.Arch ini
    memang berkonsep Green Building. (sumber foto: Google)
    Mercure Grand Mirama
  • JW Marriot
Apartement:
  • Water Place Residence
  • Cosmopolis
  • Trillium Office & Residence
Mall:
  • Grand City Mall & Convec
  • Plasa Tunjungan
  • Lenmarc
Perkantoran:
  • Intiland
  • Esa Sampoerna
  • Grha Wonokoyo. *****




17 Desember 2014

Mengejar TVRI, Menangkap tvOne

Penampakan antv dengan STB PF-209
Scan pakai Getmecom HD-9
SUDAH dua hari on air,” begitu kata seorang teman lewat telepon tadi malam, beberapa saat setelah saya menulis status demi mengabarkan MUX Viva grup pada 490MHz/Ch.23 telah kembali mengudara di Surabaya.

Dengan kembali megudaranya tvOne dan antv di kanal digital, menjadikan hanya MUX Emtek Grup (SCTV, Indosiar dan O Channel –538MHz/Ch.29) yang belum kembali on air di kota Pahlawan ini..

Terbilang sudah agak lama saya tidak menyalakan set top box DVB-T2 karena channel yang ada cuma itu-itu saja. Bukannya content bertambah, malah sering berkurang. Pernah suatu kali MetroTV berhari-hari menghilang dari udara, juga MNC grup. Walau yang saya sebut tadi sekarang sudah on lagi, tetapi yang lumayan lama 'tidur' ya MUX Viva dan Emtek.


Semalam saya kembali menyalakan STB karena membaca status seorang teman Facebook di Semarang yang menulis bahwa TVRI telah menambah content; ada TVRI Budaya dan TVRI Sport. Ini hal yang langsung saya hubungkan dengan yang hari-hari ini saya baca di grup satelit pada jejaring sosial media. Bahwa, sekalipun sinyalnya masih pelit, pada siaran satelit TVRI telah menambah content demi melengkapi siaran TVRI Nasional yang ada selama ini. Ya, yang saya maksud tentu yang ada di satelit Palapa, bukan beberapa siaran TVRI Daerah yang ada di satelit Telkom-1.


tvOne hasil scan STB PF-209
Kalaulah saya sejauh ini belum bisa lock transponder 3767 H 4000 (ada pula yang bilang 3768 H 4000) yang dihuni TVRI Sport dan TVRI Budaya, bukan disebabkan masih pelitnya sinyal di frekuensi itu, tetapi lebih disebabkan kurang pinternya saya dalam hal tracking. Atau, ini kecurigaan saya, posisi dish dan atau LNB saya belum pas betul ke arah Palapa-D.
tvOne scan pakai Getmecom HD-9


TVRI Nasional cling tidak pakai cekot-cekot.
Masih gagal lock pakai DVB-S, saya banting setir menyalakan DVB-T2 dan (tidak seperti yang dibilang teman dari Semarang) di kawasan Surabaya TVRI masih belum ada perubahan. Masih –sekalipun siaran empat saluran-- isinya ya tetap sami mawon alias mak plek sama. Mungkin yang dialami teman-teman di Semarang itu masih dalam taraf uji coba. Tapi bersyukurlah, paling tidak, telah ada tambahan content baru. Harapannya, tentu saja, progress siaran televisi digital terrrestrial dengan Monkominfo yang baru sekarang ini makin jelas, dan tidak sekadar jalan di tempat.
Sinyal TVRI baru di Palapa-D milik saya masih 0%.


Saya belum tahu apakah di kawasan lain.semua MUX yang telah ditetapkan sudah bersiaran secara full power sekaligus full time. Informasi seorang teman, untuk MUX Emtek (SCTV dkk) di Surabaya ini, pengerjaan infrastrukturnya dibarengkan dengan persiapan beroperasinya pay tv sistem antena biasa bernama NexMedia.*****


14 Desember 2014

Parikan di Jalan

SAYA kurang paham betul kesenian Ludruk itu berasal dari Jombang atau Surabaya. Yang saya tahu, dalam ludruk ada segmen yang selalu ditunggu. Biasanya dimunculkan setelah tari remo dan paduan suara para 'wandu' yang berdiri berjajar setelah penari remo turun panggung.

Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.

Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.

Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****

wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.

30 November 2014

Slamet dan Saimin

KALAU engkau masih ingat, aku telah pernah menceritakan kepadamu tentang Slamet. Penghuni pasar di kampung kami, yang pada saat-saat tertentu ia akan melabur seluruh tubuhnya dengan parutan ketela pohon, sehingga setelah pati parutan ketela itu mengering, ia laksana Hanoman; putih seluruh kulit tubuhnya yang hanya pada bagian alat kelaminnya saja yang dibungkus cawat yang ia bikin dari sobekan kain sarung.

Slamet, menurut para orang tua, dulunya adalah santri sebuah pondok disini. Ia berasal dari Blitar. Tapi ya itu, masih menurut sumber yang tentu tak bisa dikonfirmasi kesahihannya, dari awal datang mondok ia memang 'kurang seratus'. Menurut orang-orang ia memang kurang 'penuh'. Dan ia kemudian keluar dari pondok lalu menjadi penghuni pasar karena, ketika putri sang kiai yang cantik jelita, yang diam-diam ia jatuh cintai setengah mati, dinikahkan dengan seorang lelaki anak kiai Bangsalsari.

Miskin atau Sederhana?

ORANG miskin bukanlah seseorang yang memiliki sedikit (harta), tapi orang yang selalu membutuhkan lebih, lebih, dan lebih lagi. Saya tidak hidup dalam kemiskinan. Saya hidup dalam kesederhanaan. Hanya sedikit yang saya butuhkan untuk hidup.

Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).

5 November 2014

Tips Membeli Set Top Box

SAYA agak merasa bersalah ketika membuat artikel tentang kepekaan set top box dan mendapat lumayan banyak tanggapan/komentar. Sebagian besar menanyakan set top box merek apa yang pada artikel itu memang tidak saya sebut secara gamblang. Sebagian lainnya menanyakan set top box merek apa yang layak direkomendasikan. 
 
Sebagai hal yang menyenangkan, tentu saja, ketika masyarakat pemirsa relatif antusias menyikapi isu siaran televisi digital. Isu? Ah, barangkali agak kurang tepat juga saya mengistilahkan hal itu sebagai isu belaka. Tetapi saya agak kesulitan menemukan kosa kata yang pas untuk mengambarkan perkembangan siaran televisi digital terrestrial yang progress-nya cuma begitu-begitu saja.

Bisa jadi saya salah. Bisa jadi, karena sudah agak lama saya tidak menghidupkan STB, sekarang siaran tv digital sudah berisi ratusan konten/channel. Anda, yang tidak seperti saya, yang tidak kehilangan kekhusyu'an dan kesabaran setiap kali menghidupkan reciever cuma mendapati maksimal empat MUX yang belum 'tiarap', sekarang sudah girang bukan kepalang menikmati aneka tayangan dari sekian banyak frekuensi yang ada. Disaat Anda beruntung begitu, anggap saja sebagai manusia yang ketinggalan zaman!

Kembali ke soal awal; tentang set top box. Jujur, saya juga sudah agak kurang update tentang perkembangan merek-merek STB. Sekarang saya buka saja; set top box yang saya punya adalah Bomba (masih DVB-T1),TCL, Getmecom-HD9 dan PF-209. Yang mana yang terbaik diantara semua itu?

Sebagai yang masih DVB-T1, Bomba tak usah ikut dibahas. Sedang si TCL, yang tepat setahun saya pakai tunner sudah tidak berfungsi, juga abaikan saja. Sehingga praktis yang saya pakai sekarang cuma Getmecom-HD9 dan PF-209.

Getmecom-HD9 saya ini, sayangnya juga penangkap sinyalnya sudah agak 'tumpul'. Penjelasan dari ini adalah, ketika sinyal dari MUX MNC grup (Channel 41) yang oleh PF-209 masih bisa ditampilkan, pada Getmecom-HD9 sama sekali tidak ada penampakan. Begitu juga MUX Emtek di kanal 29. Pendek kata, punya saya yang PF-209 lebih tajam dalam menangkap signal dibanding si Getmecom-HD9.

Eits, tetapi tunggu dulu. Ini pengalaman pribadi saya dan jangan buru-buru di-gebyah uyah semua Getmecom-HD9 tumpul dan PF-209 tajam. Bisa jadi ini kasuistis semata, namanya juga barang elektronik. Atau Anda punya pakem/patokan tertentu yang bisa dijadikan simpulan atas hal tersebut.

Tetapi, masih tentang set top box yang adalah barang elektronika, layanan purna jual layak dijadikan pertimbangan sebelum membeli barang. Jangan sampai, sudah mahal-mahal membeli, saat ada trouble, tak tahu kita harus membawanya kemana. Ini saya alami ketika STB merek TCL yang saya punya. Saat tunner-nya tidak berfungsi begitu, tak tahu saya harus menyembuhkannya kemana, karena tak tahu dimana letak Service Center-nya. Iya, layanan after sales-nya harus ada, syukur-syukur itu ada di dekat kita. 
 
Sampai disini tentu sudah agak jelas; bahwa hanya merek-merek tertentu saja yang didukung Cervice Centre yang tidak abal-abal. Bahkan, di Surabaya ini, tak tahu dimana letak layanan after sales dari si Getmecom-HD9. (Tentang ini, tentu saya bisa baca di manual book-nya). Tetapi, saat saya baca buku manual dari si PF-209 (yang ternyata merek ini bukan milik dari produsen antena PF yang sudah kita kenal), tempat yang disebut Service Center adalah sebuah toko peralatan antena/parabola di sudut jalan Genteng Besar. Toko yang nampak kusam itu (secara tampilan bukan bandingan bila disandingkan dengan service center Polytron di jalan Nginden atau service center Akari di jalan Kalimantan) membuat saya ragu itu sebagai Service Centre, tetapi saya curiga ia hanya dipinjam namanya untuk kalau ada orang membawa set top box PF yang sedang 'sakit' ke situ (kalau masih dalam masa garansi) langsung diganti baru saja. Lalu, bagaimana kalau batas masa garansi sudah expired? *****


30 September 2014

Mas Bendo Menggugat

KACAU, Kang, kacau...” dengan wajah lungset Mas Bendo datang.

“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.

“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.


Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”

Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.

Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”

Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”

Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”

Ya kita harus menggugat, Kang.”

Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”

Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****



30 Juni 2014

Olala, Asyiknya Merakit Parabola

SEJAK memiliki reciever DVB-T2 hampir dua tahun yang lalu, dan mendapati kenyataan laju perkembangan siaran televisi digital terrestrial cuma begitu-begitu saja, timbul keinginan dalam hati untuk membeli antena parabola saja. Untuk hal itu, dibandingkan dengan memakai DVB-T2 yang cuma tinggal mencolokkan kabel antena ke pantat reciever dengan tanpa berganti antena UHF, rasanya seperangkat parabola lengkap secara harga sedikit lebih tinggi. Sedikit? Ya, relatiflah. Bukankah satu unit DVB-T2 ada yang berharga di atas empat ratus ribu, sementara reciever DVB-S yang sudah HD di pasaran ada yang harganya tidak sampai tigaratus ribu. Satu unit LNB-C Band kisarannya limpapuluh ribu, antena parabola mesh/jaring tigaratus ribu. Tak perlulah Anda menjumlahkan angka-angka yang saya tulis itu. Tetapi saat berjalan-jalan ke pusat penjualan antena parabola di Pasar Genteng Surabaya, rata-rata pedagang menawarkan seperangkat lengkap antena parabola diluar biaya pemasangan pada kisaran tujuhratus ribu rupiah. Mahal? Sekali lagi, relatif.

Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
Si Paramount 6 feet.


Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.

Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.

25 Juni 2014

Korban Tepukan

SECARA pasti saya sudah lupa. Namun karena itu saya alami sebelum menikah, perkiraan saya, itu terjadi kalau tidak tahun 97 ya tahun 98. saat itu di kanan-kiri sekitaran pertigaan Rungkut masih semrawut, masih banyak sekali lapak pedagang kaki lima. Lebih-lebih malam Minggu. Berjajar di situ, mulai pedagang sepatu, baju, batu akik, bakso, gorengan dan masih banyak lagi yang lainnya..♫♪....

Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.

Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.

Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.

Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.

1 Juni 2014

Jula-juli Suroboyo

PILPRES digelar sak diluk engkas
dadi pemilih ayo sing cerdas
ojok golput ojok ora peduli
posisi presiden termasuk inti

negoro kito negoro gedhe
masalah sing onok ugo ora sepele
perkoro korupsi lan sak pinunggalane
butuh pemimpin sing tegas sikape

calon presiden wis ditetapno
siji Prabowo sing sijine Joko Widodo
ayok konco gunakno hak pilih riko
demi kemakmuran nuso lan bongso

sopo ae engkok sing dadi
ojok sampek nglalekne janji
ugo ojok salah ngangkat poro menteri
ojok sampek kliru ngingu tukang korupsi

nang negoro kito opo sing ora dikorupsi
mulai pengadaan kitab suci sampai biaya haji
kelakukan koruptor pancen nggilani
pantese iku dihukum mati*****



31 Mei 2014

Ayam Mainan

KADANG-KADANG ulah penjaja mainan anak-anak bikin jengkel juga. Dengan bunyi-bunyian, biasanya tit-tot, tit-tot, ia datang dimana anak anak-anak berkerumun di situ. Mainan yang dibawanya bisa macam-macam; mobil-mobilan, boneka, senapan-senapanan, robot-robotan dan sebagainya. Sementara, yang namanya anak-anak, sekali pun sudah punya yang sejenis itu, masih juga ingin punya lagi. Dilarang beli, tapi ia punya senjata andalan; menangis. Di situasi macam itu, si penjaja mainan malah tak jua pergi. Petaka datang kala harga di-mark up sedemikian rupa karena si kecil belum juga diam dari menangisnya.

Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.

Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.

Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****

Kambing Hitam Kampanye Hitam

BEGINI,” Kang Karib menunjukkan jari tengah dan telunjuk secara dempet ketika Mas Bendo bertanya siapa yang menang dalam Pilpres nanti.

Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.

Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”

Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”

Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”

Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”

Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”

Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”

Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”

Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”

Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”

Tidak begitu piye to, Kang?”

Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”

Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”

Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”

Sebahaya apa sih, Kang?”

Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”

Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”

Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”

Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”


Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****


25 Mei 2014

U n d a n g a n

SEMASA hidupnya, di kampung dulu, paman saya punya cara khas dalam memperlakukan undangan yang telah diterimanya. Ia mencantolkan pada paku undangan-undangan itu pada saka, kayu tiang utama rumah tuanya. Karena tiang itu persis ada di antara ruang tamu dan ruang tengah, orang akan dengan mudah mendapati lembar-lembar undangan itu. Dari yang paling baru sampai yang telah lama. Untuk mencari tahu yang lama juga bukan perkara sulit, bila warna kertasnya telah usang, ya itulah ia. Iya, bahkan undangan yang telah lama dihadirinya pun masih saja disimpan paman. Untuk apa? Untuk kebanggaan karena sebagai tanda orang blater, banyak kenalan yang telah pernah mengundangnya? Entahlah.

Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.

Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.

Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.

Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.

Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****





10 Mei 2014

Kepekaan Set Top Box

WALAU jumlah salurannya masih sedikit dibanding analog, tampilan siaran TV Digital tentu menang bening, bebas semut. Langkah jumlah televisi yang bersiaran di kanal digital memang masih tertatih, padahal minat masyarakat untuk bisa menyaksikan kanal digital termasuk lumayan. Ini bisa diketahui dari grup-grup di Facebook atau blog-blog yang mengangkat tema televisi digital sebagai kontennya. Belum lagi lapak-lapak online yang menjual set top box DVB-T2 dengan aneka merek. Lalu, yang manakah reciever yang bagus?

Perkara harga, di pasaran bisa didapati set top box mulai dari 300 ribu kurang sekian sampai dengan 400 ribu lebih sekian.

Saya mempunyai empat set top box mulai harga terendah sampai yang lumayan tinggi. Agar tidak menyebut merek, saya namai set top box saya itu mulai dari A, B, C dan D. Untuk yang A, karena barang itu baru berkelas DVB-T, tentu sekarang ia menjadi pengangguran karena siaran televisi digital yang ada sekarang ini semua telah memakai teknologi DVB-T2. Untuk yang B, sekalipun sudah berkelas DVB-T2, tepat setahun saya gunakan, tuner-nya sudah mati plethes. Ia, karenanya, lalu saya jadikan satu dengan si A agar istirahat dengan tenang di atas lemari. (Sekalipun begitu, sebenarnya si A dan si B sesekali masih saya pakai untuk memutar film via USB/flashdisk yang saya rekam memakai set top box).

Nah, yang masih aktif saya pakai sekarang ini adalah si C dan D.
Si C adalah merek yang populer di pasaran. Dibanding keluaran terbaru yang sudah EWS dengan bentuk bodi yang makin mini, punya saya itu masih keluaran pertama yang belum multi view. Bagaimana dengan kekuatan tuner-nya?

Begini ceritanya. Dengan memakai si C itu, siaran yang bisa diterima di Surabaya ini adalah MUX 506MHz/Ch.25 (MetroTV dkk), lalu 522MHz/Ch.27 (TransTV, Trans|7 dan KompasTV), 586MHz/Ch.35 (TVRI_NAS_ TVRI_SURABAYA, TVRI_3 DAN TVRI HD). Itu saja yang bisa dinikmati dengan sempurna. Sementara MUX 490MHz/Ch.23 (tvOne dan antv) sudah dua minggu ini menghilang dari udara. Sedangkan untuk MUX 538MHz/Ch.29 (SCTV NETWORK, INDOSIAR NETWORK, O CHANNEL NETWORK, Live Feed $ dan Elshinta Radio $, sekaipun ada sinyal, tetapi gambar di layar seperi kaset CD rusak). Lain lagi dengan MUX 634MHz/Ch.41 (RCTI, MNCTV, GlobalTV) sekalipun sinyal ke-detect, tetapi tidak bisa di-lock.

Tadinya saya duga MUX SCTV dkk dan MUX RCTI dkk itu secara power belum memakai secara penuh, sehingga belum bisa ditangkap dengan sempurna. Tetapi, “Tidak, Mas. Di daerah saya sinyalnya bagus itu. Saya pakai set top box merek D,” komentar teman saya lewat ponsel.

Dan benarlah adanya yang dibilang seorang teman itu. Setelah saya mencoba memakai set top box merek D, dengan antena yang sama + pesawat televisi yang juga sama, kedua sinyal dari MUX yang oleh set top box merek C tidak bisa diterima dengan sempurnya, bisa ditampilkan dengan bagus sekali. Padahal, secara harga, si D ini selisihnya lebih murah 25 ribu dibanding si merek C.


Yang ingin saya katakan adalah, kepekaan tak selalu berbanding lurus dengan kemahalan harga sebuah set top box. Bagaimana menurut pengalaman Anda? *****

25 April 2014

Terpaksa Ikhlas

SEDIKIT demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Istilah ini bisa disertakan dalam semangat menabung, juga untuk hal lain. Korupsi, misalnya. Dan korusi itu, sepertinya, tak melulu dilakukan oleh orang besar dengan nominal yang besar. Tetapi juga oleh orang kecil dengan besaran yang tak seberapa. Tetapi, sekecil apapun nilai, akan membesar akhirnya bila dilakukan secara terus-menerus dalam jangka yang lama mengacu pada rumus 'sedikit demi sedikit' tadi.

Tak perlu terlalu mengerutkan kening untuk mencari contoh yang beginian ini.

Untuk sebuah keperluan, kemarin siang saya mendapat tugas ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya. Setelah itu mampir ke Pasar Elektronik Genteng untuk lihat-lihat reciever DVB-T2 lanjut ke PMI untuk donor darah. Di ketiga tempat itu hal yang saya catat adalah soal parkir.

Pertama, saat akan ke kantor Dinas LH, saya memarkir si Nenen (begitu si bungsu menyebut SupraX 125 tunggangan saya ini) di seberang warung sate di seberang perkantoran Pemkot tidak jauh dari Puskesmas Ketabang. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok berompi hijau menghampiri dan menyerahkan selembar karcis parkir. Tertera disitu tarifnya; limaratus rupiah.

Tetapi setelah urusan saya di Dinas Lingkungan Hidup selesai dan saya mengambil motor, selembar duaribuan yang saya serahkan langsung masuk saku tanda ada kembalian. Harusnya saya minta kembalian seribu limaratus sebagai hak saya sebelum pergi meninggalkan lelaki tua berkulit hitam karena saban hari kepanasan itu. Tetapi demi melihat lelaki bongkok yang masih semangat bekerja di usianya yang tak lagi muda itu, saya memilih untuk berbaik hati; mengikhlaskannya saja.

Kedua, setelah melihat-lihat di lantai dua pasar Genteng, di tempat parkir saya membayar. “Duaribu, Pak,” kata si tukang parkir, kali ini usianya masih muda.

Lho, bukannya di karcis tertera seribu rupiah?” saya protes.

Iya, Pak. Tetapi duaribu,” katanya teguh pendirian.

Iya, wis. Sekali lagi saya mengalah. Jaman sekarang, uang seribu dapat buat beli apa sih?

Ketiga, sebelum balik ke tempat kerja, saya ke PMI. Selepas donor darah, di tempat parkir, saya menyerahkan karcis dengan tanpa saya sertai uang. Karena di kertas parkir memang tertulis; gratis. Tetapi, seorang yang mengambil motor sebelum saya, terlihat menyertakan uang seribu rupiah ke tukang parkir PMI di Embong Ploso ini. 
 
Begitulah. Diantara betir-butir keringat tukang parkir, ada 'rezeki tambahan' yang terus mengalir. Padahal, selembar karcis resmi, bisa dipakai berulang-ulang kali. Lalu, kemana kelebihan pembayaran itu menuju? Dan berapa jumlah rupiah yang harus mereka setorkan ke pihak yang berwenang?

Kekurangan kembalian dari yang dibayarkan, karena jumlahnya tidak seberapa, kadang dengan terpaksa diikhlaskan. Tetapi apakah sebentuk keikhlasan namanya bila itu dilakukan dengan terpaksa? *****