Senin, 31 Agustus 2020

Tilik: Reality Show Sesungguhnya

PETAN, mencari kutu rambut, dilakukan ibu-ibu di saat senggang. Setelah lelah dengan urusan kasur, sumur dan dapur. Membentuk lingkaran. Sehingga bisa saling petan kepala lain di depannya. Ketemu kutu, diceplus, atau digites, dipenyet diantara kuku jempol tangan kiri dan jempol tangan kanan. Ada satu bumbu pelengkap agar ritual mencari kutu rambut itu makin seru. Makin gayeng. Yaitu: rasan-rasan

Rasan-rasan, ngomongin orang lain yang tidak ada dalam lingkaran petan itu, teramat nikmat gurihnya. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan rasan-rasan. Pun demikian juga sosoknya. Bisa dipetani segalanya. Seringkali kejelekannya. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki. 


Mukaddimah
-nya bisa saja sederhana. Kemudian makin melebar secara liar. Misal, celetuk Yu Sam, "Apa benar si Fikri iku sesrawungan karo Dian?"

Dan percakapan pembuka rombongan Bu Tejo dalam perjalanan ke Rumah Sakit hendak tilik, menjenguk, bu Lurah (ibunya Fikri) yang lagi gerah, sakit itu mengalir lancar jaya. Terlihat tidak seperti sedang berakting.

Minggu, 30 Agustus 2020

Sambal Bongkot, Oh My God!


UNTUK
urusan makan, saya ini termasuk orang yang menganut faham pokoknya kenyang. Bukan sebagai petualang rasa. Dalam artian suka mencoba menu baru yang tentu mempunyai rasa baru. Saya kira ini ada untungnya. Paling tidak, selain baju yang tidak sering ganti (karena punyanya cuma itu melulu), tidak suka mencoba menu makanan baru dapat diindikasikan hanya dilakukan oleh orang yang setia. Orang yang tidak suka syelingkuh (pakai syin). Yes, dengan memakai parameter itu, saya masuk kategori orang yang setia setiap saat seperti bunyi iklan deodorant.

Tempo hari saya membuat status di wasap tentang lidah saya yang kangen sambel bongkot. Itu nyata adanya. Bukan mengada-ngada. Bahwa dulu saya tidak suka sambel itu memang iya. Tetapi kemudian menjadi suka berawal dari coba-coba. Sekali dua kali, lidah saya mulai bisa menerima. Lalu, kini, mengangeninya. (Jangan-jangan hobi selingkuh juga berawal coba-coba demikian itu😊).


Dulu, saat bertugas di Bali, dalam sebulan sekali pulang ke Surabaya, selalu saya bawa si bongkot itu. Yang sebelumnya tidak saya sukai itu. Saya bawa naik pesawat. Di rumah saya sambal sendiri. Pakai terasi. Pakai teri. Ditambah pete. Dimakan sama nasi hangat, amboi rasanya. Kalau saja si Inces Nabati mencoba sambal buatan saya itu, tentu ia akan bilang: Duh Gustiiii..... Endol surendol takendol-kendol nguenah....

Entah dimana di Surabaya ini saya bisa beli si bongkot yang kalau di Senganan, Tabanan, harga seikat berisi empatbelas, seingatnya saya hanya lima ribu rupiah saja. Dan di kebun Pan Sukresni, orang tua baik hati yang selama berbulan-bulan di Tabanan saya ikuti, saya bisa membawa semau saya dengan gratis belaka.

Sambil sarapan dengan sambal instan buatan pabrik, tadi pagi saya iseng bilang kangen sambel bongkot kepada Ibu Negara.

"Itu di frezer kan masih ada", sahutnya. "Dulu pernah aku mau buang, sampeyan bilang jangan".

"Iya to?!"

Istri saya menuju lemari es dan mengambil kotak tupperware berwarna hijau muda. Di dalamnya ada bongkahan kecil sambal yang menggumpal. Putih. Menjadi beku. Saya cuwil, ah iya, saya masih belum lupa. Ini benar sambel bongkot. Oh my God. Saya girang sekali.

"Ini sambal kapan ya?", saya bertanya sambil makan.

"Hampir tiga tahun lalu. Apa masih enak?"

"Enak tuh", lahap saya menyantap. "kalau nanti ada efek samping, palingan cuma mules...".

Rindu kadang memang bisa bikin orang mabuk kepayang. Eh, mabuk sambel bongkot ding!****

Koran Korban

BEBERAPA bulan yang lalu, saat sedang hangat-hangatnya berita tentang Helmy Yahya sebagai Dirut yang dicopot jabatannya oleh Dewas TVRI, saya baca di internet koran Kompas melalukan survei terkait hal tersebut. Survei Litbang Kompas, Anda tahu, tentu selalu bermutu. Jangankan soal perseteruan Helmy dan Dewas TVRI, survei soal Pilpres saja koran Kompas menyajikannya dengan ces-pleng. Maka, ketika hasil survei itu dimuat di koran Kompas, sepulang kerja saya sempatkan membeli edisi Kompas hari itu. Saya beli di tukang koran pinggir jalan. Di ujung jalan Diponegoro, seberang bonbin, Surabaya. Lalu saya lanjut perjalanan pulang, si koran Kompas itu saya masukkan bagasi motor Vario saya. Dan, hasil survei Litbang Kompas tentang TVRI-Helmy itu adalah; saya malah belum membacanya. Sampai sekarang. Sampai saya iseng membuat tulisan ini.

Jadi, saya ingin bertanya; kapan terakhir kali Anda membaca koran? Atau malah sudah tidak pernah.

Di seberang Pasar Soponyono Rungkut, saya lihat tumpukan koran yang dijual seorang agen sekarang makin menipis. Di perempatan Panjangjiwo, di dekat lampu merah, dua ibu sepuh duduk di tepi jalan memangku koran dagangannya. Duduk, pasif. Bukan laiknya tukang koran saat zaman koran masih menjadi sumber informasi andalan dulu. Yang mendatangi calon pembeli. Saat lampu merah. Dengan membaca judul isi koran edisi hari itu. Yang kadang di-lebay-kan. Agar menarik. Agar orang tertarik membeli.

Sekarang era digital. Era internet. Era paperless. Lalu nasib koran?

Membaca Jawa Pos edisi Minggu

Saya bukan orang koran. Tapi saya bisa membayangkan bagaimana orang koran mempertahankan mati-matian media cetaknya. Agar tetap hidup. Di tengah gempuran sumber bacaan yang tanpa kertas tadi. Dan era mempertahankan kehidupan media cetak sudah pernah terjadi sebelumnya. Menyesuaikan diri. Dengan perkembangan zaman yang menuntut segala sesuatu penjadi simple. Menjadi praktis.

Selasa, 25 Agustus 2020

Blogger, Vlogger, Youtuber dan Mager

IYA, entah sejak kapan, saya suka utak-atik antena televisi. Bermula dari antena UHF biasa, beranjak ke antena wajan. Iseng saja. Suka saja. Suka lihat televisi. Walau kalau saya sedang pegang remote control tivi, si remote itu bisa-bisa kegeregetan; karena saya selalu gonta-ganti channel. Tak fanatik pada kanal tertentu. Lalu kesukaan itu saya tuang dalam tulisan. Dalam blog. Sekenanya. Semaunya. Sok jadi pengamat televisi. Karena, saya pikir, jadi pengamat televisi itu gampang. Tinggal nonton, amati, ulas, lalu posting di blog.

Ternyata saya keliru. Ternyata tidak begitu. Pengamat tivi itu kudu paham banyak hal. Bukan berdasar amatan serampangan di layar kaca belaka. Tapi juga hal-ihwal yang saling kait-mengait dalam ikatan dunia penyiaran. Undang-undang atau regulasinya, teknologinya, resolusi gambarnya. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Dengan tahu diri bahwa saya tidak banyak tahu, maka dalam blog televisi saya itu, saya membatasi diri hanya memposting hal yang setahu saya saja. Tidak lebih. 

Awal ngeblog dulu, sekitar sebelas tahun yang lalu, saya seperti kesurupan. Entah berapa blog yang saya buat. Walau sekarang, yang saya rawat (seingatnya saja sih merawatnya 😊) hanya dua atau tiga. Termasuk ini. Yang sedang saya (atau Anda?) baca ini.

Minggu, 28 Juni 2020

Lathi Bahasa Jawa Kuno?

SEHARIAN ini beberapa kali saya menyimak lagu Lathi. Sebelumnya saya hanya mendengar secara tidak sengaja. Saat anak saya mainan TikTok. Awalnya, jujur, saya tidak tahu itu lagu siapa. Lebih jujur lagi, saya menyangka itu lagu dari penyanyi manca negara. Ternyata oh ternyata, saya yang kudet. Kalah sama bocah generasi TikTok.

Mumpung sempat, saya cari tahu siapa di balik Lathi. Selain Sara Fajira, saya temukan Eka Gustiwana. Nama yang saya konotasikan sebagai sosok  muda yang kreatif. Yang pernah menggubah (atau mengubah) dialog saat debat capres menjadi lagu. Atau merekam segala bunyi aktifitas di bandara (langkah kaki pramugari, suara mesin pesawat dlsb) menjadi karya musik yang indah di telinga. Beberapa kali pula saya lihat di Youtube penampilan Eka meng(g)ubah jingle banyak iklan menjadi satu kesatuan lagu yang enak didengar.

Di Weird Genius itu, selain Eka Gustinawa, ada Reza Arap (pakai P, bukan B) dan Gerald. Siapa mereka, sepertinya Anda lebih tahu daripada saya. Pun demikian tentang Sara Fajira.

Dalam sebuah obrolan dengan Pak Ganjar Pranowo, Sara mengungkap bahwa ialah yang memasukkan syair berbahasa Jawa yang salah satu katanya dijadikan judul lagu; lathi.

"Saya mengambil dari istilah peribahasa Jawa kuno", begitu jawab Sara saat ditanya Pak Ganjar seperti saya lihat di kanal Youtube Pak Gubernur Jawa Tengah itu, tentang inspirasi dibalik Lathi.

Jumat, 05 Juni 2020

BaliTV Pindah ke Telkom-4



HARI-HARI ini sedang hangat perihal persatelitan dibahas teman-teman tracker jalur langit. Mula-mula tentang satelit pengganti Palapa-D yang gagal mencapai orbit, yang berdampak kepada banyak siaran yang terpancar melalui satelit Palapa-D tersebut kelimpungan. Ancang-ancang pindah rumah. Ke satelit lain.

Pembetitahuan transponder di
satelit Telkom-4 pada layar BaliTV.
Selanjutnya tentang Ninmedia. Saluran TV Satelit yang mendaku dirinya sebagai TV Rakyat Indonesia ini pun sedang jadi buah bibir. Pasalnya, tiada angin tiada hujan, satu transpondernya hilang. Tak terdetek. Runtutan berikutnya, sekian saluran televisi ikutan menghilang. Tiada angin atau tiada hujan? Belum tentu begitu. Tak ada asap kalau tak ada api. Menurut beberapa teman, naga-naganya si Ninmedia sedang 'kesulitan' keuangan. Atau si operator satelit Chinasat-11 minta harga sewa transponder naik. Tawar-menawar tak ketemu harga pas, maka tak lanjut tancap gas.

Saya tahu diri. Bahwa saya tak begitu paham apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia persilatan persatelitan. Yang saya tahu, di JCsat-4B, sejak akhir bulan Mei kemarin, si 'besar' BigTV juga undur diri. Kukut.

Maka, dari tiga antena saya (4 LNB; 2 C-band, 2 Ku-band), praktis saya kali ini hanya menggunakan 2 antena saja; 3 LNB. Ninin dan Palkom. Itu pun si Ninin akan segera boyongan ke satelit lain. Kemana? JCSat-4BMeasat atau SES-9? Kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan benar-benar hanya pindah. Bukan hilang. Bukan gulung tikar.

Transponder BaliTV di Palapa-D
yang kini sudah gelap gulita.
Kembali tentang satelit Palapa-D. Yang pemain penggantinya gagal tampil, sementara si Palapa-D sendiri sudah uzur. Sudah hampir kehabisan tenaga. Tak kuat lagi berlama-lama di angkasa. Expired. Lalu, mau tak mau sekian banyak kanal yang mukim disitu mulai boyongan. Misalnya BaliTV. Yang pindah ke Telkom-4. Selanjutnya SCTV dan saudaranya (Indosiar) akan juga pindah ke Telkom-4. 

Sepertinya akan ada lagi yang hengkang dari Palapa-D ke Telkom-4 atau satelit lain. Kita tunggu saja nanti. Sambil menunggu si Corona juga minggat dari sekitar kita.

Intensitas dan kualitas sinyal
BaliTV di receiver Matrix Burger S2 saya.
Bagi pemirsa yang kehilangan BaliTV di Palapa-D, caranya bisa langsung melakukan setting di satelit Telkom-4. Lupakan transponder BaliTV di Palapa-D laiknya melupakan mantan. Mari merapat ke pelukan kekasih baru; satelit Telkom-4. Masukkan transponder 3937, polarisasi Horizontal, symbol rate 1640. Lakukan scan. Kalau siaran lain macam antvTransTVTrans|7 atau CNN Indonesia & CNBC di satelit Telkom-4 bening, dijamin siaran BaliTV juga clink. Dengan cara itu, sekarang kita bisa mengikuti lagi beragam acara kesukaan dari televisi andalan Pulau Dewata ini.*****


Rabu, 03 Juni 2020

Meramal New Normal

KANG KARIB, ketika masih kecil, saat sandal jepitnya putus dan bilang ke orang tuanya, cerita selanjutnya sungguhlah lumrah. Tepatnya lumrah dan normal di zaman itu. Yakni, bukan lalu dibelikan sandal jepit baru, namun dicarikan peniti atau paku. Lalu ditusukkanlah paku atau peniti itu ke bagian srampat sandalnya yang putus. Beres. Sandal bisa dipakai lagi.

"Itu lak zaman doeloe, Kang", Mas Bendo mengomentari cerita itu. "Coba anak sekarang, mana mau mereka pakai sandal jepit 'berpenangkal petir' begitu".

"Begitulah, nDo. Setiap zaman mengandung kelumrahannya sendiri".

Lalu Kang Karib menukil contoh termutakhir. Akibat Covid-19. Yang orang dianjurkan untuk jangan salaman dulu. Selalu pakai masker. Tentu saja ada yang manut, ada yang ngeyel. Lazim. Namanya juga homo sapiens. Nah, sampai kapan harus begitu? Harus jangan salaman, harus selalu bermasker?

Para orang pintar pun belum tahu kapan pageblug ini akan game over. Kapan pandemi ini berakhir. Nah, jangan-jangan orang kemudian keterusan tidak suka salaman dan kemana-mana dengan penutup mulut.

"Lha lak tambah bagus to, Kang", sahut Mas Bendo. "Orang menjadi makin sadar jaga kesehatan".

"Itu lak kalau maskeran, nDo. Maksudku kalau keterusan tidak mau salaman piye?".

"Aku juga lagi mikir, Kang."

"Mikir opo?"

"Mikir konsep rumah", jawab Mas Bendo. "Rumahku kan kamar mandinya di belakang. Di dekat dapur".

"Lho lak normalnya memang gitu kan, nDo?" sela Kang Karib.

"Itu lak normal cara lama, Kang. Kalau normal gaya baru, yang dibilang orang dengan kata 'keminggris' New Normal itu, bisa beda, Kang."

"Beda piye jal?"

"Sekarang orang kalau dari keluar rumah, dari berbelanja atau pulang bekerja, kan harus bebersih badan dulu. Mandi, ganti baju, baru boleh bercengkerama dengan orang rumah. Lha kalau kamar mandinya di belakang, lak sudah kadung masuk rumah, penyakit bisa keburu ngikut masuk".

"Jadi?"

"Menurut ramalanku, selain harus selalu menerapkan segala protokol kesehatan yang sekarang umum dikampanyekan, di rumah-rumah, jedhing atau kamar mandi, nantinya tempatnya tidak 'disembunyikan' di belakang seperti selingkuhan. Tapi di depan, di dekat halaman".****




Senin, 11 Mei 2020

Waswas Tes Swab (2)

RESAH dan gelisah menunggu di rumah...

Kalimat pembuka barusan, saya tulis sambil melagukan tembang lamanya Obbie Messakh, Kisah Kasih di Sekokah. Dan keresahan serta kegelisaan oleh pageblug ini sungguh sangat berbeda dibanding resah-gelisahnya hendak bertemu kekasih. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Bertemu dan apalagi ketularan Covid-19, oh jangan sampai, jangan sampai.

Tetapi, pelbagai mitos yang sebelumnya sempat bertebaran di media sosial (dan celakanya, sempat juga dipercaya), bahwa si virus tak akan masuk ke negara kita --karena ini atau itu--, sungguh tak terbukti. Kini ia ada di sini. Di sekitar kita. Sesuatu yang kita harapkan jangan sampai, akhirnya sampai juga. Baiklah. Sekarang kita kubur saja mitos-mitos yang dulu sempat kita imani itu. Kita kubur dalam-dalam dengan protokol ketat dan diiringi doa agar kita tidak terkutuk menjadi keledai.

Soal lainnya adalah stigma. Bahwa orang batuk atau bersin saja, sekarang ini langsung dilirik orang. Terlebih saya ini yang kalau sudah kadung sakit batuk, susah sekali sembuhnya. Itu contoh ringan. Contoh lainnya adalah, ketika ada tetangga meninggal karena sakit panas dan sempat dirawat di RS, tetangga kanan-kiri langsung parno. Itu kena Korona, begitu kabar diedarkan.

Padahal untuk tahu seseorang kena Covid-19 atau tidak, tidak segampang itu. Harus ada tes. Dan bukan sekadar rapid test. Harus yang lebih akurat. Harus swab.

Oleh perusahaan, awalnya saya diarahkan melakukan tes swab di sebuah Rumah Sakit di dekat RS dr. Soetomo sana. Secara jarak relatif jauh dari rumah saya. Makanya, saya usul, agar saya bisa tes di RS yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya.

Minggu, 10 Mei 2020

Waswas Tes Swab (1)

SEBAGAIMANA pernah saya tulis, saya sudah agak menjauh dari mengikuti kabar tentang Covid-19. Menghindar dari paparan berita yang, menurut saya, sudah tidak baik untuk selalu saya konsumsi. Berita-berita tentangnya senantiasa lebih kepada sebarannya yang makin luas, dengan korban yang terus berjatuhan. Termasuk dari kalangan medis. Ada juga sih berita yang positif. Dalam artian berita yang menyulut harapan. Progres penemuan obat atau vaksin, ilmuwan dalam negeri yang berhasil membuat ventilator, perusahan plat merah bidang farmasi yang akan memproduksi massal alat test, pasien sembuh dan semacamnya. Tapi, berita model begini masih kalah (baik secara jumlah maupun gaung), dibanding berita-berita tentang penderita baru, korban baru dan hal-hal 'horor' lainnya dari Covid-19. Ya mungkin istilah bad news is good news masih jauh dari masa expired-nya. Paling tidak pada media-media kita. Paling tidak itu persepsi subjektif saya.

Menjauh dari paparan berita, bukan lantas saya abai akan kemungkinan terpapar Covid-19. Ini virus gila, menurut saya. Dan kadang saya merasa, kok ya mengalami pageblug modern ini. Dulu sih sempat dengar cerita dari orang-orang sepuh. Tentang pageblug, penyakit aneh yang ganas. Ibarat kata, bila terserang, pagi sakit sore meninggal. Sore sakit, malam meninggal.

Menyikapi kebaradaan Covid-19 ini, respons orang memang macam-macam. Tidak hanya kita orang-orang bawah. Kalau kita putar ulang, dan sekarang gampang sekali mengintip jejak digital seseorang, tidak sedikit pejabat pusat yang awalnya meremehkan. Tenang... Belanda masih jauh, begitu istilah peremehan ala ludruk.

Ada orang yang begitu negara tetangga kita kena langsung waspada, ada yang ketika ada orang Ibukota kena baru jaga-jaga, ada yang baru mak-jenggerat kaget saat tetangganya kena. Inilah yang tadi saya bilang, ini virus gila. Sudah tidak terlihat (namanya juga virus!), penularannya cepat. Pakai banget!

Jumat, 08 Mei 2020

K a r d u s

LEBARAN tahun ini sepertinya akan menjadi lebaran yang berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Bagi siapapun. Juga, bagi Kang Karib dan Mas Bendo.

Mudik memang telah dilarang oleh pemerintah. Tentang larangan yang semula serasa tegas kemudian mengendur, itu hanya soal rasa. Intinya, apa pun alasannya, Mas Bendo pingin mudik.

"Tapi kalau cuma mudik wong-wing thok tanpa bawa apa-apa, yo isin aku, Kang", ujar Mas Bendo.

"Isin karo sapa, malu sama siapa?", sahut Kang Karib. "Orang kan pada sudah tahu keadaan. Sekarang ini semua serba sulit".

"Gini lho, Kang. Ketika orang pergi dari kampung halamannya, itu kan sebabnya ada dua. Pertama, cingkrang, kekurangan. Kedua, wirang, malu."

"Kalau kamu, karena dua-duanya ya?", goda Kang Karib.

Mas Bendo nyengir.

"Lanjutkan!", kata Kang Karib.

"Jadi, atas dasar itu, mosok yo aku pulang dengan tangan hampa. Lak yo kewirangan dan kecingkranganku sungguh makin tak tertahankan lagi, Kang...".

Kang Karib tersenyum nggleges.

"Padahal aku sudah siap beberapa kardus untuk mudik ini. Tinggal isinya saja yang belum ada".

"Sik, nDo. Zaman sudah canggih gini kok mudik masih pakai kardus. Ganti pakai koper kek. Kan lebih mbois."

"Gini lho, Kang. Orang kampung macam aku ini, kalau mudik bawa koper itu menyalahi tradisi. Ngowa-ngowahi adat. Koper memang praktis. Tetapi secara filosofis, ia tidak akan bisa menandingi kardus", terang Mas Bendo dengan mulut sampai nyaris berbusa.

"Wik. Jebul kardus itu ada filosofinya juga to. Baru tahu aku. Piye jal filosofinya kardus itu?".

"Selain sebagai memanfaatkan limbah agar berdaya guna lebih lama, di dalam kata kardus terkandung makna; berkarya disertai doa selalu".

Sekali lagi Kang Karib mesem ngembang tebu alias nggleges.

"Sampeyan itu, dikandhani kok malah mesam-mesem. Coba sekarang, apa makna filosofis dari koper?" tantang Mas Bendo.

Kang Karib tertawa. Lalu mengeluarkan kata-kata, "Koper itu secara filosofis artinya, gara-gara pageblug Corona, kita ini hampir jadi koplak permanen." ****


Rabu, 29 April 2020

Pageblug

"DI RUMAH SAJA?!", tanya itu lalu disusul derai tawa. Seperti biasa kalau Kang Kardi tertawa. Lepas. Tak peduli giginya bogang. "Kita ini orang kecil, nDang. Kalau di rumah saja, lalu anak-istri dikasih makan apa?".

Begitulah, tiga hari lalu. Saat ketemu Kang Kardi. Di dekat pertigaan, di depan sebuah minimarket, tempat mangkal Kang Kardi jualan, sekira jam sembilan malam. Saat Rindang keluar, nyari makan anget-anget. Istrinya kangen bakso Bogang, begitu 'merk dagang' yang ditulis Kang Kardi pada rombong baksonya. Biasanya, sebagai sesama pedagang, Rindang dan Kang Kardi tak pernah saling beli. Bertukar saja. Antara nasi goreng dan bakso.

Tiga hari sudah Rindang tidak berjualan. Di rumah saja. Seperti anjuran pemerintah. Seperti yang dilakoni orang-orang. Agar tidak dimakan pageblug. Makanya, ia menurut saja saat istrinya memintanya untuk sementara tidak berjualan dulu.

"Aku takut sampeyan nanti kenapa-kenapa", begitu alasan istrinya.

"Iya juga sih", Rindang menimpali. "Tapi, tanggal satu nanti, waktunya kita membayar kontrakan. Lalu bagaimana?"

Minggu, 19 April 2020

Lockdown Medsos

SEBAGAI yang gemar menikmati informasi sedari dulu, saat-saat ini saya sudah menginjak pedal rem untuk aktifitas tersebut. Ini berlaku untuk semua informasi yang disiarkan oleh media-media arus utama dari beragam platform. Misalnya, saya lebih sering nonton acara semacam Bikin Laper (TransTV) atau Tik-Tokan (NET.) daripada aneka program berita dari berbagai saluran di jam yang sama. Mungkin sementara saja. Sampai saya merasa situasi sudah kondusif. Sudah normal.

Apakah saat ini suguhan informasi disajikan secara tidak normal? Entahlah. Masing-masing kita terbuka peluang untuk tidak sependapat. Itu sah-sah saja. Bukan masalah. Kalaulah ada masalah, tentu lebih ke sikap individu. Selain sudut pandang, juga --menurut saya-- sudut ketahanan psikologis terhadap paparan informasi.

Wabil khusus, kalau saat ini adalah paparan berita pandemi Covid-19. Jumlah pasien baru, PDP, ODP dan korban meninggal selalu berisi angka-angka yang secara grafik saban hari senantiasa merangkak naik. Bagi sebagian orang, saya misalnya, hal tersebut bukan tidak mungkin, menaikkan pula rasa was-was, khawatir dan semacamnya. Ujungnya panik. Ujungnya lagi, konon katanya, malah kurang baik. Karena imun tubuh jadi ikutan turun. Padahal kalau imun tubuh turun, bla, bla, bla....