30 Juni 2014

Olala, Asyiknya Merakit Parabola

SEJAK memiliki reciever DVB-T2 hampir dua tahun yang lalu, dan mendapati kenyataan laju perkembangan siaran televisi digital terrestrial cuma begitu-begitu saja, timbul keinginan dalam hati untuk membeli antena parabola saja. Untuk hal itu, dibandingkan dengan memakai DVB-T2 yang cuma tinggal mencolokkan kabel antena ke pantat reciever dengan tanpa berganti antena UHF, rasanya seperangkat parabola lengkap secara harga sedikit lebih tinggi. Sedikit? Ya, relatiflah. Bukankah satu unit DVB-T2 ada yang berharga di atas empat ratus ribu, sementara reciever DVB-S yang sudah HD di pasaran ada yang harganya tidak sampai tigaratus ribu. Satu unit LNB-C Band kisarannya limpapuluh ribu, antena parabola mesh/jaring tigaratus ribu. Tak perlulah Anda menjumlahkan angka-angka yang saya tulis itu. Tetapi saat berjalan-jalan ke pusat penjualan antena parabola di Pasar Genteng Surabaya, rata-rata pedagang menawarkan seperangkat lengkap antena parabola diluar biaya pemasangan pada kisaran tujuhratus ribu rupiah. Mahal? Sekali lagi, relatif.

Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
Si Paramount 6 feet.


Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.

Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.

25 Juni 2014

Korban Tepukan

SECARA pasti saya sudah lupa. Namun karena itu saya alami sebelum menikah, perkiraan saya, itu terjadi kalau tidak tahun 97 ya tahun 98. saat itu di kanan-kiri sekitaran pertigaan Rungkut masih semrawut, masih banyak sekali lapak pedagang kaki lima. Lebih-lebih malam Minggu. Berjajar di situ, mulai pedagang sepatu, baju, batu akik, bakso, gorengan dan masih banyak lagi yang lainnya..♫♪....

Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.

Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.

Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.

Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.

1 Juni 2014

Jula-juli Suroboyo

PILPRES digelar sak diluk engkas
dadi pemilih ayo sing cerdas
ojok golput ojok ora peduli
posisi presiden termasuk inti

negoro kito negoro gedhe
masalah sing onok ugo ora sepele
perkoro korupsi lan sak pinunggalane
butuh pemimpin sing tegas sikape

calon presiden wis ditetapno
siji Prabowo sing sijine Joko Widodo
ayok konco gunakno hak pilih riko
demi kemakmuran nuso lan bongso

sopo ae engkok sing dadi
ojok sampek nglalekne janji
ugo ojok salah ngangkat poro menteri
ojok sampek kliru ngingu tukang korupsi

nang negoro kito opo sing ora dikorupsi
mulai pengadaan kitab suci sampai biaya haji
kelakukan koruptor pancen nggilani
pantese iku dihukum mati*****



31 Mei 2014

Ayam Mainan

KADANG-KADANG ulah penjaja mainan anak-anak bikin jengkel juga. Dengan bunyi-bunyian, biasanya tit-tot, tit-tot, ia datang dimana anak anak-anak berkerumun di situ. Mainan yang dibawanya bisa macam-macam; mobil-mobilan, boneka, senapan-senapanan, robot-robotan dan sebagainya. Sementara, yang namanya anak-anak, sekali pun sudah punya yang sejenis itu, masih juga ingin punya lagi. Dilarang beli, tapi ia punya senjata andalan; menangis. Di situasi macam itu, si penjaja mainan malah tak jua pergi. Petaka datang kala harga di-mark up sedemikian rupa karena si kecil belum juga diam dari menangisnya.

Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.

Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.

Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****

Kambing Hitam Kampanye Hitam

BEGINI,” Kang Karib menunjukkan jari tengah dan telunjuk secara dempet ketika Mas Bendo bertanya siapa yang menang dalam Pilpres nanti.

Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.

Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”

Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”

Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”

Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”

Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”

Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”

Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”

Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”

Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”

Tidak begitu piye to, Kang?”

Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”

Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”

Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”

Sebahaya apa sih, Kang?”

Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”

Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”

Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”

Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”


Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****


25 Mei 2014

U n d a n g a n

SEMASA hidupnya, di kampung dulu, paman saya punya cara khas dalam memperlakukan undangan yang telah diterimanya. Ia mencantolkan pada paku undangan-undangan itu pada saka, kayu tiang utama rumah tuanya. Karena tiang itu persis ada di antara ruang tamu dan ruang tengah, orang akan dengan mudah mendapati lembar-lembar undangan itu. Dari yang paling baru sampai yang telah lama. Untuk mencari tahu yang lama juga bukan perkara sulit, bila warna kertasnya telah usang, ya itulah ia. Iya, bahkan undangan yang telah lama dihadirinya pun masih saja disimpan paman. Untuk apa? Untuk kebanggaan karena sebagai tanda orang blater, banyak kenalan yang telah pernah mengundangnya? Entahlah.

Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.

Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.

Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.

Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.

Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****





10 Mei 2014

Kepekaan Set Top Box

WALAU jumlah salurannya masih sedikit dibanding analog, tampilan siaran TV Digital tentu menang bening, bebas semut. Langkah jumlah televisi yang bersiaran di kanal digital memang masih tertatih, padahal minat masyarakat untuk bisa menyaksikan kanal digital termasuk lumayan. Ini bisa diketahui dari grup-grup di Facebook atau blog-blog yang mengangkat tema televisi digital sebagai kontennya. Belum lagi lapak-lapak online yang menjual set top box DVB-T2 dengan aneka merek. Lalu, yang manakah reciever yang bagus?

Perkara harga, di pasaran bisa didapati set top box mulai dari 300 ribu kurang sekian sampai dengan 400 ribu lebih sekian.

Saya mempunyai empat set top box mulai harga terendah sampai yang lumayan tinggi. Agar tidak menyebut merek, saya namai set top box saya itu mulai dari A, B, C dan D. Untuk yang A, karena barang itu baru berkelas DVB-T, tentu sekarang ia menjadi pengangguran karena siaran televisi digital yang ada sekarang ini semua telah memakai teknologi DVB-T2. Untuk yang B, sekalipun sudah berkelas DVB-T2, tepat setahun saya gunakan, tuner-nya sudah mati plethes. Ia, karenanya, lalu saya jadikan satu dengan si A agar istirahat dengan tenang di atas lemari. (Sekalipun begitu, sebenarnya si A dan si B sesekali masih saya pakai untuk memutar film via USB/flashdisk yang saya rekam memakai set top box).

Nah, yang masih aktif saya pakai sekarang ini adalah si C dan D.
Si C adalah merek yang populer di pasaran. Dibanding keluaran terbaru yang sudah EWS dengan bentuk bodi yang makin mini, punya saya itu masih keluaran pertama yang belum multi view. Bagaimana dengan kekuatan tuner-nya?

Begini ceritanya. Dengan memakai si C itu, siaran yang bisa diterima di Surabaya ini adalah MUX 506MHz/Ch.25 (MetroTV dkk), lalu 522MHz/Ch.27 (TransTV, Trans|7 dan KompasTV), 586MHz/Ch.35 (TVRI_NAS_ TVRI_SURABAYA, TVRI_3 DAN TVRI HD). Itu saja yang bisa dinikmati dengan sempurna. Sementara MUX 490MHz/Ch.23 (tvOne dan antv) sudah dua minggu ini menghilang dari udara. Sedangkan untuk MUX 538MHz/Ch.29 (SCTV NETWORK, INDOSIAR NETWORK, O CHANNEL NETWORK, Live Feed $ dan Elshinta Radio $, sekaipun ada sinyal, tetapi gambar di layar seperi kaset CD rusak). Lain lagi dengan MUX 634MHz/Ch.41 (RCTI, MNCTV, GlobalTV) sekalipun sinyal ke-detect, tetapi tidak bisa di-lock.

Tadinya saya duga MUX SCTV dkk dan MUX RCTI dkk itu secara power belum memakai secara penuh, sehingga belum bisa ditangkap dengan sempurna. Tetapi, “Tidak, Mas. Di daerah saya sinyalnya bagus itu. Saya pakai set top box merek D,” komentar teman saya lewat ponsel.

Dan benarlah adanya yang dibilang seorang teman itu. Setelah saya mencoba memakai set top box merek D, dengan antena yang sama + pesawat televisi yang juga sama, kedua sinyal dari MUX yang oleh set top box merek C tidak bisa diterima dengan sempurnya, bisa ditampilkan dengan bagus sekali. Padahal, secara harga, si D ini selisihnya lebih murah 25 ribu dibanding si merek C.


Yang ingin saya katakan adalah, kepekaan tak selalu berbanding lurus dengan kemahalan harga sebuah set top box. Bagaimana menurut pengalaman Anda? *****

25 April 2014

Terpaksa Ikhlas

SEDIKIT demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Istilah ini bisa disertakan dalam semangat menabung, juga untuk hal lain. Korupsi, misalnya. Dan korusi itu, sepertinya, tak melulu dilakukan oleh orang besar dengan nominal yang besar. Tetapi juga oleh orang kecil dengan besaran yang tak seberapa. Tetapi, sekecil apapun nilai, akan membesar akhirnya bila dilakukan secara terus-menerus dalam jangka yang lama mengacu pada rumus 'sedikit demi sedikit' tadi.

Tak perlu terlalu mengerutkan kening untuk mencari contoh yang beginian ini.

Untuk sebuah keperluan, kemarin siang saya mendapat tugas ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya. Setelah itu mampir ke Pasar Elektronik Genteng untuk lihat-lihat reciever DVB-T2 lanjut ke PMI untuk donor darah. Di ketiga tempat itu hal yang saya catat adalah soal parkir.

Pertama, saat akan ke kantor Dinas LH, saya memarkir si Nenen (begitu si bungsu menyebut SupraX 125 tunggangan saya ini) di seberang warung sate di seberang perkantoran Pemkot tidak jauh dari Puskesmas Ketabang. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok berompi hijau menghampiri dan menyerahkan selembar karcis parkir. Tertera disitu tarifnya; limaratus rupiah.

Tetapi setelah urusan saya di Dinas Lingkungan Hidup selesai dan saya mengambil motor, selembar duaribuan yang saya serahkan langsung masuk saku tanda ada kembalian. Harusnya saya minta kembalian seribu limaratus sebagai hak saya sebelum pergi meninggalkan lelaki tua berkulit hitam karena saban hari kepanasan itu. Tetapi demi melihat lelaki bongkok yang masih semangat bekerja di usianya yang tak lagi muda itu, saya memilih untuk berbaik hati; mengikhlaskannya saja.

Kedua, setelah melihat-lihat di lantai dua pasar Genteng, di tempat parkir saya membayar. “Duaribu, Pak,” kata si tukang parkir, kali ini usianya masih muda.

Lho, bukannya di karcis tertera seribu rupiah?” saya protes.

Iya, Pak. Tetapi duaribu,” katanya teguh pendirian.

Iya, wis. Sekali lagi saya mengalah. Jaman sekarang, uang seribu dapat buat beli apa sih?

Ketiga, sebelum balik ke tempat kerja, saya ke PMI. Selepas donor darah, di tempat parkir, saya menyerahkan karcis dengan tanpa saya sertai uang. Karena di kertas parkir memang tertulis; gratis. Tetapi, seorang yang mengambil motor sebelum saya, terlihat menyertakan uang seribu rupiah ke tukang parkir PMI di Embong Ploso ini. 
 
Begitulah. Diantara betir-butir keringat tukang parkir, ada 'rezeki tambahan' yang terus mengalir. Padahal, selembar karcis resmi, bisa dipakai berulang-ulang kali. Lalu, kemana kelebihan pembayaran itu menuju? Dan berapa jumlah rupiah yang harus mereka setorkan ke pihak yang berwenang?

Kekurangan kembalian dari yang dibayarkan, karena jumlahnya tidak seberapa, kadang dengan terpaksa diikhlaskan. Tetapi apakah sebentuk keikhlasan namanya bila itu dilakukan dengan terpaksa? *****

23 April 2014

Cak Lontong yang Sedang Kinclong

DIBANDING teman sekantor yang lain, lelaki berpostur tinggi besar itu termasuk yang berpenampilan paling santai. Sudah begitu, tutur katanya pun sering mengundang tawa. Saya mengenalnya sebagai Pak Hartono (saya tidak tahu nama depan dan atau nama belakangnya).

Setiap pagi, kedatangannya selalu saya tunggu. Ya, karena dulu di kantor tidak berlangganan koran, sementara Pak Hartono selalu datang membawa koran, barang itu selalu jadi rebutan. Tetapi, “Sini, sini,” katanya sambil mengambil kembali lembar-lembar koran yang sudah kami pegang per segmen. Lalu, dikumpulkanlah lagi untuk kemudian distaples, “Nah, begini supaya tidak terjadi dis-integrasi,” ujar Pak Hartono.

Salah seorang teman blogger (sebagaimana kebanyakan pembaca pada umumnya) suka yang namanya cerita 'luar duga'. Dalam berbincang santai sebelum jam kerja dimulai, si Pak Hartono ini sering juga memakai teknik itu. Misalnya, suatu hari ia bilang, 'jangan lihat siapa yang bicara, tetapi telaahlah apa yang dibicarakan'. Karena, “Kalau mutiara, sekali pun keluar dari mulut anjing, ya tetap...”

Mutiara,” sahut saya spontan menyambar kalimat yang digantung itu.

Tetap anjing yang mengeluarkan,” dengan intonasi yang khas, yang terlihat tidak ngawaki sama sekali, Pak Hartono mengoreksi jawaban saya.

Lama sudah saya tidak berjumpa langsung dengan Pak Hartono. Terakhir ketemu, pas melayat meninggalnya Pak Widodo dan kami mengantarkan jenazah sampai ke pemakamam Dinoyo, Surabaya. Tetapi, sekali pun begitu, saya masih bisa melihat aksi Pak Hartono di layar kaca. Mula-mula di JTV saat main bareng grup ludruk Tjap Toegoe Pahlawan. Saat itu Pak Hartono sudah tidak bekerja lagi di tempat kerja saya ini. Dari televisi lokal di Surabaya, lama-lama saya lihat ia bisa menembus televisi nasional di Jakarta. Di TVRI, di tvOne, di MetroTV di KompasTV, dan yang lagi kinclong sekarang ini adalah penampilannya di Indonesia Lawak Klub Trans|7.

Hartono?! Di ILK? Ah, gak ada tuh!
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.

Ketika bekerja di tempat ini dulu, tidak jarang ia masuk kantor hanya bersandal. Jan santai tenan pokoknya. Kalau tidak salah, sedannya agak butut, warnanya abu-abu, yang kalau saya intip ke jok belakang, tidak jarang ada baju pentas di situ; hitam dengan renda kuning keemasan. Entah itu kostum apa. Tetapi mengingat posturnya yang tinggi begitu, kalaulah jadi Punakawan, pantesnya ia memerankan Petruk. Pada kaca belakang sedannya, tertera identitas yang menjadi nama artis-nya sekarang ini; Cak Lontong.

Di acara yang jelas terlihat sebagai parodi dari Indonesia Lowyers Club-nya tvOne itu, jelas sekali gaya pak Hartono, eh Cak Lontong ding, berbeda sekali dengan lawak yang lain. Permainan kata yang cerdas, pengungkapan hasil survei yang ngawur tapi menghibur, sungguh menjadi magnet dari ILK itu sendiri. Makanya tidak heran kalau hasil survei Cak Lontong selalu ditampilkan agak di belakang, sebagai gong dari ILK.

Setiap masa ada pahlawannya, sebagaimana setiap pahlawan ada masanya. Di dunia keartisan televisi berlaku pula hukum itu. Dulu pernah saya teliti, di jaman keemasannya Bukan Empat Mata-nya Tukul, dari sepuluh tetangga yang saya survei, tujuh diantaranya memutar Trans|7, sementara tiga lainnya numpang nonton disitu. (ih, niru Cak Lontong ya?)
Cak Lontong foto bareng di depan lobby sebuah apartement
bersama teman kantornya dulu.


Tetapi tabiat televisi selalu berulang, ketika rating sebuah acara sedang menjulang, durasi acara ditambah dengan waktu tayang yang saban hari. Sebuah kondisi yang bisa melahirkan kebosanan. Sebagus-bagusnya program Golden Ways, atau Kick Andy, atau apapun itu, bila ditayang seminggu penuh, tentu pemirsa menjadi jenuh. Hal ini yang harus disadari tim kreatif ILK. Karena, sebagaimana lawakan di layar kaca, sebuah materi atau celetukan humor yang menjadi tidak lagi lucu bila dipakai di lain hari. 
 
Untuk Cak Lontong, selamat. Karir Anda makin kinclong. Salam lemper. *****


27 Maret 2014

Caleg = Calon 'Legrek'

BERTANYALAH kepada siapa pun; presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah itu secara jabatan tinggi siapa. Jelas tinggi presiden, gubernur, kepala sekolah ketimbang para wakilnya. Maka tidak mengherankan bila si wakil menginginkan pula jabatan yang di atasnya. Pak JK yang pernah nyapres melawan SBY di Pilpres tahun lalu, atau Dede Yusuf yang memilih 'pisah' dari sang Gubernurnya demi merebut jabatan itu pada Pilgub Jabar beberapa waktu yang lalu.


Beberapa contoh yang saya sebut di atas secara logika sungguh bisa diterima. Tetapi ada satu hal yang secara nalar (walau umum, tetapi) agak bisa didebatkan, yakni; beberapa rakyat yang justru ingin 'turun pangkat' menjadi wakil. Ya, wakil rakyat. Dan demi untuk menjabat sebagai wakil itu, si calon (lazim disebut caleg) melakukan aneka cara yang tentu saja semua mengandung biaya.Cetak poster, sepanduk, iklan radio/televisi dan atau menyumbang baju seragam ibu-ibu pengajian, memberangkatkan 'simpatisan' ke tempat-tempat ziarah keagamaan dan sebagainya. (Yang termasuk dalam 'dan sebagainya' itu antara lain, ongkos ke 'orang pintar'. Termasuk beli uba rampe; kembang tujuh rupa atau kain mori atau perjalanan ke sebuah sendang untuk mandi kembang tengah malam.)


Tengoklah di setiap pinggir jalan raya; wajah-wajah yang selama ini tidak dikenal mengenalkan diri dengan cara (yang kadang) mengenaskan. Dengan pose foto yang dipilih –menurut diri sendiri-- sebagus mungkin, dengan slogan yang dibikin semenarik mungkin. Dan, apakah dengan memasang baliho gambar-gambar mereka itu elektabilitas mereka lantas menjadi menanjak? Belum tentu. Masyarakat sudah teramat cerdas (baca: apatis) menyikapi kebaikan instan yang mereka pamerkan.


Ada istilah; tidak ada makan siang yang gratis. Terlebih untuk menjadi caleg. Pastilah duit besar disebar demi biaya untuk itu. Kalau lalu benar-benar jadi anggota legislatif tentu ada kemungkinan untuk melakukan 'balas dendam' demi baliknya modal. Tetapi bagaimana kalau sudah keluar uang banyak tetapi tidak terpilih? Kalau semua uang itu dari kantong sendiri sih agak tidak apa-apa, bagaimana, coba, kalau duit itu hasil dari pinjam?


Untuk mengantisipasi hal itu, dalam sebuah running text di televisi, ada berita; sebuah rumah sakit mempersiapkan 333 tempat untuk merawat caleg stress. Entah mengapa dipilih angka cantik kembar tiga begitu. Lagi pula kenapa 333, kok tidak 666 atau 999?


Kalau begitu, secara iseng saya artikan caleg itu selain berarti calon legislatif, adalah juga sebagai calon legrek, remuk. Remuk lahir, remuk batin. *****

25 Maret 2014

Penampakan O CHANNEL di Surabaya

Foto-foto: oleh Edwin untuk Ayahnya.
SAMPAI pagi tadi saya lihat, siaran yang tertangkap ketika saya scan secara auto, di Surabaya ini, masih tetap 13 channel. Yaitu; antv dan tvOne (490MHz/Ch.23), TransTV, Trans|7 dan KompasTV (522MHz/Ch.27), SCTV Netrwork, Indosiar Network, O Channel Network dan Live Feed (538MHz/Ch.29), TVRI_3, TVRI_NAS, TVRI_SURABAYA dan TVRI HD (586MHz/Ch.35).


Sementara, dua MUX lagi, yaitu milik MetroTV (506MHz/Ch.25) dan milik grup MNC (634MHz/Ch.41) sampai hari ini masih belum muncul lagi. Eh, tidak ding. Walau tidak bisa nyangkut kala dicari secara auto, sinyal dari channel 41 (yang dihuni oleh RCTI, MNCTV dan GlobalTV) itu sudah muntup-muntup terlihat (lagi) kala dicari secara manual setelah sekian lama sama sekali tak terdeksi Tetapi ketika di-lock, ia sama sekali tidak bisa. Padahal jarak rumah saya di Rungkut ini dengan pemancar milik MNC di Surabaya Barat sana tak lebih dari 20km. Perkiraan saya, MNC sedang belum memakai power yang memadai untuk siaran di kanal digital ini.



Sekalipun sudah bisa ditangkap kala di-scan secara auto, bukan berarti MUX milik grup Emtek (SCTV dkk itu) sudah bisa dinikmati dengan nyaman di layar kaca. Ya, suara dan gambar mereka masih jauh dari kata sempurna.


Sepertinya, pemirsa yang sudah kadung membeli set top box masih harus menunggu (entah untuk berapa waktu lamanya) saat ketika layar kaca dipenuhi saluran televisi yang beraneka ragam dengan kualitas gambar dan suara yang cling. Walau, ada juga sih yang ragu apakah program migrasi ini masih akan terus dilakukan ketika pemerintahan kita nanti berganti. Bukankah bukan rahasia lagi ketika pejabat berganti, berganti pula aturan dan kebijakan?


Begitu jugakah yang mesti dialami digitalisasi televisi? Jawabnya adalah jelas: jangan! Banyak orang bilang kita negara besar, dengan kekayaan yang berlimpah, SDM-nya berkualitas, tetapi, untuk perkara televisi, kita kalah sama negara macam Thailand atau Myanmar. Masihkah kita rela mempertahankan kekalahan itu di saat untuk hal lain kita juga sering kalah?


Baiklah, saya yang di Surabaya ini (setelah penampakan O Channel) menunggu pula kehadiran BeritaSatu, MIX, SportOne, DocumentaryOne, Inspira, dsb, dst.
Bagaimana dengan Anda? *****






24 Maret 2014

Hti-hati Sugesti

JUMAT pagi 21 Pebruari itu seorang teman membawa kue ke tempat kerja. Kue lunak berbentuk kotak dibungkus plastik mika dengan staples sebagai pengancingnya. Saking lunaknya, tanpa peran gigi, dengan hanya menekan lidah ke langit-langit mulut saja sudah hancur ia. Saya tak bertanya apa nama kue berwarna hijau itu. Tetapi saya suka sekali rasanya. Untuk itu, karena masih ada banyak di meja, saya ambil untuk kedua kalinya. Keburu ingin menikmatinya lagi, saya ceroboh dalam membukanya; langsung saya tarik begitu saja. Dengan ukurannya yang mungil, gigitan ketiga adalah sudah untuk yang terakhir. Dan saat itulah saya celaka. Pada telanan terakhir itu, saya rasa ada sesuatu yang menyenggol tenggorokan. Pikiran saya langsung jelek; yang menyenggol tenggorokan tadi itu adalah isi staples. Duh, apes!


Saya lihat plastik mika yang masih saya pegang, tidak ada isi staples di situ. Makin curigalah saya, bahwa yang ikut tertelan tadi itu adalah isi staples.


Kecurigaan itu tanpa saya sadari berubah wajah menjadi sugesti. Ia selalu menari-nari dalam alam bawah sadar saya tentang isi staples itu yang kini mungkin sedang berada di dalam lambung. Dan sugesti itu makin menjadi manakala saya tanya ke Mbah Google tentang kemungkinan apa yang terjadi bila isi staples yang bersarang di dalam perut saya. Menakutkannya lagi, kata Mbah Google, benda itu akan karatan dan membuat lambung akan sangat menderita.


Hari berikutnya perhatian saya sebagian besar kepada isi perut. Setiap geliat di dalamnya tak pernah luput dan pikiran membumbuinya dengan, “Jangan-jangan. Jangan-jangan...”


Nah, ternyata, semakin saya perhatikan (dengan kepekaan yang saya tambah tensinya), segala apa yang menggeliat di perut selalu saya curigai sebagai efek dari isi staples itu. Termasuk sedikit saja usus bergerak, atau rasa celekit di dalamnya. Sebuah rasa yang barangkali di saat normal (dan saat saya tak peduli dengan setiap geliatnya), itu sama sekali tak terasa.


Hari terus berjalan, dan saya mencari lagi info yang berkaitan dengan bila isi staples masuk ke dalam lambung. Syukurlah, dalam salah satu yang disajikan mbah Google, ada yang sedikit menentramkan. Bahwa, setajam apa pun benda yang masuk ke dalam lambung, ia akan dipaksa keluar oleh lambung menuju saluran pembuangan dan diikutkan keluar bersama rombongan kotoran. Untuk menyaksikan apakah benda itu sudah keluar, satu-satunya cara adalah dengan mengorek (maaf) 'pisang goreng' sebelum disiram masuk ke septic tank.


Sayangnya, ini baru saya ketahui jauh setelah isi staples itu saya curigai ikut tertelan. Karenanya tak mungkinlah saya membongkar septic tank demi untuk mencari sibiji kecil barang sialan itu.


Itu hal lain. Tetapi, sisi positifnya, dengan membaca artikel itu, pelan-pelan sugesti saya tidak terlalu negatif seperti halnya sugesti yang pertama. Yang kedua ini, membuat saya mumupuk keyakinan bahwa isi staples itu telah beristirahat dengan tenang di ruang bawah tanah (baca: septic tank).


Tentu saja agar yakin, saya bisa melakukan foto x ray demi memastikan apakah isi staples itu masih menginap di lambung saya atau tidak. Tetapi, saya termasuk orang yang tidak ingin biyaya'an mencari biaya untuk itu. (Ah, jelek ya sifat saya ini.)


Karena hal ini, saya menjadi harus makin hati-hati dengan sugesti. Apa yang terus ada di alam bawah sadar, bisa membias di alam sadar. Dan itu, kalau terus-terusan terjadi, bisa menjadi suatu kenyataan. Makanya saya pernah mendengar seorang motivator berujar; segala apa yang diyakini diri sendiri, hal itu pulalah yang akan terjadi. Bila belum-belum saja seseorang sudah merasa tidak mampu, maka akan betul-betul tidak mampulah seseorang itu.


Sekali lagi, saya harus lebih berhati-hati dalam mensugesti diri sendiri. *****


22 Maret 2014

'Elshinta' itu RRI ?

DALAM sehari, saya selalu menyempatkan diri untuk men-scan baik secara auto atau manual sinyal televisi dgital lewat set top box merek Get****m yang saya punya. Berharap jumlah channel bertambah, dan tidak melulu yang di Surabaya ini telah pula dapat dinikmati di jalur analog. Kalau siaran itu sudah ada di analog, kesannya kurang mantap. Lagian, dari rumah saya ini, sinyal analog masih relatif bisa diterima secara baik dan benar.

Syukurlah, harapan itu terkabul walau belum maksimal betul. Paling tidak, meski sinyalnya masih belum stabil (membuat gambar dan suara putus-putus) ada O Channel yang 'digendong' MUX-nya SCTV/Indosiar Network di kanal/frekuensi 538MHz/Ch.29. Itulah yang saya maksud. Selama ini, di kanal analog, O Channel itu belum ada di Surabaya.
Hasil scan via STB Getmecom.
Foto oleh Edwin untuk Kedai Kang Edi.

Nah, ketika saya buat sebagai status di sebuah akun grup Efbi tentang televisi digital Jogja-Jateng masih ada yang kurang ngeh tentang keberadaan siaran radio di kanal televisi digital. Bagi saya, hal ini juga hal baru. Karena, selama lebih kurang setahun ini, belum pernah menemui ada sinyal digital juga disertai siaran radio. Ya, baru di MUX-nya SCTV dkk ini ada radionya. Di layar tertera Elshinta Radio.

Seperti siaran SCTV, Indosiar dan O Channel yang masih megap-megap, siaran radio 'Elshinta' ini pun suaranya juga masih timbul-tenggelam. Malah, kalau di program biasa tidak bakalan muncul ia. Tetapi ketika saya setting ke menu EPG di sisi radio (sisi kanan), si radio 'Elshinta' itu baru muncul suaranya. Itu pun setelah volume televisi saya naikkan ke angka 45.
Nah, baru di saat itulah, saat suara radio bisa saya dengar itu, saya tahu kalau yang namanya 'Elshinta Radio' itu di jalur televisi digital yang keluar malah suaranya RRI Programa1 Jakarta. Nah lho!

Bagi saya ini hal aneh. Sebagai sesama Lembaga Penyiaran Publik (LPP), bukankah lebih masuk akal kalau RRI itu ikut MUXnya TVRI? Juga, kenapa coba, di layar jelas-jelas tertera nama Elshinta. Kalau benar Elsinta sih nggak apa-apa. Orang (kalau tidak salah) antena pemancarnya untuk wilayah Surabaya ini juga gabung di towernya Indosiar kok. *****


1 Maret 2014

Politik 'Wani Piro?'


PEMILU kurang sebentar lagi, tetapi suasana masih adem-ayem ya, Kang,” kata Mas Bendo yang hari ini mengenakan kaos tipis bergambar caleg berkumis.

Kang Karib yang sedang keenakan oleh liukan cotton bud di liang telinga tak menyahut.

Padahal dulu, di jaman aku kecil, menjelang Pemilu begini hawanya sudah gimanaa gitu,” lanjut Mas Bendo. “Hidup bertetangga menjadi kurang akrab bila beda partai. Sampai pada tingkat satru, soker, atau tak saling menyapa. Sekarang? Mbelgedhes apa...”

Itu, “kata Kang Karib sambil membuang cutton bud dan agak mencium aroma di tangannya, “masyarakat sudah cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan politik, nDo.”

Bukan dewasa, Kang, tapi mblenek, muak,” Mas Bendo menyahut. “Pas butuh suara saja merengek-rengek ke rakyat, pas giliran sudah jadi, uh pret apa.”

:”Jangan skeptis begitu, nDo,” potong Kang Karib. “Apa pun kenyataannya, Pemilu itu pesta demokrasi, nDo.”

Dan tiada pesta yang gratis kan, Kang?”

Itulah makanya, kita harus kawal pesta itu, yang memakan biaya mahal itu, agar tidak keliru dalam memilih orang yang tak kompeten duduk di parlemen, yang katanya mewakili kita itu. Untuk itu, kita harus gunakan hak pilih, jangan golput..”

Lho, bukannya golput itu juga pilihan, Kang?”

Iya, tetapi dengan golput, itu sama artinya kita memberi peluang caleg yang tidak mutu menjadi penentu kebijakan. Apa jadinya, coba, bila negera diurus oleh orang yang remuk isi otaknya. Kacau kan?”

Jadi, selama ini, kekacauan segala hal di negeri ini karena diurus oleh orang yang Sampeyan bilang tadi?”

Bisa jadi.”

Jadi, para caleg yang ngebet ingin jadi dan untuk itu ia menggunakan aneka cara, termasuk main uang, adalah indikasi punya otak begitu?”

Kang Karib diam.

Itulah, Kang. Saya kok sangsi bila di baliho si caleg menegaskan mengabdi sepenuh hati untuk negeri, tetapi demi duduk di kursi dewan ia melakukan money politics atau semacamnya, bukankah di dalam itu perlu dicurigai ada terselip kalkulasi ekonomi; modal sekian, harus balik sekian. Jadi, wajar juga kan bila rakyat menjadi tak terlalu fanatik kepada partai. Lagian, orang partai itu kan bisa loncat sana loncat sini. Kali ini di partai biru, Pemilu depan di partai oranye.”

Itulah pentingnya pendidikan politik, nDo. Pemilih yang cerdas bisa memilih pemimpin berkualitas.”

Oke, Kang. Sambil menunggu itu terwujud, jangan salahkan rakyat punya pakem sendiri dalam menyikapi setiap Pemilu. Tak peduli partai apa, aliran politiknya bagaimana, tokoh-tokohnnya siapa, 'harga' yang bicara. Yang penting; Wani piro?” *****




4 Februari 2014

Pelajaran dari Tepi Jalan

DUA bulan yang lalu di kawasan itu masih berjajar tukang knalpot membuka usaha. Kini, setelah di bawah tempat mereka ditanam box culvert, entah kemana para penjual knalpot itu berada. Tempat dimana dulu mereka menawarkan barang dan jasa telah rata dan bersih. Saya kira, setelahnya, seperti di tempat-tempat lain di kota ini, akan dibangun trotoar berlantai keramik tempat para pejalan kaki nanti mengayun langkah.

Ya, di kanan-kiri jalan Mayjen Sungkono sedang ditata sedemikian rupa. Selain agar makin nyaman dipandang, digunakan sesuai peruntukan, box culvert itu juga sebagai sarana mengatasi banjir yang rutin melanda jalan itu. Dan, ketika daerah lain banyak yang terendam banjir, syukurlah, kota pahlawan masih terbilang aman.

Setiap sore, sepulang kerja, di pinggir jalan Mayjen Sungkono, di tempat dimana dulu para tukang knalpot berada, senantiasa saya lihat seorang ibu dengan anak lelakinya yang tuna netra. Pada sepeda anginnya saya lihat seonggok tas besar selalu dibawa. Entah si Ibu itu berjualan apa. Yang jelas, pada jam empat sore, saya lihat Ibu-Anak itu selalu telah ada di situ.

Yang juga saya sering lihat, ada seorang perempuan berjilbab berhenti menemui mereka. Membuka bawaan makanan, dan dengan penuh kasih menyuapi si anak. Tiada rasa canggung saya dapati. Sementara, sambil mengunyah, si anak tampak tersenyum sambil memegang minum yang juga dibawakan si perempuan baik hati itu. Sebuah senyum yang lahir alami sebagai reaksi dari sebuah interaksi.

Pada titik itu, timbul iri dalam hati. Betapa di jaman yang orang serba begitu mudah pamer akan segala hal yang tak penting diketahui orang lain (lewat status, twitpic dll.), masih ada saja orang yang tak terangsang untuk latah bernarsis-ria. Peduli pada sesama tanpa peduli apakah kepedulian itu dipedulikan orang lain atau tidak.

Seperti perempuan berjilbab itu, siapa pun kita pasti mampu berbuat baik kalau mau. *****