Jumat, 25 April 2014

Terpaksa Ikhlas

SEDIKIT demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Istilah ini bisa disertakan dalam semangat menabung, juga untuk hal lain. Korupsi, misalnya. Dan korusi itu, sepertinya, tak melulu dilakukan oleh orang besar dengan nominal yang besar. Tetapi juga oleh orang kecil dengan besaran yang tak seberapa. Tetapi, sekecil apapun nilai, akan membesar akhirnya bila dilakukan secara terus-menerus dalam jangka yang lama mengacu pada rumus 'sedikit demi sedikit' tadi.

Tak perlu terlalu mengerutkan kening untuk mencari contoh yang beginian ini.

Untuk sebuah keperluan, kemarin siang saya mendapat tugas ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya. Setelah itu mampir ke Pasar Elektronik Genteng untuk lihat-lihat reciever DVB-T2 lanjut ke PMI untuk donor darah. Di ketiga tempat itu hal yang saya catat adalah soal parkir.

Pertama, saat akan ke kantor Dinas LH, saya memarkir si Nenen (begitu si bungsu menyebut SupraX 125 tunggangan saya ini) di seberang warung sate di seberang perkantoran Pemkot tidak jauh dari Puskesmas Ketabang. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok berompi hijau menghampiri dan menyerahkan selembar karcis parkir. Tertera disitu tarifnya; limaratus rupiah.

Tetapi setelah urusan saya di Dinas Lingkungan Hidup selesai dan saya mengambil motor, selembar duaribuan yang saya serahkan langsung masuk saku tanda ada kembalian. Harusnya saya minta kembalian seribu limaratus sebagai hak saya sebelum pergi meninggalkan lelaki tua berkulit hitam karena saban hari kepanasan itu. Tetapi demi melihat lelaki bongkok yang masih semangat bekerja di usianya yang tak lagi muda itu, saya memilih untuk berbaik hati; mengikhlaskannya saja.

Kedua, setelah melihat-lihat di lantai dua pasar Genteng, di tempat parkir saya membayar. “Duaribu, Pak,” kata si tukang parkir, kali ini usianya masih muda.

Lho, bukannya di karcis tertera seribu rupiah?” saya protes.

Iya, Pak. Tetapi duaribu,” katanya teguh pendirian.

Iya, wis. Sekali lagi saya mengalah. Jaman sekarang, uang seribu dapat buat beli apa sih?

Ketiga, sebelum balik ke tempat kerja, saya ke PMI. Selepas donor darah, di tempat parkir, saya menyerahkan karcis dengan tanpa saya sertai uang. Karena di kertas parkir memang tertulis; gratis. Tetapi, seorang yang mengambil motor sebelum saya, terlihat menyertakan uang seribu rupiah ke tukang parkir PMI di Embong Ploso ini. 
 
Begitulah. Diantara betir-butir keringat tukang parkir, ada 'rezeki tambahan' yang terus mengalir. Padahal, selembar karcis resmi, bisa dipakai berulang-ulang kali. Lalu, kemana kelebihan pembayaran itu menuju? Dan berapa jumlah rupiah yang harus mereka setorkan ke pihak yang berwenang?

Kekurangan kembalian dari yang dibayarkan, karena jumlahnya tidak seberapa, kadang dengan terpaksa diikhlaskan. Tetapi apakah sebentuk keikhlasan namanya bila itu dilakukan dengan terpaksa? *****

Rabu, 23 April 2014

Cak Lontong yang Sedang Kinclong

DIBANDING teman sekantor yang lain, lelaki berpostur tinggi besar itu termasuk yang berpenampilan paling santai. Sudah begitu, tutur katanya pun sering mengundang tawa. Saya mengenalnya sebagai Pak Hartono (saya tidak tahu nama depan dan atau nama belakangnya).

Setiap pagi, kedatangannya selalu saya tunggu. Ya, karena dulu di kantor tidak berlangganan koran, sementara Pak Hartono selalu datang membawa koran, barang itu selalu jadi rebutan. Tetapi, “Sini, sini,” katanya sambil mengambil kembali lembar-lembar koran yang sudah kami pegang per segmen. Lalu, dikumpulkanlah lagi untuk kemudian distaples, “Nah, begini supaya tidak terjadi dis-integrasi,” ujar Pak Hartono.

Salah seorang teman blogger (sebagaimana kebanyakan pembaca pada umumnya) suka yang namanya cerita 'luar duga'. Dalam berbincang santai sebelum jam kerja dimulai, si Pak Hartono ini sering juga memakai teknik itu. Misalnya, suatu hari ia bilang, 'jangan lihat siapa yang bicara, tetapi telaahlah apa yang dibicarakan'. Karena, “Kalau mutiara, sekali pun keluar dari mulut anjing, ya tetap...”

Mutiara,” sahut saya spontan menyambar kalimat yang digantung itu.

Tetap anjing yang mengeluarkan,” dengan intonasi yang khas, yang terlihat tidak ngawaki sama sekali, Pak Hartono mengoreksi jawaban saya.

Lama sudah saya tidak berjumpa langsung dengan Pak Hartono. Terakhir ketemu, pas melayat meninggalnya Pak Widodo dan kami mengantarkan jenazah sampai ke pemakamam Dinoyo, Surabaya. Tetapi, sekali pun begitu, saya masih bisa melihat aksi Pak Hartono di layar kaca. Mula-mula di JTV saat main bareng grup ludruk Tjap Toegoe Pahlawan. Saat itu Pak Hartono sudah tidak bekerja lagi di tempat kerja saya ini. Dari televisi lokal di Surabaya, lama-lama saya lihat ia bisa menembus televisi nasional di Jakarta. Di TVRI, di tvOne, di MetroTV di KompasTV, dan yang lagi kinclong sekarang ini adalah penampilannya di Indonesia Lawak Klub Trans|7.

Hartono?! Di ILK? Ah, gak ada tuh!
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.

Ketika bekerja di tempat ini dulu, tidak jarang ia masuk kantor hanya bersandal. Jan santai tenan pokoknya. Kalau tidak salah, sedannya agak butut, warnanya abu-abu, yang kalau saya intip ke jok belakang, tidak jarang ada baju pentas di situ; hitam dengan renda kuning keemasan. Entah itu kostum apa. Tetapi mengingat posturnya yang tinggi begitu, kalaulah jadi Punakawan, pantesnya ia memerankan Petruk. Pada kaca belakang sedannya, tertera identitas yang menjadi nama artis-nya sekarang ini; Cak Lontong.

Di acara yang jelas terlihat sebagai parodi dari Indonesia Lowyers Club-nya tvOne itu, jelas sekali gaya pak Hartono, eh Cak Lontong ding, berbeda sekali dengan lawak yang lain. Permainan kata yang cerdas, pengungkapan hasil survei yang ngawur tapi menghibur, sungguh menjadi magnet dari ILK itu sendiri. Makanya tidak heran kalau hasil survei Cak Lontong selalu ditampilkan agak di belakang, sebagai gong dari ILK.

Setiap masa ada pahlawannya, sebagaimana setiap pahlawan ada masanya. Di dunia keartisan televisi berlaku pula hukum itu. Dulu pernah saya teliti, di jaman keemasannya Bukan Empat Mata-nya Tukul, dari sepuluh tetangga yang saya survei, tujuh diantaranya memutar Trans|7, sementara tiga lainnya numpang nonton disitu. (ih, niru Cak Lontong ya?)
Cak Lontong foto bareng di depan lobby sebuah apartement
bersama teman kantornya dulu.


Tetapi tabiat televisi selalu berulang, ketika rating sebuah acara sedang menjulang, durasi acara ditambah dengan waktu tayang yang saban hari. Sebuah kondisi yang bisa melahirkan kebosanan. Sebagus-bagusnya program Golden Ways, atau Kick Andy, atau apapun itu, bila ditayang seminggu penuh, tentu pemirsa menjadi jenuh. Hal ini yang harus disadari tim kreatif ILK. Karena, sebagaimana lawakan di layar kaca, sebuah materi atau celetukan humor yang menjadi tidak lagi lucu bila dipakai di lain hari. 
 
Untuk Cak Lontong, selamat. Karir Anda makin kinclong. Salam lemper. *****


Kamis, 27 Maret 2014

Caleg = Calon 'Legrek'

BERTANYALAH kepada siapa pun; presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah itu secara jabatan tinggi siapa. Jelas tinggi presiden, gubernur, kepala sekolah ketimbang para wakilnya. Maka tidak mengherankan bila si wakil menginginkan pula jabatan yang di atasnya. Pak JK yang pernah nyapres melawan SBY di Pilpres tahun lalu, atau Dede Yusuf yang memilih 'pisah' dari sang Gubernurnya demi merebut jabatan itu pada Pilgub Jabar beberapa waktu yang lalu.


Beberapa contoh yang saya sebut di atas secara logika sungguh bisa diterima. Tetapi ada satu hal yang secara nalar (walau umum, tetapi) agak bisa didebatkan, yakni; beberapa rakyat yang justru ingin 'turun pangkat' menjadi wakil. Ya, wakil rakyat. Dan demi untuk menjabat sebagai wakil itu, si calon (lazim disebut caleg) melakukan aneka cara yang tentu saja semua mengandung biaya.Cetak poster, sepanduk, iklan radio/televisi dan atau menyumbang baju seragam ibu-ibu pengajian, memberangkatkan 'simpatisan' ke tempat-tempat ziarah keagamaan dan sebagainya. (Yang termasuk dalam 'dan sebagainya' itu antara lain, ongkos ke 'orang pintar'. Termasuk beli uba rampe; kembang tujuh rupa atau kain mori atau perjalanan ke sebuah sendang untuk mandi kembang tengah malam.)


Tengoklah di setiap pinggir jalan raya; wajah-wajah yang selama ini tidak dikenal mengenalkan diri dengan cara (yang kadang) mengenaskan. Dengan pose foto yang dipilih –menurut diri sendiri-- sebagus mungkin, dengan slogan yang dibikin semenarik mungkin. Dan, apakah dengan memasang baliho gambar-gambar mereka itu elektabilitas mereka lantas menjadi menanjak? Belum tentu. Masyarakat sudah teramat cerdas (baca: apatis) menyikapi kebaikan instan yang mereka pamerkan.


Ada istilah; tidak ada makan siang yang gratis. Terlebih untuk menjadi caleg. Pastilah duit besar disebar demi biaya untuk itu. Kalau lalu benar-benar jadi anggota legislatif tentu ada kemungkinan untuk melakukan 'balas dendam' demi baliknya modal. Tetapi bagaimana kalau sudah keluar uang banyak tetapi tidak terpilih? Kalau semua uang itu dari kantong sendiri sih agak tidak apa-apa, bagaimana, coba, kalau duit itu hasil dari pinjam?


Untuk mengantisipasi hal itu, dalam sebuah running text di televisi, ada berita; sebuah rumah sakit mempersiapkan 333 tempat untuk merawat caleg stress. Entah mengapa dipilih angka cantik kembar tiga begitu. Lagi pula kenapa 333, kok tidak 666 atau 999?


Kalau begitu, secara iseng saya artikan caleg itu selain berarti calon legislatif, adalah juga sebagai calon legrek, remuk. Remuk lahir, remuk batin. *****

Selasa, 25 Maret 2014

Penampakan O CHANNEL di Surabaya

Foto-foto: oleh Edwin untuk Ayahnya.
SAMPAI pagi tadi saya lihat, siaran yang tertangkap ketika saya scan secara auto, di Surabaya ini, masih tetap 13 channel. Yaitu; antv dan tvOne (490MHz/Ch.23), TransTV, Trans|7 dan KompasTV (522MHz/Ch.27), SCTV Netrwork, Indosiar Network, O Channel Network dan Live Feed (538MHz/Ch.29), TVRI_3, TVRI_NAS, TVRI_SURABAYA dan TVRI HD (586MHz/Ch.35).


Sementara, dua MUX lagi, yaitu milik MetroTV (506MHz/Ch.25) dan milik grup MNC (634MHz/Ch.41) sampai hari ini masih belum muncul lagi. Eh, tidak ding. Walau tidak bisa nyangkut kala dicari secara auto, sinyal dari channel 41 (yang dihuni oleh RCTI, MNCTV dan GlobalTV) itu sudah muntup-muntup terlihat (lagi) kala dicari secara manual setelah sekian lama sama sekali tak terdeksi Tetapi ketika di-lock, ia sama sekali tidak bisa. Padahal jarak rumah saya di Rungkut ini dengan pemancar milik MNC di Surabaya Barat sana tak lebih dari 20km. Perkiraan saya, MNC sedang belum memakai power yang memadai untuk siaran di kanal digital ini.



Sekalipun sudah bisa ditangkap kala di-scan secara auto, bukan berarti MUX milik grup Emtek (SCTV dkk itu) sudah bisa dinikmati dengan nyaman di layar kaca. Ya, suara dan gambar mereka masih jauh dari kata sempurna.


Sepertinya, pemirsa yang sudah kadung membeli set top box masih harus menunggu (entah untuk berapa waktu lamanya) saat ketika layar kaca dipenuhi saluran televisi yang beraneka ragam dengan kualitas gambar dan suara yang cling. Walau, ada juga sih yang ragu apakah program migrasi ini masih akan terus dilakukan ketika pemerintahan kita nanti berganti. Bukankah bukan rahasia lagi ketika pejabat berganti, berganti pula aturan dan kebijakan?


Begitu jugakah yang mesti dialami digitalisasi televisi? Jawabnya adalah jelas: jangan! Banyak orang bilang kita negara besar, dengan kekayaan yang berlimpah, SDM-nya berkualitas, tetapi, untuk perkara televisi, kita kalah sama negara macam Thailand atau Myanmar. Masihkah kita rela mempertahankan kekalahan itu di saat untuk hal lain kita juga sering kalah?


Baiklah, saya yang di Surabaya ini (setelah penampakan O Channel) menunggu pula kehadiran BeritaSatu, MIX, SportOne, DocumentaryOne, Inspira, dsb, dst.
Bagaimana dengan Anda? *****






Senin, 24 Maret 2014

Hati-hati Sugesti

JUMAT pagi 21 Pebruari itu seorang teman membawa kue ke tempat kerja. Kue lunak berbentuk kotak dibungkus plastik mika dengan staples sebagai pengancingnya. Saking lunaknya, tanpa peran gigi, dengan hanya menekan lidah ke langit-langit mulut saja sudah hancur ia. Saya tak bertanya apa nama kue berwarna hijau itu. Tetapi saya suka sekali rasanya. Untuk itu, karena masih ada banyak di meja, saya ambil untuk kedua kalinya. Keburu ingin menikmatinya lagi, saya ceroboh dalam membukanya; langsung saya tarik begitu saja. Dengan ukurannya yang mungil, gigitan ketiga adalah sudah untuk yang terakhir. Dan saat itulah saya celaka. Pada telanan terakhir itu, saya rasa ada sesuatu yang menyenggol tenggorokan. Pikiran saya langsung jelek; yang menyenggol tenggorokan tadi itu adalah isi staples. Duh, apes!


Saya lihat plastik mika yang masih saya pegang, tidak ada isi staples di situ. Makin curigalah saya, bahwa yang ikut tertelan tadi itu adalah isi staples.


Kecurigaan itu tanpa saya sadari berubah wajah menjadi sugesti. Ia selalu menari-nari dalam alam bawah sadar saya tentang isi staples itu yang kini mungkin sedang berada di dalam lambung. Dan sugesti itu makin menjadi manakala saya tanya ke Mbah Google tentang kemungkinan apa yang terjadi bila isi staples yang bersarang di dalam perut saya. Menakutkannya lagi, kata Mbah Google, benda itu akan karatan dan membuat lambung akan sangat menderita.


Hari berikutnya perhatian saya sebagian besar kepada isi perut. Setiap geliat di dalamnya tak pernah luput dan pikiran membumbuinya dengan, “Jangan-jangan. Jangan-jangan...”


Nah, ternyata, semakin saya perhatikan (dengan kepekaan yang saya tambah tensinya), segala apa yang menggeliat di perut selalu saya curigai sebagai efek dari isi staples itu. Termasuk sedikit saja usus bergerak, atau rasa celekit di dalamnya. Sebuah rasa yang barangkali di saat normal (dan saat saya tak peduli dengan setiap geliatnya), itu sama sekali tak terasa.


Hari terus berjalan, dan saya mencari lagi info yang berkaitan dengan bila isi staples masuk ke dalam lambung. Syukurlah, dalam salah satu yang disajikan mbah Google, ada yang sedikit menentramkan. Bahwa, setajam apa pun benda yang masuk ke dalam lambung, ia akan dipaksa keluar oleh lambung menuju saluran pembuangan dan diikutkan keluar bersama rombongan kotoran. Untuk menyaksikan apakah benda itu sudah keluar, satu-satunya cara adalah dengan mengorek (maaf) 'pisang goreng' sebelum disiram masuk ke septic tank.


Sayangnya, ini baru saya ketahui jauh setelah isi staples itu saya curigai ikut tertelan. Karenanya tak mungkinlah saya membongkar septic tank demi untuk mencari sibiji kecil barang sialan itu.


Itu hal lain. Tetapi, sisi positifnya, dengan membaca artikel itu, pelan-pelan sugesti saya tidak terlalu negatif seperti halnya sugesti yang pertama. Yang kedua ini, membuat saya mumupuk keyakinan bahwa isi staples itu telah beristirahat dengan tenang di ruang bawah tanah (baca: septic tank).


Tentu saja agar yakin, saya bisa melakukan foto x ray demi memastikan apakah isi staples itu masih menginap di lambung saya atau tidak. Tetapi, saya termasuk orang yang tidak ingin biyaya'an mencari biaya untuk itu. (Ah, jelek ya sifat saya ini.)


Karena hal ini, saya menjadi harus makin hati-hati dengan sugesti. Apa yang terus ada di alam bawah sadar, bisa membias di alam sadar. Dan itu, kalau terus-terusan terjadi, bisa menjadi suatu kenyataan. Makanya saya pernah mendengar seorang motivator berujar; segala apa yang diyakini diri sendiri, hal itu pulalah yang akan terjadi. Bila belum-belum saja seseorang sudah merasa tidak mampu, maka akan betul-betul tidak mampulah seseorang itu.


Sekali lagi, saya harus lebih berhati-hati dalam mensugesti diri sendiri. *****


Sabtu, 22 Maret 2014

'Elshinta' itu RRI ?

DALAM sehari, saya selalu menyempatkan diri untuk men-scan baik secara auto atau manual sinyal televisi dgital lewat set top box merek Get****m yang saya punya. Berharap jumlah channel bertambah, dan tidak melulu yang di Surabaya ini telah pula dapat dinikmati di jalur analog. Kalau siaran itu sudah ada di analog, kesannya kurang mantap. Lagian, dari rumah saya ini, sinyal analog masih relatif bisa diterima secara baik dan benar.

Syukurlah, harapan itu terkabul walau belum maksimal betul. Paling tidak, meski sinyalnya masih belum stabil (membuat gambar dan suara putus-putus) ada O Channel yang 'digendong' MUX-nya SCTV/Indosiar Network di kanal/frekuensi 538MHz/Ch.29. Itulah yang saya maksud. Selama ini, di kanal analog, O Channel itu belum ada di Surabaya.
Hasil scan via STB Getmecom.
Foto oleh Edwin untuk Kedai Kang Edi.

Nah, ketika saya buat sebagai status di sebuah akun grup Efbi tentang televisi digital Jogja-Jateng masih ada yang kurang ngeh tentang keberadaan siaran radio di kanal televisi digital. Bagi saya, hal ini juga hal baru. Karena, selama lebih kurang setahun ini, belum pernah menemui ada sinyal digital juga disertai siaran radio. Ya, baru di MUX-nya SCTV dkk ini ada radionya. Di layar tertera Elshinta Radio.

Seperti siaran SCTV, Indosiar dan O Channel yang masih megap-megap, siaran radio 'Elshinta' ini pun suaranya juga masih timbul-tenggelam. Malah, kalau di program biasa tidak bakalan muncul ia. Tetapi ketika saya setting ke menu EPG di sisi radio (sisi kanan), si radio 'Elshinta' itu baru muncul suaranya. Itu pun setelah volume televisi saya naikkan ke angka 45.
Nah, baru di saat itulah, saat suara radio bisa saya dengar itu, saya tahu kalau yang namanya 'Elshinta Radio' itu di jalur televisi digital yang keluar malah suaranya RRI Programa1 Jakarta. Nah lho!

Bagi saya ini hal aneh. Sebagai sesama Lembaga Penyiaran Publik (LPP), bukankah lebih masuk akal kalau RRI itu ikut MUXnya TVRI? Juga, kenapa coba, di layar jelas-jelas tertera nama Elshinta. Kalau benar Elsinta sih nggak apa-apa. Orang (kalau tidak salah) antena pemancarnya untuk wilayah Surabaya ini juga gabung di towernya Indosiar kok. *****


Sabtu, 01 Maret 2014

Politik 'Wani Piro?'


PEMILU kurang sebentar lagi, tetapi suasana masih adem-ayem ya, Kang,” kata Mas Bendo yang hari ini mengenakan kaos tipis bergambar caleg berkumis.

Kang Karib yang sedang keenakan oleh liukan cotton bud di liang telinga tak menyahut.

Padahal dulu, di jaman aku kecil, menjelang Pemilu begini hawanya sudah gimanaa gitu,” lanjut Mas Bendo. “Hidup bertetangga menjadi kurang akrab bila beda partai. Sampai pada tingkat satru, soker, atau tak saling menyapa. Sekarang? Mbelgedhes apa...”

Itu, “kata Kang Karib sambil membuang cutton bud dan agak mencium aroma di tangannya, “masyarakat sudah cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan politik, nDo.”

Bukan dewasa, Kang, tapi mblenek, muak,” Mas Bendo menyahut. “Pas butuh suara saja merengek-rengek ke rakyat, pas giliran sudah jadi, uh pret apa.”

:”Jangan skeptis begitu, nDo,” potong Kang Karib. “Apa pun kenyataannya, Pemilu itu pesta demokrasi, nDo.”

Dan tiada pesta yang gratis kan, Kang?”

Itulah makanya, kita harus kawal pesta itu, yang memakan biaya mahal itu, agar tidak keliru dalam memilih orang yang tak kompeten duduk di parlemen, yang katanya mewakili kita itu. Untuk itu, kita harus gunakan hak pilih, jangan golput..”

Lho, bukannya golput itu juga pilihan, Kang?”

Iya, tetapi dengan golput, itu sama artinya kita memberi peluang caleg yang tidak mutu menjadi penentu kebijakan. Apa jadinya, coba, bila negera diurus oleh orang yang remuk isi otaknya. Kacau kan?”

Jadi, selama ini, kekacauan segala hal di negeri ini karena diurus oleh orang yang Sampeyan bilang tadi?”

Bisa jadi.”

Jadi, para caleg yang ngebet ingin jadi dan untuk itu ia menggunakan aneka cara, termasuk main uang, adalah indikasi punya otak begitu?”

Kang Karib diam.

Itulah, Kang. Saya kok sangsi bila di baliho si caleg menegaskan mengabdi sepenuh hati untuk negeri, tetapi demi duduk di kursi dewan ia melakukan money politics atau semacamnya, bukankah di dalam itu perlu dicurigai ada terselip kalkulasi ekonomi; modal sekian, harus balik sekian. Jadi, wajar juga kan bila rakyat menjadi tak terlalu fanatik kepada partai. Lagian, orang partai itu kan bisa loncat sana loncat sini. Kali ini di partai biru, Pemilu depan di partai oranye.”

Itulah pentingnya pendidikan politik, nDo. Pemilih yang cerdas bisa memilih pemimpin berkualitas.”

Oke, Kang. Sambil menunggu itu terwujud, jangan salahkan rakyat punya pakem sendiri dalam menyikapi setiap Pemilu. Tak peduli partai apa, aliran politiknya bagaimana, tokoh-tokohnnya siapa, 'harga' yang bicara. Yang penting; Wani piro?” *****




Selasa, 04 Februari 2014

Pelajaran dari Tepi Jalan

DUA bulan yang lalu di kawasan itu masih berjajar tukang knalpot membuka usaha. Kini, setelah di bawah tempat mereka ditanam box culvert, entah kemana para penjual knalpot itu berada. Tempat dimana dulu mereka menawarkan barang dan jasa telah rata dan bersih. Saya kira, setelahnya, seperti di tempat-tempat lain di kota ini, akan dibangun trotoar berlantai keramik tempat para pejalan kaki nanti mengayun langkah.

Ya, di kanan-kiri jalan Mayjen Sungkono sedang ditata sedemikian rupa. Selain agar makin nyaman dipandang, digunakan sesuai peruntukan, box culvert itu juga sebagai sarana mengatasi banjir yang rutin melanda jalan itu. Dan, ketika daerah lain banyak yang terendam banjir, syukurlah, kota pahlawan masih terbilang aman.

Setiap sore, sepulang kerja, di pinggir jalan Mayjen Sungkono, di tempat dimana dulu para tukang knalpot berada, senantiasa saya lihat seorang ibu dengan anak lelakinya yang tuna netra. Pada sepeda anginnya saya lihat seonggok tas besar selalu dibawa. Entah si Ibu itu berjualan apa. Yang jelas, pada jam empat sore, saya lihat Ibu-Anak itu selalu telah ada di situ.

Yang juga saya sering lihat, ada seorang perempuan berjilbab berhenti menemui mereka. Membuka bawaan makanan, dan dengan penuh kasih menyuapi si anak. Tiada rasa canggung saya dapati. Sementara, sambil mengunyah, si anak tampak tersenyum sambil memegang minum yang juga dibawakan si perempuan baik hati itu. Sebuah senyum yang lahir alami sebagai reaksi dari sebuah interaksi.

Pada titik itu, timbul iri dalam hati. Betapa di jaman yang orang serba begitu mudah pamer akan segala hal yang tak penting diketahui orang lain (lewat status, twitpic dll.), masih ada saja orang yang tak terangsang untuk latah bernarsis-ria. Peduli pada sesama tanpa peduli apakah kepedulian itu dipedulikan orang lain atau tidak.

Seperti perempuan berjilbab itu, siapa pun kita pasti mampu berbuat baik kalau mau. *****



Senin, 20 Januari 2014

TVRI Pusing



(Dalam memposting tulisan di blog sisitelevisi, seringkali saya gagal melakukannya dalam sekali klik. Termasuk malam ini. Tentang masalah ini, saya tidak tahu apakah memang memasang tulisan di wordpress agak lebih sulit ketimbang di blogspot? Padahal tulisan sudah saya buat, padahal saya ingin mempublish di wordpress. Saya, yang termasuk makhluk tidak sabaran untuk segera menyiarkan tulisan begitu kelar diketik, ambil keputusan cepat; pampang saja di sini, di Kedai Kang Edi.)


KALAULAH ada yang iseng bertanya kepada saya tentang logo televisi apakah yang menurut saya paling oke di jagad raya ini, tentu tanpa ragu saya akan menjawab: CNN. Sedang untuk channel yang mengudara dari jazirah Arab, logo yang ajib versi saya adalah milik stasiun yang bermarkas di Dhoha, Qatar: Aljazeera. Ini masalah selera, dan tak masalah Anda tidak sependapat dengan saya. 

Sementara NHK (Jepang), DW (Jerman), CCTV (China) atau Arirang (Korea) itu sebagian dari nama stasiun televisi yang memiliki logo biasa-biasa saja. Bagaimana dengan CNBC? Ah, itu lumayanlah.

Baiklah, tak usah jauh-jauh menilai lgo-logo televisi asing, di Indonesia saja, yang sekarang jumlah stasiun televisinya bejibun, sebejibun itu pulalah model dan bentuk logonya. Lalu mana yang terbaik?

Walau saya jarang sekali menengok acaranya, RCTI menurut saya logonya terbilang oke. MetroTV juga. BeritaSatu? Ya, bolehlah. Termasuk yang lumayan ada antv, tvOne juga NET. Sementara, sekali pun RCTI paling oke, adaik-adiknya cuma dapat nilai ‘biasa banget’. Itu tuh, GlobalTV, MNCTV atau juga SindoTV.

Pada jajaran TV lokal, logo JTV sekarang lebih bagus daripada yang dulu. Dengan latar belakang peta propinsi Jawa Timur, ia menandakan sebagai televisi berkelas regional. Yang juga terbilang bagus adalah BaliTV, yang dengan melihat tampilan logonya saja, ia sudah menampakkan aura pulau dewata. Sayangnya, grup BaliTV yang mengudara di Surabaya, SurabayaTV logonya jelek sekali. Hanya tulisan SurabayaTV berhias gambar merah-putih. Ini mengingatkan saya akan logo awal TPI (cikal bakal MNCTV) yang kaku sekali.

Bagaimana dengan TVRI?
Ya, stasiun televisi tertua di negeri ini memang pernah beberapa kali ganti logo. Dari yang kotak dengan hiasan pelangi, lalu tulisan TVRI dibingkai kotak bersegilima (tahulah kita apa arti lima sudut itu) sampai yang sekarang kita lihat; TVRI tanpa garis tepi tetapi dengan sinar merah --entah apa artinya-- yang melingkar di bagian atasnya.

Secara sembarangan saya tafsirkan, logo TVRI tanpa garis tepi itu sebagai penanda ia bebas tak terikat satu kelompok atau golongan. Ya, sebagai lembaga penyiaran publik kepentingannya hanya satu, demi publik di republik ini. Kalaulah tagline-nya berubah dari ‘menjalin persatuan dan kesatuan’ menjadi ‘saluran pemersatu bangsa’ menurut saya itu tak jauh-jauh banget maknanya.

Lalu bagaimana dengan sinar merah di bagian atas tulisan TVRI?
Sebelum menjawabnya, saya kok jadi ingat film kartun yang sering menggambarkan, misalnya, kalau Tom sedang dipukul Jerry di bagian kepala, atau Spongbob ketiban benda yang dijatuhkan si gendut Patrick, di atas kepala mereka digambarkan ada bintang yang berputar-putar. Hal itu tentu demi menggambarkan betapa kepala mereka pusing dan sakit.

Jadi, sinar melingkar di atas TVRI itu menandakan TVRI sedang pusing? Secara serius tentu maknanya tidak begitu. Tetapi mengaitkan dengan TVRI yang napasnya kini  sedang kembang-kempis karena anggaran makin menipis, sepertinya guyonan kita di atas itu tak begitu saja bisa ditepis. *****

Sabtu, 11 Januari 2014

(Jula-juli) KBS = Kuburan Binatang Suroboyo



SUROBOYO, dulur, pancene kutho kondhang
ugo termasuk dhaerah terpandang
tempat rekreasine sak pirang-pirang
salah sijine yoiku Kebun Binatang

Nang Bonbin iku koleksine akeh tenan
ora mung kewan tapi ugo wit-witan
tempat sing nyaman kanggo liburan
panggonan favorit masyarakat kebanyakan

Selain panggon hiburan ugo sarana konservasi
tapi saiki KBS akeh sing ngrasani
polae nang kono bola-bali kewan mati
sing terbaru wingi onok singo dijiret tali

Onok sing ngarani kedadeyan iku disengaja
tapi sopo sing ndhalangi sampek saiki durung terbaca
akeh masyarakat atine bertanya-tanya
lan nyurigai iku sebagai akibat rebutan kuasa

Pemasukan KBS pancene gedhe tenan
ora
cuma jutaan tapi sampek milyaran
senajan ngono kesejahteraan kewan memprihatinkan
kewane kuru-kuru tandhane kurang mangan

Mbiyen tau onok unto sing matek
mbasan diselidiki nang wetenge kebek tas kresek
opo kurang bukti nang KBS onok oknum resek
najan rupo menungso tapi kelakuane ngalah-ngalahi bedhes belek

Saiki KBS dikelola pemerintah kota
krono iku sajake onok sing ora rela
mergo lahan korupsine bakal tiada
mangkane KBS digawe penuh problema

Harapane awake dhewe kari nang pihak polisi
polisi saiki pinter-pinter lan
ugo disegani
n
angkap teroris ae iso mosok mengungkap aktor dibalik KBS ora wani
lek iku terjadi termasuk hal sing ngisin-ngisini *****


Jumat, 10 Januari 2014

G e r i m i s



SEBELUMNYA, seperti juga siapa pun, aku mengenal gerimis sebagai air yang turun setelah bergelayutan meggantung pada sayap-sayap mendung. Ia menjadi semakin sering turun kala musimnya. Desember, atau Januari begini. Itu saja.

Sampai pada suatu senja, kala hatiku berselimut mendung, gerimis datang dalam rupa yang sebenarnya. Ia turun dengan lembut, mendarat dengan gemulai. Wajahnya putih, tetapi bukan pucat. Satu di antara dari gerimis itu, kulihat paling cantik, setelah mendarat di depan rumahku, berjalan mendekat ke teras dimana aku berdiri bersedekap di depan jendela.

Maaf, kenalkan; namaku Gerimis. Boleh aku menemani?” ia bertanya, bibirnya merah, kontras sekali dengan kulitnya.

Jumat, 03 Januari 2014

Surabaya Berpantun


MALAM pergantian tahun tiga hari yang lalu, untuk pertama kalinya Surabaya menggelar Car Free Night. Dalam acara (yang mungkin meniru Jakarta Night Festival) itu ada beberapa ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan bermotor sehingga untuk mencapai ke lokasi-lokasi yang disediakan hiburan gratis di situ pengunjung harus berjalan kaki atau bersepeda. Sejauh yang saya dengar (karena saya termasuk orang yang kuno, yang kurang suka menghabiskan malam pergantian tahun dengan melekan begadang di jalanan sambil meniup terompet) acara itu terbilang sukses.

Detik-detik pergantian tahun yang secara cuaca sangat bersahabat ini (karena biasanya hujan semalaman), tiada kemacetan terjadi seperti tahun-tahun yang silam. Dengan ditutupnya jalan-jalan tertentu, dan disediakannya kantong-kantong parkir yang representatif, saya kira keberhasilan acara tahun ini akan semakin memantapkan pihak Pemkot untuk menggelarnya lagi pada tahun-tahun mendatang.

Sayangnya, dari beberapa konsep acara di setiap zona yang berbeda, kok saya tidak mendengar ada pementasan ludruk di salah satunya. Kalau benar demikian, mungkin kesenian khas Surabaya ini sudah mati di daerah asalnya. Semoga belum, semoga jangan.

Bicara tentang ludruk, ketika kecil sepulang mengaji, nyaris setiap malam saya menyusup ke gedung kesenian di desa saya. Saya ingat, acara dimulai setelah beberapa kali petasan dibunyikan. Layar dikerek ke atas dan di tengah pentas berdiri penari remo, tarian pembuka. Disusul kemudian sederetan 'perempuan' berkebaya melantunkan gending-gending Jawa. (saya beri tanda kutip karena perempuan itu adalah wandu, laki-laki yang berdandan sebagai perempuan). Dan begitulah, sejauh yang saya tahu, ludruk senantiasa identik dengan hal demikian.

Sebelum lakon inti dimainkan, lebih dulu muncullah dagelan. Berpenutup kepala khas ludruk atau sering pula berkopiah, seorang dagelan muncul dengan jula-juli dan juga parik'an. Kalau jula-juli rangkaian kata yang dilagukan kait-mengait secara makna, dalam parikan sebelum isi (maksud) lebih dulu ada sampirannya. Ya, Sampeyan benar, semacam pantun.

Pantun terkenal pada masa penjajahan Jepang yang lahir dari seniman ludruk Surabaya adalah yang diucapkan Cak Durasim; pagupon omahe doro, melok Nippon tambah soro.

Bila Surabaya identik dengan ludruk, maka ludruk pun identik dengan parik'an. Ludruk mungkin sulit ditemui manggung di kota ini, tetapi parik'an dapat dengan mudah ditemui di jalan-jalan. Parik'an itu dipasang secara resmi oleh pihak kepolisian sebagai ajakan untuk tertib berlalu lintas.

Di dinding sudut KBS yang bisa terbaca dari seberang terminal Joyoboyo begini bunyinya, “Tuku susu dino Jumat, ojo kesusu supoyo salamat.”

Di bundaran Satelit tadi pagi masih saya temui poster-poster yang dipasang menjelang tahun baru kemarin. “Jangan terong diincaki kucing, knalpot brong mbrebeki kuping,” demikian isinya.

Di tempat lain, bisa jadi ada parik'an lain dengan ajakan yang lain pula. Karena dengan pantun itu, selain secara pesan bisa lebih mengena, si penerima pesan pun bisa tersenyum karena kata-katanya yang kadang sedikit jenaka..

Semasa senang bersurat-suratan ketika remaja dulu, 'pantun kebangsaan' di setiap akhir surat adalah empat kali empat enambelas, sempat tidak sempat mohon dibalas. Sekarang, demi mengakhiri tulisan ini, akan saya tutup pula dengan pantun; bungkus ketupat dari daun lontar, kalau sempat kasih dong komentar. Hehe... *****