Rabu, 04 November 2015

Suami yang Sholehah

JAM dinding di atas pintu, di sisi kiri meja kerja Mbak Yu, sudah menunjuk angka 8.13 dan Mas Bendo baru saja masuk dengan tergopoh-gopoh. Ini keterlambatan ke tiga dalam empat hari ini. Padahal, dalam perjalanan ke tempat kerja tadi, ia sudah memacu motornya dengan kecepatan 100 kilometer per dua jam. Lha iya to? Mana benar, coba, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di dalam kota begitu. Pertama karena aturan, kedua karena; mana bisa ngebut di tengah kepadatan kendaraan yang makin hari makin menumpuk di jalan raya.

“Kejebak macet lagi, nDo?” sambil melintas di dekat Mas Bendo saat hendak menuju mesin fotokopi, Kang Karib bertanya.

“Iya, Kang. Mana panas lagi,” Mas Bendo menjawab sambil menyalakan komputer.

“Lagian, kalau sudah tahu jalanan makin hari makin macet,” Mbak Yu ikut menyahut, “ lebih dipagikan lagi dong berangkatnya.”

“Namanya juga punya balita, Mbak,” elak Mas Bendo, “memandikan, nyuapin sarapan, ngantar ke rumah yang momong. Hitung coba, berapa waktu yang mesti dibutuhkan?”

“Itu kan tugas ibunya?”

“Nah, ini, begini ini kalau Sampeyan belum punya baby plus harus pula sebagai wanita pekerja. Ngomongnya gampang, ngelakoninya itu yang tak mudah. Dengerin ya, Mbak, istri saya itu tempat kerjanya juauh, dan jam setengah enam sudah harus di pinggir jalan karena mobil penjemputnya lewatnya jam segitu. Telat dikit bisa ditinggal.”

“Enak wanita zaman dulu ya kalau begitu,” Mbak Yu kembali menyulut alasan, “cakupan tugasnya lebih sempit; dapur, kasur, sumur”.

“Wah, bisa dimarahin Ibu Kartini kalau kamu punya prinsip begitu, Yu,” Kang Karib menimpali.

“Marah bagaimana, Kang? Apa aku salah?”

“Nggak
sih, Mbak Yu,” Mas Bendo yang nyahut. “Cuma kurang komplet, kurang konkret; kalau punya prinsip itu ya harus sesuai antara perkataan dan perbuatan.”

“Maksud Sampeyan piye, Mas?”

“Hambok sana, kalau keukeuh wanita itu cuma ngurusi dapur, kasur dan sumur, ya ndak usah kerja disini. Lak beres to?”

“Halah, Mas, Mas. Gitu aja nesu, purik.”

“Ya ndak purik, Mbak Yu. Cuma mendudukkan perkara pada takarannya. Bahwa kalau aku sudah kaya raya, sugih bandha sugih donya, ya ndak mungkinlah aku mengijinkan istriku ikut kethayalan mencari nafkah. Bagaimanapun tugas menafkahi keluarga adalah ada di pundak suami. Tetapi karena suatu keadaan istri ikut membantu, apa itu tidak boleh? Juga, kalau karena istri sibuk kerja, pada saat-saat tertentu apa juga dilarang suami yang memasak, cuci piring, nyeterika dan atau momong anak?”

“Wih, lincip sekali bicaramu, nDo?” Kang Karib berusaha mencairkan obrolan pagi yang terasa terlalu hangat itu. “Sudahlah, ayo kita sekarang kerja. Jangan khawatir; sebelepotan apapun sesekali suami mengerjakan tugas dan pekerjaan istri, nggak mungkinlah ia berjuluk suami yang sholehah. Ia tetaplah suami sholeh bagi istrinya yang moga-moga sholehah.” *****


Senin, 02 November 2015

Tersumbat Cutton Bud

Alat 'kili-kili'
Foto: ewe
KALAU sudah kecanduan, walau tahu yang dicandui itu adalah hal yang kurang baik, lumayan susah untuk menghilangkannya. Pernah sih saya mendengar ungkapan yang bilang, “Bila sulit menghilangkan kebiasaan buruk, buat dan lakukanlah kebiasaan-kebiasaan  baru yang baik.”

Dalam banyak hal, bicara jauh lebih gampang daripada mempraktikkannya. Dengan kata lain; tak semudah membalik telapak tangan. Ini bukan permainan ontong-ontong bolong, adu merak adu sapi yang berakhir diuyahi-diasemi wolak-walik grembyang.

Oho, jangan terlalu serius. Saya hanya ingin bercerita tentang kebiasaan buruk saya; kili-kili, membersihkan lubang telinga memakai bulu ayam atau cutton bud. Kalau dirunut ke belakang, kurang ingat saya sejak kapan melakukannnya. Yang jelas sudah luama sekali, dan sudah dalam taraf kecanduan. Sehari saja tak melakukannya, serasa gak betah. Kuping terasa gatal. Padahal, mungkin saja, gatal itu muncul karena dorongan keinginan sendiri. Yang, kalaulah tidak dituruti untuk dikili, pun sepertinya tidak apa-apa. Jujur, dalam membersihkan telinga, bukan melulu membuang kotoran semata, tetapi ada kenikmatan sebagai bonusnya. Ada rasa geli-geli sedap yang menggoda.

Padahal, dalam banyak artikel saya dapatkan keterangan, kotoran telinga tak perlu dikili juga akan bisa keluar sendiri. Gerakan rahang dalam berbicara atau mengunyah makanan adalah motode alami untuk mendorong kotoran telinga keluar dari liangnya. Sehingga, tak dianjurkan memasukkan bulu ayam atau cutton bud terlalu dalam. Batas yang dianjurkan adalah, bila bagian ujung cutton bud sudah menyentuh kulit telinga dan terasa nyaman, segera cabut. (Ih, tanggung ya? Lagi enak kok dicabut?)


Jumat, 30 Oktober 2015

Kurikulum Babak Belur

TINGGAL di pemukiman padat, tidak jauh dari kawasan industri, di puncak musim kemarau begini, fuih.. jangan tanya panasnya. Makanya, kami –bapak-bapak-- tiap malam memaksakan diri tampil bertelanjang dada walau sebagian di antara kami perutnya sungguh jauh dari kesan six pack, demi ngisis, cari angin yang belakangan agak pelit berembus. Menghindari sumuk di dalam rumah, lalu umuk, bicara ngalor-ngidul tak tentu arah.

“Heran saya,” kata seorang tetangga,”sekolah kok sampai jam segini belum pulang,” nada khawatir mengalir dari suaranya.

Kalimat lanjutannya malah berlumur keluh-kesah. “Dulu pas pertemuan wali murid, katanya selain SPP tidak akan ada pungutan lainnya. Nyatanya, hampir tiap hari ada saja tarikan. Yang duapuluh ribulah, yang limapuluh ribulah...”

Sebagaimana seorang pembicara di acara apa pun, tetangga saya itu sangat perlu pendengar. Saya sungguh amat tidak menghargainya kalau tidak menjadi pendengar yang baik untuknya. Karena, seperti kata sebuah ungkapan, semakin orang menjadi tua, ia laksana menjadi anak-anak lagi. Kalau balita sering merengek minta ini-itu, orang tua akan sering merintih karena ini-itu.

Itu hal wajar.
Anak gadisnya yang bersekolah di SMA swasta ternama itu dalam bersekolah bawa motor matic baru, dan menjelang jam sembilan malam belum pulang. Iya memang, sekolahnya masuk siang. Namun dengan ancaman kejahatan yang tak kenal musim kemarau atau penghujan, tiada orang tua yang tak menimbun kekhawatiran; jangan-jangan ada apa-apa dengannya di jalan.

Syukurlah anak saya diterima di SMA yang tak terlalu jauh dari rumah, yang sedari awal ia inginkan dan tiap hari masuk pagi, sehingga menjelang maghrib sudah tiba di rumah. Yang agak kurang saya syukuri adalah; ia berangkat jam enam pagi dan baru pulang jam segitu dengan wajah payah. Selepas makan dan jamaah sholat maghrib di musholla sebelah, setumpuk pekerjaan rumah menunggu untuk dikerjakan. Itu, kalau saya perhatikan, saban hari begitu. Belum lagi setiap Selasa dan Kamis malam ia harus les tambahan. Entah karena kecapekan atau apa, kemarin petang ia saya dapati --belum jam delapan malam-- sudah ketiduran dengan buku PR dan tas sekolah yang terbuka di sebelahnya.

Siapa pun orang tua selalu ingin anak-anaknya sukses melebihi apa pun profesi dan prestasinya. Paling tidak menyamailah; orang tua dokter, anak menjadi dokter. Orang tua tentara, anak menjadi tentara. Tetapi saya tak ingin anak saya kelak hanya sebagai pekerja bangunan seperti bapaknya begini.

Selasa, 27 Oktober 2015

Jula-juli Suroboyo: Pilkada Serentak

6 Desember Pilkada serentak
rek ayo rek podho sing kompak
pilihen calon sing track record-te tepak
ojok kepincut janji sing cumak asal njeplak

nang Suroboyo kene calone loro
onok Bu Risma lan paklik Rasiyo
endi sing dipilih terserah peno
aman tentremu kutho ayo dijogo

nang panggon liyo Pilkada onok sing dadi ontran-ontran
calon sing kalah ora gelem nrimo keputusan
ujung-ujunge ngerahno simpatisan
nglutuk kantor KPU ngamuk koyok wong kesetanan

ngamuk-ngamuk ngono kuwi untunge yo opo
malah nama baike calon sing diusung dadi cidro
kalah nang pesta demokrasi pancen kudu legowo
pilihan mayoritas pemilih iku sing nentokno

Suroboyo iki kutho Pahlawan
ayo podo dijogo supoyo tetep tentrem lan aman
bedo pilihan calon iku pancen keniscayaan
sing penting tetep rukun gak perlu gontok-gontokan*****

Variasi Olahan Kembang Turi

Selain katuk, saya juga menanam kembang turi
di depan rumah.

KEMBANG turi sebagai sayur dalam urap-urap atau pecel sudahlah lazim. Selain sebagai itu, olahan apa lagi yang bisa dibuat berbahan bunga turi? 

“Dimasak menjadi sayur asem juga seger,” kata tetangga sebelah. 

Oh, boleh dicoba itu. Tetapi lain kali saja. Karena pagi ini istri saya mengolah kembang turi sebagai eseng-eseng spesial sebagai lauk sarapan. Spesialnya nasi goreng biasanya pakai telur ceplok, nah spesialnya eseng-eseng kembang turi buatan istri saya ini pakai ikan asin. Dasar lidah saya ini lidah ndeso (walau sudah belasan tahun tinggal di kota) menikmati menu sederhana itu cuma dengan nasi hangat saja, sudah sanggup membuat saya makan secara lahap. Abai akan kabar kalau kembang yang memiliki nama latin sesbania grandiflora ini juga bisa sebagai obat sakit kepala, sariawan dan sakit tenggorakan, tahu-tahu selesai sarapan perut saya kenyang.

Sebagaimana eseng-eseng berbahan sayuran lainnya, eseng-eseng kembang turi ini pun tergolong sederhana sekali membuatnya.

