Kamis, 07 Juni 2012

Bunga Ultah untuk Ibu

TENTANG ayah yang meninggalkan ibu sejak aku masih kecil karena terjerat cinta wanita lain, itu pun aku dengar dari orang lain. Tetapi, ketika dengan sebuah keberanian yang sekian lama kukumpulkan untuk menyuguhkan pertanyaan itu langsung kepada ibu, yang kudapati tetaplah ibu yang hanya menggeleng. Ia, sungguh tak ingin membagikan kisah sedih itu kepada siapapun, termasuk kepadaku, anak satu-satunya. Ia, sepertinya, tak ingin mengajariku membenci seseorang atau sesuatu yang mungkin ia benci. Ia ingin menikmatinya sendiri. Sampai kini.

Sejak kecil hidup berdua saja dengan ibu, menjadikan aku tahu lebih banyak tentang ibu dibanding siapa pun. Tentang malam-malam sampai aku tak tahan diserang kantuk, misalnya, kulihat ibu tetap menjahit. Satu-satunya sumber biaya hidup kami, ya dari mesin jahit itu. Dari mesin jahit tua berwarna hitam itu ibu membiayai sekolahku, dan dari mesin jahit itu pula, aku kira, ibu menjahit luka hatinya.

Sekarang, ketika aku telah bersuami dan memiliki bidadari kecil yang kembar, itu juga salah satu yang membuat ibu makin melupakan lukanya. Ingat aku, ketika ulang tahun putri kembarku itu. Sekian hari ibu dengan penuh cinta menjahitkan baju ulang tahun bermotif bunga, dengan renda warna merah dibeberapa bagian sebagai pemanisnya. Sungguh, tak terlukiskan dengan kata ketika dua anakku itu memilih mengenakannya dengan bangga dan bahagia di hari ultahya ketimbang baju yang telah dibelikan ayahnya.

Besok pagi ulang tahun ibu, dan kami –aku, suami dan anak kembarku-- telah sibuk dengan hadiah ulang tahun untuk ibu. Besok, aku dan suami sepakat untuk memberi kejutan. Kami telah lama melihat kaki ibu terlalu tua untuk menginjak pedal mesin jahit, sehingga kami (dengan menyisihkan dari penghasilan suamiku yang tak seberapa) membeli mesin jahit baru dengan tenaga listrik agar ibu bisa tetap menyalurkan kesukaannya menjahit tanpa harus mengeluarkan tenaga lebih. Sedang kedua anak kembarku, si Wina telah diam-diam, tanpa sepengetahuan Yangti (sebutan untuk neneknya) telah membuat selembar lukisan bunga, sedangkan Weni telah menulis sebaris puisi.

Aku membayangkan, tentu ibu akan menangis haru menerima hadiah dari kami. Bukan karena bentuknya. Tetapi sebuah persembahan dari hati, tentu akan lebih punya arti. Sekalipun begitu, tetap saja aku bersiap untuk hanya dijadikan nomor kesekian. Karena, sejak beberapa tahun ini, tujuh ulang tahun terakhir ibu seingatku, ada persembahan lain yang tak kalah selalu membuat ibu menerka-nerka. Entah dalam apa; bahagia atau seribu tanya yang tak juga ketemu jawabnya.

Bunga.
Sejak dulu ibu suka bunya. Di ruang depan, ibu sering membeli seikat bunga sedap malam. Menaruhnya di vas dari keramik dengan air di seperempat tubuhnya, agar si bunga tidak terlalu cepat layu, sehingga aroma wanginya berhari-hari menyerbaki ruang tamu rumah kami yang tak seberapa besar. Dan, setiap pagi di ulang tahun ibu, kehitung sejak tuhuh tahun lalu, seorang tukang bunga mengantarkan seikat bunga sedap malam terbaik, beserta secarik kertas ucapan selamat ulang tahun untuk ibu. Itu saja. Tanpa nama pengirimnya.

Karena penasaran, aku pernah mendatangai toko bunga tempat seikat sedap malam itu dibeli, untuk menanyakan siapa yang membeli dan meminta mengantarkannya untuk ibu. Tetapi, “Maaf, kami telah sepakat untuk tidak memberitahukannya kepada siapapun,” kata wanita cantik pemilik toko bunga itu. Bahkan untuk agar menyebutkan si pembeli itu seorang laki-laki atau perempuan pun, senyumannya adalah jawabannya. Selebihnya, aku hanya pulang tanpa hasil.

Tahun-tahun berikutnya pun sama.

“Pasti orang yang mengirimi ibu bunga setiap hari ulang tahunnya itu adalah orang yang istimewa,” kata suamiku. “Ibu sebagai yang istimewa atau sebaliknya, peluangnya sama besarnya.”

Tentu aku iyakan pendapat suamiku itu. Bisa jadi, bunga itu sebagai ungkapan terima kasih atas segala kebaikan ibu kepada si pengirim itu. Atau, tidak tertutup kemungkinan bunga itu sebagai sarana meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuatnya kepada ibu. Atau (lagi), sebuah ungkapan cinta. Tetapi dari siapa? Pak Johan tetangga depan rumah yang telah hidup menduda sekian lama, ataukan dokter Iwan yang ketika ibu sakit setahun yang lalu teramat perhatian merawat ibu? Oh, tidak, tidak. Bunga itu selalu dikirim sejak tujuh tahun lalu, jauh hari sebelum ibu mengenal dokter Iwan, juga jauh hari sebelum pak Johan membeli rumah yang letaknya hanya dibatasi jalan di depan rumah kami.

--**--

KAMI tidak terbiasa merayakan ulang tahun dalam kemasan yang berlebihan. Sebentuk kua tart sederhana, lilin dan hadiah-hadiah kecil saja. Itu aku pelajari sejak dulu dari ibu. Dari setiap ulang tahunku. Seterusnya kuulangi untuk setiap ulang tahun anak kembarku, ulang tahun pernikahanku yang tahun ini memasuki tahun ke delapan.

Maka, ketika hari ini ibu merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh dua, aku tahu ibu tak mengharapkan hadiah berlebih dari kami. Dan benarlah adanya dugaanku; ketika pagi-pagi sekali Wina menyerahkan lukisan bunga, disusul puisi yang dibacakan dengan ketulusan hati oleh Weni, kulihat mata ibu berkaca-kaca; bahagia. Juga ketika suamiku mengajak ibu menuju ruang samping tempat biasa ibu mengisi hari-harinya dengan menjahit apa saja (taplak meja, baju anakku yang agak sobek, kancing baju suamiku yang terlepas dan semacamya) mata ibu dibalik kacamatanya sekali lagi melelehkan bahagia bahkan sebelum suamiku membuka kain penutup mesin jahit baru yang malam-malam ketika ibu sedang tidur, ditata sendiri sedemikian rupa oleh suamiku.

Dan tangis bahagia itu, kemudian kami ikuti ketika satu persatu secara bergantian ibu memeluk dan mencium kami. Setiap ulang tahun ibu selalu berlaku begitu. Tetapi, kami tidak pernah kehabisan airmata kebahagiaan macam itu.

Namun kulihat mata ibu menyiratkan ada sesuatu yang belum lengkap. Segera saja aku menuju pintu depan, dan sia-sia. Belum ada pengantar bunga yang datang. Ya, biasanya, jam segini seikat bunga yang entah dari siapa itu sudah diantar. Aku maklum yang ada di pikiran ibu. Sesuatu, yang sekalipun sebelumnya tidak dikendaki, bila datang bertubi-tubi dalam waktu yang selalu sama, tentu kemudian tidak menjadi kesalahan ketika lalu diharapkan.

Sampai sore, sampai senja tiba, tak jua datang sang pengantar bunga. Dengan duduk dikursi teras yang sesekali matanya dilemparkannya ke jalan depan rumah, aku tahu ibu sedang menunggu.

Ibu berdiri dari duduknya, dan aku ikut keluar mendekatinya ketika sebuah taksi berhenti di jalan depan rumah kami. Seorang lelaki tua berjaket tebal yang kelihatan sebagai pembungkus tubuhnya yang ringkih, dengan syal warna agak gelap menutupi lehernya, dengan rambut penuh uban, guratan-guratan diwajah yang terlihat abstrak, tetap berdiri di pinggir jalan ketika taksi yang mengantarnya itu sudah pergi. Seikat bunga tergenggam ditangannya. Kulihat mata ibu. Dingin. Tak kutemukan apa-apa didalamnya. Ah, ibu terlalu pintar menyembunyikan sebongkah perasaan.

Untuk beberapa saat lamanya kami seakan sebagai batu, sebagai patung. Dan baru kembali memiliki nyawa ketika lelaki berjaket tebal itu melangkah dengan ayunan kaki yang ragu-ragu. Kembali kulirik mata ibu; dan kembali mata itu tetap yang tadi kudapati.

Langkah ragu-ragu lelaki tua itu berhenti dibibir teras, disebelum undakan terbawah teras rumah kami yang hanya memiliki tiga trap Dari jarak sebegitu, kulihat mata lelaki itu keruh. Entah oleh apa. Tetapi aku yakin ibu tahu mata keruh itu sedang mengatakan apa.

Kami kembali seakan sebagai batu, sebagai patung. Untuk beberapa saat. Dan baru kembali memiliki nyawa ketika tangan lelaki itu menjulurkan seikat bunga kepada ibu. “Maaf kalau selama ini membuatmu menerka-nerka tentang seikat bunga disetiap ulang tahunmu...” kata lelaki yang menurut taksiranku seusia ibu tetapi tubuhnya terlihat lebih tua dari umur sesungguhnya.

“Aku sudah mendugamu,” kata ibu dengan nada yang datar saja sambil menerima seikat bunga.

Kulihat mata lelaki tua itu makin keruh. Dan ketika kulirik lagi mata dibalik kacamata ibu, tetap saja seperti tadi; bening.

“Terima kasih kau selalu ingat ulang tahunku...” kata ibu. Tetapi, aku tak tahu kenapa ibu sejauh ini belum menyilakan lelaki itu untuk masuk ke rumah. Bukankah ia tamu?

“Ibu, mungkin lebih baik kita bicara didalam saja ya?” mohonku.

“Oh, tidak usah, Nak,” potong lelaki itu. “Terima kasih. Aku tidak lama, kok...”

Mata ibu yang bening itu, semakin bening oleh air yang melapisinya tipis. Kemudian mengumpul disudutnya, dan lalu menetes.

Lelaki tua berjaket tebal itu sorot keruh matanya makin tak kumengerti. Setak mengerti aku akan arti air mata ibu yang mengaliriri pipinya yang mulai keriput.. Ibu memang tidak pernah mengajariku membenci yang ia benci. Dan, bisa jadi, lelaki itu teramat ibu benci. Tetapi tentu aku tak punya alasan untuk ikut membencinya. Maka, ketika ibu tidak mencegah saat ia pamit pulang, aku hanya bisa diam. Dan memandangi punggung lelaki bermata keruh itu melangkah dalam ayunan yang seragu-ragu datangnya tadi.

“Katakan padaku, Bu, siapa laki-laki itu?” rontaku lirih. “Dan kenapa ibu tidak mengajaknya masuk rumah? Apa salah laki-laki itu kepada ibu?”

Ibu memelukku. Dalam tangis yang tertahan, ibu berkata, “Lelaki itu ayahmu, Nak..”*****


*)tentang pengirim bunga yang merahasiakan dirinya, dan dugaan-dugaan atasnya, inspirasinya itu saya dapat dari salah satu kisah dalam buku Chicken Soup for the Woman's Soul.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar