Tampilkan postingan dengan label Pantun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Parikan Suroboyoan: Coblosan

Mas Bendo: ndik Suroboyo menyang Tunjungan
mbanting busi dipane kayu
paklik Rasiyo memang pengalaman
ning Lucy pancene ayu

Mbak Yu : nyilih kain popok nang Karangan
momong rojo koyo bareng Rhoma Irama
milih pemimpin, rek, ojok sembarangan
lek wong Suroboyo yo jelas milih Bu Risma

(Iyo, rek. Tak kandhani koen yo; lha lek cumak bondho ayu thok, lha digawe opo?! Pemimpin iku kudune lak cak-cek, opomaneh masalah Suroboyo iku uakeh puoll. Banjir umpamane. Lha lek ngatasi banjir ditinggal wedhak'an dhisik, lak selak klelep wargane)

Mas Bendo: mangan delima kleleken kecik
sapi karo kebo kelonan wae
prestasine Bu Risma pancene apik
tapi opo salahe njajal calon liyane

(Lha, sopo ngerti paklik Rasiyo karo Ning Lucy iku lek diwenehi kesempatan isok gawe kutho Suroboyo luwih apik. Lha lek durung dijajal wis dianggep gak mampu, iku termasuk kliru, Mbak Yu.)

Mbak Yu: penari japin numpak gerobak
peniti kae pasangno nang kain katun
milih peminpin ojok cobak-cobak
sing mesti-mesti ae ben engko ora getun

(Sampeyan iku, Cak, Cak. Milih peminpin kok cobak-cobak. Koyok nganggo minyak kayu putih ae. Pokok'e aku wis madhep mantep, gepeng ilir aku tetep milih Bu Risma)

Kang Karib : banyu aki dicampur terasi
rondho lesehan nang pojok plataran
yo ngene iki urip ing zaman demokrasi
bedo pilihan ojok sampek dadi tukaran

bantalan lesung mergo gak duwe dipan
upo ning kendhi lambene dilat-dilat
pemilihan langsung pancen butuh kedewasaan
sopo ae sing dadi awak'e dhewe tetap ae melarat rakyat

(wis talah, rek. Gak usah gegeran mergo bedo pilihan. Opo koen pikir lek jagomu sing dadi terus peno gak perlu nyambut gawe. Lha sopo sing ngingoni anak-bojomu? Mbahne Sangkil opo! Ayo, sing penting nyambut gawe, perkoro mengko pemimpin (calon sing endi ae sing menang) ora lali janjine, yo syukur. Lha lek ingkar janji, ayo didungakno bareng-bareng mugo-mugo gudhiken sak kujur awak'e.)*****


Jumat, 03 Januari 2014

Surabaya Berpantun


MALAM pergantian tahun tiga hari yang lalu, untuk pertama kalinya Surabaya menggelar Car Free Night. Dalam acara (yang mungkin meniru Jakarta Night Festival) itu ada beberapa ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor sehingga untuk mencapai ke lokasi-lokasi yang disediakan hiburan gratis di situ pengunjung harus berjalan kaki atau bersepeda. Sejauh yang saya dengar (karena saya termasuk orang yang kuno, yang kurang suka menghabiskan malam pergantian tahun dengan melekan begadang di jalanan sambil meniup terompet) acara itu terbilang sukses.

Detik-detik pergantian tahun yang secara cuaca sangat bersahabat ini (karena biasanya hujan semalaman), tiada kemacetan terjadi seperti tahun-tahun yang silam. Dengan ditutupnya jalan-jalan tertentu, dan disediakannya kantong-kantong parkir yang representatif, saya kira keberhasilan acara tahun ini akan semakin memantapkan pihak Pemkot untuk menggelarnya lagi pada tahun-tahun mendatang.

Sayangnya, dari beberapa konsep acara di setiap zona yang berbeda, kok saya tidak mendengar ada pementasan ludruk di salah satunya. Kalau benar demikian, mungkin kesenian khas Surabaya ini sudah mati di daerah asalnya. Semoga belum, semoga jangan.

Bicara tentang ludruk, ketika kecil sepulang mengaji, nyaris setiap malam saya menyusup ke gedung kesenian di desa saya. Saya ingat, acara dimulai setelah beberapa kali petasan dibunyikan. Layar dikerek ke atas dan di tengah pentas berdiri penari remo, tarian pembuka. Disusul kemudian sederetan 'perempuan' berkebaya melantunkan gending-gending Jawa. (saya beri tanda kutip karena perempuan itu adalah wandu, laki-laki yang berdandan sebagai perempuan). Dan begitulah, sejauh yang saya tahu, ludruk senantiasa identik dengan hal demikian.

Sebelum lakon inti dimainkan, lebih dulu muncullah dagelan. Berpenutup kepala khas ludruk atau sering pula berkopiah, seorang dagelan muncul dengan jula-juli dan juga parik'an. Kalau jula-juli rangkaian kata yang dilagukan kait-mengait secara makna, dalam parikan sebelum isi (maksud) lebih dulu ada sampirannya. Ya, Sampeyan benar, semacam pantun.

Pantun terkenal pada masa penjajahan Jepang yang lahir dari seniman ludruk Surabaya adalah yang diucapkan Cak Durasim; pagupon omahe doro, melok Nippon tambah soro.

Bila Surabaya identik dengan ludruk, maka ludruk pun identik dengan parik'an. Ludruk mungkin sulit ditemui manggung di kota ini, tetapi parik'an dapat dengan mudah ditemui di jalan-jalan. Parik'an itu dipasang secara resmi oleh pihak kepolisian sebagai ajakan untuk tertib berlalu lintas.

Di dinding sudut KBS yang bisa terbaca dari seberang terminal Joyoboyo begini bunyinya, “Tuku susu dino Jumat, ojo kesusu supoyo salamat.”

Di bundaran Satelit tadi pagi masih saya temui poster-poster yang dipasang menjelang tahun baru kemarin. “Jangan terong diincaki kucing, knalpot brong mbrebeki kuping,” demikian isinya.

Di tempat lain, bisa jadi ada parik'an lain dengan ajakan yang lain pula. Karena dengan pantun itu, selain secara pesan bisa lebih mengena, si penerima pesan pun bisa tersenyum karena kata-katanya yang kadang sedikit jenaka..

Semasa senang bersurat-suratan ketika remaja dulu, 'pantun kebangsaan' di setiap akhir surat adalah empat kali empat enambelas, sempat tidak sempat mohon dibalas. Sekarang, demi mengakhiri tulisan ini, akan saya tutup pula dengan pantun; bungkus ketupat dari daun lontar, kalau sempat kasih dong komentar. Hehe... *****


Rabu, 25 Juli 2012

Pantun Ramadhan

landak berbulu badak berkubang
ayam menjerit kelaparan
tidak dahulu tidak sekarang
ada yang ngabuburit sambil pacaran

pandan di kebun berdaun ungu
pohon keluwih ditanam jarang
ramadhan belum seminggu
shof tarawih sudah berkurang

getah kelapa berwarna semu
jajaran tiang dalam bayangan
entah apa makna puasamu
bila kelaparan di siang, malam kekenyangan

raksasa biru pergi ke kiri
kompeni Belanda menginjak-injak
puasa itu menahan diri
tapi uang belanja malah melonjak

istri sholihah belajar sopan santun
sekarang Madinah dulu Yatsrib
ini hanyalah sekadar pantun
dikarang sambil menunggu maghrib *****