Rabu, 10 Agustus 2016

Giliran Menggali Kubur

PENGERAS suara yang terpasang di menara masjid di kampung saya, secara rutin tentu saja mengumandangkan adzan di lima waktu sholat. Tetapi selain itu, adakalanya digunakan juga untuk memanggil anggota Ishari untuk berkumpul sebelum mengahadiri undangan ke suatu tempat. (Dalam hal ini saya sempat membatin, apa anggota kelompok hadrah itu tak memiliki ponsel ya kok sampai dipanggil dengan cara memanfaatkan TOA masjid?). Selain dua hal tersebut, speaker masjid secara waktu tak tentu (bisa pagi, malam, sore atau dini hari) juga dimanfaatkan untuk menyampaikan kabar duka bila ada warga yang meninggal dunia.

Tidak seperti kebiasaan di desa asal saya yang untuk mengebumikan orang meninggal harus menunggu waktu (menunggu berkumpulnya sanak famili yang kadang bertempat tinggal di tempat jauh, sehingga tak jarang mayat diinapkan walau meninggalnya masih sore hari), disini berjarak tiga jam dari pengumuman yang disebarluaskan dari pengeras suara masjid, semua prosesi pemakaman telah selesai. Tak peduli siang, tak peduli malam. Mungkin, tak peduli juga sanak famili belum semuanya datang.

Hari-hari ini, bila ada kabar duka cita berkumandang dari manara masjid, saya ikut menyimak juga; apakah yang meninggal itu masih satu RT dengan saya atau tidak. Pasalnya, di dinding teras rumah saya sejak dua minggu yang lalu tergantung tanda 'palang merah'. Itu pertanda, bersama enam tetangga lainnya, saya sedang dapat giliran menggali kubur bila ada salah satu warga di RT kami yang meninggal.

Ini akan menjadi pengalaman kedua sejak saya tinggal di kampung ini mulai tahun 2009 yang lalu.

Menggali kubur? Bukankah telah ada petugas khusus yang dibayar melalui iuran rutin warga? Mungkin itu kebiasaan di tempat lain, dan boleh jadi di tempat lain lagi ada yang dalam menggali kubur tak menunjuk petugas khusus dan semua prosesi dari A sampai Z dilakukan secara gotong royong. Begitulah; dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.

Saya belum bertanya sejak kapan dan oleh siapa peraturan menggali kubur secara bergiliran itu di kampung ini diterapkan. Namun saya berbaik sangka saja. Kalau bertakziyah kepada orang yang meninggal mempunyai efek baik agar kita selalu ingat mati, apalagi dengan ikut menjadi penggali kubur (yang dalam proses penggalian tak jarang menemukan tulang-belulang). Tentu bobot ingat mati akan makin tinggi dan makin menyadari kelak siapapun kita di kuburan akan tersisa tulang-belulang. *****


Sabtu, 23 Juli 2016

PKL, PR Abadi Kota

BEBERAPA tahun yang lalu, di sepanjang jalan Jagir sisi sungai itu berjajar rapat sekali rumah semi permanen dengan aneka usaha. Mulai bengkel mobil, bengkel motor, warung makan, pandai besi, sampai tempat praktik dokter. Ohya, ada mushollanya juga. Padahal, secara hukum, mereka menempati tanah negara. Dalam arti kata, menempatinya secara ilegal, walau katanya sih tinggal dan membuka usaha disitu bukan gratis semata. Bahkan sudah bergonta-ganti 'pemilik' dengan nilai jual-beli yang tak terbilang murah. Itu pertama. Kedua, dengan PLN berkenan memberikan layanan listrik di area situ, membuat semua menjadi baik-baik saja dan seperti tidak melakukan pelanggaran apa-apa.

Dulu saya pernah ke salah satu rumah disitu untuk suatu keperluan dan ketika saya menengok ke belakang rumah, oh bahaya sekali; langsung menghadap bibir sungai. Kalau lagi apes dan terpeleset, untuk mencarinya bisa jadi perlu bantuan tim SAR.

PKL adalah sekelompok orang dengan keuletan berusaha yang gigih sekali. Dimana ada peluang, disana mereka akan berdagang. Sampai kurang peduli bahwa lahan yang mereka tempati adalah area terlarang. Di bibir sungai, di atas saluran, di depan pasar dan sebangsanya. Sebentar saja tak ditindak, jumlah mereka akan beranak-pinak. Sampai mampu mematikan usaha lain sejenis yang punya tempat permanen dan resmi. Bayangkan, PKL tak sungkan menjual sepatu di depan toko sepatu. Dengan kegigihan berkadar 24 karat, untuk menggusurnya pun tidak setiap pemimpin daerah mampu menuntaskannya.

Anda sudah pernah jalan-jalan ke Singapura? Atau ke Paris? Kalau sudah, berarti Anda telah bisa menyaksikan betapa bersihnya jalanan di sana. Kalau belum pernah, ah kita sama. Karena belum pernah ke luar negeri, tentu akan tak afdol kalau saya nggedabrus bercerita tentang tempat-tempat dimaksud. Baiklah, saya akan bercerita tentang di kota ini saja, Surabaya.

Lagu Bis Kota yang dinyanyikan Franky adalah potret Surabaya tahun bahuela. Yang masih panas. Sekarang, taman ada dimana-mana. Di sepanjang jalan di seantero kota, selalu ada rindang yang diciptakan. Pohon-pohon dan bunga-bunga juga air mancur di berbagai sudut kota, diniatkan agar kota ini menjadi tak panas-panas amat.

Seorang kawan dari kota sebelah sempat iri dengan pembangunan di kota ini. Pembuatan saluran/box culvert yang sepanjang tahun tak pernah berhenti demi bisa mengusir banjir, dan pembanguan infrastruktur penunjang lainnya. Walau kalau diamati, masih saja terjadi malfungsi ketika sarana itu jadi. Trotoar, misalnya. Area pejalan kaki yang dipasang keramik dengan motif apik yang di bangun di atas box culvert di kanan-kiri jalan, malah acap menjadi 'jalan lain' bagi penunggang motor yang tak sabar bermacet-macet ria.

Inilah salah satu problem abadi setiap kota di masa kini; seberapa pun jalan dilebarkan, selalu akan segera dipenuh-sesaki oleh kendaraan. Dan semua akan menjadi semakin ruwet tidak karuan bila sama-sama kurang mengedepankan kesadaran. Ya masyarakatnya, ya pemerintahnya, ya semuanya.

Pagi tadi saya berangkat kerja dan mendapati dua lokasi PKL telah diratakan dengan tanah dan, tentu saja, akan difungsikan disitu sesuai peruntukannya. Satu di jalan Dinoyo, satunya lagi di depan Gelora Pancasila jalan Indragiri. Kemana para PKL itu setelah ini mencari nafkah, tentu perlu (mungkin telah) dipikirkan oleh pihak penggusur. Itu secara moralnya memang demikian, walau mereka adalah pihak yang salah. Tetapi, para pedagang kaki lima bukanlah makhluk rapuh yang gampang punah. Tunggulah: disini merena digusur, sekian waktu berikutnya, di tempat lain, mereka akan tumbuh lagi. Ingat, sesuai namanya, mereka adalah pedagang kaki lima, bukan sekadar kaki tiga!*****

Kamis, 19 Mei 2016

H A H

CUACA yang mendung ditambah pepohonan yang rimbun di area bermain anak-anak di pantai itu, membuat suasana nyaman sekali. Lebih menyenangkan karena saya lihat si kecil saya senang sekali berada di situ. Sebuah acara liiburan yang murah meriah sekaligus tak perlu jauh dari rumah. Dalam arti berikutnya; kantong tak akan terlalu bolong karenanya.

Jajanan yang ada pun tak mahal-mahal amat, permainan ayunan dan sebangsanya malah gratis belaka, sudah jadi satu dengan karcis masuk. Di antara waktu menemani anak bermain, saya lihat seorang lelaki mengais rejeki atas bantuan monyet. Tak hanya seorang, saya lihat ada beberapa lelaki berlaku begitu; kesana-kemari menggelar tontonan topeng monyet.

Tidak seperti yang pernah saya lihat di kampung, yang tontonan topeng monyet masih menggunakan gamelan asli dan bukan rekaman yang diputar lewat pengeras suara, yang ini lebih simpel, cukup pakai speaker kecil bersuara nyaring tetapi cemplang bertenaga accu kecil dan tak perlu berbagi penghasilan dengan penabuh gamelan. Untuk si aktor utama, ya si Sarimin atau entah siapa nama monyet itu, cukuplah dibelikan pisang.

Tetapi siang itu, si Sarimin sedang mogok kerja. Entah karena sedang tidak mood oleh suatu sebab, ia tak mau menuruti kemauan tuannya untuk melakukan sebuah atraksi. Musik gamelan terus diputar, dan lewat tali tambang yang terhubung ke rantai yang melingkari leher Sarimin, si tuan membuat aba-aba tertentu agar si Sarimin beraksi. Nihil, tiada hasil. Sebuah tindakan yang lantas membuat tarikan kuat rantai di lehernya bukan lagi sebagai aba-aba, tetapi lebih kepada amarah si tuan. Saya membayangkan, duh betapa sakit leher si Sarimin diperlakukan begitu.

Hewan tak mau beratraksi sesuai aba-aba pernah pula saya saksikan saat menonton sirkus lumba-lumba. Ya walau kesitu demi menuruti keinginan anak, saya toh kemudian merasa bersalah telah ikut menonton pertunjukan yang ternyata konon amat menyiksa si pemeran utama itu.

Rabu, 27 April 2016

Sukses itu Biasa

SUKSES bagi saya adalah hal biasa, hal yang luar biasa adalah bila saya gagal.
 Sutiyoso, Kepala BIN.


Senin, 04 April 2016

Mengintip Toilet VIP

Toilet VIP (Foto: M. Faizi)
DALAM perjalanan darat jarak jauh, hal kecil macam buang air kecil bisa menjadi bukan perkara kecil. Terlebih ketika kita tak membawa baju ganti untuk sholat. Pilihan pertama tentu SPBU yang selalu menyediakan toilet. Beberapa SPBU menggratiskan fasiltas ini sebagai bagian dari layanan mereka. Walau, bisa jadi, yang mampir kesitu murni hanya untuk numpang pipis dan tak mengisi BBM karena tandon di tanki kendaraan masih banyak. Sekalipun gratisan, beberapa SPBU memperhatikan betul kebersihan toilet dan ketersediaan airnya, walau di beberapa SPBU lainnya saya dapati tidak begitu; kondisinya relatif jorok dan tiada air pula.

Pilihan buang air berikutnya adalah di toilet masjid-masjid di pinggir jalan. Tiada tarifnya, hanya biasanya disediakan kotak amal di pintu masuk toilet dan tiada yang menjaga. Artinya; seikhlasnya saja. Tak mengisi pun tak mengapa walau kebangetan saja kiranya.

Toilet VIP tampak dari luar. (Foto: ewe)
Setiap pulang kampung dan melihat di daerah Grati, Pasuruan, ada toilet VIP di sebuah SPBU, saya selalu penasaran. Beberapa kali ingin mampir sekadar mengintip toilet VIP itu, kok eman-eman saja. Uang sepuluh ribu rupiah sebagai tarifnya saya rasa terlalu mahal untuk sekadar sebagai ongkos pipis. Karena bukankah di SPBU lain kita bisa langsung kabur setelah pipis mak-cur? Lha kok ini mesti bayar segala, sepuluh ribu pula.

Kalau yang VIP ada showernya, air hangat pun selalu tersedia,' kata petugas kafetaria di SPBU itu menerangkan ketika saya tanya. “Kalau toilet biasa ada di sana, tarifnya lima ribu rupiah,” lanjut lelaki ramah itu menunjuk deretan toilet di sisi kanannya.

Oh, yang sepuluh ribu itu untuk dana kebersihan to? (Foto: ewe)
Saya mengedar pandang; meja kursi tertata rapi di indor maupun outdor, pula ada beberapa sarana bermain anak-anak di halaman samping kafetaria. Benar-benar tempat istirahat yang nyaman untuk melepas penat dalam perjalanan. Untuk urusan perut pun tersedia. Walau, kalau melihat sebotol air mineral dan snack yang saya beli disini tadi berharga hampir dua kali lipat dari harga barang serupa di minimarket, bukan tidak mungkin harga makanan disini juga agak tak ramah kantong bagi orang seperti saya.

Lelaki kasir kafetaria yang ramah itu memanggil seorang bapak cleaning service ketika saya bilang akan melihat-lihat bagian dalam toilet VIP yang tarifnya selangit itu. Ya, di dinding depan toilet VIP itu memang tertempel pemberitahuan harus memanggil petugas kalau hendak menggunakannya.

Head dan hand shower dengan air panas dan dingin. (Foto: ewe)
Bapak cleaning service itu membukakan untuk saya toilet nomor dua dari deretan kamar toilet VIP yang ada. Menyalakan lampunya, menghidupkan exhaust fan-nya lalu dengan sopan menyilakan saya masuk ke dalam.

Saya menghitung dinding keramiknya dan mendapati ukuran 1,5 x 1,6 meter luasnya. Ada head shower dan hand shower-nya, ada pula tissuenya. WC duduknya pun bersih tanpa kerak. Setelah menutup pintu dari dalam, saya menarik nafas agak dalam dan tak mendapati bau pesing tersisa masuk ke lubang hidung saya, walau sayangnya tak pula terdapat pewangi ruangannya.

Bersih, tidak pesing  tapi juga tidak wangi. (Foto: ewe)
Dengan ventilasi memadai ditambah exhaust fan yang menyala, menjadikan saya tak kegerahan di dalam walau cuaca di luar begitu teriknya. Dengan cuaca seterik di luar itu, tentu air hangat kurang berguna, karena mandi pakai shower dengan air dingin tentu lebih mak-nyus segarnya. Oh, tidak, saya tidak mandi. Saya hanya pipis saja.

Betul, kalau masuk menggunakan toilet VIP itu sekadar untuk buang air kecil semata, tentu sama dengan buang-buang uang saja. Sepuluh ribu rupiah, bos. Uang segitu sudah bisa untuk beli BBM jenis Pertamax satu liter lebih, atau dapat empat bungkus jajan cenil atau klepon di bunderan Gempol sana sebagai buah tangan bagi anak-anak di rumah.****




Kamis, 24 Maret 2016

Selamat Tinggal TV Digital

TENGOKLAH bilah samping kiri blog ini; posting yang nangkring teratas sebagai yang sering dibaca adalah mengenai tv digital. Beratus-ratus komentar mampir di salah satu artikel saya tentang pengganti sistem analog dalam dunia pertelevisian itu. Tandanya, masih banyak yang berminat menikmati siaran tv digital terrestrial yang sayangnya sampai kini progress-nya hanya begitu-begitu saja. Ya, bisa jadi saya salah. Bisa jadi regulasi yang lebh matang telah siap dieksekusi untuk diterapkan di lapangan, dan sebagai pemirsa kita akan sangat dimanjakan dengan gambar-suara bening plus konten siaran yang banyak sekali dengan genre dan segmentasi beragam.

Memanfaatkan dish kecil ex pay tv.
Jujur, sejak asyik belajar tracking pakai antena parabola, saya sudah agak lama tidak melihat konten siaran pada kanal digital terrestrial, sehingga kalau ditanya ada berapa channel yang sekarang on air di Surabaya ini, saya hanya bisa angkat bahu; tidak tahu.

Tentang tv digital, boleh jadi kita yang tinggal di kota ini sudah ketinggalan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman. Sementara kita yang di kota masih mengharap digital terrestrial (sitem penyiaran yang dipancarkan lewat antena pemancar) mereka sudah menangkap dengan kualitas HD siaran dari banyak satelit, tidak cuma siaran yang terpancar dari satelit Palapa dan Telkom saja. (Eit, eit, jangan bicara yang pay tv ya, saya sedang bicara tentang yang FTA saja, walau –dengan reciever tertentu yang bisa dipakai fly-- saudara kita di pedalaman sudah bisa menembus ke konten premium yang masuk dalam jajaran channel pay tv).

Salah satu, dari sekian banyak channel, yang Coming Soon.
Kecuali parabola milik pay tv, bukankah yang untuk FTA ukurannya sebesar gajah dan makan tempat. Padahal rumah kita di kota kurang ada tersedia tempat untuk menaruh dish yang minimal berdiameter 1,6 meter itu. Kendala inilah yang sepertinya dibidik Ninmedia, sebuah perusahaan yang menghimpun pemilik konten siaran untuk menayangkannya lewat satelit secara gratis (FTA-- Free to Air) dengan menggunakan parabola kecil type offset seperti yang lazim digunakan pay tv.

Ya, kita masih sedang membicarakan satelit Chinasat11 yang kini hangat diperbincangkan, yang konon nanti berisi lebih dari 200 (baca: duaratus!) konten siaran dan itu gratis selamanya. Dengan jangkauan (beam) seluruh Indonesia, ia manjadi momok bagi program tv digital yang kita ungkap di awal tulisan ini.
Gambarannya begini; demi bisa bersiaran di kanal digital terrestrial, sebuah lembaga penyiaran yang tidak memenangi pengadaan MUX, harus menyewa kepada si pemenang dengan harga sekian puluh juta rupiah sebulan untuk jangkauan satu kota tertentu. Katakanlah ia akan bersiaran di lima kota, kalikan saja biaya sewa MUX itu dengan nominal tersebut. Sementara, dengan menyewa slot siaran di satelit Chinasat11, ambil contoh, penyelenggara siaran cuma membayar konon hanya 150 juta rupiah sebulan dengan jangkauan seluruh Indonesia. Simpel mana, coba. Dan murah mana? Tentu murah sewa slot satelit Chinasat11 bukan?

Kini, yang sudah aktif baru 1 transponder (dari lima yang haknya dipegang Ninmedia) dan masing-masing transponder akan berisi 45 slot siaran. Beberapa stasiun televisi lokal/nasional yang telah mengudara di situ (MetroTV, tvOne, antv, Net, BeritaSatu, KompasTV, TransTV, Trans|7, RajawaliTV, Prambors, PopularTV, Saluran Film Indonesia, SportOne dll –kalau MNC grup juga sudah berada disitu, lengkap sudah channel Palapa-Telkom di Chiansat11), dan saluran lain masih dalam tahap Coming Soon.

SportOne, saudara antv dan tvOne,
sudah mengudara di Chinasat11.
Ambil misal SportOne, banyak orang menunggu stasiun televisi khusus olahraga pertama di Indonesia itu menngudara via MUX Viva bersama antv dan tvOne (karena memang satu grup), tapi justru kini ia telah mengudara secara nasional lewat Chinasat11. Bagaimana, apa masih terlalu berharap pada kanal digital terrestrial?

Memang STB (Set Top Box) alias reciever untuk satelit harganya malah lebih murah dari DVB-T2, tetapi kan harus ganti antena. Come on, Anda bisa pakai antena pay tv jenis Ku band yang nganggur di atas itu yang sudah lama tak berfungsi karena Anda telah berhenti melanggani sebuah pay tv tertentu. Atau, kalau tidak ada, carilah ke pengepul barang rongsokan, niscaya –kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkannya dengan harga yang sama sekali tak akan menguras isi kantong.

Lalu kalau Anda punya waktu, tracking-lah ke posisi 98.0ยบ E, masukkan frekuensi 12500 V 43200, dapat deh konten-konten yang saya sebut di atas. Atau, kalau belum-belum sudah merasa ribet dan tak punya waktu dan skill, panggillah teknisi untuk keperluan itu. Itu kalau Anda tak punya waktu tetapi punya uang. Hehe...

Kemudian, kalau sudah kita dapatkan konten siaran yang buanyak sekali di Chinasat11 itu, mari bersama berujar, “Selamat tinggal tv digital terrestrial...” *****


Jumat, 18 Maret 2016

Yayasan Nurul Hayat, Hebat!


MENDAPAT giliran ketempatan pengajian rutin, walau dalam klausul, shohibul bait tak perlu terlalu repot menyediakan ini-itu dan cukup air putih saja, tetapi ya repot juga. Tamu adalah raja yang harus dihormati. Air putih tentu baik dan akan lebih baik lagi bila ada temannya. Ya gorenganlah, kacanglah atau yang semacamnya. Ia menjadi teman ngobrol setelah yasinan selesai.

Tetapi istri saya punya usul lain, “Bagaimana kalau kita beraqiqoh sekalian?” sebuah ide yang langsung saya setujui.

Menurut saya, ia menjadi praktis karena kami tak perlu mengundang ratusan orang secara satu per satu, karena ratusan anggota pengajian akan datang sendiri sesuai pengemumun di acara rutinan sebelumnya. Tentu, kami juga mengundang tetangga kanan-kiri yang kebetulan tidak ikut sebagai anggota pengajian. Lalu bagaimana kami mengolah daging kambing aqiqoh? Memasak sendiri (dengan bantuan tetangga tentu saja) atau memesan aqiqoh siap saji ke jasa yang melayani keperluan itu. Tetapi yang mana? Kan banyak sekali yang mengiklankan jasanya dengan menempelkan pamflet di pinggir-pinggir jalan?

Seorang tetangga berbaik hati memberi kami saran untuk memakai sebuah jasa layanan aqiqoh, “tetapi pesannya lebih baik agak dekat dengan hari H, karena kalau terlalu lama, akan ada tambahan biaya memelihara kambing aqiqohnya,” ia menerangkan.
Sebuah keterangan yang lalu kami simpulkan kami kurang tertarik memakai jasa layanan itu. Saya sih sebenarnya sudah punya gambaran. Seperti kalau air mineral ya Aqua, atau kalau pompa air ya Sanyo, kalau aqiqoh ya Nurul Hayat.

Kamis, 17 Maret 2016

Jejak Pencari Cicak


TENGAH malam kemarin, kami bicara kesana-kemari di teras rumah saya. Dari nama cucu pertama presiden Jokowi yang jan njawani tenan; Jan Ethes. Nama itu akan terbaca seperti kebarat-baratan bagi yang kurang paham istilah Jawa. Saya setuju, nama adalah juga doa dari orang tua untuk si jabang bayi. Dan Jan Ethes tentu sangat lebih baik dibanding Jan Nggapleki, misalnya.

Kami, tentu seperti siapapun yang seperti para pengamat di televisi. Yang pinter ngomong aneka topik dengan sangat ndakik. Bedanya, mereka terkenal dan dibayar, sementara kami bicara sepenjang malam tentu hanya mendapati busa muncul di sudut bibir. Apa coba yang tidak bisa kami bicarakan? Ndak ada. Semua bisa. Cerita tentang Saipul Jamil atau tentang si Jessica memang sudah rada redup ditayang di layar kaca, tetapi –kalau mau-- kita tak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan.

Saya bulan-bulan terakhir ini dengan sengaja mengurangi menonton berita di televisi dan atau membaca koran. Saya ingin membuktikan, tidak mengikuti berita yang beredar pun tidak masalah. Tak apa-apa kan mengistirahatkan pikiran dari ha-hal yang tidak kita ketahuipun tidak apa-apa. Bukankah sekarang sumber bacaan bertebaran banyak sekali dan akan lebih menyenangkan membaca hal-hal yang menyenangkan ketimbang mengikuti berita politik yang sering (dibikin) tak jelas ujung pangkalnya itu.

Disaat ingin membaca hanya yang menyenangkan, saat dalam obrolan ngalor-ngidul di tengah malam itu saya mendengar ada bupati muda yang baru sebulan dilantik dan sekarang ketangkap BNN dalam kasus narkoba, duh jan saya menyesal sekali. Menyesal sekali saya tahu berita itu. Karena tak mengetahuinya pun saya rasa saya tak akan menderita migrain atau kesemutan.

Ketika obrolan makin tak tentu arah dan kami saling menimpali dengan argumen masing-masing, dua orang melintas di gang depan rumah dengan memakai lampu di kepalanya dan setangkai tongkat berujung pipih dan lentur yang telah diolesi lem. Bukan, mereka bukan pencari kodok karena di tempat kami tak ada kodok ngorek yang teot-teot teblung itu.

Cari apa, Kak?” tanya saya dalam bahasa mereka karena saya dengar tadi mereka bicara dengan bahasa daerah yang kebetulan saya juga bisa.

Cari cicak,” jawab salah satu dari mereka.

Cicak? Buat apa?”

Buat dijual.”

Mengalirlah percakapan tentang harga cicak yang kalau sudah dikeringkan menjadi berharga 400 ribu rupiah padahal kalau dijual basah cuma sehraga 40 ribu rupiah per kilogramnya. “nDak tahu itu dibikin apa, yang penting saya cari dan menjualnya ke juragan yang menampungnya di Leces, Probolinggo sana,” jawabnya saat saya tanya cicak itu akan diproses manjadi jamu atau apa.

Ini dia. Kalau sebelumnya ada tokek yang bisa berharga sampai puluhan juta per ekor dengan berat dan ukuran tertentu, lha kok ini ada cicak yang nilai jualnya jan menggiurkan.
Nah, itulah hal sederhana yang lebih menggairahkan untuk dibicarakan ketimbang berita-berita tingkah polah selebritas pada tayangan infotainment yang kadang jan nggilani tenan.*****

Jumat, 04 Maret 2016

Tracking Chinasat-11

 
Dish ex OrangeTV untuk menembak Chinasat-11
difoto dari arah utara.
SEBAGAI Tracker Anyaran alias newbie, di saat banyak kawan forsat ngomongin satelit Chinasat-11 yang berisi siaran televisi lokal Indonesia, ikut penasaran juga saya akhirnya. Berbekal dish lengkap dengan LNB ex OrangeTV, Minggu pagi kemarin saya tracking satelit yang mengorbit pada 98.0° E itu.

Koleksi altem; Palapa-D, Telkom-1, Asiasat7 dan Chinasat-11.
Tetapi, karena kondisi dish bekas itu sudah karatan, sebelumnya saya cat dulu menggunakan cat anti karat / zyncromat. Setelah semua siap, saya pasang dish itu pada tiang yang sebelumnya sudah saya siapkan. Berbekal satfinder, menjadikan saya tak perlu lagi membawa reciever dan tv portable saat tracking.

Jujur, ini pengalaman pertama saya tracking sinyal Ku band. Tetapi, karena sebelumnya saya sudah membaca di forum-forum persatelitan tentang satelit Chinasat-11 dan kemana dish harus dihadapkan, menjadikan saya tak buta-buta amat.

Artikel terkait: Selamat tinggal siaran televisi digital.

SQ lumayan luber, rx Matrix Prolink HD PVR.
Iya, sesuai yang pernah saya baca, arah dish saat nembak Chinasat-11 adalah barat agak ke utara. Atau, arah antara jam 10-11-lah. Nah, sambil mengarahkan dish ke yang dimaksud, saya tak perlu melihat layar display satfinder, karena pada menu find satellite sudah saya setting pada satelit tersebut sekaligus sudah saya masukkan frekuensi 12500 V 43200. Setelah beberapa saat 'goyang dumang', ada bunyi melengking dari satfinder saya. Itu tandanya sinyal yang saya cari sudah nyangkut. Tinggal mengepaskan saja, tinggal memaksimalkan saja. Saya turun dari atap setelah saya mendapat SQ maksimal yang mampu saya dapatkan, yakni 73% untuk Strenght, dan 75% untuk Quality.

Salah satu channel: PopularTV, rx Matrix Apple III HD PVR
Nah, begitu saya scan memakai reciever Matrix Prolink HD RVR milik saya, ternyata lumayan hasilnya. Berhasil sudah saya menembak setelit Chinasat-11. Lumayanlah, bisa menambah koleksi channel. 

Selain mencoba scan menggunakan dua reciever Matrix type berbeda, saya tertarik pula untuk menjajal memakai reciever ex OrangeTV Ku-band yang merek Konka. Setelah sebelumnya sempat agak bingung bagaimana cara menambahkan satelit baru pada reciever tersebut, akhirnya berhasil juga saya mengunci si Ninmedia di Chinasat-11. 
Channel-channel Ninmedia (Chinasat-11) rasa OrangeTV.
 

Dari beberapa artikel yang sempat saya baca; tidak semua reciever ex pay tv bisa untuk me-lock Chinasat-11. Tetapi, tentang merek dan ex pay tv apa saja, itu yang saya kurang tahu. Karena punya saya ya cuma ex OrangeTV Ku--band itu. Kalau Anda punya pengalaman, silakan di-share di komentar artikel ini dong. Oke?*****

Kamis, 03 Maret 2016

Hati adalah Antena

HATI ibarat antena televisi bagi hidup. Untuk mendapatkan gambar dan suara yang jernih, arah antena harus pas dan tiada penghalang ke arah pemancar atau satelit. Bila hati kita selalu tertuju ke arah yang tepat, ke Dzat Yang Maha Memancarkan, niscaya hidup akan jernih dan tiada yang perlu dirisaukan. *****

Jumat, 19 Februari 2016

LGBT dan Kepunahan Generasi

MASA kecil dulu, setelah mengaji, hampir tiap malam kami nonton pertunjukan ludruk di gedung kesenian di kampung kami. Sebagai anak-anak, kami nunut ke siapa saja yang membeli karcis. Menggandeng tangannya, agar penjaga pintu masuk menganggap kami anak atau keponakannya.

Sebagai anak-anak, kami dibiarkan saja masuk ke ruang belakang panggung, tempat para pemain berdandan sebelum tampil. Di antara mereka, ada beberapa lelaki yang kemayu. Kami menyebutnya wandu. Biasanya mereka akan tampil setelah tari pembuka, remo. Bersanggul segede ban truk, memakai kebaya dan kain panjang, mamakai bedak dan lipstik rada menor, berbuah dada seruncing gunung Semeru, tetapi berjakun. Walau suara dalam tampilan koor tembang-tembang Jawa itu sudah diperempuan-perempuankan, tiada yang tak tahu kalau mereka adalah laki-laki.

Di luar jam pertunjukan, beberapa kali saya melihat diantara mereka. Yang tetap kemayu, tetap melambai, mungkin peran yang terlalu didalami sehingga kebawa di luar panggung. Atau, mereka memang lebih nyaman sebagai wandu ketimbang lelaki.

Saat SMP, di kelas saya punya dua orang teman yang kemayu begitu. Tindak-tanduknya gemulai, dan kalau berantem; saling jambak rambut dan mencubit. Jan persis perempuan. Sebagai remaja keren (ekhm, ekhm...) kala itu saya takut juga. Masa puber yang biasanya selain ditandai dengan panen jerawat, mulai timbul pula ketertarikan kepada lawan jenis, teman saya yang kemayu itu makin kentara saja kalau suka sesama 'pisang goreng'. Sebagai juga pemilik pisang goreng, saya harus jaga jarak. Kalau sampai si kemayu itu naksir saya, hiiii...... bisa gajah makan kawat; gawat.

Kini, kabar terakhir yang saya dapatkan, salah satu kawan kemayu saya itu sukses di Denpasar dan selain telah memiliki beberapa salon juga telah memiliki 'suami'. Bahkan, karena telah punya banyak uang, kabarnya ia telah melakukan operasi mengganti pisang gorengnya menjadi terang bulan.

Minggu, 14 Februari 2016

D i e t

Ilustrasi gambar: google
ANGKA pada timbangan di ruang Male Spa itu menunjuk angka 74,4 saat saya berdiri di atasnya. Oh, naik banget nih berat badan saya. Gara-gara sudah agak lama tidak donor darah, yang proses awalnya termasuk harus timbang badan dulu, menjadikan saya tidak tahu perkembangan berat badan saya. Terakhir donor mendapati bobot saya 68 kilogram, tahu-tahu sekarang naik 6,4 kg!

Saya harus diet!

Dasar saya ini tidak terlalu pintar, yang saya tahu tentang diet adalah mengurangi porsi makan. Dari yang biasanya setiap makan nasinya sepiring munjung, kini cuma sepertiganya saja. Yang penting sayur, yang penting buah. Untuk sayur, tidak terlalu ada masalah; di depan rumah ada pohon turi, yang tiada lelah berbunga saban hari. Untuk buah, ada sih pohon belimbing yang sudah mulai berbuah, tapi ya itu, buahnya kunthing, kecil-kecil. Padahal, di lemari es, dominasi isinya adalah air dan es belaka. Buah seperti apel, jeruk dan lainnya, cuma kadang-kadang saja menghuninya, hanya di tanggal muda.

Pendek cerita, sejak saya tahu bobot saya segitu, saya melakukan pengurangan porsi makan. Dan dua hari berselang, ketika ke Male Spa lagi, saya melakukan timbang badan. Hasilnya; pada display tertera angka: 72,4 kgs. Wah, hebat ini, berhasil ini diet saya. Dalam hitungan saya, kalau dua hari saja turun dua kilo, dalam sepuluh hari berat badan saya bisa tinggal limapuluh sekian kilo. Atletis banget. Dan untuk membentuk perut ini menjadi sixpack, tinggal rajin nge-gym dan olahraga lainnya. Itu tak terlalu sulit, saya kenal baik instruktur gym di tempat saya kerja ini.

Tahu hasilnya signifikan begitu, saya makin semangat melakukan diet. Suatu sore, saya makan nasi dua sendok saja, tetapi sayur eseng-eseng kembang turinya segunung. Hasilnya luar biasa: jika biasanya saya BAB jam setengah lima pagi, kali itu jam dua dini hari sudah harus berlari ke belakang, masur-masur. Buang hajat dengan tanpa ngedan karena isi perut langsung mengucur begitu saya dalam posisi. Ya, saya mencret!

Pagi, mampir ke ruang marketing dan mendapati alat timbang badan di sudut ruang. Teman-teman marketing dan accounting yang cakep-cakep dan bertubuh proporsional walau saya lihat suka ngemil itu, ternyata selalu mengontrol berat badan mereka. Iseng, saya numpang timbang badan di situ. Alhamdulllah, berkat 'murus' semalam, bobot saya menjadi 70, 2 kilo.

Sorenya, sepulang kerja saya ke apotek membelikan sirup obat batuk-pilek untuk si bungsu. Setelah mendapatkan obat yang saya maksudkan, sebelum pulang, begitu mata ini melihat ada alat timbang badan di sisi sudut selatan, saya nunut timbang. Hasilnya: jarum menunjuk angka 65 kilogram!

Besoknya, di tempat kerja, saya niat menuju timbangan digital tempat saya timbang kali pertama. Saya menemui teman yang sedang incharge di Male Spa, “Timbangan ini akurat?” tanya saya.

“Oh, itu sudah lama rusak,” katanya datar.

Uh, dasar! Dan lagi, jangan-jangan timbangan di ruang marketing dan di apotek itu juga sudah seperti omongan para pendusta; tak bisa dipercaya. *****


Senin, 08 Februari 2016

Kentrung

DUA pengamen beraksi di saat Imlek, pagi ini. Bukan ber-barongsai,
tapi berkoploria. Hal lumrah, walau saya kurang suka. Dan tarafnya akan
meningkat menjadi sangat tidak suka bila syairnya 'saru'.

Saya lalu ingat zaman kecil dulu, di kampung. Saat masih acap ditemui
pengamen yang sama sekali beda dengan kasunyatan sekarang.
Biasanya mereka mengamen secara duo, biasanya salah satu atau
dua-duanya berkacamata hitam,
karena memang tuna netra.
Mereka memainkan rebana dengan lagu-lagu bersyair seperti pantun. Berisi petuah
atau kisah-kisah para orang suci. Tentu saja, sebagai hiburan, sesekali mereka
menyusupkan pantun lucu sebagai penyegar.

Itu, kami menyebutkan kentrung. Sebuah seni yang entah pergi kemana kini. ****

Sabtu, 06 Februari 2016

Puri Matahari Kebakaran, Sebuah Simulasi

SEKITAR jam setengah tiga sore, hari Rabu 3 Pebruari 2016 yang lalu, alarm menjerit di Control Room. Pada display Fire Alarm Control terbaca seluruh alarm di gedung berdering, general alarm. Sebuah indikasi terjadi kobaran api. Display menunjuk lokasi kejadian di lantai 10-01.

Setelah mengetahui kejadian tersebut lewat komunikasi HT, semua karyawan ambil peran sesuai prosedur yang ditetapkan. Bagian engineering, walau pompa hidrant dalam posisi auto, ada teknisi yang langsung siaga ke ruang pompa dan tempat lain sesuai tugasnya. Sebagian lagi bergabung dengan tim scurity menuju titik terjadinya kebakaran untuk melakukan upaya pemadaman. Disusul kemudian tim House Keeping yang dengan sigap membawa tandu dan perlengkapan pendukung lainnya sebagai tim evakuasi dan PPPK, termasuk mengarahkan penghuni lantai di bawah dan lantai di atas agar tidak terlalu panik. Mengarahkan para penghuni untuk turun melalui tanga darurat dengan teratur.

Tak kalah sibuknya adalah petugas front desk yang menenangkan para tamu dan penghuni yang tampak panik di area lobby. Menunjukkan arah ke tempat aman, essembly point di area putting green yang luas di sisi barat gedung.

Tidak hanya memantau,
Bambang Sunarso, Property Manager
Puri Matahari Residence,
juga berjibaku memadamkan api
dalam sesi Fire drill.
(Foto: Nanin Indah)
Syukurlah api segera berhasil dipadamkan dan tidak sampai menjalar ke unit lain pada bangunan jangkung setinggi 32 lantai di jalan HR Muhammad itu. Syukurlah korban hanya mengalami cidera yang tak terlalu parah. Lebih bersyukur lagi, semua kejadian di atas hanyalah sebuah simulasi.

Tetapi, "Sekalipun kita berharap kejadian kebakaran tidak pernah terjadi di gedung kita," Bambang Sunarso, Property Manager Apartment Puri Matahari, menjelaskan, "kesiapan dan kesigapan kita dalam menanggulangi bahaya kebakaran harus terus diasah. Untuk itulah, kali ini untuk kesekian kalinya, kita adakan simulasi ini."

Walau simulasi kali ini tidak melibatkan Dinas PMK Surabaya sebagai instrukturnya, tetapi pihak PT Candi2000 Realtindo (pengelola Puri Matahari Residence) menggandeng PT Sanindo sebagai pemateri dalam training class sebelum acara simulasi di lapangan. PT Sanindo adalah perusahaan ternama yang bergerak di bidang pengadaan alat-alat pemadam yang berskala internasional dan sudah menjadi mitra kerja Puri Matahari sejak awal berdiri hingga sekarang. Untuk sistem lift dan tahapan-tahapan yang mesti dilakukan dalam kondisi darurat, tim engineering memang telah mengetahuinya, tetapi untuk me-refresh sekaligus meng-upgrade kecakapan, pihak management mendatangkan tim teknisi PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator sebagai tim pendamping.

Seusai simulasi memang ada beberapa catatan sebagai bahan koreksi. Tetapi secara garis besar, semua berjalan sesuai rencana dan masing-masing personel telah mengerti peran dan tugas masing-masing.

"Kita akan adakan simulasi ini secara berkala," Pak Bambang kembali menegaskan, "dan berikutnya kita akan gelar dengan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Sehingga, kita akan menghadapi kejadian yang lebih mendekakati keadaan sebenarnya. Tetapi, sekali lagi, semoga kejadian kebakan tidak sampai menimpa gedung kita," pungkasnya. *****


Selasa, 26 Januari 2016

Cetak Ulang Foto Usang

Foto di buku raport SD.
PULANG kampung ke rumah Ayah selalu saja ada cerita. Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman (termasuk halamannya pak Kampung) selalu ada kenangan yang tiba-tiba ikut terjaga dari tidurnya. Rumpun bambu yang masih saja rimbun di utara rumah mbah Kung (begitu saya memanggilnya demi mengajari anak-anak saya) .Suara berjuta daunnya yang saling bergesek karena tertiup angin, melahirkan desis yang melankolis. Selebihnya, rumah tua itu tetapkan sama; di depan musholla ada berderet kembang 'kuping gajah', 'sri rejeki' sampai 'beras kutah'. Ia adalah sekadar nama bunga, walau yang mbah Kung suka hanyalah daunnya. Kuping gajah; berdaun hijau tua dengan garis-garis seperti sungai mengalir ke segala arah. Sri rejeki; lebih ramping penampilannya, rupanya dietnya berhasil. Beras kutah; agak ramping juga, dengan taburan warna putih di sekujur daunnya, laksana beras tumpah.

Apalah arti sebuah nama. Lengkapnya lagi; apalah arti nama bunga. Karena ketika gemuruh 'gelombang cinta' yang beberapa waktu lalu melanda, saya selalu gagal menumbuhkan benih cinta kepada bunga. Kecuali satu saja; bunga turi. Yang saya tanam di depan rumah di Surabaya, yang benihnya juga saya impor langsung dari halaman samping rumah mbah Kung.

Masuk ke dalam rumah, ada kesetiaan menempel di dinding diatas opening yang tembus ke ruang tengah. Foto presiden dan wakilnya. Bukti mbah Kung sangat mencintai pemimpinnya. Hampir selesai dua periode kepemimpinan pak SBY, mbah Kung tetap saja setia memajang foto Gus Dur dan mbak Mega. Masuk lebih ke dalam lagi, kamar. Disitu, di sebuah lemari tersimpan bertumpuk kertas yang tanpa saya pesan apa-apa ke mbah Kung, bertahun-tahun tetap bahagia di tempatnya. Entahlah, kenapa mbah Kung, atau Mbah Putri, tak tergoda untuk memusnahkannya. Paling tidak kertas-kertas itu bisa ditukar bumbu dapur ke warung sebelah. Karena ia bisa menjelma menjadi bungkus terasi, bawang putih dan semacamnya.

Kertas-kertas itu adalah tulisan saya saat SMP dulu. Dan membacanya lagi, jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya saya menulis begitu. Menulis surat cinta (monyet) yang beraroma salam Rexona. Juga kok bisa-bisanya saya menulis sebagai 'aku' yang selalu berselimut cinta dalam setiap cerita. Mengapa?