Rabu, 29 Maret 2017

Ketakutan dan Impian

OH, ini harus diangkat”, kata dokter bedah itu setelah membaca hasil foto USG yang diambil kemarin dari ruang radiologi, “harus dioperasi. Berani?”

Beberapa saat istri saya diam, sediam saya yang duduk di sampingnya. Sikap antara takut dan berani itu pernah saya alami, juga di depan dokter bedah, beberapa tahun yang lalu. Tetapi, kalau kalah sama takut, si penyakit akan makin akut dengan aneka derita susulan yang menyertainya.

Iya, Dok, dioperasi saja”, lirih istri saya menjawab. Saya pegang tangannya sebagai bukan sikap sok romantis. Tetapi, bukankah memang harus ada yang menguatkan di saat seperti itu.

Hari yang ditentukan pun akhirnya datang juga. Tepat sekeluar saya dari musholla di rumah sakit itu untuk menunaikan shalat Asyar, istri saya menelepon agar saya segera kembali ke kamar rawat inap. Di situ telah ada perawat yang akan membawanya ke ruang operasi.

Saya menyertai istri saya yang didorong menuju ruang dingin berlampu terang itu. Saya lirik mulut istri saya tiada henti entah melafalkan doa apa. “Nanti sebelum diorepasi, berdoalah yang pendek saja”, pesan saya. Alasannya, percuma bermaksud berdoa dengan panjang tetapi harus terputus oleh reaksi obat bius.

Sebelum operasi, istri saya berganti baju hijau pucat. Entah pengaruh warna pakaian yang dikenakannya atau rasa takut yang menggelayut, kulit istri saya kelihatan lebih bersih, hanya beda sedikit dibanding putihnya kulit artis Korea.

Alhamdulillah operasi berjalan baik, dan kini (saat saya membuat tulisan ini) istri saya sudah di rumah dan menjalani masa pemulihan.

Dalam dunia kedokteran mungkin operasi yang dilakoni istri saya adalah perkara kecil. Tetapi, kata 'operasi' sering membuat rasa takut lebih dulu membesar. Dalam banyak hal lainnya, ketakutan-ketakutan sebelum memulai sesuatu, kata para motivator sih, adalah juga pembunuh suatu impian dan cita-cita. *****

1 komentar: