Minggu, 30 November 2014

Slamet dan Saimin

KALAU engkau masih ingat, aku telah pernah menceritakan kepadamu tentang Slamet. Penghuni pasar di kampung kami, yang pada saat-saat tertentu ia akan melabur seluruh tubuhnya dengan parutan ketela pohon, sehingga setelah pati parutan ketela itu mengering, ia laksana Hanoman; putih seluruh kulit tubuhnya yang hanya pada bagian alat kelaminnya saja yang dibungkus cawat yang ia bikin dari sobekan kain sarung.

Slamet, menurut para orang tua, dulunya adalah santri sebuah pondok disini. Ia berasal dari Blitar. Tapi ya itu, masih menurut sumber yang tentu tak bisa dikonfirmasi kesahihannya, dari awal datang mondok ia memang 'kurang seratus'. Menurut orang-orang ia memang kurang 'penuh'. Dan ia kemudian keluar dari pondok lalu menjadi penghuni pasar karena, ketika putri sang kiai yang cantik jelita, yang diam-diam ia jatuh cintai setengah mati, dinikahkan dengan seorang lelaki anak kiai Bangsalsari.

Bukan, itu bukan cinta bertepuk sebelah tangan, karena Slamet memang tidak pernah sekalipun mengungkapkan isi hatinya kepada siapapun. Ia pendam semua di dadanya. Bahkan, ketika ia bertahun-tahun menjadi penghuni pasar dan siang malam dengan lirih sering ia bergumam (gumaman yang lamat-lamat diucap bagai sebuah bacaan mantera); kasini, kasiro, kasini, kasiro..... Ada sih orang yang kasihan dan ingin mengembalikan Slamet ke orang tuanya. Tetapi setiap siapapun yang menanyai tentang siapa nama ibu-bapaknya, dimana alamat rumahnya, Slamet malah beranjak menghindar.

Suatu ketika, kala Pak Otor (pedagang songkok terkaya di pasar kampung kami) berhasil membujuknya masuk ke mobilnya, ia lajukan mobil itu dengan semua pintu terkunci rapat, dengan satu niat mendekatkan Slamet ke daerah asalnya. Karena tak tahu pasti dimana rumahnya, ia turunkan saja Slamet di dekat alun-alun Blitar.

Tetapi, sialnya, saat mobil pak Otor kembali, si Samet telah pula tidur mendengkur beralas kardus di 'bangu' pasar. Sejak itu ada yang orang yang menganggap Slamet itu bukan orang lumrah, jangan-jangan ia malaikat yang sedang menyamar.....

Kini Slamet telah tidak menjadi penghuni pasar kampung kami. Ia telah pergi, dengan kepergian yang tak satupun orang tahu kemana ia. Saat itu aku masih kelas enam; ketika suatu sore dengan mendung pekat menggantung yang membuat sore itu laksana malam buta, petir menyalak memekakkan telinga disusul hujan deras semalaman. Paginya, saat Pahing, hari pasaran di kampung kami, Slamet tak ada pada tempat biasa ia tidur. “Ia pulang naik petir,” kata orang-orang.

Seperginya Slamet, muncullah Saimin, penghuni pasar yang baru. Bedanya, kalau Slamet tak suka pakai baju, si Saimin selalu berjubah putih kumal. Dengan sorban yang dikenakan sekenanya di kepala dan tongkat di tangan, kemanapun ia tak pernah memakai alas kaki. Kesamaanya dengan Slamet, ia selalu hapal di rumah siapapun yang sedang mengadakan selamatan kematian. Mulai tiga hari, tujuh hari, empat puluh, seratus, pendhak pisan, pendhak pindho, sampai seribu harinya ia datang tak pernah meleset.

Ketika satu dua kali aku diajak ibu ke pasar, kulirik dengan takut-takut sosok tinggi besar itu. Rambutnya sebahu, jari-jari kakinya besar-besar, matanya salah satunya (yang sebelah kanan) kebalikan dari mata orang-orang pada umumnya; yang putih justru di tengahnya. Karena kami mengetahui ia mandi hanya empat puluh hari sekali, jangan tanya aroma tubuhnya. Kalau engkau pernah mencium bau getah pohon bayur, nah seperti itulah bau tubuh Saimin. Tak berjanggut membuat aku tahu ada jakun di lehernya. Bukan satu, tetapi tiga!

Tidak seperti Slamet dulu yang saban hari tidur di pasar, Saimin kadang-kadang malam-malam datang ke rumah penduduk dan tanpa permisi langsung tidur pada lincak bambu di teras. Dan itu yang kemudian ditakutkan orang-orang. Karena, paling lama tiga hari sejak Saimin tidur di teras, satu anggota keluarga itu akan meninggal dengan tanpa didahului sakit apapun. Karenanya, Saimin lalu menjadi momok di kampung kami. Ada yang sampai menganggapnya sebagai mata-mata malaikat pencabut nyawa.

Kami berharap pak Otor, berhasil membujuknya masuk ke mobilnya dan membawanya pergi jauh entah kemana dan itu membuat si Saimin tak kembali ke kampung kami. Tetapi rupanya pak Otor telah kehabisan nyali karena diam-diam menganggap si Saimin lebih tinggi ilmunya dibanding Slamet.

Seperti halnya orang-orang di kampungku, aku pun takut Saimin tiba-tiba malam-malam datang dan bermalam di teras depan. Jujur, setelah sejak bayi ditinggal mati Ayah, aku takut ibu menyusulnya ke alam baka. Sungguh, kapanpun aku selalu butuh ibu dan Tuhan melebihi butuhku akan hal lainnya. Walau begitu, tak semua yang ada di kepalaku kukatakan kepada Ibu. Kalau kepada Tuhan, oh bukankah Ia selalu tahu bahkan yang baru terbersit di hatiku.

Ya, hampir tiga tahun Saimin menjadi penghuni pasar, dan kadang menjelma menjadi tanda datangnya kematian, aku merencanakan sesuatu yang aku yakin tak seorangpun berani bila kuajak melakukannya bersama; membunuh Saimin!

Aku sudah kelas tiga SMP kala itu dan kulihat otot tanganku sudah lumayan kuat untuk mengayunkan sebatang kayu dan membuat remuk tengkorak Saimin dalam sekali pukulan saat ia tidur.. Berhari-hari kupikir bagian mana yang sekali pukul langsung membuatnya pergi, dan itulah jawabannya.

Kupanjat pohon asam dan kupotong satu dahan seukuran betis. Panjang satu meter, lalu kubentuk kayu itu seperti kayu pemukul pada permainan kasti.

Hari itu Minggu Legi dan besoknya Pahing, waktunya hari pasaran. Nah, malamnya dengan persiapan diam-diam akan kulaksanakan niatku. Aku akan menuju pasar pada tengah malam, pada saat kuduga Saimin sedang terlelap. Tetapi seperti pernah pula engkau alami, sebetapa pun matangnya engkau merencanakan sesuatu hal, Tuhan bisa dengan seenaknya menggagalkan rencanamu. Kegagalanku malam itu adalah; jam sebelas malam ada kucium bau lengur getah bayur menyeruak lewat celah jendela ruang depan dan saat kuintip; Saimin sedang menggelar sarung sebagai alas tidur di dipan bambu di teras rumahku.

Aku langsung masuk ke kamar Ibu. Memegang keningnya yang tadi hangat, oh rupanya sudah tak panas lagi setelah sore tadi kuantar suntik ke rumah Pak Mantri. Dan Pak Mantri bilang ibuku hanya pusing biasa, cuma kecapekan. “Istirahat cukup dan minum obat, akan segera baikan,” kata Pak Mantri.

Oh, bukankah dengan Saimin tidur di teras depan aku menjadi tak perlu mendatanginya ke pasar untuk memukul kepalanya. Tidak begitu, kawan. Aku merencanakan memukulnya di pasar agar tak ada yang menyaksikannya. Lain halnya kalau kuhabisi ia di depan rumahku, polisi akan langsung menggelandangku ke penjara.

Seperti halnya orang yang barangkali mengetahui malam ini Saimin menginap di teras depan rumahku dan mengkhawatirkan aku atau Ibu yang tak lama lagi dijemput ajal, tentu kekhawatiranku melebihi kekhawatiran siapapun. Makanya, aku yang biasa tidur di kamar terpisah dengan Ibu, malam itu aku tidur menemani Ibu tanpa memberitahunya kalau ada Saimin tidur di teras. Ya, jangan-jangan ini malam terakhirku bersama Ibu. Dan kalau engkau memang sayang kepada Ibunya, tiada tidur yang nyaman selain bersama Ibumu. Begitupun aku, disaat aku berusaha sekuat tenaga untuk malam ini tak sekalipun memejamkan mata, saat lamat-lamat dari surau terdengar tarkhim pertama, setelahnya aku tak ingat apa-apa. Lelap dalam dekapan ibu laksana balita.

Ketika terjaga, subuh telah hampir pergi. Bergegas kuambil wudlu dan sholat secepat kilat. Tanpa wirid berlama-lama, lalu kucari Ibu. Ke dapur, dimana selalu kutemui ia sedang menanak nasi, tidak ada. Ke sumur di belakang rumah, tidak ada. Teras? Oh, apakah si Saimin masih terlelap disana?

Yang kutemui di teras adalah Ibu yang sedang dengan takut-takut mendekati Saimin yang tidur terlentang di pagi yang masih remang. Pertama dilihatnya kakinya yang berjari-jari besar, perutnya yang tidak naik-turun layaknya orang bernapas, lalu ibu meletakkan telapak tangannya di atas hidung Saimin; Ibu menoleh ke arahku lalu menggelengkan kepalanya, “Ia telah mati...” lirih ibu berkata.

Aku tercekat; malam tadi aku berencana membunuh Saimin dengan tanganku sendiri dan kini ia malah mati di teras rumahku. Oh. Leherku terasa kering, kering sekali. Aku ingin mengucap innalillahi tetapi tidak bisa. Saat kuurut leherku, agar bisa bicara, malah kudapati biji jakunku bertambah menjadi tiga....  *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar