Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2020

Sambal Bongkot, Oh My God!


UNTUK
urusan makan, saya ini termasuk orang yang menganut faham pokoknya kenyang. Bukan sebagai petualang rasa. Dalam artian suka mencoba menu baru yang tentu mempunyai rasa baru. Saya kira ini ada untungnya. Paling tidak, selain baju yang tidak sering ganti (karena punyanya cuma itu melulu), tidak suka mencoba menu makanan baru dapat diindikasikan hanya dilakukan oleh orang yang setia. Orang yang tidak suka syelingkuh (pakai syin). Yes, dengan memakai parameter itu, saya masuk kategori orang yang setia setiap saat seperti bunyi iklan deodorant.

Tempo hari saya membuat status di wasap tentang lidah saya yang kangen sambel bongkot. Itu nyata adanya. Bukan mengada-ngada. Bahwa dulu saya tidak suka sambel itu memang iya. Tetapi kemudian menjadi suka berawal dari coba-coba. Sekali dua kali, lidah saya mulai bisa menerima. Lalu, kini, mengangeninya. (Jangan-jangan hobi selingkuh juga berawal coba-coba demikian itu😊).


Dulu, saat bertugas di Bali, dalam sebulan sekali pulang ke Surabaya, selalu saya bawa si bongkot itu. Yang sebelumnya tidak saya sukai itu. Saya bawa naik pesawat. Di rumah saya sambal sendiri. Pakai terasi. Pakai teri. Ditambah pete. Dimakan sama nasi hangat, amboi rasanya. Kalau saja si Inces Nabati mencoba sambal buatan saya itu, tentu ia akan bilang: Duh Gustiiii..... Endol surendol takendol-kendol nguenah....

Entah dimana di Surabaya ini saya bisa beli si bongkot yang kalau di Senganan, Tabanan, harga seikat berisi empatbelas, seingatnya saya hanya lima ribu rupiah saja. Dan di kebun Pan Sukresni, orang tua baik hati yang selama berbulan-bulan di Tabanan saya ikuti, saya bisa membawa semau saya dengan gratis belaka.

Sambil sarapan dengan sambal instan buatan pabrik, tadi pagi saya iseng bilang kangen sambel bongkot kepada Ibu Negara.

"Itu di frezer kan masih ada", sahutnya. "Dulu pernah aku mau buang, sampeyan bilang jangan".

"Iya to?!"

Istri saya menuju lemari es dan mengambil kotak tupperware berwarna hijau muda. Di dalamnya ada bongkahan kecil sambal yang menggumpal. Putih. Menjadi beku. Saya cuwil, ah iya, saya masih belum lupa. Ini benar sambel bongkot. Oh my God. Saya girang sekali.

"Ini sambal kapan ya?", saya bertanya sambil makan.

"Hampir tiga tahun lalu. Apa masih enak?"

"Enak tuh", lahap saya menyantap. "kalau nanti ada efek samping, palingan cuma mules...".

Rindu kadang memang bisa bikin orang mabuk kepayang. Eh, mabuk sambel bongkot ding!****

Minggu, 23 September 2018

Alon-alon Waton Klepon

TERLETAK di sudut jalan Ngurah Rai Tabanan, Bali, ada satu tempat yang menjual penganan khas Gempol; klepon. Yang membedakan, bila di sepanjang jalan sekitar bundaran Gempol papan nama setiap kedai klepon selalu Wahyu, di Tabanan itu si penjual menuliskan 'Klepon Sidoarjo' sebagai namanya.

"Sidoarjonya mana, Mas?" tanya saya kepada lelaki kekar berambut gondrong yang merekrut dua pekerja asli Bali dalam usaha perkleponannya.

"Saya asli Krembung," jawabnya sambil tangannya cekatan membuat bulatan dari adonan tepung ketan yang selalu diwarna hijau itu. Tak lupa, sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih, dimasukkan cairan gula merah ke dalam kleponnya. Cairan gula merah itu yang memuncratkan rasa manis di lidah saat klepon diceplus.

Ketika saya cerita tentang Klepon Sidoarjo yang dibuat lelaki asal Krembung itu kepada salah satu penjual klepon di Gempol, "Iya, Pak Wahyu, pelopor penjual klepon disini, juga asal Krembung," papar lelaki bersarung dan berkopyah putih itu.

Selain klepon, biasanya pedagang di Gempol  juga menjual krupuk upil. (Foto: ewe)
Nah, kebetulan ini. Mumpung Abah penjual klepon di Gempol ini menyebut nama Wahyu, saya iseng bertanya kenapa semua penjual klepon disini memakai nama Wahyu di spanduk di depan kiosnya. Walau saat dibeli, tertera nama lain pada kotak bungkus kleponnya. Mahkota, misalnya. Namun nama Wahyu sudah menjadi nama generik untuk klepon. Di Gempol, klepon adalah Wahyu. Titik.

"Dulu yang pertama jualan klepon disini ya Pak Wahyu itu", Abah menerangkan. "Kami belum bisa bikin. Nah, dari Pak Wahyu pula kami belajar bikin klepon."

"Tapi," saya bertanya lagi,"Kenapa semua pedagang klepon disini kok sampai sekarang memakai nama Wahyu?"

"Karena kalau pakai nama lain, orang kurang tertarik untuk membeli," jawab Abah. "Lagipula, Pak Wahyu gak apa-apa kok namanya kita pakai. Malah beliau juga masih jualan klepon hingga sekarang."

"Lalu apakah penjual klepon disini pada membayar kepada Pak Wahyu karena menggunakan nama beliau?"

"Tidak".

Nah, kalau dilihat menggunakan logika bisnis kekinian, tentu Pak Wahyu dapat royalti dari punggunaan namanya sebagai merk. Dan beliau bisa ongkang-ongkang momong cucu tanpa perlu jualan klepon lagi. Cukup jual nama saja.

Ingin saya bertemu Pak Wahyu yang baik hati itu untuk ngobrol ringan tentang klepon, semoga suatu hari nanti keturutan. Pelan-pelan saja. Alon-alon, waton klepon.****


Selasa, 11 September 2018

Sambal Bongkot

DI desa Senganan, Banjar Soko, Penebel, Tabanan-Bali, saya punya warung makan langganan. Nama pemiliknya Bu Rahma. Tertulis di papan namanya sebagai Warung Muslim. Lokasinya tak seberapa jauh dari masjid Al Hamzah, menjadikan saya tak repot paling tidak dalam dua hal; makan dan sholat.

Secara rupiah, harga menu di warung Bu Rahma terbilang sangat ramah kantong. Godoh (pisang goreng) hanya limaratusan, seporsi makan hanya sepuluh ribu rupiah. Menunya dijamin halal, tapi tak terlalu banyak pilihan. Ya namanya juga warung di kampung. Lebih sering nasinya pakai beras merah, sering juga menunya berkisar antara plecing kangkung, eseng-eseng pare atau lodeh terong. Untuk lauk, walau kadang ada pindang, yang selalu ada adalah daging ayam suwir dengan dua varian; biasa dan pedas.

(Foto Dok. Pribadi)
Secara rasa, lidah saya ini tak terlalu rewel kok. Lebih-lebih kalau perut sudah lapar. Lebih-lebih kalau menunya terong. Tapi satu hal, untuk sambal bongkot di warung Bu Rahma, juga di Warung Muslim lain di Bali yang pernah saya kunjungi, kok masih gimanaaa gitu. Waktu itu sih... Iya, karena penasaran, di warung kadang saya minta dikasih sambal bongkot, “Dikit aja”, pesan saya, dengan maksud eman-eman kalau dikasih banyak takutnya nanti gak kemakan semua. Namanya juga masih taraf pengenalan. Dan, pih, kok si lidah saya yang gak rewel ini mendadak berontak kala merasakan si bongkot. Sekali lagi, waktu itu sih....

Kini, setelah sekian bulan saya balik ke Surabaya, kok jadi rindu sambal bongkot. Celakanya, kalau di Senganan di setiap tegalan ada tanaman bongkot, di Surabaya ini tak tahu kemana saya mesti mencari. Untungnya tempo hari saya dapat kiriman bongkot dari Tabanan. (Terima kasih Pak Firman yang sudah berbaik hati naik pesawat sambil nyangking bongkot. Terima kasih Pak dan Bu Kresni kiriman bongkotnya).

Di dapur Bu Kresni di desa Senganan, dulu saya pernah melihat cara beliau memasak sambal bongkot, dari sejak awal sampai siap hidang. Dan kemarin, saat bikin sambal bongkot itu, saya juga bertelepon kepada beliau memastikan resep dan tahapan cara bikin sambal khas ini tak melenceng jauh. Hasilnya lumayan. Indikasinya; kalau dulu istri saya sempat gebres-gebres saat incip sambal bongkot, kemarin itu, dengan hanya berlauk sambal bongkot, dia makan sampai nambah nasi lagi.

Ini bahan saat saya bikin sambal bongkot kemarin:
  • Kupas dua tunas muda bongkot (kecombrang), iris tipis lalu cuci sambil diremas-remas, bilas, tiriskan.
  • Iris tipis tiga siung bawang merah.
  • Iris tipis dua siung bawang putih.
  • Iris tipis cabe (jumlah sesuai selera)
  • Cuci ikan teri (jumlah sesuai selera) lalu tiriskan.
  • Garam (secukupnya)
  • Gula (secukupnya)

Cara masak:
  • Panaskan minyak (secukupnya) pada wajan.
  • Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan cabe sampai layu.
  • Masukkan dan campurkan irisan bongkot.
  • Masukkan teri.
  • Taburkan garam dan gula secukupnya, aduk sampai rata.
  • Incip sampai didapat rasa yang pas.
  • Selesai, dan sambal bongkot siap dihidangkan.

Nah, mudah bukan?****



Selasa, 27 Juni 2017

Bipang; Cemilan Kenangan

SUATU malam, tetangga depan rumah pamit undur diri sejenak dari arena jagongan, “Sebentar, saya ambilkan camilan agar makin gayeng”, ujarnya.

Ia datang lagi dengan sewadah umbi yang lama sekali tidak saya nikmati. Bentuknya berimpang, nyaris seperti lengkuas. Tetapi, hmmm... hidung ini telah mengenalinya. Suguhan berjenis pala pendhem  ini mengingatkan saya saat kecil di desa dulu. Ketika kami tadarus mendaras kitab suci di bulan Ramadhan, ada tetangga yang rumahnya berjarak tujuh rumah dari langgar kecil tempat kami mengaji, membawa sebakul ganyong  rebus yang aromanya menggoda.

Penganan berjenis umbi ini kaya akan serat dan karbohidrat. Makanya, selain enak dinikmati sebagai cemilan, ia berperan pula mengenyangkan.

Di kota agak sulit menemukannya, walau di desa ia gampang ditemukan dan menjadi penyelamat di saat paceklik.

Baiklah, izinkan saya meloncat ke lain arah. Masih tentang penganan di masa kecil saya. Tentang buah tangan yang sering Bapak bawa sehabis pepergian. Semacam 'oleh-oleh kebangsaan' karena jenisnya cuma itu-itu melulu. Kalau bukan roti kasur, ya jipang. Kalau lagi beruntung, mungkin bapak lagi ada uang lebih, kami dibelikan kedua-duanya.

Kami menyebut roti kasur karena bentuknya seperti kasur, soal rasa; ia tawar belaka. Maka menikmatinya terasa istimewa kalau Emak membikinkan kami air panas dan gula yang diseduh pada gelas dan kami memakan roti tawar itu dengan dicelupkan dulu ke situ. Rasanya tiada duanya.

Bipang cap Jangkar, eh ternyata penganan ini khas Pasuruan.
(Foto: ediwe)
Sekarang tentang jipang.
Eits, ternyata sebutan kami itu keliru. Karena yang benar adalah bipang. Berasal dari bahasa Tiongkok; bi  berarti beras dan pang  artinya wangi. Makna harfiahnya beras wangi. Ya, penganan ini bahan pokoknya adalah beras yang dipanaskan lalu dicampur gula dan di-pres sedemikian rupa.

Semoga Anda sepakat, bahwa kerinduan itu kadang tiba-tiba muncul bukan melulu untuk sang mantan (yang apesnya, itu hanya bertepuk sebelah tangan), namun  bisa pula tertuju kepada penganan. Maka, ketika suatu sore saya mendapati seorang bapak tua menjajakan aneka camilan 'tempo doeloe' di jantung kota Surabaya ini dengan bipang sebagai salah satunya, saya membelinya.

Seperti ganyong yang anak sekarang kurang menyukainya, si bipang ini pun bernasib tak jauh beda. Buktinya, anak-anak saya kurang berselera berebut buah tangan itu saat saya tiba di rumah (berbeda ketika masa kecil saya dulu yang menganggapnya sebagai oleh-oleh istimewa). Karenanya, kemudian bipang itu hanya saya makan sendiri saja dengan kunyahan yang sebisa mungkin mengantarkan saya akan kenangan masa kecil dulu. *****

Selasa, 22 November 2016

Jenang Sapar

SEMAYI adalah nama sejenis botok tetapi tiada udang, tempe atau jamur dan bahan lainnya sebagai isi. Ia hanya botok dengan bahan utama kelapa diparut yang tampil secara solo. Iya sih ada bumbunya, dan bumbu itu sebagaimana layaknya bumbu botok. Seingat lidah saya, rasa utama ketika dimakan adalah pedas. Parutan kelapa nyaris sudah tiada rasa kelapanya, sepo. Karena ia adalah parutan kelapa yang telah tiada santannya. Santan telah diperas untuk dipakai memasak lodeh gori, nangka muda.

Nasi aking (karak) yang dikrawu berteman semayi adalah menu yang tidak jarang mengisi perut saat saya kecil. Nikmat sekali. Dulu kami makan begitu karena keadaan, kini saya kembali ingin menikmatinya lagi karena kerinduan.

Tetapi, di kota ini, dimanakah saya bisa membeli semayi dan nasi aking dikrawu? Tentu tidak ada, selain membuatnya sendiri. Tentu saya bisa meminta dibuatkan menu itu kepada emaknya anak-anak, namun sebagaimana menu lainnya, hidangan apa pun adalah bukan tandingan bila dibanding masakan ibu. Lebih-lebih bila makanan itu didapat dari membeli. Kenapa? Karena makanan yang dibeli dari restoran atau warung makan unsur utama ketika dimasak adalah berdasar hitungan uang, sementara masakan ibu untuk keluarganya dimasak selalu dengan bumbu utama bernama kasih sayang.

Sekarang bulan Syafar, sebagai lidah yang kolokan, kok ya sempat-sempatnya ia merindukan jenang sapar, begitu kami menyebutnya. Berbeda dengan jenang Suro yang berbahan beras putih, penganan ini berbahan tepung ketan yang hanya ada di bulan Syafar. Adonan tepung ketan itu dibentuk bulatan-bulatan kecil (makanya juga disebut jenang grendul) dipadu gula merah dan santan. Hmm, aroma pandannya menggoda, semenggoda sensasi nyeplus bulatan ketan yang kenyil-kenyil, kenyal. Saat dikunyah rasanya nano-nano; ada manis, ada asin, ada gurih, ada-adaaa aja.... (Hmm, mak cleguk..)
Jenang grendul (Foto: istimewa)

Nah, demi menuruti kerinduan lidah, saya mencari si jenang sapar itu ke pasar. Tidak seperti di awal Syawal yang banyak sekali penjual ketupat, di bulan Syafar tidak saya temukan seorang pun penjual jenang sapar. Padahal kalau di kampung saat masa kecil dulu, di bulan Syafar begini, antar tetangga saling antar jenang sapar. Makanya kita bisa makan penganan itu gratis tanpa bayar. Pagi kemarin itu saya meninggalkan pasar dengan tanpa berhasil membuat kerinduan sang lidah terbayar

Namun, dasar rejeki anak bapak sholeh, saat datang ke tempat kerja, ada seorang teman yang baru pulang kampung membawa sebungkus agak besar jenang sapar. Lumayanlah, walau hanya memakan satu-dua sendok (demi agar jenang segitu bisa dimakan semua teman), paling tidak kerinduan lidah saya sudah relatif terobati. *****

Selasa, 27 Oktober 2015

Variasi Olahan Kembang Turi

Selain katuk, saya juga menanam kembang turi
di depan rumah.

KEMBANG turi sebagai sayur dalam urap-urap atau pecel sudahlah lazim. Selain sebagai itu, olahan apa lagi yang bisa dibuat berbahan bunga turi? 

Dimasak menjadi sayur asem juga seger,” kata tetangga sebelah. 

Oh, boleh dicoba itu. Tetapi lain kali saja. Karena pagi ini istri saya mengolah kembang turi sebagai eseng-eseng spesial sebagai lauk sarapan. Spesialnya nasi goreng biasanya pakai telur ceplok, nah spesialnya eseng-eseng kembang turi buatan istri saya ini pakai ikan asin. Dasar lidah saya ini lidah ndeso (walau sudah belasan tahun tinggal di kota) menikmati menu sederhana itu cuma dengan nasi hangat saja, sudah sanggup membuat saya makan secara lahap. Abai akan kabar kalau kembang yang memiliki nama latin sesbania grandiflora ini juga bisa sebagai obat sakit kepala, sariawan dan sakit tenggorakan, tahu-tahu selesai sarapan perut saya kenyang.

Sebagaimana eseng-eseng berbahan sayuran lainnya, eseng-eseng kembang turi ini pun tergolong sederhana sekali membuatnya.

Bumbu dan bahannya adalah:



  • Dua siung bawang merah
  • Dua siung bawah putih
  • Sebutir tomat
  • Cabe sesuai selera
  • Lengkuas secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Dua ekor ikan asin
  • Sebakul kembang turi



Cara membuatnya:



  • Iris tipis bawang merah dan bawang putih
  • Potong kecil-kecil cabe
  • Potong tomat menjadi empat iris atau sesuai selera
  • Potong kecil-kecil ikan asin dan buang duri/kepalanya
  • Cuci bersih kembang turi yang telah dibuang ujung batang bagian dalamnya.

    Setelah semua bahan siap:



  • Panaskan wajan, tuang minyak goreng secukupnya.
  • Goreng potongan ikan asin sampai matang (dengan minyak yang tak terlalu banyak) gunakan sisa minyak itu untuk menumis bawang merah-bawah putih, irisan tomat dan cabe.
  • Setelah matang, tuang air sedikit saja. Tunggu sampai mendidih.
  • Masukkan lengkuas.
  • Kemudian masukkan kembang turi yang telah dicuci bersih.
  • Incipi dulu (ikan asin membuat rebusan kembang turi ketularan asin), kalau kurang asin, silakan tambahkan garam.
  • Kembang turi gampang matang. dalam merebus jangan terlalu lama.
  • Eseng-eseng kembang turi plus ikan asin siap dihidangkan. *****


Minggu, 18 Oktober 2015

Lidah Korea dan Soto

AWALNYA saya duga usianya baru akan menginjak kepala lima. Ya, kulitnya masih terawat, seterawat bibirnya yang murah senyum. "Saya di Indonesia ini, kalau dihitung, sudah empat puluh tahun," katanya dengan bahasa Indonesia yang terasa ada terselip aksen Koreanya.

Mrs Lee, begitu saya mengenal namanya. Kami bicara sambil disuguhinya minuman dingin yang saya rasakan sebagai, "Ini jus asam ya?" tanya saya setelah seteguk masuk ke kerongkongan dan saya mengenalinya sebagai berasa asam Jawa.

Si Nyonya Rumah tersenyum ramah kemudian mengambil botol dari lemari esnya, "Ini anggur," katanya. "kami di Korea memang tak suka pakai gula."

Cukup ada alasan untuk saya merasa malu atas kekeliruan itu seandainya saya tidak menyengajainya sebagai 'modus' supaya kami bisa bicara lebih akrab lagi. Dan saya mendapati, entah karena trik itu atau memang si Nyonya isi aslinya memang grapyak semanak, kami kemudian bisa lebih santai lagi bicara-bicara.

"Mula-mula saya ke Indonesia ini di Sumatera Utara," ia bercerita. "Tepatnya di Sibolga."

"Lalu?" ibarat memancing ikan, saya sedang menggunakan umpan sederhana saja.

"Tujuh tahun kemudian pindah ke Kalimantan, tepatnya di Tarakan. Dan baru mulai tahun 1990 kami menetap di Surabaya ini, sampai sekarang."

Saya melirik rak di bawah meja. Selain buku-buku berbahasa/berhuruf Korea, saya dapati pula koran harian berbahasa Indonesia. Hampir setengah abad tinggal di Indonesia, mafhum saja kalau lidahnya fasih sekali berbahasa Indonesia. Bagaimana dengan makanan?

"Kalau kimchi sih pasti ya," ungkapnya. "Itu sejenis menu pecel atau lodeh bagi orang Jawa. Sudah tak terpisahkan."

"Maksud saya, maaf, apa lidah Anda sudah bisa makan makanan Indonesia?" tanya saya.

"Oh, soto. Saya suka sekali soto," katanya dengan ekpresi kemecer, kemudian tertawa. "Lalu masakan Padang saya juga suka."

"Suka sambal terasi?"

"Suka, karena di Korea tidak ada. Disana adanya lombok merah yang besar itu." terangnya. "Nah, lombok merah itu dikeringkan, lalu dibuat bubuk. Kalau lombok Indonesia, yang kecil-kecil itu, pedas sekali. Tetapi saya suka."

"Selain Nyonya, keluarga yang lain juga suka makanan Indonesia?"

"Anak saya kan besar disini. Belum lama ia menikah dan sekarang tinggal di Korea,"  Mrs Lee bercerita, "kalau sedang kangen soto sedangkan di Korea menu itu tidak ada, anak saya itu minta dikirimi bumbu soto dari sini. Lucu ya? Saya sendiri juga begitu; sebulan saja kembali ke Korea, sudah rindu sekali dengan soto," lanjutnya sambil tertawa. *****



Minggu, 06 September 2015

Penyetan Bersantan

KETIKA anak-anak di rumah menganggap daging ayam adalah menu favorit dan di tempat kerja pihak catering seperti punya slogan tiada hari tanpa olahan daging ayam, menjadikan lama-lama lidah saya ini  merasa mblenger juga. Maka, kemarin ketika istri saya bertanya 'masak apa enaknya besok ya?', saya yang biasanya menyahut 'Jangan tanya aku, tanyakan saja pada anak-anak', punya ide segar sebagai jawaban: "Bikin penyetan bersantan."

Alhamdulillah, istri saya setuju tetapi tetap akan memasak menu ayam sebagai 'pemain' cadangan. Ya, siapa tahu lidah anak-anak kurang bisa menerima --menu yang dulu di desa Ibu sering membikinnya--, sehingga masih ada ayam sebagai alternatifnya.

Yang agak repot adalah, ternyata oh ternyata, istri saya hanya lamat-lamat ingat racikan bumbunya. Tetapi setelah mengumpulkan segala daya ingat, disiapkanlah bahan dan bumbu-bumbu sebagai berikut:

-Terong yang telah dikukus: sesuai kebutuhan (terong dibakar juga bisa)
-Tempe yang telah dikukus: sesuai kebutuhan (tempe dibakar juga bisa)
-Bawang merah : dua siung
-Bawang Putih: dua siung
-Kencur: sepotong
-Daun jeruk: 2 lembar
-Kemiri: sebutir
-Kelapa : setengah butir (sudah diparut)
-Garam: secukupnya
-Gula: secukupnya
-Cabe: sesuai keinginan.

Nah, setelah semua bumbu lengkap, uleg sampai halus pada cobek. Setelah halus, tuangkan santan kanil (santan yang kental). Penyet dengan menekan-nekan ulegan pada terong + tempe kukus (bakar) dalam cobek. Dan, taraaa.... : penyetan bersantan siap dihidangkan.

Catatan: karena semua bumbu termasuk santan adalah 'mentah' (untuk memeras parutan kelapa, gunakan air matang hangat), hidangan ini harus habis sekaligus. Jadi, sangat harus disesuaikan dengan kebutuhan. *****




Minggu, 26 Juli 2015

Makan Murah di Warung Merah

DALAM perjalanan jauh, agenda mengisi perut termasuk hal yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Lebih-lebih bagi yang lambungnya gampang melilit. Iya sih, di dalam bis biasanya ada penjual nasi bungkusan. Baiklah, kalau seporsi hanya nyelempit di sudut perut, Anda bisa beli dua atau tiga bungkus sekalian. Sayangnya, penjual nasi ini tidak selalu ada di sepanjang perjalanan. Yang sering ada, pengasongnya justru di terminal-terminal saat bis transit dengan waktu yang tak terlalu lama.

Saya ingat kala dulu bersama mendiang mertua melakukan perjalanan Lamongan-Jember. Agar tak terlalu repot oleh urusan perut itu, mertua saya membungkus nasi lengkap dengan lauknya memakai daun pisang. Ritual ini, saya kira, lazim dilakukan oleh orang tua siapapun dengan dalih, "Daripada beli di jalan". Bahkan, untuk minum, mertua membawa sendiri air rebusan dari rumah dengan botol Aqua sebagai wadah.

Bisa jadi, anak dan cucu --serta saya sebagai menantu-- sedikit malu akan hal itu. Tetapi, harus diakui; senyampang segala sesuatu bisa disiasati yang itu dapat menghemat pengeluaran dan tidak terlalu ngrepoti, kenapa tidak?

Naik kendaraan sendiri tentu bisa lebih bebas. Mau bawa bekal dari rumah (untuk kemudian dimakan dipinggir jalan ramai-rama serombongan, seperti sering saya temui bahkan di keteduhan pohon di pinggir jalan tol), atau mampir ke depot yang ada di pinggir-pinggir jalan macam Depot Rawon Nguling yang sering bikin macet itu.

"Untuk agar tidak di-entol," nasihat seorang kawan, "kalau makan di jalan, carilah warung nasi Padang. Dimanapun, harganya standar, tidak terlalu mahal."

Bisa jadi ia benar.
Saya pernah mengalami saat bareng si sulung, Edwin, balik dari Jember ke Surabaya naik R-2. Dengan berkendara dan tidak sedang naik angkutan umum begitu, saya bisa berhenti dan makan di warung mana saja yang saya mau. Kekeliruan saya adalah; saya menduga kalau bentuk fisik warungnya itu sederhana dengan dinding gedhek/anyaman bambu dan di depannya terparkir banyak truk, "Warung tempat makan para sopir tentulah tidak mencekik secara harga" pikir saya.

Ketika si Edwin memesan lalapan penyet ayam, saya pun mengikutinya. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, saya amati kondisi warung yang terletak di pinggir jalan Pasuruan ini; toples-toples yang kosong, juga botol-botol Sprite/Fanta yang juga melompong. Hanya ada dua piring pisang goreng di meja sebagai dagangan. Dengan tulisan menu mulai soto, jangan asem, lodeh, penyet ayam sampai pecel terpampang jelas di pinggir jalan, saya mulai menyangsikannya sebagai kenyataan. Ya, cuma semacam PHP lah sepertinya.

Lama sekali pesanan kami terhidang membuat saya berbisik kepada Edwin, "Tenang, ayamnya masih dikejar untuk dipotong dan nasinya masih berupa beras dan sedang akan ditanakkan."

Lebih duapuluh menit menunggu akhirnya makanan siap juga. Tapi tunggu dulu, benar sih ada ayam goreng dan sambal, tetapi mana lalapannya? Tiada mentimun, tiada kacang panjang, tiada pula daun kemanginya. Rasa lapar membuat kami memakan yang ada saja walau merasa kurang lengkap. Agak kecewa sih iya, tetapi agak kecewa itu meningkat tarafnya menjadi sungguh kecewa manakala kami selesi makan dan bertanya, "Berapa?" untuk dua piring nasi dan dua gelas es teh. Tadinya kami hendak memakai kerupuk sebagai pelengkap tetapi karena tak ada, tentu pisang goreng akan menjadi aneh dipakai pelengkap makan 'lalap'.

"Empat puluh ribu," kata si ibu warung.

Mendengar itu saya yang masih kepedesan makin pedes saja rasanya.
Berdasar pengalanan tadi, saat mudik kemarin, agar tidak kena petegik lagi, saya memilih andok makan di warung yang selain memajang menunya, melengkapi pula dengan harganya. Ini penting, lebih-lebih bagi orang yang hanya punya sangu cumpen, berdompet tipis.
Meja kursi dicat warna merah sebagai ciri Warung Merah,
tetapi yang penting harganya terbilang relatif murah.

Di terminal Bayuanga Probolinggo, ada banyak depot berjejer. Menunya pun beragam sesuai keinginan, tetapi yang memajang harga hanya sedikit saja. Dari yang sedikit itu, Warung Merah salah satunya. Menu yang tersedia? Mulai soto, bakso, lodeh, kare, jangan bening, sop sampai lalapan pun ada. Minumnya mulai susu soda, kopi, teh, es jeruk dan lain sebagainya. Kesitulah kami menuju dengan kalkulasi tak mengkinlah 'terperosok' lagi.

Benar juga, untuk semua yang kami makan, total jenderal saya cuma harus membayar empat puluh ribu saja, dengan perincian; dua piring nasi lalapan ayam 11 ribu per porsi, sepiring soto kesukaan si kecil sembilan ribu saja dan es teh tiga ribu per gelasnya. Murah bukan? *****

Minggu, 15 Desember 2013

Kekuatan Sentuhan Tangan



SORE-SORE, hujan-hujan begini, dulu Ibu suka membikinkan kami jagung goreng. Bolehlah, kalau istilah sekarang dibilang popcorn. Namun popcorn ala Ibu adalah popcorn ndeso; jagung pipilan yang digoreng sangan, semacam wajan dari tanah liat. Si butiran-butiran jagung akan meletus disangrai begitu. Setelah matang, bentuknya banyak yang mlecur-mlecur efek meletus tadi, ia diletakkan pada wadah sekadarnya, untuk kemudian dinikmati bersama-sama.

Begitulah, bagi kami anak-anaknya, segala yang dimasak Ibu menjadi sesuatu yang istimewa. Boleh jadi bumbunya memang seadanya, dengan tanpa takaran yang ditimbang macam resep-resep yang dimuat di tabloid-tabloid wanita. Namun bahan-bahan macam jantung pisang, pelepah talas dan semacamnya itu menjadi hidangan nan nikmat kala disantap.

Jauh dari Ibu begini, saat kami anak-anaknya sudah saling berkeluarga dan hidup berpencar seperti –kata pepatah Jawa—gabah diinteri, salah satu rindu yang kadang-kadang mencubit-cubit hati adalah kangen akan olahan masakan Ibu. 

Rindu suara kami bisa membayarnya dengan menelepon, bagaimana untuk melunasi kekangenan lidah oleh lodeh bikinan Ibu, misalnya? Datang langsung untuk mengunjungi adalah hal yang masuk akal. Namun jarak dan waktu membuat itu tak bisa dipenuhi sewaktu-waktu. Padahal rindu datang kadang dengan seenaknya sendiri, secara ujug-ujug tak pandang saat.

Minggu pagi biasanya istri saya bertanya agar saya dimasakkan apa, dan hari ini saya pingin sarapan pakai pecek terong ala masakan Ibu. Lama sudah lidah ini kangen akan menu ini, tetapi racikan bumbu belum saya ketahui. Setelah tanya sana-sini, termasuk langsung kepada Ibu saat saya mudik seminggu yang lalu, ketemulah ‘ramuannya’: Terong dan tempe dikukus (kalau dibakar kian nikmat). Bumbu yang harus disiapkan: bawang merah dan bawang putih masing-masing  3 siung, 1 potong kencur seukuran ujung jari kelingking. Ditambah daun jeruk purut, merica secukupnya, cabe sesuai selera, garam dan gula juga secukupnya. Semua bumbu tadi disangrai (kalau Ibu di kampung membakar semua bumbu itu di api tungku). Jangan lupa pula parutan kelapa untuk diambil santannya.

Tidak tahu saya apakah menu ini ada dijual di warung, namun membayangkan saja bisa bikin liur saya berebut keluar dari lubang kelenjar.

Baiklah; proses selanjutnya adalah menguleg semua bumbu itu pada cobek. Setelah itu santan dimasukkan. (Agar  agak awet, air untuk memerasnya adalah air masak/hangat). Nah, setelah semua tercampur, masukkan terong dan tempe, lalu tekan-tekan dengan pengulek bumbu. Dan, taraaaa.... jadilah menu  spesial ala Ibu: Pecek terong dan tempe siap disantap.

Sarapan bermenu itu, tadi pagi, terasa nikmat . Walau kalau mau jujur, tentu saja ia hanya mirip masakan Ibu. Belum mak-plek  sama. 

Pada tubuh Ibu, kalau sorga diibaratkan ada di telapak kakinya, tentang rahasia kenikmatan masakan sepertinya terletak hanya pada sentuhan tangannya. *****


Sabtu, 16 November 2013

Nasi Bebek Wonokromo

Nasi bebek.
Foto: blog.gerombolancinta.com
SALAH satu menu yang saya suka adalah nasi bebek. Di Surabaya ini, banyak sekali kedai/warung yang menjualnya. Mulai kelas kali lima sampai yang lebih tinggi dari itu.

Ada istilah yang mengatakan, pembeli membawa pembeli. Artinya, ketika sebuah kedai ramai oleh pengunjung, hal itu menarik orang lain untuk pula mengunjunginya. Tentu saja karena penasaran. Entah itu karena lezatnya menu yang dijual, atau sebab lain. Harganya murah, misalnya.

Ilmu itu saya gunakan pula saat 'kelaparan' di tempat yang saya tak biasa. Umpamanya ketika di kota lain. Tentu kalau saya lagi bepergian sendiri, saya lebih leluasa menerapkan teori ini. Saat transit di terminal Bayuangga, Probolinngo, dalam perjalanan pulang kampung, seringkali saya makan bukan di depot-depot yang berjajar di dalam arena terminal. Tetapi saya lebih memilih keluar. Mencari-cari; dimana ada warung yang ramai, ke situlah saya menuju.

Sebagai warung kaki lima, tentu akan kurang 'sreg' makan di situ kalau tak terbiasa. Tata letak menu yang sedemikian rupa, plus higienitas yang patut dipertanyakan. Tetapi, syukurlah, saya baik-baik saja menyantap makanan di warung-warung kelas teri itu. Lebih dari itu, untuk sepiring munjung nasi pecel lauk ayam goreng plus tempe dan rempeyek remuk lengkap dengan segelas es teh, uang sepuluh ribu rupiah masih susuk.

Karena penasaran akan ramainya, pernah saya mampir ke sebuah warung yang menu utamanaya adalah nasi bebek. Setelah menu dihidangkan dan saya santap, ah, ternyata rasanya kurang mengena bagi lidah saya yang berkelas kaki lima ini. Sebagai nasi bebek, bagi saya penampilannya terlalu 'cantik'. Lagian, dengan semacam kuah warna kekuningan, ia mengingatkan saya akan kuah sayur lodeh. Lebih kurang nikmat lagi ketika saya harus membayar agak mahal untuk itu.

Untuk nasi bebek, lidah saya ini cocoknya di warung kaki lima di daerah Wonokromo, tidak jauh dari lampu merah sisi timur. Sambil makan, saya bisa menikmati suasana macetnya jalanan. Tukang martabak yang asyik membanting-banting adonan sampai tipis dan lebar. Tidak jauh dari situ ada tukang tambal ban yang kesepian, tiada 'pasien'. Atau kalau pas ada kereta api lewat, telinga ini menangkapnya sebagai irama yang menggema.

Warung nasi bebek ini sudah saya kenal sejak masih di seberang jalan dulu, tidak jauh dari pos polisi. Tetapi sekarang di area itu sudah tidak boleh ada PKL mangkal. Di lokasi sekarang, dengan menu yang sudah dikenal pelanggannya, yang datang tetaplah ramai. Lagian, secara lokasi, di tempat yang baru ini pun tak kalah strategisnya. Karena, ia berada di ujung selatan 'pasar maling'. Sebuah tempat dengan aktifitas jual-beli yang kalau makin malam makin ramai. Kenapa disebut 'pasar maling'? Ya, karena di tempat itu bisa didapat ponsel kosongan, baju, jaket, sepatu dan barang-barang second lainnya dengan harga bantingan. Dengan harga semurah itu, dicurigai barang itu adalah dari hasil nyolong. Itulah sebabnya ia dibilang sebagai pasar maling.

Nasi bebek di Wonokromo ini secara tampilan lebih 'serem', dengan sambal lebih nendang. Dibubuhi taburan srundeng yang khas, ia nikmat sekali disantap di tempat. Tetapi bagi yang ingat anak-istri di rumah, bisa pula dibungkus untuk dibawa pulang. Dengan memakai kertas minyak ala kaki lima, sebungkus nasi bebek Wonokromo ini dibandrol seharga sebelas ribu rupiah. Bagi saya, itu harga bersahabat untuk seporsi menu kuliner kali lima yang mantap. *****


Selasa, 11 Juni 2013

Nasi Boranan Khas Lamongan



APA yang Sampeyan ingat tentang kuliner khas Lamongan?
Soto ayam? Tentu tidak keliru. Atau nasi goreng? Boleh juga. Wingko Babat? Bisa jadi. Lalu apa lagi? Kalau saya sebut nasi boranan, walau ada yang tahu, saya duga ada juga yang belum kenal. Ya, sekalipun tak sepopuler soto ayam, nasi goreng atau tahu tek, nasi boranan adalah juga makanan khas Lamongan.

Kalau wingko, soto, nasi goreng, tahu tek sudah bisa ditemui di daerah di luar Lamongan, sementara ini, seperti halnya Persela (maaf), nasi boranan baru menjadi jago kandang. Ia masih bisa ditemui sebatas wilayah kota Lamongan saja. Di sekitar pasar atau alun-alun, atau ada juga (kalau malam) digelar secara lesehan di sekujur trotoar di wilayah Dapur, tak jauh dari Lamongan Plaza.

Karena penasaran, suatu siang saat mengantar ibunya anak-anak belanja di pasar Lamongan, saya yang memang termasuk suami kurang setia dalam hal menemani belanja si istri, mencari tahu adakah yang berjualan nasi boranan di siang bolong begitu.

“Itu,” kata tukang parkir menjawab pertanyaan saya. Ia menunjuk seorang ibu setengah tua memakai kebaya yang menggelar dagangannya tak jauh dari tangga pasar di seberang jalan. Pasar besar Lamongan yang tak jauh dari alun-alun kota itu memang terbagi dua; dibatasi jalan, namun ada akses di atas jalan untuk keduanya. Nah, di sebelah tangga pasar sisi selatan itulah kemudian saya menuju.

Sepintas, tak ada yang istimewa dari nasi boranan itu. Lauknya ada daging ayam, ikan tombro, udang dan tentu saja bandeng. Semuanya saya duga dimasak bumbu bali. Satu-satunya yang khas, menurut saya, yang kemudian menjadi nama nasi boranan adalah wadah nasinya yang terbuat dari anyaman bambu dengan bentuk sedemikian rupa. Itu, menurut istilah orang Lamongan, disebut boran. Karena si nasi diletakkan disitu, jadilah disebut nasi boranan. Hanya itu? Tentu tidak. Yang spesial, lauk nasi boranan adalah ikan sili. Sayangnya saya kurang tahu secara detail tentang ikan yang sekarang konon sudah langka ini.

“Karena langkanya itu,” cerita seorang teman yang asli Lamongan,”sebungkus nasi boranan berlauk ikan sili, harganya selangit; duapuluh ribu!”

Ya, dibanding harga soto ayam atau nasi goreng kelas kaki lima yang seporsi tak sampai sepuluh ribu, sebungkus nasi boranan dengan harga segitu tentu terbilang mahal. Sangat mahal malah. Tetapi untuk yang berlauk bandeng seperti yang saya beli siang itu, harganya tak jauh dari taksiran saya; di bawah sepuluh ribu.
-oOo-
Kemarin malam, sepulang dari bezoek famili di RSUD Lamongan, maksud hati ingin makan malam nasi boranan di pinggir jalan. Namun apa daya para PKL yang menggelar dagangan di trotoar secara lesehan semuanya berada di sisi selatan. Sementara saya yang pulang ke arah Surabaya, agak malas menyeberang pakai motor tunggangan saya di antara padatnya kendaraan, bus-bus dan truk-truk besar ke arah pantura. Lagian, perut saya belum lapar-lapar amat. Lagian saya sudah pernah merasakan nasi boranan.

Tapi bagi yang belum, bila sedang melintas di kota Lamongan, tidak ada salahnya mencoba makan nasi boranan secara lesehan di pinggir jalan, sambil memandang kendaraan-kendaraan besar berseliweran. Ya, hitung-hitung menikmati menu alternatif selain soto di kota soto.*****