Tampilkan postingan dengan label Ida Ayu Komang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ida Ayu Komang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Ida Ayu Komang

YANG montok itu namanya Ketut,” sambil mengunyah pisang goreng Aksan berkata.

Pagi yang biasa, sebenarnya. Seperti pagi-pagi yang kemarin. Tetapi sejak tiga hari yang lalu, setibanya beberapa perempuan Bali, suasana pagi menjadi agak tidak biasa. Tidak hanya disini, dijalan yang biasanya para pekarja proyek mangkal sejenak sebelum naik ke atas. Melalui satu-satunya lift yang boleh dipakai pekerja.

Maka, aneka aroma kuli batu itu mau tak mau masuk juga ke hidung. Tukang cat yang tahan banting untuk tidak ganti baju kerja dalam beberapa hari. Tetapi ada untungnya memang. Ketika rombongan mereka mendekat pintu lift, sebagian yang telah antre duluan pilih minggir saja lagi. Tidak kuat menahan aromanya.

Lokasi depan lift yang selalu gaduh, makin gaduh oleh para jegek Bali itu. Yang sengaja didatangkan oleh kontraktor untuk mengerjakan ornamen dinding ruang spa dan jacuzi di proyek hotel ini. Ini Surabaya, dan beda sekali dengan di Bali yang sudah hal lumrah mendapati wanita tangguh yang bekerja keras di proyek-proyek, sementara para suami memikul bambu panjang tempat beberapa ayam dalam beberapa kurungan mengantung dibawa ke tempat bersabung.

Sekitar delapan perempuan Bali ikut antre. Dalam kepulan asap rokok yang berhembus dari sekian banyak mulut laki-laki. Mulut yang kadang lebih usil lagi. Bersuit-suit. Tak tahan rupanya mulut-mulut itu untuk tidak melakukannya. Ketika sekian lama diproyek ini belum sekalipun antre lift dengan perempuan. Ada memang perempuan yang seminggu sekali naik ke lift ini. Tetapi mana berani menyuiti Bu Melinda, perempuan pemilik proyek ini. Namun perempuan Bali itu, dianggapnya bisa diajak berkawan. Tidak, lihatlah. Bukan begitu caranya mengajak kenalan sebagai kawan. Bukan dengan lempar kerikil sembunyi tangan. Kau tahu, perempuan manapun akan tidak senang dibegitukan. Ia akan lebih menghargaimu bila engkau turut menghargainya. Bukan malah kau gembirai kejengkelan perempuan-perempuan yang sedang menyingkirkan kerikul-kerikil itu dari rambutnya.

Rindang juga laki-laki. Juga kuli. Tetapi ia tidak senorak mereka..