Tampilkan postingan dengan label Tjerita Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tjerita Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Si Randy dan Pak Randy



SEPERTINYA, adalah suatu yang kurang mengenakkan bila dalam satu kelas, ada guru dan murid yang namanya sama. Lebih menyiksa lagi, kalau si murid itu termasuk dalam kategori usil.

Saat SMP, saya punya teman sekelas yang namanya sama dengan guru pelajaran ekonomi kami. Sebut saja namanya Randy. Si Randy murid, sudah usil, suka kentut pula. Dan siapa pun tahu, kentut yang sunyi malah aromanya ruarr  biasa.

Saat seisi kelas konsentrasi penuh mendengar penjelasan Pak Randy tentang diskonto, debet, kredit dan sebangsanya, dari deretan bangku tengah sisi belakang tiba-tiba ada kegaduhan. Di tengah-tengah kegaduhan itulah si Randy duduk. Dengan sekeliling pada menutup hidung, jelaslah sudah, tudingan sumber bencana adalah gas buang si Randy.

“Ada apa di belakang ribut-ribut?” Pak Randy lantang bertanya.

Teman-teman di sekeliling Randy yang sebagian besar perempuan, langsung menunjuk si biang kerok. “Pak, Randy kentut,” seperti koor suara itu kompaknya.

Sebuah penjelasan yang sangat jelas. Toh, si Randy juga tidak membantah. Tetapi penjelasan itu disertai tawa yang tertahan manakala cara pengucapannya lamat-lamat terdengar seperti menuduh Pak Randy yang kentut.

“Apa?!” seakan kurang jelas, Pak Randy ingin mendengar ulang jawaban kompak tadi.

Sambil cekikikan kami lebih kompak menjawab, “Pak Randy kentuutt.....”

Sumber keributan di kelas bagi Pak Randy harus diberi hukuman, dan hukuman yang khas dari beliau adalah dicubit. Tetapi cubitan itu bukan sembarang cubitan. Pak Randy suka mencubit (maaf) puting kami para siswa lelaki dan menariknya ke atas sampai kami ikutan berdiri sambil meringis kesakitan.

Setelah menghukum Randy, dan memperingatkan agar ia tidak bikin gaduh lagi, Pak Randy melanjutkan pelajaran. Belum lama berselang, dari arah semula ada lagi kegaduhan. Lagi-lagi, sekeliling Randy tutup hidung. Ah, kurang ajar betul anak itu! Begitulah akibatnya kalau mau berangkat sekolah makan kedelai muda rebus.

Tetapi dengan sikap ksatria si Randy langsung berdiri dan mengangkat dua tangan, “Sumpah. Bukan saya yang kentut! Hiruplah dengan seksama, aroma ini bukan berasal dari kedelai rebus.”

Kegaduhan mengecil menjadi kasak-kusuk. Si Randy memerhatikan teman-teman di sekeliling duduknya. Dan mendapati si bunga kelas, Grace (juga bukan nama sebenarnya) wajahnya ranum memerah menahan malu. Kepadanyalah kecurigaan si Randy tertuju.

“Mengakulah, Grace. Tak perlu malu, karena buang angin yang tak dikehendaki adalah hal yang juga manusiawi...,” sok bijak Randy berkata.

Dengan Grace yang tak membantah, sumber kegaduhan kedua siang itu jelaslah sudah. Tetapi bukan Randy namanya kalau tak bisa menambah sebuah kegaduhan menjadi makin meriah.

Demi menyadari hukuman ala Pak Randy adalah cubitan di titik yang itu-itu juga, “Harus adil dong, pak. Saya tadi dicubit, Grace harus dicubit juga dong, Pak,” ucapan Randy itu langsung direspon meriah oleh teman sekelas.

“Cubit, cubit, cubit....”

Di antara kekompakan tuntutan kami itu, Pak Randy mengemasi buku-bukunya, memasukkan ke dalam tas, dan, “Pelajaran siang ini cukup sampai disini. Selamat siang,” guru ekonomi yang malang itu menutup pelajaran dan keluar meninggalkan kelas disusul kegembiraan kami yang semuanya terbilang keterlaluan. *****


Minggu, 30 Juni 2013

Logika Orang Gila

SETIAP kali 'pulkam' dan melintas di sekitaran SDN Mlokorejo 1, sebuah rumah megah di seberang sekolah itu selalu membuncahkan kenangan. Di situlah, tiga puluh tahun yang lalu, saya, kakak-adik dan orang tua pernah tinggal. Tentu saja jalan aspalnya tak semulus sekarang, kalau malam belum sebenderang sekarang (baca; aliran listrik belum ada), dan rumah kami tentu bukan rumah yang megah itu.

Kalau kemudian orang tua menjual sejengkal tanah yang hanya selebar lidah, itu tentu ada alasannya. Yakni, dengan menjualnya, uang hasil penjualan itu bisa dibelikan tanah dengan lebar berlipat ganda di daerah yang agak ke dalam, agak jauh dari jalan raya. Tetapi bagi saya, di bekas tanah kami itu, yang sekarang berdiri bangunan megah itu, seperti tadi saya bilang, ada memori yang tak akan hilang.

Kala itu, rumah kami hanyalah berdinding bambu, dengan jendela tanpa kaca. Ada beberapa pohon jeruk keprok di depan rumah, dan juga beberapa pohon nangka di belakang rumah. Satu lagi, ada bangunan musholla di depan agak ke barat.

Musholla itu buka 24 jam. (Ya, karena memang tidak ada pintunya.) Dengan letak rumah kami yang persis berada di dekat jalan raya, menjadikan ada saja orang yang memanfaatkan musholla itu. Untuk numpang sholat pada waktu-waktu sholat, atau tempat menginap bagi yang kemalaman di jalan.

Sebagai yang tinggal di dekat jalan raya, saya juga hapal nama-nama orang gila yang sering berjalan tak karuan tujuan. Kadang ke arah barat, sore hari sudah balik ke timur. Sekarang ini, saat saya membuat tulisan ini, lamat-lamat saya juga ingat wajah Pak Pingseng. Orang tua berkulit keriput yang saban hari melintas di jalan raya membawa jepitan agak panjang terbuat dari bambu. Orangnya lucu, adegan yang selalu diperagakan setiap kami, anak-anak, mengikuti langkahnya, adalah; ia akan memijit hidungnya dan menghisapnya sedemikian rupa, sampai kulit lubang hidungnya itu kempis.

Sabtu, 23 Maret 2013

Ranjau Kacau Balau

SEBAGAIMANA anak-anak, ketika kecil --bersama teman-teman seumuran-- saya juga pernah 'pecicilan'. Waktu itu desa saya belum ada jaringan listrik. Sehingga, sehabis isya' saja, suasana sudah gelap gulita.

Dalam gelap gulita itu, entah siapa pencetusnya, kami mempunyai rencana cemerlang!

Di sudut depan pekarangan rumah Mbah Muk, tidak jauh dari pantat gedung SD kami, ada pohon bunga kenanga yang tinggi menjulang. Bentuk tubuhnya yang demikian, dengan aroma wangi kenanga yang begitu, ketika malam ia digosipkan menjadi tempat bangsa halus. Padahal, letaknya yang di pinggir jalan –termasuk sebuah gang masuk ke kampung-- selalu saja dilewati orang.

Ide cemerlang yang saya bilang tadi adalah ini; siang-siang, kami memanjat pohon itu untuk meletakkan segala macam kaleng rombeng yang kami hubungkan dengan seutas tali hasil pilinan sendiri berbahan lulup (serat) kulit pohon waru. Tali itu sungguhlah panjang; dari dahan tempat kaleng rombeng digantungkan sampai terulur jauh ke sebuah tempat yang terlindung. Dari tempat itulah malamnya kami menarik-narik tali agar kaleng-kaleng itu berbunyi supaya mengejutkan orang-orang yang berjalan sepulang menonton ludruk di lapangan.

Bisa dibayangkan, orang-orang yang sudah berdiri bulu kuduknya setiap berjalan di dekat pohon kenanga yang dikabarkan angker itu, dengan efek suara kaleng yang mengejutkan, menjadikan meraka lari pontang-panting ketakutan. Di tempat persembunyian, kami tertawa cekikikan kegirangan.

Karena orang-orang pulang nonton ludruk pada tengah malam, biasanya sambil menunggunya, kami melakukan tindakan 'pemanasan' setelah Isya'. Yakni menakut-nakuti teman-teman perempuan sepulang mengaji. Mereka itu beberapa masih saya ingat namanya. Ada Imroatul Hasanah, ada Miftahul Jannah tetapi yang lainya saya lupa. Biasa, perempuan dengan 'nilai' biasa-biasa saja akan lebih sering terhapus dari ingatan. Hehe... sadis ya?

Tidak hanya akan mengejutkan dengan aneka bebunyian, kami juga meletakkan sebuah bangku panjang -- yang kalau siang sebagai tempat Mbah Serin berjualan di belakang sekolah. Kami meletakkan bangku itu secara melintang di tengah gang menuju rumah Pak Kasto pegawai BKKBN yang merangkap jabatan sebagai penjual getuk lindri. Kalau berjualan beliau selalu memutar lagu-lagu Rhoma Irama lewat speaker Toa warna abu-abu. Pak Kasto itu ayah Miftahul Jannah dan Imroatul Hasanah.

Konspirasi jahat ini sungguhlah akan menyakitkan. Bagaimana tidak, mereka yang terkejut dan lari ketakutan, akan menabrak bangku yang melintang di tengah jalan. Menunggu momen itu, kami berdebar membayangkan adegan yang pasti akan kami tertawai secara gembira.

Teman-teman nakal saya itu masih saya ingat mereka. Ada Gito anak Lik Tumirin, juga ada Budiono anak Lik Sahar.

Rupanya Pak Malik yang mengajar mengaji Miftahul Jannah dkk itu sedang memberikan pelajaran tambahan. Waktu Isya' sudah sedari tadi lewat, mereka belum juga pulang. Padahal biasanya beberapa saat setelah azdan isya' berkumandang, setelah sholat berjamaah meraka sudah pada lewat gang ini.

Seperti halnya memancing, menunggu korban jebakan pun butuh kesabaran. Sambil menunggu, kami harus menahan gigitan nyamuk di tempat persembunyian.

Beberapa saat lewat, dari arah selatan, kami mendegar suara kriet-kriet, derit sepeda angin yang rantainya jarang diminyaki. Celaka! Orang itu, pengendara sepeda angin itu, akan melewati ranjau kami. Lebih celaka lagi, orang itu, yang bersepeda dalam gelap itu, adalah Lik Tumirin, ayah Gito.

Gubrakkkk!!!!

Terdengar suara sepeda menabrak bangku. Kami lunglai, tak ada nafsu untuk tertawa. Kami semua pucat, terlebih lagi wajah Gito.

Kacau, kacau....*****

Jumat, 08 Maret 2013

Apa Arti si Buah Bendo



ADA makna di balik nama. Ada doa diselipkan dalam sebuah nama. Sering begitu. Makanya, ketika si jabang bayi lahir, kedua orang tuanya akan sibuk mencarikan nama yang pas untuk anaknya. Kalau merasa tidak mampu, seringkali si ortu meminta nama ke seorang yang dituakan untuk buah hatinya.

Dengan kemajuan ilmu kedokteran, yang dengan alat tertentu bisa diketahui jenis kelamin janin jauh hari sebelum ia lahir ke dunia, menjadikan orang tua si bayi lebih dini lagi menyiapkan nama.

Masih tentang nama. Nama yang sering saya pakai sebagi tokoh dalam status Facebook saya; Bendo. Siapa dia? Ini tidak penting sebenarnya. Sekaligus ini sebuah rahasia, sebenarnya. Tetapi sudahlah.

Adalah Pak Gudel. Orang tinggi besar yang kalaulah ia brewok akan semakin terlihat sangar. Salah satu kesenangannya adalah memberi nama wadanan (julukan) untuk siapa pun. Mungkin ini semacam balas dendam atas yang dialaminya sendiri. Tak tahu saya darimana asalnya dan siapa oknum yang berbuat tega memberinya julukan Gudel padahal nama sebenarnya pemberian orang tuanya adalah  Sudirman.

Sudirman adalah nama orang besar. Itu, saya kira, disematkan kedua orang tuanya agar si Gudel, eh si Sudirman kecil, akan menjadi tokoh sebesar Jenderal Sudirman kalau sudah besar. Tetapi, nama, sebagaimana doa, tak selalu terkabulkan. Sudirman tetangga saya itu tidak pernah menjadi jenderal (dalam ludruk sekalipun), dan malah sukses sebagai pengusaha pembuat tahu. Dan Sudirman teman kerja saya malah sukanya memancing di laut, sekalipun ada temannya yang memanggil dengan sebutan Jenderal.

Lain pak Gudel, lain pula pak Celeng. Demi melanggengkan nama, ia menyematkan nama Genjik kepada anak lelakinya. Sebuah silsilah yang ‘parah’. Ini menjadikan saya ingat pelajaran bahasa Jawa ketika SD dulu: Anak celeng arane genjik. (Anak babi hutan namanya genjik)

Sekarang tentang Bendo. Betul, Sampeyan betul. Bendo adalah nama pohon sekaligus nama buahnya. Tubuh pohon bendo biasanya digosipkan sebagai tempat tinggal genderuwo, kuntilanak, wewegombel dan sebangsanya. Dengan bentuk akar yang menonjol pipih keluar, dengan pohon kekar tinggi menjulang, berdiam di bawahnya, apalagi sendiri, akan seperti ada yang meniup bulu kuduk.  Itu lebih karena termakan omongan tentangnya yang selalu berbau angker. (Angker, bukan Anker!)

Sekalipun angker, kami –saat itu saya masih anak-anak—sering ke bawah pohon bendo untuk luru buahnya yang berceceran sisa dimakan codot. Codot itu mungkin hanya nglamuti daging buahnya. Sementara buahnya, sebesar butiran kelereng, ditinggalkan begitu saja. Kalau sudah disangrai, Sampeyan tahu, rasa buah bendo itu akan mengalahkan gurihnya kacang. Tetapi bagi yang tidak tahan, memakannya akan menimbulkan rasa nggliyeng, semacam rasa fly.

Luru buah bendo di pagi hari, seringkali hasilnya tak seberapa. Ya karena yang bareng-bareng mencari banyak. Lain halnya kalau malam-malam. Buah bendo yang sudah masak (masak pohon), jatuh dengan bentuk buah yang masih utuh. Bulat sebesar keluwih atau sukun. Dengan seutuh itu, kita tinggal mengambilnya, tanpa luru satu per satu yang berserakan di tanah, di antara daun-daun bambu yang kering.

Mencari bendo malam-malam begitu, tidak semua orang berani. Ya, namanya sudah kadung kondang sebagai rumah hantu. Tetapi itu tidak berlaku bagi saya dan beberapa teman yang setiap malam tidur di musholla. Ini lebih sebagai tindakan yang lebih terpuji, tentunya. Ini bila dibandingkan dengan tindakan ‘kriminal’ dengan mencuri buah nangka, rambutan atau sebangsanya. Bendo itu, sekalipun pohonnya ada yang punya, mengambil buahnya tidak bisa dijerat dalam pasal pencurian. Hehe...

Saya tidak pernah apes ditemui si hantu dalam pencarian bendo di tengah malam begitu. Apes saya hanya satu, sekalipun saya mencari bendo itu secara bersama-sama teman yang menginap di musholla depan rumah saya, tetapi yang oleh Pak Gudel diberi gelar bendo cuma saya!*****

Senin, 16 Juli 2012

Kapal, Minta Uang!

DUA buah baterai bekas yang sudah tak terpakai, saya adu 'pantatnya'. Kemudian bagian ujung lain yang ada nongolnya kecil itu, saya jepit pakai kawat yang saya bentuk setengah lingkaran. Di bagian tengah kawat yang melengkung itu, saya kasih tali penarik. Jadilah baterai itu mainan yang bisa diseret. Seperti mobil-mobilan. Lebih spesifik lagi; semacam sepur tumbuk. Dan ketika mainan itu saya kasihkan kepada si kecil, oh, rupanya ia tidak tertarik sama sekali. Ia tetap asyik dengan aneka mainan mobil-mobilan yang (entahlah, dari jaman saya kecil dulu sampai sekarang) selalu saja made in China.

Begitulah.
Anak sekarang tidak sekreatif anak jaman dulu. Sekarang, semua mainan adalah barang jadi, barang produksi pabrik. Dulu, jangan tanya. Kalau kulit jeruk sebagai bahan membuat mobil-mobilan sih itu sudah umum. Lha wong 'cumplung' saja bisa dijadikan mainan kok. Tahu cumplung? Itu adalah nama lain dari kelapa yang telah dilubangi tupai untuk dimakan isinya. Kelapa itu, biasanya, lalu jatuh sendiri tanpa diambil pemilik pohon kelapa. Dan cumplung itu, bagian yang berlubang itu, ditusuk pakai kayu yang agak kecil. Di dorong, jadilah ia 'mobil'.

Lain cumplung, lain pula upih. Upih adalah pangkal pelepah daun pinang yang bentuknya melebar. Benda ini, bisa kami sulap menjadi sarana permainan yang tak kalah mengasyikkan. Ia kami jadikan 'geretan'. Satu anak duduk di bagian yang melebar itu, satu lagi menarik dengan kencang. Permainan itu bisa dilakukan berdua dengan posisi bergantian, bisa juga dimainkan sebagai balapan, bila ada beberapa upih yang kami dapatkan.

Sambil trutusan ke kebun (maklum, desa saya itu jauh dari gunung, jauh pula dari hutan), sebagai camilan kami biasa mencari buah salam (yang daunnya lazim sebagai bumbu lodeh itu), atau juwet yang kalau memakan buahnya bisa membuat warna mulut dan lidah menjadi ungu.

Sebagai anak desa, kami punya pantangan. Salah satunya, kami tidak berani mengoleskan sabun colek ke rel kereta api yang melintas di kampung kami. Karena, ada keyakinan kuat diantara kami anak desa, bila rel kereta api diolesi sabun, kereta api bisa terpeleset bila melewatinya. Sebandel-bandelnya kami, tentu tak berani membuat penumpang kereta api itu celaka; terpeleset gara-gara sabun.

Satu lagi, bila ada pesawat terbang melintas di atas desa, siapapun kami, sekalipun sedang berada di dalam rumah, sontak akan meloncat ke luar rumah. Dan seolah ada yang mengomando, kami langsung menadahkan tangan sambil berteriak dengan lantang, “Kapal.... minta uaaannggggg.......”
(Kami, sebagai anak kampung, kala itu memang terbiasa menyebut pesawat terbang sebagai kapal.)

Tentu saja, perilaku katrok itu tidak saya turunkan ke anak-anak saya. Karena akan repot sekali. Betapa tidak. Rumah saya yang terbilang tidak terlalu jauh dari bandara ini, saban waktu ada saja pesawat yang melintas di atas rumah. Kalau setiap ada pesawat lewat selalu menadahkan tangan meminta uang, selain bisa menyebabkan tangan dan leher pegal, tentu bisa-bisa membuat tak sempat masuk rumah. *****


Jumat, 11 Mei 2012

Membuka Cerita Lama

 


LAMAT-LAMAT saya ingat, ketika SD saya mulai menyukai membaca. Buku atau majalah. Kuncup adalah majalah anak-anak yang pertama saya kenal. Ia diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Jatim. Dalam susunan redaksi majalah itu (kebiasaan saya membaca susunan redaksi sebuah media, rupanya saya mulai sedari kecil, dan berlangsung hingga sekarang) kantor redaksinya ada di jalan Jagir Sidoresmo.

Untuk buku cerita, saya meminjamnya di perpustakaan sekolah. Dari sekian banyak yang pernah saya baca, yang sekarang (ketika membuat tulisan ini) saya ingat adalah karangan CM Nas. Lupa saya judulnya apa. Tetapi salah satu tokohnya saya masih ingat. Lodan namanya. Anak seorang nelayan. Kisah di buku itu, kalau saya buat persamaannya, mungkin seperti si Bolang-nya Trans7 edisi anak nelayan. Yang pandai berenang. Yang sederhana dan yang tahan banting. Sekalipun hidup pas-pasan, ia punya otak cemerlang. Termasuk mau membantu orang tua mencari nafkah. Mencari ikan atau rumput laut, misalnya. (Maaf, sampai batas ini saya lupa alur ceritanya.)

Menginjak SMP saya mulai membaca Hai, Kartini, Femina, Sarinah, Ria Film, Intisari, Mode, Tempo dll. (tentu saja majalah bekas). Sekalipun begitu, bukan berarti saya tidak pernah membaca terbitan baru. Salah satunya adalah tabloid Bola (saat itu pemimpin redaksinya namanya Sumohadi Marsis). 

Kakak saya adalah agen majalah. Ini menguntungkan bagi saya yang tidak ‘tebang pilih’ (ih, cocok gak ya pakai istilah itu?) dalam membaca. Kakak saya mengageni tiga majalah mingguan sekaligus; Fakta, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Sampeyan betul, dua yang saya sebut belakangan itu majalah berbahasa Jawa. 

Jujur, sudah lama sekali saya tidak membaca minggon (baca: mingguan) majalah berbahasa Jawa itu. Tetapi saya masih ingat beberapa nama rubriknya. Ada Cerkak (cerita pendek), Roman Racuwil (biasanya cerita penuh romantisme, salah satu pengarangnya saya ingat namanya; Cahyarini T. Budiarti), Apa Tumon? (berisi aneka hal yang aneh-aneh. Biasanya diambil dari Ripley’s Bilieve it Or Not). Ohya, boleh pamer dikit kan? Kartun buatan saya pernah dimuat di Jaya Baya lho!

 Dan satu lagi; sampeyan tahu nama ilustrator Jawa Pos yang kalau membuat ilustrasi cerita di rubrik wayang mingguan (saya tahu sejak Wayang Opo Maneh yang diasuh ki Sunu, kemudian dilanjut Wayang Suket oleh ki Slamet Gundono yang gendut itu sampai wayang Durangpo-nya Sudjiwo Tedjo sekarang ini) selalu bisa menggambarkan tokoh wayang dengan sentuhan nyentrik? (Misalnya si buta Cakil yang pakai jam tangan dan bersepatu bola, sampai edisi Minggu kemarin ada gambar Limbad dan ki Joko Bodo). Ya, mas Budiono itu saya tahu karyanya pertama kali ya di majalah Panjebar Semangat itu.

Ohya, tentu saja saya juga membaca Anita Cemerlang. (Untuk koran mingguan, sesekali saya baca Sentana Jakarta atau Minggu Pagi terbitan Yogya.) Monitor, Bintang Indonesia itu baru setelahnya.

Anita Cemerlang, generasi saya siapa yang tidak mengenalnya. Sekarang tiba-tiba saya ingat (agak lupa-lupa ingat sih...) satu judul yang pernah saya baca di majalah khusus cerpen itu. Ingat saya akan judul dan alur ceritanya, sekalipun saya lupa siapa penulisnya. Noktah Merah di Baju Papa, begitu judulnya. Berkisah tentang seorang anak (sudah SMA dia) yang sibuk mencarikan istri untuk papanya yang telah ditinggal meninggal istrinya. Anaknya itu, perempuan dia, ingin membuat papanya bahagia. Dan seorang perempuan dirasanya cocok sebagai pengganti  ibu yang telah bahagia di sisiNya. Tetapi sebuah noktah merah, bekas lipstik di baju papa, membuatnya kecewa. Ternyata papa telah menemukan pilihannya sendiri. Dan sama sekali tidak menghargai jerih payahnya.

Ending cerita itu yang membuat saya mengingatnya sampai puluhan tahun begini. Ternyata, perempuan pilihan papanya itu, adalah juga pilihan putrinya. Sebuah ending yang happy.

Kalau tidak keberatan, ingat-ingatlah sekarang, cerita lama apa yang begitu membekas dihati sampeyan?*****

Kamis, 10 Mei 2012

Gambas Kukus nan Mulus

MASA lalu seringkali bikin rindu. Tentang apa pun. Temasuk makanan. Maka, dalam nuansa rindu itu, saya seringkali menikmati ingatan tentang jaman bahuela itu. Karena memang bukan keluarga berpunya, makan sehari-hari kami terkesan apa adanya. Walau kadang juga pernah seharian tidak ada. Untunglah masih ada pohon pisang yang lagi berbuah. Ia, sekalipun masih belum cukup umur, bisa juga dimasak sebagai ganjal perut. Kalu tidak begitu, emak akan memasak nangka muda sebagai sayur. Jadilah ia menu makan yang lumayan, sekalipun tampil di piring secara solo; tanpa nasi.

Maka, ketika ada tetangga yang menggelar kenduri (selamatan) itulah saat dimana perut kami akan kemasukan sepotong daging ayam atau sebutir telur dibagi sekeluarga.

Sudahlah. Itu masa lalu. Dan itu cerita tempo doeloe.

Sampai sekarang saya masih terkenang beberapa menu masakan ibu. Yang juga saya kangeni ini; eseng-eseng daun genjer. Itu, kalau dimakan pakai nasi hangat dengan lauk ikan asin pun sudah membuat makan saya luar biasa mak-nyus-nya. Ketika saya lagi pulang kampung dan ibu tampak akan sibuk memasak neko-neko, saya stop saja. Dan saya hanya memesan dimasakkan eseng-eseng genjer saja.

Satu lagi, nasi hangat, buah gambas dikukus, dimakan dengan sambal terasi, wih sudah sedemikian segar bagi saya. Maka, suatu hari beberapa tahun yang lalu, ketika saya sedang rindu menu sepele itu, sebelum berangkat kerja, saya minta istri saya untuk membuat sambal terasi lengkap dengan buah gambas kukus untuk menu makan malam saya nanti.

Sebagai putri Lamongan, istri saya lebih akrab dengan ikan bandeng, tombro atau udang ketimbang aneka sayuran. Kalaulah memasak sayur, seingat saya, itu hanya berkutat pada bahan; kacang panjang, terong, sawi, nangka muda atau pare welut (di Lamongan disebut 'oler'). Padahal di kampung saya sana, hanya daun bambu dan daun pintu saja yang tidak dimasak orang! (hehe... lebay ya?) Sekalipun begitu, saya pikir, mengukus buah gambas tentu hanyalah pekerjaan ringan.

Sepulang kerja, sehabis sholat magrib saya langsung makan. Lidah saya sudah kemecer membayangkan segarnya gambas kukus. Sementara, istri saya sedang mengaji di musholla.

Membuka lemari makan, saya lihat di cobek telah tampil sambal terasi. Di piring, di dekat cobek itu, ada benda putih kecil seukuran jari telunjuk berjajar sepanjang sekitar lima belas centi. Saya masih celingukan, mana gambas kukusnya?

Siapapun tahu, gambas itu warnanya hijau dengan kulit yang agak kasar.. Dan dikukus pun warna dan bentuknya tidak akan berubah. Saya penasaran dengan benda putih setelunjuk itu. Saya dekatkan ke hidung. Hm, saya ingat aromanya. Ya, ini buah gambas. Tetapi kok mengkerut menjadi sedemikian kecilnya. Sudah gitu, kok warnanya jadi putih mulus?

Rupanya istri saya tadi begitu sempurna mengulitinya sehingga si gambas hanya nyaris tersisa sebagai bijinya saja. Hm... *****

Senin, 09 April 2012

Memori 'Hembodi'


SERING sekali saya tiba-tiba ingat perisiwa lama. Sekalipun itu bukan peristiwa penting, senang sekali saya mengingatnya sebagai penangkal pening. Jangan tanya, apa penyebab rasa pening saya. Bisa karena kebutuhan yang terus saja bertambah, misalnya tentang si Edwin yang akan segera masuk SMP (dan itu butuh biaya). Sebanyak apa persoalan yang dianggap penting, sebanyak itu pula penyebab rasa pening.
Penangkalnya, yang seperti sudah saya bilang, adalah mengingat-ingat kenangan masa lalu yang bisa membuat senyum tersungging.

 Baiklah, ingatan saya pertama-tama terbang kemasa ketika saya masih SD. Tidak ada yang teramat istimewa, sebenarnya. Kalaulah saya sering sekolah bersandal jepit, atau malah hanya bertelanjang kaki, pada masa itu memang adalah sudah hal lumrah. Selumrah emak saya yang meminyaki rambut saya pakai minyak kelapa sebelum berangkat sekolah. Sehingga, ketika upacara (karena berdiri dihalaman sekolah sampai matahari agak tinggi) jidat saya menjadi mengkilap. Karena keringat? Lengkapnya karena keringat plus minyak kelapa yang meleleh karena rambut tersiram panas matahari.
Siangnya, kemarau ketika itu, giliran betis yang perlu diperhatikan. Bagian tubuh itu, seperti emak bilang, seperti kulit mentimun tua. Mbesisik, kering dan bergaris putih ketika digaruk kuku. Tetapi kami, anak-anak SD itu, punya cara jitu untuk mengkilapkannya.

Ketika jam istirahat tiba, menujulah kami ke kios bensin milik mbak Utari yang bisa dijangkau dengan menyeberang jalan saja. Kami mencari jerigen  wadah solar yang isinya sudah laku terjual. Kami miringkan, kami tadahi tetesan sisa solar itu ketelapak tangan, lalu kami usapkan ke betis kami yang mbesisik itu. Beres.
**o**
MENGINJAK remaja, ketika saya memulai karir sebagai kuli batu, kulit yang memutih setelah bekerja mengaduk semen selalu ada. Utamanya dibagian guratan kulit di jari kaki atau tangan. Ketika kulit dibasahi dengan dicuci pakai sabun ‘keputihan’ itu tidak kelihatan, tetapi kalau sudah kering sungguh terlihat nyata. Untuk menghilangkannya, sudah tidak pakai solar sekarang. Tetapi pakai minyak kelapa, atau kalau mau mejeng lihat tontonan film Jamu Jago dilapangan desa, saya pakai hand and body lotion. Tentu hanya yang merek murahan.

Suatu sore, saya lihat teman seprofesi, (Boimin namanya, tetapi agar keren kami memanggilnya Boy) sudah berdandan. Sudah tidak kelihatan putih-putih di jari kaki atau tangannya.

“Pakai minyak kelapa, ya?” tebak saya.
Ngenyek,” elaknya.
“Wah, tentu pakai hembodi,” tebak saya lagi.
“Juga tidak.”
“Lalu, pakai apa dong?”
Boy menjawab enteng, “Aku pakai Okana.” *****

Kamis, 05 April 2012

Telepon Tengah Malam

MIDNIGHT Call, begitu judul serial film yang diputar TVRI sekitar awal tahun 90an. Berkisah tentang seorang penyiar radio yang selalu bersiaran tengah malam. Ia, seorang lelaki –saya lupa siapa namanya-- mengasuh acara bernama Midnight Call. Panggilan tengah malam yang diterimanya selalu sebagai peristiwa yang membuat si penyiar turut sebagai pihak yang terlibat. Tentu sebagai penyelesai. Asyik. Sekalipun tidak se-dar,der,dor The A Team, atau sebertele-tele soap opera macam Dinasty, The Bold and The Bautiful atau Santa Barbara. Tidak. Pun, pemeran wanita –sering sebagai si penelepon tengah malam itu--, adalah selalu yang sedang terbelit masalah. Ia, wanita itu, jangan bayangkan se-semlohay para bidadari di Charlie's Angels yang kala itu dibintangi (mendiang) Farah Fawcett dkk.

Sudahlah. Saya sedang tidak akan membahas serial TVRI tahun-tahun itu. Sekalipun saya juga akan bercerita tentang panggilan tengah malam. Tengah malam? Iya. Tentu sampeyan ingat, dulu ketika HP belum dikenal orang, telepon adalah sudah sebagai alat komunikasi andalan. Ingatlah pula, telepon umum yang ada dipinggir-pinggir jalan sungguh terasa sekali manfaatnya. Beda dengan sekarang. Yang seringkali hanya sebagai benda yang teronggok tiada guna dipinggir-pinggir jalan.karena keberadaannya telah kalah telak oleh telepon seluler.

Saya ingat betul, ketika akan menelepon ke luar kota selalu menuju di sebuah wartel yang selalu ramai di pertigaan Rungkut. Pada jam sebelas malam begitu, antre sekali yang datang. Padahal wartel itu punya beberapa KBU. Tentu bukan tanpa alasan orang pada bertelepon tengah malam begitu. Karena, kala itu, telepon interlokal selalu mengenalan tarif 50% dari tarif siang. Semakin malam, kalau saya tidak salah ingat, akan semakin murah. Hanya akan dikenakan biaya 25% saja!

Kala itu saya masih bujang dan masih kost di Rungkut Kidul II nomor 88. Nomor rumah yang cantik. Karena waktu itu belum ada densus 88, nomor rumah pak Mu'in itu lebih identik dengan merek salep obat sakit kulit. Setiap tengah malam, ketika telepon di rumah bapak kost berdering, hati para penghuni selalu berdebar. Karena, Minggu sebelumnya, ketika ada telepon tengah malam, ada kabar duka untuk mbak Minah –tetangga kamar kost saya-- yang asal Mojokerto, bahwa keluarganya meninggal dunia. Beberapa hari setelahnya, juga tengah malam,  Kadi (tetangga kost saya yang lain) mendapat kabar duka lewat telepon bahwa saudaranya meninggal di Tulungagung sana.

Maka ketika suatu tengah malam ada dering telepon, dan sebentar kemudian bapak kost mengetuk kamar saya, makin berdebarlah hati kami. “Yon, ada telepon,” kata bapak kost kepada teman sekamar saya. Ia bukan hanya teman sekamar sebenarnya. Dibilang masih saudara juga bisa. Karena, kakak perempuan dari si Yon ini dinikahi kakak saya

Menunggu Yon kembali dari menerima telepon, saya duduk dalam gelisah. Saya menduga telepon tengah malam itu, seperti malam-malam yang lalu, adalah kabar duka. Begitu Yon datang dengan wajah kusut, makin yakin saya akan prakiraan tadi.

“Mbah mBoro meninggal,” katanya sambil melepas sarung dan berganti celana. “Aku diminta menghubungi Jonit. Bisa ndak bisa ia harus pulang sekarang.”

Malam itu, selepas menerima telepon tengah malam itu, Yon menuju wartel di pertigaan Rungkut. Ia menunaikan pesan bahwa bisa ndak bisa si Jonit harus pulang. Untuk itu, ia menelepon ke tempat kost kakak saya (juga kakak ipar Yon) di daerah Setro, Kenjeran sana. Si Jonit yang cucu tersayang mbah mBoro, kala itu memang sedang ikut pekerja pada bangunan yang sedang digarap kakak saya.

Kisah lanjutannya; mendapat kabar duka itu, kakak saya berinisiatif menghubungi sanak-famili yang ada diseantero Surabaya. Juga, kakak saya itu langsung mendampingi si Jonit untuk pulang. Tentu, agar tidak terguncang hatinya, dan hanya dibilangi kalau mbah mBoro sedang kurang enak badan. Tak mungkinlah kakak saya berkata ke Jonit bahwa si neneknya sudah tiada.

Dari Kenjeran kakak saya langsung ke Bungurasih. Naik bus menuju pulang. Sangat hati-hati kakak saya menjaga agar sesampainya dirumah duka si Jonit tidak shock. Tiba di Jember sekitar jam enam pagi. Turun dari bus, si Jonit diajak lewat jalan kecil. Semakin mendekati rumah duka hati semakin berdebar. Dari kejauhan suasana sepi saja. Ah, mungkin jenazah sudah diberangkatkan ke pemakaman.

Rumah berdinding anyaman bambu itu terletak disebelah rimbun rumpun bambu. Tampak seorang perempuan tua sedang menyapu halaman, yang sedang diguguri daun-daun bambu.

“Itu mbah mBoro,” Jonit tersenyum. Ia yang memang tidak dikabari kalau mbah mBoro 'meninggal' bersikap biasa-biasa saja.

Kakak saya yang malah bingung. Katanya meninggal, kok malah sedang menyapu. Kebingungan bukan milik kakak saya semata. Karena, selang beberapa saat kemudian, keluarga yang sudah dikabari kakak saya tadi juga berdatangan.. Jadilah pagi itu suasana ramai sekali di 'rumah duka'.

Selidik punya selidik, si Yon yang sedang jadi tersangka. Ia yang menerima telepon tengah malam itulah biangnya. Rupanya, karena beberapa telepon tengah malam sebelumnya selalu berisi kabar duka, maka ketika malam itu seseorang yang disuruh mengabari kalau 'bisa ndak bisa Jonit harus pulang karena mbah mBoro....tut, tut, tut...' (rupanya suara telepon yang terputus itu langsung diartikan sebagai meninggal)*****

Sabtu, 28 Januari 2012

Dukun Edan dan Maling tak Tahu Diri


INI cerita lama. Tentang maling. Baiklah saya mulai saja. Begini; suatu hari. Malam itu sekitar jam dua. Saya yang tidur dirumah teman, dimalam sedini itu bermaksud pulang untuk makan sahur. Ya, ingat saya. Saat itu memang lagi bulan puasa. Sesampainya disebuah gang, saya menoleh keselatan; saya lihat ada tiga orang berjalan agak tergesa. Karena langkah itu tak bersuara, saya kira mereka bertelanjang kaki saja. Sarung yang dililitkan kebadan dan kepala hanya menyisakan celah kecil dibagian mata, mengingatkan akan pengalaman masa kecil ketika main ninja-ninjaan di musholla.


“Mau kemana?” tanya salah seorang dari mereka. Detik itu praktis saya dilingkari mereka. Dengan bonus dua mata saya disorot lampu senter yang sengaja hanya bersinar kuning seperti baterainya hampir habis. 


“Mau sahur," jawab saya.

Seorang yang menginterogasi saya itu memamerkan yang sedang dipegangnya. Dari bentuk dan kilapnya saya tahu, itu sebilah celurit. Tetapi sorot lampu senter itu membuat mata saya akhirnya blolo'en juga. Saat itulah sang interogator pamit dan meninggalkan pesan, “sudah, kalau mau sahur ya sahur sana. Dan jangan bilang siapa-siapa kalau kamu ketemu kami."

Lalu mak-krosak, plas. Seperti setan mereka menghilang ditelan rimbun tanaman kunyit.. Meninggalkan saya dengan mata yang berkunang-kunang, hanya terbayang warna merah kekuningan. Pencuri memang tak tahu diri, bulan puasa begitu masih saja beroperasi.

*****

Masih tentang maling. Dan, seperti biasa, tentu saya lupa kapan pastinya peristiwa ini terjadi, (yang jelas sudah lama, lama sekali. Ada kalau duapuluh lima tahun lalu), sepulang saya dari jamaah sholat maghrib di mushollanya pak Gudel (jangan tertawa, memang begitu ia dipanggil. Sekalipun nama yang sebenarnya adalah Sudirman. Satu lagi, beliau pula yang menyematkan nama wadanan untuk saya; Bendo. Hanya gara-gara ketika tengah malam saya dan beberapa teman luru buah bendo yang rasanya bila disangrai segurih kacang). Eh, sampai mana tadi? Ohya, sepulang dari jamaah sholat di musholla tetangga itu, saya mendapati rumah Woko dikerubuti banyak orang.

“Tivinya dicolong orang,” seseorang menjawab ketika saya tanya.

Saya lihat si Woko memamerkan wajah panik. Bukan opamer sih, memang panik bertulan. Sebuah tivi empat belas inchi adalah harta yang terbilang lumayan berharga ketika itu. Karena hanya sedikit orang kampung kami yang memiliki. Hanya orang-orang tertentu saja. Sementara orang lain, termasuk saya ini, hanya nunut saja menontonnya.

Orang menyisir sekitar pekarangan Woko. Asumsinya, si tivi itu masihlah belum dibawa jauh. Pasti masih disembunyikan disela-sela tanaman kunyit yang berdaun setinggi lutut. Ini bisa dipahami, saya kira. Karena ini masih sore sekali. Maghrib masih baru saja. Kemungkinan kronologisnya begini; si maling pura-pura bertamu, tetapi ketika uluk salam tidak ada yang menjawab, masuklah ia keruang tamu. Dan tivi itu lalu diembat.

Mencari disekitar rumah tak juga ketemu, beberapa orang berinisiatif meminta petunjuk ke 'orang pintar.' Dan kalau utusan yang sudah menemui orang pintar itu pulangnya disambut semua orang yang segera ingin tahu, tentu saja saya maklum. Tetapi tentu kemakluman saya menjadi batal ketika simbah dukun, menurut utusan itu, bilang, “Barangnya masih belum jauh. Pencurinya juga belum jauh. Malah barusan pencurinya ikut pura-pura mencari. Ciri pencurinya pakai sarung dan kopiah.'

Dukun edan! Karena, satu-satunya orang yang disebut bersarung dan berkopiah itu hanya saya sendiri.*****



Kamis, 24 November 2011

Ambon van Jombang (Dan Kisah Pencuri Nasi)

BEGITU sahabat saya yang satu ini mengirimi saya foto lama, langsung saja ingatan saya melayang-layang mengenang saat-saat bersamanya. Kalau mau semua ditulis tentulah akan sangat banyak. Tetapi kali ini, saya ingin menulis salah satu saja.

Seperti biasa, ketika itu, setelah sarapan di warung yang memakai sistem pasca bayar (maksudnya ngutang dulu untuk dibayar kemudian kalau sudah gajian), kami selalu membungkus satu lagi sebagai jatah makan siang. Karena, setelah bekerja, kami merasa malas jam duabelas siang harus turun ke warung untuk makan siang. Solusinya ya itu tadi, bawa nasi bungkus.

Hal itu pula yang dengan istiqomah dilakukan Suwaji, begitu nama sahabat saya yang asal Jombang, Jatim ini. Tetapi karena model rambut dan kulit yang hitam (ada manisnya sih, tetapi sedikit...) ia lebih beken dengan nama panggilan Ambon. Hal itu pulalah yang membuatnya enggan menyebut nama aslinya ketika diajak berkenalan dengan orang baru. Karena, ujung-ujungnya, kalau sudah akrab, tetap saja ia dipanggil Ambon. Sudahlah; apa arti sebuah nama, kata Shakespeare.

Untuk menyimpan nasi bungkus itu, biasanya kami taruh disembarang tempat. Intinya di unit mana kami bekerja, didekat situlah si nasi 'duduk manis'.

Pagi itu, setelah meletakkan nasi bungkusnya, si Ambon mulai menyiapkan alat-alat kerjanya. Bersiap melaksanakan tugas. Mengecat. Disaat itu, tiba-tiba muncul teman lain. Sutris namanya. Di tempat kerja ini ia termasuk rajin. Maksudnya rajin menjaili teman. Tetapi pagi itu rupanya ia sedang baik hati. Tidak seperti biasanya, ia membuka nasi bungkus didepan Ambon. Dan mengajaknya sarapan bareng.

Ambon, yang memang masih 'semego', ho-oh saja diajak makan sebungkus berdua. Hitung-hitung sebagai sarapan kedua. Karena, sebagai kuli bangunan seperti kami, untuk sekadar makan saja, memang harus matang hitungannya. Jangan sampai ketika gajian tiba, duit hanya habis untuk membayar hutang makan diwarung.

Lepas makan, Sutris dan Ambon bekerja seperti biasa. Hal yang tak biasa justru terjadi saat jam istirahat tiba. Disaat yang lain mengeluarkan nasi bungkusnya masing-masing, si Ambon malah masih sibuk mencari bekalnya. Yang ternyata telah raib dari tempat ia menyimpannya.

Melihat hal itu, si Sutris malah cengengesan. Dan, mulailah segala tuduhan dialamatkan kepadanya.

"Tris, kamu sembunyikan dimana nasiku?" tanya Ambon.

"Siapa juga yang menyembunyikan nasimu." bantah Sutris. "Wong nasi sudah dimakan kok dicari."

"Jadi?!"

"Iya, yang tadi kita makan bersama sebagai sarapan kedua itu lak nasimu..." celetuk Sutris.
KALAULAH gambar ini terlihat terlalu saling berjauhan, memang begitulah adanya. Walau tentu saja sebenarnya kami adalah sepasang sahabat kental dalam arti sesungguhnya. Gambar ini saya dapatkan via FB. Tak ingat saya kapan dan dimana foto itu dibuat. Termasuk siapa fotografernya. Tetapi dengan kaos biru itu, saya dan dia tentu masih dalam naungan PMD. (Sekalipun tak perlu saya sebut kepanjangannya, yakinlah itu bukan nama partai...)

Pacaran Kontrak


SEJAK saat ini kita pacaran, ya,” kata Melati (tentu bukan nama sebenarnya), teman sekelas saya.

Kalimat itu tentu bukan kalimat tanya. Ia tegas terucap sebagai kata perintah. Dan saya, mungkin lebih beruntung ketimbang kejatuhan durian runtuh!

Lebih lanjut Melati lalu bercerita; semalam pak AR (pakai inisial saja ya) bertandang kerumahnya. Bertamu untuk kunjungan yang sangat serius. Bukan sekadar kedatangan seorang guru yang ingin melihat muridnya malam itu sedang belajar apa tidak. Pak AR, guru IPA saya sejak di bangku SMP dulu, adalah seorang duda. Dan ketika di bangku SLTA ada salah satu kembang (baca: Melati) yang sedang mekar menyemerbakkan kecantikannya, tak perlu memakai teori Newton atau Archimides untuk mendekatinya. Kedekatan yang diharap lebih dari sekadar hubungan antara guru-murid.

Tetapi, entah dapat ide darimana, si Melati mampu meyakinkan orang tuanya bahwa ia telah punya pacar. Namanya Edi Winarno!

Maka, ketika pak AR mengutarakan maksud kedatangannya, dengan sopan ortu Melati meminta maaf. Bahwa, sebagai orang tua, sungguh jaman sekarang perkara jodoh telah berlaku hukum 'kebo nyusu gudel'. Artinya, apa kata yang akan nglakoni. Apa kata anak. Dan, masih ortu Melati yang bicara, “Melati sudah bilang ke saya. Kalau ia sudah punya pacar. Teman sekelas katanya.”

Bercerita begitu, Melati tak sempat menggambarkan bagaimana rona wajah pak AR. Malah, saya perhatikan ronanya, Melati menyuguhkan wajah lega dihadapan saya. Tetapi, “Kita pacaran sampai lulus saja ya. Asal aku bisa menghidar dari pak AR.”

Ada memang saya dengar istilah kawin kontrak. Tetapi kalau pacaran kontrak? Hanya berlangsung sesuai kesepakatan waktu. Dan itu hanya tak lebih dari setahun. Hanya sampai lulus. Lalu, seandainya dalam masa kontrak itu tumbuh kesungguhan bagaimana? Nah.


Tetapi jangan bayangkan pacaran (kontrak) saya itu sedemikian mesranya. Tidak. Lagian pacaran (sungguhan) jaman itu, jangankan pegang tangan, lihat pintu rumahnya saja sudah lega.

Tetapi kasus saya ini beda. Saya 'pacaran' hanya ketika disekolah saja. Agar pak AR yakin bahwa benar si Melati telah punya si Edi. Tak lebih dari itu. Kalaulah harus ada yang dilebihkan, adalah saya lebih sering ditraktir. Ini jelas, karena yang butuh adalah dia. Hehehe...

Menjalani sandiwara yang mengasyikkan itu, waktu setahun terasa cuma sebentar. Dan ketika malam perpisahan setelah kelulusan tiba, disaat teman-teman lain saling termehek-mehek  satu sama lain karena segera meninggalkan masa SLTA yang indah, saya lihat si Melati tersenyum manis sekali. Lebih manis dari senyum yang dalam setahun ini begitu saya akrabi. Sorot matanya berbinar.

Dalam film-film remaja, tentu adegan selanjutnya adalah saling berangkulan. Tetapi tentu kami tahu diri, bahwa hal itu tak mungkin kami lakukan. Dan, dengan intonasi kata yang saya tahu berbalut kesungguhan, Melati berucap,” Terima kasih, Ed. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Dan sesuai janjiku, kita sejak saat ini harus putus.”

Saya lihat mata bening Melati. Saya lihat dalam-dalam. Dan baru berakhir ketika ia menyodorkan spidol. Beberapa saat saya diam. Sebelum meraih ujung jilbabnya, dan kemudian menorehkan tanda tangan di sudutnya.*****

Minggu, 03 Juli 2011

Khitanan Keponakan

NYARIS duapuluh tahun lebih saya tidak menginjakkan kaki di kampung kakak saya di kaki gunung Kumitir. Di perbatasan Jember-Banyuwangi sana. Sebuah kampung, yang membayangkannya saja seakan sudah merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Dan hari itu,disebabkan oleh selembar kabar, saya harus 'terbang' kesana lagi.
Ya, kakak sulung saya punya hajat; mengkhitankan anak sulungnya.


Perjalanan panjang dari Surabaya sampai ujung Jember paling timur, harus saya lalui. Tidak ada kisah menarik yang laik tulis hampir sepanjang jalan. Kecuali setibanya saya di terminal Tawangalun Jember.
Perut yang berkoar-koar karena lapar, harus saya siksa lagi karena saya melihat semua kedai yang menjual makanan di terminal kurang terjaga kebersihannya. (ini dulu, semoga sekarang sudah lebih baik). Setelah sekedar cuci muka dan buang air di toilet terminal, melanjutkan perjalan ke Pal Kuning; nama ancar-ancar turun saya dari bus nanti, yang sekaligus sebagai main gate menuju kampung kakak saya.

“Pal Kuning?” tanya saya pada sopir yang sudah siap di kokpit bus AKDP Jember-Banyuwangi.

“Iya,” jawaban itu mendorong saya naik bus yang tampil tanpa AC ini.

Lupa sudah saya akan waktu tempuh Tawangalun-Pal Kuning. Perkiraan kasar saya,pasti kurang dari sejam. Tapi lebih dari tigapuluh menit. Atau entahlah. Tetapi saya sangat ingat, lagu yang diputar dalam bus ini suara Sumiyati, penyanyi lagu-lagu kendang-kempul Banyuwangi yang sudah sekian belas tahun tak lagi pernah mampir ke telinga saya.

Lumayanlah, tidak terlalu jenuh sambil menunggu bus penuh. Menunggu berangkat. Tetapi, saya sudah lebih dulu memberangkatkan ingatan saya ke kampung kakak saya itu. Saat pertama kali dulu menginjakkan kaki disitu. Sidomulyo, nama kampung yang sepi itu. Yang masuk dalam wilayah kecamatan Silo. Yang dinginnya minta ampun. Yang kedalamnan sumurnya luar biasa, yang butuh biaya besar untuk membuatnya. Makanya tak setiap orang punya sumur. Kampung yang asrinya lamiah sekali, berhias pohon pinus, bertanah pasir halus.

Bus akhirnya berangkat juga, walau penumpang dalam perutnya tak seberapa. Lazim sudah, besarnya populasi pengguna motor menggerus jumlah penumpang angkutan umum yang sering tampil seadanya. Juga tingkat keselamatan yang sekadarnya.

Lepas dari wilayah kota, yang pembangunannya pesat melesat tak meleset dari dugaan saya, meninggalkan Pakusari. Menusuk pedesaan yang sejuk. Meliuk-liuk. Hawa dingin mulai menyapa. Rakus saya menghirup udaranya, memanjakan mata menatap kehijauan aneka tanaman dikiri-kanan jalan. Sejuk, asri, hijau....

Saya sengaja mengambil duduk dibelakang pak sopir. Agar bisa segera mengenali Pal Kuning. Dan bisa bilang, ”Kiri,” sebagai aba-aba kepada si sopir.

“Masih jauh,mas,” suara pak sopir itu pertanda beliau tahu maksud saya.

Saya melihat plang toko. Oh, sudah masuk Silo. Berarti Pal Kuning sudah dekat. Benar saja, tanpa saya aba-aba pak sopir menurunkan saya kesebuah tempat. Dan mencari kesegala arah, mata saya gagal menemukan tanda atau tulisan Pal Kuning. Ah, jangan-jangan,ini sudah sebagai nama abadi. Seperti nama sebuah pertigaan yang acap kali sebagai tempat orang naik-turun bus di timur pasar Kencong sana; Toko Ijo.Walau nantinya toko itu sudah tidak ada, tetap saja orang menyebut namanya.

Sebagai pintu gerbang Pal Kuning, jangan bayangkan terdapat gapura disitu. Kanan kiri hanya hutan pohon pinus.

Duduk di jok belakang tukang ojek, tak terasa adrenalin terpompa juga. Jalan makadam berhias bebatuan, naik turun, meliuk itu penyebabnya. Dan motor tua tanpa busana (hanya rangka, mesin dan dua roda) tanpa aksesoris menempel ditubuhnya, tampil lincah ditangan pengojek tanpa helm ini. Sekalipun sudah sangat lama tidak kesini, mencari rumah orang di kampung memang ada mudahnya. Karena nyaris semua orang saling kenal. Tidak seperti dikota. Lebih-lebih kakak saya ini sedang punya hajat. Pastilah ada terop (tenda) dan segala perlengkapannya.

Benar saja. Menjelang asyar saya tiba. Turun dari motor menenteng tas berisi baju ganti dan sedikit buah tangan untuk keponakan. Tetapi....

Kedatangan saya disambut oleh suara tangis histeris. Yang volumenya nyaris mengalahkan suara sound system yang sedang bendentum. Ada sedikit kepanikan tercipta. Ternyata itu tangis keponakan saya yang akan dikhitan. Kakak saya sibuk mendiamkan tangisnya. Saya juga. Tetapi semakin saya mendekat, semakin menjadi-jadi tangisnya.

Oh, adakah saya 'ketempelan' makhluk halus penunggu Pal Kuning, yang membuat keponakan saya ketakutan?

Mau tak mau saya harus keluar dari kamar keponakan saya itu. Sebagai tamu, kedatangan saya agak terabaikan. Saya maklum saja. Kakak saya sedang sibuk menenangkan anaknya. Saya duduk diruang tamu, sambil menikmati hidangan walau belum disilakan. Tak apa-apa, toh ini rumah kakak saya. Saya sudah sangat tidak tega membiarkan lambung saya menggelepar-gelepar.

Ditengah saya menikmati hidangan itu, suara tangis dikamar berhenti sudah. Malah berganti suara tawa. Tawa beersama-sama. Seperti koor.

Kakak saya keluar kamar masih ada tawa yang menempel dibibirnya, ”Ada-ada saja...” gumamnya.
“Kenapa?” tanya saya.
“Dia nyangka kamu tukang sunat yang akan mengkhitannya,” jawab kakak saya.
Oh.****