SUDAH menjadi kebiasaan saya kalau akan tidur, ponsel saya, si tua N1100, selalu saya bisukan dulu. Dengan hidup tetapi tidak bersuara begitu, saya terbebas dari terjaga tengah malam hanya gara-gara sebuah SMS tak penting yang masuk tak tahu waktu. Misalnya SMS pemberitahuan hadiah dari nomor asing, atau pesan dari mama yang kehabisan pulsa. Yang semua itu tentu sebagai SMS tipuan semata. Saya berlaku setega itu karena saya termasuk orang yang susah tidur lagi apabila sempat terjaga beberapa saat saja ditengah malam.
Kalau ada SMS yang sangat penting dan sungguhan bagaimana? Ah, syukurlah. Belum pernah saya dapati yang begitu itu. Dan ketika jam 4 subuh saya 'hidupkan' lagi, yang sering nongol justru SMS main-main saja.
Satu lagi, banyak teman yang salah sangka. Dikiranya si tua N1100 saya ini sudah bisa menerima kiriman gambar. Padahal belum. Sekarang saja, di kotak masuk ada saya dapati lima pesan masuk dari nomor 543 dengan nomor pusat pesan +62816124. Isi pesannya; tidak bisa menampilkan pesan.
Jam empat pagi tadi, seperti biasa saya menormalkan ponsel saya. Saya dapati ada dua pesan masuk. Yang satu dari 543 yang jelas tak bisa tampil di ponsel saya, yang satunya lagi pesan teks yang tentu bisa saya baca. Pengirimnya?
Yang 543 tentu tak saya kenal. Tetapi yang pesan berupa teks, ada nomor pengirimnya; +628151520xxxx. Tetapi ia adalah nomor yang belum masuk dalam memori ponsel saya. Isi pesan yang dikirim tepat tengah malam itu bunyinya begini;
Seorang karyawan datang menghadap atasannya.
"Kali ini bapak harus menaikkan gaji saya," kata karyawan dengan serius.
"Apa alasannya sehingga aku harus menaikkan gajimu?" si atasan bertanya.
"Perlu bapak ketahui, sekarang ini ada beberapa perusahaan besar dan bonafit yang sedang mengejar saya," jawab si karyawan dengan PD.
Si atasan terdiam sejenak. Dalam hati ia berpikir, karyawannya ini selama bekerja disini prestasinya biasa-biasa saja. Kok bisa sampai ada perusahaan lain yang 'kepincut' bagaimana ceritanya. Tetapi, sebagai atasan tentu ia harus menahan diri. Harus menjaga wibawa. Jangan-jangan si karyawan ini sedang 'bersandiwara'. Agar tuntutannya untuk kenaikan gaji bisa segera dipenuhi.
"Baguslah kalau begitu," kata si atasan kemudian. "Tetapi kalau boleh tahu, perusahaan apa saja yang mengejarmu?"
"Ada Citi Bank, ada Adira, WOM, ada bank Mandiri, ada PLN, PDAM, ada..."
"Stop, stop. Sebanyak itu?!" tanya si bos heran. "Kok bisa?!"
"Saya sudah nunggak beberapa bulan, pak..."
(NB: agar enak dibaca, SMS dari entah siapa itu saya edit sedemikian rupa.)
Selasa, 27 September 2011
Senin, 26 September 2011
Doa Bumerang
KETIKA SD dulu, salah satu pelajaran yang saya takuti adalah pelajaran agama. Lebih-lebih pak Fatchullah, sang guru, bagi saya orangnya sungguh sangar. Tinggi besar. Suara Honda CB nya sering bikin saya jantungan, bila tugas hafalan yang beliau berikan belum menempel di otak saya.
Hafalan itu sebenarnya pendek saja. Hanya surat At-Tiin. Tetapi lidah saya selalu keluar jalur ketika memasuki dua pertiga isi surat. Malam itu, celakanya, saya bukan bekerja keras menempelkan hafalan itu ke ingatan saya. Tetapi malah merapal doa agar pak Fat besok pagi tidak datang mengajar.
“Ya Allah ya Tuhanku. Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ijinkanlah hambaMu yang lemah ini memohon. Agar besok pak Fat berhalangan datang. Agar aku terhindar dari hukumannya karena tidak hafal surat At-Tiin. Ya Allah ya Tuhanku. Segala kesembuhan adalah atas kuasanmu. Pun, segala penyakit adalah juga atas ijinMu. Maka sakitkanlah pak Fat barang sehari saja. Tak perlu Kau sakitkan yang berat. Cukup sakit perut saja. Aku memohon ya Allah, kabulkanlah doaku ini. Amiin.”
Jam tujuh pagi pak Bon memukel bel dari potongan rel KA. Menuju ke halaman sekolah untuk bersenam pagi, saya sempatkan melirik tempat parkir motor guru. Dan, alhamdulillah. Si Honda CB tak terlihat disana. Saya kira Tuhan sungguh baik hati. Mengabulkan doa yang semalam saya panjatkan.
Sampai SKJ usai, belum juga terdengar deru si CB. Aman. Keamanan itu makin nyata, ketika justru pak Damiri yang mengisi pelajaran di jam pertama. Ah, sakit perut betulan rupanya pak Fat.
Pak Damiri mengambil kapur tulis. Dan mulai menulis pelajaran PMP yang harus kami salin ke buku kami. Ketika baru menulis satu alenia, deru CB datang memasuki pintu gerbang. Pak Damiri menyudahi perannya, tepat disaat saya memulai kegelisahan baru. Kegelisahan itu makin menjadi-jadi ketika pak Fat masuk kelas. Keringat dingin mengguyur sekujur tubuh saya.
“Edi, kenapa kamu?” tanya pak Fat.
“Saya sakit perut, pak," jawab saya sambil memegang perut yang tiba-tiba mulas luar biasa.
Hafalan itu sebenarnya pendek saja. Hanya surat At-Tiin. Tetapi lidah saya selalu keluar jalur ketika memasuki dua pertiga isi surat. Malam itu, celakanya, saya bukan bekerja keras menempelkan hafalan itu ke ingatan saya. Tetapi malah merapal doa agar pak Fat besok pagi tidak datang mengajar.
“Ya Allah ya Tuhanku. Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ijinkanlah hambaMu yang lemah ini memohon. Agar besok pak Fat berhalangan datang. Agar aku terhindar dari hukumannya karena tidak hafal surat At-Tiin. Ya Allah ya Tuhanku. Segala kesembuhan adalah atas kuasanmu. Pun, segala penyakit adalah juga atas ijinMu. Maka sakitkanlah pak Fat barang sehari saja. Tak perlu Kau sakitkan yang berat. Cukup sakit perut saja. Aku memohon ya Allah, kabulkanlah doaku ini. Amiin.”
Jam tujuh pagi pak Bon memukel bel dari potongan rel KA. Menuju ke halaman sekolah untuk bersenam pagi, saya sempatkan melirik tempat parkir motor guru. Dan, alhamdulillah. Si Honda CB tak terlihat disana. Saya kira Tuhan sungguh baik hati. Mengabulkan doa yang semalam saya panjatkan.
Sampai SKJ usai, belum juga terdengar deru si CB. Aman. Keamanan itu makin nyata, ketika justru pak Damiri yang mengisi pelajaran di jam pertama. Ah, sakit perut betulan rupanya pak Fat.
Pak Damiri mengambil kapur tulis. Dan mulai menulis pelajaran PMP yang harus kami salin ke buku kami. Ketika baru menulis satu alenia, deru CB datang memasuki pintu gerbang. Pak Damiri menyudahi perannya, tepat disaat saya memulai kegelisahan baru. Kegelisahan itu makin menjadi-jadi ketika pak Fat masuk kelas. Keringat dingin mengguyur sekujur tubuh saya.
“Edi, kenapa kamu?” tanya pak Fat.
“Saya sakit perut, pak," jawab saya sambil memegang perut yang tiba-tiba mulas luar biasa.
Sabtu, 24 September 2011
Nasi Goreng Spesial
“NASI goreng.”
Itu jawaban yang selalu saya sampaikan bila ditanya apa makanan favorit saya. Walau begitu, belum pernah saya mengeluarkan uang lebih dari sepuluh ribu demi seporsi nasi goreng. Lidah saya sudah sangat kompak dengan dompet saya.
Nasi goreng seharga enam ribuan yang saya beli di gang sebelah, sudah sangat nikmat bagi lidah saya. Kalaulah lidah saya sudah pengalaman dengan aneka nasi goreng, itu bukan perkara harga. Tetapi lebih kepada jenis yang pernah dirasakannya. Mulai nasi goreng berbahan baku beras putih, nasi jagung sampai nasi goreng berbahan gaplek. Ya, nasi tiwul kalau digoreng laziz juga, lho!
Untuk urusan membuat nasi goreng, emak saya ahlinya. Dulu, menu ini sering saya dapati sebagai sarapan menjelang berangkat sekolah. Nasi goreng nyel. Tanpa telur. Tanpa kecap atau saos tomat. Tetapi pedasnya luar biasa. Karena emak selalu menyertakan beberapa lombok impling kedalam bumbunya. Lombok jenis super pedas itu diuleg dalam satu kloter dengan bawang merah, bawang putih, garam, daun jeruk purut di satu cobek. Lombok itu tidak sebagai lalap seperti lazimnya.
Lalu, sreeengg.... semua bumbu itu, plus nasi sisa kemarin, digoreng memakai minyak jlantah bekas menggoreng ikan asin. Aroma yang mengembara keluar dapur, sungguhlah laksana asap dari dapur sorga.
Belakangan saya tahu kenapa emak memasaknya begitu. Karena nasi sebagai bahan bakunya itu, sudah setengah mambu. Sudah agak jemek. Dengan dipedaskan, basi itu menjadi tak terasa. Tidak sakit perut? Mana bisa sakit perut. Wong biang penyakitnya yang bersembunyi didalam nasi basi itu sudah tewas duluan karena kepedesan.
Makanya sampai sekarang, kalau saya lihat ada nasi keleleran tak termakan, sampai nyaris basi, saya nelangsa. Ditangan emak, ia bisa menjelma sebagai nasi goreng 'spesial' lezat nan pedas.
Itu jawaban yang selalu saya sampaikan bila ditanya apa makanan favorit saya. Walau begitu, belum pernah saya mengeluarkan uang lebih dari sepuluh ribu demi seporsi nasi goreng. Lidah saya sudah sangat kompak dengan dompet saya.
Nasi goreng seharga enam ribuan yang saya beli di gang sebelah, sudah sangat nikmat bagi lidah saya. Kalaulah lidah saya sudah pengalaman dengan aneka nasi goreng, itu bukan perkara harga. Tetapi lebih kepada jenis yang pernah dirasakannya. Mulai nasi goreng berbahan baku beras putih, nasi jagung sampai nasi goreng berbahan gaplek. Ya, nasi tiwul kalau digoreng laziz juga, lho!
Untuk urusan membuat nasi goreng, emak saya ahlinya. Dulu, menu ini sering saya dapati sebagai sarapan menjelang berangkat sekolah. Nasi goreng nyel. Tanpa telur. Tanpa kecap atau saos tomat. Tetapi pedasnya luar biasa. Karena emak selalu menyertakan beberapa lombok impling kedalam bumbunya. Lombok jenis super pedas itu diuleg dalam satu kloter dengan bawang merah, bawang putih, garam, daun jeruk purut di satu cobek. Lombok itu tidak sebagai lalap seperti lazimnya.
Lalu, sreeengg.... semua bumbu itu, plus nasi sisa kemarin, digoreng memakai minyak jlantah bekas menggoreng ikan asin. Aroma yang mengembara keluar dapur, sungguhlah laksana asap dari dapur sorga.
Belakangan saya tahu kenapa emak memasaknya begitu. Karena nasi sebagai bahan bakunya itu, sudah setengah mambu. Sudah agak jemek. Dengan dipedaskan, basi itu menjadi tak terasa. Tidak sakit perut? Mana bisa sakit perut. Wong biang penyakitnya yang bersembunyi didalam nasi basi itu sudah tewas duluan karena kepedesan.
Makanya sampai sekarang, kalau saya lihat ada nasi keleleran tak termakan, sampai nyaris basi, saya nelangsa. Ditangan emak, ia bisa menjelma sebagai nasi goreng 'spesial' lezat nan pedas.
Sebentuk Sepanduk
SEBAGAI kota besar, Surabaya memang padat. Jumlah penduduknya, maupun jumlah kendaraan yang memacetkan jalan-jalannya. Ruas-ruas jalan yang sering macet itu, disisi lain adalah juga sebuah tempat yang strategis bagi sebagian kalangan. Misalnya, bagi pengusaha reklame dan sejenisnya.
Banyak saya dapati dipersimpangan jalan, mulai pertigaan, perempatan atau perlimaan (?) berdiri tiang-tiang reklame yang menjulang. Papan reklame aneka ukuran menjamur diseantero kota. Yang setiap musim hujan tiba selalu menimbulkan kekhawatiran. Tiang yang besar itu memang tak roboh. Tetapi papan reklame besar itu yang sering pontang-panting ditiup angin. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin memakan korban, menjatuhi yang sedang lalu-lalang dibawahnya. Dan yang begini ini pernah terjadi.
Dari segi keamanan, sepanduk memang tidak membahayakan. Ia hanya ringan saja. Ia hanya, sering terjadi, dibentang diantara kaki-kaki tiang reklame raksasa. Tetapi dari segi keindahan ia sering tak tahu tata letak yang mengindahkan. Tumpang tindih. Ruwet.
Lebih ruwet lagi ketika hari ini saya dapati sebentuk sepanduk yang aneh. Walau bertumpang tindih dengan sepanduk lain, kalau diletakkan dipertigaan jalan Ahmad Yani-Margorejo Indah memang itu tempat yang strategis. Tetapi ketika membaca yang dituang disitu, saya jadi kurang ngeh.
Bila bulan puasa kemarin ada sebuah sepanduk ucapan selamat berpuasa dengan dibubuhi suatu gambar atau logo produk sirup disalah satu sisinya, saya maknai itu sebagai si sirup itu sedang mengucapkan selamat berpuasa kepada saya. Tetapi sepanduk yang saya ambil gambarnya ini tidak begitu.
‘Suara Golkar suara rakyat’ begitu bunyi kalimatnya. Disisi kiri ada foto Deddy Mizwar dan Dude Herlino sebagai bintang iklan Hobat. Disisi kanan ada logo TV9 lengkap dengan tagline-nya; santun menyejukkan.Sebentuk sepanduk itu
Apa yang salah?
Maaf, saya tidak hendak mencari letak kesalahannya. Tetapi, hanya ingin mencermatinya.
Begini, Hobat memang sering saya dapati sebagai sponsor program Kiswah (Kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah) salah satu acara unggulan di TV9 yang milik NU ini. Tetapi ketika keduanya bergandeng tangan membentang kalimat diatas, saya gagal mencari maksudnya. Pertama, seingat saya, belum pernah sebelumnya saya dapati suatu produk obat menyeponsori sebuah partai. Kedua, NU (dan seluruh organisasi dibawahnya, termasuk TV9?) tidak berpolitik praktis. Tetapi, ‘ada dimana-mana walau tidak kemana-mana’.
Atau ini hanya sebagai giliran saja. Dan Golkar mendapat kesempatan pertama. Besok Hobat dan TV9 menyeponsori partai lain, besoknya lagi lain lagi. Dan seterusnya.
Eh, tetapi jangan-jangan saya salah duga. Yang di tulis itu bukan nama partai. Karena yang sebenarnya dimaksud adalah nama merek alat elektronik; Goldstar. Cuma salah tulis saja. Lagian kan tidak ada gambar pohon beringinnya.
Entahlah.
Banyak saya dapati dipersimpangan jalan, mulai pertigaan, perempatan atau perlimaan (?) berdiri tiang-tiang reklame yang menjulang. Papan reklame aneka ukuran menjamur diseantero kota. Yang setiap musim hujan tiba selalu menimbulkan kekhawatiran. Tiang yang besar itu memang tak roboh. Tetapi papan reklame besar itu yang sering pontang-panting ditiup angin. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin memakan korban, menjatuhi yang sedang lalu-lalang dibawahnya. Dan yang begini ini pernah terjadi.
Dari segi keamanan, sepanduk memang tidak membahayakan. Ia hanya ringan saja. Ia hanya, sering terjadi, dibentang diantara kaki-kaki tiang reklame raksasa. Tetapi dari segi keindahan ia sering tak tahu tata letak yang mengindahkan. Tumpang tindih. Ruwet.
Lebih ruwet lagi ketika hari ini saya dapati sebentuk sepanduk yang aneh. Walau bertumpang tindih dengan sepanduk lain, kalau diletakkan dipertigaan jalan Ahmad Yani-Margorejo Indah memang itu tempat yang strategis. Tetapi ketika membaca yang dituang disitu, saya jadi kurang ngeh.
Bila bulan puasa kemarin ada sebuah sepanduk ucapan selamat berpuasa dengan dibubuhi suatu gambar atau logo produk sirup disalah satu sisinya, saya maknai itu sebagai si sirup itu sedang mengucapkan selamat berpuasa kepada saya. Tetapi sepanduk yang saya ambil gambarnya ini tidak begitu.
‘Suara Golkar suara rakyat’ begitu bunyi kalimatnya. Disisi kiri ada foto Deddy Mizwar dan Dude Herlino sebagai bintang iklan Hobat. Disisi kanan ada logo TV9 lengkap dengan tagline-nya; santun menyejukkan.Sebentuk sepanduk itu
Apa yang salah?
Maaf, saya tidak hendak mencari letak kesalahannya. Tetapi, hanya ingin mencermatinya.
Begini, Hobat memang sering saya dapati sebagai sponsor program Kiswah (Kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah) salah satu acara unggulan di TV9 yang milik NU ini. Tetapi ketika keduanya bergandeng tangan membentang kalimat diatas, saya gagal mencari maksudnya. Pertama, seingat saya, belum pernah sebelumnya saya dapati suatu produk obat menyeponsori sebuah partai. Kedua, NU (dan seluruh organisasi dibawahnya, termasuk TV9?) tidak berpolitik praktis. Tetapi, ‘ada dimana-mana walau tidak kemana-mana’.
Atau ini hanya sebagai giliran saja. Dan Golkar mendapat kesempatan pertama. Besok Hobat dan TV9 menyeponsori partai lain, besoknya lagi lain lagi. Dan seterusnya.
Eh, tetapi jangan-jangan saya salah duga. Yang di tulis itu bukan nama partai. Karena yang sebenarnya dimaksud adalah nama merek alat elektronik; Goldstar. Cuma salah tulis saja. Lagian kan tidak ada gambar pohon beringinnya.
Entahlah.
Jumat, 23 September 2011
Abah Oyang sang David 'Bekam'

DI SEBUAH proyek, sekian belas tahun lalu, lelaki dengan suara khas itu sering bercanda dengan saya. Tetapi sering pula diselingi dialog-dialog serius bertopik agama. Dalam bidang itu, saya nilai, beliau termasuk mumpuni.
“Berkat beliau pula saya terentas dari jahiliyah,” begitu komentar seorang teman ketika pagi tadi saya kirimi ia foto si beliau dalam akun Efbi-nya.
Foto itu hasil jepretan saya ketika si lelaki bersuara khas itu tampil dalam program Klinik Islami di sebuah stasiun televisi. Kemarin malam itu, untuk kedua kalinya saya dapati si lelaki itu tampil di televisi yang sama. Tetapi memang itu sebagai tayang ulangnya. Ketika tayang perdana, saya tertegun dan tak kepikiran untuk mengambil gambarnya. Baru kemarin tergerak untuk melakukannya.
Dari tayang pertama yang disiarkan live itu saya tahu nomor HP nya. Tetapi tentu tak pantas saya menghubunginya ketika sedang on air.
“Edi yang dari Jember itu ya?” begitu balasan SMS yang saya terima, tigapuluh menit setelah siaran.
Ketika saya iyakan, meluncurlah guyonan-guyonan yang dulu pernah kami ketawai bersama. Ah, rupanya daya ingat beliau masih kuat. Buktinya, beliau masih ingat segala kebiasaan saya. Termasuk lagu yang sering (waktu itu) saya nyanyikan. Uh, sampai segitunya.
“Kenapa sampeyan tak kuliah?” tanya beliau suatu kali, dulu. “Kuliahlah. Pasti mampu. Itu si Ryan, buktinya bisa.”
Iya, Ryan itu juga seproyek dengan saya. Ia dan juga beliau adalah pekerja harian ikut kontraktor bidang pengecatan.
David, begitulah nama beliau yang saya kenal. Semua temannya, yang sebagian besar dari Indonesia Timur (termasuk si Ryan itu), memanggilnya pak David. Saya juga. Tetapi dalam siaran televisi beliau sekarang sebagai Abah Oyang. Lengkapnya lagi; Abah Oyang si ahli bekam. Sejenis pengobatan alternatif ala Islam.
Saya belum ingin menulis tentang bekam. Tetapi lebih kepada Abah Oyang.
“Ah, saya jadi ingat pemain bola top asal Inggris. Oyang Beckham,” tulis saya pada jawaban seorang teman yang mengomentari foto Abah Oyang di Efbi saya.
“Hahaha... David Bekam?” balasnya.
Tentu guyonan semacam itu tak kan terjadi bila kami tak tahu siapa dulunya si Abah Oyang. Tetapi jaman telah berganti. Saya saja yang tidak berganti. Tidak berubah. Ketika beliau sudah ahli dalam praktik penyembuhan lewat bekam, saya tetaplah begini-begini saja.Berarti, mungkin untuk menilai seseorang, saya harus tanggalkan segala nilai masa lalu. Apa yang 'ada' saat ini, itulah yang ternilai.
Contoh terbaru ya si Michael Sata yang hari ini memenangkan pilpres di Zambia. Ya, sekarang ia presiden. Itu nilainya. Perkara dulu ia hanyalah tukang sapu di British Rail, London, itu masa lalu.
"Saya tak pernah mengeluh yang saya kerjakan. Saya ingin menyapu negeri saya, membuatnya lebih bersih dari yang saya lakukan di stasiun kereta api Anda," begitu katanya saat diwawancara The Telegraph.
Ia memang tukang sapu, dulu. Tetapi sambil bekerja kasar begitu, ia juga bersekolah di jurusan ilmu politik di sebuah perguruan tinggi di Inggris.
“Di bidang apapun kita bekerja, tidak lain kecuali mengharap kemulyaan hidup. Karena pada prinsipnya kerja adalah ibadah. Seluruh aktifitas adalah ibadah. Hidup adalah ibadah,” begitu SMS balasan yang saya terima setelah saya utarakan saya tetap begini, belum berubah.
"Saya kerja di proyek (bangunan) ya cuma saat itu. Hanya mencari pengalaman," kata beliau menjelaskan. "Dulu saya ini guru fisika. Juga pernah jadi kepala sekolah SMP."
Saya bayangkan itu sebagai dialog langsung. Saya bayangkan saya sedang mendengarkan suara khasnya. Dan saya sedang berpikir untuk menemui beliau secara langsung, suatu hari nanti. Untuk silaturrahim. Juga untuk bertanya kenapa sekarang berganti nama menjadi Abah Oyang. Dan juga bertanya tentang hal-hal lain yang ingin saya tahu lebih dalam tentang beliau.
Masih rencana memang. Tetapi, demi menghargai 'kedudukan' beliau sekarang, tentu saya akan lihat-lihat juga; pantaskan saya masih seguyon dulu? Lebih-lebih ketika sekarang, dengan sudah tampilnya beliau di televisi, (dalam bayangan saya) pastilah banyak pasien yang antre di rumah yang sekaligus tempat praktiknya.Tunggu kedatangan saya pak David, eh Abah Oyang ding.
Kasak-kusuk Khusyuk
“DEMI kekhusyukan kita bersama, bagi jamaah yang membawa alat komunikasi telepon selular, untuk tidak mengaktifkannya selama khutbah dan juga selama sholat Jumat,” begitu kurang-lebih pengumuman yang diudarakan sesaat sebelum khutbah Jumat disampaikan.
Ini dia. Disaat khutbah mulai disampaikan, biasanya saya serasa kena hipnotis; ngantuk. Atau bahkan kemudian tidur. Tetapi, barusan, tumben saya bisa melek selama khutbah. Khutbah dengan tema yang itu-itu juga. Dengan gaya yang begitu-begitu juga. Tetapi,” Khutbah dengan tema itu-itu dengan gaya yang begitu-begitu saja tidak kamu laksanakan. Kok mau minta yang gaya baru.” sanggah sebuah status di FB seorang teman.
Khusuk, dalam hal apapun kadang menang sulit. Dalam sholat Jumat barusan, sekuat tenaga saya mencoba belajar khusyuk. Sekhusyuk-khusyuknya. Tetapi gagal. Gara-garanya bukan ada jamaah yang nakal lupa tak mematikan ponselnya dan ada panggilan masuk. Bukan. Tetapi beberapa anak yang ikutan khusyuk dalam guyon dibarisan belakang.
Nanti, kalau ada malaikat bertanya,” He Edi, kenapa pada Jumat tanggal sekian bulan sekian kamu sholat tidak khusyuk?”
Telunjuk saya siap menunjuk segerombolan bocah itu sebagai kambing hitam.
Ini dia. Disaat khutbah mulai disampaikan, biasanya saya serasa kena hipnotis; ngantuk. Atau bahkan kemudian tidur. Tetapi, barusan, tumben saya bisa melek selama khutbah. Khutbah dengan tema yang itu-itu juga. Dengan gaya yang begitu-begitu juga. Tetapi,” Khutbah dengan tema itu-itu dengan gaya yang begitu-begitu saja tidak kamu laksanakan. Kok mau minta yang gaya baru.” sanggah sebuah status di FB seorang teman.
Khusuk, dalam hal apapun kadang menang sulit. Dalam sholat Jumat barusan, sekuat tenaga saya mencoba belajar khusyuk. Sekhusyuk-khusyuknya. Tetapi gagal. Gara-garanya bukan ada jamaah yang nakal lupa tak mematikan ponselnya dan ada panggilan masuk. Bukan. Tetapi beberapa anak yang ikutan khusyuk dalam guyon dibarisan belakang.
Nanti, kalau ada malaikat bertanya,” He Edi, kenapa pada Jumat tanggal sekian bulan sekian kamu sholat tidak khusyuk?”
Telunjuk saya siap menunjuk segerombolan bocah itu sebagai kambing hitam.
Rabu, 21 September 2011
Lagu tak Lagi Lugu
SECARA garis besar saya menyukai semua jenis musik dan lagu. Bahkan sampai lagu yang saya tak mengerti arti syairnya sekalipun. Dulu ketika wabah break dance sempat menyusup ke kampung saya, saya ikutan asyik saja menikmati musiknya yang gededak-gedebuk itu. Ketika New Kids On The Block lagi moncer, salah satunya lewat tembang Step by Step, saya ikutan pula menyenanginya.
Dangdut bagaimana?
Oh, apalagi itu. Karena, ibaratnya, sejak lahir procot musik jenis ini telah menempel ke gendang telinga semua orang di kampung kami. Setiap orang hajatan, atau siaran sepak bola di lapangan desa, si TOA selalu saja menyuarakan dangdut itu.
Ingat betul saya ketika para pemain turun minum dalam pertandingan bola, juga ketika si penyiar ikutan turun minum, si TOA mengudarakan si Rita Sugiarto; idaman hati kemanakah kemana engkau pergi...
Lagu, apapun jenisnya, ternyata mengikuti pula perkembangan teknologi informasi. Dulu, dulu sekali, ketika teknologi tak semaju saat ini, dan salah satu komunikasi andalan adalah lewat surat, ia mengilhami beberapa lagu. Sebutlah misalnya, Surat Cinta-nya si Erni Djohan. Tradisi surat-menyurat (cinta) ini rupanya bertahan lama. Buktinya, sampai era 80-an ia masih disuarakan. Dengan suara khas nan centil mari kita nyanyikan ini; surat cintaku yang pertama, membuat hatiku berlomba, seperti melodi yang indaahhh... kata-kata cintanya.
(Ah, suara sampeyan tak kalah bagus dengan Vinna Panduwinata rupanya!)
Sebelum Trio Macan mengaum lewat (teknologi seluler) berupa ponsel dalam tembang bertajuk SMS, ada yang ber- tit,tit,tit pagerku berbunyi, tit,tit,tit, begitu bunyinya.... (dengan irama rap lagu ini populer lewat kelompok Sweet Martabak)
Ya, Pager memang pernah menjadi populer walau tak berumur lama. Ia kalah KO lewat pukulan telak saat ditantang pendatang baru; ponsel. Setiap lewat di jalan Diponegoro sebelum kantor bank PTPN di ujung Ciliwung, ada gedung tak terawat dengan antena menjulang. Menara antena itu, gedung lumayan besar yang tak terawat itu, bukti pager pernah mengenyam masa jaya. Ya, gedung suwung itu adalah bekas markas operator pager besar; Starco.
Dulu, ditempat kerja, saya sempat difasilitasi alat yang hanya dapat menerima pesan tetapi tak mampu membalasnya itu. Di dalam angkot, ketika tiba-tiba si pager berbunyi, mengeluarkannya dari saku adalah sudah sebuah gaya. Seperti ketika orang menggenggam telepon pintar jaman sekarang!
Kembali ke soal lagu. Masa keemasan 'surat' telah lama berlalu, pager juga sudah lama kukut, SMS masih, lalu Facebook. Sampeyan pasti tahu, GIGI yang duluan unjuk gigi menyanyikannya; berawal dari facebook baruku... dst.
Sudah?
Belum. Karena saya masih ingin bicara tentang dangdut. Ada apa dengan dangdut?
Betul memang, sekarang tidak ada yang menyebutkan sebagai yang kampungan. Saya nilai, dangdut adalah musik yang gembira. Tengoklah, lagu sedih pun, dalam pentas-pentas dangdut, selalu diikuti goyang-riang sang penyanyi juga tentu para penonton. Lebih-lebih yang bertema riang betulan. Dan keriangan itu makin menjadi-jadi ketika dangdut di-koplo-kan. Era Ida Laila lewat lagu dengan syair mendayu-dayu nan lugu, berubah sudah. Berganti syair nakal nan binal. Yang kata-katanya terdengar lebih terasa 'bule' ketimbang masa Jefry Bule yang kondang dimasa Merry Andani, Mila Rossa, atau Yeny Eria.
Setelah itu, masa keemasan aneka goyang. Mulai ngebornya Inul, gergajinya Dewi Persik, patah-patahnya Anissa Bahar, dsb, dst.
Sekarang, disadari atau tidak, dangdut (entah untuk keberapa kalinya)dengan tega meng-kampung-kan dirinya sendiri. Selain lewat tampilan para penyanyinya yang seronok, belakangan saya dapati beberapa lagu yang syairnya jorok;. Misalnya, setelah Keong Racun, ada lagi yang lebih baru yang tak kalah 'saru'; kuhamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran tidurnya berduaan....
Duh.
Dangdut bagaimana?
Oh, apalagi itu. Karena, ibaratnya, sejak lahir procot musik jenis ini telah menempel ke gendang telinga semua orang di kampung kami. Setiap orang hajatan, atau siaran sepak bola di lapangan desa, si TOA selalu saja menyuarakan dangdut itu.
Ingat betul saya ketika para pemain turun minum dalam pertandingan bola, juga ketika si penyiar ikutan turun minum, si TOA mengudarakan si Rita Sugiarto; idaman hati kemanakah kemana engkau pergi...
Lagu, apapun jenisnya, ternyata mengikuti pula perkembangan teknologi informasi. Dulu, dulu sekali, ketika teknologi tak semaju saat ini, dan salah satu komunikasi andalan adalah lewat surat, ia mengilhami beberapa lagu. Sebutlah misalnya, Surat Cinta-nya si Erni Djohan. Tradisi surat-menyurat (cinta) ini rupanya bertahan lama. Buktinya, sampai era 80-an ia masih disuarakan. Dengan suara khas nan centil mari kita nyanyikan ini; surat cintaku yang pertama, membuat hatiku berlomba, seperti melodi yang indaahhh... kata-kata cintanya.
(Ah, suara sampeyan tak kalah bagus dengan Vinna Panduwinata rupanya!)
Sebelum Trio Macan mengaum lewat (teknologi seluler) berupa ponsel dalam tembang bertajuk SMS, ada yang ber- tit,tit,tit pagerku berbunyi, tit,tit,tit, begitu bunyinya.... (dengan irama rap lagu ini populer lewat kelompok Sweet Martabak)
Ya, Pager memang pernah menjadi populer walau tak berumur lama. Ia kalah KO lewat pukulan telak saat ditantang pendatang baru; ponsel. Setiap lewat di jalan Diponegoro sebelum kantor bank PTPN di ujung Ciliwung, ada gedung tak terawat dengan antena menjulang. Menara antena itu, gedung lumayan besar yang tak terawat itu, bukti pager pernah mengenyam masa jaya. Ya, gedung suwung itu adalah bekas markas operator pager besar; Starco.
Dulu, ditempat kerja, saya sempat difasilitasi alat yang hanya dapat menerima pesan tetapi tak mampu membalasnya itu. Di dalam angkot, ketika tiba-tiba si pager berbunyi, mengeluarkannya dari saku adalah sudah sebuah gaya. Seperti ketika orang menggenggam telepon pintar jaman sekarang!
Kembali ke soal lagu. Masa keemasan 'surat' telah lama berlalu, pager juga sudah lama kukut, SMS masih, lalu Facebook. Sampeyan pasti tahu, GIGI yang duluan unjuk gigi menyanyikannya; berawal dari facebook baruku... dst.
Sudah?
Belum. Karena saya masih ingin bicara tentang dangdut. Ada apa dengan dangdut?
Betul memang, sekarang tidak ada yang menyebutkan sebagai yang kampungan. Saya nilai, dangdut adalah musik yang gembira. Tengoklah, lagu sedih pun, dalam pentas-pentas dangdut, selalu diikuti goyang-riang sang penyanyi juga tentu para penonton. Lebih-lebih yang bertema riang betulan. Dan keriangan itu makin menjadi-jadi ketika dangdut di-koplo-kan. Era Ida Laila lewat lagu dengan syair mendayu-dayu nan lugu, berubah sudah. Berganti syair nakal nan binal. Yang kata-katanya terdengar lebih terasa 'bule' ketimbang masa Jefry Bule yang kondang dimasa Merry Andani, Mila Rossa, atau Yeny Eria.
Setelah itu, masa keemasan aneka goyang. Mulai ngebornya Inul, gergajinya Dewi Persik, patah-patahnya Anissa Bahar, dsb, dst.
Sekarang, disadari atau tidak, dangdut (entah untuk keberapa kalinya)dengan tega meng-kampung-kan dirinya sendiri. Selain lewat tampilan para penyanyinya yang seronok, belakangan saya dapati beberapa lagu yang syairnya jorok;. Misalnya, setelah Keong Racun, ada lagi yang lebih baru yang tak kalah 'saru'; kuhamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran tidurnya berduaan....
Duh.
Copy Paste
DENGAN usianya yang tak lagi muda, Hugh Hefner mengaku bahwa kehidupan seksualnya tak lagi sama dengan masa mudanya. Tapi, bos Playboy ini punya cara jitu untuk mengatasinya!
Pria berusia 85 tahun ini mengaku bahwa dirinya masih berhubungan secara aktif. Hanya saja, staminanya memang tak seprima dulu, yang membuatnya lebih pasif.
"Aku adalah penemu revolusi seksual. Aku sangat bangga atas hal ini," ujar Hefner membenarkan bahwa seks masih menjadi bagian besar dalam hidupnya.
"Tapi aku takkan bilang bahwa hal ini masih sama dengan ketika aku masih 50 tahun. Tapi kau tahu, aku adalah pria yang romantis, dan kurasa seks, atau keintiman dalam seks, adalah sebagian besar darinya," lanjutnya.
Ketika ditanya bagaimana caranya mempertahankan hubungan seksual yang aktif di usia senjanya, Hefner menjawab, "Aku hanya membiarkan gadis-gadisku yang bekerja lebih keras," jawabnya.
Insiden batalnya pernikahan Hefner dan Harris beberapa bulan yang lalu ternyata tak lantas membuatnya kapok dengan pernikahan. Hefner mengaku masih ingin menikah, walau tak menjadi prioritas baginya.
"Apa yang kucari dari hidupku adalah hubungan kasih yang romantis, ini yang paling penting. Jadi aku tak menghapus kemungkinan pernikahan, hanya saja tak menjadi prioritas besar," aku Hefner.
Hmm, kapan nih pensiun? "Aku pensiun kalau aku sudah mati. Kurasa bekerja, mencinta, dan bermain adalah alasan yang membuatku tetap hidup," pungkasnya. (spl/mae)
Serius saya mengakui, artikel diatas saya copy-paste 100% dari suatu situs. Tetapi disaat yang sama saya berdoa, juga secara serius; semoga saya dan anak turun saya terhindar dari meng-copy-paste kelakuannya!
Pria berusia 85 tahun ini mengaku bahwa dirinya masih berhubungan secara aktif. Hanya saja, staminanya memang tak seprima dulu, yang membuatnya lebih pasif.
"Aku adalah penemu revolusi seksual. Aku sangat bangga atas hal ini," ujar Hefner membenarkan bahwa seks masih menjadi bagian besar dalam hidupnya.
"Tapi aku takkan bilang bahwa hal ini masih sama dengan ketika aku masih 50 tahun. Tapi kau tahu, aku adalah pria yang romantis, dan kurasa seks, atau keintiman dalam seks, adalah sebagian besar darinya," lanjutnya.
Ketika ditanya bagaimana caranya mempertahankan hubungan seksual yang aktif di usia senjanya, Hefner menjawab, "Aku hanya membiarkan gadis-gadisku yang bekerja lebih keras," jawabnya.
Insiden batalnya pernikahan Hefner dan Harris beberapa bulan yang lalu ternyata tak lantas membuatnya kapok dengan pernikahan. Hefner mengaku masih ingin menikah, walau tak menjadi prioritas baginya.
"Apa yang kucari dari hidupku adalah hubungan kasih yang romantis, ini yang paling penting. Jadi aku tak menghapus kemungkinan pernikahan, hanya saja tak menjadi prioritas besar," aku Hefner.
Hmm, kapan nih pensiun? "Aku pensiun kalau aku sudah mati. Kurasa bekerja, mencinta, dan bermain adalah alasan yang membuatku tetap hidup," pungkasnya. (spl/mae)
Serius saya mengakui, artikel diatas saya copy-paste 100% dari suatu situs. Tetapi disaat yang sama saya berdoa, juga secara serius; semoga saya dan anak turun saya terhindar dari meng-copy-paste kelakuannya!
Gaya Saya
TAHUN berubah, gaya pun berubah.
Dulu, sekitar pertengahan tahun 80-an;
rambut agak gondrong depan, diuyek-uyek, lalu sreet... ditarik sedikit. Sudah merasa mbois. Kalau sekolah, lengan baju dipilin ketat mengikat lengan.
Sebagai cowok, dengan begitu sudah merasa sekeren Richie Ricardo.
Saya?
Tentu tidak begitu. Saya punya senjata tersendiri; kumis!
Makanya, ”Saya Rano Karno.”
Uh!
Dulu, sekitar pertengahan tahun 80-an;
rambut agak gondrong depan, diuyek-uyek, lalu sreet... ditarik sedikit. Sudah merasa mbois. Kalau sekolah, lengan baju dipilin ketat mengikat lengan.
Sebagai cowok, dengan begitu sudah merasa sekeren Richie Ricardo.
Saya?
Tentu tidak begitu. Saya punya senjata tersendiri; kumis!
Makanya, ”Saya Rano Karno.”
Uh!
Berbagi Sebagian
"BUNGA (bukan nama sebenarnya) janda lagi", begitu --antara lain-- bunyi SMS dari nomor tak saya kenal yang mampir ke HP jadul saya di sebuah sore.
Tapi dari karakter pesan dan bahasanya saya kenal. Setidaknya 99,9% saya tebak dia oknumnya.
Tapi itu menjadi tak penting. Setakpenting isi pesannya. Bukan saya tak peduli teman, bukan. Tapi ketika masuk ke zona pribadi, saya menjadi penakut. Takut salah sangka, takut keliru menilai. Dan ketakutan saya itu harus saya pupuk agar tak ambruk. Agar saya tak salah masuk ke hal-hal yang seharusnya tak saya masuki. Tak peduli sudah janda atau belum (semoga jangan, sejangan saya menjadi duda. Hm?) Sebagai teman kita memang berhak berbagi, tapi tetap sebagian saja. Dan bagian terbesar seyogianya tetaplah milik pribadi. Bukankah begitu?
“Siapa janda lagi?,” tanya teman lain tengah malam tadi.
Siapa?
Atau, siap-A atau siap-B? Tidak ada. Karena bukankah memang telah saya bilang; itu tidak penting. Ia bisa jadi sekadar kabar burung, sekadar kabar kabur. Lalu? Ya lalukan saja!
Tapi dari karakter pesan dan bahasanya saya kenal. Setidaknya 99,9% saya tebak dia oknumnya.
Tapi itu menjadi tak penting. Setakpenting isi pesannya. Bukan saya tak peduli teman, bukan. Tapi ketika masuk ke zona pribadi, saya menjadi penakut. Takut salah sangka, takut keliru menilai. Dan ketakutan saya itu harus saya pupuk agar tak ambruk. Agar saya tak salah masuk ke hal-hal yang seharusnya tak saya masuki. Tak peduli sudah janda atau belum (semoga jangan, sejangan saya menjadi duda. Hm?) Sebagai teman kita memang berhak berbagi, tapi tetap sebagian saja. Dan bagian terbesar seyogianya tetaplah milik pribadi. Bukankah begitu?
“Siapa janda lagi?,” tanya teman lain tengah malam tadi.
Siapa?
Atau, siap-A atau siap-B? Tidak ada. Karena bukankah memang telah saya bilang; itu tidak penting. Ia bisa jadi sekadar kabar burung, sekadar kabar kabur. Lalu? Ya lalukan saja!
Selasa, 20 September 2011
Harga Raga
Ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana.
Sebaris kalimat tadi adalah peribahasa Jawa yang pertama saya terima di bangku sekolah dasar. Terjemahan bebasnya; berharganya diri seseorang dinilai dari tuturkatanya, berharganya tubuh seseorang dinilai dari busana yang dikenakannya.
Untuk jenis pertama, saya bisa temukan padanan dalam kalimat; mulutmu harimaumu. Untuk kalimat ajining raga saka busana, saya gagal menemukan padanannya. Tetapi bisa menunjukan contoh nyata. Begini, suatu hari saya melintas di jalan Wonokromo ke arah Bonbin. Karena palang pintu KA sedang tertutup di dekat RSI. Bersama sekian banyak pengendara saya berhenti. Suara ting-tung,ting-tung disusul pemberitahuan dari speaker agar pengguna jalan mendahulukan kereta api menjadi suara lain yang terdengar diantara deru mesin sekian banyak mobil dan (mungkin) ribuan motor.
Beberapa saat dalam suasana begitu. Saya melempar pandang kesana-kemari. Dan, didekat pos petugas KA, saya dapati lelaki yang wajahnya saya kenali. Berjalan membawa buntalan di pundaknya. Berbaju rapi, bercelana rapi. Berjalan normal. Normal? Iya, stidaknya ia tidak seperti ketika beraksi didekat lampu merah Jemursari.
Kalau di Jemursari, lelaki itu rela berjemur-jemur ria, ngesot, dengan lutut dibebat perban kotor kumal. Menadahkan tangan ke para pengendara, dengan balutan wajah memelas. Hasilnya, beberapa lembar ribuan dan gemerincing rasa iba dilempar ke arahnya. Ia 'pemain sandiwara' yang fasih. Dengan penjiwaan yang total. Dengan kostum yang mendukung. Kecerdasan lainnya, ia tahu dalam menempatkan diri. Ia 'empan papan', menurut istilah Jawa.
Ketika mengemis berkumal ria, namun dalam keseharian, oh tunggu dulu. Raga harus dihargakan. Karena, ajining raga saka busana.
Suatu kali saya diajak seorang teman yang bagian purchasing untuk membeli barang yang saya butuhkan. Karena barang itu harus sama persis dengan yang akan diganti, si staf purchasing itu sampai perlu mengajak saya agar tidak keliru beli. Untuk membeli barang itu, sasaran yang dituju sudah jelas; jalan Baliwerti.
Setelah surat jalan dan sejumlah uang kami terima, meluncurlah kami keluar kantor. Langsung ke Baliwerti? Tentu tidak. Karena si teman tadi mengajak saya mampir kerumahnya dulu di Dukuh Pakis. Untuk apa? Ganti kostum.
Setelah sekian lama di bagian purchasing, ia tahu betul, para penjual sering menjual barang dengan harga lebih mahal kepada pembeli yang berdandan rapi. Dan akan memberi harga miring kepada yang berdandan compang-camping, sekalipun jenis dan mutu barang sama.
Begitulah. Sekali lagi; ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana. Kalau ajining fesbuker? Saka status!
Salam.
Sebaris kalimat tadi adalah peribahasa Jawa yang pertama saya terima di bangku sekolah dasar. Terjemahan bebasnya; berharganya diri seseorang dinilai dari tuturkatanya, berharganya tubuh seseorang dinilai dari busana yang dikenakannya.
Untuk jenis pertama, saya bisa temukan padanan dalam kalimat; mulutmu harimaumu. Untuk kalimat ajining raga saka busana, saya gagal menemukan padanannya. Tetapi bisa menunjukan contoh nyata. Begini, suatu hari saya melintas di jalan Wonokromo ke arah Bonbin. Karena palang pintu KA sedang tertutup di dekat RSI. Bersama sekian banyak pengendara saya berhenti. Suara ting-tung,ting-tung disusul pemberitahuan dari speaker agar pengguna jalan mendahulukan kereta api menjadi suara lain yang terdengar diantara deru mesin sekian banyak mobil dan (mungkin) ribuan motor.
Beberapa saat dalam suasana begitu. Saya melempar pandang kesana-kemari. Dan, didekat pos petugas KA, saya dapati lelaki yang wajahnya saya kenali. Berjalan membawa buntalan di pundaknya. Berbaju rapi, bercelana rapi. Berjalan normal. Normal? Iya, stidaknya ia tidak seperti ketika beraksi didekat lampu merah Jemursari.
Kalau di Jemursari, lelaki itu rela berjemur-jemur ria, ngesot, dengan lutut dibebat perban kotor kumal. Menadahkan tangan ke para pengendara, dengan balutan wajah memelas. Hasilnya, beberapa lembar ribuan dan gemerincing rasa iba dilempar ke arahnya. Ia 'pemain sandiwara' yang fasih. Dengan penjiwaan yang total. Dengan kostum yang mendukung. Kecerdasan lainnya, ia tahu dalam menempatkan diri. Ia 'empan papan', menurut istilah Jawa.
Ketika mengemis berkumal ria, namun dalam keseharian, oh tunggu dulu. Raga harus dihargakan. Karena, ajining raga saka busana.
Suatu kali saya diajak seorang teman yang bagian purchasing untuk membeli barang yang saya butuhkan. Karena barang itu harus sama persis dengan yang akan diganti, si staf purchasing itu sampai perlu mengajak saya agar tidak keliru beli. Untuk membeli barang itu, sasaran yang dituju sudah jelas; jalan Baliwerti.
Setelah surat jalan dan sejumlah uang kami terima, meluncurlah kami keluar kantor. Langsung ke Baliwerti? Tentu tidak. Karena si teman tadi mengajak saya mampir kerumahnya dulu di Dukuh Pakis. Untuk apa? Ganti kostum.
Setelah sekian lama di bagian purchasing, ia tahu betul, para penjual sering menjual barang dengan harga lebih mahal kepada pembeli yang berdandan rapi. Dan akan memberi harga miring kepada yang berdandan compang-camping, sekalipun jenis dan mutu barang sama.
Begitulah. Sekali lagi; ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana. Kalau ajining fesbuker? Saka status!
Salam.
Teknik Luar Duga
"SAYA suka cerpen-cerpen Mohammad Diponegoro. Banyak kejutan muncul di sana. Hebatnya, kejutan-kejutan terbaik muncul di ujung cerita dengan alasan yang terkadang sulit ditebak sejak dari paragraf pertama. Kontrol yang kuat atas jalannya alur cerita menyebabkan pembaca selalu terjebak dalam perkiraan yang salah. Itulah peristiwa penting di akhir cerita yang disebut dengan “akhir-luar-duga.”
Seno Gumira Ajidarma juga menggunakan teknik seperti ini pada beberapa ceritanya. Sebutlah misalnya cerpen “Manuel” dalam buku kumpulan “Saksi Mata”. Saya suka sekali kejutan dalam cerita itu. Ya, kejutan itu tak ubahnya tamparan dalam sedetik setelah dielus-elus selama satu jam. Begitulah kejutan yang digemari dalam cerita rekaan, namun sangat ditakutkan bila terjadi dalam kenyataan,” begitu, (panjang) lebar sahabat (maya) saya mengomentari salah satu tulisan saya di FB.
Sungguh, saya bukan pembaca yang baik. Makanya, kalau sahabat tadi menyebut dua nama cerpenis kondang diatas, saya merasa asing saja. Bukan apa-apa. Tetapi karena saya memang ‘belum akrab’ dengan tulisan-tulisan beliau. Disudut lain, kalau saja beberapa tulisan saya ‘nyaris’ sebagai gaya ‘akhir-luar-duga’ (wah, GR nih!), entahlah kenapa. Saya hanya menulis saja. Suka saja dengan cara mengejutkan begitu.
Tidak ada kebetulan yang benar-benar betul. Pasti ada yang memengaruhi sebuah gaya. Sekali lagi, entahlah.
Yang jelas, saya dulu suka membaca gaya Arswendo Atmowiloto yang saban Selasa (kalau tidak salah ingat) saya temui di (alm) Monitor. Juga, Veven Sp Wardhana yang sesekali juga nongol di tabloid yang sama. Selebihnya, saya suka Markesot Bertutur-nya cak Nun. Yang kala itu rutin nongol di Surabaya Post. Atau sesekali membaca Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad lewat majalah Tempo edisi bekas. Belakangan ini saya agak sering membaca tulisan-tulisan Prie GS dan AS. Laksana. (Tentang istilah majalah bekas, buku bekas dan sejenisnya, kok saya kurang setuju. Tidak ada yang bekas, saya kira, untuk barang-barang cetakan begitu. Hanya edisi lama, tetapi bukan bekas menurut saya. Buktinya, saya tetap saja menikmati dan bisa mendapatkan ‘sesuatu’ ketika membaca majalah Intisari terbitan belasan tahun lalu, misalnya. Majalah, buku dan sejenisnya itu laksana guru. Tak patut saya menyebut bekas untuk seorang guru SD saya. Beliau tetap guru saya. Bukan bekas guru saya.)
Tentang teknik ‘akhir-luar-duga’ ini rupanya juga digunakan anak sulung saya. Hal ini saya dapati ketika hari Minggu pagi saya bersama dia dan si bungsu jalan-jalan ke kawasan industri Rungkut (SIER) yang memang hanya berjarak tak lebih dari 75 meter dari rumah saya.
Dalam jalan-jalan pagi itu, diantara lalu-lalang orang-orang berolahraga, si sulung bercerita kepada saya,
“Bapak, aku punya cerita,” katanya.
Sambil menuntun si bungsu saya bersiap mendengarkan.
“Cerita ini berisi empat kisah keseharian anak dan bapaknya,” ia melanjutkan. “Pertama; ketika berangkat sekolah si anak diantar oleh bapaknya memakai motor. Sampai di suatu persimpangan, si bapak belok kanan,padahal arah sekolah ke kiri. “Lho, pak. Kok ke kanan, kan sekolahku kekiri,” si anak protes. “Kan terserah bapak. Yang pegang kemudi kan bapak.” Itu kisah pertama. Kisah kedua; keesokan harinya, pada suatu sore si anak diminta bapaknya membelikan kopi di warung dekat rumah. Tetapi lama ditunggu belum datang juga. Begitu datang, ” Beli kopi dimana kamu kok lama sekali?” tanya bapaknya. “Ke minimarket,” jawab si anak. “Kan bapak suruh ke warung sebelah, kenapa ke minimarket yang lebih jauh?” protes bapaknya. “Kan terserah saya. Yang berangkat beli kan saya.” Itu kisah kedua. Sekarang kisah keempat...”
“Lho kok langsung keempat, yang ketiga bagaimana?” saya protes.
“Lho, kan terserah aku. Yang cerita kan aku,” jawab anak saya sambil cekikikan. “Kena, deh,” imbuhnya.
Uh, semprul!
Seno Gumira Ajidarma juga menggunakan teknik seperti ini pada beberapa ceritanya. Sebutlah misalnya cerpen “Manuel” dalam buku kumpulan “Saksi Mata”. Saya suka sekali kejutan dalam cerita itu. Ya, kejutan itu tak ubahnya tamparan dalam sedetik setelah dielus-elus selama satu jam. Begitulah kejutan yang digemari dalam cerita rekaan, namun sangat ditakutkan bila terjadi dalam kenyataan,” begitu, (panjang) lebar sahabat (maya) saya mengomentari salah satu tulisan saya di FB.
Sungguh, saya bukan pembaca yang baik. Makanya, kalau sahabat tadi menyebut dua nama cerpenis kondang diatas, saya merasa asing saja. Bukan apa-apa. Tetapi karena saya memang ‘belum akrab’ dengan tulisan-tulisan beliau. Disudut lain, kalau saja beberapa tulisan saya ‘nyaris’ sebagai gaya ‘akhir-luar-duga’ (wah, GR nih!), entahlah kenapa. Saya hanya menulis saja. Suka saja dengan cara mengejutkan begitu.
Tidak ada kebetulan yang benar-benar betul. Pasti ada yang memengaruhi sebuah gaya. Sekali lagi, entahlah.
Yang jelas, saya dulu suka membaca gaya Arswendo Atmowiloto yang saban Selasa (kalau tidak salah ingat) saya temui di (alm) Monitor. Juga, Veven Sp Wardhana yang sesekali juga nongol di tabloid yang sama. Selebihnya, saya suka Markesot Bertutur-nya cak Nun. Yang kala itu rutin nongol di Surabaya Post. Atau sesekali membaca Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad lewat majalah Tempo edisi bekas. Belakangan ini saya agak sering membaca tulisan-tulisan Prie GS dan AS. Laksana. (Tentang istilah majalah bekas, buku bekas dan sejenisnya, kok saya kurang setuju. Tidak ada yang bekas, saya kira, untuk barang-barang cetakan begitu. Hanya edisi lama, tetapi bukan bekas menurut saya. Buktinya, saya tetap saja menikmati dan bisa mendapatkan ‘sesuatu’ ketika membaca majalah Intisari terbitan belasan tahun lalu, misalnya. Majalah, buku dan sejenisnya itu laksana guru. Tak patut saya menyebut bekas untuk seorang guru SD saya. Beliau tetap guru saya. Bukan bekas guru saya.)
Tentang teknik ‘akhir-luar-duga’ ini rupanya juga digunakan anak sulung saya. Hal ini saya dapati ketika hari Minggu pagi saya bersama dia dan si bungsu jalan-jalan ke kawasan industri Rungkut (SIER) yang memang hanya berjarak tak lebih dari 75 meter dari rumah saya.
Dalam jalan-jalan pagi itu, diantara lalu-lalang orang-orang berolahraga, si sulung bercerita kepada saya,
“Bapak, aku punya cerita,” katanya.
Sambil menuntun si bungsu saya bersiap mendengarkan.
“Cerita ini berisi empat kisah keseharian anak dan bapaknya,” ia melanjutkan. “Pertama; ketika berangkat sekolah si anak diantar oleh bapaknya memakai motor. Sampai di suatu persimpangan, si bapak belok kanan,padahal arah sekolah ke kiri. “Lho, pak. Kok ke kanan, kan sekolahku kekiri,” si anak protes. “Kan terserah bapak. Yang pegang kemudi kan bapak.” Itu kisah pertama. Kisah kedua; keesokan harinya, pada suatu sore si anak diminta bapaknya membelikan kopi di warung dekat rumah. Tetapi lama ditunggu belum datang juga. Begitu datang, ” Beli kopi dimana kamu kok lama sekali?” tanya bapaknya. “Ke minimarket,” jawab si anak. “Kan bapak suruh ke warung sebelah, kenapa ke minimarket yang lebih jauh?” protes bapaknya. “Kan terserah saya. Yang berangkat beli kan saya.” Itu kisah kedua. Sekarang kisah keempat...”
“Lho kok langsung keempat, yang ketiga bagaimana?” saya protes.
“Lho, kan terserah aku. Yang cerita kan aku,” jawab anak saya sambil cekikikan. “Kena, deh,” imbuhnya.
Uh, semprul!
Langganan:
Postingan (Atom)