Tampilkan postingan dengan label SPBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPBU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Jangan Remehkan Angka Nol


DARI sembilan angka yang kita kenal sekarang, ternyata angka nol (0) justru ditemukan belakangan. Yang menemukan adalah seorang laki-laki kelahiran Khifa, Iraq, pada tahun 780. Lelaki jenius itu, selain mahir dalam ilmu geografi, sejarah dan seni, yang tak kalah dikuasainya adalah ilmu matematika.. Beliau adalah ilmuwan muslim yang salah satu kitab terkenalnya berjudul Hisab al-Jabar wal Muqabla. Namanya, Muhammad bin Musa al Khawarizmi.

Seorang lelaki tua membawa motor Yamaha tuanya yang warna merah, menuju pompa bensin di sebelah TMP Mayjen Sungkono, Surabaya. Beliau mendapat antrean persis didepan saya. Walau saya tidak mengenalnya, yang jelas saya haqqul yaqin beliau tidak bernama Muhammad bin Musa al Khawarizmi!


“Empat ribu,” katanya kepada petugas SPBU.

Si petugas menombol angka pada mesin pompa, sejurus kemudian selang premium itu telah masuk ke mulut tankinya.

Setelah si petugas menerima pembayaran dari si bapak tua itu, ia menata lembar-lembar uang yang dipegangnya. Uang dari bapak tadi terdiri dari empat lembar uang kertas nominal seribuan. Yang dua ribuan belum ada ketika itu.

Lagi asyik menghitung, tiba-tiba tanki motor itu muntah-muntah. Kepenuhan. Secepat gerakan pesilat si petugas menutup kran. (Saya tidak tahu istilahnya, kran atau apa. Pokoknya mematikan aliran bensin dari selang.)

Terjadi eyel-eyelan sejenak. Si petugas meminta bapak tua itu menambah uangnya. Masa ful tank cuma empat ribu.

Tidak kalah ngeyel, si bapak tua tidak mau. “Yang salah sampeyan kok saya yang harus bayar,” gerutunya.

Si petugas hanya cemberut. Entahlah, apakah muka kusut itu ditujukan kepada si bapak yang tidak mau disalahkan, atau ia malah menyesali kekeliruannya sendiri. Kebanyakan menekan nolnya. Lebih satu. Sehingga menjadi Rp. 40.000!

Nominal segitu, tentu bukan ukuran isi perut si Yamaha 75 !*****

Jumat, 04 November 2011

'Hadiah' Oli


IBARAT dalam balapan F1, untuk jarak tempuh Surabaya-Lamongan via Manyar, Betoyo, Glagah, Sooko, Blawi, Sambo sampai Mayong, saya tahu harus masuk pit-stop kapan dan dititik mana saja. Karena begitu masuk Betoyo sudah tidak ada lagi SPBU, biasanya saya mengisi bensin di Surabaya hanya lima sampai tujuh ribu rupiah saja. Perhitungannya, nanti saya masuk pitstop lagi di SPBU Sukomulyo; untuk full tank.

Dalam suatu ritual mudik mingguan, hari itu (saya lupa tanggalnya) seperti biasa hendak mem-full tank-kan tanki Honda Grand saya. Sambil antre, saya lihat ada beberapa anak muda berpakaian necis didekat petugas SPBU. Kepada setiap orang yang sedang mengisi bensin, saya lihat, ia selalu menanyakan sesuatu. Karena jaraknya agak jauh dan suasana ramai oleh deru kendaraan dijalan, saya tak tahu entah apa yang ditanyakan.

Dan baru tahu begitu saya juga disapanya.

“Selamat siang, pak.”

“Ya, siang,” pendek saja saya menjawab salam santunnya.

“Maaf, kalau boleh tahu, untuk motor ini, bapak pakai oli apa?” tanya pemuda itu lagi.

Sambil mengawasi angka pada meter pompa SPBU, saya menjawab,” Top1.”

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli Top1, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Setelah proses pengisian selesai, saya tuntun motor agak minggir didepan memberi kesempatan orang-orang yang juga antri. Saya membuka tas ransel untuk mengambil botol minum, ketika si pemuda tadi juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka.

“PrimaXP,” jawab seorang bapak.

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli PrimaXP, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Wah, apa-apaan ini. Apapun olinya, silakan ambil hadiah menarik disana?

Dan ketika saya dekati yang stand by didekat pintu keluar, seorang gadis itu menyodorkan 'hadiah' dibungkus kardus. Dari gambar luar kemasannya, saya tahu isinya sebuah pesawat telepon. Telepon memang bisa menyambung komunikasi, tetapi antara oli dan pesawat telepon saya tidak menemukan sambungannya. Tetapi, namanya juga 'hadiah'. Maka, saya sahut saja.

“Tunggu dulu, pak,” cegah si gadis itu ketika saya hendak memasukkan 'hadiah' itu ke tas saya. “Bapak hanya perlu membayar ini seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Murah, pak. Karena kami sedang promosi. Bapak akan membayar lebih mahal bila membeli di toko...”

Sambil meminta kembali 'hadiah' yang batal masuk tas saya, terus saja ia berkata. Tetapi terus saja saja saya melajukan motor saya.

Kali lain, saya juga menemukan praktek begitu. Bukan di kota pinggiran. Tetapi di sebuah SPBU di jalan Ahmad Yani Surabaya. Saya tak habis pikir, kenapa pihak SPBU mengijinkan mereka melakukan praktek 'penipuan' itu diareanya. Ataukah ada setorannya?*****

Kamis, 03 November 2011

Uang Sobek dan SPBU


BAGI saya, SPBU bukan hanya tempat membeli BBM.  Ada beberapa fungsi yang saya dapati disitu. Misalnya, ketika saya pegang uang besar dan hendak membelikan sebungkus nasi kuning untuk sarapan anak sulung saya, saya menuju SPBU dulu. Karena, saya menganggap membeli sebungkus nasi kuning seharga enam ribu rupiah, adalah tidak sopan bila saya menyodori selembar uang bergambar bung Karno dan bung Hatta. Tetapi, dengan uang yang sama, saya membeli bensin lima ribu rupiah di SPBU, rasanya tidak ada yang disinggung sama sekali.

Itu misal yang pertama. Kedua, di SPBU saya merasa tempat yang aman untuk menggunakan uang yang telah cacat tanpa perlu saya takut dicacat. Uang yang telah sobek tetapi sudah disatukan lagi dengan selotip bening, ia tetaplah alat pembayaran yang sah. Hal yang, bisa jadi, sudah ditolak bila digunakan untuk membeli nasi kuning di warung PKL di pinggir jalan.

Sepulang kerja, sesampainya di Jemursari, saya tengok alat penunjuk BBM di sepeedometer. Tinggal beberapa  strip menuju tanda merah. Waktunya minum bensin si Honda Grand tua saya ini. Saya belok kiri saja, menuju SPBU. Sore itu antrian motor lumayan panjang. Sambil menunggu giliran, saya siapkan uang sepuluh ribu rupiah. Terdiri dari dua lembar pecahan limaribu rupiah. Yang satu sehat wal afiat, satunya lagi sudah pernah ‘bercerai’, tetapi telah dirujukkan lagi memakai selotip.

Saya perhatikan, pelayanan di SPBU ini sangat standard. Maksudnya, tidak pernah saya dapati petugas SPBU meminta uang dulu baru mengisi tanki. Selalu mengisi dulu baru meminta uang. Inilah celahnya, saya kira. Bisa saja orang berniat jahat dengan menggunakan uang palsu, misalnya. Dan ketika uang itu ditolak petugas, bisa saja (lagi) pengedar uang palsu itu bilang tidak tahu menahu tentang uangnya. Dan, malah bilang uang itulah satu-satunya penghuni dompetnya. Bagaimana coba? Masa bensin yang sudah di tanki mau disedot lagi?!

Tiba giliran saya.

“Sepuluh ribu,” saya berkata.

Dan petugas SPBU itu lalu menombol angka pada mesin pompanya. Baru setelah bensin berhenti mengucur saat angka di pimpa telah mencapai nominal sepuluh ribu, baru ia menjulurkan tangan meminta uang saya. Disaat bersamaan, saya lihat tanki motor saya terlalu penuh, dan cairan bensin sempat meluber. Harusnya tadi diisi tujuh ribu saja sudah cukup, batin saya.

Saya tuntun motor saya untuk memberi giliran motor berikutnya. Saya tepikan motor didekat pagar. Saya baru mengeluarkan lap hendak membersihkan tumpahan bensin, ketika petugas SPBU yang tadi melayani saya mendekat.

“Ada apa, mas?” tanya saya.

“Uangnya tidak laku, pak,” katanya.

“Tidak laku bagaimana? Biasanya uang sobek yang telah disambung lagi tidak apa-apa,” ujar saya.

“Iya, pak. Tetapi uang bapak ini sambungannya tidak berjodoh.”

“Tidak berjodoh bagaimana?” saya meminta selembar uang lima ribuan yang tadi saya gunakan untuk membayar. Uang itu, saya sudah lupa dapat kembalian dari mana.

“Ini uang, asalnya dari dua lembar yang sama-sama sobek, lalu disatukan. Lihat, beda nomor serinya kan, pak?”

Lhadalah, saya tidak bisa protes lagi ini.