Sabtu, 24 Agustus 2013

Gema Lagu Lama

BAGI orang yang seumuran dengan saya, atau malah lebih tinggi lagi kadar asam uratnya bilangan usianya, sesekali tentu masih ingin mendengarkan lagu-l;agu lawas yang kondang saat masih muda dulu. Di beberapa situs macam 4shared atau YouTube, kalau mau, kita bisa menikmati tembang-tembang kenangan itu. Tetapi, yang lebih simple dari itu tentu kita bisa mendengarkannya lewat radio.

Banyak stasiun radio yang punya acara semacam itu dengan berbagai nama di Surabaya ini. Yang teratas, menurut saya, adalah program Memorabilia milik Suara Surabaya FM. Kenapa saya bilang teratas? Ya karena pembawa acaranya, Iman Dwi Hartanto, terbilang sangat menguasai acara yang dibawakannya. Ia tahu sejarah lagu itu, siapa-siapa saja yang pernah menyanyikannya, sudah diaransemen ulang berapa kali dan sebagainya. Pendek kata, memang harus begitu itu seorang yang mengemban tugas sebagai penyiar lagu. Baik lagu baru atau lawas. Harus tahu 'asbabun nuzul' sebuah lagu.

Sekalipun lebih sering memutar lagu-lagu lama dari manca negara, sekali waktu Mas Iman (begitu ia akrab disapa) juga mengudarakan lagu-lagu Indonesia. Bahkan pernah suatu waktu membuat satu segmen khusus memutar lagunya Ebiet G. Ade, misalnya. Atau Koes Ploes, atau Titiek Puspa.

Selain Suara Surabaya, untuk pencinta tembang kenangan tentu sudah akrab dengan acara musik lama yang menyediakan durasi waktu lumayan panjang; MediaFM. Kalau SSFM mengudarakan Memorabilia saat malam, MediaFM lewat Mbak Ajeng sebagai pemandunya, menyuguhkan tembang kenangan itu dari pagi sampai siang.

Sebagaimana MediaFM, acara Sweet Memories-nya StratoFM juga diudarakan saat pagi. Hal yang juga dilakukan oleh MTBFM dengan Tembang Tempo Bahuela (catatan: untuk radio MTB FM ini, acara-acaranya memang menggunakan kepanjangan dari MTB. Misalnya; Musik Teman Beraktifitas, atau Monggo Tresno Budoyo.)

Walau beda kelas dan segmen pendengar dengan SSFM, yang mengudarakan acara serupa saat malam adalah radio El Victor. Radio yang memancar dari studio di jalan Jemursari Surabaya ini, untuk pendengar acara El Sanda (El Victor Santai Bersama Anda, begitu nama acara tembang lawas-nya) ada sebutan tersendiri untuk para pendengarnya; Nona Manis untuk yang perempuan dan Pria Romantis untuk yang laki-laki.

Sekalipun terdengar sedikit lebay, bagi saya penyebutan itu tidak terlalu mengganggu. Yang lumayan membuat saya sering geregetan, justru si penyiar, Zaki (maaf, nama ini baru saya ketahui semalam) sering sekali kurang menguasai materi lagu dan sejarahnya. Benar memang, saat lagu itu sedang top-topnya, bisa jadi ia masih balita atau malah belum lahir. Tetapi, tentang resensi lagu, sebetapa pun lamanya ia, dengan membaca tentu masih bisa dicaritahu ini-itunya.

Kalau kurang suka materi siaran sebuah radio, cara tergampang adalah dengan bepindah gelombang. Geser ke kiri ada info lalulintas, geser ke kanan dapat berita politik. Dengan jumlah stasiun radio yang sampai tak sempat menghitung, salah satu di antaranya bisa jadi sedang menyiarkan sesuatu yang disuka. Kalau bukan dangdut, ada jazz, atau campursari dan sebagainya. Dan kalau masih juga memburu lagu lama, siapa tahu sebuah radio yang mengudara di gelombang FM sekian koma sekian, (103,5 WijayaFM, umpamanya), sedang memutar sebuah lagu lawas milik almarhum Gombloh; ...di radio aku dengar lagu kesayanganmu..... .... *****

Sabtu, 10 Agustus 2013

Berlebaran di Malam Takbiran

KERJA di pabrik mana?” haji Rosyid, atau yang di kampung akrab disapa Abah Sate, yang asal Madura itu bertanya lagi saat saya bilang lebaran ini saya harus masuk kerja.

“Seperti di pabrik Kedawung ya, mesinnya kan tidak boleh sampai mati. Jadi harus ada yang masuk sekalipun hari raya,” Cak Kozin, yang kebagian tugas sebagai petugas keamanan kampung selama ditinggal mudik penghuninya, menimpali.

Begitulah. Tetapi saya tidak lantas menyebutkan apa sebenarnya pekerjaan saya. Kalaulah saya diuber oleh pertanyaan yang lebih menjurus, saya juga telah menyiapkan jawabannya; saya bekerja di perusahaan jasa. Jasa apa? Nah, jasa apa yang tugasnya antara lain membetulkan kunci, menambal plafon yang berlubang karena kondensasi pipa AC dan sebagainya. Wis-lah. Sampeyan jangan ikutan detail-detail nanyanya.

Karena harus segera berangkat kerja, seturun shalat Ied saya langsung berkunjung ke tetangga. Tak terlalu banyak sih. Karena sebagian besar tetangga sedang mudik merayakan lebaran di kampung halaman. Jadi ketahuan sekarang, ternyata orang asli Surabaya di sekitar rumah saya ini tidak seberapa. Sebagai kampung yang berdekatan dengan kawasan industri, sebagian besar penghuninya adalah para pendatang. Dan sekarang, yang sebagian besar itu sedang pulang kampuang.

Setelah unjung-unjung ke tetangga, saya berangkat kerja. Jalanan, karena hari raya, tentu tak seperti biasanya. Jalan A. Yani yang biasanya tiada hari tanpa kepadatan, pagi itu cenderung lengang-ngang. Di dekat Royal Plaza yang biasanya ruwet sampai menjelang rel KA di dekat RSI, juga lancar jaya. Tetapi ada juga terbersit perasaan khawatir. Hal ini sebenarnya sebagai ketakutan akan mengalami kejadian seperti yang saya alami sekian lebaran yang lalu. Yakni ketika ban motor saya bocor. Tukang tambal ban yang biasanya antara satu dan lainnya berjarak tak seberapa jauh, saat lebaran mereka jarang yang buka praktik. Banyak di antara mereka yang ikutan mudik. Kalau sampai mengalami ban kempis, bisa-bisa menuntun kendaran mencari tukang tambal ban sampai napas kembang-kempis.

Saling mengunjungi seturun sholat ied, itu sudah biasa. Tetapi bagaimana kalau sudah berlebaran (dalam arti; saling kunjung-mengunjungi untuk bermaafan) di malam takbiran? Hal yang bagi saya termasuk asing ini pertama kali saya alami sekitar 14 tahun yang lalu. Saat dimana pertama kali saya berlebaran di kampung halaman istri.

“Tidak ikut aku,” kata saya saat itu. “Ini masih takbiran, belum lebaran, belum afdol untuk saling bermaaf-maafan,” saya beralasan.

“Ya, sudah. Kalau Sampeyan unjung-unjung-nya besok, berarti sendirian,” istri saya lalu berangkat unjung-unjung ke sanak-kerabat.

Benarlah adanya; paginya, seturun sholad ied, suasananya tidak seperti di kampung asal saya di Jember sana. Di kampung istri saya, di sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan Karangbinangun, LA, itu tidak umum orang beranjangsana di waktu siang di hari raya. Karena bersilaturrahim saling maaf-memaafkan telah dituntaskan di malam takbiran, paginya –bagi saya-- suasana tidak seperti sedang lebaran. Terbilang sepi, nyaris semua orang duduk manis menonton televisi sambil ngemil makan jajan di rumah masing-masing.

Karena tidak ingin mengulangi unjung-unjung bermaafan seorang diri, kalau pas lagi berkesempatan berlebaran di kampung istri dan sedang tidak jatahnya incharge masuk kerja, saya ikutan bersilaturrahim di malam takbiran. Namun untuk orang-orang terdekat di rumah; mertua, kakek-nenek dan anak-anak serta istri, saya tetap lebih sreg melakukan acara maaf-maafan di pagi hari, beberapa saat setelah turun dari shalat ied.*****


Minggu, 04 Agustus 2013

Khofifah vs Pakde Karwo; Adu Bukti



“SELOLOSNYA Khofifah sebagai calon gubernur Jawa Timur, pertarungan di Pilgub Jatim makin seru nanti, Kang,” Mas Bendo meramal.

Itu tentu sebuah ramalan yang niscaya, dimana pun. Tetapi, kalau kemudian dengan masuknya Khofifah dalam bursa cagub, tentu ada pihak yang makin berdegup. Ini pun normal saja. Karena bukankah hakikat politik memang begitu itu.

“Yakni, sarana untuk merebut kekuasaan bagi yang belum menikmati. Sekaligus sebagai cara untuk mempertahankan kekuasaan bagi yang sedang menjabat,” papar Kang Karib.

“Baiklah, kalau begitu sekarang kita bicara peluang, Kang,” seperti biasa, Mas Bendo sering kurang sabar. “Menurut Sampeyan, yang paling mempunyai kans untuk menang nanti siapa?”

Kang Karib diam.

“Lho, piye to Sampeyan itu?!” Mas Bendo protes. “Sekarang zaman merdeka, Kang. Jangan takut bicara, jangan takut menganalisa.”

“Iya, nDo. Tapi kapasitasku itu apa?”

“Rakyat. Kapasitas kita sebagai rakyat, Kang. Dan itu posisi tertinggi dalam demokrasi.” Setitik busa merekah di sudut mulut Mas Bendo, saking semangatnya ia bicara.

“Baiklah kalau begitu, nDo. Sebagai sesama rakyat, menurutmu siapa nanti yang paling berpeluang menang?” Kang Karib menerapkan jurus wolak-walik grembyang.

Maka, inilah analisa ngawur Mas Bendo; “Begini, Kang, maaf ya, saya harus kesampingkan Eggy-Sihat. Bagi saya, mereka itu tak lebih dari penggembira,” Mas Bendo mengeluarkan ajian pengamat mabuk. 

“Kalau Bambang-Said?”

“Sekalipun PDIP mampu memenangi Pilgub Jateng dengan mengusung Ganjar Pranowo, di Jatim keadaan akan bisa berkata lain. Efek Jokowi yang menang telak di DKI, tak selamanya mampu mendongkrak kemenangan calon yang diusung si banteng bermoncong putih. Rieke-Teten di Jabar, buktinya. Atau tak menangnya Effendi Simbolon di Sumut.”

“Sebentar, nDo,” sela Kang Karib. “Kalau begitu, menurut analisa nggedabrusmu, di pilgub Jatim 29 Agustus nanti, yang terjadi adalah pertarungan rematch Sukarwo vs Khofifah?”

“Persis,” mantap Mas Bendo menjawab.

“Lalu yang menang siapa?”

Sebelum menjawab itu, Mas Bendo mengajak Kang Karib mengenali ‘senjata’ apa yang akan dipakai baik oleh Pakde Karwo maupun Khofifah dalam pertarungan el clasico itu nanti. Yaitu; bukti.

“Bukti apa maksudmu, nDo?”

“Bukti bahwa disinyalir ada tindakan yang kurang ksatria dalam pilgub 2009 yang melelahkan karena diulang-ulang. Dengan menggandeng mantan Kapolda yang kala pilgub 2009 itu masih menjabat sebagai Kapolda Jatim, tentu Khofifah sedikit banyak akan menguak praktik kecurangan yang terjadi. Dan kecurangan itu, disengaja atau tidak, dituduhkan pula kepada pasangan Karsa ketika nyaris saja Khofifah gagal maju dalam pilgub 2013 ini. Sebuah tuduhan yang –tentu saja – dibantah kubu Karsa.”

“Dengan mengumbar wadi (rahasia), akankah itu selalu berdampak positif?” tanya kang Karib. “Maksudku, apakah itu tidak malah menjadi bumerang bagi pihak Khofifah?”

“Itulah, Kang,” Mas Bendo menyahut. “Kalaulah kubu Khofifah punya bukti-bukti, baik lama atau baru, tetapi bukti dari pihak Pakde Karwo sebagai incumbent  termasuk tak kalah ampuh.”

“Pakde punya bukti apa tentang Khofifah?”

“Bukan tentang Khofifah, tetapi tentang rentang lima tahun terakhir saat memimpin Jatim. Banyaknya investor yang masuk Jatim, pertumbuhan ekonomi yang melebihi capaian nasional, tentu adalah bukti yang sulit disangkal.”

“Jadi kamu masih ‘pegang’ Pakde yang menang nanti?”

“Tak seharusnya saya berkata sevulgar itu, Kang. Tak etis,” kelit Mas Bendo. “Tetapi, sebagai incumbent, sekali lagi, bukti yang menjadi kartu as Pakde lebih konkret dari sekadar bukti tentang yang dituduhkan sang rival yang belum ada wujud dari yang dikampanyekan karena memang belum memegang jabatan.”

"Tetapi, nDo," kalem Kang Karib menimpali, "alangkah eloknya kalau segala keberhasilan mengemban amanat sebuah jabatan, bila jabatan itu asal muasalnya diperoleh dengan cara yang elok pula."

"Jadi Sampeyan ikutan mencurigai Pakde?"

"Bukan, tetapi secara normatif kan memang harus begitu." *****


Selasa, 23 Juli 2013

Senin, 22 Juli 2013

Mengail Takjil

SETELAH tiba siang saat dhuhur menjelang, jam dua lewat seperempat saya balik pulang lagi ke Surabaya. Untunglah cuaca bulan puasa kali ini sungguh bersahabat, tidak panas-panas amat. Dengan berangkat jam segitu itu, dengan memacu si Supra saya sewajarnya, jam empat kurang sedikit saya sudah sampai jalan Veteran Gresik. Di sebelum perempatan Nippon Paint, saya belok kiri. Asyar telah beberapa waktu berlalu, dan di masjid di jalan Veteran inilah saya menunaikannya sekalipun kurang tepat waktu.

Selesai sholat, wajah terasa segar walau tenggorokan dan bibir masih kering. Sebelum keluar dari masjid, saya edarkan pandangan ke segala arah. Ada layar di atas mimbar. Berisikan waktu jadwal sholat, anjuran untuk mematikan ponsel, waktu WIB yang berbentuk tulisan berjalan muncul bergantian. Dan, saat saya menoleh ke dinding kanan, saya dapati tanda tangan yang sepertinya saya kenal. Selembar marmer kalau bukan dari Ujungpandang ya asal Tulungagung warna putih-putih kuning dengan pahatan bertuliskan kalimat yang menerangkan masjid ini dibangun oleh Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila pada tahun 1994. Ya, sampai disini tentu Sampeyan sudah tahu yang saya maksud; tanda tangan yang saya bilang tadi adalah tanda tangan Pak Harto, presiden kala itu yang sekaligus sebagai tokoh di balik Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila.

Selepas itu, saya melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Perkiraan saya, sampai rumah nanti pas adzan maghrib. Hari Minggu begitu tak terlalu khawatir saya akan kemacetan. Kecuali satu, di proyek jembatan Branjangan yang tak kunjung rampung. Jembatan sebagai jalur utama Gresik-Surabaya itu saya setiap lewat melihat dikerjakan seperti tak sungguh-sungguh. Tak banyak aktifitas, setak banyak pula orang yang bekerja di sana. Yang banyak adalah para pemuda yang memanfaatkan kemacetan itu untuk mengedarkan wadah meminta uang sumbangan. Tak jelas betul uang itu dikumpulkan untuk apa. Tak ada penanda bahwa itu dilakukan demi membangun musholla, misalnya. Yang terlihat malah, tidak sedikit pemuda itu menyodorkan wadah sambil menghisap rokok. Sungguh tindakan kurang sopan di bulan ramadhan.

Kemacetan saban hari di Jembatan Branjangan sungguh lebih tak terelakkan kala lebaran nanti. Menghindari itu bisa juga sih. Tetapi rutenya sungguh melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi lewat Menganti. Lanjut mBobo muter tembus terminal Bunder.

Singkat kata, benar saja; jam lima seperempat saya sudah masuk jalan utama Surabaya. Di Bundaran Satelit, saat lampu merah, ada beberapa pemuda bersarung Atlas membentangkan sepanduk di tengah jalan. Para pemuda lainnya mendekati pengendara sambil membagi takjil. Ah, lumayan. Kalau nanti adzan berkumandang sebelum saya sampai rumah, paling tidak telah ada bekal untuk membuat puasa batal.

Saat sampai di seberang Ciputra World, tepatnya di depan Gedung Juang 45, ketika beberapa pengendara menepi, saya ikutan antre. Lumayan lagi; sebungkus nasi. Masuk jalan Adityawarman lanjut jalan Kutai nihil, tak ada pembagi takjil. Baru di jalan Diponegoro, saya kembali menerima sebungkus es mewah rasa blewah. Mewah? Ah, bukankah seteguk air saja sudah sedemikian nikmat kala berbuka?

Begitulah selama Ramadhan, di beberapa tempat takjil gratis bertebaran. Kalau mau (dan tidak malu pada diri sendiri) tentu bisa saja setiap sore berkeliling kota mencari yang demikian. Mengail takjil sambil ngabuburit, menunggu saat adzan maghrib. *****


Sabtu, 20 Juli 2013

Ibadah Donor Darah

SUDAH menjadi kelaziman, setiap bulan ramadhan datang, stok darah di PMI berkurang. Ini dikarenakan, salah satunya, para pendonor rutin yang secara suka-rela tiga bulan sekali menonorkan darahnya, (dan bulan ini sudah tiba waktu berikutnya) karena sedang berpuasa, menunda untuk berdonor setelah lebaran saja. Padahal kebutuhan darah tidak mengenal itu. Setiap hari selalu saja ada pasien yang membutuhkannya.

Bagaimana PMI menyiasati sepinya pendonor yang datang ke kantornya?
Ya, tentu dengan cara jemput bola. Salah satu caranya, PMI memarkai mobil khusus untuk ditempatkan di tempat strategis dalam rangka menjaring pendonor. Di Surabaya ini, setiap malam selama Ramadhan ini, PMI memakai mini bus khusus unit transfusi darah di Taman Bungkul.

Karena sudah lama sekali saya tidak donor, setelah mengikuti acara Buka Bersama di tempat kerja, kemarin sore saya menuju kesitu. Di dekat Taman Bungkul yang cantik, PMI memarkir dua mini bus. Satu merek Hyundai bernopol L 7503 NP. Dengan ada logo SCTV di bodinya, saya duga mobil itu adalah hibah dari SCTV dalam salah satu program CSR perusahaan media milik grup Emtek itu. Satunya lagi merek Izusu hasil rancangan karoseri Tugas Anda. Nah, ke mobil Izusu yang saya lupa tak mencatat lengkap nopolnya itulah saya masuk untuk berdonor.

“Setiap hari ramai begini, Mbak?” sambil lengan saya dibebat pengukur tensi, saya bertanya.

“Ya, Pak.” sambil menjawab, cekatan sekali petugas muda berjilbab itu menangani pendonor.

Dalam mobil yang dibentuk sedemikian rupa itu, dapat sekaligus menangani empat pendonor, yang ditangani oleh dua petugas. Dengan kabin ber-AC, ada empat kursi panjang yang dibuat nyaman untuk duduk besandar sambil menyelonjorkan kaki, kami bisa disedot darahnya sambil santai menonton dua buah televisi LCD ukuran 19 inchi.

“Melayani sampai jam berapa, Mbak?” saya lirik darah saya mengalir lancar lewat selang kecil menuju kantong yang diletakkan di meja kecil di dekat petugas.

“Setiap hari kita bawa seratus kantong kosong, jadi kalau kantong itu habis jam delapan, ya jam delapan kami tutup,” terang perempuan yang setiap akan menusukkan jarum ke lengan pendonor selalu saya dengar membaca basmalah itu.

Lebih jauh, perempuan asli Surabaya berumur sekitar duapuluh tahunan yang tak sempat saya tanya namanya itu menerangkan, dalam bulan ramadhan PMI memang harus lebih aktif 'turun' menjemput pendonor. Tidak itu saja, sebagai perangsang agar orang mau menonorkan darahnya saat bulan puasa, PMI menambah 'sesuatu' sebagai tanda terima kasihnya. Saya lihat, ada banyak sekali bungkusan lumayan besar disiapkan.

“Sembako, Pak,” katanya ketika saya tanya apa isinya.

“Nah, untuk sembako itu PMI dapat dari mana? Maksud saya, apa itu sumbangan dari...”

“Ya, dari donatur. Kali ini kami dapat dari Rotary Club Surabaya.”

Tak terasa, sambil bicara-bicara santai, tiba-tiba sudah selesai. Jam 19.05 mulai, tak sampai lima belas kemudian saya sudah keluar dari mobil dan dikasih sebungkus tas plastik besar aneka isi.

Keluar dari mobil, saya lihat pendonor yang antre melebihi saat saya datang tadi. Entahlah, apakah itu sebagai bentuk kesadaran, bahwa berdonor saat melakukan puasa itu tidak apa-apa asal dilakukan setelah berbuka, atau mereka datang karena demi bingkisannya.

Di tempat parkir, saat saya akan pulang, ada seorang bapak yang datang akan menempati tempat motor yang akan saya tinggalkan. “Ramai, Pak. Antre panjang,” kata saya.

“Dapat apa?” lelaki setngah baya itu malah bertanya sambil menatap bingkisan yang saya bawa.

Karena belum membukanya, saya raba saja tas palstik itu, “Kaos, sekaleng susu, minyak goreng, gula, beras, beberapa bungkus mie instan dan....”

“Ndak apa-apa, Pak. Sekali pun antre, kalau dapat sebanyak itu ndak apa-apa. Daripada donor di Embong Ploso (kantor PMI) kita ndak dapat apa-apa,” mantap lelaki itu memarkir motornya untuk kemudian ikutan lebih mengularkan antrean yang memang sudah panjang.

Begitulah, selain ada kalimat 'mereka selamat, kita sehat', di pantat mobil minibus Izusu itu juga ada kata-kata; donor darah itu gaya, donor darah itu cinta, donor darah itu sehat dan donor darah itu ibadah.
Nah, itu dia; ibadah. Sebuah laku ikhlas, tanpa pamrih. Sebuah amalan semata karena Tuhan yang imbalannya seringkali dipahami akan diterima nanti di hari kemudian. Tetapi, di tengah kehidupan yang segalanya maunya bisa didapat secara instan, ganjaran ibadah pun diharapkan bisa dterima secara kontan. *****

Jumat, 12 Juli 2013

Kyai Zailani



NAMANYA kyai Zailani. Saya tidak tahu pekerjaan lainnya selain saban hari mengayuh sepeda tuanya menjajakan kitab-kitab. Sepeda itu sedemikian tuanya, sampai tidak kentara lagi warna catnya selain warna asli besi yang di sana-sini telah mulai digerogoti karat. Tas lusuh, selusuh sarung, baju dan kopiah hitam yang telah menguning pinggirnya adalah trade mark-nya.

Siang yang terik, atau kadang pagi-pagi, sering beliau bertamu ke rumah saya. Bapak saya akan dengan senang hati menerimanya, dan segera menghentikan segala kegiatannya sebagai tukang kayu. Untuk kemudian meminta ibu membuatkan teh manis. Kalau sedang tidak punya teh tubruk tjap Bandulan, ibu akan memetik beberapa helai pucuk daun jeruk keprok di depan rumah untuk kemudian diduetkan dengan gula yang diseduh air panas; jadilah ia minuman rasa (daun) jeruk.

Saat itu saya mungkin baru umur sepuluh atau sebelas tahun. Dan setiap kali kyai Zailani datang, saya akan ikutan nimbrung sebagai pendengar. Beberapa bahasan ‘tingkat tinggi’ kala itu tentu tidak bisa saya pahami. Tetapi biasanya, setelah bicara tentang ilmu agama yang mendalam, beliau –mungkin tahu itu yang saya tunggu—akan bercerita tentang hal-hal lucu. Tentang Abu Nawas, misalnya. Yang selalu saya ingat adalah, di antara sambil bercerita itu, beliau selalu ikutan tertawa.

Sekalipun sudah renta dengan sepeda yang tak kalah tuanya, ada cerita yang --walau tidak masuk akal-- banyak diyakini orang. Yakni; jangan sekali-kali di jalan menyalipnya dengan rasa congkak atau menyepelekan. Karena sengebut apapun orang menyalipnya, di depan nanti, si penyalip itu akan menemui lagi kyai Zailani mengayuh sepeda dengan kayuhan tenaga tuanya.


Tidak jauh dari rumahnya yang sangat sederhana, agak ke utara sedikit, ada surau yang disitu saban hari beliau mengajar santri-santrinya. Kalau bulan puasa begini, lazimnya surau, tempat itupun dipakai untuk tarawih berjamaah. Tetapi, jamaah sholat tarawih kyai Zailani adalah orang-orang khusus. Orang-orang  yang tak menghitung jam berapa nanti sholat tarawih akan berakhir. Karena sebagaimana saat beliau naik sepeda tuanya, dalam memimpin sholat tarawih itu pun beliau sangat pelan sekali.

Beberapa orang dengan nada guyon menyebut sholat tarawih di surau kyai Zailani seperti sedang menumpang bis Kenongo. Sampeyan tahu, saat itu bis Kenongo bodinya sudah rapuh sedemikian rupa. Trayeknya jarak dekat saja; Jember-Lumajang PP. Jalannya ogah-ogahan, seperti tak memedulikan penumpang yang ingin segera tiba di tempat tujuan.

Lain halnya dengan bis Akas atau Tjipto yang kala itu merajai jalanan. Jalannya selalu ngebut, sliat-sliut, wuzzz, wuzz, wuzz... Dan tak sedikit orang suka cara yang begitu itu. Tak terkecuali dalam sholat tarawih. Imam yang biasa membaca Al-Fatihah dengan cepat dalam satu tarikan nafas, ia laksana sopir bis yang disukai penumpang. Padahal mengemudi dengan ngebut itu risikonya juga makin besar. Tak peduli Sumber Kencono berganti nama menjadi Sumber Selamat, kalau cara mengemudinya tetap ugal-ugalan ya tetap saja membahayakan.

Kyai Zailani baik dalam bersepeda maupun dalam memimpin sholat tarawih sama sekali tak terburu-buru. Yang diburu barangkali cuma satu; selamat sampai tujuan. *****

Senin, 01 Juli 2013

Blusukan ke Pasar ngGedongan

SEMALAM saya blusukan ke Pasar Wadungasri (ngGedongan). Banyaknya pengunjung, membuat area parkir motor yang tak seberapa luas menjadi penuh sesak. Karena tempat parkir di depan penuh, oleh petugas parkir, saya diarahkan untuk memarkir Supra tunggangan saya di lorong sisi timur pasar. Dari situ, untuk menuju para penjual pakaian di lantai dua, saya naik lewat tangga sempit nan kotor.

