Tampilkan postingan dengan label televisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label televisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2022

Berita TV Berita

MINGGU lalu, dalam mengakhiri membaca berita di KompasTV, Aiman Witjaksono juga pamit. Bukan pamit untuk esok bertemu lagi di Kompas Malam, misalnya. Tapi pamit betulan. Iya, pamit resign dari KompasTV

Orang tv berita pindah-pindah adalah hal lumrah. Lihat CNN Indonesia. Orang-orang dari tv berita, atau paling tidak orang pemberitaan di televisi hiburan, banyak yang ngumpul disana. Mulai Desi Anwar, Putri Ayuningtyas, dan berderet nama lainnya. Kania Sutisnawinata juga pernah hengkang ke Bloomberg tv, dan ketika Bloomberg TV Indonesia cuma bertahan mengudara seumur jagung dan lalu gulung layar, Kania balik lagi ke MetroTV. Don Bosco Selamun, pun demikian. Pernah di SCTV, lalu ke MetroTV, lalu ke BeritaSatu, lalu balik lagi ke MetroTV.

Banyak nama orang pemberitaan di tv Indonesia yang punya posisi moncer, barangkali tak begitu saja bisa lepas dari Karni Ilyas. Misal, saat si pemilik suara serak itu masih pemred di Liputan6 SCTV, Don Bosco masih wakilnya. Rosiana Silalahi, Arief Suditomo atau Ira Kusno, Alvito Deanova, Bayu Setiono masih News Anchor-nya.

Kini  Rossi pemred KompasTV, Arief Suditomo (selepas dari pemred di RCTI dan sempat jadi anggota DPR), sekarang pemred di MetroTV.

Balik ke Aiman. Serara waktu, ia lama di Seputar Indonesia RCTI. Beberapa waktu sebelum ke KompasTV, sempat saya lihat Aiman membaca berita di TVRI. Sayang saya tak sempat memotretnya. Kini Aiman sudah keluar dari KompasTV. Kemana?

Kamis, 12 Mei 2022

Siaran TV Digital Surabaya, Update Terbaru

ASO (Analog Switch Off) ditunda. Walau tidak semua area. Setelah sekian lama ditunggu. Padahal jauh hari sudah dijadwalkan. Malah pakai hitung mundur segala. Start-nya jelas. Tanggal 30 April 2022.  Artinya, per tanggal 1 Mei 2022, beberapa wilayah itu siaran tv analognya mati. Dimatikan. Serentak. Tetapi, sebagaimana terjadi, kematian serentak itu urung terjadi. Hanya sebagian kecil yang dimatikan analognya. Lainnya menunggu lagi. Dengan beragam alasan. Namun sampai kapan?

Jadilah beberapa teman yang gegap gempita secara sukarela mensosialisasikan ASO itu di sosmed, jadi gimanaaa gitu. Malu? Mungkin. Apalagi, sebagaimana hal apapun, pasti ada yang kontra. Yang kemudian menjadi saling sindir. Antara pemerhati dan pendukung migrasi analog ke digital, dengan kelompok jalur wajan, jalur digital langit. Yang sedari awal gak yakin ASO akan mulus. Bahkan, diantara mereka ada yang tidak percaya siaran digital terrestrial ini gratis selamanya. Padahal, secara legal formal, siaran digital ini terang-terangan mendaku sebagai FTA. 

Setelah 'geger rada gedhen' tempo hari, kini pelahan tensi mereda lagi. Semua ngaso membahas ASO. Walau ada selentingan beberapa televisi akan melakukan ASO mandiri. SBO yang kini berbendera Jawa Pos TV termasuk yang dikabarkan telah menyuntik mati siaran analognya. Maaf, saat saya menulis ini, saya belum mengeceknya.


Update Siaran TV Digital Surabaya di kanal
Youtube saya. Subscribe ya.... 😊

Kalau di area Surabaya sendiri, belum ada penambahan channel lagi di kanal digital. Masih 29, dengan NET. belum nongol. Untuk tv lokal Surabaya, setelah ArekTV on air di MUX Viva, praktis tinggal SurabayaTV yang belum. Eh, tapi... apakah SurabayaTV masih mengudara di jalur analog ya? Ataukah ia, dengan gaungnya yang tak terdengar, sedang mati suri?

Baiklah, berikut daftar MUX dan channel yang sudah mengudara di kanal digital untuk area Surabaya;

-MUX Viva (ch. 23/490 MHz): antv, tvOne, ArekTV

-MUX Media Grup (ch. 25/506 MHz): MetroTV, Magna Channel, BNTV, TV9, MaduTV, BBSTV, Jtv, Jawa Pos TV

MUX Trans Grup (ch. 27/522 MHz): Trans7, TransTV, CNN Indonesia, CNBC Indonesia.

MUX Emtek (ch. 29/538 MHz): SCTV, Indosiar, O Channel, MentariTV, RTV, KompasTV

MUX TVRI (ch 35 / 586 MHz): TVRI Nasional, TVRI Jatim, TVRI 3 TVRI Sport

MUX MNC Grup (ch. 41/634 MHz): RCTI, MNCTV, GlobalTV, INews

****

Kamis, 24 Maret 2022

Satu STB untuk Dua Televisi

LAMA sudah kabar migrasi dari televisi analog ke siaran televisi digital ini digaungkan. Sayangnya, gaung itu sempat laksana suara yang dibunyikan dari kejauhan nun disana. Timbul, tenggelam. Lalu ditanggapinya pun secara sayup-sayup saja. Kalah oleh heboh-heboh hal lain, toh siaran tivi tetap mengudara. Analog. Kadang dapat bonus gambar bersemut, dan suara mendesis.

Ketika sebuah gaung tak bersambut (oh, itu gayung ya?) lambat laun kemudian ada yang nakal meramal: jangan-jangan migrasi siaran televisi dari analog ke digital (yang secara teknologi meruoakan keniscayaan ini) batal. 

Sebuah prediksi sembrono yang sebentar lagi terbukti tak terbukti. Buktinya, per tanggal 30 April tahun 2022 ini di beberapa daerah akan mulai penyuntikan mati siaran televisi analog. Semoga suntikan itu benar-benar mematikan. Sehingga, LPS (Lembaga Penyiaran Swasta) yang tak ma(mp)u bersiaran digital, menjadi tak berani main ulur kematiannya dengan tetap genit mengudara di kanal analog. Saya kira deadline-jelas, semoga didukung oleh pendukung lsin yang yang juga tegas: pokoknya siaran televisi analog tidak boleh lagi mengudara. Titik. Tak ada Sandora. 

Toh telah banyak masyarakat yang pesawat televisinya sudah support DVB-T2. Juga, beberapa LPS telah pula mulai membagikan STB gratis untuk keluarga dengan ktiteria tertentu. 


☝️
Versi Youtube dari topik yang sama.

Namanya dikasih, satu unit STB cukuplah. Tetapi kalau di rumah pesawat televisinya ada dua, satu LCD, satu lagi tivi tabung. Gimana dong agar keduanya masih bisa ditonton?

Rabu, 03 Maret 2021

Antara PF-209 dan Polytron PDV600T2

KEMARIN saya beli set top box lagi. Dari merk terkenal, Polytron. Type PDV 600T2. Saya sudah punya set top box, sebenarnya. Yang saya beli sudah lama sekali. Jauh sebelum saya banting setir mencari jalur langit, tracking tv satelit.

Gara-garanya, waktu sekitar tujuh tahun yang lalu itu, geliat migrasi tv analog ke digital lelet sekali. Saya dikompori teman agar dolanan jalur langit saja. Dan saya turuti. 

Sekarang geliat migrasi analog ke digital sudah ada kepastian. November 2022. Istilahnya ASO alias Analog Switch Off. Saat mana semua siaran televisi di Indonesia harus sudah berhenti bersiaran analog. Harus beralih ke kanal digital. Sebuah deadline yang disambut suka cita teman-teman pemerhati siaran televisi. Juga oleh pemirsa yang ingin gambar di layar tv menjadi clink, bening.

Terlebih bagi yang telah punya pesawat tv yang sudah support DVB-T2. Yang selama ini terpaksa cuma untuk menangkap siaran analog. 

Hal lainnya lagi adalah mulai ramai kembali peredaran set top box. Ini untuk golongan kaum seperti saya; kaum yang pesawat tivinya masih analog. Agar bisa menangkap siaran digital tidak bisa tidak, kudu pakai alat yang namanya set top box itu.

Baiklah, di bawah ini saya akan tampilkan foto perbandingan penangkapan antara dua set top box milik saya. (Dalam membuat perbandingan ini, yang berbeda hanya set top box-nya saya. Sedangkan pesawat tivi dan antenanya tetap sama.)

Nah, antara set top box PF-209 dan Polytron PDV 600T2, sakti mana dalam menangkap sinyal tivi digital terrestrial?

MUX Viva

MUX Media Grup

MUX Trans

MUX Grup Emtek.

MUX TVRI

Itulah penampakannya. Sakti mana? Beda tipis sepertinya. Pada PF-209 sinyal MUX Emtek terdetek, sedangkan pada Polytron tiada penampakan batang sinyal sama sekali. Walau demikian, menggunakan PF-209, saat di-scan tetap zonk pada pesawat tv saya.

Jadi, apa set top box andalan Anda? ****


Minggu, 24 Januari 2021

Antena UHF Paramount Gold

 


SEJAK
 diketok palu tentang batas akhir umur siaran tv analog pada 22 November 2022, sepertinya geliat migrasi siaran televisi dari analog ke digital kembali terasa menggelinjang😊. Di beberapa zona, ambil sebagai contoh, MUX MNC grup langsung tancap gas, walau di area lain masih harus bersabar dulu. Menunggu pengadaan perangkat dulu. Termasuk menunggu proses lelang MUX di beberapa propinsi.

Saya mengikuti perkembangan di zona lain via sosmed saja. Sedang di area Surabaya ini, seminggu yang lalu ada kejutan dari MUX Viva yang tiada hujan-tiada angin tiba-tiba nongol. Walau, kemudian langsung clink: menghilang lagi. Kok saya jadi ingat jailangkung ya. Hehe...

Baiklah, mungkin si Viva sedang memanasi perangkat saja. Baru uji coba. Walau sebenarnya, saya inginnya MUX Viva langsung tancap gas, menyalip sinyal MUX Emtek yang walau sudah sebulan lebih on air, tapi sinyalnya masih pelit (pakai banget).

Jumat, 05 Juni 2020

BaliTV Pindah ke Telkom-4



HARI-HARI ini sedang hangat perihal persatelitan dibahas teman-teman tracker jalur langit. Mula-mula tentang satelit pengganti Palapa-D yang gagal mencapai orbit, yang berdampak kepada banyak siaran yang terpancar melalui satelit Palapa-D tersebut kelimpungan. Ancang-ancang pindah rumah. Ke satelit lain.

Pembetitahuan transponder di
satelit Telkom-4 pada layar BaliTV.
Selanjutnya tentang Ninmedia. Saluran TV Satelit yang mendaku dirinya sebagai TV Rakyat Indonesia ini pun sedang jadi buah bibir. Pasalnya, tiada angin tiada hujan, satu transpondernya hilang. Tak terdetek. Runtutan berikutnya, sekian saluran televisi ikutan menghilang. Tiada angin atau tiada hujan? Belum tentu begitu. Tak ada asap kalau tak ada api. Menurut beberapa teman, naga-naganya si Ninmedia sedang 'kesulitan' keuangan. Atau si operator satelit Chinasat-11 minta harga sewa transponder naik. Tawar-menawar tak ketemu harga pas, maka tak lanjut tancap gas.

Saya tahu diri. Bahwa saya tak begitu paham apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia persilatan persatelitan. Yang saya tahu, di JCsat-4B, sejak akhir bulan Mei kemarin, si 'besar' BigTV juga undur diri. Kukut.

Maka, dari tiga antena saya (4 LNB; 2 C-band, 2 Ku-band), praktis saya kali ini hanya menggunakan 2 antena saja; 3 LNB. Ninin dan Palkom. Itu pun si Ninin akan segera boyongan ke satelit lain. Kemana? JCSat-4BMeasat atau SES-9? Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan benar-benar hanya pindah. Bukan hilang. Bukan gulung tikar.

Transponder BaliTV di Palapa-D
yang kini sudah gelap gulita.
Kembali tentang satelit Palapa-D. Yang pemain penggantinya gagal tampil, sementara si Palapa-D sendiri sudah uzur. Sudah hampir kehabisan tenaga. Tak kuat lagi berlama-lama di angkasa. Expired. Lalu, mau tak mau sekian banyak kanal yang mukim disitu mulai boyongan. Misalnya BaliTV. Yang pindah ke Telkom-4. Selanjutnya SCTV dan saudaranya (Indosiar) akan juga pindah ke Telkom-4. 

Sepertinya akan ada lagi yang hengkang dari Palapa-D ke Telkom-4 atau satelit lain. Kita tunggu saja nanti. Sambil menunggu si Corona juga minggat dari sekitar kita.

Intensitas dan kualitas sinyal
BaliTV di receiver Matrix Burger S2 saya.
Bagi pemirsa yang kehilangan BaliTV di Palapa-D, caranya bisa langsung melakukan setting di satelit Telkom-4. Lupakan transponder BaliTV di Palapa-D laiknya melupakan mantan. Mari merapat ke pelukan kekasih baru; satelit Telkom-4. Masukkan transponder 3937, polarisasi Horizontal, symbol rate 1640. Lakukan scan. Kalau siaran lain macam antvTransTVTrans|7 atau CNN Indonesia & CNBC di satelit Telkom-4 bening, dijamin siaran BaliTV juga clink. Dengan cara itu, sekarang kita bisa mengikuti lagi beragam acara kesukaan dari televisi andalan Pulau Dewata ini.*****


Rabu, 15 April 2020

Belajar Lewat Televisi

SALAH satu grup wasap yang 'terpaksa' saya ikut di dalamnya adalah grup walmur alias wali murid. Awalnya, sebelum pandemi Covid-19, grup itu sebagai jembatan informasi antara kami –para orang tua-- dengan guru di sekolah. Tentang tugas-tugas yang mesti dikerjakan anak-anak dan sejenisnya. Pendek kata, ia menjadi bentuk lain dari 'buku penghubung' yang sebelumnya digunakan.

Lalu datanglah pandemi ini. Yang membuat para murid sekolah 'dirumahkan', bukan diliburkan. Iya, bukan libur. Karena saban hari tugas sekolah selalu ada. Pelajaran dan soal dibagikan lewat; ya grup wasap walmur itu. Jadilah kini, kami –para orang tua-- menjadi sejatinya guru. Dan, disadari atau tidak, kadang menjadi 'guru' bagi anak sendiri saja agak makan hati. Bagaimana dengan guru yang asli, yang mendidik bukan anaknya sendiri, yang kadang anak-anak itu nakalnya yaaa gitu deh. Baiklah, saya mesti makin angkat topi dan memberi hormat lebih tinggi lagi kepada para pahlawan tanda tanda jasa itu.

Laporan ke Wali Kelas
via foto di grup wasap.
Setelah beberapa minggu berjalan menggunakan wasap (padahal tentu tidak semua orang tua punya hape android), sejak Senin kemarin pola itu diubah. Kali ini pelajaran sekolah disiarkan lewat televisi. Menggunakan saluran televisi publik; TVRI. Yang masih hangat kabar tentang pemberhentian Helmy Yahya dari kursi dirutnya. Lalu disusul tiga direksi lainnya belum lama ini. Padahal, kata orang, siaran TVRI di era Helmy ini makin menarik. Makin banyak orang menontonnya (lagi) setelah sekian lama melirikpun tidak. Ohya, itu soal lain. Kita bahas kapan-kapan saja. Kali ini kita fokus tentang siaran pelajaran sekolah lewat saluran tivi saja topiknya.

Tentu kita ingat dulu juga ada pelajaran sekolah yang disiarkan lewat televisi. Nama stasiun tivinya; TPI, Televisi Pendidikan Indonesia.

Sabtu, 29 Februari 2020

Transponder Baru CNN di Telkom-4

Transponder CNN yang
lama; zonk.
BEBERAPA lama tiba-tiba channel CNN Indonesia di transponder 3880 H 2251 pada televisi saya zonk. Gelap. Padahal channel lainnya di satelit Telkom-4 aman terkendali. Ada apa gerangan? Saya terlanjur berburuk sangka; bahwa saluran berita yang di Indonesia menjadi milik CT Corp itu hanya bisa dinikmati pada kanal berbayar saja. Ada sih yang gratis; di kanal digital terrestrial saja.

Tenyata dugaan saya salah. Sesalah dugaan saya kalau bika Ambon itu beradal dari Ambon. Juga dugaan saya bila Dewi Perssik itu dari Kediri.😊

Setelah gogling sana sini, ternyata saya mendapat informasi bahwa CNN hanya berganti transponder saja. Dan masih tetap FTA, masih pula di satelit yang sama; Telkom-4. Maka, langsung saja saya menambahkan transponder baru di satelit Telkom-4. Langsung dapat sinyal. Lumayan luber, 72%.
Transponder baru CNN;
3881 H 3199

CNBC Indonesia
Kabar baiknya lagi, di transponder baru 3881 H 3199 itu, CNN tidak tampil sendiri, namun bersama CNBC Indonesia. Sama-sama dimiliki oleh perusahaan Chaerul Tanjung, sama-sama kanal berita, tapi yang CNBC lebih fokus ke bidang ekonomi-bisnis.

 
Layar CNN Indonesia.
Tentang menarik-tidaknya sebuah saluran televisi, tentu tergantung pada ketertarikan pemirsa pada masing-masing konten yang tersaji. Namun, dengan semakin beragamnya saluran berita yang ada, paling tidak, bisa menambah perspektif  pemirsa dalam menyikapi sebuah informasi.*****

Rabu, 27 Maret 2019

Info Ninmedia di DVB-T2

AWAL punya receiver DVB-T2 dulu, rutinitas yang sering saya lakukan adalah scan receiver. Sambil berharap channel bertambah. Harapan yang hampa ternyata. Sekian lama, channelnya itu-itu melulu. MUX yang mengudara juga setali tiga uang. Milik Viva, Emtek dan MNC grup jarang muncul batang sinyalnya. Yang masih ajek hanya milik TransCorp (CT-Corp), Metro dan (tentu saja) MUXnya TVRI. Pun sampai saat ini, ketika saya membuat tulisan ini.

Malam ini, sekian belas bulan setelah tak mengintip channel di saluran digital terrestrial, iseng saya scan. Kali ini tak berharap lebih. Takut kecewa. Toh, untuk siaran televisi, saya sudah punya antena parabola. Yang C-band (Palkom) dan Ku-band untuk nangkap si Ninmedia. Cukup sudah. Walau telah punya 'alat tempur' macam itu, belakangan saya malah jarang nonton tivi.

Lha bagaimana? Nonton bal-balan saya kurang suka. Politik apalagi. Njelehi. Obrolan politik selalu bikin saya gatal-gatal, pusing, meriang dan panas dalam sampai sariawan. Mungkin ada gejala saya mengidap alergi ya. Menonton masing-masing kubu, dalam dialog di layar kaca, terlihat acap menampilkan para pendekar silat lidah. Ada yang sampai mengeluarkan jurus dan ajian yang kadang kurang bisa diterima akal (sehat?) saya. Sinetron? Wih. Baca judulnya saja kadang sudah capek. Azab Suami yang Ditolak Bumi Saat Mati Karena Sering Mendholimi Istri, atau judul lainnya. Yang entah mengapa, suka sekali membuat judul panjang. Atau sengaja menyaingi panjangnya rangkaian kereta api pengangkut tanki BBM Pertamina.

Kembali ke kanal tv digital. MUX yang mengudara masih tak bertambah. Pun demikian channelnya, hanya kurang dari duapuluh. Jadi, jangan bandingkan dengan yang bisa ditangkap lewat Palapa-D. Kalau dibanding konten siaran FTA (Free to Air) di Telkom-4 sih bolehlah diadu jumlahnya. Namun kalau lawan Ninmedia jangaaannn... Pasti telak kalahnya. Belasan vs nyaris seratus.

Lalu apa?

Minggu, 24 Februari 2019

Tracking Satelit Telkom-4

SEPERTI pernah saya bilang tempo hari, belakangan ini saya makin jarang nonton tivi. Lebih-lebih tentang berita politik. Lebih-lebih tentang talk show yang mempertemukan dua kubu paslon. Yang sama-sama punya kekuatan otot leher luar biasa kuat dalam berdebat. Memperdebatkan perdebatan. Selalu menilai calonnya yang benar. Yang unggul. Yang layak untuk menjadi pemimpin berikutnya. Hal wajar, memang. Bagi mereka. Bagi saya? Oh, belum tentu.

Perdebatan macam itu sepertinya (sepertinya lho ya...) juga menjadi konten andalan media penyiaran (televisi) di acara prime time. Di jam tayang utama begitu, konon, tarif iklannya juga muahal. Jadi? Perdebatan antar kubu di televisi itu, selain (tentu saja) bersifat politis, bisa jadi ada pula sisi bisnisnya. Sebagaimana acara gosip di televisi yang acap menjadi perbincangan di ranah publik, debat politik belakangan ini telah pula menjadi perhelatan perdebatan nasional. Nyaris semua orang. Dengan latar belakang apa pun. Lebih-lebih yang juga telah punya kecenderungan memilih jagoannya. Iya, masing memang telah punya pendukung fanatik. Yang bukan saja bisa sangat membenarkan pernyataan dan perbuatan benar calonnya, namun bisa pula membenarkan (dengan berbagai argumentasi) kesalahan calonnya.

Perdebatan antar pendukung fanatik begitu, tentu tak ada ujung. Adakah untungnya? Entahlah.

Kamis, 12 Januari 2017

Ajal Siaran TV Digital Terrestrial?

 
'Mendiang' penampakan sinyal Viva grup.
IYA, saya akan menulis tentang televisi lagi. Tetapi, kali ini, bukan tentang Ninmedia yang sejauh ini, walau telah ada FashionTV, NHK Word, Al Jazeera, Zing, DW (sekalipun yang saya sebut itu masih nongol sebagai test signal) ketahuilah, MNC grup masih belum ada. Bukan pula tentang si pendatang baru dari MMP atau SMV, yang walau sama-sama gratisan, tetapi ada perbedaan mendasar dengan Ninmedia. Yakni, bila kita bisa menyaksikan siaran dari Ninmedia (Chinasat-11/98*E) dengan hanya memakai perangkat yang dijual bebas di pasaran, tetapi untuk bisa menyaksikan konten dari SMV/MMP, perangkatnya kita harus kita beli dari mereka. Kabarnya, akhir Januari ini, setelah sekian waktu melakukan siaran percobaan, SMV akan resmi mengudara dengan platform yang disebut FTV, Free to View. Bukan FTA, Free to Air, seperti yang diterapkan oleh Ninmedia. Iya, kali ini, saya kembali menulis tentang siaran tv digital terrestrial. Nah, bagaimana kabar siaran televisi digital terrestrial di tempat Anda?

Seperti yang sempat diberitakan dan menjadi perhatian bagi sebagian pemirsa yang menunggu realisasi migrasi siaran televisi dari analog ke digital, era dimana gambar televisi yang diterima pesawat televisi kita tidak lagi bersemut walau antena sudah dipasang tinggi-tinggi sekali. Kerinduan itu bukan tanpa sebab, karena bukankah telah pernah tersiar kabar pemerintah akan melakukan switch off siaran televisi analog yang konon rakus memakan bandwitdh dan segera melakukan upgrade sistem penyiaran ke teknologi digital.

Laiknya langkah si renta, progress penerapan sistem yang di negara maju adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan ini disini ternyata sangat tertatih sekali. Ada saja ganjalannya, ada saja kendalanya. Baik teknis, maupun (yang lebih dominan, sepertinya) adalah hal non teknis.

Untuk hal teknis, sejak 15 Juni sam 15 Desember 2016 kemarin (dan bisa diperpanjang masa trial ini), pemerintah dan beberapa lembaga penyiaran yang concern mendukung program ini, melakukan ujicoba non kemersial di beberapa kota Indonesia dengan TVRI sebagai penyedia insfrastruskturnya. Intinya, konten milik beberapa lembaga penyiaran itu dipancarkan menggunakan MUX milik TVRI. Maaf, saya tak hafal di kota mana televisi apa saja yang mengudara melalui uji coba ini. Tetapi, di Surabaya ini, tadi malam saya sempatkan untuk mengintipkannya untuk Anda.

Kalau MUX MNC grup (ch. 41/643 MHz) sudah sekian lama tiada itu saya sudah duga, tetapi kok ketika saya cari MUX MetroTV (ch. 25/506 MHz) juga sudah tidak lagi mengudara itu yang saya baru tahu. Termasuk MUX TransCorp (ch. 27/522 MHz) yang ternyata ikutan menghilang, menyusul MUX Viva grup (ch. 23/490 MHz), dan Emtek yang sedari dulu turun dari udara setelah sebentar sempat on air.

Kini (saat saya lakukan scan), praktis tinggal konten TVRI yang masih bisa dinikmati. Yakni, TVRI1 Jatim, TVRI2 Jatim, TVRI3, TVRI4 plus peserta ujicoba non kemersial yang 'digendongnya'; CNN Indonesia, NusantaraTV dan Inspira.

Sepertinya, program migrasi ini makin lemah saja gaungnya. Dan detak yang makin melemah, kita tahu, adalah pertanda ajal telah tak terlalu jauh jaraknya. Kalau demikian kenyataannya, pemirsa televisi di negeri ini mesti entah sampai kapan lebih bersabar lagi untuk menunggu menikmati siaran televisi dengan konten beragam dan gambar yang cling bebas bintik. Produsen televisi yang telah melangkah begitu maju dengan menghadirkan produk kualitas bagus yang bisa memanjakan mata pemirrsa, menjadi kurang berguna ketika siaran yang tertangkap masih analog dan cuma segitu mutunya.

Tetapi, untungnya, selalu ada pilihan dalam hidup. Tak perlu menyebut, untuk bisa menikmati siaran berkualitas digital tetapi tetap tak berbayar, kalau mau, ada kok pilihannya. Mau? *****


Kamis, 24 Maret 2016

Selamat Tinggal TV Digital

TENGOKLAH bilah samping kiri blog ini; posting yang nangkring teratas sebagai yang sering dibaca adalah mengenai tv digital. Beratus-ratus komentar mampir di salah satu artikel saya tentang pengganti sistem analog dalam dunia pertelevisian itu. Tandanya, masih banyak yang berminat menikmati siaran tv digital terrestrial yang sayangnya sampai kini progress-nya hanya begitu-begitu saja. Ya, bisa jadi saya salah. Bisa jadi regulasi yang lebh matang telah siap dieksekusi untuk diterapkan di lapangan, dan sebagai pemirsa kita akan sangat dimanjakan dengan gambar-suara bening plus konten siaran yang banyak sekali dengan genre dan segmentasi beragam.

Memanfaatkan dish kecil ex pay tv.
Jujur, sejak asyik belajar tracking pakai antena parabola, saya sudah agak lama tidak melihat konten siaran pada kanal digital terrestrial, sehingga kalau ditanya ada berapa channel yang sekarang on air di Surabaya ini, saya hanya bisa angkat bahu; tidak tahu.

Tentang tv digital, boleh jadi kita yang tinggal di kota ini sudah ketinggalan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman. Sementara kita yang di kota masih mengharap digital terrestrial (sitem penyiaran yang dipancarkan lewat antena pemancar) mereka sudah menangkap dengan kualitas HD siaran dari banyak satelit, tidak cuma siaran yang terpancar dari satelit Palapa dan Telkom saja. (Eit, eit, jangan bicara yang pay tv ya, saya sedang bicara tentang yang FTA saja, walau –dengan reciever tertentu yang bisa dipakai fly-- saudara kita di pedalaman sudah bisa menembus ke konten premium yang masuk dalam jajaran channel pay tv).

Salah satu, dari sekian banyak channel, yang Coming Soon.
Kecuali parabola milik pay tv, bukankah yang untuk FTA ukurannya sebesar gajah dan makan tempat. Padahal rumah kita di kota kurang ada tersedia tempat untuk menaruh dish yang minimal berdiameter 1,6 meter itu. Kendala inilah yang sepertinya dibidik Ninmedia, sebuah perusahaan yang menghimpun pemilik konten siaran untuk menayangkannya lewat satelit secara gratis (FTA-- Free to Air) dengan menggunakan parabola kecil type offset seperti yang lazim digunakan pay tv.

Ya, kita masih sedang membicarakan satelit Chinasat11 yang kini hangat diperbincangkan, yang konon nanti berisi lebih dari 200 (baca: duaratus!) konten siaran dan itu gratis selamanya. Dengan jangkauan (beam) seluruh Indonesia, ia manjadi momok bagi program tv digital yang kita ungkap di awal tulisan ini.
Gambarannya begini; demi bisa bersiaran di kanal digital terrestrial, sebuah lembaga penyiaran yang tidak memenangi pengadaan MUX, harus menyewa kepada si pemenang dengan harga sekian puluh juta rupiah sebulan untuk jangkauan satu kota tertentu. Katakanlah ia akan bersiaran di lima kota, kalikan saja biaya sewa MUX itu dengan nominal tersebut. Sementara, dengan menyewa slot siaran di satelit Chinasat11, ambil contoh, penyelenggara siaran cuma membayar konon hanya 150 juta rupiah sebulan dengan jangkauan seluruh Indonesia. Simpel mana, coba. Dan murah mana? Tentu murah sewa slot satelit Chinasat11 bukan?

Kini, yang sudah aktif baru 1 transponder (dari lima yang haknya dipegang Ninmedia) dan masing-masing transponder akan berisi 45 slot siaran. Beberapa stasiun televisi lokal/nasional yang telah mengudara di situ (MetroTV, tvOne, antv, Net, BeritaSatu, KompasTV, TransTV, Trans|7, RajawaliTV, Prambors, PopularTV, Saluran Film Indonesia, SportOne dll –kalau MNC grup juga sudah berada disitu, lengkap sudah channel Palapa-Telkom di Chiansat11), dan saluran lain masih dalam tahap Coming Soon.

SportOne, saudara antv dan tvOne,
sudah mengudara di Chinasat11.
Ambil misal SportOne, banyak orang menunggu stasiun televisi khusus olahraga pertama di Indonesia itu menngudara via MUX Viva bersama antv dan tvOne (karena memang satu grup), tapi justru kini ia telah mengudara secara nasional lewat Chinasat11. Bagaimana, apa masih terlalu berharap pada kanal digital terrestrial?

Memang STB (Set Top Box) alias reciever untuk satelit harganya malah lebih murah dari DVB-T2, tetapi kan harus ganti antena. Come on, Anda bisa pakai antena pay tv jenis Ku band yang nganggur di atas itu yang sudah lama tak berfungsi karena Anda telah berhenti melanggani sebuah pay tv tertentu. Atau, kalau tidak ada, carilah ke pengepul barang rongsokan, niscaya –kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkannya dengan harga yang sama sekali tak akan menguras isi kantong.

Lalu kalau Anda punya waktu, tracking-lah ke posisi 98.0º E, masukkan frekuensi 12500 V 43200, dapat deh konten-konten yang saya sebut di atas. Atau, kalau belum-belum sudah merasa ribet dan tak punya waktu dan skill, panggillah teknisi untuk keperluan itu. Itu kalau Anda tak punya waktu tetapi punya uang. Hehe...

Kemudian, kalau sudah kita dapatkan konten siaran yang buanyak sekali di Chinasat11 itu, mari bersama berujar, “Selamat tinggal tv digital terrestrial...” *****


Jumat, 04 Maret 2016

Tracking Chinasat-11

 
Dish ex OrangeTV untuk menembak Chinasat-11
difoto dari arah utara.
SEBAGAI Tracker Anyaran alias newbie, di saat banyak kawan forsat ngomongin satelit Chinasat-11 yang berisi siaran televisi lokal Indonesia, ikut penasaran juga saya akhirnya. Berbekal dish lengkap dengan LNB ex OrangeTV, Minggu pagi kemarin saya tracking satelit yang mengorbit pada 98.0° E itu.

Koleksi altem; Palapa-D, Telkom-1, Asiasat7 dan Chinasat-11.
Tetapi, karena kondisi dish bekas itu sudah karatan, sebelumnya saya cat dulu menggunakan cat anti karat / zyncromat. Setelah semua siap, saya pasang dish itu pada tiang yang sebelumnya sudah saya siapkan. Berbekal satfinder, menjadikan saya tak perlu lagi membawa reciever dan tv portable saat tracking.

Jujur, ini pengalaman pertama saya tracking sinyal Ku band. Tetapi, karena sebelumnya saya sudah membaca di forum-forum persatelitan tentang satelit Chinasat-11 dan kemana dish harus dihadapkan, menjadikan saya tak buta-buta amat.

Artikel terkait: Selamat tinggal siaran televisi digital.

SQ lumayan luber, rx Matrix Prolink HD PVR.
Iya, sesuai yang pernah saya baca, arah dish saat nembak Chinasat-11 adalah barat agak ke utara. Atau, arah antara jam 10-11-lah. Nah, sambil mengarahkan dish ke yang dimaksud, saya tak perlu melihat layar display satfinder, karena pada menu find satellite sudah saya setting pada satelit tersebut sekaligus sudah saya masukkan frekuensi 12500 V 43200. Setelah beberapa saat 'goyang dumang', ada bunyi melengking dari satfinder saya. Itu tandanya sinyal yang saya cari sudah nyangkut. Tinggal mengepaskan saja, tinggal memaksimalkan saja. Saya turun dari atap setelah saya mendapat SQ maksimal yang mampu saya dapatkan, yakni 73% untuk Strenght, dan 75% untuk Quality.

Salah satu channel: PopularTV, rx Matrix Apple III HD PVR
Nah, begitu saya scan memakai reciever Matrix Prolink HD RVR milik saya, ternyata lumayan hasilnya. Berhasil sudah saya menembak setelit Chinasat-11. Lumayanlah, bisa menambah koleksi channel. 

Selain mencoba scan menggunakan dua reciever Matrix type berbeda, saya tertarik pula untuk menjajal memakai reciever ex OrangeTV Ku-band yang merek Konka. Setelah sebelumnya sempat agak bingung bagaimana cara menambahkan satelit baru pada reciever tersebut, akhirnya berhasil juga saya mengunci si Ninmedia di Chinasat-11. 
Channel-channel Ninmedia (Chinasat-11) rasa OrangeTV.
 

Dari beberapa artikel yang sempat saya baca; tidak semua reciever ex pay tv bisa untuk me-lock Chinasat-11. Tetapi, tentang merek dan ex pay tv apa saja, itu yang saya kurang tahu. Karena punya saya ya cuma ex OrangeTV Ku--band itu. Kalau Anda punya pengalaman, silakan di-share di komentar artikel ini dong. Oke?*****

Sabtu, 19 Desember 2015

Habis KompasTV, Terbitlah Trans|7 HD

BAGAIMANA kabar tv digital? Bagaimana kabar STB Anda? Masih aman di kardusnya. Baik, itu lebih baik. Iya, channel yang ada belum bertambah, MUX yang on air juga belum berubah. Ya, begini ini nasib kalau kita sudah beli STB dan konten siaran yang ada juga masih itu-itu saja (yang masih juga bisa disaksikan di jalur analog). Kalau Surabaya saja sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta saja masih begini, bagaimana nasib siaran tv digital di kota yang lebih kecil ya?

Artikel terkait: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.

Penampakan Trans|7 HD pada pesawat televisi saya yang masih tabung.
Kemarin, secara iseng saya menghidupkan STB yang sudah sekian lama menganggur dan, oh ada perubahan ini. Trans|7 sudah HD. Iya sih, di Jakarta (juga Jogja?) pernah saya baca memang sudah HD, tetapi di Surabaya ini baru sekarang saya tahu. Sejak kapan ya?

“Sejak ultah TransMedia kemarin,” jawab seorang teman ketika gambar layar Trans|7 itu saya pampang di akun Facebook.

Lha, tapi sakarang KompasTV tidak ada lagi di MUX TransMedia 522 MHz. Kenapa ?”

“Memang begitu itu, Kang,” seorang teman saya menjelaskan, “siaran HD itu butuh bandwidth yang gede, jadi ada siaran yang mesti dikorbankan.”

Pantauan teman lain di kawasan Kedung Adem, Bojonegoro.
(foto: Agung Rama Elektronika/FB)
Saya yang memang awam akan hal ini cuma manggut-manggut saja diterangkan begitu. Tetapi, “Tentang KompasTV yang menghilang dari MUX TransMedia ada cerita tersendiri,” teman yang lain, yang juga pengamat televisi, menimpali.

Saya tak menguberkan tentang ada cerita apa di balik hengkangnya KompasTV dari MUX TransMedia, dan lebih menunggu saja si teman tadi itu meposting ulasan mengenai hal itu di blognya. (Sungguh saya tunggu lho, Dave...)


Senin, 30 November 2015

GlobalTV, Rusia vs Turki dan Kasus Setnov

DUA tetangga berjarak satu rumah di barat rumah saya meninggikan rumahnya menjadi dua lantai. Syukur alhamdulillah rezeki mereka berlimpah sehingga mampu membangun rumah lebih megah. Alhamdulilllahnya lagi, karenanya saya tak mungkin lagi main-main menembak Thaicom-5 untuk keluyuran menengok 'kebun kates' di satelit itu. Walau saya menjadi kurang bersyukur juga karena antena UHF saya ikutan terhalang tembok tinggi mereka.

Beberapa channel UHF menjadi kurang cling, tetapi masih bisa beralih ke Palapa-D atau Tekom-1 demi menyaksikan semua saluran televisi nasional. Kecuali GlobalTV (yang dua minggu ini sinyalnya pelit sekali) tempat Naruto beraksi mulai menjelang maghrib sampai hendak Isya'. Begitulah, jam segitu lazim dibilang jam utama, prime time. Prime time pula untuk melakukan hal yang lebih bermakna; menemani anak-anak belajar atau mengaji. Tetapi televisi menohok siapapun di jam berapapun dengan tayangan semau mereka dengan tanpa ampun. Pemirsa tak punya kuasa lebih besar kecuali meraih remote control dan mematikannya.

Makanya sama sekali saya tak menyesal manakala tak berhasil mendapatkan sinyal GlobalTV di Palapa-D. Dengan memakai 4 LNB, toh saya bisa melanglang angkasa mencari channel lain di satelit lainnya. Dan konsentrasi saya kini tertuju kepada Al Jazeera untuk mengetahui kabar terbaru kawasan Timur Tengah dan wilayah konflik lainnya di jazirah Arab dan sekitarnya.

Yang terbaru tentu gesekan tajam antara Turki dan Rusia setelah peristiwa penembakan Shukoi oleh F16 milik Turki. Saya bisa memantau reaksi keras Rusia via channel Russia Today (yang beberapa hari belakngan ini selalu menayangkan perkembangan peristiwa itu dalam Breaking News-nya –tentu dengan kacamata Rusia) tetapi tolong kasih tahu saya channel televisi Turki yang siaran FTA di satelit Asiasat5 atau Asiasat7. Perang terbuka secara dar-der-dor di medan sesungguhnya mungkin terjadi belakangan, tetapi biasanya perang (propaganda) di media (termasuk juga televisi) sebagai bumbu permulaan akan ditaburkan lebih dulu. Mengikuti berita itu tentu lebih 'asyik' ketimbang menyimak kasus Papa Minta Saham yang menyeret ketua DPR Setya Novanto. Menurut saya yang awam hukum ini, rasanya kasus itu makin hari makin mbulet saja dan bisa jadi akhirnya malah hilang ditelan berita banjir bandang yang acap terjadi di negeri ini pada musim hujan. *****

Senin, 16 November 2015

Sudut Pandang: Lady Rockers

Mel Shandy sedang menyanyikan
salah satu hits-nya; Bianglala.
Foto-foto: ewe
TAHUN 80an sampai awal 90an adalah era dimana musik rock berjaya di Indonesia. Festival rock digelar dimana-mana dan dari ajang itu muncul grup atau penyanyi rock ternama. Kini, era dimana rock tak lagi secemerlang dulu, agak sulit rasanya sekadar untuk menyebut grup rock yang masih eksis, tentu saja selain God Bless yang melegenda.

Rock, dengan genre mulai metal sampai yang slow, makin jarang hadir di kuping lewat radio, misalnya. Bagi penyuka sejati, tentu saja masih menyimpan lagu-lagu cadas itu di file pribadi yang sesekali, ketika rindu, dinikmati sendiri. Dulu, Djarum dan Gudang Garam (sekadar menyebut nama sponsor) adalah merek yang sering menghadirkan pertunjukan tour musik rock di banyak kota.

Senin, 21 September 2015

Tracker Satelit: Pemburu Sinyal dan Rezeki

11.47 WIB: Persiapan pemasangan.
Karena di lokasi telah ada tiang eks Indovision,
maka tak perlu pasang tiang lagi.
IMRON (27 tahun) tidak punya pengalaman sama sekali di bidang listrik atau elektronika. Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, ketika ada lowongan kerja sebagai installer/teknisi parabola sebuah pay tv, ia mencoba keberuntungan.

Ya, nekat saja,” ungkapnya tentang modal yang ia andalkan.



Nah, saat yang dinantikan datang. Ia dipanggil untuk tes interview. “Saat ditanya tentang pengalaman di bidang parabola, jujur saya katakan tidak punya. 'Saya katakan, tentu semua orang berawal dari tidak bisa. Dan belajar adalah cara untuk bisa', begitu prinsip saya. Eh, tidak lama kemudian saya dipanggil lagi. Diterima,” katanya sambil tersenyum.



Satellite Finder, jimat andalan Mas Imron.
Diawali dengan harus mengikuti program diklat selama dua minggu (seminggu teori dan seminggu praktek), Imron melahap materi dengan antusias. Hasilnya; belum genap sepuluh hari ia ia sudah menantang mengajukan diri memasang di rumah pelanggan. “Sebagai orang baru, sesuai prosedur, awalnya saya masih harus didampingi. Setelahnya, ya sudah berani sendiri. Lagian, kalau niat, belajar tracking satelit pay tv itu sehari juga bisa,” paparnya.



Lima bulan sudah ia kini bekerja sebagai teknisi parabola sebuah pay tv milik grup media besar di Indonesia. Sebagai teknisi kantor cabang Surabaya, cakupan arena kerja lumayan luas; meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan.
Mas Imron sedang pasang LNB.



Ayah satu anak ini menambahkan, hal yang membuatnya kerasan bekerja di bidang ini adalah pengupahan yang bersistem poin. Semakin besar poin yang didapat pada tiap bulan, gaji yang dierima terbilang lumayan. “Ya, di atas UMK-lah,” akunya. “Malah kalau kita pas menangani pelanggan yang 'manis', untuk biaya rokok, makan dan bensin kita ambil dari uang tip dan gak sampai mengurangi nilai gaji. Gaji bisa utuh untuk keluarga.”



12.07 WIB: signal terkunci maksimal, kencangkan baut.
Tinggal cek ke ruang tamu pelanggan.
Foto-foto: ewe
Dengan membawa dua-tiga set antena parabola jenis offset dalam sekali berangkat tugas, ditambah satu tas peralatan berisi kunci, mesin bor, LNB, kabel coaxial dan tentu saja satellite finder, lelaki asal Rembang Jawa Tengah ini terlihat agak terlalu membebani motornya. Ditambah dalam bekerja harus tahan panas (karena antena dipasang di ketinggian dan harus tiada terhalang benda apa pun agar sinyal satelit tertangkap sempurna), plus perjalanan jauh berjarak berpuluh-puluh kilometer ke luar kota demi pelanggan yang sedang mengalami gangguan pada sinyal televisinya, adalah 'makanan sehari-hari'. “Kalau pelanggan puas dan kasih sekadar uang rokok, ya alhamdulillah, tak dikasih pun tak apa-apa. Namanya juga memang sudah tuntutan kerja,” ungkap Imron.

Seperti pencari nafkah sejati yang lain di bidang apa pun, Imron membuang jauh-jauh kosakata mengeluh dari kamus hidupnya. Karena keluh kesah hanya akan membuat sebuah semangat menjadi rapuh dan gampang patah. *****