Rabu, 04 Februari 2015
Rabu, 14 Januari 2015
Siaran Televisi Digital di Jember
MINGGU
kemarin saya ada acara ke Jember. Waktu yang tak lama itu saya
manfaatkan juga untuk menjajal lagi (karena dulu saya juga telah
pernah melakukannya) set
top box,
demi mencari tahu sudah seberapa perkembangan siaran televisi digital
terrestrial di Jember. Dulu, seingat saya, MetroTV telah bersiaran
secara digital di Jember. Sendiri saja, tanpa kawan. Sekarang, apakah
ia sudah ada teman MUX lainnya?
Kemarin
itu, mula-mula saya duga frekuensi 610 Mhz (Ch. 38) milik Metro masih
ada. Ternyata; malah yang tertangkap ketika saya scan
adalah MUX milik MNC pada channel 42 (642 Mhz) dan channel 45 (666
Mhz) yang dihuni MUX TransCorp, sementara MetroTV sama sekali tidak
ke-detect.
Seperti
biasa, MUX grup MNC berisi RCTI,
MNCTV
dan GlobalTV,
sedangkan TransCorp
yang biasanya (di kota lain) selain ditempati TransTV,
Trans|7
dan KompasTV,
di Jember ini KompasTV
tidak ikut serta. Bisa jadi, saya duga, KompasTV
memang belum memiliki ijin siaran di Jember.
Satu
lagi, bila di Surabaya (yang saya tahu) channel digital semua ada di
angka ganjil, untuk Jember kok
kombinasi ganjil-genap ya?! (MetroTV channel 38, MNC channel 42 dan
MUX TransCorp channel 45.)
Jarak
dari tempat saya melakukan scan
sekitar 30 km dari pemancar (bila pemancar digital itu dari daerah
Bangsalsari). Dengan jarak segitu, saya rasakan, sinyal tertangkap
dengan stabil. Entah kalau melakukan scan
dari daerah yang jaraknya lebih jauh dari itu. Juga, ada yang
bertanya lewat email saya; dengan jarak antara rumah dan pemancar 100km
apakah sinyal digital masih bisa diterima?
Jujur,
secara teknis saya tidak tahu. Tetapi, asumsi saya, penerimaan sinyal
sejalan dengan kekuatan daya yang dipakai oleh sebuah pemancar plus
pancaran itu tidak membentur penghalang. Betulkah begitu? Silakan,
sebagai expert,
Anda menambahkan informasi bila berkenan. Saya tunggu selalu.
Catatan:
'altem' (alat tempur) yang saya pakai scan
di Jember tempo hari adalah: Antena: Titis TS-1000 dengan ketinggian
tiang 7 meter, Kabel: Belden RG-6, set
top box:
PF-209. *****
Kamis, 08 Januari 2015
Jangan Remehkan Langkah Kecil
Senin, 05 Januari 2015
Bursa Buku Lungsuran di Pasar Blauran
rek ayo, rek
mlaku-mlaku nang mBlauran
rek ayo rek
ayo tuku buku lungsuran....
SELAIN di kawasan Kampung Ilmu yang terletak di jalan Semarang, di Surabaya ini juga terdapat tempat lain yang menyediakan buku bekas atau lungsuran. Tempatnya di Pasar Blauran, namanya Bursa Buku Bekas.
Untuk menuju ke tempat ini sangatlah tidak sulit. Terletak di segi empat emas Praban-Bubutan-Kranggan-Blauran, ia secara gampang dijangkau angkutan kota. Kalau Anda dari arah terminal Bungurasih, Anda bisa naik bis kota jurusan Tanjung Perak yang via Tunjungan Plaza/Embong Malang dan Anda bisa turun persis di kawasan Blauran.
Betul, di sepanjang Blauran memang banyak sekali berjejer toko-toko emas. Berjalanlah terus ke arah stopan/lampu merah. Beloklah ke kiri; disitu ada gerbang depan Pasar Blauran. Letaknya persis berhadapan dengan pusat perbelajaan BG Junction.
Begitu masuk langsung disambut berderet pedagang jajanan tradisonal. Ada lemper dan aneka kue basah lainnya. Begitulah memang, selain di Pasar Kembang, disinilah dengan gampang kita mendapatkan aneka kue tradisonal.
Baiklah, Anda ingin menuju ke Bursa Buku Bekas, gampang, saya tunjukkan arahnya. Lewatilah saja para pedagang kue-kue itu. Nanti, setelah Anda mendapatkan buku-buku yang Anda cari, bolehlah melepas penat sambil menikmati aneka kuliner di situ. Berjalanlah lurus, lalu belok kiri sedikit. Nah, disitulah lapak-lapak penjual buku bekas berada.
Anda mau mencari buku apa? Buku pelajaran SD? Ada. SMP dan SMA? Juga ada. Buku anak kuliahan, pengetahuan umum, tema agama, novel dewasa, teenleet sampai majalah sastra Horison? Dijamin ada. Dan lazimnya sebuah pasar, bandrol harga secara pasti tidak ada. Yang terjadi adalah hukum tawar-menawar; semakin Anda pintar menawar, semakin murahlah harga buku yang Anda dapatkan. Dan bersiaplah untuk membayar sedikit mahal bila Anda kurang piawai menawar.
Sekalipun bernama Bursa Buku Bekas, bukan berarti tidak tersedia buku-buku baru. Namun, kalau boleh saya menyarankan, untuk membeli buku baru, belilah saja di toko-toko buku. Kenapa? Saya duga, yang dinamakan buku baru disini adalah buku-buku bajakan. Dan bukankah kalau kita membeli buku bajakan itu sama saja dengan kita tidak menghargai jerih payah para penulis dan penerbit resmi. Buku bajakan itu, yang isinya jan mak-plek sama dengan buku asli itu, sama sekali tidak mengalirkan royalty kepada sang penulis. Padahal, para penulis itu (lewat buku-bukunya) juga butuh profit (rupiah) disamping benefit (faedah).
"Liburan kemarin lumayan ramai, Mas?" saya bertanya kepada Mus (35) salah seorang pedagang buku yang baru saya kenal.
"Sepi, Mas," jawab ayah dua anak asal Talun, Blitar, yang beristrikan perempuan asal Tanggul, Jember ini.
Perkiraan saya, karena anak-anak sekolah pada libur dua minggu kemarin, mereka pada mencari buku untuk menemani libur mereka. Ternyata, "Mereka kan pada tamasya, Mas, jadinya penjualan sepi sekali. Malah pernah sehari kita cuma dapat tujuhpuluh ribu." papar Mus yang saban hari bertiga dengan Ari (25) asal Wonogiri dan Eko (26) asal Solo.
Mendapati omzet penjualan yang cuma segitu, aku Mus, sering kurang enak sama majikan. Ya, mereka bertiga memang hanya sebagai penunggu, dagangan itu milik majikan orang Sidoarjo yang juga memiliki stan di Kampung Ilmu jalan Semarang. Masa ramai penjualan buku, papar Mus, adalah saat akan masuk tahun ajaran baru. "Dalam sehari kita bisa mendapatkan tujuhratus ribu atau lebih," imbuh Mus yang sudah sepuluh tahun menjadi penunggu stan dan mengaku dibayar limapuluh ribu rupiah sehari.
Saya mengedarkan padang dan berjalan mengelilingi stan satu dan lainnya. Betul kata Mus, lumayan sepi memang. Ada sih satu-dua (saya kira mahasiswa) yang mencari buku yang diperlukan. Atau seorang ibu yang datang ke stan Mus saat saya kembali asyik jagongan, "Saya cari buku terjemahan kitab Riyadush Sholihin," kata perempuan berjilbab berusia sekitar 45-an. "Untuk nambah pengetahuan," katanya ketika saya tanya.
Eko, teman Mus dengan ramah bilang, "Oh, ada. Tunggu sebentar," lalu priyantun Solo itu bergegas menuju ke stan lain untuk mencarikan buku yang dimaksud si Ibu. Begitulah, sudah lazim terjadi pedagang menjualkan dagangan pedagang-pedagang lain. Dengan begitu, jarang mereka bilang 'tidak punya' kala ada orang mencari buku tertentu.
Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Di Bursa Buku Bekas Blauran ini pun begitu; tawar menawar harga pas masuk tas.
Oke, beli buku sudah. Sekarang saatnya menikmati aneka kuliner di situ. Saran saya, cobalah rujak cingur. Atau soto, atau rawon atau lontong balap. Minumnya? Ada dawet dan aneka minuman lainnya. Terserah selera, pokoknya. Tetapi jangan lupa, karena saya telah menjadi guide Anda dalam jalan-jalan ke Blauran kali ini, untuk yang saya makan ini (sepiring rujak cingur dan semangkok es campur), saya minta Anda yang bayar. Bagaimana, deal?...*****
mlaku-mlaku nang mBlauran
rek ayo rek
ayo tuku buku lungsuran....
SELAIN di kawasan Kampung Ilmu yang terletak di jalan Semarang, di Surabaya ini juga terdapat tempat lain yang menyediakan buku bekas atau lungsuran. Tempatnya di Pasar Blauran, namanya Bursa Buku Bekas.
Untuk menuju ke tempat ini sangatlah tidak sulit. Terletak di segi empat emas Praban-Bubutan-Kranggan-Blauran, ia secara gampang dijangkau angkutan kota. Kalau Anda dari arah terminal Bungurasih, Anda bisa naik bis kota jurusan Tanjung Perak yang via Tunjungan Plaza/Embong Malang dan Anda bisa turun persis di kawasan Blauran.
Betul, di sepanjang Blauran memang banyak sekali berjejer toko-toko emas. Berjalanlah terus ke arah stopan/lampu merah. Beloklah ke kiri; disitu ada gerbang depan Pasar Blauran. Letaknya persis berhadapan dengan pusat perbelajaan BG Junction.
Begitu masuk langsung disambut berderet pedagang jajanan tradisonal. Ada lemper dan aneka kue basah lainnya. Begitulah memang, selain di Pasar Kembang, disinilah dengan gampang kita mendapatkan aneka kue tradisonal.
Baiklah, Anda ingin menuju ke Bursa Buku Bekas, gampang, saya tunjukkan arahnya. Lewatilah saja para pedagang kue-kue itu. Nanti, setelah Anda mendapatkan buku-buku yang Anda cari, bolehlah melepas penat sambil menikmati aneka kuliner di situ. Berjalanlah lurus, lalu belok kiri sedikit. Nah, disitulah lapak-lapak penjual buku bekas berada.
Anda mau mencari buku apa? Buku pelajaran SD? Ada. SMP dan SMA? Juga ada. Buku anak kuliahan, pengetahuan umum, tema agama, novel dewasa, teenleet sampai majalah sastra Horison? Dijamin ada. Dan lazimnya sebuah pasar, bandrol harga secara pasti tidak ada. Yang terjadi adalah hukum tawar-menawar; semakin Anda pintar menawar, semakin murahlah harga buku yang Anda dapatkan. Dan bersiaplah untuk membayar sedikit mahal bila Anda kurang piawai menawar.
Sekalipun bernama Bursa Buku Bekas, bukan berarti tidak tersedia buku-buku baru. Namun, kalau boleh saya menyarankan, untuk membeli buku baru, belilah saja di toko-toko buku. Kenapa? Saya duga, yang dinamakan buku baru disini adalah buku-buku bajakan. Dan bukankah kalau kita membeli buku bajakan itu sama saja dengan kita tidak menghargai jerih payah para penulis dan penerbit resmi. Buku bajakan itu, yang isinya jan mak-plek sama dengan buku asli itu, sama sekali tidak mengalirkan royalty kepada sang penulis. Padahal, para penulis itu (lewat buku-bukunya) juga butuh profit (rupiah) disamping benefit (faedah).
"Liburan kemarin lumayan ramai, Mas?" saya bertanya kepada Mus (35) salah seorang pedagang buku yang baru saya kenal.
"Sepi, Mas," jawab ayah dua anak asal Talun, Blitar, yang beristrikan perempuan asal Tanggul, Jember ini.
Perkiraan saya, karena anak-anak sekolah pada libur dua minggu kemarin, mereka pada mencari buku untuk menemani libur mereka. Ternyata, "Mereka kan pada tamasya, Mas, jadinya penjualan sepi sekali. Malah pernah sehari kita cuma dapat tujuhpuluh ribu." papar Mus yang saban hari bertiga dengan Ari (25) asal Wonogiri dan Eko (26) asal Solo.
Mendapati omzet penjualan yang cuma segitu, aku Mus, sering kurang enak sama majikan. Ya, mereka bertiga memang hanya sebagai penunggu, dagangan itu milik majikan orang Sidoarjo yang juga memiliki stan di Kampung Ilmu jalan Semarang. Masa ramai penjualan buku, papar Mus, adalah saat akan masuk tahun ajaran baru. "Dalam sehari kita bisa mendapatkan tujuhratus ribu atau lebih," imbuh Mus yang sudah sepuluh tahun menjadi penunggu stan dan mengaku dibayar limapuluh ribu rupiah sehari.
Saya mengedarkan padang dan berjalan mengelilingi stan satu dan lainnya. Betul kata Mus, lumayan sepi memang. Ada sih satu-dua (saya kira mahasiswa) yang mencari buku yang diperlukan. Atau seorang ibu yang datang ke stan Mus saat saya kembali asyik jagongan, "Saya cari buku terjemahan kitab Riyadush Sholihin," kata perempuan berjilbab berusia sekitar 45-an. "Untuk nambah pengetahuan," katanya ketika saya tanya.
Eko, teman Mus dengan ramah bilang, "Oh, ada. Tunggu sebentar," lalu priyantun Solo itu bergegas menuju ke stan lain untuk mencarikan buku yang dimaksud si Ibu. Begitulah, sudah lazim terjadi pedagang menjualkan dagangan pedagang-pedagang lain. Dengan begitu, jarang mereka bilang 'tidak punya' kala ada orang mencari buku tertentu.
Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Di Bursa Buku Bekas Blauran ini pun begitu; tawar menawar harga pas masuk tas.
Oke, beli buku sudah. Sekarang saatnya menikmati aneka kuliner di situ. Saran saya, cobalah rujak cingur. Atau soto, atau rawon atau lontong balap. Minumnya? Ada dawet dan aneka minuman lainnya. Terserah selera, pokoknya. Tetapi jangan lupa, karena saya telah menjadi guide Anda dalam jalan-jalan ke Blauran kali ini, untuk yang saya makan ini (sepiring rujak cingur dan semangkok es campur), saya minta Anda yang bayar. Bagaimana, deal?...*****
Kamis, 25 Desember 2014
Toleransi Hati
SETIAP
Idul Fitri saya banyak sekali menerima ucapan Selamat Hari Raya
dari teman. Dan di era gadget sekarang ini, mengirim ucapan selamat
macam itu sama sekali tak ribet dan relatif tak mahal. Asal mau saja.
Padahal dulu, saat jaman kartu ucapan, duh betapa makan waktu dan
biaya; memilih jenis dan warna kartu yang pas, misalnya warna apa
untuk siapa. Belum lagi menuliskan kata-kata di lembaran itu.
Menempeli prangko kemudian membawanya ke kotak pos. (Belum lagi kalau
kita merasa tulisan tangan kita jelek dan untuk itu kita memakai jasa
orang lain untuk menuliskannya. Dengan imbalan, tentu saja.) Kartu ucapan
itu memakan sekian waktu untuk sampai ke orang yang dituju.
Sekarang,
detik ini dikirim, detik ini pula sampai. Nyaris sama sekali tak ada
jeda.
Kembali
ke ucapan Selamat Idul Fitri yang saya terima; ia datang tak sekadar
dari teman sesama muslim, tetapi tak sedikit pula dari yang
non-muslim. Kartu ucapan lewat SMS itu memang sekadar ucapan, tetapi
secara makna tentu ia lebih dari itu. Ungkapan 'minal aidin wal
faizin' sampai yang hanya 'skor kita sekarang 0-0, ya?'
adalah bentuk pendek dan sederhana dari ungkapan hati yang
sesungguhnya. Dan urusan hati, Anda tahu, hanya si punya hati itu dan
Tuhan saja yang tahu. Tapi penjelasannya tentu bisa panjang.
Misalnya, orang yang hatinya sungguh baik, tidak akan mungkin
melakukan hal yang tidak baik.
Pendek
kata, walau tak selalu, perkara toleransi (beragama) lebih kepada
urusan hati, bukan sekadar casing semata. Setiap akhir
Desember, ramai bertebaran 'fatwa' haram bagi muslim mengucapkan
selamat Natal kepada teman-teman Nasrani. Benar, urusan akidah adalah
hal yang sangat prinsip. Bahwa kemudian ada pihak/tokoh muslim yang
dengan ringan bilang mengucapkan selamat Natal itu tidak apa-apa,
inilah yang malah bikin saya --yang dangkal ilmu
agamanya ini-- menjadi bertanya dalam hati; ikut pendapat yang mana?
Dalam
berhubungan, kita memang tak melulu secara vertikal antara makhluk
dan Sang Khalik. Yang secara horizontal, dengan teman dan relasi
dari berbagai agama, adalah sebuah hubungan yang niscaya. Dan dalam
hubungan sosial itu diperlukan komunikasi yang semestinya; yang
saling menghargai, saling mengerti.
Antara
saya dan Tuhan tak perlulah ditawar apa yang mesti saya lakukan
sebagai makhluk dan Pencipta, tetapi kepada sesama itu, yang selama
ini berhubungan sangat baik walau beda agama itu, kadang yang bikin
hati ini tidak nyaman. Tidak mengucapkan Selamat Natal tidak enak,
mengucapkan Selamat Natal tidak boleh. Hmm...
Tetapi,
sekali lagi, urusan toleransi itu perkara hati. Tentang 'larangan'
yang harus saya patuhi itu sepertinya semua teman saya yang Kristiani sudah mengerti. Dan mengerti adalah inti dari toleransi. Maka,
ketika antar hati sudah saling mengerti, adakah ucapan yang perlu
mewakili? *****
Jumat, 19 Desember 2014
Green Building Awareness Award 2014
DATA
yang ada menunjukkan, gedung (hotel, apartement, mall dan
perkantoran) menyumbang emisi CO2 sebesar 27 persen. Dan angka ini
diprediksi akan mencapai 40 persen pada tahun 2030 mendatang. Untuk
menghambat lajunya, diperlukan kepedulian banyak pihak untuk makin
bergaya hidup hijau.
Menghargai
upaya para pengelola gedung di Surabaya, Pemerintah Kota menggelar
acara Green Building Awareness Award yang puncaknya
diselenggarakan di Gedung Pabbeko lantai 3 kemarin siang (Kamis, 18 Desember 2014). Berikut catatan saya yang hadir di acara tersebut.
Banyak
sudah penghargaan yang diterima kota Surabaya dalam bidang
lingkungan. Baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional.
Tetapi, “Untuk menjadikan Surabaya sebagai Green City, Pemkot
tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kepedulian banyak pihak
dalam mewujudkannya,” urai Sekota Surabaya, Ir Hendro Gunawan MA,
dalam sambutannya di hadapan perwakilan pengelola gedung di Surabaya. Turut hadir dalam acara itu, selain para penerima penghargaan, juga pula para tokoh yang sangat concern terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Diantaranya adalah pakar tata kota dari ITS Prof. Johan Silas, serta arsitek yang dalam setiap rancangannya selalu berkonsep green building, Ir Jimy Prijatman M-Arch.
Dalam
ajang Green Building Awareness Award 2014, pertama-tama ada
138 gedung di kota Pahlawan ini yang dinilai. Dari jumlah tersebut,
lalu dikerucutkan lagi menjadi 59, dan diperas lagi hanya tersisa 27.
Nah, dari 27 itu disisakan 12 yang berhak mendapat penghargaan.
Ada enam
kriteria utama yang harus dipenuhi agar suatu bangunan bisa dikatakan
Green Building. Yakni; tepat guna lahan, efisiensi konservasi energi,
konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan
dalam ruangan, dan yang terakhir, managemen lingkungan dalam
bangunan.
Dibacakan
oleh I Gusti N Antariyama PhD, berikut adalah penerima penghargaan
Green Building Awareness Award 2014:
Kategori
Pelopor
Hotel:
- Grand Darmo
- Majapahit
- Novotel
- Santika Jemursari
- Singgasana
Apartement:
- Metropolis
- Puncak Permai
Perkantoran:
- Graha Bukopin
- Graha Pena
- Graha Pangeran
- Graha Wismilak
(Untuk
kategori Mall tidak ada.)
Untuk
penghargaan kategori Utama:
Hotel:
- Sheraton

Sedari awal, gedung hasil rancangan Ir Jimy Prijatman M.Arch ini
memang berkonsep Green Building. (sumber foto: Google)Mercure Grand Mirama- JW Marriot
Apartement:
- Water Place Residence
- Cosmopolis
- Trillium Office & Residence
Mall:
- Grand City Mall & Convec
- Plasa Tunjungan
- Lenmarc
Perkantoran:
- Intiland
- Esa Sampoerna
- Grha Wonokoyo. *****
Rabu, 17 Desember 2014
Mengejar TVRI, Menangkap tvOne
![]() |
| Penampakan antv dengan STB PF-209 |
![]() |
| Scan pakai Getmecom HD-9 |
“SUDAH
dua hari ini on air-nya, Kang,” begitu kata seorang teman lewat telepon tadi
malam, beberapa saat setelah saya menulis status demi mengabarkan MUX
Viva grup pada 490MHz/Ch.23 telah kembali mengudara di Surabaya.
Dengan kembali megudaranya tvOne dan antv di kanal digital, menjadikan hanya MUX Emtek Grup (SCTV, Indosiar dan O Channel –538MHz/Ch.29) yang belum kembali on air di kota Pahlawan ini..
Terbilang sudah agak lama saya tidak menyalakan set top box DVB-T2 karena channel yang ada cuma itu-itu saja. Bukannya content bertambah, malah sering berkurang. Pernah suatu kali MetroTV berhari-hari menghilang dari udara, juga MNC grup. Walau yang saya sebut tadi sekarang sudah on lagi, tetapi yang lumayan lama 'tidur' ya MUX Viva dan Emtek.
Dengan kembali megudaranya tvOne dan antv di kanal digital, menjadikan hanya MUX Emtek Grup (SCTV, Indosiar dan O Channel –538MHz/Ch.29) yang belum kembali on air di kota Pahlawan ini..
Terbilang sudah agak lama saya tidak menyalakan set top box DVB-T2 karena channel yang ada cuma itu-itu saja. Bukannya content bertambah, malah sering berkurang. Pernah suatu kali MetroTV berhari-hari menghilang dari udara, juga MNC grup. Walau yang saya sebut tadi sekarang sudah on lagi, tetapi yang lumayan lama 'tidur' ya MUX Viva dan Emtek.
Semalam
saya kembali menyalakan STB karena membaca status seorang teman
Facebook di Semarang yang menulis bahwa TVRI telah menambah content;
ada TVRI Budaya dan TVRI Sport. Ini hal yang langsung saya hubungkan
dengan yang hari-hari ini saya baca di grup satelit pada jejaring
sosial media. Bahwa, sekalipun sinyalnya masih pelit, pada siaran
satelit TVRI telah menambah content demi melengkapi siaran TVRI
Nasional yang ada selama ini. Ya, yang saya maksud tentu yang ada di
satelit Palapa, bukan beberapa siaran TVRI Daerah yang ada di satelit
Telkom-1.
![]() |
| tvOne hasil scan STB PF-209 |
Kalaulah
saya sejauh ini belum bisa lock transponder 3767 H 4000 (ada pula
yang bilang 3768 H 4000) yang dihuni TVRI Sport dan TVRI Budaya,
bukan disebabkan masih pelitnya sinyal di frekuensi itu, tetapi lebih
disebabkan kurang pinternya saya dalam hal tracking. Atau, ini
kecurigaan saya, posisi dish dan atau LNB saya belum pas betul ke arah Palapa-D.
![]() |
| tvOne scan pakai Getmecom HD-9 |
![]() |
| TVRI Nasional cling tidak pakai cekot-cekot. |
![]() |
| Sinyal TVRI baru di Palapa-D milik saya masih 0%. Untuk siaran satelit, saya scan pakai reciever Matrix Apple III PVR. |
Saya
belum tahu apakah di kawasan lain.semua MUX yang telah ditetapkan sudah bersiaran secara full power sekaligus full time. Informasi
seorang teman, untuk MUX Emtek (SCTV dkk) di Surabaya ini, pengerjaan
infrastrukturnya dibarengkan dengan persiapan beroperasinya pay tv
sistem antena biasa bernama NexMedia.*****
Minggu, 14 Desember 2014
Parikan di Jalan
SAYA kurang paham betul kesenian Ludruk itu berasal dari Jombang atau Surabaya. Yang saya tahu, dalam ludruk ada segmen yang selalu ditunggu. Biasanya dimunculkan setelah tari remo dan paduan suara para 'wandu' yang berdiri berjajar setelah penari remo turun panggung.
Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.
Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.
Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****
wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.
Ya, Anda betul. Segmen itu adalah munculnya dagelan. Dalam ludruk, dagelan itu muncul sebagai penyegar. diawali dengan monolog yang ditingkahi jula-juli yang kadang bercampur pula dengan parikan, pantun khas ludruk.
Pada segmen dagelan ini, selain sebagai lucu-lucuan, jula-juli dan atau parikan yang disampaikan, tidak jarang mengusung pula pesan-pesan. Mulai pesan tentang keseharian sampai ke hal-hal yang sifatnya kerohanian. Saya jadi ingat cerita Cak Nun tentang Syiir Tanpo Waton Gus Dur yang selalu berkumandang dari surau-surau atau masjid menjelang waktu adzan itu. Entah ini serius atau hanya 'dagelan ala Jombang', dalam acara Kongkow Budaya yang ditayangkan AswajaTV itu, Cak Nun bilang, orang salah kalau menganggap lagu Syiir Tanpo Waton itu asli ciptaan Gus Dur. Yang benar adalah, karena sejak kecil Gus Dur suka nonton ludruk, belakangan, paduan suara 'wandu' yang biasanya bernyanyi selamat datang, para penonton, dst, dst' mengilhami Gus Dur untuk menggubahnya menjadi, akeh kang apal, qur'an hadits-e.... dst, dst.
Kalau ludruk identik dengan Suroboyo (sekalipun orang akan agak sulit menemukan tempat menonton ludruk di Surabaya ini selain di THR. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan sangat mudahnya orang menemukan para penari Kecak atau Janger di Bali), mau tidak mau, jula-juli dan parikan turut pula menjadi ciri khas kota Pahlawan ini. Tak terkecuali yang dilakukan pihak berwenang dalam kampanye keselamatan berlalulintas. Harapannya jelas; pesan yang dibungkus dengan bahasa 'ludruk' plus ditambah kartun berwajah Suro dan Boyo, akan bisa dilirik dan dibaca para pengendara untuk kemudian diterapkan dalam berlalulintas.*****
wandu: adalah laki-laki yang berdandan sebagai perempuan. Dalam ludruk, semua pemainnya adalah laki-laki, sehingga semua tokoh perempuan dalam lakon ludruk selalu yang memerankannya adalah laki-laki yang bergaya kemayu laksana perempuan betulan. Karena begitu menjiwai sebuah peran atau sebab lain, sering sekali lelaki pemeran perempuan itu dalam kehidupan nyatab di luar panggung tetap saja bergaya kemayu dan memainkan mata secara genit ketika melihat laki-laki tampan. Itu dulu, entah kalau sekarang.
Minggu, 30 November 2014
Slamet dan Saimin
KALAU
engkau masih ingat, aku telah pernah menceritakan kepadamu tentang
Slamet. Penghuni pasar di kampung kami, yang pada saat-saat tertentu
ia akan melabur seluruh tubuhnya dengan parutan ketela pohon,
sehingga setelah pati parutan ketela itu mengering, ia laksana
Hanoman; putih seluruh kulit tubuhnya yang hanya pada bagian alat
kelaminnya saja yang dibungkus cawat yang ia bikin dari sobekan kain
sarung.
Slamet,
menurut para orang tua, dulunya adalah santri sebuah pondok disini.
Ia berasal dari Blitar. Tapi ya itu, masih menurut sumber yang tentu
tak bisa dikonfirmasi kesahihannya, dari awal datang mondok ia memang
'kurang seratus'. Menurut orang-orang ia memang kurang 'penuh'. Dan
ia kemudian keluar dari pondok lalu menjadi penghuni pasar karena,
ketika putri sang kiai yang cantik jelita, yang diam-diam ia jatuh
cintai setengah mati, dinikahkan dengan seorang lelaki anak kiai
Bangsalsari.
Miskin atau Sederhana?
ORANG miskin bukanlah seseorang yang memiliki sedikit (harta), tapi orang yang selalu membutuhkan lebih, lebih, dan lebih lagi. Saya tidak hidup dalam kemiskinan. Saya hidup dalam kesederhanaan. Hanya sedikit yang saya butuhkan untuk hidup.
Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).
Jose Alberto Mujica Cordano, presiden Uruguay (yang dijuluki presiden termiskin di dunia).
Rabu, 05 November 2014
Tips Membeli Set Top Box
SAYA
agak merasa bersalah ketika membuat artikel tentang kepekaan set
top box
dan mendapat lumayan banyak tanggapan/komentar. Sebagian besar
menanyakan set
top box
merek apa yang pada artikel itu memang tidak saya sebut secara
gamblang. Sebagian lainnya menanyakan set
top box
merek apa yang layak direkomendasikan.
Sebagai
hal yang menyenangkan, tentu saja, ketika masyarakat pemirsa relatif
antusias menyikapi isu siaran televisi digital. Isu? Ah, barangkali
agak kurang tepat juga saya mengistilahkan hal itu sebagai isu
belaka. Tetapi saya agak kesulitan menemukan kosa kata yang pas untuk
menggambarkan perkembangan siaran televisi digital terrestrial yang
progress-nya
cuma begitu-begitu saja.
Baca juga: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Baca juga: Selamat tinggal siaran tv digital terrestrial.
Bisa
jadi saya salah. Bisa jadi, karena sudah agak lama saya tidak
menghidupkan STB, sekarang siaran tv digital sudah berisi ratusan
konten/channel. Anda, yang tidak seperti saya, yang tidak kehilangan
kekhusyu'an dan kesabaran setiap kali menghidupkan reciever cuma
mendapati maksimal empat MUX yang belum 'tiarap', sekarang sudah
girang bukan kepalang menikmati aneka tayangan dari sekian banyak
frekuensi yang ada. Disaat Anda beruntung begitu, anggap saja sebagai
manusia yang ketinggalan zaman!
Kembali
ke soal awal; tentang set
top box.
Jujur, saya juga sudah agak kurang update
tentang perkembangan merek-merek STB. Sekarang saya buka saja; set
top box
yang saya punya adalah Bomba
(masih DVB-T1),TCL,
Getmecom-HD9
dan PF-209.
Yang mana yang terbaik diantara semua itu?
Sebagai
yang masih DVB-T1, Bomba
tak usah ikut dibahas. Sedang si TCL,
yang tepat setahun saya pakai tunner
sudah tidak berfungsi, juga abaikan saja. Sehingga praktis yang saya
pakai sekarang cuma Getmecom-HD9
dan PF-209.
Getmecom-HD9
saya ini, sayangnya juga penangkap sinyalnya sudah agak 'tumpul'.
Penjelasan dari ini adalah, ketika sinyal dari MUX MNC
grup (Channel 41) yang oleh PF-209
masih bisa ditampilkan, pada Getmecom-HD9
sama sekali tidak ada penampakan. Begitu juga MUX Emtek
di kanal 29. Pendek kata, punya saya yang PF-209
lebih
tajam dalam menangkap signal dibanding si Getmecom-HD9.
Eits,
tetapi tunggu dulu. Ini pengalaman pribadi saya dan jangan buru-buru
di-gebyah
uyah
semua Getmecom-HD9
tumpul dan PF-209
tajam. Bisa jadi ini kasuistis semata, namanya juga barang
elektronik. Atau Anda punya pakem/patokan tertentu yang bisa
dijadikan simpulan atas hal tersebut.
Tetapi,
masih tentang set
top box
yang adalah barang elektronika, layanan purna jual layak dijadikan
pertimbangan sebelum membeli barang. Jangan sampai, sudah mahal-mahal
membeli, saat ada trouble,
tak tahu kita harus membawanya kemana. Ini saya alami ketika STB
merek TCL
yang saya punya. Saat tunner-nya
tidak berfungsi begitu, tak tahu saya harus menyembuhkannya kemana,
karena tak tahu dimana letak Service
Center-nya.
Iya, layanan after
sales-nya
harus ada, syukur-syukur itu ada di dekat kita.
Sampai
disini tentu sudah agak jelas; bahwa hanya merek-merek tertentu saja
yang didukung Cervice
Centre yang
tidak abal-abal. Bahkan, di Surabaya ini, tak tahu dimana letak
layanan after
sales dari
si Getmecom-HD9.
(Tentang ini, tentu saya bisa baca di manual
book-nya).
Tetapi, saat saya baca buku manual dari si PF-209
(yang ternyata merek ini bukan milik dari produsen antena PF yang
sudah kita kenal), tempat yang disebut Service
Center
adalah sebuah toko peralatan antena/parabola di sudut jalan Genteng
Besar. Toko yang nampak kusam itu (secara tampilan bukan bandingan
bila disandingkan dengan service
center
Polytron
di jalan Nginden atau service
center
Akari
di
jalan Kalimantan) membuat saya ragu itu sebagai Service Centre,
tetapi saya curiga ia hanya dipinjam namanya untuk kalau ada orang
membawa set
top box PF
yang sedang 'sakit' ke situ (kalau masih dalam masa garansi) langsung
diganti baru saja. Lalu, bagaimana kalau batas masa garansi sudah
expired?
*****
Selasa, 30 September 2014
Mas Bendo Menggugat
“KACAU,
Kang, kacau...” dengan wajah lungset
Mas
Bendo datang.
“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.
“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.
“Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”
“Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.
“Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”
“Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”
“Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”
“Ya kita harus menggugat, Kang.”
“Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”
“Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****
“Apanya yang kacau, nDo?” sambut Kang Karib menyongsong Mas Bendo yang seperti tujuh hari tujuh malam tidak tidur.
“Kita akan kembali ke jaman purbakala, Kang,” belum separuh rokok dihabiskan, sudah ia lemparkan. “saya sebagai rakyat sungguh disepelekan oleh si wakil yang tak tahu diri itu...” Mas Bendo merogoh saku dan mengambil rokok untuk disulutnya lagi.
“Kamu itu,” nada suara Kang Karib seperti berusaha mendinginkan kepala Mas Bendo yang mongah-mongah,”tak usahlah terlalu risau akan keadaan yang sudah terlanjur.”
“Sampeyan itu, Kang,” sanggah Mas Bendo. “bagaimana aku tidak risau; kok bisa-bisanya si wakil bilang, rakyat (termasuk aku itu, Kang) belum siap memilih pemimpinnya secara langsung. Lha, apa itu tidak melecehkan jutaan rakyat Indonesia, Kang. Mbokya mikir, apa itu tidak kebalik; mereka yang tidak siap akan kenyataan bahwa sekarang rakyat sudah pada pinter. Buktinya, walau saat Pilkada ada calon yang menghambur-hamburkan sembako atau amplop agar dipilih, rakyat akan menerima itu tetapi tidak memilihnya” Mas Bendo bicara seperti rangkaian kereta barang.
“Tindakan itu, dengan menerima tetapi tidak memiihnya itu, apa juga tindakan bijak?” Kang Karib memandang Mas Bendo. “Apa tidak lebih baik, misalnya, kalau tidak sreg memilihnya, ya jangan diterima sembakonya?”
“Ya, biar mereka kapok, Kang,” sanggah Mas Bendo. “Lha sekarang, ketika dalam Pikada, hajat yang biasanya dilakukan rakyat secara langsung, kembali dilakukan oleh wakil yang pada praktiknya sering tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang diwakilinya, apa juga tidak malah menyuburkan politik uang, atau barang yang lainnya. Logikanya kan begini, Kang, bagi para poltisi yang ngebet betul untuk menjadi Bupati atau Walikota atau Gubernur, kan lebih mudah (dan murah) 'membeli' suara wakil rakyat yang jumlahnya tak seberapa itu dibanding membeli suara rakyat sak kabupaten atau sepropinsi yang sudah cerdas-cerdas.”
“Nah, lalu sekarang piye, saat RUU itu sudah diketok menjadi UU?”
“Ya kita harus menggugat, Kang.”
“Menggugat kemana lha wong katanya, dua-duanya itu, Pilkada langsung dan Pilkada lewat DPRD itu semua konstitusional?”
“Embuhlah, Kang. Pokoknya saya harus bergerak. Sampai saya mendapatkan kembali hak saya sebagai rakyat untuk dapat memilih pemimpin saya secara langsung. Saya sudah terlanjur tidak percaya kepada para wakil saya. Paling tidak, lima tahun lagi, saat Pemilu Legislatif digelar, saya akan ajak orang-orang untuk tidak memilih caleg dari partai-partai yang kemarin itu ngotot mengegolkan RUU itu menjadi UU yang sungguh sangat melecehkan saya sebagai rakyat.” *****
Langganan:
Postingan (Atom)

