Di lantai dua, jalan antara stand penjual begitu sempitnya. Ditambah stok dagangan yang sudah menggunung, membuat tempat itu terasa sesak. Selain penjual aneka pakaian, alas kaki sampai kosmetik, di sela dominasi pajangan dagangan berbahan kain, saya juga temukan seorang penjual kopi disitu. Melihat kompor yang menyala di bawah meja mungil itu, membuat saya ngeri. Bagaimana jadinya kalau kompor itu meleduk? Tentu apinya akan cepat menyambar barang-barang mudah terbakar di kiri-kanannya. Lebih ngerinya lagi, kalau hal itu terjadi (tetapi semoga saja tidak akan pernah terjadi. Amin....) para pengunjung tentu akan sulit berlari menyelamatkan diri melewati jalan sempit, juga tangga yang tak kalah sempit.

Setelah sejenak singgah di stand-stand untuk sekadar melihat-lihat, selanjutnya saya menyempatkan diri mengobrol dengan salah satu penjual pakaian yang di saku belakang celananya saya lihat terselip sapu tangan dengan bahan seperti kain handuk yang tentu difungsikan sebagai pengelap keringat. Ya, dengan suasana sesesak itu, hanya orang yang punya kelainan yang tidak bermandi peluh.

“Sudah mulai ramai, Mas?” saya bertanya.

“Alhamdulillah, Pak,” jawab lelaki yang nada bicaranya sangat Jawa sekali itu.

“Aslinya mana?” itu pertanyaan yang bagi saya amat sakti untuk membuka pembicaraan selanjutnya akan menjadi lebih akrab lagi.

“Saya dari dekat sini saja, kok,” saya duga itu jawaban guyon. Buktinya, “Saya asli Sragen, Pak,” lanjutnya membenarkan dugaan saya. Ah, pantesan nada bicaranya mengingatkan saya akan logat Kyai Ma'ruf Islamuddin yang ceramahnya sering saya dengar di radio El-Victor.

Sambil bicara-bicara dengan saya itu, tangannya cekatan sekali menata dagangan aneka pakainan; untuk anak-anak dan dewasa, laki-laki atau untuk busana perempuan. Semua ada. Dari daster sampai model yang busana ketat.

“Sudah nyetok untuk persiapan lebaran ya?” saya bertanya.

“Iya, Pak,” jawab pemuda yang apesnya semalam itu saya lupa bertanya siapa namanya. Usianya saya taksir baru sekitar tiga puluh limaan. “Seminggu sebelum puasa begini, alhamdulilah sudah mulai ramai. Saya sudah hapal siklusnya. Nanti kalau puasa dapat seminggu mulai sepi; banyak orang lagi giat-giatnya sholat tarawih. Baru ketika lima belas hari sebelum lebaran, penjualan akan makin ramai lagi. Sementara jamaah sholat tarawih di masjid-masjid makin berkurang, dan lebih giat berjamaah di pasar-pasar untuk membeli pakaian...” candanya.

Senyum saya menanggapi ucapannya barusan, adalah bentuk setuju akan statement-nya yang memang kenyataannya demikian.*****

Minggu, 30 Juni 2013

Rasa Suka

SUKAILAH apa yang Anda kerjakan, jangan hanya mengerjakan apa yang Anda sukai.

Nuim Mahmud Khaiyath, penyiar radio ABC Australia. 




Logika Orang Gila

SETIAP kali 'pulkam' dan melintas di sekitaran SDN Mlokorejo 1, sebuah rumah megah di seberang sekolah itu selalu membuncahkan kenangan. Di situlah, tiga puluh tahun yang lalu, saya, kakak-adik dan orang tua pernah tinggal. Tentu saja jalan aspalnya tak semulus sekarang, kalau malam belum sebenderang sekarang (baca; aliran listrik belum ada), dan rumah kami tentu bukan rumah yang megah itu.

Kalau kemudian orang tua menjual sejengkal tanah yang hanya selebar lidah, itu tentu ada alasannya. Yakni, dengan menjualnya, uang hasil penjualan itu bisa dibelikan tanah dengan lebar berlipat ganda di daerah yang agak ke dalam, agak jauh dari jalan raya. Tetapi bagi saya, di bekas tanah kami itu, yang sekarang berdiri bangunan megah itu, seperti tadi saya bilang, ada memori yang tak akan hilang.

Kala itu, rumah kami hanyalah berdinding bambu, dengan jendela tanpa kaca. Ada beberapa pohon jeruk keprok di depan rumah, dan juga beberapa pohon nangka di belakang rumah. Satu lagi, ada bangunan musholla di depan agak ke barat.

Musholla itu buka 24 jam. (Ya, karena memang tidak ada pintunya.) Dengan letak rumah kami yang persis berada di dekat jalan raya, menjadikan ada saja orang yang memanfaatkan musholla itu. Untuk numpang sholat pada waktu-waktu sholat, atau tempat menginap bagi yang kemalaman di jalan.

Sebagai yang tinggal di dekat jalan raya, saya juga hapal nama-nama orang gila yang sering berjalan tak karuan tujuan. Kadang ke arah barat, sore hari sudah balik ke timur. Sekarang ini, saat saya membuat tulisan ini, lamat-lamat saya juga ingat wajah Pak Pingseng. Orang tua berkulit keriput yang saban hari melintas di jalan raya membawa jepitan agak panjang terbuat dari bambu. Orangnya lucu, adegan yang selalu diperagakan setiap kami, anak-anak, mengikuti langkahnya, adalah; ia akan memijit hidungnya dan menghisapnya sedemikian rupa, sampai kulit lubang hidungnya itu kempis.

Jumat, 21 Juni 2013

Donor Darah Demi Hadiah

SUDAH sekitar setahun ini, sejak musholla Badrussalam 'naik kelas' menjadi masjid, untuk sholat Jumat saya dan beberapa teman memilih ke situ. Dari tempat kerja saya letaknya relatif dekat dibanding masjid lain yang sebelumnya selalu kami tuju untuk berjumatan. Dengan berjalan kaki menyusuri emperan ruko Surya Inti Permata di timur tempat kerja saya, menerobos ke belakang melewati tanah kosong yang ditanami pisang, sampailah kami ke masjid yang sekompleks dengan sekolah SD dan Mts dengan nama yang sama. Mungkin memakan waktu tak sampai sepuluh menit.

Padahal bila Jumatan ke masjid lama di barat tempat kerja, akan lebih lama dari itu. Lebih-lebih kalau jalan kaki. Tetapi beberapa teman, masih ada yang tidak bisa pindah ke lain masjid. Di barat sana, pilihannya ada dua; kalau tidak ke Al Hikmah di Simpang Darmo Permai Selatan, ya ke Nurul Jannah yang sekarang letaknya nyelempit di 'ketiak' bangunan toko Hartono Elektronika Bukit Darmo Buelevard di Pradah. Kalau ke sana, ya jarang yang berjalan kaki, pada naik motor.

Dengan naik motor, padahal harus belok kiri dulu menuju U-turn di depan Hartono Elektronika, baru balik kanan grak melintasi jajaran ruko yang ditempati apotek dan beberapa bank, bisa lebih dari limabelas menit.

Sepulang Jumatan tadi, sesampai kemabli di kantor, ada seorang teman membawa bingkisan berisi nasi kotak, buku agenda, gelas cantik, snack, minuman kotak dan kapsul vitamin.

“Lumayan, pulang Jumatan, mampir donor di depan Bank BNI, dapat hadiah,” katanya sambil membuka nasi kotak bermenu nasi campur spesial.

Saya yang Jumatan di masjid Badrussalam tak melewati BNI. Kalaulah kemudian saya punya hasrat ikut donor, selain karena memang sudah lama tidak donor, tentu karena bingkisannya yang lumayan itu. Ini bila dibandingkan dengan donor di kantor PMI yang sekantong darah 'hanya' diganti sebutir telur asin atau sebungkus Biskuat. Hehe...

Menujulah saya ke kantor BNI yang di depannya terparkir mobil PMI.

Seorang petugas mendekati saya ketika saya baru memarkir motor, “Mau donor, Pak?”

Sambil melirik bingkisan berbungkus tas kertas berlogo BNI yang tertata rapi di meja, saya iyakan pertanyaan petugas itu. Dengan perut tas segemuk itu, saya telah tahu, isinya sama seperti yang dibawa tema saya tadi.

“Maaf, Pak., persediaan kantong darah yang kami bawa sudah habis, jadi dengan sangat terpaksa kami tidak menerima pendonor lagi.”

Sekali lagi saya melirik tas bingkisan yang berdiri rapi di atas meja. Saya menarik nafas sambil membujuk agar saya sadar. Bahwa donor darah adalah juga sebagai ibadah, yang tak elok dimuati keinginan mendapat hadiah. *****

Senin, 17 Juni 2013

Keserakahan

BUMI menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang.

Gandhi