Selasa, 01 Oktober 2013

TVRI Nguri-uri Budaya Jawi Lewat Campursari



UNTUK acara musik, TVRI (stasiun Pusat, Jakarta) pernah punya yang begitu melegenda bernama Aneka Ria Safari. Untuk acara serupa, TVRI Surabaya (sekarang TVRI Jawa Timur) punya yang namanya Galarama. Secara detail, maaf, saya lupa acara ini ditayang berapa minggu sekali. Tetapi, saya ingat betul, ketika belum naik kelas menjadi artis ibukota, Atiek CB pernah beberapa kali tampil di acara ini. Salah satu lagu yang pernah dinyanyikan penyanyi asal Kediri yang sekarang mukim di Amerika ini adalah tembang Tirai milik Rafika Duri.

Kalau mau merunut, tentu acara yang pernah jaya di layar TVRI Surabaya tak hanya Galarama. Pada tahun 80an, ada serial (duh, lupa saya apa judulnya) yang bekerja sama dengan koran sore Surabaya Post yang kala itu sedang jaya-jayanya. Lamat-lamat saya ingat, alur cerita serial itu adalah tentang perjalanan jurnalistik dua tokoh wartawan Surabaya Post menguak aneka peristiwa yang dibingkai menjadi alur cerita. Misalnya tentang gemblak, dalam kaitan dengan tradisi para warok di Ponorogo.

Masih bekerja sama dengan media cetak, kali ini lewat koran ‘kuning’ bertiras besar; Memorandum. TVRI Surabaya pernah menggelar tayangan Ketoprak Sayembara. Ada dua serial yang saya ingat, tetapi yang saya belum lupa judulnya hanya satu; Ampak-ampak Siggelopura. Dengan para pemain berasal dari grup ketoprak nomor wahid di dunia, Siswo Budoyo, tayangan serial itu dikemas bukan di atas panggung. Setting pengambilan gambarnya banyak yang sudah outdoor. Sehingga ia lebih berasa sinetron ketimbang ketoprak konvensional.

Malam minggu begini, pada prime time, pernah ada Depot Jamu Kirun. Sebuah tayangan dagelan yang bisa membuat pemirsa terpingkal-pingkal. Selain Kirun, acara ini digawangi oleh Kolik yang tak seberapa lucu dan Bagio yang lucunya bukan main.

Kembali ke acara musik, kalau Galarama lebih condong ke pop, walau TVRI Surabaya pernah punya yang namanya Musik Melayu, tetapi secara kemasan tak mengalahkan acara Kontak Dangdut. Tercatat, sebelum sengetop sekarang, Inul Daratista adalah biduan andalan di acara yang selalu diiringi OM Avita itu.

Saya tak seberapa rutin memeloti TVRI Surabaya. Tetapi selain Galarama dan Depot Jamu Kirun, Kontak Dangdut-pun sepertinya sudah lama almarhum. Kalau boleh dikata, satu-satunya acara musik yang masih digemari di TVRI (Jawa Timur) sekarang ini tinggallah Campursari. Program yang tayang saban Kamis malam Jumat ini secara bergantian menampilkan banyak sekali kelompok Campursari dari segala penjuru propinsi. Baik berasal dari kelompok mandiri maupun instansi, bahkan sampai menembus kampus-kampus macam UPN Veteran Surabaya, atau kelompok campursari dari Universitas Wijaya Kusuma  yang kampusnya memang tak seberapa jauh dari lokasi studio TVRI Jawa Timur.

