Kamis, 21 September 2017

1 Muharram di Tabanan

TAK salah kiranya saya memilih tempat tinggal sementara selama menjalankan tugas kerja di Tabanan, Bali, ini. Walau awalnya, tentu sangat disayangkan oleh atasan saya. “Yakin mau tinggal di tempat kayak itu?”, tanya Bu HRD yang baik hati saat saya memutuskan memilih tempat kost yang pertama ditunjukkan saja, setelah mencari tempat lain yang lebih layak untuk saya. Salah satunya di sebuah komplek kost yang secara tampilan luarnya saja sudah menggambarkan kelasnya. Tetapi, begitu Pak Komang (driver langganan perusahaan) membuka gerbang untuk bertanya, kami langsung disambut gonggong anjing. Hassuh tenan!

“Itu fasilitasnya cuma segitu lho”, lagi beliau mengingatkan agar saya menimbang ulang.

“Tapi itu dekat masjid, Bu”, saya beralasan. Sok alim ya? Hehe...

Begitulah. Jadilah saya tinggal di sini sudah (atau baru?) dua minggu ini, telinga yang biasa mendengar TOA masjid-musholla di tempat tinggal saya di Surabaya, tak terlalu rindu karena tak kehilangan suara serupa selama di Tabanan ini. Saya bisa jamaah sholat di masjid Agung Tabanan, dan malamnya cari makan di Pasar Senggol jalan Gajah Mada yang menu Jawanya terbilang komplit adanya. Pendek kata, telinga dan lidah saya tak ada masalah selama disini, kecuali hati yang selalu rindu anak-istri karena tak terbiasa pisah dalam rentang jarak dan waktu selama ini. Ini yang kadang bikin syedih (pakai syin).

Selasa, 27 Juni 2017

Bipang; Cemilan Kenangan

SUATU malam, tetangga depan rumah pamit undur diri sejenak dari arena jagongan, “Sebentar, saya ambilkan camilan agar makin gayeng”, ujarnya.

Ia datang lagi dengan sewadah umbi yang lama sekali tidak saya nikmati. Bentuknya berimpang, nyaris seperti lengkuas. Tetapi, hmmm... hidung ini telah mengenalinya. Suguhan berjenis pala pendhem  ini mengingatkan saya saat kecil di desa dulu. Ketika kami tadarus mendaras kitab suci di bulan Ramadhan, ada tetangga yang rumahnya berjarak tujuh rumah dari langgar kecil tempat kami mengaji, membawa sebakul ganyong  rebus yang aromanya menggoda.

Penganan berjenis umbi ini kaya akan serat dan karbohidrat. Makanya, selain enak dinikmati sebagai cemilan, ia berperan pula mengenyangkan.

Di kota agak sulit menemukannya, walau di desa ia gampang ditemukan dan menjadi penyelamat di saat paceklik.

Baiklah, izinkan saya meloncat ke lain arah. Masih tentang penganan di masa kecil saya. Tentang buah tangan yang sering Bapak bawa sehabis pepergian. Semacam 'oleh-oleh kebangsaan' karena jenisnya cuma itu-itu melulu. Kalau bukan roti kasur, ya jipang. Kalau lagi beruntung, mungkin bapak lagi ada uang lebih, kami dibelikan kedua-duanya.

Kami menyebut roti kasur karena bentuknya seperti kasur, soal rasa; ia tawar belaka. Maka menikmatinya terasa istimewa kalau Emak membikinkan kami air panas dan gula yang diseduh pada gelas dan kami memakan roti tawar itu dengan dicelupkan dulu ke situ. Rasanya tiada duanya.

Bipang cap Jangkar, eh ternyata penganan ini khas Pasuruan.
(Foto: ediwe)
Sekarang tentang jipang.
Eits, ternyata sebutan kami itu keliru. Karena yang benar adalah bipang. Berasal dari bahasa Tiongkok; bi  berarti beras dan pang  artinya wangi. Makna harfiahnya beras wangi. Ya, penganan ini bahan pokoknya adalah beras yang dipanaskan lalu dicampur gula dan di-pres sedemikian rupa.

Semoga Anda sepakat, bahwa kerinduan itu kadang tiba-tiba muncul bukan melulu untuk sang mantan (yang apesnya, itu hanya bertepuk sebelah tangan), namun  bisa pula tertuju kepada penganan. Maka, ketika suatu sore saya mendapati seorang bapak tua menjajakan aneka camilan 'tempo doeloe' di jantung kota Surabaya ini dengan bipang sebagai salah satunya, saya membelinya.

Seperti ganyong yang anak sekarang kurang menyukainya, si bipang ini pun bernasib tak jauh beda. Buktinya, anak-anak saya kurang berselera berebut buah tangan itu saat saya tiba di rumah (berbeda ketika masa kecil saya dulu yang menganggapnya sebagai oleh-oleh istimewa). Karenanya, kemudian bipang itu hanya saya makan sendiri saja dengan kunyahan yang sebisa mungkin mengantarkan saya akan kenangan masa kecil dulu. *****

Sabtu, 03 Juni 2017

Menjual Derita

LELAKI asal Gunung Kidul itu sering mangkal di mulut gang, di depan toko sayur yang tak pernah sepi pembeli, tak jauh dari rumah saya. Walau belum tahu nama antar saya dan dia, kami terbilang akrab sekali. Dan bukankah sering kita akrab dengan penjual nasi goreng dengan menyebutnya sebagai Pak Reng, atau Abah Sate untuk penjual sate langganan kita, tanpa hirau nama sejati dari masing-masing.

Dengan Pak Puk itu, saya sering sekadar say hello atau kalau ada waktu agak longgar, kami ngobrol naglor-ngidul tanpa judul.

Yang sering dia tanyakan, setiap saya lewat dari mengantar si kecil, “Apa menu sarapan pagi ini?”.

Nasi rames”, itu selalu jawaban saya. “Ra mesti...” begitu saya menjelaskan artinya.

Dan lalu kami tertawa bersama. Betul, banyolan akan kehilangan kelucuannya bila terlalu sering dimainkan. Ia akan terasa garing. Untuk menyegarkannya, seperti tadi pagi itu, saya ambil duduk di sisinya. Masih jam enam lebih delapan, artinya masih ada waktu bagi saya untuk ngobrol dengan Pak Puk, sebelum nanti; jam tujuh lebih sedikit, saya mesti berangkat kerja.

Seperti biasa, kami bicara aneka topik. Misalnya; orang Jawa yang malah sering mengajari anak-anaknya tidak memakai bahasa Jawa, tetapi menggunakan bahasa oplosan macam: 'ndang cepetan tiduro sana, bangunnya besok ben gak kesiangan' atau sejenisnya. Ini, kami sepakat, akan melunturkan kemampuan bahasa Jawa bagi anak-anak Jawa. Sehingga tidaklah heran bila pelajaran Bahasa Jawa adalah termasuk mata pelajaran tersulit bagi semua murid yang nota bene ortunya adalah orang Jawa. Jangankan dalam ber-krama inggil, lhawong ngoko saja anak-anak sekarang gak lancar kok. Apa tumon, kok orang Jawa kesulitan mengerti pelajaran bahasa nenek moyangnya sendiri. Siapa, coba, oknum yang mesti disalahkan selain kedua orang tuanya?

Minggu, 28 Mei 2017

Silaturahim Dalam Rangka Ninmedia

SEKITAR limabelas meter masuk jalan Bypass Pandaan, saya menepikan kendaraan dan mampir ke sebuah toko di kiri jalan. Bukan, saya bukan hendak membeli sesuatu, tetapi, “Maaf, numpang tanya, Pak”, kata saya kepada seorang lelaki berpeci haji yang menjaga toko itu. “Kalau mau ke Duren Sewu, arahnya kemana ya?”

Putar balik ke tiga dari depan itu, langsung belok. Jalan pertama dari situ, Sampeyan belok kiri,” lelaki itu ramah berkata.

Setelah berterima kasih, saya melanjutkan perjalanan sesuai petunjuknya. Bukan apa-apa, dulu, sekira tujuh tahun lalu, karena terlalu banter membawa kendaraan, saat akan ke rumah seorang teman yang melalui wilayah Duren Sewu itu, saya sempat kebablasan jauh sekali. Jadi, daripada menjadi keledai (yang kesasar dua kali), saya lakukan itu begiu masuk Bypass.

Nah, ingat sudah. Saat masuk jalan pertama setelah U-turn ke tiga, saya ambil kiri. Dari sini, saya bisa langsung tancap gas. Namun saya malah berhenti dan meraih ponsel di saku. “Saya berangkat,” tak panjang yang saya tulis, karena ia saya kirim sebagai pesan singkat.

iya, sudah tak tunggu”, balasnya.

Iya, SMS yang saya kirim itu hanyalah tipu daya semata. Karena bukankah sejatinya saya sudah berangkat dari rumah satu jam sebelumnya. Saya berangkat pagi tentu agar tak terlalu kepanasan dan terjebak kemacetan di jalan. Dan bisa menikmati perjalanan dalam kecepatan jalan-jalan, bukan sebagai balapan.

Sesuai harapan, perjalanan tadi lancar jaya. Sidoarja, Porong, Japanan, Gempol naik ke arah Pandaan landai-landai saja volume kendaraan yang lewat. Maklum, Kamis itu (25 Mei 2015) adalah hari libur. Hanya ada satu dua truk besar dengan umur rada uzur memikul beban sarat berjalan nggremet ke arah Malang. Ini mengingatkan saya akan kekhawatiran serupa, truk itu gagal naik dan malah melorot, saat balik dari pulang kampung dan menguntit truk bermuatan pasir dari Lumajang ke arah Surabaya di jalan menanjak daerah Klakah.

Suguhan serba hangat, kecuali pisang, satfinder
reciever dan kacamata.

Kamis, 30 Maret 2017

Mirasantika Putra Raja

SEIKAT bayam yang dijajakan abang sayur dari pagi hingga siang dan gak laku, begitulah wajah Mas Bendo. Layu stadium empat.

Kok loyo begitu, ada masalah opo to, nDo?” Kang Karib menyambut.

Aku sedih, Kang,” lirih Mas Bendo berkata. “bagaimana sedihku tidak menembus ke sumsum tulang bila rajaku, panutanku, yang petuah-petuahnya telah meluruskan aku dari jalan keliru, kini justru tertimpa cobaan; darah dagingnya sendiri terjerumus mirasantika...”.

Apakah kamu tidak berniat menaikkan status sedihmu itu menjadi marah?” pancing Kang Karib. “Karena, bukankah kurang elok bila suka bernasihat ke orang sekerajaan, eh anak sendiri malah ketangkap...”.

Marah? Apakah dengan marah bisa menyelesaikan masalah?” umpan lambung Kang Karib dipotong oleh Mas Bendo. “Marah tidak, kecewa iya”, lanjutnya.

Sudahlah, nDo, dibikin santai saja. ♪♫ yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang...♫♪...”.

Jangan ngejek gitu, Kang...”

Ngejek gimana. Kamu pikir rajamu itu akan stress menghadapi ini. Tidak akan, nDo. Dengar nasihatnya: ♪♫ streessss... obatnya iman dan takwa...♫♪”.

Wis, wis, Kang”, Mas Bendo berniat beranjak. Namun,

Mau kemana kamu, nDo?”

Mau mencari teman lain yang bisa bikin adem, yang bukan malah ngece seperti Sampeyan”, sungut Mas Bendo.

Iya, nDo. Tapi ingat: ♪♫ mencari teman memang mudah, pabila untuk teman suka. Mencari teman tidak mudah, pabila untuk teman duka...♫♪”.

Mak klepat, Mas Bendo pergi. Hatinya nggondok. ,”Ter-la-lu...”, umpatnya tertuju untuk Kang Karib. *****

Rabu, 29 Maret 2017

Ketakutan dan Impian

OH, ini harus diangkat”, kata dokter bedah itu setelah membaca hasil foto USG yang diambil kemarin dari ruang radiologi, “harus dioperasi. Berani?”

Beberapa saat istri saya diam, sediam saya yang duduk di sampingnya. Sikap antara takut dan berani itu pernah saya alami, juga di depan dokter bedah, beberapa tahun yang lalu. Tetapi, kalau kalah sama takut, si penyakit akan makin akut dengan aneka derita susulan yang menyertainya.

Iya, Dok, dioperasi saja”, lirih istri saya menjawab. Saya pegang tangannya sebagai bukan sikap sok romantis. Tetapi, bukankah memang harus ada yang menguatkan di saat seperti itu.

Hari yang ditentukan pun akhirnya datang juga. Tepat sekeluar saya dari musholla di rumah sakit itu untuk menunaikan shalat Asyar, istri saya menelepon agar saya segera kembali ke kamar rawat inap. Di situ telah ada perawat yang akan membawanya ke ruang operasi.

Saya menyertai istri saya yang didorong menuju ruang dingin berlampu terang itu. Saya lirik mulut istri saya tiada henti entah melafalkan doa apa. “Nanti sebelum diorepasi, berdoalah yang pendek saja”, pesan saya. Alasannya, percuma bermaksud berdoa dengan panjang tetapi harus terputus oleh reaksi obat bius.

Sebelum operasi, istri saya berganti baju hijau pucat. Entah pengaruh warna pakaian yang dikenakannya atau rasa takut yang menggelayut, kulit istri saya kelihatan lebih bersih, hanya beda sedikit dibanding putihnya kulit artis Korea.

Alhamdulillah operasi berjalan baik, dan kini (saat saya membuat tulisan ini) istri saya sudah di rumah dan menjalani masa pemulihan.

Dalam dunia kedokteran mungkin operasi yang dilakoni istri saya adalah perkara kecil. Tetapi, kata 'operasi' sering membuat rasa takut lebih dulu membesar. Dalam banyak hal lainnya, ketakutan-ketakutan sebelum memulai sesuatu, kata para motivator sih, adalah juga pembunuh suatu impian dan cita-cita. *****

Sabtu, 18 Maret 2017

Ngenet di Masjid Dilarang?

SEMAKIN kesini, semakin banyak saja orang yang tak bisa lepas dari gadget alias gawai. Benda mungil yang nyaman digenggam itu memang semakin pintar saja. Tetapi, tentu saja, kepintaran si penggenggam juga dibutuhkan agar ia tak 'kesurupan' teknologi dan informasi.

Di kampung saya banyak sekali bermunculan warkop dengan jualan utamanya bukan lagi secangkir kopi, tetapi Wifi.

Saat saya kecil, almarhumah nenek saya semasa hidupnya adalah pemilik warung yang dagangannya selain kopi, nasi pecel dan dawet dengan pelanggan utama adalah buruh tani. Ada tukang tebang tebu, ada tukang angon kerbau dan sebangsanya. Saya perhatikan, sambil menunggu pesanannya terhidang, para pelanggan itu selalu bertegur sapa dengan akrab. Ada interaksi terjadi. Omongan ngalor-ngidul tentang hal remeh-temeh. Karena, bukankah percakapan memang tak selalu harus tentang hal-hal serius.

Kini, di warung kopi, membeli mie rebus atau segelas es teh plus sepotong gorengan adalah sasaran antara semata. Karena tujuan utama, bisa jadi, adalah menikmati jaringan internet untuk keperluan daring; nyosmed. Lalu masing-masing asyik sendiri, tak peduli kawan di sampingnya --yang juga bertingkah serupa. Kini, ngenet tidak melulu di warnet, tapi juga di warkop. Juga di masjid.

Oh, jangankan memasang wifi gratis, menara masjid di kampung saya ini disewa operator selular untuk difungsikan sebagai BTS saja oleh kiai sepuh dilarang (padahal oleh takmir telah disetujui) sehingga pemasukan kas masjid tak jadi menggemuk oleh pendapatan biaya sewa. Alasannya? Kiai sepuh itu memandang internet lebih banyak mudlaratnya ketimbang manfaatnya bila di tangan anak-anak muda yang kalah pinter dibanding gawainya.

Tetapi siapa bisa membendung laju orang ngenet. Secara iseng saya sering memperhatikan ada saja jamaah sholat Jumat di masjid yang memang telah mematuhi himbauan yang selalu disampaikan agar mematikan ring tone ponsel saat di masjid. Tetapi ngenet kan memang tak selalu butuh suara. Jadi, sepanjang khotib berkhutbah, sepanjang waktu itu pula bisa asyik online. Saya setuju bila hal ini dilarang dengan memakai nasihat bang Haji. 

Bila ada yang bertanya, "♪♫ kenapa yang asyik-asyik itu yang dilarang...♫♪?"
Jawab saja, juga dengan bernyanyi, "Ah ah ah ah ah ahh.. itulah perangkap syetan, umpannya ialah bermacam-macam kesenangan....♪♫

Teknologi informasi dengan aneka sosmed sebagai keturunannya –diakui atau tidak-- membuka peluang untuk mendekatkan yang jauh, tetapi juga acap malah menjauhkan yang dekat. Dan, jangan-jangan, keasyikan online nyosmed itu tanpa sadar kita telah menjauhkan diri dari berakrab-akrab ria dengan ayah-ibu, adik, kakak, tetapi juga dari yang maha dekat.*****

Selasa, 28 Februari 2017

Jangan Ambil Uang Sembarangan

SYAHDAN, saat kecil dulu istri saya pernah sakit parah. Sudah dibawa berobat kemana-mana belum sembuh juga. Kemudian, seperti lazimnya orang di kampungnya, dicarikan alternatif lain; ke 'orang pintar'. Dari si orang yang dipercaya punya kemampuan 'linuwih' itu, didapatlah titik terang. Bahwa, penyakit yang sedang diidapnya bukan typus atau malaria, tetapi gara-gara menemukan sejumlah uang di jalalan dan dibelikan jajanan lalu dimakannya. Intinya, uang orang yang jatuh di jalanan tidak boleh diambil sembarangan. Karena bisa jadi ada bala yang menyertainya.

Maka sejak itu, ibunya istri saya melarang mengambil uang entah milik siapa yang jatuh di jalan. Seperti tongkat estafet, wanti-wanti itu juga diteruskan oleh istri saya ke anak-anak.

Saat SD (MI) dulu, saat berangkat sekolah, anak sulung saya menemukan sejumlah uang di jalan, di dekat kuburan. Ingat petuah ibunya, uang itu tidak diambil dan cuma 'diamankan' dengan ditimbun kerikil di pinggir jalan, tak jauh dari uang itu ditemukan. Sepulang sekolah, anak saya menceritakan dengan bangga karena telah menuruti nasihat ibunya, sebuah pendapat yang saya sendiri kurang sependapat. Alasannya, menurut saya, karena tidak tahu uang itu mesti dikembalikan kepada siapa, bukankah lebih bermakna bila ia dimasukkan ke kotak amal di masjid saja?

Belum lama ini, di suatu pagi yang gerimis, saat berangkat kerja dengan buru-buru (karena berangkat agak kesiangan) saya melihat ada uang supuluh ribu di jalan. Kontan saya menghentikan motor dan mengamankan uang itu sementara waktu, untuk sore sepulang kerja akan saya masukkan ke kotak amal di musholla terdekat dari uang itu saya temukan.

Sorenya, dengan mantap saya merogoh 'saku depan' motor Vario, tempat uang yang saya temukan pagi tadi saya simpan di bawah lipatan Kanebo. Tujuannya, akan saya masukkan ke kotak amal musholla. Dan, wah, uangnya kok basah. Iya sih memang lap motor saya juga kondisinya agak 'mamel', tetapi bukankah uang kertas akan tidak sebegini keadaannya kalau kena air. Saya lebih perhatikan lagi, tertulis dengan huruf kapital di uang itu nilai nominalnya: SEPULUH RIBU SAJA. Oh, bukan rupiah ternyata.

Saya baru sependapat dengan istri kali ini, bahwa jangan sembarangan mengambil uang yang jatuh di jalanan. Terlebih bila uang itu hanyalah uang-uangan. *****

Kamis, 12 Januari 2017

Ajal Siaran TV Digital Terrestrial?

 
'Mendiang' penampakan sinyal Viva grup.
IYA, saya akan menulis tentang televisi lagi. Tetapi, kali ini, bukan tentang Ninmedia yang sejauh ini, walau telah ada FashionTV, NHK Word, Al Jazeera, Zing, DW (sekalipun yang saya sebut itu masih nongol sebagai test signal) ketahuilah, MNC grup masih belum ada. Bukan pula tentang si pendatang baru dari MMP atau SMV, yang walau sama-sama gratisan, tetapi ada perbedaan mendasar dengan Ninmedia. Yakni, bila kita bisa menyaksikan siaran dari Ninmedia (Chinasat-11/98*E) dengan hanya memakai perangkat yang dijual bebas di pasaran, tetapi untuk bisa menyaksikan konten dari SMV/MMP, perangkatnya kita harus kita beli dari mereka. Kabarnya, akhir Januari ini, setelah sekian waktu melakukan siaran percobaan, SMV akan resmi mengudara dengan platform yang disebut FTV, Free to View. Bukan FTA, Free to Air, seperti yang diterapkan oleh Ninmedia. Iya, kali ini, saya kembali menulis tentang siaran tv digital terrestrial. Nah, bagaimana kabar siaran televisi digital terrestrial di tempat Anda?

Seperti yang sempat diberitakan dan menjadi perhatian bagi sebagian pemirsa yang menunggu realisasi migrasi siaran televisi dari analog ke digital, era dimana gambar televisi yang diterima pesawat televisi kita tidak lagi bersemut walau antena sudah dipasang tinggi-tinggi sekali. Kerinduan itu bukan tanpa sebab, karena bukankah telah pernah tersiar kabar pemerintah akan melakukan switch off siaran televisi analog yang konon rakus memakan bandwitdh dan segera melakukan upgrade sistem penyiaran ke teknologi digital.

Laiknya langkah si renta, progress penerapan sistem yang di negara maju adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan ini disini ternyata sangat tertatih sekali. Ada saja ganjalannya, ada saja kendalanya. Baik teknis, maupun (yang lebih dominan, sepertinya) adalah hal non teknis.

Untuk hal teknis, sejak 15 Juni sam 15 Desember 2016 kemarin (dan bisa diperpanjang masa trial ini), pemerintah dan beberapa lembaga penyiaran yang concern mendukung program ini, melakukan ujicoba non kemersial di beberapa kota Indonesia dengan TVRI sebagai penyedia insfrastruskturnya. Intinya, konten milik beberapa lembaga penyiaran itu dipancarkan menggunakan MUX milik TVRI. Maaf, saya tak hafal di kota mana televisi apa saja yang mengudara melalui uji coba ini. Tetapi, di Surabaya ini, tadi malam saya sempatkan untuk mengintipkannya untuk Anda.

Kalau MUX MNC grup (ch. 41/643 MHz) sudah sekian lama tiada itu saya sudah duga, tetapi kok ketika saya cari MUX MetroTV (ch. 25/506 MHz) juga sudah tidak lagi mengudara itu yang saya baru tahu. Termasuk MUX TransCorp (ch. 27/522 MHz) yang ternyata ikutan menghilang, menyusul MUX Viva grup (ch. 23/490 MHz), dan Emtek yang sedari dulu turun dari udara setelah sebentar sempat on air.

Kini (saat saya lakukan scan), praktis tinggal konten TVRI yang masih bisa dinikmati. Yakni, TVRI1 Jatim, TVRI2 Jatim, TVRI3, TVRI4 plus peserta ujicoba non kemersial yang 'digendongnya'; CNN Indonesia, NusantaraTV dan Inspira.

Sepertinya, program migrasi ini makin lemah saja gaungnya. Dan detak yang makin melemah, kita tahu, adalah pertanda ajal telah tak terlalu jauh jaraknya. Kalau demikian kenyataannya, pemirsa televisi di negeri ini mesti entah sampai kapan lebih bersabar lagi untuk menunggu menikmati siaran televisi dengan konten beragam dan gambar yang cling bebas bintik. Produsen televisi yang telah melangkah begitu maju dengan menghadirkan produk kualitas bagus yang bisa memanjakan mata pemirrsa, menjadi kurang berguna ketika siaran yang tertangkap masih analog dan cuma segitu mutunya.

Tetapi, untungnya, selalu ada pilihan dalam hidup. Tak perlu menyebut, untuk bisa menikmati siaran berkualitas digital tetapi tetap tak berbayar, kalau mau, ada kok pilihannya. Mau? *****


Senin, 09 Januari 2017

Memahat Sebongkah Batu

LELAKI itu adalah pemahat yang ahli. Batu apapun, bila ditanganinya akan menjadi patung yang indah. Kemasyhurannya menyebar ke seantero negeri. Dan, ketika ada yang bertanya, apa rahasianya sehingga selalu mampu membuat patung yang apik, dengan datar ia mengatakan, "Sebetulnya patung-patung indah itu telah ada pada bongkahan batu. Saya hanya membuang bagian-bagian yang tak perlu saja, yang membuatnya belum kelihatan bentuk aslinya".

Itu kalimat yang bisa jadi telah Anda temukan entah di bacaan mana, tetapi saya juga menemukannya pada salah satu dialog pada film Rambo II, dengan Sylvester Stallone sebagai sang jagoannya.

Saya membayangkan kita, atau saya secara lebih sempit, sedang menjadi sang pemahat. Dan karena kesibukan lain yang tidak bisa ditinggal, untuk memahat sebongkah batu milik saya itu, saya serahkan kepada pemahat lain, yang saya nilai lebih expert ketimbang saya. Tujuannya jelas, hasil pahatannya harus bagus, sebagus keinginan saya. Dengan menyerahkannya secara bongkokan, inginnya saya tahu beres saja, walau untuk itu tentu tentu harus ada biaya yang saya tanggung.

Tetapi, di negeri ini, apakah semua pemahat bagus? Yang selalu memperlakukan pahatannya dengan lemah lembut, dan hanya menyingkirkan bagian-bagian yang tak perlu saja. Bukan saking semangatnya malah sebagian besar pemahat itu memberlakukan si batu sedemikian rupa, dari pagi sampai sore sekali. Walau sistem yang nyaris full day itu belum menampakkan hasil pahatan yang berkualitas tinggi.

Si bungsu saya masih duduk di bangku TK, dan sejak seminggu lalu harus melalui waktu yang lebih panjang di bangku sekolah, dari pagi sampai jamg duabelas siang. TK sama dengan sekolah, apakah memang demikian? Ataukah TK adalah hanya taman kanak-kanak, dimana hanya tempat 'bermain' bagi kanak-kanak? Yang tidak menjejali si kanak-kanak dengan jam belajar yang panjang, yang membebani mereka PR bertumbuk saban harinya, yang harus membuat mereka pandai calistung?

Saya bukah ahli pendidikan, dan hanya mendengar konon sistem pendidikan kita masih kalah tertinggal. Masih konon lagi, negara Finlandia, yang sistem pendidikanya terbilang bagus di kelas dunia, jam pelajarannya tak sebanyak kita. Saya membayangkan, siswa di sana punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Jam sekolah pendek, dan gurunya tak kemalan kasih PR saban hari. Satu lagi, sepertinya disana tidak ada TPA kayak disini.

"Ooii..., kita, kalau begitu, lebih unggul, Cung! Disini kita tidak menjejali sedari dini otak anak-anak dengan Iptek semata, tetapi juga Imtaq".

Tentu saya tak hendak menyangkal pendapat diatas. Yang saya khawatirkan adalah, dengan sistem yang menganut pakem 'ganti menteri ganti kebijakan' ini, jangan-jangan 'sang pemahat' malah bukan hanya membuang bagian tak penting dari sebongkah batu demi mendapati hasil yang indah, namun bagian-bagian yang penting yang sebenarnya terbilang pelengkap keindahannya pun, ikutan terbuang pula. *****


Rabu, 21 Desember 2016

Resolusi dan Bumi Datar

 
MASIH bisa saya buka ingatan tentang tahun lalu atau lebih lama dari itu; pada sore yang gerimis, sepulang kerja, di kiri-kanan jalan beberapa orang mulai ada sebagai -mungkin salah satu- penanda akan datangnya tahun baru. Ya, pedagang terompet, yang entah berasal dari mana dan selain menjelang tahun baru berdagang apa, tak sedikit yang bersama anak-istri, berteduh menangkis runcingnya gerimis hanya dengan selembar plastik tipis.

Betapa langkah waktu sekalipun kurang terasa tetapi mungkin memang makin tergesa. Sampai setahun hanya pendek saja. Tahu-tahu menua. Tahu-tahu menuai. Tetapi menuai apa? Juga, bagaimana kabar resolusi yang ditiup akhir tahun kemarin?

Beruntunglah diantara kita adalah makhluk pelupa. Jangankan resolusi yang kencang sekali diucap dalam hati atau ditulis dalam diary dan tiada menjadi apa-apa (karena memang tanpa ada langkah nyata) yang dikumandangkan tiap akhir tahun, dan tahu-tahu kini sudah akhir tahun lagi. Ah, tak usah sungkan; mari kita tiup resolusi lagi. Dan, bukankah kita belum pernah mendengar fatwa bahwa berresolusi di setiap akhir tahun itu adalah tindakan yang haram?.

Jangankan berentang jarak setahun yang 365 hari, yang baru kemarin pun kita bisa dengan gampang melupakannya. Tentang Jessica, tentang Dimas Kanjeng, tentang Hillary vs Trump, tentang garuda melawan gajah di final AFF, oh itu cerita lama. Selama dan sebiasa timnas sepak bola kita gagal meraih juara. Jadi kenapa mesti meratap-ratap sampai gulung koming? Walau sudah biasa kalah, tentu semua kita tadinya sangat berharap menang dengan adagium yang secara aklamasi disepakati bahwa bola itu bundar, bukan datar seperti keyakinan beberapa orang tentang bentuk bumi.

"Jangan jadi member kalau cuma untuk mendebat", komentar itu saya baca di grup Kumunitas Bumi Datar di sosmed, entah itu dari sesama member atau dari sang admin, saya kurang tahu. Dengan kata lain, masuk ke grup ya harus sudah sepaham, agar tak gagal paham.

Karena sadar saya beda paham, saya tahu diri untuk tidak mendaftar jadi member di grup yang saat saya intip beranggota ribuan itu. Selain buang waktu, itu akan buang kuota internet saja. Tentu saja, sebagai yang beda paham, saya akan bisa dengan enteng nyinyir dan bilang pendapat bumi datar itu didengungkan bukan oleh pakar, tetapi oleh penulis buku yang sadar akan selera pasar. Bahwa, hal nyeleneh akan laku dijual, dan akan bisa ditelan begitu saja bukan saja oleh awam, tetapi oleh orang berpendidikan sekalipun. Semoga kita masih belum lupa oleh seorang perempuan bernama Marwah Daud dalam membela secara keukeuh sang Taat Pribadi.

Apalagi grup di sosmed. Tak perlu menjadi ahli di satu bidang untuk membuat grup yang laku diserbu ribuan member. Dengan iseng saja, tanpa dasar ilmu satelit yang mumpuni, saat saya buat grup satelit di facebook, eh tahu-tahu sekarang anggotanya sudah belasan ribu. Dengan sambil leyeh-leyeh, saya biarkan para anggota berdiskusi saling adu ide dan argumentasi. Sesekali, kalau ada member yang posting sesuatu yang out of the topic dan kurang saya sukai, gampang; tinggal di-kick saja. Dengan kata lain, kalau seandainya suatu hari nanti saya bikin grup yang mengangkat topik gula itu pahit, bisa jadi ada saja orang yang akan memasukinya. *****


Jumat, 02 Desember 2016

Bonek Melawan

 
"PUNYA tali rafia, Kang?" Mas Bendo mertamu sambil membawa kain putih yang sudah ia tulisi dengan cat hitam.


"Untuk apa?"

"Untuk pasang ini di pinggir jalan," dengan bangga Mas Bendo membentang kain putih itu di hadapan Kang Karib. Kain putih dengan kalimat yang sering Kang Karib baca belakangan ini di sekujur tubuh Surabaya. Yang berisi kecaman tertuju kepada PSSI (sering ditulis sebagai P$$I) dengan bumbu umpatan khas Surabaya.

"Kamu itu", ujar Kang Karib, "sudah jalanan dibikin rapi dan ditata serta dijaga kebersihannya kok malah semua jadi gak nyaman dipandang gara-gara spanduk dipasang pating crentel dan penuh pisuhan".

"Ini perjuangan, Kang", sergah Mas Bendo. "Jangan dipandang sebagai mengotori keindahan dan sejenisnya. Saya ini, sebagai Bonek, sedang melawan."

"Tetapi melawan kan bisa dilakukan secara elegan, nDo."
Salah satu spanduk kreasi bonek.
Sumber foto: emosijiwaku.com

"Di saat PSSI melakukan tindakan sedemikian jahat kepada Persebaya, mosok kita melawannya dengan lembek. Bisa-bisa kita malah diremehkan dan tidak direken sama sekali. Sekali lagi, saya ini bonek, Kang, dan ada darah Surabaya di tubuh saya. Darah Surabaya adalah darah pejuang, darah pahlawan. Dan ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan", oceh Mas Bendo melebar tak karuan.

"Pahlawan? Bukankah pahlawan adalah bertujuan luhur demi kemerdekaan, misalnya, dan untuk itu rela berkorban jiwa raga?"

"Saya, sebagai bonek sejati juga rela mati, Kang. Rela berjuang sampai titik darah penghabisan demi Persebaya..."

"Sungguh, nih? Sungguh rela mati cuma demi bal-balan? Mbokya jangan segitulah, nDo. Santai saja. Lagian apa sih yang kamu dapat dari membela tim kesayanganmu itu?"

"Kebanggaan, Kang. Dan itu tidak dapat dihitung nilainya", dalih Mas Bendo. "Sudah, Sampeyan ini punya tali rafia apa tidak sih?"

Setelah menerima tali rafia pemberian Kang Karib, Mas Bendo pergi menuju perempatan dimana ia akan memasang spanduk berbahan kain mori murahan itu disana.

Dua hal yang membuat Kang Karib prihatin adalah, ulah para (oknum) suporter sepakbola yang acap menerapkan fanatisme secara kebablasan, dan menempatkan pendukung tim lain sebagai musuh abadi dengan tingkat kebencian yang sampai merasuk ke sumsum tulang, dan atau ngepruki kaca mobil yang dijumpai di jalanan dengan tanpa alasan. Kedua: pihak Satpol PP yang sering terlihat mencopoti spanduk yang telah habis masa ijinnya, (dan apalagi spanduk liar tak berijin yang dipasang di sudut-sudut jalan) kali ini terlihat seperti sedang melakukan pembiaran terhadap para bonek yang makin hari makin banyak saja memasang spanduk penuh pisuhan di jalanan. *****



Senin, 28 November 2016

Minyak dan Api

JANGANLAH engkau menjelma menjadi api ketika orang lain menyuguhimu minyak
Cak Nun.

Selasa, 22 November 2016

Jenang Sapar

SEMAYI adalah nama sejenis botok tetapi tiada udang, tempe atau jamur dan bahan lainnya sebagai isi. Ia hanya botok dengan bahan utama kelapa diparut yang tampil secara solo. Iya sih ada bumbunya, dan bumbu itu sebagaimana layaknya bumbu botok. Seingat lidah saya, rasa utama ketika dimakan adalah pedas. Parutan kelapa nyaris sudah tiada rasa kelapanya, sepo. Karena ia adalah parutan kelapa yang telah tiada santannya. Santan telah diperas untuk dipakai memasak lodeh gori, nangka muda.

Nasi aking (karak) yang dikrawu berteman semayi adalah menu yang tidak jarang mengisi perut saat saya kecil. Nikmat sekali. Dulu kami makan begitu karena keadaan, kini saya kembali ingin menikmatinya lagi karena kerinduan.

Tetapi, di kota ini, dimanakah saya bisa membeli semayi dan nasi aking dikrawu? Tentu tidak ada, selain membuatnya sendiri. Tentu saya bisa meminta dibuatkan menu itu kepada emaknya anak-anak, namun sebagaimana menu lainnya, hidangan apa pun adalah bukan tandingan bila dibanding masakan ibu. Lebih-lebih bila makanan itu didapat dari membeli. Kenapa? Karena makanan yang dibeli dari restoran atau warung makan unsur utama ketika dimasak adalah berdasar hitungan uang, sementara masakan ibu untuk keluarganya dimasak selalu dengan bumbu utama bernama kasih sayang.

Sekarang bulan Syafar, sebagai lidah yang kolokan, kok ya sempat-sempatnya ia merindukan jenang sapar, begitu kami menyebutnya. Berbeda dengan jenang Suro yang berbahan beras putih, penganan ini berbahan tepung ketan yang hanya ada di bulan Syafar. Adonan tepung ketan itu dibentuk bulatan-bulatan kecil (makanya juga disebut jenang grendul) dipadu gula merah dan santan. Hmm, aroma pandannya menggoda, semenggoda sensasi nyeplus bulatan ketan yang kenyil-kenyil, kenyal. Saat dikunyah rasanya nano-nano; ada manis, ada asin, ada gurih, ada-adaaa aja.... (Hmm, mak cleguk..)

Nah, demi menuruti kerinduan lidah, saya mencari si jenang sapar itu ke pasar. Tidak seperti di awal Syawal yang banyak sekali penjual ketupat, di bulan Syafar tidak saya temukan seorang pun penjual jenang sapar. Padahal kalau di kampung saat masa kecil dulu, di bulan Syafar begini, antar tetangga saling antar jenang sapar. Makanya kita bisa makan penganan itu gratis tanpa bayar. Pagi kemarin itu saya meninggalkan pasar dengan tanpa berhasil membuat kerinduan sang lidah terbayar

Namun, dasar rejeki anak bapak sholeh, saat datang ke tempat kerja, ada seorang teman yang baru pulang kampung membawa sebungkus agak besar jenang sapar. Lumayanlah, walau hanya memakan satu-dua sendok (demi agar jenang segitu bisa dimakan semua teman), paling tidak kerinduan lidah saya sudah relatif terobati. *****

Sabtu, 19 November 2016

Perempuan Penjajah

WANITA dijajah pria sejak dulu.....

Penggalan syair lagu lawas itu mungkin agak kurang dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi, 'penjajahan' macam itu masih saja terjadi sampai kini. Walau, atas nama HAM, si penjajah (baca: pria, menurut lagu itu) harus lebih berhati-hati. Harus lebih halus, sehingga si terjajah nyaris tidak menyadari kalau dirinya sedang dijajah.

Isu kesetaraan gender dan sebangsanya memang membawa hasil. Jumlah perempuan dalam parlemen dan aneka bidang lainnya cenderung lebih ada dibanding pada masa lalu. Perempuan, setidaknya bukan sekadar sebagai kanca wingking, teman di belakang. Yang hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur. Sebagai yang secara jumlah lebih besar dibanding pria, seyogyanya perempuan adalah 'sang penjajah', bukan sebaliknya. Atau memang sudah, sudah menjajah. Tetapi secara halus, sehingga seperti saya tulis di atas, si terjajah (kali ini pria) nyaris tiada merasa kalau sedang dijajah?

Di sebuah pusat kebugaran di Surabaya, saya dapati ada sudut yang mengkhususkan diri sebagai tempat berlatih tinju. Tidak melulu tinju seperti yang dilakukan oleh Tyson atau Pacman, namun dipadu juga dengan Thai Boxing. Pokoknya tidak sekadar jotosan, nyaduk pakai dengkul dan atau cara nyikut yang 'mematikan' pun dilatihkan. Dan, setiap kali saya kesitu, selalu saya temui sebagian besar yang berlatih adalah perempuan!

Tentu perempuan yang berlatih di situ bukan oma-oma. Para perempuan itu masih kinyis-kinyis dan --dugaan saya-- masih bujangan. Saya belum sempat bertanya apa yang mendorong mereka berlatih jotosan dan nyaduk 'secara baik dan benar', tetapi itu saya baca sebagai sinyal bahwa mereka ingin mematahkan sebagian pendapat yang secara tradisional mengatakan wanita adalah lemah. Itu pertama. Kedua, dengan tidak sedikit kasus kejahatan jalanan yang mengincar perempuan sebagai korban, berlatih bela diri adalah hal yang masuk akal dilakukan. Dan ketiga, bisa jadi, KDRT yang sering menempatkan perempuan sebagai korban, kelak bila para perempuan itu menikah, bila sedang bertengkar dan kurang bisa mengontrol diri, si suami yang akan dijadikannya sansak.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS, ditakutkan orang (bahkan warga AS sendiri) akan membuat dunia kacau berantakan. Sebuah ketakutan yang berlebihan, lebih-lebih bila jangan-jangan tokoh menakutkan itu ternyata malah menjadi penakut di hadapan perempuan bernama Melania.

Akhir syair lagu yang saya pakai sebagai pembuka tulisan ini adalah para pria berlulut di sudut kerling wanita, di hadapan perempuan yang piawai bertinju akan menjadi lebih tragis nasibnya karena berlutut bukan sekadar oleh kerling, namun oleh jap, hook atau upper cut. *****