Tampilkan postingan dengan label Celoteh Kang Karib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Kang Karib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Maret 2023

Is Ra Real

 Is ra real


(Iki ora nyata)


MAS Bendo mukanya lungset. Ada berjuta kuciwa di wajahnya.

"Mimpiku ambyar, Kang", ucapannya bergetar.

Kang Karib diam.

"Ini soal bal-balan, Kang. Bukan yang lain. Tapi dimanfaatkan dan diserempetkan ke plikitik. Nesu aku, Kang. Nesu...."

"Tapi memang begitulah, nDo. Plikitik bisa memanfaatkan banyak hal. Juga bisa memanfaatkan pihak lain", Kang Karib sok bijak. "Walau aku yakin yang ancang-ancang nyapres juga ada yang sependapat dengan dua gubernur itu, tetapi memilih tidak bersuara. Kamu titeni saja, pada intinya yang diam itu bukan tidak mungkin malah akan mendulang emas nantinya."****


Minggu, 03 Januari 2021

E m b u h

 "KAMU sudah dengar kan, nDo?", Kang Karib bertanya kepada Mas Bendo yang lagi menata papir tjap Pagupon, tembakau lalu ditaburi cengkih, bikin rokok tingwe, nglinting dhewe.

"Dengar apa to, Kang?", Mas Bendo ngakep rokok tingwe itu di bibirnya, kemudian menyulutnya. Asap mengepul.

"Bu Khofifah positif Covid-19".

Mas Bendo klepas-klepus, menikmati rokoknya.

"Kamu itu, jadi orang kok gak ada empatinya babar-blas", Kang Karib maido.

"Terus aku kudu piye, Kang? Di tipi tiap hari beritanya kopit. Di henpun juga gitu. Terus sampeyan juga. Tiap hari kok yang dibahas kopat-kopit, kopat-kopit".

"Eh, dengar ya, nDo. Aku itu paling gregetan kalau ada otang yang cuek, gak peduli, dan nyepelekne pandemi Covid-19 ini".

"Sampeyan juga dengar ya, Kang. Saya ini juga gak suka kalau ada orang saban hari bicara kopat-kopit, kopat-kopit dan terlalu takut sama si korona".

"Kamu itu, jan embuh, nDo, nDo..."

"Sampeyan itu kok juga embuh, Kang, Kang..." ****


Rabu, 03 Juni 2020

Meramal New Normal

KANG KARIB, ketika masih kecil, saat sandal jepitnya putus dan bilang ke orang tuanya, cerita selanjutnya sungguhlah lumrah. Tepatnya lumrah dan normal di zaman itu. Yakni, bukan lalu dibelikan sandal jepit baru, namun dicarikan peniti atau paku. Lalu ditusukkanlah paku atau peniti itu ke bagian srampat sandalnya yang putus. Beres. Sandal bisa dipakai lagi.

"Itu lak zaman doeloe, Kang", Mas Bendo mengomentari cerita itu. "Coba anak sekarang, mana mau mereka pakai sandal jepit 'berpenangkal petir' begitu".

"Begitulah, nDo. Setiap zaman mengandung kelumrahannya sendiri".

Lalu Kang Karib menukil contoh termutakhir. Akibat Covid-19. Yang orang dianjurkan untuk jangan salaman dulu. Selalu pakai masker. Tentu saja ada yang manut, ada yang ngeyel. Lazim. Namanya juga homo sapiens. Nah, sampai kapan harus begitu? Harus jangan salaman, harus selalu bermasker?

Para orang pintar pun belum tahu kapan pageblug ini akan game over. Kapan pandemi ini berakhir. Nah, jangan-jangan orang kemudian keterusan tidak suka salaman dan kemana-mana dengan penutup mulut.

"Lha lak tambah bagus to, Kang", sahut Mas Bendo. "Orang menjadi makin sadar jaga kesehatan".

"Itu lak kalau maskeran, nDo. Maksudku kalau keterusan tidak mau salaman piye?".

"Aku juga lagi mikir, Kang."

"Mikir opo?"

"Mikir konsep rumah", jawab Mas Bendo. "Rumahku kan kamar mandinya di belakang. Di dekat dapur".

"Lho lak normalnya memang gitu kan, nDo?" sela Kang Karib.

"Itu lak normal cara lama, Kang. Kalau normal gaya baru, yang dibilang orang dengan kata 'keminggris' New Normal itu, bisa beda, Kang."

"Beda piye jal?"

"Sekarang orang kalau dari keluar rumah, dari berbelanja atau pulang bekerja, kan harus bebersih badan dulu. Mandi, ganti baju, baru boleh bercengkerama dengan orang rumah. Lha kalau kamar mandinya di belakang, lak sudah kadung masuk rumah, penyakit bisa keburu ngikut masuk".

"Jadi?"

"Menurut ramalanku, selain harus selalu menerapkan segala protokol kesehatan yang sekarang umum dikampanyekan, di rumah-rumah, jedhing atau kamar mandi, nantinya tempatnya tidak 'disembunyikan' di belakang seperti selingkuhan. Tapi di depan, di dekat halaman".****




Jumat, 08 Mei 2020

K a r d u s

LEBARAN tahun ini sepertinya akan menjadi lebaran yang berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Bagi siapapun. Juga, bagi Kang Karib dan Mas Bendo.

Mudik memang telah dilarang oleh pemerintah. Tentang larangan yang semula serasa tegas kemudian mengendur, itu hanya soal rasa. Intinya, apa pun alasannya, Mas Bendo pingin mudik.

"Tapi kalau cuma mudik wong-wing thok tanpa bawa apa-apa, yo isin aku, Kang", ujar Mas Bendo.

"Isin karo sapa, malu sama siapa?", sahut Kang Karib. "Orang kan pada sudah tahu keadaan. Sekarang ini semua serba sulit".

"Gini lho, Kang. Ketika orang pergi dari kampung halamannya, itu kan sebabnya ada dua. Pertama, cingkrang, kekurangan. Kedua, wirang, malu."

"Kalau kamu, karena dua-duanya ya?", goda Kang Karib.

Mas Bendo nyengir.

"Lanjutkan!", kata Kang Karib.

"Jadi, atas dasar itu, mosok yo aku pulang dengan tangan hampa. Lak yo kewirangan dan kecingkranganku sungguh makin tak tertahankan lagi, Kang...".

Kang Karib tersenyum nggleges.

"Padahal aku sudah siap beberapa kardus untuk mudik ini. Tinggal isinya saja yang belum ada".

"Sik, nDo. Zaman sudah canggih gini kok mudik masih pakai kardus. Ganti pakai koper kek. Kan lebih mbois."

"Gini lho, Kang. Orang kampung macam aku ini, kalau mudik bawa koper itu menyalahi tradisi. Ngowa-ngowahi adat. Koper memang praktis. Tetapi secara filosofis, ia tidak akan bisa menandingi kardus", terang Mas Bendo dengan mulut sampai nyaris berbusa.

"Wik. Jebul kardus itu ada filosofinya juga to. Baru tahu aku. Piye jal filosofinya kardus itu?".

"Selain sebagai memanfaatkan limbah agar berdaya guna lebih lama, di dalam kata kardus terkandung makna; berkarya disertai doa selalu".

Sekali lagi Kang Karib mesem ngembang tebu alias nggleges.

"Sampeyan itu, dikandhani kok malah mesam-mesem. Coba sekarang, apa makna filosofis dari koper?" tantang Mas Bendo.

Kang Karib tertawa. Lalu mengeluarkan kata-kata, "Koper itu secara filosofis artinya, gara-gara pageblug Corona, kita ini hampir jadi koplak permanen." ****


Kamis, 16 April 2020

Holobis Kuntul Baris

TIDAK seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Mas Bendo pakai masker.

"Tumben, nDo," songsong Kang Karib.

"Diwanti-wanti sama istriku, harus pakai ini. Kalau tidak pakai, aku tak boleh masuk atau tidur rumah. Daripada aku tidur di Pos Kamling, ya mending aku pakai masker, sering cuci tangan pakai sabun", Mas Bendo beralasan.

"Kamu itu, takut sama istri apa takut sama Corona?".

Mas Bendo nyengir. Lalu bersiap melakukan 'serangan balasan'. "Piye, Kang? Sudah bisa tidur kalau malam".

Mas Bendo bertanya begitu karena, awal-awal ada kabar tentang pasien pertama di Indonesia, Kang Karib sempat curhat. Bahwa ia jadi gelisah. Kepikiran apa yang akan terjadi di sini. Di negara ini. Dimana kesadaran masyarakat masih relatif belum tinggi. Cenderung kurang peduli. Suka meremehkan.

Bukankah saat awal-awal itu aneka meme berseliweran. Dan Corona seakan sebagai bahan unggulan untuk materi banyolan. Pelaku banyolan konyol itu lengkap, dari rakyat jelata sampai para petinggi negeri. Dibegitukan, bisa jadi si Corona jadi gemes. Dan akhirnya ngamuk sungguhan.

"Aku sudah bisa 'lepas' sekarang, nDo", ujar Kang Karib. "Kalau dulu aku bisa marah besar karena kamu menyikapi pandemi ini dengan sembrono, aku sekarang bisa menerima. Intinya aku belajar ikhlas. Setelah kuupayakan ikhtiar sekuatku, kupasrahkan kejadian selanjutkan kepada yang maha menjadikan".

"Piye to, sampeyan iki, Kang?", protes Mas Bendo. "Di saat aku mulai sadar, kok sampeyan malah nglokro, malah menyerah".

"Melawan Covid-19 ini kita perlu bersama, nDo. Tak bisa sendiri. Harus guyup, harus holobis kuntul baris. Kita harus manut, harus menuruti anjuran pihak berwenang. Jangan gembelo sak karepe dhewe, jangan semaunya sendiri".


"Setuju, Kang. Aku miris, setiap hari sekian banyak korban meninggal diberitakan. Dan entah sampai kapan ini terjadi. Kematian memang sebuah keniscayaan, tapi kehidupan harus diperjuangkan. Walau hidup itu tak berguna sekalipun", sahut Mas Bendo meniru bunyi spanduk yang sedang viral.****


Jumat, 09 November 2018

Gorengan

MAS BENDO berlari kecil menuju warung Mbak Yu. Gerimis pagi yang turun di November ini sepertinya agak terlambat. Karena biasanya Agustus sudah mulai hujan., lha ini sudah hampir pertengahan November baru mulai turun hujan.

Dingin-dingin, di hujan begini tentu enak nongkrong di warung Mbak Yu. Bisa nunut baca koran. Bisa makan pisang goreng hangat. Apesnya, Mbak Yu belum menggoreng pisang. Kang Karib yang sudah nongkrong duluan malah sudah kebal-kebul merokok sambil baca koran.

Piye to Mbak Yu, kok pisangnya belum digoreng?” protes Mas Bendo.

Rung sempat, nDo.” jawab Mbak Yu sambil ndeplok sambel pecel.

Ra usah protes,” Kang Karib bicara sambil membuka koran halaman berikutnya. “Wong ngutang aja kok kakean tuntutan. Mbok ya yang sudah ada saja itu dimakan”.

“Hujan-hujan begini enaknya makan gorengan yang anget-anget, Kang.”

“Makan krupuk sambil minum kopi hangat kan juga bisa, nDo”

“Pinginnya pisang goreng kok malah disuruh makan krupuk ki piye to sampeyan,” Mas Bendo ambil duduk di dekat Kang Karib. “Lha kalau sembarang gorengan, sekarang bukan hanya pisang. Perkataan juga bisa digoreng lho, Kang”.

“Mesti kamu sedang membela Pak Wo kan, nDo?” Kang Karib yang memang simpatian Pak Wi menimpali. “Orang itu lihat-lihat dong kalau bicara. Masak calon pemimpin kok bicaranya begitu.”

“Begitu piye to, Kang? Orang guyon kok ditanggepi serius.”

“Guyon itu itu juga harus ada batasnya, nDo. Mosok kok merendahkan orang dengan menyebut daerahnya itu guyonan. Itu ndak patut, nDo.”

Ra patut piye to, Kang?!” sanggah Mas Bendo. “Ra patut mana coba dengan wong sudah minta maaf kok masih saja dituntut. Ini namanya gorengannya ra uwis-uwis, nggak bubar-bubar. Bisa habis energi kita hanya ngurusi hal sekecil upil ini. Lha kapan majunya kita, Kang.”

“Sama, nDo,” Mbak Yu yang masih belum selesai menumbuk sambel pecel di lumpang, menimpali, “kapan majunya warungku ini kalau kamu setiap kesini selalu ngutang...” *****


Kamis, 30 Maret 2017

Mirasantika Putra Raja

SEIKAT bayam yang dijajakan abang sayur dari pagi hingga siang dan gak laku, begitulah wajah Mas Bendo. Layu stadium empat.

Kok loyo begitu, ada masalah opo to, nDo?” Kang Karib menyambut.

Aku sedih, Kang,” lirih Mas Bendo berkata. “bagaimana sedihku tidak menembus ke sumsum tulang bila rajaku, panutanku, yang petuah-petuahnya telah meluruskan aku dari jalan keliru, kini justru tertimpa cobaan; darah dagingnya sendiri terjerumus mirasantika...”.

Apakah kamu tidak berniat menaikkan status sedihmu itu menjadi marah?” pancing Kang Karib. “Karena, bukankah kurang elok bila suka bernasihat ke orang sekerajaan, eh anak sendiri malah ketangkap...”.

Marah? Apakah dengan marah bisa menyelesaikan masalah?” umpan lambung Kang Karib dipotong oleh Mas Bendo. “Marah tidak, kecewa iya”, lanjutnya.

Sudahlah, nDo, dibikin santai saja. ♪♫ yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang...♫♪...”.

Jangan ngejek gitu, Kang...”

Ngejek gimana. Kamu pikir rajamu itu akan stress menghadapi ini. Tidak akan, nDo. Dengar nasihatnya: ♪♫ streessss... obatnya iman dan takwa...♫♪”.

Wis, wis, Kang”, Mas Bendo berniat beranjak. Namun,

Mau kemana kamu, nDo?”

Mau mencari teman lain yang bisa bikin adem, yang bukan malah ngece seperti Sampeyan”, sungut Mas Bendo.

Iya, nDo. Tapi ingat: ♪♫ mencari teman memang mudah, pabila untuk teman suka. Mencari teman tidak mudah, pabila untuk teman duka...♫♪”.

Mak klepat, Mas Bendo pergi. Hatinya nggondok. ,”Ter-la-lu...”, umpatnya tertuju untuk Kang Karib. *****

Jumat, 02 Desember 2016

Bonek Melawan

 
"PUNYA tali rafia, Kang?" Mas Bendo mertamu sambil membawa kain putih yang sudah ia tulisi dengan cat hitam.


"Untuk apa?"

"Untuk pasang ini di pinggir jalan," dengan bangga Mas Bendo membentang kain putih itu di hadapan Kang Karib. Kain putih dengan kalimat yang sering Kang Karib baca belakangan ini di sekujur tubuh Surabaya. Yang berisi kecaman tertuju kepada PSSI (sering ditulis sebagai P$$I) dengan bumbu umpatan khas Surabaya.

"Kamu itu", ujar Kang Karib, "sudah jalanan dibikin rapi dan ditata serta dijaga kebersihannya kok malah semua jadi gak nyaman dipandang gara-gara spanduk dipasang pating crentel dan penuh pisuhan".

"Ini perjuangan, Kang", sergah Mas Bendo. "Jangan dipandang sebagai mengotori keindahan dan sejenisnya. Saya ini, sebagai Bonek, sedang melawan."

"Tetapi melawan kan bisa dilakukan secara elegan, nDo."
Salah satu spanduk kreasi bonek.
Sumber foto: emosijiwaku.com

"Di saat PSSI melakukan tindakan sedemikian jahat kepada Persebaya, mosok kita melawannya dengan lembek. Bisa-bisa kita malah diremehkan dan tidak direken sama sekali. Sekali lagi, saya ini bonek, Kang, dan ada darah Surabaya di tubuh saya. Darah Surabaya adalah darah pejuang, darah pahlawan. Dan ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan", oceh Mas Bendo melebar tak karuan.

"Pahlawan? Bukankah pahlawan adalah bertujuan luhur demi kemerdekaan, misalnya, dan untuk itu rela berkorban jiwa raga?"

"Saya, sebagai bonek sejati juga rela mati, Kang. Rela berjuang sampai titik darah penghabisan demi Persebaya..."

"Sungguh, nih? Sungguh rela mati cuma demi bal-balan? Mbokya jangan segitulah, nDo. Santai saja. Lagian apa sih yang kamu dapat dari membela tim kesayanganmu itu?"

"Kebanggaan, Kang. Dan itu tidak dapat dihitung nilainya", dalih Mas Bendo. "Sudah, Sampeyan ini punya tali rafia apa tidak sih?"

Setelah menerima tali rafia pemberian Kang Karib, Mas Bendo pergi menuju perempatan dimana ia akan memasang spanduk berbahan kain mori murahan itu disana.

Dua hal yang membuat Kang Karib prihatin adalah, ulah para (oknum) suporter sepakbola yang acap menerapkan fanatisme secara kebablasan, dan menempatkan pendukung tim lain sebagai musuh abadi dengan tingkat kebencian yang sampai merasuk ke sumsum tulang, dan atau ngepruki kaca mobil yang dijumpai di jalanan dengan tanpa alasan. Kedua: pihak Satpol PP yang sering terlihat mencopoti spanduk yang telah habis masa ijinnya, (dan apalagi spanduk liar tak berijin yang dipasang di sudut-sudut jalan) kali ini terlihat seperti sedang melakukan pembiaran terhadap para bonek yang makin hari makin banyak saja memasang spanduk penuh pisuhan di jalanan. *****



Selasa, 01 Desember 2015

Parikan Suroboyoan: Coblosan

Mas Bendo: ndik Suroboyo menyang Tunjungan
mbanting busi dipane kayu
paklik Rasiyo memang pengalaman
ning Lucy pancene ayu

Mbak Yu : nyilih kain popok nang Karangan
momong rojo koyo bareng Rhoma Irama
milih pemimpin, rek, ojok sembarangan
lek wong Suroboyo yo jelas milih Bu Risma

(Iyo, rek. Tak kandhani koen yo; lha lek cumak bondho ayu thok, lha digawe opo?! Pemimpin iku kudune lak cak-cek, opomaneh masalah Suroboyo iku uakeh puoll. Banjir umpamane. Lha lek ngatasi banjir ditinggal wedhak'an dhisik, lak selak klelep wargane)

Mas Bendo: mangan delima kleleken kecik
sapi karo kebo kelonan wae
prestasine Bu Risma pancene apik
tapi opo salahe njajal calon liyane

(Lha, sopo ngerti paklik Rasiyo karo Ning Lucy iku lek diwenehi kesempatan isok gawe kutho Suroboyo luwih apik. Lha lek durung dijajal wis dianggep gak mampu, iku termasuk kliru, Mbak Yu.)

Mbak Yu: penari japin numpak gerobak
peniti kae pasangno nang kain katun
milih peminpin ojok cobak-cobak
sing mesti-mesti ae ben engko ora getun

(Sampeyan iku, Cak, Cak. Milih peminpin kok cobak-cobak. Koyok nganggo minyak kayu putih ae. Pokok'e aku wis madhep mantep, gepeng ilir aku tetep milih Bu Risma)

Kang Karib : banyu aki dicampur terasi
rondho lesehan nang pojok plataran
yo ngene iki urip ing zaman demokrasi
bedo pilihan ojok sampek dadi tukaran

bantalan lesung mergo gak duwe dipan
upo ning kendhi lambene dilat-dilat
pemilihan langsung pancen butuh kedewasaan
sopo ae sing dadi awak'e dhewe tetap ae melarat rakyat

(wis talah, rek. Gak usah gegeran mergo bedo pilihan. Opo koen pikir lek jagomu sing dadi terus peno gak perlu nyambut gawe. Lha sopo sing ngingoni anak-bojomu? Mbahne Sangkil opo! Ayo, sing penting nyambut gawe, perkoro mengko pemimpin (calon sing endi ae sing menang) ora lali janjine, yo syukur. Lha lek ingkar janji, ayo didungakno bareng-bareng mugo-mugo gudhiken sak kujur awak'e.)*****


Senin, 09 November 2015

Baju Pahlawan

Sumber ilustrasi foto: Google Images.
NIH lihat, Kang,” Mas Bendo menyodorkan ponselnya yang di layarnya sedang terpampang foto seorang anak berseragam doreng tentara, ”dedeg-piyadeg-nya jan pas tenan. Gagah tur nggantheng seperti aku, bapaknya.”

Weladhalah, itu foto anakmu to, nDo?”

Memangnya kenapa, Kang? Kok ada nada ngenyek pada pertanyaan Sampeyan? Apa gak boleh aku yang kerempeng nyengangik begini punya anak mbois?

Halah, jadi orang itu mbokya jangan sugetan to, nDo, nDo. Jangan gampang tersinggung begitu,” dasar Kang Karib, bisa saja ia membela diri. “Lagian, anakmu itu mau karnaval kemana to kok pakai baju tentara begitu?”

Sampeyan ini piye to, Kang? Besok kan Hari Pahlawan, dan dua hari ini anak-anak sekolah dianjurkan pakai pakaian pahlawan.”

Tetapi, nDo, apa semua pahlawan adalah tentara?” sanggah Kang Karib. “Atau, apakah jasad yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan semua adalah benar-benar pahlawan?”

Wikk, matek Mas Bendo mendapat pertanyaan itu dari Kang Karib. Daripada melakukan serangan balasan dengan jurus ngawur, ia ngowoh saja menunggu lanjutan kalimat Kang Karib. “Ya, namanya juga anak-anak. Bisa jadi mereka memakai seragam doreng di hari pahlawan sekadar ikut-ikutan teman. Nah, tugas guru-guru di sekolah yang harus bisa meluruskan. Bahwa, ya itu tadi; dulu para pejuang yang ikhlas mengangkat senjata untuk berjihad melawan penjajah bisa jadi hanya memakai baju seadanya. Cuma pakai kaus lusuh dan bercelana pendeklah, yang sarunganlah, dan sebangsanya. Kalau dalam film-film perjuangan, yang pakai baju doreng malah si Kompeni Belanda itu...”

