Senin, 21 September 2015

Tracker Satelit: Pemburu Sinyal dan Rezeki

11.47 WIB: Persiapan pemasangan.
Karena di lokasi telah ada tiang eks Indovision,
maka tak perlu pasang tiang lagi.
IMRON (27 tahun) tidak punya pengalaman sama sekali di bidang listrik atau elektronika. Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, ketika ada lowongan kerja sebagai installer/teknisi parabola sebuah pay tv, ia mencoba keberuntungan.

Ya, nekat saja,” ungkapnya tentang modal yang ia andalkan.



Nah, saat yang dinantikan datang. Ia dipanggil untuk tes interview. “Saat ditanya tentang pengalaman di bidang parabola, jujur saya katakan tidak punya. 'Saya katakan, tentu semua orang berawal dari tidak bisa. Dan belajar adalah cara untuk bisa', begitu prinsip saya. Eh, tidak lama kemudian saya dipanggil lagi. Diterima,” katanya sambil tersenyum.



Satellite Finder, jimat andalan Mas Imron.
Diawali dengan harus mengikuti program diklat selama dua minggu (seminggu teori dan seminggu praktek), Imron melahap materi dengan antusias. Hasilnya; belum genap sepuluh hari ia ia sudah menantang mengajukan diri memasang di rumah pelanggan. “Sebagai orang baru, sesuai prosedur, awalnya saya masih harus didampingi. Setelahnya, ya sudah berani sendiri. Lagian, kalau niat, belajar tracking satelit pay tv itu sehari juga bisa,” paparnya.



Lima bulan sudah ia kini bekerja sebagai teknisi parabola sebuah pay tv milik grup media besar di Indonesia. Sebagai teknisi kantor cabang Surabaya, cakupan arena kerja lumayan luas; meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan.
Mas Imron sedang pasang LNB.



Ayah satu anak ini menambahkan, hal yang membuatnya kerasan bekerja di bidang ini adalah pengupahan yang bersistem poin. Semakin besar poin yang didapat pada tiap bulan, gaji yang dierima terbilang lumayan. “Ya, di atas UMK-lah,” akunya. “Malah kalau kita pas menangani pelanggan yang 'manis', untuk biaya rokok, makan dan bensin kita ambil dari uang tip dan gak sampai mengurangi nilai gaji. Gaji bisa utuh untuk keluarga.”



12.07 WIB: signal terkunci maksimal, kencangkan baut.
Tinggal cek ke ruang tamu pelanggan.
Foto-foto: ewe
Dengan membawa dua-tiga set antena parabola jenis offset dalam sekali berangkat tugas, ditambah satu tas peralatan berisi kunci, mesin bor, LNB, kabel coaxial dan tentu saja satellite finder, lelaki asal Rembang Jawa Tengah ini terlihat agak terlalu membebani motornya. Ditambah dalam bekerja harus tahan panas (karena antena dipasang di ketinggian dan harus tiada terhalang benda apa pun agar sinyal satelit tertangkap sempurna), plus perjalanan jauh berjarak berpuluh-puluh kilometer ke luar kota demi pelanggan yang sedang mengalami gangguan pada sinyal televisinya, adalah 'makanan sehari-hari'. “Kalau pelanggan puas dan kasih sekadar uang rokok, ya alhamdulillah, tak dikasih pun tak apa-apa. Namanya juga memang sudah tuntutan kerja,” ungkap Imron.

Seperti pencari nafkah sejati yang lain di bidang apa pun, Imron membuang jauh-jauh kosakata mengeluh dari kamus hidupnya. Karena keluh kesah hanya akan membuat sebuah semangat menjadi rapuh dan gampang patah. *****




Jumat, 18 September 2015

Kebahagiaan ala Dokter Gelandangan

"KEBAHAGIAAN itu bukan melulu diukur dari berapa harta kekayaan kita.
Tetapi berapa orang yang telah kita tolong hari ini."

dr Michael Leksodimulyo (melepas jabatan dan gaji tinggi di sebuah
rumah sakit swasta dan memilih fokus kerja sosial bidang
kesehatan menangani para

gelandangan di sudut-sudut kumuh atau
kaum papa yang tinggal di kolong-kolong jembatan
kota Surabaya. Hal itulah yang

membuat ayah tiga anak ini mendapat gelar unik; Dokter Spesialis
Gelandangan)

Rabu, 16 September 2015

CNN Indonesia Mengudara FTA di Surabaya

AGAK terlambat saya tahu kalau CNN Indonesia telah mengudara secara FTA (free to air) alias gratis di Surabaya. Kalau kabar dari Jakarta sih sudah beberapa waktu yang lalu, walau awalnya, dengan masuknya konten CNNID pada MUX TransCorp membuat KompasTV terdepak. Nah apakah sekarang si Kompas sudah balik pada MUX TransCorp di wilayah Zona 4 (Jakarta-Banten), saya belum tahu.

“Bagaimana, apa KompasTV pada siaran digital di Surabaya hilang dengan masuknya CNN?” tanya saya pada seorang teman.

SQ tembus 100%. Lumayanlah. Semoga On Air terus dan bukan sekadar PHP.
(Altem: STB PF-209, antena Titis TS-1000, kabel Belden)
Foto: ewe
Dan jawaban pasti telah saya dapatkan saat scan ulang pada set top box saya yang sudah sekian lama menganggur (karena saya lebih sering menembak sinyal dari langit, pakai jamur), yakni: KompasTV tetap ada walau CNNID telah mengudara. Nah, dengan demikian, saat saya membuat tulisan ini, MUX di Surabaya yang mengudara ada tiga:

  1. 506 Mhz/Ch. 25: MetroTV dan BBSTV
  2. 522 Mhz/Ch. 27: TransTV, Trans|7, CNN Indonesia, KompasTV.
  3. 586 Mhz/Ch. 35: TVRI Nasional, TVRI HD, TVRI 3, TVRI 4, TVRI Jatim, TVRI Pro2.
CNN sebagai stasiun televisi berita siapa yang tidak mengenalnya. Sekarang, dengan hadirnya ia di kanal digital, harusnya membuat beberapa kemungkinan. Pertama, MUX lain yang juga ada content beritanya (490 Mhz/Ch. 23 : tvOne dan antv) harusnya segera bangkit dari istrirahat panjangnya. Begitu juga dengan MUX milik Emtek dan MNC. Kedua, penjualan set top box atau televisi baru yang sudah include tunner DVB-T2 akan kembali bergairah.

Namun orang kini sudah jeli dan agak susah di-PHP, sehingga kemunculan CNN Indonesia yang bisa dinikmati tanpa berlangganan pay tv dan cukup pakai antena biasa pun masih perlu dilihat lebih lanjut. Untuk sementara atau hanya semacam siaran uji coba lalu mak cling, hilang lagi. Iya to. Bukankah, kabarnya, payung hukum tentang siaran televisi digital belum klir benar. Jangan sampai demi bisa melihat CNN (yang dalam promonya dibilang sebagai 'televisi berita kelas dunia berbahasa Indonesia') lalu dibela-belain beli STB, eh sebulan lagi MUX TransCorp kembali mati suri.

CNN Indonesia ibarat magnet, banyak sekali penyiar berita yang hijrah ke sana.
Kemauan sendiri apa 'dibajak' ya?
Foto: ewe
Hidup adalah pilihan, dan tidak melihat CNN pun tidak apa-apa. Jujur, saya belum terlalu intim dengan CNN. Kalaulah saya nonton, paling-paling sekadar ingin tahu siapa saja sih yang boyongan kesitu. Eh, ternyata buanyak sekali. Mulai Shanta Curanggana, Desi Anwar, Alfito Deanova, Indra Maulana, Putri Ayuningtyas, Frida Lidwina, Prabu Revolusi, Eva Yunizar dll. Melihat ini, seorang teman melontar komentar, “CNN Indonesia adalah hidangan dengan citarasa MetroTVOne.” *****

Selasa, 15 September 2015

Surat(an) Pendek Buat Reza

Kenangan dalam file ponsel.
Foto: Sri Wahyunik/Surya
REZ, maaf kalau aku datang belakangan dan tak sempat ikut mengantarmu. Bisa saja ini akan kau anggap sebagai alasan. Tidak masalah. Karena bukankah tentang apapun antar siapapun bisa saja terjadi salah paham. Tetapi begini, ketika Lik Is meneleponku sore itu aku sedang akan pulang kerja dan tiba-tiba seluruh tubuh serasa tidak bertulang mendengar kabar kamu telah berpulang.

Namun bukankah engkau tahu, walau terlambat, aku mengunjungi ke tempat istirahatmu seorang diri. Ya, sekarang sedang musim kemarau. Dan pagi setengah siang itu, lihatlah, matahari sudah sedemikian teriknya. Lagi pula, di tempatmu kini, tiada tertanam bunga kamboja atau pohon trembesi. Membuat gundukan tanah di atasmu tak lagi basah, dan taburan bunga-bunga itu, juga rangkaian janur kembang mayang yang dibuat secara tergesa itu, segera menuju kering.

Masa kecil; berkejaran bersama Mbak Ayu
ketika berlibur ke KBS.
Foto: Dok. Pribadi
Kalau tak ingat petuah bahwa air mata hanya akan memberatkan langkahmu, tentu akan kubiarkan ia mengalir deras di pipi. Toh, aku tak perlu malu karena sedang sendiri dan hanya engkau dan Tuhan saja yang tahu. Di hening dalam terik itu, aku mencoba membuat simpulan. Bahwa ketika duka dirasakan terlalu dalam, sekian persen kecerdasan orang akan berkurang. Itulah sebabnya, dalam keadaan begini, aku merasa harus belajar lebih keras untuk mendalami pelajaran ilmu ikhlas.
Foto: FB Reza.

Rez, hari-hari setelah kepergianmu itu, Mbah Kung dan Mbah Putri tiada lelah mengaji untukmu. Kemarin, di dapur, sungai kembali mengalir dari mata tua Mbah Putri; dan segala ingatan tentangmu adalah sumbernya.

Baiklah, lupakan segala kesedihan, kita ingat saja hal-hal (kecil) yang menyenangkan.

Sebagaimana orang pikun, maaf kalau aku lupa tanggal kelahiranmu. Tetapi, yang masih kuingat, 21 tahun yang lalu engkau lahir sebagai bayi yang sehat dan menggemaskan. Beberapa hari setelah kelahiranmu, menjelang sepasaran (saat si jabang bayi pupak puser dan segera diumumkan namanya dalam kenduri sederhana dengan mengundang para tetangga) ternyata ayah dan ibumu belum punya nama untukmu. Jadilah aku, ayahmu dan Om Yon secara urunan menamaimu sebagai Reza Gilang Bastian. Darimana ide nama itu berasal?

Foto: FB Reza
Oh, tentu zaman itu aku tidak membuka Google dulu dengan kata kunci 'nama bagus untuk si kecil'. Zaman itu jaman bahuela dan urusan nama tidak segampang yang dilakoni orang sekarang. Yang pakai bahasa Persia-lah, Yunani-lah, yang meniru nama artis sinetron atau yang lainnya. Kami menamuimu begitu saja karena sepertinya nyaman didengar dan (celakanya) kalau ditanya artinya, kami akan angkat tangan sebagai tanda tidak bisa. :)

Rez, banyak hal tentangmu yang tak mungkin begitu saja kami lupakan. Damailah di tempat barumu. Doa kami selalu untukmu. *****

Selasa, 08 September 2015

Faktor Konektor

Utak-atik LNB.
Foto: sisitelevisi  (ewe)
"NANTI jam sebelas ada orang Transvision datang, tolong ditemani ya," lelaki India yang gila bola itu berkata.

Tetapi jam sebelas berlalu sementara yang ditunggu belum datang, dan baru muncul batang hidungnya jam tiga sore. Padahal sesuai
schedule kerja, saya mesti pulang jam empat, sedangkan urusan mencari sinyal siaran televisi satelit adalah hal yang kadang melenceng dari prediksi.

Tanpa buang waktu saya langsung mengantar teknisi Transvision itu ke
top roof, lantai tertinggi gedung ini, tempat sekian banyak antena (parabola) diletakkan.

"Yang itu," saya menunjuk dish mesh merek
Paramount buatan PT Gapura Agung ukuran 16 feet.

Sebagai teknisi yang biasanya hanya menangani
dish offset ukuran kecil, saya maklum ketika beberapa saat ia membiarkan mulutnya hanya menganga. Kabel yang menjuntai kurang tertata seperli lidah ular yang keluar dari dua LNB polarisasi H dan V terpisah, melihat keningnya berkerut saya anggap adalah hal wajar.

"Yang itu," saya mengulang kata, kali ini sambil menunjuk LNB, "yang sebelah timur itu untuk Asiasat7. Maklum, orang India," saya berkata sambil menduga ia tahu tentang konten siaran di satelit Asiasat7 memang acara India-nya buanyak sekali.

"Baru kali ini saya menangani
dish sebesar ini," katanya dengan mimik laiknya anak kelas dua SD dihadapkan pada soal ujian anak kelas enam.

Agar ia tidak bengong saja begitu, saya tunjukkan saja celah agar ia bisa berdiri tepat di tengah
dish lalu menggoyang LNB yang untuk Telkom tempat transponder Transvision C band bercokol. Pendek cerita, setelah menggoyang LNB dan melihat pada satellite finder SQ sudah menyentuh angka 81%, turunlah kami ke lantai 22, tempat si tuan India itu tinggal.

Sial, sinyal yang di atas terbaca 81%, pada layar kaca si India tetap loncat-loncat dari 56%-0%. Kami naik lagi, utak-atik lagi, dan sial lagi.

Kalau semboyan petugas PMK adalah Pantang Pulang Sebelum Padam, bagi
tracker sejati prinsipnya adalah Pantang Pulang Sebelum Cling. Demi tak menyalahi ikrar itu, kami naik lagi, oprek LNB lagi. Syukurlah, tak sia-sia naik turun dish; pada layar satellite finder merek Skybox sinyal kedetek nambah menjadi 95%!

Beres?
Belum. Karena saat kami cek pakai televisi, SQ malah zonk, kosong, 0%. Aduh
biyunggg...

"Cek konektornya," saya usulkan, dan daripada tanggung, diganti saja sekalian. Bukan hanya yang di pantat reciever, tetapi sekaligus juga yang di atas, yang menancap pada multi switch.

"Ini jurus terakhir," kata si teknisi, "kalau masih gelap, saya angkat tangan lalu langsung pamit angkat kaki. Biar besok ditangani teman lain yang lebih senior," terdengar setengah putus asa nada bicaranya.
Konektor, kecil-kecil bisa bikin eror. (Foto: ewe)

Agak deg-degan saat kami menuju ruang tamu si India (mantan pelanggan OrangeTV yang migrasi ke Transvision demi mengejar tayangan liga sepak bola.kelas dunia), takut jangan-jangan zonk lagi. Tetapi, "Yes!," sorak kami dalam hati begitu mendapati SQ anteng pada angka 95%!
Naik-turun berkali-kali, utak-atik LNB sana-sini, eh ternyata faktor utama yang bikin eror cuma konektor. *****


Minggu, 06 September 2015

Penyetan Bersantan

KETIKA anak-anak di rumah menganggap daging ayam adalah menu favorit dan di tempat kerja pihak catering seperti punya slogan tiada hari tanpa olahan daging ayam, menjadikan lama-lama lidah saya ini  merasa mblenger juga. Maka, kemarin ketika istri saya bertanya 'masak apa enaknya besok ya?', saya yang biasanya menyahut 'Jangan tanya aku, tanyakan saja pada anak-anak', punya ide segar sebagai jawaban: "Bikin penyetan bersantan."

Alhamdulillah, istri saya setuju tetapi tetap akan memasak menu ayam sebagai 'pemain' cadangan. Ya, siapa tahu lidah anak-anak kurang bisa menerima --menu yang dulu di desa Ibu sering membikinnya--, sehingga masih ada ayam sebagai alternatifnya.

Yang agak repot adalah, ternyata oh ternyata, istri saya hanya lamat-lamat ingat racikan bumbunya. Tetapi setelah mengumpulkan segala daya ingat, disiapkanlah bahan dan bumbu-bumbu sebagai berikut:

-Terong yang telah dikukus: sesuai kebutuhan (terong dibakar juga bisa)
-Tempe yang telah dikukus: sesuai kebutuhan (tempe dibakar juga bisa)
-Bawang merah : dua siung
-Bawang Putih: dua siung
-Kencur: sepotong
-Daun jeruk: 2 lembar
-Kemiri: sebutir
-Kelapa : setengah butir (sudah diparut)
-Garam: secukupnya
-Gula: secukupnya
-Cabe: sesuai keinginan.

Nah, setelah semua bumbu lengkap, uleg sampai halus pada cobek. Setelah halus, tuangkan santan kanil (santan yang kental). Penyet dengan menekan-nekan ulegan pada terong + tempe kukus (bakar) dalam cobek. Dan, taraaa.... : penyetan bersantan siap dihidangkan.

Catatan: karena semua bumbu termasuk santan adalah 'mentah' (untuk memeras parutan kelapa, gunakan air matang hangat), hidangan ini harus habis sekaligus. Jadi, sangat harus disesuaikan dengan kebutuhan. *****




Selasa, 01 September 2015

Kutit yang nDesit

MAKIN hari, kalau diperhatikan, makin banyak saja orang wayuh,
berpoligami. Dan, sejauh ini, belum pernah keluar fatwa dari produsen
fatwa tentang hukumnya. Padahal ini, menurut Kang Karib, sungguh amat
gawat. Urgent sekali.

"Urgan, urgent," Mas Bendo ujug-ujug methungul, muncul. "Sebahaya dan
segenting apa sih, Kang?"

"Kalau masih ada yang menganggap bahwa hubungan itu selalu harus ada
kesetiaan," petuah Kang Karib, "niscaya, perselingkuhan, dengan apa pun
itu, adalah kejahatan terhadap cinta."

"Wik, seserius itu to, Kang?"

Lalu Kang Karib membeber argumen: dengan orang (bisa istri, bisa
suami) lebih punya waktu terhadap gadget-nya masing-masing, berapa
coba, waktu yang terbuang, yang kalaulah orang tak lebih mesra dengan
smartphone-nya, akan bisa lebih bermesraan dengan anak-istri (suami)
masing-masing.

"Zaman sudah berubah, Kang," tangkis Mas Bendo. "dan tak mungkinlah orang mau bergaya hidup seperti zaman dulu. Atau Sampeyan sedang mengingkari kelaziman?"

"Aku sedang gundah saja, nDo."

"Oleh?"

"Ya oleh lebih senangnya orang bersilaturahim dengan gadget-nya daripada dengan sesama manusia."

"Lho, bukankah yang sedang 'ditemui' orang-orang lewat gadget-nya itu adalah juga manusia?"

"Bisa semutukah pertemuan itu bila dibandingkan perjumpaan face to  face yang sesungguhnya?"

"Secara waktu tidak nutut, Kang" sanggah Mas Bendo. "Lha kalau lewat teknologi kan bila langsung sekala, dengan berapa pun tujuannya. Sampeyan saja yang ndesit, yang tetap setia dengan handphone jadul. Yang cuma bisa SMS dan telepon. Sekali-kali cobalah pakai ponsel pintar. Pasti nanti Sampeyan akan ketagihan."

"Nah, itu dia: ketagihan," mata Kang Karib berbinar. "Satu hal yang sebisa mungkin kuhindari. Atas dasar ketagihan, yang sebenarnya tak penting pun akan dianggap penting. Sehingga bila semenit saja tak membuka layar smartphone, khawatirnya seperti kiamat segera datang. Bangun tidur yang pertama dilihat gadget-nya, seperti sebelum tidur pun gadget adalah yang terakhir dicumbuinya. Dan akan nampak bagiamana ya bila suasana di dalam rumah; anak, ayah, ibu (bahkan pembantu) lebih asyik masyuk dengan gadget-nya di sepanjang waktu. Ber-wkwk dengan entah siapa di seberang sana, sambil mengirim senyum emoticon atau smeeley, namun saling dingin dan tidak bersuara dengan orang nyata di depan dan sebelahnya. Yang demikian itu, bukankah tak berlebihan bila dibilang mereka telah wayuh; yang Ibu melakulan poliandri, yang Ayah poligami mengawini gadget sebagai suami atau istri kedua."

Sebenarnya Kang Karib itu sudah hidup di zaman sekarang, di kota lagi. Kok otaknya masih ndesit ya?

"Jangan remehkan orang ndesit, nDo" celetuk Kang Karib lagi. "Orang tua-tua di desa, yang sebagian masih menganggapnya sebagai ketinggalan itu, yang pasrah saja hidupnya monoton, begitu-begitu saja itu, apa kamu pikir mereka tak bahagia. Justru, bisa jadi mereka itu, yang hidup sederhana itu, kebahagiaannya juga adalah hal-hal sederhana. Dibanding kamu yang selalu nggrangsang kepada apa pun yang bersifat duniawi, sehingga kebahagiaanmu juga muluk sekali."

"Hidup kan juga pilihan, Kang" tangkis Mas Bendo.

"Betul," timpal Kang Karib. "Dan aku ingin berbahagia secara sederhana saja, nDo." (bersambung)



Sabtu, 22 Agustus 2015

Gambar Anak-Anak

SAYA pernah membaca sebuah esai yang ditulis Kang Prie GS di Suara Merdeka pada Juli 2009. Tulisan dengan gaya renyah yang khas itu membahas tentang lomba menggambar untuk anak-anak dengan Prie GS sebagai ketua panitianya.

Kemarin, saya pun setengah hari berurusan dengan lomba serupa, bedanya adalah saya bukan sebagai panitia dan hanya ketiban getah sebagai pengantar saja. Getah? Oh, tunggu dulu. Apakah megantar si kecil yang masih TK untuk mengikuti lomba 'remeh' ini adalah kurang mbois dilakukan oleh seorang Ayah yang sampai membolos dari kerja?

Awalnya, karena saya bekerja dan istri juga bekerja, sementara si kecil juga tak mau diantar oleh Bu Sum, pengasuhnya, maka kami berikan hak prerogatif kepadanya untuk memilih, “Diantar Ibuk atau Ayah?”

Ayah,” dengan gemas ia berkata.

Ya, sudah. Jadilah saya menjadi pengantarnya.

Pagi itu, sesuai yang dicantumkan dalam pemberitahuan, kami langsung menuju lokasi lomba tanpa terlebih dulu mampir ke sekolah. Lokasi itu adalah sebuah restoran fast food baru yang belum lama buka di daerah kami. Kalaulah mau, bisa saja saya memunculkan dugaan lomba itu adalah 'konspirasi' antara pihak TK dan pengelola restoran dalam rangka mempromosikan diri. Dan untuk itu pastilah ada semacam fee.

Jam setengah sembilan sesuai yang tertera di undangan, puluhan anak TK teman anak saya sudah memenuhi ruangan, dan sebanyak itu pulalah jumlah pengantarnya dengan hanya tiga orang diantaranya yang laki-laki. Menjadi minoritas diantara mayoritas Ibu-ibu tentu bisa menimbulkan perasaan risi. Tetapi, demi anak, layakkan hal itu dirasakan? Tidak. Lagian, diantara dominasi Ibu-ibu yang sebagian merias wajahnya dengan make up lengkap seperti hendak ke pesta, justru saya dengan mudah bisa menjungkir-balikkan keadaan menjadi orang tertampan di ruang itu dengan saingan yang tak seberapa.

Begitu lomba dimulai, kegaduhan lebih pecah di ruangan yang tak seberapa luas di lantai tiga itu. Anak-anak bersemangat mewarnai gambar yang diberikan panitia, para pengantar tak kalah sibuknya memilihkan warna crayon yang sesuai, sementara di sudut lain ada pengantar yang pontang-panting merayu anaknya yang mogok tak mau mewarnai dan lebih bersemangat mengeraskan suara tangisnya entah oleh sebab apa. Tingkah polah anak dalam menggambar pun tak kalah serunya. Ada yang duduk normal, ada yang meminta tambahan kursi agar bisa tengkurap di atasnya, ada pula yang mewarnai gambar sambil berdiri karena meja dan kursinya memang tidak dirancang untuk postur tubuh anak TK.

Saya pikir, inilah miniatur realita anak-anak negeri ini. Sebagian mereka kehilangan haknya untuk 'menggambar' sesuai kehendak dan imajinasinya sendiri. Dalam taraf sekecil itu, intervensi orang tua begitu kuatnya dengan doktrin; bagian ini harus warna biru, bagian itu harus ungu, misalnya. Ini menjadi sebangun dengan fenomena anak-anak yang nyaris kehilangan lagu anak-anak dan cenderung terpaksa gandrung kepada lagu-lagu yang pantasnya hanya masuk ke telinga orang dewasa.

Belum lama, dalam sebuah ajang pencarian bakat, saya sempat melihat di layar stasiun televisi nasional seorang anak menyanyikan lagu Rekayasa Cinta yang populer lewat suara Calemia Malik dengan goyang dangdut dan lirikan mata genit ala penyanyi dewasa. Celakanya, para penonton di studio, bisa jadi disitu juga ada orang tuanya, malah ikut bergoyang senang. Begitulah, seorang anak telah direkayasa sedemikian rupa jauh mendahului masanya yang makin lama makin terasa lumrah saja di sekitar kita. Dan untuk mengembalikannya ke 'jalur yang benar', tidak cukup hanya dengan mengelus dada. *****

Selasa, 18 Agustus 2015

Bumbung Kosong

 (Dimuat harian Radar Surabaya, edisi Minggu, 16 Agustus 2015)

GESEKAN antar daun bambu yang tertup angin sungguh membuat malam serasa mendesis. Embun turun terlalu dini, membasuh pipi dedaunan. Dingin menggigit setiap tulang, dan Rindang mengusir dingin itu dengan menyulut rokok. Istrinya menganyam tikar mendong di ruang tengah, berteman lampu oblik yang nyalanya meliuk-liuk. Anaknya, namanya Rimba, duabelas tahun, mengaji di surau Mbah Seki. Dan kalau malam Jumat Legi begini, biasanya ia pulang pagi, selepas subuh. Begitulah, sebajingan-bajingannya Rindang, ia ingin Rimba mengerti agama. Agar tidak sebejat ayahnya!

Rindang bajingan?
Oh itu dulu. Sekarang ia tobat. Sejak Pak Gelam, ketua kelompoknya, malam-malam dijemput orang-orang berjaket hitam lalu tak kembali hingga kini. Juga Watam, teman karibnya, yang setelah beberapa hari menghilang, jasadnya yang dimasukkan karung, ditemukan orang desa sebelah mengapung di sungai dekat kuburan.

Kamis, 13 Agustus 2015

B e n d e r a

KETIKA memasuki bulan Agustus begini, dulu –seperti juga dilakukan tetangga kanan-kiri, Ayah memotong bambu sepanjang sekitar delapanpuluh centimeter. Dengan memasang berjarak per satu meter, Ayah memotong sejumlah yang dibutuhkan. Setelah potongan bambu itu tertancap di pinggir jalan (enam puluh centi yang terlihat), langkah selanjutnya adalah mewarnai bambu itu dengan merah-putih. Untuk putih Ayah menggunakan kapur/gamping dan untuk merahnya menggunakan bahan yang sama dengan hanya menambahkan pewarna/pigmen saja. Dengan bahan sesederhana itu, jangan ditanya keawetannya. Prinsipnya, bisa tidak luntur sebulan Agustus saja, sudah baguslah. Kalau mau awet dan lebih bagus, tentu bisa memakai cat bermerek yang berslogan 'mengubah yang biasa menjadi luar biasa'. Tetapi, zaman itu, memenuhi kebutuhan perut sepertinya lebih utama.

Saya tidak tahu, Ayah memasang bambu merah-putih itu sebagai kesadaran sendiri atau atas perintah Pak Lurah melalui perangkatnya. Tetapi, dengan kanan-kiri di sepanjang jalan desa kami berhiaskan bambu merah-putih begitu, ada sesuatu yang lain terasa. Rasa itu sungguh ada di dada, walau agak sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Tak melulu bambu, saat saya kecil itu, bukan hanya kendaraan besar macam bis, truk atau angkutan pedesaan (orang kampung kami menyebutnya 'taksi' untuk mobil berjenis Colt sebagai moda transportasi bertrayek pendek itu), motor dan sepeda angin pun memasang bendera kecil di setir kanannya. Dengan keadaan ekonomi yang berbeda jauh dengan sekarang, orang-orang mau membeli bendera lalu memasangnya di kendaraannya. Sekarang?

Saat berangkat kerja tadi pagi, dengan sekian banyak pedagang bendera di setiap sudut kota, tak satu pun saya temui motor atau sepeda atau kendaraan besar lain memasang bendera kecil itu pada penyangga spion kanannya. Karena demand  tidak ada, bisa jadi para penjual bendera itu tidak menyediakannya. Itu soal bisnis, sementara memasang bendera pada kendaraan bisa jadi sebagai soal nasionalis. Demi kepentingan nasionalis (dengan memesan bendera kecil untuk dipasang di kendaraan) niscaya penjual bendera akan dengan senang hati memenuhinya. Secara nominal, tak usahnya membandingkannya harga bendera kecil itu dengan sebungkus rokok, misalnya.

Perkara nasionalisme tak harus dikoarkan, yang penting diwujudkan. Masalahnya adalah, jika ada yang berkoar tidak dan mewujudkannya pun tidak itu termasuk makhluk apa. Sebagai yang ikut merasakan susahnya hidup dalam cengkeraman penjajah, dan ikut pula berjuang demi kemerdekaan, tentu para orang tua kita mempunyai alasan lain untuk mencintai negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang sampai ada yang menyebutkan sebagai cuilan sorga ini. Lha saya, sebagai generasi magak --yang jangankan mengangkat senjata, mengangkat cangkul untuk kerja bakti saja cekidang-cekiding  karena jijik membersihkan sampah di selokan padahal itu hasil buangan saya sendiri--, alasan apa yang harus dikedepankan untuk mencintai merah-putih. Sementara para petinggi negeri, yang harusnya memberi teladan, bisa jadi di dadanya ada warna lain yang lebih dominan. Bukan sang saka, tetapi warna biru, merah, kuning, hijau atau warna lain sesuai warna simbol parpol. Atau bukan; tak satu pun warna itu yang selalu berkibar di jiwanya. Namun lambaian rupiah yang senantiasa menjadi pemandu pikiran dan langkah kemana akan terarah. Juga termasuk kitakah itu?

Setelah membuat kalimat terakhir di atas barusan, saya kembali meng-klik file lagu di komputer. Saya memilih Cokelat. Entah mengapa, dari pertama muncul –saat vokalisnya masih Kikan dulu, saya langsung jatuh cinta pada lagu ciptaan Eross Candra ini;

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi s'lalu ku coba 'tuk mengharumkanmu
biar saja ku tak seelok langit sore
tapi s'lalu ku coba 'tuk mengindahkanmu

merah-putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi
di Indonesiaku ini.... *****



Rabu, 12 Agustus 2015

Pitutur dari Suriname

JANGAN malu mengaku sebagai orang Jawa. Orang Jawa harus bangga dengan
identitas yang luhur budi pekerti seperti yang diwariskan nenek
moyang.

-Paul Salam Sumohardjo, sesepuh masyarakat Jawa di Suriname.

Kamis, 30 Juli 2015

Jula-juli Suroboyo: Toleransi

negoro Indonesia negoro besar
ribuan pulau tersebar menghampar
ayo iki dijogo ojok sampek ambyar
berpegang teguh Pancasila sebagai dasar

agama nang kene pancen akeh maceme
onok Hindu, Khonghuchu lan Katolik'e
onok Kristen, Budha lan Islam sing paling gedhe
kaben rukun mergo dhuwur toleransine

akeh sing krungu kejadian nang Tolikara
peristiwa kelam pas waktu Hari Raya
tapi kito ojok gampang diadu-domba
serahno wae marang penegak hukum negara

konflik antar pemeluk agama pancen sensitif
opo maneh lek onok pihak sing provokatif
kedadean cilik isok dikompori ben dadi masif
kondisi aman-tentram rusak malah dadi gak kondusif

ojok kabeh berita ditrimo tanpo digagas
saiki akeh berita sing sumbere ora jelas
berita plintiran sing di-share lan di-copas
yo ngono iku sing nggarai suasana dadi panas

media sosial pancen pengaruhe gedhe
kabeh uwong isok ngomong ngono-ngene
tapi kudune ora angger njeplak wae
karepe ben ketok pinter malah pamer dhedhele

urip rukun sing ora seneng iku sopo
senajan kita agamane bedo-bedo
bangsa lan bahasane biso ugo ora podho
tapi nasionalisme mengakar ing njero dhodho

(raup santen glali asale gulo
panen gabah bluluk dipangan doro
cukup semanten jula-juli kulo
yen onok salah, njaluk sepuuurooo....) *****