BELILAH masa depan dengan harga hari ini.
Chaerul Tanjung.
Selasa, 06 September 2016
Rabu, 10 Agustus 2016
Giliran Menggali Kubur
PENGERAS
suara yang terpasang di menara masjid di kampung saya, secara
rutin tentu saja mengumandangkan adzan di lima waktu sholat. Tetapi
selain itu, adakalanya digunakan juga untuk memanggil anggota Ishari
untuk berkumpul sebelum mengahadiri undangan ke suatu tempat.
(Dalam hal ini saya sempat membatin, apa anggota kelompok hadrah itu
tak memiliki ponsel ya kok sampai dipanggil dengan cara
memanfaatkan TOA masjid?). Selain dua hal tersebut, speaker masjid
secara waktu tak tentu (bisa pagi, malam, sore atau dini hari) juga
dimanfaatkan untuk menyampaikan kabar duka bila ada warga yang
meninggal dunia.
Tidak
seperti kebiasaan di desa asal saya yang untuk mengebumikan orang
meninggal harus menunggu waktu (menunggu berkumpulnya sanak famili
yang kadang bertempat tinggal di tempat jauh, sehingga tak jarang
mayat diinapkan walau meninggalnya masih sore hari), disini berjarak
tiga jam dari pengumuman yang disebarluaskan dari pengeras suara
masjid, semua prosesi pemakaman telah selesai. Tak peduli siang, tak
peduli malam. Mungkin, tak peduli juga sanak famili belum semuanya
datang.
Hari-hari
ini, bila ada kabar duka cita berkumandang dari manara masjid, saya
ikut menyimak juga; apakah yang meninggal itu masih satu RT dengan
saya atau tidak. Pasalnya, di dinding teras rumah saya sejak dua
minggu yang lalu tergantung tanda 'palang merah'. Itu pertanda,
bersama enam tetangga lainnya, saya sedang dapat giliran menggali
kubur bila ada salah satu warga di RT kami yang meninggal.
Ini
akan menjadi pengalaman kedua sejak saya tinggal di kampung ini mulai
tahun 2009 yang lalu.
Menggali
kubur? Bukankah telah ada petugas khusus yang dibayar melalui iuran
rutin warga? Mungkin itu kebiasaan di tempat lain, dan boleh jadi di
tempat lain lagi ada yang dalam menggali kubur tak menunjuk petugas
khusus dan semua prosesi dari A sampai Z dilakukan secara gotong
royong. Begitulah; dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.
Saya
belum bertanya sejak kapan dan oleh siapa peraturan menggali kubur
secara bergiliran itu di kampung ini diterapkan. Namun saya berbaik
sangka saja. Kalau bertakziyah kepada orang yang meninggal mempunyai
efek baik agar kita selalu ingat mati, apalagi dengan ikut menjadi
penggali kubur (yang dalam proses penggalian tak jarang menemukan
tulang-belulang). Tentu bobot ingat mati akan makin tinggi dan makin
menyadari kelak siapapun kita di kuburan akan tersisa
tulang-belulang. *****
Sabtu, 23 Juli 2016
PKL, PR Abadi Kota
BEBERAPA
tahun yang lalu, di sepanjang jalan Jagir sisi sungai itu berjajar
rapat sekali rumah semi permanen dengan aneka usaha. Mulai bengkel
mobil, bengkel motor, warung makan, pandai besi, sampai tempat
praktik dokter. Ohya, ada mushollanya juga. Padahal, secara hukum,
mereka menempati tanah negara. Dalam arti kata, menempatinya secara
ilegal, walau katanya sih tinggal dan membuka usaha disitu
bukan gratis semata. Bahkan sudah bergonta-ganti 'pemilik' dengan
nilai jual-beli yang tak terbilang murah. Itu pertama. Kedua, dengan
PLN berkenan memberikan layanan listrik di area situ, membuat semua
menjadi baik-baik saja dan seperti tidak melakukan pelanggaran
apa-apa.
Dulu
saya pernah ke salah satu rumah disitu untuk suatu keperluan dan
ketika saya menengok ke belakang rumah, oh bahaya sekali; langsung
menghadap bibir sungai. Kalau lagi apes dan terpeleset, untuk
mencarinya bisa jadi perlu bantuan tim SAR.
PKL
adalah sekelompok orang dengan keuletan berusaha yang gigih sekali.
Dimana ada peluang, disana mereka akan berdagang. Sampai kurang
peduli bahwa lahan yang mereka tempati adalah area terlarang. Di
bibir sungai, di atas saluran, di depan pasar dan sebangsanya.
Sebentar saja tak ditindak, jumlah mereka akan beranak-pinak. Sampai
mampu mematikan usaha lain sejenis yang punya tempat permanen dan
resmi. Bayangkan, PKL tak sungkan menjual sepatu di depan toko
sepatu. Dengan kegigihan berkadar 24 karat, untuk menggusurnya pun
tidak setiap pemimpin daerah mampu menuntaskannya.
Anda
sudah pernah jalan-jalan ke Singapura? Atau ke Paris? Kalau sudah,
berarti Anda telah bisa menyaksikan betapa bersihnya jalanan di sana.
Kalau belum pernah, ah kita sama. Karena belum pernah ke luar negeri,
tentu akan tak afdol kalau saya nggedabrus bercerita tentang
tempat-tempat dimaksud. Baiklah, saya akan bercerita tentang di kota
ini saja, Surabaya.
Lagu
Bis Kota yang dinyanyikan Franky adalah potret Surabaya tahun
bahuela. Yang masih panas. Sekarang, taman ada dimana-mana. Di
sepanjang jalan di seantero kota, selalu ada rindang yang diciptakan.
Pohon-pohon dan bunga-bunga juga air mancur di berbagai sudut kota,
diniatkan agar kota ini menjadi tak panas-panas amat.
Seorang
kawan dari kota sebelah sempat iri dengan pembangunan di kota ini.
Pembuatan saluran/box culvert yang sepanjang tahun tak pernah
berhenti demi bisa mengusir banjir, dan pembanguan infrastruktur
penunjang lainnya. Walau kalau diamati, masih saja terjadi malfungsi
ketika sarana itu jadi. Trotoar, misalnya. Area pejalan kaki yang
dipasang keramik dengan motif apik yang di bangun di atas box culvert
di kanan-kiri jalan, malah acap menjadi 'jalan lain' bagi penunggang
motor yang tak sabar bermacet-macet ria.
Inilah
salah satu problem abadi setiap kota di masa kini; seberapa pun jalan dilebarkan, selalu akan segera
dipenuh-sesaki oleh kendaraan. Dan semua akan menjadi semakin ruwet
tidak karuan bila sama-sama kurang mengedepankan kesadaran. Ya
masyarakatnya, ya pemerintahnya, ya semuanya.
Pagi
tadi saya berangkat kerja dan mendapati dua lokasi PKL telah
diratakan dengan tanah dan, tentu saja, akan difungsikan disitu
sesuai peruntukannya. Satu di jalan Dinoyo, satunya lagi di depan
Gelora Pancasila jalan Indragiri. Kemana para PKL itu setelah ini
mencari nafkah, tentu perlu (mungkin telah) dipikirkan oleh pihak
penggusur. Itu secara moralnya memang demikian, walau mereka adalah
pihak yang salah. Tetapi, para pedagang kaki lima bukanlah makhluk
rapuh yang gampang punah. Tunggulah: disini merena digusur, sekian
waktu berikutnya, di tempat lain, mereka akan tumbuh lagi. Ingat, sesuai
namanya, mereka adalah pedagang kaki lima, bukan sekadar kaki tiga!*****
Kamis, 19 Mei 2016
H A H
CUACA
yang mendung ditambah pepohonan yang rimbun di area bermain anak-anak
di pantai itu, membuat suasana nyaman sekali. Lebih menyenangkan
karena saya lihat si kecil saya senang sekali berada di situ. Sebuah
acara liiburan yang murah meriah sekaligus tak perlu jauh dari rumah.
Dalam arti berikutnya; kantong tak akan terlalu bolong karenanya.
Jajanan
yang ada pun tak mahal-mahal amat, permainan ayunan dan sebangsanya
malah gratis belaka, sudah jadi satu dengan karcis masuk. Di antara
waktu menemani anak bermain, saya lihat seorang lelaki mengais rejeki
atas bantuan monyet. Tak hanya seorang, saya lihat ada beberapa
lelaki berlaku begitu; kesana-kemari menggelar tontonan topeng
monyet.
Tidak
seperti yang pernah saya lihat di kampung, yang tontonan topeng
monyet masih menggunakan gamelan asli, yang ini lebih simpel, cukup pakai speaker
kecil bersuara nyaring tetapi cemplang bertenaga accu
kecil dan tak perlu berbagi penghasilan dengan penabuh gamelan. Untuk
si aktor utama, ya si Sarimin atau entah siapa nama monyet itu,
cukuplah dibelikan pisang.
Rabu, 27 April 2016
Sukses itu Biasa
SUKSES bagi saya adalah hal biasa, hal yang luar biasa adalah bila saya gagal.
Sutiyoso, Kepala BIN.
Senin, 04 April 2016
Mengintip Toilet VIP
| Toilet VIP (Foto koleksi: M. Faizi) |
Pilihan
buang air berikutnya adalah di toilet masjid-masjid di pinggir jalan.
Tiada tarifnya, hanya biasanya disediakan kotak amal di pintu masuk
toilet dan tiada yang menjaga. Artinya; seikhlasnya saja. Tak mengisi
pun tak mengapa walau kebangetan saja kiranya.
![]() |
| Toilet VIP tampak dari luar. (Foto: ediwe) |
“Kalau
yang VIP ada showernya, air hangat pun selalu tersedia,' kata
petugas kafetaria di SPBU itu menerangkan ketika saya tanya. “Kalau
toilet biasa ada di sana, tarifnya lima ribu rupiah,” lanjut lelaki
ramah itu menunjuk deretan toilet di sisi kanannya.
![]() |
| Oh, yang sepuluh ribu itu untuk dana kebersihan to? (Foto: ediwe) |
Lelaki
kasir kafetaria yang ramah itu memanggil seorang bapak cleaning
service ketika saya bilang akan melihat-lihat bagian dalam toilet
VIP yang tarifnya selangit itu. Ya, di dinding depan toilet VIP itu
memang tertempel pemberitahuan harus memanggil petugas kalau hendak
menggunakannya.
![]() |
| Head dan hand shower dengan air panas dan dingin. (Foto: ediwe) |
Saya
menghitung dinding keramiknya dan mendapati ukuran 1,5 x 1,6 meter
luasnya. Ada head shower dan hand shower-nya, ada pula
tissuenya. WC duduknya pun bersih tanpa kerak. Setelah menutup
pintu dari dalam, saya menarik nafas agak dalam dan tak mendapati bau
pesing tersisa masuk ke lubang hidung saya, walau sayangnya tak pula
terdapat pewangi ruangannya.
![]() |
| Bersih, tidak pesing tapi juga tidak wangi. (Foto: ediwe) |
Betul,
kalau masuk menggunakan toilet VIP itu sekadar untuk buang air kecil
semata, tentu sama dengan buang-buang uang saja. Sepuluh ribu rupiah,
bos. Uang segitu sudah bisa untuk beli BBM jenis Pertamax satu liter
lebih, atau dapat empat bungkus jajan cenil atau klepon
di bunderan Gempol sana sebagai buah tangan bagi anak-anak di
rumah.****
Kamis, 24 Maret 2016
Selamat Tinggal TV Digital
TENGOKLAH
bilah samping kiri blog ini; posting yang nangkring teratas sebagai
yang sering dibaca adalah mengenai tv digital. Beratus-ratus komentar
mampir di salah satu artikel saya tentang pengganti sistem analog
dalam dunia pertelevisian itu. Tandanya, masih banyak yang berminat
menikmati siaran tv digital terrestrial yang sayangnya sampai kini
progress-nya
hanya begitu-begitu saja. Ya, bisa jadi saya salah. Bisa jadi
regulasi yang lebh matang telah siap dieksekusi untuk diterapkan di
lapangan, dan sebagai pemirsa kita akan sangat dimanjakan dengan
gambar-suara bening plus konten siaran yang banyak sekali dengan
genre
dan segmentasi beragam.
![]() |
| Memanfaatkan dish kecil ex pay tv. |
Jujur,
sejak asyik belajar tracking
pakai antena parabola, saya sudah agak lama tidak melihat konten
siaran pada kanal digital terrestrial, sehingga kalau ditanya ada
berapa channel
yang sekarang on
air
di Surabaya ini, saya hanya bisa angkat bahu; tidak tahu.
Tentang
tv digital, boleh jadi kita yang tinggal di kota ini sudah
ketinggalan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman.
Sementara kita yang di kota masih mengharap digital terrestrial
(sitem penyiaran yang dipancarkan lewat antena pemancar) mereka sudah
menangkap dengan kualitas HD siaran dari banyak satelit, tidak cuma
siaran yang terpancar dari satelit Palapa dan Telkom saja. (Eit,
eit, jangan
bicara yang
pay tv ya,
saya
sedang bicara tentang yang
FTA saja,
walau –dengan reciever
tertentu yang bisa dipakai fly--
saudara kita di pedalaman sudah bisa menembus ke konten premium yang
masuk dalam jajaran channel pay
tv).
![]() |
| Salah satu, dari sekian banyak channel, yang Coming Soon. |
Kecuali
parabola milik pay
tv,
bukankah yang untuk FTA ukurannya sebesar gajah dan makan tempat.
Padahal rumah kita di kota kurang ada tersedia tempat untuk menaruh
dish
yang minimal berdiameter 1,6 meter itu. Kendala inilah yang
sepertinya dibidik Ninmedia, sebuah perusahaan yang menghimpun
pemilik konten siaran untuk menayangkannya lewat satelit secara
gratis (FTA-- Free
to Air)
dengan menggunakan parabola kecil type offset
seperti yang lazim digunakan pay
tv.
Ya,
kita masih sedang membicarakan satelit Chinasat11
yang kini hangat diperbincangkan, yang konon nanti berisi lebih dari
200 (baca: duaratus!) konten siaran dan itu gratis selamanya. Dengan
jangkauan (beam)
seluruh Indonesia, ia manjadi momok bagi program tv digital yang kita
ungkap di awal tulisan ini.
Gambarannya
begini; demi bisa bersiaran di kanal digital terrestrial, sebuah
lembaga penyiaran yang tidak memenangi pengadaan MUX, harus menyewa
kepada si pemenang dengan harga sekian puluh juta rupiah sebulan
untuk jangkauan satu kota tertentu. Katakanlah ia akan bersiaran di
lima kota, kalikan saja biaya sewa MUX itu dengan nominal tersebut.
Sementara, dengan menyewa slot siaran di satelit Chinasat11,
ambil contoh, penyelenggara siaran cuma membayar konon hanya 150 juta
rupiah sebulan dengan jangkauan seluruh Indonesia. Simpel mana, coba.
Dan murah mana? Tentu murah sewa slot satelit Chinasat11 bukan?
Kini,
yang sudah aktif baru 1 transponder (dari lima yang haknya dipegang
Ninmedia) dan masing-masing transponder akan berisi 45 slot siaran.
Beberapa stasiun televisi lokal/nasional yang telah mengudara di situ
(MetroTV,
tvOne, antv, Net, BeritaSatu, KompasTV, TransTV, Trans|7, RajawaliTV,
Prambors, PopularTV, Saluran Film Indonesia, SportOne
dll –kalau MNC
grup juga sudah berada disitu, lengkap sudah channel Palapa-Telkom di
Chiansat11),
dan saluran lain masih dalam tahap Coming
Soon.
![]() |
| SportOne, saudara antv dan tvOne, sudah mengudara di Chinasat11. |
Ambil
misal SportOne,
banyak orang menunggu stasiun televisi khusus olahraga pertama di
Indonesia itu menngudara via MUX Viva bersama antv
dan tvOne
(karena memang satu grup), tapi justru kini ia telah mengudara secara
nasional lewat Chinasat11.
Bagaimana, apa masih terlalu berharap pada kanal digital terrestrial?
Memang
STB (Set
Top Box)
alias reciever
untuk satelit harganya malah lebih murah dari DVB-T2, tetapi kan
harus ganti antena. Come
on,
Anda bisa pakai antena pay
tv
jenis Ku
band
yang nganggur di atas itu yang sudah lama tak berfungsi karena Anda
telah berhenti melanggani sebuah pay
tv
tertentu. Atau, kalau tidak ada, carilah ke pengepul barang
rongsokan, niscaya –kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkannya
dengan harga yang sama sekali tak akan menguras isi kantong.
Lalu
kalau Anda punya waktu,
tracking-lah
ke posisi 98.0º
E, masukkan frekuensi 12500 V 43200, dapat deh
konten-konten yang saya sebut di atas. Atau, kalau belum-belum sudah
merasa ribet dan tak punya waktu dan skill,
panggillah teknisi untuk keperluan itu. Itu kalau Anda tak punya
waktu tetapi punya uang. Hehe...
Kemudian,
kalau sudah kita dapatkan konten siaran yang buanyak sekali di
Chinasat11
itu, mari bersama berujar, “Selamat tinggal tv digital
terrestrial...” *****
Jumat, 18 Maret 2016
Yayasan Nurul Hayat, Hebat!
MENDAPAT giliran
ketempatan pengajian rutin, walau dalam klausul, shohibul bait tak
perlu terlalu repot menyediakan ini-itu dan cukup air putih saja,
tetapi ya repot juga. Tamu adalah raja yang harus dihormati. Air
putih tentu baik dan akan lebih baik lagi bila ada temannya. Ya
gorenganlah, kacanglah atau yang semacamnya. Ia menjadi teman ngobrol
setelah yasinan selesai.
Tetapi istri saya punya
usul lain, “Bagaimana kalau kita beraqiqoh sekalian?” sebuah ide
yang langsung saya setujui.
Menurut saya, ia menjadi
praktis karena kami tak perlu mengundang ratusan orang secara satu
per satu, karena ratusan anggota pengajian akan datang sendiri sesuai
pengemumun di acara rutinan sebelumnya. Tentu, kami juga mengundang
tetangga kanan-kiri yang kebetulan tidak ikut sebagai anggota
pengajian. Lalu bagaimana kami mengolah daging kambing aqiqoh?
Memasak sendiri (dengan bantuan tetangga tentu saja) atau memesan
aqiqoh siap saji ke jasa yang melayani keperluan itu. Tetapi yang
mana? Kan banyak sekali yang mengiklankan jasanya dengan menempelkan
pamflet di pinggir-pinggir jalan?
Seorang tetangga berbaik
hati memberi kami saran untuk memakai sebuah jasa layanan aqiqoh,
“tetapi pesannya lebih baik agak dekat dengan hari H, karena kalau
terlalu lama, akan ada tambahan biaya memelihara kambing aqiqohnya,”
ia menerangkan.
Sebuah keterangan yang
lalu kami simpulkan kami kurang tertarik memakai jasa layanan itu.
Saya sih sebenarnya sudah punya gambaran. Seperti kalau air mineral
ya Aqua, atau kalau pompa air ya Sanyo, kalau aqiqoh ya Nurul Hayat.
Kamis, 17 Maret 2016
Jejak Pencari Cicak
TENGAH
malam kemarin, kami bicara kesana-kemari di teras rumah saya. Dari
nama cucu pertama presiden Jokowi yang jan njawani tenan; Jan
Ethes. Nama itu akan terbaca seperti kebarat-baratan bagi yang kurang
paham istilah Jawa. Saya setuju, nama adalah juga doa dari orang tua
untuk si jabang bayi. Dan Jan Ethes tentu sangat lebih baik dibanding
Jan Nggapleki, misalnya.
Kami,
tentu seperti siapapun yang seperti para pengamat di televisi. Yang
pinter ngomong aneka topik dengan sangat ndakik. Bedanya,
mereka terkenal dan dibayar, sementara kami bicara sepenjang malam
tentu hanya mendapati busa muncul di sudut bibir. Apa coba yang tidak
bisa kami bicarakan? Ndak ada. Semua bisa. Cerita tentang
Saipul Jamil atau tentang si Jessica memang sudah rada redup ditayang
di layar kaca, tetapi –kalau mau-- kita tak pernah kehabisan topik
untuk dibicarakan.
Saya
bulan-bulan terakhir ini dengan sengaja mengurangi menonton berita di
televisi dan atau membaca koran. Saya ingin membuktikan, tidak
mengikuti berita yang beredar pun tidak masalah. Tak apa-apa kan
mengistirahatkan pikiran dari ha-hal yang tidak kita ketahuipun tidak
apa-apa. Bukankah sekarang sumber bacaan bertebaran banyak sekali dan
akan lebih menyenangkan membaca hal-hal yang menyenangkan ketimbang
mengikuti berita politik yang sering (dibikin) tak jelas ujung
pangkalnya itu.
Disaat
ingin membaca hanya yang menyenangkan, saat dalam obrolan
ngalor-ngidul di tengah malam itu saya mendengar ada bupati muda yang
baru sebulan dilantik dan sekarang ketangkap BNN dalam kasus narkoba,
duh jan saya menyesal sekali. Menyesal sekali saya tahu berita
itu. Karena tak mengetahuinya pun saya rasa saya tak akan menderita
migrain atau kesemutan.
Ketika
obrolan makin tak tentu arah dan kami saling menimpali dengan argumen
masing-masing, dua orang melintas di gang depan rumah dengan memakai
lampu di kepalanya dan setangkai tongkat berujung pipih dan lentur
yang telah diolesi lem. Bukan, mereka bukan pencari kodok karena di
tempat kami tak ada kodok ngorek yang
teot-teot teblung itu.
“Cari
apa, Kak?” tanya saya dalam bahasa mereka karena saya dengar tadi
mereka bicara dengan bahasa daerah yang kebetulan saya juga bisa.
“Cari
cicak,” jawab salah satu dari mereka.
“Cicak?
Buat apa?”
“Buat
dijual.”
Mengalirlah
percakapan tentang harga cicak yang kalau sudah dikeringkan menjadi
berharga 400 ribu rupiah padahal kalau dijual basah cuma sehraga 40
ribu rupiah per kilogramnya. “nDak tahu itu dibikin apa, yang
penting saya cari dan menjualnya ke juragan yang menampungnya di
Leces, Probolinggo sana,” jawabnya saat saya tanya cicak itu akan
diproses manjadi jamu atau apa.
Ini dia.
Kalau sebelumnya ada tokek yang bisa berharga sampai puluhan juta per
ekor dengan berat dan ukuran tertentu, lha kok ini ada cicak
yang nilai jualnya jan menggiurkan.
Nah,
itulah hal sederhana yang lebih menggairahkan untuk dibicarakan
ketimbang berita-berita tingkah polah selebritas pada tayangan
infotainment yang kadang jan
nggilani tenan.*****
Jumat, 04 Maret 2016
Tracking Chinasat-11
![]() |
| Dish ex OrangeTV untuk menembak Chinasat-11 difoto dari arah utara. |
SEBAGAI
Tracker
Anyaran alias
newbie,
di saat banyak kawan forsat ngomongin satelit Chinasat-11 yang berisi
siaran televisi lokal Indonesia, ikut penasaran juga saya akhirnya.
Berbekal dish lengkap dengan LNB ex OrangeTV,
Minggu pagi kemarin saya tracking satelit yang mengorbit pada 98.0°
E itu.
![]() |
| Koleksi altem; Palapa-D, Telkom-1, Asiasat7 dan Chinasat-11. |
Tetapi,
karena kondisi dish bekas itu sudah karatan, sebelumnya saya cat dulu
menggunakan cat anti karat / zyncromat.
Setelah semua siap, saya pasang dish itu pada tiang yang sebelumnya
sudah saya siapkan. Berbekal satfinder, menjadikan saya tak perlu
lagi membawa reciever dan tv portable
saat tracking.
Jujur,
ini pengalaman pertama saya tracking
sinyal Ku band. Tetapi, karena sebelumnya saya sudah membaca di
forum-forum persatelitan tentang satelit Chinasat-11 dan kemana dish
harus dihadapkan, menjadikan saya tak buta-buta amat.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran televisi digital.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran televisi digital.
![]() |
| SQ lumayan luber, rx Matrix Prolink HD PVR. |
Iya,
sesuai yang pernah saya baca, arah dish
saat nembak Chinasat-11 adalah barat agak ke utara. Atau, arah antara
jam 10-11-lah. Nah, sambil mengarahkan dish
ke yang dimaksud, saya tak perlu melihat layar display
satfinder,
karena pada menu find
satellite
sudah saya setting pada satelit tersebut sekaligus sudah saya
masukkan frekuensi 12500 V 43200. Setelah beberapa saat 'goyang
dumang', ada bunyi melengking dari satfinder
saya. Itu tandanya sinyal yang saya cari sudah nyangkut. Tinggal
mengepaskan saja, tinggal memaksimalkan saja. Saya turun dari atap
setelah saya mendapat SQ maksimal yang mampu saya dapatkan, yakni 73%
untuk Strenght,
dan 75% untuk Quality.
![]() |
| Salah satu channel: PopularTV, rx Matrix Apple III HD PVR |
Nah,
begitu saya scan
memakai reciever Matrix Prolink HD RVR milik saya, ternyata lumayan
hasilnya. Berhasil sudah saya menembak setelit Chinasat-11. Lumayanlah,
bisa menambah koleksi channel.
Selain mencoba scan menggunakan dua reciever Matrix type berbeda, saya tertarik pula untuk menjajal memakai reciever ex OrangeTV Ku-band yang merek Konka. Setelah sebelumnya sempat agak bingung bagaimana cara menambahkan satelit baru pada reciever tersebut, akhirnya berhasil juga saya mengunci si Ninmedia di Chinasat-11.
Dari beberapa artikel yang sempat saya baca; tidak semua reciever ex pay tv bisa untuk me-lock Chinasat-11. Tetapi, tentang merek dan ex pay tv apa saja, itu yang saya kurang tahu. Karena punya saya ya cuma ex OrangeTV Ku--band itu. Kalau Anda punya pengalaman, silakan di-share di komentar artikel ini dong. Oke?*****
Selain mencoba scan menggunakan dua reciever Matrix type berbeda, saya tertarik pula untuk menjajal memakai reciever ex OrangeTV Ku-band yang merek Konka. Setelah sebelumnya sempat agak bingung bagaimana cara menambahkan satelit baru pada reciever tersebut, akhirnya berhasil juga saya mengunci si Ninmedia di Chinasat-11.
![]() |
| Channel-channel Ninmedia (Chinasat-11) rasa OrangeTV. |
Dari beberapa artikel yang sempat saya baca; tidak semua reciever ex pay tv bisa untuk me-lock Chinasat-11. Tetapi, tentang merek dan ex pay tv apa saja, itu yang saya kurang tahu. Karena punya saya ya cuma ex OrangeTV Ku--band itu. Kalau Anda punya pengalaman, silakan di-share di komentar artikel ini dong. Oke?*****
Kamis, 03 Maret 2016
Hati adalah Antena
HATI ibarat antena televisi bagi hidup. Untuk mendapatkan gambar dan suara yang jernih, arah antena harus pas dan tiada penghalang ke arah pemancar atau satelit. Bila hati kita selalu tertuju ke arah yang tepat, ke Dzat Yang Maha Memancarkan, niscaya hidup akan jernih dan tiada yang perlu dirisaukan. *****
Jumat, 19 Februari 2016
LGBT dan Kepunahan Generasi
MASA kecil dulu, setelah
mengaji, hampir tiap malam kami nonton pertunjukan ludruk di gedung
kesenian di kampung kami. Sebagai anak-anak, kami nunut ke
siapa saja yang membeli karcis. Menggandeng tangannya, agar penjaga
pintu masuk menganggap kami anak atau keponakannya.
Sebagai anak-anak, kami dibiarkan saja
masuk ke ruang belakang panggung, tempat para pemain berdandan
sebelum tampil. Di antara mereka, ada beberapa lelaki yang kemayu.
Kami menyebutnya wandu. Biasanya mereka akan tampil setelah
tari pembuka, remo. Bersanggul segede ban truk, memakai kebaya dan
kain panjang, mamakai bedak dan lipstik rada menor, berbuah dada
seruncing gunung Semeru, tetapi berjakun. Walau suara dalam tampilan
koor tembang-tembang Jawa itu sudah diperempuan-perempuankan, tiada
yang tak tahu kalau mereka adalah laki-laki.
Di luar jam pertunjukan, beberapa kali
saya melihat diantara mereka. Yang tetap kemayu, tetap
melambai, mungkin peran yang terlalu didalami sehingga kebawa di luar
panggung. Atau, mereka memang lebih nyaman sebagai wandu
ketimbang lelaki.
Saat SMP, di kelas saya punya dua orang
teman yang kemayu begitu. Tindak-tanduknya gemulai, dan kalau
berantem; saling jambak rambut dan mencubit. Jan persis
perempuan. Sebagai remaja keren (ekhm, ekhm...) kala itu saya takut
juga. Masa puber yang biasanya selain ditandai dengan panen jerawat,
mulai timbul pula ketertarikan kepada lawan jenis, teman saya yang
kemayu itu makin kentara saja kalau suka sesama 'pisang
goreng'. Sebagai juga pemilik pisang goreng, saya harus jaga jarak.
Kalau sampai si kemayu itu naksir saya, hiiii...... bisa gajah
makan kawat; gawat.
Kini, kabar terakhir yang saya dapatkan, salah satu kawan kemayu saya itu sukses di Denpasar dan selain telah memiliki beberapa salon juga telah memiliki 'suami'. Bahkan, karena telah punya banyak uang, kabarnya ia telah melakukan operasi mengganti pisang gorengnya menjadi terang bulan.
Kini, kabar terakhir yang saya dapatkan, salah satu kawan kemayu saya itu sukses di Denpasar dan selain telah memiliki beberapa salon juga telah memiliki 'suami'. Bahkan, karena telah punya banyak uang, kabarnya ia telah melakukan operasi mengganti pisang gorengnya menjadi terang bulan.
Langganan:
Postingan (Atom)











