Jumat, 30 Desember 2011

Tanda Tangan


DULU, ketika masih sekolah di Aliyah, secara berkala sekolah kami sering tampil live di saluran RRI Jember. Untuk unjuk kemampuan olah vokal dan pembacaan puisi. Saya ingat, saat itu teman-teman saya suka menyanyikan lagunya Ratih Purwasih, Gelas-gelas Kaca-nya Nia Daniaty, dan lagu-lagu lain yang masa itu lagi top-topnya. Misalnya lagu-lagu ciptaan Obbie Mesakh, Rinto Harahap atau Wahyu OS. Banyak dari lagu-lagu itu yang bernuansa sendu. Yang agak rancak, yang seingat saya pernah ditampilkan secara duet oleh teman saya adalah Kalau Bulan Bisa Ngomong-nya Doel Sumbang-Nini Karlina.

Saya kebagian apa? Nyanyi? Ah, mana bisa saya menyanyi. Wong bersin saja suara saya sengau... Hehehe....
Saya, sering diminta sebagai MC saja. Walau belakang hari, saya jadi tahu diri; 'memangnya saya saja yang bisa bercuap-cuap?'. Saya ingin ada teman lain yang tampil. Dan pihak pengasuh vokal grup di sekolah kami menyetujui. Tapi ada syaratnya; “Naskahnya kamu yang buat,” katanya.

Okelah. Setelah beberapa kali tampil hanya puisi (yang kalau dibaca lagi sekarang saya malu) yang dibacakan teman lain, sekarang giliran saya juga menulis naskah untuk sang pembawa acara.


Suatu hari ditempat parkir, ketika saya ikutan keluar dari mobil yang membawa kami ke studio RRI, Joko Sambang, sang gitaris andalan sekolah kami mendekati saya, “Kamu jangan pura-pura,” katanya.

“Pura-pura apa, mBang?” jawab saya.

“Pegang gitar ini!” ia menyodorkan gitar akustik merk Yamaha kepada saya. “Mainkan!”

“Aku gak bisa main gitar, mBang...”

“Jangan bohong, dari bentuk jari tanganmu aku tahu, kamu bisa main gitar...”

Lhadalah, baru kali itu saya mendengar seorang bisa mengetahui bisa-tidaknya orang main gitar dilihat dari tangannya. Tetapi, tentu saja si Joko Sambang sangat keliru. Ya, saya tak bisa main gitar. Sampai sekarang!

Tetapi, tanpa berguru kepadanya, belakangan saya bisa menebak sebuah tanda-tanda dari tangan seseorang. Bukan tentang gitar. Tetapi tangan tukang becak.
Tentu sampeyan juga tahu, bila seorang tukang becak melambaikan tangan kekanan (dengan tanpa menoleh kebelakang) bersiaplah; abang becak itu akan belok kanan. Berhati-hatilah 'melawan' kendaraan (dan pengemudi) model ini, yang sering dengan gagah berani melawan arus dipadatnya arus lalu lintas....

Rabu, 28 Desember 2011

Pengemis Naik Kelas

BATAS antara meminta-minta dan mengamen, saya perhatikan, makin tipis saja. Seringkali, pengamen yang mampir kerumah saya saya lihat tidak menyanyi. Ia hanya genjrang-genjreng gitar dengan nada ngawur. Alat itu ia bunyikan sekadar memberitahu pemilik rumah akan kedatangannya. Lalu, ketika uang receh telah diterimanya, ia akan melanjutkan pindah ke rumah sebelah. Juga dengan modus yang sama.

Ada lagi sejenis pengamen tapi menakutkan; ngamen jaranan. Dengan dandanan khas jaranan (celana kombor hitam, kaos loreng putih-merah, ikat kepala, bedak kemerahan). Tentu ia tak membawa gitar untuk mengiringi atraksinya. Ia membawa tape yang memutar gamelan rancak kesenian khas Jawa ini. Satu lagi; sambil menari-nari, sesekali ia memcambukkan pecut. Dan cambukan itu makin keras saja manakala si pemilik rumah tak segera keluar untuk memberinya uang kecil. (Ngamen kok neror...)

Hari Minggu adalah hari yang padat akan kunjungan pengamen. Mereka rupanya tahu, hari itu rumah-rumah yang dihari lain selalu tutup (karena ditinggal pergi penghuninya untuk kerja), banyak yang berpenghuni. Artinya lagi, income bagi para pengamen berpeluang untuk meningkat, ketimbang hari kerja.

Tidak hanya pengamen, hari Minggu adalah hari kunjungan para pengemis. Saking seringnya, saya sampai hapal wajah para pengemis itu. Salah satunya seorang laki-laki seusia kakak saya. Melihat fisiknya, saya kira ia sehat jiwa raga. Lebih kekar dari tukang becak yang mangkal dipertigaan pasar Rungkut. Tetapi kenapa mengemis? Tak perlulah saya tanyakan hal ini kepadanya. Sampeyan tentu pasti tahu.

Belakangan, saya juga kedatangan lelaki itu lagi. Untuk mengemis? Ah, tidak lagi sekarang. Rupanya ia telah 'naik kelas'. Ia datang tidak dengan baju lusuh dan celana kumal. Juga tidak menyandang tas compang-camping. Ia tampil lebih 'necis'; celana panjang warna hitam, baju putih lengan panjang, songkok putih ala haji, dan map hijau dengan lembaran yayasan 'anu' didalamnya lengkap dengan surat permohonan sumbangan.*****

Jumat, 23 Desember 2011

Daun yang Menipu


“...di alam nyata
apa terjadi
buah semangka
berdaun sirih...”

PERCAYALAH, itu hanya ada dalam syair lagu. Tepatnya lagi, lagunya Broery Pesolima

Dialam nyata yang sesungguhnya, sering saya dapati daun penipu. Lihat dan perhatikan lebih jeli; dilapak-lapak pedagang buah dipinggir jalan, untuk memberi kesan buah nan segar, seringkali para pedagang buah menyelipkan dedaunan disela ikatan buah rambutan yang dipajang. Yakinlah, itu bukan daun rambutan sesungguhnya. Karena, mana ada orang membawa rambutan dari kampung sekalian sak daun-daunnya.

Ya, melihat bentuknya, saya curigai itu adalah daun pohon sono yang memang banyak ditanam Dinas Kebersihan dan Pertamanan di pinggir-pinggir jalan, berdekatan dengan lokasi para pedagang buah mangkal.

Masih tentang daun yang kadang menipu.
Begini; dikampung saya, ketika ada tetangga yang hendak menggelar selamatan, salah satu indikasinya adalah pagi ia akan mengambil daun-daun pisang. Daun yang masih menyatu dengan pelepahnya itu, kemudian disandarkan didinding rumah dihadapkan ke sinar matahari. Tujuannya agar daun itu layu. Sehingga ketika digunakan untuk membungkus 'berkat', daun itu tidak gampang sobek.

Melihat itu, biasanya para ibu tetangga kanan kiri sudah ambil langkah antisipasi. Kalau tidak membatalkan menanak nasi untuk dikonsumsi disore hari, paling tidak akan mengurasi porsinya. Alasannya jelas, bila ada tetangga selamatan, sebungkus 'nasi berkat'-nya bisa untuk mengenyangkan perut seisi rumah berpenghuni empat sampai lima jiwa.

Itu kalau beruntung. Kalau tidak (misalnya ternyata si tetangga mengambil daun pisang untuk dijual kepasar besok pagi), bagi yang sudah kadung tidak memasak, bukan tidak mungkin si ibu bakalan diprotes orang serumah.

Satu lagi.
Sampeyan tahu lemper? Iya, jajanan tradisional berbahan ketan yang dibentuk sedemikian rupa, dengan dibubuhi irisan daging atau abon dibagian tengahnya. Si lemper ini mempunyai ciri yang khas. Bungkusnya, yang dari daun pisang, selalu rangkap dua. Bagian dalam, adalah daun pisang agak tua, yang warnanya menjadi lebih tua karena ikutan ditanak dalam proses pembuatannya. Bungkus luar, tetap memakai daun pisang, tetapi dipilih yang daun muda. Sehingga warnanya cenderung lebih cerah; hijau kekuningan. Itu dulu. Sekarang, sekalipun bagian dalam tetap sama, bungkus luar adalah imitasi belaka; bukan daun pisang tulen. Sekalipun warnanya dibuat sepersis mungkin, ia adalah plastik semata.

Bagaimana, masih tertarik dengan daun muda?*****

Rabu, 21 Desember 2011

Mantera Madura

SEKALIPUN bukan bernama Karib, saya punya sahabat karib. Anto namanya. Lengkapnya; Anto Baruna. Sebuah nama yang tentu tidak mencerminkan bahwa ia berasal dari pedalaman Trenggalek sana.

Sebagai sahabat, sering saya pergi kemana-mana bersama dia. Suatu Minggu, dia mengajak saya pergi keluar pulau. Sekadar tamasya. Tujuannya, sekalipun luar pulau, tidak jauh-jauh amat; Madura. Kala itu Suramadu belum dibangun.

Ke Tanjung Perak kami naik bus kota. Menyeberang ke pulau garam kami ikut kapal Potre Koneng. Sesampainya di Kamal, blank. Tak tahu tujuan. Tetapi saya lihat ia lega. Hasrat menginjakkan kaki di Madura tunai sudah. Tetapi lalu ngapain?

Itu dia. Untuk beberapa saat kami hanya berjalan-jalan putar-putar pelabuhan Kamal. Lalu langkah kami menuju para pedagang didekat pelabuhan. Salak mengunung-gunung dilapak setiap pedagang buah. Rupanya saat itu lagi musim salak di Madura. Disitu tentu juga ada penjual souvenir khas Madura; odeng, miniatur celurit, juga pecut.

Kami tak membeli, baik salak maupun souvenir.
Tetapi sebagai wisatawan, kami terus saja berjalan-jalan. Dan, tibalah kami ke (kalau tidak salah ingat) terminal angkot di Kamal. Segera saja kami menjadi rebutan para makelar angkot. Saya, yang sedikit bisa bahasa Madura, tentu mudah saja menolak tawaran makelar yang terus saja memaksa (paling tidak) kami menjawab kemana tujuannya. Tetapi tidak demikian dengan si Anto. Ia tampak kewalahan menghadapi para makelar yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Madura itu.

"Kamu kok tidak dipaksa sih. Kulihat kamu hanya mengucap dua kata, para makelar itu sudah pergi. Apa yang kamu ucapkan?" tanay Anto.

Tentu saja saya ketawa. "Ada manteranya, To," kata saya.

"Ajarin dong," pintanya memelas.

Maka, karena ini sebuah mantera, saya larang ia menuliskannya. Tak ada mantera yang ditulis. Harus dihapal diluar kepala. Dan, mantera Madura ini toh hanya dua kata. Tak sulitlah untuk menghapalnya. Bunyinya; "Bunten semak," kata saya kepada Anto.

Beres.
Saya lihat, setelah ia merasa hapal dengan manteranya, ia dengan pede meninggalkan saya yang minum es teh disebuah kedai di terminal Kamal itu. Saya lihat, ketika ia didatangi makelar, mulutnya komat-kamit merapal manteranya. Dan, ampuh. Makelar itu segera menjauh. Begitu berulang-ulang. Sampai kemudian, karena kekagumannya akan keampuhan mantera yang saya ajarkan, ia bertanya apa maknanya.

"Makna apa?" saya balik nanya.

"Ya makna 'bunten semak' itu. Kok ampuh amat," kata Anto.

Saya menyeringai. Sampeyan  tahu, yang saya ajarkan itu sebenarnya bukan mantera. Ia adalah bahasa Madura. Sebagai kalimat penolak ajakan para makelar. Artinya, lebih kurang, "Tidak, dekat (saja kok tujuan saya)."


Selasa, 06 Desember 2011

Tiada Bulan tanpa Selamatan


BULAN Suro (Asy-syura), ketika saya kecil di kampung dulu, datangnya selalu ditandai dengan bubur beras putih. Sesama tetangga saling berhantar sepiring bubur yang diatasnya ditaburi telur dadar , tempe-tahu goreng yang semua diiris tipis-tipis. Taburan itu juga dilengkapi beberapa butir kacang tanah digoreng.
Hanya sepiring? Bagaimana cara kami membagi memakannya padahal saya dirumah ada berenam? Oh, jangan khawatir. Semua akan kebagian. Benar memang hanya sepiring, tetapi semua tetangga, dihari itu, saling menghantar. Jadilah ia berpiring-piring.

Dikampung saya (mungkin juga dikampung sampeyan), banyak sekali bulan yang datangnya sering diselameti. Nyaris tiada bulan tanpa selamatan. Selain Suro yang saya ceritakan diatas, bulan lain yang juga ditandai dengan bubur adalah bulan Sapar (Syafar). Walaupun sesama bubur, di bulan Sapar bentuk dan bahannya berbeda. Kalau bubur Suro warna lebih dominan putih (warna asli beras), bubur Sapar berwarna merah. Tentu bukan semerah darah. Karena sekalipun merah, sebenarnya ia lebih cenderung ke coklat. Ya, warna itu didapat dari gula Jawa sebagai pemanis.

Selain warna, beras yang digunakan adalah jenis ketan. Lebih beda lagi, bubur Sapar ini berbentuk bulatan-bulatan kecil. Menthul-menthul. Bubur ini  juga disebut jenang Sapar. Nama lainnya lagi adalah; jenang grendul.

Tetapi selamatan paling meriah tentu adalah acara Mulutan. Begitulah lidah kami menyebutnya. Ia digelar serentak ditanggal 12 Robiul Awwal. Ya, Mulutan ini memang untuk ‘memeriahkan’ peringatan maulid nabi SAW.

Ia meriah bukan karena berbentuk tumpeng dan bukan bubur. Lebih dari itu, tumpeng itu dihias sedemikian rupa dengan aneka bendera kecil warna-warni yang ditancap diseputar ‘encek’ (nampan dari pelepah pisang yang dialasi anyaman bambu) yang berisi tumpeng lengkap dengan ayam panggang dan aneka buah.

Begitulah, kemiskinan yang saban hari diakrabi, tidak lantas kami merasa makin miskin karena sering menggelar selamatan. Ada saja rejeki sebagai biaya membeli beberapa butir telur atau seekor ayam plus beras putih. Walau nasi jagung, sambal terasi dipadu dengan ‘gangan mrong-gih’ (sayur daun kelor) sebagai menu nornal kami.

Menulis catatan ini, bukan berarti saya hendak mengumbar kemiskinan kami. Tidak. Saya hanya rindu sepiring bubur Suro.
Sekarang, di Surabaya ini, dan masih dibulan Suro ini, saya tunggu kiriman sepiring bubur Suro dari sampeyan.

Salam.

Menulislah!

”…Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pramoedya Ananta Toer

Senin, 05 Desember 2011

Politisi, Ulama dan Wartawan

"TAHUKAH kalian, apa yang terjadi dengan politisi, ulama dan wartawan? Politisi tidak mau tahu kebenaran. Ulama hanya tahu separoh kebohongan. Dan wartawan tidak tahu beda antara keduanya!"
 

-- Dr. Mustafa Ceric, Grand Mufti Bosnia-Herzegovina

Minggu, 04 Desember 2011

Musim Bencana

HALAMAN depan koran yang saya baca hari ini memampang peta. Peta bukan sembarang peta; peta bencana. Beginilah, musim hujan senantiasa datang berombongan bersama musim-musim yang lain. Musim banjir, musim angin putting beliung, musim pohon dan bangunan roboh dst, dsb.

Tetapi, sebencana-bencananya di negeri ini, bila belum ada lagunya Ebiet G Ade yang diputar berulang-ulang di semua stasiun televisi, itu artinya si bencana masih dalam taraf 'kecil'. Rumah roboh kok kecil? Kebanjiran kok kecil? Satu orang tewas kerobohan gedung madrasah di Pamekasan kok kecil?

