Jumat, 25 November 2011

Menjual Iba


SEKITAR tiga tahun yang lalu saya ditugaskan untuk mengantar calon penyewa ruko milik perusahaan tempat saya bekerja. Bersama seorang driver, saya semobil dengan dua ibu muda itu. Tentu saja saya tahu ‘kasta’. Sepanjang perjalanan yang tak seberapa jauh (dari HR Muhammad sampai jalan Diponegoro), saya lebih banyak diam.

Selain memang beda ‘kasta’, saya memang terbiasa untuk tidak ikut bicara bila seseorang yang belum saya kenal sedang asyik bicara dengan temannya. Kesempatan itu saya gunakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik. Sekaligus ‘membaca’ keadaan, agar ketika saya kemudian harus ikut nimbrung, saya tahu yang akan saya katakan. Menurut saya ini penting. Karena, ketika kita tahu ‘isi kepala’ lawan bicara kita, kita bisa nyaman dan nyambung saat terlibat dalam percakapan.

Contohnya, tak mungkinlah saya bicara tentang  IT  ketika harus bicara dengan paman saya yang petani, misalnya. Berbicara dengan guru, tentu lebih gayeng  bila topik yang kita usung adalah tentang dunia pendidikan. Untuk kasus ini, Barack Obama termasuk jago. Ingat, ketika tahun lalu beliau hadir untuk kali pertama ke Indonesia, beliau selain mengucap ‘assalamualaikum’, juga memulai kata sambutannya dengan,” Pulang kampung nih...”

Heboh betul audience mendengar sepenggal kalimat itu. Artinya, menurut seorang penulis senior, Obama tahu tempat untuk ‘masuk’ lebih dalam. Ia bisa mengaum dikandang singa, atau mengembek dikandang kambing!

Ketika saya mulai harus ‘masuk’ satu-dua kata dalam percakapan dengan dua ibu muda itu, jalanan Surabaya lagi macet-macetnya. Lepas dari Mayjen Sungkono lebih lega. Masuk Adityawarman sampai Ciliwung lancar jaya. Tetapi harus berhenti karena traffict light menyala merah di ujung Ciliwung. Dari titik itu, ruko yang menjadi TKP yang kami tuju tinggal selangkah lagi.

Panasnya Surabaya sedang tidak saya rasakan karena mobil ini ber AC. Tetapi salah satu ibu itu malah membuka kaca,” Koran,” katanya sedikit berteriak.

Seorang ibu muda (yang ini penjual koran) menghampiri. Diterik siang itu, saya lihat, ia tidak hanya mendekap dagangan koran. Tetapi juga menggendong bayi.

Surya,” kata ibu muda dari dalam mobil.

Ibu muda penjual koran menjulurkan se-eksemplar ke kaca jendela mobil yang terbuka. “Seribu,” ucapnya.

Ketika selembar limaribuan telah diterima, lalu penjual koran yang sambil menggendong bayi itu sibuk hendak mencari uang kembalian disakunya,” Kembaliannya ambil saja untuk ibu...” kata ibu muda calon penyewa ruko.

Sungguh, ibu muda penjual koran itu setiap pagi masih saya lihat di ujung jalan Ciliwung. Tetapi bayi yang digendongnya tiga tahun lalu itu, sekarang sudah bisa berlarian. Berlarian? Iya. Dan itu ditrotoar yang bila kepleset sedikit saya bisa-bisa 'disambar' kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Tetapi, iseng angan saya ‘masuk’ lebih dalam. Begini; berjualan koran tentu lebih terhormat ketimbang mengemis. Dalam hal ini saya harap sampeyan setuju dengan saya. Tetapi, ketika sambil berjualan itu ia juga sedang ’menjual’ nelangsa bagaimana? Bisakah ini dibilang sebagai trik ‘mengemis’ yang lebih manis? Entahlah.

Dalam membeli koran, sering juga saya berlaku begitu. Saya memilih membeli kepada anak-anak ketimbang kepada penjual yang seusia dengan saya, misalnya. Sekalipun tidak saya ungkap, tentu sampeyan mengerti mengapa saya berlaku begitu. Ya, rasa iba kadang muncul begitu saja melihat bocah-bocah seusia anak saya harus berpanas-panas ria mencari uang dengan berdagang koran. Rasa iba saya itu tentu tak seberapa dibanding dengan yang dilakukan calon penyewa ruko yang saya ceritakan diatas. Karena saya hanya membeli dagangannya, dan masih meminta uang kembaliannya. Hehehe..., kebacut  ya.

Atas dasar yang sama, Kamis pagi 3 November yang lalu, saya membeli koran seribuan di depan kantor Telkom Kendangsari. Penjualnya bukan anak-anak. Tetapi sudah, saya kira, pantas sebagai ibu muda. Sekalipun tidak sambil menggendong bayi, rasa iba saya muncul melihat kondisi fisiknya. Wanita berkacamata yang berjualan diatas pembatas jalan itu kakinya cacat.

“Maaf, pak. Kembaliannya belum ada. Besok kalau bapak beli lagi saja ya....” katanya setelah menerima selembar uang duaribuan dari saya.

Tidak ada alasan untuk tidak mengiyakan alasannya. Tetapi dengan nakal pikiran saya menjatuhkan dua praduga; bersalah dan tidak bersalah. Praduga tak bersalahnya, bisa jadi saat itu ia memang sedang tidak ada uang kembalian. Lalu dengan jujur ia berkata begitu. Dan, praduga bersalahnya; ia sengaja berlaku begitu kepada siapapun pembelinya demi alasan iba. Bayangkan, jarang ada kan orang membeli koran dengan uang pas. Selalu ada kembalian. Praktik ini, saya nilai lebih tidak sopan ketimbang ketika kita dikasih kembalian permen ketika belanja di swalayan.
Tapi sudahlah. Dengan kondisi fisik begitu, dengan mau bekerja adalah tak salah bila kita saluti. Ya daripada mengemis.

Ingin membuktikan dua praduga saya terhadapnya, pagi tadi saya membeli lagi koran kepadanya. Ya, saya ingin membeli tidak dengan uang pas. Sekaligus saya tidak hendak menagih uang kembalian lebih setengah bulan yang lalu.

Surya, mbak,” kata saya.

Setelah menyerahkan korannya, dan saya bayar, ia merogoh saku tasnya. Menyodorkan uang kembalian. “Terima kasih, pak,” ucapnya.

“Sama-sama, mbak,” jawab saya sambil tersenyum. Senyum yang tak terlampu manis saya kira. Karena, pada saat bersamaan, saya sedang malu ditampar kecurigaan saya yang keliru. Betul, kondisi fisik ibu muda ini memang tidak sempurna. Ia cacat di kakinya. Tetapi sampeyan pasti dengan gamblang bisa menerawang; hatinya tidak cacat.

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar