Rabu, 30 Desember 2020
H o n o r
Minggu, 27 Desember 2020
Masjid Al Hamzah, Senganan
DULU, selama sekian bulan, hampir tiap hari saya ke madjid ini, selain di Masjid Agung Tabanan. Dan, seingat saya, mungkin hanya sekali mampir maghriban di Masjid An Nur di Penebel, yang terletak di tengah jarak antara Tabanan kota (tempat tinggal sementara saat tugas kerja di Bali) dan desa Senganan, tempat dimana urusan kerjaan dalam satu paket penugasan. Urusan di kantor instansi di kota kabupaten, sedangkan urusan lainnya di desa Senganan, membuat saya bolak-balik.
![]() |
| Saat di desa Senganan, di antara rimbun tanaman bongkot alias kecombrang. |
"Daripada saban hari wira-wira ke Tabanan, silakan nginap di sini saja lho. Ada tempatnya kok", kata Pak Mukhsin, salah satu takmir masjid Al Hamzah kepada saya.
Setali tiga uang, kapan hari Mas Aan (lelaki asal Tulungagung yang menikahi saudara perempuan Pak Mukhsin), yang juga saya kenal akrab, pernah menawari begitu. Lalu menunjukkan sebuah ruang di sebelah kanan pengimaman. Ada kasur, ada lampu, ada pintu. Sudah memenuhi syarat untuk dibilang sebagai kamar.
Mandi dan sebangsanya juga tidak perlu khawatir. Air wudlu melimpah, Kamar mandi juga bersih. Airnya jernih dan dingin. Nah inilah masalahnya. Kalau sehabis asyar saja hawa dinginnya minta ampun, tentu kalau malam dinginnya makin ampun-ampun.
Sayang sekali beberapa file foto dan video tentang masjid al Hamzah ini raib dari kartu SD saya yang rusak. Sehingga terpaksa sebagai pelengkap tulisan ini saya ngambil gambar dari google maps.
Ada cerita tentang masjid kecil ini di tengah masyarakat setempat yang Hindu. Yang tetap rukun. Yang saya sempat tanyakan kepada keluarga besar Pak Mukhsin yang mukim di sekitar masjid. Sekitar belasan KK. Juga kepada beberapa tetua masyarakat Hindu di situ.
Keluarga besar Pak Mukhsin adalah keturunan kesekian dari orang Bugis yang sudah sejak dulu tinggal di desa ini. Secara bahasa, sehari-hari memakai bahasa Bali. Pun Mas Aan dan kemudian saya juga kenal Mas Hamid asal Balung-Jember, yang juga menikah dengan saudara perempuan Pak Mukhsin. Dengan masyarakat sekitar yang mayoritas Hindu jangan ditanya rukunnya.
"Setiap hari raya kurban, kami juga dibagikan daging kambing", cerita Pan Sukresni, yang rumahnya tidak jauh dari masjid.
"Nah, kalau setiap waktu sholat ada suara adzan dari TOA masjid, apa gak keganggu. Apalagi saat subuh yang lagi enak-enaknya tidur?", seloroh saya.
"Ibu malah suka", sahut Bu Sukresni. "Kalau dengar suara adan subuh, berarti itu waktunya Ibu bangun. Mulai masak", papar Ibu yang sehari-hari bekerja sebagai pengepul sayur, terutama bongkot ini.
Bongkot?! Wah kok saya langsung kangen sambel bongkot ya.π₯° ****
Kamis, 26 November 2020
Kecanduan
HARI-HARI belakangan ini, saya sedang agak geregetan kepada Ibu Negara. Gara-garanya ia kecanduan lagi. Rajin nonton sinetron lagi. Sesuatu yang saya tidak suka sejak dulu.
Saat hamil anak pertama dulu, ia kecanduan nonton sinetron Misteri Gunung Merapi. Saya menjadi was-was juga. Dengan alasan, iya kalau anak kami nanti lahir seperti Sembara, kalau lahir laksana Basir bagaimana. Kerjaannya makan melulu. Itu pun masih mending. Kalau menjadi seperti Grandong bagaimana?
Saya memang hanya bisa geregetan. Tidak lebih. Karena untuk apa kesukaannya yang tidak saya sukai itu dijadikan pemicu 'perang'? Toh Ibu Negara nonton sinetron selepas semua 'tugas kenegaraan' di sumur, dapur dan kasur telah diselesaikan dengan sempurna. Itu pertama.
Kedua: jangan-jangan sebenarnya ia juga kurang suka saat saya nonton talkshow politik yang sering mengaduk-aduk emosi saya itu. Atau saat saya nonton pertandingan tinju, atau sepakbola.
Atau juga, diam-diam saat larut malam, dan Ibu Negara sedang pulas dibuai mimpi, saya malah sedang asyik berbalas obrolan (yang sering sama sekali bukan percakapan penting dan hanya nggedabrus tentang hal remeh-temeh belaka) dengan teman lama via grup wasap. ****
Minggu, 22 November 2020
Mengintip SCTV, TVRI Zonk
SAYA tidak tahu bagaimana hawa di rumah Anda saat ini. Tapi di Surabaya, masih sumuk. Mungkin sesumuk suhu politik jelang pemilihan Wali Kota. Ah, mana ada sih urusan politik yang bikin adem. Bawaannya panas melulu.
Ups. Gak usahlah kita ngomongin politik. Yang pelik. Yang kadang antar tetangga, karena beda pilihan, bisa saling mendelik. Kita bicara yang ringan-ringan saja. Tentang televisi digital terrestrial. Yang bikin geregetan. Bagi yang geregetan sih. π
Baiklah. Kita bicara tentang SCTV dkk. Yang belum lama ini on air di kanal digital. Di kota kelahirannya. Eh, kenapa ya untuk Surabaya, si Surya Citra ini malah mengudara belakangan. Ataukah sebagai kacang sudah agak lupa pada kulitnya?
Ups, maap. Tak baik berburuk sangka. Pastilah pihak Emtek punya strategi sendiri. Punya jadwal tersendiri. Untuk menghidupkan saluran digitalnya.
![]() |
| Sinyal MUX Metro, sedang-sedang saja tapi clink. |
Bermain di kanal 29 digital (538 MHz), si SCTV menggendong si Indosiar dan O Channel. Secara power, sepertinya masih kecil pakai banget. Sehingga daya jangkaunya masih tak seberapa. Di daerah tempat tinggal saya di kawasan Rungkut, signal yang tertangkap hanya kenduk-kenduk semata. Tak lebih dari 17%. Itu pun timbul tenggelam. Menjadikan siaran tak muncul di layar kaca saya. Bersyukurlah kalau Anda bisa menangkap siarannya. Kabarnya, malah ada yang bisa menangkap di daerah Pasuruan sana.
![]() |
| Sinyal MUX Emtek, masih pelit. |
Mengudara dari tower Indosiar di Balongsari (bukan di menara SCTV Darmo Permai), secara jarak tak jauh berbeda dengan pemancar digital lain yang telah on air. Kalau dibandingkan dengan MUX Trans (ch. 27) kalah jauh. Signal milik Trans kenceng sekali. Pada urutan berikutnya ada MUX Metro (ch. 25) dan peringkat teratas secara kekuatan sinyal (biasanya) diraih MUX TVRI (ch. 35).
![]() |
| Sinyal TVRI, sedang zonk. |
Kok biasanya?
Iya, karena sesaat sebelum membuat tulisan ini, ketika saya intip, sinyal dari MUX TVRI malah sedang zonk. Ada apa gerangan?
Baiklah, saya keluar sebentar. Menatap langit. Bertanya kepada mendung yang tipis belaka. Kapan hujan turun, agar hawa Surabaya tidak lagi sesumuk ini. ****
Senin, 31 Agustus 2020
Tilik: Reality Show Sesungguhnya
PETAN, mencari kutu rambut, dilakukan ibu-ibu di saat senggang. Setelah lelah dengan urusan kasur, sumur dan dapur. Membentuk lingkaran. Sehingga bisa saling petan kepala lain di depannya. Ketemu kutu, diceplus, atau digites, dipenyet diantara kuku jempol tangan kiri dan jempol tangan kanan. Ada satu bumbu pelengkap agar ritual mencari kutu rambut itu makin seru. Makin gayeng. Yaitu: rasan-rasan.
Rasan-rasan, ngomongin orang lain yang tidak ada dalam lingkaran petan itu, teramat nikmat gurihnya. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan rasan-rasan. Pun demikian juga sosoknya. Bisa dipetani segalanya. Seringkali kejelekannya. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki.
Mukaddimah-nya bisa saja sederhana. Kemudian makin melebar secara liar. Misal, celetuk Yu Sam, "Apa benar si Fikri iku sesrawungan karo Dian?"
Minggu, 30 Agustus 2020
Sambal Bongkot, Oh My God!
UNTUK urusan makan, saya ini termasuk orang yang menganut faham pokoknya kenyang. Bukan sebagai petualang rasa. Dalam artian suka mencoba menu baru yang tentu mempunyai rasa baru. Saya kira ini ada untungnya. Paling tidak, selain baju yang tidak sering ganti (karena punyanya cuma itu melulu), tidak suka mencoba menu makanan baru dapat diindikasikan hanya dilakukan oleh orang yang setia. Orang yang tidak suka syelingkuh (pakai syin). Yes, dengan memakai parameter itu, saya masuk kategori orang yang setia setiap saat seperti bunyi iklan deodorant.
Tempo hari saya membuat status di wasap tentang lidah saya yang kangen sambel bongkot. Itu nyata adanya. Bukan mengada-ngada. Bahwa dulu saya tidak suka sambel itu memang iya. Tetapi kemudian menjadi suka berawal dari coba-coba. Sekali dua kali, lidah saya mulai bisa menerima. Lalu, kini, mengangeninya. (Jangan-jangan hobi selingkuh juga berawal coba-coba demikian ituπ).
Dulu, saat bertugas di Bali, dalam sebulan sekali pulang ke Surabaya, selalu saya bawa si bongkot itu. Yang sebelumnya tidak saya sukai itu. Saya bawa naik pesawat. Di rumah saya sambal sendiri. Pakai terasi. Pakai teri. Ditambah pete. Dimakan sama nasi hangat, amboi rasanya. Kalau saja si Inces Nabati mencoba sambal buatan saya itu, tentu ia akan bilang: Duh Gustiiii..... Endol surendol takendol-kendol nguenah....
Entah dimana di Surabaya ini saya bisa beli si bongkot yang kalau di Senganan, Tabanan, harga seikat berisi empatbelas, seingatnya saya hanya lima ribu rupiah saja. Dan di kebun Pan Sukresni, orang tua baik hati yang selama berbulan-bulan di Tabanan saya ikuti, saya bisa membawa semau saya dengan gratis belaka.
Sambil sarapan dengan sambal instan buatan pabrik, tadi pagi saya iseng bilang kangen sambel bongkot kepada Ibu Negara.
"Itu di frezer kan masih ada", sahutnya. "Dulu pernah aku mau buang, sampeyan bilang jangan".
"Iya to?!"
Istri saya menuju lemari es dan mengambil kotak tupperware berwarna hijau muda. Di dalamnya ada bongkahan kecil sambal yang menggumpal. Putih. Menjadi beku. Saya cuwil, ah iya, saya masih belum lupa. Ini benar sambel bongkot. Oh my God. Saya girang sekali.
"Ini sambal kapan ya?", saya bertanya sambil makan.
"Hampir tiga tahun lalu. Apa masih enak?"
"Enak tuh", lahap saya menyantap. "kalau nanti ada efek samping, palingan cuma mules...".
Rindu kadang memang bisa bikin orang mabuk kepayang. Eh, mabuk sambel bongkot ding!****
Koran Korban
BEBERAPA bulan yang lalu, saat sedang hangat-hangatnya berita tentang Helmy Yahya sebagai Dirut yang dicopot jabatannya oleh Dewas TVRI, saya baca di internet koran Kompas melalukan survei terkait hal tersebut. Survei Litbang Kompas, Anda tahu, tentu selalu bermutu. Jangankan soal perseteruan Helmy dan Dewas TVRI, survei soal Pilpres saja koran Kompas menyajikannya dengan ces-pleng. Maka, ketika hasil survei itu dimuat di koran Kompas, sepulang kerja saya sempatkan membeli edisi Kompas hari itu. Saya beli di tukang koran pinggir jalan. Di ujung jalan Diponegoro, seberang bonbin, Surabaya. Lalu saya lanjut perjalanan pulang, si koran Kompas itu saya masukkan bagasi motor Vario saya. Dan, hasil survei Litbang Kompas tentang TVRI-Helmy itu adalah; saya malah belum membacanya. Sampai sekarang. Sampai saya iseng membuat tulisan ini.
Jadi, saya ingin bertanya; kapan terakhir kali Anda membaca koran? Atau malah sudah tidak pernah.
Di seberang Pasar Soponyono Rungkut, saya lihat tumpukan koran yang dijual seorang agen sekarang makin menipis. Di perempatan Panjangjiwo, di dekat lampu merah, dua ibu sepuh duduk di tepi jalan memangku koran dagangannya. Duduk, pasif. Bukan laiknya tukang koran saat zaman koran masih menjadi sumber informasi andalan dulu. Yang mendatangi calon pembeli. Saat lampu merah. Dengan membaca judul isi koran edisi hari itu. Yang kadang di-lebay-kan. Agar menarik. Agar orang tertarik membeli.
Sekarang era digital. Era internet. Era paperless. Lalu nasib koran?
Saya bukan orang koran. Tapi saya bisa membayangkan bagaimana orang koran mempertahankan mati-matian media cetaknya. Agar tetap hidup. Di tengah gempuran sumber bacaan yang tanpa kertas tadi. Dan era mempertahankan kehidupan media cetak sudah pernah terjadi sebelumnya. Menyesuaikan diri. Dengan perkembangan zaman yang menuntut segala sesuatu penjadi simple. Menjadi praktis.
Selasa, 25 Agustus 2020
Blogger, Vlogger, Youtuber dan Mager
IYA, entah sejak kapan, saya suka utak-atik antena televisi. Bermula dari antena UHF biasa, beranjak ke antena wajan. Iseng saja. Suka saja. Suka lihat televisi. Walau kalau saya sedang pegang remote control tivi, si remote itu bisa-bisa kegeregetan; karena saya selalu gonta-ganti channel. Tak fanatik pada kanal tertentu. Lalu kesukaan itu saya tuang dalam tulisan. Dalam blog. Sekenanya. Semaunya. Sok jadi pengamat televisi. Karena, saya pikir, jadi pengamat televisi itu gampang. Tinggal nonton, amati, ulas, lalu posting di blog.
Ternyata saya keliru. Ternyata tidak begitu. Pengamat tivi itu kudu paham banyak hal. Bukan berdasar amatan serampangan di layar kaca belaka. Tapi juga hal-ihwal yang saling kait-mengait dalam ikatan dunia penyiaran. Undang-undang atau regulasinya, teknologinya, resolusi gambarnya. Dan sebagainya, dan seterusnya.
Dengan tahu diri bahwa saya tidak banyak tahu, maka dalam blog televisi saya itu, saya membatasi diri hanya memposting hal yang setahu saya saja. Tidak lebih.
Awal ngeblog dulu, sekitar sebelas tahun yang lalu, saya seperti kesurupan. Entah berapa blog yang saya buat. Walau sekarang, yang saya rawat (seingatnya saja sih merawatnya π) hanya dua atau tiga. Termasuk ini. Yang sedang saya (atau Anda?) baca ini.
Minggu, 28 Juni 2020
Lathi Bahasa Jawa Kuno?
Di Weird Genius itu, selain Eka Gustinawa, ada Reza Arap (pakai P, bukan B) dan Gerald. Siapa mereka, sepertinya Anda lebih tahu daripada saya. Pun demikian tentang Sara Fajira.
Dalam sebuah obrolan dengan Pak Ganjar Pranowo, Sara mengungkap bahwa ialah yang memasukkan syair berbahasa Jawa yang salah satu katanya dijadikan judul lagu; lathi.
"Saya mengambil dari istilah peribahasa Jawa kuno", begitu jawab Sara saat ditanya Pak Ganjar seperti saya lihat di kanal Youtube Pak Gubernur Jawa Tengah itu, tentang inspirasi dibalik Lathi.
Jumat, 05 Juni 2020
BaliTV Pindah ke Telkom-4
![]() |
| Pembetitahuan transponder di satelit Telkom-4 pada layar BaliTV. |
![]() |
| Transponder BaliTV di Palapa-D yang kini sudah gelap gulita. |
![]() |
| Intensitas dan kualitas sinyal BaliTV di receiver Matrix Burger S2 saya. |
Rabu, 03 Juni 2020
Meramal New Normal
"Itu lak zaman doeloe, Kang", Mas Bendo mengomentari cerita itu. "Coba anak sekarang, mana mau mereka pakai sandal jepit 'berpenangkal petir' begitu".
"Begitulah, nDo. Setiap zaman mengandung kelumrahannya sendiri".
Lalu Kang Karib menukil contoh termutakhir. Akibat Covid-19. Yang orang dianjurkan untuk jangan salaman dulu. Selalu pakai masker. Tentu saja ada yang manut, ada yang ngeyel. Lazim. Namanya juga homo sapiens. Nah, sampai kapan harus begitu? Harus jangan salaman, harus selalu bermasker?
Para orang pintar pun belum tahu kapan pageblug ini akan game over. Kapan pandemi ini berakhir. Nah, jangan-jangan orang kemudian keterusan tidak suka salaman dan kemana-mana dengan penutup mulut.
"Lha lak tambah bagus to, Kang", sahut Mas Bendo. "Orang menjadi makin sadar jaga kesehatan".
"Itu lak kalau maskeran, nDo. Maksudku kalau keterusan tidak mau salaman piye?".
"Aku juga lagi mikir, Kang."
"Mikir opo?"
"Mikir konsep rumah", jawab Mas Bendo. "Rumahku kan kamar mandinya di belakang. Di dekat dapur".
"Lho lak normalnya memang gitu kan, nDo?" sela Kang Karib.
"Itu lak normal cara lama, Kang. Kalau normal gaya baru, yang dibilang orang dengan kata 'keminggris' New Normal itu, bisa beda, Kang."
"Beda piye jal?"
"Sekarang orang kalau dari keluar rumah, dari berbelanja atau pulang bekerja, kan harus bebersih badan dulu. Mandi, ganti baju, baru boleh bercengkerama dengan orang rumah. Lha kalau kamar mandinya di belakang, lak sudah kadung masuk rumah, penyakit bisa keburu ngikut masuk".
"Jadi?"
"Menurut ramalanku, selain harus selalu menerapkan segala protokol kesehatan yang sekarang umum dikampanyekan, di rumah-rumah, jedhing atau kamar mandi, nantinya tempatnya tidak 'disembunyikan' di belakang seperti selingkuhan. Tapi di depan, di dekat halaman".****
Senin, 11 Mei 2020
Waswas Tes Swab (2)
Kalimat pembuka barusan, saya tulis sambil melagukan tembang lamanya Obbie Messakh, Kisah Kasih di Sekokah. Dan keresahan serta kegelisaan oleh pageblug ini sungguh sangat berbeda dibanding resah-gelisahnya hendak bertemu kekasih. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Bertemu dan apalagi ketularan Covid-19, oh jangan sampai, jangan sampai.
Tetapi, pelbagai mitos yang sebelumnya sempat bertebaran di media sosial (dan celakanya, sempat juga dipercaya), bahwa si virus tak akan masuk ke negara kita --karena ini atau itu--, sungguh tak terbukti. Kini ia ada di sini. Di sekitar kita. Sesuatu yang kita harapkan jangan sampai, akhirnya sampai juga. Baiklah. Sekarang kita kubur saja mitos-mitos yang dulu sempat kita imani itu. Kita kubur dalam-dalam dengan protokol ketat dan diiringi doa agar kita tidak terkutuk menjadi keledai.
Soal lainnya adalah stigma. Bahwa orang batuk atau bersin saja, sekarang ini langsung dilirik orang. Terlebih saya ini yang kalau sudah kadung sakit batuk, susah sekali sembuhnya. Itu contoh ringan. Contoh lainnya adalah, ketika ada tetangga meninggal karena sakit panas dan sempat dirawat di RS, tetangga kanan-kiri langsung parno. Itu kena Korona, begitu kabar diedarkan.
Padahal untuk tahu seseorang kena Covid-19 atau tidak, tidak segampang itu. Harus ada tes. Dan bukan sekadar rapid test. Harus yang lebih akurat. Harus swab.
Oleh perusahaan, awalnya saya diarahkan melakukan tes swab di sebuah Rumah Sakit di dekat RS dr. Soetomo sana. Secara jarak relatif jauh dari rumah saya. Makanya, saya usul, agar saya bisa tes di RS yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya.