Seperti sekolah, kesedihan pun ada kelasnya. Ada tingkatannya.Dan, apesnya, tingkatan itu tidak satu kata satu rasa oleh si korban dan si mengurusi bencana. Kelas bencana rutin yang ajeg datang saban tahun itu, turun karena kita pernah ditimpa bencana besar; tsunami Aceh!

Ya, sejak tsunami yang meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah itu, dengan jumlah korban jiwa begitu banyaknya, (yang untuk menguburkan para korbannya ditimbun 'begitu saja' memakai bolduzer,) membuat bencana lain yang datang belakangan. menjadi terkesan kecil. Ia selalu kalah telak oleh bencana Aceh.

Sebulan pasca tsunami Aceh itu, saya dapati seorang bulik (bibi) ipar saya membagi sarung, kaos, dan sabun mandi. Saya yang baru datang turut ditawarinya pula. Mula-mula, demi menghargai sebuah pemberian, saya mau saja sekalipun mutu kain sarung itu tak seberapa bagus. Tetapi, ketika saya tanya darimana mendapatkan sarung dan lain-lain itu, bulik saya menjawab begini; “Ini oleh-oleh dari paman suami saya yang bertugas mengantar bantuan untuk Aceh. Ia mengambil sebagian barang dari kapal yang turut diawakinya.”

Jawaban itu sungguh telah menghilangkan selera saya untuk turut mengambilnya. Saya malu. Saya hanya menyumbangkan pakaian bekas untuk mereka, kok ini malah mau ngambil barang baru yang seharusnya juga untuk mereka?

Sungguh, lagu Ebiet menemukan adegannya disitu, dalam kekalutan, masih banyak tangan, yang tega berbuat nista ho ho ho....

Jumat, 25 November 2011

Menjual Iba


SEKITAR tiga tahun yang lalu saya ditugaskan untuk mengantar calon penyewa ruko milik perusahaan tempat saya bekerja. Bersama seorang driver, saya semobil dengan dua ibu muda itu. Tentu saja saya tahu ‘kasta’. Sepanjang perjalanan yang tak seberapa jauh (dari HR Muhammad sampai jalan Diponegoro), saya lebih banyak diam.

Selain memang beda ‘kasta’, saya memang terbiasa untuk tidak ikut bicara bila seseorang yang belum saya kenal sedang asyik bicara dengan temannya. Kesempatan itu saya gunakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik. Sekaligus ‘membaca’ keadaan, agar ketika saya kemudian harus ikut nimbrung, saya tahu yang akan saya katakan. Menurut saya ini penting. Karena, ketika kita tahu ‘isi kepala’ lawan bicara kita, kita bisa nyaman dan nyambung saat terlibat dalam percakapan.

Contohnya, tak mungkinlah saya bicara tentang  IT  ketika harus bicara dengan paman saya yang petani, misalnya. Berbicara dengan guru, tentu lebih gayeng  bila topik yang kita usung adalah tentang dunia pendidikan. Untuk kasus ini, Barack Obama termasuk jago. Ingat, ketika tahun lalu beliau hadir untuk kali pertama ke Indonesia, beliau selain mengucap ‘assalamualaikum’, juga memulai kata sambutannya dengan,” Pulang kampung nih...”

Heboh betul audience mendengar sepenggal kalimat itu. Artinya, menurut seorang penulis senior, Obama tahu tempat untuk ‘masuk’ lebih dalam. Ia bisa mengaum dikandang singa, atau mengembek dikandang kambing!

Ketika saya mulai harus ‘masuk’ satu-dua kata dalam percakapan dengan dua ibu muda itu, jalanan Surabaya lagi macet-macetnya. Lepas dari Mayjen Sungkono lebih lega. Masuk Adityawarman sampai Ciliwung lancar jaya. Tetapi harus berhenti karena traffict light menyala merah di ujung Ciliwung. Dari titik itu, ruko yang menjadi TKP yang kami tuju tinggal selangkah lagi.

Panasnya Surabaya sedang tidak saya rasakan karena mobil ini ber AC. Tetapi salah satu ibu itu malah membuka kaca,” Koran,” katanya sedikit berteriak.

Seorang ibu muda (yang ini penjual koran) menghampiri. Diterik siang itu, saya lihat, ia tidak hanya mendekap dagangan koran. Tetapi juga menggendong bayi.

“Surya,” kata ibu muda dari dalam mobil.

Ibu muda penjual koran menjulurkan se-eksemplar ke kaca jendela mobil yang terbuka. “Seribu,” ucapnya.

Ketika selembar limaribuan telah diterima, lalu penjual koran yang sambil menggendong bayi itu sibuk hendak mencari uang kembalian disakunya,” Kembaliannya ambil saja untuk ibu...” kata ibu muda calon penyewa ruko.

Sungguh, ibu muda penjual koran itu setiap pagi masih saya lihat di ujung jalan Ciliwung. Tetapi bayi yang digendongnya tiga tahun lalu itu, sekarang sudah bisa berlarian. Berlarian? Iya. Dan itu ditrotoar yang bila kepleset sedikit saya bisa-bisa 'disambar' kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Tetapi, iseng angan saya ‘masuk’ lebih dalam. Begini; berjualan koran tentu lebih terhormat ketimbang mengemis. Dalam hal ini saya harap sampeyan setuju dengan saya. Tetapi, ketika sambil berjualan itu ia juga sedang ’menjual’ nelangsa bagaimana? Bisakah ini dibilang sebagai trik ‘mengemis’ yang lebih manis? Entahlah.

Dalam membeli koran, sering juga saya berlaku begitu. Saya memilih membeli kepada anak-anak ketimbang kepada penjual yang seusia dengan saya, misalnya. Sekalipun tidak saya ungkap, tentu sampeyan mengerti mengapa saya berlaku begitu. Ya, rasa iba kadang muncul begitu saja melihat bocah-bocah seusia anak saya harus berpanas-panas ria mencari uang dengan berdagang koran. Rasa iba saya itu tentu tak seberapa dibanding dengan yang dilakukan calon penyewa ruko yang saya ceritakan diatas. Karena saya hanya membeli dagangannya, dan masih meminta uang kembaliannya. Hehehe..., kebacut  ya.

Atas dasar yang sama, Kamis pagi 3 November yang lalu, saya membeli koran seribuan di depan kantor Telkom Kendangsari. Penjualnya bukan anak-anak. Tetapi sudah, saya kira, pantas sebagai ibu muda. Sekalipun tidak sambil menggendong bayi, rasa iba saya muncul melihat kondisi fisiknya. Wanita berkacamata yang berjualan diatas pembatas jalan itu kakinya cacat.

“Maaf, pak. Kembaliannya belum ada. Besok kalau bapak beli lagi saja ya....” katanya setelah menerima selembar uang duaribuan dari saya.

Tidak ada alasan untuk tidak mengiyakan alasannya. Tetapi dengan nakal pikiran saya menjatuhkan dua praduga; bersalah dan tidak bersalah. Praduga tak bersalahnya, bisa jadi saat itu ia memang sedang tidak ada uang kembalian. Lalu dengan jujur ia berkata begitu. Dan, praduga bersalahnya; ia sengaja berlaku begitu kepada siapapun pembelinya demi alasan iba. Bayangkan, jarang ada kan orang membeli koran dengan uang pas. Selalu ada kembalian. Praktik ini, saya nilai lebih tidak sopan ketimbang ketika kita dikasih kembalian permen ketika belanja di swalayan.
Tapi sudahlah. Dengan kondisi fisik begitu, dengan mau bekerja adalah tak salah bila kita saluti. Ya daripada mengemis.

Ingin membuktikan dua praduga saya terhadapnya, pagi tadi saya membeli lagi koran kepadanya. Ya, saya ingin membeli tidak dengan uang pas. Sekaligus saya tidak hendak menagih uang kembalian lebih setengah bulan yang lalu.

“Surya, mbak,” kata saya.

Setelah menyerahkan korannya, dan saya bayar, ia merogoh saku tasnya. Menyodorkan uang kembalian. “Terima kasih, pak,” ucapnya.

“Sama-sama, mbak,” jawab saya sambil tersenyum. Senyum yang tak terlampu manis saya kira. Karena, pada saat bersamaan, saya sedang malu ditampar kecurigaan saya yang keliru. Betul, kondisi fisik ibu muda ini memang tidak sempurna. Ia cacat di kakinya. Tetapi sampeyan pasti dengan gamblang bisa menerawang; hatinya tidak cacat.

Salam.

Kamis, 24 November 2011

Ambon van Jombang (Dan Kisah Pencuri Nasi)

BEGITU sahabat saya yang satu ini mengirimi saya foto lama, langsung saja ingatan saya melayang-layang mengenang saat-saat bersamanya. Kalau mau semua ditulis tentulah akan sangat banyak. Tetapi kali ini, saya ingin menulis salah satu saja.

Seperti biasa, ketika itu, setelah sarapan di warung yang memakai sistem pasca bayar (maksudnya ngutang dulu untuk dibayar kemudian kalau sudah gajian), kami selalu membungkus satu lagi sebagai jatah makan siang. Karena, setelah bekerja, kami merasa malas jam duabelas siang harus turun ke warung untuk makan siang. Solusinya ya itu tadi, bawa nasi bungkus.

Hal itu pula yang dengan istiqomah dilakukan Suwaji, begitu nama sahabat saya yang asal Jombang, Jatim ini. Tetapi karena model rambut dan kulit yang hitam (ada manisnya sih, tetapi sedikit...) ia lebih beken dengan nama panggilan Ambon. Hal itu pulalah yang membuatnya enggan menyebut nama aslinya ketika diajak berkenalan dengan orang baru. Karena, ujung-ujungnya, kalau sudah akrab, tetap saja ia dipanggil Ambon. Sudahlah; apa arti sebuah nama, kata Shakespeare.

Untuk menyimpan nasi bungkus itu, biasanya kami taruh disembarang tempat. Intinya di unit mana kami bekerja, didekat situlah si nasi 'duduk manis'.

Pagi itu, setelah meletakkan nasi bungkusnya, si Ambon mulai menyiapkan alat-alat kerjanya. Bersiap melaksanakan tugas. Mengecat. Disaat itu, tiba-tiba muncul teman lain. Sutris namanya. Di tempat kerja ini ia termasuk rajin. Maksudnya rajin menjaili teman. Tetapi pagi itu rupanya ia sedang baik hati. Tidak seperti biasanya, ia membuka nasi bungkus didepan Ambon. Dan mengajaknya sarapan bareng.

Ambon, yang memang masih 'semego', ho-oh saja diajak makan sebungkus berdua. Hitung-hitung sebagai sarapan kedua. Karena, sebagai kuli bangunan seperti kami, untuk sekadar makan saja, memang harus matang hitungannya. Jangan sampai ketika gajian tiba, duit hanya habis untuk membayar hutang makan diwarung.

Lepas makan, Sutris dan Ambon bekerja seperti biasa. Hal yang tak biasa justru terjadi saat jam istirahat tiba. Disaat yang lain mengeluarkan nasi bungkusnya masing-masing, si Ambon malah masih sibuk mencari bekalnya. Yang ternyata telah raib dari tempat ia menyimpannya.

Melihat hal itu, si Sutris malah cengengesan. Dan, mulailah segala tuduhan dialamatkan kepadanya.

"Tris, kamu sembunyikan dimana nasiku?" tanya Ambon.

"Siapa juga yang menyembunyikan nasimu." bantah Sutris. "Wong nasi sudah dimakan kok dicari."

"Jadi?!"

"Iya, yang tadi kita makan bersama sebagai sarapan kedua itu lak nasimu..." celetuk Sutris.
KALAULAH gambar ini terlihat terlalu saling berjauhan, memang begitulah adanya. Walau tentu saja sebenarnya kami adalah sepasang sahabat kental dalam arti sesungguhnya. Gambar ini saya dapatkan via FB. Tak ingat saya kapan dan dimana foto itu dibuat. Termasuk siapa fotografernya. Tetapi dengan kaos biru itu, saya dan dia tentu masih dalam naungan PMD. (Sekalipun tak perlu saya sebut kepanjangannya, yakinlah itu bukan nama partai...)

Pacaran Kontrak


“SEJAK saat ini kita pacaran, ya,” kata Melati (tentu bukan nama sebenarnya), teman sekelas saya.

Kalimat itu tentu bukan kalimat tanya. Ia tegas terucap sebagai kata perintah. Dan saya, mungkin lebih beruntung ketimbang kejatuhan durian runtuh!

Lebih lanjut Melati lalu bercerita; semalam pak AR (pakai inisial saja ya) bertandang kerumahnya. Bertamu untuk kunjungan yang sangat serius. Bukan sekadar kedatangan seorang guru yang ingin melihat muridnya malam itu sedang belajar apa tidak. Pak AR, guru IPA saya sejak di bangku SMP dulu, adalah seorang duda. Dan ketika di bangku SLTA ada salah satu kembang (baca: Melati) yang sedang mekar menyemerbakkan kecantikannya, tak perlu memakai teori Newton atau Archimides untuk mendekatinya. Kedekatan yang diharap lebih dari sekadar hubungan antara guru-murid.

Tetapi, entah dapat ide darimana, si Melati mampu meyakinkan orang tuanya bahwa ia telah punya pacar. Namanya Edi Winarno!

Maka, ketika pak AR mengutarakan maksud kedatangannya, dengan sopan ortu Melati meminta maaf. Bahwa, sebagai orang tua, sungguh jaman sekarang perkara jodoh telah berlaku hukum 'kebo nyusu gudel'. Artinya, apa kata yang akan nglakoni. Apa kata anak. Dan, masih ortu Melati yang bicara, “Melati sudah bilang ke saya. Kalau ia sudah punya pacar. Teman sekelas katanya.”

Bercerita begitu, Melati tak sempat menggambarkan bagaimana rona wajah pak AR. Malah, saya perhatikan ronanya, Melati menyuguhkan wajah lega dihadapan saya. Tetapi, “Kita pacaran sampai lulus saja ya. Asal aku bisa menghidar dari pak AR.”

Ada memang saya dengar istilah kawin kontrak. Tetapi kalau pacaran kontrak? Hanya berlangsung sesuai kesepakatan waktu. Dan itu hanya tak lebih dari setahun. Hanya sampai lulus. Lalu, seandainya dalam masa kontrak itu tumbuh kesungguhan bagaimana? Nah.


Tetapi jangan bayangkan pacaran (kontrak) saya itu sedemikian mesranya. Tidak. Lagian pacaran (sungguhan) jaman itu, jangankan pegang tangan, lihat pintu rumahnya saja sudah lega.

Tetapi kasus saya ini beda. Saya 'pacaran' hanya ketika disekolah saja. Agar pak AR yakin bahwa benar si Melati telah punya si Edi. Tak lebih dari itu. Kalaulah harus ada yang dilebihkan, adalah saya lebih sering ditraktir. Ini jelas, karena yang butuh adalah dia. Hehehe...

Menjalani sandiwara yang mengasyikkan itu, waktu setahun terasa cuma sebentar. Dan ketika malam perpisahan setelah kelulusan tiba, disaat teman-teman lain saling termehek-mehek  satu sama lain karena segera meninggalkan masa SLTA yang indah, saya lihat si Melati tersenyum manis sekali. Lebih manis dari senyum yang dalam setahun ini begitu saya akrabi. Sorot matanya berbinar.

Dalam film-film remaja, tentu adegan selanjutnya adalah saling berangkulan. Tetapi tentu kami tahu diri, bahwa hal itu tak mungkin kami lakukan. Dan, dengan intonasi kata yang saya tahu berbalut kesungguhan, Melati berucap,” Terima kasih, Ed. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Dan sesuai janjiku, kita sejak saat ini harus putus.”

Saya lihat mata bening Melati. Saya lihat dalam-dalam. Dan baru berakhir ketika ia menyodorkan spidol. Beberapa saat saya diam. Sebelum meraih ujung jilbabnya, dan kemudian menorehkan tanda tangan di sudutnya.*****

Rabu, 23 November 2011

Bocoran Sorga

"SORGA seakan pernah bocor. Dan bocorannya itu bernama Indonesia"

(Emha Ainun Nadjib, budayawan)