26 Juli 2015

Makan Murah di Warung Merah

DALAM perjalanan jauh, agenda mengisi perut termasuk hal yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Lebih-lebih bagi yang lambungnya gampang melilit. Iya sih, di dalam bis biasanya ada penjual nasi bungkusan. Baiklah, kalau seporsi hanya nyelempit di sudut perut, Anda bisa beli dua atau tiga bungkus sekalian. Sayangnya, penjual nasi ini tidak selalu ada di sepanjang perjalanan. Yang sering ada, pengasongnya justru di terminal-terminal saat bis transit dengan waktu yang tak terlalu lama.

Saya ingat kala dulu bersama mendiang mertua melakukan perjalanan Lamongan-Jember. Agar tak terlalu repot oleh urusan perut itu, mertua saya membungkus nasi lengkap dengan lauknya memakai daun pisang. Ritual ini, saya kira, lazim dilakukan oleh orang tua siapapun dengan dalih, "Daripada beli di jalan". Bahkan, untuk minum, mertua membawa sendiri air rebusan dari rumah dengan botol Aqua sebagai wadah.

Bisa jadi, anak dan cucu --serta saya sebagai menantu-- sedikit malu akan hal itu. Tetapi, harus diakui; senyampang segala sesuatu bisa disiasati yang itu dapat menghemat pengeluaran dan tidak terlalu ngrepoti, kenapa tidak?

Naik kendaraan sendiri tentu bisa lebih bebas. Mau bawa bekal dari rumah (untuk kemudian dimakan dipinggir jalan ramai-rama serombongan, seperti sering saya temui bahkan di keteduhan pohon di pinggir jalan tol), atau mampir ke depot yang ada di pinggir-pinggir jalan macam Depot Rawon Nguling yang sering bikin macet itu.

"Untuk agar tidak di-entol," nasihat seorang kawan, "kalau makan di jalan, carilah warung nasi Padang. Dimanapun, harganya standar, tidak terlalu mahal."

Bisa jadi ia benar.
Saya pernah mengalami saat bareng si sulung, Edwin, balik dari Jember ke Surabaya naik R-2. Dengan berkendara dan tidak sedang naik angkutan umum begitu, saya bisa berhenti dan makan di warung mana saja yang saya mau. Kekeliruan saya adalah; saya menduga kalau bentuk fisik warungnya itu sederhana dengan dinding gedhek/anyaman bambu dan di depannya terparkir banyak truk, "Warung tempat makan para sopir tentulah tidak mencekik secara harga" pikir saya.

Ketika si Edwin memesan lalapan penyet ayam, saya pun mengikutinya. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, saya amati kondisi warung yang terletak di pinggir jalan Pasuruan ini; toples-toples yang kosong, juga botol-botol Sprite/Fanta yang juga melompong. Hanya ada dua piring pisang goreng di meja sebagai dagangan. Dengan tulisan menu mulai soto, jangan asem, lodeh, penyet ayam sampai pecel terpampang jelas di pinggir jalan, saya mulai menyangsikannya sebagai kenyataan. Ya, cuma semacam PHP lah sepertinya.

Lama sekali pesanan kami terhidang membuat saya berbisik kepada Edwin, "Tenang, ayamnya masih dikejar untuk dipotong dan nasinya masih berupa beras dan sedang akan ditanakkan."

Lebih duapuluh menit menunggu akhirnya makanan siap juga. Tapi tunggu dulu, benar sih ada ayam goreng dan sambal, tetapi mana lalapannya? Tiada mentimun, tiada kacang panjang, tiada pula daun kemanginya. Rasa lapar membuat kami memakan yang ada saja walau merasa kurang lengkap. Agak kecewa sih iya, tetapi agak kecewa itu meningkat tarafnya menjadi sungguh kecewa manakala kami selesi makan dan bertanya, "Berapa?" untuk dua piring nasi dan dua gelas es teh. Tadinya kami hendak memakai kerupuk sebagai pelengkap tetapi karena tak ada, tentu pisang goreng akan menjadi aneh dipakai pelengkap makan 'lalap'.

"Empat puluh ribu," kata si ibu warung.

Mendengar itu saya yang masih kepedesan makin pedes saja rasanya.
Berdasar pengalanan tadi, saat mudik kemarin, agar tidak kena petegik lagi, saya memilih andok makan di warung yang selain memajang menunya, melengkapi pula dengan harganya. Ini penting, lebih-lebih bagi orang yang hanya punya sangu cumpen, berdompet tipis.
Meja kursi dicat warna merah sebagai ciri Warung Merah,
tetapi yang penting harganya terbilang relatif murah.

Di terminal Bayuanga Probolinggo, ada banyak depot berjejer. Menunya pun beragam sesuai keinginan, tetapi yang memajang harga hanya sedikit saja. Dari yang sedikit itu, Warung Merah salah satunya. Menu yang tersedia? Mulai soto, bakso, lodeh, kare, jangan bening, sop sampai lalapan pun ada. Minumnya mulai susu soda, kopi, teh, es jeruk dan lain sebagainya. Kesitulah kami menuju dengan kalkulasi tak mengkinlah 'terperosok' lagi.

Benar juga, untuk semua yang kami makan, total jenderal saya cuma harus membayar empat puluh ribu saja, dengan perincian; dua piring nasi lalapan ayam 11 ribu per porsi, sepiring soto kesukaan si kecil sembilan ribu saja dan es teh tiga ribu per gelasnya. Murah bukan? *****

25 Juli 2015

Puasa Berita

LAMAT-LAMAT Kang Karib ingat jaman ketika televisi cuma satu saluran. Pada jam sembilan malam, muncullah program Dunia Dalam Berita. Dan pada segmen terakhir ini Sazli Rais dengan suaranya yang khas dan ngebas muncul membawakan Ramalan Cuaca. Sebuah acara yang sama sekali tak menarik perhatian orang sekampungnya Kang Karib. Karena, untuk menggelar hajatan, mantu misalnya, orang tak pernah berdasar ramalan cuaca, namun lebih bersandar kepada petunjuk Mbah Selar. Orang yang diyakini mempunyai kemampuan linuwih, salah satunya memindah turunnya hujan. Sayangnya, jaman itu informasi menyebar tidak sedahsyat sekarang. Sehingga kesaktian Mbah Selar menjalar hanya melalui tutur berantai dari mulut ke mulut saja.

Bandingkan, coba, dengan jaman sekarang!
Jaman ketika sekecil apapun berita, ia bisa langsung diketahui orang sedunia (maya). Ambil misal; kalau di pelosok Trenggalek ada orang yang menemukan sebongkah batu yang telah dibentuk sebagai akik, yang ketika batu itu disinari lampu akan tampak bentuk kutang di dalamnya (yang kalau diamati BH itu serupa milik artis ternama), unggahlah ke medsos, niscaya ia akan kondang dalam sekejap. Padahal, ketika inforrnasi menjadi sesuatu yang
nggegirisi, haus akan ia, sementara yang digelonggongkan untuk menghapus dahaga adalah sampah, duh betapa akan membuat kembung belaka.

Makanya Mas Bendo ingin puasa. Bukan tak makan minum seperti lazimnya, namun ia nawaitu tak akan mengkonsumsi berita dari manapun dan dari siapapun. Ia tak ingin mendengar Tolikara yang oleh media (online utamanya) dijadikan dagangan; bukan untuk memadamkan, tetapi agar lebih berkobar. Tak pula ia ingin mendengar tokoh dan awam bicara ini-itu tentang, misalnya, Islam Nusantara padahal (bisa jadi lho ya) ia tak pernah konfirmasi kepada para kyai yang menggagas istilah itu tentang apa makna istilah yang dijadikan tema Muktamar NU ke 33 di Jombang 1-5 Agustus ini.

Kalau tidak makan berita tidak apa-apa,” dalih Mas Bendo, “lalu untuk apa aku harus mengkonsumsi berita?”

Tahu berita itu penting,” sok bijak Kang Karib menjawab, “lebih penting lagi kita harus bisa menyaring; ini berita atau hanya sekadar sampah”

Lha kalau untuk menikmati berita saja aku repot harus menyaring dulu, ya buang-buang waktu, Kang. Mending puasa berita sekalian.”

“Lho, jangan salah, nDo. Isi kitab suci itu, antara lain, juga adalah 'berita'. Lalu, apa
njur kamu juga berhenti nderes dan ngaji? Lak ndak to?”

Lalu Kang Karib bicara bahwa berita itu ibaratnya gabah. Segoblok apapun –kecuali ayam-- orang tak akan langsung makan gabah. Ia harus digiling atau ditumbuk dulu agar jadi beras. Sudah menjadi beras pun masih diinteri dulu, dibuang las dan kerikilnya. Sebelum dimasak, dicuci dan dibilas berkali-kali dulu sampai bersih baru ditanak hingga matang. Karena kalau setengah matang sudah dimakan, bukannya kenyang, perut malah akan mbesesek, begah.

Berita yang disebarkan oleh media yang tidak jelas, yang dikelola oleh entah siapa dengan tujuan apa, kalau kita terima begitu saja, sama saja kita bukan makan nasi, tetapi nguntal gabah,” wejang Kang Karib. *****


24 Juli 2015

Mudik, Sebuah Catatan Kecil

"SETIAP Lebaran 'orang kota' pada mengaku berasal dari udik sehingga pada mudik," tulis seorang teman lewat akun FBnya. "sesampainya di kampung, 'orang udik' itu malah petita-petiti bergaya sebagai orang kota," lanjutnya.

Sudahlah, itu hal lain. Yang, bisa jadi, saya juga melakukan walau tanpa sadar. Sekarang saya berniat membuat catatan kecil tentang mudik. Dan sebagai orang kecil, tentu catatan ini saya bikin sendiri, karena kalau orang besar yang mudik, pasti ada media yang dengan senang hati menuliskannya. :)

Karena tiga hari pertama lebaran masih harus menjalankan tugas kenegaraan (lebay, ini memang saya lebay-kan...), maka saya baru sempat mudik hari ini. Dan karena (sekali lagi: karena) asap gunung Raung mengganggu penerbangan sehingga bandara di Banyuwangi dan Jember termasuk yang juga ditutup, terpaksa saya menggunakan angkutan darat. (padahal biasanya ya memang naik bis).

Saya take off dari Purabaya persis jam enam pagi naik bis Borobudur yang karena saya langsung naik menjadikan nopol tak sempat saya catat. Yang tercatat malah waktu tempuh Purabaya-Bayuangga yang gak jelek-jelek amat. Durasi yang biasanya rata-rata dua jam, Borobudur 'mabur' dengan capaian waktu 105 menit saja.

Namun, entah sebagai konsekuensi atau terkena tueslag, tarifnya pun dinaikkan sampai setinggi stupa. Yang normalnya 16 ribu atau 20 ribu per pantat, menjadi 25 ribu. Yo wislah, saya yang berangkat berempat, harus membayar 75 ribu, karena si bungsu (demi penghematan) masih cukup dipangku saja.

Tak ada kejutan berarti bersama Borobudur selain hal di atas.

Garis start di terminal Bayuangga, Probolinggo.
Transit sebentar di Bayuangga hanya untuk ke toilet. Pada saat buang air itu, bis Pari Kesit trayek Probolingo-Jember via Kencong berangkat. Dan saya sama sekali tak mengejarnya karena si sulung masih terjebak antrian panjang di pintu toilet. Lagian, walau namanya Pari Kesit, jalannya tak bakalan kesit sebagaimana umumnya bis yang via Kencong lainnya.

19 Juli 2015

Lebaran tanpa Khong Guan

SUDAH menjadi tradisi, selama ramadhan, di kiri-kanan sepanjang jalan Kalirungkut, Surabaya, menjamur lapak penjual kue dan aneka sirup. Variasi pilihan lumayan lengkap, dan (konon) harga yang dipatok pun lebih ramah di kantong.

Sebagaimana mal atau pasar, lapak-lapak itu makin ramai sesaat setelah cairnya THR (maklum, Rungkut adalah kawasan industri --yang tentu penghuninya banyak sekali kaum buruhnya), saat mana di masjid atau surau jamaah tarawih justru sedang mulai berkurang. Lokasi lapak kebutuhan kue lebaran itu tak seberapa jauh dari pabrik PT Jacobis, produsen merek-merek biskuit kondang. Salah satu varian produknya mungkin malam ini mulai Anda tata di meja depan.

Kalau istri Anda adalah penghobi diskon, istri saya pun demikian. Hari-hari kemarin tak membeli Khong Guan, malam ini mengajak diantar ke lapak-lapak itu demi tujuan mendapatkan harga lebih miring lagi. Prediksinya; malam ini malam terakhir, dan lapak-lapak insidentil itu esok hari sudah tidak jualan. Dengan kata lain, malam ini malam cuci gudang.

Berbelanja di masa injury time begini ternyata mengandung risiko juga. Dari semua lapak yang ada, tak satu kaleng pun Khong Guan tersisa. Adanya cuma Hock Guan, satu merek yang, sayangnya, kurang diminati istri saya --karena dari namanya saja sudah mengesankan sebagai Khong Guan KW kesekian.

Gagal mendapatkannya di lapak pinggir jalan, sasaran perburuan berikutnya adalah beberapa minimarket di sepanjang Kalirungkut. Hasilnya? Setali tiga uang.

Ya wislah.
Sebagaimana tak pakai baju baru tak apa-apa karena masih ada baju yang lama, lebaran tanpa Khong Guan pun tak apa-apa karena masih ada kue lainnya. Kalau terpaksa, tak ada kue pun tak apa-apa. Di idul fitri, ada yang lebih layak diberikan dan diterima; maaf. Maka, di hari istimewa ini, kalau saya meminta maaf, saya pun menerima permintaaan maaf Sampeyan. Sekarang, skor kita kosong-kosong ya....*****

11 Juli 2015

Kita dan Pikiran Kita

MEREKA yang berpikiran hebat akan membicarakan ide-ide. Mereka yang
berpikiraan sedang akan membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang
berpikiran sempit akan membicarakan orang lain.

(Eleanor Roosevelt)

10 Juli 2015

PPDB Surabaya: Serem...

PPDB Surabaya, sereemmm....”
“Masa sih?”
“Iya, Om.”
“Berdoa aja.”
“Masuk negeri sudah gak ada harapan.”
“Masih ada harapan.”
“?!”
“Iya, di terminal: banyak Bis Harapan Jaya...”


BEGITULAH yang sempat saya intip di dinding Facebook seorang pelajar lulusan SMP yang sedang ketir-ketir memelototi website penerimaan peserta didik baru, dan dia mengincar sekolah lanjutan negeri. Boleh SMA, boleh SMK. Dan selalu, kegalauan yang kadarnya sunguh-sungguh, ada saja yang mengomentari secara bercanda di socmed.

PPDB yang online ini, sungguh adalah biang dari (tidak hanya calon siswa) dag-dig-dugnya orang tua. Lebih-lebih yang hanya punya amunisi nilai pas-pasan. Salah dalam membidik sekolah tujuan, bisa jadi malah tersingkir dan harus sekolah di luar negeri (baca: swasta).

Bagi orang kebanyakan, sekolah swasta dianggap agak menakutkan. Biaya besar adalah alasannya. Walau, secara prestasi, tidak sedikit
kok sekolah swasta yang jempolan. Tentu bagi yang dompetnya tebal itu bukanlah masalah, dan justru sedari awal sama sekali sudah tak mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri.

Hari ini PPDB sudah ditutup dan keributan masih terjadi. Yang tidak diterima di sekolah negeri ribut mencari sekolah swasta, yang diterima di negeri (dan swasta) sibuk melengkapi ini-itu dalam daftar ulang. Iya, datang ke sekolah –dalam tahap ini-- tidak melulu datang, menyerahkan berkas, lalu selesai dan pulang. Enteng sekali kalau begitu. Tidak ada makan siang yang gratis, Bung. Apalagi sekolah. Dan daftar ulang itu, berarti pula daftar uang.

Padahal hari-hari ini adalah hari menjelang lebaran. Dimana kebutuhan untuk dipenuhi ada panjang sekali daftarnya. Baju untuk anak-anak (karena untuk ibu-bapak item ini layak bisa dinomorsekiankan), beli kue untuk tamu yang berkunjung di hari raya nanti, biaya mudik-balik ke kampung halaman. Dan deretan senarai ini bisa panjang sekali manakala ganti korden, ganti furniture sampai cat ulang dinding yang sejatinya belum kusam dimasukkan.

Sekali lagi, bagi yang sudah menyiapkan anggaran untuk aneka aneka kebutuhan itu tentu bisa lebih nyantai. Lha, bagi orang yang ekonominya pas-pan tentu hal ini adalah beban. Dan, Anda tahu, selalu ada jalan untuk meringankan beban: hobi. Bagi sebagian orang, burung peliharaan di kala pikiran suntuk, kicaunya bisa meringankan. Begitu juga fenomena batu akik belakangan ini.

Siapa tahu, sambil menyusun strategi menyelesaikan masalah, duduk santai di teras rumah sembari menggosok batu akik kesayangan, tiba-tiba asap tipis mengepul dari batu itu. Sesosok jin muncul dan berkata, “Silakan Tuan ajukan tiga permintaan, niscaya akan saya kabulkan....” *****

5 Juli 2015

Bukber Keluarga Besar Puri Matahari

Pak Bambang Sunarso memberi sambutan.
BERTEMPAT di Tenis Court Puri Matahari Apartment, Jumat sore (3 Juli 2015) kemarin digelar acara buka puasa bersama (Bukber). Acara diikuti karyawan dari berbagai departemen yang ada, dengan yang ketiban sampur sebagai tim panitia tahun ini adalah departemen Security, House Keeping dan Engineering.

"Terserah mau dikonsep seperti apa, yang penting acara ini bisa terlaksana dengan apik dan bermakna," begitu pesan Bu Marina (HRD) memberi keleluasaan kepada panitia.

Di antara waktu aktifitas kerja, panitia mencuri waktu demi menyusun rangkaian acara. Tak banyak berubah sih dibanding penyelanggaraan tahun-tahun yang lalu. Betul, acara buka bersama di Puri Matahari memang sudah merupakan kegiatan rutin setiap bulan ramadhan tiba.

Sambil menunggu acara utama,
ada kuis kecil-kecilan dengan
hadiah yang juga kecil-kecilan.
Dengan mengangkat tema yang berbeda-beda di tiap tahunnya, diharapkan acara ini tidak semata sebagai momen makan buka puasa bersama semata. Dengan tausiah ustad, acara ini paling tidak bisa menjadi sarana 'pembekalan' yang pada pokoknya, bisa menambah spirit karyawan dalam beribadah, sekaligus juga dalam bekerja.
Bergaya setelah berbuka.

"Ramadhan senantiasa diikuti meningkatnya kuantitas ibadah," papar Bambang Sunarso (Manager Property) yang mewakili managemen memberikan kata sambutan. "Dan kuantitas ibadah itu sudah seyogyanya dibarengi dengan kualitas spiritualitas."
Pemandangan setelah adzan
maghrib berkumandang.

Ceramah agama disampaikan oleh ustad Farid dari Krian, Sidoarjo dengan mengangkat tema Etos Kerja dalam Bulan Ramadhan. Lebih kurang satu jam ustad Farid memberikan tausiah yang disimak hadirin dengan antusias. Dan tepat jam 17.25 adzan magrib berkumandang; saat tiba waktunya kami berbuka puasa. *****

Foto-foto: Nanin Indah.

4 Juli 2015

Stop Beli Set Top Box

"YAELAH, bukannya bertambah, siaran digital malah berkurang. MUX
TransCorp sekarang ikutan menghilang. Praktis, kini yang tersisa cuma
MetroTV, BBSTV dan channel-channel TVRI..." begitu gerutu seorang
kawan Facebook di grup siaran televisi digital zona 7 Jawa Timur.

ClingSinyal MUX TransCorp tadinya termasuk yang kuat.
Sekarang ia cling; bukan berarti bening, tapi hilang.
Membaca itu, saya belum cek langsung di layar kaca, tetapi saya
langsung percaya. Dengan payung hukum yang (konon) belum jelas,
terlalu berharap siaran tv digital maju dengan derap pasti sungguh
laksana pungguk merindukan bulan. Betul, di awal program ini
dicanangkan, tahun 2018 dipatok sebagai batas akhir siaran analog
mengudara. Namun dengan realita di lapangan yang seperti ini, bisa
jadi tahun 2018 akan terlewatkan begitu saja dengan siaran analog
masih lantang merapal mantera: sekali mengudara tetap mengudara.

Lalu, bagaimana dengan program migrasi dari analog ke digital yang
sudah kadung didengungkan? Oh, pasti orang-orang pintar yang terlibat
di dalamnya sedang bekerja sekuat tenaga untuk tidak membuat planning
bagus (dan secara teknologi sudah sebagai keniscayaan) ini begitu saja batal.
Termasuk pihak pemenang lelang yang sudah
membelanjakan duit yang tidak sedikit untuk membeli perangkat pemancar
digital tentu tidak rela bila kemudian peralatan yang sudah dibeli itu
menjadi mubazir. Sebagai penonton televisi yang sudah terlanjur
membeli set top box, tentu tak salah ikut berharap sekuat tenaga agar
set top box yang kadung dibeli menjadi tidak berguna.

Yang Tersisa.  Tetap bertahan atau akan menyusul ikut menghilang?
Mutu gambar dan suara yang cling bebas semut, membuat banyak orang
tergiur membeli set top box DVB-T2. Gairah itu ditangkap produsen
untuk menggenjot produksi reciever yang secara harga agak lebih mahal
dari DVB-S2, (padahal yang DVB-S2 bisa menangkap siaran televisi
dengan channel amat sangat banyak walau untuk itu memang dibutuhkan
antena parabola lengkap dengan LNB-nya). Alasan set top box (STB) tak
perlu parabola dan cuma tetap pakai antena UHF biasa mungkin
masuk sebagai pertimbangan utama.

Di toko-toko (online utamanya)memang masih ada yang
menjual set top box DVB-T2. Malahdengan pilihan merek yang
 beragam. Melihat kenyataan siarannya malah
berkurang sebagaimana dikeluhkan teman dari Surabaya yang gerutuannya
saya kutip sebagai pembuka tulisan ini, kalau saya boleh menyarankan:
stop dulu deh rencana beli set top box. Tunggu sampai semua jelas.
Banyak orang yang sudah kadung beli STB sekarang ini telah memasukkan
kembali alat itu ke dus lalu menyimpannya dalam lemari.

Sebentar lagi lebaran; dan anggaran untuk beli STB itu bisa dialihkan
dulu untuk membeli kebutuhan hari raya.

Bagaimana, masih ngebet pingin beli STB? *****

20 Juni 2015

Gurindam Ramadhan

dalam Islam ia bulan kesembilan
bernama pula bulan ramadhan

bulan ramadhan perbanyak ibadah
bukan bermain gawai tiada lelah

berpuasa iman diperkuat
kala pahala dihitung berlipat

lapar-dahaga tiadalah guna
bila berghibah tetaplah suka

di surau-surau orang tadarus terdengar
ataukah itu rekaman yang diputar

tengoklah pula di layar kaca
banyak artis alim tiba-tiba

bila nanti lepas bulan puasa
aurat kembali diumbar kemana-mana

puasa ini demi ilahi
bukan karna malu teman kanan-kiri

gurindam ini kutulis sore jam empat
kala maghrib kian mendekat

terbayang di meja aneka makanan
padahal tak mungkin semua dimasukkan

kala lapar-dahaga usus laksana melintir
kala berbuka (Subhanallah..) betapa nikmat seteguk air *****


18 Juni 2015

Sholat Tarawih: Pilih Patas atau Bumel?

SAYA bukan bismania. Dalam setahun, rata-rata hanya naik bis,
hanya saat mudik dan balik lebaran saja. Karenanya, pengetahuan saya tentang
bis sangat dangkal sekali,sebatas yang lewat di kampung saya saja.
Nama-nama macam Akas, Tjipto(sebagai pesaing Akas, sekarang saat
 saya pulang kampung, tak pernah
lagi ketemu si Tjipto ini. Kenapa ya?) sangat mendominasi sebagai bis
yang sering melintas di jalan raya desa kami. Pada peringkat
berikutnya tersebutlah nama Sabar Indah, Jawa Indah, Kenongo, Ladju,
Kentjono, Yuangga, Jember Indah. Jajaran nama yang saya sebut
belakangan itu sungguhlah jangan percaya begitu saja pada plang trayek
yang dipampang pada kaca. Walau tertulis Jember-Surabaya dan kondektur
dengan mantap bilang, "Langsung, Probolinggo tidak parkir," katakan
Sampeyan turun Wonorejo saja.

Dari terminal Menak Koncar Lumajang itu, jika Sampeyan hendak ke
Surabaya, ada banyak pilihan bis yang lebih nggenah, ya bentuk
'tubuhnya', ya kecepatannya. Bis-bis trayek
Jember/Banyuwangi-Surabaya yang via Tanggul memang lebih banyak
pilhannya.

Sungguh, penumpang bis (bumel) Jember-Lumajang yang lewat Kencong
adalah orang yang harus mempunyai tingkat kesabaran tinggi. Jangankan
truk muat pasir yang jalannya ogah-ogahan karena beban yang
dipikulnya, ibarat kata, cikar (gerobak yang ditarik sapi) juga bisa
menyalip Kentjono, Kenongo dkk itu. Saking pelannya jalan mereka.

Tersebutlah nama kyai Zailani di kampung kami. Oh, bukan. Beliau ini
bukan kyai yang merangkap jabatan sebagai sopir bis. Pekerjaaan utamanya adalah
jualan kitab secara keliling, door to door. Tetapi karena caranya
sebagai imam sholat tarawih pada surau yang 'dipangku'-nya itu yang
membuat beliau juga bergelar sebagai 'sopir' bis Kenongo.

Dengan suara bergetar (karena sepuh), beliau membaca bacaan-bacaan
sholat secara santai, tidak keburu sama sekali. Dan para jamaah,
adalah ibarat penumpang bis Kenongo yang harus punya persediaan waktu
yang longgar.

Bisa ditebak, bila jamaah yang tadinya sholat di sarau kyai Zailani
besoknya berpindah secara permanen ke musholla yang sholat tarawihnya
sudah selesai disaat kyai Zailani baru dapat empat, ia telah
lebih memilih bis Patas sekelas Akas daripada bumel sekaliber Kenongo.

Ada lho ya di kampung saya imam tarawih yang mampu baca Fatihah dalam
sekali tarikan nafas. Nah hitung saja; Fatihah satu tarikan nafas, Al
Kafiruun satu tarikan nafas, bacaan lain anggap saja empat tarikan
nafas. Maksimal sebelas tarikan nafas sudah dapat dua rakaat. Apa
tidak hebat itu? Tetapi, apa tidak rawan kecetit bila terlalu cepat
dalam jentat-jentit?

Barusan, seorang teman Facebook saya update status secara jenaka.
Tulisan yang saya duga dibuat seturun dari sholat tarawih itu secara
lengkap begini, "Masih ingat sosok Lucky Luke: tokoh koboi kocak yang
gerakan menembaknya lebih cepat dari bayangannya? Nah, saat ini ada
sholat tarawih madzhab Lucky Luke: gerakannya lebih cepat dari
bayangannya. Wuz, wuz, wuzz..." *****

13 Juni 2015

Unas: Ujian Nasib

MASJIDIL HARAM tiada pernah sepi. Jam berapapun saya menengoknya,
selalu ada orang (tak sedikit jumlahnya) yang asyik dengan ibadahnya. Shalat,
tawaf dan lainnya. Lain waktu, saya menengok Masjid Nabawi. Lagi-lagi
saya dapati tiapa pernah sepi. Orang sholat dan mengaji tiada henti.

Ohya, saya memang belum kesampaian secara nyata bertandang ke tanah
suci dan masjid Nabawi. Tetapi saban hari, 24 jam tiada henti (kalau
mau) saya bisa melihat segala yang terjadi di sana secara real time.
Satelit dengan gratis mengirim gambar itu dari Madinah dan Makkah
langsung ke rumah saya di sudut kelurahan bernama Kalirungkut.

Tak melulu mendapati orang sembahyang atau mengaji, di tempat suci
barangkali ada saja yang datang dengan niat yang tak seratus persen suci.
Oh, saya terlalu subyektif, barangkali. Tetapi beberapa kali saya mendapati
kenyataan bahwa ada saja orang yang berebut mendekat ke Kakbah;
tangan kiri mengelus dinding Baitullah, kemudian tangan kanan mengeluarkan
ponsel demi mengabadikan momen itu secara swalayan dalam sebuah tindakan selfie.

Begitulah, abad informasi --dengan media sosial sebagai keturunannya--
, telah memudahkan orang untuk memamerkan segalanya. Baik memang itu
penting, atau hal-hal yang remeh-temeh belaka.

Ketika orang membutuhkan tempat untuk diakui eksistensinya, medsos
memberinya sarana untuk bernarsis-ria. Malah ada gejala meninggalkan
kebiasan berdoa sebelum makan menjadi; mengunggah foto menu sebelum
makan. Demi apa coba? Seberapa pentingkah yang hendak kita makan
diketahui orang sedunia (maya)?

Pun demikian dengan sekian banyak orang (tua) siswa yang kemarin dengan
bangga mengunggah foto nilai Unas? Untuk apa kalau bukan hanya demi gaya.

Unas hanya secuil upil kehidupan. Dunia belum kiamat saat nilai Unasmu
jelek, nDuk. Dan pintu surga tidak bisa dibuka hanya oleh nilai Unasmu yang
bagus, Le.

Dalam banyak hal, kadang terasa yang lebih menentukan adalah nasib.
Walau, kata orang bijak, orang dengan kesungguhan, yang berusaha lebih keras,
yang lebih berhak memperoleh nasib baik. Dan sebaik-baiknya orang, tentu yang
dimana pun terdampar, ia senantiasa tidak menjadi manusia, kecuali
menjadi insan yang 'migunani' bagi sekitar. Di saat seperti itu,
dalam kehidupan sekian puluh tahun lagi itu, niscaya orang tidak ada
yang menanyai berapa nilai Unasmu dulu. *****



Rindhang

ASALE nalika bada taun kepungkur dheweke nduweni nomer ponselku. "Saka Rini," kandhane mangsuli pitakonku.

Ya, minangka kanca SMP, aku isih ora lali Rini.
Rini kancane Kadarwati, Zahrotun lan Sali. Jeneng sing dak sebut pungkasan iku saiki kabare wis sukses nang Bali. Duwe salon sing rame pelanggane. Lan; Sali sing pancen wiwit biyen kemayu kuwi, saiki operasi dadi wadon lan krungu-krungu jenenge ganti dadi Shally.

"Aku Rindhang," kandhane liwat ponsel.

Dak peksa ngiling-iling, jan ora kelingan blas.

"Pancen aku ora nganti lulus," Rindhang nutukake, " sawuse ngantem Pak Juma'i, aku langsung metu. Ra sekolah ra pathek'en," guyune jan ucul-cul.

Ya tekan kuwi, nganti saiki, terus wae Rindhang hubungi aku. Yen ora nelepon, ya SMS. Ra pandhang wektu; kadhang tengah wengi. Tapi siji; dheweke ora dak wenehi alamat omahku.

"Wedi yen dak parani ya?"

Aku ora mangsuli.

Nanging, kerana penasaran, sawuse meh selawe taun ora ketemu, aku nyempatke janjian ketemu.

ooOoo

Rambute rada brintik, kulitane rada ireng. Wong lanang nang ngarepku iki nganggo jaket kulit, dedeg-piyadege atletis.

"Akhire...." Rindhang mapak aku nang lawang restoran. Dheweke ora mung nyalami, tapi ngrangkul aku kanthi raket. Nanging aku malah krasa aneh; sapa satemene Rindhang iki?

"Piye, wis iling?"

Sajujure aku lali, nanging mesthi ora patut yen aku kanthi blaka-suta kandha mangkono ing ngarepe. "Wah, tambah gagah saiki..."

"Awakmu ya awet enom," walese. "Dak kira biyen kowe tenanan karo Rini. Eh jebul malah ucul tekan dhusun kesasar ing kutha iki..."

"Lha awakmu kok ya nganti tekan kene iki ya kepriye critane?"

Rindhang malah ngguyu kaya mamerke untune sing putih, kosok-baline karo pakulitane.

Ing meja wis pepak isine. Rindhang nyumanggakne, kandhane, "Ayo, ora usah isin. Kabeh wis dak bayar kok. Anggep wae iki aku ngurmat kanca lawas sing seprapat abad ra ketemu.."

Sinambi ngono, Rindhang takon-takon keluargaku; anak bojoku. Dak jawab sa anane. Dak tutupi saperlune. Lha iya ta? Kanca ya kanca. Iku selawe taun kepungkur. Saiki aku ora weruh sapa sejatine dheweke.

"Aku ya ngene iki. Penggaweanku ya uyar-uyur ngene iki," kandhane.

"Mung uyar-uyur kok mobilmu apik", sangkalku. "Ra mungkinlah.."

"Sawuse metu sekolah kae," sawuse nyumet udut, Rindhang kandha, "aku mrana-mrene. Nang Kalimantan rong taun, nang Papua pitung taun. Nalika aku bali nyang ndesa, kowe wis ra ana. Jare kanca-kanca, kowe neruske sekolah nyang kutha."

Aku ngrungokake wae.

"Njur aku kerja melu Pak Gelam."

Pak Gelam? Wah, jaman nang ndesa biyen, sapa sing ora wedi marang wong lanang gedhe-dhuwur kanthi brengos njlaprang, lengene nganggo gelang oyot mbuh wit apa, menyang ngendi wae tansah nganggo klambi ireng lan udheng abang. Rindhang kerja melu Pak Gelam? Padhahal Pak Gelam iku raja begal.

6 Juni 2015

P a n d a n

WALAU tak seberapa luas, saya punya halaman depan yang disitu ada
beberapa tanaman. Baik yang sengaja ditanam maupun yang tumbuh dengan
sendirinya. Bayam adalah yang tumbuh tanpa saya menanamnya. Sementara
belimbing, sirsak, turi, beluntas, pohon ungu dan pandan adalah yang
sengaja saya tanam.

Semua tertanam dengan ala kadarnya, dalam arti; kalau dipandang oleh orang yang mengerti penataan landscape ia terlihat tiada seninya sama sekali. Tak apalah. Yang penting ada tambahan asupan
oksigen yang bisa saya hirup di halaman untuk mengimbangi taburan
polusi yang dikeluarkan cerobong-cerobong pabrik --maklum, karena rumah saya
hanya berjarak limapuluh atau seratus meter saja dari kawasan industri. Yang
penting lagi adalah fungsinya; daun beluntas untuk mengatasi bau
badan, daun ungu untuk mengusir wasir, daun sirsak untuk mencegah
kanker, kembang turi untuk dipecel dan pandan untuk penambah aroma
pada kolak atau penganan lainnya. Buah belimbing bisa juga sih untuk menyembuhkan sariawan,
tetapi sekarang belum berbuah. Dan saya belum tahu apakah daunnya
mempunyai khasiat yang sama dengan buahnya. Yang saya tak harus
menunggu berbuah adalah pandan. (eh, apakah pandan juga berbuah?)

Dibanding punya tetangga kanan-kiri, tanaman pandan di halaman rumah
saya terbilang paling subur. Daunnya lebat. Padahal istri saya belum
tentu sebulan sekali bikin kolak, dan untuk sepanci kolak, paling
banter cuma membutuhkan lima helai daun pandan sebagai penambah aroma.
Tetapi, daun pandan di depan rumah itu nyaris saban hari berkurang.
Dengan lokasi di bibir pekarangan dan tanpa pagar, siapapun yang lewat
dan sedang ingin mengambil daunnya bisa melakukannya dengan gampang.

Mula-mula jengkel juga; gak ikut nandur (menanam), kok enak saja
mengambil tanpa permisi.

Tetapi, tunggu dulu, berapa sih harga dua-tiga helai daun pandan?
Sudah sepadankah harga itu untuk menumbuhkan rasa dengki? Iya, tetapi
mestinya kan permisi dulu, nembung dulu. Lho, bikin kolaknya kan pagi,
kalau menunggu sampai sore ketika yang punya sudah pulang kerja, apa
harus kolaknya tanpa pandan?

Sepertinya sangat banyak hal kecil dan tak seberapa nilainya yang bisa
sebagai bibit tumbuhnya penyakit hati. Dan ketika saya tidak bisa
mengikhlaskan hal-hal sepele, makin musykil saja rasanya untuk
merelakan hal-hal besar.

Padahal pandan itu tumbuh nyaris tanpa pernah saya rawat kecuali
menyiramnya. Kalau mau, tentu Yang Maha Menumbuhkan bisa saja sejak
awal membuat pandan itu puret, bengkring atau bahkan mati. Karenanya, kenapa
saya tidak menumbuhkan pikiran bahwa sejatinya pandan itu milik
orang-orang yang mengambilnya tanpa permisi itu, dan Tuhan hanya sedang
menitipkannya untuk tumbuh subur di pekarangan saya. *****

EWAS Bikin Klejingan

Melihat-lihat dulu, menawar-nawar kemudian. (Foto: Galuh Setiawan)
BERTEMPAT di play ground tempat kerja saya ini, Kamis kemarin (4 Mei 2015), EWAS (Expatriate Women's Association of Surabaya) mengadakan acara Yard Sale. Pada awalnya, kegiatan bazar yang bersifat charity itu hanya dikhususkan untuk anggota. Tetapi sampai siang pengunjung yang datang sangat jauh dari harapan, bahkan hanya yang membuka stan saja. Padahal, mulanya panitia mengumumkan yang diundang dan akan datang sekitar 40 anggota. Lha kok ternyata suasananya hanya sepoi-sepoi sepi-sepi saja. Nah, siapa dong yang beli dagangannya?

Yang dijual aneka macam, mulai baju, sepeda, tas, sepatu, kacamata renang, mainan anak yang semuanya adalah barang lungsuran atau bekas pakai. Harga dibanderol mulai sepuluh ribu (untuk barang mainan anak-anak) sampai satu juta. Ya, yang satu juta itu harga sebuah tas, dan bekas. Mahal? Relatif. Tetapi, "Ini barang bagus," kata Nyonya Montse yang memajang tas itu. "Lihatlah; bahannya, jahitannya, semua perfect. Ini kalau baru, harganya three million rupiah," katanya.

Suasana bazar. (Foto: Galuh Setiawan)
Begitulah, akhirnya bazar itu terbuka untuk kami-kami yang bekerja disini. Saya ikutan pula berkeliling dari stan ke stan. Pegang-pegang saja. Bukan apa-apa, harganya itu lho yang bikin kulit dompet saya merinding.

"Ini murah, mas," kata seoarng teman yang memegang sepatu anak-anak berbahan kulit berwarna cokelat.

"Berapa sampeyan beli?" tanya saya.

"Seratus," jawabnya mantap. "padahal kalau baru ini tujuh ratus, Mas," tambahnya.

Saya menuju stan lain. Selain busana dan mainan anak, disitu PS Portable merek Sony terselempit pada tas dengan posisi menonjol ke atas. Ya, saya tak tertarik membeli tasnya, tetapi PS-nya. Agar tidak seperti membeli kucing dalam karung, saya buka dus PS itu, dan, "No, no.Ini punya saya, tidak dijual," kata bule cantik itu dalam bahas Inggris yang sukses membuat muka saya merah maroon karena klejingan.

Sepeda impor ini dibanderol lima ratus ribu rupiah. (Foto: Galuh Setiawan)
Tentu saja meminta maaf atas kelancangan itu. Saya berkeliling ke stan lainnya lagi. Tetapi, Anda tahu, rasa malu kadang susah hilang begitu  saja. Ia harus diguyur oleh sesuatu yang lain agar berlalu. Menujulah saya ke bawah pohon trembesi dimana ditempatkan pada meja penganan kecil, kopi, teh dan air mineral. Saya tidak minum kopi, juga sedang tidak ingin ngeteh, dan akhirnya mengambil sebotol kecil air mineral saja.

"Oke, silakan; harganya sepuluh ribu sebotol," seorang panitia, juga perempuan bule, membuat saya meletakkan lagi sebotol kecil air mineral itu.

Saya kira gratis, lha kok harus bayar. Sepuluh ribu pula harganya, padahal diluar paling cuma duaribu.

"Khusus anggota memang gratis," terangnya.

Saya menjauh, meninggalkan arena. Tak meneruskan mengunjungi stan lain; takut klejingan lagi. *****

5 Juni 2015

Caring; Sebuah Rebranding

CAPING adalah sebutan untuk penutup kepala terbuat dari anyaman bambu
yang dikenakan petani saat ke sawah. Dan 'caping gunung' adalah judul
gending Jawa yang semua sinden pasti bisa menembangkannya. Tetapi ada
'caping' lain yang selalu bisa ditemui pembaca majalah Tempo di
halaman belakang. Ya, 'caping' yang ini bisa bermakna lain sekaligus
tidak. Caping sebagai 'penutup kepala', sekaligus 'caping' lain
sebagai Catatan Pinggir Gunawan Mohammad. Pada tahap itu, bukan
majalah Tempo namanya kalau tanpa ada Caping tulisan Mas Gun di
dalamnya.

Awalnya blog ini saya kasih nama Sudut Edi Winarno. Dan hanya sebentar
label itu muncul. Karena kurang sreg, lalu saya ganti menjadi Kedai
Kang Edi. Nama ini yang bertahan agak lama: enam tahun. Eh, kok
lama-lama saya ingin ganti nama lagi. Toh blogger tidak melarang hal
itu. Toh untuk gonta-ganti nama blog saya tak harus membuat 'jenang
abang' sebagai sesajen terlebih dulu. Tetapi apa nama yang pas?

Jadilah Caring.
Biarlah kalau ada yang menganggap itu agak mirip Caping.

Bukan, Caring saya ini bukan bahasa Inggris. Malah saya lebih sreg
membacanya sebagai bahasa Jawa. Entah apa arti kata itu dalam bahasa
Jawa yang berlaku di daerah Anda, tetapi di daerah saya caring berarti
menghangatkan tubuh dengan berjemur pada matahari pagi saat musim
bedhidhing kembang cilung, musim dingin saat mekarnya bunga pohon
dadap.

Sebagai orang yang 'kemaruk' ngeblog, awalnya ada beberapa akun blog
yang saya punya, bahkan hingga kini. Tetapi yang agak ajeg saya rawat
ya ini, yang sedang Anda kunjungi sekarang ini.

Ya, sekarang ini bukan lagi Kedai Kang Edi dan sudah menjadi Caring. Sampai kapan nama Caring (catatan
ringan) ini bertahan untuk tidak berganti lagi? Saya tidak tahu.
Tetapi kalau ditanya kenapa saya tetap saja menulis walau pengunjung
jarang yang meninggalkan jejak komentar?

Simpel saja jawabnya. Bagi saya, menulis itu mempunyai perbedaan yang
serius dibanding bicara atau tertawa. Umpama saya selalu bicara
sendiri atau tertawa sendiri, orang dengan gampang akan meletakkan
jari telunjuk di jidat dengan posisi miring untuk memberitahu orang
lain tentang saya. Tetapi ketika saya melakukan aktifitas menulis
sendiri, iya sendiri saja dan di sembarang tempat, niscaya tidak akan ada yang mengatai saya sebagai 'begini'.  (saya menulis kata terakhir barusan sambil meletakkan jari telunjuk di jidat dengan posisi miring).*****