Sabtu, 03 September 2011

Ketika Kanker Payudara Mendera

KALAU sampeyan sudah pernah membaca tulisan (fiksi) saya berjudul Pulang disini, tentu sampeyan menemukan sebuah tugu gemuk, pasar Senin dan rumah mungil di timurnya. Dalam pulang (baca: mudik) saya yang sesungguhnya tempo hari, tugu itu tetap ada, pasar Senin juga (walau sekarang menyempit, karena sebagian telah beralih fungsi sebagai permukiman) dan rumah di timur pasar itupun tetap ada. Nyata. Dan dari situlah tulisan ini saya mulai.

Kalau dalam fiksi si penghuni rumah mungil itu seorang ibu yang 'gila' memikirkan anaknya yang teroris, dalam alam nyata rumah itu dihuni perempuan 54 tahun. Tak gila. Waras. Walau salah satu anaknya kurang dari itu. Pernah beberapa kali masuk-keluar RSJ. Anak satunya lagi, waras tetapi nakal. Baru tamat SMP dan tak mau melanjutkan. Kerjaannya hanya ubyak-ubyuk kesana-kemari. “Tiap hari hanya minta uang saja. Nggerus ati pokok'e. Jangankan mau bantu-bantu”, suara perempuan itu pelan. Nyaris disertai desis. Menahan sakit.

 ”Iya, di bawah ketiak kiri ini sesekali masih terasa ketarik”. Ia menyangka rasa sakit itu akibat operasi setahun yang lalu. Operasi? Iya, perempuan itu sekitar setahun yang lalu menjalani operasi pengangkatan kanker payudara. 

Tour d'Mudik (bagian 1)

DUA etape mudik saya tahun ini,sungguh saya syukuri sebagai yang lancar-lancar saja.Nyaris tiada yang pantas dituangkan sebagai tulisan.Tetapi karena saya kadung bertekad selalu harus menulis seremeh temeh apapun topiknya,maka saya tulis saja.

Etape pertama: Surabaya-LA (PP)
Etape ini pendek saja.Tak lebih dari 75 km.Tapi,sependek apapun jaraknya,dengan semotor berempat plus satu tas besar dan masih ditambah satu ransel,tentukah tetap berisiko tinggi.Tak perlulah saya upload foto saya tentang ini.Sudah sangat banyak terpampang di berbagai media gambar serupa; Si sulung didepan,duduk diatas tas besar diantara kemudi dan sang ayah sebagai 'pilot'.Dibelakang si ibu menggendong si kecil.Menggendong ganda,lengkapnya.Di depan anak,dipunggung ransel.Pula,jangan bayangkan repotnya.
Tetapi,syukurlah.Semua baik-baik saja.Walau sebuah rencana menjadi agak meleset sedikit.Yang tadinya,kami ingin sholat id di LA,karena setelah mendengar pemberitahuan di televisi hari raya baru tiba hari Rabu,maka rencana itu berubah.Mengingat waktu libur saya cuma 4 hari,sementara masih ada satu etape mudik lagi ke tanah air saya di Jember,maka Selasa pagi kami 'berakrobat' lagi;semotor berempat lagi balik ke Surabaya.Transit saja.Karena malam selepas buka puasa kami harus 'terbang' ke Jember.

Etape kedua: Surabaya-Jember (hanya P)
Suara takbir mengiringi perjalanan.Semotor berempat kali ini pendek saja.Saya,seperti biasa,menginapkan si Supra di Purabaya saja.
“Menginap,pak?”sapa penjaga 'penginapan' motor.
“Iya,empat hari.”
“Kena tarif lebaran,pak,”kata petugas itu mengajak mata saya memandang kelender yang ditandai.Juga tertera disitu kalimat pemberitahuan: Tarif Lebaran 5000/hari.
Untuk yang begini ini,tentu tak diatur pemerintah seperti mengatur tarif bus.Maka,ya saya harus mengeluarkan selembar dua puluh ribuan untuk si Supra saya yang selama lebaran ini memang bekerja lebih berat ketimbang biasanya.
Masuk ke Purabaya,saya menemui wajah baru.Bus ekonomi menempati lokasi baru.Jam delapan malam dari situ saya take off.Dibawa bus Restu yang saya tak sempat mencatat nomor punggungnya.Perjalanan yang landa-landai saja.Nyaris tiada yang laik ditulis.Benar-benar cerita tanpa kejutan.Kecuali,laju Restu sempat tersendat di alun-alun Bangil karena ribuan orang bermotor tumplek-blek disitu.Untuk takbiran? Entahlah.tetapi saya malah mengira sedang ada kontes adu suara kenalpot.
Sekitar jam sebelas malam,si Restu landing di Probolinggo.Sesuai rencana,kami hanya transit sejenak disini.Sekadar buang air.Dan yang lebih penting,membeli air panas untuk bikin dua botol susu untuk si kecil.Persiapan yang penting tentu.Karena masih dua jam perjalanan lagi baru sampai sasaran.
Transit yang singkat saja.Ketika kru Akas Asri yang tak parkir di terminal Bayuanga ini teriak-teriak,”Kencong,Kencong...”,dengan agak berlari kami masuk.Saya tak mau berspekulasi.Tengah malam begini bus yang lewat Kencong memang sudah jarang.Saya tak tega melihat si kecil terlalu lama kena hawa terminal yang penuh asap kenalpot,kalau menunggu bus berikutnya.
Dibanding si Restu,terasa Akas Asri ini lebih nyaman.Suspensinya lembut.AC yang berhembus dan badan yang capek membuat saya ingin sejenak terlelap.Tapi sekuat tenaga keinginan itu saya hindari.Karena,kalau sudah tidur,'sejenak' itu bisa lama.Dan itu bisa fatal akibatnya;kelewatan dari sasaran tujuan.
Tengah malam,sekitar jam satu,kami mendarat dengan selamat di kampuang nun jauh dimato; Mlokorejo,disambut hawa dingin yang menggigit.
(Bersambung besok)

Selasa, 30 Agustus 2011

Dawet Siwalan Juara Satu

Es Dawet Siwalan 'Juara Satu'.
Foto: Dok. Pribadi
SETIAP bulan puasa, di kawasan GKB (Gresik Kota Baru), tepatnya disepanjang jalan Kalimantan selalu ramai. Berjajar disana aneka jajanan dan kuliner untuk berbuka puasa. Keramaian itu, bisa jadi, bukan karena banyaknya penjual dan pembeli. Tapi ditambah oleh yang sekadar jalan-jalan saja. Sekadar ngabuburit. Tidak sebagai penjual, pun bukan untuk membeli.hanya jalan-jalan saja. Atau memang yang numpang jalan.

 Saya termasuk yang terakhir itu. Karena, setiap mudik ke LA, saya selalu ambil jalan itu,tembus ke Suko Mulyo. Tetapi, sekali waktu, saya juga tergoda mencicipi jajanan disitu. Itu saya lakukan dengan prediksi, saya belum sampai rumah ketika bedug maghrib. Dan, karenanya, saya perlu bekal untuk sekadar membatalkan puasa dijalan.

     Saya tertarik membeli jajanan yang namanya aneh; Bongko. Nama yang ‘saru’, saya kira. Itu derajat paling rendah dari istilah kematian; Wafat, meninggal, berpulang, tewas, mampus itu urutan dalam bahasa Indonesia. Kalau dalam bahasa Jawa; seda, tilar ndonya, mati, modar, dan...bongko. 

Tentu saya keliru. Karena, si bongko berbungkus daun pisang itu, berisi semacam kolak bertabur butiran tepung ‘mutiara’ dengan aroma pandan nan harum-segar. Dengan kemasan yang menipu, tapi. Menipu? Iya. Si bongko tampil dalam kemasan daun yang ‘gemuk’, seakan isinya cukup mengenyangkan. Padahal sejatinya isinya cuma sak iprit untuk ukuran lambung saya. Persis kemasan gethuk pisang yang selengan, tetapi isinya sekelingking!

Dengan alasan tak mau tertipu untuk kedua kalinya, tempo hari saya tidak beli ‘bongko’ lagi. Saya memilih es dawet siwalan. Tentu segar sebagai pembuka buka puasa di jalan nanti. Dan karena ada begitu banyak penjual es dawet siwalan disitu, saya harus selektif memilih. Harus yang paling. Yang ter. Pokoknya yang nomer satu. Dan ketemu.

Entah ia pernah menang di mana. Tetapi dengan memampang nama Juara Satu, saya tak punya waktu untuk meragukannya. Buktinya, dari sekian banyak penjual es dawet siwalan, ia paling laris. Sungguh makin yakin saya.

Dengan maksud agar istri dan anak saya ikutan merasakan segarnya es dawet siwalan yang Juara Satu, akhirnya saya memesan untuk dibawa pulang. Jumlahnya? Satu bungkus saja. Harganya? Tiga ribu lima ratus saja. *****

Senin, 29 Agustus 2011

Catatan Lebaran; Lebarkan Lebar-lebar

MAU lebaran besok atau lusa, mas Bendo tetap pada rencana semula;mudik.Kalaulah itu disemboyankan,sambil mengepalkan tangan;sekali mudik tetap mudik! Merdekaaa.....

Ah,biarlah.Toh,kata orang,ada belasan juta orang yang mudik.Ke desa.Lha iya to?Memangnya ada yang mudik tidak ke udik?.

"Ada,"kata kang Karib,sahabat terkaribnya mas Bendo."Itu yang mudik terus dijalan 'tubrukan' terus 'koit'; itu mudik ke alam barzah.He,he..."

Hust.

"Ha,ha..."

"Hust!"

"He,he..."

"Dasar cah gemblung!"

"Siapa yang gembeng?"

"Gemblung,kopok!"

"Tidak ada yang kapok,"kang Karib bicara seperti serius."Tiap tahun selalu begitu.Datanglah ke terminal-terminal,ke stasiun-stasiun.Semua tumplek-blek"

"Lalu?,"mas Bendo jadi ikutan kopok rupanya.Atau berfikir,biar saja si kang Karib bicara sak enak udel-nya.

"Lalu? Ya lalu-lalang.Orang-orang yang sok kota.Sok sukses.Sok artis.Sok buntut..."

"Itu sop,"sergah mas Bendo.

"Iya.Lha iya untuk apa sih mudik itu?"

"Lho,sampeyan kok malah tanya?"

"Lha iya ,kalau cuma mau ngucap 'selamat lebaran' kan bisa lewat teknologi.Lewat SMS,internet;lewat FB,Twitter dan sebagainya...."

Mas Bendo mesem.Tersenyum.Kang Karib terkesan sok.Baru bisa mengetik sebelas jari (satu kanan,satu kiri) di keyboard komputer saja sudah sombong.Baru punya teman 'awu-awu bin buju'an' empat ratus dua puluh tiga di FB saja,sudah sok.Padahal teman yang benar-benar kenal dia ya cuma mas Bendo.Sudah begitu,di FB namanya dikerenkan sedikit,"Biar dahsyat,"kata kang Karib.Di FB namanya tertulis Karib Jonero.Wah,Jonero;marga apa itu.Atau nama dari negara mana?

"Itu nama cita-cita,"kata kang Karib."Jonero artinya;bojone loro....(istrinya dua) Ha,ha..."

"Ngaca,Kang.Ngaca,"sahut mas Bendo."Satu aja gak punya,kok dua."

"Namanya juga cita-cita.Apa salahnya?"

"Ya,embuhlah,"mas Bendo pasrah."Tapi itu tadi,sampeyan ngomong tentang mudik tadi maksute opo?"

"Lha iyo to.Mudik itu perjuangan."

"Kata sampeyan tadi sok-sok-an?"

"Iya,perjuangan untuk sok-sokan,"kang Karib gak mau kalah."Mudik harus pura-pura sukses;kalau biasanya rokok asal berasap,yang cap-nya gak jelas,kalau mudik harus yang bermerk.Yang harga per pak-nya bisa buat beli beras dua kilo.Juga harus pura-pura HP baru"

"Kok pura-pura,bagaimana?"

"Ya iya to.Mau mudik HP baru,eh kalau balik,sampai kota dijiual lagi.Rokoknya juga begitu,kembali ke kota kembali ke khittah; paling banter cap Tali Jagat.Hehehe..."

"Itu lak sampeyan!"

"Coba perhatikan;dandanan sok Agnes Monika,atau Julia Perez,atau Syahrini: baju pakai model terbaru.Ala selebritas, tapi mudik bawa tas khusus berbentuk kotak bermerek Indomie,atau Bimoli."

"Itu kerdus"

"Apa bedanya.Jaman sekarang jaman edan,nDo.Jaman pura-pura.Pura-pura Agnes,pura-pura Jupe,pura-pura Syahrini.Kerdus Indomie itu sebagai pura-pura merek Gucci."

"Kalau sampeyan pura-pura opo?"

Kang Karib nyengir kayak kuda,"Pura-pura pinter..."bisiknya.

Embuhlah.Tapi memang biarlah.



Kang Karib,kang Karib.....

Lebaran ini dia tidak liburan.Harus incharge.Tetapi besok sebelum berangkat kerja, pagi-pagi sekali ia akan tampil tidak pura-pura.Apa adanya.Tepatnya;seadanya.

Ia akan sholat id pakai baju takwa (bajunya takwa,entah orangnya) yang terakhir ia pakai Idul Adha tahun lalu,songkok nasional made in Gresik yang pinggirnya sudah menguning.Sarung yang sekalipun bukan Lamiri atau cap Manggis,toh ia masih punya cap Mangga.(Entahlah, itu dari jenis mangga gadung,manalagi atau kuweni.) Lalu,ia akan lebarkan hatinya,lebarkan senyumnya.Lebarkan,lebar-lebar.Memberi maaf lebar-lebar.Meminta maaf lebar-lebar.Sambil berbisik (semoga bukan bisikan pura-pura) ; Taqobballallahu minna wa minkum .....

Minggu, 28 Agustus 2011

Jaga Kecepatan


TERUS TERANG saya tak pernah melajukan kendaraan saya melebihi 80 km per jam.Untuk urusan ngebut-mengebut saya termasuk penakut.Takut kalau terjadi apa-apa.Dan,sepertinya,belum pernah saya punya alasan tepat untuk mak wuzzz sebanter-banternya.Semua urusan masih bisa saya atasi dengan hanya berkendara sewajarnya saja.
Ketika pagi tadi saya mudik melewati depan terminal Osowilangun Surabaya,ada sebuah nasihat yang –bisa jadi-- tertujukan khusus buat saya.Walau kalau sampeyan yang membacanya,itu juga cocok untuk sampeyan.
Sepanduk berlambang Polri,Jasa Raharja dan Dephub itu bertuliskan kalimat; Jaga Kecepatan.

Bagi saya yang gak suka ngebut,itu sebagai anjuran agar saya menjaga model berkendara saya yang kecepatannya sedang-sedang saja.Tetapi bila itu dibaca para pengebut,tentu tak keliru dimaknai sebagai 'jaga kecepatan ngebut itu'.
Iseng saya mencari padanan dan arti dari kalimat pendek yang kurang lebih sama.Misal,Jaga keamanan: Menjaga agar tetap dalam kondisi aman. Jaga kebersihan: menjaga keadaan agar selalu bersih. Jaga jarak aman: menjaga agar selalu dalam jarak aman antar kendaraan.
Kalau Jaga Kecepatan?

Jumat, 26 Agustus 2011

Lebaran di Malam Takbiran

KAPAN sampeyan berlebaran –dalam artian saling mengunjungi sanak saudara dan tetangga sekitar– untuk saling maaf-memaafkan? Kalau jawaban sampeyan itu dilakukan seturun dari sholat id, berarti sampeyan sama dengan saya. Tetapi, adakah yang berlebaran tidak demikian? Yang dilakukan justru baru di malam takbiran?
Ada.
Seperti sampeyan, mula-mula saya tentu menganggap hal ini kurang ‘afdol’. Karena saya sudah terbiasa sejak kecil berlebaran selepas sholat id.

Ketika tahun 1999 lalu saya ‘pindah kewarganegaraan’ ke ‘LA’ (sebutan keren untuk Lamongan), sejak tahun itu sampai sekarang saya mengalami berlebaran dimalam takbiran .Setelah berbuka puasa terakhir dan ba’da sholat maghrib, istri saya mengajak saja ‘unjung-unjung’, istilah bertandang ke tetangga untuk berlebaran.
Saya menolak ikut. Hati kecil saya tak terima. Bukankah ini masih takbiran, belum masuk lebaran?
“Yo, wis. Aku tak budal duluan. Sampeyan besok pagi saja. Tapi sendirian,” kata istri saya.
“Sendirian?”
“Iya, karena semua orang berlebaran malam ini juga.”

Dan benarlah adanya. Malam itu kampung mendadak hidup. Malam yang biasanya sepi-sepi saja, yang karena disini adalah sebuah kampung dipelosok Lamongan, menjadi sedemikian meriahnya. Para tetangga saling kunjung-mengunjungi. Berlebaran.
Besoknya, selepas sholat id, semua salaman lagi. Kali ini berbaris sambil turun masjid. Pendek kata; nyaris orang sekampung telah saling salaman (untuk kedua kalinya) ya di masjid itu.

Pulang sampai rumah, kehidupan berjalan nornal lagi. Maksudnya seperti bukan lebaran –menurut ukuran kebiasaan saya di Jember sana. Karena semua menganggap telah salaman. Telah tuntas berlebarannya. Singkat saja. Sehari saja. Bandingkan dengan daerah saya yang seminggu dhur masih ramai. Pun, barangkali juga begitu di tempat sampeyan.

Tujuh hari kemudian, tibalah saatnya kupatan. Orang sekampung semua bikin. Dan, sebagai menantu baru, saya ditugaskan membawa senampan ketupat lengkap dengan sayurnya ke masjid yang letaknya dibelakang rumah. Ah, saya pikir ini tak jauh beda dengan tradisi di daerah asal saya. Membawa ketupat ke musholla atau masjid untuk kenduri. Didoakan oleh modin, lalu saling tukar ketupat. Agar yang dibawa pulang bukan masakan sendiri lagi.

Karena masjid hanya dekat saja dari rumah, tentu saya sampai lebih duluan. Seperti kebiasaan di kampung asal saya, saya langsung meletakkan senampan ketupat itu di tengah masjid. Lalu saya duduk kepinggir, menepi. Sambil menunggu yang lain datang. Dan berikutnya, satu-dua orang mulai datang. Tapi saya justru mulai tak nyaman. Karena, setiap orang yang datang, selalu meletakkan ketupat bawaannya tepat didepan tempatnya bersila. Sementara punya saya menjadi satu-satunya yang tampil di tengah arena.

Ini dia. Ketika semua orang sekampung berkumpul di masjid, saya menjadi curiga. Pasti orang semasjid heran melihat senampan ketupat saya tampil beda, sendiri ditengah arena. Sementara untuk mengambilnya lagi, saya terlanjur tertutup orang lain yang memadati pinggir masjid lapis tiga baris.
Suara pak modin berdoa terdengar sampai kepenjuru desa. Karena dibantu jasa speaker TOA. Dan pastilah, nanti, ketupat saya juga bakal jadi perbincangan karena ‘tata letak’ yang tak biasa.

Tidak hanya putus sampai disitu. Hal tak biasa lain saya temui lagi. Ketika sebaris doa telah paripurna, semua orang bergegas mengangkat kembali nampan ketupatnya. Dibawa pulang lagi dalam keadaan sedia kala. Tidak saling tukar seperti di kampung asal saya.
Kalau tadinya saya datang paling awal, sekarang saya pulang paling akhir karena tata letak ketupat saya yang tak sesuai 'kaidah'.

Inikah yang dibilang sebuah pepatah; dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Karena saya sedang memijak bumi disini, maka saya –mau tak mau– menjunjung pula langitnya.
Salam. *****

Kamis, 25 Agustus 2011

Skabies Bikin Stres

SEMUA hal serba berpasangan.Tetapi sepasang saja yang ingin saya tulis sekarang.Masuk dan keluar.Lebih spesifik lagi ia sedang akan saya kaitkan dengan akal.Sehingga menjadi;masuk akal dan keluar akal.
Ingatkah sampeyan,ketika ribuan orang rela antri demi segelas air yang sudah dicelupi sebongkah batu oleh Ponari?Demi kesembuhan segala penyakit yang mungkin telah sekian lama diidap seseorang.Lalu,testimoni mengalir dari mulut ke mulut tentang suatu kesembuhan pasca meminum beberapa teguk air sakti dari Ponari.Berdasar testimoni itu,pasien Ponari makin membludak.Semua sembuh?
Entahlah.Tetapi saya ingin membuat pertanyaan baru;masuk akalkah itu? Relatif.Tergantung menurut akal siapa.Mungkin ia tidak masuk akal menurut sampeyan,tetapi sebaliknya menurut saya.Karena,bukankah akal setiap orang berbeda.Akal saya bisa jadi hanya sebatas ini,tetapi akal sampeyan jauh,jauhh...sekali meninggalkan akal saya.
Tetapi,ketika orang telah melakukan segala upaya sampai notok dug,masih tidak juga tuntas (sembuh,normal,sukses,dsb),lalu karena ia punya akal,maka ia melakukan upaya lain.Dan itu ketemu yang model si Ponari dan sebangsanya.Saya kira itu masuk akal dilihat dari modal mereka yang memang akalnya dangkal.
Sampeyan menuduh saya sok realistis,gak percaya yang gitu-gitu;bahwa yang bisa memberi kesembuah hanya dokter.Sampeyan kurang benar kalau menuduh saya begitu.Penyembuh segala penyakit hanya Tuhan.Dan Ia bisa saja memakai perantara seorang dokter atau hanya sekelas Ponari.Masuk akal,setidaknya menurut akal saya.
Saya pernah mengalami.Mengidap penyakit skabies.Bertahun-tahun tak sembuh.Sembuh seminggu,kumat tiga bulan.Begitu terus menerus.Sampai saya saban hari harus makan sekadar berlauk kemriuk-nya krupuk.Karena kalau sedikit saja memakan daging,ikan telur dan sebangsanya,ia malah menjadi malapetaka bagi saya.Tetapi saya yakin,setiap penyakit ada obatnya.
Saya tak seperti perempuan (berita ini saya baca kemarin di koran),yang stres karena lima bulan tak bisa tidur lalu pendek akal ingin ‘tidur selamanya’ dengan menenggak cairan anti nyamuk.Saya tidak begitu.Setidaknya saya tidak putus akal.
Maka,hari Juma’at Legi begini,saya berangkat ke masjid lebih awal.Agar dapat tempat paling depan.Agar bisa mendengarkan khotbah dari kiai sepuh yang memang hanya dihari Jum’at Legi saja berkhutbah di masjid itu.Agar selepas sholat Jum’at saya bisa mencium tangannya.Agar tangan saya ketularan halusnya tangan beliau.Agar (lagi) penyakit skabies yang kerasan tinggal ditangan saya rontok oleh ‘khasiat ghoib’ tangan kiai sepuh.
Sebuah upaya yang keluar akal,tetapi saya menjadikannya masuk akal karena setelah menggunakan cara yang masuk akal (menurut teori medis) penyakit saya tak juga terpental.Obat medis sampai jamu herbal tak mempan,makanya saya curiga Tuhan menaruh penyembuhan skabies saya lewat tangan kiai sepuh ini.
Dan,alhamdulillah,ternyata setelah beradu tangan dengan beliau di hari Jum’at Legi itu,tangan saya tak sembuh juga.Saya mensyukuri itu karena saya merasa telah hampir ketarik dalam praktik syirik.Baru hampir.Kalau beneran sembuh,tentu saya menganggap tangan kiai sepuh sakti,seperti batunya Ponari.
Saya cari akal lagi.Idenya malah tidak masuk akal.Tetapi tak ada salahnya mencoba.Kalau dalam bahasanya Thomas Alfa Edison;saya bukan tidak menemukan banyak obat yang tidak menyembuhkan sakit saya.Tetapi saya justru telah menemukan banyak obat yang tidak bisa dipakai sebagai penyembuh sakit saya.Sampeyan bingung membaca kalimat diatas? Hehehe...
Bila saya secara medis dilarang makan ikan laut,daging,telur dan sebangsanya,saya bertekat untuk malah memakannya.Sebanyak-banyaknya.Biar kapok.Ngincipi sedikit saja kumat.Makan banyak saja sekalian,sehingga kalau kumat tidak rugi.Toh sama-sama kumatnya.
Sehari pasca makan segala larangan,eh kok tidak kumat.Dua hari,juga tidak ada tanda-tanda si skabies muncul lagi.Tiga hari,empat hari,seminggu dan seterusnya malah sembuh.Sampai sekarang.Dan,menurut akal saya,analoginya begini;si kuman skabies kekenyangan dan jadinya ia malah mampus!
Apakah analogi saya itu masuk akal atau keluar akal?Entahlah.

Rabu, 24 Agustus 2011

Weekkk...(Suara) Rok Sobek

PADA November mendatang ada kado indah untuk kota pahlawan ini. Kado itu berbentuk sebuah film yang mengusung tema nasionalisme. Judulnya,Bendera Sobek. Digarap oleh sutradara Dwi Ilalang. Film yang menelan dana 8 miliar rupiah itu mengambil lokasi syuting di sejumlah daerah di Jawa Timur. Juga, didukung oleh para pemain asli dari Jawa Timur.

Film yang terinspirasi peristiwa penyobekan bendera di atas hotel Yamato pada November 1945 lalu itu, memulai syutingnya pada 30 Juli kemarin. Tidak tanggung-tanggung, syuting perdana yang juga melibatkan tim dari Jember Fashion Carnaval  itu menutup jalan Tunjungan selama seharian penuh. Tak ayal, hal itu menyebabkan kemacetan luar biasa di tengah kota Surabaya.

Bulan November masih beberapa bulan lagi. Masih ada waktu untuk menunggunya. Dan sambil menunggu, saya juga punya cerita tentang sesuatu yang sobek. Bukan bendera. Tetapi rok!
Tentu, kalaulah difilmkan, adegan sobeknya sang rok ini tak perlu sampai menutup sebuah jalan utama di tengah kota. Karena peristiwa ini terjadi hanya di sebuah desa sana. Tepatnya, dipertigaan pasar Gumukmas-Jember.

Terlalu muluk kalau saya berharap adegan sangat memalukan ini untuk dibuat sebagai film. Tetapi sebagai sesuatu yang saya kenang, memang iya.

Kelemahan saya, antara lain, saya tak pernah mencatat tanggal dan bulan kejadian. Tetapi kali itu saya hendak pergi ke Kencong, kalau tidak salah. Dari mulut gang Walet, saya naik ‘taksi’. Istilah ‘taksi’ di desa saya, jangan bayangkan ia sebagai semacam Blue Bird atau Cipaganti. Bukan. Tetapi ia adalah kendaraan Cotl T-20 atau semacamnya. Yang berfungsi sebagai angkutan umum untuk trayek-trayek jarak dekat. Karena untuk jarak lebih jauh, itu adalah dominasi kelompok Akas dkk. Atau paling tidak dari keluarga Bison-nya Isuzu.

Nah,di dalam ‘taksi’ itu, begitu saya naik,
“Kemana,pak?”sapa sang kernet.
“Kencong,”jawab saya.

Karena tujuan turun saya agak jauh sedikit, si kernet menyilakan yang turun duluan lebih geser ke depan. Kedekat pintu. Karenanya, saya lalu mendapatkan duduk disisi belakang. Tepat di sudut. Tempat yang menjadi favorit saya kalau naik ‘taksi’ begini. Karena bisa dapat angin segar dengan membuka sedikit saja kaca jendelanya.

Saya merasakan angin segar sesaat setelah taksi berjalan. Lebih segar lagi saya duduk berhimpitan dengan seorang wanita muda. Tak terlampau ‘bening’, tetapi karena pesaing lainnya lebih buram, tak apalah.
Saya yang memang sering memperhatikan hal-hal kecil, mendapati kenyataan bahwa; kalau saja si bening itu mau sedikit saja mengatur rambutnya sedemikian rupa, tentulah lebih modis. Tidak hanya membiarkan rambut panjangnya diikat menjadi laksana ekor kuda. Juga bajunya. Terlalu kedodoran untuk ukuran tubuhnya yang ramping. Paduan warna pastel berukuran longgar di atasan, plus bawahan yang juga seperti kepanjangan, saya kira ia sekaligus menyapu jalanan bila berjalan. Intinya;roknya terlalu ‘landung’.
Tetapi saya bukan Itang Yunasz atau Ivan Gunawan. Model baju belakangan ini, saya kira, menjadi ‘hak prerogatif’ si pemakai. Pun, karenanya, tentu bukan pada tempatnya saya menilai siapapun mengenakan baju model apapun. Juga si bening dengan rok longgar ini.

“Kiri, pak,” seru si bening begitu ‘taksi’ sampai di pertigaan Gumukmas.

Oh, rupanya ia sudah sampai sasaran. Dan, saya pikir, saya harus cari sasaran lain untuk mencuci mata. Maka, saya melemparkan pandangan keluar jendela ‘taksi’, berbarengan dengan si bening yang berdiri dari duduknya untuk segera turun.Tetapi,

“Weekkk….”ada suara kain sobek.

Secepat kilat saya mencari sumber suara. Dan, oh Tuhan, rok si bening itu menganga tepat di jahitan pada posisi pahanya. Penyebabnya; ternyata sebagian roknya masih terduduki pantat saya saat dia berdiri.
Saya lirik wajah si bening memerah-padam. Mualuuu. Sangat malu. Saya merasa bersalah? Tentu. Karenanya saya tak berani melihat adegan apa yang terjadi berikutnya. Duh.*****

Selasa, 23 Agustus 2011

Desas-desus

“MASIH muda,dan sepertinya kurang meyakinkan,”bisik seorang teman menanggapi ustad yang duduk di deretan depan.Sebelum acara buka bersama beberapa waktu lalu.

Saya diam.Rupanya teman saya tadi sedang menilai buku dengan hanya melihat sampulnya saja.Tetapi,ketika tiba waktunya si ustad muda itu memberikan tausiyah,si teman mulai ikutan menyimak.Dan,barangkali malah menikmati ‘buku’ itu dan mulai melupakan 'sampulnya'.

Dalam ceramah yang tak lebih dari tigapuluh menit itu,ada banyak yang disampaikan sebenarnya.Lengkap dengan bumbu joke-joke segar.Tetapi saya hanya akan menuliskan satu poin saja.Yaitu bahwa;setiap doa manusia senantiasa dikabulkan Tuhan.Senantiasa.Dan niscaya.Tetapi kita sering keliru menafsirkan.Dan cenderung menyalahkan Tuhan yang dengan sembrono kita tuduh tidak selalu mengabulkan segala keinginan kita.

”Kita harus membedakan antara kebutuhan dan keinginan,”tutur sang ustad muda yang menjabat pimpinan suatu lembaga sosial yang sangat profesional di Surabaya.”Ingat.Tuhan selalu mencukupi segala kebutuhan kita.Tetapi tidak selalu menuruti keinginan kita.Karena dengan kemahatahuan-Nya,Tuhan tidak ingin kita justru menjadi ‘celaka’ bila segala keinginan kita dipenuhiNya.Percayalah,Tuhan selalu ingin kita ini menjadi makhluk yang baik.Bukan sebaliknya.”

Tentang ‘keinginan’ ini,saya ingat ketika pada sekitar Mei 2005 terjadi sejarah penjualan saham dengan nilai sangat besar di Indonesia.Dalam sekali transaksi nominal yang muncul adalah 18,6 triliun.Sebuah rekor.Nilai penjualan yang bagus itu disebabkan karena perusahaan yang ‘dijual’ juga sedang dalam kondisi sangat bagus.Sekaligus memiliki produk-produk bagus yang menguasai pasaran.

Sebagai perusahaan besar tentulah ia memiliki banyak karyawan.Ribuan bahkan.Dan masalah timbul baru tiga tahun kemudian.Bermula dari desas-desus.Yang berhembus mengusung berita bahwa pemilik lama meninggalkan sejumlah uang untuk dibagikan kepada karyawan yang sekarang tergabung dan bekerja dinakhodai bos baru.

Pada Juni 2008 digelarlah demo besar-besaran.Aktifitas perusahann lumpuh total.Bisa dibayangkan betapa meruginya perusahaan,karena lebih dari seminggu ribuan karyawan mogok kerja dan menuntut uang jasa dari pemilik lama yang ‘konon’ dititipkan ke pemilik baru untuk dibagikan kepada semua karyawan.Angkanya memang sungguh mengiurkan.Karena,masih menurut desas-desus itu,nilai yang menjadi 'hak' karyawan paling tidak mendapatkan 25 juta rupiah per orang!

Pihak managenen menolak adanya uang itu.Dan selalu mengatakan tidak benar berita itu.Tetapi.kita tahu,sebenar apapun informasi yang disampaikan,ia akan mengalami distorsi bila dicelupkan kepada orang yang sedang tenggelam dalam genangan desas-desus.Celakanya lagi,orang-orang ini selalu memengaruhi temannya yang mencoba menggunakan logika ‘sehat’.Mereka selalu mengajak untuk bersama-sama berenang dalam kubangan desas-desus.Dan bahkan sampai menggunakan cara diluar akal sehat;bertanya kepada ‘orang pintar’.Sehembus desas-desus itu menjadi makin seru manakala sang paranormal mengatakan,dari hasil penerawangannya,memang benar uang itu ada!

Pendek cerita,setelah melalu proses yang alot,akhirnya perusahaan memberikan semacam ultimatum:Kembali masuk kerja,atau dianggap mangkir!

Begitulah,sebagian besar memilih kembali bekerja dan mulai melupakan desas-desus itu.Pihak ini mulai sadar untuk kembali bekerja demi mencukupi segala kebutuhannya,dan mengesampingkan ‘keinginan’ yang memang –mungkin—belum saatnya dinikmati.Tetapi sebagian lagi masih ngotot menempuh jalur hukum menuntut ‘uang jasa’ yang ternyata dikemudian hari memang tak terbukti keberadaannya.

Sebagai penutup tulisan ini,saya jadi ingat awal-awal ketika lahirnya tvOne selepas ia bernama Lativi.Sebagai televisi baru yang berformat berita,ada slogan yang ditampilkan sebagai penegas perbedaannya dengan televisi berita lain yang lebih dulu hadir.Dengan suara yang serak-serak ‘seksi’,sambil mengacungkan satu jari,bang Karni Ilyas,sang pemred berujar;”Banyak kabar beredar,hanya satu yang benar...”

Salam.

Senin, 22 Agustus 2011

Hal Lain Tentang Deadline

TULISAN ini hanyalah sekadar selembar surat.Tetapi karena ia adalah surat terbuka,anda pun tidak dilarang untuk ikutan membacanya.Seperti halnya,pertama-tama,surat Nazaruddin kepada pak SBY.Atau juga balasan dari pak SBY kepada Nazaruddin.Bukankah kita telah ikutan membacanya secara bersama-sama,walau konon (ketika itu) surat aslinya belum diterima sang presiden.

Saya ikut menyurati bapak presiden?
Tidak.Setidaknya belum.Entahlah kalau nanti,suatu kali,ada blogger yang menyelenggarakan semacam lomba menulis surat kepada presiden.

Surat terbuka saya ini hanyalah selembar surat yang saya tujukan kepada keponakan saya yang kebetulan memiliki blog pribadi sekaligus juga seorang Fesbuker.Yang ketika saya tengok ke lapaknya,tak ada tulisan barunya lagi.Jadi,kalau didalamnya nanti Anda mendapati saya sedang memberi nasihat,itu semata karena saya sedang menasihati sang keponakan.Bukan menggurui Anda.Dan,kalau berkenan,Anda pun malah boleh ikutan memberi tips menulis kepada keponakan saya itu,sekaligus kepada saya.

Saya menyuratinya,karena beberapa waktu lalu sang keponakan saya itu bertanya bagaimana caranya menulis.Menemukan dan menentukan ide,mengolah kata dan sebangsanya.

Dan inilah surat terbuka saya,sebagai jawaban –sebisa saya—atas pertanyaannya;

Untuk Ayu dirumah.
Menjawab beberapa pertanyannmu mengenai tips menulis,om sebenarnya sedang dalam belajar juga.Tetapi belajar itu,kamu tahu,harus kontinyu.Harus berkesinambungan.Makanya,seperti kamu lihat,om setiap hari selalu menulis.Apapun itu.Seremeh-temeh apa pun temanya.Intinya,tiada hari tanpa menulis.Karena dengan begitu,om merasa sedang mengasah.Agar tajam.Agar makin tajam.

Ayu,kamu merasa sulit menemukan ide?
Tengoklah sekelilingmu.Yang kau benci bisa menjadi tema tulisanmu.Yang kau senangi juga bisa.Anganmu,cita-citamu dsb.Banyak,banyak sekali,Yu.Ketika muda dulu,om ingat,saat jatuh cinta adalah momen ketika segala ide mengalir deras.Maka,sampai saat ini,om selalu merasa jatuh cinta.Agar ide selalu mengalir deras.Om selingkuh?Tentu tidak.Tetapi om selalu dalam keadaan jatuh cinta kepada aktifitas menulis.Dan jatuh cinta macam itu,harus dibuat.Harus dipaksa,kalau perlu.

Maka,menulislah,Yu.Apa saja.Biarkan jari-jari menari bebas.Jangan kau kekang ia.Terus maju.Jangan menengok kebelakang dulu.Lupakan ada tombol Backspace di keyboard komputermu.Terus menulis saja.Jangan kau campur-adukkan antara menulis sekaligus mengedit.Itu hal berbeda.Kalau kamu melakukan keduanya disaat bersamaan,om yakin,kamu akan sulit menghasilkan 450 kata dalam beberapa menit saja.Intinya,menulislah dulu,mengedit kemudian.

Berikutnya,agar kamu makin sering menulis,bikinlah deadline.Buat batas waktu yang tegas.Misal,tiap hari ,setiap sebelum jam sembilan malam,kamu harus bikin satu tulisan.Itu harus kamu patuhi.Bayangkan seakan kalau kamu tidak menulis sehari saja,kamu akan ada yang memarahi.Dan yang marah ke kamu itu ya kamu sendiri.Kejamlah sedikit.Jangan pasif menunggu ilham datang.Jangan.Mungkin si Ilham sedang mudik sekarang.Bikinlah ilhammu sendiri.Paksalah dirimu sendiri.Menulis tiap hari.Seremeh apapun topik tulisanmu.Menulislah saja.Biarkan orang lain menulis seminggu sekali atau bahkan akan menulis hanya kalau sudah ketemu Ilham saja.

Sudah dulu,Yu.Mulai sekarang om akan terus melototi blogmu,juga catatan di Efbi-mu.Kamu harus lebih sering posting.Tak ada alasan tidak menulis.Karena selalu ada waktu untuk menulis.Bukankah kamu betah berjam-jam main game atau nonton tivi.Ayolah,dengan menulis tidak sambil mengedit, dalam satu jam kamu bisa menghasilkan beberapa halaman.Ditambah satu jam untuk meng-edit,menjadi total dua jam,kamu pasti bisa merampungkan satu cerpen!
Buktikan itu.Dan om yakin,kamu mampu.
Salam.

Minggu, 21 Agustus 2011

Kuliner: Jangan Blendrang nan Nendang

DARI tiga bahasa yang saya kuasai, semua saya pelajari secara otodidak. Dan hanya sedikit mengalami sentuhan pendidikan formal.

Kalimat pembuka tulisan ini tentu bisa diartikan macam-macam bila tidak dibubuhi keterangan lanjutan. Maka inilah penjelasannya; kita semua tahu, dalam mempelajari suatu bahasa, tentu lebih baik bila kita belajar kepada native speaker, penutur asli. Karenanya sering kita temui, banyak lembaga pedidikan bahasa asing yang memakai jasa orang dari negara yang sedang kita pelajari bahasanya itu sebagai tenaga pengajar. Alasannya ya itu tadi; agar peserta didik menjadi lebih cepat menguasai bahasa yang dipelajari, tidak sekadar perbendaharaan kosa kata, tetapi lebih masuk ke logatnya sekaligus. Dengan mempelajari langsung dari native speaker pulalah saya menguasai tiga bahasa. Konkretnya; dari ibu saya belajar bahasa Jawa, dari bapak saya belajar bahasa Madura dan dari kedua beliau saya mempelajari bahasa Indonesia!

Tetapi bukan berarti saya tidak belajar bahasa asing. Tidak. Karena setiap saya ketemu dengan tenant yang dari Jepang, saya pun belajar bahasa Jepang. Langsung dari penutur asli. Hasilnya?

Alhamdulillah, saya telah menguasai tiga kosa kata; arigato, konnichiwa dan daidokoro. Arigato saya ucapkan setelah diberi sesuatu, konichiwa bila menyapa orang di siang hari dan ke daidokoro bila saya perlu memasak mie instan.

Selain orang Jepang, di tempat kerja saya juga banyak orang dari Korea. Kepada mereka saya juga belajar bahasa Korea. Kata pertama yang ingin saya ketahui adalah terima kasih. Arigato dalam bahasa Jepang.

“Terima kasih?” tanya si orang Korea dengan logat Korea kepada saya.

“Ya, terima kasih bahasa Koreanya apa?” saya mengulangi pertanyaan yang tadi telah saya utarakan.

“Terima kasih...Gam sa ham nida,” tulisnya sambil berkata. Saya memang menyodori selembar kertas. Dengan jawaban yang ditulis, saya berharap tak gampang lupa.

“Kalau selamat pagi?” tanya saya lagi

“Selamat pagi; an nyung ha se yo,” jawabnya. ”Apa lagi?”

Uh, menantang ini. Kesempatan ini. Tidak semua orang lho bisa belajar bahasa asing kepada penutur asli secara gratis begini. Tetapi, saya harus bertanya kata apa lagi? Dan, mulut saya langsung menyebut satu kata; kimchi.

“Ha, Anda tahu kimchi?!” nyonya Korea itu heran.

Ya, tentu saja saya tahu kimchi.Yang pasti tersedia di dapur setiap orang Korea, saya kira. Sebuah makanan khas Korea berbahan sayur semacam sawi. Yang tidak dimasak matang. Hanya melalui proses pelayuan. Tetapi tentu dengan dibumbui ala Korea.

“Suka kimchi? Sudah pernah makan kimchi?”

“Belum.”

“Mau coba?”

Ah, kesempatan lagi ini. Selain bisa belajar bahasa Korea langsung dari orang Korea, saya berkesempatan mencicipi makanan Korea yang langsung dimasak oleh orang Korea.

Diajaklah saya ke dapurnya.

“Tapi kimchi ini pedas.Sangat pedas,” katanya.

Makin penasaran saya. Senendang apakah pedasnya si kimchi?

Setelah mencicipi, ah ternyata tak sepedas yang dibayangkan lidah saya. Masih kalah jauh tendangan pedasnya dibanding dengan ‘jangan blendrang’ tewel (nangka muda) bikinan ibu saya.

‘Jangan blendrang’ (semacam sayur lodeh yang telah berusia beberapa hari), bagi saya selalu mengingatkan saya akan ibu di desa sana. Menu itu sering saya santap, dan menjadi ‘hidangan kebangsaan’ di rumah saya. Ia adalah sayur lodeh biasa pada mulanya. Tetapi, ketika ia telah diinapkan beberapa hari, memakannya selalu menimbulkan sensasi tersendiri. Sekian banyak cabe yang tadinya utuh ,tiga hari berikutnya telah pada pecah. Karenanya semakin hari semakin pedas. Semakin gelap pula warnanya.

Karena ia sering dihangatkan, anda tahu, si ‘jangan blendrang’ ini makin asin saja. Tetapi ibu saya punya formula khusus untuk mengurangi rasa asinnya. Caranya, ibu akan mengambil pelepah daun pisang. Memotongnya sepanjang 15 sentimeter. Ibu membutuhkan tiga potong saja. Lalu tiga potong pelepah itu diikutkan menghangatkan si ‘jangan blendrang’. Hasilnya, sayur lodeh berusia beberapa hari itu menjadi tidak asin lagi. Karena kadar garamnya telah diserap pelepah daun pisang.

Gam sa ham nida.
Salam.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Tersinggung

ORANG mengerjakan sesuatu dengan sangat cepat,ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama mahir. Kedua ngawur!

Maka, ketika sekolah Aliyah dulu, dalam pelajaran Matematika saya termasuk yang selalu tercepat menyelesaikannya. Dari satu jam waktu yang tersedia, paling lama saya mampu menyelesaikan soal --yang membuat sebagian besar teman saya pusing tujuh keliling itu-- hanya dalam hitungan dua puluh menit. Beres. Karena saya mahir? Oh tentu saja. Ya tentu saja saya ngawur! Hehehe...

Metode yang saya pakai, kalau tidak menghitung kancing baju, ya sistem 'kopyokan' seperti arisan. Anehnya, sekalipun saya menggunakan cara itu untuk menjawab soal yang model pilihan A-B-C-D, ternyata nilai matematika saya sungguh sangat mengenaskan!.

Selesai mengerjakan soal ujian, tentu tak elok kalau saya langsung keluar kelas. Kesannya kok pamer 'kepinteran'. Tapi untuk sekali lagi menengok jawaban atas soal-soal ujian --agar kalau ada yang kurang mantap dikoreksi ulang--, saya terlanjur kehilangan selera. Maka saya habiskan waktu luang itu untuk mengerjakan yang saya suka. Pada lembar kertas buram yang untuk menghitung, yang dibagikan setiap ujian mata pelajaran Matematika, saya salurkan sesuatu yang selalu menyenangkan. Kalau tidak menulis ya menggambar kartun.

Untuk soal ide, entahlah, kadang saya selalu mudah mendapatkannya. Kali itu tiba-tiba tangan saya menggambar sesosok laki-laki yang compang camping. Kurus dengan baju kumal. Tentu dalam karakter kartun. Pada keterangan naskahnya, saya tulis; Semakin Doyan Semakin Bubrah. Sebagai kepanjangan secara plesetan dari Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Sebuah 'perjudian' yang dilegalkan waktu itu. Yang setiap malam Kamis, selepas berita Asean di RRI jam sebelas malam, banyak orang berkerumun di didepan radio. Mendengarkan pengundian. Lalu, setelah pengumuman, ada tawa terdengar dan tentu saja ada pula pisuhan (umpatan).

Tertawa bagi yang menang, yang tombokannya pas, karenanya ia berhak mendapatkan hadiah sejumlah uang. Dan pisuhan sebagai ekspresi kekesalan, geregetan dan semacamnya; karena tombokannya terbalik. Pendek kata, ketika itu banyak orang gila judi. Akibatnya, banyak yang kerjaannya cuma meramal tombokan. Malas kerja. Dan rumah tangga berantakan.

Disaat saya sedang asyik menggambar, tiba-tiba ada tangan yang meraihnya. Rupanya sedari tadi guru pengawas ujian memerhatikan tindakan saya dari belakang. Dan itu tak saya sadari.

“Nanti,kamu ke ruangan saya,” kata pengawas yang memang guru Matematika.

Ketika waktu istirahat tiba, saya menemui beliau. Begitu saya masuk, ”Apa maksudmu menggambar ini?” tanya beliau sambil menunjukkan kartun buatan saya.

“Nggak ada, pak. Saya hanya iseng,” jawab saya.

“Iseng? Tidak mungkin. Pasti kamu sedang menyindirku,” kata beliau.
Oh,berarti....???