"DI RUMAH SAJA?!", tanya itu lalu disusul derai tawa. Seperti biasa kalau Kang Kardi tertawa. Lepas. Tak peduli giginya bogang. "Kita ini orang kecil, nDang. Kalau di rumah saja, lalu anak-istri dikasih makan apa?".
Begitulah, tiga hari lalu. Saat ketemu Kang Kardi. Di dekat pertigaan, di depan sebuah minimarket, tempat mangkal Kang Kardi jualan, sekira jam sembilan malam. Saat Rindang keluar, nyari makan anget-anget. Istrinya kangen bakso Bogang, begitu 'merk dagang' yang ditulis Kang Kardi pada rombong baksonya. Biasanya, sebagai sesama pedagang, Rindang dan Kang Kardi tak pernah saling beli. Bertukar saja. Antara nasi goreng dan bakso.
Tiga hari sudah Rindang tidak berjualan. Di rumah saja. Seperti anjuran pemerintah. Seperti yang dilakoni orang-orang. Agar tidak dimakan pageblug. Makanya, ia menurut saja saat istrinya memintanya untuk sementara tidak berjualan dulu.
"Aku takut sampeyan nanti kenapa-kenapa", begitu alasan istrinya.
"Iya juga sih", Rindang menimpali. "Tapi, tanggal satu nanti, waktunya kita membayar kontrakan. Lalu bagaimana?"
Rabu, 29 April 2020
Minggu, 19 April 2020
Lockdown Medsos
SEBAGAI yang gemar menikmati informasi sedari dulu, saat-saat ini saya sudah menginjak pedal rem untuk aktifitas tersebut. Ini berlaku untuk semua informasi yang disiarkan oleh media-media arus utama dari beragam platform. Misalnya, saya lebih sering nonton acara semacam Bikin Laper (TransTV) atau Tik-Tokan (NET.) daripada aneka program berita dari berbagai saluran di jam yang sama. Mungkin sementara saja. Sampai saya merasa situasi sudah kondusif. Sudah normal.
Apakah saat ini suguhan informasi disajikan secara tidak normal? Entahlah. Masing-masing kita terbuka peluang untuk tidak sependapat. Itu sah-sah saja. Bukan masalah. Kalaulah ada masalah, tentu lebih ke sikap individu. Selain sudut pandang, juga --menurut saya-- sudut ketahanan psikologis terhadap paparan informasi.
Wabil khusus, kalau saat ini adalah paparan berita pandemi Covid-19. Jumlah pasien baru, PDP, ODP dan korban meninggal selalu berisi angka-angka yang secara grafik saban hari senantiasa merangkak naik. Bagi sebagian orang, saya misalnya, hal tersebut bukan tidak mungkin, menaikkan pula rasa was-was, khawatir dan semacamnya. Ujungnya panik. Ujungnya lagi, konon katanya, malah kurang baik. Karena imun tubuh jadi ikutan turun. Padahal kalau imun tubuh turun, bla, bla, bla....
Apakah saat ini suguhan informasi disajikan secara tidak normal? Entahlah. Masing-masing kita terbuka peluang untuk tidak sependapat. Itu sah-sah saja. Bukan masalah. Kalaulah ada masalah, tentu lebih ke sikap individu. Selain sudut pandang, juga --menurut saya-- sudut ketahanan psikologis terhadap paparan informasi.
Wabil khusus, kalau saat ini adalah paparan berita pandemi Covid-19. Jumlah pasien baru, PDP, ODP dan korban meninggal selalu berisi angka-angka yang secara grafik saban hari senantiasa merangkak naik. Bagi sebagian orang, saya misalnya, hal tersebut bukan tidak mungkin, menaikkan pula rasa was-was, khawatir dan semacamnya. Ujungnya panik. Ujungnya lagi, konon katanya, malah kurang baik. Karena imun tubuh jadi ikutan turun. Padahal kalau imun tubuh turun, bla, bla, bla....
Kamis, 16 April 2020
Holobis Kuntul Baris
TIDAK seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Mas Bendo pakai masker.
"Tumben, nDo," songsong Kang Karib.
"Diwanti-wanti sama istriku, harus pakai ini. Kalau tidak pakai, aku tak boleh masuk atau tidur rumah. Daripada aku tidur di Pos Kamling, ya mending aku pakai masker, sering cuci tangan pakai sabun", Mas Bendo beralasan.
"Kamu itu, takut sama istri apa takut sama Corona?".
Mas Bendo nyengir. Lalu bersiap melakukan 'serangan balasan'. "Piye, Kang? Sudah bisa tidur kalau malam".
Mas Bendo bertanya begitu karena, awal-awal ada kabar tentang pasien pertama di Indonesia, Kang Karib sempat curhat. Bahwa ia jadi gelisah. Kepikiran apa yang akan terjadi di sini. Di negara ini. Dimana kesadaran masyarakat masih relatif belum tinggi. Cenderung kurang peduli. Suka meremehkan.
Bukankah saat awal-awal itu aneka meme berseliweran. Dan Corona seakan sebagai bahan unggulan untuk materi banyolan. Pelaku banyolan konyol itu lengkap, dari rakyat jelata sampai para petinggi negeri. Dibegitukan, bisa jadi si Corona jadi gemes. Dan akhirnya ngamuk sungguhan.
"Aku sudah bisa 'lepas' sekarang, nDo", ujar Kang Karib. "Kalau dulu aku bisa marah besar karena kamu menyikapi pandemi ini dengan sembrono, aku sekarang bisa menerima. Intinya aku belajar ikhlas. Setelah kuupayakan ikhtiar sekuatku, kupasrahkan kejadian selanjutkan kepada yang maha menjadikan".
"Piye to, sampeyan iki, Kang?", protes Mas Bendo. "Di saat aku mulai sadar, kok sampeyan malah nglokro, malah menyerah".
"Melawan Covid-19 ini kita perlu bersama, nDo. Tak bisa sendiri. Harus guyup, harus holobis kuntul baris. Kita harus manut, harus menuruti anjuran pihak berwenang. Jangan gembelo sak karepe dhewe, jangan semaunya sendiri".
"Setuju, Kang. Aku miris, setiap hari sekian banyak korban meninggal diberitakan. Dan entah sampai kapan ini terjadi. Kematian memang sebuah keniscayaan, tapi kehidupan harus diperjuangkan. Walau hidup itu tak berguna sekalipun", sahut Mas Bendo meniru bunyi spanduk yang sedang viral.****
"Tumben, nDo," songsong Kang Karib.
"Diwanti-wanti sama istriku, harus pakai ini. Kalau tidak pakai, aku tak boleh masuk atau tidur rumah. Daripada aku tidur di Pos Kamling, ya mending aku pakai masker, sering cuci tangan pakai sabun", Mas Bendo beralasan.
"Kamu itu, takut sama istri apa takut sama Corona?".
Mas Bendo nyengir. Lalu bersiap melakukan 'serangan balasan'. "Piye, Kang? Sudah bisa tidur kalau malam".
Mas Bendo bertanya begitu karena, awal-awal ada kabar tentang pasien pertama di Indonesia, Kang Karib sempat curhat. Bahwa ia jadi gelisah. Kepikiran apa yang akan terjadi di sini. Di negara ini. Dimana kesadaran masyarakat masih relatif belum tinggi. Cenderung kurang peduli. Suka meremehkan.
Bukankah saat awal-awal itu aneka meme berseliweran. Dan Corona seakan sebagai bahan unggulan untuk materi banyolan. Pelaku banyolan konyol itu lengkap, dari rakyat jelata sampai para petinggi negeri. Dibegitukan, bisa jadi si Corona jadi gemes. Dan akhirnya ngamuk sungguhan.
"Aku sudah bisa 'lepas' sekarang, nDo", ujar Kang Karib. "Kalau dulu aku bisa marah besar karena kamu menyikapi pandemi ini dengan sembrono, aku sekarang bisa menerima. Intinya aku belajar ikhlas. Setelah kuupayakan ikhtiar sekuatku, kupasrahkan kejadian selanjutkan kepada yang maha menjadikan".
"Piye to, sampeyan iki, Kang?", protes Mas Bendo. "Di saat aku mulai sadar, kok sampeyan malah nglokro, malah menyerah".
"Melawan Covid-19 ini kita perlu bersama, nDo. Tak bisa sendiri. Harus guyup, harus holobis kuntul baris. Kita harus manut, harus menuruti anjuran pihak berwenang. Jangan gembelo sak karepe dhewe, jangan semaunya sendiri".
"Setuju, Kang. Aku miris, setiap hari sekian banyak korban meninggal diberitakan. Dan entah sampai kapan ini terjadi. Kematian memang sebuah keniscayaan, tapi kehidupan harus diperjuangkan. Walau hidup itu tak berguna sekalipun", sahut Mas Bendo meniru bunyi spanduk yang sedang viral.****
Rabu, 15 April 2020
Belajar Lewat Televisi
SALAH satu grup wasap yang 'terpaksa' saya ikut di dalamnya adalah grup walmur alias wali murid. Awalnya, sebelum pandemi Covid-19, grup itu sebagai jembatan informasi antara kami –para orang tua-- dengan guru di sekolah. Tentang tugas-tugas yang mesti dikerjakan anak-anak dan sejenisnya. Pendek kata, ia menjadi bentuk lain dari 'buku penghubung' yang sebelumnya digunakan.
Lalu datanglah pandemi ini. Yang membuat para murid sekolah 'dirumahkan', bukan diliburkan. Iya, bukan libur. Karena saban hari tugas sekolah selalu ada. Pelajaran dan soal dibagikan lewat; ya grup wasap walmur itu. Jadilah kini, kami –para orang tua-- menjadi sejatinya guru. Dan, disadari atau tidak, kadang menjadi 'guru' bagi anak sendiri saja agak makan hati. Bagaimana dengan guru yang asli, yang mendidik bukan anaknya sendiri, yang kadang anak-anak itu nakalnya yaaa gitu deh. Baiklah, saya mesti makin angkat topi dan memberi hormat lebih tinggi lagi kepada para pahlawan tanda tanda jasa itu.
![]() |
| Laporan ke Wali Kelas via foto di grup wasap. |
Tentu kita ingat dulu juga ada pelajaran sekolah yang disiarkan lewat televisi. Nama stasiun tivinya; TPI, Televisi Pendidikan Indonesia.
Senin, 13 April 2020
Kaos Terbalik dan Rezeki Baik
DUA hari ini saya batuk-pilek. Awalnya hanya begitu. Lalu mendapat bonus tambahan; demam. Saat saya cek pakai thermometer, suhu tubuh saya sempat nangkring di angka 38.3°C. Itu kemarin. Padahal hari-hari ini, batuk-pilek-demam sedang jadi pusat perhatian. Gara-gara Corona. Gara-gara Covid-19. Yang katanya gejalanya begitu itu.
Saya berbaik sangka saja. Saya hanya batuk-pilek-demam biasa. Bukan karena 'itu'. Sejauh ini saya berusaha patuh anjuran. Sering cuci tangan pakai sabun. Jaga jarak dengan orang lain. Selalu pakai masker. Sudah tak pernah lagi ikut Yasinan-Tahlilan berjamaah. Yang anggota jamaah Yasinta kami ratusan orang. Yang biasanya duduk berhimpitan, bila rumah yang sedang dapat giliran tak seberapa besar. Lalu saling salaman. Lalu, ah sudahlah.
Covid-19 telah menjadi buah bibir semua warga dunia. Negara sekaya, seperkasa dan seadidaya Amerika saja kelimpungan diterjang Corona. Apalagi negara kita? Oh, janganlah begitu. Mari berdoa; semoga si wabah ini segera sirna. Dari muka bumi.
Saya sedang batuk-pilek. Dan harus berobat ke dokter. Tidak seperti biasa, di klinik tempat saya akan periksa ini, ruang tunggu sekarang ada di luar. Di dekat parkiran. Padahal biasanya ada di dalam. Ber-AC. Walau tak ber-Wifi, biasanya kita disediakan bacaan. Majalah, juga koran.
Sejak ada Corona, banyak hal diubah. Termasuk ruang tunggu klinik ini. Pasien yang menunggu di luar, dipanggil satu-satu. Sesuai nomor antrean. Masuk, langsung ditodong thermal detector. Alhamdulillah; suhu saya sudah normal. Tertera angka 36.1°C. Beruntung saya tidak datang ke dokter kemarin. Saat suhu tubuh saya 38.3°C. Bisa-bisa saya ditelponkan 112. Untuk diproses lebih lanjut.
Selain selalu pakai masker, sering cuci tangan, dari mana-mana nyampai rumah disemprot disinfektan dari ujung rambut sampai sepatu, nglakoni physical distancing dan lain-lain, yang juga sedang saya lakukan adalah berusaha menjaga jarak aman dengan medsos. Entahlah, semakin saya berenang di genangan medsos, semakin saya mudah terpapar aneka kabar yang beredar. Padahal kita tahu, entah benar entah tidak sebuah informasi, jari kita enteng saja membagikannya. Kadang langsung sharing tanpa lebih dulu disaring. Ke grup wasap keluarga atau teman alumni. Ini tak baik, menurut saya. Mengonsumsi dan/ atau berbagi informasi dosis tinggi tanpa terlebih dulu melakukan verifikasi, berpeluang punya implikasi merusak 'hati'. Maka, satu per satu akun medsos milik saya sementara akan saya lockdown. Twitter sudah. Mungkin selanjutkan akun Facebook saya, lalu yang lainnya lagi. (Kalau Tik Tok , dari sejak saya unduh, malah cuma bertahan sekian hari saja di ponsel. Saya merasa terlalu tua untuk aplikasi tersebut. Selebihnya, saya merasa tak mampu membuat konten selucu beragam tayangan konyol ala Tik Tok itu).
Saat saya antre dokter tadi, tiba-tiba 'Ibu Negara' mengirim WA. Mengabarkan kaos yang saya kenakan terbalik, dia tahu karena dibilangi oleh tetangga yang berpasasan dengan saya di jalan saat saya berangkat tadi. Oh.
Saya yang tadinya santuy, menjadi agak gimanaa gitu. Kanan-kiri-belakang saya banyak orang. Sama-sama antre akan periksa dokter. Tapi, saya harus cepat menguasai keadaan. Toh tak ada yang mengenal saya. Lebih-lebih saya sedang pakai masker dengan brukut.
Saat sesuatu terjadi diluar dugaan, dibutuhkan tindakan cepat untuk 'seakan-akan sedang tidak terjadi apa-apa dan semua sedang lazim adanya'. Secepat itu pula saya harus segera menyemai sugesti bahwa; bilamana ada orang sedang bepergian untuk suatu urusan dan tanpa sadar mengenakan pakaian secara terbalik, niscaya ia akan mendapat rezeki yang datangnya tiada terduga. Dan, salah satu rezeki terbesar di hari-hari ini adalah: kita, orang-orang tercinta di sekitar kita, saudara-saudara sebangsa-setanah air, dan semua manusia penduduk dunia segera terbebas dari paparan pandemi wabah ini. Semoga. ****
Saya berbaik sangka saja. Saya hanya batuk-pilek-demam biasa. Bukan karena 'itu'. Sejauh ini saya berusaha patuh anjuran. Sering cuci tangan pakai sabun. Jaga jarak dengan orang lain. Selalu pakai masker. Sudah tak pernah lagi ikut Yasinan-Tahlilan berjamaah. Yang anggota jamaah Yasinta kami ratusan orang. Yang biasanya duduk berhimpitan, bila rumah yang sedang dapat giliran tak seberapa besar. Lalu saling salaman. Lalu, ah sudahlah.
Covid-19 telah menjadi buah bibir semua warga dunia. Negara sekaya, seperkasa dan seadidaya Amerika saja kelimpungan diterjang Corona. Apalagi negara kita? Oh, janganlah begitu. Mari berdoa; semoga si wabah ini segera sirna. Dari muka bumi.
Saya sedang batuk-pilek. Dan harus berobat ke dokter. Tidak seperti biasa, di klinik tempat saya akan periksa ini, ruang tunggu sekarang ada di luar. Di dekat parkiran. Padahal biasanya ada di dalam. Ber-AC. Walau tak ber-Wifi, biasanya kita disediakan bacaan. Majalah, juga koran.
Sejak ada Corona, banyak hal diubah. Termasuk ruang tunggu klinik ini. Pasien yang menunggu di luar, dipanggil satu-satu. Sesuai nomor antrean. Masuk, langsung ditodong thermal detector. Alhamdulillah; suhu saya sudah normal. Tertera angka 36.1°C. Beruntung saya tidak datang ke dokter kemarin. Saat suhu tubuh saya 38.3°C. Bisa-bisa saya ditelponkan 112. Untuk diproses lebih lanjut.
Selain selalu pakai masker, sering cuci tangan, dari mana-mana nyampai rumah disemprot disinfektan dari ujung rambut sampai sepatu, nglakoni physical distancing dan lain-lain, yang juga sedang saya lakukan adalah berusaha menjaga jarak aman dengan medsos. Entahlah, semakin saya berenang di genangan medsos, semakin saya mudah terpapar aneka kabar yang beredar. Padahal kita tahu, entah benar entah tidak sebuah informasi, jari kita enteng saja membagikannya. Kadang langsung sharing tanpa lebih dulu disaring. Ke grup wasap keluarga atau teman alumni. Ini tak baik, menurut saya. Mengonsumsi dan/ atau berbagi informasi dosis tinggi tanpa terlebih dulu melakukan verifikasi, berpeluang punya implikasi merusak 'hati'. Maka, satu per satu akun medsos milik saya sementara akan saya lockdown. Twitter sudah. Mungkin selanjutkan akun Facebook saya, lalu yang lainnya lagi. (Kalau Tik Tok , dari sejak saya unduh, malah cuma bertahan sekian hari saja di ponsel. Saya merasa terlalu tua untuk aplikasi tersebut. Selebihnya, saya merasa tak mampu membuat konten selucu beragam tayangan konyol ala Tik Tok itu).
![]() |
| WA dari Ibu Negara |
Saya yang tadinya santuy, menjadi agak gimanaa gitu. Kanan-kiri-belakang saya banyak orang. Sama-sama antre akan periksa dokter. Tapi, saya harus cepat menguasai keadaan. Toh tak ada yang mengenal saya. Lebih-lebih saya sedang pakai masker dengan brukut.
Saat sesuatu terjadi diluar dugaan, dibutuhkan tindakan cepat untuk 'seakan-akan sedang tidak terjadi apa-apa dan semua sedang lazim adanya'. Secepat itu pula saya harus segera menyemai sugesti bahwa; bilamana ada orang sedang bepergian untuk suatu urusan dan tanpa sadar mengenakan pakaian secara terbalik, niscaya ia akan mendapat rezeki yang datangnya tiada terduga. Dan, salah satu rezeki terbesar di hari-hari ini adalah: kita, orang-orang tercinta di sekitar kita, saudara-saudara sebangsa-setanah air, dan semua manusia penduduk dunia segera terbebas dari paparan pandemi wabah ini. Semoga. ****
Selasa, 03 Maret 2020
Karena Corona
SUDAH sejak beberapa hari yang lalu, setiap sesaat setelah menempelkan jari ke alat pemindai absensi, saya dan semua teman kerja (termasuk juga para tamu) yang lainnya diperika suhu tubuhnya. Ya, nama alatnya thermal scanner. Bentuknya seperti pistol. Yang ditembakkan ke jidat. Jaraknya 4-6 centimeter. Sampai muncul angka tubuh (atau jidat¿) kami. Kalau suhunya normal, ya boleh masuk. Nah kalau badan sedang meriang (tapi tak gembira😊) alias semlumut dan terdeteksi suhu badan di atas angka 37,5° C bagaimana?
Sesuai arahan yang ada, ya mesti balik kanan. Pulang. Gak boleh masuk. Lalu? Ya disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Tentang setelah mendapati tidak boleh masuk lalu beneran akan ke dokter atau malah tidak, ya terserah.
Ada teman, yang entah bercanda atau tidak, bilang bahwa mendingan tidak usah periksa daripada setelah diperiksa malah tahu penyakit yang kita idap. Dan sepertinya ada juga teman lain yang sependapat dengan teman saya itu. Tapi sekarang, yang hangat dibicarakan orang adalah corona. Virus yang telah menyebabkan ribuan orang meninggal di Tiongkok, tempat pertamakali virus itu ditemukan. Dan sekarang si virus itu telah menyebar ke banyak negara. Juga ke negara kita.
Apakah kita memilih bersikap santuy saja? Seyogianya tidak. Tetapi memilih sok panik juga jangan. Begitu pesan dari beberapa tokoh pengambil kebijakan yang saya lihat di media. Makanya saya tidak ikutan memborong kebutuhan pokok seperti dilakukan banyak orang. Lha karena memang tidak ada uang untuk ikut aksi borong barang.😊
Bahwa budaya hidup bersih di masyarakat kita sebagian besar masih ya... gitu deh, tentu mewaspadai persebaran corona di negara kita tidak bisa dilakukan secara ya.. gitu deh. Kerena beberapa mitos yang beberapa waktu lalu dipercaya bahwa karena ini-itu si virus corona tak akan masuk ke negara kita ternyata tak terbukti.
Kabar yang mengatakah penderita positif corona asal Depok itu terpapar temannya yang warga Jepang, saya juga mesti lebih waspada. Karena, banyak juga orang Jepang di tempat kerja saya ini. Juga orang Korsel. Yang juga termasuk negara dengan pasien positif corona dengan jumlah yang relatif banyak.
Tentu saya khawatir. Juga waspada. Juga takut. Takut tertular. Lalu takut pula turut menulari orang terdekat saya. Semoga jangan terjadi. Semoga sebagaimana badai, wabah ini segera berlalu.
Indonesia Jiayou!*****
Sesuai arahan yang ada, ya mesti balik kanan. Pulang. Gak boleh masuk. Lalu? Ya disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Tentang setelah mendapati tidak boleh masuk lalu beneran akan ke dokter atau malah tidak, ya terserah.
Ada teman, yang entah bercanda atau tidak, bilang bahwa mendingan tidak usah periksa daripada setelah diperiksa malah tahu penyakit yang kita idap. Dan sepertinya ada juga teman lain yang sependapat dengan teman saya itu. Tapi sekarang, yang hangat dibicarakan orang adalah corona. Virus yang telah menyebabkan ribuan orang meninggal di Tiongkok, tempat pertamakali virus itu ditemukan. Dan sekarang si virus itu telah menyebar ke banyak negara. Juga ke negara kita.
Apakah kita memilih bersikap santuy saja? Seyogianya tidak. Tetapi memilih sok panik juga jangan. Begitu pesan dari beberapa tokoh pengambil kebijakan yang saya lihat di media. Makanya saya tidak ikutan memborong kebutuhan pokok seperti dilakukan banyak orang. Lha karena memang tidak ada uang untuk ikut aksi borong barang.😊
Bahwa budaya hidup bersih di masyarakat kita sebagian besar masih ya... gitu deh, tentu mewaspadai persebaran corona di negara kita tidak bisa dilakukan secara ya.. gitu deh. Kerena beberapa mitos yang beberapa waktu lalu dipercaya bahwa karena ini-itu si virus corona tak akan masuk ke negara kita ternyata tak terbukti.
Kabar yang mengatakah penderita positif corona asal Depok itu terpapar temannya yang warga Jepang, saya juga mesti lebih waspada. Karena, banyak juga orang Jepang di tempat kerja saya ini. Juga orang Korsel. Yang juga termasuk negara dengan pasien positif corona dengan jumlah yang relatif banyak.
Tentu saya khawatir. Juga waspada. Juga takut. Takut tertular. Lalu takut pula turut menulari orang terdekat saya. Semoga jangan terjadi. Semoga sebagaimana badai, wabah ini segera berlalu.
Indonesia Jiayou!*****
Sabtu, 29 Februari 2020
Transponder Baru CNN di Telkom-4
![]() |
| Transponder CNN yang lama; zonk. |
Tenyata dugaan saya salah. Sesalah dugaan saya kalau bika Ambon itu beradal dari Ambon. Juga dugaan saya bila Dewi Perssik itu dari Kediri.😊
Setelah gogling sana sini, ternyata saya mendapat informasi bahwa CNN hanya berganti transponder saja. Dan masih tetap FTA, masih pula di satelit yang sama; Telkom-4. Maka, langsung saja saya menambahkan transponder baru di satelit Telkom-4. Langsung dapat sinyal. Lumayan luber, 72%.
![]() |
| Transponder baru CNN; 3881 H 3199 |
![]() |
| CNBC Indonesia |
![]() |
| Layar CNN Indonesia. |
Minggu, 24 November 2019
Saltum
BURUNG-BURUNG dalam sangkar peliharaaan tetangga berbunyi selalu. Ya, berbunyi. Ataukah itu berkicau? Entahlah. Surabaya hari-hari ini cuacanya panas sekali. Sekarang sudah minggu terakhir bulan November, dan hujan belum juga turun. Nah, bisa jadi burung-burung itu, yang digantung di teras atas itu, sedang mengomel karena kepanasan. Dan kita, apa pun arti suara burung, dibilang berkicau, bernyanyi. "Nyanyi gundulmu itu, aku ini misuh, c*k!"
Ya, dunia memang berisik. Tak melulu oleh suara burung. Tapi oleh ocehan lain. Tentang si itu yang tak boleh jadi anu, atau tentang catur. Atau usulan masa jabatan yang boleh tiga kali. Mbelgedhes tenan. Mau tak ditanggapi itu kuping ini dengar, mau tak dikomentari kok ya eman-eman. Baiklah, kita ini memang tak akan kehabisan bahan baku untuk tukaran, untuk berantem. Stoknya melimpah dan turah-turah. Jadi harus disyukuri(n).😊
Saya barusan menanam pohon kelor. Ya, ini bukan berita penting. Apalagi disampaikan oleh orang yang sangat tidak penting. Lain halnya kan kalau yang melakukan penanaman kelor itu si itu, yang saban obah-nya jadi berita. Seremeh apapun itu.
Cemburu?
Horak! Memangnya aku ini cowok apaan?
Kelor, kalau tradisi di kampung saya, (juga) dipakai memandikan mayat. Untuk? Agar si jenazah luntur segala susuknya. Makanya, beberapa teman yang bilang tak suka makan sayur kelor, dengan alasan 'daun untuk memandikan orang mati kok dimakan', saya duga ia sedang pasang susuk. Iya susuk. Susuk apa?
Ya, bisa jadi susuk kekuatan yang dipasang di jempol kedua tangannya agar kuat tutal-tutul layar ponsel, online nyosmed seharian. Juga, susuk betah isin ngevlog di sembarang tempat dengan kostum yang itu-itu melulu.
Asem tenan! Nyemoni aku ya!
Begini; bila hobi menulis, pembaca tidak akan peduli saya nulis pakai kaos kotang atau ote-ote, tak pakai baju dan cuma sarungan saja. Kalau lagi ngevlog, lha kok kaos yang saya pakai cuma Terong Gosong melulu. Seakan ada kesan; apapun kontennya, Terong Gosong kaosnya. Lalu, muncullah komentar sontoloyo yang saya dengar; wooii..., kaosnya ganti napa?!
Jujur, saya tak hanya punya kaos sakti mandraguna bertuliskan Terong Gosong itu. Ada juga baju. Hem lengan pendek. Kotak-kotak. Tak banyak sih. Cuma sebiji. 😉
Celakanya, nyaris semua foto dan atau video yang saya unggah ke semua akun sosmed saya, kalau bukan pakai kaos 'kebangsaan' itu, ya pakai baju kotak-kotak itu. Sialnya, ada fans (jangan ketawa, gini-gini, saya punya penggemar juga lho) kirim komentar sepedas mie setan level ugal-ugalan. "Maap, Kakak kok saltum. Saat yang lain pakai batik, kok Kakak tetep konsisten pakai kotak-kotak. #seriusnanya".
Tentu saya maafkan. Namanya si penggemar saya itu mungkin belum tahu saja. Bahwa, salah satu tanda atau indikasi tipe lelaki setia lahir-batin, baik di dunia maya atau di dunia nyata, adalah yang kemana-mana dan di acara apa saja baju yang dikenakannya selalu yang itu-itu melulu. Catet baek-baek!
Itu alasan pertama. Alasan kedua; baju kotak-kotak adalah batik yang tertunda (sebagaimana jomblo adalah ..... yang tertunda)😀 *****
Ya, dunia memang berisik. Tak melulu oleh suara burung. Tapi oleh ocehan lain. Tentang si itu yang tak boleh jadi anu, atau tentang catur. Atau usulan masa jabatan yang boleh tiga kali. Mbelgedhes tenan. Mau tak ditanggapi itu kuping ini dengar, mau tak dikomentari kok ya eman-eman. Baiklah, kita ini memang tak akan kehabisan bahan baku untuk tukaran, untuk berantem. Stoknya melimpah dan turah-turah. Jadi harus disyukuri(n).😊
Saya barusan menanam pohon kelor. Ya, ini bukan berita penting. Apalagi disampaikan oleh orang yang sangat tidak penting. Lain halnya kan kalau yang melakukan penanaman kelor itu si itu, yang saban obah-nya jadi berita. Seremeh apapun itu.
Cemburu?
Horak! Memangnya aku ini cowok apaan?
Kelor, kalau tradisi di kampung saya, (juga) dipakai memandikan mayat. Untuk? Agar si jenazah luntur segala susuknya. Makanya, beberapa teman yang bilang tak suka makan sayur kelor, dengan alasan 'daun untuk memandikan orang mati kok dimakan', saya duga ia sedang pasang susuk. Iya susuk. Susuk apa?
Ya, bisa jadi susuk kekuatan yang dipasang di jempol kedua tangannya agar kuat tutal-tutul layar ponsel, online nyosmed seharian. Juga, susuk betah isin ngevlog di sembarang tempat dengan kostum yang itu-itu melulu.
Asem tenan! Nyemoni aku ya!
Begini; bila hobi menulis, pembaca tidak akan peduli saya nulis pakai kaos kotang atau ote-ote, tak pakai baju dan cuma sarungan saja. Kalau lagi ngevlog, lha kok kaos yang saya pakai cuma Terong Gosong melulu. Seakan ada kesan; apapun kontennya, Terong Gosong kaosnya. Lalu, muncullah komentar sontoloyo yang saya dengar; wooii..., kaosnya ganti napa?!
Jujur, saya tak hanya punya kaos sakti mandraguna bertuliskan Terong Gosong itu. Ada juga baju. Hem lengan pendek. Kotak-kotak. Tak banyak sih. Cuma sebiji. 😉
Celakanya, nyaris semua foto dan atau video yang saya unggah ke semua akun sosmed saya, kalau bukan pakai kaos 'kebangsaan' itu, ya pakai baju kotak-kotak itu. Sialnya, ada fans (jangan ketawa, gini-gini, saya punya penggemar juga lho) kirim komentar sepedas mie setan level ugal-ugalan. "Maap, Kakak kok saltum. Saat yang lain pakai batik, kok Kakak tetep konsisten pakai kotak-kotak. #seriusnanya".
![]() |
| Saat iseng belajar nge-vlog di Taman Bungkul, Surabaya. (Foto: Faiz FN.) |
Itu alasan pertama. Alasan kedua; baju kotak-kotak adalah batik yang tertunda (sebagaimana jomblo adalah ..... yang tertunda)😀 *****
Rabu, 09 Oktober 2019
Lagi-lagi Kaki Kiri
SORE yang sendu saat itu. Tanggal 10 Desember, dua tahun yang lalu. Di Banjar Soko, Senganan, Bali. Saya sholat asyar di menjelang injury time. Sendiri. Di satu-satunya masjid di situ. Al Hamzah nama masjidnya. Selesai sholat dengan kecepatan seperti Marc Marcuez (lebay ya😀), saya hendak langsung pulang ke Tabanan. Kota. Berjarak sekitar 25 km dari situ.
Tapi hujan tetap turun dengan santuy. Tampaknya ogah berhenti. Tidak deras sih. Tapi, cukuplah bikin tubuh kedinginan bila menerjang hujan sepanjang perjalanan. Saya menunggu. Di serambi masjid. Sambil tutal-tutul ponsel. Pun, malah bikin sebel. Sinyal internet lelet.
Ada sih warung langganan di dekat masjid. Menunya lumayanlah. Milik Bu Rahma. Muslim. Bisalah, kalau mau pesan 'kehangatan'. Teh, atau susu. Saya tidak ngopi, juga tidak merokok. Tapi, di warung Bu Rahma juga gak ada wifi-nya. Gak seru kan?
Baiklah, rintik hujan masih berjatuhan dengan ritmis. Saya nekat, hendak pulang.
Motor sewaan terparkir di utara masjid. Di lahan yang agak lebih tinggi. Bukan paving, hanya hamparan tanah. Yang juga sebagai halaman rumah penduduk. Keluarga besar Bu Rahmah. Semuanya muslim.
Berlari kecil saya menuju motor. Di jarak satu meter sebelum motor matic putih itu, mak-cekluk, kaki berbunyi. Pergelangan telapak kaki kiri. Jangan tanya sakitnya.
Tapi hujan tetap turun dengan santuy. Tampaknya ogah berhenti. Tidak deras sih. Tapi, cukuplah bikin tubuh kedinginan bila menerjang hujan sepanjang perjalanan. Saya menunggu. Di serambi masjid. Sambil tutal-tutul ponsel. Pun, malah bikin sebel. Sinyal internet lelet.
Ada sih warung langganan di dekat masjid. Menunya lumayanlah. Milik Bu Rahma. Muslim. Bisalah, kalau mau pesan 'kehangatan'. Teh, atau susu. Saya tidak ngopi, juga tidak merokok. Tapi, di warung Bu Rahma juga gak ada wifi-nya. Gak seru kan?
Baiklah, rintik hujan masih berjatuhan dengan ritmis. Saya nekat, hendak pulang.
Motor sewaan terparkir di utara masjid. Di lahan yang agak lebih tinggi. Bukan paving, hanya hamparan tanah. Yang juga sebagai halaman rumah penduduk. Keluarga besar Bu Rahmah. Semuanya muslim.
Berlari kecil saya menuju motor. Di jarak satu meter sebelum motor matic putih itu, mak-cekluk, kaki berbunyi. Pergelangan telapak kaki kiri. Jangan tanya sakitnya.
Selasa, 08 Oktober 2019
Makna Nama
SUNGGUH, di blog ini sebisa mungkin saya menghindari menulis hal-hal berat. Apapun itu. Terlebih yang nyerempet soal akidah. Soal keyakinan, tentang agama. Yang saya sadar, sesadarnya, saya sangat tak tahu banyak tentangnya.
Bahwa, seperti Anda tahu, ada seorang penceramah yang bilang ada nama-nama yang 'tak sesuai' dan mesti diganti, karena nama itu berasal dari bahasa Sansekerta, misalnya, dan atau sebagai nama dewa dalam agama tertentu. Sebagai orang yang mempunyai nama yang tak 'berbau' bahasa Arab blas (yang banyak orang masih memiliki pemahaman bahwa apapun yang berbau Arab relatif identik dengan agama tertentu), tentu saya ikut merasa tersentil dengan ceramah sang ustad.
Sebenarnya sih, ini karena saya kurang kerjaan saja. Ngapain mesti ikutan baper, coba?
Dulu, pernah seorang tenant baru di tempat kerja saya juga salah sangka di saat pertama kita berkenalan.
"Edi", begitu saya mengenalkan diri kepada perempuan Tionghoa warga Malaysia yang bersuamikan orang India itu.
"Kristen?"
"Islam".
"Nama Edi kok muslim...", celetuknya.
Nah. Saya nyengir. Dan tak mungkin saya menyebut silsilah nama keluarga saya di hadapannya; Kakek buyut saya namanya Abdul Salam, sampai kakak kandung saya yang namanya Khoirul Anam.
Dan... nama ibu saya Sri. Yang, kata pak ustad itu, Sri adalah nama Dewi alias Dewa tapi perempuan. Dan Dewa adalah bla, bla, bla....
Namun begini, tentang nama, saya punya pemikiran, bahwa nama Jawa, sebagai misal, ada masanya. Maaf, saya tak menyebut contoh nama secara gamblang. Ada nama yang terbilang bagus, baik secara penyebutan dan secara makna, namun bila dipakai di masa kini, disematkan pada jabang bayi yang lahir di era milenial ini, ia akan terdengar kuno dan cenderung hanya pantas dipakai oleh orang yang sudah sepuh. Berbeda, misalnya, bila nama itu memakai bahasa Arab. Ia lebih tahan lama dan relatif lebih bisa 'sesuai' kapan saja. Tentu terbuka peluang bagi Anda untuk tidak sependapat dengan ini. Tidak apa-apa.
Intinya, lazimlah adanya orang tua memberi nama sebagus-bagusnya untuk para buah hatinya. Sebagai doa, sebagai pengharapan agar ia menjadi sesuatu sebagaimana makna dari namanya. Tentang memakai bahasa apa, bisa terserah saja.*****
Bahwa, seperti Anda tahu, ada seorang penceramah yang bilang ada nama-nama yang 'tak sesuai' dan mesti diganti, karena nama itu berasal dari bahasa Sansekerta, misalnya, dan atau sebagai nama dewa dalam agama tertentu. Sebagai orang yang mempunyai nama yang tak 'berbau' bahasa Arab blas (yang banyak orang masih memiliki pemahaman bahwa apapun yang berbau Arab relatif identik dengan agama tertentu), tentu saya ikut merasa tersentil dengan ceramah sang ustad.
Sebenarnya sih, ini karena saya kurang kerjaan saja. Ngapain mesti ikutan baper, coba?
Dulu, pernah seorang tenant baru di tempat kerja saya juga salah sangka di saat pertama kita berkenalan.
"Edi", begitu saya mengenalkan diri kepada perempuan Tionghoa warga Malaysia yang bersuamikan orang India itu.
"Kristen?"
"Islam".
"Nama Edi kok muslim...", celetuknya.
Nah. Saya nyengir. Dan tak mungkin saya menyebut silsilah nama keluarga saya di hadapannya; Kakek buyut saya namanya Abdul Salam, sampai kakak kandung saya yang namanya Khoirul Anam.
Dan... nama ibu saya Sri. Yang, kata pak ustad itu, Sri adalah nama Dewi alias Dewa tapi perempuan. Dan Dewa adalah bla, bla, bla....
Namun begini, tentang nama, saya punya pemikiran, bahwa nama Jawa, sebagai misal, ada masanya. Maaf, saya tak menyebut contoh nama secara gamblang. Ada nama yang terbilang bagus, baik secara penyebutan dan secara makna, namun bila dipakai di masa kini, disematkan pada jabang bayi yang lahir di era milenial ini, ia akan terdengar kuno dan cenderung hanya pantas dipakai oleh orang yang sudah sepuh. Berbeda, misalnya, bila nama itu memakai bahasa Arab. Ia lebih tahan lama dan relatif lebih bisa 'sesuai' kapan saja. Tentu terbuka peluang bagi Anda untuk tidak sependapat dengan ini. Tidak apa-apa.
Intinya, lazimlah adanya orang tua memberi nama sebagus-bagusnya untuk para buah hatinya. Sebagai doa, sebagai pengharapan agar ia menjadi sesuatu sebagaimana makna dari namanya. Tentang memakai bahasa apa, bisa terserah saja.*****
Sabtu, 21 September 2019
Memori Bubur Suro
Saat itu, di Tabanan-Bali, saya kos di tempat yang sangat biasa. Malah terkesan murahan dengan rentetan fasilitas yang... ya gitu deh. Kamar berderat, ada tujuh, semua menghadap selatan. Kamar terbesar hanya berukuran tiga kali tiga setengah meter termasuk kamar mandi dan WC (yang sering mampet) di dalam dan tanpa tambahan lainnya.
Tiada kipas angin apalagi AC, saya terbantu oleh hawa Tabanan yang relatif sejuk ketimbang asal rumah saya, Surabaya.
Tetangga kanan-kiri kamar saya berprofesi sebagai macam-macam. Ada pegawai minimarket, ada sopir toko bangunan, juga ada para perempuan yang suka berdandan menor berbusana ekhm, ekhm... yang kalau siang di rumah, tapi kalau malam entah kemana. Juga, ada sepasang kakek-nenek tua yang selepas subuh selalu telah berangkat kerja berdua. Berboncengan Honda Prima yang telah uzur usianya.
Kepada para tetangga itu, sebisa mungkin saya baiki semua. Setengah tahun lebih kos disitu, alhamdulillah, kami baik-baik saja. Dan sejauh itu pula saya tak pernah bercerita apa sejatinya pekerjaan saya di Bali. 😉
Baiklah, saya fokus saja. Bukan tentang para perempuan aduhai tetangga saya itu. Yang cara merokoknya terlihat mahir betul. Dan sebagainya, dan sebagainya. Namun tentang kakek-nenek itu.
Minggu, 08 September 2019
Klepon Gempol Kini
TENTANG kenapa banyak sekali penjual klepon di sekitaran Gempol, Pasuruan, menggunakan nama Wahyu sepertinya sudah pernah saya tulis. Kalau tidak salah ingat sih. Yakni, karena Pak Wahyulah orang pertama kali yang membuat dan menjual klepon di daerah situ. Sebagai yang pertama, apapun itu, sering secara auto menjadi semacam hal yang generik. Dan jadilah Wahyu identik dengan klepon Gempol. Begitu.
"Karena Pak Wahyu tidak mendaftarkan nama itu", terang seorang Ibu berusia sekira limapuluh tahun tempat saya membeli klepon siang tadi," jadilah nama Wahyu digunakan banyak orang disini".
Tidak seperti penjual lainnya yang tetap keukeuh memakai nama Wahyu pada banner dan pada kemasan klepon, Ibu ini memakai nama Mahkota.
Namun demikian, menurutnya, sekarang makin sepi pembeli. "Sejak ada tol, dan kendaraan dari Surabaya ke arah Probolinggo dan atau sebaliknya banyak yang lewat tol, kami makin sepi pembeli", tuturnya yang telah berjualan klepon sejak delapan belas tahun silam itu.
Sambil berbincang dengan saya, tangan Ibu itu saya lihat cekatan sekali membuat bulatan dari adonan tepung ketan berwarna hijau, memberinya cairah gula merah di dalam bulatan calon klepon itu, menutupnya lagi dan lalu mencemplungkan ke dalam air mendidih. Sebentuk keahlian yang terasah berkat kesetiaan menekuni sebuah profesi membuat dan menjual jajanan tradisional bernama klepon.
Rupanya, jalan tol yang dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas orang dan barang, punya imbas lain yang sepertinya memang niscaya. Salah satunya terhadap para penjual klepon di daerah Gempol ini. ****
"Karena Pak Wahyu tidak mendaftarkan nama itu", terang seorang Ibu berusia sekira limapuluh tahun tempat saya membeli klepon siang tadi," jadilah nama Wahyu digunakan banyak orang disini".
Tidak seperti penjual lainnya yang tetap keukeuh memakai nama Wahyu pada banner dan pada kemasan klepon, Ibu ini memakai nama Mahkota.
Namun demikian, menurutnya, sekarang makin sepi pembeli. "Sejak ada tol, dan kendaraan dari Surabaya ke arah Probolinggo dan atau sebaliknya banyak yang lewat tol, kami makin sepi pembeli", tuturnya yang telah berjualan klepon sejak delapan belas tahun silam itu.
Sambil berbincang dengan saya, tangan Ibu itu saya lihat cekatan sekali membuat bulatan dari adonan tepung ketan berwarna hijau, memberinya cairah gula merah di dalam bulatan calon klepon itu, menutupnya lagi dan lalu mencemplungkan ke dalam air mendidih. Sebentuk keahlian yang terasah berkat kesetiaan menekuni sebuah profesi membuat dan menjual jajanan tradisional bernama klepon.
Rupanya, jalan tol yang dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas orang dan barang, punya imbas lain yang sepertinya memang niscaya. Salah satunya terhadap para penjual klepon di daerah Gempol ini. ****
Langganan:
Postingan (Atom)










