Sabtu, 10 Oktober 2015

Smartphone

UPDATE status atau ngetwit itu jangan terlalu sering biar disangka sibuk, begitu bunyi kalimat yang ditulis seseorang yang saya ikuti di twitter. Dan kalau dicerminkan kepada kenyataan di sekitar, hal itu adalah kebalikannya. Lihatlah, betapa orang makin susah terpisahkan dengan layar ponselnya. Sebagai yang sangat ketinggalan zaman dan kemana-mana hanya bawa ponsel jadul berkelas Nokia N1200 dan paling mewah cuma punya Nokia C3, saya kadang kurang mengerti; apa saja ya diketikkan pada layar smartphone sehingga selalu saja orang begitu senang menarikan jempol tangannya menombol-nombol huruf tak peduli waktu dan tempat. Malah, seorang teman begitu saya kagumi atas kecepatannya menulis kata-kata di layar ponsel dengan hanya memakai dua ujung jempolnya jauh melebihi rekor kecepatan saya menulis menggunakan empat jari (dua jari kanan, dua jari kiri) pada keyboard komputer.

Nah, apa orang yang selalu tak bisa jauh dari smartphone-nya itu tidak sedang sibuk? Oh, mereka selalu sibuk. Namun, sebagaimana slogan sebuah warung kopi di gang dekat rumah saya yang memajang kalimat ojok sampek kerjomo nganggu ngopimu (jangan sampai aktifitas kerjamu mengganggu kegiatan ngopimu), para orang yang yang tidak bisa lepas dari aktifitas (bermedia) sosial itu pun layak punya tagline; bekerjalah hanya di sela nyosmedmu.

Jujur, kadang saya tergoda juga untuk agak ikut arus; ganti 'senjata' berjenis smartphone. Bahkan bidikan saya sudah masuk ke merek dan tipe-nya segala. Celakanya, seperti hendak memilih istri, saya tak langsung tubruk saja. Ada beberapa hal yang saya timbang-timbang. Sudah seharusnyakah saya punya? Untuk kebutuhan apa? Sekadar supaya eksis di socmed? Atau sudah kudu punya demi menunjang aktifitas kerja? Oh, namun tolong kasih tahu saya; apa pekerjaan dengan gergaji, cetok, palu, tang, obeng dan sebangsanya adalah senjata andalan, harus sudah ikut madzhab yang mewajibkan punya smartphone adalah fardlu 'ain? (Imbas dari terlalu mempertimbangkannya ini, sampai sekarang saya masih setia setiap saat bersama N1200 dan untuk aktifitas nyosmed selalu memakai si C3. Ini sekaligus sebagai jawaban dari beberapa email yang masuk menanyakan WA dan Pin BB, bahwa: saya tidak punya)

Iya, sih. Tidak semua orang tak bisa lepas dari gadget-nya sampai-sampai mengorbankan quality time bersama anak-istrinya. Mereka orang hebat yang sangat taat waktu. Sehingga hanya saatnya saja lengket dengan gadget, dan saat lainnya untuk pekerjaan atau keluarga.

Gadget dengan segala fiturnya bisa jadi amat mengasyikkan. Namun,”Ia sekarang berubah. Nggak seramai dulu. Sekarang ia saban waktu lebih asyik dengan ponselnya,” kata seorang teman tentang teman kami yang lain.

Orang bisa asyik dan ramai sendiri dengan banyak teman dari banyak tempat di dunia secara maya, tetapi bisa jadi ia menjadi pribadi baru yang makin hari makin kehilangan kehangatan bagi teman satu ruangan yang sebelumnya selalu ramai dan akrab secara nyata. Bukan hanya para dewasa, sekarang anak-anak pun kemana-mana bawa smartphone dan mengakrabinya melebihi teman sebangku di sekolahnya atau bahkan dibanding ibu-bapaknya. Ini sebagai bukti bahwa smartphone bisa menjadi sarana mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Dengan kenyataan demikian, nanti, makin terasa biasa saja orang tidak saling 'kenal' dengan tetangga yang tinggal di depan hidungnya. *****


1 komentar:

  1. kenyataan yang benar benar terjadi mulai sekarang: smartphone and stupidman

    BalasHapus