Jumat, 04 November 2011

'Hadiah' Oli


IBARAT dalam balapan F1, untuk jarak tempuh Surabaya-Lamongan via Manyar, Betoyo, Glagah, Sooko, Blawi, Sambo sampai Mayong, saya tahu harus masuk pit-stop kapan dan dititik mana saja. Karena begitu masuk Betoyo sudah tidak ada lagi SPBU, biasanya saya mengisi bensin di Surabaya hanya lima sampai tujuh ribu rupiah saja. Perhitungannya, nanti saya masuk pitstop lagi di SPBU Sukomulyo; untuk full tank.

Dalam suatu ritual mudik mingguan, hari itu (saya lupa tanggalnya) seperti biasa hendak mem-full tank-kan tanki Honda Grand saya. Sambil antre, saya lihat ada beberapa anak muda berpakaian necis didekat petugas SPBU. Kepada setiap orang yang sedang mengisi bensin, saya lihat, ia selalu menanyakan sesuatu. Karena jaraknya agak jauh dan suasana ramai oleh deru kendaraan dijalan, saya tak tahu entah apa yang ditanyakan.

Dan baru tahu begitu saya juga disapanya.

“Selamat siang, pak.”

“Ya, siang,” pendek saja saya menjawab salam santunnya.

“Maaf, kalau boleh tahu, untuk motor ini, bapak pakai oli apa?” tanya pemuda itu lagi.

Sambil mengawasi angka pada meter pompa SPBU, saya menjawab,” Top1.”

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli Top1, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Setelah proses pengisian selesai, saya tuntun motor agak minggir didepan memberi kesempatan orang-orang yang juga antri. Saya membuka tas ransel untuk mengambil botol minum, ketika si pemuda tadi juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka.

“PrimaXP,” jawab seorang bapak.

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli PrimaXP, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Wah, apa-apaan ini. Apapun olinya, silakan ambil hadiah menarik disana?

Dan ketika saya dekati yang stand by didekat pintu keluar, seorang gadis itu menyodorkan 'hadiah' dibungkus kardus. Dari gambar luar kemasannya, saya tahu isinya sebuah pesawat telepon. Telepon memang bisa menyambung komunikasi, tetapi antara oli dan pesawat telepon saya tidak menemukan sambungannya. Tetapi, namanya juga 'hadiah'. Maka, saya sahut saja.

“Tunggu dulu, pak,” cegah si gadis itu ketika saya hendak memasukkan 'hadiah' itu ke tas saya. “Bapak hanya perlu membayar ini seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Murah, pak. Karena kami sedang promosi. Bapak akan membayar lebih mahal bila membeli di toko...”

Sambil meminta kembali 'hadiah' yang batal masuk tas saya, terus saja ia berkata. Tetapi terus saja saja saya melajukan motor saya.

Kali lain, saya juga menemukan praktek begitu. Bukan di kota pinggiran. Tetapi di sebuah SPBU di jalan Ahmad Yani Surabaya. Saya tak habis pikir, kenapa pihak SPBU mengijinkan mereka melakukan praktek 'penipuan' itu diareanya. Ataukah ada setorannya?*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar