Rabu, 02 November 2011

Tambal Ban


HARI lepas Isya' ketika saya dan istri sampai di jalan sepi yang diapit area pertambakan itu. Sepi. Hanya ada satu dua kendaran yang lewat. Lepas dari pasar Blawi sampai pertigaan Sambo Pinggir di kecamatan Karangbinangun, Lamongan, memang hanya tambak. Sejauh mata memandang yang terhampar hanyalah tambak berhektar-hektar.. Ada sih beberapa warung, tetapi bukanya hanya siang hari.

Tepat di area sepi itu, sesuatu terjadi pada ban motor saya. Bocor. Ini dia. Mau balik kanan grak ke Blawi untuk nyari tukang tambal ban, sudah jauh, Untuk keperluan yang sama ke Sambo Pinggir didepan sana, juga tak kalah jauhnya. Sebenarnya, kalau siang, saya ingat betul, ada tukang tambal ban disekitar sini. Tetapi, malam-malam begini bengkel itu sudah tutup.

“Bocor, pak?” seseorang yang sedang menunggui diesel penyedot air di sebuah tambak bertanya.

“Iya, pak,” jawab saya.

“Didepan situ ada bengkel, pak.” kata lelaki itu menunjuk sebuah bengkel yang tutup.

Saya jengkel. Karena, apa gunanya menunjuk sebuah bengkel yang sudah tutup.

“Sholeh tadi saya lihat ada, kok.” lelaki itu kembali berkata.

“Sholeh siapa, pak?”

“Sholeh itu yang mbengkel disitu. Tapi katanya malam ini ia mau nonton dangdutan di kampung sebelah. Coba saja, mungkin ia masih mau nambal”

Saya melihat, ada beberapa pemuda dengan motornya didepan bengkel. Setelah mengucap terima kasih ke bapak petambak itu, saya tuntun motor saya mendekati bengkel. Dari dekat, saya lihat beberapa pemuda itu sudah macak mbois. Berdandan keren siap untuk mejeng di pentas dangdutan.

Dalam keadaan begitu, saya ragu. Maukah pemuda itu menambal ban motor saya yang bocor. Ternyata,

“Silakan, pak. Agak dikesinikan saja motornya,” kata pemuda yang saya yakin bernama Sholeh.

Ia lalu membuka pintu bengkelnya. Mengeluarkan peralatannya. Dan, tetap dengan pakaian yang bagus itu, ia cekatan menangani ban saya.

Beberapa menit berselang, selesailah penambalan ban motor saya.

“3000,” jawabnya ketika saya tanya berapa saya harus bayar.

Angka itu adalah tarif normal. Dan, saya menilai, sungguh tidak keliru orang tuanya memberikan pemuda itu nama Sholeh.

Padahal, sungguh, dalam keadaan begitu, dikenakan tarif lebih dari itu pun akan saya bayar. ****

Tukang Tambal Ban


SETELAH belanja di sebuah minimarket di Karanggeneng, begitu motor saya tuntun dari parkiran, oh ban belakangnya gembos. Tetapi untunglah, tak seberapa jauh dari situ ada tukang tambal ban. Melihat cara ia membuka ban motor saya, saya tak ragu ia sudah sangat profesional. Dan satu predikat lagi; juga kreatif.

Lihat saja, setelah ban dalam saya dikeluarkan, ia juga mengeluarkan alat yang seumur hidup baru kali itu saya temui. Kalau biasanya tukang tambal ban selalu memakai gergaji besi untuk 'mengerik' lapisan disekitar yang bocor sebelum ditambal, tukang tambal ia beda. Ia menggunakan alat, yang saya yakin hasil modifikasi sendiri. Bentuknya; sebuah pedal dan rantai serta gir. Dua gir, depan dan belakang, dihubungkan seuntai rantai. Jadilah ia sebagai gerinda manual. Karena di gir yang kecil, dimodifikasi sedemikian rupa dengan fungsi sebagai ganti gergaji besi ala tukang tambal ban tradisional.

Hasilnya? Hanya dalam beberapa kali putaran pedal, gerinda manual itu telah mengikis sekitar area ban dalam motor saya yang tertusuk paku. Proses selanjutnya sama persis. Beberapa menit kemudian, selesai sudah.

Saya bawa pulang. Tak jauh. Hanya sekitar enam atau tujuh kilometer menuju desa saya. Dan, ban bocor lagi. Juga ban belakang lagi. Mau tak mau saya bawa ke tukang tambal ban lagi. Tukang tambal ini seperti lazimnya, tanpa gerinda manual. Ia, saya lirik di kotak alatnya, masih menggunakan gergaji besi.

Begitu ban dalam dikeluarkan, oh rupanya yang bocor tidak jauh dari bocor yang tadi. Tetapi bukan kena paku atau barang lancip lainnya. Tetapi, “Ini terlalu tipis kena 'ngeriknya',” kata tukang tambal ban.

Rupanya, alat gerinda manual itu si tukang tambal ban di Karanggeneng tadi terlalu rakus mengikis yang seharusnya tidak disentuhnya. Artinya, dengan gergaji besi masih lebih baik.



Seorang tukang tambal ban di Rungkut malah berani memberi garansi akan tambalannya. Bila hasil tambalannya bocor lagi, ia mempersilakan untuk dibawa kesitu lagi. Ditambal lagi. Gratis.

Bisa jadi itu hanya trik marketing saja. Agar terlihat defferisiansi-nya dengan yang lain. Karena, mana mungkin membawa kesitu bila bocornya lagi sudah di Mojokerto, misalnya.


Di Greges, beberapa ratus meter setelah terminal Osowilangun dari arah Gresik, suatu malam yang gerimis ban motor saya bocor. Setelah menuntun beberapa jauh dalam rinai itu, saya dapati tukang tambal yang rupanya lagi panen. Dua tukang tambal ban itu sibuk sekali, saya lihat. Sebelum saya sudah ada dua 'pasien'. Satu, sebuah Supra, sudah dalam proses pemasangan ban, satu lagi menunggu giliran. Tetapi bannya sudah dilepas.

“Bocor, mas?” saya bertanya.

“Iya, ini copnya sobek,” jawab lelaki yang menunggang Mega Pro ini sambil menunjukkan ban dalam motornya kepada saya.

Pasien pertama selesai. Setelah membayar sejumlah ongkos, ia melajukan Supranya menembus guyuran gerimis.

Si Mega Pro segera ditangani. Sementara 'dokter' yang satunya mulai mengoperasi ban saya. Hasil diagnosanya?

“Wah, bannya robek disebalah cop pentilnya, pak,” ia memberi tahu saya.

Gila.
Saya pikir ini pasti ada yang tidak beres. Mana mungkin Grand saya berkasus sama dengan si Mega Pro. Pasti ini malapraktek. Tapi mau bagaimana lagi. Saya dalam kondisi lemah. Maksudnya, roda saya sudah dilepas. Mana mungkin saya bawa pergi dan mencari tukang tambal yang lebih bernurani.

Akhirnya, saya harus ganti ban baru yang memang ia menyediakan. Harganya, sungguh lebih mahal dari biasanya. Tetapi lagi-lagi saya bisa apa. Dengan rasa mangkel yang mengguyur sederas gerimis malam itu, saya harus menerima keadaan.

Tetapi dalam hati saya bersumpah. Saya tak akan membawa ke tempat itu bila ban saya bocor disekitar situ lagi.*****

Minggu, 30 Oktober 2011

Rahasia Sukses

TIDAK ada rahasia untuk meraih sukses. Itu adalah hasil persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan.

( Colin Powell, tokoh AS )

Si Kunci

TELEPON berdering. Dari seberang suara mbak Nanin Indah mengabarkan kunci laci mejanya bermasalah. Sejurus kemudian saya meluncur ke TKP. Ke office 103. Kerusakan itu tak seberapa serius, saya kira. Kunci dan cylinder itu memang bukan 'suami-istri'. Ia bukan pasangan sah. Makanya, ia tidak bisa muter. Jadi?

“Harus ganti baru, mbak. Atau kalau mau lebih murah, ya diduplikatkan saja anak kuncinya,” jawab saya.

Sampai titik itu semua beres. Mbak Nanin setuju untuk diduplikatkan saja. Saya balik kanan grak menunggu kabar selanjutnya.


Ketika kunci duplikat selesai, telepon berdering lagi. Mengabari hal agak diluar dugaan saya. Anak kunci itu telah disesuaikan sebagai 'suami', tetapi tetap ada masalah. Bisa berputar, tetapi gagal mengunci. Ini dia; kunci tidak bisa mengunci! Aneh. Seaneh penyanyi tak bisa menyanyi, atau atasan yang tidak bisa mengatasi.

Sekalipun saya bukan ahli kunci, sebagai bagian dari tugas, saya meluncur lagi ke TKP yang sama. Saya utak-atik. Saya putar kekiri dan kekanan. Lalu saya susul dengan gelengan kepala kekiri-kekanan. Dalam gelengan itu saya artikan sebagai; saya harus meminta bantuan teman yang lebih ahli tentang dunia perkuncian; 'oknumnya' adalah cak Tris.

Dan benarlah yang saya duga. Cak Tris, dengan kemampuan 'linuwihnya', hanya melakukan 'operasi kecil' atas kunci yang bermasalah itu. Beres. Key word dari hal ini adalah; serahkan sesuatu pada ahlinya.


Saya telah searching, tetapi belum menemukan oleh siapa kunci itu diciptakan dan sejak kapan ia digunakan. Dan malah, ketika saya minta bantuan mbah Google mencari (dengan lebih dulu menulis kata kunci 'kunci', yang muncul adalah kunci sukses, kunci meraih kebahagiaan, kunci bermain gitar dst, dsb...

Ya, dalam banyak (kalau tidak disebut semua) bidang, adalah semacam lacinya mbak Nanin. Ada pintunya, sekaligus ada kuncinya.

Untuk membuat tulisan inipun saya memakai kunci. Ia menjadi laksana password  untuk masuk kesebuah akun. Dalam hal ini, agar saya bisa masuk dan 'memasuki' sampeyan yang sampai kalimat ini masih sudi-sudinya membaca catatan ini.

Diseantero tempat, banyak aneka 'kunci' yang bisa jadi cocok untuk 'cylinder' kita. Kita bisa, kalau mau, dengan mudah mencomotnya. Buku-buku motivasi, atau petuah-petuah bijak adalah juga 'kunci'. Kisah-kisah orang sukses dengan segala jalan terjal berliku prosesnya adalah 'kunci'. Tidak ada yang salah ketika kita meng-copy paste-nya. Tidak harus sama persis. Karena, saya pernah membaca seorang pebisnis sukses yang memakai rumus ATM. Amati, tiru dan modifikasi.

Okelah. Upaya boleh ditiru, tetapi rejeki ada yang mengatur. Bisa jadi sampeyan adalah pencipta lagu dan istri sampeyan hobby fotografi, tetapi sampeyan berdua bukan presiden dan ibu negara. Karena hanya ada sepasang suami-istri dengan hobby begitu yang sedang beruntung menjadi pemimpin negara besar ini.

Maaf, kalimat diatas itu terlalu lebay. Namun, “Success is my right,” kata seorang motivator.
Mau?

Jumat, 28 Oktober 2011

Quotes


"It is better to be violent if there is violence in our hearts, than to put on the cloak of non-violence to cover impotence" 
--Mohandas Karamchand Gandhi

Kamis, 27 Oktober 2011

Selasa, 25 Oktober 2011

Sasaran Tembak


KAMERA, bagi seorang fotografer (baik yang profesioanal maupun yang kelas amatir) adalah barang yang fardu 'ain hukumnya untuk selalu ditenteng. Ia ibarat senjata bagi tentara atau polisi. Dimana ada sasaran yang layak ditembak, tinggal klik!

Saya bukanlah termasuk yang begitu itu. Yang amatir sekalipun. Walau, pernah berhari-hari membawanya, membayangkan ada obyek langka yang layak 'tembak'. Tetapi saya bukanlah orang yang sabar. Dalam berhari-hari itu, sambil berangkat dan pulang kerja, hanya satu-dua yang kena sasaran saya. Selebihnya nihil.

Disitulah lalu saya menyerah. Eman-eman si Canon saya tentang-tenteng tanpa pernah ditembakkan. Tetapi, lhadalah. Disaat saya tanpa 'senjata' itu, melintas depan hidung saya obyek yang saya idamkan; seorang bapak bersepeda ontel ikut berjejal dipadatnya lalu lintas raya Wonokromo ssebelah Bonbin ke arah raya Darmo. Seorang bersepeda, apa istimewanya?

Kalaulah ia sekadar seorang bapak yang sedang bike to work secara lazim, tentu saya tak istimewakan dia. Tetapi karena ia tampil beda, tentu ia saya nilai beda. Perbedaan itu adalah; ia memakai helm lengkap dengan jaket dan sepatu kets. Dan, perlu saya tegaskan, helm itu bukan helm sepeda, tetapi helm teropong SNI yang sebagai pasangan orang bermotor.

Kalau ketika itu saya bawa kamera, dan berhasil 'menembaknya', tentu saya tak perlu berbuih-buih menulis deskripsinya kepada sampeyan..

Besoknya, saya kembali bawa kamera. Berharap ketemu si bapak itu lagi. Atau paling tidak nemu obyek lain yang tak kalah menarik. Saya merasa, kok kayak aparat kemanan yang kembali bergairah melakukan razia setelah kebobolan bom. Dalam membawa kamera ini, saya terkesan 'hangat-hangat tahi ayam'.

Lama tak mendapat sasaran tembak, kelakuan saya kumat lagi. Si Canon saya tinggal lagi. Ia saya biarkan tidur nyenyak di laci lemari kamar saya yang panas di akhir bulan Oktober ini.
Dan, ndilalah, disaat saya tak berkamera begitu, muncul lagi sasarannya. Bukan si bapak yang tempo hari itu. Bukan sekadar sepeda ontel, tetapi sepeda motor.

Kali ini saya mengikutinya sampai di jalan Mayjen Sungkono. Namun saya mulai melihatnya sejak di lampu merah depan bekas studio radio Lavictor diujung jalan Adityawarman menjelang Mayjen Sungkono. Motor itu sejenis yang saya tunggangi. Honda dari jenis Supra X-125. Warnanyapun tak berbeda dengan punya saya; kombinasi merah hitam dengan velg bintang. Nopolnya; L 6844 AE.

Yang membedakan dari motor saya, pada 'pinggul' kanan kiri, dibawah joknya, tak tertera tulisan resmi Honda. Tetapi Akas, warna kuning persis seperti yang menempel pada tubuh PO Akas.

Saya ikuti si Akas itu, sambil menyesal saya tak membawa kamera. Terus saja saya ikuti sampai ia berbelok ke SPBU di sebelum taman makam pahlawan. Sampai disitu saya baru berusaha menghibur diri; saya bukan fotografer. Saya ingin menjadi penulis. Karena dengan 'hanya' sebagai penulis, nyaris saya tak memerlukan alat bantu ketika membidik sasaran. Saya hanya perlu menyimpannya diotak, kemudian menuliskannya. Walau, tentu saja, tulisan itu akan lebih memikat bila disertai hasil jepretan kamera.

Salam.

Minggu, 23 Oktober 2011

Happiness

"Kebahagiaan tidak datang dari melakukan pekerjaan mudah, tapi dari sisa-sisa cahaya kepuasan yang datang setelah pencapaian tugas sulit yang menuntut yang terbaik '.
(Theodore Isaac Rubin)

Ayam Goreng 'Striker'

DIDEKAT rumah saya ada penjual jamu yang laris sekali dagangannya. Banyak yang cocok, rupanya. Tetapi, kalau saya amati, jamu yang dijual sama saja dengan yang djiual tukang jamu yang lain. Ada Sido Muncul, Air Mancur, Jamu Jago, Dua Putri Dewi, Nyonya Meneer dan lain-lain. Jan pleg sama. Ataukah kecocokan itu sama halnya dengan; semua orang bisa bikin sambel pecel tetapi, lain tangan lain pula kesedapannya. Begitu? Entahlah.

Di kios jamu yang terletak didepan rumahnya itu ada tersedia beberapa bangku. Itu untuk tempat berantre. Karena cak No, begitu tukang jamu itu biasa dipanggil, mengaduk ramuan jamunya menggunakan tangannya. Tidak pakai mesin pengaduk. Jadi, ya memang lama. Tetapi sekalipun begitu, karena banyak yang 'jodo', tetap saja orang rela antre.

Sebagaimana lazimnya tukang jamu, ia sangat tidak sama dengan dokter! Begini maksud saya; kalau saya ke dokter, setelah diperiksa, saya pasrah bongkokan saja mau dikasih obat apa. Itu menjadi semacam hak prerogatif dokter. Ke tukang jamu tidak begitu. Kita bebas menentukan jamu apa yang kita minum. Misalnya, kita bisa meminta jamu Ngeres Linu dari merek Nyonya Meneer dicampur Esha yang buatan Jamu Jago. Dan tukang jamu seperti cak No ini, akan tidak banyak tanya tentang hal itu.

“Jamu apa, cak?” tanya cak No ketika giliran saya.

“Ngeres Linu yang Nyonya Meneer,” jawab saya.

“Campur?”

“Tidak, cak.”

“Telurnya?”

“Satu saja.”

Selanjutnya, istrinya yang mengambil bungkusan jamu pesanan saya. Menggunting bungkusnya, menuang ke gelas. Tiba giliran mengaduk, itu bagiannya cak No.
“Yang linu apanya?” bertanya begitu cak No sambil mengaduk jamu pesenan saya.
“Boyok, cak”

“Boyok kiri apa kanan?”

Halah, memangnya ada jamu yang khusus boyok tertentu begitu? Saya tersenyum, bisa jadi itu sekadar intermezo agar pelanggan sedikit terhibur setelah sekian lama menunggu.


Suatu kali saya diajak teman purchasing belanja ke pertokoan di jalan Baliwerti. Ketika tiba waktu makan siang, diajaklah saya andok ke sebuah warung pinggir jalan. Seperti halnya warung jamunya cak No, warung nasi inipun ramai sekali. Tak perlulah saya ceritakan kenapa sebuah warung menjadi sangat laris. Pasti sampeyan telah tahu; kalau gak murah, ya masakannya yang enak. Dan kata teman purchasing tadi, warung itu perpaduan dari keduanya. Ya murah, ya sekaligus enak.

“Pakai apa, cak?” tanya Joko, si teman purchasing kepada saya. Ya, ia berhak bertanya begitu kepada saya karena memang ia yang mbayari.

“Wah, aku ya ikut kamu saja,” jawab saya.

Akhirnya, “ Pakai ayam goreng dua, buk,” pesan Joko ke si ibu warung.

“Paha apa dada?” tanya ibu warung.

“Sayap ada?”

“Ada.”

“Ya, saya sayap saja.”

“Sayap kiri apa sayap kanan?” tanya ibu warung lagi.

Saya melirik Joko sambil tersenyum, “Kamu pilih yang 'striker' saja, Jok.”

Selasa, 18 Oktober 2011

Foto Pancingan

     KARENA tak juga menikah, suatu hari ayah saya membawakan selembar foto pernikahan seseorang. Saya tersinggung. Itu bukan foto pernikahan seorang saudara. Bukan. Itu hanyalah foto pernikahan seorang mantan tetangga. Mantan? Iya. Karena saat itu rumah kami telah sangat berjauhan.
     Jadi, apa tujuannya menunjukkan foto sepasang ratu dan raja yang tidak ada hubungan kekerabatan itu didepan saya? Dalam luapan emosi itu saya tahu, itu sebagai pancingan. Agar saya segera ingin menikah. Menikah? Ah, mana ada orang tua yang begitu tega anaknya diperistri oleh saya yang sedang naik daun sebagai pengangguran? Oh, bumi gonjang ganjing......
     Dirundung rasa tersinggung itu, saya nunut truk pergi ke kota Surabaya. Dan setelah kesana kemari menjadi kuli, saya akhirnya dapat istri juga. Orang jauh. Karena, ya itu tadi, kalau orang dekat rumah mana ada yang mau? Hehehe...
     Belakangan saya sadar makna foto pancingan yang ayah tunjukkan dulu. Agar saya emosi. Agar saya 'minggat'. Agar saya menapaki hidup ditempat lain yang jauh dari rumah. Karena, ditempat baru, akan memunculkan segala kemungkian baru.
     Salam.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Operasi Kecil

     SEKITAR tiga tahun yang lalu istri saya mengalami gangguan pada penglihatannya. Semakin hari semakin dikeluhkannya. Ingin tahu apa yang terjadi demgam matanya, istri saya memeriksakan ke dokter perusahaan di tempatnya bekerja. Hasilnya? Harus didiagnosa oleh dokter spesialis mata. Maka dirujuklah istri saya ke rumah sakit terbesar di Surabaya.
     Pada hari yang ditentukan, saya antar istri saya ke RS itu. Setelah antre beberapa waktu, dipanggillah istri saya masuk ke ruang pemeriksaan di poli mata. Saya masih ingat, yang memeriksa dokter Ferry namanya. Masih muda. Dan ganteng. Tidak tahu saya, karena mengalami gangguan pada matanya, apakah istri saya sempat memerhatikan kegantengan sang dokter.
     “Harus dioperasi ini,” kata dokter Ferry, enteng.
     Operasi?
      Wah, melihat jarum suntik saja istri saya hatinya berdesir, kok ini harus operasi. Mata lagi.
     Dokter ganteng itu tersenyum. “Ini operasi kecil saja, kok,” katanya seolah tahu apa yang sedang berkecamuk didalam hati kami.
     Saya dan istri saya diam. Operasi kecil? ‘Tetapi ini mata, dok.’ Tentu kalimat bantahan barusan itu hanya berkecamuk dalam batin saya saja.
     Saya dan istri sedang kompak membayangkan tentang operasi. Sekalipun itu kecil saja kategorinya. Tetapi karena TKPnya adalah mata, ngeri saya membayangkan bila disaat operasi tiba-tiba salah satu alatnya mak pluk jatuh ke kornea mata istri saya. Itu kekhawatiran pertama saya. Tetapi kekhawatiran lainnya, penglihatan istri saya akan makin memburuk bila tidak segera ditangani.
     “Semua keputusan ada di pihak ibu. Tetapi kalau menurut medis, ya memang harus dioperasi,” dokter Ferry kembali berkata. “Bagaimana?”
     Setelah menghela nafas dan membaca basmalah, istri saya mengangguk. Sekalipun saya tahu, ada takut dihatinya. Juga dihati saya.
     Tiga hari kemudian, tibalah saatnya operasi. Duduk diruang tunggu kamar operasi, saya lihat wajah istri saya yang biasanya hitam manis mendadak putih bersih; karena pucat. Sebagai supporter, tentu saya harus selalu menyemangatinya. Selalu. Lebih-lebih ketika secara bergantian, para pasien yang tadinya ikut antre di ruang ini, keluar dari kamar operasi dengan perban tebal dimatanya. Salah satu, atau bahkan keduanya.
     Ketika nama istri saya dipanggil, sebelum masuk, saya genggam tangannya yang dingin. Mulut saya terkatup rapat, hanya mata saya yang bicara. Dan saya tahu, ia tahu apa maknanya.
     Menunggu diluar kamar operasi, hati saya tak karuan. Bukan memikirkan biaya, karena itu telah ditanggung oleh asuransi. Beberapa waktu dalam perasaan was-was itu, akhirnya timbul kepasrahan. Mulut tak henti komat-kamit menyebut nama Tuhan. Selebihnya, saya coba menenangkan diri bahwa; istri saya sedang ditangani oleh ahli dalam bidangnya. Ditangan sang ahli, sesuatu yang saya anggap hal besar, bisa jadi hanyalah hal kecil semata.
     Syukurlah, bayangan tentang alat operasi yang jatuh ke kornea tak terbukti. Bukti lainnya, setelah melalui dua kali oprerasi, mata istri saya kembali seperti sedia kala. Yang tentu bisa dengan gamblang memandang wajah dokter Ferry yang ganteng itu.

     Duduk didepan komputer ini, saya bisa menulis satu topik ringan –macam catatan sepanjang sekitar limaratus karakter ini–  dalam beberapa menit saja. Padahal saya belum terlalu ahli di bidang ini. Bagi yang sangat ahli, tentu akan lebih cepat, sekaligus lebih baik lagi.
     Menangani hal-hal lain mungkin juga bisa dianalogikan begitu. Dalam menulis, bisa saja orang –karena keahliannya– menganggap bukan hal yang sulit. Ia hanya perlu mekakukan ‘operasi kecil’ untuk membuat topik sederhana menjadi sebuah bacaan yang asik. Tetapi ketika komputernya mendadak ‘mampus’ dan tidak bisa booting, bisa jadi ia akan mati kutu mengatasinya. Ia perlu ahli komputer. Dan, sekali lagi, karena punya kemampuan linuwih, si ahli komputer hanya perlu melakukan ‘operasi kecil’ pada komputer yang modar itu.
     Kalau mau, tentu contohnya akan bisa dibuat berderet panjang. Dari masalah marketing perusahaan sampai cara me-manage keuangan keluarga. Dari mengurus anak balita sampai mengurus orang tua yang sudah memasuki masa pikun. Hermawan Kartajaya untuk bidang marketing, Syafir Senduk untuk bidang keuangan, atau nama lain dalam hal keluarga,misalnya.
     Saya sedang berkaca sekarang. Termasuk sebagai ahli apakah saya ini? Yang sanggup menyelesaikan suatu hal hanya dengan melakukan ‘operasi kecil’ saja.
     Salam.

Tulisan saya yang lain:

Jumat, 14 Oktober 2011

Bunga

BUNGA adalah kekekalan yang sekejap.


(William Blake, penyair Inggris abad 18)