SETELAH Philipina, Brazil, Thailand dan Kolumbia, negeri kita nangkring di peringkat kelima tingkat kebetahan penduduk dalam main internet. Torehan waktunya, 8 jam 36 menit dalam sehari. Artinya lebih dari sepertiga waktu dalam sehari kita habiskan berinternet. Entah ini sebagai cermin kepintaran dan kemajuan ataukah malah sebaliknya. Karena Jepang, sebagai negara yang minat baca warganya relatif tinggi, ranking kekuatan warganya dalam berinternet gak ada seupilnya bila dibanding kita. Catat, mereka hanya betah berinternet selama 3 jam 45 menit dalam sehari. Dan ini sebagai negara nomor buncit.
Internet penting adalah iya. Namun membaca rilis yang banyak dimuat media tersebut kok ya gimana. Ataukah memang kegemaran dan kebetahan dalam berinternet tak dapat dijadikan patokan pintar-tidaknya sebuah bangsa (atau seseorang), tak pula bisa dipakai acuan yang hitam-putih.
Sebagai orang yang tidak sekali-dua blusukan ke kamar mandi dan/atau WC penghuni Jepang, saya acap mendapati ada semacam 'perpustakaan' di tempat buang hajat mereka. Itu, walau subyektif semata, paling tidak saya bisa simpulkan; orang Jepang suka membaca. Nah, lha kok bisa coba, orang suka membaca malah, menurut laporan itu, gak betah berinternet.
Kembali ke 'prestasi' daya tahan bangsa kita dalam berinternet, jangan-jangan memang demikian. Jangan-jangan itu memang perilaku saya. Yang lebih akrab dengan gadget dibanding lingkungan sekitar.
Membuat tulisan ini dan lalu mempostingnya di blog, tak terasa sudah hampir setengah jam saya 'online'. Ini baru barusan. Belum lagi pagi tadi, belum lagi siang tadi. Oh, jangan-jangan telah lebih dari 8 jam 36 menit dalam sehari ini saya ngeluyur sia-sia di dunia maya. ****
Rabu, 06 Februari 2019
Minggu, 06 Januari 2019
Kacamata
BUKAN, ini bukan tentang hoax lagi. Masa sudah dua kali di awal tahun ini menulis tentang hoax, mau nulis lagi tentang itu. Sudah cukup. Sekali pun di luar sana masih dan selalu akan ada hoax-hoax baru. Biar saja. Hoax menggonggong, kafilah berlalu.
Mari bercerita tentang hal lain saja. Hal-hal tak penting lainnya. Karena bukankah semua yang saya tulis di sini memang adalah hal remeh temeh belaka. Hal tak penting yang hendak saya tulis kali ini adalah tentang kacamata.
Kacamata adalah sesuatu yang sebenarnya tak penting namun meningkat derajatnya menjadi penting bagi yang membutuhkan. Saya pernah membaca analisa seseorang tentang suatu topik dari kacamata beliau sebagai pakar. Yang kadang, nalar saya tidak nutut untuk memahaminya. Yang celakanya, lalu saya tidak setuju dengan pendapat pakar itu. Kenapa? Kacamata saya dan kacamata beliau dalam menyikapi sebuah topik berbeda. Kenapa berbeda? Bisa jadi karena ada gap (bisa pendidikan, dan lainnya) antara saya dan pakar itu.
Mari bercerita tentang hal lain saja. Hal-hal tak penting lainnya. Karena bukankah semua yang saya tulis di sini memang adalah hal remeh temeh belaka. Hal tak penting yang hendak saya tulis kali ini adalah tentang kacamata.
Kacamata adalah sesuatu yang sebenarnya tak penting namun meningkat derajatnya menjadi penting bagi yang membutuhkan. Saya pernah membaca analisa seseorang tentang suatu topik dari kacamata beliau sebagai pakar. Yang kadang, nalar saya tidak nutut untuk memahaminya. Yang celakanya, lalu saya tidak setuju dengan pendapat pakar itu. Kenapa? Kacamata saya dan kacamata beliau dalam menyikapi sebuah topik berbeda. Kenapa berbeda? Bisa jadi karena ada gap (bisa pendidikan, dan lainnya) antara saya dan pakar itu.
Kacamata saya yang kemarin patah (dan alhamdulillah telah tersambung
lagi oleh kawat klip kertas ini), saya beli di jalan Melati Tabanan,
Bali. Di sebuah toko kacamata kecil, Kalista Optik namanya. Tak ada
yang istimewa dari bangunannya. Setak-istimewa banten (sesajen
kecil dengan dupa yang mengepulkan aroma wangi) yang diletakkan di
depan toko, pagi itu. Juga pagi-pagi yang lain. Lumrah saja. Di Bali
semua begitu. Yang tak lumrah adalah, dari toko yang secara
penampakan terlihat Bali banget itu, terdengar alunan lagu kasidah,
atau rekaman tartil Al Quran setiap saya lewat. Juga dua perempuan muda
berjilbab sebagai penjaganya.
Maka, ketika kacamata saya rusak dan tak bisa diperbaiki, menujulah
saya ke Kalista untuk membeli yang baru. Tentu, ada banyak toko
kacamata di Tabanan situ. Tetapi, menurut kacamata saya, ada sesuatu
yang 'lain' (menurut saya lho ya) dari Kalista. Ada aura yang menyatu
dengan saya. Ada warna yang langsung bisa menyentuh hati saya. Iya,
musik kasidah dan perempuan berhijab itu.
Mungkin, seharusnya saya tidak terlalu begitu. Bukankah dalam
jual-beli tak terlarang untuk melakukan dengan orang yang tak seiman.
Betul, dan saya tak membantah itu. Namun, bukankah saya juga tak
salah berlaku begitu, dan di kesempatan lain membeli barang lain di
tempat yang lain, di tempat orang tak seiman. Biasa saja.
Toh, musik kasidan dan alunan ayat suci itu diputar oleh penjaga toko
yang kera Ngalam, arek Malang. Yang tak malang karena tak
dilarang oleh si empunya toko yang orang Hindu (Bali) untuk memutar
sesuatu yang islami di tokonya. Ini hal sepele. Hanya suara. Tapi,
di sini, di negeri yang dulu senantiasa digaungkan sebagai negeri yang
menjunjung tinggi sopan-santun dan toleransi ini, kini tidak sedikit hal dan kasus besar
(atau dibesar-besarkan?) yang dipicu hal sepele. Tidak saja oleh yang
lain golongan, yang segolongan pun bisa beda dalam menilai dan
menyikapi sesuatu. Kenapa? Ya karena beda kacamata (dan kepentingan?) dalam melihatnya.
*****
Kamis, 03 Januari 2019
Hoax Tempo Doeloe
SEDANG ramai dibicarakan orang tentang kabar (bohong) telah ditemukannya tujuh kontainer di Tanjung Priok berisi surat suara yang sudah dicoblos untuk salah satu paslon kontestan pilpres yang digelar lima hari setelah ulang tahun saya bulan April nanti. Dan sebuah keniscayaan, bahwa sebohong apa pun kabar, kadang ada juga yang mempercayai, sebagaimana sesungguh apapun kabar benar, tak menutup kemungkinan ada pula yang tak mempercayai.
Sudahlah, saya agak kurang gairah menulis tentang hal perpolitikan. Saya harus tahu diri. Saya ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tak ada kapital memadai untuk mengupas yang yang saya kurang pahami.
Namun hoax, saya kira, bukan belakangan ini saja terjadi. Bahwa kemudian kabar bohong ini lalu punya nama keren sebagai hoax, mungkin memang iya barusan saja saya tahu. Tetapi praktik hoax itu sendiri adalah hal yang sejak kecil sudah saya alami sendiri. Saya mengalaminya sebagai korban, dan orang tua saya pelakunya. Nah lho.
Berikut tiga hoax ortu versi saya.
Sudahlah, saya agak kurang gairah menulis tentang hal perpolitikan. Saya harus tahu diri. Saya ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tak ada kapital memadai untuk mengupas yang yang saya kurang pahami.
Namun hoax, saya kira, bukan belakangan ini saja terjadi. Bahwa kemudian kabar bohong ini lalu punya nama keren sebagai hoax, mungkin memang iya barusan saja saya tahu. Tetapi praktik hoax itu sendiri adalah hal yang sejak kecil sudah saya alami sendiri. Saya mengalaminya sebagai korban, dan orang tua saya pelakunya. Nah lho.
Berikut tiga hoax ortu versi saya.
Rabu, 02 Januari 2019
Selamat Tahun (Hoax) Baru
SAAT mengawali tulisan ini, sudah tiga puluh delapan jam saya menghirup udara tahun baru. Tahun 2019. Tahun baru yang lama-lama akan menjadi lama juga, kehilangan kebaruannya. Seperti halnya yang lain. Yang tak terhitung. Yang tak dirayakan.
Namun, saya memang tak pernah merayakan tahun baru. Tak pernah meniup terompet sambil begadang, lalu besoknya tidur seharian. Tidak. Saya bukan kelompok kaum itu. Saya orang biasa saja. Sangat biasa.
Walau demikian, saya rasa tahun ini, gaduh sekali. Bukan tentang para anak muda yang keliling kota di malam pergantian tahun dengan knalpot brong motornya. Kegaduhan yang belum pernah ada sebelum-sebelumnya. Kegaduhan yang konyol sekali. Antara dua kubu. Yang entah darimana asalnya kemudian melekat julukan kecebong dan kampret.
Media sosial memang kejam sekali. Di dalamnya menjadikan seakan tak ada sekat sama sekali. Walau tentu tak harus begitu. Karena, dimana pun, memakai sarana komunikasi apa pun, unggah-ungguh tetaplah harus ada. Harus diberlakukan. Tak peduli kepada siapa pun. Kecuali, meminjam istilah Pak Rocky Gerung, orang dungu yang melakukannya. Dan kedunguan stadium lanjut adalah orang dungu yang tak merasa dirinya dungu. Sabar, jangan keburu tersinggung. Karena, bisa jadi orang tersebut adalah saya sendiri.
Tengok saja. Hanya di media sosial orang yang blas gak pernah sekolah ekonomi bisa menyerang kebijakan pemerintah terkait ekonomi hanya berdasar pendapat si anu yang kebetulan berseberangan dengan pemerintah. Istilahnya, si anu itu ada di kubu oposisi. Yang maklum saja, apa pun kebijakan pihak sana selalu keliru bagi kelompoknya. Pun demikian sebaliknya.
Contoh kedua, hanya di medsos ada anak yang barangkali ngajinya baru dalam tahap iqro' saja bisa mengatai seorang ulama dengan kata 'ndasmu' hanya karena si anak itu tak sependapat dengan pandangan kiai itu tentang sesuatu.
Begitulah. Telepon pintar akan sangat berbahaya bila yang memegangnya tidak pintar. Apalagi dengan kenyataan bahwa perkembangbiakan hoax sudah sangat sulit dikendalikan. Padahal, maha sesat hoax dengan segala isinya.
Walau terlambat, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru. Semoga kita tetap termasuk kaum yang tidak mudah termakan (apalagi pencipta) hoax.*****
Namun, saya memang tak pernah merayakan tahun baru. Tak pernah meniup terompet sambil begadang, lalu besoknya tidur seharian. Tidak. Saya bukan kelompok kaum itu. Saya orang biasa saja. Sangat biasa.
Walau demikian, saya rasa tahun ini, gaduh sekali. Bukan tentang para anak muda yang keliling kota di malam pergantian tahun dengan knalpot brong motornya. Kegaduhan yang belum pernah ada sebelum-sebelumnya. Kegaduhan yang konyol sekali. Antara dua kubu. Yang entah darimana asalnya kemudian melekat julukan kecebong dan kampret.
Media sosial memang kejam sekali. Di dalamnya menjadikan seakan tak ada sekat sama sekali. Walau tentu tak harus begitu. Karena, dimana pun, memakai sarana komunikasi apa pun, unggah-ungguh tetaplah harus ada. Harus diberlakukan. Tak peduli kepada siapa pun. Kecuali, meminjam istilah Pak Rocky Gerung, orang dungu yang melakukannya. Dan kedunguan stadium lanjut adalah orang dungu yang tak merasa dirinya dungu. Sabar, jangan keburu tersinggung. Karena, bisa jadi orang tersebut adalah saya sendiri.
Tengok saja. Hanya di media sosial orang yang blas gak pernah sekolah ekonomi bisa menyerang kebijakan pemerintah terkait ekonomi hanya berdasar pendapat si anu yang kebetulan berseberangan dengan pemerintah. Istilahnya, si anu itu ada di kubu oposisi. Yang maklum saja, apa pun kebijakan pihak sana selalu keliru bagi kelompoknya. Pun demikian sebaliknya.
Contoh kedua, hanya di medsos ada anak yang barangkali ngajinya baru dalam tahap iqro' saja bisa mengatai seorang ulama dengan kata 'ndasmu' hanya karena si anak itu tak sependapat dengan pandangan kiai itu tentang sesuatu.
Begitulah. Telepon pintar akan sangat berbahaya bila yang memegangnya tidak pintar. Apalagi dengan kenyataan bahwa perkembangbiakan hoax sudah sangat sulit dikendalikan. Padahal, maha sesat hoax dengan segala isinya.
Walau terlambat, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru. Semoga kita tetap termasuk kaum yang tidak mudah termakan (apalagi pencipta) hoax.*****
Sabtu, 24 November 2018
Gelitik Bicara Politik
PUNYA
grup whatsapp
dari beberapa almamater tentu ada senangnya. Walau kadang ada jengkelnya pula. Benar memang, teman sekolah, yang dulu
akrab sekali, setelah terpisah sekian puluh tahun, antara
mosang-masing
telah melewati berbagai pengalaman hidup. Dari hal itu tadi, tentu
tidak menutup kemungkinan, telah ada sedikit-banyak pandangan yang
berbeda. Entah itu yang remeh temeh, atau hal yang lebih mendasar.
Salah
satu yang saya langsung kurang respek, adalah ketika ada teman yang
acap kali menyelipkan posting semacam kampanye untuk tidak memilih
capres ini, dan senantiasa mengunggulkan capres itu. Okelah, saya
sepakat warga negara yang baik, salah satunya adalah yang melek
politik, tapi kalau di semua kesempatan ngomongin politik kok ya
mbleneg
juga. Di warung ngobrol politik, di tempat kerja jagongan politik, di
pos kamling bahas politik, lha kok di whatsapp nemu posting politik.
Lebih
eneg
lagi kalau obrolan politik itu serius banget. Membela pendapat para
tokoh nun jauh disana dengan membabi buta. 'Pokoknya jagonya itu
terbaik, dan sang lawannya adalah kurang dan malah tidak ada
baik-baiknya blas'.
Makanya saya sepakat dengan pendapat, untuk bersikap netral adalah
hal yang amat sulit sekali bila kita telah menentukan calon yang
nanti hendak kita pilih. Ini tentang capres lho ya. Karena kalau
tentang caleg, apa sih yang menarik untuk dibicarakan tentang mereka?
Wong kita (eh, saya ding!) sejauh ini kurang mengenal siapa saja
mereka yang mesti dipilih, yang bisa dipercaya seratus persen nanti
bakal betul-betul memperjuangkan aspirasi saya, dan bukan malah
mati-matian memperjuangkan 'aspirasi' mereka dan/atau partainya
sendiri.
Ada
acara debat (kusir) politik yang tayang rutin di layar kaca. Acara
itu ramai sekali. Lebih-lebih nara sumber yang dihadirkan adalah yang
jago omong semua. (Ya iyalah, kalau narasumbernya pendiam semua,
santun semua, gak ramai dong). Jadi, baik yang pro maupun yang
kontra, yang dihadirkan dalam debat adalah yang punya kepiawaian
mumpuni dalam adu mulut. Semakin ada yang ngomongkan suka lepas
kontrol dan emosional, semakin sering ia didatangkan. Malah, ada
narasumber yang apa pun topik debatnya, beliau selalu (di)hadir(kan).
Dan (seolah) selalu tahu secara mendalam apa pun topik bahasannya.
Luar biasa.
Dulu,
jujur saya akui, juga suka nonton acara begituan. Maka, ketika anak
bungsu merebut remote control televisi untuk menonton acara kartun
kesukaannya, tak jarang saya menjadi naik pitam. Sebuah tindakan
konyol bukan? Hanya demi mengikuti debat para politisi (yang periode
lalu sebagai anggota partai A, kini dia bicara atas nama partai B,
dan pada pemilu lima tahun yang akan datang bisa jadi loncat lagi ke partai X),
kok sampai dibela-belain rebutan remote control sama anak kecil.
Kini
saya lebih santai. Semakin jarang (tidak pernah, malah) mengikuti
acara-acara debat politik begituan. Dan asyik saja menemani si bungsu
nonton serial kartun kesukaannya. Iya, film kartun yang ditonton anak
saya memang entah sudah berapa kali ditayang ulang. Dan dia tidak
bosan. Mungkin begitu juga teman-teman saya yang belum juga ada
bosannya nonton acara (dan bicara) politik.
Setiap
orang punya kesukaannya sendiri. Maka, menurut saya, antar anggota
beberapa grup whatsapp
saya yang heterogen ini, tak usahlah ngomong politik. Agar selalu cair.
Ngomong yang ringan-ringan saja. Seringan saya, dengan suara
pas-pasan, menyanyi bareng si bungsu saat serial Tayo,
sebuah film animasi produksi Korea, mulai diputar di layar kaca; ♪♫
hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah...♫♪
melaju, melambat, Tayo selalu senang♪♫...
****
Jumat, 09 November 2018
Gorengan
MAS BENDO
berlari kecil menuju warung Mbak Yu. Gerimis pagi yang turun di
November ini sepertinya agak terlambat. Karena biasanya Agustus sudah
mulai hujan., lha ini sudah hampir pertengahan November baru
mulai turun hujan.
Dingin-dingin, di
hujan begini tentu enak nongkrong di warung Mbak Yu. Bisa nunut
baca koran. Bisa makan pisang goreng hangat. Apesnya, Mbak Yu belum
menggoreng pisang. Kang Karib yang sudah nongkrong duluan malah sudah
kebal-kebul merokok sambil baca koran.
“Piye to
Mbak Yu, kok pisangnya belum digoreng?” protes Mas Bendo.
“Rung
sempat, nDo.” jawab Mbak Yu sambil ndeplok sambel pecel.
“Ra usah
protes,” Kang Karib bicara sambil membuka koran halaman berikutnya.
“Wong ngutang aja kok kakean tuntutan. Mbok ya yang
sudah ada saja itu dimakan”.
“Hujan-hujan
begini enaknya makan gorengan yang anget-anget, Kang.”
“Makan krupuk
sambil minum kopi hangat kan juga bisa, nDo”
“Pinginnya pisang
goreng kok malah disuruh makan krupuk ki piye to sampeyan,”
Mas Bendo ambil duduk di dekat Kang Karib. “Lha kalau
sembarang gorengan, sekarang bukan hanya pisang. Perkataan juga bisa
digoreng lho, Kang”.
“Mesti kamu
sedang membela Pak Wo kan, nDo?” Kang Karib yang memang simpatian
Pak Wi menimpali. “Orang itu lihat-lihat dong kalau bicara. Masak
calon pemimpin kok bicaranya begitu.”
“Begitu piye to,
Kang? Orang guyon kok ditanggepi serius.”
“Guyon itu itu
juga harus ada batasnya, nDo. Mosok kok merendahkan orang dengan
menyebut daerahnya itu guyonan. Itu ndak patut, nDo.”
“Ra patut piye
to, Kang?!” sanggah Mas Bendo. “Ra patut mana coba
dengan wong sudah minta maaf kok masih saja dituntut. Ini
namanya gorengannya ra uwis-uwis, nggak bubar-bubar. Bisa
habis energi kita hanya ngurusi hal sekecil upil ini. Lha
kapan majunya kita, Kang.”
“Sama, nDo,”
Mbak Yu yang masih belum selesai menumbuk sambel pecel di lumpang,
menimpali, “kapan majunya warungku ini kalau kamu setiap kesini
selalu ngutang...” *****
Minggu, 04 November 2018
Sangkal Putung atau Dokter Orthopedi (Bag.2)
TENGAH
malam, di saat si bungsu pulas tidur, saya sering terjaga. Melihat
tangannya, melihat sikunya. Ya, walaupun setiap saya tanya dia selalu
bilang sudah tidak merasakan sakit di sikunya, dengan kondisi yang
hanya bisa ditekuk sembilan puluh derajat, sungguh saya merasa
nelangsa. Saya merasa berdosa. Dititipi merawat anak yang lahir
sempurna, kok bisa jatuh dan menjadi bengkok tangannya. Saya
membayangkan ia nanti oleh kawan-kawannya dijuluki si cekot.
![]() |
| Si Bungsu membaca alur pasien. |
Celakanya, sebagai
pasien baru yang belum punya kartu Rekam Medik, saya harus
mendaftarkan secara manual. Belum bisa online. Dan, Senin itu
kuota pasien Poli Orthopedi sudah penuh. Jadi, “Silakan besok pagi
Bapak datang lebih pagi agar kebagian kuota,” kata petugas
pendaftaran.
Baiklah, di RS atau
di manapun, kadang stok kesabaran memang harus tersedia relatif cukup.
Selasa saya datang
lagi, lebih pagi lagi. Sempat sholat Subuh jamaah di masjid RS. Dan,
“Sebentar, saya telpon dokter Lukas dulu ya,” petugas di meja
pendaftaran meminta ijin kepada saya.
Rabu, 03 Oktober 2018
Sangkal Putung atau Dokter Orthopedi?
PALANG pintu
perlintasan KA tertutup, kendaraan di perempatan Jagir sore itu
menyemut. Seperti juga pengendara yang lain, saya berhenti. Iseng
merogoh ponsel di saku celana. Oh, ada tiga panggilan dari Ibu Negara
tak terjawab. Dan beberapa WA. Tak saya baca, karena kereta barusan
lewat. Palang pintu kembali dibuka. Seperti yang lain, saya juga
mencari celah untuk melaju lagi. Tapi untuk menepi. Di setelah rel
kereta api. Saya berhenti di sebelum Mangga Dua. Kembali merogoh
saku. Mengambil ponsel. Membaca yang tertera.
Tak biasa istri
saya menelepon atau kirim pesan via WA di jam segitu, karena pasti
tahu saya sedang dalam perjalanan pulang. Dan Surabaya di jam pulang
kerja sering berkondisi tiada jalan yang tak macet. Benar saja, “Adik
jatuh, tangannya bengkak”, itu kalimat yang saya baca dari WA-nya.
Tiada alasan untuk
tidak berusaha segera sampai di rumah. Begitu memarkir kendaraan di
halaman rumah, ada beberapa tetangga yang sedang ada di ruang depan.
Merubung si bungsu. Dan, oh benar. Saya lihat siku tangannya bengkak.
“Jatuh dari sepeda,” kata ibunya.
Beberapa tetangga
berbaik hati menenangkan saya. Dan bilang bahwa cedera si bungsu
harus segera ditangani. Harus dibawa ke tukang sangkal putung.
“Kalau dilihat
bengkaknya, sepertinya tidak parah,” kata seorang tetangga. “Paling
disana cuma dipijat sebentar, langsung sembuh”.
Saya dan istri yang
sedang panik, agak reda mendengar kalimat itu. Lebih-lebih si
tetangga bilang dia pernah mengantar saudaranya yang cedera tulangnya
lebih parah, bahkan sampai tidak bisa berjalan, begitu dipijat Umik
(begitu dia menyebut tukang pijat itu) pulang langsung bisa jalan.
Jadilah sore itu
juga si bungsu kami bawa ke tukang sangkal putung. Di mobil, di
sepanjang perjalanan, si bungsu selalu menangis kesakitan.
![]() |
| Tangan kanan si Bungsu diperban dan diberi semacam papan tipis. |
Minggu, 23 September 2018
Alon-alon Waton Klepon
TERLETAK di sudut jalan Ngurah Rai Tabanan, Bali, ada satu tempat yang menjual penganan khas Gempol; klepon. Yang membedakan, bila di sepanjang jalan sekitar bundaran Gempol papan nama setiap kedai klepon selalu Wahyu, di Tabanan itu si penjual menuliskan 'Klepon Sidoarjo' sebagai namanya.
"Sidoarjonya mana, Mas?" tanya saya kepada lelaki kekar berambut gondrong yang merekrut dua pekerja asli Bali dalam usaha perkleponannya.
"Saya asli Krembung," jawabnya sambil tangannya cekatan membuat bulatan dari adonan tepung ketan yang selalu diwarna hijau itu. Tak lupa, sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih, dimasukkan cairan gula merah ke dalam kleponnya. Cairan gula merah itu yang memuncratkan rasa manis di lidah saat klepon diceplus.
Ketika saya cerita tentang Klepon Sidoarjo yang dibuat lelaki asal Krembung itu kepada salah satu penjual klepon di Gempol, "Iya, Pak Wahyu, pelopor penjual klepon disini, juga asal Krembung," papar lelaki bersarung dan berkopyah putih itu.
Nah, kebetulan ini. Mumpung Abah penjual klepon di Gempol ini menyebut nama Wahyu, saya iseng bertanya kenapa semua penjual klepon disini memakai nama Wahyu di spanduk di depan kiosnya. Walau saat dibeli, tertera nama lain pada kotak bungkus kleponnya. Mahkota, misalnya. Namun nama Wahyu sudah menjadi nama generik untuk klepon. Di Gempol, klepon adalah Wahyu. Titik.
"Dulu yang pertama jualan klepon disini ya Pak Wahyu itu", Abah menerangkan. "Kami belum bisa bikin. Nah, dari Pak Wahyu pula kami belajar bikin klepon."
"Tapi," saya bertanya lagi,"Kenapa semua pedagang klepon disini kok sampai sekarang memakai nama Wahyu?"
"Karena kalau pakai nama lain, orang kurang tertarik untuk membeli," jawab Abah. "Lagipula, Pak Wahyu gak apa-apa kok namanya kita pakai. Malah beliau juga masih jualan klepon hingga sekarang."
"Lalu apakah penjual klepon disini pada membayar kepada Pak Wahyu karena menggunakan nama beliau?"
"Tidak".
Nah, kalau dilihat menggunakan logika bisnis kekinian, tentu Pak Wahyu dapat royalti dari punggunaan namanya sebagai merk. Dan beliau bisa ongkang-ongkang momong cucu tanpa perlu jualan klepon lagi. Cukup jual nama saja.
Ingin saya bertemu Pak Wahyu yang baik hati itu untuk ngobrol ringan tentang klepon, semoga suatu hari nanti keturutan. Pelan-pelan saja. Alon-alon, waton klepon.****
"Sidoarjonya mana, Mas?" tanya saya kepada lelaki kekar berambut gondrong yang merekrut dua pekerja asli Bali dalam usaha perkleponannya.
"Saya asli Krembung," jawabnya sambil tangannya cekatan membuat bulatan dari adonan tepung ketan yang selalu diwarna hijau itu. Tak lupa, sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih, dimasukkan cairan gula merah ke dalam kleponnya. Cairan gula merah itu yang memuncratkan rasa manis di lidah saat klepon diceplus.
Ketika saya cerita tentang Klepon Sidoarjo yang dibuat lelaki asal Krembung itu kepada salah satu penjual klepon di Gempol, "Iya, Pak Wahyu, pelopor penjual klepon disini, juga asal Krembung," papar lelaki bersarung dan berkopyah putih itu.
![]() |
| Selain klepon, biasanya pedagang di Gempol juga menjual krupuk upil. (Foto: ewe) |
"Dulu yang pertama jualan klepon disini ya Pak Wahyu itu", Abah menerangkan. "Kami belum bisa bikin. Nah, dari Pak Wahyu pula kami belajar bikin klepon."
"Tapi," saya bertanya lagi,"Kenapa semua pedagang klepon disini kok sampai sekarang memakai nama Wahyu?"
"Karena kalau pakai nama lain, orang kurang tertarik untuk membeli," jawab Abah. "Lagipula, Pak Wahyu gak apa-apa kok namanya kita pakai. Malah beliau juga masih jualan klepon hingga sekarang."
"Lalu apakah penjual klepon disini pada membayar kepada Pak Wahyu karena menggunakan nama beliau?"
"Tidak".
Nah, kalau dilihat menggunakan logika bisnis kekinian, tentu Pak Wahyu dapat royalti dari punggunaan namanya sebagai merk. Dan beliau bisa ongkang-ongkang momong cucu tanpa perlu jualan klepon lagi. Cukup jual nama saja.
Ingin saya bertemu Pak Wahyu yang baik hati itu untuk ngobrol ringan tentang klepon, semoga suatu hari nanti keturutan. Pelan-pelan saja. Alon-alon, waton klepon.****
Sabtu, 22 September 2018
Sahabat Pena
DULU, selain kontak jodoh, ada rubrik sahabat pena di majalah mingguan atau koran terbitan Minggu. Selain dicantumkan nama, hobby, cita-cita dan tentu saja alamat surat. Iya dong, kalau tidak, kemana mesti berkirim surat. Tentang foto, sama deh dengan akun sosmed kita (eh, saya ding). Yang tidak tertutup kemungkinan foto yang dipajang adalah hasil 'polesan'. Agar apa kalau bukan untuk menarik perhatian. Kalau tidak gitu, malah agar wajah sejati gak ketahuan.
Karena, kalau saya sih, sasaran tembak pihak yang akan saya sahabat penai (?!), tentu yang fotonya syantik. Walau bisa jadi si syantik yang ngakunya bernama Rida itu sejatinya adalah Rudi.
Saya ikutan teman yang lebih dulu punya hobby surat-menyurat. Dari yang semula heran buat apa beli perangko dan kertas Harvest (yang aroma wanginya gak bisa ditiru oleh media daring sekarang), lalu girang bukan kepalang saat Pak Pos datang mengantar surat balasan, eh saya malah ketularan.
Dan waktu itu, sahabat pena itu sedemikian digandrungi. Sampai ada lagunya segala. Boy Sandi atau Mukhlas yang nyanyi, lupa saya.
Dari sekian sahabat pena saya, ada 'kera Ngalam' yang kemudian relatif lebih akrab dibanding yang lain. Tulisannya bagus, kalimatnya sering puitis. Jan, pokok'e 👍.
Terbilang lama kami secara intens saling berkirim surat. Dan secara khusus dia manggil saya dengan E'ed. Ah, saya langsung ingat Eeng Saptahadi yang main jadi menantunya Bu Broto dalam serial Losmen di TVRI.
Kenapa kami bisa lama bersahabat pena? Ya karena kami tidak saling tahu foto kami. Oh iya, dia saya kirimi surat duluan gara-gara saya pernah baca surat untuk teman saya. Iya, saya iseng baca, dan kok nama dan juga tulisan tangannya 'masuk'. Jadi bukan dari hasil lihat di koran Minggu. Entah darimana pertama kali teman saya tahu alamat arek Malang itu.
Sampai kemudian dia maksa pingin tahu foto saya. Walau waktu itu saya yakin ganteng, sebagai balasan malah saya sertakan guntingan gambar kucing yang saya ambil dari majalah. Sambil sewot, di balasan surat berikutnya ia mengirim foto diri duluan. Dan benarlah kecurigaan yang diam-diam saya pendam, bahwa ia ternyata adalah....****
Selasa, 11 September 2018
Sambal Bongkot
DI desa Senganan, Banjar Soko, Penebel, Tabanan-Bali, saya punya warung makan
langganan. Nama pemiliknya Bu Rahma. Tertulis di papan namanya
sebagai Warung Muslim. Lokasinya tak seberapa jauh dari masjid Al
Hamzah, menjadikan saya tak repot paling tidak dalam dua hal;
makan dan sholat.
Secara rupiah, harga menu di warung Bu Rahma terbilang sangat ramah
kantong. Godoh (pisang goreng) hanya limaratusan, seporsi makan hanya sepuluh ribu
rupiah. Menunya dijamin halal, tapi tak terlalu banyak pilihan. Ya
namanya juga warung di kampung. Lebih sering nasinya pakai beras
merah, sering juga menunya berkisar antara plecing kangkung,
eseng-eseng pare atau lodeh terong. Untuk lauk, walau kadang ada
pindang, yang selalu ada adalah daging ayam suwir dengan dua varian; biasa
dan pedas.
![]() |
| (Foto Dok. Pribadi) |
Secara
rasa, lidah saya ini tak terlalu rewel kok. Lebih-lebih kalau perut
sudah lapar. Lebih-lebih kalau menunya terong. Tapi satu hal, untuk
sambal bongkot di warung Bu Rahma, juga di Warung Muslim lain di Bali
yang pernah saya kunjungi, kok masih gimanaaa gitu. Waktu itu sih...
Iya, karena penasaran, di warung kadang saya minta dikasih sambal
bongkot, “Dikit aja”, pesan saya, dengan maksud eman-eman kalau dikasih banyak takutnya nanti gak kemakan semua. Namanya juga masih taraf
pengenalan. Dan, pih,
kok si lidah saya yang gak rewel ini mendadak berontak kala merasakan
si bongkot. Sekali lagi, waktu itu sih....
Kini, setelah sekian bulan saya balik ke Surabaya, kok jadi rindu
sambal bongkot. Celakanya, kalau di Senganan di setiap tegalan ada tanaman bongkot, di Surabaya ini tak tahu kemana saya mesti mencari.
Untungnya tempo hari saya dapat kiriman bongkot dari Tabanan. (Terima
kasih Pak Firman yang sudah berbaik hati naik pesawat sambil
nyangking bongkot. Terima kasih Pak dan Bu Kresni kiriman
bongkotnya).
Di
dapur Bu Kresni di desa Senganan, dulu saya pernah melihat cara beliau
memasak sambal bongkot, dari sejak awal sampai siap hidang. Dan kemarin, saat bikin sambal bongkot itu, saya
juga bertelepon kepada beliau memastikan resep dan tahapan cara bikin
sambal khas ini tak melenceng jauh. Hasilnya lumayan. Indikasinya; kalau dulu istri saya sempat
gebres-gebres saat
incip sambal bongkot, kemarin itu, dengan hanya berlauk sambal
bongkot, dia makan sampai nambah nasi lagi.
Ini
bahan saat saya bikin sambal bongkot kemarin:
- Kupas dua tunas muda bongkot (kecombrang), iris tipis lalu cuci sambil diremas-remas, bilas, tiriskan.
- Iris tipis tiga siung bawang merah.
- Iris tipis dua siung bawang putih.
- Iris tipis cabe (jumlah sesuai selera)
- Cuci ikan teri (jumlah sesuai selera) lalu tiriskan.
- Garam (secukupnya)
- Gula (secukupnya)
Cara
masak:
- Panaskan minyak (secukupnya) pada wajan.
- Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan cabe sampai layu.
- Masukkan dan campurkan irisan bongkot.
- Masukkan teri.
- Taburkan garam dan gula secukupnya, aduk sampai rata.
- Incip sampai didapat rasa yang pas.
- Selesai, dan sambal bongkot siap dihidangkan.
Nah,
mudah bukan?****
Minggu, 09 September 2018
Karcis Parkir
MAKIN banyak saja tempat parkir yang memakai sistem terkini. Bukan lagi saat masuk nopol dicatat tukang parkir lalu kita diberi selembar karcis. Celakanya, tidak jarang karcis itu sudah lecek. Sudah sekian kali digunakan. Dari sini, ada kecurigaan yang masuk akal; bila selembar karcis parkir digunakan berkali-kali sedangkan secara resmi ia hanya boleh digunakan sekali, kemana dong uang parkir selebihnya?
Dengan sistem yang sekarang, yang saat masuk kita secara swalayan bisa nutul tombol di pintu masuk tempat parkir, dan sejurus kemudian kita mendapat print out 'karcis parkir', semua serba simpel. Juga canggih. Karena saat berhenti ketika nutul tombol tadi, wajah kita juga sedang dipotret; sehingga saat keluar, sambil melihat layar monitor petugas bisa tahu, sama nggak penunggang kendaraan anu dengan nopol sekian antara saat masuk dan keluar. Tentu ini bisa meminimalisir pencurian kendaraan dari tempat parkir.
Belum lama ini suatu pagi, saya pergi ke sebuah ATM bank yang terletak di sebuah pertokoan. Seperti biasa, saat masuk saya nutul tombol untuk kemudian mendapat karcis pakir. Karcis itu langsung saya masukkan saku celana. Di dalam ruang ATM juga serupa; setelah transaksi, selembar print out menjulur. Saya tarik, masuk saku juga.
Masalah baru muncul saat saya hendak keluar dan oleh petugas dibilang karcis saya keliru.
"Keliru bagaimana?" sembur saya yang entah mengapa pagi-pagi sudah esmosi. "Saat masuk tadi dapat itu kok keluar dibilang keliru, yang bener aja..."
"Maaf, Pak. Ini bukan karcis parkir, tapi struk transaksi ATM," kalimat yang diucapkan petugas pintu keluar tempat parkir itu membuat wajah saya langsung putih walau tanpa luluran *****
Dengan sistem yang sekarang, yang saat masuk kita secara swalayan bisa nutul tombol di pintu masuk tempat parkir, dan sejurus kemudian kita mendapat print out 'karcis parkir', semua serba simpel. Juga canggih. Karena saat berhenti ketika nutul tombol tadi, wajah kita juga sedang dipotret; sehingga saat keluar, sambil melihat layar monitor petugas bisa tahu, sama nggak penunggang kendaraan anu dengan nopol sekian antara saat masuk dan keluar. Tentu ini bisa meminimalisir pencurian kendaraan dari tempat parkir.
Belum lama ini suatu pagi, saya pergi ke sebuah ATM bank yang terletak di sebuah pertokoan. Seperti biasa, saat masuk saya nutul tombol untuk kemudian mendapat karcis pakir. Karcis itu langsung saya masukkan saku celana. Di dalam ruang ATM juga serupa; setelah transaksi, selembar print out menjulur. Saya tarik, masuk saku juga.
Masalah baru muncul saat saya hendak keluar dan oleh petugas dibilang karcis saya keliru.
"Keliru bagaimana?" sembur saya yang entah mengapa pagi-pagi sudah esmosi. "Saat masuk tadi dapat itu kok keluar dibilang keliru, yang bener aja..."
"Maaf, Pak. Ini bukan karcis parkir, tapi struk transaksi ATM," kalimat yang diucapkan petugas pintu keluar tempat parkir itu membuat wajah saya langsung putih walau tanpa luluran *****
Langganan:
Postingan (Atom)



