Sabtu, 05 November 2011

Teror Rasa Takut

RASA takut adalah teror paling kejam dan mengerikan. Ia akan terus memburumu ke mana pun sembunyi dan melumpuhkanmu dari apa saja yang mestinya kauperbuat. Seseorang memberi tahu, jika kau menghadapi monster semacam itu, tatap matanya.


AS. Laksana, penulis.

Jumat, 04 November 2011

Dari 'Menyok' sampai 'Serempetan'


MBARUS, nak. Ayo mbarus sini,” begitu seorang paman menyambut kedatangan saya ketika suatu sore saya bertandang kerumahnya..

Mbarus? Saya tak tahu apa artinya. Tapi melihat nadanya, itu sebagai kata mempersilakan. Tepatnya, mempersilakan saya masuk. Pinarak, menurut kosa kata saya.

Begitulah, ketika sejak tinggal di rumah mertua di desa Mayong Karangbinangun, Lamongan, dua belas tahun lalu, ada banyak kata yang harus saya cari padanan maknanya. Karena, penyebutan sesuatu sungguh beda jauh dengan bahasa yang saya pakai di Jember sana.

Contohnya; di Mayong sini, orang menyebut menyok untuk ketela pohon. Saya menamainya 'telo'. Cak Tris, teman saya yang asal Banyuwangi, menyebutnya 'sawi'. Padahal di Malang, kalau tidak salah, 'telo' berarti ubi jalar. Nah, di Lamongan, ubi jalar itu disebut 'bolet'. Dan bapak saya bilang, 'saBBrang' untuk makhluk yang sama. Tentu dengan intonasi yang sedemikian rupa karena memang diucap dalam bahasa Madura.

“Ketela pohon kok sawi. Lha kalau sayur sawi dibilang apa dong?” tanya saya suatu kali.

Sawen,” jawab cak Tris.

Beda nama satu benda tentu tidak berhenti sampai disitu. Sayur bulat besar panjang warna putih agak kuning kehijauan, ibu saya bilang itu blonceng. Istri saya mengenalnya sebagai 'kenthi' dan teman lain menyebutnya waluh putih. Baginya, blonceng adalah yang bukan itu, tetapi yang sering orang pakai sebagai bahan manisan. Buah bulat besar , dengan batang menjalar itu, saya tahu adalah 'bligo'.

Contoh lain, kalau mau direntang akanlah sangat panjang. Cak Paiman, teman saya yang asal desa Sukolilo, Prigen, Pasuruan, selalu serempetan kalau akan ke masjid atau yasinan. Serempetan motor? Oh, tentu tidak. Karena, saya juga sering begitu bila melakukan hal yang sama. Tetapi untuk hal yang sama saya mengistilahkan 'bebetan'.

Ya, sampeyan betul; bagi cak Paiman, serempetan itu adalah sebutan untuk orang yang memakai sarung.*****

'Hadiah' Oli


IBARAT dalam balapan F1, untuk jarak tempuh Surabaya-Lamongan via Manyar, Betoyo, Glagah, Sooko, Blawi, Sambo sampai Mayong, saya tahu harus masuk pit-stop kapan dan dititik mana saja. Karena begitu masuk Betoyo sudah tidak ada lagi SPBU, biasanya saya mengisi bensin di Surabaya hanya lima sampai tujuh ribu rupiah saja. Perhitungannya, nanti saya masuk pitstop lagi di SPBU Sukomulyo; untuk full tank.

Dalam suatu ritual mudik mingguan, hari itu (saya lupa tanggalnya) seperti biasa hendak mem-full tank-kan tanki Honda Grand saya. Sambil antre, saya lihat ada beberapa anak muda berpakaian necis didekat petugas SPBU. Kepada setiap orang yang sedang mengisi bensin, saya lihat, ia selalu menanyakan sesuatu. Karena jaraknya agak jauh dan suasana ramai oleh deru kendaraan dijalan, saya tak tahu entah apa yang ditanyakan.

Dan baru tahu begitu saya juga disapanya.

“Selamat siang, pak.”

“Ya, siang,” pendek saja saya menjawab salam santunnya.

“Maaf, kalau boleh tahu, untuk motor ini, bapak pakai oli apa?” tanya pemuda itu lagi.

Sambil mengawasi angka pada meter pompa SPBU, saya menjawab,” Top1.”

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli Top1, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Setelah proses pengisian selesai, saya tuntun motor agak minggir didepan memberi kesempatan orang-orang yang juga antri. Saya membuka tas ransel untuk mengambil botol minum, ketika si pemuda tadi juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka.

“PrimaXP,” jawab seorang bapak.

“Selamat, pak. Karena bapak memakai oli PrimaXP, bapak berhak mendapatkan hadiah menarik disana,” katanya sambil menunjuk temannya yang stand by di pintu keluar SPBU.

Wah, apa-apaan ini. Apapun olinya, silakan ambil hadiah menarik disana?

Dan ketika saya dekati yang stand by didekat pintu keluar, seorang gadis itu menyodorkan 'hadiah' dibungkus kardus. Dari gambar luar kemasannya, saya tahu isinya sebuah pesawat telepon. Telepon memang bisa menyambung komunikasi, tetapi antara oli dan pesawat telepon saya tidak menemukan sambungannya. Tetapi, namanya juga 'hadiah'. Maka, saya sahut saja.

“Tunggu dulu, pak,” cegah si gadis itu ketika saya hendak memasukkan 'hadiah' itu ke tas saya. “Bapak hanya perlu membayar ini seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Murah, pak. Karena kami sedang promosi. Bapak akan membayar lebih mahal bila membeli di toko...”

Sambil meminta kembali 'hadiah' yang batal masuk tas saya, terus saja ia berkata. Tetapi terus saja saja saya melajukan motor saya.

Kali lain, saya juga menemukan praktek begitu. Bukan di kota pinggiran. Tetapi di sebuah SPBU di jalan Ahmad Yani Surabaya. Saya tak habis pikir, kenapa pihak SPBU mengijinkan mereka melakukan praktek 'penipuan' itu diareanya. Ataukah ada setorannya?*****

Kamis, 03 November 2011

Uang Sobek dan SPBU


BAGI saya, SPBU bukan hanya tempat membeli BBM.  Ada beberapa fungsi yang saya dapati disitu. Misalnya, ketika saya pegang uang besar dan hendak membelikan sebungkus nasi kuning untuk sarapan anak sulung saya, saya menuju SPBU dulu. Karena, saya menganggap membeli sebungkus nasi kuning seharga enam ribu rupiah, adalah tidak sopan bila saya menyodori selembar uang bergambar bung Karno dan bung Hatta. Tetapi, dengan uang yang sama, saya membeli bensin lima ribu rupiah di SPBU, rasanya tidak ada yang disinggung sama sekali.

Itu misal yang pertama. Kedua, di SPBU saya merasa tempat yang aman untuk menggunakan uang yang telah cacat tanpa perlu saya takut dicacat. Uang yang telah sobek tetapi sudah disatukan lagi dengan selotip bening, ia tetaplah alat pembayaran yang sah. Hal yang, bisa jadi, sudah ditolak bila digunakan untuk membeli nasi kuning di warung PKL di pinggir jalan.

Sepulang kerja, sesampainya di Jemursari, saya tengok alat penunjuk BBM di sepeedometer. Tinggal beberapa  strip menuju tanda merah. Waktunya minum bensin si Honda Grand tua saya ini. Saya belok kiri saja, menuju SPBU. Sore itu antrian motor lumayan panjang. Sambil menunggu giliran, saya siapkan uang sepuluh ribu rupiah. Terdiri dari dua lembar pecahan limaribu rupiah. Yang satu sehat wal afiat, satunya lagi sudah pernah ‘bercerai’, tetapi telah dirujukkan lagi memakai selotip.

Saya perhatikan, pelayanan di SPBU ini sangat standard. Maksudnya, tidak pernah saya dapati petugas SPBU meminta uang dulu baru mengisi tanki. Selalu mengisi dulu baru meminta uang. Inilah celahnya, saya kira. Bisa saja orang berniat jahat dengan menggunakan uang palsu, misalnya. Dan ketika uang itu ditolak petugas, bisa saja (lagi) pengedar uang palsu itu bilang tidak tahu menahu tentang uangnya. Dan, malah bilang uang itulah satu-satunya penghuni dompetnya. Bagaimana coba? Masa bensin yang sudah di tanki mau disedot lagi?!

Tiba giliran saya.

“Sepuluh ribu,” saya berkata.

Dan petugas SPBU itu lalu menombol angka pada mesin pompanya. Baru setelah bensin berhenti mengucur saat angka di pimpa telah mencapai nominal sepuluh ribu, baru ia menjulurkan tangan meminta uang saya. Disaat bersamaan, saya lihat tanki motor saya terlalu penuh, dan cairan bensin sempat meluber. Harusnya tadi diisi tujuh ribu saja sudah cukup, batin saya.

Saya tuntun motor saya untuk memberi giliran motor berikutnya. Saya tepikan motor didekat pagar. Saya baru mengeluarkan lap hendak membersihkan tumpahan bensin, ketika petugas SPBU yang tadi melayani saya mendekat.

“Ada apa, mas?” tanya saya.

“Uangnya tidak laku, pak,” katanya.

“Tidak laku bagaimana? Biasanya uang sobek yang telah disambung lagi tidak apa-apa,” ujar saya.

“Iya, pak. Tetapi uang bapak ini sambungannya tidak berjodoh.”

“Tidak berjodoh bagaimana?” saya meminta selembar uang lima ribuan yang tadi saya gunakan untuk membayar. Uang itu, saya sudah lupa dapat kembalian dari mana.

“Ini uang, asalnya dari dua lembar yang sama-sama sobek, lalu disatukan. Lihat, beda nomor serinya kan, pak?”

Lhadalah, saya tidak bisa protes lagi ini.

Rabu, 02 November 2011

Tambal Ban


HARI lepas Isya' ketika saya dan istri sampai di jalan sepi yang diapit area pertambakan itu. Sepi. Hanya ada satu dua kendaran yang lewat. Lepas dari pasar Blawi sampai pertigaan Sambo Pinggir di kecamatan Karangbinangun, Lamongan, memang hanya tambak. Sejauh mata memandang yang terhampar hanyalah tambak berhektar-hektar.. Ada sih beberapa warung, tetapi bukanya hanya siang hari.

Tepat di area sepi itu, sesuatu terjadi pada ban motor saya. Bocor. Ini dia. Mau balik kanan grak ke Blawi untuk nyari tukang tambal ban, sudah jauh, Untuk keperluan yang sama ke Sambo Pinggir didepan sana, juga tak kalah jauhnya. Sebenarnya, kalau siang, saya ingat betul, ada tukang tambal ban disekitar sini. Tetapi, malam-malam begini bengkel itu sudah tutup.

“Bocor, pak?” seseorang yang sedang menunggui diesel penyedot air di sebuah tambak bertanya.

“Iya, pak,” jawab saya.

“Didepan situ ada bengkel, pak.” kata lelaki itu menunjuk sebuah bengkel yang tutup.

Saya jengkel. Karena, apa gunanya menunjuk sebuah bengkel yang sudah tutup.

“Sholeh tadi saya lihat ada, kok.” lelaki itu kembali berkata.

“Sholeh siapa, pak?”

“Sholeh itu yang mbengkel disitu. Tapi katanya malam ini ia mau nonton dangdutan di kampung sebelah. Coba saja, mungkin ia masih mau nambal”

Saya melihat, ada beberapa pemuda dengan motornya didepan bengkel. Setelah mengucap terima kasih ke bapak petambak itu, saya tuntun motor saya mendekati bengkel. Dari dekat, saya lihat beberapa pemuda itu sudah macak mbois. Berdandan keren siap untuk mejeng di pentas dangdutan.

Dalam keadaan begitu, saya ragu. Maukah pemuda itu menambal ban motor saya yang bocor. Ternyata,

“Silakan, pak. Agak dikesinikan saja motornya,” kata pemuda yang saya yakin bernama Sholeh.

Ia lalu membuka pintu bengkelnya. Mengeluarkan peralatannya. Dan, tetap dengan pakaian yang bagus itu, ia cekatan menangani ban saya.

Beberapa menit berselang, selesailah penambalan ban motor saya.

“3000,” jawabnya ketika saya tanya berapa saya harus bayar.

Angka itu adalah tarif normal. Dan, saya menilai, sungguh tidak keliru orang tuanya memberikan pemuda itu nama Sholeh.

Padahal, sungguh, dalam keadaan begitu, dikenakan tarif lebih dari itu pun akan saya bayar. ****

Tukang Tambal Ban


SETELAH belanja di sebuah minimarket di Karanggeneng, begitu motor saya tuntun dari parkiran, oh ban belakangnya gembos. Tetapi untunglah, tak seberapa jauh dari situ ada tukang tambal ban. Melihat cara ia membuka ban motor saya, saya tak ragu ia sudah sangat profesional. Dan satu predikat lagi; juga kreatif.

Lihat saja, setelah ban dalam saya dikeluarkan, ia juga mengeluarkan alat yang seumur hidup baru kali itu saya temui. Kalau biasanya tukang tambal ban selalu memakai gergaji besi untuk 'mengerik' lapisan disekitar yang bocor sebelum ditambal, tukang tambal ia beda. Ia menggunakan alat, yang saya yakin hasil modifikasi sendiri. Bentuknya; sebuah pedal dan rantai serta gir. Dua gir, depan dan belakang, dihubungkan seuntai rantai. Jadilah ia sebagai gerinda manual. Karena di gir yang kecil, dimodifikasi sedemikian rupa dengan fungsi sebagai ganti gergaji besi ala tukang tambal ban tradisional.

Hasilnya? Hanya dalam beberapa kali putaran pedal, gerinda manual itu telah mengikis sekitar area ban dalam motor saya yang tertusuk paku. Proses selanjutnya sama persis. Beberapa menit kemudian, selesai sudah.

Saya bawa pulang. Tak jauh. Hanya sekitar enam atau tujuh kilometer menuju desa saya. Dan, ban bocor lagi. Juga ban belakang lagi. Mau tak mau saya bawa ke tukang tambal ban lagi. Tukang tambal ini seperti lazimnya, tanpa gerinda manual. Ia, saya lirik di kotak alatnya, masih menggunakan gergaji besi.

Begitu ban dalam dikeluarkan, oh rupanya yang bocor tidak jauh dari bocor yang tadi. Tetapi bukan kena paku atau barang lancip lainnya. Tetapi, “Ini terlalu tipis kena 'ngeriknya',” kata tukang tambal ban.

Rupanya, alat gerinda manual itu si tukang tambal ban di Karanggeneng tadi terlalu rakus mengikis yang seharusnya tidak disentuhnya. Artinya, dengan gergaji besi masih lebih baik.



Seorang tukang tambal ban di Rungkut malah berani memberi garansi akan tambalannya. Bila hasil tambalannya bocor lagi, ia mempersilakan untuk dibawa kesitu lagi. Ditambal lagi. Gratis.

Bisa jadi itu hanya trik marketing saja. Agar terlihat defferisiansi-nya dengan yang lain. Karena, mana mungkin membawa kesitu bila bocornya lagi sudah di Mojokerto, misalnya.


Di Greges, beberapa ratus meter setelah terminal Osowilangun dari arah Gresik, suatu malam yang gerimis ban motor saya bocor. Setelah menuntun beberapa jauh dalam rinai itu, saya dapati tukang tambal yang rupanya lagi panen. Dua tukang tambal ban itu sibuk sekali, saya lihat. Sebelum saya sudah ada dua 'pasien'. Satu, sebuah Supra, sudah dalam proses pemasangan ban, satu lagi menunggu giliran. Tetapi bannya sudah dilepas.

“Bocor, mas?” saya bertanya.

“Iya, ini copnya sobek,” jawab lelaki yang menunggang Mega Pro ini sambil menunjukkan ban dalam motornya kepada saya.

Pasien pertama selesai. Setelah membayar sejumlah ongkos, ia melajukan Supranya menembus guyuran gerimis.

Si Mega Pro segera ditangani. Sementara 'dokter' yang satunya mulai mengoperasi ban saya. Hasil diagnosanya?

“Wah, bannya robek disebalah cop pentilnya, pak,” ia memberi tahu saya.

Gila.
Saya pikir ini pasti ada yang tidak beres. Mana mungkin Grand saya berkasus sama dengan si Mega Pro. Pasti ini malapraktek. Tapi mau bagaimana lagi. Saya dalam kondisi lemah. Maksudnya, roda saya sudah dilepas. Mana mungkin saya bawa pergi dan mencari tukang tambal yang lebih bernurani.

Akhirnya, saya harus ganti ban baru yang memang ia menyediakan. Harganya, sungguh lebih mahal dari biasanya. Tetapi lagi-lagi saya bisa apa. Dengan rasa mangkel yang mengguyur sederas gerimis malam itu, saya harus menerima keadaan.

Tetapi dalam hati saya bersumpah. Saya tak akan membawa ke tempat itu bila ban saya bocor disekitar situ lagi.*****

Minggu, 30 Oktober 2011

Rahasia Sukses

TIDAK ada rahasia untuk meraih sukses. Itu adalah hasil persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan.

( Colin Powell, tokoh AS )

Si Kunci

TELEPON berdering. Dari seberang suara mbak Nanin Indah mengabarkan kunci laci mejanya bermasalah. Sejurus kemudian saya meluncur ke TKP. Ke office 103. Kerusakan itu tak seberapa serius, saya kira. Kunci dan cylinder itu memang bukan 'suami-istri'. Ia bukan pasangan sah. Makanya, ia tidak bisa muter. Jadi?

“Harus ganti baru, mbak. Atau kalau mau lebih murah, ya diduplikatkan saja anak kuncinya,” jawab saya.

Sampai titik itu semua beres. Mbak Nanin setuju untuk diduplikatkan saja. Saya balik kanan grak menunggu kabar selanjutnya.


Ketika kunci duplikat selesai, telepon berdering lagi. Mengabari hal agak diluar dugaan saya. Anak kunci itu telah disesuaikan sebagai 'suami', tetapi tetap ada masalah. Bisa berputar, tetapi gagal mengunci. Ini dia; kunci tidak bisa mengunci! Aneh. Seaneh penyanyi tak bisa menyanyi, atau atasan yang tidak bisa mengatasi.

Sekalipun saya bukan ahli kunci, sebagai bagian dari tugas, saya meluncur lagi ke TKP yang sama. Saya utak-atik. Saya putar kekiri dan kekanan. Lalu saya susul dengan gelengan kepala kekiri-kekanan. Dalam gelengan itu saya artikan sebagai; saya harus meminta bantuan teman yang lebih ahli tentang dunia perkuncian; 'oknumnya' adalah cak Tris.

Dan benarlah yang saya duga. Cak Tris, dengan kemampuan 'linuwihnya', hanya melakukan 'operasi kecil' atas kunci yang bermasalah itu. Beres. Key word dari hal ini adalah; serahkan sesuatu pada ahlinya.


Saya telah searching, tetapi belum menemukan oleh siapa kunci itu diciptakan dan sejak kapan ia digunakan. Dan malah, ketika saya minta bantuan mbah Google mencari (dengan lebih dulu menulis kata kunci 'kunci', yang muncul adalah kunci sukses, kunci meraih kebahagiaan, kunci bermain gitar dst, dsb...

Ya, dalam banyak (kalau tidak disebut semua) bidang, adalah semacam lacinya mbak Nanin. Ada pintunya, sekaligus ada kuncinya.

Untuk membuat tulisan inipun saya memakai kunci. Ia menjadi laksana password  untuk masuk kesebuah akun. Dalam hal ini, agar saya bisa masuk dan 'memasuki' sampeyan yang sampai kalimat ini masih sudi-sudinya membaca catatan ini.

Diseantero tempat, banyak aneka 'kunci' yang bisa jadi cocok untuk 'cylinder' kita. Kita bisa, kalau mau, dengan mudah mencomotnya. Buku-buku motivasi, atau petuah-petuah bijak adalah juga 'kunci'. Kisah-kisah orang sukses dengan segala jalan terjal berliku prosesnya adalah 'kunci'. Tidak ada yang salah ketika kita meng-copy paste-nya. Tidak harus sama persis. Karena, saya pernah membaca seorang pebisnis sukses yang memakai rumus ATM. Amati, tiru dan modifikasi.

Okelah. Upaya boleh ditiru, tetapi rejeki ada yang mengatur. Bisa jadi sampeyan adalah pencipta lagu dan istri sampeyan hobby fotografi, tetapi sampeyan berdua bukan presiden dan ibu negara. Karena hanya ada sepasang suami-istri dengan hobby begitu yang sedang beruntung menjadi pemimpin negara besar ini.

Maaf, kalimat diatas itu terlalu lebay. Namun, “Success is my right,” kata seorang motivator.
Mau?

Jumat, 28 Oktober 2011

Quotes


"It is better to be violent if there is violence in our hearts, than to put on the cloak of non-violence to cover impotence" 
--Mohandas Karamchand Gandhi

Kamis, 27 Oktober 2011

Selasa, 25 Oktober 2011

Sasaran Tembak


KAMERA, bagi seorang fotografer (baik yang profesioanal maupun yang kelas amatir) adalah barang yang fardu 'ain hukumnya untuk selalu ditenteng. Ia ibarat senjata bagi tentara atau polisi. Dimana ada sasaran yang layak ditembak, tinggal klik!

Saya bukanlah termasuk yang begitu itu. Yang amatir sekalipun. Walau, pernah berhari-hari membawanya, membayangkan ada obyek langka yang layak 'tembak'. Tetapi saya bukanlah orang yang sabar. Dalam berhari-hari itu, sambil berangkat dan pulang kerja, hanya satu-dua yang kena sasaran saya. Selebihnya nihil.

Disitulah lalu saya menyerah. Eman-eman si Canon saya tentang-tenteng tanpa pernah ditembakkan. Tetapi, lhadalah. Disaat saya tanpa 'senjata' itu, melintas depan hidung saya obyek yang saya idamkan; seorang bapak bersepeda ontel ikut berjejal dipadatnya lalu lintas raya Wonokromo ssebelah Bonbin ke arah raya Darmo. Seorang bersepeda, apa istimewanya?

Kalaulah ia sekadar seorang bapak yang sedang bike to work secara lazim, tentu saya tak istimewakan dia. Tetapi karena ia tampil beda, tentu ia saya nilai beda. Perbedaan itu adalah; ia memakai helm lengkap dengan jaket dan sepatu kets. Dan, perlu saya tegaskan, helm itu bukan helm sepeda, tetapi helm teropong SNI yang sebagai pasangan orang bermotor.

Kalau ketika itu saya bawa kamera, dan berhasil 'menembaknya', tentu saya tak perlu berbuih-buih menulis deskripsinya kepada sampeyan..

Besoknya, saya kembali bawa kamera. Berharap ketemu si bapak itu lagi. Atau paling tidak nemu obyek lain yang tak kalah menarik. Saya merasa, kok kayak aparat kemanan yang kembali bergairah melakukan razia setelah kebobolan bom. Dalam membawa kamera ini, saya terkesan 'hangat-hangat tahi ayam'.

Lama tak mendapat sasaran tembak, kelakuan saya kumat lagi. Si Canon saya tinggal lagi. Ia saya biarkan tidur nyenyak di laci lemari kamar saya yang panas di akhir bulan Oktober ini.
Dan, ndilalah, disaat saya tak berkamera begitu, muncul lagi sasarannya. Bukan si bapak yang tempo hari itu. Bukan sekadar sepeda ontel, tetapi sepeda motor.

Kali ini saya mengikutinya sampai di jalan Mayjen Sungkono. Namun saya mulai melihatnya sejak di lampu merah depan bekas studio radio Lavictor diujung jalan Adityawarman menjelang Mayjen Sungkono. Motor itu sejenis yang saya tunggangi. Honda dari jenis Supra X-125. Warnanyapun tak berbeda dengan punya saya; kombinasi merah hitam dengan velg bintang. Nopolnya; L 6844 AE.

Yang membedakan dari motor saya, pada 'pinggul' kanan kiri, dibawah joknya, tak tertera tulisan resmi Honda. Tetapi Akas, warna kuning persis seperti yang menempel pada tubuh PO Akas.

Saya ikuti si Akas itu, sambil menyesal saya tak membawa kamera. Terus saja saya ikuti sampai ia berbelok ke SPBU di sebelum taman makam pahlawan. Sampai disitu saya baru berusaha menghibur diri; saya bukan fotografer. Saya ingin menjadi penulis. Karena dengan 'hanya' sebagai penulis, nyaris saya tak memerlukan alat bantu ketika membidik sasaran. Saya hanya perlu menyimpannya diotak, kemudian menuliskannya. Walau, tentu saja, tulisan itu akan lebih memikat bila disertai hasil jepretan kamera.

Salam.

Minggu, 23 Oktober 2011

Happiness

"Kebahagiaan tidak datang dari melakukan pekerjaan mudah, tapi dari sisa-sisa cahaya kepuasan yang datang setelah pencapaian tugas sulit yang menuntut yang terbaik '.
(Theodore Isaac Rubin)