SAYA kurang paham betul kesenian Ludruk itu berasal dari Jombang atau Surabaya. Yang saya tahu, dalam ludruk ada segmen yang selalu ditunggu. Biasanya dimunculkan setelah tari remo dan paduan suara para 'wandu' yang berdiri berjajar setelah penari remo turun panggung.
Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.
Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.
Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****
wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.
Minggu, 14 Desember 2014
Minggu, 30 November 2014
Slamet dan Saimin
KALAU
engkau masih ingat, aku telah pernah menceritakan kepadamu tentang
Slamet. Penghuni pasar di kampung kami, yang pada saat-saat tertentu
ia akan melabur seluruh tubuhnya dengan parutan ketela pohon,
sehingga setelah pati parutan ketela itu mengering, ia laksana
Hanoman; putih seluruh kulit tubuhnya yang hanya pada bagian alat
kelaminnya saja yang dibungkus cawat yang ia bikin dari sobekan kain
sarung.
Slamet,
menurut para orang tua, dulunya adalah santri sebuah pondok disini.
Ia berasal dari Blitar. Tapi ya itu, masih menurut sumber yang tentu
tak bisa dikonfirmasi kesahihannya, dari awal datang mondok ia memang
'kurang seratus'. Menurut orang-orang ia memang kurang 'penuh'. Dan
ia kemudian keluar dari pondok lalu menjadi penghuni pasar karena,
ketika putri sang kiai yang cantik jelita, yang diam-diam ia jatuh
cintai setengah mati, dinikahkan dengan seorang lelaki anak kiai
Bangsalsari.
Miskin atau Sederhana?
ORANG miskin bukanlah seseorang yang memiliki sedikit (harta), tapi orang yang selalu membutuhkan lebih, lebih, dan lebih lagi. Saya tidak hidup dalam kemiskinan. Saya hidup dalam kesederhanaan. Hanya sedikit yang saya butuhkan untuk hidup.
Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).
Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).
Rabu, 05 November 2014
Tips Membeli Set Top Box
SAYA
agak merasa bersalah ketika membuat artikel tentang kepekaan set
top box
dan mendapat lumayan banyak tanggapan/komentar. Sebagian besar
menanyakan set
top box
merek apa yang pada artikel itu memang tidak saya sebut secara
gamblang. Sebagian lainnya menanyakan set
top box
merek apa yang layak direkomendasikan.
Sebagai
hal yang menyenangkan, tentu saja, ketika masyarakat pemirsa relatif
antusias menyikapi isu siaran televisi digital. Isu? Ah, barangkali
agak kurang tepat juga saya mengistilahkan hal itu sebagai isu
belaka. Tetapi saya agak kesulitan menemukan kosa kata yang pas untuk
menggambarkan perkembangan siaran televisi digital terrestrial yang
progress-nya
cuma begitu-begitu saja.
Baca juga: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Baca juga: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Bisa
jadi saya salah. Bisa jadi, karena sudah agak lama saya tidak
menghidupkan STB, sekarang siaran tv digital sudah berisi ratusan
konten/channel. Anda, yang tidak seperti saya, yang tidak kehilangan
kekhusyu'an dan kesabaran setiap kali menghidupkan reciever cuma
mendapati maksimal empat MUX yang belum 'tiarap', sekarang sudah
girang bukan kepalang menikmati aneka tayangan dari sekian banyak
frekuensi yang ada. Disaat Anda beruntung begitu, anggap saja sebagai
manusia yang ketinggalan zaman!
Kembali
ke soal awal; tentang set
top box.
Jujur, saya juga sudah agak kurang update
tentang perkembangan merek-merek STB. Sekarang saya buka saja; set
top box
yang saya punya adalah Bomba
(masih DVB-T1),TCL,
Getmecom-HD9
dan PF-209.
Yang mana yang terbaik diantara semua itu?
Sebagai
yang masih DVB-T1, Bomba
tak usah ikut dibahas. Sedang si TCL,
yang tepat setahun saya pakai tunner
sudah tidak berfungsi, juga abaikan saja. Sehingga praktis yang saya
pakai sekarang cuma Getmecom-HD9
dan PF-209.
Getmecom-HD9
saya ini, sayangnya juga penangkap sinyalnya sudah agak 'tumpul'.
Penjelasan dari ini adalah, ketika sinyal dari MUX MNC
grup (Channel 41) yang oleh PF-209
masih bisa ditampilkan, pada Getmecom-HD9
sama sekali tidak ada penampakan. Begitu juga MUX Emtek
di kanal 29. Pendek kata, punya saya yang PF-209
lebih
tajam dalam menangkap signal dibanding si Getmecom-HD9.
Eits,
tetapi tunggu dulu. Ini pengalaman pribadi saya dan jangan buru-buru
di-gebyah
uyah
semua Getmecom-HD9
tumpul dan PF-209
tajam. Bisa jadi ini kasuistis semata, namanya juga barang
elektronik. Atau Anda punya pakem/patokan tertentu yang bisa
dijadikan simpulan atas hal tersebut.
Tetapi,
masih tentang set
top box
yang adalah barang elektronika, layanan purna jual layak dijadikan
pertimbangan sebelum membeli barang. Jangan sampai, sudah mahal-mahal
membeli, saat ada trouble,
tak tahu kita harus membawanya kemana. Ini saya alami ketika STB
merek TCL
yang saya punya. Saat tunner-nya
tidak berfungsi begitu, tak tahu saya harus menyembuhkannya kemana,
karena tak tahu dimana letak Service
Center-nya.
Iya, layanan after
sales-nya
harus ada, syukur-syukur itu ada di dekat kita.
Sampai
disini tentu sudah agak jelas; bahwa hanya merek-merek tertentu saja
yang didukung Cervice
Centre yang
tidak abal-abal. Bahkan, di Surabaya ini, tak tahu dimana letak
layanan after
sales dari
si Getmecom-HD9.
(Tentang ini, tentu saya bisa baca di manual
book-nya).
Tetapi, saat saya baca buku manual dari si PF-209
(yang ternyata merek ini bukan milik dari produsen antena PF yang
sudah kita kenal), tempat yang disebut Service
Center
adalah sebuah toko peralatan antena/parabola di sudut jalan Genteng
Besar. Toko yang nampak kusam itu (secara tampilan bukan bandingan
bila disandingkan dengan service
center
Polytron
di jalan Nginden atau service
center
Akari
di
jalan Kalimantan) membuat saya ragu itu sebagai Service Centre,
tetapi saya curiga ia hanya dipinjam namanya untuk kalau ada orang
membawa set
top box PF
yang sedang 'sakit' ke situ (kalau masih dalam masa garansi) langsung
diganti baru saja. Lalu, bagaimana kalau batas masa garansi sudah
expired?
*****
Selasa, 30 September 2014
Mas Bendo Menggugat
“KACAU,
Kang, kacau...” dengan wajah lungset
Mas
Bendo datang.
“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.
“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.
“Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”
“Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.
“Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”
“Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”
“Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”
“Ya kita harus menggugat, Kang.”
“Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”
“Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****
“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.
“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.
“Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”
“Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.
“Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”
“Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”
“Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”
“Ya kita harus menggugat, Kang.”
“Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”
“Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****
Senin, 30 Juni 2014
Olala, Asyiknya Pasang Parabola
SEJAK
memiliki reciever DVB-T2 hampir dua tahun yang lalu, dan mendapati
kenyataan laju perkembangan siaran televisi digital terrestrial cuma
begitu-begitu saja, timbul keinginan dalam hati untuk membeli antena
parabola saja. Untuk hal itu, dibandingkan dengan memakai DVB-T2 yang
cuma tinggal mencolokkan kabel antena ke pantat reciever dengan tanpa
berganti antena UHF, rasanya seperangkat parabola lengkap secara
harga sedikit lebih tinggi. Sedikit? Ya, relatiflah. Bukankah satu
unit DVB-T2 ada yang berharga di atas empat ratus ribu, sementara
reciever DVB-S yang sudah HD di pasaran ada yang harganya tidak
sampai tigaratus ribu. Satu unit LNB-C Band kisarannya limpapuluh
ribu, antena parabola mesh/jaring tigaratus ribu. Tak perlulah Anda
menjumlahkan angka-angka yang saya tulis itu. Tetapi saat
berjalan-jalan ke pusat penjualan antena parabola di Pasar Genteng
Surabaya, rata-rata pedagang menawarkan seperangkat lengkap antena
parabola diluar biaya pemasangan pada kisaran tujuhratus ribu rupiah.
Mahal? Sekali lagi, relatif.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.
Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.
Artikel terkait: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Channel pada siaran televisi digital terrestrial ya cuma itu-itu saja. Yang umumnya adalah siaran yang juga telah dan masih bisa dinikmati pada saluran analog. Sementara, dengan antena parabola, orang tinggal mengarahkan ke satelit mana untuk menyaksikan siaran dengan jumlah channel FTA alias gratisan yang beratus-ratus.
![]() |
| Si Paramount 6 feet. |
Saya garisbawahi, atas dasar semua itu, saya menjadi ingin memilki antena parabola. Ya, tarafnya hanya ingin, bukan butuh. Karena hanya ingin, untuk memilikinya pun saya tidak terlalu ngoyo. Saya membeli satu per satu perangkat itu secara 'menabung' selama lebih setengah tahun! Mula-mula saya membeli sebuah kompas. Ya, dalam artikel tentang parabola yang pernah saya baca, ketepatan arah adalah kunci keberhasilan pemasangan antena parabola. Barang mungil itu, walau belum tahu pasti kapan digunakan untuk setting antena parabola, dalam sehari-hari telah saya gunakan. Ya, saya ini termasuk orang yang sangat payah dalam orientasi arah. Rasanya, hanya di desa kelahiran saya saja saya ini tidak bingung arah. Selebihnya, ambil misal, belasan tahun tinggal di Surabaya tetap saja saya tak tahu timur-barat. Dan kompas membantu saya mengatasi hal itu.
Dua atau tiga bulan dari waktu saya membeli kompas itu, saya menyisihkan uang untuk kelengkapan lainnya; reciever. Saya ambil yang kelas murmer, murah-meriah. Matrix Apple III PVR. Nah, kalau sudah begitu, untuk memiliki parabola secara lengkap tinggal dua langkah lagi; LNB dan dish.
Rabu, 25 Juni 2014
Korban Tepukan
SECARA
pasti saya sudah lupa. Namun karena itu saya alami sebelum menikah,
perkiraan saya, itu terjadi kalau tidak tahun 97 ya tahun 98. saat
itu di kanan-kiri sekitaran pertigaan Rungkut masih semrawut, masih
banyak sekali lapak pedagang kaki lima. Lebih-lebih malam Minggu.
Berjajar di situ, mulai pedagang sepatu, baju, batu akik, bakso,
gorengan dan masih banyak lagi yang lainnya..♫♪....♫
Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.
Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.
Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.
“Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.
Sekalipun tidak berniat beli apa-apa, sesekali saya cuci mata ke situ. Di salah satu pojok, tidak jauh dari jembatan kecil, berkerumun orang-orang mengitari, saya duga, tukang jamu. Ini mengingatkan saya saat sekolah dulu yang di jam istirahat (atau membolos) ke pasar demi melihat atraksi sebutir telur yang bisa jalan sendiri. Sesuatu yang sampai pasar tutup pun tak saya temui si telur benar-benar ngglundung sendiri. Itu, saya kira, hanyalah taktik tukang jamu dalam menarik perhatian orang.
Begitu pula dengan yang malam itu saya lihat. Maka saya hanya berdiri saja, tidak ikutan jongkok menyimak seperti beberapa pria itu. Namun, “Hei,” lelaki perpakaian hitam, dengan gelang akar di tangan dan beberapa biji akik di jarinya, menuding saya, “jangan berdiri, duduk.” katanya.
Saya menoleh kiri-kanan dan belakang, memastikan jangan-jangan kata-kata itu ditujukan bukan kepada saya.
“Iya, Sampeyan,” lelaki itu, yang rupanya pimpinan tukang jamu itu, memastikan keraguan saya.
Minggu, 01 Juni 2014
Jula-juli Suroboyo
PILPRES digelar sak diluk
engkas
dadi pemilih ayo sing cerdas
ojok golput ojok ora peduli
posisi presiden termasuk inti
negoro kito negoro gedhe
masalah sing onok ugo ora sepele
perkoro korupsi lan sak pinunggalane
butuh pemimpin sing tegas sikape
calon presiden wis ditetapno
siji Prabowo sing sijine Joko Widodo
ayok konco gunakno hak pilih riko
demi kemakmuran nuso lan bongso
sopo ae engkok sing dadi
ojok sampek nglalekne janji
ugo ojok salah ngangkat poro menteri
ojok sampek kliru ngingu tukang
korupsi
nang negoro kito opo sing ora
dikorupsi
mulai pengadaan kitab suci sampai
biaya haji
kelakukan koruptor pancen nggilani
pantese iku dihukum mati*****
Sabtu, 31 Mei 2014
Ayam Mainan
KADANG-KADANG
ulah penjaja mainan anak-anak bikin jengkel juga. Dengan
bunyi-bunyian, biasanya tit-tot,
tit-tot, ia datang
dimana anak anak-anak berkerumun di situ. Mainan yang dibawanya bisa
macam-macam; mobil-mobilan, boneka, senapan-senapanan, robot-robotan
dan sebagainya. Sementara, yang namanya anak-anak, sekali pun sudah
punya yang sejenis itu, masih juga ingin punya lagi. Dilarang beli,
tapi ia punya senjata andalan; menangis. Di situasi macam itu, si
penjaja mainan malah tak jua pergi. Petaka datang kala harga di-mark
up sedemikian rupa
karena si kecil belum juga diam dari menangisnya.
Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.
Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.
Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****
Dua Minggu yang lalu seorang pedagang lewat di depan rumah. Walau gang di depan rumah saya ini buntu, tetapi kala itu sedang ada banyak anak sebaya si kecil saya. Penjaja itu tak perlu membunyikan apa pun untuk menarik minat calon pembeli, karena dagangan yang ia bawa sudah bisa bersuara sendiri. Kali itu bukan burung, tetapi anakan ayam yang bulunya disumba warna-warni. Dan sebagaimana temannya yang lain, si bungsu saya ikutan merengek minta dibelikan.
Tak terlalu mahal, limaribu rupiah seekor. Tetapi masalahnya adalah, mainan itu punya nyawa. Ya, bukan harga makanan sumber problemnya. Namun tabiatnya yang suka buang hajat di sembarang tempat itu sungguh ter-la-lu, kata Bang Rhoma. Sementara kandang yang berupa bekas jebakan tikus itu sudah semakin sempit bagi tubuhnya yang beranjak besar, sehingga terus mengandangkannya sungguhlah termasuk melanggar hak asazi ayam.
Diapakan enaknya? Dibuang sayang, disembelih masih kekecilan.*****
Kambing Hitam Kampanye Hitam
“BEGINI,”
Kang Karib menunjukkan jari tengah dan telunjuk secara dempet ketika
Mas Bendo bertanya siapa yang menang dalam Pilpres nanti.
“Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.
“Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”
“Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”
“Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”
“Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”
“Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”
“Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”
“Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”
“Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”
“Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”
“Tidak begitu piye to, Kang?”
“Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”
“Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”
“Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”
“Sebahaya apa sih, Kang?”
“Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”
“Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”
“Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”
“Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”
“Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****
“Begitu piye to, Kang?” Mas Bendo ora mudheng, tidak mengerti.
“Artinya,” Kang Karib tetap mendempetkan dua jarinya, ”selisih suara, siapa pun yang menang nanti, Jokowi atau Prabowo, ya hanya seperti perbedaan tinggi jariku ini. Tipis sekali.”
“Wah, kalau begitu, apa tidak akan menimbulkan 'keributan', Kang? Paling tidak akan berbuntut tuntutan pemilihan ulang seperti saat Pilgub Jatim dulu?”
“Ya, karena terdiri dari dua pasang yang bertarung, pastilah pemenang langsung bisa ditentukan. Artinya pasti ada kan yang menang 50% plus satu. Artinya lagi, harus ada yang legawa mengakui kekalahannya.”
“Ya nggak segampang itu, Kang? Orang nyalon lurah tapi gak jadi saya habis banyak, je. Lha apalagi ini nyalon presiden, pastilah biaya untuk itu buanyak sekali. Apalagi Pak Prabowo sudah dua kali ini maju, ya sepertinya ngebet sekali ingin menang.”
“Jangan begitu, nDo” cegah Kang Karib. “Apa kamu pikir pak Jokowi itu juga gak ngebet?. Iya kan? Siapa pun yang maju, boleh saja punya ambisi, tetapi janganlah terlalu ambisius.”
“Makanya, agar menang, ada yang sampai memakai kampanye hitam ya, Kang.?”
“Iya, tetapi tentu kita tidak tahu siapa sebenarnya oknum yang menghembuskan black campaign itu. Iya, to?! Masing-masing tim sukses tidak ada yang mengaku melakukannya, dan masing-masing menyadari tidak ada gunanya berkampanye secara hitam begitu. Itu malah bisa merugikan.”
“Apa yang melakukan itu hanya simpatisannya, Kang?”
“Bisa jadi begitu,” sahut Kang Karib. “Bisa jadi juga tidak begitu.”
“Tidak begitu piye to, Kang?”
“Ya, bukan tidak mungkin kan isu yang beredar di kalangan bawah hadir by design. Ada 'orang pintar' yang sengaja membakar akar rumput.”
“Tapi bukankah masyarakat kita sudah makin cerdas dalam berdemokrasi, Kang? Buktinya, dalam Pileg kemarin. Malah para caleg yang kelihatan kurang cerdas, pakai ngasih-ngasih duit, eh, cuma diambil duitnya, pas coblosan, orang tetap milih sesuai kata hati sendiri.”
“Itu yang 'cerdas'. Tetapi ingat, nDo. Yang belum begitu cerdas kan juga ada. Sekalipun tak terlalu banyak, yang fanatik mutlak kan juga ada,” terang Kang Karib. “Nah, kelompok ini yang bahaya.”
“Sebahaya apa sih, Kang?”
“Ibarat kata, orang-orang di atas itu sedang menggosok kayu untuk membikin api seperti jaman purba dulu. Yang di atas kan cuma memutar-mutar telapak tangan, yang kebakar kan yang di bawah, yang akar rumput...”
“Dan si pembakar itu masuk dalam jajaran tim sukses di masing-masing pasangan calon, begitu?”
“Kalau tidak ketahuan ya begitu, tetapi kalau ketahuan pastilah ia dijadikan kambing hitam yang dituduh bermain solo, tanpa ada komando.”
“Kalau begitu, sepanas apapun suhu politik negara kita hari-hari ini, kepala kita harus tetap dingin ya, Kang?”
“Betul,” Kang karib mengiyakan. “menelan mentah-mentah semua kampanye hitam hanya akan membuat otak kita ikutan hitam, nDo...” *****
Minggu, 25 Mei 2014
U n d a n g a n
SEMASA
hidupnya, di kampung dulu, paman saya punya cara khas dalam
memperlakukan undangan yang telah diterimanya. Ia mencantolkan pada
paku undangan-undangan itu pada saka, kayu tiang utama rumah
tuanya. Karena tiang itu persis ada di antara ruang tamu dan ruang
tengah, orang akan dengan mudah mendapati lembar-lembar undangan itu.
Dari yang paling baru sampai yang telah lama. Untuk mencari tahu yang
lama juga bukan perkara sulit, bila warna kertasnya telah usang, ya
itulah ia. Iya, bahkan undangan yang telah lama dihadirinya pun masih
saja disimpan paman. Untuk apa? Untuk kebanggaan karena sebagai tanda
orang blater, banyak kenalan yang telah pernah mengundangnya?
Entahlah.
Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.
Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.
Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.
Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.
Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****
Perilaku itu barangkali sama dengan kebiasaan seorang teman yang menyimpan bekas bungkus rokoknya pada jendela kamar. Ditata sedemikian rupa sampai jendela itu tertutup olehnya.
Undangan untuk menghadiri hajatan, bulan-bulan ini, Rajab sampai Sya'ban nanti, datang silih berganti. Orang menganggap sekarang saat bagus untuk menggelar pernikahan atau khitanan. Yang berarti waktu bagus pula bagi bisnis persewaan alat-alat pesta, tukang sound system dan tentu saja pencetak undangan.
Sekarang makin jarang ditemui undangan dengan tulisan tangan yang dibeli orang di toko dengan kolom waktu/tanggal, nama mempelai dan hiburan dalam bentuk kosongan, sehingga calon shohibul hajjat harus mengutus orang dengan tulisan tangan yang bagus untuk mengisinya. Sekarang semua telah tercetak rapi, lengkap dengan foto pre wedding mempelai. Tentu saja harga menentukan rupa. Semakin mahal harga per helai undangan, semakin bagus pula tampilan dan bahannya.
Di kampung saya dulu, sekali pun telah diberi undangan, saat manggulan (satu hari menjelang hari H), shohibut hajjat masih pula mengirimi para calon tamunya itu dengan makanan lengkap dengan lauk dan kuenya, tradisi itu dinamakan tonjokan. Bukan hanya makanan, ada pula yang menyertakan sebungkus rokok dalam selembar undangan. Dengan itu semua, calon tamu akan merasa lebih sungkan tidak datang bila sudah ditonjok begitu. Ibarat kata, sudah menjadi fardu 'ain.
Begitulah; menghadiri undangan hajatan, tamu datang selalu tidak dengan tangan kosong. Walau dalam undangan selalu ditulis 'mengharap kehadiran untuk memberikan doa restu', para tamu sudah faham betul kalau kotak dengan hiasan renda berwarna keemasan yang diletakkan di dekat pintu masuk itu bukan wadah untuk mencemplungkan doa. *****
Sabtu, 10 Mei 2014
Kepekaan Set Top Box
![]() |
| Si C dan si D milik saya. Tetapi tentu saja penilaian seperti yang saya tulis di artikel di samping ini adalah subyektif semata. Jadi, pilihan tentu terserah Anda. |
Perkara
harga, di pasaran bisa didapati set top box mulai dari 300 ribu
kurang sekian sampai dengan 400 ribu lebih sekian.
Saya
mempunyai empat set top box mulai harga terendah sampai yang lumayan
tinggi. Agar tidak menyebut merek, saya namai set top box saya itu
mulai dari A, B, C dan D. Untuk yang A, karena barang itu baru
berkelas DVB-T, tentu sekarang ia menjadi pengangguran karena siaran
televisi digital yang ada sekarang ini semua telah memakai teknologi
DVB-T2. Untuk yang B, sekalipun sudah berkelas DVB-T2, tepat setahun
saya gunakan, tuner-nya sudah mati plethes. Ia, karenanya,
lalu saya jadikan satu dengan si A agar istirahat dengan tenang di
atas lemari. (Sekalipun begitu, sebenarnya si A dan si B sesekali
masih saya pakai untuk memutar film via USB/flashdisk yang saya rekam
memakai set top box).
Artikel terkait: tracking tv satelit itu relatif tak sulit.
Artikel terkait: tracking tv satelit itu relatif tak sulit.
Nah,
yang masih aktif saya pakai sekarang ini adalah si C dan D.
Si C
adalah merek yang populer di pasaran. Dibanding keluaran terbaru yang
sudah EWS dengan bentuk bodi yang makin mini, punya saya itu masih
keluaran pertama yang belum multi view. Bagaimana dengan
kekuatan tuner-nya?
Begini
ceritanya. Dengan memakai si C itu, siaran yang bisa diterima di
Surabaya ini adalah MUX 506MHz/Ch.25 (MetroTV dkk), lalu 522MHz/Ch.27
(TransTV, Trans|7 dan KompasTV), 586MHz/Ch.35 (TVRI_NAS_
TVRI_SURABAYA, TVRI_3 DAN TVRI HD). Itu saja yang bisa dinikmati
dengan sempurna. Sementara MUX 490MHz/Ch.23 (tvOne dan antv) sudah
dua minggu ini menghilang dari udara. Sedangkan untuk MUX
538MHz/Ch.29 (SCTV NETWORK, INDOSIAR NETWORK, O CHANNEL NETWORK, Live
Feed $ dan Elshinta Radio $, sekaipun ada sinyal, tetapi gambar di
layar seperi kaset CD rusak). Lain lagi dengan MUX 634MHz/Ch.41
(RCTI, MNCTV, GlobalTV) sekalipun sinyal ke-detect, tetapi tidak bisa
di-lock.
Tadinya
saya duga MUX SCTV dkk dan MUX RCTI dkk itu secara power belum
memakai secara penuh, sehingga belum bisa ditangkap dengan sempurna.
Tetapi, “Tidak, Mas. Di daerah saya sinyalnya bagus itu. Saya pakai
set top box merek D,” komentar teman saya lewat ponsel.
Dan
benarlah adanya yang dibilang seorang teman itu. Setelah saya mencoba
memakai set top box merek D, dengan antena yang sama + pesawat
televisi yang juga sama, kedua sinyal dari MUX yang oleh set top box
merek C tidak bisa diterima dengan sempurnya, bisa ditampilkan dengan
bagus sekali. Padahal, secara harga, si D ini selisihnya lebih murah
25 ribu dibanding si merek C.
Yang
ingin saya katakan adalah, kepekaan tak selalu berbanding lurus
dengan kemahalan harga sebuah set top box. Bagaimana menurut pengalaman Anda?
*****
Baca juga:
- Pilih Beli DVB-T2 atau DVB-S2?
- Tips Membeli Set Top Box
- Selamat Tinggal TV Digital Terrestrial
Langganan:
Postingan (Atom)




