RASA takut adalah teror paling kejam dan mengerikan. Ia akan terus memburumu ke mana pun sembunyi dan melumpuhkanmu dari apa saja yang mestinya kauperbuat. Seseorang memberi tahu, jika kau menghadapi monster semacam itu, tatap matanya.
AS. Laksana, penulis.
Sabtu, 05 November 2011
Jumat, 04 November 2011
Dari 'Menyok' sampai 'Serempetan'
“MBARUS, nak. Ayo
mbarus sini,” begitu seorang paman menyambut kedatangan
saya ketika suatu sore saya bertandang kerumahnya..
Mbarus? Saya tak tahu apa
artinya. Tapi melihat nadanya, itu sebagai kata mempersilakan.
Tepatnya, mempersilakan saya masuk. Pinarak, menurut kosa kata
saya.
Begitulah, ketika sejak tinggal di
rumah mertua di desa Mayong Karangbinangun, Lamongan, dua belas tahun
lalu, ada banyak kata yang harus saya cari padanan maknanya. Karena,
penyebutan sesuatu sungguh beda jauh dengan bahasa yang saya pakai di
Jember sana.
Contohnya; di Mayong sini, orang
menyebut menyok untuk ketela pohon. Saya menamainya 'telo'.
Cak Tris, teman saya yang asal Banyuwangi, menyebutnya 'sawi'.
Padahal di Malang, kalau tidak salah, 'telo' berarti ubi jalar. Nah,
di Lamongan, ubi jalar itu disebut 'bolet'. Dan bapak saya bilang,
'saBBrang' untuk makhluk yang sama. Tentu dengan intonasi yang
sedemikian rupa karena memang diucap dalam bahasa Madura.
“Ketela pohon kok sawi. Lha
kalau sayur sawi dibilang apa dong?” tanya saya suatu kali.
“Sawen,” jawab cak Tris.
Beda nama satu benda tentu tidak
berhenti sampai disitu. Sayur bulat besar panjang warna putih agak
kuning kehijauan, ibu saya bilang itu blonceng. Istri saya
mengenalnya sebagai 'kenthi' dan teman lain menyebutnya waluh
putih. Baginya, blonceng adalah yang bukan itu, tetapi
yang sering orang pakai sebagai bahan manisan. Buah bulat besar ,
dengan batang menjalar itu, saya tahu adalah 'bligo'.
Contoh lain, kalau mau direntang
akanlah sangat panjang. Cak Paiman, teman saya yang asal desa
Sukolilo, Prigen, Pasuruan, selalu serempetan kalau akan ke
masjid atau yasinan. Serempetan motor? Oh, tentu tidak. Karena,
saya juga sering begitu bila melakukan hal yang sama. Tetapi untuk hal yang sama saya
mengistilahkan 'bebetan'.
Ya, sampeyan betul; bagi cak Paiman, serempetan
itu adalah sebutan untuk orang yang memakai sarung.*****
'Hadiah' Oli
IBARAT dalam balapan F1,
untuk jarak tempuh Surabaya-Lamongan via Manyar, Betoyo, Glagah,
Sooko, Blawi, Sambo sampai Mayong, saya tahu harus masuk pit-stop
kapan dan dititik mana saja. Karena begitu masuk Betoyo sudah tidak
ada lagi SPBU, biasanya saya mengisi bensin di Surabaya hanya lima
sampai tujuh ribu rupiah saja. Perhitungannya, nanti saya masuk
pitstop lagi di SPBU Sukomulyo; untuk full tank.
Dalam suatu ritual mudik mingguan, hari
itu (saya lupa tanggalnya) seperti biasa hendak mem-full
tank-kan tanki Honda Grand saya. Sambil antre, saya lihat ada
beberapa anak muda berpakaian necis didekat petugas SPBU. Kepada
setiap orang yang sedang mengisi bensin, saya lihat, ia selalu
menanyakan sesuatu. Karena jaraknya agak jauh dan suasana ramai oleh
deru kendaraan dijalan, saya tak tahu entah apa yang ditanyakan.
Dan baru tahu begitu saya juga
disapanya.
“Selamat siang, pak.”
“Ya, siang,” pendek saja saya
menjawab salam santunnya.
“Maaf, kalau boleh tahu, untuk motor
ini, bapak pakai oli apa?” tanya pemuda itu lagi.
Sambil mengawasi angka pada meter pompa
SPBU, saya menjawab,” Top1.”
“Selamat, pak. Karena bapak memakai
oli Top1, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,”
katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar
SPBU.
Setelah proses pengisian selesai, saya
tuntun motor agak minggir didepan memberi kesempatan orang-orang yang juga antri. Saya membuka tas ransel untuk mengambil
botol minum, ketika si pemuda tadi juga mengajukan pertanyaan yang
sama kepada mereka.
“PrimaXP,” jawab seorang bapak.
“Selamat, pak. Karena bapak memakai
oli PrimaXP, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,”
katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar
SPBU.
Wah, apa-apaan ini. Apapun olinya,
silakan ambil hadiah menarik disana?
Dan ketika saya dekati yang stand by
didekat pintu keluar, seorang gadis itu menyodorkan 'hadiah'
dibungkus kardus. Dari gambar luar kemasannya, saya tahu isinya
sebuah pesawat telepon. Telepon memang bisa menyambung komunikasi,
tetapi antara oli dan pesawat telepon saya tidak menemukan
sambungannya. Tetapi, namanya juga 'hadiah'. Maka, saya sahut saja.
“Tunggu dulu, pak,” cegah si gadis
itu ketika saya hendak memasukkan 'hadiah' itu ke tas saya. “Bapak
hanya perlu membayar ini seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Murah,
pak. Karena kami sedang promosi. Bapak akan membayar lebih mahal bila
membeli di toko...”
Sambil meminta kembali 'hadiah' yang
batal masuk tas saya, terus saja ia berkata. Tetapi terus saja saja
saya melajukan motor saya.
Kali lain, saya juga menemukan praktek
begitu. Bukan di kota pinggiran. Tetapi di sebuah SPBU di jalan
Ahmad Yani Surabaya. Saya tak habis pikir, kenapa pihak SPBU
mengijinkan mereka melakukan praktek 'penipuan' itu diareanya.
Ataukah ada setorannya?*****
Kamis, 03 November 2011
Uang Sobek dan SPBU
BAGI saya, SPBU
bukan hanya tempat membeli BBM. Ada
beberapa fungsi yang saya dapati disitu. Misalnya, ketika saya pegang uang
besar dan hendak membelikan sebungkus nasi kuning untuk sarapan anak sulung
saya, saya menuju SPBU dulu. Karena, saya menganggap membeli sebungkus nasi kuning
seharga enam ribu rupiah, adalah tidak sopan bila saya menyodori selembar uang
bergambar bung Karno dan bung Hatta. Tetapi, dengan uang yang sama, saya
membeli bensin lima ribu rupiah di SPBU, rasanya tidak ada yang disinggung sama
sekali.
Itu misal yang pertama. Kedua, di SPBU saya merasa tempat
yang aman untuk menggunakan uang yang telah cacat tanpa perlu saya takut
dicacat. Uang yang telah sobek tetapi sudah disatukan lagi dengan selotip
bening, ia tetaplah alat pembayaran yang sah. Hal yang, bisa jadi, sudah
ditolak bila digunakan untuk membeli nasi kuning di warung PKL di pinggir
jalan.
Sepulang kerja,
sesampainya di Jemursari, saya tengok alat penunjuk BBM di sepeedometer.
Tinggal beberapa strip menuju tanda
merah. Waktunya minum bensin si Honda Grand tua saya ini. Saya belok kiri saja,
menuju SPBU. Sore itu antrian motor lumayan panjang. Sambil menunggu giliran,
saya siapkan uang sepuluh ribu rupiah. Terdiri dari dua lembar pecahan limaribu
rupiah. Yang satu sehat wal afiat, satunya lagi sudah pernah ‘bercerai’, tetapi telah dirujukkan lagi memakai selotip.
Saya perhatikan, pelayanan di SPBU ini sangat standard. Maksudnya,
tidak pernah saya dapati petugas SPBU meminta uang dulu baru mengisi tanki.
Selalu mengisi dulu baru meminta uang. Inilah celahnya, saya kira. Bisa saja
orang berniat jahat dengan menggunakan uang palsu, misalnya. Dan ketika uang
itu ditolak petugas, bisa saja (lagi) pengedar uang palsu itu bilang tidak tahu
menahu tentang uangnya. Dan, malah bilang uang itulah satu-satunya penghuni
dompetnya. Bagaimana coba? Masa bensin yang sudah di tanki mau disedot lagi?!
Tiba giliran saya.
“Sepuluh ribu,” saya berkata.
Dan petugas SPBU itu lalu menombol angka pada mesin
pompanya. Baru setelah bensin berhenti mengucur saat angka di pimpa telah
mencapai nominal sepuluh ribu, baru ia menjulurkan tangan meminta uang saya.
Disaat bersamaan, saya lihat tanki motor saya terlalu penuh, dan cairan bensin
sempat meluber. Harusnya tadi diisi tujuh ribu saja sudah cukup, batin saya.
Saya tuntun motor saya untuk memberi giliran motor
berikutnya. Saya tepikan motor didekat pagar. Saya baru mengeluarkan lap hendak
membersihkan tumpahan bensin, ketika petugas SPBU yang tadi melayani saya
mendekat.
“Ada apa, mas?” tanya saya.
“Uangnya tidak laku, pak,” katanya.
“Tidak laku bagaimana? Biasanya uang sobek yang telah
disambung lagi tidak apa-apa,” ujar saya.
“Iya, pak. Tetapi uang bapak ini sambungannya tidak berjodoh.”
“Tidak berjodoh bagaimana?” saya meminta selembar uang lima
ribuan yang tadi saya gunakan untuk membayar. Uang itu, saya sudah lupa dapat
kembalian dari mana.
“Ini uang, asalnya dari dua lembar yang sama-sama sobek, lalu disatukan. Lihat, beda nomor serinya kan, pak?”
Lhadalah, saya
tidak bisa protes lagi ini.
Rabu, 02 November 2011
Tambal Ban
HARI lepas Isya' ketika saya dan
istri sampai di jalan sepi yang diapit area pertambakan itu. Sepi.
Hanya ada satu dua kendaran yang lewat. Lepas dari pasar Blawi sampai
pertigaan Sambo Pinggir di kecamatan Karangbinangun, Lamongan, memang
hanya tambak. Sejauh mata memandang yang terhampar hanyalah tambak berhektar-hektar.. Ada sih beberapa warung, tetapi
bukanya hanya siang hari.
Tepat di area sepi itu, sesuatu terjadi
pada ban motor saya. Bocor. Ini dia. Mau balik kanan grak ke
Blawi untuk nyari tukang tambal ban, sudah jauh, Untuk keperluan yang
sama ke Sambo Pinggir didepan sana, juga tak kalah jauhnya.
Sebenarnya, kalau siang, saya ingat betul, ada tukang tambal ban
disekitar sini. Tetapi, malam-malam begini bengkel itu sudah tutup.
“Bocor, pak?” seseorang yang sedang
menunggui diesel penyedot air di sebuah tambak bertanya.
“Iya, pak,” jawab saya.
“Didepan situ ada bengkel, pak.”
kata lelaki itu menunjuk sebuah bengkel yang tutup.
Saya jengkel. Karena, apa gunanya
menunjuk sebuah bengkel yang sudah tutup.
“Sholeh tadi saya lihat ada, kok.”
lelaki itu kembali berkata.
“Sholeh siapa, pak?”
“Sholeh itu yang mbengkel
disitu. Tapi katanya malam ini ia mau nonton dangdutan di kampung
sebelah. Coba saja, mungkin ia masih mau nambal”
Saya melihat, ada beberapa pemuda
dengan motornya didepan bengkel. Setelah mengucap terima kasih ke
bapak petambak itu, saya tuntun motor saya mendekati bengkel. Dari
dekat, saya lihat beberapa pemuda itu sudah macak mbois.
Berdandan keren siap untuk mejeng di pentas dangdutan.
Dalam keadaan begitu, saya ragu. Maukah
pemuda itu menambal ban motor saya yang bocor. Ternyata,
“Silakan, pak. Agak dikesinikan saja
motornya,” kata pemuda yang saya yakin bernama Sholeh.
Ia lalu membuka pintu bengkelnya.
Mengeluarkan peralatannya. Dan, tetap dengan pakaian yang bagus itu,
ia cekatan menangani ban saya.
Beberapa menit berselang, selesailah penambalan ban motor saya.
Beberapa menit berselang, selesailah penambalan ban motor saya.
“3000,” jawabnya ketika saya tanya
berapa saya harus bayar.
Angka itu adalah tarif normal. Dan,
saya menilai, sungguh tidak keliru orang tuanya memberikan pemuda itu
nama Sholeh.
Padahal, sungguh, dalam keadaan begitu,
dikenakan tarif lebih dari itu pun akan saya bayar. ****
Tukang Tambal Ban
SETELAH belanja di sebuah
minimarket di Karanggeneng, begitu motor saya tuntun dari parkiran,
oh ban belakangnya gembos. Tetapi untunglah, tak seberapa jauh dari
situ ada tukang tambal ban. Melihat cara ia membuka ban motor saya,
saya tak ragu ia sudah sangat profesional. Dan satu predikat lagi;
juga kreatif.
Lihat saja, setelah ban dalam saya
dikeluarkan, ia juga mengeluarkan alat yang seumur hidup baru kali
itu saya temui. Kalau biasanya tukang tambal ban selalu memakai
gergaji besi untuk 'mengerik' lapisan disekitar yang bocor sebelum
ditambal, tukang tambal ia beda. Ia menggunakan alat, yang saya yakin
hasil modifikasi sendiri. Bentuknya; sebuah pedal dan rantai serta
gir. Dua gir, depan dan belakang, dihubungkan seuntai rantai. Jadilah
ia sebagai gerinda manual. Karena di gir yang kecil, dimodifikasi
sedemikian rupa dengan fungsi sebagai ganti gergaji besi ala tukang
tambal ban tradisional.
Hasilnya? Hanya dalam beberapa kali
putaran pedal, gerinda manual itu telah mengikis sekitar area ban
dalam motor saya yang tertusuk paku. Proses selanjutnya sama persis.
Beberapa menit kemudian, selesai sudah.
Saya bawa pulang. Tak jauh. Hanya
sekitar enam atau tujuh kilometer menuju desa saya. Dan, ban bocor
lagi. Juga ban belakang lagi. Mau tak mau saya bawa ke tukang tambal
ban lagi. Tukang tambal ini seperti lazimnya, tanpa gerinda manual.
Ia, saya lirik di kotak alatnya, masih menggunakan gergaji besi.
Begitu ban dalam dikeluarkan, oh
rupanya yang bocor tidak jauh dari bocor yang tadi. Tetapi bukan kena
paku atau barang lancip lainnya. Tetapi, “Ini terlalu tipis kena
'ngeriknya',” kata tukang tambal ban.
Rupanya, alat gerinda manual itu si tukang tambal ban di Karanggeneng tadi terlalu rakus mengikis yang seharusnya tidak disentuhnya. Artinya,
dengan gergaji besi masih lebih baik.
Seorang tukang tambal ban di Rungkut
malah berani memberi garansi akan tambalannya. Bila hasil tambalannya
bocor lagi, ia mempersilakan untuk dibawa kesitu lagi. Ditambal lagi.
Gratis.
Bisa jadi itu hanya trik marketing
saja. Agar terlihat defferisiansi-nya dengan yang lain. Karena, mana
mungkin membawa kesitu bila bocornya lagi sudah di Mojokerto,
misalnya.
Di Greges, beberapa ratus meter setelah
terminal Osowilangun dari arah Gresik, suatu malam yang gerimis ban
motor saya bocor. Setelah menuntun beberapa jauh dalam rinai itu,
saya dapati tukang tambal yang rupanya lagi panen. Dua tukang tambal ban itu sibuk sekali, saya lihat. Sebelum saya sudah
ada dua 'pasien'. Satu, sebuah Supra, sudah dalam proses pemasangan
ban, satu lagi menunggu giliran. Tetapi bannya sudah dilepas.
“Bocor, mas?” saya bertanya.
“Iya, ini copnya sobek,” jawab
lelaki yang menunggang Mega Pro ini sambil menunjukkan ban dalam motornya kepada saya.
Pasien pertama selesai. Setelah
membayar sejumlah ongkos, ia melajukan Supranya menembus guyuran
gerimis.
Si Mega Pro segera ditangani. Sementara
'dokter' yang satunya mulai mengoperasi ban saya. Hasil diagnosanya?
“Wah, bannya robek disebalah cop
pentilnya, pak,” ia memberi tahu saya.
Gila.
Saya pikir ini pasti ada yang tidak
beres. Mana mungkin Grand saya berkasus sama dengan si Mega Pro.
Pasti ini malapraktek. Tapi mau bagaimana lagi. Saya dalam kondisi
lemah. Maksudnya, roda saya sudah dilepas. Mana mungkin saya bawa
pergi dan mencari tukang tambal yang lebih bernurani.
Akhirnya, saya harus ganti ban baru
yang memang ia menyediakan. Harganya, sungguh lebih mahal dari
biasanya. Tetapi lagi-lagi saya bisa apa. Dengan rasa mangkel yang
mengguyur sederas gerimis malam itu, saya harus menerima keadaan.
Tetapi dalam hati saya bersumpah. Saya
tak akan membawa ke tempat itu bila ban saya bocor disekitar situ
lagi.*****
Minggu, 30 Oktober 2011
Rahasia Sukses
TIDAK ada rahasia untuk meraih sukses. Itu adalah hasil persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan.
( Colin Powell, tokoh AS )
( Colin Powell, tokoh AS )
Si Kunci
TELEPON
berdering. Dari seberang suara mbak Nanin Indah mengabarkan kunci laci
mejanya bermasalah. Sejurus kemudian saya meluncur ke TKP. Ke office
103. Kerusakan itu tak seberapa serius, saya kira. Kunci dan cylinder
itu memang bukan 'suami-istri'. Ia bukan pasangan sah. Makanya, ia tidak
bisa muter. Jadi?
“Harus ganti baru, mbak. Atau kalau mau lebih murah, ya diduplikatkan saja anak kuncinya,” jawab saya.
Sampai titik itu semua beres. Mbak Nanin setuju untuk diduplikatkan saja. Saya balik kanan grak menunggu kabar selanjutnya.
Ketika kunci duplikat selesai, telepon berdering lagi. Mengabari hal agak diluar dugaan saya. Anak kunci itu telah disesuaikan sebagai 'suami', tetapi tetap ada masalah. Bisa berputar, tetapi gagal mengunci. Ini dia; kunci tidak bisa mengunci! Aneh. Seaneh penyanyi tak bisa menyanyi, atau atasan yang tidak bisa mengatasi.
Sekalipun saya bukan ahli kunci, sebagai bagian dari tugas, saya meluncur lagi ke TKP yang sama. Saya utak-atik. Saya putar kekiri dan kekanan. Lalu saya susul dengan gelengan kepala kekiri-kekanan. Dalam gelengan itu saya artikan sebagai; saya harus meminta bantuan teman yang lebih ahli tentang dunia perkuncian; 'oknumnya' adalah cak Tris.
Dan benarlah yang saya duga. Cak Tris, dengan kemampuan 'linuwihnya', hanya melakukan 'operasi kecil' atas kunci yang bermasalah itu. Beres. Key word dari hal ini adalah; serahkan sesuatu pada ahlinya.
Saya telah searching, tetapi belum menemukan oleh siapa kunci itu diciptakan dan sejak kapan ia digunakan. Dan malah, ketika saya minta bantuan mbah Google mencari (dengan lebih dulu menulis kata kunci 'kunci', yang muncul adalah kunci sukses, kunci meraih kebahagiaan, kunci bermain gitar dst, dsb...
Ya, dalam banyak (kalau tidak disebut semua) bidang, adalah semacam lacinya mbak Nanin. Ada pintunya, sekaligus ada kuncinya.
Untuk membuat tulisan inipun saya memakai kunci. Ia menjadi laksana password untuk masuk kesebuah akun. Dalam hal ini, agar saya bisa masuk dan 'memasuki' sampeyan yang sampai kalimat ini masih sudi-sudinya membaca catatan ini.
Diseantero tempat, banyak aneka 'kunci' yang bisa jadi cocok untuk 'cylinder' kita. Kita bisa, kalau mau, dengan mudah mencomotnya. Buku-buku motivasi, atau petuah-petuah bijak adalah juga 'kunci'. Kisah-kisah orang sukses dengan segala jalan terjal berliku prosesnya adalah 'kunci'. Tidak ada yang salah ketika kita meng-copy paste-nya. Tidak harus sama persis. Karena, saya pernah membaca seorang pebisnis sukses yang memakai rumus ATM. Amati, tiru dan modifikasi.
Okelah. Upaya boleh ditiru, tetapi rejeki ada yang mengatur. Bisa jadi sampeyan adalah pencipta lagu dan istri sampeyan hobby fotografi, tetapi sampeyan berdua bukan presiden dan ibu negara. Karena hanya ada sepasang suami-istri dengan hobby begitu yang sedang beruntung menjadi pemimpin negara besar ini.
Maaf, kalimat diatas itu terlalu lebay. Namun, “Success is my right,” kata seorang motivator.
Mau?
“Harus ganti baru, mbak. Atau kalau mau lebih murah, ya diduplikatkan saja anak kuncinya,” jawab saya.
Sampai titik itu semua beres. Mbak Nanin setuju untuk diduplikatkan saja. Saya balik kanan grak menunggu kabar selanjutnya.
Ketika kunci duplikat selesai, telepon berdering lagi. Mengabari hal agak diluar dugaan saya. Anak kunci itu telah disesuaikan sebagai 'suami', tetapi tetap ada masalah. Bisa berputar, tetapi gagal mengunci. Ini dia; kunci tidak bisa mengunci! Aneh. Seaneh penyanyi tak bisa menyanyi, atau atasan yang tidak bisa mengatasi.
Sekalipun saya bukan ahli kunci, sebagai bagian dari tugas, saya meluncur lagi ke TKP yang sama. Saya utak-atik. Saya putar kekiri dan kekanan. Lalu saya susul dengan gelengan kepala kekiri-kekanan. Dalam gelengan itu saya artikan sebagai; saya harus meminta bantuan teman yang lebih ahli tentang dunia perkuncian; 'oknumnya' adalah cak Tris.
Dan benarlah yang saya duga. Cak Tris, dengan kemampuan 'linuwihnya', hanya melakukan 'operasi kecil' atas kunci yang bermasalah itu. Beres. Key word dari hal ini adalah; serahkan sesuatu pada ahlinya.
Saya telah searching, tetapi belum menemukan oleh siapa kunci itu diciptakan dan sejak kapan ia digunakan. Dan malah, ketika saya minta bantuan mbah Google mencari (dengan lebih dulu menulis kata kunci 'kunci', yang muncul adalah kunci sukses, kunci meraih kebahagiaan, kunci bermain gitar dst, dsb...
Ya, dalam banyak (kalau tidak disebut semua) bidang, adalah semacam lacinya mbak Nanin. Ada pintunya, sekaligus ada kuncinya.
Untuk membuat tulisan inipun saya memakai kunci. Ia menjadi laksana password untuk masuk kesebuah akun. Dalam hal ini, agar saya bisa masuk dan 'memasuki' sampeyan yang sampai kalimat ini masih sudi-sudinya membaca catatan ini.
Diseantero tempat, banyak aneka 'kunci' yang bisa jadi cocok untuk 'cylinder' kita. Kita bisa, kalau mau, dengan mudah mencomotnya. Buku-buku motivasi, atau petuah-petuah bijak adalah juga 'kunci'. Kisah-kisah orang sukses dengan segala jalan terjal berliku prosesnya adalah 'kunci'. Tidak ada yang salah ketika kita meng-copy paste-nya. Tidak harus sama persis. Karena, saya pernah membaca seorang pebisnis sukses yang memakai rumus ATM. Amati, tiru dan modifikasi.
Okelah. Upaya boleh ditiru, tetapi rejeki ada yang mengatur. Bisa jadi sampeyan adalah pencipta lagu dan istri sampeyan hobby fotografi, tetapi sampeyan berdua bukan presiden dan ibu negara. Karena hanya ada sepasang suami-istri dengan hobby begitu yang sedang beruntung menjadi pemimpin negara besar ini.
Maaf, kalimat diatas itu terlalu lebay. Namun, “Success is my right,” kata seorang motivator.
Mau?
Jumat, 28 Oktober 2011
Quotes
"It is better to be violent if there is violence in our hearts, than to put on the cloak of non-violence to cover impotence"
--Mohandas Karamchand Gandhi
Kamis, 27 Oktober 2011
Selasa, 25 Oktober 2011
Sasaran Tembak
KAMERA, bagi seorang fotografer
(baik yang profesioanal maupun yang kelas amatir) adalah barang yang
fardu 'ain hukumnya untuk selalu ditenteng. Ia ibarat senjata
bagi tentara atau polisi. Dimana ada sasaran yang layak ditembak,
tinggal klik!
Saya bukanlah termasuk yang begitu itu.
Yang amatir sekalipun. Walau, pernah berhari-hari membawanya,
membayangkan ada obyek langka yang layak 'tembak'. Tetapi saya
bukanlah orang yang sabar. Dalam berhari-hari itu, sambil berangkat
dan pulang kerja, hanya satu-dua yang kena sasaran saya. Selebihnya
nihil.
Disitulah lalu saya menyerah. Eman-eman
si Canon saya tentang-tenteng tanpa pernah ditembakkan. Tetapi,
lhadalah. Disaat saya tanpa 'senjata' itu, melintas depan
hidung saya obyek yang saya idamkan; seorang bapak bersepeda ontel
ikut berjejal dipadatnya lalu lintas raya Wonokromo ssebelah Bonbin
ke arah raya Darmo. Seorang bersepeda, apa istimewanya?
Kalaulah ia sekadar seorang bapak yang
sedang bike to work secara lazim, tentu saya tak istimewakan
dia. Tetapi karena ia tampil beda, tentu ia saya nilai beda.
Perbedaan itu adalah; ia memakai helm lengkap dengan jaket dan sepatu
kets. Dan, perlu saya tegaskan, helm itu bukan helm sepeda, tetapi
helm teropong SNI yang sebagai pasangan orang bermotor.
Kalau ketika itu saya bawa kamera, dan
berhasil 'menembaknya', tentu saya tak perlu berbuih-buih menulis
deskripsinya kepada sampeyan..
Besoknya, saya kembali bawa kamera.
Berharap ketemu si bapak itu lagi. Atau paling tidak nemu obyek lain
yang tak kalah menarik. Saya merasa, kok kayak aparat kemanan yang
kembali bergairah melakukan razia setelah kebobolan bom. Dalam
membawa kamera ini, saya terkesan 'hangat-hangat tahi ayam'.
Lama tak mendapat sasaran tembak,
kelakuan saya kumat lagi. Si Canon saya tinggal lagi. Ia saya biarkan
tidur nyenyak di laci lemari kamar saya yang panas di akhir bulan
Oktober ini.
Dan, ndilalah, disaat saya tak
berkamera begitu, muncul lagi sasarannya. Bukan si bapak yang tempo
hari itu. Bukan sekadar sepeda ontel, tetapi sepeda motor.
Kali ini saya mengikutinya sampai di
jalan Mayjen Sungkono. Namun saya mulai melihatnya sejak di lampu
merah depan bekas studio radio Lavictor diujung jalan
Adityawarman menjelang Mayjen Sungkono. Motor itu sejenis yang saya
tunggangi. Honda dari jenis Supra X-125. Warnanyapun tak berbeda
dengan punya saya; kombinasi merah hitam dengan velg bintang.
Nopolnya; L 6844 AE.
Yang membedakan dari motor saya, pada
'pinggul' kanan kiri, dibawah joknya, tak tertera tulisan resmi
Honda. Tetapi Akas, warna kuning persis seperti yang menempel pada
tubuh PO Akas.
Saya ikuti si Akas itu, sambil menyesal
saya tak membawa kamera. Terus saja saya ikuti sampai ia berbelok ke
SPBU di sebelum taman makam pahlawan. Sampai disitu saya baru
berusaha menghibur diri; saya bukan fotografer. Saya ingin menjadi penulis. Karena
dengan 'hanya' sebagai penulis, nyaris saya tak memerlukan alat bantu
ketika membidik sasaran. Saya hanya perlu menyimpannya diotak,
kemudian menuliskannya. Walau, tentu saja, tulisan itu akan lebih
memikat bila disertai hasil jepretan kamera.
Salam.
Minggu, 23 Oktober 2011
Happiness
"Kebahagiaan tidak datang dari melakukan pekerjaan mudah, tapi dari sisa-sisa cahaya kepuasan yang datang setelah pencapaian tugas sulit yang menuntut yang terbaik '.
(Theodore Isaac Rubin)
Langganan:
Postingan (Atom)