Mas Bendo baru mingkem ketika seekor lalat hendak menclok di giginya, “Jadi apa salah anak-anak memakai baju doreng tentara di hari pahlawan ini, Kang?”

Ya enggaklah,” Kang Karib menjawab. “Cuma begini, nDo. Yang lebih utama itu bukan bajunya. Tetapi ruh-nya, semangatnya. Lha kalau cuma baju itu kan bungkusnya saja, ibarat ponsel, cuma casing-nya saja. Nah, selain guru, kita-kita sebagai orang tua yang magak ini (bagaimana gak magak? Lha wong ikut perang gak pernah, lahir procot sudah melihat Indonesia Raya yang begini ini) yang harus bisa menanamkan sifat patriotisme dan heroisme. Agar anak-anak kita mampu menang melawan penjajahan dan agresi model baru. Yang bukan memakai bedil sebagai senjatanya, tetapi isme-isme halus yang sedikit demi sedikit mampu membelokkan arah dan menjauhkan generasi negeri ini dari akar budayanya, dari akar kebangsaannya, dari kearifan lokalnya”


Wik, masak sampai segitunya, Kang?”

Dikandhani kok malah wik,” ujug-ujug Mbak Yu ikut nimbrung.

Kalau anak Sampeyan, tadi ke sekolah pakai baju doreng juga, Mbak Yu,” tanya Mas Bendo.

Aku setuju dengan pendapat Kang Karib yang tadi kukuping; bahwa, tidak semua pahlawan berbaju doreng.”

Lalu, anak Sampeyan pakai baju apa?”

Tadi ia pakai bajuku yang dulu sehari-hari kupakai saat aku bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Bukankah Sampeyan sering mendengar, para pejabat menyebut kaumku itu, kaum TKW itu juga sebagai pahlawah; pahlawan devisa.” *****



Rabu, 04 November 2015

Suami yang Sholehah

JAM dinding di atas pintu, di sisi kiri meja kerja Mbak Yu, sudah menunjuk angka 8.13 dan Mas Bendo baru saja masuk dengan tergopoh-gopoh. Ini keterlambatan ke tiga dalam empat hari ini. Padahal, dalam perjalanan ke tempat kerja tadi, ia sudah memacu motornya dengan kecepatan 100 kilometer per dua jam. Lha iya to? Mana benar, coba, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di dalam kota begitu. Pertama karena aturan, kedua karena; mana bisa ngebut di tengah kepadatan kendaraan yang makin hari makin menumpuk di jalan raya.

Kejebak macet lagi, nDo?” sambil melintas di dekat Mas Bendo saat hendak menuju mesin fotokopi, Kang Karib bertanya.

Iya, Kang. Mana panas lagi,” Mas Bendo menjawab sambil menyalakan komputer.

Lagian, kalau sudah tahu jalanan makin hari makin macet,” Mbak Yu ikut menyahut, “ lebih dipagikan lagi dong berangkatnya.”

Namanya juga punya balita, Mbak,” elak Mas Bendo, “memandikan, nyuapin sarapan, ngantar ke rumah yang momong. Hitung coba, berapa waktu yang mesti dibutuhkan?”

Itu kan tugas ibunya?”

Nah, ini, begini ini kalau Sampeyan belum punya baby plus harus pula sebagai wanita pekerja. Ngomongnya gampang, ngelakoninya itu yang tak mudah. Dengerin ya, Mbak, istri saya itu tempat kerjanya juauh, dan jam setengah enam sudah harus di pinggir jalan karena mobil penjemputnya lewatnya jam segitu. Telat dikit bisa ditinggal.”

Enak wanita zaman dulu ya kalau begitu,” Mbak Yu kembali menyulut alasan, “cakupan tugasnya lebih sempit; dapur, kasur, sumur”.

Wah, bisa dimarahin Ibu Kartini kalau kamu punya prinsip begitu, Yu,” Kang Karib menimpali.

Marah bagaimana, Kang? Apa aku salah?”

“Nggak
sih, Mbak Yu,” Mas Bendo yang nyahut. “Cuma kurang komplet, kurang konkret; kalau punya prinsip itu ya harus sesuai antara perkataan dan perbuatan.”

Maksud Sampeyan piye, Mas?”

Hambok sana, kalau keukeuh wanita itu cuma ngurusi dapur, kasur dan sumur, ya ndak usah kerja disini. Lak beres to?”

Halah, Mas, Mas. Gitu aja nesu, purik.”

Ya ndak purik, Mbak Yu. Cuma mendudukkan perkara pada takarannya. Bahwa kalau aku sudah kaya raya, sugih bandha sugih donya, ya ndak mungkinlah aku mengijinkan istriku ikut kethayalan mencari nafkah. Bagaimanapun tugas menafkahi keluarga adalah ada di pundak suami. Tetapi karena suatu keadaan istri ikut membantu, apa itu tidak boleh? Juga, kalau karena istri sibuk kerja, pada saat-saat tertentu apa juga dilarang suami yang memasak, cuci piring, nyeterika dan atau momong anak?”

Wih, lincip sekali bicaramu, nDo?” Kang Karib berusaha mencairkan obrolan pagi yang terasa terlalu hangat itu. “Sudahlah, ayo kita sekarang kerja. Jangan khawatir; sebelepotan apapun sesekali suami mengerjakan tugas dan pekerjaan istri, nggak mungkinlah ia berjuluk suami yang sholehah. Ia tetaplah suami sholeh bagi istrinya yang moga-moga sholehah.” *****


Selasa, 01 September 2015

Kutit yang nDesit

MAKIN hari, kalau diperhatikan, makin banyak saja orang wayuh,
berpoligami. Dan, sejauh ini, belum pernah keluar fatwa dari produsen
fatwa tentang hukumnya. Padahal ini, menurut Kang Karib, sungguh amat
gawat. Urgent sekali.

"Urgan, urgent," Mas Bendo ujug-ujug methungul, muncul. "Sebahaya dan
segenting apa sih, Kang?"

"Kalau masih ada yang menganggap bahwa hubungan itu selalu harus ada
kesetiaan," petuah Kang Karib, "niscaya, perselingkuhan, dengan apa pun
itu, adalah kejahatan terhadap cinta."

"Wik, seserius itu to, Kang?"

Lalu Kang Karib membeber argumen: dengan orang (bisa istri, bisa
suami) lebih punya waktu terhadap gadget-nya masing-masing, berapa
coba, waktu yang terbuang, yang kalaulah orang tak lebih mesra dengan
smartphone-nya, akan bisa lebih bermesraan dengan anak-istri (suami)
masing-masing.

"Zaman sudah berubah, Kang," tangkis Mas Bendo. "dan tak mungkinlah orang mau bergaya hidup seperti zaman dulu. Atau Sampeyan sedang mengingkari kelaziman?"

"Aku sedang gundah saja, nDo."

"Oleh?"

"Ya oleh lebih senangnya orang bersilaturahim dengan gadget-nya daripada dengan sesama manusia."

"Lho, bukankah yang sedang 'ditemui' orang-orang lewat gadget-nya itu adalah juga manusia?"

"Bisa semutukah pertemuan itu bila dibandingkan perjumpaan face to  face yang sesungguhnya?"

"Secara waktu tidak nutut, Kang" sanggah Mas Bendo. "Lha kalau lewat teknologi kan bila langsung sekala, dengan berapa pun tujuannya. Sampeyan saja yang ndesit, yang tetap setia dengan handphone jadul. Yang cuma bisa SMS dan telepon. Sekali-kali cobalah pakai ponsel pintar. Pasti nanti Sampeyan akan ketagihan."

"Nah, itu dia: ketagihan," mata Kang Karib berbinar. "Satu hal yang sebisa mungkin kuhindari. Atas dasar ketagihan, yang sebenarnya tak penting pun akan dianggap penting. Sehingga bila semenit saja tak membuka layar smartphone, khawatirnya seperti kiamat segera datang. Bangun tidur yang pertama dilihat gadget-nya, seperti sebelum tidur pun gadget adalah yang terakhir dicumbuinya. Dan akan nampak bagiamana ya bila suasana di dalam rumah; anak, ayah, ibu (bahkan pembantu) lebih asyik masyuk dengan gadget-nya di sepanjang waktu. Ber-wkwk dengan entah siapa di seberang sana, sambil mengirim senyum emoticon atau smeeley, namun saling dingin dan tidak bersuara dengan orang nyata di depan dan sebelahnya. Yang demikian itu, bukankah tak berlebihan bila dibilang mereka telah wayuh; yang Ibu melakulan poliandri, yang Ayah poligami mengawini gadget sebagai suami atau istri kedua."

Sebenarnya Kang Karib itu sudah hidup di zaman sekarang, di kota lagi. Kok otaknya masih ndesit ya?

"Jangan remehkan orang ndesit, nDo" celetuk Kang Karib lagi. "Orang tua-tua di desa, yang sebagian masih menganggapnya sebagai ketinggalan itu, yang pasrah saja hidupnya monoton, begitu-begitu saja itu, apa kamu pikir mereka tak bahagia. Justru, bisa jadi mereka itu, yang hidup sederhana itu, kebahagiaannya juga adalah hal-hal sederhana. Dibanding kamu yang selalu nggrangsang kepada apa pun yang bersifat duniawi, sehingga kebahagiaanmu juga muluk sekali."

"Hidup kan juga pilihan, Kang" tangkis Mas Bendo.

"Betul," timpal Kang Karib. "Dan aku ingin berbahagia secara sederhana saja, nDo." (bersambung)



Sabtu, 25 Juli 2015

Puasa Berita

LAMAT-LAMAT Kang Karib ingat jaman ketika televisi cuma satu saluran. Pada jam sembilan malam, muncullah program Dunia Dalam Berita. Dan pada segmen terakhir ini Sazli Rais dengan suaranya yang khas dan ngebas muncul membawakan Ramalan Cuaca. Sebuah acara yang sama sekali tak menarik perhatian orang sekampungnya Kang Karib. Karena, untuk menggelar hajatan, mantu misalnya, orang tak pernah berdasar ramalan cuaca, namun lebih bersandar kepada petunjuk Mbah Selar. Orang yang diyakini mempunyai kemampuan linuwih, salah satunya memindah turunnya hujan. Sayangnya, jaman itu informasi menyebar tidak sedahsyat sekarang. Sehingga kesaktian Mbah Selar menjalar hanya melalui tutur berantai dari mulut ke mulut saja.

Bandingkan, coba, dengan jaman sekarang!
Jaman ketika sekecil apapun berita, ia bisa langsung diketahui orang sedunia (maya). Ambil misal; kalau di pelosok Trenggalek ada orang yang menemukan sebongkah batu yang telah dibentuk sebagai akik, yang ketika batu itu disinari lampu akan tampak bentuk kutang di dalamnya (yang kalau diamati BH itu serupa milik artis ternama), unggahlah ke medsos, niscaya ia akan kondang dalam sekejap. Padahal, ketika inforrnasi menjadi sesuatu yang
nggegirisi, haus akan ia, sementara yang digelonggongkan untuk menghapus dahaga adalah sampah, duh betapa akan membuat kembung belaka.

Makanya Mas Bendo ingin puasa. Bukan tak makan minum seperti lazimnya, namun ia nawaitu tak akan mengkonsumsi berita dari manapun dan dari siapapun. Ia tak ingin mendengar Tolikara yang oleh media (online utamanya) dijadikan dagangan; bukan untuk memadamkan, tetapi agar lebih berkobar. Tak pula ia ingin mendengar tokoh dan awam bicara ini-itu tentang, misalnya, Islam Nusantara padahal (bisa jadi lho ya) ia tak pernah konfirmasi kepada para kyai yang menggagas istilah itu tentang apa makna istilah yang dijadikan tema Muktamar NU ke 33 di Jombang 1-5 Agustus ini.

Kalau tidak makan berita tidak apa-apa,” dalih Mas Bendo, “lalu untuk apa aku harus mengkonsumsi berita?”

Tahu berita itu penting,” sok bijak Kang Karib menjawab, “lebih penting lagi kita harus bisa menyaring; ini berita atau hanya sekadar sampah”

Lha kalau untuk menikmati berita saja aku repot harus menyaring dulu, ya buang-buang waktu, Kang. Mending puasa berita sekalian.”

“Lho, jangan salah, nDo. Isi kitab suci itu, antara lain, juga adalah 'berita'. Lalu, apa
njur kamu juga berhenti nderes dan ngaji? Lak ndak to?”

Lalu Kang Karib bicara bahwa berita itu ibaratnya gabah. Segoblok apapun –kecuali ayam-- orang tak akan langsung makan gabah. Ia harus digiling atau ditumbuk dulu agar jadi beras. Sudah menjadi beras pun masih diinteri dulu, dibuang las dan kerikilnya. Sebelum dimasak, dicuci dan dibilas berkali-kali dulu sampai bersih baru ditanak hingga matang. Karena kalau setengah matang sudah dimakan, bukannya kenyang, perut malah akan mbesesek, begah.

Berita yang disebarkan oleh media yang tidak jelas, yang dikelola oleh entah siapa dengan tujuan apa, kalau kita terima begitu saja, sama saja kita bukan makan nasi, tetapi nguntal gabah,” wejang Kang Karib. *****