Kamis, 18 Juni 2015

Sholat Tarawih: Pilih Patas atau Bumel?

SAYA bukan bismania. Dalam setahun, rata-rata hanya naik bis,
hanya saat mudik dan balik lebaran saja. Karenanya, pengetahuan saya tentang
bis sangat dangkal sekali,sebatas yang lewat di kampung saya saja.
Nama-nama macam Akas, Tjipto(sebagai pesaing Akas, sekarang saat
 saya pulang kampung, tak pernah
lagi ketemu si Tjipto ini. Kenapa ya?) sangat mendominasi sebagai bis
yang sering melintas di jalan raya desa kami. Pada peringkat
berikutnya tersebutlah nama Sabar Indah, Jawa Indah, Kenongo, Ladju,
Kentjono, Yuangga, Jember Indah. Jajaran nama yang saya sebut
belakangan itu sungguhlah jangan percaya begitu saja pada plang trayek
yang dipampang pada kaca. Walau tertulis Jember-Surabaya dan kondektur
dengan mantap bilang, "Langsung, Probolinggo tidak parkir," katakan
Sampeyan turun Wonorejo saja.

Dari terminal Menak Koncar Lumajang itu, jika Sampeyan hendak ke
Surabaya, ada banyak pilihan bis yang lebih nggenah, ya bentuk
'tubuhnya', ya kecepatannya. Bis-bis trayek
Jember/Banyuwangi-Surabaya yang via Tanggul memang lebih banyak
pilhannya.

Sungguh, penumpang bis (bumel) Jember-Lumajang yang lewat Kencong
adalah orang yang harus mempunyai tingkat kesabaran tinggi. Jangankan
truk muat pasir yang jalannya ogah-ogahan karena beban yang
dipikulnya, ibarat kata, cikar (gerobak yang ditarik sapi) juga bisa
menyalip Kentjono, Kenongo dkk itu. Saking pelannya jalan mereka.

Tersebutlah nama kyai Zailani di kampung kami. Oh, bukan. Beliau ini
bukan kyai yang merangkap jabatan sebagai sopir bis. Pekerjaaan utamanya adalah
jualan kitab secara keliling, door to door. Tetapi karena caranya
sebagai imam sholat tarawih pada surau yang 'dipangku'-nya itu yang
membuat beliau juga bergelar sebagai 'sopir' bis Kenongo.

Dengan suara bergetar (karena sepuh), beliau membaca bacaan-bacaan
sholat secara santai, tidak keburu sama sekali. Dan para jamaah,
adalah ibarat penumpang bis Kenongo yang harus punya persediaan waktu
yang longgar.

Bisa ditebak, bila jamaah yang tadinya sholat di sarau kyai Zailani
besoknya berpindah secara permanen ke musholla yang sholat tarawihnya
sudah selesai disaat kyai Zailani baru dapat empat, ia telah
lebih memilih bis Patas sekelas Akas daripada bumel sekaliber Kenongo.

Ada lho ya di kampung saya imam tarawih yang mampu baca Fatihah dalam
sekali tarikan nafas. Nah hitung saja; Fatihah satu tarikan nafas, Al
Kafiruun satu tarikan nafas, bacaan lain anggap saja empat tarikan
nafas. Maksimal sebelas tarikan nafas sudah dapat dua rakaat. Apa
tidak hebat itu? Tetapi, apa tidak rawan kecetit bila terlalu cepat
dalam jentat-jentit?

Barusan, seorang teman Facebook saya update status secara jenaka.
Tulisan yang saya duga dibuat seturun dari sholat tarawih itu secara
lengkap begini, "Masih ingat sosok Lucky Luke: tokoh koboi kocak yang
gerakan menembaknya lebih cepat dari bayangannya? Nah, saat ini ada
sholat tarawih madzhab Lucky Luke: gerakannya lebih cepat dari
bayangannya. Wuz, wuz, wuzz..." *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar