Senin, 09 Januari 2012

Onde-onde


JAM berapapun saya transit di terminal Probolinggo, bak pao yang dijual orang bertopi itu tetaplah hangat. Pagi, siang atau tengah malam. Serupa klepon di bundaran Gempol. Tak tahu saya cara penghangatannya.

Tidak demikian dengan si onde-onde. Bukan hangatnya, tetapi besar bulatannya yang sekepalan tangan. Namun ia adalah kue penipu; besar tapi kopong. Seribu pula harganya. Didekat gapura perumahan Gresik Kota Baru arah ke Manyar, ia punya saingan sesama onde-onde. Perlawanan ala David dan Goliath. Onde-onde besar dilawan onde-onde mini. Seribu sebutir dilawan dua ratus rupiah sebiji.

Yang kecil tetapi tidak menipu lebih saya suka. Sebagai camilan, beli lima ribu sudah dapat seplastik. Keunggulannya lagi, ia bisa diperibahasakan menjadi; sekali kunyah, dua-tiga butir terlampaui....
 *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar