DENGAN hidung remuk dan gigi
depan yang tanggal tiga, jangankan sedang meremehkan, sedang tertawa
tulus pun ia akan nampak meremehkan. Belum lagi suara yang keluar
dari mulutnya. Itu, kalau kau belum paham benar, akan terdengar
sebagai siulan saja. Tetapi ketenarannya tiada tanding, tiada
banding. Tanyakan orang sini, mulai dari ujung barat sana, jauh
sampai ke selatan terminal nun di sana itu, setiap tangan akan
menunjuk tepat bila engkau bertanya dimana Pulung tinggal.
Dulu, ia tidak seremuk itu wajahnya.
Bayinya sungguh tidak mirip dengan bapak atau ibunya. Malah ia mirip
sekali dengan Pak Subali. Pendek, sekaligus hitam. Tak ada yang tahu
kenapa. Tiada pula yang mempersoalkannya. Justru, sejak saat itulah
orang sekampung menyebutkan sebagai pulung. Sebuah nama yang
lalu disematkan pula secara resmi oleh kedua orang tuanya.
Malam itu, Pulung masih dalam kandungan
ketika besoknya pemilihan kepala desa dilangsungkan. Kau tahu, acara
pemilihan kepala desa begitu, kehebohannya jauh mengalahkan
riuh-rendahnya pemilihan presiden sekalipun. Rumah ibu Pulung yang
berbatas tembok dengan balai desa, terasa panas entah oleh apa. Belum
lagi suara-suara yang berseliweran di atas genting. “Kamu jangan
keluar rumah. Kasihan bayi kita,” ayahnya mengelus perut yang
di dalamnya Pulung sedang tertidur tenang.