“KACAU,
Kang, kacau...” dengan wajah lungset
Mas
Bendo datang.
“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib
menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak
tidur.
“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum
separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat
sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas
Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.
“Kamu
itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala
Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak
usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”
“Sampeyan
itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok
bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum
siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha,
apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya
mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan
bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada
ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih,
rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara
seperti rangkaian kereta barang.
“Tindakan
itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan
bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik,
misalnya, kalau tidak sreg
memilihnya,
ya jangan diterima sembakonya?”
“Ya,
biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang,
ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara
langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering
tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak
malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya
kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi
Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah)
'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu
dibanding membeli suara rakyat sak
kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”
“Nah,
lalu sekarang piye,
saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”
“Ya
kita harus menggugat, Kang.”
“Menggugat
kemana lha
wong
katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu
semua konstitusional?”
“Embuhlah,
Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali
hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara
langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya.
Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya
akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai
yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh
sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****
Selasa, 30 September 2014
Senin, 30 Juni 2014
Olala, Asyiknya Pasang Parabola
SEJAK
memiliki reciever DVB-T2 hampir dua tahun yang lalu, dan mendapati
kenyataan laju perkembangan siaran televisi digital terrestrial cuma
begitu-begitu saja, timbul keinginan dalam hati untuk membeli antena
parabola saja. Untuk hal itu, dibandingkan dengan memakai DVB-T2 yang
cuma tinggal mencolokkan kabel antena ke pantat reciever dengan tanpa
berganti antena UHF, rasanya seperangkat parabola lengkap secara
harga sedikit lebih tinggi. Sedikit? Ya, relatiflah. Bukankah satu
unit DVB-T2 ada yang berharga di atas empat ratus ribu, sementara
reciever DVB-S yang sudah HD di pasaran ada yang harganya tidak
sampai tigaratus ribu. Satu unit LNB-C Band kisarannya limpapuluh
ribu, antena parabola mesh/jaring tigaratus ribu. Tak perlulah Anda
menjumlahkan angka-angka yang saya tulis itu. Tetapi saat
berjalan-jalan ke pusat penjualan antena parabola di Pasar Genteng
Surabaya, rata-rata pedagang menawarkan seperangkat lengkap antena
parabola diluar biaya pemasangan pada kisaran tujuhratus ribu rupiah.
Mahal? Sekali lagi, relatif.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.
Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
![]() |
| Si Paramount 6 feet. |
Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.
Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.
Rabu, 25 Juni 2014
Korban Tepukan
SECARA
pasti saya sudah lupa. Namun karena itu saya alami sebelum menikah,
perkiraan saya, itu terjadi kalau tidak tahun 97 ya tahun 98. saat
itu di kanan-kiri sekitaran pertigaan Rungkut masih semrawut, masih
banyak sekali lapak pedagang kaki lima. Lebih-lebih malam Minggu.
Berjajar di situ, mulai pedagang sepatu, baju, batu akik, bakso,
gorengan dan masih banyak lagi yang lainnya..♫♪....♫
Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.
Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.
Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.
“Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.
Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.
Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.
Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.
“Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.
Minggu, 01 Juni 2014
Jula-juli Suroboyo
PILPRES digelar sak diluk
engkas
dadi pemilih ayo sing cerdas
ojok golput ojok ora peduli
posisi presiden termasuk inti
negoro kito negoro gedhe
masalah sing onok ugo ora sepele
perkoro korupsi lan sak pinunggalane
butuh pemimpin sing tegas sikape
calon presiden wis ditetapno
siji Prabowo sing sijine Joko Widodo
ayok konco gunakno hak pilih riko
demi kemakmuran nuso lan bongso
sopo ae engkok sing dadi
ojok sampek nglalekne janji
ugo ojok salah ngangkat poro menteri
ojok sampek kliru ngingu tukang
korupsi
nang negoro kito opo sing ora
dikorupsi
mulai pengadaan kitab suci sampai
biaya haji
kelakukan koruptor pancen nggilani
pantese iku dihukum mati*****
Sabtu, 31 Mei 2014
Ayam Mainan
KADANG-KADANG
ulah penjaja mainan anak-anak bikin jengkel juga. Dengan
bunyi-bunyian, biasanya tit-tot,
tit-tot, ia datang
dimana anak anak-anak berkerumun di situ. Mainan yang dibawanya bisa
macam-macam; mobil-mobilan, boneka, senapan-senapanan, robot-robotan
dan sebagainya. Sementara, yang namanya anak-anak, sekali pun sudah
punya yang sejenis itu, masih juga ingin punya lagi. Dilarang beli,
tapi ia punya senjata andalan; menangis. Di situasi macam itu, si
penjaja mainan malah tak jua pergi. Petaka datang kala harga di-mark
up sedemikian rupa
karena si kecil belum juga diam dari menangisnya.
Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.
Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.
Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****
Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.
Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.
Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****
Kambing Hitam Kampanye Hitam
“BEGINI,”
Kang Karib menunjukkan jari tengah dan telunjuk secara dempet ketika
Mas Bendo bertanya siapa yang menang dalam Pilpres nanti.
“Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.
“Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”
“Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”
“Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”
“Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”
“Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”
“Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”
“Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”
“Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”
“Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”
“Tidak begitu piye to, Kang?”
“Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”
“Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”
“Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”
“Sebahaya apa sih, Kang?”
“Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”
“Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”
“Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”
“Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”
“Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****
“Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.
“Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”
“Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”
“Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”
“Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”
“Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”
“Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”
“Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”
“Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”
“Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”
“Tidak begitu piye to, Kang?”
“Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”
“Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”
“Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”
“Sebahaya apa sih, Kang?”
“Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”
“Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”
“Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”
“Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”
“Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****
Minggu, 25 Mei 2014
U n d a n g a n
SEMASA
hidupnya, di kampung dulu, paman saya punya cara khas dalam
memperlakukan undangan yang telah diterimanya. Ia mencantolkan pada
paku undangan-undangan itu pada saka, kayu tiang utama rumah
tuanya. Karena tiang itu persis ada di antara ruang tamu dan ruang
tengah, orang akan dengan mudah mendapati lembar-lembar undangan itu.
Dari yang paling baru sampai yang telah lama. Untuk mencari tahu yang
lama juga bukan perkara sulit, bila warna kertasnya telah usang, ya
itulah ia. Iya, bahkan undangan yang telah lama dihadirinya pun masih
saja disimpan paman. Untuk apa? Untuk kebanggaan karena sebagai tanda
orang blater, banyak kenalan yang telah pernah mengundangnya?
Entahlah.
Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.
Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.
Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.
Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.
Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****
Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.
Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.
Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.
Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.
Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****
Sabtu, 10 Mei 2014
Kepekaan Set Top Box
![]() |
| Si C dan si D milik saya. Tetapi tentu saja penilaian seperti yang saya tulis di artikel di samping ini adalah subyektif semata. Jadi, pilihan tentu terserah Anda. |
Perkara
harga, di pasaran bisa didapati set top box mulai dari 300 ribu
kurang sekian sampai dengan 400 ribu lebih sekian.
Saya
mempunyai empat set top box mulai harga terendah sampai yang lumayan
tinggi. Agar tidak menyebut merek, saya namai set top box saya itu
mulai dari A, B, C dan D. Untuk yang A, karena barang itu baru
berkelas DVB-T, tentu sekarang ia menjadi pengangguran karena siaran
televisi digital yang ada sekarang ini semua telah memakai teknologi
DVB-T2. Untuk yang B, sekalipun sudah berkelas DVB-T2, tepat setahun
saya gunakan, tuner-nya sudah mati plethes. Ia, karenanya,
lalu saya jadikan satu dengan si A agar istirahat dengan tenang di
atas lemari. (Sekalipun begitu, sebenarnya si A dan si B sesekali
masih saya pakai untuk memutar film via USB/flashdisk yang saya rekam
memakai set top box).
Artikel terkait: tracking tv satelit itu relatif tak sulit.
Artikel terkait: tracking tv satelit itu relatif tak sulit.
Nah,
yang masih aktif saya pakai sekarang ini adalah si C dan D.
Si C
adalah merek yang populer di pasaran. Dibanding keluaran terbaru yang
sudah EWS dengan bentuk bodi yang makin mini, punya saya itu masih
keluaran pertama yang belum multi view. Bagaimana dengan
kekuatan tuner-nya?
Begini
ceritanya. Dengan memakai si C itu, siaran yang bisa diterima di
Surabaya ini adalah MUX 506MHz/Ch.25 (MetroTV dkk), lalu 522MHz/Ch.27
(TransTV, Trans|7 dan KompasTV), 586MHz/Ch.35 (TVRI_NAS_
TVRI_SURABAYA, TVRI_3 DAN TVRI HD). Itu saja yang bisa dinikmati
dengan sempurna. Sementara MUX 490MHz/Ch.23 (tvOne dan antv) sudah
dua minggu ini menghilang dari udara. Sedangkan untuk MUX
538MHz/Ch.29 (SCTV NETWORK, INDOSIAR NETWORK, O CHANNEL NETWORK, Live
Feed $ dan Elshinta Radio $, sekaipun ada sinyal, tetapi gambar di
layar seperi kaset CD rusak). Lain lagi dengan MUX 634MHz/Ch.41
(RCTI, MNCTV, GlobalTV) sekalipun sinyal ke-detect, tetapi tidak bisa
di-lock.
Tadinya
saya duga MUX SCTV dkk dan MUX RCTI dkk itu secara power belum
memakai secara penuh, sehingga belum bisa ditangkap dengan sempurna.
Tetapi, “Tidak, Mas. Di daerah saya sinyalnya bagus itu. Saya pakai
set top box merek D,” komentar teman saya lewat ponsel.
Dan
benarlah adanya yang dibilang seorang teman itu. Setelah saya mencoba
memakai set top box merek D, dengan antena yang sama + pesawat
televisi yang juga sama, kedua sinyal dari MUX yang oleh set top box
merek C tidak bisa diterima dengan sempurnya, bisa ditampilkan dengan
bagus sekali. Padahal, secara harga, si D ini selisihnya lebih murah
25 ribu dibanding si merek C.
Yang
ingin saya katakan adalah, kepekaan tak selalu berbanding lurus
dengan kemahalan harga sebuah set top box. Bagaimana menurut pengalaman Anda?
*****
Baca juga:
- Pilih Beli DVB-T2 atau DVB-S2?
- Tips Membeli Set Top Box
- Selamat Tinggal TV Digital Terrestrial
Jumat, 25 April 2014
Terpaksa Ikhlas
SEDIKIT
demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Istilah ini bisa disertakan
dalam semangat menabung, juga untuk hal lain. Korupsi, misalnya. Dan
korusi itu, sepertinya, tak melulu dilakukan oleh orang besar dengan
nominal yang besar. Tetapi juga oleh orang kecil dengan besaran yang
tak seberapa. Tetapi, sekecil apapun nilai, akan membesar akhirnya
bila dilakukan secara terus-menerus dalam jangka yang lama mengacu
pada rumus 'sedikit demi sedikit' tadi.
Tak
perlu terlalu mengerutkan kening untuk mencari contoh yang beginian
ini.
Untuk
sebuah keperluan, kemarin siang saya mendapat tugas ke kantor Dinas
Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya. Setelah itu mampir ke Pasar
Elektronik Genteng untuk lihat-lihat reciever DVB-T2 lanjut ke PMI
untuk donor darah. Di ketiga tempat itu hal yang saya catat adalah
soal parkir.
Pertama,
saat akan ke kantor Dinas LH, saya memarkir si Nenen (begitu
si bungsu menyebut SupraX 125 tunggangan saya ini) di seberang
warung sate di seberang perkantoran Pemkot tidak jauh dari Puskesmas
Ketabang. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok berompi hijau
menghampiri dan menyerahkan selembar karcis parkir. Tertera disitu
tarifnya; limaratus rupiah.
Tetapi
setelah urusan saya di Dinas Lingkungan Hidup selesai dan saya
mengambil motor, selembar duaribuan yang saya serahkan langsung masuk
saku tanda ada kembalian. Harusnya saya minta kembalian
seribu limaratus sebagai hak saya sebelum pergi meninggalkan lelaki
tua berkulit hitam karena saban hari kepanasan itu. Tetapi demi
melihat lelaki bongkok yang masih semangat bekerja di usianya yang
tak lagi muda itu, saya memilih untuk berbaik hati; mengikhlaskannya
saja.
Kedua,
setelah melihat-lihat di lantai dua pasar Genteng, di tempat parkir
saya membayar. “Duaribu, Pak,” kata si tukang parkir, kali ini
usianya masih muda.
“Lho,
bukannya di karcis tertera seribu rupiah?” saya protes.
“Iya,
Pak. Tetapi duaribu,” katanya teguh pendirian.
Iya,
wis. Sekali lagi saya mengalah. Jaman sekarang, uang seribu dapat
buat beli apa sih?
Ketiga,
sebelum balik ke tempat kerja, saya ke PMI. Selepas donor darah, di
tempat parkir, saya menyerahkan karcis dengan tanpa saya sertai uang.
Karena di kertas parkir memang tertulis; gratis. Tetapi, seorang yang
mengambil motor sebelum saya, terlihat menyertakan uang seribu rupiah
ke tukang parkir PMI di Embong Ploso ini.
Begitulah.
Diantara betir-butir keringat tukang parkir, ada 'rezeki tambahan'
yang terus mengalir. Padahal, selembar karcis resmi, bisa dipakai
berulang-ulang kali. Lalu, kemana kelebihan pembayaran itu menuju?
Dan berapa jumlah rupiah yang harus mereka setorkan ke pihak yang
berwenang?
Kekurangan
kembalian dari yang dibayarkan, karena jumlahnya tidak seberapa,
kadang dengan terpaksa diikhlaskan. Tetapi apakah sebentuk keikhlasan
namanya bila itu dilakukan dengan terpaksa? *****
Rabu, 23 April 2014
Cak Lontong yang Sedang Kinclong
DIBANDING
teman sekantor yang lain, lelaki berpostur tinggi besar itu termasuk
yang berpenampilan paling santai. Sudah begitu, tutur katanya pun
sering mengundang tawa. Saya mengenalnya sebagai Pak Hartono (saya
tidak tahu nama depan dan atau nama belakangnya).
Setiap
pagi, kedatangannya selalu saya tunggu. Ya, karena dulu di kantor
tidak berlangganan koran, sementara Pak Hartono selalu datang membawa
koran, barang itu selalu jadi rebutan. Tetapi, “Sini, sini,”
katanya sambil mengambil kembali lembar-lembar koran yang sudah kami
pegang per segmen. Lalu, dikumpulkanlah lagi untuk kemudian
distaples, “Nah, begini supaya tidak terjadi dis-integrasi,” ujar
Pak Hartono.
Salah
seorang teman blogger (sebagaimana kebanyakan pembaca pada umumnya)
suka yang namanya cerita 'luar duga'. Dalam berbincang santai sebelum
jam kerja dimulai, si Pak Hartono ini sering juga memakai teknik itu.
Misalnya, suatu hari ia bilang, 'jangan lihat siapa yang bicara,
tetapi telaahlah apa yang dibicarakan'. Karena, “Kalau mutiara,
sekali pun keluar dari mulut anjing, ya tetap...”
“Mutiara,”
sahut saya spontan menyambar kalimat yang digantung itu.
“Tetap
anjing yang mengeluarkan,” dengan intonasi yang khas, yang terlihat
tidak ngawaki sama sekali, Pak Hartono mengoreksi jawaban
saya.
Lama
sudah saya tidak berjumpa langsung dengan Pak Hartono. Terakhir
ketemu, pas melayat meninggalnya Pak Widodo dan kami mengantarkan
jenazah sampai ke pemakamam Dinoyo, Surabaya. Tetapi, sekali pun
begitu, saya masih bisa melihat aksi Pak Hartono di layar kaca.
Mula-mula di JTV saat main bareng grup ludruk Tjap Toegoe Pahlawan.
Saat itu Pak Hartono sudah tidak bekerja lagi di tempat kerja saya
ini. Dari televisi lokal di Surabaya, lama-lama saya lihat ia bisa
menembus televisi nasional di Jakarta. Di TVRI, di tvOne, di MetroTV
di KompasTV, dan yang lagi kinclong sekarang ini adalah penampilannya
di Indonesia Lawak Klub Trans|7.
Hartono?!
Di ILK? Ah, gak ada tuh!
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.
Ketika
bekerja di tempat ini dulu, tidak jarang ia masuk kantor hanya
bersandal. Jan santai tenan pokoknya. Kalau tidak salah,
sedannya agak butut, warnanya abu-abu, yang kalau saya intip ke jok
belakang, tidak jarang ada baju pentas di situ; hitam dengan renda
kuning keemasan. Entah itu kostum apa. Tetapi mengingat posturnya
yang tinggi begitu, kalaulah jadi Punakawan, pantesnya ia memerankan
Petruk. Pada kaca belakang sedannya, tertera identitas yang menjadi
nama artis-nya sekarang ini; Cak Lontong.
Di acara
yang jelas terlihat sebagai parodi dari Indonesia Lowyers Club-nya
tvOne itu, jelas sekali gaya pak Hartono, eh Cak Lontong ding,
berbeda sekali dengan lawak yang lain. Permainan kata yang cerdas,
pengungkapan hasil survei yang ngawur tapi menghibur, sungguh menjadi
magnet dari ILK itu sendiri. Makanya tidak heran kalau hasil survei
Cak Lontong selalu ditampilkan agak di belakang, sebagai gong dari
ILK.
Setiap
masa ada pahlawannya, sebagaimana setiap pahlawan ada masanya. Di
dunia keartisan televisi berlaku pula hukum itu. Dulu pernah saya
teliti, di jaman keemasannya Bukan Empat Mata-nya Tukul, dari sepuluh
tetangga yang saya survei, tujuh diantaranya memutar Trans|7,
sementara tiga lainnya numpang nonton disitu. (ih, niru Cak Lontong
ya?)
Tetapi
tabiat televisi selalu berulang, ketika rating sebuah acara sedang
menjulang, durasi acara ditambah dengan waktu tayang yang saban hari.
Sebuah kondisi yang bisa melahirkan kebosanan. Sebagus-bagusnya
program Golden Ways, atau Kick Andy, atau apapun itu, bila ditayang
seminggu penuh, tentu pemirsa menjadi jenuh. Hal ini yang harus
disadari tim kreatif ILK. Karena, sebagaimana lawakan di layar kaca,
sebuah materi atau celetukan humor yang menjadi tidak lagi lucu bila
dipakai di lain hari.
Untuk
Cak Lontong, selamat. Karir Anda makin kinclong. Salam lemper. *****
Kamis, 27 Maret 2014
Caleg = Calon 'Legrek'
BERTANYALAH
kepada siapa pun; presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil
gubernur, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah itu secara jabatan
tinggi siapa. Jelas tinggi presiden, gubernur, kepala sekolah
ketimbang para wakilnya. Maka tidak mengherankan bila si wakil
menginginkan pula jabatan yang di atasnya. Pak JK yang pernah nyapres
melawan SBY di Pilpres tahun lalu, atau Dede Yusuf yang memilih
'pisah' dari sang Gubernurnya demi merebut jabatan itu pada Pilgub
Jabar beberapa waktu yang lalu.
Beberapa
contoh yang saya sebut di atas secara logika sungguh bisa diterima.
Tetapi ada satu hal yang secara nalar (walau umum, tetapi) agak bisa
didebatkan, yakni; beberapa rakyat yang justru ingin 'turun pangkat'
menjadi wakil. Ya, wakil rakyat. Dan demi untuk menjabat sebagai
wakil itu, si calon (lazim disebut caleg) melakukan aneka cara yang
tentu saja semua mengandung biaya.Cetak poster, sepanduk, iklan
radio/televisi dan atau menyumbang baju seragam ibu-ibu pengajian,
memberangkatkan 'simpatisan' ke tempat-tempat ziarah keagamaan dan
sebagainya. (Yang termasuk dalam 'dan
sebagainya' itu antara lain, ongkos ke 'orang pintar'. Termasuk beli
uba rampe;
kembang tujuh rupa atau kain mori atau perjalanan ke sebuah sendang
untuk mandi kembang tengah malam.)
Tengoklah
di setiap pinggir jalan raya; wajah-wajah yang selama ini tidak
dikenal mengenalkan diri dengan cara (yang kadang) mengenaskan.
Dengan pose foto yang dipilih –menurut diri sendiri-- sebagus
mungkin, dengan slogan yang dibikin semenarik mungkin. Dan, apakah
dengan memasang baliho gambar-gambar mereka itu elektabilitas mereka
lantas menjadi menanjak? Belum tentu. Masyarakat sudah teramat cerdas
(baca: apatis) menyikapi kebaikan instan yang mereka pamerkan.
Ada
istilah; tidak ada makan siang yang gratis. Terlebih untuk menjadi
caleg. Pastilah duit besar disebar demi biaya untuk itu. Kalau lalu
benar-benar jadi anggota legislatif tentu ada kemungkinan untuk
melakukan 'balas dendam' demi baliknya modal. Tetapi bagaimana kalau
sudah keluar uang banyak tetapi tidak terpilih? Kalau semua uang itu
dari kantong sendiri sih agak tidak apa-apa, bagaimana, coba,
kalau duit itu hasil dari pinjam?
Untuk
mengantisipasi hal itu, dalam sebuah running text di televisi, ada
berita; sebuah rumah sakit mempersiapkan 333 tempat untuk merawat
caleg stress. Entah mengapa dipilih angka cantik kembar tiga begitu.
Lagi pula kenapa 333, kok tidak 666 atau 999?
Kalau
begitu, secara iseng saya artikan caleg itu selain berarti calon
legislatif, adalah juga sebagai calon legrek, remuk. Remuk
lahir, remuk batin. *****
Selasa, 25 Maret 2014
Penampakan O CHANNEL di Surabaya
![]() |
| Foto-foto: oleh Edwin untuk Ayahnya. |
SAMPAI
pagi tadi saya lihat, siaran yang tertangkap ketika saya scan secara
auto, di Surabaya ini, masih tetap 13 channel. Yaitu; antv dan tvOne
(490MHz/Ch.23), TransTV, Trans|7 dan KompasTV (522MHz/Ch.27), SCTV
Netrwork, Indosiar Network, O Channel Network dan Live Feed
(538MHz/Ch.29), TVRI_3, TVRI_NAS, TVRI_SURABAYA dan TVRI HD
(586MHz/Ch.35).
Sementara,
dua MUX lagi, yaitu milik MetroTV (506MHz/Ch.25) dan milik grup MNC
(634MHz/Ch.41) sampai hari ini masih belum muncul lagi. Eh, tidak
ding. Walau tidak bisa nyangkut kala dicari secara auto,
sinyal dari channel 41 (yang dihuni oleh RCTI, MNCTV dan GlobalTV)
itu sudah muntup-muntup terlihat (lagi) kala dicari secara
manual setelah sekian lama sama sekali tak terdeksi Tetapi ketika
di-lock, ia sama sekali tidak bisa. Padahal jarak rumah saya di
Rungkut ini dengan pemancar milik MNC di Surabaya Barat sana tak
lebih dari 20km. Perkiraan saya, MNC sedang belum memakai power yang
memadai untuk siaran di kanal digital ini.
![]() |
Sekalipun
sudah bisa ditangkap kala di-scan secara auto, bukan berarti MUX
milik grup Emtek (SCTV dkk itu) sudah bisa dinikmati dengan nyaman di
layar kaca. Ya, suara dan gambar mereka masih jauh dari kata
sempurna.
Sepertinya,
pemirsa yang sudah kadung membeli set top box masih harus
menunggu (entah untuk berapa waktu lamanya) saat ketika layar kaca
dipenuhi saluran televisi yang beraneka ragam dengan kualitas gambar
dan suara yang cling. Walau, ada juga sih yang ragu apakah
program migrasi ini masih akan terus dilakukan ketika pemerintahan
kita nanti berganti. Bukankah bukan rahasia lagi ketika pejabat
berganti, berganti pula aturan dan kebijakan?
![]() |
Begitu
jugakah yang mesti dialami digitalisasi televisi? Jawabnya adalah
jelas: jangan! Banyak orang bilang kita negara besar, dengan kekayaan
yang berlimpah, SDM-nya berkualitas, tetapi, untuk perkara televisi,
kita kalah sama negara macam Thailand atau Myanmar. Masihkah kita
rela mempertahankan kekalahan itu di saat untuk hal lain kita juga
sering kalah?
Baiklah,
saya yang di Surabaya ini (setelah penampakan O Channel) menunggu
pula kehadiran BeritaSatu, MIX, SportOne, DocumentaryOne, Inspira,
dsb, dst.
Bagaimana
dengan Anda? *****
Langganan:
Postingan (Atom)





