RESAH dan gelisah menunggu di rumah...
Kalimat pembuka barusan, saya tulis sambil melagukan tembang lamanya Obbie Messakh, Kisah Kasih di Sekokah. Dan keresahan serta kegelisaan oleh pageblug ini sungguh sangat berbeda dibanding resah-gelisahnya hendak bertemu kekasih. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Bertemu dan apalagi ketularan Covid-19, oh jangan sampai, jangan sampai.
Tetapi, pelbagai mitos yang sebelumnya sempat bertebaran di media sosial (dan celakanya, sempat juga dipercaya), bahwa si virus tak akan masuk ke negara kita --karena ini atau itu--, sungguh tak terbukti. Kini ia ada di sini. Di sekitar kita. Sesuatu yang kita harapkan jangan sampai, akhirnya sampai juga. Baiklah. Sekarang kita kubur saja mitos-mitos yang dulu sempat kita imani itu. Kita kubur dalam-dalam dengan protokol ketat dan diiringi doa agar kita tidak terkutuk menjadi keledai.
Soal lainnya adalah stigma. Bahwa orang batuk atau bersin saja, sekarang ini langsung dilirik orang. Terlebih saya ini yang kalau sudah kadung sakit batuk, susah sekali sembuhnya. Itu contoh ringan. Contoh lainnya adalah, ketika ada tetangga meninggal karena sakit panas dan sempat dirawat di RS, tetangga kanan-kiri langsung parno. Itu kena Korona, begitu kabar diedarkan.
Padahal untuk tahu seseorang kena Covid-19 atau tidak, tidak segampang itu. Harus ada tes. Dan bukan sekadar rapid test. Harus yang lebih akurat. Harus swab.
Oleh perusahaan, awalnya saya diarahkan melakukan tes swab di sebuah Rumah Sakit di dekat RS dr. Soetomo sana. Secara jarak relatif jauh dari rumah saya. Makanya, saya usul, agar saya bisa tes di RS yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya.
Tampilkan postingan dengan label Test Swab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Test Swab. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Mei 2020
Minggu, 10 Mei 2020
Waswas Tes Swab (1)
SEBAGAIMANA pernah saya tulis, saya sudah agak menjauh dari mengikuti kabar tentang Covid-19. Menghindar dari paparan berita yang, menurut saya, sudah tidak baik untuk selalu saya konsumsi. Berita-berita tentangnya senantiasa lebih kepada sebarannya yang makin luas, dengan korban yang terus berjatuhan. Termasuk dari kalangan medis. Ada juga sih berita yang positif. Dalam artian berita yang menyulut harapan. Progres penemuan obat atau vaksin, ilmuwan dalam negeri yang berhasil membuat ventilator, perusahan plat merah bidang farmasi yang akan memproduksi massal alat test, pasien sembuh dan semacamnya. Tapi, berita model begini masih kalah (baik secara jumlah maupun gaung), dibanding berita-berita tentang penderita baru, korban baru dan hal-hal 'horor' lainnya dari Covid-19. Ya mungkin istilah bad news is good news masih jauh dari masa expired-nya. Paling tidak pada media-media kita. Paling tidak itu persepsi subjektif saya.
Menjauh dari paparan berita, bukan lantas saya abai akan kemungkinan terpapar Covid-19. Ini virus gila, menurut saya. Dan kadang saya merasa, kok ya mengalami pageblug modern ini. Dulu sih sempat dengar cerita dari orang-orang sepuh. Tentang pageblug, penyakit aneh yang ganas. Ibarat kata, bila terserang, pagi sakit sore meninggal. Sore sakit, malam meninggal.
Menyikapi kebaradaan Covid-19 ini, respons orang memang macam-macam. Tidak hanya kita orang-orang bawah. Kalau kita putar ulang, dan sekarang gampang sekali mengintip jejak digital seseorang, tidak sedikit pejabat pusat yang awalnya meremehkan. Tenang... Belanda masih jauh, begitu istilah peremehan ala ludruk.
Ada orang yang begitu negara tetangga kita kena langsung waspada, ada yang ketika ada orang Ibukota kena baru jaga-jaga, ada yang baru mak-jenggerat kaget saat tetangganya kena. Inilah yang tadi saya bilang, ini virus gila. Sudah tidak terlihat (namanya juga virus!), penularannya cepat. Pakai banget!
Menjauh dari paparan berita, bukan lantas saya abai akan kemungkinan terpapar Covid-19. Ini virus gila, menurut saya. Dan kadang saya merasa, kok ya mengalami pageblug modern ini. Dulu sih sempat dengar cerita dari orang-orang sepuh. Tentang pageblug, penyakit aneh yang ganas. Ibarat kata, bila terserang, pagi sakit sore meninggal. Sore sakit, malam meninggal.
Menyikapi kebaradaan Covid-19 ini, respons orang memang macam-macam. Tidak hanya kita orang-orang bawah. Kalau kita putar ulang, dan sekarang gampang sekali mengintip jejak digital seseorang, tidak sedikit pejabat pusat yang awalnya meremehkan. Tenang... Belanda masih jauh, begitu istilah peremehan ala ludruk.
Ada orang yang begitu negara tetangga kita kena langsung waspada, ada yang ketika ada orang Ibukota kena baru jaga-jaga, ada yang baru mak-jenggerat kaget saat tetangganya kena. Inilah yang tadi saya bilang, ini virus gila. Sudah tidak terlihat (namanya juga virus!), penularannya cepat. Pakai banget!
Langganan:
Postingan (Atom)