Kamis, 10 Mei 2012

Gambas Kukus nan Mulus

MASA lalu seringkali bikin rindu. Tentang apa pun. Temasuk makanan. Maka, dalam nuansa rindu itu, saya seringkali menikmati ingatan tentang jaman bahuela itu. Karena memang bukan keluarga berpunya, makan sehari-hari kami terkesan apa adanya. Walau kadang juga pernah seharian tidak ada. Untunglah masih ada pohon pisang yang lagi berbuah. Ia, sekalipun masih belum cukup umur, bisa juga dimasak sebagai ganjal perut. Kalu tidak begitu, emak akan memasak nangka muda sebagai sayur. Jadilah ia menu makan yang lumayan, sekalipun tampil di piring secara solo; tanpa nasi.

Maka, ketika ada tetangga yang menggelar kenduri (selamatan) itulah saat dimana perut kami akan kemasukan sepotong daging ayam atau sebutir telur dibagi sekeluarga.

Sudahlah. Itu masa lalu. Dan itu cerita tempo doeloe.

Sampai sekarang saya masih terkenang beberapa menu masakan ibu. Yang juga saya kangeni ini; eseng-eseng daun genjer. Itu, kalau dimakan pakai nasi hangat dengan lauk ikan asin pun sudah membuat makan saya luar biasa mak-nyus-nya. Ketika saya lagi pulang kampung dan ibu tampak akan sibuk memasak neko-neko, saya stop saja. Dan saya hanya memesan dimasakkan eseng-eseng genjer saja.

Satu lagi, nasi hangat, buah gambas dikukus, dimakan dengan sambal terasi, wih sudah sedemikian segar bagi saya. Maka, suatu hari beberapa tahun yang lalu, ketika saya sedang rindu menu sepele itu, sebelum berangkat kerja, saya minta istri saya untuk membuat sambal terasi lengkap dengan buah gambas kukus untuk menu makan malam saya nanti.

Sebagai putri Lamongan, istri saya lebih akrab dengan ikan bandeng, tombro atau udang ketimbang aneka sayuran. Kalaulah memasak sayur, seingat saya, itu hanya berkutat pada bahan; kacang panjang, terong, sawi, nangka muda atau pare welut (di Lamongan disebut 'oler'). Padahal di kampung saya sana, hanya daun bambu dan daun pintu saja yang tidak dimasak orang! (hehe... lebay ya?) Sekalipun begitu, saya pikir, mengukus buah gambas tentu hanyalah pekerjaan ringan.

Sepulang kerja, sehabis sholat magrib saya langsung makan. Lidah saya sudah kemecer membayangkan segarnya gambas kukus. Sementara, istri saya sedang mengaji di musholla.

Membuka lemari makan, saya lihat di cobek telah tampil sambal terasi. Di piring, di dekat cobek itu, ada benda putih kecil seukuran jari telunjuk berjajar sepanjang sekitar lima belas centi. Saya masih celingukan, mana gambas kukusnya?

Siapapun tahu, gambas itu warnanya hijau dengan kulit yang agak kasar.. Dan dikukus pun warna dan bentuknya tidak akan berubah. Saya penasaran dengan benda putih setelunjuk itu. Saya dekatkan ke hidung. Hm, saya ingat aromanya. Ya, ini buah gambas. Tetapi kok mengkerut menjadi sedemikian kecilnya. Sudah gitu, kok warnanya jadi putih mulus?

Rupanya istri saya tadi begitu sempurna mengulitinya sehingga si gambas hanya nyaris tersisa sebagai bijinya saja. Hm... *****

Selasa, 08 Mei 2012

Tak Punya Kartu, Tak Punya Malu


     SELEMBAR kartu seringkali adalah hal penting. SIM, KTP, ATM, pasport dan sebagainya. Dulu, karena KTPnya ketlisut, ketika hendak pergi jauh, bapak selalu meminta saya menuliskan nama dan alamat pada selembar kertas untuk dijadikan pegangan. Ini lebih kepada kekhawatiran, sebenarnya. Logika jalan pikiran bapak begini; kalau ada apa-apa di jalan, paling tidak di sakunya telah ada identitas yang orang bisa menentukan siapa yang harus dihubungi. Tidak lantas begitu saja dinobatkan sebagai Mr X. Dan syukurlah, tidak ada yang pernah menghubungi kami, karena bapak selalu tidak tertimpa apa-apa dalam bepergian itu..
     Kartu pula yang menjadi penentu boleh tidaknya orang menerima BLT. Dan sekarang, ketika pemerintah sedang memikirkan cara apa yang harus digunakan untuk membuat subsisi BBM tepat sasaran, saya kira, nanti pun akan berupa sebuah kartu. Namun karena oarng sudah semakin pintar, tentu saja kartunya nanti adalah smart card.
     Barusan saya membayar rekening PDAM, dan apesnya, bukti pembayaran sudah dibawa petugas penagih. Untuk sebagai bukti saya telah melunasinya, saya hanya menerima kertas kecil sebagai tanda terima. Nanti, pesan petugas loket, kalau penagih datang ke rumah saya, kartu kecil itu bisa ditukar dengan lembaran besar sebagaimana mestinya.
     Pulang dari loket PDAM di Rungkut Asri, saya lewat lapangan bola dekat masjid Al Maghfiroh. Saya lihat di sisi barat ada tenda. Di sisi selatan tenda itu berjajar tiga truk yang baknya penuh barang sembako. Ada beras, gula dan minyak goreng. Di bawah tenda itu saya lihat ada antrean yang tak seberapa panjang. Keluar dari antrean itu orang selalu memondong belanjaan. Ya beras, ya gula, ya minyak goreng.
     “Berapa, bu?” tanya saya pada perempuan setengah baya yang memondong dua plastik beras masing-masing seberat 6 kilogram.
     “Tiga puluh ribu, mas,” jawabnya.
     Hitungan matematisnya, per kilo hanya seharga lima ribu rupiah. Dibanding beras yang saya konsumsi seharga tujuh ribu tiga ratus, itu tentu saja murah. Karena, sebagaimana tertera pada sepanduk dan umbul-umbul yang berdiri di sekitar tenda itu, acara itu dinamakan pasar murah BUMN Peduli. Saya kira itu bentuk dari CSR-nya BUMN.
     Karena murah, tentu saja saya tergiur. Dan, saya intip isi dompet, ada beberapa lembar dua ribuan, selembar lima puluh ribuan plus satu lembar nominal duapuluh ribuan. Saya pikir ini cukup untuk membeli dua paket. Dan masih susuk sepuluh ribu lebih beberapa lembar dua ribuan!
     Langsung saja saya menuju tempat parkir dadakan yang dijaga seorang lelaki yang berbicara dengan logat Madura. Kepadanya menitipkan motor. Langkah selanjutnya saya langsung ikut mengantre. Karena antrean tak begitu panjang, berdiri belum lama saya sudah tepat di depan meja yang dijaga perempuan berjilbab.
     “Saya ambil beras dua paket,” kata saya sambil menyodorkan uang enam puluh ribu rupiah.
     “Kartunya, Pak?” tanya perempuan itu.
     “Kartu? Kartu apa?” saya balik bertanya.
     “Bapak sudah terima kartu untuk pengambilan sembako?”
     Pleg!  Saat itu matahari serasa hanya menyinari muka saya. Sampai merah. Sampai panas. Malu.
     Saya menelan ludah sambil melihat sekeliling. Tatapan saya membentur selembar sepanduk yang rupanya tadi luput dari pandangan. Dengan jelas di situ tertulis; Sembako Murah Untuk Orang Tidak Mampu.
     Betul, saya masih mampu membeli beras seharga tujuh ribu tigaratus perkilogram, mampu membeli telur untuk lauknya, mampu membeli kerupuk sebagai pemeriah acara makan, tetapi saat tadi itu saya termasuk golongan orang yang tidak mampu menahan diri.*****

Senin, 07 Mei 2012

Dahlan Iskan = Khrisna Pabichara?

      SAMPEYAN  punya teman seorang penulis? Dan suatu ketika sampeyan membaca dalam tulisan (fiksi) nya ada tokoh rekaannya yang mirip sekali dengan sifat sampeyan? Atau kisahnya ada yang agak persis dengan yang pernah sampeyan alami?     Maka, curigailah dia sebagai sedang mencuri kisah dan sifat sampeyan. Tetapi karakter itu tidak semuanya mirip dengan sifat sampeyan, atau plot ceritanya (tentu juga termasuk endingnya) tidak sama persis dengan yang sampeyan alami? Tetap saja sampeyan curigai itu sebagai sedang ‘memotret’ sampeyan. Benar, tidak semua mak-plek  sama dengan semua hal tentang sampeyan. Tetapi, sampeyan tahu, dalam menulis fiksi, sering sekali penulis tidak menciptakan karakter atau kisah. Ia hanya mencuri ‘milik’ orang yang sudah dikenalnya. Untuk satu tokoh dalam ceritanya, ia bisa saja menggabungkan karakter dari tiga temannya. Jadilah ia tokoh baru, dengan karakter baru (gabungan tiga karakter). Tentang cerita pun, setali tiga uang.
     Kalau mencuri karakter begitu bisa dengan gampang dilakukan, apalagi menulis karakter diri sendiri, tentu lebih mudah lagi, kan. Makanya jangan percaya bila tulisan fiksi seorang penulis benar-benar seratus persen fiksi. Bisa jadi ia (penulis) adalah termasuk dalam salah satu tokohnya, atau hanya sebagai sebatang kalimat dalam satu dialog pendek saja. Tetapi tidak menutup kemungkinan penulis menjadi tokoh utama macam Ikal di Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata.
     Kemarin, (Minggu 6 Mei 2012) setelah membaca cerpen berjudul Sepatu di Jawa Pos, saya curiga itu adalah kisah asli. Dengan nama tokoh asli, lokasi asli, plot asli. Satu saja yang palsu; nama penulisnya. Dan itu pun adalah sah-sah saja. Arswendo Atmowiloto ketika dipenjara karena kasus tabloid Monitor dulu, juga memakai nama palsu untuk tulisannya yang ia kirim dari balik jeruji penjara. Maka, Khrisna Pabichara sebagai nama ‘pengarang’ cerpen Sepatu  itu pun tidak mempunyai kesalahan apapun (seandainya) juga melakukannya. Tetapi ketika membaca kata demi kata, paragraf demi paragraf cerpen itu, saya menjadi ingat sesuatu. Ingat buku yang pernah saya beli di Toga Mas Diponegoro pada 22 November tahun 2007 yang lalu. Judul buku itu Ganti Hati. Penulisnya Dahlan Iskan. Jadi Khrisna Pabichara adalah Dahlan Iskan?
     Pada bagian ketiga dari tujuh bagian cerpen itu, saya sudah memupuk keyakinan bahwa penulisnya adalah Dahlan Iskan. Pada paragraf ketiga dibagian itu penulis yang menyebut ‘aku’ sebagai tokoh utamanya, menyebut dua nama kakaknya; Atun dan Sofwati. Saya lalu meluncur ke buku Ganti Hati, dan mendapati dua nama itu terpampang di halaman 4 dan 5. Kakak si ‘aku’ itu, yang Sofwati meninggal muda (32 tahun), sementara Atun (dalam Ganti Hati disebut lengkap; Khosiyatun)masih ‘sugeng’ dan masih aktif mengajar di sebuah SD swasta di Samarinda. Lebih-lebih ketika penulis menyebut nama Iskan diawal paragraf bagian keempat. Lebih-lebih (lagi) penulis membuat dialog pada paragraf keempat bagian kelima, “Dahlan, tolong ambilkan Ibu segelas air, Nak.”
     Saya memang tidak mendapatkan cerita tentang betapa multi fungsinya sebuah benda bernama sarung di cerpen itu sebagaimana saya bisa nikmati di Ganti Hati. Tetapi tentang pakaian sekeluarga yang tak seberapa banyak dan cukup hanya dicantolkan dipaku yang ditancapkan ke dinding (paragraf ketiga di bagian tiga), ini pun saya temui dihalaman 198 buku Ganti Hati yang sekarang sudah naik cetak entah untuk kali keberapa ini.
     Sebagai cerpen berjudul Sepatu  ia terasa lebih memotret sakitnya ibu ketimbang tentang sepatu itu sendiri. Sepatu pertama yang hanya barang bekas saja. Yang bagian ujungnya jebol. Yang hanya dikenakan hari Senin saat upacara bendera  saja. Kalaulah sampai sekarang Khrisna Pabichara, eh Dahlan Iskan, senang sekali memakai sepatu (kets), alasannya, “Dulu pernah pakai sepatu kulit, tapi lecet. Sakit. Pakai kets tidak,” kurang lebih begitu kata Dahlan Iskan ketika ditanya Najwa Shihab pada Mata Najwa di Metro TV seminggu yang lalu. Apakah sepatu kets adalah sebagai pencitraan bahwa itu barang sederhana yang murah? “Oh, sepatu saya ini mahal lho...” cetus Dahlan.
     Cerpen memang artinya cerita pendek. Dan terlepas dari Khrisna Pabichara itu Dahlan Iskan atau bukan, sebagai pembaca Ganti Hati, saya merasa cerpen ini 'bahan bakunya' dari buku itu.*****

Jumat, 04 Mei 2012

Dua Sahabat Meneropong Porong

Wina Bojonegoro dengan buku Korsakov.
Sumber foto: Google Images
NGGAK pakai cap bibir juga, ta?” mbak Wina Bojonegoro membalas SMS saya agar jangan lupa menandatangani buku kumcer yang akan dikirimkan kepada saya.

Karena sebagai canda, tentu saja ketika buku itu saya terima, tidak saya dapatkan cap bibir perempuan penulis yang mengambil pensiun dini dari PT Telkom itu. Selebihnya, malah saya dapati foto mendiang Lan Fang pada halaman depan. Ya, buku itu memang juga dipersembahkan untuk mendiang sahabatnya itu. Begini tulisnya; Untuk Lan Fang. "Mati indah, kau indah, jejakmu indah."

(Tulisan saya yang lain tentang mendiang Lan Fang bisa dibaca disini.)

Sekalipun saya juga dipesani agar ikut mengkritisi buku kumpulan cerpen berjudul Korsakov itu, sepertinya saya tidak berani melakukannya. Bagaimana mungkin, tulisan saya yang masih belepotan begini harus mengkritisi penulis senior itu. Makanya, saya hanya terus saja membaca belasan cerpen dalam buku itu. Dan membaca Korsakov (berisi delapan belas cerpen, satu diantaranya adalah --Seruni-- potongan kisah dari novel The Souls III, dan tidak semua cerpen dalam buku ini pernah dipublikasikan di media massa) yang menurut Nita Tjindarbumi, sebagai layaknya kita sedang menyaksikan reportase televisi (Lampung Post, Minggu 8 April 2012).


Karena hanya sebagai foto dari upload selular di Facebook, saya tak membaca lengkap resensi itu. Tetapi dalam buku kumpulan cerpen ini, saya dapati setting cerita memang kemana-mana. Ada yang hanya di sebuah jembatan Rolak Gunungsari Surabaya, di stasiun Pasar Turi, sampai Glasgow, sampai Korsakov (eh, ternyata Korsakov adalah nama kota, sekaligus nama tokoh utama salah satu cerpen dalam buku itu). Dua kota lagi, yang sekarang saya ingat, yang juga sebagai judul cerpennya, adalah Antara Porong – Jakarta.

Membaca Porong – Jakarta, langsung saja saya ingat Lan Fang yang juga pernah membidik cerita dengan lakon agak sama, dengan setting sama. Saya curiga, cerpen itu lahir karena dua sahabat itu pernah (baca: sering) berbakti sosial di penampungan pengungsi korban lumpur Lapindo di pasar Porong.

Bedanya, pada cerpen mbak Wina, tokoh utamana 'aku', seorang guru SD swasta bergaji 250 ribu sebulan, mempunyai dua adik (satu SMP, yang satunya lagi sudah SMA), sementara pada cerpen Lan Fang tokoh utamanya Pipin, usia delapan tahun, mempunyai dua kakak namanya Olap dan Ndo. Samanya lagi, tokoh utama dan keluarganya terpaksa mengungsi ke pasar Porong karena luberan lumpur menenggelamkan kampung mereka. Setting ketika cerita itu dibikin, 'aku' sudah mengungsi selama setahun, sementara Pipin dalam tulisan Lan Fang (yang digambarkan sebagai anak yang kurang pandai berhitung) sudah mengungsi selama 365 hari. Sama.

Pada cerpen Wina, nama lokasi dibilang sebenarnya, Porong, Reno Kenongo atau Besuki. Pada cerpen Lang Fang (judulnya Pok Ame-ame, dimuat pertama kali oleh Pikiran Rakyat, Bandung), ia bermain plesetan walau tidak terlalu meleset jauh. Misalnya Porong ia ganti sebagai Rongrong, dan luberan lumpur itu digambarkan sebagai ular peliharaan Tuan Bakir (tentu maksudnya Bakrie) yang sedang kelaparan setelah bertapa ribuan tahun. Sementara si Tuan Bakir sendiri tinggal di nirwama (Ah, saya jadi teringat nama Bali Nirwana Resort, atau belakangan rumah ganti rugi korban Lapindo itu bernama Kahuripan Nirwana Village). Pendek kata, saya duga, nirwana dimaui Lan Fang sebagai nama tempat yang senang sekali Tuan Bakir, eh, Bakrie menamainya begitu.

Kembali ke lokasi pengungsian, disitu Wina mengatakan bahwa segalanya serba terbatas. Bahkan sering sekali ia dan adik-adiknya ketika tengah malam mendengar suara dari kasur sebelah yang tidak pantas didengar telinga adiknya. Tentu kita paham apa maksudnya. Dengan caranya sendiri, Lan Fang menyebut suara dari kasur sebelah itu adalah tingkah orang tua yang sedang main petak umpet dan atau pok ame-ame. Keadaan yang serba tak nyaman itu, adalah penderitaan lanjutan dari kejaran ular lapar yang terus menelan lebih luas tanah Rongrong. Tetapi, penderitaan (bisa) membuat orang menjadi pintar.

Kepintara pulalah yang membuat tokoh 'aku' ikut ke Jakarta untuk berdemo di depan gedung DPR. Ke Jakarta itu, selain untuk memperjuangkan nasib, sekaligus juga untuk 'tamasya'. Karena, seumur hidup, 'aku' itu belum pernah menginjakkan kaki ke situ. Tetapi semua ternyata tak sesuai rencana. Demo yang diharapkan berlangsung damai, setelah bergabungnya para simpatisan yang turut serta, malah menjadi anarkis. Yang akhirnya terpaksa dibubarkan aparat keamanan. Sampai 'aku' bersama Bu Min terpisah dari rombongan. Sampai malam. Sampai mereka kelelahan dan terlantar di sebuah taman.

Ending dari cerpen Wina itu mengajak pembaca untuk ikut memikirkan. Karena, ditaman itu, mereka berdua lalu didatangi seorang lelaki bernama Yono yang menawarkan 'solusi' agar ikut dengannya saja. Begini katanya, "Tidak usah bingung. Mari ikut saya. Di tempat saya banyak perempuan bernasib sama dengan kalian. Tapi mereka akhirnya enggan pulang, karena di sini segalanya bisa didapat dengan mudah." (hal. 40).

Lan Fang tidak. Maksudnya tidak menerbangkan tokoh utamanya sampai ke Jakarta untuk demo. Ayah Pipin ternyata tidak mempunyai selembar data pun atas rumah dan tanahnya yang adalah benda sangat penting untuk mendapatkan ganti rugi. Itu tentu adalah juga penderitaan tambahan. Tetapi karena tokoh utamanya adalah anak umur delapan tahun, mana tahu ia tentang itu. Yang ia tahu sekarang kakaknya sudah dapat memberinya uang jajan yang bisa ia pakai untuk membeli telur puyuh kegemarannya. Uang itu diperoleh kakaknya dari menjual jasa menunjukkan jalur alternatif bagi para pengemudi yang tidak tahu jalan menuju Pandaan atau Malang akibat jalan raya Rongrong sering macet total..

Sebagaimana dalam cerpen Lan Fang yang berjudul Ambilkan Bulan, Bu, pada cerpen Pok Ame-ame ini pun Lan Fang menutup ceritanya dengan mengajak pembaca ikut menyanyi. Menyanyi lagu yang nyaris semua orang bisa. Nyanyian anak-anak yang dilagukan sambil mengajaknya bertepuk tangan; pok ame-ame belalang kupu-kupu, siang makan lumpur kalau malam minum lumpur....*****

Rabu, 02 Mei 2012

Ketabrak Roda

KALAU memang sudah banyak omong (dan akal), ada saja ucapan supaya terdengar gagah. Ketika kecelakaan, misalnya. Pernah saya dengar seorang teman dengan bangga bercerita dirinya bisa selamat dari kecelakan motor. Sekalipun tunggangannya remuk, tetapi ia bisa masih segar bugar karena, “Untung aku masih sadar dan sempat salto...”

Dengarlah. Itu bisa jadi benar. Tetapi bisa juga diragukan pengakuannya. Antara terlempar dan salto memang ada persamaannya. Sama-sama 'mencelat'. Tetapi ada pula perbedaannya. Salto itu 'mencelat' yang direncanakan. Yang dilakukan dengan sadar dan dengan ilmu tertentu. Sedangkan terlempar, ya terlempar saja. Mencelat semencelat-mencelat-nya.

Sudahlah. Kalau ada yang masih dengan bangga mengatakannya, dengarkan saja. Jadilah pendengar yang baik, yang tidak membantah ucapannya. Agar ia merasa gagah. Beres.

Minggu kemarin, saya mendapat kabar, Dayat (dia ini masih mambu saudara dengan saya), kecelakaan. Motornya hancur, begitu menurut kabar yang saya dengar. Tetapi ia selamat.

Mengetahui itu, saya segera menghubungi ponselnya.
Saya bersiap mendengar bualannya, sebenarnya. Sekaligus cerita lucu darinya. Ini masuk akal. Karena, bukankah buah jatuh selalu tak jauh dari pohonnya. Dan saya yakin ia mewarisi jiwa seni bapaknya. Betul, almarhum bapaknya adalah seniman (baca: dagelan) ludruk. Maka, kalaulah kemudian si Dayat ini sering berbicara out of the box (semoga istilah ini tidak keliru. Hehe...), ya memang begitulah isi otaknya.

“Hei, kudengar kamu kecelakaan. Dimana?” sembur saya begitu ia menyahut 'halo'.

“Ya begini ini kalau selebritis. Berita itu langsung tersebar,” koarnya cengengesan. “Sampeyan dengar dari siapa?”

Kampret! Ia malah balik nanya.

“Aku baca di internit,” jawab saya sekenanya disusul tawanya yang menjengkelkan. “Aku serius ini, bagaimana kronologis kecelakaan yang menimpamu itu?”

Syukurlah, jiwa kampretnya hilang. Saya tanya begitu, lewat intonasi suaranya, ia saya dengar kemudian menjawab serius. “Begini, aku tidak terlibat kecelakaan secara langsung sebenarnya. Yang terlibat adalah dua sepeda motor di belakangku. Aku hanya kepencelatan rodanya...”

Wih, pastilah itu kecelakaan yang fatal. Saya membayangkan betapa kerasnya benturan sampai-sampai rodanya terlepas dan mengenai Dayat. “Jadi kamu hanya ketabrak roda?!” saya bertanya menegaskan.

“Iya. Dan kebetulan roda itu masih mengajak pula body sekalian mesin motornya” katanya dengan nada menang telak.

Kampret, kampret.....*****.

Senin, 30 April 2012

Teman Facebook

LILY memegang gelas kosong menuju depan ruang IT yang di sudut depan pintunya terletak dispenser. Sambil berjalan ke situ ia melirik lelaki yang kemayu itu. Kau tahu, dia sangat benci melihat perempuan yang kemayu. Lebih-lebih yang kemayu itu adalah lelaki. Ia, kalau melihat Ivan Gunawan atau siapa pun lelaki yang tampil layaknya perempuan atau malah cenderung lebih perempuan ketimbang perempuan yang sesungguhnya tampil di televisi, ingin melemparnya memakai remote control yang sedang dipegangnya. Tetapi, sungguh, Lily kadang gampang sekali berubah pikiran. Dan ia hanya kemudian mematikan televisinya. Masuk kamar, menyalakan komputer. Online. Main twitter atau Facebook-an. Itu kebiasaan baru, karena dulu, dulu sekali, ia lebih akrab dengan kertas, sebenarnya. Membuat catatan tentang apa saja. Di buku hariannya. Kini tidak lagi. Tetapi kebenciannya kepada seorang yang kemayu, memang sejak dulu ia pelihara.

Kembali dari mengambil air minum di depan ruang IT, mendapati lelaki kemayu itu, Yossy namanya, memperhatikan kuku-kukunya. Dengan lagak yang enggan sekali Lily menatapnya. Tetapi, sebagai teman sekantor, satu ruang tepatnya, tak mungkinlah ia meludah di depannya. Ia hanya tersenyum. Senyum yang dipaksa. Lalu lelaki kemayu itu pun terseyum. Sambil menarik pintu laci meja kerjanya. Di situ, sepintas Lily melihat isinya. Persis laci seorang penata rias. Ada bedak dan sebangsanya.

Pernah ia dengar tentang susuk. Sebagai pengasih. Agar orang memeperhatikan lebih. Tentu kau pernah juga mendengarnya. Untuk apa?

Jilbab, Salib dan Toleransi

KAMPUNG saya, sering sekali tiba-tiba ada bazar tiban. Saya bilang tiban karena, tidak ada orang hajatan atau apa, tiba-tiba di pinggir paving stone jalan kampung saya tiba-tiba ada nomor-nomor yang dibuat menggunakan warna putih. Itu, kalau sampeyan tahu, adalah kavling-kavling para pelaku bazar tiban itu. Yang ditawarkan tentu aneka rupa. Mulai dari CD yang seharga sepuluh ribu dapat tiga keping (baik CD dalam arti compact disc --yang bisa jadi adalah barang bajakan-- atau CD dalam arti 'celdam'. Hehe...) sampai aneka penganan tradisional. Mulai rujak cingur sampai gado-gado dan sebangsanya. Dari baju-baju sampai kaos kaki lima ribu untuk tiga pasang.

Yang juga pasti ada adalah aneka mainan untuk anak-anak. Mulai persewaan mobil remote control sampai arena mandi bola. Dari tempat memancing ikan plastik bermulut magnet sampai aneka jenis odong-odong. Nah, untuk odong-odong ini, si kecil saya tidak bisa dislimur. Harus naik pokoknya. Ia suka sekali naik yang model kereta api tetapi hanya berjalan memutar dalam lingkaran rel yang tak seberapa lebar itu. Celakanya lagi, ia tidak mau turun sekalipun teman seangkatannya (yang hanya sekitar sepuluh atau lima belas menit itu) sudah turun. Faiz, si kecil saya itu, entah naik untuk berapa 'kloter'. Saya berdoa semoga ia tidak pusing naik kereta mungil yang hanya berputar-putar begitu.

Tetapi, rupanya, doa saya kurang manjur. Buktinya, malam-malam, ketika ia berangkat tidur dan sambil minum susu dari botol, tiba-tiba ia bangun dan mak byor... muntah. Saya curigai itu sebagi efek dari naik odong-odong yang 'over dosis' tadi.

Tetapi ketika besok harinya ia juga masih muntah setiap setelah maem atau minum susu, tentu saya harus tanggalkan anggapan itu sebagai efek dari pengaruh odong-odong. Ia sedang sakit. Dan, sebagaimana bunyi iklan, bila sakit berlanjut hubungi dokter, maka saya bawa ia ke sebuah Poli Anak milik sebuah yayasan di kawasan Manyar yang biasanya ia cocok berobat ke situ.

Agak ngebut saya membawanya, dengan pertimbangan Poli Anak itu tutup jam delapan malam. Alhamdulillah masih nutut, masih setengah delapan saya sampai di TKP. Karena sedang hari Minggu atau apa, Poli Anak itu tidak seramai biasanya. Iseng saya hitung, ada limabelas ibu yang sedang mengantar buah hatinya berobat kesitu. Ruang tunggu yang biasanya ramai, terasa longgar. Bangunan poli ini sudah terbilang lama. Pada dinding tertera keterangan, gedung ini diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1985. Dengan dinding yang dicat putih bersih, dengan tanpa salib tergantung ditengah, tentu saya bisa menarik kesimpulan siapa pengampu yayasan ini.

Dan, tetapi, keisengan saya belum berhenti.
Sekalipun ada tanda salib lumayan besar di dinding itu, empat dari tujuh petugas (semua perempuan) yang sedang dinas malam itu berjilbab! (Rinciannya: satu dari dua dokter mengenakan jilbab, dua dari tiga orang di ruang obat memakai jilbab, satu dari dua wanita di loket pendaftaran berjilbab.) Sekarang para ibu, para orang tua pasien; sembilan dari lima belas orang mengenakan jilbab..

Sebuah pemandangan yang bisa jadi sepele. Tetapi, sebuah toleransi, sesepele apa pun itu, adalah sesuatu hal indah.

Contoh lain. Saya punya teman yang istrinya dalam dua kali proses persalinan selalu di sebuah rumah sakit Kristen besar di kota ini. Dan, sekalipun ruang persalian itu di dindingnya ada kayu salib dan beberapa poster bertuliskan firman Tuhan yang dikutib dari Injil, dokter yang menanganinya selalu memanggil teman saya itu untuk segera mengumandangkan adzan ke telinga buah hatinya sesaat setelah jabang bayi mungil itu lahir.*****

Sabtu, 28 April 2012

Kuda-kuda

"CARI saja yang lewat Kertosono," pesan seorang teman yang asli Kediri. "Karena kalau naik yang lewat Pare akan lebih lama nyampainya."

Pertanyaan itu perlu saya lontarkan, karena saya akan ke Ngronggo. Sebuah desa yang masih masuk ke dalam wilayah Kediri Kota. Keterangan lanjutan dari teman saya itu, adalah soal bis. Karena, "Yang lewat Pare itu lebih jelek armadanya. Kalau yang Kertosono ada Harapan Jaya atau Pelita Indah. Dijamin banter-banter."

Minggu kemarin (22 April), bersama anak istri plus pakde, jam delapan lebih empat puluh lima menit, saya take off dari Bungurasih. Dan, alhamdulillah, Pelita Indah sedang dalam posisi antrean di depan dengan tulisan via Kertosono di kaca depan.

Karena saya benar-benar buta akan tujuan saya, maka ketika bis melaju diatas jembatan layang Trosobo saya bilang ke kondektur untuk memastikan agar saya nanti diturunkan di pertigaan Ngronggo. "Iya, nanti kalau sudah dekat tak bilangi," kata kondektur sambil menghitung uang kembalian untuk saya. Tarifnya, Surabaya-Ngronggo itu, empat belas ribu per kepala.

Ancar-ancar yang saya dapat dari orang yang hendak kami datangi itu jelas. Pokoknya Ngronggo itu tempat pemberhentian bis setelah Alun-alun. Tepatnya, sebuah pertigaan yang ada lampu traffic light-nya.

Lancar, alhamdulillah.
 Kami tiba di lokasi dengan selamat. Tetapi ada satu pengalaman (pemandangan, sebenarnya) yang betapa tidak selamatnya dia. Ceritanya begini: Biasalah, ketika akan mendekati tempat turun, kondektur selalu meneriakkan suatu tempat. Tujuannya jelas, agar si penumpang itu, yang bisa jadi sedang agak tertidur itu, supaya bangun dan segera mendekati pintu.

Saya lupa ia turun dimana, tetapi seorang lelaki langsung menuju dekat pintu setelah mendengar teriakan kondektur. Tetapi sial. Ketika lelaki itu berjalan mendekati pintu, sopir menginjak pedal rem dengan tiba-tiba entah karena apa. Maka, si penumpang yang hendak turun tadi terjatuh tengkurap dan nyaris mencium bangku (atau penutup mesin?) disebelah sopir. Saya tahu, dengan tangan sempat menahan begitu, tentu kejatuhan itu tidak terlalu menyakitkan. Tetapi, tentulah sangat memalukan. Dan, bapak sopir yang di topi hitamnya tertera tulisan Pemburu itu, sialnya, hanya memandang yang terjatuh itu dengan tanpa meminta maaf.

Analisa saya, penumpang yang sedang apes itu, tidak menyangka sopir akan mengerem mendadak begitu. Juga, rupanya, ia tidak sedang berpegangan pada sebatang besi diatas kepala yang membentang sepanjang di atas tempat duduk. Kejatuhan itu, juga karena ia dalam posisi berdiri tanpa kuda-kuda. Dengan sopir yang bersikap dingin tanpa empati, lengkap sudah penderitaan penumpang nahas itu.*****

Meraih Mimpi

LANGKAH terbaik untuk meraih mimpi indahmu adalah bangun dari tidur.

Paul Valery, filsuf Prancis.

Melirik Nopol Cantik

BARUSAN, iseng saya melihat-lihat mobil yang berjajar di car park basement tempat kerja saya. Biasa, kalau hari Sabtu begini, mobil yang tidak keluar lumayan banyak, sehiggga benda itu berderet-deret di parkiran lebih banyak dari hari kerja. Ini tentu bisa dimengerti, karena para penghuni (yang sebagian besar adalah para bos perusahaan) sedang tidak ngantor. Mereka sedang dirumah saja. Paling tidak untuk pagi ini. Karena agak siang nanti, biasanya saya akan lihat para driver memanggul tas besar panjang berisi beberapa stick golf, siap mengantar sang majikan olah raga layaknya Tiger Wood.

Sudahlah, itu soal lain.
Dalam melihat-lihat mobil para bos itu, saya dapati mereka memajang nopol cantik di kendaraanya. Tidak semua memang. Tetapi ada beberapa. Yang saya catat adalah, L 1881 HF, S 1 D, atau W 777 JI. (Sengaja saya tidak sebut jenis dan warna mobilnya karena alasan tertentu.) Yang lebih menarik perhatian saya, ini; dua buah mobil (mewah tentu saja) yang saya ingat betul sudah bertahun-tahun tak tersentuh tangan, untuk dicuci atau sekadar dipanasi mesinnya. Kondisinya sedemikian kotornya, dengan roda-roda yang kempis kehabisan angin. Bacalah, pasti sampeyan bisa menebak siapa yang mempunyainya; AG 8 GG dan AG 90 GG.

Dijalanan, sering juga saya dapati nopol cantik menempel pada kendaaran yang berseliweran. (Dengan menyebut kata 'cantik', tentu saya menjadi tahu jenis kelamin nopol-nopol itu). Tempo hari, saya disalip mobil warna kuning dari jenis Mazda Sport (kalau tidak salah ingat sih), nopolnya L 1 AR. Jelas, kalau dibaca menjadi Liar. Ini tentu, paling tidak, menggambarkan jiwa pengendaranya yang tidak suka dikekang dan dibatasi. Bebas. Merdeka. Tetapi semoga masih selalu mau mengikuti peraturan lalu lintas.

Kali lain, saya dapati yang agak lain. Entah itu nopol pesanan atau memang adalah nomor 'alamiah'; L 461 BU. Ini saya maknai sebagai bahasa iklan sebagaimana sering saya baca pada iklan-iklan baris sebuah harian. Karena ia bisa dibaca menjadi LAGI BU (Butuh Uang).

Untuk nopol kendaraan operasional PT HM Sampoerna (baik mobil sedan sampai truk-truk besar pengangkut rokok), kalau jeli kita akan selalu menemukan angka 9 (sembilan) sebagai hasil penjumlahan dari tiga atau empat angka dalam nopol itu. Misalnya, L 8019 XX, atau L 7263 YY, L 4221 YX, atau yang langsung bisa dipahami adalah sebuah mobil sedan warna hitam dengan nopol L 234 YX!

Begitulah, ada yang menganggap jumlah sembilan sebagai bilangan keberuntungan, ada juga yang memercayai 8 sebagai angka yang mencerminkan kejayaannya. Saya tidak terlalu memercayai prinsip-prinsip itu, tetapi karena nopol kendaraan saya adalah L 6299 DY, saya lebih cenderung ke yang jumlah 8 karena total dari nopol saya menunjuk ke bilangan itu.

Sekarang, berapa nopol kendaraan sampeyan?

Rabu, 25 April 2012

Kapasitas

KEMARIN, 24 April jam 14.52 WIB, ponsel jadul saya berdering. Dan,

"Tadi masak berapa gelas?"

Sebagai orang yang sudah belasan tahun hidup bersama, nada dari pertanyaan istri saya itu saya artikan sebagai sebentuk ungkapan yang setengah marah.

"Tujuh setengah," jawab saya. Ini agak bohong, karena kalau tidak salah, tadi saya menakar delapan gelas beras untuk dimasak di magic com buatan Korea itu.

"Nasinya gak bisa dimakan."

Telepon yang lalu diputus itu membuat saya yakin istri saya sedang geregetan. Saya maklum itu. Bayangkan, pulang kerja, membuka magic com, nasi masih setengah matang, tentu cukup menjadi alasan untuk sebuah kemarahan tingkat sedang.

Memasak nasi, sebagaimana mencuci baju atau piring, adalah juga sebuah rutinitas saya. Tetapi, entahlah, pagi itu saya memasukkan beras melebihi biasanya. Dan, saya baru tahu ketika ditelepon istri, itu kemudian menjadikan nasi malah tidak bisa dimakan. masih nglethis. Dan kalau dipaksakan dimakan, tentu bisa membuat perut mbesesek.

Sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi 'teguran' lanjutan sesampainya dirumah kemudian, saya menarik suatu padanan dari kasus kelebihan beban itu.
Takaran magic com (atau orang, mungkin) tentu ada kapasitas yang jelas. Kelebihan kapasitas, kelebihan bobot yang harus digarap, bila 'perangkat' telah disetting dalam takaran kurang dari itu, hanya akan menghasilkan sesuatu yang setengah matang. Dan sesuatu yang setengah matang, seringkali tidak enak dimakan. (Kecuali beberapa buah. Hehe...)

Dalam lingkup yang agak luas, beberapa kebijakan yang harus diterima sering sekali terasa setengah matang. Bisa jadi itu disebabkan alat (atau orang) yang dipaksakan 'memasak' sesuatu itu diluar kapasitas dan kemampuannya. Atau, entahlah.

Selasa, 17 April 2012

Tentang Cinta

CINTA adalah ketika dalam perjalananmu engkau menemukan ranting paling indah, sementara kau tidak bisa berjalan mundur.

(Plato)