Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 April 2023

R-4

SECARA itungan, rumah saya di Surabaya jaraknya terbilang relatif tak jauh dari bandara Juanda. Sedangkan tujuan mudik saya di Jember, sudah juga punya bandara. Maka, untuk pulang kampung naik pesawat sungguh tiada kendala berarti. Kecuali, berat bagasi yang tentu dibatasi. Tak mungkin saya memasukkan dua ekor Vario ke dalam tas koper. Karena tas saya bukan seperti milik Doraemon. Alasan berikutnya, karena pesawat tujuan Jember bukanlah sejenis Antonov.

Baiklah. Akhirnya saya putuskan lewat jalur darat saja. Pakai roda empat. Alias duo Vario.

Jalanan sepi. Kalaulah dibuat catatan perjalanan, tiada bumbu yang agak menyengat. Nyaris hambar. Kecuali di Tukum. Setelah menyalip laju bis Ladju dan sebuah truk sekelas Dyna, motor saya oleng. Ban depan gembos. Dengan teknik menepi yang ugil-ugil, saya bersyukur tidak punya bakat (baca: nyali) untuk ugal-ugalan. Karena, konon, bila roda depan angin ngowos dan gembos di kecepatan tinggi, niscaya bisa menyebabkan gulung-koming.

Bersyukurnya lagi, di seberang tempat saya menepi, ada tukang tambal ban --yang walaupun sudah tutup, mau membuka lapaknya kala dibilangi ibunya (yang buka warung kopi di sebelahnya), kalau saya sedang membutuhkan jasanya.

Beres. Dengan ongkos yang ramah di kantong. Selembar uang kertas nominal sepuluh ribuan ditukar dengan menambal ban plus menata selembar ban dalam yang telah digunting melebar, yang diharapkan berfungsi sebagai pelindung bagi ban dalam depan, yang ban luarnya batiknya sudah nyaris plontos. Tetapi, "Ini sudah waktunya ganti. Luar dalam", kata lelaki asal Bangkalan yang lebaran ini tidak mudik, dan baru akan 'toron' saat Idul Adha nanti.

Sambil meneruskan mudik, tolah-toleh bengkel: semua ramai, semua penuh. Okelah, nanti saja. Yang penting sampai rumah dulu, urusan ganti ban bisa belakangan.

Saya lupa, hari lebaran adalah juga hari liburan bagi bengkel. Tetapi apa salahnya dicoba. Lepas tengah hari, di hari H hari raya. Semua tutup. Baik bengkel resmi maupun resmi bengkel. Di depan tertulis, buka 26 April 2023. Arang saya belum patah. H+2 perburuan saya lanjutkan. 

Beberapa bengkel di Gumukmas tutup. Lanjut ke Kencong. Oh, kok juga pada tutup. Lanjut. Pelan-pelan. Ada umbul-umbul Ahass di depan sana. Dan bengkelnya buka! Saya baru kali ini mendapati pengalaman batin (halahmbel!) tentang makna filosofis dari One Heart. Satu Hati. Saya merasa, sebagai orang yang tak bisa ke (se)lain Honda, ini benar-benar makna lain dari yang Semakin di Depan milik kompetitornya itu.

Saya masuk. Didaftar. Dapat nomor urut 6. Pada pit 3 tertanda nama saya. Oh, alangkah betapanya. Sudah di-spesialkan rupaya. Sampai tertulis nama saya. Oh, tidak, tidak. Ataukah ini sebagai pertanda, betapa pasarannya nama saya.

Operasi penggantian ban depan luar-dalam di atas pit nomer 6 langsung dilaksanakan. Mas Edy yang nangani. Ngobrol ringan dengannya, laksana jeruk minum jeruk. Edy ketemu Edi.

Diselingi obrolan seputar pervarioan, tahu-tahu operasi selesai. Tahu-tahu Mas Edy menunjuk meja kasir saat saya tanya berapa biayanya. Tahu-tahu hampir seperempat jeti biaya untuk itu. Dan ini belum masuk dalam anggaran mudik. Ini dia, penggantian ban luar dalam yang serta-merta menggerogoti saku saya, juga luar-dalam.

Tapi tunggu dulu. Seperti halnya semua kecap, keselamatan (berkendara) adalah juga nomor satu. ****

Rabu, 22 Februari 2023

PIN Google AdSense, 6 Angka Keramat

SEPERTI halnya awal ngeblog, saya mainan Youtube mulanya juga asal saja. Tentang ini tentu bisa dilihat dari posting awal di kanal saya. Sama sekali tiada istimewanya. Tiada konsep yang jelas, tiada pula jadwal upload yang rutin. Pokoknya sesukanya saja.

Sama halnya (sekali lagi) postingan saya di blog, kok yang mengintip dan berkomentar lumayan ada saat saya membahas tentang televisi. Padahal, terus terang, saya ini sama sekali tidak bisa elektronika, pula tak ada latar belakang begituan. Belajar tracking sinyal satelit lewat baca-baca atau nonton Youtube. Demikian pula mencari sinyal tv digital. 

Baiklah, lalu saya bikin konten di kanal Youtube saya sebagian besar membahas tentang siaran televisi. Toh, ini 'hanya' mengubah mediumnya saja. Bahasannya sama: televisi. Hanya yang awalnya berbentuk tulisan di blog menjadi berbentuk audio-visual yang disebarluaskan melalui platform digital yang namanya Youtube.

Secara usia saya ini sudah tidak muda, namun secara Youtuber saya ini baru anak kemarin sore, pemula sekali. Alhamdulillah secara jam tayang dan secara jumlah subscriber sudah memenuhi syarat untuk dimonetisasi.

Norek bank, ID, dan alamat domisili sudah saya kirim. Semua sudah diverifikasi, kecuali alamat saja yang belum terverifikasi. Tentang ini harus menunggu kiriman surat sakti berisi 6 angka keramat: PIN Google AdSense yang kemudian harus diisikan pada form di akun Google AdSense saya.

Menunggu datangnya itu rasanya melebihi menunggu datangnya belanjaan online yang tak kunjung datang. Bedanya lagi, belanjaan online kita bisa lacak sudah sampai mana berdasar nomor resi. Lha si PIN Google AdSense ini dikirim dari negeri jiran Malaysia tanpa disertai nomor resi. Bagaimana melacaknya coba! Dan bagaimana pula kalau surat itu nyasar ke rumah Kak Ros atau Abang Saleh di Kampung Durian Runtuh?

Terhitung dua kali saya ke kantor pos untuk mengambil (mungkin tepatnya mencari tahu) surat dari Google AdSense itu. Hasilnya: zonk! Dicari oleh petugas di ruang ekspedisi, kiriman untuk saya itu tidak, eh belum datang ding!

Sebelum meninggalkan kantor pos, saya meninggalkan nomor telepon kepada petugas pos yang biasa menangani kiriman Google AdSense. Agar bila si PIN AdSense itu datang, bisa mengabari saya. 


Lebih lima purnama tiada kabar. Sejak belum musim lato-lato sampai selesai sidang tingkat pertama kasus Sambo. Belum ada pemberitahuan dari kantor pos. Sampailah kemarin siang kabar itu datang. Via WA, petugas pos berkirim pesan, juga ada disertakan foto amplop berlogo Google untuk saya: bahwa kiriman dari Malaysia itu sudah tiba. Urrraa...‼️

Secara pemberitahuan via email, sebenarnya surat dari Google AdSense ini adalah yang kedua. Yang pertama dikirim tanggal 23 September tahun 2022 kemarin. Sampai empat bulan belum juga datang. Nah, yang saya terima barusan ini adalah kiriman tertanggal 23 Januari 2023.


Tak mau mereka-reka surat pertama itu nyasar ke Kak Ros atau siapa, saya bergegas membuka. Merobek sampulnya, dan menemukan 6 angka keramatnya. Sat-set das-des saya masukkan ke akun Google AdSense saya. Clink, lengkap sudah. IDV dan alamat saya langsung terverifikasi.*****



Kamis, 18 Agustus 2022

Farel Prayoga dan Fenomena Lagu Dewasa oleh Anak-anak

banyak nyamuk di rumahku
gara-gara aku 
malas bersih-bersih

Salain lagu itu, ada juga yang ini:

semut-semut kecil
saya mau tanya
apakah kamu di dalam tanah
punya mama-papa

Atau;

diobok-obok airnya diobok-obok...

Ingat syair lagu itu?
Baiklah. Namun sekarang, entah saya yang kurang perhatian atau apa, makin jarang anak-anak punya lagunya sendiri, ya lagu anak-anak. Ataukah memang tak ada lagi pencipta lagu macam Papa T. Bop yang dulu produktif menciptakan lagu anak-anak yang sesuai dengan umur anak-anak. 

Kini?
Anak-anak 'diobok-obok' lagu dewasa, yang trenyuhnya, dinyanyikan oleh anak-anak dengan riang gembira. Ya semacam lagu cinta-cintaan. Anak-anak menyanyikan (atau sekadar  mendengar ---tapi sering-- lagu-lagu macam itu) jangan-jangan membuat anak-anak mengalami pendewasaan dini. 

Kambing paling hitam yang patut ditunjuk batang hidungnya adalah gawai, gadget. Perangkat mungil tapi bisa menampilkan apa saja, kepada siapa saja. Termasuk fenomena anak bernama Farel Prayoga.

Rabu, 04 Mei 2022

Mudik

SEPERTI biasa, saya mudik lebaran di hari ke dua. Hari pertama masih harus kerja. Bahkan kemarinnya, di malam takbiran, juga masih harus piket. 

Namun, setelah dua kali lebaran pemerintah membuat pembatasan, pun untuk urusan mudik dan juga sholat id, kali ini: brol. Dilepaskan. Maka di televisi saya lihat orang terpaksa sampai bermalam di pelabuhan penyeberangan, saking antrenya. Saking membludaknya pemudik.

Sebelumnya, demi mudik ini, apapun dilakukan. Termasuk dijus pakssin buster. "Tapi di perjalanan sama sekali tidak ada ditanyakan. Juga di penyebetangan", kata teman saya yang mudik ke Singaraja.

"Selamat, sampeyan kena prank. Wkwkwk," goda saya.

 
Istri dan anak-anak saya ajak istirahat
sejenak di 'hotel Merah Putih'.
Maaf, wajah saya diwakili oleh
penampakan helm saja.😊


Saya juga mudik, tapi tak sejauh para pemudik yang dengan riang menulisi bagian belakang kardus bawaannya dengan aneka tulisan genuine dan lucu, walau ada pula yang wagu. Ada yang Jakarta-Sragen, atau mBogor-Purwodadi. Saya dekat saja. Ke nJember. Tapi, baiklah, saya akui. Pinggang dan pantat saya bukan muda lagi. Menempuh jarak mudik yang hanya 200 km kurang dikit itu, berkali-kali harus menepi. Mendinginkan pantat. Sekaligus ngeluk boyok, terlentang di bangku warung yang sedang tutup, ditinggal pemiliknya libur lebaran.

Perjalanan mudik saya kali ini (pakai roda 4, tapi terpisah, jadi dua) terbilang lancar. Setidaknya dari Surabaya sampai Leces. Karena selepas pertemuan antara yang keluar dari pintu tol dan yang dari jalur arteri, barulah ada sedikit tersendat. 

Saya juga agak senang. Pasar Gedang Lumajang belum ada aktifitas berarti. Artinya kemacetan di situ belum terjadi. Padahal kalau pasar sudah normal, macetnya juga ampun-ampun. Namun, apakah lalu kalau itu nyaris saban hari terjadi, bisa dianggap kenormalan belaka? Sampai ada di antara pengguna jakan menilai ada unsur pembiaran atas situsasi itu. Pembiaran terhadap para pedagang yang lebih suka berjualan di tepi jalan dan enggan melakukannya di dalam pasar. Sekaligus pembiaran arus lalu lintas tersendat dan cenderung macet dan secara tidak langsung mengajak kita untuk mafhum. Ah, embuhlah.

Sekarang musim mudik. 

Tapi mudik harus tetap prokes, alah mbel apa? Jangankan manut anjuran halal bi halal boleh asal meniadakan makan bareng dan ngobrol, lha wong di kampung saya pakai masker saja sudah tiada temannya. Kecuali anak istri. Pokoknya di desa sudah los dol.

Kalau sudah begitu, apa ya tega tak menyambut uluran tangan sanak saudara dan para tetangga untuk saling salaman? Ndak-lah. Sekarang idul fitri. Saat tepat bermaafan. Lahir-batin.*****


Senin, 02 Agustus 2021

Kampung Bendera Surabaya

KALAU di Rungkut ada Kampung Kue dan di Tenggilis ada Kampung Tempe, maka di Darmorejo, di ujung jalan Darmokali arah Wonokromo, ada Kampung Bendera. Dan kemarin sore, saya sengaja mampir kesitu.

Bu Cici sedang menjahit pesanan hiasan
tujuhbelasan di lapaknya.

Melihat geliat aktifitas yang marak. Maklum, telah masuk bulan Agustus. Aneka pernak-pernik tujuhbelasan ada dijual disini. Mulai umbul-umbul, bendera aneka ukuran, tiang bendera, lampu kelap-kelip dan sebagainya.

Tidak hanya tersedia barang jadi, namun ada beberapa perajin pernak-pernik yang sekalian mengusung peralatan jahitnya di lapaknya. "Iya, kami juga menerima pesanan. Ini saya juga lagi menjahit barang pesanan", Bu Cici, salah satu perajin pernak-pernik yang menggelar dagangannya di kios sederhana di tepi jalan Darmokali, menjelaskan saat saya tanya.

Iya memang, demi estetika dan agar telihat makin cantik, ketika menghias meja resepsionis sebuah hotel, misalnya. Tentu akan lebih manis kalau pernak-pernik tujuhbelasannya dipesankan. Bukan beli jadi. Agar ukurannya bisa pas. Bisa proporsional dengan ruang atau bidang yang akan dihias.

Agustusan tahun ini adalah Agustus kedua di tengah masa pandemi. Dengan ekonomi yang makin sulit, pembatasan kegiatan, serta aneka dampak pageblug Covid lainnya, ternyata animo masyarakat untuk belanja pernak-pernik tujuhbelasan tidak pudar.


"Mulai kemarin alhamdulillah sudah ramai", sambil menjahit, Bu Cici menerangkan. "Agustus tahun lalu penjualan juga bagus".

Si Covid memang ada. Dampaknya pun demikian. Namun, melihat geliat KampungBendera, dengan segala dinamikanya, saya menemukan secercah cahaya. Bahwa, ketika orang-orang masih berbelanja bendera dan atau pernak-pernik merah-putih lainnya, tentu itu yang akan dikibarkannya. Sang dwi warna. Merah-putih.

Bukan malah hanya mengibarkan kaih putih. Menyerah. 

Tujuh puluh enam tahun sudah Indonesia merdeka. Semoga, tak lama lagi kita juga segera terbebas dari cengkeraman si Corona. 

Merdeka !!!*****


Sabtu, 17 Juli 2021

Kontak Erat dan Cita-cita yang Tercapai

SECARA amatiran, saya ini mengamati hal-ihwal tentang televisi. Hanya untuk ditulis di blog. Juga -belakangan- saya jadikan content di kanal YouTube  (πŸ‘ˆ kalau mau ngintip video-video saya, silakan di-klik setelah selesai membaca artikel ini😊). Namun, hari-hari ini saya puasa nonton tivi. Terlebih tv berita, kalau nonton Upin-Ipin dan Sopo-Jarwo sih masih sesekali. Pasalnya, saat ini Covid-19 makin menggila.

Apa hubungannya?

Saya kesal, juga was-was. Setiap melihat berita tentang si Corona. Mengonsumsi berita begituuuu... terus secara berlebih, bisa turun dong imun tubuh. Iya, sih. Masih ada titik terang di lorong gelap nan panjang ini. Tentang vaksinasi, misalnya. Namun itu sering tertutupi oleh berita kengeyelan banyak orang yang tak percaya si Covid ini ada dan nyata! Ikutan berikutnya adalah abai akan prokes.

Walau kesal, tentu saya -sambil menarik napas dan mengelus dada- paham: ini nyaris seperti perkara keyakinan! Dan karena beda keyakinan, saling kesal diam-diam tersurat sedang terjadi dalam penyikapan ini. (Ohya, yang juga pelik adalah; mau tak mau ini juga menyangkut urusan perut).

Ada yang dari awal percaya, sekarang makin percaya (sekaligus makin kesal dengan kelompok yang tetep ngeyel tak mau patuh prokes). Kelompok kedua adalah yang tadinya, dengan berbagai dalih, kurang percaya kalau Covid itu ada dan nyata, setelah melihat realita di lapangan (RS penuh, korban terus bertambah dll.) baru sekarang sudah mau percaya. Sekaligus ikut rebutan antre vaksin. Berikutnya ada kelompok yang ketiga: yang dengan berbagai argumen tetap keukeuh berkeyakinan kalau Covid ini tidak ada!

Kamis, 26 November 2020

Kecanduan

HARI-HARI belakangan ini, saya sedang agak geregetan kepada Ibu Negara. Gara-garanya ia kecanduan lagi. Rajin nonton sinetron lagi. Sesuatu yang saya tidak suka sejak dulu.

Saat hamil anak pertama dulu, ia kecanduan nonton sinetron Misteri Gunung Merapi. Saya menjadi was-was juga.  Dengan alasan, iya kalau  anak kami nanti lahir seperti Sembara, kalau lahir laksana Basir bagaimana. Kerjaannya makan melulu. Itu pun masih mending. Kalau menjadi seperti Grandong bagaimana?

Saya memang hanya bisa geregetan. Tidak lebih. Karena untuk apa kesukaannya yang tidak saya sukai itu dijadikan pemicu 'perang'? Toh Ibu Negara nonton sinetron selepas semua 'tugas kenegaraan' di sumur, dapur dan kasur telah diselesaikan dengan sempurna. Itu pertama.

Kedua: jangan-jangan sebenarnya ia juga kurang suka saat saya nonton talkshow politik yang sering mengaduk-aduk emosi saya itu. Atau saat saya nonton pertandingan tinju, atau sepakbola.

Atau juga, diam-diam saat larut malam, dan Ibu Negara sedang pulas dibuai mimpi, saya malah sedang asyik berbalas obrolan (yang sering sama sekali bukan percakapan penting dan hanya nggedabrus tentang hal remeh-temeh belaka) dengan teman lama via grup wasap. ****

Minggu, 28 Juni 2020

Lathi Bahasa Jawa Kuno?

SEHARIAN ini beberapa kali saya menyimak lagu Lathi. Sebelumnya saya hanya mendengar secara tidak sengaja. Saat anak saya mainan TikTok. Awalnya, jujur, saya tidak tahu itu lagu siapa. Lebih jujur lagi, saya menyangka itu lagu dari penyanyi manca negara. Ternyata oh ternyata, saya yang kudet. Kalah sama bocah generasi TikTok.

Mumpung sempat, saya cari tahu siapa di balik Lathi. Selain Sara Fajira, saya temukan Eka Gustiwana. Nama yang saya konotasikan sebagai sosok  muda yang kreatif. Yang pernah menggubah (atau mengubah) dialog saat debat capres menjadi lagu. Atau merekam segala bunyi aktifitas di bandara (langkah kaki pramugari, suara mesin pesawat dlsb) menjadi karya musik yang indah di telinga. Beberapa kali pula saya lihat di Youtube penampilan Eka meng(g)ubah jingle banyak iklan menjadi satu kesatuan lagu yang enak didengar.

Di Weird Genius itu, selain Eka Gustinawa, ada Reza Arap (pakai P, bukan B) dan Gerald. Siapa mereka, sepertinya Anda lebih tahu daripada saya. Pun demikian tentang Sara Fajira.

Dalam sebuah obrolan dengan Pak Ganjar Pranowo, Sara mengungkap bahwa ialah yang memasukkan syair berbahasa Jawa yang salah satu katanya dijadikan judul lagu; lathi.

"Saya mengambil dari istilah peribahasa Jawa kuno", begitu jawab Sara saat ditanya Pak Ganjar seperti saya lihat di kanal Youtube Pak Gubernur Jawa Tengah itu, tentang inspirasi dibalik Lathi.

Rabu, 03 Juni 2020

Meramal New Normal

KANG KARIB, ketika masih kecil, saat sandal jepitnya putus dan bilang ke orang tuanya, cerita selanjutnya sungguhlah lumrah. Tepatnya lumrah dan normal di zaman itu. Yakni, bukan lalu dibelikan sandal jepit baru, namun dicarikan peniti atau paku. Lalu ditusukkanlah paku atau peniti itu ke bagian srampat sandalnya yang putus. Beres. Sandal bisa dipakai lagi.

"Itu lak zaman doeloe, Kang", Mas Bendo mengomentari cerita itu. "Coba anak sekarang, mana mau mereka pakai sandal jepit 'berpenangkal petir' begitu".

"Begitulah, nDo. Setiap zaman mengandung kelumrahannya sendiri".

Lalu Kang Karib menukil contoh termutakhir. Akibat Covid-19. Yang orang dianjurkan untuk jangan salaman dulu. Selalu pakai masker. Tentu saja ada yang manut, ada yang ngeyel. Lazim. Namanya juga homo sapiens. Nah, sampai kapan harus begitu? Harus jangan salaman, harus selalu bermasker?

Para orang pintar pun belum tahu kapan pageblug ini akan game over. Kapan pandemi ini berakhir. Nah, jangan-jangan orang kemudian keterusan tidak suka salaman dan kemana-mana dengan penutup mulut.

"Lha lak tambah bagus to, Kang", sahut Mas Bendo. "Orang menjadi makin sadar jaga kesehatan".

"Itu lak kalau maskeran, nDo. Maksudku kalau keterusan tidak mau salaman piye?".

"Aku juga lagi mikir, Kang."

"Mikir opo?"

"Mikir konsep rumah", jawab Mas Bendo. "Rumahku kan kamar mandinya di belakang. Di dekat dapur".

"Lho lak normalnya memang gitu kan, nDo?" sela Kang Karib.

"Itu lak normal cara lama, Kang. Kalau normal gaya baru, yang dibilang orang dengan kata 'keminggris' New Normal itu, bisa beda, Kang."

"Beda piye jal?"

"Sekarang orang kalau dari keluar rumah, dari berbelanja atau pulang bekerja, kan harus bebersih badan dulu. Mandi, ganti baju, baru boleh bercengkerama dengan orang rumah. Lha kalau kamar mandinya di belakang, lak sudah kadung masuk rumah, penyakit bisa keburu ngikut masuk".

"Jadi?"

"Menurut ramalanku, selain harus selalu menerapkan segala protokol kesehatan yang sekarang umum dikampanyekan, di rumah-rumah, jedhing atau kamar mandi, nantinya tempatnya tidak 'disembunyikan' di belakang seperti selingkuhan. Tapi di depan, di dekat halaman".****




Senin, 11 Mei 2020

Waswas Tes Swab (2)

RESAH dan gelisah menunggu di rumah...

Kalimat pembuka barusan, saya tulis sambil melagukan tembang lamanya Obbie Messakh, Kisah Kasih di Sekokah. Dan keresahan serta kegelisaan oleh pageblug ini sungguh sangat berbeda dibanding resah-gelisahnya hendak bertemu kekasih. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Bertemu dan apalagi ketularan Covid-19, oh jangan sampai, jangan sampai.

Tetapi, pelbagai mitos yang sebelumnya sempat bertebaran di media sosial (dan celakanya, sempat juga dipercaya), bahwa si virus tak akan masuk ke negara kita --karena ini atau itu--, sungguh tak terbukti. Kini ia ada di sini. Di sekitar kita. Sesuatu yang kita harapkan jangan sampai, akhirnya sampai juga. Baiklah. Sekarang kita kubur saja mitos-mitos yang dulu sempat kita imani itu. Kita kubur dalam-dalam dengan protokol ketat dan diiringi doa agar kita tidak terkutuk menjadi keledai.

Soal lainnya adalah stigma. Bahwa orang batuk atau bersin saja, sekarang ini langsung dilirik orang. Terlebih saya ini yang kalau sudah kadung sakit batuk, susah sekali sembuhnya. Itu contoh ringan. Contoh lainnya adalah, ketika ada tetangga meninggal karena sakit panas dan sempat dirawat di RS, tetangga kanan-kiri langsung parno. Itu kena Korona, begitu kabar diedarkan.

Padahal untuk tahu seseorang kena Covid-19 atau tidak, tidak segampang itu. Harus ada tes. Dan bukan sekadar rapid test. Harus yang lebih akurat. Harus swab.

Oleh perusahaan, awalnya saya diarahkan melakukan tes swab di sebuah Rumah Sakit di dekat RS dr. Soetomo sana. Secara jarak relatif jauh dari rumah saya. Makanya, saya usul, agar saya bisa tes di RS yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya.

Minggu, 10 Mei 2020

Waswas Tes Swab (1)

SEBAGAIMANA pernah saya tulis, saya sudah agak menjauh dari mengikuti kabar tentang Covid-19. Menghindar dari paparan berita yang, menurut saya, sudah tidak baik untuk selalu saya konsumsi. Berita-berita tentangnya senantiasa lebih kepada sebarannya yang makin luas, dengan korban yang terus berjatuhan. Termasuk dari kalangan medis. Ada juga sih berita yang positif. Dalam artian berita yang menyulut harapan. Progres penemuan obat atau vaksin, ilmuwan dalam negeri yang berhasil membuat ventilator, perusahan plat merah bidang farmasi yang akan memproduksi massal alat test, pasien sembuh dan semacamnya. Tapi, berita model begini masih kalah (baik secara jumlah maupun gaung), dibanding berita-berita tentang penderita baru, korban baru dan hal-hal 'horor' lainnya dari Covid-19. Ya mungkin istilah bad news is good news masih jauh dari masa expired-nya. Paling tidak pada media-media kita. Paling tidak itu persepsi subjektif saya.

Menjauh dari paparan berita, bukan lantas saya abai akan kemungkinan terpapar Covid-19. Ini virus gila, menurut saya. Dan kadang saya merasa, kok ya mengalami pageblug modern ini. Dulu sih sempat dengar cerita dari orang-orang sepuh. Tentang pageblug, penyakit aneh yang ganas. Ibarat kata, bila terserang, pagi sakit sore meninggal. Sore sakit, malam meninggal.

Menyikapi kebaradaan Covid-19 ini, respons orang memang macam-macam. Tidak hanya kita orang-orang bawah. Kalau kita putar ulang, dan sekarang gampang sekali mengintip jejak digital seseorang, tidak sedikit pejabat pusat yang awalnya meremehkan. Tenang... Belanda masih jauh, begitu istilah peremehan ala ludruk.

Ada orang yang begitu negara tetangga kita kena langsung waspada, ada yang ketika ada orang Ibukota kena baru jaga-jaga, ada yang baru mak-jenggerat kaget saat tetangganya kena. Inilah yang tadi saya bilang, ini virus gila. Sudah tidak terlihat (namanya juga virus!), penularannya cepat. Pakai banget!

Jumat, 08 Mei 2020

K a r d u s

LEBARAN tahun ini sepertinya akan menjadi lebaran yang berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Bagi siapapun. Juga, bagi Kang Karib dan Mas Bendo.

Mudik memang telah dilarang oleh pemerintah. Tentang larangan yang semula serasa tegas kemudian mengendur, itu hanya soal rasa. Intinya, apa pun alasannya, Mas Bendo pingin mudik.

"Tapi kalau cuma mudik wong-wing thok tanpa bawa apa-apa, yo isin aku, Kang", ujar Mas Bendo.

"Isin karo sapa, malu sama siapa?", sahut Kang Karib. "Orang kan pada sudah tahu keadaan. Sekarang ini semua serba sulit".

"Gini lho, Kang. Ketika orang pergi dari kampung halamannya, itu kan sebabnya ada dua. Pertama, cingkrang, kekurangan. Kedua, wirang, malu."

"Kalau kamu, karena dua-duanya ya?", goda Kang Karib.

Mas Bendo nyengir.

"Lanjutkan!", kata Kang Karib.

"Jadi, atas dasar itu, mosok yo aku pulang dengan tangan hampa. Lak yo kewirangan dan kecingkranganku sungguh makin tak tertahankan lagi, Kang...".

Kang Karib tersenyum nggleges.

"Padahal aku sudah siap beberapa kardus untuk mudik ini. Tinggal isinya saja yang belum ada".

"Sik, nDo. Zaman sudah canggih gini kok mudik masih pakai kardus. Ganti pakai koper kek. Kan lebih mbois."

"Gini lho, Kang. Orang kampung macam aku ini, kalau mudik bawa koper itu menyalahi tradisi. Ngowa-ngowahi adat. Koper memang praktis. Tetapi secara filosofis, ia tidak akan bisa menandingi kardus", terang Mas Bendo dengan mulut sampai nyaris berbusa.

"Wik. Jebul kardus itu ada filosofinya juga to. Baru tahu aku. Piye jal filosofinya kardus itu?".

"Selain sebagai memanfaatkan limbah agar berdaya guna lebih lama, di dalam kata kardus terkandung makna; berkarya disertai doa selalu".

Sekali lagi Kang Karib mesem ngembang tebu alias nggleges.

"Sampeyan itu, dikandhani kok malah mesam-mesem. Coba sekarang, apa makna filosofis dari koper?" tantang Mas Bendo.

Kang Karib tertawa. Lalu mengeluarkan kata-kata, "Koper itu secara filosofis artinya, gara-gara pageblug Corona, kita ini hampir jadi koplak permanen." ****


Minggu, 19 April 2020

Lockdown Medsos

SEBAGAI yang gemar menikmati informasi sedari dulu, saat-saat ini saya sudah menginjak pedal rem untuk aktifitas tersebut. Ini berlaku untuk semua informasi yang disiarkan oleh media-media arus utama dari beragam platform. Misalnya, saya lebih sering nonton acara semacam Bikin Laper (TransTV) atau Tik-Tokan (NET.) daripada aneka program berita dari berbagai saluran di jam yang sama. Mungkin sementara saja. Sampai saya merasa situasi sudah kondusif. Sudah normal.

Apakah saat ini suguhan informasi disajikan secara tidak normal? Entahlah. Masing-masing kita terbuka peluang untuk tidak sependapat. Itu sah-sah saja. Bukan masalah. Kalaulah ada masalah, tentu lebih ke sikap individu. Selain sudut pandang, juga --menurut saya-- sudut ketahanan psikologis terhadap paparan informasi.

Wabil khusus, kalau saat ini adalah paparan berita pandemi Covid-19. Jumlah pasien baru, PDP, ODP dan korban meninggal selalu berisi angka-angka yang secara grafik saban hari senantiasa merangkak naik. Bagi sebagian orang, saya misalnya, hal tersebut bukan tidak mungkin, menaikkan pula rasa was-was, khawatir dan semacamnya. Ujungnya panik. Ujungnya lagi, konon katanya, malah kurang baik. Karena imun tubuh jadi ikutan turun. Padahal kalau imun tubuh turun, bla, bla, bla....


Rabu, 15 April 2020

Belajar Lewat Televisi

SALAH satu grup wasap yang 'terpaksa' saya ikut di dalamnya adalah grup walmur alias wali murid. Awalnya, sebelum pandemi Covid-19, grup itu sebagai jembatan informasi antara kami –para orang tua-- dengan guru di sekolah. Tentang tugas-tugas yang mesti dikerjakan anak-anak dan sejenisnya. Pendek kata, ia menjadi bentuk lain dari 'buku penghubung' yang sebelumnya digunakan.

Lalu datanglah pandemi ini. Yang membuat para murid sekolah 'dirumahkan', bukan diliburkan. Iya, bukan libur. Karena saban hari tugas sekolah selalu ada. Pelajaran dan soal dibagikan lewat; ya grup wasap walmur itu. Jadilah kini, kami –para orang tua-- menjadi sejatinya guru. Dan, disadari atau tidak, kadang menjadi 'guru' bagi anak sendiri saja agak makan hati. Bagaimana dengan guru yang asli, yang mendidik bukan anaknya sendiri, yang kadang anak-anak itu nakalnya yaaa gitu deh. Baiklah, saya mesti makin angkat topi dan memberi hormat lebih tinggi lagi kepada para pahlawan tanda tanda jasa itu.

Laporan ke Wali Kelas
via foto di grup wasap.
Setelah beberapa minggu berjalan menggunakan wasap (padahal tentu tidak semua orang tua punya hape android), sejak Senin kemarin pola itu diubah. Kali ini pelajaran sekolah disiarkan lewat televisi. Menggunakan saluran televisi publik; TVRI. Yang masih hangat kabar tentang pemberhentian Helmy Yahya dari kursi dirutnya. Lalu disusul tiga direksi lainnya belum lama ini. Padahal, kata orang, siaran TVRI di era Helmy ini makin menarik. Makin banyak orang menontonnya (lagi) setelah sekian lama melirikpun tidak. Ohya, itu soal lain. Kita bahas kapan-kapan saja. Kali ini kita fokus tentang siaran pelajaran sekolah lewat saluran tivi saja topiknya.

Tentu kita ingat dulu juga ada pelajaran sekolah yang disiarkan lewat televisi. Nama stasiun tivinya; TPI, Televisi Pendidikan Indonesia.

Selasa, 03 Maret 2020

Karena Corona

SUDAH sejak beberapa hari yang lalu, setiap sesaat setelah menempelkan jari ke alat pemindai absensi, saya dan semua teman kerja (termasuk juga para tamu) yang lainnya diperika suhu tubuhnya. Ya, nama alatnya thermal scanner. Bentuknya seperti pistol. Yang ditembakkan ke jidat. Jaraknya 4-6 centimeter. Sampai muncul angka tubuh (atau jidat¿) kami. Kalau suhunya normal, ya boleh masuk. Nah kalau badan sedang meriang (tapi tak gembira😊) alias semlumut dan terdeteksi suhu badan di atas angka 37,5° C bagaimana?

Sesuai arahan yang ada, ya mesti balik kanan. Pulang. Gak boleh masuk. Lalu? Ya disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Tentang setelah mendapati tidak boleh masuk lalu beneran akan ke dokter atau malah tidak, ya terserah.

Ada teman, yang entah bercanda atau tidak, bilang bahwa mendingan tidak usah periksa daripada setelah diperiksa malah tahu penyakit yang kita idap. Dan sepertinya ada juga teman lain yang sependapat dengan teman saya itu. Tapi sekarang, yang hangat dibicarakan orang adalah corona. Virus yang telah menyebabkan ribuan orang meninggal di Tiongkok, tempat pertamakali virus itu ditemukan. Dan sekarang si virus itu telah menyebar ke banyak negara. Juga ke negara kita.

Apakah kita memilih bersikap santuy saja? Seyogianya tidak. Tetapi memilih sok panik juga jangan. Begitu pesan dari beberapa tokoh pengambil kebijakan yang saya lihat di media. Makanya saya tidak ikutan memborong kebutuhan pokok seperti dilakukan banyak orang. Lha karena memang tidak ada uang untuk ikut aksi borong barang.😊

Bahwa budaya hidup bersih di masyarakat kita sebagian besar masih ya... gitu deh, tentu mewaspadai persebaran corona di negara kita tidak bisa dilakukan secara ya.. gitu deh. Kerena beberapa mitos yang beberapa waktu lalu dipercaya bahwa karena ini-itu si virus corona tak akan masuk ke negara kita ternyata tak terbukti.

Kabar yang mengatakah penderita positif corona asal Depok itu terpapar temannya yang warga Jepang, saya juga mesti lebih waspada. Karena, banyak juga orang Jepang di tempat kerja saya ini. Juga orang Korsel. Yang juga termasuk negara dengan pasien positif corona dengan jumlah yang relatif banyak.

Tentu saya khawatir. Juga waspada. Juga takut. Takut tertular. Lalu takut pula turut menulari orang terdekat saya. Semoga jangan terjadi. Semoga sebagaimana badai, wabah ini segera berlalu.

Indonesia Jiayou!*****

Rabu, 09 Oktober 2019

Lagi-lagi Kaki Kiri

SORE yang sendu saat itu. Tanggal 10 Desember, dua tahun yang lalu. Di Banjar Soko, Senganan, Bali. Saya sholat asyar di menjelang injury time. Sendiri. Di satu-satunya masjid di situ. Al Hamzah nama masjidnya. Selesai sholat dengan kecepatan seperti Marc Marcuez (lebay yaπŸ˜€), saya hendak langsung pulang ke Tabanan. Kota. Berjarak sekitar 25 km dari situ.

Tapi hujan tetap turun dengan santuy. Tampaknya ogah berhenti. Tidak deras sih. Tapi, cukuplah bikin tubuh kedinginan bila menerjang hujan sepanjang perjalanan. Saya menunggu. Di serambi masjid. Sambil tutal-tutul ponsel. Pun, malah bikin sebel. Sinyal internet lelet.

Ada sih warung langganan di dekat masjid. Menunya lumayanlah. Milik Bu Rahma. Muslim. Bisalah, kalau mau pesan 'kehangatan'. Teh, atau susu. Saya tidak ngopi, juga tidak merokok.  Tapi, di warung Bu Rahma juga gak ada wifi-nya. Gak seru kan?

Baiklah, rintik hujan masih berjatuhan dengan ritmis. Saya nekat, hendak pulang.

Motor sewaan terparkir di utara masjid. Di lahan yang agak lebih tinggi. Bukan paving, hanya hamparan tanah. Yang juga sebagai halaman rumah penduduk. Keluarga besar Bu Rahmah. Semuanya muslim.

Berlari kecil saya menuju motor. Di jarak satu meter sebelum motor matic putih itu, mak-cekluk, kaki berbunyi. Pergelangan telapak kaki kiri. Jangan tanya sakitnya.

Selasa, 16 April 2019

Menunggu Penampakan Pulung

DULU, di desa saya, setiap menjelang pemilihan Petinggi (Kepala Desa), malamnya ada banyak orang begadang. Tidak tidur semalaman. Sambil menatap langit. Menunggu penampakan pulung. Konon cahayanya kuning keemasan. Dengan sorot terang, namun tak bikin silau. Kemana cahaya itu jatuh, misalnya ke salah satu calon Kades, orang pada yakin, bahwa si calon itulah yang sedang tertimpa wahyu keprabon. Dan pemilihan kepala desa besok harinya laksana tinggal formalitas belaka. Karena petunjuk 'langit' sudah jelas siapa yang bakal terpilih.

Kini, entah, apa masih ada hal begitu itu. Termasuk malam ini. Saat besok pagi digelar Pilpres, pemilihan presiden terpanas sepanjang yang pernah saya tahu. Sebuah 'tanding ulang'. Antara capres lima tahun lalu yang gagal mendulang suara terbanyak, melawan capres lima tahun lalu yang jadi dan tahun ini njago lagi.

Pilpres terpanas, di Pemilu terruwet (?) dibanding gelaran serupa sebelum-sebelumnya. Pileg dan Pilpres digelar bareng-breng. Dengan nuansa jelang re-match antara Pak Wi dan Pak Wo yang sedemikian sengit, praktis perhatian publik tersedot kesitu. Pileg kalah gaung. Entah bagaimana pula seandainya nanti pileg, pilpres dan pilkada juga digelar serentak.

Kembali tentang pulung, tentang wahyu keprabon. Ke siapa kali ia akan jatuh? Sedangkan Pak Wi di mata kubu (fanatik) sebelah sering dinilai tak ada baik-baiknya. Pun Pak Wo di mata sebagian (besar?) kubu seberangnya.

Sependek ingatan saya, baru pada Pilpres kali ini ada penamaan massa memakai nama hewan. Ada cebong, ada kampret. Sebuah kemunduran, menurut saya. Wadanan alias julukan yang entah siapa pencetusnya itu, semoga lepas pilpres tak lagi terpakai. Untuk selamanya. Kecuali kita menikmatinya. Dijuluki dengan nama hewan.

Dari saya membuat tulisan ini, Pemilu 2019 tinggal beberapa jam lagi. Harapan Pak Wo dan para pendukungnya, ia bisa memimpin negeri ini. Pun demikian dengan Pak Wi, tentu beliau ingin menjabat lagi. Namun, menurut saya, siapapun nanti yang terpilih, (malam ini terlihat ketiban pulung atau tidak --- karena turunnya wahyu keprabon tidak semua orang dapat melihat) ia telah dipilih oleh yang maha memilih. Dan harus diterima. Selebihnya, tak perlu melakukan tindakan-tindakan yang tak perlu. ****

Jumat, 22 Maret 2019

R e w a n g

Suasana rewang  dibuat sebagai
status WA oleh istri saya.
MALAM sudah sangat larut. Ibu-ibu yang tadi sibuk bikin aneka olahan di teras rumah saya sudah pada pulang. Untuk besok pagi datang lagi.

Sambil tiduran saya membuat tulisan ini. Tiduran di lantai ruang tamu. Yang sesak oleh tumpukan ini-itu. Persiapan keperluan tetangga depan rumah yang besok punya hajat. Mantu.

Aroma ruang tamu saya laksana aroma dapur perusahaan katering. Ada adonan bumbu rawon, soto dan entah apa lagi. Beginilah hidup di kampung. Yang punya hajat satu orang, yang rewang, yang bantu-bantu, orang satu gang. Ada yang ketempatan jajan, ada yang ketempatan stok air minum, ada yang ketempatan sebagai dapur (seperti di teras dan halaman rumah saya ini).

Suatu hari salah seorang staf sebuah kantor di Bali tidak masuk kerja. "Kemana Bu Nengah kok hari ini tidak masuk?", tanya saya.

"Bu Nengah hari ini ngayah", Mbak Wayan menjawab. "Bapak ngerti ngayah?"

Sebelum saya menjawab, Mbak Wayan menerangkan," Ngayah itu bantu-bantu tetangga yang lagi ada hajatan tapi tak dibayar".

Persis sama dengan istilah Jawa di kampung saya. Termasuk saat kami orang satu gang pada ikutan sibuk bantu-bantu tetangga yang besok hajatan ini.

Serepot-repotnya sekarang, tak serepot orang punya hajat tempo dulu. Saat saya kecil. Di desa. Yang kalau akan menggelar hajatan, hitungan repotnya bukan sekadar hari. Tapi bulan. Dan setiap yang datang membantu, walau tak dibayar, tentu dikasih makan. Juga rokok. Tentu perlu biaya mahal. Tapi kebersamaan, gotong-royong, itu tentu tak ternilai harganya.

Kini, semua serba cepat. Juga simpel. Tendanya sistem knock-down. Cepat sekali bongkar-pasangnya. Dibanding dulu. Yang tendanya masih pakai tiang bambu. Atapnya dari anyaman blarak, daun kelapa. Kursinya juga, masih pinjam punya tetangga. Beberapa hari sebelum hari H, ada yang kebagian tugas mencari sekian banyak daun jati. Untuk pembungkus songgongan, bingkisan berisi nasi lengkap dengan lauk dan jajanan.  Kini semua tersedia. Di tempat persewaan alat pesta. Minta yang model apa. Minta yang harga berapa.

Ada lagi yang lebih praktis. Yang punya hajat tak perlu repot. Tinggal diserahkan ke EO. Segala macam urusan. Dari A sampai Z.

Dengan membayar EO, menjadikan tetangga kanan-kiri tak perlu ikut repot ngayah, ikut rewang. Ketempatan ini-itu. Namun yang ikut 'repot' beginilah yang saya suka. Bahwa tak semua kudu dihargai dengan uang. Ada semacam tali yang mesti tak dilepaskan. Tali keterikatan. Bahwa, saudara terdekat adalah tetangga. ****


Rabu, 27 Februari 2019

Pencitraan

"MERAKYAT, jujur dan amanah", begitu tulisan yang terpampang pada baliho di perempatan jalan. Ada wajah dengan berhiaskan senyum pada baliho yang sama. Intinya, dia ini sedang memperkenalkan diri. Sekaligus mencitrakan diri sebagaimana ia ungkap dalam kata 'merakyat, jujur dan amanah' itu. Apakah dalam keseharian sosok itu betul begitu? Ataukah itu hanya rayuan (gombal) agar terpilih sebagai anu. Setelah itu ia terkutuk sebagai kacang yang lupa kulitnya?

Betapa banyak kini sosok begitu itu. Tradisi lima tahunan. Menjual citra palsu, menjual janji yang juga palsu. Tentu tidak semua begitu. Namun, dalam kontestasi banyak-banyakan pemilih agar jadi, selalu saja ada langkah yang ditempuh laiknya penjual kecap. Dalam 'jualan' macam itu, ia membutuhkan timses. Membutuhkan konsultan. Nah, polesan-polesan (oleh timses dan konsultan?) agar tampak lebih yes itulah pencitraan.

Apakah hanya para mereka itu yang sering (atau selalu?) memakai jalan pencitraan? Sepertinya tidak.

Kita (eh saya ding!), pun sering berlaku begitu. Di medsos, misalnya. Untuk apa, coba, saya menulis status kalimat bijak dengan menukil quote-quote orang-orang hebat? Tentu agar orang menilai saya ini 'bijak'. Pun demikian saat saya menulis status lucu, upload foto dengan pose tertawa padahal hati nelangsa dsb, dst.

Saya masih ingin menulis tentang 'pencitraan' ini lebih panjang lagi, sebenarnya. Agar dikira orang saya selalu punya ide untuk ditulis di blog ini. Tapi kok ya gimana begitu. Lha wong saya nulis ini tadi juga berdasar status teman di medsos kok. Tentang apakah status itu genuin hasil perenungannya sendiri ataukah dari berbagai sumber literasi yang telah dicecapnya untuk kemudian dipajang di medsos, tentu saya kurang tahu pasti. Pun, apakah teman saya tadi menulis begitu juga sedang mencitrakan dirinya? Saya lebih tidak tahu lagi. ****


Kamis, 07 Februari 2019

Belajar Nge-vlog

BEBERAPA hobi saya bikinkan blog untuk menulisnya. Hobi bikin cerpen saya buatkan www.ediwinarno1.wordpress.com. Untuk hobi memperhatikan televisi tulisannya saya tampung di www.sisitelevisi.wordpress.com dan www.sisitelevisi.blogspot.com. Namun seperti isi dompet saya, ide nulis di blog-blog itu kadang ada, kadang blong tidak ada. Bolong gak nulis apa pun disitu. Perhatikan, lama sudah saya gak posting di wadah-wadah itu.

Tentang seneng mengamati televisi mungkin gara-gara dulu sering nebeng baca tabloid Monitor di rumah seorang kaya yang ke situ saban malam kami numpang nonton televisi. Nonton sambil baca ulasan pertelevisian ala tabloid Monitor dengan gaya bahasa yang Arswendo banget, mantaplah pokoknya.

Kini, saya makin jarang nonton televisi. Layar kaca lebih banyak dinikmati si kecil dengan Tayo, Ultraman, Upin-Ipin dan sejenisnya. Kenapa saya makin jarang nonton tivi, kalau mau, kapan-kapanlah saja itu saya jelaskan. Tapi begini, untuk hobi berburu siaran televisi, walau tak ekstra-ekstra banget, lumayanlah alat yang telah saya beli. Dari mulai DVB-T1 lanjut ke DVB-T2, lanjut lagi ke seperangkat antena parabola beserta uba-rampe-nya.

Mengejar siaran 'jalur langit' begitu alatnya lebih banyak, dibanding jalur terrestrial yang cukup pakai antena PF Goceng. Kalau mau nangkap yang digital terrestrial cuma cukup nambah 'set top box'. Kalau mengejar siaran tv satelit, lebih dari itu butuhnya. Dan seperti ponsel, saban waktu selalu ada type terbaru. Yang bisa buka acakan ini atau itu. Yang otomatis. Jangankan acakan biss key, powervu pun bisa dilihat. Receiver terbaru makin sakti. Rollingnya bisa berguling-guling sendiri, tak perlu tombal-tombol remote control memasukkan kode acakan yang sewaktu-waktu berganti. Namun saya hanya punya yang standard saja. Mulai satfinder analog, digital sampai yang bergambar. Untuk selalu membeli model terbaru, enggaklah. Stabilitas dompet saya rawan terganggu. Namun memang begitulah risiko punya hobi. Apapun jenis hobinya.