Bumbu dan bahannya adalah:



  • Dua siung bawang merah
  • Dua siung bawah putih
  • Sebutir tomat
  • Cabe sesuai selera
  • Lengkuas secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Dua ekor ikan asin
  • Sebakul kembang turi



Cara membuatnya:



  • Iris tipis bawang merah dan bawang putih
  • Potong kecil-kecil cabe
  • Potong tomat menjadi empat iris atau sesuai selera
  • Potong kecil-kecil ikan asin dan buang duri/kepalanya
  • Cuci bersih kembang turi yang telah dibuang ujung batang bagian dalamnya.

    Setelah semua bahan siap:



  • Panaskan wajan, tuang minyak goreng secukupnya.
  • Goreng potongan ikan asin sampai matang (dengan minyak yang tak terlalu banyak) gunakan sisa minyak itu untuk menumis bawang merah-bawah putih, irisan tomat dan cabe.
  • Setelah matang, tuang air sedikit saja. Tunggu sampai mendidih.
  • Masukkan lengkuas.
  • Kemudian masukkan kembang turi yang telah dicuci bersih.
  • Incipi dulu (ikan asin membuat rebusan kembang turi ketularan asin), kalau kurang asin, silakan tambahkan garam.
  • Kembang turi gampang matang. dalam merebus jangan terlalu lama.
  • Eseng-eseng kembang turi plus ikan asin siap dihidangkan. *****


Minggu, 18 Oktober 2015

Cerita Elita

UMURKU dua puluh tahun ketika mulai tinggal di apartemen ini, tepatnya tujuh hari sebelum peresmiannya, delapan belas tahun yang lalu. Tentu, gedung apartemen yang dibangun di atas tanah yang sebagian di antaranya adalah bekas kuburan ini belum seperti sekarang, yang semua fasilitas lebih lengkap. Waktu itu, seingatku, jalan raya di depan itu, yang ada patung buayanya itu, juga masih sepi. Motor belum seperti digelontorkan dari pabriknya seperti sekarang, sehingga angkot masih menjadi andalan orang-orang yang kurang berduit. Yang juga kuiingat, tengah malam sebelum esoknya Pak Walikota meresmikannya, ada empat-lima orang menggali tanah di sisi depan-kanan bangunan untuk menanam kepala kerbau hitam.

Penghuni lama yang betah tinggal sampai sekarang masih bisa kuhitung dengan jelas. Pertama, tentu Bapak Tua yang saban hari sejak dulu suka berbaju hitam yang tinggal di lantai empat belas. Walau aku yakin ia tidak tuna wicara, belum pernah sekali pun aku mendengar ia bicara. Beberapa kali kami ketemu di dalam lift, (biasanya malam-malam, ketika aku dari cari angin di depan lobby; duduk menyendiri di bibir kolam kecil dengan pohan kamboja di kanan-kirinya, dan bunyi gemericik air di kolam itu sungguh bikin hati tenteram) dia menombol angka empat belas dan aku melakukan hal sama untuk tujuanku; lantai tiga puluh empat.

Seperti kami yang jarang tahu apa pekerjaan tiap-tiap penghuni, begitu juga aku tak tahu apa profesi Bapak Tua itu yang ketika sesekali aku melintas di depan pintu apartemennya, selalu bisa dengan jelas kuhirup wangi bunga kamboja, aroma yang juga amat aku suka.

Begitulah, apartemen ini, yang kalau dibandingkan dengan gedung serupa di sekujur kota yang lahir belakangan, tetap belum kalah. Ya desainnya yang elegan dan cenderung klasik, atau bentangan taman nan luas dengan aneka tanaman hias terawat sempurna, juga lobby berinterior artistik dengan piano tua di sudutnya yang malam-malam sering aku diam-diam memainkannya . Tetapi seperti juga pernah engkau dengar, ada kalimat yang mengatakan 'orang bisa membeli tempat tinggal dengan kasur empuk dan semua ruang berpenyejuk, namun tiada orang sanggup membeli mimpi'. Semakin orang mengingini privacy berlebih, seperti para penghuni gedung apartemen ini, niscaya mereka semua adalah pula pengidap paranoid berlebih.

Lidah Korea dan Soto

AWALNYA saya duga usianya baru akan menginjak kepala lima. Ya, kulitnya masih terawat, seterawat bibirnya yang murah senyum. "Saya di Indonesia ini, kalau dihitung, sudah empat puluh tahun," katanya dengan bahasa Indonesia yang terasa ada terselip aksen Koreanya.

Mrs Lee, begitu saya mengenal namanya. Kami bicara sambil disuguhinya minuman dingin yang saya rasakan sebagai, "Ini jus asam ya?" tanya saya setelah seteguk masuk ke kerongkongan dan saya mengenalinya sebagai berasa asam Jawa.

Si Nyonya Rumah tersenyum ramah kemudian mengambil botol dari lemari esnya, "Ini anggur," katanya. "kami di Korea memang tak suka pakai gula."

Cukup ada alasan untuk saya merasa malu atas kekeliruan itu seandainya saya tidak menyengajainya sebagai 'modus' supaya kami bisa bicara lebih akrab lagi. Dan saya mendapati, entah karena trik itu atau memang si Nyonya isi aslinya memang grapyak semanak, kami kemudian bisa lebih santai lagi bicara-bicara.

"Mula-mula saya ke Indonesia ini di Sumatera Utara," ia bercerita. "Tepatnya di Sibolga."

"Lalu?" ibarat memancing ikan, saya sedang menggunakan umpan sederhana saja.

"Tujuh tahun kemudian pindah ke Kalimantan, tepatnya di Tarakan. Dan baru mulai tahun 1990 kami menetap di Surabaya ini, sampai sekarang."

Saya melirik rak di bawah meja. Selain buku-buku berbahasa/berhuruf Korea, saya dapati pula koran harian berbahasa Indonesia. Hampir setengah abad tinggal di Indonesia, mafhum saja kalau lidahnya fasih sekali berbahasa Indonesia. Bagaimana dengan makanan?

"Kalau kimchi sih pasti ya," ungkapnya. "Itu sejenis menu pecel atau lodeh bagi orang Jawa. Sudah tak terpisahkan."

"Maksud saya, maaf, apa lidah Anda sudah bisa makan makanan Indonesia?" tanya saya.

"Oh, soto. Saya suka sekali soto," katanya dengan ekpresi kemecer, kemudian tertawa. "Lalu masakan Padang saya juga suka."

"Suka sambal terasi?"

"Suka, karena di Korea tidak ada. Disana adanya lombok merah yang besar itu." terangnya. "Nah, lombok merah itu dikeringkan, lalu dibuat bubuk. Kalau lombok Indonesia, yang kecil-kecil itu, pedas sekali. Tetapi saya suka."

"Selain Nyonya, keluarga yang lain juga suka makanan Indonesia?"

"Anak saya kan besar disini. Belum lama ia menikah dan sekarang tinggal di Korea,"  Mrs Lee bercerita, "kalau sedang kangen soto sedangkan di Korea menu itu tidak ada, anak saya itu minta dikirimi bumbu soto dari sini. Lucu ya? Saya sendiri juga begitu; sebulan saja kembali ke Korea, sudah rindu sekali dengan soto," lanjutnya sambil tertawa. *****



Sabtu, 10 Oktober 2015

Smartphone

UPDATE status atau ngetwit itu jangan terlalu sering biar disangka sibuk, begitu bunyi kalimat yang ditulis seseorang yang saya ikuti di twitter. Dan kalau dicerminkan kepada kenyataan di sekitar, hal itu adalah kebalikannya. Lihatlah, betapa orang makin susah terpisahkan dengan layar ponselnya. Sebagai yang sangat ketinggalan zaman dan kemana-mana hanya bawa ponsel jadul berkelas Nokia N1200 dan paling mewah cuma punya Nokia C3, saya kadang kurang mengerti; apa saja ya diketikkan pada layar smartphone sehingga selalu saja orang begitu senang menarikan jempol tangannya menombol-nombol huruf tak peduli waktu dan tempat. Malah, seorang teman begitu saya kagumi atas kecepatannya menulis kata-kata di layar ponsel dengan hanya memakai dua ujung jempolnya jauh melebihi rekor kecepatan saya menulis menggunakan empat jari (dua jari kanan, dua jari kiri) pada keyboard komputer.

Nah, apa orang yang selalu tak bisa jauh dari smartphone-nya itu tidak sedang sibuk? Oh, mereka selalu sibuk. Namun, sebagaimana slogan sebuah warung kopi di gang dekat rumah saya yang memajang kalimat ojok sampek kerjomo nganggu ngopimu (jangan sampai aktifitas kerjamu mengganggu kegiatan ngopimu), para orang yang yang tidak bisa lepas dari aktifitas (bermedia) sosial itu pun layak punya tagline; bekerjalah hanya di sela nyosmedmu.

Jujur, kadang saya tergoda juga untuk agak ikut arus; ganti 'senjata' berjenis smartphone. Bahkan bidikan saya sudah masuk ke merek dan tipe-nya segala. Celakanya, seperti hendak memilih istri, saya tak langsung tubruk saja. Ada beberapa hal yang saya timbang-timbang. Sudah seharusnyakah saya punya? Untuk kebutuhan apa? Sekadar supaya eksis di socmed? Atau sudah kudu punya demi menunjang aktifitas kerja? Oh, namun tolong kasih tahu saya; apa pekerjaan dengan gergaji, cetok, palu, tang, obeng dan sebangsanya adalah senjata andalan, harus sudah ikut madzhab yang mewajibkan punya smartphone adalah fardlu 'ain? (Imbas dari terlalu mempertimbangkannya ini, sampai sekarang saya masih setia setiap saat bersama N1200 dan untuk aktifitas nyosmed selalu memakai si C3. Ini sekaligus sebagai jawaban dari beberapa email yang masuk menanyakan WA dan Pin BB, bahwa: saya tidak punya)

Iya, sih. Tidak semua orang tak bisa lepas dari gadget-nya sampai-sampai mengorbankan quality time bersama anak-istrinya. Mereka orang hebat yang sangat taat waktu. Sehingga hanya saatnya saja lengket dengan gadget, dan saat lainnya untuk pekerjaan atau keluarga.

Gadget dengan segala fiturnya bisa jadi amat mengasyikkan. Namun,”Ia sekarang berubah. Nggak seramai dulu. Sekarang ia saban waktu lebih asyik dengan ponselnya,” kata seorang teman tentang teman kami yang lain.

Orang bisa asyik dan ramai sendiri dengan banyak teman dari banyak tempat di dunia secara maya, tetapi bisa jadi ia menjadi pribadi baru yang makin hari makin kehilangan kehangatan bagi teman satu ruangan yang sebelumnya selalu ramai dan akrab secara nyata. Bukan hanya para dewasa, sekarang anak-anak pun kemana-mana bawa smartphone dan mengakrabinya melebihi teman sebangku di sekolahnya atau bahkan dibanding ibu-bapaknya. Ini sebagai bukti bahwa smartphone bisa menjadi sarana mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Dengan kenyataan demikian, nanti, makin terasa biasa saja orang tidak saling 'kenal' dengan tetangga yang tinggal di depan hidungnya. *****


Minggu, 04 Oktober 2015

Tempat Pulang

KEMANA tujuan pulang adalah tempat dimana banyak orang memikirkanmu.

-Naruto Uzumaki, dalam sebuah dialog.*****


Senin, 21 September 2015

Tracker Satelit: Pemburu Sinyal dan Rezeki

11.47 WIB: Persiapan pemasangan.
Karena di lokasi telah ada tiang eks Indovision,
maka tak perlu pasang tiang lagi.
IMRON (27 tahun) tidak punya pengalaman sama sekali di bidang listrik atau elektronika. Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, ketika ada lowongan kerja sebagai installer/teknisi parabola sebuah pay tv, ia mencoba keberuntungan.

“Ya, nekat saja,” ungkapnya tentang modal yang ia andalkan.



Nah, saat yang dinantikan datang. Ia dipanggil untuk tes interview. “Saat ditanya tentang pengalaman di bidang parabola, jujur saya katakan tidak punya. 'Saya katakan, tentu semua orang berawal dari tidak bisa. Dan belajar adalah cara untuk bisa', begitu prinsip saya. Eh, tidak lama kemudian saya dipanggil lagi. Diterima,” katanya sambil tersenyum.



Satellite Finder, jimat andalan Mas Imron.
Diawali dengan harus mengikuti program diklat selama dua minggu (seminggu teori dan seminggu praktek), Imron melahap materi dengan antusias. Hasilnya; belum genap sepuluh hari ia ia sudah menantang mengajukan diri memasang di rumah pelanggan. “Sebagai orang baru, sesuai prosedur, awalnya saya masih harus didampingi. Setelahnya, ya sudah berani sendiri. Lagian, kalau niat, belajar tracking satelit pay tv itu sehari juga bisa,” paparnya.



Lima bulan sudah ia kini bekerja sebagai teknisi parabola sebuah pay tv milik grup media besar di Indonesia. Sebagai teknisi kantor cabang Surabaya, cakupan arena kerja lumayan luas; meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan.
Mas Imron sedang pasang LNB.



Ayah satu anak ini menambahkan, hal yang membuatnya kerasan bekerja di bidang ini adalah pengupahan yang bersistem poin. Semakin besar poin yang didapat pada tiap bulan, gaji yang dierima terbilang lumayan. “Ya, di atas UMK-lah,” akunya. “Malah kalau kita pas menangani pelanggan yang 'manis', untuk biaya rokok, makan dan bensin kita ambil dari uang tip dan gak sampai mengurangi nilai gaji. Gaji bisa utuh untuk keluarga.”



12.07 WIB: signal terkunci maksimal, kencangkan baut.
Tinggal cek ke ruang tamu pelanggan.
Foto-foto: ewe
Dengan membawa dua-tiga set antena parabola jenis offset dalam sekali berangkat tugas, ditambah satu tas peralatan berisi kunci, mesin bor, LNB, kabel coaxial dan tentu saja satellite finder, lelaki asal Rembang Jawa Tengah ini terlihat agak terlalu membebani motornya. Ditambah dalam bekerja harus tahan panas (karena antena dipasang di ketinggian dan harus tiada terhalang benda apa pun agar sinyal satelit tertangkap sempurna), plus perjalanan jauh berjarak berpuluh-puluh kilometer ke luar kota demi pelanggan yang sedang mengalami gangguan pada sinyal televisinya, adalah 'makanan sehari-hari'. “Kalau pelanggan puas dan kasih sekadar uang rokok, ya alhamdulillah, tak dikasih pun tak apa-apa. Namanya juga memang sudah tuntutan kerja,” ungkap Imron.

Seperti pencari nafkah sejati yang lain di bidang apa pun, Imron membuang jauh-jauh kosakata mengeluh dari kamus hidupnya. Karena keluh kesah hanya akan membuat sebuah semangat menjadi rapuh dan gampang patah. *****




Jumat, 18 September 2015

Kebahagiaan ala Dokter Gelandangan

"KEBAHAGIAAN itu bukan melulu diukur dari berapa harta kekayaan kita.
Tetapi berapa orang yang telah kita tolong hari ini."

dr Michael Leksodimulyo (melepas jabatan dan gaji tinggi di sebuah
rumah sakit swasta dan memilih fokus kerja sosial bidang
kesehatan menangani para

gelandangan di sudut-sudut kumuh atau
kaum papa yang tinggal di kolong-kolong jembatan
kota Surabaya. Hal itulah yang

membuat ayah tiga anak ini mendapat gelar unik; Dokter Spesialis
Gelandangan)

Rabu, 16 September 2015

CNN Indonesia Mengudara FTA di Surabaya

AGAK terlambat saya tahu kalau CNN Indonesia telah mengudara secara FTA (free to air) alias gratis di Surabaya. Kalau kabar dari Jakarta sih sudah beberapa waktu yang lalu, walau awalnya, dengan masuknya konten CNNID pada MUX TransCorp membuat KompasTV terdepak. Nah apakah sekarang si Kompas sudah balik pada MUX TransCorp di wilayah Zona 4 (Jakarta-Banten), saya belum tahu.

“Bagaimana, apa KompasTV pada siaran digital di Surabaya hilang dengan masuknya CNN?” tanya saya pada seorang teman.

SQ tembus 100%. Lumayanlah. Semoga On Air terus dan bukan sekadar PHP.
(Altem: STB PF-209, antena Titis TS-1000, kabel Belden)
Foto: ewe
Dan jawaban pasti telah saya dapatkan saat scan ulang pada set top box saya yang sudah sekian lama menganggur (karena saya lebih sering menembak sinyal dari langit, pakai jamur), yakni: KompasTV tetap ada walau CNNID telah mengudara. Nah, dengan demikian, saat saya membuat tulisan ini, MUX di Surabaya yang mengudara ada tiga:

  1. 506 Mhz/Ch. 25: MetroTV dan BBSTV
  2. 522 Mhz/Ch. 27: TransTV, Trans|7, CNN Indonesia, KompasTV.
  3. 586 Mhz/Ch. 35: TVRI Nasional, TVRI HD, TVRI 3, TVRI 4, TVRI Jatim, TVRI Pro2.
CNN sebagai stasiun televisi berita siapa yang tidak mengenalnya. Sekarang, dengan hadirnya ia di kanal digital, harusnya membuat beberapa kemungkinan. Pertama, MUX lain yang juga ada content beritanya (490 Mhz/Ch. 23 : tvOne dan antv) harusnya segera bangkit dari istrirahat panjangnya. Begitu juga dengan MUX milik Emtek dan MNC. Kedua, penjualan set top box atau televisi baru yang sudah include tunner DVB-T2 akan kembali bergairah.

Namun orang kini sudah jeli dan agak susah di-PHP, sehingga kemunculan CNN Indonesia yang bisa dinikmati tanpa berlangganan pay tv dan cukup pakai antena biasa pun masih perlu dilihat lebih lanjut. Untuk sementara atau hanya semacam siaran uji coba lalu mak cling, hilang lagi. Iya to. Bukankah, kabarnya, payung hukum tentang siaran televisi digital belum klir benar. Jangan sampai demi bisa melihat CNN (yang dalam promonya dibilang sebagai 'televisi berita kelas dunia berbahasa Indonesia') lalu dibela-belain beli STB, eh sebulan lagi MUX TransCorp kembali mati suri.

CNN Indonesia ibarat magnet, banyak sekali penyiar berita yang hijrah ke sana.
Kemauan sendiri apa 'dibajak' ya?
Foto: ewe
Hidup adalah pilihan, dan tidak melihat CNN pun tidak apa-apa. Jujur, saya belum terlalu intim dengan CNN. Kalaulah saya nonton, paling-paling sekadar ingin tahu siapa saja sih yang boyongan kesitu. Eh, ternyata buanyak sekali. Mulai Shanta Curanggana, Desi Anwar, Alfito Deanova, Indra Maulana, Putri Ayuningtyas, Frida Lidwina, Prabu Revolusi, Eva Yunizar dll. Melihat ini, seorang teman melontar komentar, “CNN Indonesia adalah hidangan dengan citarasa MetroTVOne.” *****