Sebagai LPP, sudah sepatutnya TVRI tahu apa yang sedang digemari publik. Dengan dipandu Cak Pendik Dingtaktong yang berduet dengan si gendut Momon, sepertinya acara ini mampu menjadi sarana pelestari budaya (Jawa) yang adiluhung dan punya jati diri. Sebagai tempat untuk nguri-uri budoyo Jawi, acara Campursari ini mudah-mudahan tak keburu mati, selalu santun dalam gerak dan lirik, agar telinga ini tak melulu dan semakin dirasuki polusi musik (dangdut) koplo dengan syair-syair yang nggilani. ****

NB: tulisan ini sebelumnya sudah saya posting di www.sisitelevisi.wordpress.com

Selasa, 24 September 2013

Cita-Cita



SAAT SD, lupa saya apakah itu kelas tiga atau empat, satu per satu anak diminta maju ke depan untuk mengatakan cita-citanya kelak. Sesuai absen, Bu Guru memanggil kami. Semakin mendekati giliran, semakin saya deg-degan. Bukan apa-apa, tetapi saya memikirkan cita-cita macam apa yang tidak terlalu banyak diinginkan dan telah diucapkan teman yang sudah maju duluan. Ini sekadar berdasar gengsi saja sepertinya. Sebagaimana saya akan merasa tidak pede kalau pas pelajaran menyanyi di depan, dan lagu Indonesia Pusaka (lagu faforit yang selalu saya nyanyikan setiap pelajaran menyanyi) sudah keduluan dinyanyikan teman, sementara selain lagu itu saya hanya bisa Gundul-gundul Pacul. Akan menjadi derita yang luar biasa bila Gundul-gundul Pacul sudah pula diserobot teman.

“Nama saya Budi, kalau sudah besar saya bercita-cita menjadi insinyur,” dengan kulit cokelat tua karena sering main layang-layang di panasan, saya yakin si Budi itu asal saja bilang ingin menjadi insinyur. Sungguh, saat itu kami tidak tahu kalau insinyur pun ada beberapa. Pertanian, Teknik dan entah apa lagi. bagi Budi yang penting insinyur.

Kalau yang teman perempuan, kalau nggak jadi guru paling banter ingin jadi bidan. Sementara para lelaki terdengar lebih gagah; polisi, tentara (ABRI kala itu), hakim. Tetapi, yang lebih umum (dan terdengar juga asal saja) adalah ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Coba, apa itu tidak asal mengucap saja.

Karena cita-cita itu hanya sekadar diucap saja, selama ini, apesnya, kok saya tidak mendengar si Budi berhasil menjadi insinyur sungguhan, dalam bidang apa pun itu. Begitu juga dengan teman yang lain dengan cita-cita lain. Sebagai orang desa yang lahir procot sudah sebagai anak petani, sebagian besar malah berhasil membuktikan bahwa 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya', dalam artian ikutan menjadi petani. Kalau begitu, itu tak berbeda dengan teman lain yang bercita-cita menjadi 'orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama'. Ya, siapa pun akan setuju petani sungguh berguna bagi nusa dan bangsa. Walau, kalau mendengar berita, nasib mereka kadang nelangsa.; menanam padi dengan pupuk berharga mahal, pas panen harga jual gabah rendah.

Sungguh, saya lupa kala itu bercita-cita ingin menjadi apa. Tetapi saya lebih curiga, saya termasuk kaum yang 'ingin menjadi yang orang berguna bagi nusa, bangsa dan agama'. Apakah sekarang ini cita-cita itu sudah saya capai? Entahlah.

Tetapi kepada si sulung Edwin saya bilang; memiliki cita-cita itu perlu, tetapi berusaha keras mewujudkan cita-cita itu tak kalah perlu. Dasar dan contoh dari saya mengatakan itu adalah teman-teman SD saya yang sejauh ini tak ada yang berhasil menjadi yang diucapkan. Karena hanya dikatakan, tetapi tanpa diusahakan. Dengan berusaha keras, bisa jadi sebuah kedudukan yang tadinya tidak dicita-citakan pun akan menjadi kenyataan. Saya berpikir, bukan tidak mungkin Pak SBY itu menjadi presiden bukanlah cita-citanya sejak kecil.

Memasuki usia remaja, bukannya fokus, saya malah tak tahu arah. Dan dengan sok bijak berkata dalam hati; saya menjalani hidup mengalir saja, seperti air. Syukurlah, sepertinya hidup saya tentram dengan slogan itu. Sampai kemudian saya sadar, aliran air yang tanpa dipompa, dan mengalir alami begitu, arahnya selalu ke bawah, ke tempat yang lebih rendah.

Apakah ada yang rela grafik hidup menuju ke arah yang begitu? Tentu tidak. *****

Jumat, 20 September 2013

Jokowi dan Kontroversi Hati



"LIHATLAH, Kang," kata Mas Bendo, "sebagian besar yang sudah ancang-ancang nyapres nanti salah satu senjatanya karena punya media."

"Iya, ya, nDo," sahut Kang Karib, "itu, si ARB, tak terhitung saban hari iklannya di TV-nya sendiri."

"Wiranto-Hary Tanoe sepertinya juga memanfaatkan betul jaringan MNC."

"Ada lagi, Kang," setelah nyruput kopi buru-buru Mas Bendo menimpali, "menurut pengamat, salah satu kandidat kuat Demokrat pada konvensi yang sedang digelar adalah Dahlan Iskan. Dia itu juga juragan media, Kang. TV lokalnya banyak, media cetaknya apalagi. Dan, kalau nanti Nasdem pada pemilu legislatif memperoleh suara yang signifikan, dan karenanya juga punya hak mengajukan capres sendiri, bukan tidak mungkin Surya Paloh akan memanfaatkan MetroTV sebagai 'kendaraan politiknya'."

"Namun harus dicatat," Kang Karib bicara sok pengamat, "sebagai tolok ukur elektabilitas mereka semua saat ini adalah Jokowi. Sekalipun PDIP belum secara terang benderang mendeklarasikannya sebagai capres, di kandang banteng moncong putih sekarang ini belum ada tokoh yang bisa menandingi Jokowi. Megawati sekalipun."

"Lalu adakah hubungannya Jokowi dengan para juragan media yang ngebet nyapres, Kang?"

"Jelas ada, nDo," mantap Kang karib menjawab. "Bagi para juragan media itu, sosok Jokowi sungguh bisa menimbulkan kontroversi hati. Setiap gebrakannya dalam membenahi Jakarta; tidak diberitakan itu adalah berita bagus, tetapi bila diberitakan pada media para capres itu, elektabilitas Jokowi makin melambung yang bisa membuat para juragan media itu makin ketinggalan kereta mengejar kepopuleran Jokowi." *****

Jumat, 13 September 2013

Hangat Sesaat



DARI sekian banyak peristiwa sepekan ini, salah satu yang menjadi perhatian banyak orang adalah kecelakaan di tol Jagorawi seminggu yang lalu yang melibatkan AQJ, anak umur 13 tahun putra musisi kondang Achmad Dani. Tentang kecelakaan di jalan yang mengakibatkan sejumlah orang tewas, bukan pertama kali itu terjadi. Tetapi ketika sang pengemudi adalah anak di bawah umur yang mengendarai mobil pada tengah malam di saat anak lain seusianya terlelap dibuai mimpi, inilah  daya tariknya. Yang juga menjadikan peristiwa ini menarik diberitakan adalah karena ia anak selebrita.

Ada memang yang berpendapat dan meramalkan kasus ini akan pelan-pelan menguap seperti peristiwa kecelakaan yang melibatkan anak seorang petinggi negeri yang juga merupakan besan orang penting negeri ini. Bagi yang memercayai dugaan ini, sepertinya yakin bahwa kebebasan di negeri ini memang sudah sedemikian dahsyatnya. Seperti halnya orang bebas bicara, uang pun bisa bicara!

Saya tak terlalu tertarik menelisik –apalagi menarik-narik Sampeyan—untuk mengamini pendapat itu. Langkah ringan untuk membuktikan dugaan itu benar atau tidak hanyalah dengan menunggu ke mana buntut kasus itu nanti akan menuju. Jadi bersabarlah sedikit.

Sambil menunggu itu, mari kita membuktikan teori yang mengatakan bahwa di balik setiap peristiwa pasti akan ada hikmahnya. Dan tengoklah ke sekitar, hikmah yang mulai menampakkan diri yang dilatarbelakangi peristiwa maut itu adalah; di jalanan polisi melakukan razia kepada para pengemudi kendaraan bermotor yang masih usia sekolah. Sepertinya polisi harus lebih banyak lagi menyediakan surat tilang bila hal ini benar-benar terus dilakukan. Karena, sudah menjadi pemandangan lumrah, banyak sekali anak sekolah yang menggunakan motor (atau mungkin mobil) sebagai kendaraan ‘dinas’-nya, padahal secara usia mereka belum waktunya memiliki SIM.

Secara ekonomis perhitungannya jelas; daripada naik angkot, biaya naik motor untuk berangkat dan pulang sekolah tentu lebih hemat. Tetapi efek samping dari anak-anak sudah dipegangi kendaraan sendiri juga tak kalah jelasnya. Seringkali saya mendapati anak masih berseragam sekolah sehabis maghrib masih santai-santai di pinggir jalan tak langsung pulang ke rumah. Tetapi kongkow-kongkow bareng teman-teman laki-perempuan dengan tujuan yang bagi saya kurang jelas.

Saya agak pesimistis tentang gebrakan polisi dalam merazia pelajar berkendara motor/mobil ini. Bukannya apa-apa, sudah seringkali dalam menyikapi sesuatu kita ini hanya hangat sesaat. Lalu lambat laun kembali ke ‘selera asal’. Ingatlah, ketika baru terjadi pengeboman oleh teroris di sebuah hotel, uh  di tempat-tempat sejenis langsung petugas security-nya luar biasa teliti dalam memeriksa mobil yang keluar-masuk. Polisi pun terlihat makin ketat di mana-mana. Sebulan dua bulan, setahun dua tahun, ketika hal yang dikhawatirkan tak jua terjadi, kita-kita ini menjadi lengah lagi. Longgar lagi. Lalu, bumm... bom meledak lagi!

Begitulah, sepertinya dalam menegakkan yang seharusnya ditegakkan kita-kita ini membutuhkan semacam obat kuat agar kewaspadaan dan ketaatan dalam menjalankan peraturan menjadi tahan lama dan tak gampang loyo. Bukan sekadar suam-suam tahi ayam. *****

Sabtu, 24 Agustus 2013

Gema Lagu Lama

BAGI orang yang seumuran dengan saya, atau malah lebih tinggi lagi kadar asam uratnya bilangan usianya, sesekali tentu masih ingin mendengarkan lagu-l;agu lawas yang kondang saat masih muda dulu. Di beberapa situs macam 4shared atau YouTube, kalau mau, kita bisa menikmati tembang-tembang kenangan itu. Tetapi, yang lebih simple dari itu tentu kita bisa mendengarkannya lewat radio.

Banyak stasiun radio yang punya acara semacam itu dengan berbagai nama di Surabaya ini. Yang teratas, menurut saya, adalah program Memorabilia milik Suara Surabaya FM. Kenapa saya bilang teratas? Ya karena pembawa acaranya, Iman Dwi Hartanto, terbilang sangat menguasai acara yang dibawakannya. Ia tahu sejarah lagu itu, siapa-siapa saja yang pernah menyanyikannya, sudah diaransemen ulang berapa kali dan sebagainya. Pendek kata, memang harus begitu itu seorang yang mengemban tugas sebagai penyiar lagu. Baik lagu baru atau lawas. Harus tahu 'asbabun nuzul' sebuah lagu.

Sekalipun lebih sering memutar lagu-lagu lama dari manca negara, sekali waktu Mas Iman (begitu ia akrab disapa) juga mengudarakan lagu-lagu Indonesia. Bahkan pernah suatu waktu membuat satu segmen khusus memutar lagunya Ebiet G. Ade, misalnya. Atau Koes Ploes, atau Titiek Puspa.

Selain Suara Surabaya, untuk pencinta tembang kenangan tentu sudah akrab dengan acara musik lama yang menyediakan durasi waktu lumayan panjang; MediaFM. Kalau SSFM mengudarakan Memorabilia saat malam, MediaFM lewat Mbak Ajeng sebagai pemandunya, menyuguhkan tembang kenangan itu dari pagi sampai siang.

Sebagaimana MediaFM, acara Sweet Memories-nya StratoFM juga diudarakan saat pagi. Hal yang juga dilakukan oleh MTBFM dengan Tembang Tempo Bahuela (catatan: untuk radio MTB FM ini, acara-acaranya memang menggunakan kepanjangan dari MTB. Misalnya; Musik Teman Beraktifitas, atau Monggo Tresno Budoyo.)

Walau beda kelas dan segmen pendengar dengan SSFM, yang mengudarakan acara serupa saat malam adalah radio El Victor. Radio yang memancar dari studio di jalan Jemursari Surabaya ini, untuk pendengar acara El Sanda (El Victor Santai Bersama Anda, begitu nama acara tembang lawas-nya) ada sebutan tersendiri untuk para pendengarnya; Nona Manis untuk yang perempuan dan Pria Romantis untuk yang laki-laki.

Sekalipun terdengar sedikit lebay, bagi saya penyebutan itu tidak terlalu mengganggu. Yang lumayan membuat saya sering geregetan, justru si penyiar, Zaki (maaf, nama ini baru saya ketahui semalam) sering sekali kurang menguasai materi lagu dan sejarahnya. Benar memang, saat lagu itu sedang top-topnya, bisa jadi ia masih balita atau malah belum lahir. Tetapi, tentang resensi lagu, sebetapa pun lamanya ia, dengan membaca tentu masih bisa dicaritahu ini-itunya.

Kalau kurang suka materi siaran sebuah radio, cara tergampang adalah dengan bepindah gelombang. Geser ke kiri ada info lalulintas, geser ke kanan dapat berita politik. Dengan jumlah stasiun radio yang sampai tak sempat menghitung, salah satu di antaranya bisa jadi sedang menyiarkan sesuatu yang disuka. Kalau bukan dangdut, ada jazz, atau campursari dan sebagainya. Dan kalau masih juga memburu lagu lama, siapa tahu sebuah radio yang mengudara di gelombang FM sekian koma sekian, (103,5 WijayaFM, umpamanya), sedang memutar sebuah lagu lawas milik almarhum Gombloh; ...di radio aku dengar lagu kesayanganmu..... .... *****

Sabtu, 10 Agustus 2013

Berlebaran di Malam Takbiran

KERJA di pabrik mana?” haji Rosyid, atau yang di kampung akrab disapa Abah Sate, yang asal Madura itu bertanya lagi saat saya bilang lebaran ini saya harus masuk kerja.

“Seperti di pabrik Kedawung ya, mesinnya kan tidak boleh sampai mati. Jadi harus ada yang masuk sekalipun hari raya,” Cak Kozin, yang kebagian tugas sebagai petugas keamanan kampung selama ditinggal mudik penghuninya, menimpali.

Begitulah. Tetapi saya tidak lantas menyebutkan apa sebenarnya pekerjaan saya. Kalaulah saya diuber oleh pertanyaan yang lebih menjurus, saya juga telah menyiapkan jawabannya; saya bekerja di perusahaan jasa. Jasa apa? Nah, jasa apa yang tugasnya antara lain membetulkan kunci, menambal plafon yang berlubang karena kondensasi pipa AC dan sebagainya. Wis-lah. Sampeyan jangan ikutan detail-detail nanyanya.

Karena harus segera berangkat kerja, seturun shalat Ied saya langsung berkunjung ke tetangga. Tak terlalu banyak sih. Karena sebagian besar tetangga sedang mudik merayakan lebaran di kampung halaman. Jadi ketahuan sekarang, ternyata orang asli Surabaya di sekitar rumah saya ini tidak seberapa. Sebagai kampung yang berdekatan dengan kawasan industri, sebagian besar penghuninya adalah para pendatang. Dan sekarang, yang sebagian besar itu sedang pulang kampuang.

Setelah unjung-unjung ke tetangga, saya berangkat kerja. Jalanan, karena hari raya, tentu tak seperti biasanya. Jalan A. Yani yang biasanya tiada hari tanpa kepadatan, pagi itu cenderung lengang-ngang. Di dekat Royal Plaza yang biasanya ruwet sampai menjelang rel KA di dekat RSI, juga lancar jaya. Tetapi ada juga terbersit perasaan khawatir. Hal ini sebenarnya sebagai ketakutan akan mengalami kejadian seperti yang saya alami sekian lebaran yang lalu. Yakni ketika ban motor saya bocor. Tukang tambal ban yang biasanya antara satu dan lainnya berjarak tak seberapa jauh, saat lebaran mereka jarang yang buka praktik. Banyak di antara mereka yang ikutan mudik. Kalau sampai mengalami ban kempis, bisa-bisa menuntun kendaran mencari tukang tambal ban sampai napas kembang-kempis.

Saling mengunjungi seturun sholat ied, itu sudah biasa. Tetapi bagaimana kalau sudah berlebaran (dalam arti; saling kunjung-mengunjungi untuk bermaafan) di malam takbiran? Hal yang bagi saya termasuk asing ini pertama kali saya alami sekitar 14 tahun yang lalu. Saat dimana pertama kali saya berlebaran di kampung halaman istri.

“Tidak ikut aku,” kata saya saat itu. “Ini masih takbiran, belum lebaran, belum afdol untuk saling bermaaf-maafan,” saya beralasan.

“Ya, sudah. Kalau Sampeyan unjung-unjung-nya besok, berarti sendirian,” istri saya lalu berangkat unjung-unjung ke sanak-kerabat.

Benarlah adanya; paginya, seturun sholad ied, suasananya tidak seperti di kampung asal saya di Jember sana. Di kampung istri saya, di sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan Karangbinangun, LA, itu tidak umum orang beranjangsana di waktu siang di hari raya. Karena bersilaturrahim saling maaf-memaafkan telah dituntaskan di malam takbiran, paginya –bagi saya-- suasana tidak seperti sedang lebaran. Terbilang sepi, nyaris semua orang duduk manis menonton televisi sambil ngemil makan jajan di rumah masing-masing.

Karena tidak ingin mengulangi unjung-unjung bermaafan seorang diri, kalau pas lagi berkesempatan berlebaran di kampung istri dan sedang tidak jatahnya incharge masuk kerja, saya ikutan bersilaturrahim di malam takbiran. Namun untuk orang-orang terdekat di rumah; mertua, kakek-nenek dan anak-anak serta istri, saya tetap lebih sreg melakukan acara maaf-maafan di pagi hari, beberapa saat setelah turun dari shalat ied.*****


Minggu, 04 Agustus 2013

Khofifah vs Pakde Karwo; Adu Bukti



“SELOLOSNYA Khofifah sebagai calon gubernur Jawa Timur, pertarungan di Pilgub Jatim makin seru nanti, Kang,” Mas Bendo meramal.

Itu tentu sebuah ramalan yang niscaya, dimana pun. Tetapi, kalau kemudian dengan masuknya Khofifah dalam bursa cagub, tentu ada pihak yang makin berdegup. Ini pun normal saja. Karena bukankah hakikat politik memang begitu itu.

“Yakni, sarana untuk merebut kekuasaan bagi yang belum menikmati. Sekaligus sebagai cara untuk mempertahankan kekuasaan bagi yang sedang menjabat,” papar Kang Karib.

“Baiklah, kalau begitu sekarang kita bicara peluang, Kang,” seperti biasa, Mas Bendo sering kurang sabar. “Menurut Sampeyan, yang paling mempunyai kans untuk menang nanti siapa?”

Kang Karib diam.

“Lho, piye to Sampeyan itu?!” Mas Bendo protes. “Sekarang zaman merdeka, Kang. Jangan takut bicara, jangan takut menganalisa.”

“Iya, nDo. Tapi kapasitasku itu apa?”

“Rakyat. Kapasitas kita sebagai rakyat, Kang. Dan itu posisi tertinggi dalam demokrasi.” Setitik busa merekah di sudut mulut Mas Bendo, saking semangatnya ia bicara.

“Baiklah kalau begitu, nDo. Sebagai sesama rakyat, menurutmu siapa nanti yang paling berpeluang menang?” Kang Karib menerapkan jurus wolak-walik grembyang.

Maka, inilah analisa ngawur Mas Bendo; “Begini, Kang, maaf ya, saya harus kesampingkan Eggy-Sihat. Bagi saya, mereka itu tak lebih dari penggembira,” Mas Bendo mengeluarkan ajian pengamat mabuk. 

“Kalau Bambang-Said?”

“Sekalipun PDIP mampu memenangi Pilgub Jateng dengan mengusung Ganjar Pranowo, di Jatim keadaan akan bisa berkata lain. Efek Jokowi yang menang telak di DKI, tak selamanya mampu mendongkrak kemenangan calon yang diusung si banteng bermoncong putih. Rieke-Teten di Jabar, buktinya. Atau tak menangnya Effendi Simbolon di Sumut.”

“Sebentar, nDo,” sela Kang Karib. “Kalau begitu, menurut analisa nggedabrusmu, di pilgub Jatim 29 Agustus nanti, yang terjadi adalah pertarungan rematch Sukarwo vs Khofifah?”

“Persis,” mantap Mas Bendo menjawab.

“Lalu yang menang siapa?”

Sebelum menjawab itu, Mas Bendo mengajak Kang Karib mengenali ‘senjata’ apa yang akan dipakai baik oleh Pakde Karwo maupun Khofifah dalam pertarungan el clasico itu nanti. Yaitu; bukti.

“Bukti apa maksudmu, nDo?”

“Bukti bahwa disinyalir ada tindakan yang kurang ksatria dalam pilgub 2009 yang melelahkan karena diulang-ulang. Dengan menggandeng mantan Kapolda yang kala pilgub 2009 itu masih menjabat sebagai Kapolda Jatim, tentu Khofifah sedikit banyak akan menguak praktik kecurangan yang terjadi. Dan kecurangan itu, disengaja atau tidak, dituduhkan pula kepada pasangan Karsa ketika nyaris saja Khofifah gagal maju dalam pilgub 2013 ini. Sebuah tuduhan yang –tentu saja – dibantah kubu Karsa.”

“Dengan mengumbar wadi (rahasia), akankah itu selalu berdampak positif?” tanya kang Karib. “Maksudku, apakah itu tidak malah menjadi bumerang bagi pihak Khofifah?”

“Itulah, Kang,” Mas Bendo menyahut. “Kalaulah kubu Khofifah punya bukti-bukti, baik lama atau baru, tetapi bukti dari pihak Pakde Karwo sebagai incumbent  termasuk tak kalah ampuh.”

“Pakde punya bukti apa tentang Khofifah?”

“Bukan tentang Khofifah, tetapi tentang rentang lima tahun terakhir saat memimpin Jatim. Banyaknya investor yang masuk Jatim, pertumbuhan ekonomi yang melebihi capaian nasional, tentu adalah bukti yang sulit disangkal.”

“Jadi kamu masih ‘pegang’ Pakde yang menang nanti?”

“Tak seharusnya saya berkata sevulgar itu, Kang. Tak etis,” kelit Mas Bendo. “Tetapi, sebagai incumbent, sekali lagi, bukti yang menjadi kartu as Pakde lebih konkret dari sekadar bukti tentang yang dituduhkan sang rival yang belum ada wujud dari yang dikampanyekan karena memang belum memegang jabatan.”

"Tetapi, nDo," kalem Kang Karib menimpali, "alangkah eloknya kalau segala keberhasilan mengemban amanat sebuah jabatan, bila jabatan itu asal muasalnya diperoleh dengan cara yang elok pula."

"Jadi Sampeyan ikutan mencurigai Pakde?"

"Bukan, tetapi secara normatif kan memang harus begitu." *****