BERDIRI di bawah canopy,didepan lobby.Angin membuat rambutnya terbang menari.
“Menunggu itu jemu,”katanya sambil melempar pakan ikan ke lilypond.
Ikan koi berebut,riang.
Tapi hati Ve sedang tidak senang.”Pengkhianat tetap pengkhianat...”
Ri tertawa.Kecil saja.Sampai hampir Ve tak mendengar suaranya.
“Hati emosi kadang selalu gagal memahami sesuatu secara sejati."
“Aku tak butuh nasihat.”
“Aku juga tak sedang begitu.”
“Lalu,yang kamu bilang barusan itu apa?Ocehan?!”
Ri tertawa lagi.Agak tidak kecil kini.
Ve jengkel.Sedikit.Tapi Ri itu memang spesial bagi Ve.Ia batu.Walau kadang ia juga sebagai api.Dan kali ini,ia adalah angin.Paling tidak itu yang sedang dilakukan Ve menyikapi Ri.
Ya,ia angin.Tapi bukankah angin kadang juga tak bisa diremehkan?Dan,memang,Ve tak pernah melakukan itu terhadap Ri.
Juga,saat mereka berperang di dalam lobby barusan.Peperangan kecil saja,sepertinya.Tentang Ve yang kalap akan Da.
“Da itu tak perlu dipikirkan lagi.”kata Ve.
“Sungguh?Bukankah engkau terlampau sering mengatakan itu dihadapanku.Tetapi kau selalu melupakannya lagi.Dan dikemudian hari kau mengulangnya lagi.Selalu begitu,”sergah Ri.
“Kamu membela siapa sih?”Ve protes.
“Pada suatu saat,kadang kita tak perlu berpihak.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Apanya yang baik?!”
“Aku telah tahu kamu sekarang.”
“Lalu?!”tanya Ri.
“Kamu....”Ve tak melanjutkan kata-katanya.Ia malah ingin menangis.Tangis yang membuat sore datang dengan malu-malu.
Malu juga diperhatikan dua resepsionis yang berdandan laiknya SPG kosmetik di frontdesk itu.Sampai kemudian Ri mengajaknya ke canopy saja.Agar Ve biasa lebih tenang.Sambil memandangi ikan-ikan koi yang pasti tidak pernah sedih.Juga tidak pernah patah hati..Tidak seperti Ve.
Padahal Ri tahu.Da telah pergi.Tepatnya,telah pergi kelain hati.Meninggalkan Ve.Tapi Ri tak tega mengatakan kepergian hati diam-diam lelaki itu kepada Ve.Ri tahu,sesewot-sewotnya Ve kepada Da,ia masih menaruh harap kepada Da.
Seperi Ri yang ,diam-diam,menaruh harap juga.Ya,ia tak pernah surut turut meluruskan hati Ve yang sering kusut.Tapi Ri tahu diri.Karena Da adalah juga temannya.
Ada saatnya nanti,entah kapan,Ri menaruh bunga hatinya di hati Ve.Dan,sore yang datang malu-malu ini,masih saja juga membuat Ri malu mengungkap isi dadanya.
Ah,kadang cinta memang butuh keberanian laksana tentara yang maju perang.
Jumat, 22 Juli 2011
Kamis, 21 Juli 2011
Kisah Tentang Para Pengarang
PENGARANG yang mahir selalu bisa menuangkan karangannya tanpa berpikir.Seperti petani yang mecangkulkan paculnya sambil bersendau gurau dengan teman disebelahnya tanpa menghitung butuh seberapa kuat tenaga untuk mengayunkan gagang cangkul.Atau seperti sopir yang bisa mengemudi sambil menerima telepon atau malah ber-SMS-ria.Pendeknya,karena mahir orang bisa berbuat tanpa berpikir.Meluncur saja.
Mengarangpun begitu.Meluncur saja.Tanpa berpikir.Dan satu lagi;karangan yang baik menjadi seolah nyata.Dan malah ada yang meyakini itu memang nyata.
Kisah Siti Nurbaya-nya Marah Roesli misalnya.Atau kisah kolosal Mahabharata karangan Begawan Wiyasa.Dan banyak lagi karangan yang dianggap nyata.
Saya punya teman yang sangat mahir bermain gitar.Karena mahir ia bisa memetiknya tanpa berpikir.Tanpa berpikir pula ia melantunkan lagu sekenanya.Spontan saja.Dan,ini dia lebihnya,tetap nyaman didengar.Sekali lagi,karena ia mahir.
Pengarang-pengarang terus lahir.Terus mahir.Saya tentu tidak membatasi membahas tentang AS. Laksana yang saya anggap memang sangat mahir.Karena,pasti anda juga tahu,M.Nazaruddin juga mahir.Anas Mahir.Bang Ruhut mahir.Andi Nurpati juga mahir.
Mengarangkah mereka?
Iya saja.Karena bukankah Andrea Hirata adalah juga mengarang ketika menulis Laskar Pelangi walau bukunya adalah juga berisi kisah nyata.Dan karangannya menjadi hidup karena ia mahir.
Saya ,pada masa remaja dulu,malah menganggap kisah film Roman Picisan yang dibintangi Rano Karno dan Lidya Kandau yang dikarang Eddy D. Iskandar itu nyata.Itu sangat ‘gue banget’,menurut istilah anak sekarang.Padahal itu karangan.Juga, bukankah Romeo dan Juliet-nya William Shakespeare serupa itu.Juga seakan nyata.
Hasil pengarang terus saja lahir.Seperti halnya kisah tentang M. Nazaruddin juga mengalir.Juga seakan nyata.Dan,bisa jadi,memang nyata.Tetapi ada karya pengarang lain menanggapi.Anas dan teman-temannya,misalnya.Dan itu lahir mengalir karena juga mahir.Karangannya menjadi tampak nyata.Belum lagi pengarang lain.Dengan kisah yang lain.
“Pengarang yang mahir selalu bisa mengarang dengan tanpa berpikir,”begitu kurang-lebih kalimat yang ditulis AS Laksana dalam blog Ruang Berbagi miliknya.
Dari kisah mengharu biru sampai kisah politik yang ruwet.Dan sebagai khalayak umum,kita bebas menyikapinya.Ikut terbawa kisahnya,atau cuekin saja.Dan karena kita sudah sangat mahir sebagai rakyat,tentu tidak salah kalau menangapinya dengan tanpa berpikir.
Tapi,sungguh.Sebagai pengarang saya belum mahir.Masih belum mampu untuk tidak berpikir.****
Mengarangpun begitu.Meluncur saja.Tanpa berpikir.Dan satu lagi;karangan yang baik menjadi seolah nyata.Dan malah ada yang meyakini itu memang nyata.
Kisah Siti Nurbaya-nya Marah Roesli misalnya.Atau kisah kolosal Mahabharata karangan Begawan Wiyasa.Dan banyak lagi karangan yang dianggap nyata.
Saya punya teman yang sangat mahir bermain gitar.Karena mahir ia bisa memetiknya tanpa berpikir.Tanpa berpikir pula ia melantunkan lagu sekenanya.Spontan saja.Dan,ini dia lebihnya,tetap nyaman didengar.Sekali lagi,karena ia mahir.
Pengarang-pengarang terus lahir.Terus mahir.Saya tentu tidak membatasi membahas tentang AS. Laksana yang saya anggap memang sangat mahir.Karena,pasti anda juga tahu,M.Nazaruddin juga mahir.Anas Mahir.Bang Ruhut mahir.Andi Nurpati juga mahir.
Mengarangkah mereka?
Iya saja.Karena bukankah Andrea Hirata adalah juga mengarang ketika menulis Laskar Pelangi walau bukunya adalah juga berisi kisah nyata.Dan karangannya menjadi hidup karena ia mahir.
Saya ,pada masa remaja dulu,malah menganggap kisah film Roman Picisan yang dibintangi Rano Karno dan Lidya Kandau yang dikarang Eddy D. Iskandar itu nyata.Itu sangat ‘gue banget’,menurut istilah anak sekarang.Padahal itu karangan.Juga, bukankah Romeo dan Juliet-nya William Shakespeare serupa itu.Juga seakan nyata.
Hasil pengarang terus saja lahir.Seperti halnya kisah tentang M. Nazaruddin juga mengalir.Juga seakan nyata.Dan,bisa jadi,memang nyata.Tetapi ada karya pengarang lain menanggapi.Anas dan teman-temannya,misalnya.Dan itu lahir mengalir karena juga mahir.Karangannya menjadi tampak nyata.Belum lagi pengarang lain.Dengan kisah yang lain.
“Pengarang yang mahir selalu bisa mengarang dengan tanpa berpikir,”begitu kurang-lebih kalimat yang ditulis AS Laksana dalam blog Ruang Berbagi miliknya.
Dari kisah mengharu biru sampai kisah politik yang ruwet.Dan sebagai khalayak umum,kita bebas menyikapinya.Ikut terbawa kisahnya,atau cuekin saja.Dan karena kita sudah sangat mahir sebagai rakyat,tentu tidak salah kalau menangapinya dengan tanpa berpikir.
Tapi,sungguh.Sebagai pengarang saya belum mahir.Masih belum mampu untuk tidak berpikir.****
Hadiah Lebaran Buat Biran
SEPERTI biasa Biran pulang sekolah jalan kaki saja.Cuaca sedang panas-panasnya.Karena matahari tepat di atas ubun-ubunnya.Debu jalanan yang beterbangan lengket di wajahnya yang berkeringat.Mobil bagus putih mulus menyalip langkah Biran yang selalu berjalan di trotoar.Di dalam mobil itu,Kevin tentu tak kepanasan.Ada pendingin udara di dalamnya.
Ya,Kevin.Teman sekelas Biran.Yang angkuh dan sombong.Ah,pantes saja.Orang kaya sombong memang pantas.Tapi kan tidak selalu.Soni,temannya yang lain,juga kaya.Tapi tidak sombong.Ia sungguh baik hati.Pernah sekali Biran kerumahnya.Dia dan keluarganya baik semua.
Tetapi Kevin?
Uh.Ia selalu meledek Biran.Tetapi,
“Ya sudah.Biarkan saja.Itu harus bikin kamu tambah kuat.Tambah semangat,”kata ayah Biran ketika suatu malam ia menceritakan kejahilan Kevin kepadanya
Kejahilan Kevin itu,antara lain ini:
”Minum terus....”suara itu muncul tiba-tiba.Saat Biran mengeluarkan botol air putih dari dalam tas sekolahnya yang lusuh.Yang ada jahitan tambalan disana-sini.Dan Biran sedang menenggak bekal sekolahnya itu.
“Orang kadang tidak bisa membedakan antara lapar dan haus.Kalau haus minum itu betul.Tapi kalau lapar minum, ya kembung...”
Air yang kadung berada di tengorokan seakan berhenti.Tak jadi masuk.Ingin Biran melempar botol itu ke Kevin.Tetapi,seperti pesan ayah selalu,Biran harus sabar.
Dan setiap hari memang harus sabar.Berangkat tidak sarapan itu sering,pulang belum ada yang dimakan juga sering.Ya,ayah Biran hanya tukang sapu jalan.Orang menyebutnya pasukan kuning.Karena seragamnya memang serba kuning.
Ibunya sudah meninggal sejak Biran kecil.Ia tak ingat wajah ibunya.
Sekalipun hanya sebagai tukang sapu jalanan,ayah Biran ingin ia sekolah terus.Semampu ayah membiayainya.”Ayah tentu tak mampu memberimu warisan harta.Tetapi,semoga ayah bisa menyekolahkanmu sampai setinggi ayah mampu membiayaimu,”kata ayah suatu ketika.
Kelas lima sudah Biran sekarang.Ia berusaha tidak minder di kelasnya.Dan memang semua temannya baik kepadanya.Kecuali satu itu:Kevin.Yang tadi baru saja menyalipnya.Yang selalu saja mengejeknya.Beberapa hari ini sudah tidak lagi.Karena Biran sudah tak perlu membawa bekal air putih untuk diminum saat istirahat tiba.Ya,kerena ini bulan puasa.
Bulan penuh berkah.Yang salah satu berkah itu adalah ia tak lagi diejek tentang makan oleh Kevin.Tetapi soal lain.Tentang baju lebaran.
“Aku kemarin diajak mamaku ke mall.Beli baju baru.Kamu tahu harganya berapa?Hampir setengah juta,”Kevin bercerita dengan nada pamer saat istrirahat sekolah.Di depan temannya.
Biran memisahlan diri dari kerumunan itu,Kerumunan teman yang mendengarkan cerita pamer dari Kevin.Ia masuk kelas.Membaca lagi.Ia ingat pesan guru agama.Bulan puasa saat untuk belajar menahan hawa nafsu.Tak baik bicara yang tak perlu.
Biran terus saja melangkah.Dan didepan itu,ada tempat yang selalu Biran hampiri saat berjalan pulang sekolah panas-panas begitu.Sebuah tempat berbentuk kotak kaca.Ya,tempat itu ATM.Anjungan Tunai Mandiri sebuah bank.Bukan untuk mengambil uang tentu.Ia hanya ingin merasakan dinginnya ruang yang ber AC.Beberapa saat.Tergantung situasi.Sampai pak satpam berkumis tebal pejaga pertokoan ini menyuruhnya keluar.Atau sampai ada orang datang dan masuk bertransaksi disitu.
Dan untungnya siang ini sepi.Tak ada pak satpam berkumis tebal.Tak pula ada orang mau masuk ke ATM.
Adem.Biran merasakan dingin merambat disekujur tubuhnya.Kalau boleh sampai maghrib disini,tentu puasa jadi lebih kuat,batin hati Biran.
Biran memerhatikan layar ATM.Seperti televisi kecil.Ada orang menari-nari dalam guyuran hujan uang.Ada suara lelaki mempromosikan heboh undian hadiah lebaran.Biran diam.Dia tentu tak berhak memenangkan hadiah itu.Ia bukan nasabah bank.Uang mana yang bisa ditabung.Untuk makan seharti-hari saja ayahnya kerja siang malam banting tulang.
Biran mendongak keatas.Ada CCTV.Biran tahu itu.Kamera itu merekam semua yang terjadi di dalam ATM ini.Dan Biran yakin,orang yang bisa melihat rekaman CCTV itu pasti bosan melihatnya setiap pulang sekolah muncul di rekamannya.Tapi sejauh ini,tak ada apa-apa.Tak ada teguran dari pihak bank.Hanya sesekali dari pak satpam berkumis tebal penjaga pertokoan ini.
Dan,ketika Biran melihat diatas mesin ATM ini ada sesuatu.Yang jelas itu biasanya tak ada.Pasti itu milik orang yang tertinggal.Biran meraihnya.Ah,sebuah telepom gengam.Bagus.Hitam mengkilat.Baru kali ini Biran memegangnya.Kalau melihatnya sih sering.Karena di pertigaan sana,ada papan reklame yang memampang gambar telepon genggam ini.
Biran bimbang.Membawanya pulang atau mengembalikannya lagi kepada yang punya.Mengembalikan?Ah,yang punya siapa dan rumahnya dimana Biran tak tahu.Atau menitipkanya kepada si pak satpam berkumis tebal?Tapi kalau malah diambil sendiri oleh pak satpam bagaimana?Atau dambil sendiri saja.Lalu dijual.Dan uangnya bisa untuk beli baju untuk lebaran nanti.
Biran bingung.Tetapi ia malah memasukkannya kedalam tas kumalnya.Lalu pulang.
Sampai dirumah Biran mengeluarkan lagi ponsel itu.Ada beberapa bintik putih kecil sebagai lambang ponsel pintar ini.Biran tahu,itu lambang BlackBerry.Itu ponsel mahal.Dan Biran ingat,Kevin pernah membawanya sekali kesekolah.Tapi warnanya silver.Tentu untuk dipamerkan.Sekali saja.Karena kemudian dilarang oleh ibu wali kelas.
Benda itu berdering.Biran kaget setengah mati.
Dari melirik waktu Kevin menerima tetepon dari mamanya,Biran tahu tombol mana yang harus ia tekan saat menerima panggilan.
“Halo?”Biran menirukan gaya orang yang lagi menerima panggilan telepon.
“Ini siapa?”suara wanita di seberang sana malah bertanya.
Biran diam.Pasti orang ini yang punya benda ini.Benda yang tertinggal diatas mesin ATM.
“Hallo,siapa ya?”suara itu terulang lagi.
“Saya Biran”
“Ini ponsel saya yang ketinggalan di ATM kan?”
“Iya”
“Oh terima kasih Tuhan.”kata suara diseberang sana.”Hallo ,adik.Tante sungguh memerlukan data yang tersimpan di ponsel itu.Tante pasti ngasih hadiah kalau adik mau mengembalikan benda itu kepada tante.”
Dengan mantap Biran menjabab,”Tentu tante.Tapi dimana alamat rumah tante?”
“Oh,tidak perlu.Kamu tidak perlu kerumah tante.Tante yang akan kerumahmu.Ya,dimana alamatmu?”
“Jalan Perjuangan nomor 68,tante,’jawab Biran.
“Ya,nanti sore aku kerumahmu.Tunggu ya...”
Hari menjelang maghrib kala sebuah mobil masuk ke jalan sempit didepan rumah Biran.Ia masih sendiri saja dirumah.Karena ayahnya sudah biasa pulang telat.Karena selain tukang sapu jalan,juga nyambi jadi kuli angkut di pasar sore.
Seorang ibu muda turun dari mobil.Sendiri.Ah,tidak.Tapi berdua dengan anaknya.Yang tentu saja Biran tahu.Itu Kevin.
Biran langsung menyerahkan benda yang sedari tadi sudah ia siapkan.
“Terima kasih,Biran.Kamu anak baik.Karena kamu bisa saja menjual ini.Dan tentu tante kehilangan banyak data penting didalamnya.Kamu sungguh anak baik,Biran.”kata tante itu sambil mengusap rambut Biran.
“Kevin,”sapa Biran.
Kevin diam.
“Oh,kalian sudah saling kenal rupanya?”
Kevin tetap diam.Dan tentu Biran juga diam.Biran tahu,Kevin tentu ingin mengejeknya lagi.Entah tentang apa ejekannya kali ini.Mungkin tentang rumah kontrakannya yang jelek ini.Tetapi,
“Ayo Kevin.Balas dong sapaan temanmu.Tidak baik kamu begitu.Kita harus baik kepada semua orang,Kevin.Apapun keadaannya.Terlebih kepada Biran yang jujur dan baik hati ini...”
Kevin tersenyum.Senyum yang dipaksaan.Ah,tidak.Karena tiba-tiba Kevin memeluk Biran.
“Maafkan aku,Biran.Selama ini aku selalu mengejekmu.Dan kamu tak pernah membalasku.Kamu baik,Biran,Aku malu kepadamu.”kata Kevin.Ada tulus yang terpancar dari sorot matanya.
Ibu Kevin tersenyum bahagia melihat pemandangan itu.
Cuaca begitu cerah pagi ini.Kecerahan itu makin terasa ketika semua melihat Kevin terlihat akrab dengan Biran.Sesuatu yang selama ini tak terjadi.
“Ayo ikut aku,”songsong Biran setiba Biran di sekolah.
“Ada apa?”tanya Biran.
“Ayolah..”Kevin menarik tangan Biran.Masuk kekelas,walau jam pelajaran belum mulai.
“Apa ini?”tanya Biran setelah menerima bungkusan dari Kevin.
“Titipan mamaku untukmu.”
Mata Biran terbelalak.Hadiah?
“Dan yang ini dari aku.Tapi aku ingin kamu membukanya dirumah.Tidak disini,”pesan Biran.
Biran tak bisa berkata banyak.Hanya,”Terima kasih,Kevin.”
“Oh,mamaku yang malah harus berterima kasih padamu.Kalau bukan kamu yang menemukan itu,pasti telah dijualnya barang itu.”
Pulang sekolah,seperti biasa Biran jalan kaki.Tapi ada yang beda hari ini.Tas di punggungnya yang sudah jelek itu terasa lebih berat dari biasanya.Ada dua bungkus hadiah di dalamnya.Ia tak tahu isinya apa.Ia ingin segera membukanya.Ia ingin segera sampai dirumah.Karenanya,walau panas menyengat kulitnya,ia tak mampir dulu mendinginkan diri ke ruang ATM di depan pertokoan itu seperti biasanya.
Sesampainya dirumah,ia lebih dulu membuka bungkusan dari mamanya Kevin.Isinya; baju dan celana baru.Juga selembar uang seratus ribu.Juga ada secarik kertas,tulisannya; Tante mengucapkan selamat lebaran ya.Maaf lahir batin.
Berkaca-kaca Biran membacanya.”Terima kasih ya Allah,”ucapnya lirih.
Ia membuka bungkusan satu lagi.Yang ini dari Kevin.Isinya;tas sekolah baru warna hitam.Ada kertas juga didalamnya.Biran tahu,itu tulisan tangan Kevin.
“Maafkan aku ,Biran.Selama ini aku sering berbuat salah kepadamu.Terimalah ini sebagai hadiah lebaran dariku.Sekaligus aku mohon maaf lahir batin.Kevin”
Mata Biran semakin berkaca-kaca.”Terima kasih ya Allah,”ucapnya lagi.Tetap lirih.***
Ya,Kevin.Teman sekelas Biran.Yang angkuh dan sombong.Ah,pantes saja.Orang kaya sombong memang pantas.Tapi kan tidak selalu.Soni,temannya yang lain,juga kaya.Tapi tidak sombong.Ia sungguh baik hati.Pernah sekali Biran kerumahnya.Dia dan keluarganya baik semua.
Tetapi Kevin?
Uh.Ia selalu meledek Biran.Tetapi,
“Ya sudah.Biarkan saja.Itu harus bikin kamu tambah kuat.Tambah semangat,”kata ayah Biran ketika suatu malam ia menceritakan kejahilan Kevin kepadanya
Kejahilan Kevin itu,antara lain ini:
”Minum terus....”suara itu muncul tiba-tiba.Saat Biran mengeluarkan botol air putih dari dalam tas sekolahnya yang lusuh.Yang ada jahitan tambalan disana-sini.Dan Biran sedang menenggak bekal sekolahnya itu.
“Orang kadang tidak bisa membedakan antara lapar dan haus.Kalau haus minum itu betul.Tapi kalau lapar minum, ya kembung...”
Air yang kadung berada di tengorokan seakan berhenti.Tak jadi masuk.Ingin Biran melempar botol itu ke Kevin.Tetapi,seperti pesan ayah selalu,Biran harus sabar.
Dan setiap hari memang harus sabar.Berangkat tidak sarapan itu sering,pulang belum ada yang dimakan juga sering.Ya,ayah Biran hanya tukang sapu jalan.Orang menyebutnya pasukan kuning.Karena seragamnya memang serba kuning.
Ibunya sudah meninggal sejak Biran kecil.Ia tak ingat wajah ibunya.
Sekalipun hanya sebagai tukang sapu jalanan,ayah Biran ingin ia sekolah terus.Semampu ayah membiayainya.”Ayah tentu tak mampu memberimu warisan harta.Tetapi,semoga ayah bisa menyekolahkanmu sampai setinggi ayah mampu membiayaimu,”kata ayah suatu ketika.
Kelas lima sudah Biran sekarang.Ia berusaha tidak minder di kelasnya.Dan memang semua temannya baik kepadanya.Kecuali satu itu:Kevin.Yang tadi baru saja menyalipnya.Yang selalu saja mengejeknya.Beberapa hari ini sudah tidak lagi.Karena Biran sudah tak perlu membawa bekal air putih untuk diminum saat istirahat tiba.Ya,kerena ini bulan puasa.
Bulan penuh berkah.Yang salah satu berkah itu adalah ia tak lagi diejek tentang makan oleh Kevin.Tetapi soal lain.Tentang baju lebaran.
“Aku kemarin diajak mamaku ke mall.Beli baju baru.Kamu tahu harganya berapa?Hampir setengah juta,”Kevin bercerita dengan nada pamer saat istrirahat sekolah.Di depan temannya.
Biran memisahlan diri dari kerumunan itu,Kerumunan teman yang mendengarkan cerita pamer dari Kevin.Ia masuk kelas.Membaca lagi.Ia ingat pesan guru agama.Bulan puasa saat untuk belajar menahan hawa nafsu.Tak baik bicara yang tak perlu.
Biran terus saja melangkah.Dan didepan itu,ada tempat yang selalu Biran hampiri saat berjalan pulang sekolah panas-panas begitu.Sebuah tempat berbentuk kotak kaca.Ya,tempat itu ATM.Anjungan Tunai Mandiri sebuah bank.Bukan untuk mengambil uang tentu.Ia hanya ingin merasakan dinginnya ruang yang ber AC.Beberapa saat.Tergantung situasi.Sampai pak satpam berkumis tebal pejaga pertokoan ini menyuruhnya keluar.Atau sampai ada orang datang dan masuk bertransaksi disitu.
Dan untungnya siang ini sepi.Tak ada pak satpam berkumis tebal.Tak pula ada orang mau masuk ke ATM.
Adem.Biran merasakan dingin merambat disekujur tubuhnya.Kalau boleh sampai maghrib disini,tentu puasa jadi lebih kuat,batin hati Biran.
Biran memerhatikan layar ATM.Seperti televisi kecil.Ada orang menari-nari dalam guyuran hujan uang.Ada suara lelaki mempromosikan heboh undian hadiah lebaran.Biran diam.Dia tentu tak berhak memenangkan hadiah itu.Ia bukan nasabah bank.Uang mana yang bisa ditabung.Untuk makan seharti-hari saja ayahnya kerja siang malam banting tulang.
Biran mendongak keatas.Ada CCTV.Biran tahu itu.Kamera itu merekam semua yang terjadi di dalam ATM ini.Dan Biran yakin,orang yang bisa melihat rekaman CCTV itu pasti bosan melihatnya setiap pulang sekolah muncul di rekamannya.Tapi sejauh ini,tak ada apa-apa.Tak ada teguran dari pihak bank.Hanya sesekali dari pak satpam berkumis tebal penjaga pertokoan ini.
Dan,ketika Biran melihat diatas mesin ATM ini ada sesuatu.Yang jelas itu biasanya tak ada.Pasti itu milik orang yang tertinggal.Biran meraihnya.Ah,sebuah telepom gengam.Bagus.Hitam mengkilat.Baru kali ini Biran memegangnya.Kalau melihatnya sih sering.Karena di pertigaan sana,ada papan reklame yang memampang gambar telepon genggam ini.
Biran bimbang.Membawanya pulang atau mengembalikannya lagi kepada yang punya.Mengembalikan?Ah,yang punya siapa dan rumahnya dimana Biran tak tahu.Atau menitipkanya kepada si pak satpam berkumis tebal?Tapi kalau malah diambil sendiri oleh pak satpam bagaimana?Atau dambil sendiri saja.Lalu dijual.Dan uangnya bisa untuk beli baju untuk lebaran nanti.
Biran bingung.Tetapi ia malah memasukkannya kedalam tas kumalnya.Lalu pulang.
Sampai dirumah Biran mengeluarkan lagi ponsel itu.Ada beberapa bintik putih kecil sebagai lambang ponsel pintar ini.Biran tahu,itu lambang BlackBerry.Itu ponsel mahal.Dan Biran ingat,Kevin pernah membawanya sekali kesekolah.Tapi warnanya silver.Tentu untuk dipamerkan.Sekali saja.Karena kemudian dilarang oleh ibu wali kelas.
Benda itu berdering.Biran kaget setengah mati.
Dari melirik waktu Kevin menerima tetepon dari mamanya,Biran tahu tombol mana yang harus ia tekan saat menerima panggilan.
“Halo?”Biran menirukan gaya orang yang lagi menerima panggilan telepon.
“Ini siapa?”suara wanita di seberang sana malah bertanya.
Biran diam.Pasti orang ini yang punya benda ini.Benda yang tertinggal diatas mesin ATM.
“Hallo,siapa ya?”suara itu terulang lagi.
“Saya Biran”
“Ini ponsel saya yang ketinggalan di ATM kan?”
“Iya”
“Oh terima kasih Tuhan.”kata suara diseberang sana.”Hallo ,adik.Tante sungguh memerlukan data yang tersimpan di ponsel itu.Tante pasti ngasih hadiah kalau adik mau mengembalikan benda itu kepada tante.”
Dengan mantap Biran menjabab,”Tentu tante.Tapi dimana alamat rumah tante?”
“Oh,tidak perlu.Kamu tidak perlu kerumah tante.Tante yang akan kerumahmu.Ya,dimana alamatmu?”
“Jalan Perjuangan nomor 68,tante,’jawab Biran.
“Ya,nanti sore aku kerumahmu.Tunggu ya...”
Hari menjelang maghrib kala sebuah mobil masuk ke jalan sempit didepan rumah Biran.Ia masih sendiri saja dirumah.Karena ayahnya sudah biasa pulang telat.Karena selain tukang sapu jalan,juga nyambi jadi kuli angkut di pasar sore.
Seorang ibu muda turun dari mobil.Sendiri.Ah,tidak.Tapi berdua dengan anaknya.Yang tentu saja Biran tahu.Itu Kevin.
Biran langsung menyerahkan benda yang sedari tadi sudah ia siapkan.
“Terima kasih,Biran.Kamu anak baik.Karena kamu bisa saja menjual ini.Dan tentu tante kehilangan banyak data penting didalamnya.Kamu sungguh anak baik,Biran.”kata tante itu sambil mengusap rambut Biran.
“Kevin,”sapa Biran.
Kevin diam.
“Oh,kalian sudah saling kenal rupanya?”
Kevin tetap diam.Dan tentu Biran juga diam.Biran tahu,Kevin tentu ingin mengejeknya lagi.Entah tentang apa ejekannya kali ini.Mungkin tentang rumah kontrakannya yang jelek ini.Tetapi,
“Ayo Kevin.Balas dong sapaan temanmu.Tidak baik kamu begitu.Kita harus baik kepada semua orang,Kevin.Apapun keadaannya.Terlebih kepada Biran yang jujur dan baik hati ini...”
Kevin tersenyum.Senyum yang dipaksaan.Ah,tidak.Karena tiba-tiba Kevin memeluk Biran.
“Maafkan aku,Biran.Selama ini aku selalu mengejekmu.Dan kamu tak pernah membalasku.Kamu baik,Biran,Aku malu kepadamu.”kata Kevin.Ada tulus yang terpancar dari sorot matanya.
Ibu Kevin tersenyum bahagia melihat pemandangan itu.
Cuaca begitu cerah pagi ini.Kecerahan itu makin terasa ketika semua melihat Kevin terlihat akrab dengan Biran.Sesuatu yang selama ini tak terjadi.
“Ayo ikut aku,”songsong Biran setiba Biran di sekolah.
“Ada apa?”tanya Biran.
“Ayolah..”Kevin menarik tangan Biran.Masuk kekelas,walau jam pelajaran belum mulai.
“Apa ini?”tanya Biran setelah menerima bungkusan dari Kevin.
“Titipan mamaku untukmu.”
Mata Biran terbelalak.Hadiah?
“Dan yang ini dari aku.Tapi aku ingin kamu membukanya dirumah.Tidak disini,”pesan Biran.
Biran tak bisa berkata banyak.Hanya,”Terima kasih,Kevin.”
“Oh,mamaku yang malah harus berterima kasih padamu.Kalau bukan kamu yang menemukan itu,pasti telah dijualnya barang itu.”
Pulang sekolah,seperti biasa Biran jalan kaki.Tapi ada yang beda hari ini.Tas di punggungnya yang sudah jelek itu terasa lebih berat dari biasanya.Ada dua bungkus hadiah di dalamnya.Ia tak tahu isinya apa.Ia ingin segera membukanya.Ia ingin segera sampai dirumah.Karenanya,walau panas menyengat kulitnya,ia tak mampir dulu mendinginkan diri ke ruang ATM di depan pertokoan itu seperti biasanya.
Sesampainya dirumah,ia lebih dulu membuka bungkusan dari mamanya Kevin.Isinya; baju dan celana baru.Juga selembar uang seratus ribu.Juga ada secarik kertas,tulisannya; Tante mengucapkan selamat lebaran ya.Maaf lahir batin.
Berkaca-kaca Biran membacanya.”Terima kasih ya Allah,”ucapnya lirih.
Ia membuka bungkusan satu lagi.Yang ini dari Kevin.Isinya;tas sekolah baru warna hitam.Ada kertas juga didalamnya.Biran tahu,itu tulisan tangan Kevin.
“Maafkan aku ,Biran.Selama ini aku sering berbuat salah kepadamu.Terimalah ini sebagai hadiah lebaran dariku.Sekaligus aku mohon maaf lahir batin.Kevin”
Mata Biran semakin berkaca-kaca.”Terima kasih ya Allah,”ucapnya lagi.Tetap lirih.***
Minggu, 17 Juli 2011
N y e k a r
BESOK sudah masuk Ramadan.Itu,salah satunya,yang membuat Sekar pulang.Dan syukurlah,suaminya mengijinkan.Malah ikut menyertainya.Tiga tahun sudah mereka tak pulang ke Indonesia.Tiga tahun pula Sekar memegang parport Malaysia.Setelah ia menikah dengan Saleem,pengusaha restoran langganan majikannya saat ia menjadi TKW sebagai baby sitter dulu.
Panah cinta memang kadang menancap tak terduga.Pun,yang dialami Sekar.Selalu menyertai,untuk momong anak majikannya kemanapun,juga ke sebuah restoran milik Saleem.Siapa nyana,Saleem terpikat oleh Sekar.Seorang TKW.Seorang janda.Seorang yang hanya ingin hidup mandiri.Dan memulai hidup baru.Sambil menyembuhkan luka hati,oleh suaminya.Ya,mantan suaminya.Sungguh,ia ingin menghapus kenangan pahitnya bersama Aksan.Sekalipun untuk itu Sekar harus pergi jauh.Dan hanya sebagai pembantu,dinegeri orang pula.
Mendarat di tanah air Jum’at sore.Sabtunya mereka beranjang sana kesanak saudara dan hadai taulan.Karena Minggu Sekar sudah merancang suatu acara khusus; nyekar ke makam.Awalnya Saleem tak habis pikir ketika Sekar mengajaknya ke makam.Makam siapa?Bukankah ayah dan ibunya masih ada.Belum meninggal.Kakek-neneknya juga.Lalu ke makam siapa?
“Makam orang spesial,yang samasa hidupnya sangat mencintaiku,”kata Sekar.
Dan Saleem,dengan segenap cinta,tak kuasa tak mengiyakan kehendak sang istri.
Mobil mengkilap itu,berjalan pelan menapak jalanan kampung.Debu yang beterbangan,mulai pula menerbangkan ingatan Sekar.Dulu.Ya,dulu ia pernah hidup di kampung ini.Kampung yang asli kampung.Walau ia hanya berjarak satu jam bermobil dari kota,ia adalah kampung yang tertinggal,sepertinya.Selalu ada wajah kemiskinan di sana-sini.
“Ikut tak?”tanya Sekar setelah Saleem memarkir mobil di depan makam.
“Bolehlah,”kata Saleem.
Makam khas kampung.Sederhana.Tetapi,apakah memang sebuah tanda kematian harus di megahkan?Entahlah.Sekar tak tahu.Seperti ia yang tak tahu letak makam yang ia tuju.Rumput ilalang berebut tinggi menutupi makam-makam yang tak terawat.Tanda bahwa sang keluarga tak terlalu peduli.
Besok sudah masuk Ramadan.Dan,tidak hanya hanya Sekar,ada beberapa orang yang mengunjungi makam ini.Membawa sabit dan sebungkus kembang.Tapi Sekar? Ia hanya membawa do’a dan kerinduan.Akan sosok Emak,mantan mertuanya.Almarhum sudah ia.Lima tahun lalu beliau berpulang.
Sepeninggal emak pula Sekar menjadi lebih berani.Lebih tak mau diperlakukan semaunya oleh Aksan,suaminya.
“Mabuk lagi kamu ,San?”songsong emak saat tengah malam Aksan pulang.
Aksan sempoyongan merebahkan tubuhnya ke sofa di ruang depan.
Sekar yang baru keluar kamar,memandanginya biasa saja.Terlampau sering ia mendapati suaminya pulang dalam keadaan begitu.Ia merasa lebih baik diam.Mendiamkannya.Walau hatinya terlampau perih.Tersayat-sayat.
Aksan,suaminya,yang dulu lembut dan penuh cinta,entah setan darimana yang menjerumuskannya ke keadaan begini.Luka yang menganga di dada Sekar,tergores saat ia dengan baik-baik menanyakan kenapa tiga hari tak pulang sementara dirumah emak lagi kurang sehat.
“Emak sakit karena memikirkan kamu tak segera memberinya cucu.Kamu mandul!”
Malam itu Sekar terjaga semalaman.Emak memikirkanku yang tak mampu memberinya cucu?Duh.
Emak,mertuanya,yang tak ia bedakan dengan ibunya sendiri,yang Sekar tahu tak pernah ada keruh disorot matanya,yang lugu,yang mengangapnya bukan sebagai menantu,tetapi sudah sebagai anak sendiri.Tak mungkin.Tak mungkin beliau begitu.Buktinya?
“Pergi kamu,Aksan.Pergi.Aku lebih rela kehilanganmu daripada kehilangan Sekar,”ronta emak ketika malam-malam Aksan menampar Sekar,kala ia tak mau memberikan kalung yang melingkar di lehernya.Aksan merebutnya,untuk modal berjudi.
Tamparan itu,rupanya juga sebagai tamparan di hati emak.Emak jatuh sakit.Keadaan yang sudah miskin,membuatnya jatuh lebih miskin.Dan Aksan,tetap asyik dengan dunianya.Tak peduli akan keadaan.Akh,Aksan...
Disebelah pembaringan Emak,Sekar merenung.Kalau bukan karena perempuan tua ini,lama sudah ia ingin bercerai dengan Aksan.Karena,sekalipun ia belum mampu memberinya keturunan,sepenuhnya ia tak mau disalahkan.Ya,ia merasa tak bersalah akan keadaan itu.Tetapi,sudahlah.Tak tertarik Sekar merentang masalah itu lebih panjang.Ia hanya mau memikirkan Emak.Yang makin hari makin lemah.Makin lemah.Lalu meninggal.
Keadaan berubah sudah.Emak sudah tiada.Padahal,dirumah ini,hanya ia yang mencintai Sekar.Selebihnya tidak ada.Aksan,satu-satunya anak Emak sekaligus satu-satunya lelaki dirumah ini,ia angap pula telah tidak ada.Maka,tiga bulan sepeninggal emak,Sekar telah bulat akan tekatnya;bercerai.
“Baik,kuturuti maumu.Toh kamu tak ada gunanya lagi disini,”
Tak sakit sudah hati Sekar di suguhi kata-kata itu.Toh,ia menganggap Aksan telah tidak ada.Sekar ingin bebas.Sekar ingin merdeka.Melupakan masa lalu yang kacau.Ia ingin terbang.Jauh.Menjadi TKW.
“Mencari makam siapa,bu?”lelaki tua membawa cangkul dan sabit mendekat.
Mungkin sejak tadi lelaki itu memperhatikan Sekar yang celingukan mencari letak makam Emak.
“Makam Emak,”jawab Sekar.
“Emak?Emak siapa?”
Sekar melepas kacamata hitamnya.Menoleh kearah Saleem.Padahal ia lebih kepada sedang berusaha mengingat nama mertuanya.Ia selalu memanggilnya Emak.Itu saja.
“Bukan orang tua sendiri,to?”tanya lelaki tua itu lagi.
“Iya”jawab Sekar.
“Kalau begitu,ia masih saudara atau ibunya siapa begitu?”
Oh,ini.Mau tak mau Sekar harus menyebut satu nama.Ya,nama anak Emak.Mantan suaminya.
“Bagaimana,sudah ingat?”
“Aksan...”agak pelan Sekar mengucapnya.
“Oh,mak Imah.Itu.Makamnya disana,”kata lelaki tua itu sambil menunjuk ke sudut timur,disebelah rumpun bambu.
Langkah lelaki tua itu menuntun kaki Sekar dan Saleem mengikuti.Kesebuah makam yang tak terawat mereka menuju.Ah,Aksan.Belum berubah rupanya ia.Sampai-sampai makam ibunya jadi begini.Ilalang nyaris setinggi perut.Dan sepasang nisannya tak terlihat dirambati rumput.
“Boleh saya bersihkan,bu?”kata lelaki tua itu.
Dan Sekar mengiyakannya.
Cekatan lelaki tua itu membabat rumput dan ilalang.Sampai bersih.Tetapi,selama ini Sekar tak mampu membersihkan ingatannya akan Emak.Ia perempuan terbaik dalam hidupnya,selain ibunya sendiri tentu.
Lelaki tua itu mengucap terima kasih seterima-terimakasihnya,saat Sekar memberinya selembar uang limapuluhribuan sebagai uang lelah telah membersihkan makam Emak.Lelaki tua itu sedang beruntung,rupanya.Dan,beruntung,dalam hal apapun,itu yang gagal dinikmati almarhumah Emak.Kasihan Emak.Tetapi semoga,kalau di dunia ia tidak beruntung,disisiNya ia lebih beruntung.
Sekar duduk.Lunglai.Tangan kanannya meraih nisan.Sekuat tenaga ia membendung air matanya.Ia diam.Dan Saleem tahu,Sekar butuh beberapa waktu menikmati rasa diam itu.
“Kutunggu di mobil ya?”katanya.
Sekar mengiyakan.
Sekar menarik nafas dalam.Ingin ia mengirim hawa segar kerongga dadanya yang terasa sesak.Sekaligus ia ingin meminta maaf kepada emak,karena ia datang tak membawa kembang.Tapi ia ingin meyakinkan emak,ia datang membawa sesuatu yang lebih berharga dan lebih wangi ketimbang kembang.Cinta.
Beberapa waktu Sekar hanya diam disitu.Dan,anehnya,ia merasa lega melakukannya.Seperti ia telah berhasil menumpahkan segala rindu didada.Sekali lagi ia menarik nafas.Terasa ringan.Di dadanya tak sesak lagi.Benar,lega sudah.Disaat itu,Sekar ingin pamitan kepada Emak.Ia ingin pulang.Karena,besok pagi,di hari pertama puasa,ia harus balik ke Malaysia.Dalam hati ia berjanji,lain waktu,ia akan kesini lagi.Melepas rindu di makam Emak.
Sebelum Sekar berdiri dari duduknya,ada bayangan orang datang di dekatnya.Laki-laki.Dengan wajah kurus tak terurus.Dan,terkesiap Sekar memandangnya.Ingat betul ia akan laki-laki itu.Ia anak satu-satunya Emak.Ya,laki-laki itu Aksan.
Sekar berdiri.Mengenakan kacamata hitamnya lagi.Dan melangkah.Menuju mobil,yang Saleem telah menunggu didalamnya. *****
Panah cinta memang kadang menancap tak terduga.Pun,yang dialami Sekar.Selalu menyertai,untuk momong anak majikannya kemanapun,juga ke sebuah restoran milik Saleem.Siapa nyana,Saleem terpikat oleh Sekar.Seorang TKW.Seorang janda.Seorang yang hanya ingin hidup mandiri.Dan memulai hidup baru.Sambil menyembuhkan luka hati,oleh suaminya.Ya,mantan suaminya.Sungguh,ia ingin menghapus kenangan pahitnya bersama Aksan.Sekalipun untuk itu Sekar harus pergi jauh.Dan hanya sebagai pembantu,dinegeri orang pula.
Mendarat di tanah air Jum’at sore.Sabtunya mereka beranjang sana kesanak saudara dan hadai taulan.Karena Minggu Sekar sudah merancang suatu acara khusus; nyekar ke makam.Awalnya Saleem tak habis pikir ketika Sekar mengajaknya ke makam.Makam siapa?Bukankah ayah dan ibunya masih ada.Belum meninggal.Kakek-neneknya juga.Lalu ke makam siapa?
“Makam orang spesial,yang samasa hidupnya sangat mencintaiku,”kata Sekar.
Dan Saleem,dengan segenap cinta,tak kuasa tak mengiyakan kehendak sang istri.
Mobil mengkilap itu,berjalan pelan menapak jalanan kampung.Debu yang beterbangan,mulai pula menerbangkan ingatan Sekar.Dulu.Ya,dulu ia pernah hidup di kampung ini.Kampung yang asli kampung.Walau ia hanya berjarak satu jam bermobil dari kota,ia adalah kampung yang tertinggal,sepertinya.Selalu ada wajah kemiskinan di sana-sini.
“Ikut tak?”tanya Sekar setelah Saleem memarkir mobil di depan makam.
“Bolehlah,”kata Saleem.
Makam khas kampung.Sederhana.Tetapi,apakah memang sebuah tanda kematian harus di megahkan?Entahlah.Sekar tak tahu.Seperti ia yang tak tahu letak makam yang ia tuju.Rumput ilalang berebut tinggi menutupi makam-makam yang tak terawat.Tanda bahwa sang keluarga tak terlalu peduli.
Besok sudah masuk Ramadan.Dan,tidak hanya hanya Sekar,ada beberapa orang yang mengunjungi makam ini.Membawa sabit dan sebungkus kembang.Tapi Sekar? Ia hanya membawa do’a dan kerinduan.Akan sosok Emak,mantan mertuanya.Almarhum sudah ia.Lima tahun lalu beliau berpulang.
Sepeninggal emak pula Sekar menjadi lebih berani.Lebih tak mau diperlakukan semaunya oleh Aksan,suaminya.
“Mabuk lagi kamu ,San?”songsong emak saat tengah malam Aksan pulang.
Aksan sempoyongan merebahkan tubuhnya ke sofa di ruang depan.
Sekar yang baru keluar kamar,memandanginya biasa saja.Terlampau sering ia mendapati suaminya pulang dalam keadaan begitu.Ia merasa lebih baik diam.Mendiamkannya.Walau hatinya terlampau perih.Tersayat-sayat.
Aksan,suaminya,yang dulu lembut dan penuh cinta,entah setan darimana yang menjerumuskannya ke keadaan begini.Luka yang menganga di dada Sekar,tergores saat ia dengan baik-baik menanyakan kenapa tiga hari tak pulang sementara dirumah emak lagi kurang sehat.
“Emak sakit karena memikirkan kamu tak segera memberinya cucu.Kamu mandul!”
Malam itu Sekar terjaga semalaman.Emak memikirkanku yang tak mampu memberinya cucu?Duh.
Emak,mertuanya,yang tak ia bedakan dengan ibunya sendiri,yang Sekar tahu tak pernah ada keruh disorot matanya,yang lugu,yang mengangapnya bukan sebagai menantu,tetapi sudah sebagai anak sendiri.Tak mungkin.Tak mungkin beliau begitu.Buktinya?
“Pergi kamu,Aksan.Pergi.Aku lebih rela kehilanganmu daripada kehilangan Sekar,”ronta emak ketika malam-malam Aksan menampar Sekar,kala ia tak mau memberikan kalung yang melingkar di lehernya.Aksan merebutnya,untuk modal berjudi.
Tamparan itu,rupanya juga sebagai tamparan di hati emak.Emak jatuh sakit.Keadaan yang sudah miskin,membuatnya jatuh lebih miskin.Dan Aksan,tetap asyik dengan dunianya.Tak peduli akan keadaan.Akh,Aksan...
Disebelah pembaringan Emak,Sekar merenung.Kalau bukan karena perempuan tua ini,lama sudah ia ingin bercerai dengan Aksan.Karena,sekalipun ia belum mampu memberinya keturunan,sepenuhnya ia tak mau disalahkan.Ya,ia merasa tak bersalah akan keadaan itu.Tetapi,sudahlah.Tak tertarik Sekar merentang masalah itu lebih panjang.Ia hanya mau memikirkan Emak.Yang makin hari makin lemah.Makin lemah.Lalu meninggal.
Keadaan berubah sudah.Emak sudah tiada.Padahal,dirumah ini,hanya ia yang mencintai Sekar.Selebihnya tidak ada.Aksan,satu-satunya anak Emak sekaligus satu-satunya lelaki dirumah ini,ia angap pula telah tidak ada.Maka,tiga bulan sepeninggal emak,Sekar telah bulat akan tekatnya;bercerai.
