Tampilkan postingan dengan label Caring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caring. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2022

Ibu Negara


BEGINILAH ritual buka puasa dan makan sahur kami. Lesehan. Agar membumi, oh bukan. Kami memang tak punya meja makan. Namun bukan itu yang hendak saya ceritakan. Tetapi peran seorang diantara kami yang terasa makin vital saja saat puasa begini. Karena, tanpanya, semuanya akan fatal.

Ia, yang sejak pagi merancang menu apa hari ini, lalu mengeksekusinya sampai menjadi hidangan siap makan, yang secara ajaib taburan garam dan lainnya terasa selalu pas walau tanpa diincipi, sungguh: chef Renata saja akan minggir!

Walau demikian, saat maghrib tiba, ia hanya meneguk air saja, sekadar membatalkan puasa, lalu pergi ke musholla di saat saya memimpin anak-anak secara berjamaah melakukan balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Ia yang memasak, ia yang makan belakangan., termasuk melanjutkan efek samping: cuci piring dan sebangsanya. Pendek kata, ia yang bangun paling awal, ia pula yang selalu tidur paling akhir.

Pada tengah malam, saat saya terjaga dan melakuan 'buka puasa sesi dua', saya lihat ia tidur dengan kening bergambar rencana menu besok hari. Selalu begitu. Pada titik demikian, nikmat Tuhan manakah yang hendak saya dustakan: memiliki Ibu Negara yang kalau saja ia bangun kesiangan, niscaya kami serumah tidak ada yang makan sahur. ***

Minggu, 25 Mei 2014

U n d a n g a n

SEMASA hidupnya, di kampung dulu, paman saya punya cara khas dalam memperlakukan undangan yang telah diterimanya. Ia mencantolkan pada paku undangan-undangan itu pada saka, kayu tiang utama rumah tuanya. Karena tiang itu persis ada di antara ruang tamu dan ruang tengah, orang akan dengan mudah mendapati lembar-lembar undangan itu. Dari yang paling baru sampai yang telah lama. Untuk mencari tahu yang lama juga bukan perkara sulit, bila warna kertasnya telah usang, ya itulah ia. Iya, bahkan undangan yang telah lama dihadirinya pun masih saja disimpan paman. Untuk apa? Untuk kebanggaan karena sebagai tanda orang blater, banyak kenalan yang telah pernah mengundangnya? Entahlah.

Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.

Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.

Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.

Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.

Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****





Jumat, 25 April 2014

Terpaksa Ikhlas

SEDIKIT demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Istilah ini bisa disertakan dalam semangat menabung, juga untuk hal lain. Korupsi, misalnya. Dan korusi itu, sepertinya, tak melulu dilakukan oleh orang besar dengan nominal yang besar. Tetapi juga oleh orang kecil dengan besaran yang tak seberapa. Tetapi, sekecil apapun nilai, akan membesar akhirnya bila dilakukan secara terus-menerus dalam jangka yang lama mengacu pada rumus 'sedikit demi sedikit' tadi.

Tak perlu terlalu mengerutkan kening untuk mencari contoh yang beginian ini.

Untuk sebuah keperluan, kemarin siang saya mendapat tugas ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya. Setelah itu mampir ke Pasar Elektronik Genteng untuk lihat-lihat reciever DVB-T2 lanjut ke PMI untuk donor darah. Di ketiga tempat itu hal yang saya catat adalah soal parkir.

Pertama, saat akan ke kantor Dinas LH, saya memarkir si Nenen (begitu si bungsu menyebut SupraX 125 tunggangan saya ini) di seberang warung sate di seberang perkantoran Pemkot tidak jauh dari Puskesmas Ketabang. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok berompi hijau menghampiri dan menyerahkan selembar karcis parkir. Tertera disitu tarifnya; limaratus rupiah.

Tetapi setelah urusan saya di Dinas Lingkungan Hidup selesai dan saya mengambil motor, selembar duaribuan yang saya serahkan langsung masuk saku tanda ada kembalian. Harusnya saya minta kembalian seribu limaratus sebagai hak saya sebelum pergi meninggalkan lelaki tua berkulit hitam karena saban hari kepanasan itu. Tetapi demi melihat lelaki bongkok yang masih semangat bekerja di usianya yang tak lagi muda itu, saya memilih untuk berbaik hati; mengikhlaskannya saja.

Kedua, setelah melihat-lihat di lantai dua pasar Genteng, di tempat parkir saya membayar. “Duaribu, Pak,” kata si tukang parkir, kali ini usianya masih muda.

Lho, bukannya di karcis tertera seribu rupiah?” saya protes.

Iya, Pak. Tetapi duaribu,” katanya teguh pendirian.

Iya, wis. Sekali lagi saya mengalah. Jaman sekarang, uang seribu dapat buat beli apa sih?

Ketiga, sebelum balik ke tempat kerja, saya ke PMI. Selepas donor darah, di tempat parkir, saya menyerahkan karcis dengan tanpa saya sertai uang. Karena di kertas parkir memang tertulis; gratis. Tetapi, seorang yang mengambil motor sebelum saya, terlihat menyertakan uang seribu rupiah ke tukang parkir PMI di Embong Ploso ini. 
 
Begitulah. Diantara betir-butir keringat tukang parkir, ada 'rezeki tambahan' yang terus mengalir. Padahal, selembar karcis resmi, bisa dipakai berulang-ulang kali. Lalu, kemana kelebihan pembayaran itu menuju? Dan berapa jumlah rupiah yang harus mereka setorkan ke pihak yang berwenang?

Kekurangan kembalian dari yang dibayarkan, karena jumlahnya tidak seberapa, kadang dengan terpaksa diikhlaskan. Tetapi apakah sebentuk keikhlasan namanya bila itu dilakukan dengan terpaksa? *****

Kamis, 27 Maret 2014

Caleg = Calon 'Legrek'

BERTANYALAH kepada siapa pun; presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah itu secara jabatan tinggi siapa. Jelas tinggi presiden, gubernur, kepala sekolah ketimbang para wakilnya. Maka tidak mengherankan bila si wakil menginginkan pula jabatan yang di atasnya. Pak JK yang pernah nyapres melawan SBY di Pilpres tahun lalu, atau Dede Yusuf yang memilih 'pisah' dari sang Gubernurnya demi merebut jabatan itu pada Pilgub Jabar beberapa waktu yang lalu.


Beberapa contoh yang saya sebut di atas secara logika sungguh bisa diterima. Tetapi ada satu hal yang secara nalar (walau umum, tetapi) agak bisa didebatkan, yakni; beberapa rakyat yang justru ingin 'turun pangkat' menjadi wakil. Ya, wakil rakyat. Dan demi untuk menjabat sebagai wakil itu, si calon (lazim disebut caleg) melakukan aneka cara yang tentu saja semua mengandung biaya.Cetak poster, sepanduk, iklan radio/televisi dan atau menyumbang baju seragam ibu-ibu pengajian, memberangkatkan 'simpatisan' ke tempat-tempat ziarah keagamaan dan sebagainya. (Yang termasuk dalam 'dan sebagainya' itu antara lain, ongkos ke 'orang pintar'. Termasuk beli uba rampe; kembang tujuh rupa atau kain mori atau perjalanan ke sebuah sendang untuk mandi kembang tengah malam.)


Tengoklah di setiap pinggir jalan raya; wajah-wajah yang selama ini tidak dikenal mengenalkan diri dengan cara (yang kadang) mengenaskan. Dengan pose foto yang dipilih –menurut diri sendiri-- sebagus mungkin, dengan slogan yang dibikin semenarik mungkin. Dan, apakah dengan memasang baliho gambar-gambar mereka itu elektabilitas mereka lantas menjadi menanjak? Belum tentu. Masyarakat sudah teramat cerdas (baca: apatis) menyikapi kebaikan instan yang mereka pamerkan.


Ada istilah; tidak ada makan siang yang gratis. Terlebih untuk menjadi caleg. Pastilah duit besar disebar demi biaya untuk itu. Kalau lalu benar-benar jadi anggota legislatif tentu ada kemungkinan untuk melakukan 'balas dendam' demi baliknya modal. Tetapi bagaimana kalau sudah keluar uang banyak tetapi tidak terpilih? Kalau semua uang itu dari kantong sendiri sih agak tidak apa-apa, bagaimana, coba, kalau duit itu hasil dari pinjam?


Untuk mengantisipasi hal itu, dalam sebuah running text di televisi, ada berita; sebuah rumah sakit mempersiapkan 333 tempat untuk merawat caleg stress. Entah mengapa dipilih angka cantik kembar tiga begitu. Lagi pula kenapa 333, kok tidak 666 atau 999?


Kalau begitu, secara iseng saya artikan caleg itu selain berarti calon legislatif, adalah juga sebagai calon legrek, remuk. Remuk lahir, remuk batin. *****

Senin, 24 Maret 2014

Hati-hati Sugesti

JUMAT pagi 21 Pebruari itu seorang teman membawa kue ke tempat kerja. Kue lunak berbentuk kotak dibungkus plastik mika dengan staples sebagai pengancingnya. Saking lunaknya, tanpa peran gigi, dengan hanya menekan lidah ke langit-langit mulut saja sudah hancur ia. Saya tak bertanya apa nama kue berwarna hijau itu. Tetapi saya suka sekali rasanya. Untuk itu, karena masih ada banyak di meja, saya ambil untuk kedua kalinya. Keburu ingin menikmatinya lagi, saya ceroboh dalam membukanya; langsung saya tarik begitu saja. Dengan ukurannya yang mungil, gigitan ketiga adalah sudah untuk yang terakhir. Dan saat itulah saya celaka. Pada telanan terakhir itu, saya rasa ada sesuatu yang menyenggol tenggorokan. Pikiran saya langsung jelek; yang menyenggol tenggorokan tadi itu adalah isi staples. Duh, apes!


Saya lihat plastik mika yang masih saya pegang, tidak ada isi staples di situ. Makin curigalah saya, bahwa yang ikut tertelan tadi itu adalah isi staples.


Kecurigaan itu tanpa saya sadari berubah wajah menjadi sugesti. Ia selalu menari-nari dalam alam bawah sadar saya tentang isi staples itu yang kini mungkin sedang berada di dalam lambung. Dan sugesti itu makin menjadi manakala saya tanya ke Mbah Google tentang kemungkinan apa yang terjadi bila isi staples yang bersarang di dalam perut saya. Menakutkannya lagi, kata Mbah Google, benda itu akan karatan dan membuat lambung akan sangat menderita.


Hari berikutnya perhatian saya sebagian besar kepada isi perut. Setiap geliat di dalamnya tak pernah luput dan pikiran membumbuinya dengan, “Jangan-jangan. Jangan-jangan...”


Nah, ternyata, semakin saya perhatikan (dengan kepekaan yang saya tambah tensinya), segala apa yang menggeliat di perut selalu saya curigai sebagai efek dari isi staples itu. Termasuk sedikit saja usus bergerak, atau rasa celekit di dalamnya. Sebuah rasa yang barangkali di saat normal (dan saat saya tak peduli dengan setiap geliatnya), itu sama sekali tak terasa.


Hari terus berjalan, dan saya mencari lagi info yang berkaitan dengan bila isi staples masuk ke dalam lambung. Syukurlah, dalam salah satu yang disajikan mbah Google, ada yang sedikit menentramkan. Bahwa, setajam apa pun benda yang masuk ke dalam lambung, ia akan dipaksa keluar oleh lambung menuju saluran pembuangan dan diikutkan keluar bersama rombongan kotoran. Untuk menyaksikan apakah benda itu sudah keluar, satu-satunya cara adalah dengan mengorek (maaf) 'pisang goreng' sebelum disiram masuk ke septic tank.


Sayangnya, ini baru saya ketahui jauh setelah isi staples itu saya curigai ikut tertelan. Karenanya tak mungkinlah saya membongkar septic tank demi untuk mencari sibiji kecil barang sialan itu.


Itu hal lain. Tetapi, sisi positifnya, dengan membaca artikel itu, pelan-pelan sugesti saya tidak terlalu negatif seperti halnya sugesti yang pertama. Yang kedua ini, membuat saya mumupuk keyakinan bahwa isi staples itu telah beristirahat dengan tenang di ruang bawah tanah (baca: septic tank).


Tentu saja agar yakin, saya bisa melakukan foto x ray demi memastikan apakah isi staples itu masih menginap di lambung saya atau tidak. Tetapi, saya termasuk orang yang tidak ingin biyaya'an mencari biaya untuk itu. (Ah, jelek ya sifat saya ini.)


Karena hal ini, saya menjadi harus makin hati-hati dengan sugesti. Apa yang terus ada di alam bawah sadar, bisa membias di alam sadar. Dan itu, kalau terus-terusan terjadi, bisa menjadi suatu kenyataan. Makanya saya pernah mendengar seorang motivator berujar; segala apa yang diyakini diri sendiri, hal itu pulalah yang akan terjadi. Bila belum-belum saja seseorang sudah merasa tidak mampu, maka akan betul-betul tidak mampulah seseorang itu.


Sekali lagi, saya harus lebih berhati-hati dalam mensugesti diri sendiri. *****


Selasa, 04 Februari 2014

Pelajaran dari Tepi Jalan

DUA bulan yang lalu di kawasan itu masih berjajar tukang knalpot membuka usaha. Kini, setelah di bawah tempat mereka ditanam box culvert, entah kemana para penjual knalpot itu berada. Tempat dimana dulu mereka menawarkan barang dan jasa telah rata dan bersih. Saya kira, setelahnya, seperti di tempat-tempat lain di kota ini, akan dibangun trotoar berlantai keramik tempat para pejalan kaki nanti mengayun langkah.

Ya, di kanan-kiri jalan Mayjen Sungkono sedang ditata sedemikian rupa. Selain agar makin nyaman dipandang, digunakan sesuai peruntukan, box culvert itu juga sebagai sarana mengatasi banjir yang rutin melanda jalan itu. Dan, ketika daerah lain banyak yang terendam banjir, syukurlah, kota pahlawan masih terbilang aman.

Setiap sore, sepulang kerja, di pinggir jalan Mayjen Sungkono, di tempat dimana dulu para tukang knalpot berada, senantiasa saya lihat seorang ibu dengan anak lelakinya yang tuna netra. Pada sepeda anginnya saya lihat seonggok tas besar selalu dibawa. Entah si Ibu itu berjualan apa. Yang jelas, pada jam empat sore, saya lihat Ibu-Anak itu selalu telah ada di situ.

Yang juga saya sering lihat, ada seorang perempuan berjilbab berhenti menemui mereka. Membuka bawaan makanan, dan dengan penuh kasih menyuapi si anak. Tiada rasa canggung saya dapati. Sementara, sambil mengunyah, si anak tampak tersenyum sambil memegang minum yang juga dibawakan si perempuan baik hati itu. Sebuah senyum yang lahir alami sebagai reaksi dari sebuah interaksi.

Pada titik itu, timbul iri dalam hati. Betapa di jaman yang orang serba begitu mudah pamer akan segala hal yang tak penting diketahui orang lain (lewat status, twitpic dll.), masih ada saja orang yang tak terangsang untuk latah bernarsis-ria. Peduli pada sesama tanpa peduli apakah kepedulian itu dipedulikan orang lain atau tidak.

Seperti perempuan berjilbab itu, siapa pun kita pasti mampu berbuat baik kalau mau. *****



Jumat, 03 Januari 2014

Surabaya Berpantun


MALAM pergantian tahun tiga hari yang lalu, untuk pertama kalinya Surabaya menggelar Car Free Night. Dalam acara (yang mungkin meniru Jakarta Night Festival) itu ada beberapa ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor sehingga untuk mencapai ke lokasi-lokasi yang disediakan hiburan gratis di situ pengunjung harus berjalan kaki atau bersepeda. Sejauh yang saya dengar (karena saya termasuk orang yang kuno, yang kurang suka menghabiskan malam pergantian tahun dengan melekan begadang di jalanan sambil meniup terompet) acara itu terbilang sukses.

Detik-detik pergantian tahun yang secara cuaca sangat bersahabat ini (karena biasanya hujan semalaman), tiada kemacetan terjadi seperti tahun-tahun yang silam. Dengan ditutupnya jalan-jalan tertentu, dan disediakannya kantong-kantong parkir yang representatif, saya kira keberhasilan acara tahun ini akan semakin memantapkan pihak Pemkot untuk menggelarnya lagi pada tahun-tahun mendatang.

Sayangnya, dari beberapa konsep acara di setiap zona yang berbeda, kok saya tidak mendengar ada pementasan ludruk di salah satunya. Kalau benar demikian, mungkin kesenian khas Surabaya ini sudah mati di daerah asalnya. Semoga belum, semoga jangan.

Bicara tentang ludruk, ketika kecil sepulang mengaji, nyaris setiap malam saya menyusup ke gedung kesenian di desa saya. Saya ingat, acara dimulai setelah beberapa kali petasan dibunyikan. Layar dikerek ke atas dan di tengah pentas berdiri penari remo, tarian pembuka. Disusul kemudian sederetan 'perempuan' berkebaya melantunkan gending-gending Jawa. (saya beri tanda kutip karena perempuan itu adalah wandu, laki-laki yang berdandan sebagai perempuan). Dan begitulah, sejauh yang saya tahu, ludruk senantiasa identik dengan hal demikian.

Sebelum lakon inti dimainkan, lebih dulu muncullah dagelan. Berpenutup kepala khas ludruk atau sering pula berkopiah, seorang dagelan muncul dengan jula-juli dan juga parik'an. Kalau jula-juli rangkaian kata yang dilagukan kait-mengait secara makna, dalam parikan sebelum isi (maksud) lebih dulu ada sampirannya. Ya, Sampeyan benar, semacam pantun.

Pantun terkenal pada masa penjajahan Jepang yang lahir dari seniman ludruk Surabaya adalah yang diucapkan Cak Durasim; pagupon omahe doro, melok Nippon tambah soro.

Bila Surabaya identik dengan ludruk, maka ludruk pun identik dengan parik'an. Ludruk mungkin sulit ditemui manggung di kota ini, tetapi parik'an dapat dengan mudah ditemui di jalan-jalan. Parik'an itu dipasang secara resmi oleh pihak kepolisian sebagai ajakan untuk tertib berlalu lintas.

Di dinding sudut KBS yang bisa terbaca dari seberang terminal Joyoboyo begini bunyinya, “Tuku susu dino Jumat, ojo kesusu supoyo salamat.”

Di bundaran Satelit tadi pagi masih saya temui poster-poster yang dipasang menjelang tahun baru kemarin. “Jangan terong diincaki kucing, knalpot brong mbrebeki kuping,” demikian isinya.

Di tempat lain, bisa jadi ada parik'an lain dengan ajakan yang lain pula. Karena dengan pantun itu, selain secara pesan bisa lebih mengena, si penerima pesan pun bisa tersenyum karena kata-katanya yang kadang sedikit jenaka..

Semasa senang bersurat-suratan ketika remaja dulu, 'pantun kebangsaan' di setiap akhir surat adalah empat kali empat enambelas, sempat tidak sempat mohon dibalas. Sekarang, demi mengakhiri tulisan ini, akan saya tutup pula dengan pantun; bungkus ketupat dari daun lontar, kalau sempat kasih dong komentar. Hehe... *****


Jumat, 13 Desember 2013

Tukang Bubur


KEAKRABAN saya dengan perempuan berusia 60-an itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam. Sejak pertama saya datang ke kota ini untuk meniti karir sebagai pekerja bangunan. Kala itu saya ikutan nguli menggarap sebuah hunian vertikal/kondominium di kawasan Margorejo Indah, sekira awal tahun 90-an.

Setiap pagi, perempuan itu telah stand by di sudut gang, menunggu pembeli datang. Memakai ebor, wadah dari anyaman bambu dengan ukuran agak besar, ia menata jualannya di atas tempeh. Ada tiwul, cenil/klanting, lupis, ketan, bubur sumsum, bubur beras, 'muntiara' dan tentu saja juruh, cairan kental berbahan gula merah. Dengan aneka jenis jajanan itu, entah mengapa, orang lebih mengenalnya sebagai tukang bubur naik haji saja.

Kala masih jomblo dulu, sesekali saya menghampirinya. Kalau tidak dalam rangka membeli cenil, ya untuk memberikan koran-koran bekas yang terasa sudah menyesaki kamar kos saya. Saya berani memberikannya karena saya tahu ia selalu melapisi daun pisang sebagai bungkus utama, dengan kertas-kertas bekas. Kertas itu kadang buku-buku, atau yang lebih sering saya lihat ya memakai kertas koran bekas.

Sekalipun saya sangat menolak, biasanya perempuan itu memaksa saya menerima sebungkus besar bubur campur sebagai barter dari koran yang saya berikan.

Kini, lebih limabelas tahun berselang, saat saya sudah pindah bermukim di kelurahan sebelah, sudah berumah tangga dengan dua orang momongan, saya mendapati perempuan itu tetap setia berjualan bubur. Tetap mengambil garis start di gang yang dahulu, untuk ketika pagi sudah nyaris pergi, ia menyunggi ebor-nya untuk berkeliling kampung. Di suatu tempat, ia berhenti karena di situ sudah menunggu sang pelanggan.

Keakraban saya dengannya masih tetap terjaga karena si kecil saya juga menyukai buburnya. Keakraban itu sungguh sampai segitunya sampai-sampai kamii tak saling tahu siapa nama masing-masing. Tak apalah, bubur telah menjadi pelebur dari itu semua.

Belum lama, sambil menunggu perempuan itu meladeni pesanan si bungsu saya, satu pertanyaan saya ajukan, “Sudah berapa lama Sampeyan berjualan bubur begini?”

Perempuan itu, yang selalu berkebaya dengan kain sarung motif batik Madura yang khas sebagai bawahannya, berkata, “Kalau dihitung-hitung, ada sudah kalau duapuluh sembilan tahun...”

Enteng saja ia menjawab begitu, seolah rentang waktu sepanjang itu baru dijalani kemarin sore. Selebihnya, saya gagal mendapati beban berlebih di wajahnya. Benarlah adanya, keikhlasan adalah peringan dari segala beban.

Bisa saja orang menilai omset dari berjualan bubur untungnya tak seberapa, tetapi kesetiaan mengelutinya hampir separuh umurnya paling tidak menjadi bukti, bahwa ada keberkahan rezeki dari ikhtiar yang ia lakoni selama ini. Secara rupiah mungkin memang tak seberapa, tetapi bukankah rezeki tidak melulu berupa uang? *****



Rabu, 11 Desember 2013

Basa Basi


SECARA pasti saya tidak tahu arti dari kata basa-basi. Saya tidak punya kamus untuk mencari itu. Juga, saya belum pernah mendengar hal itu diudarakan jaringan radio Suzana pada program Ini Sebenarnya. Sesuai pemahaman saya, basa-basi adalah kata sifat yang berarti tidak sungguh-sungguh atau semata sebagai 'pemanis buatan'.

Makanya, ketika sebuah produk rokok mengaku sebagai yang pertama bermain di jenis Mild, yang paling rendah kandungan tar dan nikotinnya, ia memakai Bukan Masa-basi sebagai tagline-nya. Itu menandakan ia sungguh-sungguh dalam hal itu. Walau sekarang ia lebih sering beriklan dengan Go A head sebagai slogan baru, sungguh Bukan Basa-basi tetap saja diingat orang.

Banyak sekali basa-basi yang umum digunakan orang. Misalnya, ketika tamu pamitan pulang, tidak jarang tuan rumah mencegah dengan bilang, “Kok buru-buru amat.” Padahal bisa jadi sejatinya hatinya girang. Atau, “Wah, belum dibikinkan kopi kok sudah mau pulang,” padahal, di dapur sama sekali tak ada gula-kopi, sekaligus air saja belum dijerang.

Juga, ketika malu di hari raya didahului saudara tua bertamu ke rumah kita, basa-basi yang terjadi adalah, “Ini tadi baru akan berangkat ke rumah Sampeyan, wah bisa-bisa tadi kita salipan di jalan,” padahal sedari tadi ngendon sarungan di rumah karena baju kesayangan masih basah karena semalam kehujanan.

Begitu ampuhnya si basa-basi ini, sampai-sampai orang yang selamat dari kecelakaan motor pun sering memakainya. “Untung saya masih sempat salto dan meloncat tinggi-tinggi, Kalau tidak, entah sudah jadi apa saya,” Padahal yang terjadi sebenarnya adalah ia terlempar jauh karena kerasnya benturan.

Suatu hari, di hari raya ketupat, saya bertamu ke satu keluarga yang secara lokasi tidak jauh dengan sekolah saya dulu, yang di rumahnya saya sering bermain dalam rangka bolos sekolah. Lama bercengkerama , di dapur saya dengar ada suara mempersiapkan hidangan. Secara reflek perut saya kegirangan. Tetapi, belum ada tanda-tanda saya segera dipersilakan untuk makan.

Maaf, karena sudah lama jagongan, saya mau pamit pulang.”

Kalimat yang saya ucapkan barusan, sungguh berisiko menuai kegagalan. Iya kalau saya dicegah dan segera diminta lebih dulu makan sebelum pulang, lha kalau dibiarkan, bisa-bisa perut saya yang sudah kadung senang akan dilanda kekecewaan.

Untungnya basa-basi saja tadi termasuk jitu. Yang karenanya saya bisa segera makan ketupat berlauk opor ayam secara gratisan. *****

Selasa, 10 Desember 2013

Modus Penipu di Dalam Bus



KARENA pekerjaan, saya penah berbulan-bulan, saban hari naik bis Surabaya-Pandaan PP. Kala itu belum ada arteri baru Porong yang terbukti mampu meringankan beban jalan raya Porong. Waktu itu kemacetan sungguh mengerikan. Berangkat macet, pulang pun setali tiga uang. Bagi pengguna jalan, ketika itu raya Porong sungguh semenakutkan sesosok pocong. Untuk jurusan Malang, mulai Tugu Kuning laju kendaraan sudah seperti kura-kura. Kalau yang dari arah Malang, sejak Mojorejo macet-cet sudah sangat tidak jarang. Ini, adalah salah satu dampak dari luapan lumpur Lapindo yang tidak hanya mengubur kuburan, lahan pertanian, permukiman-perkampungan, pabrik-pabrik, namun juga menenggelamkan jalan bebas hambatan.

Suatu sore, bis Tentrem yang saya tumpangi gagal memberi rasa tentram. Jalanan yang luar biasa macet membuat semua penumpang berkeringat. Makanya, selepas dari itu, saat bis masuk ke mulut Tol Porong, semua penumpang merasa plong. Namun, di saat kami ingin menikmati perjalanan lanjutan ke Purabaya, kicau burung membuat suasana yang berangsur tentram menjadi kembali terusik.

Oh, rupanya ada seorang ibu membawa burung dengan hanya dibungkus  kertas bekas wadah semen dengan memberinya beberapa lubang. Suara ‘burung’ itu sungguh menawan. Tidak hanya berkicau, ia juga bisa menirukan Pancasila, ber-assalamualaikum bahkan mampu pula bersholawat badar. Jan edan tenan!

‘Sandiwara murahan’ yang kemudian dipertontonkan adalah, dialog antara ‘seorang penumpang’ dengan si ibu itu yang ujung-ujungnya berlanjut ke tawar-menawar. Tidak hanya seorang, ada beberapa ‘penumpang’ lain yang ikut meramaikan transaksi. Salah satu dari suara penawar itu sepertinya saya kenali. Makanya saya agak melongok untuk mencari tahu benar tidaknya. Dan benarlah adanya; lelaki gempal berkacamata hitam dan bertopi itu adalah seorang kawan lama. Dulu ia bekerja benar, kenapa sekarang ia terlibat dalam sandiwara berlakon burung di atas bis?

Ia manatap saya, dan kedipan matanya itu saya artikan agar saya tidak membongkar sindikat dengan modus yang sudah sangat tidak menarik itu. Saya ikuti saja maunya, sekaligus saya berdoa agar tidak ada penumpang yang tertipu ulah kawanannya. Syukurlah, doa saya dikabulkan Tuhan. Komplotan itu turun di Medaeng dengan tangan hampa.

oOo

Jumat sore (6 Desember kemarin), bersama Ayah dan Ibu saya berada dalam kabin bis Kuda Laut jurusan Jember-Banyuwangi. Bis sudah keluar terminal Tawangalun tapi masih ngetem di pinggir jalan. Di saat begitu, dari pintu belakang masuk dua orang lelaki. 

“Mana karcismu kalau memang kamu penumpang operan?” tanya lelaki pertama.

“Hilang bersama tas saya yang raib kebawa bis yang tadi,” lelaki kedua menjawab.

“Lalu, kamu ikut bis saya ini mau bayar pakai apa?” oh, rupanya lelaki pertama itu kebagian peran sebagai kru bis ini.

“Semua uang saya hilang, Pak. Saya hanya punya ini...” ia melepas jam tangannya yang berwarna kuning keemasan.

“Sini lihat,” lelaki pertama berkata. “Oh, ini jam mahal ini. Ini buatan Saudi, mengandung emas ini. Berapa ini kamu akan jual?”

“600 ribu sajalah, Pak. Asal bisa buat sangu  pulang. Padahal dulu, ini saya beli di Saudi kalau dirupiahkan setara dua setengah juta.”

Dialog berlanjut dengan inti agar ada penumpang beneran yang tertarik membeli karena lelaki pertama itu berlagak sejatinya pingin tapi kebetulan pas tidak punya uang.

Begitulah ulah para penipu di dalam bis. Dengan skenario yang monoton, dengan orang itu-itu juga yang memerankan, mustahillah awak bis tidak tahu. Tetapi kenapa mereka memilih diam, tentu ada alasan yang bisa disampaikan. Walau karena diamnya itu, bisa pula memunculkan kecurigaan yang bukan-bukan. Misalnya, para awak bis ikut pula kebagian.

“Kami tahu, tetapi bisa apa?” seorang awak bis saya dengarkan saat terlibat pembicaraan dengan seorang penumpang, di bangku sebelah saya. “kalau kami halangi aksi mereka, bisa-bisa kami yang celaka. Kalau tidak ban kami digembosi, kaca dipecah atau bentuk sabotase lain yang kami tak ingin alami...”

Seperti halnya komplotan ‘burung palsu’ yang gagal menggaet korban yang saya lihat dulu, penipuan ala penjahat terminal Tawangalun itu pun tanpa hasil ketika turun. 

Sama halnya tidak gampang membedakan mana pencari sumbangan beneran dan pengumpul sumbangan untuk dimakan sendiri yang mendatangi korban secara door to door, orang kehilangan beneran dan yang pura-pura kehilangan pun demikian. Sepertinya, makin sekarang, makin tak karuan pula cara orang dalam mencari makan. *****


Sabtu, 09 November 2013

Baju Pahlawan



PADA pagar besi pembatas jalan di Wonokromo, Surabaya, saya dapati berjajar lumayan rapat sang merah putih melambai-lambai ditiup angin. Kehadirannya, sungguh menjadi penyejuk di antara kibaran bendera lain milik partai-partai politik yang bulan-bulan belakangan ini mulai ramai menghiasi aneka sudut kota. Bukan hanya bendera, terpampang juga bermacam baliho bergambar tokoh-tokoh yang sedang ‘menjajakan diri’ agar dipilih pada Pemilu legislatif nanti. ‘Jujur, bersih dan berani’, ‘Muda, Ulet dan Pro Rakyat’, ‘Bekerja untuk Sejahtera’ dlsb. Kata-kata itu tertera sebagai pemanis buatan di bawah foto yang dibikin semenjual mungkin. Untuk slogan terakhir, sepertinya patut diperjelas: untuk kesejahteraan pribadi atau kesejahteraan rakyat?

Kembali ke jajaran bendera merah putih yang menghiasi jalanan;

Jumat, 08 November 2013

Panggilan Tu(h)an

DENGAN nyaris tak seorang pun yang tidak memiliki ponsel, lazim ditemui di dekat pintu atau di bagian tiang masjid ditempel himbauan agar orang mematikan perangkat itu bila masuk ke masjid. Tidak cukup sampai disitu, sebelum sholat jamaah dimulai, pihak takmir bahkan perlu mengulang anjuran itu lewat pengeras suara.

Sekali pun begitu, beberapa kali saya dapati dalam sholat Jumat, suara ponsel maraung di saat sholat sedang berlangsung. Dan dering itu makin terdengar nyaring dalam suasana yang hening. Sebagai kambing hitam, tentu bisa saja dialamatkan kepada penelepon yang tak tahu diri menelepon disaat shalat Jumat. Tetapi, entah lupa atau apa (atau karena datang telat disaat iqomat sudah lewat), sehingga tak mendengar himbauan takmir, seseorang itu tak mematikan ponselnya. Efek dari itu, tentu saja, bukan hanya si empunya ponsel yang bisa jadi kehilangan konsntrasi, jamaah semasjid pun ikutan kurang khusyu'.

Itu yang sengaja. Lain lagi ceritanya bila disengaja. Memangnya ada?

Selasa, 05 November 2013

Arisan Hompimpah



PERNAH saya membaca sebuah tulisan yang mengangkat tentang rujakan dan arisan sebagai dua hal yang hanya ada di Indonesia. Penulis perempuan itu (sayang sekali saya lupa namanya), mengisahkan teman-teman bulenya di negeri seberang begitu heran ketika diterangkan apa itu rujakan dan arisan.

Tentang rujakan, penjelasan akan lebih sempurna manakala disertai contoh sebagai bukti nyata. Dan nyatalah adanya ketika si rujak itu jadi dan para bule itu mencicipi. Wajah yang sudah merah makin merah saat lidah mereka tersentuh pedasnya rujak. Tak biasa makan pedas, mencocol irisan mangga ke sambal membuat liur mengucur deras.

Sekalipun tak segila rujak, tentang arisan pun sulit diterima akal mereka. Untuk apa, pikir mereka, sekadar mengumpulkan uang dari sejumlah orang dalam satu kumpulan, lalu ketika semua sudah terkumpul, sebuah botol yang tutupnya dilubangi dan di dalamnya berisi lintingan kertas berisi nama para anggota, dikopyok untuk menentuka siapa yang dapat arisan.

Bagi para bule, arisan itu adalah sebuah hal yang kurang praktis. Kenapa uang itu harus dikumpulkan di satu tempat? Kok tidak langsung ditransfer saja ke rekening si pemenang? Kenapa harus dikopyok untuk menentukan pemenang?

Penjelasannya begini;

Kamis, 31 Oktober 2013

A m p l o p



MALAM saat membuat tulisan ini, saya baru pulang dari menghadiri sebuah undangan. Bulan Dzulhijjah begini ini, undangan yang datang silih berganti. Kalau bukan walimatul khitan, ya walimatul arusy. Benar sih, dalam acara walimahan itu, kami para undangan hanya sebagai pendengar saja. Begitu datang, ada terima tamu yang setelah salaman akan memberi sekotak kue dan segelas air mineral. Itu adalah bekal dalam mengikuti rangkaian acara yang durasinya bisa agak lama.

Dalam walimahan, sambil menunggu acara inti –biasanya mauidhoh khasanah--, ada grup banjari yang menyenandungkan puji-pujian untuk Baginda Nabi. Setelah acara inti, ditutup doa. Sudah? Belum. Sekalipun doa disebutkan oleh pembawa acara sebagai acara penutup, tetapi bukan berarti sudah tidak ada lagi acara yang lain. Masih ada. Dan ini lebih inti daripada yang inti. Yakni; acara makan. Bahkan selesai makan pun masih ada lanjutannya; pembagian berkat (biasanya berisi nasi lengkap dengan lauknya plus kue dan sebutir buah).

Begitulah, selain hanya meluangkan waktu, tak ada pengeluaran sama sekali dalam menghadiri acara walimahan. Tetapi, sehari setelah walimahan (tetap di tuan rumah yang sama), lain lagi ceritanya. Datang bukan sekadar datang. Iya sih, dalam undangan disebutkan memohon kehadiran untuk mohon doa restu. Namun dalam praktiknya tidak begitu. Harus bawa amplop yang di dalamnya diisi uang sekian puluh ribu rupiah untuk disalam-tempelkan kepada shohibul hajjat.

Dengan undangan yang bertubi-tubi,