Sabtu, 13 Juni 2015

Rindhang

ASALE nalika bada taun kepungkur dheweke nduweni nomer ponselku. "Saka Rini," kandhane mangsuli pitakonku.

Ya, minangka kanca SMP, aku isih ora lali Rini.
Rini kancane Kadarwati, Zahrotun lan Sali. Jeneng sing dak sebut pungkasan iku saiki kabare wis sukses nang Bali. Duwe salon sing rame pelanggane. Lan; Sali sing pancen wiwit biyen kemayu kuwi, saiki operasi dadi wadon lan krungu-krungu jenenge ganti dadi Shally.

"Aku Rindhang," kandhane liwat ponsel.

Dak peksa ngiling-iling, jan ora kelingan blas.

"Pancen aku ora nganti lulus," Rindhang nutukake, " sawuse ngantem Pak Juma'i, aku langsung metu. Ra sekolah ra pathek'en," guyune jan ucul-cul.

Ya tekan kuwi, nganti saiki, terus wae Rindhang hubungi aku. Yen ora nelepon, ya SMS. Ra pandhang wektu; kadhang tengah wengi. Tapi siji; dheweke ora dak wenehi alamat omahku.

"Wedi yen dak parani ya?"

Aku ora mangsuli.

Nanging, kerana penasaran, sawuse meh selawe taun ora ketemu, aku nyempatke janjian ketemu.

ooOoo

Rambute rada brintik, kulitane rada ireng. Wong lanang nang ngarepku iki nganggo jaket kulit, dedeg-piyadege atletis.

"Akhire...." Rindhang mapak aku nang lawang restoran. Dheweke ora mung nyalami, tapi ngrangkul aku kanthi raket. Nanging aku malah krasa aneh; sapa satemene Rindhang iki?

"Piye, wis iling?"

Sajujure aku lali, nanging mesthi ora patut yen aku kanthi blaka-suta kandha mangkono ing ngarepe. "Wah, tambah gagah saiki..."

"Awakmu ya awet enom," walese. "Dak kira biyen kowe tenanan karo Rini. Eh jebul malah ucul tekan dhusun kesasar ing kutha iki..."

"Lha awakmu kok ya nganti tekan kene iki ya kepriye critane?"

Rindhang malah ngguyu kaya mamerke untune sing putih, kosok-baline karo pakulitane.

Ing meja wis pepak isine. Rindhang nyumanggakne, kandhane, "Ayo, ora usah isin. Kabeh wis dak bayar kok. Anggep wae iki aku ngurmat kanca lawas sing seprapat abad ra ketemu.."

Sinambi ngono, Rindhang takon-takon keluargaku; anak bojoku. Dak jawab sa anane. Dak tutupi saperlune. Lha iya ta? Kanca ya kanca. Iku selawe taun kepungkur. Saiki aku ora weruh sapa sejatine dheweke.

"Aku ya ngene iki. Penggaweanku ya uyar-uyur ngene iki," kandhane.

"Mung uyar-uyur kok mobilmu apik", sangkalku. "Ra mungkinlah.."

"Sawuse metu sekolah kae," sawuse nyumet udut, Rindhang kandha, "aku mrana-mrene. Nang Kalimantan rong taun, nang Papua pitung taun. Nalika aku bali nyang ndesa, kowe wis ra ana. Jare kanca-kanca, kowe neruske sekolah nyang kutha."

Aku ngrungokake wae.

"Njur aku kerja melu Pak Gelam."

Pak Gelam? Wah, jaman nang ndesa biyen, sapa sing ora wedi marang wong lanang gedhe-dhuwur kanthi brengos njlaprang, lengene nganggo gelang oyot mbuh wit apa, menyang ngendi wae tansah nganggo klambi ireng lan udheng abang. Rindhang kerja melu Pak Gelam? Padhahal Pak Gelam iku raja begal.

Sabtu, 06 Juni 2015

P a n d a n

WALAU tak seberapa luas, saya punya halaman depan yang disitu ada
beberapa tanaman. Baik yang sengaja ditanam maupun yang tumbuh dengan
sendirinya. Bayam adalah yang tumbuh tanpa saya menanamnya. Sementara
belimbing, sirsak, turi, beluntas, pohon ungu dan pandan adalah yang
sengaja saya tanam.

Semua tertanam dengan ala kadarnya, dalam arti; kalau dipandang oleh orang yang mengerti penataan landscape ia terlihat tiada seninya sama sekali. Tak apalah. Yang penting ada tambahan asupan
oksigen yang bisa saya hirup di halaman untuk mengimbangi taburan
polusi yang dikeluarkan cerobong-cerobong pabrik --maklum, karena rumah saya
hanya berjarak limapuluh atau seratus meter saja dari kawasan industri. Yang
penting lagi adalah fungsinya; daun beluntas untuk mengatasi bau
badan, daun ungu untuk mengusir wasir, daun sirsak untuk mencegah
kanker, kembang turi untuk dipecel dan pandan untuk penambah aroma
pada kolak atau penganan lainnya. Buah belimbing bisa juga sih untuk menyembuhkan sariawan,
tetapi sekarang belum berbuah. Dan saya belum tahu apakah daunnya
mempunyai khasiat yang sama dengan buahnya. Yang saya tak harus
menunggu berbuah adalah pandan. (eh, apakah pandan juga berbuah?)

Dibanding punya tetangga kanan-kiri, tanaman pandan di halaman rumah
saya terbilang paling subur. Daunnya lebat. Padahal istri saya belum
tentu sebulan sekali bikin kolak, dan untuk sepanci kolak, paling
banter cuma membutuhkan lima helai daun pandan sebagai penambah aroma.
Tetapi, daun pandan di depan rumah itu nyaris saban hari berkurang.
Dengan lokasi di bibir pekarangan dan tanpa pagar, siapapun yang lewat
dan sedang ingin mengambil daunnya bisa melakukannya dengan gampang.

Mula-mula jengkel juga; gak ikut nandur (menanam), kok enak saja
mengambil tanpa permisi.

Tetapi, tunggu dulu, berapa sih harga dua-tiga helai daun pandan?
Sudah sepadankah harga itu untuk menumbuhkan rasa dengki? Iya, tetapi
mestinya kan permisi dulu, nembung dulu. Lho, bikin kolaknya kan pagi,
kalau menunggu sampai sore ketika yang punya sudah pulang kerja, apa
harus kolaknya tanpa pandan?

Sepertinya sangat banyak hal kecil dan tak seberapa nilainya yang bisa
sebagai bibit tumbuhnya penyakit hati. Dan ketika saya tidak bisa
mengikhlaskan hal-hal sepele, makin musykil saja rasanya untuk
merelakan hal-hal besar.

Padahal pandan itu tumbuh nyaris tanpa pernah saya rawat kecuali
menyiramnya. Kalau mau, tentu Yang Maha Menumbuhkan bisa saja sejak
awal membuat pandan itu puret, bengkring atau bahkan mati. Karenanya, kenapa
saya tidak menumbuhkan pikiran bahwa sejatinya pandan itu milik
orang-orang yang mengambilnya tanpa permisi itu, dan Tuhan hanya sedang
menitipkannya untuk tumbuh subur di pekarangan saya. *****

EWAS Bikin Klejingan

Melihat-lihat dulu, menawar-nawar kemudian. (Foto: Galuh Setiawan)
BERTEMPAT di play ground tempat kerja saya ini, Kamis kemarin (4 Mei 2015), EWAS (Expatriate Women's Association of Surabaya) mengadakan acara Yard Sale. Pada awalnya, kegiatan bazar yang bersifat charity itu hanya dikhususkan untuk anggota. Tetapi sampai siang pengunjung yang datang sangat jauh dari harapan, bahkan hanya yang membuka stan saja. Padahal, mulanya panitia mengumumkan yang diundang dan akan datang sekitar 40 anggota. Lha kok ternyata suasananya hanya sepoi-sepoi sepi-sepi saja. Nah, siapa dong yang beli dagangannya?

Yang dijual aneka macam, mulai baju, sepeda, tas, sepatu, kacamata renang, mainan anak yang semuanya adalah barang lungsuran atau bekas pakai. Harga dibanderol mulai sepuluh ribu (untuk barang mainan anak-anak) sampai satu juta. Ya, yang satu juta itu harga sebuah tas, dan bekas. Mahal? Relatif. Tetapi, "Ini barang bagus," kata Nyonya Montse yang memajang tas itu. "Lihatlah; bahannya, jahitannya, semua perfect. Ini kalau baru, harganya three million rupiah," katanya.

Suasana bazar. (Foto: Galuh Setiawan)
Begitulah, akhirnya bazar itu terbuka untuk kami-kami yang bekerja disini. Saya ikutan pula berkeliling dari stan ke stan. Pegang-pegang saja. Bukan apa-apa, harganya itu lho yang bikin kulit dompet saya merinding.

"Ini murah, mas," kata seoarng teman yang memegang sepatu anak-anak berbahan kulit berwarna cokelat.

"Berapa sampeyan beli?" tanya saya.

"Seratus," jawabnya mantap. "padahal kalau baru ini tujuh ratus, Mas," tambahnya.

Saya menuju stan lain. Selain busana dan mainan anak, disitu PS Portable merek Sony terselempit pada tas dengan posisi menonjol ke atas. Ya, saya tak tertarik membeli tasnya, tetapi PS-nya. Agar tidak seperti membeli kucing dalam karung, saya buka dus PS itu, dan, "No, no.Ini punya saya, tidak dijual," kata bule cantik itu dalam bahas Inggris yang sukses membuat muka saya merah maroon karena klejingan.

Sepeda impor ini dibanderol lima ratus ribu rupiah. (Foto: Galuh Setiawan)
Tentu saja meminta maaf atas kelancangan itu. Saya berkeliling ke stan lainnya lagi. Tetapi, Anda tahu, rasa malu kadang susah hilang begitu  saja. Ia harus diguyur oleh sesuatu yang lain agar berlalu. Menujulah saya ke bawah pohon trembesi dimana ditempatkan pada meja penganan kecil, kopi, teh dan air mineral. Saya tidak minum kopi, juga sedang tidak ingin ngeteh, dan akhirnya mengambil sebotol kecil air mineral saja.

"Oke, silakan; harganya sepuluh ribu sebotol," seorang panitia, juga perempuan bule, membuat saya meletakkan lagi sebotol kecil air mineral itu.

Saya kira gratis, lha kok harus bayar. Sepuluh ribu pula harganya, padahal diluar paling cuma duaribu.

"Khusus anggota memang gratis," terangnya.

Saya menjauh, meninggalkan arena. Tak meneruskan mengunjungi stan lain; takut klejingan lagi. *****

Jumat, 05 Juni 2015

Caring; Sebuah Rebranding

CAPING adalah sebutan untuk penutup kepala terbuat dari anyaman bambu
yang dikenakan petani saat ke sawah. Dan 'caping gunung' adalah judul
gending Jawa yang semua sinden pasti bisa menembangkannya. Tetapi ada
'caping' lain yang selalu bisa ditemui pembaca majalah Tempo di
halaman belakang. Ya, 'caping' yang ini bisa bermakna lain sekaligus
tidak. Caping sebagai 'penutup kepala', sekaligus 'caping' lain
sebagai Catatan Pinggir Gunawan Mohammad. Pada tahap itu, bukan
majalah Tempo namanya kalau tanpa ada Caping tulisan Mas Gun di
dalamnya.

Awalnya blog ini saya kasih nama Sudut Edi Winarno. Dan hanya sebentar
label itu muncul. Karena kurang sreg, lalu saya ganti menjadi Kedai
Kang Edi. Nama ini yang bertahan agak lama: enam tahun. Eh, kok
lama-lama saya ingin ganti nama lagi. Toh blogger tidak melarang hal
itu. Toh untuk gonta-ganti nama blog saya tak harus membuat 'jenang
abang' sebagai sesajen terlebih dulu. Tetapi apa nama yang pas?

Jadilah Caring.
Biarlah kalau ada yang menganggap itu agak mirip Caping.

Bukan, Caring saya ini bukan bahasa Inggris. Malah saya lebih sreg
membacanya sebagai bahasa Jawa. Entah apa arti kata itu dalam bahasa
Jawa yang berlaku di daerah Anda, tetapi di daerah saya caring berarti
menghangatkan tubuh dengan berjemur pada matahari pagi saat musim
bedhidhing kembang cilung, musim dingin saat mekarnya bunga pohon
dadap.

Sebagai orang yang 'kemaruk' ngeblog, awalnya ada beberapa akun blog
yang saya punya, bahkan hingga kini. Tetapi yang agak ajeg saya rawat
ya ini, yang sedang Anda kunjungi sekarang ini.

Ya, sekarang ini bukan lagi Kedai Kang Edi dan sudah menjadi Caring. Sampai kapan nama Caring (catatan
ringan) ini bertahan untuk tidak berganti lagi? Saya tidak tahu.
Tetapi kalau ditanya kenapa saya tetap saja menulis walau pengunjung
jarang yang meninggalkan jejak komentar?

Simpel saja jawabnya. Bagi saya, menulis itu mempunyai perbedaan yang
serius dibanding bicara atau tertawa. Umpama saya selalu bicara
sendiri atau tertawa sendiri, orang dengan gampang akan meletakkan
jari telunjuk di jidat dengan posisi miring untuk memberitahu orang
lain tentang saya. Tetapi ketika saya melakukan aktifitas menulis
sendiri, iya sendiri saja dan di sembarang tempat, niscaya tidak akan ada yang mengatai saya sebagai 'begini'.  (saya menulis kata terakhir barusan sambil meletakkan jari telunjuk di jidat dengan posisi miring).*****

Sabtu, 23 Mei 2015

Lomba Menghitung Ban Mobil

SELAIN grup tentang persatelitan, salah satu grup yang saya ikuti di jejaring sosial adalah sebuah grup yang mengkhususkan diri mengungkap hal-ihwal yang terjadi di era 80-90an. Lagu-lagunya, filmnya, artisnya, mainannya, julukan masa kecil sampai jajanan yang dibeli saat sekolah di jaman behuela itu. Sering, sebuah cerita tentang mainan yang digemari seorang anak di pelosok Blitar, misalnya, kala itu ngetren pula di ujung Banyuwangi. Tetapi, jangan membayangkan mainan jaman itu seperti yang digemari anak sekarang yang lebih banyak buatan pabrik.

Mainan jaman dulu, ibarat kata, dari apapun jadi. Kulit jeruk bisa dibuat mobil-mobilan, daun nangka bisa dirangkai menjadi penutup kepala sebagai mahkota raja, atau biji buah asam yang dilekatkan pada keramik dibawa kemana-mana lalu diadu kekuatan lekatnya. Oh, jangan dikira pakai lem untuk proses pelekatan, tetapi hanya (maaf) pakai air liur, atau cairan bekicot atau putih telur. Setelah biji asam (tentu yang dipilih yang sudah tua) digosok pada ubin semen hampir separuh, dan disaat masih panas akibat gesekan, dilekatkan pada sebilah keramik bekas atau kaca yang sudah ditetesi air liur. Ih, nggilani ya?

Pendeknya, anak-anak jaman dulu bisa dengan mudahnya mendapatkan kesenangan bersama. Bukan seperti anak-anak sekarang yang menjadi manja dan kurang bersosialisasi justru oleh 'mainan'. Gadget, tentu ada sisi baiknya. Tetapi kalau dilihat, karenanya, anak-anak menjadi lebih senang sendiri, asyik dengan dirinya sendiri. Pada saat dimana gadget sudah menjadi (seakan) kebutuhan, bukan melulu bagi anak-anak, banyak orang tua yang justru lebih banyak menghabiskan waktu bersama 'anak kandung teknologi' ini ketimbang anak kandung sendiri.

Mainan jaman dulu banyak yang dilakukan secara bersama sehingga karenanya secara otomatis mengajari anak untuk lebih memiliki sifat kebersamaan. Main kelereng, dakon adalah dua misal diantara banyak mainan anak yang kini di desa pun sudah makin jarang anak-anak memainkan, sebagaimana mungkin sudah tidak ada lagi anak yang membuat mahkota dari rangkaian daun nangka. Plastik adalah bahan yang mendoninasi bahan mainan (dan saat tulisan ini saya buat, malah beras pun ada yang berbahan plastik).

Masa kecil saya habiskan di Bagorejo dan Mlokorejo. Desa yang tak terlampau pelosok karena terdapat disitu jalan raya Jember-Surabaya via Kencong. Walau saat itu tentu tak seramai sekarang, paling tidak, mobil dan bis bisa kami temui saban hari. Yang juga saya ingat, saban malam Jumat sekira jam dua dini hari, selalu terdengar lenguh suara sapi yang berbaris dituntun orang suruhan blantik (pedagang sapi) untuk menuju pasar Menampu. Entah mengapa para penjual sapi jaman itu senang mengajak dagangannya gerak jalan berpuluh kilometer menuju pasar dan bukan mengangkut sapi-sapi itu menggunakan truk seperti saat ini.

Saat sore hari sehabis mandi sebelum berangkat mengaji, kami duduk di tepi jalan raya mencari kesenangan. Kami membagi teman menjadi dua kelompok. Ya, kami menjadi lawan main dalam menghitung mobil. Untuk menentukan kelompok mana memilih arah mana, kami melakukan suit dulu. Nah, jadilah.

Bayangkan, saking tak sebanyak sekarang, bahkan mobil pun bisa dijadikan 'mainan'. Bukan hanya banyak-banyakkan mobil dari arah timur (Ambulu/Jember), atau dari arah barat (Surabaya/Lumajang), kadang kami bersepakat menjadikan rodanya sebagai bahan permainan. Semakin banyak jumlah roda mobil/truk yang terhitung sampai menjelang maghrib, menanglah yang memiliki jumlah itu. Jadi, kalau ada truk gandeng dari arah 'milik kita' terlihat dari timur, misalnya, sudah sangat giranglah hati karena rodanya banyak. Lebih-lebih kalau truk gandeng itu mengangkut ban mobil, wah, menang KO-lah kita.*****


Minggu, 17 Mei 2015

Menambah LNB Parabola

KEGEMBIRAAN akan diterapkannya siaran televisi digital terrestrial di Indonesia ternyata tak berlangsung lama. Disaat masyarakat antusias menyambutnya, dikala pabrikan set top box mulai menggenjot produksi, ketika pemenang lelang MUX mulai membangun insfrastruktur dan juga bersiaran, eh program siaran televisi digital malah terganjal. Iya sih, masih ada satu-dua yang mengudara (dengan power pemancar yang tak seberapa), tetapi secara jumlah tak jua bertambah, justru berkurang malah.

Kalau demikian kenyataannya, apakah masih menggantung harapan besar kepada terwujudnya program itu? Ada yang bilang, apa sih kita ini yang tidak ketinggalan? Negara lain sudah melangkah jauh dan tak sudi lagi menggunakan kanal analog untuk televisi, kita masih saja tak bisa ke 'lain hati'. Padahal (katanya) teknologi digital adalah hal yang niscaya, sementara dengan kemajuan teknologi (data) yang maju pesat, membutuhkan bandwicht yang berlipat. (sementara si analog boros sekali karena satu frekuensi hanya bisa diisi satu. Sedang pada kanal digital: satu frekuensi bisa muat belasan!) Kalau tak mau 'ketinggalan kereta' dengan jarak yang teramat jauh, televisi digitallah solusinya.
Before.

Sudahlah, bicara tentang televisi digital free to air (FTA), kalau dipikir-pikir, orang kota kalah dengan orang pedalaman yang tak terjangkau pemancar televisi analog terrestrial. Orang pasang jamur (baca: antena parabola) di kampung sudah menjamur. Siaran televisi bebas kepyur alias tak bersemut adalah hal lumrah. Sementara orang kota dengan pesawat televisi sudah HD, siaran yang ditangkap masih berteknologi analog. Ada sih siaran dengan konten HD, tetapi itu milik pay tv. Dan kita tidak sedang membicarakan itu.

Dengan siaran televisi digital terrestrial yang memang sudah tak pernah nambah kontennya, kita (sebagai pemirsa) sudah tak punya cara lain untuk menambahi sendiri. Berbeda sama sekali dengan siaran digital yang diterima dari satelit. Siaran di satelit Palapa-D saja sudah hampir seratus channel, dan kalau ingin nambah siaran kita tinggal menambah LNB. Masih kurang juga? Tambah LNB lagi.
After.

Sejak memasang parabola sendiri, sekarang yang terpasang pada 'jamur' saya ada tiga LNB (Palapa-D, Telkom-1 dan Asiasat7). Berapa channel yang tertangkap? Bagi pengguna antena parabola tentu sudah tahu: ratusanlah jumlahnya.

Kalaulah saya hari ini iseng-iseng mengawinkan dua scalar ring LNB twin (satu milik Matrix, satunya lagi bawaan Venus) agar menjadi satu scalar ring untuk 4 LNB, tentu supaya saya bisa menangkap channel yang terpancar dari satelit Asiasat-5, yang ujung-ujungnya tentu total channel makin bejibun. (Ada yang bilang nanti bakal repot masangnya pada dish saya yang cuma berukuran 6 feet dengan hanya tiga tiang fokus, sementara dengan scalar ring modifikasi ini, mau tak mau harus menggunakan empat tiang fokus. Kesulitan, lalu gagal, lalu mencoba lagi, gagal lagi sampai menemukan cara yang lain untuk berhasil; itulah tantangannya. Haha, ngeyel ya ?)
Selanjutnya; sepertinya saya mesti menambah
tiang fokus nih...

Mengapa saya melakukan itu, adakah channel favorit yang menjadi tayangan wajib tonton? Olahragakah, filmkah, musikkah? Jujur: tidak. Saya hanya senang tracking dan kurang senang nonton. Kalaulah nonton, paling-paling cuma tombal-tombol remote control, pindah-pindah channel, tahu-tahu mengantuk dan, tidur.

Paling-paling anak-anak ditemani ibunya yang kalau sore nonton Sopo Jarwo atau Naruto. Dengan gambar yang bening bin cling begitu, tentu mononton televisi menjadi nyaman. Saya sih jadwal nontonnya kebagian malam. Tetapi ya itu tadi; nontonnya tidak khusyuk. Paling-paling malah tangan gatal lalu blind scan koleksi satelit, siapa tahu ada transponder baru yang nyangkut.

Satu lagi keinginan, sebagaimana lazimnya tracker anyaran, masih merasa belum lulus sebelum bisa lock menembus satelit Optus. Hehe... *****



Kamis, 14 Mei 2015

Surga Bagiku Gak Penting !

KALIMAT yang saya jadikan judul tulisan ini saya dapati dari punggung seorang pemuda yang menyalip motor saya saat pulang kerja tadi sore. Tulisan itu berwarna hitam dengan warna dasar kaos merah. Ya, dengan ukuran huruf yang besar, kalimat itu bisa dibaca oleh orang rabun sekalipun.

Mungkin kalimat itu hanya olok-olok sebagaimana sering kita jumpai pada kaos Jogger, atau Dagadu atau yang lainnya. Kalau tulisan Tahanan Nusakambangan sih sudah sering saya dapati dikenakan oleh orang yang saya yakin tak sekecilpun punya keinginan menghuni lapas itu. Namun, apakah 'Surga Bagiku Gak Penting' itu juga begitu?

Saya tak mengejar si penyalip itu untuk menanyakan alasannya mengenakan kaos bertuliskan begitu. Bisa jadi ia adalah berandalan yang tak pernah makan sudut surau atau sama sekali tak pernah mengendus kitab suci. Begitukah? Atau ia malah sedang mengajari saya untuk tidak manja melakukan apa-apa hanya demi pahala yang dalam kepala saya hal itu saya anggap sebagai tiket masuk surga. Bahwa, ia mengajari saya untuk melakukan apapun tanpa dasar apa-apa (dalam arti kata) : ikhlas.

Artinya, dengan demikian, surga menjadi 'tidak penting'. Nah, tentu saja jangan tantang saya untuk ndalil yang ndakik-ndakik. Pengetahuan saya ini hanya gratul-gratul karena otak yang yang relatif tumpul. Atau begini saja, kapan-kapan, kalau ketemu orang yang mengenakan kaos bertuliskan yang demikian itu, sebaiknya saya berhentikan dan saya tanyai apa alasannya kemana-mana mengenakan kaos itu. Kalau ada waktu, Sampeyan boleh menemani saya menginterogasinya. *****

NB: artikel ini saya posting menggunakan ponsel jadul Nokia C3.
 

Njajal Ngeblog Pakai Nokia C3

INI, untuk pertama kali saya mencoba posting tulisan pakai ponsel jadul Nokia C3. Dengan tombol huruf yang relatif kecil (dibanding jempol saya yang montok) membuat saya agak gratul-gratul dalam menulis. Itu pertama. Yang kedua, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana cara membuat paragraf. Bagi yang sudah lihai posting tulisan di blog pakai HP, kasih tahu dong saya.... :D

Oh, syukurlah, akhirnya bisa juga bikin paragraf baru. Yakni dengan menekan tombol shift + enter di keypad sisi kanan. Hahaha, gaptek ya saya. *****

Kamis, 07 Mei 2015

Dua Jam + Enam Bulan di Samsat Manyar

Silakan KLIK disini: Samsat Surabaya Timur di Manyar Kertoarjo (Foto: Dok. Pribadi)
UNTUK membayar pajak kendaraan bermotor, sekarang ini, mudah sekali. Cukup datang ke Samsat Corner di mal-mal, jadilah. Atau membayar lewat Samsat Drive Thru dengan tanpa turun dari kendaraan. Cepat sekali. Dan kalau masih ada orang yang menggunakan jasa calo untuk hal yang sangat mudah sekali itu, sungguh patut dipertanyakan alasannya.

Tetapi, untuk membayar pajak kendaraan lima tahuhan (ganti plat nomor) yang harus datang langsung ke kantor Samsat apakah semudah dan secepat membayar pajak tahunan di Samsat Corner di mal?

Loket Cek Fisik.(Foto: Dok. Pribadi)
Berbekal bayangan masih ribetnya birokrasi di kantor Samsat, banyak sekali orang langsung menyerahkan urusan itu melalui tangan calo. Nah, sebenarnya seberapa sulitkah mengurus sendiri pajak lima tahunan itu di Samsat dan butuh waktu berapa lama?

Kemarin (5 Mei 2015) saya meneguhkan diri mengurus sendiri hal itu di kantor Samsat. Karena domisili saya di Surabaya Timur, saya termasuk daerah kerja Samsat Manyar. (Kendaraan saya ini masih atas nama tetangga, karena ketika beli dulu saya belum masuk sebagai 'warga negara' Surabaya. Nah untuk itu saya menyiapkan Surat Kuasa yang saya ketik sendiri lengkap dengan materai senilai 6000 rupiah).

Lewat jalan Ir. Soekarno (MERR) dari rumah sampai ke kantor Samsat di jalan Manyar Kertoarjo hanya memakan waktu seperempat jam. Saya lihat jam dinding di ruang petugas administrasi Cek Fisik masih menunjuk angka 8.12 WIB. Dan pelayanan Samsat sudah mulai ramai.

Esek-esek nomor mesin dan nomor rangka kendaraan. (Foto: Dok. Pribadi)
Dari pintu gerbang, saya langsung membawa kendaraan ke area cek fisik. Bertanya kepada petugas berseragam krem/kekuningan, saya diarahkan ke loket 1 untuk mengambil formulir cek fisik dulu. Selembar kertas itu telah ada semacam kertas sticker untuk menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan. Petugas cek fisik menggesek dengan cekatan. Benar, pada kaca loket tertulis 'cek fisik gratis', tetapi saya lihat nyaris semua orang memberi tip lima atau sepuluh ribu rupiah ke petugas cek fisik. Kalau dikalikan, dengan sebegitu banyak kendaraan yang cek fisk saban hari, tentu sangatlah besar uang tip yang diterima petugas berseragam biru itu. (Saya tak tertarik untuk mereka-reka; uang itu 'dimakan' sendiri atau dibagi rata ke petugas/bagian lain demi sama rasa-sama rata...)

Setelah cek fisik, kendaraan dianjurkan dipindah ke tempat parkir di seberang jalan. Dan di dekat kantin tak jauh dari tempat parkir itu, kita bisa memfoto kopi berkas yang kita pegang, termasuk BPKB dan STNK lama. Tak usah bilang ini-itu, petugas foto kopi sudah paham betul berapa lembar kopi yang dibutuhkan untuk tujuan yang dimaksud. Plus-nya lagi, petugas foto kopi tanpa diminta akan menata dan menstaples berkas-berkas itu pada map. Biayanya? Lima ribu rupiah saja.

Ruang tunggu lapang dan dingin. (Foto: Dok. Pribadi)
Dari situ saya kembali ke loket cek fisik untuk mendapatkan stempel legalisir petugas cek fisik. Lalu diarahkan ke loket 1 untuk diperiksa. Setelah itu, disilakan masuk ke ruang dalam menuju loket 6; berkas yang sudah ditata tukang foto kopi dirapikan lagi. Berikutnya disarankan menuju loket nomor 23. Antri sebentar, dipanggil petugas loket 25; membayar pajak kendaraan. Duduk lagi di ruang tunggu yang luas dan berpendingin. Tak lama kemudian petugas loket 27 memanggil untuk membayar biaya STNK dan plat nomor baru; nilainya delapan puluh ribu rupiah. Oleh petugas loket 27 saya diarahkan untuk antri di depan loket 28.

Pada tanda loket 28 ini tertulis sebagai loket penyerahan STNK dan plat nomor polisi baru. Ini loket terakhir sebelum urusan di Samsat ini beres, pikir saya. Sambil menunggu, saya mengedarkan pandang. Penilaian saya, fasilitas di Samsat Manyar ini termasuk bagus. Ada ruang tunggu dan loket khusus lansia, ada pula ruang khusus ibu menyusui. Karena saya merasa belum lanjut usia maka saya menunggu di ruang dengan kursi yang tak empuk dibanding sofa di ruang tunggu lansia itu. Termasuk saya tidak duduk di ruang ibu menyusui karena saya bukan ibu-ibu. Hehe....
Ruang tunggu Lansia. (Foto: Dok. Pribadi)

Sepuluh menit menunggu di depan loket 28, baru nama saya dipanggil. “Ini tanda terimanya,” kata petugas.

Plat nomor dan STNK-nya?” tanya saya.

Ambil kesini enam bulan lagi,” jawab petugas laki-laki dengan nada ketus tidak, ramah juga tidak. Sampai-sampai ia tidak mengucap maaf untuk hal yang rentang waktunya sangat lama itu. Mungkin ia berlaku begitu karena telah ada kalimat permintaan maaf pada banner di sudut depan meja loket 28 tentang pemberitahuan dimaksud.

Saya pulang dari kantor Samsat dengan hanya mengantongi bukti pembayaran pajak kendaraan dan tanda terima pembayaran STNK plat nomor yang jadinya masih setelah lebarah haji nanti itu.

Nah, kalau dihitung, dari sejak saya datang tadi, sampai selesai ini, memakan waktu tak lebih dari dua jam dengan perincian semua tahapan saya urus sendiri sesuai prosedur yang terbilang lancar jaya.

Untuk membayar pajak tahunan, lebih enak disini saja. (Foto: Dok. Pribadi)
Pada spanduk di halaman depan memang tertera kalimat untuk tidak mengurus melalui calo. Keluar dari kantor Samsat, saya mencari-cari, masih adakah calo yang bergentayangan di sekitar Samsat ini? Saya menduga beberapa orang yang duduk-duduk di pinggir jalan itu adalah tersangkanya. Paling tidak, “Ngurus perpanjangan ya, Pak?” seseorang yang kemudian mengaku bernama Sakip, usianya sekitar 35 tahun, berkaos oblong putih yang telah tidak putih lagi, yang sedari tadi duduk di depan musholla bertanya kepada saya. “Lewat saya saja, Pak. Satu jam selesai, dua puluh ribu saja,” katanya berpromosi.

Walau saya sudah bilang telah selesai mengurus sendiri, masih saja ia memberi nomor ponselnya agar, “Kalau lain kali mengurus, atau ada tetangga Bapak yang butuh, bisa langsung menghubungi saya, Pak. Saya tiap hari disini kok,” ujarnya.

Oh, ternyata ini salah satu calonya. Biaya jasanya duapuluh ribu saja (dengan janji) satu jam selesai. Atau, kita memilih menangani sendiri urusan di Samsat ini dengan memakan waktu dua jam selesai?  *****

Klik disini: pengalaman mengambil STNK, plat nomor dan BPKB  ke Samsat Manyar.


Jumat, 10 April 2015

D o n a s i

SEBUAH minimarket yang sekarang memiliki jaringat luas, membuat satu ketentuan 'kalau pelayan lupa memberi salam saat pelanggan masuk, si pelanggan berhak atas sekaleng soft drink, gratis'. Itu saya dapati beberapa tahun yang lalu, saat awal-awal minimarket itu membuka gerai tidak jauh dari rumah saya. Apakah hal tersebut, (kala itu) juga dilakukan di tempat lain saat pembukaan gerai anyar? Saya tidak tahu.

Kini, yang saya tahu, ia tumbuh laksana biskuit di masa Lebaran; banyak sekali, di seantero negeri. Yang mendominasi ya cuma mereka berdua, yang secara warna tidak jauh berbeda. Apalagi secara tempat. Ibarat judul lagi jadul; Dimana Ada Kamu Disitu Ada Aku. Bahkan, untuk menggambarkan pertarungan dengan kompetitornya, mereka melakukan head to head secara nyata. Berhadapan hanya berbatas jalan, atau berdampingan berbatas tembok belaka. Anda lebih sering berbelanja ke yang itu atau ke yang sana?

Dibanding di toko biasa, harga barang disitu lebih mahal,” kata istri saya yang –seperti istri siapa pun-- sungguh sangat mempertimbangkan harga.

Tetapi dengan kehadirannya nyaris di depan hidung siapapun, ia menjadi 'pembunuh bertangan dingin' toko kelontong tradisional. Ya, harga memang agak lebih mahal, tetapi dengan tata letak barang yang rapi, dengan pembeli bisa sesuka hati memilih sendiri, bisa bayar aneka tagihan bulanan sampai tiket kereta api, berpendingin udara, ada ATM, buka 24 jam, oh lengkap sudah kekalahan si toko kelontong.

Walau sudah begitu, sungguh saya tidak habis pikir saat si kasir dengan enteng bertanya kepada pembeli saat uang kembalian ada pecahan recehnya, “Yang empat ratus boleh didonasikan?”

Dengan pembeli lain sudah antre di belakang kita, kalau hendak bilang 'tidak' saat ditodong begitu, sungguh sebuah dilema; tidak mendonasikan dikira pelit, mendonasikan tidak tahu itu untuk apa dan siapa. Iya sih, cuma setarus atau empat ratus rupiah. Namun kalau dikalikan jumlah orang yang 'terpaksa' menyumbang, lalu dikalikan lagi jumlah jaringan minimarket itu di seluruh Indonesia, ho ho ho... sungguh sangat besar sekali nilainya.

Iya juga sih, dalam menyumbang sungguh tidak baik sampai menelusuri sumbangan itu akan digunakan untuk apa oleh siapa. Yang penting ikhlas. Urusan tanggung jawab, bisa diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Masalahnya, sekarang ini, tidak sedikit orang yang sudah kehilangan rasa takut, bahkan juga kepada Tuhan.

Bagaimana, “Yang tiga ratus boleh dinonasikan?” *****



Selasa, 07 April 2015

Basa Jawa Bakal Ilang?

WIS suwe banget rasane aku ora ngisi tulisan nang blog iki. Yen digolek-golekne, mesthi ana wae sing iso didadekne alasan. Sing sibuklah, sing ora sempatlah, lan liya-liyane. Nanging, intine, yo lagi males wae. Titik.

Nah, saiki, kanthi trantanan (kaya bayi belajar mlaku) aku niat ingsun nulis nganggo basa Jawa. Basa sing kudune luwih gampang dak tulis, ananging buktine, nulis nganggo basa Jawa luwih angel tinimbang nulis baha Indonesia. Padhahal, yen dak rasa-rasa, maca geguritan utawa cerkak basa Jawa, nang ati iki krasa luwih kena, luwih mirasa.

Aku dadi iling ing nalika taun 80an. Nalika iku Kangmasku dadi agen majalah minggon Panjebar Semangat lan uga Jayabaya. Krana saka kuwi, aku isa ajeg maca sadurunge majalah-majalah iku diterke menyang para pelanggan. Sing isih dak ilingi nganthi saiki, yaiku Roman Sacuwil tulisane Cahyarini T. Budiarti utawa gambar kartun asil coretane Suhadi TC (Tukang Cukur). Komike Teguh Santosa ing samak mburi, tulisan-tulisane Suparto Brata, Bonari Nabonenar lan liya-liyane. Siji maneh, ilustrator Panjebar Semangat sing gambare apik tenan, jenenge Budiono, saiki dadi ilustraor andalan Jawa Pos.

Cekak carita, masa-masa SMP nganti SMA aku ora tau ninggalke wacan basa Jawa. Saiki, aku ora ngerti kepriye kabare minggon basa Jawa kuwi. Kangen rasane maca geguritan, cerkak lan rubrik-rubrik khas liyane. Saiki, sing tak ngerteni, saya akeh bocah cilik ora bisa --aja ta maca-nulis aksara Jawa-- ngomong basa Jawa rada alus uga ora godak, isane mung ngoko. Malah, ora peduli bapa-biyunge asli Ngawi utawa Trenggalek, umpamane, akeh tangga-teparoku sing sabendina nggunakake basa Indonesia. Lha yen kaya mangkene kasunyatane, apa ora mengko bakal ilang basa Jawa iki?

Yen dudu kita, njur sapa sing njaga lan nglestare'ake basa Jawa? Apa mengko, putra-wayah kita kudu adoh menyang negara Walanda utawa Suriname kanggo sinau taling-tarung lan sapiturute? *****


Rabu, 04 Februari 2015

Surya Puoll

IDE dan naskah cerita dari saya, gambar oleh Cak Ucup dan Cak Rendra dari Harian Surya.