“Baik,kuturuti maumu.Toh kamu tak ada gunanya lagi disini,”
Tak sakit sudah hati Sekar di suguhi kata-kata itu.Toh,ia menganggap Aksan telah tidak ada.Sekar ingin bebas.Sekar ingin merdeka.Melupakan masa lalu yang kacau.Ia ingin terbang.Jauh.Menjadi TKW.
“Mencari makam siapa,bu?”lelaki tua membawa cangkul dan sabit mendekat.
Mungkin sejak tadi lelaki itu memperhatikan Sekar yang celingukan mencari letak makam Emak.
“Makam Emak,”jawab Sekar.
“Emak?Emak siapa?”
Sekar melepas kacamata hitamnya.Menoleh kearah Saleem.Padahal ia lebih kepada sedang berusaha mengingat nama mertuanya.Ia selalu memanggilnya Emak.Itu saja.
“Bukan orang tua sendiri,to?”tanya lelaki tua itu lagi.
“Iya”jawab Sekar.
“Kalau begitu,ia masih saudara atau ibunya siapa begitu?”
Oh,ini.Mau tak mau Sekar harus menyebut satu nama.Ya,nama anak Emak.Mantan suaminya.
“Bagaimana,sudah ingat?”
“Aksan...”agak pelan Sekar mengucapnya.
“Oh,mak Imah.Itu.Makamnya disana,”kata lelaki tua itu sambil menunjuk ke sudut timur,disebelah rumpun bambu.
Langkah lelaki tua itu menuntun kaki Sekar dan Saleem mengikuti.Kesebuah makam yang tak terawat mereka menuju.Ah,Aksan.Belum berubah rupanya ia.Sampai-sampai makam ibunya jadi begini.Ilalang nyaris setinggi perut.Dan sepasang nisannya tak terlihat dirambati rumput.
“Boleh saya bersihkan,bu?”kata lelaki tua itu.
Dan Sekar mengiyakannya.
Cekatan lelaki tua itu membabat rumput dan ilalang.Sampai bersih.Tetapi,selama ini Sekar tak mampu membersihkan ingatannya akan Emak.Ia perempuan terbaik dalam hidupnya,selain ibunya sendiri tentu.
Lelaki tua itu mengucap terima kasih seterima-terimakasihnya,saat Sekar memberinya selembar uang limapuluhribuan sebagai uang lelah telah membersihkan makam Emak.Lelaki tua itu sedang beruntung,rupanya.Dan,beruntung,dalam hal apapun,itu yang gagal dinikmati almarhumah Emak.Kasihan Emak.Tetapi semoga,kalau di dunia ia tidak beruntung,disisiNya ia lebih beruntung.
Sekar duduk.Lunglai.Tangan kanannya meraih nisan.Sekuat tenaga ia membendung air matanya.Ia diam.Dan Saleem tahu,Sekar butuh beberapa waktu menikmati rasa diam itu.
“Kutunggu di mobil ya?”katanya.
Sekar mengiyakan.
Sekar menarik nafas dalam.Ingin ia mengirim hawa segar kerongga dadanya yang terasa sesak.Sekaligus ia ingin meminta maaf kepada emak,karena ia datang tak membawa kembang.Tapi ia ingin meyakinkan emak,ia datang membawa sesuatu yang lebih berharga dan lebih wangi ketimbang kembang.Cinta.
Beberapa waktu Sekar hanya diam disitu.Dan,anehnya,ia merasa lega melakukannya.Seperti ia telah berhasil menumpahkan segala rindu didada.Sekali lagi ia menarik nafas.Terasa ringan.Di dadanya tak sesak lagi.Benar,lega sudah.Disaat itu,Sekar ingin pamitan kepada Emak.Ia ingin pulang.Karena,besok pagi,di hari pertama puasa,ia harus balik ke Malaysia.Dalam hati ia berjanji,lain waktu,ia akan kesini lagi.Melepas rindu di makam Emak.
Sebelum Sekar berdiri dari duduknya,ada bayangan orang datang di dekatnya.Laki-laki.Dengan wajah kurus tak terurus.Dan,terkesiap Sekar memandangnya.Ingat betul ia akan laki-laki itu.Ia anak satu-satunya Emak.Ya,laki-laki itu Aksan.
Sekar berdiri.Mengenakan kacamata hitamnya lagi.Dan melangkah.Menuju mobil,yang Saleem telah menunggu didalamnya. *****
Kamis, 14 Juli 2011
Pabrik Kata-kata
JARAK antara rumah saya dengan kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) tak lebih dari seratus meter. Dari gang Perjuangan depan rumah saya lurus ke barat via gang Perdamaian,sudah membentur dinding SIER.
Kalau hari Minggu pagi,saya sering berolah raga (sekalipun itu hanya dengan menggendong si kecil dan melihat si sulung berlari-lari kecil) ke sana.Sambil memperhatikan satu persatu pabrik di situ.
Ada pabrik lampu,pabrik minuman ringan,pabrik karpet,obat nyamuk bakar,baterai,rokok,sabun,minyak goreng,sepeda,es krim,lem,cat,besi,sendok,piring,gelas dan sebagainya,dan seterusnya.
Mereka terus saja berproduksi.Saban hari. Okelah,saya bisa menerima kalau barang yang dihasilkan jenis konsumsi.Yang saban hari dimakan atau dinikmati.Rukok yang selalu dibakar,seperti obat nyamuk.Atau es krim dan minyak goreng.Atau sabun dan baterai.Tetapi kalau sendok?
Saya tahu istri saya sejak sekian tahun lalu tak pernah lagi beli sendok.Karena ia awet.Ia tak dimakan.Tetapi pabriknya saban hari bikin lagi.Untuk siapa?Untuk yang sendoknya hilang?Rusak?
Saya tak hendak mencari tahu lebih jauh.Saya hanya iseng membandingkannya dengan 'barang' produksi saya;kata-kata.
Ya,kata!Saya kira ia selalu dibutuhkan sepanjang ada yang baca.Dalam hal ini,peluangnya sudah ditangkap Joger di Bali atau Dagadu di Jogja.Ia bisa sebagai nilai lebih yang menempel pada kaos oblong.
Tetapi saya juga menganggap setiap kita adalah juga pabrik kata-kata.Sebentuk 'barang' yang selalu dibutuhkan.Termasuk di blog ini.
Maka,mari kita selalu memproduksi kata-kata.*****
Kalau hari Minggu pagi,saya sering berolah raga (sekalipun itu hanya dengan menggendong si kecil dan melihat si sulung berlari-lari kecil) ke sana.Sambil memperhatikan satu persatu pabrik di situ.
Ada pabrik lampu,pabrik minuman ringan,pabrik karpet,obat nyamuk bakar,baterai,rokok,sabun,minyak goreng,sepeda,es krim,lem,cat,besi,sendok,piring,gelas dan sebagainya,dan seterusnya.
Mereka terus saja berproduksi.Saban hari. Okelah,saya bisa menerima kalau barang yang dihasilkan jenis konsumsi.Yang saban hari dimakan atau dinikmati.Rukok yang selalu dibakar,seperti obat nyamuk.Atau es krim dan minyak goreng.Atau sabun dan baterai.Tetapi kalau sendok?
Saya tahu istri saya sejak sekian tahun lalu tak pernah lagi beli sendok.Karena ia awet.Ia tak dimakan.Tetapi pabriknya saban hari bikin lagi.Untuk siapa?Untuk yang sendoknya hilang?Rusak?
Saya tak hendak mencari tahu lebih jauh.Saya hanya iseng membandingkannya dengan 'barang' produksi saya;kata-kata.
Ya,kata!Saya kira ia selalu dibutuhkan sepanjang ada yang baca.Dalam hal ini,peluangnya sudah ditangkap Joger di Bali atau Dagadu di Jogja.Ia bisa sebagai nilai lebih yang menempel pada kaos oblong.
Tetapi saya juga menganggap setiap kita adalah juga pabrik kata-kata.Sebentuk 'barang' yang selalu dibutuhkan.Termasuk di blog ini.
Maka,mari kita selalu memproduksi kata-kata.*****
Minggu, 03 Juli 2011
Khitanan Keponakan
NYARIS duapuluh tahun lebih saya tidak menginjakkan kaki di kampung kakak saya di kaki gunung Kumitir. Di perbatasan Jember-Banyuwangi sana. Sebuah kampung, yang membayangkannya saja seakan sudah merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Dan hari itu,disebabkan oleh selembar kabar, saya harus 'terbang' kesana lagi.
Ya, kakak sulung saya punya hajat; mengkhitankan anak sulungnya.
Perjalanan panjang dari Surabaya sampai ujung Jember paling timur, harus saya lalui. Tidak ada kisah menarik yang laik tulis hampir sepanjang jalan. Kecuali setibanya saya di terminal Tawangalun Jember.
Perut yang berkoar-koar karena lapar, harus saya siksa lagi karena saya melihat semua kedai yang menjual makanan di terminal kurang terjaga kebersihannya. (ini dulu, semoga sekarang sudah lebih baik). Setelah sekedar cuci muka dan buang air di toilet terminal, melanjutkan perjalan ke Pal Kuning; nama ancar-ancar turun saya dari bus nanti, yang sekaligus sebagai main gate menuju kampung kakak saya.
“Pal Kuning?” tanya saya pada sopir yang sudah siap di kokpit bus AKDP Jember-Banyuwangi.
“Iya,” jawaban itu mendorong saya naik bus yang tampil tanpa AC ini.
Lupa sudah saya akan waktu tempuh Tawangalun-Pal Kuning. Perkiraan kasar saya,pasti kurang dari sejam. Tapi lebih dari tigapuluh menit. Atau entahlah. Tetapi saya sangat ingat, lagu yang diputar dalam bus ini suara Sumiyati, penyanyi lagu-lagu kendang-kempul Banyuwangi yang sudah sekian belas tahun tak lagi pernah mampir ke telinga saya.
Lumayanlah, tidak terlalu jenuh sambil menunggu bus penuh. Menunggu berangkat. Tetapi, saya sudah lebih dulu memberangkatkan ingatan saya ke kampung kakak saya itu. Saat pertama kali dulu menginjakkan kaki disitu. Sidomulyo, nama kampung yang sepi itu. Yang masuk dalam wilayah kecamatan Silo. Yang dinginnya minta ampun. Yang kedalamnan sumurnya luar biasa, yang butuh biaya besar untuk membuatnya. Makanya tak setiap orang punya sumur. Kampung yang asrinya lamiah sekali, berhias pohon pinus, bertanah pasir halus.
Bus akhirnya berangkat juga, walau penumpang dalam perutnya tak seberapa. Lazim sudah, besarnya populasi pengguna motor menggerus jumlah penumpang angkutan umum yang sering tampil seadanya. Juga tingkat keselamatan yang sekadarnya.
Lepas dari wilayah kota, yang pembangunannya pesat melesat tak meleset dari dugaan saya, meninggalkan Pakusari. Menusuk pedesaan yang sejuk. Meliuk-liuk. Hawa dingin mulai menyapa. Rakus saya menghirup udaranya, memanjakan mata menatap kehijauan aneka tanaman dikiri-kanan jalan. Sejuk, asri, hijau....
Saya sengaja mengambil duduk dibelakang pak sopir. Agar bisa segera mengenali Pal Kuning. Dan bisa bilang, ”Kiri,” sebagai aba-aba kepada si sopir.
“Masih jauh,mas,” suara pak sopir itu pertanda beliau tahu maksud saya.
Saya melihat plang toko. Oh, sudah masuk Silo. Berarti Pal Kuning sudah dekat. Benar saja, tanpa saya aba-aba pak sopir menurunkan saya kesebuah tempat. Dan mencari kesegala arah, mata saya gagal menemukan tanda atau tulisan Pal Kuning. Ah, jangan-jangan,ini sudah sebagai nama abadi. Seperti nama sebuah pertigaan yang acap kali sebagai tempat orang naik-turun bus di timur pasar Kencong sana; Toko Ijo.Walau nantinya toko itu sudah tidak ada, tetap saja orang menyebut namanya.
Sebagai pintu gerbang Pal Kuning, jangan bayangkan terdapat gapura disitu. Kanan kiri hanya hutan pohon pinus.
Duduk di jok belakang tukang ojek, tak terasa adrenalin terpompa juga. Jalan makadam berhias bebatuan, naik turun, meliuk itu penyebabnya. Dan motor tua tanpa busana (hanya rangka, mesin dan dua roda) tanpa aksesoris menempel ditubuhnya, tampil lincah ditangan pengojek tanpa helm ini. Sekalipun sudah sangat lama tidak kesini, mencari rumah orang di kampung memang ada mudahnya. Karena nyaris semua orang saling kenal. Tidak seperti dikota. Lebih-lebih kakak saya ini sedang punya hajat. Pastilah ada terop (tenda) dan segala perlengkapannya.
Benar saja. Menjelang asyar saya tiba. Turun dari motor menenteng tas berisi baju ganti dan sedikit buah tangan untuk keponakan. Tetapi....
Kedatangan saya disambut oleh suara tangis histeris. Yang volumenya nyaris mengalahkan suara sound system yang sedang bendentum. Ada sedikit kepanikan tercipta. Ternyata itu tangis keponakan saya yang akan dikhitan. Kakak saya sibuk mendiamkan tangisnya. Saya juga. Tetapi semakin saya mendekat, semakin menjadi-jadi tangisnya.
Oh, adakah saya 'ketempelan' makhluk halus penunggu Pal Kuning, yang membuat keponakan saya ketakutan?
Mau tak mau saya harus keluar dari kamar keponakan saya itu. Sebagai tamu, kedatangan saya agak terabaikan. Saya maklum saja. Kakak saya sedang sibuk menenangkan anaknya. Saya duduk diruang tamu, sambil menikmati hidangan walau belum disilakan. Tak apa-apa, toh ini rumah kakak saya. Saya sudah sangat tidak tega membiarkan lambung saya menggelepar-gelepar.
Ditengah saya menikmati hidangan itu, suara tangis dikamar berhenti sudah. Malah berganti suara tawa. Tawa beersama-sama. Seperti koor.
Kakak saya keluar kamar masih ada tawa yang menempel dibibirnya, ”Ada-ada saja...” gumamnya.
“Kenapa?” tanya saya.
“Dia nyangka kamu tukang sunat yang akan mengkhitannya,” jawab kakak saya.
Oh.****
Ya, kakak sulung saya punya hajat; mengkhitankan anak sulungnya.
Perjalanan panjang dari Surabaya sampai ujung Jember paling timur, harus saya lalui. Tidak ada kisah menarik yang laik tulis hampir sepanjang jalan. Kecuali setibanya saya di terminal Tawangalun Jember.
Perut yang berkoar-koar karena lapar, harus saya siksa lagi karena saya melihat semua kedai yang menjual makanan di terminal kurang terjaga kebersihannya. (ini dulu, semoga sekarang sudah lebih baik). Setelah sekedar cuci muka dan buang air di toilet terminal, melanjutkan perjalan ke Pal Kuning; nama ancar-ancar turun saya dari bus nanti, yang sekaligus sebagai main gate menuju kampung kakak saya.
“Pal Kuning?” tanya saya pada sopir yang sudah siap di kokpit bus AKDP Jember-Banyuwangi.
“Iya,” jawaban itu mendorong saya naik bus yang tampil tanpa AC ini.
Lupa sudah saya akan waktu tempuh Tawangalun-Pal Kuning. Perkiraan kasar saya,pasti kurang dari sejam. Tapi lebih dari tigapuluh menit. Atau entahlah. Tetapi saya sangat ingat, lagu yang diputar dalam bus ini suara Sumiyati, penyanyi lagu-lagu kendang-kempul Banyuwangi yang sudah sekian belas tahun tak lagi pernah mampir ke telinga saya.
Lumayanlah, tidak terlalu jenuh sambil menunggu bus penuh. Menunggu berangkat. Tetapi, saya sudah lebih dulu memberangkatkan ingatan saya ke kampung kakak saya itu. Saat pertama kali dulu menginjakkan kaki disitu. Sidomulyo, nama kampung yang sepi itu. Yang masuk dalam wilayah kecamatan Silo. Yang dinginnya minta ampun. Yang kedalamnan sumurnya luar biasa, yang butuh biaya besar untuk membuatnya. Makanya tak setiap orang punya sumur. Kampung yang asrinya lamiah sekali, berhias pohon pinus, bertanah pasir halus.
Bus akhirnya berangkat juga, walau penumpang dalam perutnya tak seberapa. Lazim sudah, besarnya populasi pengguna motor menggerus jumlah penumpang angkutan umum yang sering tampil seadanya. Juga tingkat keselamatan yang sekadarnya.
Lepas dari wilayah kota, yang pembangunannya pesat melesat tak meleset dari dugaan saya, meninggalkan Pakusari. Menusuk pedesaan yang sejuk. Meliuk-liuk. Hawa dingin mulai menyapa. Rakus saya menghirup udaranya, memanjakan mata menatap kehijauan aneka tanaman dikiri-kanan jalan. Sejuk, asri, hijau....
Saya sengaja mengambil duduk dibelakang pak sopir. Agar bisa segera mengenali Pal Kuning. Dan bisa bilang, ”Kiri,” sebagai aba-aba kepada si sopir.
“Masih jauh,mas,” suara pak sopir itu pertanda beliau tahu maksud saya.
Saya melihat plang toko. Oh, sudah masuk Silo. Berarti Pal Kuning sudah dekat. Benar saja, tanpa saya aba-aba pak sopir menurunkan saya kesebuah tempat. Dan mencari kesegala arah, mata saya gagal menemukan tanda atau tulisan Pal Kuning. Ah, jangan-jangan,ini sudah sebagai nama abadi. Seperti nama sebuah pertigaan yang acap kali sebagai tempat orang naik-turun bus di timur pasar Kencong sana; Toko Ijo.Walau nantinya toko itu sudah tidak ada, tetap saja orang menyebut namanya.
Sebagai pintu gerbang Pal Kuning, jangan bayangkan terdapat gapura disitu. Kanan kiri hanya hutan pohon pinus.
Duduk di jok belakang tukang ojek, tak terasa adrenalin terpompa juga. Jalan makadam berhias bebatuan, naik turun, meliuk itu penyebabnya. Dan motor tua tanpa busana (hanya rangka, mesin dan dua roda) tanpa aksesoris menempel ditubuhnya, tampil lincah ditangan pengojek tanpa helm ini. Sekalipun sudah sangat lama tidak kesini, mencari rumah orang di kampung memang ada mudahnya. Karena nyaris semua orang saling kenal. Tidak seperti dikota. Lebih-lebih kakak saya ini sedang punya hajat. Pastilah ada terop (tenda) dan segala perlengkapannya.
Benar saja. Menjelang asyar saya tiba. Turun dari motor menenteng tas berisi baju ganti dan sedikit buah tangan untuk keponakan. Tetapi....
Kedatangan saya disambut oleh suara tangis histeris. Yang volumenya nyaris mengalahkan suara sound system yang sedang bendentum. Ada sedikit kepanikan tercipta. Ternyata itu tangis keponakan saya yang akan dikhitan. Kakak saya sibuk mendiamkan tangisnya. Saya juga. Tetapi semakin saya mendekat, semakin menjadi-jadi tangisnya.
Oh, adakah saya 'ketempelan' makhluk halus penunggu Pal Kuning, yang membuat keponakan saya ketakutan?
Mau tak mau saya harus keluar dari kamar keponakan saya itu. Sebagai tamu, kedatangan saya agak terabaikan. Saya maklum saja. Kakak saya sedang sibuk menenangkan anaknya. Saya duduk diruang tamu, sambil menikmati hidangan walau belum disilakan. Tak apa-apa, toh ini rumah kakak saya. Saya sudah sangat tidak tega membiarkan lambung saya menggelepar-gelepar.
Ditengah saya menikmati hidangan itu, suara tangis dikamar berhenti sudah. Malah berganti suara tawa. Tawa beersama-sama. Seperti koor.
Kakak saya keluar kamar masih ada tawa yang menempel dibibirnya, ”Ada-ada saja...” gumamnya.
“Kenapa?” tanya saya.
“Dia nyangka kamu tukang sunat yang akan mengkhitannya,” jawab kakak saya.
Oh.****
Minggu, 26 Juni 2011
Presiden Kupu-kupu
ENAM tahun lebih menjadi ajudan presiden,belum pernah saya lihat presiden segirang Minggu pagi ini.Wajahnya terang benderang,lebih bersinar ketimbang saat menang dalam pemilihan untuk jabatan kedua tahun lalu. “Lihatlah,”katanya.Mengajak saya melempar pandang kesegala penjuru taman sekeliling istana.”Si biru,si merah,si hijau dan segala warna telah mulai segar.Daun-daunnya lebat.Dan tunggulah,beberapa hari lagi mereka akan berbunga secara bersamaan.”
Berkali-kali saya lihat presiden geleng-geleng kepala kegirangan.Dan,diam-diam,saya selalu geleng-geleng kepala tak mengerti.Tapi saya ingat,presiden setelah sowan ke guru spiritualnya tiga bulan lalu,langsung mengelar rapat penting dengan menteri pertamanan.Hasilnya,dua hari setelah rapat itu,seluruh tanaman hias diistana dibabat habis.Semua diganti tanaman baru.Bunga-bunga dari jenis entah apa.
Tanaman bunga yang belum berbunga pun telah menggirangkan sang presiden.Terlihat indah memang.Taman istana yang luas itu terasa tampil beda.Pengelompokan jenis bunga yang apik,dan penataan yang eksotik;pastilah menteri pertamanan dan timnya telah bekerja sangat keras memenuhi permintaan sang presiden.Dan tanaman bunga itu,daunnya saja sudah memancarkan keindahan.Baru kali ini saya melihat tanaman bunga dengan daun beraneka warna.Biru,merah,hijau,kuning,ungu.Oh,pikiran saya jadi usil.Ya,usil.
Bukan hanya berpikir,tetapi saya iseng menghitung jumlah jenis tanaman bunga berdaun aneka warna.Jumlahnya empat puluh tujuh jenis.Berarti empat puluh tujuh warna daun.”Lhadalah,kok sama dengan jumlah partai di negeri ini....”batin saya bergumam.
Jum’at sore,ketika matahari mengurangi voltage pancarannya,selepas presiden mengantar pulang tamu kenegaraan di bandara kepresidenan,begitu tiba di istana langsung melihat-lihat tamannya.
“Menurut menteri pertamanan,dua hari lagi mereka akan serentak berbunga,”kata presiden entah kepada siapa.Tapi karena hanya saya yang didekatnya,mungkin saja kalimat itu memang diperdengarkan kepada saya.
“Sudah tak sabar rasanya menungu hari tu,”kata beliau lagi.
Saya diam.Tetap diam.
“Kamu mesti ikut,”presiden menoleh kearah saya.”Seluruh rakyat negeri ini mesti ikut.”
“Maaf,pak.Maksud bapak?”tanya saya.
“Ah,nantilah kamu pasti tahu maksudku.”
Minggu sore,ketika matahari perlahan-lahan mematikan sinarnya;presiden didampingi istri dan menteri pertamanan mengelilingi taman.
“Semua kita memang harus siap menghadapi perubahan.Kalau tidak ingin digilas perubahan itu sendiri.Makanya,sebelum mereka menggilas kita,kita harus lebih dulu berubah.”
“Apa rakyat kita sudah siap,pak?”tanya ibu negara.
“Makanya,sebelum mereka siap,kita dulu yang pertama.Kapan kira-kira kita bisa mulai,pak menteri?”
“Kalau menurut hitungan,seminggu setelah bunga pada mekar secara keseluruhan,proses selanjutnya segera menyusul.Tiga hari berikutnya,kita mulai bisa mengumpulkan ke gudang baru di selatan istana.Tiga puluh enam hari kemudian,kita mulai perubahan,”sungguh saya belum paham pada yang dijelaskan menteri pertamanan barusan.
Tetapi bapak presiden sungguh sangat terkesan.Sungguh.
Benar saja,sesuai hitungan pak menteri pertamanan,bunga-bunga mulai bermekaran.Indahnya tak terkatakan.Bapak presiden senangnya juga tak terkatakan.Dan memang sudah direncanakan,seluruh agenda presiden dikosongkan sampai tigapuluh enam hari kedepan.
Negara berjalan seperti biasa saja.Tak ada yang berubah.Setidaknya belum.Aktifitas istana juga berjalan;Wakil presiden yang jarang muncul,juru bicara yang selalu bicara,anggota dewan yang tetap begitu,petani tetap bertani,koruptor yang tetap suka korupsi,menteri keuangan yang selalu mencari pinjaman.Pokoknya berjalan,kehidupan tetap berjalan.Sekalipun mungkin ditempat.Kalau sudah begini,kadang saya berpikir,”Untuk apa ada presiden?”
Tanaman bunga yang aneh,pikir saya.Bunga berdaun biru bunganya merekah merah.Berdaun kuning berbunga hijau.Diantara keheranan saya itu,presiden malah bahagia setengah mati.Tiada henti dan tiada jemu mengelilingi taman sekehendak hati.Pagi,siang bahkan tengah malam.
“Lihatlah,”entah sudah berapa ratus kali beliau mengatakan kata yang sama.Sejak halaman istana ini ditanami bunga aneh bin nyata.Selalu.Selalu mengajak mata saya memandang hamparan bunga yang sangat tertata.”Besok.Pagi-pagi sekali akan terjadi,”sambung beliau.
Benarlah adanya.Pagi-pagi sekali,ketika saya hendak menemani beliau berolah raga berlari mengelilingi istana seperti biasa,ada yang tak biasa dimata saya.Dan karena yang tak biasa itu,beliau membatalkan acara olahraga paginya.
“Perubahan sudah mulai hari ini rupanya,”kata presiden sambil mendekati tanaman bunga satu persatu.Sampai semua.Sampai beliau bilang,”Ya,semua sudah datang.”
Siapa yang datang?
Saya heran,setiap beliau mendekati kuntum bunga,beliau riang luar biasa.Ada apa gerangan?Saya ikut mendekati bunga-bunga itu.Dan,oh!Ulat!Ribuan ulat kecil panjang sewarna daun bunga.Ulat kuning di bunga berdaun kuning,ulat hijau di daun hijau,ulat biru di biru,dsb,dst.
Oh,Tuhan.Keanehan apa lagi ini?Tapi presiden tetap riang.Makin riang.Melihat ulat-ulat itu mulai melahap daun bagiannya.Ulat ungu memakan daun ungu,ulat hitam makan daun hitam,ulat kelabu makan kelabu.Otak saya menjadi buntu memikirkan tanaman bunga berdaun sewarna,lalu kembang yang seperti tukar posisi,lalu sekarang ulat.Duh.
Melihat ulat sedang makan,presiden malah lupa makan.Mengamati dengan seksama para ulat yang lahap menyantap daun-daun bunga.Ulat-ulat tetap tertib.Belum memakan daun yang tidak sewarna.Ulat yang tadi pagi kecil panjang,kini terlihat gemuk dan lamban. Tetapi tetap lahap.Makin lahap.Tiada merasa kenyang rupanya.Makin siang makin garang.Makin berani.Termasuk memakan yang sedari tadi seperti tabu untuk dilakukan.Ulat-ulat yang yang tadi tertib sekarang tak tahu aturan.Memakan bunga yang bukan sewarna bulunya.
Ulat hijau makan daun merah,ulat biru makan ungu dan seterusnya.Dan sebagainya.
Menjelang petang,ulat-ulat berhenti makan.Tepatnya tiada yang dimakan.Habis sudah daun,bunga dan batangnya sekalian.Taman istana terasa aneh kini.Tanpa bunga.Tanpa hiasan.Kecuali ribuan ulat yang gemuk seukuran lengan.Menjijikkan.Tetapi presiden tidak jijik.Beliau,dengan semangat,memungutinya satu persatu.Memindahkannya ke gudang yang telah disiapkan di selatan istana.Dan,walau merasa jijik,saya ikutan membantu.Ibu negara juga turut serta.Para menteri dan nyonyanya masing-masing juga ikut.Pasukan pengawal presiden juga.Memungutinya satu persatu. Memindahkannya ke gudang.
Tepat tengah malam,usai sudah semua.
“Kunci pintunya,”perintah presiden.
Dan dengan sigap,komandan pasukan penjaga mengunci pintu gudang.Para menteri,termasuk saya sebagai ajudan presiden,merasa puas.Kerja menjijikkan seharian selesai sudah.Tetapi,
“Presiden dan ibu mana?”tanya saya.
Para menteri saling pandang.Pasukan pengaman presiden juga saling pandang.
“Didalam gudang?!”
“Lho?!”
“Bagaimana ini?! Presiden kok dikunci dari luar?”
“Sudahlah,”kata menteri pertamanan.”Beliau menginginkan begitu.Jangan panik,pada saatnya nanti beliau akan keluar sendiri.”
Tanpa ada presiden semua masih berjalan.Seakan masih ada presiden.Tetapi saya,sebagai ajudan,menjadi tak ada kerjaan.Seharian hanya memandangi pintu gudang yang terkunci rapat.Tidak hanya dari luar,tetapi juga dari dalam.Sehari,dua hari,seminggu,tiga minggu dan....suatu pagi dihari ke tigapuluh enam;...
Ada suara aneh berasal dari dalam gudang.Suara dengung,ah bukan.Suara desis,juga bukan.Suara aneh pokoknya.Seperti desir angin.Tapi lembut.Lembut sekali.
Menteri pertamanan datang tergopoh-gopoh.”Sekarang waktunya.Ya,sekarang,’katanya langsung menuju pintu.Membuka kuncinya,lalu membuka pintunya,lalu....
“Ya,Tuhan..”gumam saya begitu pintu gudang terbuka.Dan mata saya langsung menangkap isi gudang.Ribuan,atau bahkan ratusan ribu mahkluk nan indah siap mengepakkan sayap untuk terbang.Kupu-kupu.Aneka rupa,aneka warna.,”Rupanya ini asal suara aneh tadi,”batin saya.
Mata saya lalu tanpa lelah memandang kupu-kupu yang satu per satu terbang keluar gudang.Terbang mengitari istana.Ribuan,bahkan ratusan ribu.Terbang dengan aneka formasi.Indah,sangat indah.Tapi dimana presiden dan ibu negara?!Apa yang terjadi dengan beliau berdua?Dan...
Ketika hampir seluruh kupu-kupu keluar gudang,ada sepasang kupu-kupu besar mendekati pintu.Siap ikut terbang.Kupu-kupu yang besar.Kupu-kupu yang indah.Presiden dan ibu negarakah itu?
Dan,sayap mulai dikepakkan.Ringan.Sepasang kupu-kupu itu terbang sudah.Dan saya yakin.Itu presiden beserta ibu negara.Terbang.Turut mengitari angkasa diatas istana.Sebagai ajudan,saya harus ikut.Harusnya.Tetapi saya bukan kupu-kupu.Saya tentu tidak bisa terbang.Saya tidak punya sayap.Saya hanya punya sepasang tangan.”Tangan?!,”saya terkejut setengah mati melihat sepasang tangan saya.Benarkah ini tangan.Kenapa melebar?Kenapa menjadi tipis?Aha,ini sayap.Sayap yang indah.Sayap kupu-kupu.****
Berkali-kali saya lihat presiden geleng-geleng kepala kegirangan.Dan,diam-diam,saya selalu geleng-geleng kepala tak mengerti.Tapi saya ingat,presiden setelah sowan ke guru spiritualnya tiga bulan lalu,langsung mengelar rapat penting dengan menteri pertamanan.Hasilnya,dua hari setelah rapat itu,seluruh tanaman hias diistana dibabat habis.Semua diganti tanaman baru.Bunga-bunga dari jenis entah apa.
Tanaman bunga yang belum berbunga pun telah menggirangkan sang presiden.Terlihat indah memang.Taman istana yang luas itu terasa tampil beda.Pengelompokan jenis bunga yang apik,dan penataan yang eksotik;pastilah menteri pertamanan dan timnya telah bekerja sangat keras memenuhi permintaan sang presiden.Dan tanaman bunga itu,daunnya saja sudah memancarkan keindahan.Baru kali ini saya melihat tanaman bunga dengan daun beraneka warna.Biru,merah,hijau,kuning,ungu.Oh,pikiran saya jadi usil.Ya,usil.
Bukan hanya berpikir,tetapi saya iseng menghitung jumlah jenis tanaman bunga berdaun aneka warna.Jumlahnya empat puluh tujuh jenis.Berarti empat puluh tujuh warna daun.”Lhadalah,kok sama dengan jumlah partai di negeri ini....”batin saya bergumam.
Jum’at sore,ketika matahari mengurangi voltage pancarannya,selepas presiden mengantar pulang tamu kenegaraan di bandara kepresidenan,begitu tiba di istana langsung melihat-lihat tamannya.
“Menurut menteri pertamanan,dua hari lagi mereka akan serentak berbunga,”kata presiden entah kepada siapa.Tapi karena hanya saya yang didekatnya,mungkin saja kalimat itu memang diperdengarkan kepada saya.
“Sudah tak sabar rasanya menungu hari tu,”kata beliau lagi.
Saya diam.Tetap diam.
“Kamu mesti ikut,”presiden menoleh kearah saya.”Seluruh rakyat negeri ini mesti ikut.”
“Maaf,pak.Maksud bapak?”tanya saya.
“Ah,nantilah kamu pasti tahu maksudku.”
Minggu sore,ketika matahari perlahan-lahan mematikan sinarnya;presiden didampingi istri dan menteri pertamanan mengelilingi taman.
“Semua kita memang harus siap menghadapi perubahan.Kalau tidak ingin digilas perubahan itu sendiri.Makanya,sebelum mereka menggilas kita,kita harus lebih dulu berubah.”
“Apa rakyat kita sudah siap,pak?”tanya ibu negara.
“Makanya,sebelum mereka siap,kita dulu yang pertama.Kapan kira-kira kita bisa mulai,pak menteri?”
“Kalau menurut hitungan,seminggu setelah bunga pada mekar secara keseluruhan,proses selanjutnya segera menyusul.Tiga hari berikutnya,kita mulai bisa mengumpulkan ke gudang baru di selatan istana.Tiga puluh enam hari kemudian,kita mulai perubahan,”sungguh saya belum paham pada yang dijelaskan menteri pertamanan barusan.
Tetapi bapak presiden sungguh sangat terkesan.Sungguh.
Benar saja,sesuai hitungan pak menteri pertamanan,bunga-bunga mulai bermekaran.Indahnya tak terkatakan.Bapak presiden senangnya juga tak terkatakan.Dan memang sudah direncanakan,seluruh agenda presiden dikosongkan sampai tigapuluh enam hari kedepan.
Negara berjalan seperti biasa saja.Tak ada yang berubah.Setidaknya belum.Aktifitas istana juga berjalan;Wakil presiden yang jarang muncul,juru bicara yang selalu bicara,anggota dewan yang tetap begitu,petani tetap bertani,koruptor yang tetap suka korupsi,menteri keuangan yang selalu mencari pinjaman.Pokoknya berjalan,kehidupan tetap berjalan.Sekalipun mungkin ditempat.Kalau sudah begini,kadang saya berpikir,”Untuk apa ada presiden?”
Tanaman bunga yang aneh,pikir saya.Bunga berdaun biru bunganya merekah merah.Berdaun kuning berbunga hijau.Diantara keheranan saya itu,presiden malah bahagia setengah mati.Tiada henti dan tiada jemu mengelilingi taman sekehendak hati.Pagi,siang bahkan tengah malam.
“Lihatlah,”entah sudah berapa ratus kali beliau mengatakan kata yang sama.Sejak halaman istana ini ditanami bunga aneh bin nyata.Selalu.Selalu mengajak mata saya memandang hamparan bunga yang sangat tertata.”Besok.Pagi-pagi sekali akan terjadi,”sambung beliau.
Benarlah adanya.Pagi-pagi sekali,ketika saya hendak menemani beliau berolah raga berlari mengelilingi istana seperti biasa,ada yang tak biasa dimata saya.Dan karena yang tak biasa itu,beliau membatalkan acara olahraga paginya.
“Perubahan sudah mulai hari ini rupanya,”kata presiden sambil mendekati tanaman bunga satu persatu.Sampai semua.Sampai beliau bilang,”Ya,semua sudah datang.”
Siapa yang datang?
Saya heran,setiap beliau mendekati kuntum bunga,beliau riang luar biasa.Ada apa gerangan?Saya ikut mendekati bunga-bunga itu.Dan,oh!Ulat!Ribuan ulat kecil panjang sewarna daun bunga.Ulat kuning di bunga berdaun kuning,ulat hijau di daun hijau,ulat biru di biru,dsb,dst.
Oh,Tuhan.Keanehan apa lagi ini?Tapi presiden tetap riang.Makin riang.Melihat ulat-ulat itu mulai melahap daun bagiannya.Ulat ungu memakan daun ungu,ulat hitam makan daun hitam,ulat kelabu makan kelabu.Otak saya menjadi buntu memikirkan tanaman bunga berdaun sewarna,lalu kembang yang seperti tukar posisi,lalu sekarang ulat.Duh.
Melihat ulat sedang makan,presiden malah lupa makan.Mengamati dengan seksama para ulat yang lahap menyantap daun-daun bunga.Ulat-ulat tetap tertib.Belum memakan daun yang tidak sewarna.Ulat yang tadi pagi kecil panjang,kini terlihat gemuk dan lamban. Tetapi tetap lahap.Makin lahap.Tiada merasa kenyang rupanya.Makin siang makin garang.Makin berani.Termasuk memakan yang sedari tadi seperti tabu untuk dilakukan.Ulat-ulat yang yang tadi tertib sekarang tak tahu aturan.Memakan bunga yang bukan sewarna bulunya.
Ulat hijau makan daun merah,ulat biru makan ungu dan seterusnya.Dan sebagainya.
Menjelang petang,ulat-ulat berhenti makan.Tepatnya tiada yang dimakan.Habis sudah daun,bunga dan batangnya sekalian.Taman istana terasa aneh kini.Tanpa bunga.Tanpa hiasan.Kecuali ribuan ulat yang gemuk seukuran lengan.Menjijikkan.Tetapi presiden tidak jijik.Beliau,dengan semangat,memungutinya satu persatu.Memindahkannya ke gudang yang telah disiapkan di selatan istana.Dan,walau merasa jijik,saya ikutan membantu.Ibu negara juga turut serta.Para menteri dan nyonyanya masing-masing juga ikut.Pasukan pengawal presiden juga.Memungutinya satu persatu. Memindahkannya ke gudang.
Tepat tengah malam,usai sudah semua.
“Kunci pintunya,”perintah presiden.
Dan dengan sigap,komandan pasukan penjaga mengunci pintu gudang.Para menteri,termasuk saya sebagai ajudan presiden,merasa puas.Kerja menjijikkan seharian selesai sudah.Tetapi,
“Presiden dan ibu mana?”tanya saya.
Para menteri saling pandang.Pasukan pengaman presiden juga saling pandang.
“Didalam gudang?!”
“Lho?!”
“Bagaimana ini?! Presiden kok dikunci dari luar?”
“Sudahlah,”kata menteri pertamanan.”Beliau menginginkan begitu.Jangan panik,pada saatnya nanti beliau akan keluar sendiri.”
Tanpa ada presiden semua masih berjalan.Seakan masih ada presiden.Tetapi saya,sebagai ajudan,menjadi tak ada kerjaan.Seharian hanya memandangi pintu gudang yang terkunci rapat.Tidak hanya dari luar,tetapi juga dari dalam.Sehari,dua hari,seminggu,tiga minggu dan....suatu pagi dihari ke tigapuluh enam;...
Ada suara aneh berasal dari dalam gudang.Suara dengung,ah bukan.Suara desis,juga bukan.Suara aneh pokoknya.Seperti desir angin.Tapi lembut.Lembut sekali.
Menteri pertamanan datang tergopoh-gopoh.”Sekarang waktunya.Ya,sekarang,’katanya langsung menuju pintu.Membuka kuncinya,lalu membuka pintunya,lalu....
“Ya,Tuhan..”gumam saya begitu pintu gudang terbuka.Dan mata saya langsung menangkap isi gudang.Ribuan,atau bahkan ratusan ribu mahkluk nan indah siap mengepakkan sayap untuk terbang.Kupu-kupu.Aneka rupa,aneka warna.,”Rupanya ini asal suara aneh tadi,”batin saya.
Mata saya lalu tanpa lelah memandang kupu-kupu yang satu per satu terbang keluar gudang.Terbang mengitari istana.Ribuan,bahkan ratusan ribu.Terbang dengan aneka formasi.Indah,sangat indah.Tapi dimana presiden dan ibu negara?!Apa yang terjadi dengan beliau berdua?Dan...
Ketika hampir seluruh kupu-kupu keluar gudang,ada sepasang kupu-kupu besar mendekati pintu.Siap ikut terbang.Kupu-kupu yang besar.Kupu-kupu yang indah.Presiden dan ibu negarakah itu?
Dan,sayap mulai dikepakkan.Ringan.Sepasang kupu-kupu itu terbang sudah.Dan saya yakin.Itu presiden beserta ibu negara.Terbang.Turut mengitari angkasa diatas istana.Sebagai ajudan,saya harus ikut.Harusnya.Tetapi saya bukan kupu-kupu.Saya tentu tidak bisa terbang.Saya tidak punya sayap.Saya hanya punya sepasang tangan.”Tangan?!,”saya terkejut setengah mati melihat sepasang tangan saya.Benarkah ini tangan.Kenapa melebar?Kenapa menjadi tipis?Aha,ini sayap.Sayap yang indah.Sayap kupu-kupu.****
Rabu, 22 Juni 2011
OvJ: Opera van Jail
MEDIA suara-gambar (baca:televisi) sudah terbukti sedikit banyak menimbulkan dampak.Baik yang positif maupun yang sebaliknya.
Tentu masih melekat dalam ingatan kita,ketika banyak bocah yang cedera 'hanya' karena menirukan adegan Smack Down yang tayang di (alm) Lativi.Peniruan yang fatal.Karena banyak bocah mengira akan tidak apa-apa bila beradu banting dengan teman.Bisa di sekolah atau dirumah.Celaka.Karena yang mereka tiru dalam tayangan itu adalah sebuah 'tontonan'.Ya,sekadar tontonan. Yang sudah dibikin sedemikian rupa hampir mendekati nyata.
Sudahlah.Itu sudah masa lalu.Dan celakanya (lagi) peniruan-peniruan macam itu bukan tidak mungkin lagi terjadi saat Ini.tentu bukan menirukan adegan Smack Down yang memang sudah tidak tayang.Dan Lativi pun yang tinggal nama.
Dan,televisi –sebagai bidang yang menjual kreatifitas-- tak kan berhenti menjejali otak pemirsa dengan aneka kreasi.Perkara kreasi itu hanya sekadar menimbulkan haha-hihi,dan gagal menyemai nilai positif,itu soal lain.Itu soal belakangan.Atau jangan-jangan,memang tak terlalu perlu dipersoalkan.
Ambil contoh,tayangan Opera van Java yang mengudara via Trans7.Saban malam setia menemani yang rela terbahak dalam hidangan lawakan murahan!Yang hanyak berkutat pada olok-olok yang dianggap lucu.Olok-olok fisikal.Jelasnya;tentang hidung pesek dan sebangsanya.Atau adegan jatuh terjengkang oleh ulah jail lawan main yang mendorongnya duduk ke kursi 'palsu' stereofoam.
Lucu?Mungkin iya.Menghibur?Mungkin juga iya.Tetapi ketika kita mau berharap sedikit saja,misalnya harus mempunyai added value pasca memelototi sebuah tayangan,rasanya terlalu berharga waktu kita terbuang percuma selama sekian jam durasinya.
(Tulisan serupa juga bisa dibaca disini)
Tentu masih melekat dalam ingatan kita,ketika banyak bocah yang cedera 'hanya' karena menirukan adegan Smack Down yang tayang di (alm) Lativi.Peniruan yang fatal.Karena banyak bocah mengira akan tidak apa-apa bila beradu banting dengan teman.Bisa di sekolah atau dirumah.Celaka.Karena yang mereka tiru dalam tayangan itu adalah sebuah 'tontonan'.Ya,sekadar tontonan. Yang sudah dibikin sedemikian rupa hampir mendekati nyata.
Sudahlah.Itu sudah masa lalu.Dan celakanya (lagi) peniruan-peniruan macam itu bukan tidak mungkin lagi terjadi saat Ini.tentu bukan menirukan adegan Smack Down yang memang sudah tidak tayang.Dan Lativi pun yang tinggal nama.
Dan,televisi –sebagai bidang yang menjual kreatifitas-- tak kan berhenti menjejali otak pemirsa dengan aneka kreasi.Perkara kreasi itu hanya sekadar menimbulkan haha-hihi,dan gagal menyemai nilai positif,itu soal lain.Itu soal belakangan.Atau jangan-jangan,memang tak terlalu perlu dipersoalkan.
Ambil contoh,tayangan Opera van Java yang mengudara via Trans7.Saban malam setia menemani yang rela terbahak dalam hidangan lawakan murahan!Yang hanyak berkutat pada olok-olok yang dianggap lucu.Olok-olok fisikal.Jelasnya;tentang hidung pesek dan sebangsanya.Atau adegan jatuh terjengkang oleh ulah jail lawan main yang mendorongnya duduk ke kursi 'palsu' stereofoam.
Lucu?Mungkin iya.Menghibur?Mungkin juga iya.Tetapi ketika kita mau berharap sedikit saja,misalnya harus mempunyai added value pasca memelototi sebuah tayangan,rasanya terlalu berharga waktu kita terbuang percuma selama sekian jam durasinya.
(Tulisan serupa juga bisa dibaca disini)
Sabtu, 11 Juni 2011
Gelagat Jahat
“KALAU pas gak punya uang,naik motor berdua dengan teman,dari Surabaya ke Sidoarjo yang dilihat cuma leher melulu,”cerita seorang kenalan.Intonasinya biasa saja.Seakan yang dilakukannya bukan kejahatan;padahal ia jambret kalung.”Orang itu,kalau kena jambret,jarang yang langsung teriak.Paling sering cuma tertegun,syok dulu.Beberapa saat kemudian baru sadar,dan baru teriak.Dan,aku sudah mak wusss kabur...”lanjutnya.Sungguh tega.Sungguh berbanding terbalik dengan namanya yang kalau di-Indonesiakan berarti penyayang.
Hal senada juga pernah diungkapkan kenalan saya yang lain.Ia spesialis ponsel.Tekniknya sama.Pengalamannya pun nyaris sama..”Padahal,kadang,kalau 'dapat' barang,dijual harganya gak akan sebanding dengan,misalnya,kalau ketangkap dan digebukin massa,”katanya.”Naik motor sambil SMS-an itu 'sasaran' empuk.Ngambilnya gampang.Pernah ini,Ponsel tak kira BB,langsung tak saut,dibawa kabur .Begitu di tempat aman tak lihat cuma ponsel Tiongkok yang murahan.Apes.”lanjutnya yang pernah jatuh sampai patah tulang lengan.
Satu hal lagi,tindakannya sungguh tak berbudi walau ia bernama Budi.
Saya jadi ingat bang Napi yang selalu berpesan,”Waspadalah,waspadalah,”setiap mengakhiri program berita kriminal di sebuah stasiun tivi.Benarlah adanya,bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat,tapi juga karena ada kesempatan.Makanya jangan beri kesempatan.dan waspadalah selalu.
Kewaspadaan itu pula yang selalu dipesankan emak (alm) kepada saya.Lebih-lebih ketika saya bali dari atau pulang ke Lamongan agak malam.Dengan rute yang melewati beberapa jalan yang lumayan sepi.Pesan itu ditegaskan bukan tanpa alasan.Karena,menurut cerita emak,di jalan yang sering saya lalui itu termasuk jalan rawan kejahatan.Dan sudah pernah terjadi perampasan motor.
“Hati-hati,ini sudah agak malam,”pesan emak ketika saya berdua dengan istri.,kali ini dalam perjalanan balik ke Surabaya.
Dari rumah berangkat selepas maghrib.
Meluncur ketimur.Lewat Palangan.Mentok 'tangkis' belok kanan.Sepi.Jalan makadam membujur dibawah tanggul bengawan mati.Mentok lagi,belok kanan lagi.Tetap sepi.Tetap bermotor sendiri bareng istri.Eh,tetapi tidak.Dibelakang ada motor lain.Membuntuti.Motor laki,dengan dua penumpang berjaket hitam.
Sampai Sambo lumayan terang,banyak rumah dikiri-kanan jalan.Tetapi,lepas itu sepi menyapa lagi.kanan-kiri hanya tambak membentang.Saya jadi ingat pesan emak.Dilokasi sepi macam ini,tentu sangat ideal sebagai tempat perampasan motor..Tetapi saya santai saja.Karena ada pengendara motor lain selain saya.Masih ada teman.Teman?Betulkan ia teman?
Jalan masih saja sepi.Masih saja diapit tambak kanan-kiri.Dan masih saja pengendara motor laki berjaket hitam ber-helm teropong itu membuntuti.Padahal,kalau mau,si Astrea tua saya ini bisa saja dibalap habis.Tetapi tidak.Malah ia ikut banter saat saya bawa motor tua saya ini membanter.Saat pelan,ia turut pula memelan.Ah,apa maunya ini?Jangan-jangan?
Saya rasakan tangan istri saya mendingin.Oleh udara malam bercampur rasa setengah takut.Buktinya,”Kita diikuti orang,mas,”ucapnya.
Selepas Blawi belok kiri.Sepi lagi.Saya tetap diikuti.Istri saya,dan juga saya,merasa mulai diikuti rasa was-was.Pengendara motor laki berjaket hitam ber-helm teropong,mungkin sedang mencari tempat yang tepat untuk merampas Astrea tua saya.Karena beberapa kilometer ke depan masih saja sepi,saya harus cari cara untuk menghindari perampasan.Harus waspada,seperti pesan emak.
Dan,itu dia.Didepan ada terlihat lampu lima belas watt berpendar dari kios bensin yang merangkap jabatan juga sebagai tempat tambal ban.Ini tempat pas untuk upaya penghindaran perampasan.Saya berhenti disitu.Pura-pura mau nambah angin.Pura-pura saja.Agar si penguntit saya segera menyalip saya.Tapi sial.Pengendara berjaket hitam itu juga ikutan berhenti.Dan salah satunya malah turun mendekati saya.Istri saya pasti makin dingin tubuhnya.Saya juga.Penjahat kadang memang main kasar.Tak peduli tempat untuk merampas mangsa.Dan,saya kira,saya sedang pada posisi tak berdaya.
Tetapi tidak.Kejahatan,apapun bentuknya itu,harus dilawan.Lebih-lebih saya laki-laki.yang tak mau kehilangan harga diri didepan istri.Maka,pikir saya,apapun caranya si Astrea tua harus dipertahankan.Mati-matian.Bahkan,kalau perlu,sampai mati sungguhan.
Rasa takut harus dilempar jauh-jauh.Seperti kata pepatah; berani karena benar,takut karena tidak berani.
Saya melirik langkah kaki yang mendekati saya.Menghitung jaraknya.Mempersiapkan pukulan atau tendangan macam apa yang bisa sekali sikat langsung mengena titik mematikan.Ini sedikit ilmu silat yang sempat diajarkan mbah Kung.
“Mau apa sampeyan?,”tanya saya dengan suara saya tegar-tegarkan walau dada hebat bergetar.
Istri saya malah diam.Takut setengah mati,membayangkan duel maut yang akan terjadi di depan matanya sebentar lagi.
“Bapak mau ke Surabaya?”
“Iya,”jawab saya.
“Saya nunut jalan ,pak.Saya mau balik ke Surabaya gak tahu jalan.Bingung,baru hari ini ke Lamongan,”katanya.
Oh?
Hal senada juga pernah diungkapkan kenalan saya yang lain.Ia spesialis ponsel.Tekniknya sama.Pengalamannya pun nyaris sama..”Padahal,kadang,kalau 'dapat' barang,dijual harganya gak akan sebanding dengan,misalnya,kalau ketangkap dan digebukin massa,”katanya.”Naik motor sambil SMS-an itu 'sasaran' empuk.Ngambilnya gampang.Pernah ini,Ponsel tak kira BB,langsung tak saut,dibawa kabur .Begitu di tempat aman tak lihat cuma ponsel Tiongkok yang murahan.Apes.”lanjutnya yang pernah jatuh sampai patah tulang lengan.
Satu hal lagi,tindakannya sungguh tak berbudi walau ia bernama Budi.
Saya jadi ingat bang Napi yang selalu berpesan,”Waspadalah,waspadalah,”setiap mengakhiri program berita kriminal di sebuah stasiun tivi.Benarlah adanya,bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat,tapi juga karena ada kesempatan.Makanya jangan beri kesempatan.dan waspadalah selalu.
Kewaspadaan itu pula yang selalu dipesankan emak (alm) kepada saya.Lebih-lebih ketika saya bali dari atau pulang ke Lamongan agak malam.Dengan rute yang melewati beberapa jalan yang lumayan sepi.Pesan itu ditegaskan bukan tanpa alasan.Karena,menurut cerita emak,di jalan yang sering saya lalui itu termasuk jalan rawan kejahatan.Dan sudah pernah terjadi perampasan motor.
“Hati-hati,ini sudah agak malam,”pesan emak ketika saya berdua dengan istri.,kali ini dalam perjalanan balik ke Surabaya.
Dari rumah berangkat selepas maghrib.
Meluncur ketimur.Lewat Palangan.Mentok 'tangkis' belok kanan.Sepi.Jalan makadam membujur dibawah tanggul bengawan mati.Mentok lagi,belok kanan lagi.Tetap sepi.Tetap bermotor sendiri bareng istri.Eh,tetapi tidak.Dibelakang ada motor lain.Membuntuti.Motor laki,dengan dua penumpang berjaket hitam.
Sampai Sambo lumayan terang,banyak rumah dikiri-kanan jalan.Tetapi,lepas itu sepi menyapa lagi.kanan-kiri hanya tambak membentang.Saya jadi ingat pesan emak.Dilokasi sepi macam ini,tentu sangat ideal sebagai tempat perampasan motor..Tetapi saya santai saja.Karena ada pengendara motor lain selain saya.Masih ada teman.Teman?Betulkan ia teman?
Jalan masih saja sepi.Masih saja diapit tambak kanan-kiri.Dan masih saja pengendara motor laki berjaket hitam ber-helm teropong itu membuntuti.Padahal,kalau mau,si Astrea tua saya ini bisa saja dibalap habis.Tetapi tidak.Malah ia ikut banter saat saya bawa motor tua saya ini membanter.Saat pelan,ia turut pula memelan.Ah,apa maunya ini?Jangan-jangan?
Saya rasakan tangan istri saya mendingin.Oleh udara malam bercampur rasa setengah takut.Buktinya,”Kita diikuti orang,mas,”ucapnya.
Selepas Blawi belok kiri.Sepi lagi.Saya tetap diikuti.Istri saya,dan juga saya,merasa mulai diikuti rasa was-was.Pengendara motor laki berjaket hitam ber-helm teropong,mungkin sedang mencari tempat yang tepat untuk merampas Astrea tua saya.Karena beberapa kilometer ke depan masih saja sepi,saya harus cari cara untuk menghindari perampasan.Harus waspada,seperti pesan emak.
Dan,itu dia.Didepan ada terlihat lampu lima belas watt berpendar dari kios bensin yang merangkap jabatan juga sebagai tempat tambal ban.Ini tempat pas untuk upaya penghindaran perampasan.Saya berhenti disitu.Pura-pura mau nambah angin.Pura-pura saja.Agar si penguntit saya segera menyalip saya.Tapi sial.Pengendara berjaket hitam itu juga ikutan berhenti.Dan salah satunya malah turun mendekati saya.Istri saya pasti makin dingin tubuhnya.Saya juga.Penjahat kadang memang main kasar.Tak peduli tempat untuk merampas mangsa.Dan,saya kira,saya sedang pada posisi tak berdaya.
Tetapi tidak.Kejahatan,apapun bentuknya itu,harus dilawan.Lebih-lebih saya laki-laki.yang tak mau kehilangan harga diri didepan istri.Maka,pikir saya,apapun caranya si Astrea tua harus dipertahankan.Mati-matian.Bahkan,kalau perlu,sampai mati sungguhan.
Rasa takut harus dilempar jauh-jauh.Seperti kata pepatah; berani karena benar,takut karena tidak berani.
Saya melirik langkah kaki yang mendekati saya.Menghitung jaraknya.Mempersiapkan pukulan atau tendangan macam apa yang bisa sekali sikat langsung mengena titik mematikan.Ini sedikit ilmu silat yang sempat diajarkan mbah Kung.
“Mau apa sampeyan?,”tanya saya dengan suara saya tegar-tegarkan walau dada hebat bergetar.
Istri saya malah diam.Takut setengah mati,membayangkan duel maut yang akan terjadi di depan matanya sebentar lagi.
“Bapak mau ke Surabaya?”
“Iya,”jawab saya.
“Saya nunut jalan ,pak.Saya mau balik ke Surabaya gak tahu jalan.Bingung,baru hari ini ke Lamongan,”katanya.
Oh?
Selasa, 07 Juni 2011
'Setan' Setia Kawan
SAYA menyukai seni sejak kecil. Sejak sering nunut orang agar bisa masuk ke gedung kesenian yang ajeg menggelar pementasan di kampung saya. Secara bergantian selalu ada. Ketoprak, wayang orang juga ludruk. Biasanya saya dan teman teman langsung menuju ke TKP begitu bubaran ngaji. Selalu. Kecuali malam Jum’at legi. Karena hari itu saya dan teman se-mushola harus ngaji lebih dari hari biasanya. Diawalai membaca surat Yaasin dilanjut tahlil dan lalu mendengar tausiah pak ustad. Menunduk saya mendengarnya ceramahnya. Bukan konsentrasi, tetapi sedang membayangkan betapa serunya sekuel kedua Angling Darmo yang bagian pertamanya sempat saya tonton kemarin malam.
Kalau tidak nonton seni tradisional, alternatifnya ada bioskop misbar. Tempatnya di lantai semen yang kalau siang untuk mengeringkan gabah. Tempat itu penggilingan padi di barat lapangan bola di kampung saya. Dengan pola yang sama;nunut orang masuknya. Film yang saya ingat, sering India. Kalau tidak ya filmnya Rhoma seperti Badai Diawal Bahagia dan semacamnya. Ada pula Gadis Marathon sampai James Bond.
Menginjak remaja, saya tak lagi nunut orang untuk nonton ludruk, selain sudah gak pantes,g edungnya sudah berganti menjadi SD Inpres. Misbar pun sudah tergusur , karena orang lebih suka nonton sinetron di tv. Walau waktu itu salurannya cuma sebiji. Tetapi Rumah Masa Depan,ACI,Pondokan,Losmen,Keluarga Rakhmat sampai generasi Jendela Rumah Kita telah dengan sukses melakukan pembunuhan tontonan panggung tetap seni tradisi di kampung kami. Sekalipun kadang masih ada saja yang nanggap sebagai hiburan pada hajatan.
Tetapi, ada satu seni tradisi yang masih eksis di kampung kami; jaranan. Saya tak cukup punya nyali untuk bergabung di seni yang satu ini, yang sampai kesurupan makan ayam mentah segala. Dan saya memilih gabung ke sebuah grup musik. Sekalipun saya tak bisa nyanyi sekaligus tak bisa main musik, tapi saya dipercaya sebagai emci.
Sekali waktu, karena solidaritas antar kawan, saya bersama teman se-band nonton grup jaranan teman kami yang dapat tanggapan di kampung tetangga kecamatan. Solidaritas, karena kalau kami pentas musik, teman jaranan ikut pula menonton kami.
Jaranan, kalau sampeyan tahu, selalu ada aroma kemenyan. Magis pokoknya. Sekalipun dengan musik yang hanya beberapa, ramenya luar biasa. Rock Jawa, istilah saya. Belum lagi kalau sudah kesurupan, jan menakutkan. Satu lagi, kalau sudah begitu, jangan coba-coba disiuli, bisa dikejar sampeyan. Tapi jangan terlalu takut. Ada tukang gambuh-nya.
Seorang penari , mas Nur namanya, saya lihat mulai kesurupan. Meminum air kembang, bahkan memakan kembangnya sekalian. Menari ritmis sekaligus magis. Berputar. Mencambuk-cambuk kaki sendiri. Menari.Berputar. Menari. Dan....
Ia berhenti tepat di depan saya dan teman-teman yang berdiri diantara penonton.
Gila. Matanya melotot tajam. Mulutnya menghambur-hamburkan kunyahan kembang. Tukang gambuh datang. Dengan bahasa mantra membujuknya agar kembali ke tengah. Agar menari lagi. Tapi gagal. Tetap saja mas Nur memeloti kami. Sorot matanya tajam. Sorot kesurupan. Dan sorot mata itu mengisyaratkan agar kami menuju ke tempat rias yang berada di belakang penabuh gamelan. Semacam kamar sementara untuk berias para pemain yang disiapkan shohibul hajat.
Sorot mata itu begitu menakutkan. Lebih-lebih ketika diselingi cambukan pecut jedar-jeder. Adegan yang bikin kami jantungan ini, malah bikin penonton tepuk tangan. Entah apa maksudnya.
“Sudahlah, ikuti saja maunya,” kata mbah Selar si tukang gambuh, semacam pawang.
“Ikuti apa, mbah?”
“Setan yang merasuki Nur ini ingin agar kamu dan teman-temanmu masuk ke kamar rias,” jawab mbah Selar.
Saya dan teman-teman saling pandang.Masuk ke kamar rias? Untuk apa?
Tapi suara pecut dicambukkan yang semakin ikut kesurupan ini, membuat kami seperti segerombolan sapi yang digiring ke kandang oleh sang gembala. Kami masuk ke kamar rias, digiring mas Nur yang masih kesetanan.
Diluar gamelan masih ditabuh. Terompat berbunyi tanpa henti.
“Wong disuruh masuk saja kok repot. Tuh, di sini banyak jajan,” kata mas Nur yang tiba-tiba setannya hilang sambil menunjuk aneka jajan suguhan untuk rombongan jaranan.
Gila.
Lebih gila lagi, begitu keluar kamar rias, mas Nur kembali kesetanan. Menari lagi . Berputar-putar lagi. Menari lagi. Sambil mengunyah kembang.****
Kalau tidak nonton seni tradisional, alternatifnya ada bioskop misbar. Tempatnya di lantai semen yang kalau siang untuk mengeringkan gabah. Tempat itu penggilingan padi di barat lapangan bola di kampung saya. Dengan pola yang sama;nunut orang masuknya. Film yang saya ingat, sering India. Kalau tidak ya filmnya Rhoma seperti Badai Diawal Bahagia dan semacamnya. Ada pula Gadis Marathon sampai James Bond.
Menginjak remaja, saya tak lagi nunut orang untuk nonton ludruk, selain sudah gak pantes,g edungnya sudah berganti menjadi SD Inpres. Misbar pun sudah tergusur , karena orang lebih suka nonton sinetron di tv. Walau waktu itu salurannya cuma sebiji. Tetapi Rumah Masa Depan,ACI,Pondokan,Losmen,Keluarga Rakhmat sampai generasi Jendela Rumah Kita telah dengan sukses melakukan pembunuhan tontonan panggung tetap seni tradisi di kampung kami. Sekalipun kadang masih ada saja yang nanggap sebagai hiburan pada hajatan.
Tetapi, ada satu seni tradisi yang masih eksis di kampung kami; jaranan. Saya tak cukup punya nyali untuk bergabung di seni yang satu ini, yang sampai kesurupan makan ayam mentah segala. Dan saya memilih gabung ke sebuah grup musik. Sekalipun saya tak bisa nyanyi sekaligus tak bisa main musik, tapi saya dipercaya sebagai emci.
Sekali waktu, karena solidaritas antar kawan, saya bersama teman se-band nonton grup jaranan teman kami yang dapat tanggapan di kampung tetangga kecamatan. Solidaritas, karena kalau kami pentas musik, teman jaranan ikut pula menonton kami.
Jaranan, kalau sampeyan tahu, selalu ada aroma kemenyan. Magis pokoknya. Sekalipun dengan musik yang hanya beberapa, ramenya luar biasa. Rock Jawa, istilah saya. Belum lagi kalau sudah kesurupan, jan menakutkan. Satu lagi, kalau sudah begitu, jangan coba-coba disiuli, bisa dikejar sampeyan. Tapi jangan terlalu takut. Ada tukang gambuh-nya.
Seorang penari , mas Nur namanya, saya lihat mulai kesurupan. Meminum air kembang, bahkan memakan kembangnya sekalian. Menari ritmis sekaligus magis. Berputar. Mencambuk-cambuk kaki sendiri. Menari.Berputar. Menari. Dan....
Ia berhenti tepat di depan saya dan teman-teman yang berdiri diantara penonton.
Gila. Matanya melotot tajam. Mulutnya menghambur-hamburkan kunyahan kembang. Tukang gambuh datang. Dengan bahasa mantra membujuknya agar kembali ke tengah. Agar menari lagi. Tapi gagal. Tetap saja mas Nur memeloti kami. Sorot matanya tajam. Sorot kesurupan. Dan sorot mata itu mengisyaratkan agar kami menuju ke tempat rias yang berada di belakang penabuh gamelan. Semacam kamar sementara untuk berias para pemain yang disiapkan shohibul hajat.
Sorot mata itu begitu menakutkan. Lebih-lebih ketika diselingi cambukan pecut jedar-jeder. Adegan yang bikin kami jantungan ini, malah bikin penonton tepuk tangan. Entah apa maksudnya.
“Sudahlah, ikuti saja maunya,” kata mbah Selar si tukang gambuh, semacam pawang.
“Ikuti apa, mbah?”
“Setan yang merasuki Nur ini ingin agar kamu dan teman-temanmu masuk ke kamar rias,” jawab mbah Selar.
Saya dan teman-teman saling pandang.Masuk ke kamar rias? Untuk apa?
Tapi suara pecut dicambukkan yang semakin ikut kesurupan ini, membuat kami seperti segerombolan sapi yang digiring ke kandang oleh sang gembala. Kami masuk ke kamar rias, digiring mas Nur yang masih kesetanan.
Diluar gamelan masih ditabuh. Terompat berbunyi tanpa henti.
“Wong disuruh masuk saja kok repot. Tuh, di sini banyak jajan,” kata mas Nur yang tiba-tiba setannya hilang sambil menunjuk aneka jajan suguhan untuk rombongan jaranan.
Gila.
Lebih gila lagi, begitu keluar kamar rias, mas Nur kembali kesetanan. Menari lagi . Berputar-putar lagi. Menari lagi. Sambil mengunyah kembang.****
Sabtu, 04 Juni 2011
Cetak Ulang Foto Usang
PULANG kampung kerumah mbah Kung selalu saja ada cerita. Atau ada kenangan yang tiba-tiba ikut terjaga dari tidurnya. Juga rumpun bambu yang masih saja rimbun di utara rumah mbah Kung ini. Suara berjuta daunnya yang saling bergesek karena keanginan, ia melahirkan desis yang melankolis. Selebihnya,rumah tua itu tetapkan sama; di depan musholla ada berderet kembang 'kuping gajah', 'sri rejeki' sampai 'beras kutah'. Ia adalah sekadar nama bunga, walau yang mbah Kung suka hanyalah daunnya. Kuping gajah; berdaun hijau tua dengan garis-garis seperti sungai mengalir ke segala arah. Sri rejeki; lebih ramping penampilannya, rupanya dietnya berhasil. Beras kutah; agak ramping juga,dengan taburan warna putih di sekujur daunnya. Laksana beras tumpah.
Apalah arti sebuah nama. Lengkapnya lagi;apalah arti nama bunga. Karena ketika gemuruh 'gelombang cinta' yang beberapa waktu lalu melanda, saya selalu gagal menumbuhkan benih cinta kepada bunga. Kecuali satu saja; bunga turi. Yang saya tanam di depan rumah di Surabaya, yang benihnya juga saya impor langsung dari halaman samping rumah mbah Kung ini.
Masuk kedalam rumah, ada kesetiaan menempel di dinding diatas opening yang tembus keruang tengah. Foto presiden dan wakilnya. Bukti mbah Kung mencintai pemimpinnya. Hampir selesai dua periode kepemimpinan pak SBY, mbah Kung tetap saja setia memajang foto Gus Dur dan mbak Mega.
Masuk lebih kedalam lagi, kamar. Disitu, di sebuah lemari tersimpan setumpak kertas yang tanpa saya pesan apa-apa ke mbah Kung, bertahun-tahun tetap bahagia ditempatnya. Entahlah,kenapa mbah Kung tak tergoda untuk memusnahkannya. Paling tidak kertas-kertas itu bisa ditukar bumbu dapur ke warung sebelah. Karena ia bisa menjelma menjadi bungkus terasi, bawang putih dan semacamnya.
Kertas-kertas itu adalah tulisan saya saat SMP dulu. Dan membacanya lagi,jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya saya nulis begitu. Kok bisa-bisanya saya menulis sebagai 'aku' yang selalu berselimut cinta dalam setiap cerita. Mengapa? Kemengapaan itu jawabnya satu; saya terbawa arus Anita Cemerlang yang selalu rakus saya santap. Lalu saya menjadi seakan-akan Zara Zettira dan sebangsanya. Duh.
Masih dikamar itu, dikolong dipan juga tersimpan 'peralatan tempur' mbah Kung. Aneka 'senjata' tersimpan dalam kotak kayu. Maklum, mbah Kung adalah seorang purnawirawan tukang kayu.
Saya masih asyik memelototi selembar demi selembar tulisan tangan yang selalu saya tanggali. Lengkap dengan bulan dan tahunnya menulisnya. Karenanya saya jadi gampang mengingat 'asbabun nuzul' tulisan saya. Pada tumpukan berikutnya saya menemukan buku kecil bersampul kuning. Aha, ini buku raport saat saya SD. Membuka halaman pertama, saya langsung terpesona. Ada foto saya, ukuran tiga kali empat. Ah, ini satu-satunya foto masa kecil yang berhasil saya temukan. Sudah usang memang, karena itu foto lebih dari tigapuluh tahun yang lalu.
Saya pulang ke Surabaya membawa beberapa tulisan yang layak saya selamatkan sebagai kenangan. Ranking terpenting adalah, saya membawa foto usang dari raport saya. Saya ingin mengabadikannya. Saya ingin mencetak ulangnya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" penjaga stodio foto di depan swalayan Rungkut Jaya ramah menyapa saya.
"Iya, mbak. Ini saya mau cetak ulang foto ini," kata saya sambil mengeluarkan foto kecil tiga kali empat.
Agak lama penjaga studio foto itu mengamatinya.
"Saya ingin cetak ukuran 10 R dua lembar," saya berkata.
"Maaf, pak. Foto ini sudah agak rusak. Ada bagian yang menguning pada beberapa bagian, terutama dada kebawah," si mbak menjelaskan.
"Lalu?" tanya saya.
"Untuk hasil lebih bagus, saya sarankan anak ini diajak langsung kesini. Difoto lagi. Dijamin hasilnya lebih sempurna," terangnya.
"Oh sudah, mbak. Anak itu sudah disini. Sudah di depan mbak.Dan sudah berewokan..." jawab saya.
Apalah arti sebuah nama. Lengkapnya lagi;apalah arti nama bunga. Karena ketika gemuruh 'gelombang cinta' yang beberapa waktu lalu melanda, saya selalu gagal menumbuhkan benih cinta kepada bunga. Kecuali satu saja; bunga turi. Yang saya tanam di depan rumah di Surabaya, yang benihnya juga saya impor langsung dari halaman samping rumah mbah Kung ini.
Masuk kedalam rumah, ada kesetiaan menempel di dinding diatas opening yang tembus keruang tengah. Foto presiden dan wakilnya. Bukti mbah Kung mencintai pemimpinnya. Hampir selesai dua periode kepemimpinan pak SBY, mbah Kung tetap saja setia memajang foto Gus Dur dan mbak Mega.
Masuk lebih kedalam lagi, kamar. Disitu, di sebuah lemari tersimpan setumpak kertas yang tanpa saya pesan apa-apa ke mbah Kung, bertahun-tahun tetap bahagia ditempatnya. Entahlah,kenapa mbah Kung tak tergoda untuk memusnahkannya. Paling tidak kertas-kertas itu bisa ditukar bumbu dapur ke warung sebelah. Karena ia bisa menjelma menjadi bungkus terasi, bawang putih dan semacamnya.
Kertas-kertas itu adalah tulisan saya saat SMP dulu. Dan membacanya lagi,jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya saya nulis begitu. Kok bisa-bisanya saya menulis sebagai 'aku' yang selalu berselimut cinta dalam setiap cerita. Mengapa? Kemengapaan itu jawabnya satu; saya terbawa arus Anita Cemerlang yang selalu rakus saya santap. Lalu saya menjadi seakan-akan Zara Zettira dan sebangsanya. Duh.
Masih dikamar itu, dikolong dipan juga tersimpan 'peralatan tempur' mbah Kung. Aneka 'senjata' tersimpan dalam kotak kayu. Maklum, mbah Kung adalah seorang purnawirawan tukang kayu.
Saya masih asyik memelototi selembar demi selembar tulisan tangan yang selalu saya tanggali. Lengkap dengan bulan dan tahunnya menulisnya. Karenanya saya jadi gampang mengingat 'asbabun nuzul' tulisan saya. Pada tumpukan berikutnya saya menemukan buku kecil bersampul kuning. Aha, ini buku raport saat saya SD. Membuka halaman pertama, saya langsung terpesona. Ada foto saya, ukuran tiga kali empat. Ah, ini satu-satunya foto masa kecil yang berhasil saya temukan. Sudah usang memang, karena itu foto lebih dari tigapuluh tahun yang lalu.Saya pulang ke Surabaya membawa beberapa tulisan yang layak saya selamatkan sebagai kenangan. Ranking terpenting adalah, saya membawa foto usang dari raport saya. Saya ingin mengabadikannya. Saya ingin mencetak ulangnya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" penjaga stodio foto di depan swalayan Rungkut Jaya ramah menyapa saya.
"Iya, mbak. Ini saya mau cetak ulang foto ini," kata saya sambil mengeluarkan foto kecil tiga kali empat.
Agak lama penjaga studio foto itu mengamatinya.
"Saya ingin cetak ukuran 10 R dua lembar," saya berkata.
"Maaf, pak. Foto ini sudah agak rusak. Ada bagian yang menguning pada beberapa bagian, terutama dada kebawah," si mbak menjelaskan.
"Lalu?" tanya saya.
"Untuk hasil lebih bagus, saya sarankan anak ini diajak langsung kesini. Difoto lagi. Dijamin hasilnya lebih sempurna," terangnya.
"Oh sudah, mbak. Anak itu sudah disini. Sudah di depan mbak.Dan sudah berewokan..." jawab saya.
Rabu, 01 Juni 2011
Hidup Itu Bagai Sepasang Sepatu
"HIDUP itu bagai sepasang sepatu,"kang Karib berkata.
"Mosok to,kang? Yang sering aku dengar sih,hidup itu cuma sekadar mampir ngombe,cuma numpang minum.Lha kalau sampeyan bilang hidup bagai sepasang sepatu itu sampeyan dapat ilmu darimana?"sahut mas Bendo.
Kang Karib tertawa.
"Sampeyan itu piye to,kang.Kok malah ngguyu."
"Ya aku ini ngguyu kamu.Wong aku asal ngomong kok ditanggapi serius."
"Lhadalah.Semprul tenan sampeyan."
Kang Karib tertawa lagi.Kali ini tawanya serius sungguhan."Yo wis,nDo,kalau kamu mau aku serius,ya tak seriusi kamu.Piye?"
"Ya baguslah kalau gitu.Piye,piye?Penjelasannya bagaimana?"
"Begini,nDo.Kalau 'mampir ngombe' itu kan penggambaran betapa sebentarnya hidup ini.Ibaratnya,ya cuma sak sruputan saja.Makanya waktu harus jangan tersia-siakan.Harus bermakna.Harus memberi added value baik secara horizontal maupun vertikal."
Mas Bendo ndlahom."Lha hubungannya dengan persepatuan tadi piye?"
"Begini,"jawab kang Karib."Sepasang sepatu itu ada kanan,ada kiri."
"Ya jelas to,kang.Mosok dua-duanya kanan."
"Aku mau tanya sekarang;ukuran sepatumu berapa?"
"41,"jawab mas Bendo.
"Dua-duanya?"
"Ya tentu,kang.Mosok yang satu 39,lak sisian.Lak gak nyaman dikenakan."
"Ya itu penjelasannya.Hidup itu ya seperti itu.Ada kanan,ada kiri.Bukan sebagai pembeda.Tetapi jadikan ia sebagai penyedap rasa.Agar nyaman dikenakan."
"Aku kok belum mudheng to,kang?"
"Suami -istri itu layaknya sepasang sepatu,atasan-bawahan itu seperti sepasang sepatu,kamu dan tempat kerjamu itu bagai sepasang sepatu dst,dsb..."
"Kanan-kiri,atas-bawah tapi saling melengkapi.Begitu?"
"Tul."
"Saling mengerti fungsi dan tahu tempat diri.Begitu?"
"Tul."
"Tal-tul,tal-tul?!"mas Bendo sedikit anyel.
"Hahaha..."kang Karib tertawa."Sekarang kamu sudah mudheng kan maksudku.Memakai sepatu itu akan tidak terasa nyaman kalau ada sebiji kerikil didalam salah satunya.Apalagi di dua-duanya."
"Mosok to,kang? Yang sering aku dengar sih,hidup itu cuma sekadar mampir ngombe,cuma numpang minum.Lha kalau sampeyan bilang hidup bagai sepasang sepatu itu sampeyan dapat ilmu darimana?"sahut mas Bendo.
Kang Karib tertawa.
"Sampeyan itu piye to,kang.Kok malah ngguyu."
"Ya aku ini ngguyu kamu.Wong aku asal ngomong kok ditanggapi serius."
"Lhadalah.Semprul tenan sampeyan."
Kang Karib tertawa lagi.Kali ini tawanya serius sungguhan."Yo wis,nDo,kalau kamu mau aku serius,ya tak seriusi kamu.Piye?"
"Ya baguslah kalau gitu.Piye,piye?Penjelasannya bagaimana?"
"Begini,nDo.Kalau 'mampir ngombe' itu kan penggambaran betapa sebentarnya hidup ini.Ibaratnya,ya cuma sak sruputan saja.Makanya waktu harus jangan tersia-siakan.Harus bermakna.Harus memberi added value baik secara horizontal maupun vertikal."
Mas Bendo ndlahom."Lha hubungannya dengan persepatuan tadi piye?"
"Begini,"jawab kang Karib."Sepasang sepatu itu ada kanan,ada kiri."
"Ya jelas to,kang.Mosok dua-duanya kanan."
"Aku mau tanya sekarang;ukuran sepatumu berapa?"
"41,"jawab mas Bendo.
"Dua-duanya?"
"Ya tentu,kang.Mosok yang satu 39,lak sisian.Lak gak nyaman dikenakan."
"Ya itu penjelasannya.Hidup itu ya seperti itu.Ada kanan,ada kiri.Bukan sebagai pembeda.Tetapi jadikan ia sebagai penyedap rasa.Agar nyaman dikenakan."
"Aku kok belum mudheng to,kang?"
"Suami -istri itu layaknya sepasang sepatu,atasan-bawahan itu seperti sepasang sepatu,kamu dan tempat kerjamu itu bagai sepasang sepatu dst,dsb..."
"Kanan-kiri,atas-bawah tapi saling melengkapi.Begitu?"
"Tul."
"Saling mengerti fungsi dan tahu tempat diri.Begitu?"
"Tul."
"Tal-tul,tal-tul?!"mas Bendo sedikit anyel.
"Hahaha..."kang Karib tertawa."Sekarang kamu sudah mudheng kan maksudku.Memakai sepatu itu akan tidak terasa nyaman kalau ada sebiji kerikil didalam salah satunya.Apalagi di dua-duanya."
Langganan:
Postingan (Atom)