Senin, 12 Maret 2012

Waktu Adalah Uang


PERGELANGAN yang manakah yang sedang sampeyan lingkari dengan jam tangan? Di kiri atau kanan tentu sama pantasnya. Dan sama-sama ada alasannya. Kelaziman, mungkin begitu bila sampeyan menggelangkannya di tangan kiri. Dan untuk yang melingkarkan dipergelangan tangan kanan, bisa saja ia membuat alasan yang dikeren-kerenkan, ”Saya menghargai waktu, makanya alat penunjuk waktu ini saya taruh di tangan kanan.”

Semua bisa diterima akal, sekalipun tentang waktu itu semua bisa pula diakali. Makanya sampai ada istilah jam karet. Atau, kalau ditanya atasan ketika suatu kali terlambat sampai di tempat kerja, alasannya, “Maaf, bos. Jam dinding dirumah saya mati, sudah gitu jalanan macet lagi...”

Itulah mengapa, mungkin, lalu diciptakan jam tangan. Yang bisa dipakai kemana-mana. Perkara jam tangan ini, lalu tidak hanya sebagai penunjuk waktu, itu soal lain. Ia, untuk merek-merek tertentu, bisa pula sebagai semacam perhiasan. Sebagai penunjuk derajat si pemakai.

Dan saya termasuk orang yang tidak pernah mengenakan jam tangan. Baik di pergelangan tangan kiri atau tangan kanan. Tidak ada alasan tertentu, sebenarnya, kenapa saya berlaku begitu. Tidak ingin saja. Tidak pula ber-nadzar akan mengenakan bila sudah mampu membeli merek tertentu, misalnya. Tidak. Saya merasa baik-baik saja sekalipun tidak mengenakannya. Untuk urusan waktu, saya bisa melihatnya di layar hand phone jadul saya yang masih hitam-putih ini. Yang memang lebih dominan hanya sebagai penunjuk waktu ketimbang tampil sebagai alat komunikasi.

Pernah sih dulu ketika masih bujang dikasih jam tangan oleh bapak kost. Mungkin beliau merasa kasihan melihat pergelangan tangan saya selalu tampil polos. Tentu tak baik menolak pemberian. Jangan dilihat nilainya, tulusnya itu lho yang penting. Saya tentu saja berterima kasih seterima kasih-terima kasihnya. Tetapi, saya simpan pemberian itu dengan sebaik-baiknya. Dan, sejak itu sampai sekarang saya tidak pernah sekalipun mengenakannya.


Perjalanan harian saya dari rumah ke tempat kerja yang cuma tak lebih dari lima belas kilometer, dulu biasa saya tempuh sekitar tiga puluh menit dengan bermotor. Belakangan, karena semakin padatnya kendaraan (dengan roda dua sukses tampil sebagai raja), waktu tempuh saya menjadi hampir satu jam. Itu pun sudah sesekali melanggar ketentuan kecepatan di dalam kota yang dibatasi 40 kilometer per jam. Kenapa? Dimana-mana macet sekarang. Apalagi kalau habis hujan. Apalagi menjelang perlintasan kereta api.

Baiklah, ini rute saya; dari Rungkut saya lewat dalam, via Tenggilis yang tembus ke Raya Jemursari, lalu ambil kanan masuk Raya Margorejo Indah. Menjelang rel kereta api, ketika sirine meraung atau suara lembut perempuan yang mengingatkan agar selalu waspada setiap akan melewati pintu perlintasan kereta api (karena sudah banyak yang maninggal sia-sia, dilokasi lain masih banyak perlintasan yang tidak dijaga dan tidak berpintu, dst, dst), ia pertanda pula akan adanya kepadatan lalu lintas. Sambil menjalankan motor dengan sangat lambat begitu, atau malah lebih sering berhenti, untuk melihat jam saya menengok kekiri atau kanan. Mencari-cari pergelangan tangan orang di samping saya. Kalau lagi apes, karena tidak menemukan jam tangan, barulah saya merogoh saku, melihat ponsel.

Bila baru sampai di dekat Maspion Square situ sudah dua puluh menit menuju jam delapan, alamat terlambat sampai di tempat kerja. Padahal, saya termasuk penakut dalam berkendara. Saya, sebisa mungkin, menghindarkan diri untuk melajukan motor dengan zig-zag. Zig kekiri-zag kekanan, salip kiri, salip kanan. Padahal di depan masih ada beberapa titik yang kendaraan selalu uyel-uyelan. Di depan Royal Plaza sebelum RSI, di dekat Bonbin, atau tidak mustahil pula di Mayjen Sungkono. Padahal waktu terus berjalan, padahal saya tidak mengenakan jam tangan. Padahal sambil berkendara begitu, jangankan ber-SMS, lihat jam di layar ponsel saja sudah sama risikonya. Nyawa taruhannya

Padahal berikutnya adalah, dulu di jalan Diponegoro, didepan Hotel Oval sekarang, pernah ada jam besar. Yang bisa saya lirik setiap waktu. Setiap saya melintas disitu. Sekarang tidak ada lagi. Yang tersisa hanya pondasinya. Untunglah tidak jauh dari situ, terdapat pos sekuriti sebuah bank. Yang jam dindingnya bisa terlihat dari jalanan. Maka, kepadanyalah selalu saya lihat waktu setiap lewat.

Lepas jalan Ciliwung, masuk Adityawarman, diseberang kantor KPU Surabaya, jamnya juga bernasib sama. Tinggal pondasinya saja. Terus lurus naik ke Mayjen Sungkono, di JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) setelah Ciputra World, sempat ada pemodern-an jamnya. Dari yang dulu model jarum, menjadi model digital. Tetapi, sudah beberapa lama si digital itu pun meninggal. Lampu penunjuk waktu yang dulu merah menyala, kini hanya terlihat sebagai barisan titik-titik hitam tanpa kedip.

Tentu saja saya tidak bisa mengetahui sudah jam berapa ketika sampai disitu, kalau saja sebelumnya saya tidak melirik (lagi-lagi) pos sekuriti, yang kali ini milik sebuah showroom mobil mewah disebelum Ciputra World.

Begitulah nasib jam-jam di kota Surabaya. Ada sih yang secara fisik masih terlihat bagus. Di JPO depan dua Rumah Sakit yang berhadap-hadapan di jalan Diponegoro, misalnya. Yang disekujur tubuhnya tertempel  iklan sebuah produk rokok. Jam besar itu jarum-jarumnya masih ada. Tetapi, setiap lewat sana, jarum-jarumnya terlihat selalu salah langkah dalam menunjuk angka. Senasib dengan alat penunjuk tingkat pencemaran udara di dekat bundaran Satelit. Yang seberapa parah apa pun kemacetan terjadi disitu, alat bernama Pollutant Standard Index  itu layarnya selalu saja memampang kata 'Sedang'. Tidak tahu, apakah tingkat polusi disekitar alat itu berdiri memang baru dalam tahap 'sedang' atau alat itu 'sedang' tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Saya tentu juga tidak tahu siapa yang harus membetulkan jam-jam itu. Mengganti baterainya atau apa. Yang saya tahu, ada istilah waktu adalah uang. Dalam artian, untuk merawat jam sebagai alat penunjuk waktu itu pun diperlukan uang. Tetapi, kalaulah dikehendaki, saya rela pajak yang saya bayarkan itu juga digunakan untuk biaya perbaikannya. Agar ketika saya berkendara dijalanan kota, masih bisa melirik alat penunjuk waktu itu bila perlu.*****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar