Rabu, 21 Maret 2012

Kalau Singkong Bisa Ngomong


TEBAKAN sampeyan betul, judul diatas saya jiplak dari title lagu lawas Doel Sumbang yang berduet degnan Nini Karlinna dan sempat kondang di tahun 80an; Kalau Bulan Bisa Ngomong. Dan ngomong-ngomong tentang lagu 80an, saya juga suka lagu-lagunya Bill&Brod-nya Arie Wibowo yang selalu berkacamata hitam, bertopi, dan Nyong Anggoman dengan rambut kribo yang senantiasa sambil nyangklong keyboard itu. Sebutlah misalnya Madu dan Racun, Angin Sorga (duet bareng Ervinna yang asli arek Suroboyo) dan juga Singkong dan Keju.

Untuk Singkong dan Keju, liriknya ringan khas Arie Wibowo dengan musikalitas yang selalu bernada gembira, bercerita tentang kesenjangan. Dengarlah ini; aku suka jaipong, kau suka disco, aku suka singkong kau suka keju...

Jelas, yang dimaksud adalah antara yang berpunya dengan yang tiada. Antara si miskin dan si kaya (eh, kok seperti judul sebuah sinetron ya?) Tetapi selalukah begitu? Padahal bukankah sering kita dapati pada penjual gorengan (mungkin juga dijual oleh sahabat Efbi saya, mas Samsul Hadi di Samarinda sana) memadukan antara keduanya. Ia ditampilkan sebagai singkong keju. Yang ketika kita mengunyahnya terasa meduk dan empur.

Ya, inilah maksud saya. Saya sedang tak hendak membahas lagu tahun 80an. Tetapi tentang singkong. Bisa-bisa umbi yang dalam nama latin disebut manihot utissima ini bernama lain didaerah sampeyan. Tak perlulah mengambil contoh jauh-jauh misalnya di Sunda bernama sampeu, di Toli-toli menjadi kasubi atau di Sangihe berjuluk bungkahe. Di sini-sini saja ada banyak nama lain. Bagi istri saya yang asli LA, (atau didaerah mbak Wina Bojonegoro yang novelis itu) ia disebut menyok. Ada pula yang memanggilnya sebagai kaspe. Dan di Banyuwngi sana ia dibilang sawi.

Tetapi, apa arti sebuah nama, kata Shakespeare. Dan saya berharap sampeyan setuju kita menyebut ditulisan ini dengan satu nama saja; singkong. Tetapi ada apa dengan singkong?

Untuk perkara karbohidrat jangan remehkan singkong. Ia termasuk kaya. (Menurut data yang pernah saya baca, dalam setiap 100 gram singkong, 34 gram yang dikandungnya adalah karbohidrat.) Walau untuk kandungan protein ia teramat miskin. Karena berkarbohidrat yang banyak pula, mungkin, ketika ibu saya dulu sedang hanya punya dua genggam beras sementara anaknya segudang, dengan telaten beliau mencacah singkong menjadi kotak-kotak kecil untuk dimasak secara duet dengan beras. Jadilah nasi kami berhias singkong. Atau, karena komposisi singkongnya lebih mendominasi, jadilah nasi singkong berhias beras. Mana peduli kami tentang itu, yang penting perut kenyang.

Sebagai teman makannya, ibu memasak sayur bening bayam, yang (lagi-lagi) dikombinasi dengan irisan singkong yang berbentuk kubus seukuran dua kali dua centimeter. Belum cukup sampai disitu, dipiring masih ada perkedel dan sambal goreng yang juga dari singkong. Dan kerupuknya, bisa sampeyan tebak, pun berasal dari benda yang sama. Padahal, untuk dijadikan kerupuk saja, masih ada yang namanya samiler (tentang ini pernah pula saya membuat catatan  pada Januari yang lalu)

Sudah?
Belum. Karena, singkong yang pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis dari tanah Brazil pada abad ke 16 ini, bisa dibuat aneka penganan dengan banyak sekali jenis dan namanya. Mari iseng-iseng mengulitinya satu persatu: kalau ia dijemur sampai kering berubah nama menjadi gaplek, kalau kemudian gaplek ini dtumbuk halus dan ditanak, ia akan menjadi nasi tiwul. Si tiwul ini kalau ditumbuk kemudian diiris tebal dan dimakan pakai parutan kelapa dan juruh gula merah, ia menjadi kicak. Yang namanya gatot pun berasal dari si gaplek ini.

Singkong dimasak diberi ragi menjadi tape; tape diolah sedemikian rupa menjadi suwar-suwir (makanan khas tanah tumpah darah saya, Jember). Singkong direbus lalu ditumbuk dan dibubuhi gula akan menjadi getuk. Getuk digoreng bulat-bulat menjadi bandem (berbeda dengan jemblem yang diparut lalu digoreng dengan gula di bagian dalamnya), diparut dikasih gula (dan dibungkus daun pisang laiknya nagasari) ia menjadi utri.

Tentu ada yang hanya direbus, lalu diiris tipis-tipis, dijemur, kalau sudah kering digoreng menjadi disebut gliti. Lebih tidak rumit dari itu, singkong mentah diiris tipis lalu digoreng menjadi kripik.

Seperti halnya singkong yang punya nama lain didaerah sampeyan, ia pun tidak menutup kemungkinan dijadikan panganan yang belum masuk dalam catatan saya diatas. Untuk itu, kalau sampeyan tidak keberatan, silakan menambahinya disini. Dan lebih afdol lagi, agar saya turut bisa merasakannya, silakan sampeyan mengirimi makanan yang dimaksud kealamat saya. Serius ini.

Saya tunggu!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar