“SELOLOSNYA Khofifah
sebagai calon gubernur Jawa Timur, pertarungan di Pilgub Jatim makin seru
nanti, Kang,” Mas Bendo meramal.
Itu tentu sebuah ramalan yang niscaya, dimana pun. Tetapi,
kalau kemudian dengan masuknya Khofifah dalam bursa cagub, tentu ada pihak yang
makin berdegup. Ini pun normal saja. Karena bukankah hakikat politik memang
begitu itu.
“Yakni, sarana untuk merebut kekuasaan bagi yang belum
menikmati. Sekaligus sebagai cara untuk mempertahankan kekuasaan bagi yang
sedang menjabat,” papar Kang Karib.
“Baiklah, kalau begitu sekarang kita bicara peluang, Kang,”
seperti biasa, Mas Bendo sering kurang sabar. “Menurut Sampeyan, yang paling mempunyai kans untuk menang nanti siapa?”
Kang Karib diam.
“Lho, piye to Sampeyan
itu?!” Mas Bendo protes. “Sekarang zaman merdeka, Kang. Jangan takut bicara,
jangan takut menganalisa.”
“Iya, nDo. Tapi kapasitasku itu apa?”
“Rakyat. Kapasitas kita sebagai rakyat, Kang. Dan itu posisi
tertinggi dalam demokrasi.” Setitik busa merekah di sudut mulut Mas Bendo,
saking semangatnya ia bicara.
“Baiklah kalau begitu, nDo. Sebagai sesama rakyat, menurutmu
siapa nanti yang paling berpeluang menang?” Kang Karib menerapkan jurus wolak-walik grembyang.
Maka, inilah analisa ngawur Mas Bendo; “Begini, Kang, maaf
ya, saya harus kesampingkan Eggy-Sihat. Bagi saya, mereka itu tak lebih dari
penggembira,” Mas Bendo mengeluarkan ajian pengamat mabuk.
“Kalau Bambang-Said?”
“Sekalipun PDIP mampu memenangi Pilgub Jateng dengan mengusung
Ganjar Pranowo, di Jatim keadaan akan bisa berkata lain. Efek Jokowi yang menang
telak di DKI, tak selamanya mampu mendongkrak kemenangan calon yang diusung si
banteng bermoncong putih. Rieke-Teten di Jabar, buktinya. Atau tak menangnya
Effendi Simbolon di Sumut.”
“Sebentar, nDo,” sela Kang Karib. “Kalau begitu, menurut
analisa nggedabrusmu, di pilgub Jatim
29 Agustus nanti, yang terjadi adalah pertarungan rematch Sukarwo vs Khofifah?”
“Persis,” mantap Mas Bendo menjawab.
“Lalu yang menang siapa?”
Sebelum menjawab itu, Mas Bendo mengajak Kang Karib
mengenali ‘senjata’ apa yang akan dipakai baik oleh Pakde Karwo maupun Khofifah
dalam pertarungan el clasico itu nanti.
Yaitu; bukti.
“Bukti apa maksudmu, nDo?”
“Bukti bahwa disinyalir ada tindakan yang kurang ksatria
dalam pilgub 2009 yang melelahkan karena diulang-ulang. Dengan menggandeng
mantan Kapolda yang kala pilgub 2009 itu masih menjabat sebagai Kapolda Jatim,
tentu Khofifah sedikit banyak akan menguak praktik kecurangan yang terjadi. Dan
kecurangan itu, disengaja atau tidak, dituduhkan pula kepada pasangan Karsa
ketika nyaris saja Khofifah gagal maju dalam pilgub 2013 ini. Sebuah tuduhan
yang –tentu saja – dibantah kubu Karsa.”
“Dengan mengumbar wadi
(rahasia), akankah itu selalu berdampak positif?” tanya kang Karib. “Maksudku,
apakah itu tidak malah menjadi bumerang bagi pihak Khofifah?”
“Itulah, Kang,” Mas Bendo menyahut. “Kalaulah kubu Khofifah
punya bukti-bukti, baik lama atau baru, tetapi bukti dari pihak Pakde Karwo
sebagai incumbent termasuk tak kalah ampuh.”
“Pakde punya bukti apa tentang Khofifah?”
“Bukan tentang Khofifah, tetapi tentang rentang lima tahun
terakhir saat memimpin Jatim. Banyaknya investor yang masuk Jatim, pertumbuhan
ekonomi yang melebihi capaian nasional, tentu adalah bukti yang sulit
disangkal.”
“Jadi kamu masih ‘pegang’ Pakde yang menang nanti?”
“Tak seharusnya saya berkata sevulgar itu, Kang. Tak etis,”
kelit Mas Bendo. “Tetapi, sebagai incumbent,
sekali lagi, bukti yang menjadi kartu as Pakde lebih konkret dari sekadar bukti
tentang yang dituduhkan sang rival yang belum ada wujud dari yang dikampanyekan
karena memang belum memegang jabatan.”
"Tetapi, nDo," kalem Kang Karib menimpali, "alangkah eloknya kalau segala keberhasilan mengemban amanat sebuah jabatan, bila jabatan itu asal muasalnya diperoleh dengan cara yang elok pula."
"Jadi Sampeyan ikutan mencurigai Pakde?"
"Bukan, tetapi secara normatif kan memang harus begitu." *****
"Tetapi, nDo," kalem Kang Karib menimpali, "alangkah eloknya kalau segala keberhasilan mengemban amanat sebuah jabatan, bila jabatan itu asal muasalnya diperoleh dengan cara yang elok pula."
"Jadi Sampeyan ikutan mencurigai Pakde?"
"Bukan, tetapi secara normatif kan memang harus begitu." *****
Ya, tiga dari empat pasangan cagub calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur sudah pernah nyampe di desa saya. Heran campur takjub saya ini, Mas. Apa pasal? Seberapa pentingkah desa saya? Hahaha...
BalasHapusTentu, jika mereka datang sebagai tamu, tidak ada satu pun yang keberatan untuk menyambutnya. Bertamu adalah bersilaturrahmi. Namun, jika ada pengalihan isu pada saat bertamu, ini yang kurang elok. Saya tidak ahli dalam hal tebak-menebak, ramal meramal, dikarenakan saya memang tidak mengikuti dan tidak menggeluti dunia dan kabar politik. Saya pasrah dan manut saya sama Kang Karib dan Mas Bendo untuk mengamatinya
Haha, mikir politik bagi yang maqomnya memang bukan di dunia yang penuh intrik itu, bisa mumet sendiri. Politikus-politikus itu bisa bertindak kurang elok dengan berbelok bukan di U-Turn. Misalnya, La Nyalla yang pada Pemilukada Jatim yang lalu (terlihat) mati-matian membela Khofifah, saat ini berada di barisan pendukung si Pakde.
HapusKalaulah Kang Karib dan Mas Bendo sok bicara laiknya pengamat politik, itu kan semata karena narsisnya mereka saja. Tidak lebih dari itu. Padahal kalau mau, bisa saja kan mereka itu digaet salah satu pasangan calon untuk dijadikan tim sukses mereka. Tetapi, harus tahu sama tahu, bahwa tidak ada makan siang yang gratis. Jadi, wani pira? Hehe...