LELAKI asal Gunung
Kidul itu sering mangkal di mulut gang, di depan toko sayur yang tak
pernah sepi pembeli, tak jauh dari rumah saya. Walau belum tahu nama
antar saya dan dia, kami terbilang akrab sekali. Dan bukankah sering
kita akrab dengan penjual nasi goreng dengan menyebutnya sebagai Pak
Reng, atau Abah Sate untuk penjual sate langganan kita, tanpa hirau
nama sejati dari masing-masing.
Dengan Pak Puk itu, saya
sering sekadar say hello atau kalau ada waktu agak longgar,
kami ngobrol naglor-ngidul tanpa judul.
Yang sering dia tanyakan,
setiap saya lewat dari mengantar si kecil, “Apa menu sarapan pagi
ini?”.
“Nasi rames”, itu
selalu jawaban saya. “Ra mesti...” begitu saya menjelaskan
artinya.
Dan lalu kami tertawa
bersama. Betul, banyolan akan kehilangan kelucuannya bila terlalu
sering dimainkan. Ia akan terasa garing. Untuk menyegarkannya,
seperti tadi pagi itu, saya ambil duduk di sisinya. Masih jam enam
lebih delapan, artinya masih ada waktu bagi saya untuk ngobrol dengan
Pak Puk, sebelum nanti; jam tujuh lebih sedikit, saya mesti berangkat
kerja.
Seperti biasa, kami
bicara aneka topik. Misalnya; orang Jawa yang malah sering mengajari
anak-anaknya tidak memakai bahasa Jawa, tetapi menggunakan bahasa
oplosan macam: 'ndang cepetan tiduro sana, bangunnya besok ben gak kesiangan' atau sejenisnya.
Ini, kami sepakat, akan melunturkan kemampuan bahasa Jawa bagi
anak-anak Jawa. Sehingga tidaklah heran bila pelajaran Bahasa Jawa adalah
termasuk mata pelajaran tersulit bagi semua murid yang nota bene ortunya adalah orang Jawa. Jangankan dalam
ber-krama inggil, lhawong ngoko saja anak-anak
sekarang gak lancar kok. Apa tumon, kok orang Jawa
kesulitan mengerti pelajaran bahasa nenek moyangnya sendiri. Siapa,
coba, oknum yang mesti disalahkan selain kedua orang tuanya?
“Tetapi,” sela saya,
“bukankah sekarang ini yang penting pede. Yang kemudian ukuran
pantas-tidak dan semacamnya itu menjadi semakin menyempit
parameternya. Yakni hanya menurut dirinya sendiri?”
Obrolan terhenti, ada dua
ibu yang selesai berbelanja sayur datang membeli kerupuk pada Pak
Puk.
“Saya jadi ingat petuah
yang sering diwejangkan oleh bapaknya para punakawan; Semar”, saya
melanjutkan jagongan. “Yaitu; aja dumeh. Dalam terjemah
bebas mungkin bisa diartikan jangan mentang-mentang”.
Dan sepertinya Pak Puk
sepakat dengan saya bahwa aja dumeh itu bukan melulu tertuju
untuk yang jaya, yang kaya, yang unggul. Tidak, tetapi cocok pula
untuk yang jelata dan miskin papa.
Aja dumeh miskin
lalu 'menjual kemiskinan' itu agar dikasihani.
“Sampeyan pernah
nonton acara Mikropon Pelunas Utang?” tanya Pak Puk. “Lha kok
kemiskinan diumbar sedemikian rupa sebagai barang tontonan. Orang
susah ditayangkan langsung di layar televisi nasional sambil
mengumbar cerita sedih demi agar terbayar lunas utangnya.”
Jujur, saya tidak pernah
tertarik menonton acara itu yang mungkin tak lebih dari sekadar
eksploitasi kemiskanan. Utang si 'bintang tamu' yang dibayar hanya
sekuku hitam bila dibandingkan dengan hasil pendapatan dari iklan.
Dalam banyak hal,
sepertinya televisi memang sulit ditandingi. Ia bisa (tega)
menjadikan apa saja sebagai dagangan untuk mendulang rating dan
rupiah. *****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar