Senin, 20 Desember 2021

Kebelet Kiblat

Saat saya makan di warung gudeg Jogja
jalan Teuku Umar, Denpasar.

WALAU
saya ini sudah puluhan tahun bekerja di sebuah tempat --yang management kami acap menancapkan faham kepada setiap karyawan bahwa--berkelas bintang lima (padahal menurut saya --setuju tidak setuju-- sudah amat sangat pantas naik kasta menjadi bintang tujuh, karena tiap awal bulan telah berjasa membuat saya tidak terlalu sakit kepala, walau di tanggal empat uang gaji saya tinggal seperempat), saya ini tetap saja orang katrok. Ndesit. Dan, belum pernah menginap di hotel berbintang. Kalau makan di hotel berbintang sih pernah. Saat menjadi 'pemain pengganti' (karena kabag yang kudunya hadir, berhalangan) untuk menghadiri sebuah forum membahas suatu program atau semacam pelatihan.

Acara training-nya sih biasa, saat makan ala hotel itu yang luar biasa. Luar biasa canggung, maksud saya. Pernah sih, setelah lirak-lirik kanan-kiri, nyontek menu yang diambil orang-orang, saya ikutan. Namun apa daya, lidah saya ini adalah lidah ndedo-kesakeso, makanan ala hotel yang saya bayangkan semua mak-nyus, malah terasa pating klenyit tak karuan di lidah saya. Tahu gitu, tadi saya memilih nasi goreng atau sate saja. Menu makanan yang menurut lidah saya adalah pemuncak abadi klasemen dari semua jenis makanan di alam fana ini.

Sabtu, 30 Oktober 2021

Antena Indor Andal untuk TV Digital

SECARA kepastian, walau karena pandemi, yang semula dijadwal dimulai bulan Agustus tahun ini diundur start-nya menjadi April tahun 2022, namun deadline-nya tetap. Analog Switch Off akan dilakukan pada 22 November 2022. Berarti persis setahun lagi bila dihitung dari saat saya membuat tulisan ini.

Artinya apa?

Setelah bertahun-tahun serasa di-PHP, semoga geliat dan progress migrasi siaran tivi dari analog ke digital benar-benar akan terjadi. Dan sepertinya memang akan segera terjadi. Sehingga kita bisa segera berdada-dada mengucap selamat tinggal siaran tivi dengan gambar kepyur bersemut. Menuju era tivi bergambar glowing, clink dan bening! Kalau menurut si Modi yang muncul di sudut layar kaca: Bersih, jernih, canggih!

Menyongsong era itu, para pelaku usaha telah menyambutnya dengan -bisa diintip dari aneka kebutuhan yang terkait dengan itu- mulai marak di pasaran. Dari mulai produsen pesawat tivi yang kabarnya akan segera berhenti memproduksi pesawat tivi analog, dan segera total memproduksi tivi digital, bahkan mulai dari ukuran inch yang biasa dijangkau kelas menengah, aneka merk STB yang membanjiri pasaran membuat harga makin membumi, termasuk tersedianya aneka merk antena yang mendaku sebagai antena khusus digital.

Senin, 02 Agustus 2021

Kampung Bendera Surabaya

KALAU di Rungkut ada Kampung Kue dan di Tenggilis ada Kampung Tempe, maka di Darmorejo, di ujung jalan Darmokali arah Wonokromo, ada Kampung Bendera. Dan kemarin sore, saya sengaja mampir kesitu.

Bu Cici sedang menjahit pesanan hiasan
tujuhbelasan di lapaknya.

Melihat geliat aktifitas yang marak. Maklum, telah masuk bulan Agustus. Aneka pernak-pernik tujuhbelasan ada dijual disini. Mulai umbul-umbul, bendera aneka ukuran, tiang bendera, lampu kelap-kelip dan sebagainya.

Tidak hanya tersedia barang jadi, namun ada beberapa perajin pernak-pernik yang sekalian mengusung peralatan jahitnya di lapaknya. "Iya, kami juga menerima pesanan. Ini saya juga lagi menjahit barang pesanan", Bu Cici, salah satu perajin pernak-pernik yang menggelar dagangannya di kios sederhana di tepi jalan Darmokali, menjelaskan saat saya tanya.

Iya memang, demi estetika dan agar telihat makin cantik, ketika menghias meja resepsionis sebuah hotel, misalnya. Tentu akan lebih manis kalau pernak-pernik tujuhbelasannya dipesankan. Bukan beli jadi. Agar ukurannya bisa pas. Bisa proporsional dengan ruang atau bidang yang akan dihias.

Agustusan tahun ini adalah Agustus kedua di tengah masa pandemi. Dengan ekonomi yang makin sulit, pembatasan kegiatan, serta aneka dampak pageblug Covid lainnya, ternyata animo masyarakat untuk belanja pernak-pernik tujuhbelasan tidak pudar.


"Mulai kemarin alhamdulillah sudah ramai", sambil menjahit, Bu Cici menerangkan. "Agustus tahun lalu penjualan juga bagus".

Si Covid memang ada. Dampaknya pun demikian. Namun, melihat geliat KampungBendera, dengan segala dinamikanya, saya menemukan secercah cahaya. Bahwa, ketika orang-orang masih berbelanja bendera dan atau pernak-pernik merah-putih lainnya, tentu itu yang akan dikibarkannya. Sang dwi warna. Merah-putih.

Bukan malah hanya mengibarkan kaih putih. Menyerah. 

Tujuh puluh enam tahun sudah Indonesia merdeka. Semoga, tak lama lagi kita juga segera terbebas dari cengkeraman si Corona. 

Merdeka !!!*****


Minggu, 25 Juli 2021

Dari Positif ke Negatif

DUA konten video terbaru saya di YouTube perihal pengalaman saya PCR dan hasilnya, sementara saya 'kunci' dulu. Saya setting hanya bisa saya tonton sendiri. Bukan apa-apa. Persepsi orang tentang Covid ini kan macam-macam. Ada yang tingkat 'keparnoannya' berlebihan, ada yang wajar, sampai ada yang masa bodo.

Menghindari penyikapan yang keliru, saya pikir, lebih baik konten itu saya 'amankan' dulu. Nantilah kalau situasi sudah 'aman terkendali' konten itu akan saya publish. Kalau saat ini dan dilihat tetangga atau orang dekat yang pemahamannya tentang covid ini masih kurang semestinya, tentu bisa menimbulkan hal yang tak perlu. Bisa-bisa saya dijadikan bahan --seperti judul lagunya Elvie Sukaesih-- bisik-bisik tetangga, misalnya.😊

Tidak usah diasingkan, selama menunggu hasil PCR tempo hari itu, saya sudah mengucilkan diri sendiri (baca: isoman). Secara suka rela. Lagian, siapa sih yang mau ketempelan si covid ini. Terlebih, tentu saya sangat tidak ingin orang terdekat saya ikut kepapar dan sumber paparan itu dari saya. 

Saya isi waktu selama isoman itu dengan hal-hal yang positif. Yang tadinya saya ini gak bernah berolahraga, kini menjadi lumayan rajin lari pagi: 30 menit sampai satu jam.

Hari itu tiba juga. Saat mana saya menerima hasil test PCR. Hasilnya? Po-si-tif.

Sabtu, 17 Juli 2021

Kontak Erat dan Cita-cita yang Tercapai

SECARA amatiran, saya ini mengamati hal-ihwal tentang televisi. Hanya untuk ditulis di blog. Juga -belakangan- saya jadikan content di kanal YouTube  (πŸ‘ˆ kalau mau ngintip video-video saya, silakan di-klik setelah selesai membaca artikel ini😊). Namun, hari-hari ini saya puasa nonton tivi. Terlebih tv berita, kalau nonton Upin-Ipin dan Sopo-Jarwo sih masih sesekali. Pasalnya, saat ini Covid-19 makin menggila.

Apa hubungannya?

Saya kesal, juga was-was. Setiap melihat berita tentang si Corona. Mengonsumsi berita begituuuu... terus secara berlebih, bisa turun dong imun tubuh. Iya, sih. Masih ada titik terang di lorong gelap nan panjang ini. Tentang vaksinasi, misalnya. Namun itu sering tertutupi oleh berita kengeyelan banyak orang yang tak percaya si Covid ini ada dan nyata! Ikutan berikutnya adalah abai akan prokes.

Walau kesal, tentu saya -sambil menarik napas dan mengelus dada- paham: ini nyaris seperti perkara keyakinan! Dan karena beda keyakinan, saling kesal diam-diam tersurat sedang terjadi dalam penyikapan ini. (Ohya, yang juga pelik adalah; mau tak mau ini juga menyangkut urusan perut).

Ada yang dari awal percaya, sekarang makin percaya (sekaligus makin kesal dengan kelompok yang tetep ngeyel tak mau patuh prokes). Kelompok kedua adalah yang tadinya, dengan berbagai dalih, kurang percaya kalau Covid itu ada dan nyata, setelah melihat realita di lapangan (RS penuh, korban terus bertambah dll.) baru sekarang sudah mau percaya. Sekaligus ikut rebutan antre vaksin. Berikutnya ada kelompok yang ketiga: yang dengan berbagai argumen tetap keukeuh berkeyakinan kalau Covid ini tidak ada!

Jumat, 04 Juni 2021

Memindah Brankas

SUATU kali saya mendapat tugas memonitor kedatangan brankas di kantor. Kantor kami membeli brankas setinggi saya, seukuran lemari dua pintu. Tentu berat. Namanya juga brankas. Kalau ringan, kaleng krupuk namanya.😊

Melihat mobil pengangkut datang dan hanya disertai tiga orang tenaga (satu merangkap sebagai sopir) tentu saya agak heran. Brankas seukuran itu dan seberat itu hanya ditangani tiga orang?! Diturunkan di basement lalu dinaikkan ke lantai 2, melewati lorong koridor, masuk lift barang menuju lantai 2. Bagaimana bisa? Tiga orang. Tanpa trolley pula.

Tapi melihat mereka bertiga secara cekatan menurunkan brankas dari mobil dengan terlihat gampang, pastilah mereka para expert di bidangnya. Bidang perbrankasan.

Brankas sudah turun dari mobil, lalu tanpa trolley bagaimana mereka akan mendorong si brankas itu sampai ke lantai yang dituju?

Salah seorang diantara mereka, yang merangkap sebagai sopir tadi, mengambil bungkusan plastik dari mobilnya. Isinya? Kelapa. Iya, kelapa. Yang sudah dikupas batoknya, yang orang kampung saya menamainya cikalan. Kelapa yang siap paru itu.

Tanpa banyak kata, dua orang mengungkit pakai linggis bagian bawah engsel brankas. Lalu yang seorang menaruh cikalan kelapa itu di bagian bawah brankas. Di empat sisinya. Dengan daging kelapa, yang berwarna putih itu, menghadap ke bawah, ke lantai.

Lalu?

Lalu didoronglah si brankas. Aneh. Ia tampak seperti punya roda. Licin menggelinding. Daging kelapa itu membuatnya begitu. Licin. Sehingga tanpa menggores lantai marmer, keramik, atau parquet yang dilewati. Edan. Boleh juga akal mereka.

Maka, beberapa bulan setelah itu, ketika saya mendapat tugas untuk menggeser brankas kantor, yang ukurannya setengah dari yang itu, dan setelah tanya sana-sini ternyata biaya memindah brankas oleh vendor terbilang mahal, saya tiru cara mereka. Pakai kelapa. Semoga cara itu belum dipatenkan. Sehingga saya tak perlu membayar royaltinya.😊 

 


Berhasil. Lumayan. Kantor tak perlu mengeluarkan ongkos setara harga HP yang sedang saya pakai menulis blog ini (dan cukup membeli tiga butir kelapa senilai kurang dari lima puluh ribu rupiah), si brankas terpindah tempat sudah.

Benarlah adanya kalau Pramuka memakai lambang tunas kelapa sebagai lambangnya. Karena kelapa memang serbaguna. Salah satunya bisa untuk memindah brankas. ****


Minggu, 04 April 2021

Bubur Sumsum

PELANDANG demikian di kampung istri saya dibilang. Kalau di desa asal saya disebut rewang, mrabot atau apalagi ya, maaf lupa. Intinya, gotong royong antar tetangga dalam membantu orang yang sedang punya hajat. Dan semua itu adalah ngayah, alias tanpa upah.

Di kampung, suksesnya gelaran hajatan ya oleh para sinoman itu. Walau tanpa EO, biasanya telah terseleksi secara alami siapa akan kebagian tugas apa. Mulai terima tamu, bagian konsumsi dan lain sebagainya. Ohiya, tidak semua gratisan, ada peran yang secara tradisi relatif berbayar. Kepala juru masak dan tukang seduh kopi.

Hajatan zaman sekarang terbilang lebih simpel. Lebih praktis. Dari A sampai Z tinggal diserahkan event organizer, beres. Zaman dulu mana ada begitu. Apalagi di kampung. 

Jauh hari sebelum hari H, telah dilakukan persiapan. Bikin ruang dapur, salah satunya. Walau dipakai secara temporer, dapur itu luas ukurannya. Biasanya letaknya di belakang rumah. Maklum, di kampung biasanya lahan masih ada.

Ketika dapur bertiang bambu dan beratap kepang, anyaman daun kelapa, telah berditi, selanjutnya membuat pogo. Pogo, semacam rak untuk menyimpan alat masak dan sebagainya.

Berbarengan dengan pembuatan dapur, pelandang yang lain mempersiapkan kayu bakar. Semakin besar hajatan digelar, nanggap wayang kulit atau ludruk misalnya, tentu kayu bakar dan segala uba rampe-nya juga menyesuaikan.

Tiga hari menjelang hari H, adalah saat bikin jenang. Jenang bukan sembarang jenang. Berkilo-kilo bahan, tepung beras ketan, santan dari sekian banyak kelapa dan gula diaduk pada jedi, wajan berukuran besar. Bukan hanya satu jedi, tapi dua. Awalnya para ibu yang mengaduk. Karena masih encer, tentu enteng. Makin lama adonan pada jedi di atas bara api itu makin mengental. Makin butuh tenaga. 

Saatnya para pria beraksi. Satu jedi ditangani tiga empat orang. Bersenjata pengaduk panjang. Dari bilah bambu yang dibentuk khusus. Dua jedi, dengan demikian, butuh delapan orang. 

Dengan durasi memasak jenang yang seharian, dari pagi hingga sore menjelang, tentu butuh sekian banyak orang secara bergantian.

Begitulah. Waktu-waktu berikutnya, sampai hati H dan juga setelahnya, sekian banyak orang terlibat.

Capek, tentu saja. Tapi guyup-rukun adalah kuncinya. Capek tenaga, kurang tidur dan lain-lain akan ditutup oleh rasa syukur ketika hajatan terlaksana dengan lancar jaya. 

Bubur sumsum

Sebagai penawar dari segala jerih payah pada acara rewang tersebut, agar segala rasa capek hilang, biasanya akan dibuatkan bubur sumsum. Dibagikan kepada semua yang terlibat. Rata.

Entahlah, tradisi makan bubur sumsum bersama setelah selesai ini apakah juga dikenal oleh para wedding organizer ya? ****

.

Rabu, 03 Maret 2021

Antara PF-209 dan Polytron PDV600T2

KEMARIN saya beli set top box lagi. Dari merk terkenal, Polytron. Type PDV 600T2. Saya sudah punya set top box, sebenarnya. Yang saya beli sudah lama sekali. Jauh sebelum saya banting setir mencari jalur langit, tracking tv satelit.

Gara-garanya, waktu sekitar tujuh tahun yang lalu itu, geliat migrasi tv analog ke digital lelet sekali. Saya dikompori teman agar dolanan jalur langit saja. Dan saya turuti. 

Sekarang geliat migrasi analog ke digital sudah ada kepastian. November 2022. Istilahnya ASO alias Analog Switch Off. Saat mana semua siaran televisi di Indonesia harus sudah berhenti bersiaran analog. Harus beralih ke kanal digital. Sebuah deadline yang disambut suka cita teman-teman pemerhati siaran televisi. Juga oleh pemirsa yang ingin gambar di layar tv menjadi clink, bening.

Terlebih bagi yang telah punya pesawat tv yang sudah support DVB-T2. Yang selama ini terpaksa cuma untuk menangkap siaran analog. 

Hal lainnya lagi adalah mulai ramai kembali peredaran set top box. Ini untuk golongan kaum seperti saya; kaum yang pesawat tivinya masih analog. Agar bisa menangkap siaran digital tidak bisa tidak, kudu pakai alat yang namanya set top box itu.

Baiklah, di bawah ini saya akan tampilkan foto perbandingan penangkapan antara dua set top box milik saya. (Dalam membuat perbandingan ini, yang berbeda hanya set top box-nya saya. Sedangkan pesawat tivi dan antenanya tetap sama.)

Nah, antara set top box PF-209 dan Polytron PDV 600T2, sakti mana dalam menangkap sinyal tivi digital terrestrial?

MUX Viva

MUX Media Grup

MUX Trans

MUX Grup Emtek.

MUX TVRI

Itulah penampakannya. Sakti mana? Beda tipis sepertinya. Pada PF-209 sinyal MUX Emtek terdetek, sedangkan pada Polytron tiada penampakan batang sinyal sama sekali. Walau demikian, menggunakan PF-209, saat di-scan tetap zonk pada pesawat tv saya.

Jadi, apa set top box andalan Anda? ****


Kamis, 18 Februari 2021

Empati Mati?

BEBERAPA hari terakhir ini saya tidak terlalu intens bersosial media, sampai ketinggalan berita tentang Dayana. Beberapa hari ini saya sedang dirundung kesedihan mendalam. Oleh kematian. Bukan sekadar nyawa yang dicabut dari raga semata, tapi oleh kematian empati terhadap sebuah kematian itu sendiri.

Entah sejak kapan ada orang yang menggembirai kematian bukan hanya disimpan namun diungkapkan lewat tulisan. 

Tempo hari ada seorang pemikir terkenal yang meninggal. Sebuah kanal berita daring memberitakan dengan kalimat pertama yang mengenalkan bahwa si mendiang adalah juga aktifis sebuah partai. Penonjolan almarhum sebagai tokoh partai ketimbang sebagai pemikir yang rekam jejaknya sungguh tak bisa dianggap remeh, tentulah angle yang dipilih oleh pembuat berita. Kalaulah tidak begitu, alangkah dangkalnya si pembuat berita dalam menggali latar belakang tentang siapa si tokoh ini. Itu pertama.

Kedua, ada benang merah antara beberapa media (online utamanya) yang suka membuat judul 'provokatif' dengan komentar pembaca yang nge-gas atas berita tersebut. Tentu bukan hal salah. Demi dibaca, berita diberi judul yang genit dan memancing. Namun, dengan tabiat pembaca kita yang kadang (atau sering?) hanya membaca judul berita tanpa membaca dengan seksama dan utuh, tentu bikin ngelus dada karena komentarnya sungguh gaduh.

Sedih karena bertubi-tubi mendengar wafatnya orang-orang cemerlang, lebih menyedihkan lagi membaca komentar yang secara vulgar nyukurin tentang kematian itu. Dan astaghfirullah, ungkapan nyukurin itu dibalut dengan kalimat hamdalah.

Politik memang kejam. Tapi kalau hanya karena fanatisme dan perbedaan pilihan politik lantas kemudian menjadikan manusia hilang kemanusiaannya, politik buat apa? ****

Jumat, 12 Februari 2021

Kang Prie GS, Sugeng Tindak


ADA
seorang teman di grup wasap alumni sekolah Aliyah saya, memposting gambar yang hari ini entah sudah berapa kali diposting orang. Tentang tanggal baik. Di hari ini. 12022021. Unik. Antik. Dibaca bolak-balik, dari depan atau belakang sama saja. Hari ini juga saat baik. Tahun baru Imlek. Hari Jumat pula. Kebaikan yang berlipat ganda.

Di hari baik ini tapi saya malah mendapat kabar kurang baik. Tentang kepergian orang baik. Yang humoris, yang 'cubitannya' tak bikin sakit. Paling banter malah 'geli'. Itulah yang saya tangkap dari 'perkenalan' awal dulu. Via acara radio. Sketsa Indonesia. Lalu saya jatuh cinta. Dengan gayanya. Dengan blaka-suta-nya. 

Tentang kemiskinan yang saat kecil dulu amatlah nelangsanya, namun kini bisa ditertawai dengan riang gembira. Tentang kenekatan jatuh cinta kepada siapapun perempuan yang layak dijatuhcintai, tanpa berharap cinta itu tak bertepuk sebelah tangan.

Saya pernah membayangkan diri saya sebagai Ipung. Yang kerempeng. Yang miskin, tapi punya jatidiri. Saya juga sempat lancang mengingat mantan-mantan saya (paling tidak yang saya anggap sebagai mantan, walau mereka itu sama sekali tak pernah menaruh hati pada saya. Marilah kita bersepakat: bahwa mencintai tak harus memiliki!) adalah Paulin atau Surtini.

Minggu, 24 Januari 2021

Antena UHF Paramount Gold

 


SEJAK
 diketok palu tentang batas akhir umur siaran tv analog pada 22 November 2022, sepertinya geliat migrasi siaran televisi dari analog ke digital kembali terasa menggelinjang😊. Di beberapa zona, ambil sebagai contoh, MUX MNC grup langsung tancap gas, walau di area lain masih harus bersabar dulu. Menunggu pengadaan perangkat dulu. Termasuk menunggu proses lelang MUX di beberapa propinsi.

Saya mengikuti perkembangan di zona lain via sosmed saja. Sedang di area Surabaya ini, seminggu yang lalu ada kejutan dari MUX Viva yang tiada hujan-tiada angin tiba-tiba nongol. Walau, kemudian langsung clink: menghilang lagi. Kok saya jadi ingat jailangkung ya. Hehe...

Baiklah, mungkin si Viva sedang memanasi perangkat saja. Baru uji coba. Walau sebenarnya, saya inginnya MUX Viva langsung tancap gas, menyalip sinyal MUX Emtek yang walau sudah sebulan lebih on air, tapi sinyalnya masih pelit (pakai banget).

Minggu, 03 Januari 2021

E m b u h

 "KAMU sudah dengar kan, nDo?", Kang Karib bertanya kepada Mas Bendo yang lagi menata papir tjap Pagupon, tembakau lalu ditaburi cengkih, bikin rokok tingwe, nglinting dhewe.

"Dengar apa to, Kang?", Mas Bendo ngakep rokok tingwe itu di bibirnya, kemudian menyulutnya. Asap mengepul.

"Bu Khofifah positif Covid-19".

Mas Bendo klepas-klepus, menikmati rokoknya.

"Kamu itu, jadi orang kok gak ada empatinya babar-blas", Kang Karib maido.

"Terus aku kudu piye, Kang? Di tipi tiap hari beritanya kopit. Di henpun juga gitu. Terus sampeyan juga. Tiap hari kok yang dibahas kopat-kopit, kopat-kopit".

"Eh, dengar ya, nDo. Aku itu paling gregetan kalau ada otang yang cuek, gak peduli, dan nyepelekne pandemi Covid-19 ini".

"Sampeyan juga dengar ya, Kang. Saya ini juga gak suka kalau ada orang saban hari bicara kopat-kopit, kopat-kopit dan terlalu takut sama si korona".

"Kamu itu, jan embuh, nDo, nDo..."

"Sampeyan itu kok juga embuh, Kang, Kang..." ****