Selasa, 22 November 2016

Jenang Sapar

SEMAYI adalah nama sejenis botok tetapi tiada udang, tempe atau jamur dan bahan lainnya sebagai isi. Ia hanya botok dengan bahan utama kelapa diparut yang tampil secara solo. Iya sih ada bumbunya, dan bumbu itu sebagaimana layaknya bumbu botok. Seingat lidah saya, rasa utama ketika dimakan adalah pedas. Parutan kelapa nyaris sudah tiada rasa kelapanya, sepo. Karena ia adalah parutan kelapa yang telah tiada santannya. Santan telah diperas untuk dipakai memasak lodeh gori, nangka muda.

Nasi aking (karak) yang dikrawu berteman semayi adalah menu yang tidak jarang mengisi perut saat saya kecil. Nikmat sekali. Dulu kami makan begitu karena keadaan, kini saya kembali ingin menikmatinya lagi karena kerinduan.

Tetapi, di kota ini, dimanakah saya bisa membeli semayi dan nasi aking dikrawu? Tentu tidak ada, selain membuatnya sendiri. Tentu saya bisa meminta dibuatkan menu itu kepada emaknya anak-anak, namun sebagaimana menu lainnya, hidangan apa pun adalah bukan tandingan bila dibanding masakan ibu. Lebih-lebih bila makanan itu didapat dari membeli. Kenapa? Karena makanan yang dibeli dari restoran atau warung makan unsur utama ketika dimasak adalah berdasar hitungan uang, sementara masakan ibu untuk keluarganya dimasak selalu dengan bumbu utama bernama kasih sayang.

Sekarang bulan Syafar, sebagai lidah yang kolokan, kok ya sempat-sempatnya ia merindukan jenang sapar, begitu kami menyebutnya. Berbeda dengan jenang Suro yang berbahan beras putih, penganan ini berbahan tepung ketan yang hanya ada di bulan Syafar. Adonan tepung ketan itu dibentuk bulatan-bulatan kecil (makanya juga disebut jenang grendul) dipadu gula merah dan santan. Hmm, aroma pandannya menggoda, semenggoda sensasi nyeplus bulatan ketan yang kenyil-kenyil, kenyal. Saat dikunyah rasanya nano-nano; ada manis, ada asin, ada gurih, ada-adaaa aja.... (Hmm, mak cleguk..)

Nah, demi menuruti kerinduan lidah, saya mencari si jenang sapar itu ke pasar. Tidak seperti di awal Syawal yang banyak sekali penjual ketupat, di bulan Syafar tidak saya temukan seorang pun penjual jenang sapar. Padahal kalau di kampung saat masa kecil dulu, di bulan Syafar begini, antar tetangga saling antar jenang sapar. Makanya kita bisa makan penganan itu gratis tanpa bayar. Pagi kemarin itu saya meninggalkan pasar dengan tanpa berhasil membuat kerinduan sang lidah terbayar

Namun, dasar rejeki anak bapak sholeh, saat datang ke tempat kerja, ada seorang teman yang baru pulang kampung membawa sebungkus agak besar jenang sapar. Lumayanlah, walau hanya memakan satu-dua sendok (demi agar jenang segitu bisa dimakan semua teman), paling tidak kerinduan lidah saya sudah relatif terobati. *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar